• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas

Ilmu dan Teknologi Kebumian

Program Studi Meteorologi

© 2012 Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung

PENERBITAN ONLINE AWAL

Paper ini adalah PDF yang diserahkan oleh penulis kepada

Program Studi Meteologi sebagai salah satu syarat kelulusan

program sarjana. Karena paper ini langsung diunggah setelah

diterima, paper ini belum melalui proses peninjauan, penyalinan

penyuntingan, penyusunan, atau pengolahan oleh Tim Publikasi

Program Studi Meteorologi. Paper versi pendahuluan ini dapat

diunduh, didistribusikan, dan dikutip setelah mendapatkan izin

dari Tim Publikasi Program Studi Meteorologi, tetapi mohon

diperhatikan bahwa akan ada tampilan yang berbeda dan

kemungkinan beberapa isi yang berbeda antara versi ini dan

versi publikasi akhir.

(2)

1

Penggunaan Model WRF-Fire Untuk Analisa

Sebaran Api Kebakaran Hutan

(Studi Kasus Kalimantan Tengah)

NASMI

Program Studi Meteorologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK

Kebakaran hutan merupakan faktor utama penyebab kerusakan hutan di Indonesia. Untuk mengelola pencegahan perluasan dari dampak penjalaran kebakaran hutan diperlukan model yang dapat memprediksi sebaran api dari kebakaran hutan. Salah satu model yang dapat digunakan untuk melihat prilaku dari sebaran api kebakaran hutan yaitu WRF-Fire. Penilitian ini dilakukan untuk melihat sebaran api kebakaran hutan Taman Nasional Sabangau, Kalimantan Tengah pada 3 Oktober 2006. Konfigurasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu domain 1 dengan resolusi 1km x 1km dan domain 2 200m x 200m. Sedangkan untuk inputan data meteorologi digunakan data Global Forecast System (GFS) dari

National Center for Environment Protection (NCEP), data topografi dari Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) dan data tutupan lahan Global Land Cover 2000. Hasil model WRF-Fire menunjukkan

sebaran api kebakaran hutan Kalimantan Tengah pada 3 Oktober 2006 cenderung menjalar ke arah barat laut pada 6 jam pertama dan ke arah utara pada 6 jam berikutnya. Namun jika dibandingkan dengan data bekas kebakaran hutan hasil olahan citra satelit Terra/Aqua MODIS adanya perbedaan luasan lahan yang terbakar hasil model WRF-Fire dengan data lapangan. Hal ini terjadi karena kecepatan angin hasil model lebih besar dibandingkan dengan data observasi serta penggunaan fuel properties yang perlu dikaji lagi untuk wilayah Indonesia. Walaupun model WRF-Fire sudah baik dalam memodelkan sebaran api kebakaran hutan. Namun diperlukan waktu yang lama untuk menghasilkan hasil model dengan resource komputer yang ada. Sehingga model WRF-Fire masih belum baik jika digunakan sebagai prediksi sebaran api kebakaran hutan.

Kata kunci : kebakaran hutan, sebaran api, WRF-Fire.

1. Pendahuluan

Indonesia adalah salah satu negara beriklim tropis yang memiliki hutan yang luas. Hampir disetiap pulau di Indonesia memiliki hutan yang memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan. Hutan adalah suatu tempat dari ekosistem dan habitat-habitat bagi hewan, tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Banjir, tanah longsor, erosi, dan bencana alam lainnya merupakan dampak kecil atas kerusakan hutan.

Selain faktor diatas, kasus kebakaran menjadi faktor utama dari penyebab kerusakan hutan di Indonesia. Dari tahun ke tahun kasus kebakaran di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan hasil pantauan hotspot Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Ditjen PHKA, Kementerian Kehutanan tercatat pada tahun lalu terdapat 20.850 titik kebakaran hutan di Indonesia hanya dalam kurun waktu 9 bulan ( Januari - September 2012). Angka ini mengalami peningkatan sebesar 26,7% dari tahun lalu yang mencapai 16.450 titik dalam kurun waktu yang sama. Dan total luas hutan yang terbakar mencapai 2.000 hektar. Total 92% kebakaran terjadi di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Dan 8% terjadi di Jawa dan Bali

.

