PENGARUH TEKNIK DISKUSI KELOMPOK TERHADAP
KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X SMK ALUSI BOJONGGEDE-BOGOR
Skripsi / Tugas Akhir diajukan untuk melengkapi
persyaratan mencapai gelar kesarjanaan
NAMA : RENSFIRANI RAFIDHAWENY
NPM : 201412500132
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FAKULTAS BAHASA DAN SENI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat menarik untuk dibahas karena melalui pendidikan dapat diketahui banyak hal maupun masalah yang akan muncul dan terkuak secara terbuka pencapaian tujuan pendidikan. Pendidikan juga merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan pengembangan diri baik secara fisik maupun non fisik yang dapat diterapkan diberbagai lingkungan kehidupan seperti keluarga,sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Pendidikan sangatlah penting bagi kemajuan suatu negara sehingga mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang dari negara lain. Salah satu bahasa global yang sering digunakan untuk berkomunikasi dalam dunia internasional adalah bahasa Inggris.
Universal. Penggunaan bahasa Inggris saat ini telah menjadi hal yang tidak asing lagi dalam berbagai bidang dan kepentingan.
Bahasa Inggris sangat perlu dikuasai oleh siswa khususnya dalam kemampuan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa asing di Indonesia ternyata mendapat tempat yang cukup baik jika dibandingkan dengan bahasa asing yang lain. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa bahasa Inggris dimasukan sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib ditempuh oleh siswa baik di SLTP maupun SLTA. Mata pelajaran bahasa Inggris disekolah Lanjutan Tingkat Pertama berfungsi sebagai alat pengembang diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya serta pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain.
situasi dan kebutuhan yang diperlukan siswa dimasa yang akan datang. Pengembangan materi untuk pembelajaran keterampilan berbicara perlu diberi penakanan, mengingat keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang paling sulit dikuasi dibandingkan dengan keterampilan berbahasa yang lain seperti keterampilan menyimak, membaca dan menulis.
keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berhubungan erat satu dengan yang lainnya.
Dalam keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang sulit diajarkan karena menuntut kesiapan mental dan keberanian siswa untuk tampil di depan orang lain. Belum kematangan dalam perkembangan bahasa juga merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan suatu bahasa. Juga kita sadari bahwa keterampilan-keterampilan yang diperlukan bagi kegiatan berbicara yang efektif banyak persamaannya dengan yang dibutuhkan bagi komunikasi efektif dalam keterampilan-keterampilan berbahasa yang lain.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Melalui berbicara manusia dapat menuangkan ide-ide, gagasan, keinginan, ketidaksetujuan, dan sebagainya. Manusia juga dapat memperoleh informasi yang sangat berguna bagi kehidupan melalui bahasa lisan, oleh karena itu bahasa lisan perlu diajarkan dimasyarakat agar mereka dapat menuangkan ide-ide, gagasan, dalam karangan kedalam bentuk lisan. Dalam berbicara, setiap apa yang kita ucapkan harus mempunyai arti yang jelas dan tidak membingungkan, sehingga pendengar dapat menangkap makna, pesan atau ide yang ingin kita sampaikan dalam sebuah ucapan.
mengetahui apakah dengan Metode Diskusi Kelompok ini siswa bisa lebih percaya diri untuk berbicara bahasa Inggris dengan lantang di depan umum.
Baik di lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat, dalam proses pembelajaran kita dapat mengembangkan keterampilan berbicara dengan melalui metode diskusi kelompok di dalam kelas. Metode diskusi kelompok adalah salah satu metode atau cara untuk melalukan proses pembelajaran agar dapat memberi pemahaman siswa menguasai mata pelajaran, terutama yang paling penting ialah mata pelajaran pendidikan bahasa Inggris. Metode diskusi kelompok dapat dilakukan dalam proses belajar-mengajar dikelas dalam upaya memberikan pemahaman pelajaran pada peserta didik/siswa. Terutama sekolah menengah atas.
dilakukan dikelas seperti halnya metode pembelajaran lainnya dengan menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Melalui diskusi kelompok menjadikan kelas yang gurunya hanya sebagai fasilitator, sedangkan subjeknya ialah para peserta didik tersebut dalam pencapaian efektifitas penguasaan bahasa Inggris.
