MANAJEMEN PEMELIHARAAN
BROILER
1
KATA PENGANTAR
Panduan tentang manajemen pemeliharaan ayam broiler ini, menguraikan secara ringkas tentang aspek-aspek penting dari manajemen pemeliharaan ayam, dimana satu sama lainnya saling berkaitan dan mempengaruhi pencapaian target produksi dan performace dari ayam broiler.
Panduan manajemen yang kami sajikan ini, diharapkan dapat membantu menambah pengetahuan dan wawasan para praktisi dan peternak, yang terlibat langsung dalam pengembangan industri peternakan ayam broiler di Indonesia.
Dengan pemahaman yang mendalam tentang manajemen pemeliharaan ayam broiler beserta segala aspek-nya, diharapkan ayam yang dipelihara dapat menghasilkan produksi yang maksimal atau bila terjadi masalah selama masa pemeliharaan, identifikasi dan solusi atas problem yang sering timbul dan dihadapi, sebagai akibat dari lemahnya praktek manajemen yang diterapkan pada masing-masing peternakan, dapat ditangani dengan lebih baik. Sehingga tidak sampai menimbulkan adanya kerugian secara ekonomis baik berupa gangguan produksi maupun kematian dari ayam yang dipelihara tersebut.
Materi yang kami uraikan dalam tulisan ini tentunya masih terdapat kekurangan dan sangat jauh dari sempurna, maka dari itu kami dari Technical Department, PT. Romindo Primavetcom akan dengan senang hati menerima saran dan kritik yang membangun, demi kesempurnaan penulisan dan penyajian tulisan serupa dikemudian hari.
Jakarta, 24 Desember 2005
Technical Department
2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar 1 Daftar isi 2 Pendahuluan 4Pengaturan secara umum dalam Lingkungan Peternakan 5
Manajemen Umum Pemeliharaan Ayam 6
1. Biosekuriti ……… 7
Lokasi peternakan ……… 7
Pencegahan penyakit ……… 7
2. Persiapan kandang ……… 10
Prosedur Sanitasi dan Desinfeksi Kandang ……… 10
Pengaturan dalam kandang ……… 12
Pre-heating ……… 14
Litter …….……… 14
3. Pemasukan DOC ……… 15
Kualitas DOC ……….……… 15
Prosedur persiapan penempatan DOC ……….……… 15
Manajemen brooding ……..……… 16
Manajemen litter ……… 19
Kepadatan ayam dalam kandang ……… 20
4. Sistem Perkandangan dan Lingkungan ………..……… 21
Kandang ……… 21
Kualitas udara ……… 22
Ventilasi ……… 23
Hubungan antara temperatur dan kelembaban ……… 24
Peningkatan temperatur dan heat stress ……… 26
Penyinaran ………. 28
Sistem pemberian pakan ……… 30
Sistem pemberian air minum ………. 32
5. Nutrisi Pakan ……… 35
Informasi umum tentang nutrisi ……… 35
Bahan baku ……… 35
Sediaan Premik untuk vitamin, mineral dan asam amino ……… 35
Formulasi ……… 37
Pakan untuk anak ayam ……… 39
3
Level energi dalam pakan ……… 41
Konsumsi Pakan ……… 42
Digestibility Pakan ……… ……… 43
Evaluasi konsumsi dan konversi pakan .……… 43
Pakan dan kualitasnya ……… ……… 44
Pakan kaitannya dengan kualitas litter ……… 45
Pakan dan kualitas karkas ……… 46
Pakan dan problem kelumpuhan ……… 47
Nutrisi pakan saat cuaca panas ……… 48
6. Manajemen Air ……….……… 52
Kualitas air minum ……… 52
Pembersihan tempat minum ……… 53
Konsumsi air ……… ……… 54
7. Higienitas dan Program Kesehatan ……… 55
Pencegahan terhadap kontaminan ……… 55
• Personal farm dan pengunjung ……… 55
• Kendaraan pengangkut ……… 55
• Sanitasi, desinfeksi dan waktu istirahat kandang ……… 56
Program kesehatan dan vaksinasi .……… 59
Flushing ……… 60
Vaksinasi ……… 61
o Persiapan dan cara vaksinasi ……… 61
o Respon immune ……… 62
o Program vaksinasi ……… 63
o Penyebab kegagalan vaksinasi ……… 65
o Mencegah kebocoran / kegagalan vaksinasi ……… 66
o Immunostimulan dan keberhasilan vaksinasi ……… 66
Target produksi pemeliharaan broiler ……… 69
Indek Performace Broiler ……… 71
4
PENDAHULUAN
Pesatnya perkembangan industri dibidang peternakan ayam, untuk tujuan menghasilkan produksi hasil ternak dengan tingkat efesiensi biaya produksi semaksimal mungkin, sudah barang tentu menuntut upaya semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung, melakukan terobosan dibidang teknologi. Upaya yang tidak kalah pentingnya dilakukan dari pihak industri pembibitan, adalah menghasilkan bibit ayam yang berkualitas unggul, lewat teknologi dibidang rekayasa genetik. Perbaikan dari segi genetik yang secara berkelanjutan dilakukan oleh pihak pembibit, lebih ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan performance dari ayam itu sendiri.