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar pengaruhnya terhadap kehidupan jutaan orang dan menyebabkan kerusakan besar setiap tahunnya mencakup kerusakan ekologis, menurunnya

keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara. Oleh karena itu tools yang baik untuk memodelkan prilaku dari kebakaran hutan sangatlah penting untuk mengelola dalam pencegahan kebakaran, perencanaan pengontrolan kebakaran untuk mengurangi perluasan dari dampak kebakaran itu sendiri serta untuk membantu dalam menaksir kerugian bahaya kebakaran.

Untuk memodelkan sebaran api dari kebakaran kita dapat menggunakan model prediksi cuaca, salah satunya yaitu WRF-Fire atau yang dikenal dengan

SFIRE. WRF-Fire merupakan kombinasi model Weather Research Forecasting (WRF) dengan ARW dynamical core (Skamarock, et al., 2008 dalam

Mandel, Beezley, & Kochanski, 2011) dengan model sebaran api semi-empiris. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan prediksi yang lebih cepat mengenai sebaran api dari kebakaran hutan.

Di Indonesia sendiri masih belum adanya penelitian yang membahas akan penggunaan model

WRF-Fire untuk simulasi sebaran api kebakaran

hutan. Pada penilitian sebelumnya yang sudah dilakukan oleh Dobrinkova (2010) model WRF-Fire digunakan sebagai test case untuk kebakaran di area Harmanli, Bulagaria pada tanggal 14 Agustus 2009. Selain itu juga digunakan oleh Peace dan Mills (2012),

(3)

2

model WRF-Fire yang digunakan untuk mensimulasikan kebakaran hutan di Pulau Kangaroo, Australia Desember 2007. Dalam tugas akhir ini model WRF-Fire akan digunakan untuk melihat sebaran api kebakaran hutan yang terjadi di Taman Nasional Sabangau, Kalimantan Tengah pada 3 Oktober 2006. Sehingga dari tugas akhir ini diharapakan model WRF-Fire dapat diterapkan di Indonesia sebagai prediksi sebaran api kebakaran hutan yang nantinya dapat digunakan sebagai pengontrolan kebakaran hutan di Indonesia.

2. Data dan Metodologi Penelitian

Dalam tugas akhir ini digunakan empat jenis data yaitu data Global Forecast System (GFS) sebagai inputan data atmospheric, data Global Land Cover 2000 sebgai inputan data fuel category, data Shuttle

Radar Topography Mission (SRTM) sebagai inputan

data ketinggian dan sebagai data verifikasi digunakan data observasi stasiun meteorologi Palangkaraya serta data bekas kebakaran olahan citra satelit Terra/Aqua MODIS yang sudah dilakukan oleh LAPAN.

Metodologi dalam penelitian ini terdiri dari dua langkah yaitu prediksi sebaran api kebakaran hutan dan verifikasi hasil model.

2.1. Prediksi Sebaran Api

Berikut adalah langkah-langkah untuk menjalankan model WRF-Fire. Diantaranya terdiri dari :

2.1.1. Konversi data

Sebelum digunakan sebagai data inputan dalam menjalankan model WRF-Fire. Data Global Land

Cover 2000 dan data SRTM perlu dilakukan konversi

dari geotiff menjadi format geogrid karena data yang tersedia masih dalam format geotiff. Terdapat dua cara untuk melakukan konversi data yaitu pertama melakukan instalasi WPS yang support akan data

geotiff dan yang kedua melakukan konversi data

langsung menjadi format geogrid dengan menggunakan converter convert_geotiff.x. Penjelasan lebih lanjut mengenai konversi data dapat dilihat di http://www.openwfm.org/wiki/How_to_convert_data_ for_Geogrid. pada tugas akhir ini menggunakan metode yang kedua.

2.1.2. Menentukan Lokasi Kajian

Untuk dapat melakukan simulasi sebaran api kebakaran hutan diperlukan informasi mengenai koordinat lokasi kejadian. Dalam hal ini diperlukan perkiraan koordinat awal (fire ignition start) terjadinya kebakaran.

2.1.3. Menjalankan Model WRF-Fire

Melakukan simulasi dengan model WRF-Fire memiliki kemiripan dengan model WRF yaitu WRF

Processing System (WPS) dan WRF-Var. Dalam

penelitian ini model WRF-Fire menggunakan data

GFS 3 cycle 00.00 pada tanggal 3 Oktober 2006 sebagai inputan data meteorologi. Sebelum menjalankan model WRF-Fire harus dilakukan konfigurasi terlebih dahulu diantaranya downscaling dan parameterisasi. Karena keterbatasan dalam

resource cluster yang dimiliki maka downscaling

yang dilakukan sebanyak 2 kali yaitu dengan resolusi domain pertama sebesar 1 km dan domain kedua sebesar 200 m.