Dengan penguasan diskusi kelompok meningkatkan siswa dalam memahami mata pelajaran bahasa Inggris didalam kelas dengan memodifikasi kelas dengan pelaksaan sebagai satu kesatuan dalam proses pembelajaran. Hal ini tentunya memberikan pengaruh yang baik terhadap siswa dalam pemahaman dan penguasaan mata pelajaran bahasa Inggris. Sehingga siswa tidak mengalami hambatan dalam proses pemahaman bahasa Inggris khususnya berbicara. Acuan yang menjadi tujuan ini adalah peningkatan belajar yang dilakukan siswa sehingga proses pembelajaran ini mengenai sasaran yang ditujukan yang terkait dengan proses belajar mengajar siswa.
kegiatan berbicara bahasa Inggris karena siswa SMK pada umumnya menggunakan metode ceramah dikelas, tidak dengan metode diskusi kelompok dan dari penelitian ini pula dapat mengetahui efektifitas metode diskusi kelompok dalam proses pembelajaran bahasa Inggris terutama dalam berbicara bahasa Inggris.
B. Identifikasi Masalah
1. Apakah terdapat pengaruh teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X SMK ALUSI bojonggede?
2. Bagaimanakah kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X SMK ALUSI di pengaruhi oleh teknik diskusi kelompok?
3. Apakah terdapat pengaruh signifikan dari teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X SMK ALUSI ?
4. Sejauh mana pengaruh teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara siswa kelas X SMK ALUSI?
5. Adakah pengaruh penerapan teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara siswa kelas X SMK ALUSI?
C. Batasan Masalah
disekolah, khususnya penggunaan teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara siswa kelas X SMK ALUSI Bojonggede.
D. Rumusan Masalah
Setelah masalah tersebut teridentifikasi dan batasan masalah sudah jelas, maka pokok permasalahan yang akan diteliti di lapangan dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah terdapat pengaruh teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X SMK ALUSI Bojonggede?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sekaligus menganalisa dampak penerapan teknik diskusi kelompok dan penulis berharap dalam penelitian ini mendapatkan temuan-temuan yang berkorelasi dengan :
1. Pengaruh teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan bebicara bahasa Inggris siswa kelas X SMK ALUSI Bojonggede.
F. Kegunaan Penelitian
Dengan adanya studi kasus dalam penelitian dilapangan, penulis berharap dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris yang antara lain :
a. Bagi Penulis
Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi dan mencapai gelar keserjanaan dari Universitas INDRAPRASTA PGRI Jakarta. Selain itu, melalui penelitian ini penulis dijadikan sebagai acuan dan bekal untuk mengamalkan ilmunya kelak setelah menyelesaikan studi di Universitas INDRAPRASTA PGRI Jakarta.
b. Bagi Peneliti Lain
Bagi para peneliti lain yang ingin meneliti topik yang sama, penemuan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang Pengaruh Metode Diskusi Kelompok Terhadap Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa.
c. Bagi Mahasiswa Universitas INDRAPRASTA PGRI
G. Sistematika Penulisan
Agar tercapai sinergi dan kejelasan dalam penulisan skripsi. Sistematika penulisan terperinci bab demi bab secara berurutan disertai penjelasan sebagai berikut:
Bab 1 Pendahuluan, dalam bab ini disajikan mengenai latar belakang
masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan.
Bab II Landasan Teori, Penelitian Yang Relavan dan Kerangka
Berpikir, dalam bab ini disajikan mengenai landasan teori, penelitian yang
relavan dan kerangka berpikir, sedangkan di dalam landasan teori dijelaskan mengenai teori-teori yang menunjang penelitian ini.
Bab III Metodologi Penelitian, dalam bab ini disajikan mengenai
tempat, waktu dan penelitian, metode penelitian, populasi dan sample penelitian, instrument penelitian dan teknik analisa data.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, dalam bab ini adalah
memaparkan hasil penelitian yang didapat untuk menjawab masalah yang sedang diteliti.