Perbaikan dibidang genetik yang dilakukan oleh pihak pembibitan ayam broiler dapat dilihat dari adanya perbaikan performance ayam broiler yang ada saat ini, bila dibandingkan dengan ayam broiler generasi satu atau dua dasa warsa sebelumnya. Sebagai contohnya ; ayam broiler generasi sekarang ini, memerlukan waktu pemeliharaan yang relatif lebih singkat untuk mencapai berat badan yang sama dengan tingkat efesiensi pakan yang lebih baik, bila dibandingkan dengan ayam generasi sebelumnya.
Perbaikan dari segi genetik yang selalu diupayakan oleh pihak pembibit untuk menghasilkan produktivitas optimal, mempersyaratkan juga adanya perbaikan dalam hal manajemen pemeliharaan dengan segala aspek teknisnya. Dalam hal ini sangat jelas bahwa, keunggulan secara genetik saja tidak bisa dijadikan satu-satunya jaminan untuk menghasilkan semaksimal mungkin produktivitas ternak, baik secara kuantitas maupun kualitas. Bibit ayam dengan kualitas unggul secara genetik, akan mucul potensi genetiknya dan menghasilkan produktivitas serta performance yang maksimal sesuai standarnya, bila dalam masa pemeliharaannya didukung oleh manajemen yang optimal.
Adanya perbaikan dibidang teknologi pakan dan nutrisi serta sistem perkandangan dengan segala sarana dan prasarana yang melengkapinya, merupakan salah satu upaya untuk mengimbangi keunggulan genetik dari bibit ayam, agar dalam pemeliharaannya mampu menghasilkan tingkat efesiensi yang tinggi dengan pencapaian produksi dan performance yang maksimal.
Aspek penting dari manajemen pemeliharaan ayam broiler, disamping menyangkut bibit ayamnya sendiri, ada beberapa aspek yang bersifat teknis dan praktis sebagai panduan dalam pemeliharaan ayam broiler, diantaranya meliputi : biosekuriti ; prosedur persiapan kandang; prosedur persiapan masuk DOC; sistem perkandangan dan lingkungannya; nutrisi dan manajemen pakan dan air minum serta higeinitas dan program kesehatan.
Oleh karena semua aspek yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan ayam tersebut diatas, dapat saling mempengaruhi dan menunjang satu sama lainnya, maka dalam prakteknya harus selalu diupayakan dapat dijalankan secara optimal dan berkesinambungan, sehingga mampu menghasilkan produksi dan performance ayam yang maksimal.
Untuk memastikan agar target produksi dapat diperoleh dengan indek performance yang maksimal, maka dalam prakteknya di lapangan, penerapan dari manajemen pemeliharaan dengan segala aspek teknisnya, sangat perlu untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi geografis dari masing-masing wilayah dimana peternakan berada.
5
PENGATURAN SECARA UMUM DALAM LINGKUNGAN PETERNAKAN
Pengaturan yang ideal dari pemeliharaan ayam broiler dengan manajemen yang menyertainya, adalah dengan memelihara dalam satu flok / kandang, bibit ayam dari kelompok induk yang sama (umur dan floknya), dan diikuti dengan sistem pemeliharaan all in all out.
Dalam hal pemilihan lokasi untuk peternakan ayam broiler, disamping jauh dari pemukiman penduduk dan lokasi peternakan ayam lainnya, layout dari bangunan kandang juga didisain sebaik mungkin agar semaksimal mungkin dapat dicegah adanya kontaminasi. Pencegahan terhadap masuknya agen penyakit kedalam areal peternakan, dapat dilakukan dengan senantiasa menerapkan sistem sanitasi dan desinfeksi yang memadai.
Gambar – 1 :
• Contoh layout yang
ideal dari kandang sistem closed house
Pada peternakan ayam dengan tingkat operasional cukup besar, ruang ganti pakaian untuk operator, manager farm dan dokter ayam serta pengunjung, akan sangat baik bila disediakan dan harus digunakan oleh setiap orang yang akan masuk kedalam lokasi farm. Ruang ganti akan sangat baik bila disertai dengan pemasangan shower (alat seprot untuk mandi).
Gambar – 2 :
o Contoh layout ruang ganti pakaian untuk karyawan dan pengunjung peternakan
Bila ayam yang dipelihara periode sebelumnya telah dipanen dan sebelum masuk DOC ayam untuk periode berikutnya, semua bangunan kandang dan perlengkapannya harus dibersihkan dan didesinfeksi sesuai dengan prosedur yang baik (lihat prosedur sanitasi dan desinfeksi kandang, halaman 10). Kandang yang telah disanitasi dan didesinfeksi, diistirahatkan selama 2 minggu sebelum diisi kembali untuk periode berikutnya.
6
MANAJEMEN UMUM PEMELIHARAAN AYAM
Ayam broiler yang dipelihara dengan sistem intensif, dimana sekelompok ayam ditempatkan dalam satu bangunan kandang, membuat ruang geraknya menjadi sangat terbatas. Maka untuk memenuhi kebutuhan pokok ayam yang dipelihara dalam lingkungan terbatas tersebut, agar dapat tumbuh dengan cepat dan sehat, menuntut adanya perlakuan manajemen pemeliharaan yang memadai dengan segala aspek teknis-nya, secara terpadu dan komprehensif.