Gambar 2-1. Domain daerah kajian. Angka 1 menunjukkan domain 1 dengan resolusi 1km x 1km. Angka 2 menunjukkan domain 2 dengan resolusi 200 m x 200 m.

Sedangkan penentuan parameterisasi model yang digunakan dalam menjalankan model WRF-Fire yaitu parameterisasi microphysics, cumulus dan

planetary boundary layer. Skema parameterisasi yang

digunakan adalah skema parameterisasi default dari

WRF-Fire dalam penelitian ini bukan untuk melihat

pengaruh atau sensitivitas parameterisasi WRF-Fire terhadap hasil prediksi. Skema parameterisasi yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2-1.

Tabel 2-1. Konfigurasi parameterisasi model WRF-Fire

Jenis Parameterisasi Nama Parameterisasi

Kumulus Skema New Kain-Fritsch Mikrofisis Skema Purdue Lin

Planetary Boundary Layer Skema MRF

2.2. Verifikasi

Hasil keluaran ouput WRF-Fire selanjutnya dilakukan verifikasi yaitu verifikasi data medan angin keluaran model WRF-Fire dan verifikasi sebaran api kebakaran hutan. Verifkasi medan angin dilakukan dengan melihat korelasi dan menghitung RMSE data kecepatan angin keluaran WRF-Fire dengan data observasi dari Stasiun Meteorologi Palangkaraya, Kalimantan Tengah serta membandingkan arah angin dari kedua data dengan melakukan plot windrose. Sedangkan verifikasi sebaran api dilakukan dengan melakukan overlay sebaran api hasil model WRF-Fire dengan data bekas kebakaran hasil olahan citra satelit

(4)

3

Terra/Aqua MODIS yang sudah dilakukan oleh

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).

3. Hasil dan Pembahasan

3.1. Verifikasi Medan Angin

Parameter meteorologi yang penting dalam menentukan sebaran api dari kebakaran hutan yaitu medan angin. Angin menentukan arah dan menjalarnya api dan mempunyai korelasi positif dengan kecepatan menjalarnya api (Suratmo, 1985 dalam Adinugroho). Sehingga perlunya verifikasi medan angin keluaran model WRF-Fire terlebih dahulu untuk melihat seberapa baik hasil keluaran model. Verifikasi hasil prediksi kecepatan angin dari

WRF-Fire akan dilakukan dengan perhitungan

korelasi dan RMSE dari data observasi. Sedangkan untuk arah angin akan digunakan analisa kualitatif plot

windrose dari kedua data.

Gambar 3-1. Diagram hasil perhitungan koefisien korelasi dan RMSE data medan angin model WRF-Fire dengan data observasi pada tanggal 3 Oktober 2006.

Pada gambar 3-1 menunjukkan hasil perhitungan korelasi dan RMSE di daerah kajian. Dapat dilihat bahwa secara kuantitatif angin hasil prediksi model

WRF-Fire kurang baik jika dibandingkan dengan data

observasi. Di mana nilai korelasi dari kedua data yang sangat kecil yaitu berkisar -0.2. Rendahnya nilai koefisien korelasi ini disebakan karena data observasi yang digunakan berada jauh dari titik awal kebakaran. Hal ini dikarenakan tidak adanya stasiun meteorologi yang ada di sekitar wilayah kajian.

Analisis selanjutnya untuk melihat sudah baik atau tidaknya angin hasil prediksi maka dilakukan analisis secara kualitatif. Dalam hal ini melihat perbandingan grafik hasil prediksi dengan data observasi selama 12 jam. Dari Gambar 3-2 terlihat bahwa prediksi kecepatan angin hasil model

WRF-Fire menunjukkan hasil over estimasi pada jam 7-12

dan under estimate pada jam 3-6. Terdapat perbedaan fasa pada jam-jam tertentu yaitu pada jam 7 dan 8. Di mana pada jam tersebut data observasi menunjukkan tidak adanya angin pada daerah kajian sedangkan hasil prediksi menunjukkan adanya angin dengan kisaran kecepatan 3 m/s dan 7 m/s. Sehingga perbedaan hasil

prediksi pada waktu tesebut kemungkinan penyebab analisa secara kuantitatif hasil prediksi terhadap data observasi menjadi kurang baik.