Bab V Penutup, dalam bab ini disajikan mengenai kesimpulan dan
hasil penelitian dan saran-saran dari penulis atas hasil penelitian. Daftar Pustaka
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
PENELITIAN
A. Landasan Teori
Dalam sub bab ini penulis menyajikan teori-teori menurut pendapat para ahli yang berkaitan dengan judul penelitian ini diantaranya Hakikak Kemampuan Bahasa Inggris (English), Hakikat Keterampilan bahasa Inggris (speaking), dan Hakikat Teknik diskusi kelompok.
a. Berbicara
Berikut adalah beberapa pengertian berbicara :
Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Proses individu berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat untuk menyatakan din sebagai anggota masyarakat.
b. Keterampilan Bahasa
Keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Berbicara sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa memiliki keterkaitan erat dengan aspek keterampilan berbahasa lainnya, yaitu antara berbicara dengan menyimak, berbicara dengan menulis, dan berbicara dengan membaca.
c. Hubungan Berbicara dengan Menyimak
Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interview, dan sebagainya.
Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi, tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimak. Tidak mungkin orang menyimak bila tidak ada orang yang berbicara. Melalui kegiatan menyimak siswa mengenal ucapan kata, struktur kata, dan struktur kalimat.
d. Hubungan Berbicara dengan Membaca
berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi.
Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.
e. Hubungan Berbicara dengan Menulis
Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan itu berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis.
Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.
a. Diskusi Kelompok
1. Kemampuan bahasa Inggris (English)
a. Bahasa
Setiap insan yang memiliki pola pikir yang maju menginginkan menguasai bahasa Inggris akan membantu kita dapat berkomunikasi dengan orang asing. Bahasa adalah keterampilan khusus yang komplek, berkembang dalam diri anak-anak secara spontan, tanpa usaha sadar atau instruksi formal, dipakai tanpa memahami logika yang mendasarinya, secara kualitatif sama dalam diri setiap orang, dan berbeda dari kecakapan-kecakapan lain yang sifatnya lebih umum dalam hal memproses informasi atau prilaku.
Kunjana Rahardi (2010:1) sosok bahasa sering disebut dengan penanda (prevoir) eksistensi yang bersangkutan. Masyarakat yang maju budayanya pasti juga berkembang baik entitas bahasanya. Bahasa sebagai system lambang atau system symbol, entitas,bahasa memiliki ciri kebermaknaan atau keberartian. Bilamana tidak bermakna dan berarti maka sesungguhnya bahasa itu tidak perlu lagi digunakan warga masyarakatnya.
(2) brsifat kemestaan, (3) bersifat kemanusiaan, (4)berkaitan dengan masyarakat dan budaya, (5) memiliki makna konvensional, (6) bersifat vocal, (7) merupakan symbol arbitrer, (8) merupakan system. Sementara itu, Brown (1960) menyebutkan delapan prinsip dasar bahasa yang membentuk hakikat bahasa, yaitu: (1) merupakan kebiasaan, (2) bersifat berubah-ubah, (3) berhubungan dengan budaya, (4) merupakan alat komunikasi, (5) bersifat unik dank has, (6) merupakan lambing arbitrer, (7) bersifat cokal, (8)merupakan sistem. (dalam Buku Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Kunjana Rahardi,2010:3-4).
Menurut Hornby (2005:479) “Language is human and noninstinctive method of communicative ideas, feelings, and desires by means of a
system of some symbols”
Sedangkan Richards and Rodgers (dalam Setyadi,2006:8) mengatakan bahwa “Language is a vehicle for the realization of interpersonal relations and social
interactions between individuals.”
Bahasa merupakan sebuah sarana untuk merealisasikan hubungan antar perorangan dan iteraksi social dan hubungan timbal balik dalam kehidupan bermasyarakat diantara para individu. Jadi uraian beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan maksud, tujuan, ide, dan perasaan yang akan disampaikan kepada orang lain, agar orang lain tersebut dapat mengerti dan memahami dengan baik dan memberikan timbal balik yang kita harapkan
a. Bahasa Inggris
Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa International yang digunakan dalam bahasa pergaulan, perdagangan dan juga pendidikan, sehingga memiliki peranan yang sangat strategis dalam mengahantarkan seseorang kepada kesuksesan. Selain itu, bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran muatan local dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah. Douglas Brown dalam
bukunya “Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa”,
Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, (Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat,2008), melakukan sesuatu, memberi instruksi, memandu dalam pengkajian sesuatu, menyiapkan pengetahuan, menjadikan tahu atau paham. Dengan demikian, pengetahuan bahasa Inggris dengan belajar ataupun pengalaman.