Diagram – 1 : Manajemen umum pemeliharaan ayam broiler
Dalam manajemen pemeliharaan ayam secara umum, ada beberapa aspek yang sangat pokok diperlukan oleh ayam dan pada prakteknya di lapangan, sangat penting untuk diterapkan secara baik dan terpadu, agar ayam yang dipelihara dapat tumbuh sehat dan berproduksi maksimal. Beberapa aspek pokok dari manajemen pemeliharaan ayam, sebagaimana tergambarkan dalam diagram diatas dan diuraikan pada panduan manajemen pemeliharaan broiler berikut ini, meliputi :
1. Sistem biosekuriti
2. Bibit ayamnya sendiri, dengan segala persyaratan kualitasnya 3. Sistem pemeliharaan dengan segala perlakuan khusus
4. Sistem perkandangan dan daya dukung lingkunganannya (kualitas udara) 5. Manajemen pakan dan nutrisi
6. Manajemen air
7. Higienitas dan program kesehatan
Dipelihara dalam lingkungan terbatas
Perlakuan khusus :
• Brooder (untuk anak ayam) •Penyinaran
Air
Pengganggu :
• Kuman penyakit • Toksin (Mikotoksin) • Iklim / CuacaPakan
Udara
Biosekuriti dan Program Kesehatan7
1. BIOSEKURITI
Biosekuriti adalah upaya untuk mencegah masuknya bibit penyakit kedalam satu areal peternakan, agar ayam yang dipelihara didalamnya bebas dari ancaman infeksi penyakit yang belum pernah ada dalam lokasi peternakan tersebut.
Untuk mencapai tujuan dari biosekuriti tersebut, beberapa hal penting sangat perlu untuk diperhatikan dan dilakukan oleh semua pelaku yang bergerak dibidang peternakan. Beberapa hal penting yang berhubungan dengan aspek biosekuriti, diantaranya mengenai ; penetapan lokasi peternakan; mengatur lalu lintas ternak dan sarana peternakan lainnya dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengatur lalu lintas orang yang keluar masuk areal peternakan.
Lokasi peternakan dan konstruksi kandang
• Sangat ideal bila satu peternakan dibangun pada kawasan yang cukup terisolasi, dimana jaraknya minimal 1 – 1,5 kilometer dari lokasi peternakan ayam yang terdekat dan fasilitas lain yang dapat memudahkan terjadinya kontaminasi.
• Peternakan ayam idealnya dibangun pada satu kawasan yang mudah dijangkau dari segi transportasi, sehingga memudahkan pengangkutan hasil ternak dan sarana peternakannya. • Sangat perlu untuk dibuatkan pagar yang memadai, guna mencegah masuknya ternak liar atau
orang yang tidak dikehendaki kedalam areal peternakan.
• Disain konstruksi kandang, gudang dan bangunan pendukung lainya dibuat sebaik mungkin untuk mencegah masuknya burung liar dan binatang lainnya kedalam kandang,gudang maupun bangunan lainnya. Untuk bagian yang harus terbuka dari bangunan kandang / gudang dan bangunan pendukung lainnya, sebaiknya ditutup kawat lapis plastik (plastik coated wire) dengan besaran lubangnya -/+ 2 cm (3/4 inch). Lantai bangunan (untuk kandang postal) akan sangat baik bila dikeraskan dan disemen, agar semua jenis rodensia tidak mudah membuat lubang dan masuk kedalam bangunan.
• Lingkungan 15 meter disekitar bangunan kandang, gudang maupun bangunan pendukung lainnya, senantiasa dijaga kebersihannya dan diupayakan agar tanaman / rumput liar yang ada selalu dipotong, sehingga tidak mengganggu sirkulasi udara antar kandang atau tidak menjadi tempat bersarangnya insekta yang dapat berperan sebagai fektor penyakit.
• Lakukan pemeriksaan secara rutin terhadap sumber air dari adanya pencemaran mikroorganisme patogen, kandungan logam berat dan cemaran bahan kimia lainnya.
Pencegahan penyakit
Pencegahan penyakit yang ditularkan dari ternak/binatang liar
• Bila memungkinkan ada baiknya dilakukan pemeliharaan ayam dengan sistem “ all in – all out” (sistem satu umur) dalam satu lokasi peternakan. Banyak variasi umur (multiple age) dalam satu lokasi peternakan, menyebabkan siklus penyakit relatif sulit untuk dapat diputus, karena ayam yang umurnya lebih tua cenderung selalu menjadi reservoir dari agen penyakit.
8
• Waktu istirahat kandang yang cukup untuk setiap pengisian kembali anak ayam kedalam kandang yang sama. Waktu istirahat kandang terhitung mulai sejak kandang tersebut bersih dan didesinfeksi serta tirai penutup semua bagian yang terbuka dipasang dengan rapat. Disarankan waktu istirahat kandangnya sebaiknya minimum selama 2 minggu.
• Jaga semua jenis tumbuh-tumbuhan yang ada pada radius 15 meter dari bangunan kandang atau gudang, agar tidak tumbuh liar, sehingga tidak menjadi tempat masuknya rodensia maupun binatang liar lain kedalam bangunan kandang atau gudang.