Gambar 3-2. Perbandingan kecepatan angin hasil keluaran model WRF-Fire dengan kecepatan angin hasil observasi dari stasiun Meteorologi Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada tanggal 3 Oktober 2006.

Selanjutnya dilakukan verifikasi arah angin hasil prediksi dengan data observasi dengan menggunakan plot windrose untuk melihat arah angin dari kedua data. Karena arah angin merupakan faktor penting meteorologi yang mempengaruhi arah sebaran api dari kebakaran hutan.

Gambar 3-3a.

windrose model WRF-Fire

(5)

4

Perbandingan kedua gambar pada Gambar 3-3 menunjukkan bahwa arah angin hasil prediksi model

WRF-Fire memiliki kemiripan dengan arah angin

observasi. Di mana kedua data tersebut menunjukkan bahwa pada saat simulasi dilakukan yaitu tanggal 3 Oktober 2006 arah angin menuju ke barat laut dan utara.

Secara keseluruhan dari analisis kualitatif dan kuantitatif medan angin hasil prediksi dengan data observasi dapat disimpulkan bahwa arah angin hasil keluaran WRF-Fire sudah menunjukkan hasil yang cukup baik. Di mana terdapat kesamaan fasa arah angin dari kedua data. Namun data kecepatan angin masih menunjukkan hasil yang belum baik. Di mana kecepatan angin hasil model WRF-Fire menghasilkan data kecepatan angin yang belum sefasa dengan data observasi. Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa medan angin hasil prediksi model WRF-Fire yang sudah cukup mempresentasikan keadaan sebenarnya yaitu arah angin hasil prediksi model

WRF-Fire pada tanggal 3 Oktober 2006 sedangkan

kecepatan angin masih menunjukkan hasil yang belum baik.

3.2. Hasil Simulasi WRF-Fire 3.2.1. Sebaran Api Kebakran Hutan

Hasil model WRF-Fire berupa sebaran api kebakaran hutan dan luasan lahan yang terbakar (burn

area). Dari hasil simulasi sebaran api kebakaran hutan

dengan menggunakan model WRF-Fire terdapat dua arah sebaran api yang menyebar, yaitu pada 6 jam pertama api cenderung menyebar ke arah barat laut dan setelah 6 jam pertama tepatnya pada 6 jam selanjutnya api cenderung menyebar ke arah utara. Sebaran api pada kebakaran hutan dapat dilihat pada Gambar 3-4.

Gambar 3-4a. Sebaran api pada 6 jam pertama

Gambar 3-4b. Sebaran api pada 6 jam berikutnya

Dari hasil simulasi menunjukkan bahwa adanya pengaruh angin yang besar dalam sebaran api pada kebakaran hutan di Taman Nasional Sabangau, Kalimantan Tengah. Dimana arah angin keluaran model WRF-Fire yang terjadi pada saat kebakaran menunjukkan pola yang sama dengan arah sebaran api yaitu arah barat laut dan utara. Pada Gambar 3-3 terlihat bahwa pada 6 jam pertama arah angin menuju ke arah barat laut sedangkan pada 6 jam berikutnya arah angin dominan menuju ke arah utara walaupun pada gambar terlihat adanya angin dengan skala kecil menuju kearah selatan. Tetapi angin dominan tetap menuju kearah utara.

3.2.2. Luasan Lahan yan Terbakar

Selanjutnya Sebaran api hasil keluaran model dibandingkan dengan data bekas kebakaran hutan hasil olahan citra satelit penginderaan jauh

Terra/Aqua MODIS pada tanggal Oktober 2006 –

November 2006. Dari Gambar 3-5 terlihat bahwa wilayah sebaran api hasil keluaran model menunjukkan hasil yang over estimate jika dibandingkan dengan data bekas kebakaran.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan over estimasi mengenai penjalaran kebakran hutan hasil model WRF-Fire, diantaranya :

• Faktor kecepatan angin, dari hasil analisis kecepatan angin yang sudah dijelaskan diatas menunjukkan bahwa kecepatan angin hasil model

WRF-Fire menghasilkan data yang kurang baik

sehingga hal ini berpengaruh dengan kecepatan penjalaran kebakaran. Dari Gambar 3-2 mengenai perbandingan data kecepatan angin model WRF-Fire dengan data observasi menunjukkan bahwa hasil model WRF-Fire cenderung over estimasi dibandingkan dengan data observasi pada jam ke-6 hingga jam ke-12. Di mana tiupan angin yang lebih besar akan memperbesar kecepatan perambatan kebakaran.