Indonesia memerlukan pengajaran bahasa Inggris agar dapat membangun dan menjalani hubungan baik dengan negara lain dan memungkinkan Bangsa Indonesia untuk mengikuti berbagai macam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan memanfaatkannya untuk kepentingan pembangunan nasional. Pelajaran bahasa Inggris di Indonesia telah dapat perhatian khusus Yaitu dengan diajarkannya bahasa Inggris mulai dari taman kanak-kanak.
Bahasa Inggris merupakan bahasa asing pertama yang paling luas dipelajari didunia internasional. Hal ini sesuai dengan pendapat Richards dan Rodgers (2001:3),
“ English is the world’s most widely studied foreign language.”
Setiyadi (2006:22), “ English is really a foreign language for language learner in Indonesia. In Indonesia, English is learned only at schools and people
do not speak the language in the society.”
Bahasa Inggris merupakan bahasa asing bagi para pelajar di Indonesia. Hal ini memang benar adanya. Dukatakan bahwa asing, karena Indonesia sendiri terdiri dari berbagai kebudayaan dengan ragam bahasanya sendiri. Bahasa-bahasa suatu daerah tersebut akan menjadi bahasa ibu dari suatu suku di Indonesia. Sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kita. Sehingga jelaslah kedudukan bahasa Inggris di Indonesia hanyalah sebagai bahasa asing yang saat ini wajib dipelajari.
2. Keterampilan Berbicara
a. Keterampilan
Keterampilan berasal dari kata tampil yang artinya cekatan, cakap dan menyelesaikan tugas. Keterampilan berarti cekatan, kecakapan, dalam menyelesaikan tugas dengan baik dan benar (KBBI,2002:1088).
Menurut Kamus Oxford (2003:403) Keterampilan in English Skill. “Skill is ability to do well.” Dimana maksud dari pengertian diatas keterampilan adalah suatu kemampuan yang dilakukan dengan baik.
b. Berbicara
Dalam pelaksanaan aktivitas sehari-hari, atau terlihat langsung dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat, manusia tidak terlepas dari proses berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Komunikasi tertulis tidak mempunyai aspek-aspek yang dimiliki oleh komunikasi lisan, seperti intonasi, tekanan kata (stress) dan jeda (juncture).
Linguist berkata bahwa “speaking is language”. Berbicara adalah
efektif banyak persamaannya dengan yang dibutuhkan bagi komunukasi efektif dalam keterampilan-keterampilan berbahasa yang lainnya itu.
Aleka dan H. Achmad H.P (2010:28) berbicara adalah kemampuan yang kompleks yang sekaligus melibatkan beberapa aspek. Aspek-aspek itu beragam dan perkembangannya pun seiiring perubahan dan pergantian masa sehingga mengakibatkan perbedaan, dengan kecepatan perkembangan yang berbeda pula. Kegiatan berbicara dapat dibagi atas dua pilihan, pertama berbicara dimuka umumpada masyarakat (public speaking) atau berbicara individual. Kedua, berbicara pada konferensi (conference speaking) atau berbicara meliputi : (1) seminar kelompok formal maupun tidak formal; (2) prosedur parlementer; dan (3) debat. (Tarigan: 22-23).
Victoria Bull (2011:426) dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary menjelaskan “Speak is talk to somebody about something”
Dimana yang dimaksud disini adalah bebicara merupakan suatu kegiatan yang membicarakan atau menceritakan tentang sesuatu kepada orang lain. Huebener (dalam Setiyadi 2006:61), “Speaking ability is the most difficult phase of foreign language to teach and to acquire.”
dikatakan, pola yang ingin dikatakan, meilih pola yang tepat denganpola tersebut serta dapat melafalkannya dengan baik dan benar. Berbicara juga merupakan keterampilan yang produktif, sehingga dalam berbicara akan melibatkan aspek-aspek yang dianggap sebagai ukuran keberhasilan seseorang dalam berbicara. Aspek-aspek yang dimaksud adalah seperti kefasihan pelafalan bunyi (pronounciation), ketetapan tata bahasa (grammar), ketepatan diksi (vocabulary), kelancaran (fluency), dan pemahaman (comprehention).
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bebicara adalah proses penyampaian informasi, ide, maupun gagasan dari si pembicara kepada pendengar secara lisan. Untuk mempelajari suatu keterampilan bahsa khususnya berbicara hendaknya dilakukan sungguh-sungguh karena berbicara bukan keterampilan yang mudah dikuasi dan intinya semakin sering kita berlatih akan lebih cepat kita dalam menguasai keterampilan tersebut.