• Jaga semua peralatan, kelengkapan bangunan dan bersihkan serta musnahkan sampah-sampah yang dihasilkan, agar tidak mudah jadi tempat rodensia dan binatang liar lainnya bersarang.
• Bersihkan segera tumpahan atau ceceran pakan, agar tidak termakan oleh ayam ( bila kandang postal ) atau agar tidak mengundang datangnya burung liar atau rodensia ( bila kandang panggung ).
• Simpan material litter (sekam padi atau potongan serutan kayu) dalam karung dan tempatkan dalam gudang yang tidak mudah dijangkau oleh rodensia maupun binatang liar lainnya.
• Jaga senantiasa burung liar agar tidak mudah masuk kedalam kandang ayam atau gudang tempat penyimpanan pakan.
• Upayakan dapat ditekan populasi rodensia dalam areal peternakan dengan cara menerapkan secara efektif program kontrol terhadap rodensia, yakni dengan mengikuti secara kontinyu pemberian umpan + racun untuk tujuan membatasi perkembang biakannya atau untuk membunuhnya.
Pencegahan penyakit karena lalu lintas dan sarana ternak lainnya
• Guna mencegah terjadinya pencemaran agen penyakit yang belum pernah ada dalam satu peternakan, hindari memasukan dan memelihara ayam atau unggas jenis apapun dalam areal peternakan.
• Pada saat dilakukan panen, bila memungkinkan upayakan agar kendaraan dan sarana pengangkutan lainnya tidak masuk ke dalam area kandang (area terbatas), dan hanya masuk sampai wilayang bebas terbatas dari satu areal peternakan.
• Pastikan kendaraan dan sarana pengangkut seperti; keranjang ayam, selalu dalam kadaan bersih dan sudah didesinfeksi terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam areal peternakan.
• Gunakan kendaraan operasional khusus dalam area peternakan, untuk mengangkut ayam dari dalam lokasi kandang sebelum dipindahkan ke dalam keranjang dan kendaraan pengangkut khusus yang digunakan mengirimnya ke pasar atau rumah potong unggas. • Kendaraan dan sarana pengangkut ayam yang khusus digunakan di dalam areal peternakan,
segera dibersihkan dan didesinfeksi setelah digunakan mengangkut ayam yang telah dipanen.
9
Pencegahan penyakit karena lalu lintas orang
• Batasi jumlah orang luar yang diijinkan masuk ke dalam areal peternakan, dengan cara mengunci selalu pintu masuk dan memasang tanda yang sesuai untuk menghimbau tidak sembarang orang masuk ke dalam areal peternakan.
• Jika supervisor atau dokter hewan dari satu peternakan harus mengunjungi lebih dari satu flok setiap harinya, diharuskan mereka mengunjungi ayam yang lebih muda terlebih dahulu, baru selanjutnya melakukan kunjungan pada flok ayam yang lebih tua. Selalu kunjungi flok ayam yang sakit terakhir setelah kunjungan ke flok ayam yang sehat.
• Semua orang yang masuk ke dalam areal peternakan harus mengikuti prosedur biosekuriti yang baik. Dipersyaratkan untuk semua pengunjung dan pekerja, disemprot dengan desinfektan serta menggunakan pakaian khusus yang telah disterilisasi, untuk mencegah terjadinya pencemaran agen penyakit dari luar ke dalam kandang. Bila itu tidak memungkinkan, gunakan sepatu boots dan penutup kepala serta spray dengan larutan desinfektan dan celup sepatu boots yang dipakai ke dalam bak air yang ditambahkan desinfektan sebelum masuk ke dalam kandang.
• Tetap dapat dipertahankan sistem recording dari pengunjung, dengan selalu mencatatnya dalam buku tamu ; nama, perusahaan, tujuan berkunjung, keterangan tentang peternakan yang sebelumnya dikunjungi dan peternakan berikut yang akan dikunjungi.
• Setiap masuk dan meninggalkan kandang, pekerja kandang dan juga pengunjung harus mencuci dan melakukan sanitasi terhadap tangan dan sepatu boots yang dipakai.
10
2. PERSIAPAN KANDANG
Tujuan dari persiapan kandang adalah, untuk memastikan bahwa kandang yang akan digunakan untuk memelihara ayam, dipastikan dalam keadaan bersih, lingkungan kandangnya nyaman untuk ayam dan membebaskan lingkungan kandang dari cemaran berbagai agen penyakit yang bersifat patogen, dari pemeliharaan ayam periode sebelumnya, atau terhadap kontaminasi yang berasal dari luar kandang.
Prosedur sanitasi dan desinfeksi kandang
Bersih kering
Segera setelah ayam dipanen, bersihkan dan keluarkan semua bekas pakan yang tersisa dari tempat pakannya. Bila menggunakan automatic feeder (hauger atau chain feeder), bersihkan sisa pakan yang masih tertinggal dalam automatic feeding system tersebut, sesuai prosedur pembersihan yang direkomendasi oleh pabrik pembuatnya.
Keluarkan semua peralatan dan juga ayam mati atau sisa ayam afkir yang masih ada dari dalam kandang. Selanjutnya bersihkan dan keluarkan material anorganik lainnya, seperti ; kotoran dan bekas litter, bulu serta debu dari dalam kandang dengan cara dimasukan ke dalam karung. Semprot dengan desinfektan karung yang telah berisi materi anorganik tersebut, sebelum diangkut keluar dari lokasi peternakan.