• Belum adanya kajian yang membahas mengenai fuel properties yang cocok di gunakan untuk wilayah Indonesia. Di mana perbedaan nilai

(6)

5

untuk masing-masing fuel properties akan mempengaruhi kecepatan penjalaran kebakaran. • Tidak adanya informasi mengenai lamanya kebakaran yang terjadi di Taman Nasional Sabangau, Kalimantan Tengah.

Gambar 3-5. Overlay luasan kebakran hasil model

WRF-Fire tanggal 3 Oktober 2006 dengan data lapangan LAPAN.

Dari hasil sebaran api kebakaran hutan model

WRF-Fire selanjutnya dilakukan perhitungan estimasi

luasan lahan yang terbakar. Perhitungan estimasi dilakukan dengan menjumlahkan semua grid yang terdapat pada fire area. Dimana hasil perhitungan tersebut sudah terdapat dalam log file dari model

WRF-Fire.

Gambar 3-6. Estimasi perhitungan luasan lahan yang terbakar.

3.3. Pengaruh Angin terhadap Luas Kebakaran Gambar 3-7 menunjukkan perbandingan plot kecepatan angin dengan perubahan luas kebakaran

hutan. Dari grafik menunjukkan bahwa pada jam 2-5 terjadinya penurunan pada kecepatan angin dimana perubahan luas kebakaran juga kecil, begitu pula pada jam 6-8 terjadi peningkatan kecepatan angin di mana perubahan luas kebakaran juga mengalami peningkatan. Dari perbandingan kecepatan angin dan perubahan luasan kebakaran hutan menunjukkan bahwa angin memiliki korelasi postif dengan luas kebakaran. Di mana kecepatan perkembangan api akan meningkat seiring semakin besarnya tiupan angin.

Gambar 3-7a. Kecepatan angin 3 Oktober 2006

Gambar 3-7b. Perubahan luasan kebakaran

3.4. Analisis Waktu Runnig Model

Kecepatan waktu running sangatlah diperlukan karena dengan model yang dapat menghasilkan hasil lebih cepat dapat digunakan sebagai prediksi. Adapun spesifikasi dari komputer yang digunakan dalam penilitian ini dapat dilihat pada Tabel 3-1

Tabel 3-1. Spesifikasi sumber komputer

Spesifikasi

Operating

System Linux OpenSUSE 11.7

Processor Model Intel(R) Xeon(R) CPU E5606 @ 2.13GHz

Total CPU 2

Total Core per CPU 4

RAM 8183804 kB

Sumber : (Putri, 2012 dalam tugas akhirnya yang berjudul Pengaruh Inisialisasi Pada Simulasi Cam3 Studi Kasus Monsun Break Januari 2007)

(7)

6

Untuk menjalankan model WRF-Fire dalam analisa sebaran api kebakaran hutan selama 12 jam diperlukan waktu sekitar 10080 menit (168 jam). Sehingga dengan melihat waktu running yang lama dan diperlukannya spesifikasi komputer yang bagus untuk menghasilkan suatu prediksi. Sehingga untuk saat ini model WRF-Fire belum cukup baik dijadikan sebagai prediksi sebaran api kebakaran hutan.

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil simulasi sebaran api kebakaran hutan dengan menggunakan model

WRF-Fire di Taman Nasional Sabangau, Kalimantan

Tengah diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :

a) WRF-Fire dapat digunakan untuk simulasi

sebaran api keabakaran hutan. Namun, hasil model yang dihasilkan dari penelitian ini masih belum baik karena penggunaan konfigurasi domain 1 dengan resolusi 1 km x 1 km yang dapat mempengaruhi hasil model menjadi kurang baik.

b) Karena keterbatasan resource komputer yang dimiliki model WRF-Fire belum bisa digunakan sebagai prediksi sebaran api kebakaran hutan karena memerlukan waktu yang lama untuk dapat menghasilkan hasil prediksi.

c) Berdasarkan simulasi yang dilakukan sebaran api dengan model WRF-Fire menunjukkan bahwa sebaran api pada kebakaran hutan di Taman Nasional Sabangau 3 Oktober 2006 cenderung ke arah barat laut.