3. Diskusi Kelompok
a. Pengertian Diskusi Kelompok
Moh. Uzer Usman (2008: 94) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.
Menurut Dewa Ketut Sukardi (2008:220) diskusi kelompok adalah suatu pertemuan dua orang atau lebih, yang ditunjukan untuk saling tukar pengalaman dan pendapat, dan biasanya menghasilkan suatu keputusan bersama.
Menurut beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan teknik diskusi kelompok adalah suatu bentuk kegiatan yang bercirikan suatu keterikatan pada suatu pokok maslaah atau pertanyaan, dimana anggota-anggotanya atau peserta diskusi itu secara jujur berusaha memperoleh kesimpulan setelah mendengarkan dan mempelajari, serta mempertimbangkan pendapat-pendapat yang di kemukakan dalam diskusi. Menurut Basyirudin Usman (2002:157) macam-macam jenis diskusi kelompok antara lain :
diskusi ini pertama, guru membagi tugas sebagai pelaksaan diskusi, siapa yang akan menjadi moderator dan penulis. Kedua, sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15 menit. Ketiga, siswa diberi kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator. Keempat, sumber masalah memberi tanggapan dan kelima, mpderator menyimpulkan hasil diskusi.
b. Diskusi Kelompok Kecil, dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan permasalah secara umum, kemudian masalah tersebut biagi-bagi kedalam submasalah yang hasrus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.
d. Diskusi Panel, adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang penelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens. Diskusi panel berbeda dengan jenis diskusi lainnya. Dalam diskusi panel audiens tidak terlihat secara langsung, tetapi berperan hanya sekedar peninjau para penelis yang sedang melakukan diskusi. Oleh sebab itu, agar diskusi panel efektif perlu digabungkan dengan metode lain, misalnya dengan metode penugasan. Siswa disuruh merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi.
B. Penelitian yang Relevan
Salah satu penelitian yang relevan adalah yang dilakukan oleh Reni Saputri Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI Jakarta dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Script Terhadap Keterampilan
Berbicara bahasa Inggris Siswa Kelas VIII SMP Jayakarta Jakarta
Selatan dan penelitian yang dilakukan oleh Rita Rustanti Widayati dengan
judul Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Round Table Terhadap Hasil Belajar Berbicara Bahasa Inggris Siswa Kelas VII SMPN 15 Depok
menyimpulkan bahwa :
Inggris Siswa Kelas VIII SMP Jayakarta Jakarta Selatan dengan
menggunakan metode eksperimen dan metode konvensional. Penelitian yang di lkukan oleh Rita Rustanti Widayati dengan judul Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Round Table
Terhadap Hasil Belajar Berbicara Bahasa Inggris Siswa Kelas VII
SMPN 15 Depok sementara pada penelitian ini menggunakan metode
2. Adapun beberapa faktor penghambat keterampilan berbicara yang dihadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar antara lain berasal dari guru, siswa, materi pembelajaran dan bahan ajar. Hambatan dari guru meliputi: mood (suasana hati yang tidak mendukung), guru sakit atau ada tugas di luar, sedangkan hambatan dari materi dan alokasi waktu yang tersedia dan hambatan dari siswa meliputi perbedaan faktor individu siswa lain memotivasi siswa, keberanian siswa dan prestasi siswa.
C.Kerangka Berpikir
Berdasarkan landasan teori yang telah dipaparkan diatas, maka penulis berpendapat bahwa dalam berbicara bahasa Inggris, siswa membutuhkan latihan terus-menerus. Keterampilan berbicara bahasa Inggris tidak akan datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui suatu proses latihan yang intensif. Latihan merupakan hal yang banyak membantu siswa untuk dapat membiasakan dirinya berbicara.
Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar berbicara sehingga siswa menjadi aktif dalam berbicara bahasa Inggris. Setiap kelompok akan diberikan perlakuan dan kesempatan yang sama untuk belajar dan berbicara bahasa Inggris bersama-sama di kelas. Setelah beberapa kali melakukan latihan berbicara dengan teman-temannya, maka diharapkan kepada siswa akan mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik dan benar, karena siswa yang mengalami suatu proses pembelajaran dalam berbicara akan menjadi lebih terampil untuk mempresentasikan keterampilan berbicaranya di depan kelas.
a. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas mengenai pengaruh teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara siswa maka penulis memberikan dugaan sementara yaitu:
1. ( Ho ) : Tidak terdapat pengaruh dalam teknik diskusi kelompok terhadap kemampuan berbicara siswa.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1.Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK ALUSI Bojonggede yang beralamat di Kp.swah indah Rrt 07 Rw 01 Bojonggede-Bogor. Guru yang dimiliki 18 orang dengan jenjang S1, serta memiliki 2 tenaga administrasi,6 karyawan dan pesuruh. Dan di pimpin oleh K.H NUH HADI WIJAYA L,C.