Bersihkan dengan cara menggaruk dengan alat khusus, lapisan kotoran yang menempel pada ; lantai atau slat, dinding dan tiang kandang.
Bila banyak serangga ada dalam kandang, dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida sebelum dilakukan bersih basah.
Bersih basah bangunan dan peralatan
Cuci bangunan kandang dan semua peralatan dengan air bersih. Bila memungkinkan semprot semua bagian kandang dengan menggunakan air panas tekanan tinggi. Bila tidak memungkinkan seprot dengan air bersih tekanan tinggi.
Setelah cukup bersih bilas dengan air campur detergen yang mengandung pemutih (klorin), biarkan beberapa saat ( -/+ 1 jam), agar detergen dapat bekerja melarutkan sisa lemak kotoran yang masih menempel dan membunuh beberapa kuman penyakit yang sensitive terhadap detergen. Selanjutnya bilas dengan air bersih (tekanan tinggi) yang ditambahkan dengan soda api (NaOH).
Bersihkan peralatan kandang seperti; tempat pakan dan minum dengan air yang dicampur detergent dan selanjutnya dibilas dengan air bersih.
Bersihkan dan desinfeksi bagian dalam pipa air minum. Dapat dilakukan dengan cara klorinasi (klorin dosis cukup pekat : 100 – 200 ppm), diamkan selama 2 - 3 jam, untuk memberikan kesempatan klorin bekerja melarutkan sisa-sisa kotoran yang menempel pada permukaan dalam pipa. Selanjutnya dibilas dengan air bersih, dan pastikan tidak lagi ada sisa klorin dalam pipa air minum tersebut (ditest dengan klorin test kit).
11
Setelah dilakukan bersih kering dan bersih basah terhadap kandang yang akan dipersiapkan untuk periode berikutnya, tahap selanjutnya diperlukan adanya :
• Perbaikan kandang dan juga peralatan yang dianggap perlu, untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik saat dipergunakan pada pemeliharaan ayam periode berikutnya.
• Bila memungkinkan lakukan penyemprotan dengan larutan kapur gamping kental pada semua bagian kandang, terutama sekali pada lantai kandangnya, untuk mengoptimalkan upaya sterilisasi kandang terhadap pencemaran kuman penyakit yang ada dalam kandang.
• Untuk kandang sistem terbuka, tutup rapat dengan tirai yang sudah disiapkan, pada seluruh bagian kandang yang terbuka, untuk mencegah pencemaran dari luar kandang, termasuk juga mencegah rodensia agar tidak masuk kedalam kandang yang sudah dibersihkan sebelumnya • Desinfeksi kandang yang telah ditutup tersebut, dengan desinfektan yang dapat membunuh
berbagai jenis agen penyakit. Kandang yang sudah ditutup rapat dan telah didesinfeksi tersebut, diistirahatkan selama minimal 2 minggu.
• Bila diperlukan, dimana banyak insekta ada dalam kandang, lakukan penyemprotan dengan insektisida setelah dilakukan penyemprotan dengan desinfektan sebelumnya.
• Lakukan juga treatmen terhadap lantai kandang dengan beberapa bahan kimia, seperti dengan Boric Acid, Aluminium Silicate, Garam (sodium cloride), Sulfur powder atau dengan Lime (Calsium Carbonate). Tujuan dari treatmen terhadap lantai kandang (lihat table –1).
• 3 atau 4 hari sebelum masuk anak ayam, tebarkan bahan litter yang bersih (sangat minim kandungan debunya) kedalam kandang dengan ketebalan minimal 10 cm.
• 3 (tiga) hari sebelum masuk anak ayam (DOC), lakukan fumigasi dengan formaldehyde + kalium permanganat, dengan perbandingan 2 litter : 1 kilogram untuk volume ruang dalam kandang
480 – 540 M3. Bila fumigasi tidak memungkinkan untuk dikerjakan, dapat dilakukan
penyemprotan dengan dosis cukup pekat, desinfektan yang punya daya bunuh kuat terhadap berbagai jenis kuman penyakit.
Tabel – 1 : Beberapa jenis treatmen untuk lantai kandang Bahan aktif Aplikasi / Dosis
(kg/M2) Tujuan
Boric Acid Seperlunya Membunuh kumbang hitam Aluminium Silicate Seperlunya Membunuh kumbang hitam
Garam (Sodium Chloride) 0.25 Menekan penularan ascaris (cacinga) Sulfur Powder 0.01 Sterilisasi lantai kandang
Lime (Calsium Carbonate) Seperlunya Alkaline agent untuk sterilisasi lantai kandang. Membuat litter lebih mudah dibersihkan dan juga sebagai bahan tambahan untuk pupuk bersama liter dan kotoran ayam.
12
Pengaturan dalam kandang
Pengaturan yang dilakukan dalam kandang bertujuan untuk memastikan, agar ayam yang nantinya dipelihara merasa nyaman dan tidak mudah mengalami stress. Pengaturan dalam kandang, diterapkan cara yang berbeda-beda tergantung dari :
1. Tipe bangunan dan tingkat / level dari insulasi kandang
2. Sistem pemanas yang dipergunakan, khususnya pada kandang sistem closed house, apakah sistem pemanasan untuk seluruh ruangan atau lokal (brooder)
3. Sistem suplai air minum, apakah dengan tempat minum tipe bundar (round type), nipple atau sistem pipa terusan yang terbuka.