REFRENSI

Adinugroho, W. C. Bagaimana Kebakaran Hutan

Terjadi?

Anderson, H. E. (1982). Aids to Determining Fuel

Models For Estimating Fire Behavior.

Coen, J. L., Cameron, M., Michalakes, J., Patton, E. G., Riggan, P. J., & Yedinak, K. M. (2012).

WRF-Fire: Coupled Weather–Wildland Fire Modeling with

the Weather Research. Applied meteorology and

climatology , 16-38.

Coen, J. (2011). WRF Users' Tutorial.

Coen, J., & Clark, T. (2010). WRF-Fire User’s Guide. Dobrinkova, N., & Jordanov, G. (2010). WRF-Fire wildfire modeling in the test area of Harmanli,. VI

International Conference on Forest Fire Research.

Bulagaria.

J, M., J.D, B., & A.K, K. (2010).

http://www.openwfm.org. Dipetik 2013, dari

http://www.openwfm.org/wiki/Coupled_WRF_and_S FIRE_model_user%27s_guide.

Mandel, J., Beezley, J. D., & Kochanski, A. K. (2011).

Coupled armosphere-wildland fire modeling with WRF-Fire.

Putri, N. S. (2012). Pengaruh Inisialisasi pada

Simulasi CAM3 Studi Kasus Monsun Break Januari 2007. Bandung: Program Studi Meteorologi - Institut

Teknologi Bandung.

Putro, H. E. (2009). Simulasi Penyebaran Asap

Kebakaran Hutan dengan Menggunakan Model Kualitas Udara Community Mesoscale Air Quality (CMAQ). Bandung: Program Studi Meteorologi -

Institut Teknologi Bandung.

Suwarsono, Roswintiarti, O., & Noviar, H. (Desember 2008). Analisis daerah bekas kebakaran hutan dan

lahan (burned area) di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2006 menggunakan data satelit penginderaan jauh Terra/Aqua MODIS. Bandung: Prosiding

Pertemuan Ilmiah Tahunan Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia ke-17 (PIT MAPIN XVII).

Gambar

Gambar  2-1.  Domain  daerah  kajian.  Angka  1  menunjukkan  domain  1  dengan  resolusi  1km  x  1km
Gambar  3-1.  Diagram  hasil  perhitungan  koefisien  korelasi  dan RMSE data medan angin model WRF-Fire dengan data  observasi pada tanggal 3 Oktober 2006
Gambar 3-4a. Sebaran api pada 6 jam pertama
Gambar  3-5.  Overlay  luasan  kebakran  hasil  model  WRF- WRF-Fire tanggal 3 Oktober 2006 dengan data lapangan LAPAN

Referensi

Dokumen terkait

Usul perubahan yang kedua ini diajukan oleh anggota atau anggota-anggota Kongres Amerika Serikat. Perlu dikemukakan, bahwa dalam mengajukan usul perubahan itu tidak

Bayu Inti Megah Abadi meliputi prosedur pemesanan barang, persetujuan kredit, pengiriman barang, penagihan, pencatatan akuntansi dengan melibatkan bagian

Sumber: Majalah Galeri : Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia Hal.. menjadi badan seorang wanita, dimana nada-nadanya berubah menjadi kaleng sarden. Latar yang

Penetapan sanksi oleh Dewan Kode Etik Dosen Institut dengan surat keputusan selambat-lambatnya 64 (enam puluh empat) hari kerja setelah diterimanya laporan dugaan

” Permohonan pemeriksaan banding diajukan secara tertulis oleh pemohon atau kuasanya yang khusus dikuasakan untuk itu kepada Pengadilan Tata Usaha Negara yang menjatuhkan

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kombinasi jenis dan konsentrasi filler (dekstrin dan tepung beras) terbaik sehingga dapat menghasilkan puree jambu

10 Perubahan Kadar Cadmium (Cd) pada perokok Aktif pasca dilakukan titik Akupuntur Surakarta Univ Setia Budi Ska 11 Perubahan Kadar CO (Carbon Monoksida) pasca tindakan akupuntur

Ada sumbangan yang signifikan antara daya ledak otot tungkai, kekuatan otot lengan, dan kelentukan pergelangan tangan terhadap hasil jumping service dalam permainan bola voli