2.Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK ALUSI Bojonggede yang beralamat di Kp.Sawah Indah Rrt 07 Rw 01 Bojonggede-Bogor pada tanggal 15 November-25 Januari 2018. Adapun kegiatan dan
pelaksanaanya secara rinci dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan dan Waktu Penelitian
NO Kegiatan
Bulan / Minggu
Maret April Mei Juni Juli
1 Persiapan penelitian 2 Pengarahan dan
3 Kegiatan Pengenalan 4 Penentuan Pengenalan 5 Melakukan Penelitian 6 Pengambilan Data 7 Pengolahan Data
Dan Penulisan Laporan
B. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode eksperimen. Dalam eksperimen tersebut terdapat dua kelas : 1. Kelas eksperimen yaitu dalam
kelompok siswa yang diberikan pengajaran menguunakan teknik diskusi, 2. Kelas Kontrol yaitu kelompok siswa yang diberikan pengajaran melalui teknik
konvensional.
Desain eksperimen yang dipilih adalah subyek penelitian secara random. Kelompok yang mendapat perlakuan yaitu kelompok eksperimen dan kelompok pengendali yaitu kelompok control.
E : X
Keterangan :
E = Kelas Eksperimen K = Kelas Kontrol
X = Pemberlakuan atau pemberian teknik diskusi kelompok melalui kemampuan berbicara.
_ = Pemberlakuan atau pemberian teknik pengajaran konvensional melalui kemampuan berbicara.
O = Tes “ Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris “ pada akhir pengajaran.
Observasi dilakukan untuk menjamin bahwa pada dua kelompok tersebut sebelum mendapatkan perlakuan adalah sama. Setelah itu, baru dibandingkan dnegan peningkatan kemampuan berbicara bahsa Inggris siswa dengan menggunakan teknik diskusi kelompok dan konvensional.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan dalam penelitian sebagai berikut : a. Guru mengelompokan siswa menjadi bebeapa kelompok siswa yang heterogen yang terdiri dari 4 orang siswa.
b. Setiap kelompok memilih kelompok melalui gulungan kertas yang telah disiapkan oleh guru untuk mendapat nomor kepala, lalu setiap anggota kelompok tersebut memilih lagi masing-masing gulungan tersebut untuk mendaptkan nomor anggota kelompok.
d. Setiap siswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok untuk
mendiskusikan pengarahan dari guru dan memutuskan jawaban yang dianggap paling benar serta memastikan bahwa setiap anggota kelompok mengetahui jawabannya.
e. Guru menunjuk siswa bernomer tertentu untuk menjelaskan kegiatan yang terjadi dimasa lampau dan menunjuk siswa untuk
mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
f. Anggota kelompok memberi tanggapan terhadap hasil diskusi dan melontarkan pertanyaan. Anggota kelompok yang ditunjuk harus menyampaikan hasil diskusi kelompok kepada anggota kelompok lain, dan di perbolehkan untuk menanggapi balik terhadap kelompok lain. g. Guru menyimpulkan hasil diskusi dan memberi penilaian terhadap kelompok yang jawabannya paling tepat. Guru meminta siswa yang menjadi kelompok terbaik untuk maju kedepan kelas. Semua anggota lain berdiri dan memberikan applause meriah kepada anggota kelompok terbaik.
h. Berdasarkan pengalaman siswa pada diskusi kelompok,siswa diminta mengerjakan tugas yang diberikan guru.
C. Populasi dan Sample
hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian ini adalah : populasi dan sampel, instrument pengumpulan data dan teknik analisis data.
1. Populasi Penelitian
Sebelum penulis membahas lebih jauh tentang populasi, terlebih dahulu akan diuraikan batasan-batasan populasi yang dimaksud, antara lain adalah sebagai berikut :
Menurut Donald Ary dalam bukunya Introduction toResearch in Education, mengemukakan bahwa adalah keseluruhan jumlah yang lebih besar yang menjadi sasaran generalisasi. Dan juga populasi dirumuskan sebagai seluruh anggota kelompok (orang), kejadian atau obyek yang telah dirumuskan secara jelas.