Sistem pemanasan seluruh ruangan dalam kandang
Baik dilakukan pada kandang closed house dengan full authomatic system dan memiliki insulator kandang yang baik atau pada kondisi dimana suhu lingkungan hangat (warm climate), dipergunakan 80 sampai 100% dari ruangan. Dengan sistem pemanasan seluruh ruangan, feeding sistem dan sistem instalasi air minum yang terpasang, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak ayam. Sistem pemanasan seluruh ruangan sangat efektif diberikan pada ayam, bila kandangnya closed house dan didukung dengan automatic feeding serta watering system.
Gambar – 3 :
Sistem pemanasan seluruh ruangan menggunakan alat pemanas khusus, cukup efektif dan efesien pada kandang closed house,
13
Untuk 1.000 ekor ayam diperlukan : 10 buah chick feeder tray; 6 – 7 meter kertas dengan tebal 0.7 mm diletakan dibawah nipple dan 5 buah tempat minum ukuran 1 litter.
Gambar – 4 :
Contoh pemasangan peralatan tempat pakan dan minum dengan sistem pemanasan seluruh ruangan pada kandang closed house
Sistem pemanasan lokal (brooder)
Untuk kandang dengan sistem insulasi dimana dinding/tirainya kurang baik dan juga untuk efektifitas pemanasan yang diberikan pada anak ayam pada saat musim hujan, sangat tepat sistem pemanasnya diberikan secara lokal, dengan menggunakan brooding sistem.
Gambar – 5 :
• Pemanasan secara lokal dengan “brooding system” dan menggunakan semawar/gasolex sebagai brooder-nya, umum digunakan pada kandang system terbuka (open house)
14
Pre-heating (Pemanas dinyalakan sebelum DOC ditebar)
Pemanas yang dinyalakan sebelum anak ayam ditebar kedalam kandang, bertujuan mengkondisikan lingkungan dalam kandang, agar mempunyai temperatur yang sesuai untuk kebutuhan anak ayam. Sehingga DOC yang ditebar kedalam areal brooding atau areal kandang, diharapkan langsung dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan dalam kandang.
Sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia yang beriklim tropis, lama waktu pre-heating yang dilakukan umumnya berkisar antara 2 – 3 jam, dan tentunya hal tersebut disesuaikan dengan kondisi iklim; tipe kandang dan sistem pengaturan tirai kandang. Temperatur dalam areal kandang saat pre-heating berkisar antara 28 – 300 C atau 30 – 320 C dibawah brooder pada kandang ayam
dengan brooding sistem.
Litter
Bahan litter, bila ketebalannya cukup memadai (lebih dari 5 cm) dapat berfungsi sebagai insulator antara ayam dengan lantai kandang yang cukup keras dan dingin (kandang postal). Pada ayam yang masih muda, terutama pada anak ayam umur dibawah 3 minggu, litter berfungsi sebagai insulator antara ayam dengan lantai kandang, mempunyai arti yang sangat penting untuk membantu memberikan temperatur lingkungan dalam kandang yang nyaman bagi ayam.
Kebaikan dan kekurangan dari beberapa material litter
Beberapa jenis material litter yang umum digunakan pada peternakan ayam, dimana masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, berkaitan dengan fungsinya sebagai insulator hawa dingin dari lantai kandang, dan kemampuannya dalam menyerap air yang berasal dari kotoran, maupun ceceran atau tumpahan air minum ayam.
o Potongan jerami
Potongan jerami padi dengan panjang 2 – 3 cm, sangat baik bila dipakai sebagai litter. Potongan jerami harus selalu dibalik untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyerap air. Syarat dari pemakain potongan jerami sebagai litter, adalah harus bebas dari jamur dan juga pestisida.
o Serutan kayu
Serutan kayu dari jenis kayu yang cukup lunak dan sangat sedikit sekali kandungan debunya, sangat baik dijadikan bahan untuk litter. Secara umum, serutan kayu mempunyai kemampuan menyerap air yang sangat tinggi. Residu dari bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan kayu berbahaya untuk ayam atau dapat mewarnai kulit ayam.
o Kulit padi
Kulit padi yang dihasilkan dari sisa penggilingan padi, juga cukup baik untuk digunakan sebagai bahan litter. Hanya saja bila dibandingkan dengan serutan kayu, kemampuan menyerap airnya sangat terbatas, maksimal mampu menyerap air sebanyak 30%. Oleh karena itu, bila menggunakan kulit padi sebagai bahan litter, harus sering diganti atau dikeluarkan bila sudah nampak lembab / basah.
15
3. PEMASUKAN DOC
Tujuannya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pemeliharaan ayam, sehingga selalu dapat dipastikan kondisi yang optimum untuk ayam yang akan dipelihara tersebut.
Kualitas DOC
DOC yang berkualitas baik mempunyai ukuran yang seragam dan pusarnya sudah kering dan menutup dengan baik. Tanda – tanda lain dari DOC yang dikatagorikan baik secara kualitas :
• Cukup sering bersuara (baik sebelum dan setelah dilepas dalam brooding area) • Kaki nampak berisi dengan bulu dan mata nampak cerah
• Lincah dan sangat aktif mencari pakan dan minum
• Tidak ada gangguan pernafasan atau tanda infeksi penyakit infeksius lainnya • Berat ideal : 38 – 45 gram, dengan tingkat keseragaman minimum 80%
Prosedur persiapan penempatan DOC
Sebelum kedatangan
Idealnya semua kandang beserta peralatan dalam satu lingkungan peternakan yang telah dicuci dan didesinfeksi, diisi hanya dengan satu jenis umur ayam ( sistem all in all out)
Pasang dan cek semua peralatan dan kelengkapan kandang lainnya secara seksama sebelum kedatangan DOC, untuk memastikan semuanya berfungsi secara optimal.
Perhitungkan jumlah DOC yang akan dimasukan dalam kandang (brooder), disesuikan dengan kapasitas kandang. Sesuaikan juga dengan jumlah alat pemasan, tempat pakan dan tempat minum yang dibutuhkan.
Sesuai dengan kondisi peternakan di Indonesia, pada umumnya pemeliharaan anak ayam menggunakan sistem lokal pemanas, agar lebih efektif dan efesien dalam pemakaian bahan bakarnya, anak ayam sebaiknya ditempatkan dalam brooding sistem.
Pasang chick guard dengan tinggi dindingnya 40 – 50 cm dan diameter 3 – 4 meter. Dinding untuk chick guard sebaiknya terbuat dari seng, disamping dapat melindungi anak ayam dari gangguan rodensia, juga sangat baik untuk memantulkan panas yang dipaparkan oleh alat pemanas ke tubuh anak ayam.
Hidupkan pemanas 2 – 3 jam sebelum DOC ditebar dalam brooder. Pastikan temperatur dalam areal brooder berkisar antara 30 – 320 C dibawah brooder.
Cek kualitas air yang akan diberikan untuk anak ayam. Sangat baik bila air yang akan dikonsumsi oleh ayam mengandung klorin setidaknya 1 ppm, atau bila menggunakan sistem nipple atau dengan bell drinker, kandungan klorin pada bak penampungnya berkisar 2 - 3 ppm dan pada air yang siap untuk diminum oleh ayam, mengandung klorin sebesar 1 ppm.
16
Siapkan tempat pakan dengan ration 1 chick feeder tray untuk 100 ekor DOC sampai berumur 10 hari. Juga siapkan tempat minum manual dengan ratio 1 : 50, yang telah diisi air + CHICKOFIT. Automatik drinker (nipple atau bell drinker) mulai dapat diperkenalkan setelah anak ayam berumur 3 hari, dan untuk automatik feeder dapat mulai diperkenalkan setelah anak ayam berumur 7 hari.
Setelah kedatangan
Sedapat mungkin ayam yang akan dimasukkan kedalam setiap kandang dikelompokan berdasarkan usia asal induknya.
Pindahkan DOC secara hati-hati namun sesegera mungkin dari mobil pengangkut ke dalam kandang dan tempatkan disekeliling chick guardnya. Buka tutup boks-nya dan adaptasikan selama -/+ 1 jam dengan kondisi dalam kandang, sebelum DOC ditebar kedalam chick guardnya.
Setelah -/+ 1 jam diadaptasikan pada lingkungan dalam kandang atau setelah diberikan vaksinasi terhadap ND, IBD dan atau juga terhadap IB dengan cara spay, segera lepaskan DOC ke dalam areal brooder.
1 – 2 jam setelah dilepaskan kedalam brooding area, operator kandang harus memastikan apakah anak ayam dapat makan dan minum dengan leluasa serta menyebar dengan merata dalam area brooding. Pengaturan tempat pakan dan minum serta alat pemanas, dilakukan bila diperlukan.
Kontrol terhadap keadaan anak ayam harus dilakukan minimum setiap 4 - 6 jam, terutama pada 24 jam pertama, untuk memperhatikan ventilasi (pada kandang tertutup / closed house), temperatur, pakan dan minum. Perhatikan tingkah laku anak ayam sebagai indikator apakah ada atau tidaknya masalah dalam brooding sistem.
Untuk kandang sistem tertutup (closed house) yang dilengkapi dengan automatik feeding dan dinking sistem yang dipasang secara permanen, setelah anak ayam berumur 2 – 3 hari perlu diatur sesuai dengan kebutuhan dan untuk memperkenalkannya pada anak ayam, penerangan area brooding dapat sedikit ditingkatkan.
Kandang dengan alat minum sistem automatik, setelah anak ayam berumur 7 hari, tempat minum tambahan secara bertahap dapat dikurangi, sampai akhirnya setelah berumur diatas 10 hari, sepenuhnya menggunakan alat minum automatik tersebut.
Untuk kandang yang menggunakan alat pakan sistem automatik, setelah ayam berumur 8 hari, secara bertahap tempat pakan tambahan sudah dapat dikurangi, sampai akhirnya setelah umur 10 hari, ayam menggunakan tempat pakan automatik.
Manajemen brooding
Tujuannya untuk pengadaan kondisi hangat, ventilasi dan akses yang mudah bagi ayam untuk makan dan minum, sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhannya.