Menurut Winarni Surakhmad mengemukakan bahwa populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang dilakukan baik berupa manusia, hewan, benda tumbuh-tumbuhan serta gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dan berkaitan dengan obyek dari suatu penelitian.
Suharmisi Arikunto memberikan pengertian bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila peneliti ingin meneliti semua elemen yang ada di dalam penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.
Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah peneliti,ada dua jenis populasi yaitu : populasi target dan populasi terjangkau.
a. Populasi Target
Populasi target pada panel ini adalah siswa SMK ALUSI b. Populasi Terjangkau
Seluruh siswa kelas X SMK ALUSI dengan jumlah 60 siswa.
2. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah dua kelas X SMK ALUSI Bojonggede dengan jumlah 60 orang, maka dijadikan sampel sebanyak 30 (eksperimen dan Kontrol).
3. Teknik Sampling
Penulisan menggunakan probability sampling dengan teknik sampel randeom sampling.
D. Metode Pengumpulan Data
1. Variabel Penelitian
a. Variable bebas : Teknik pengajaran terdiri atas Teknik Diskusi Kelompok dan Teknik Konvensional.
2. Sumber Data
Pengambilan sumber data diambil pada dua kelas yang berbeda, yaitu kelas X A sebanyak 30 orang siswa sebagai kela eksperimen dan kelas X B sebanyak 30 orang siswa sebagai kelas kontrol. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tes berbicara bahasa inggris (interview).
3. Teknik Pendapatan Data a. Teknik Kepustakaan
Penulis menggunakan kepustakaan untuk melengkapi data-data variabel bebas (metode mengajar)
b. Teknik Tes
Tes digunakan penulis untuk memperoleh data berupa kemampuan berbicara yang akan disusun oleh penulis untuk penelitian.
E. Instrument Penelitian
1. Kemapuan Berbicara a. Definisi Konseptual
Pengertian berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan,menyatakan serta menyampaikan pikiran,gagasan, dan perasaan.
Inggris yang baik dan benar maka harus sering latihan komunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris.
b. Definisi Operasional
Kemampuan berbicara Bahasa Inggris adalah
mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dngan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara adalah proses individu berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat untuk menyatakan diri sebagai angota masyarakat. Berbicara adalah ekspresi kreatif yang dapat memanifestasikan kepribadiannya yang tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka, tetapi juga alat utama untuk menciptakan memformulisikan ide baru yang diperoleh dari tes secara langsung memlalui kemampuan berbicara Bahasa Inggris. Tes dilakukan oleh siswa kelas X dengan pembelajaran teknik diskusi kelompok dan teknik Konvensional. Adapun tes yang diberikan adalah pilihan ganda dan wawancara.
Tabel 3.2 Profil penilaian berbicara KOMPONEN
PENILAIAN SEKOR KRITERIA
6 5
Kurang Sangat kurang
Grammar (25 point) 23-25
19-22 Vocabulary (25 point) 23-25
19-22
Fluency (15 point) 13-15
Comprehension (25point) 23-25 19-22 16-18 12-15 8-11
5-7
Sempurna Sangat baik
Baik Cukup Kurang Sangat kurang
TOTAL 100
2. Teknik Diskusi Kelompok a. Definisi konseptual
Diskusi kelompok adalah modl pembelajaran dilakukan dengan berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah ditentukan melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah.
b. Definisi Operasional
Diskusi kelompok adalah suatu model pembelajaran yang dalam
Tabel 3.3 kisi-kisi Instrumen Penelitian
No Tema Indikator Pertanyaan
1 Simple Past Tense
Menentukan kata kerja yang tepat sesuai dengan kalimat simple past tense. Pilihan ganda.
Contoh : It was dark, so didn’t
__________ him clearly.
(a. see , b. seen , c.saw , d.seeing)
Mengubah bentuk kata kerja pertama menjadi simple past tense. Fill in the blank.
Contoh : Tono (climb) ________
mountain Merbabu two weeks ago.
Menentukan To be (was, were).
Contoh : The school ________ empty last Sunday.
1-10
11-20
3. Uji Instrumen a. Validitas
Perhitungan validitas diri sebuah instrument dapat menggunakan rumus korelasi product moment atau dikenal juga dengan kolerasi pearson. Adapun rumusnya dalah sebagai berikut :
∑ ∑ ∑ √{ ∑ ∑
rxy = koefisien korelasi
N = jumlah responden uji coba X = skor tiap item
Y = skor seluruh item responden uji coba b. Reliabilitas
Pengujian reliabilitas instrument dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduannya. Secara internal reliabilitas instrument dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrument dengan teknik tertentu. Adapun tolak ukur untuk menginterprestasikan derajat reliabilitas instrument yang di peroleh sesuai dengan table berikut :
Tabel 3.4 Interprestasi Reliabilitas
Koefisien Korelasi
0,81< r ≤ 1,00 Sangat Tinggi
0,61< r ≤ 0,80 Tinggi
0,41< r ≤ 0,6 Cukup
0,21< r ≤ 0,40 Rendah
0,00< r ≤ 0,21 Sangat Rendah
F. Teknik Analisis Data
Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh atau hubungan antara teknik diskusi kelompok dengan kemampuan berbicara bahasa Inggris, maka data nilai hasil belajar siswa perlu diuji dengan persyaratan Hipotesis. Adapun untuk pengujian tersebut dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Teknik Analisis Deskriptif
Untuk menyampaikan hasil tes yang diujikan pada responden. Disajikan sebagai berikut :
a. Menghitung Distribusi Frekuensi
1. Rentang (R) = data tertinggi- data terendah 2. Banyak kelas
K = 1+ 3.3 log n
b. Menghitung (rata-rata) dengan rumus :
̅
= ∑
Keterangan :
Fi= Frekuensi kelas interval Xi= Titik tengah
c. Menghitung Median :
Me = b + p [ ] Keterangan :
Me = median
b = batas bawah kelas median p = panjang kelas median n = jumlah sampel
F = frekuensi sebelum kelas median f = frekuensi kelas median
d. Menghitung Modus Mo = b + p
Keterangan :
b = batas bawah kelas modus p = panjang kelas
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval sesudah modus e. Mencari Nilai Varian ( )
= ∑ ̅̅̅̅
Keterangan : = Nilai Varians n = Jumlah sampel
f = mencari simpang baku (s) S = √
2. Teknik Analisis Persyariatan Data a. Uji Normalitas
Uji Normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji Lilifors yang akan di uji kesamaan frekuensi pada taraf signifikan a = 0,05 . Criteria pengujiannya adalah sampel dianggap normal apabila < .
Dengan L diperoleh dari nilai kritis L uji lilifors. Rumus yang digunakan yaitu : Lo = [ ] abgka Lo dipilih yang terbesar.
Berikut ini adalah langkah-langkahnya :
1. Data pengamatan dijadikan angka baku
Z=
̅3. Hitung proporsi jika proporsi ini dinyatakan oleh S (zi) Maka : S(zi)=
4. Hitung selisih F (Zi) – S(Zi), kemudian tentukan angka mutlaknya.
5. Ambil angka yang paling besar diantara angka-angka mutlak selisih tersebut dan dibandingkan dengan L table.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan uji Barlet yaitu kesamaan Varians antara hasil tes penguasaan kosakata kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Langka-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Hipotesis
Hipotesis statistic
: =
:
2. Menghitung varians masing-masing kelompok
3. Menghitung varians gabungan semua kelompok dengan rumus =∑
∑
4. Menghitung besar satuan B B = ( log ) (∑dk) 5. Menghitung harga Chi- Kuadrat
6. Kriteria pengujian adalah : terima Ho jika hitung < tabel dan diterima jika hitung > tabel dimana tabel diperoleh dari daftar chi kuadrat dengan
= 0,005, dk =k-1
3. Pengujian Hipotesis Penelitian dengan Uji t (t-test)
Untuk mengetahui adanya pengaruh antara teknik diskusi kelompok dengan kemampuan Berbicara Bahasa Inggris siswa kelas X SMK ALUSI Bojonggede.
Responden diberikan tes berupa objektif tes dan hail tes akan diuji dengan “uji-t” pada taraf signifikan = 0,05 dengan derajat kebebasan + -2. Adapun rumusnya sebagai berikut :
S =Nilai varians kelas eksperimen
2 2
S = Nilai varians kelas control