Temperatur lingkungan yang dibutuhkan oleh anak ayam pada umur 1 sampai 7 hari haruslah cukup tinggi, yakni antara 310 – 330C. Temperatur dibawah 310C membuat anak ayam menjadi tidak
mampu untuk menjaga temperatur tubuhnya. Sehingga dapat berpengaruh pada kondisi kesehatan dan perkembangan selanjutnya dari anak ayam tersebut.
17 Kondisi ideal dalam brooding
Pengaturan alat pemanas, tempat pakan dan minum serta luas area brooding, sangat mempengaruhi kondisi ideal dalam area brooding. Untuk memastikan agar ayam dapat tumbuh sehat dan relatif tahan terhadap gangguan penyakit, serta memberikan respon yang baik terhadap semua perlakuan manajemen yang diberikan selama periode awal pertumbuhannya, pastikan ayam ditempatkan pada brooding sistem (indukan buatan) selama 2 – 3 minggu atau tergantung kebutuhan dan kondisi cuaca / iklim di lapangan.
Selama anak ayam ditempatkan dalam brooding sistem (indukan buatan), agar ayam tetap merasa nyaman, beberapa hal berikut harus diperhatikan :
Anak ayam (DOC) ditempatkan dalam area brooding, dimana temperaturnya sudah diatur sebelumnya, sesuai dengan kebutuhan anak ayam. Chick guard (dinding pembatas area brooding) dari brooding sistem sebaiknya dibuat dari seng, dengan ketinggian chick guard antara 35 – 45 cm.
Untuk setiap brooder dengan satu sistem pemanas yang konvensional, idealnya diisi ayam maksimum 500 ekor. Namun bila setiap broodernya menggunakan infra merah (radiant) sebagai alat pemanasnya, dapat diisi antara 1.000 ekor anak ayam, tergantung kondisi cuaca/iklim. Pada umur satu hari, ayam membutuhkan temperatur brooding : 310 – 330C dengan temperatur
untuk seluruh ruangan : 260 – 270C. Temperatur dalam brooding dapat dikurangi 20C setiap 4
hari, sampai akhirnya disesuikan dengan temperatur seluruh ruangan pada kandang sistem terbuka. Untuk kandang sistem tertutup (closed house) dengan insulator yang baik, temperaturnya dapat diatur antara 180 – 260C, atau dapat saja temperaturnya diatur antara
240 – 280C, disesuaikan dengan kondisi iklim daerah tropis seperti Indonesia.
Tabel - 2 : Temperatur dan kelembaban untuk kandang sistem tertutup (closed house)
Catatan : Kondisi temperatur dan kelembaban sesuai tabel diatas, dapat diperoleh bila menggunakan sistem insulator yang baik.
Umur %
(hari) Dibawah Living Seluruh Ruangan Kelembaban
Brooder Area
1 - 2. 32 - 33 29 - 31 30 - 32 55 - 60 Level ventilasi :
3 - 6. 31 - 33 28 - 30 28 - 30 55 - 60 0.8 - 1 M3/KgBB
7 - 9. 29 - 31 26 - 28 26 - 28 55 - 60 mulai stater sampai
10 - 12. 28 - 30 25 - 27 25 - 27 60 - 65 umur 21 hari 13 - 15. 27 - 29 24 - 26 24 - 26 60 - 65 Eliminasi : CO, NH3 16 - 18. 26 - 28 23 - 25 23 - 25 65 - 75 Kecepatan < 1 m/s 19 - 21. 25 - 27 22 - 24 22 - 24 60 - 70 22 - 25 21 - 23 21 - 23 60 - 70 Level ventilasi : 26 - 30 20 - 22 20 - 22 60 - 70 0.8 - 6 M3/KgBB 31 - 35 18 - 20 18 - 20 60 - 70 Eliminasi : CO, NH3
setelah 35 18 - 20 18 - 20 60 - 70 dan Kelembaban
Ukuran temperatur dan kelembaban pasca brooding
Temperatur (Celcius) Lokal brooding
18
Sebagai indikator yang baik, apakah temperatur yang dibutuhkan oleh anak ayam sudah sesuai atau tidaknya, dapat dilihat dari pola penyebaran ayam dalam area brooding. Untuk membuat temperatur yang ideal dalam area brooding sesuai dengan kebutuhan ayam, disamping dengan cara mengatur intensitas panas dari sistem pengapian yang dihasilkan oleh alat pemanas yang dipergunakan, juga dengan mengatur ketinggian alat pemanas. Pastikan bahwa temperatur merata dalam area brooding.
Semakin bertambah umur ayam, semakin luar area brooding yang diperlukan. Oleh karena itu, mulai dari hari ke – 3 / 4 dilakukan pelebaran dari chick guard (dinding pembatas dari brooding sistem) disesuaikan dengan tingkat kepadatan ayam dan temperatur dalam area brooding. Agar ayam tetap merasa nyaman dan dapat dengan leluasa untuk makan dan minum, disarankan kepadatan ayam dalam area brooding, sebagai berikut :
• Umur 0 – 3 hari : 40 ekor / M2
• Umur 4 – 7 hari : 30 ekor / M2
• Umur 8 – 14 hari : 20 ekor / M2 • Umur 15 – 21 hari : 18 ekor / M2
Penempatan peralatan harus diatur sedemikian rupa, sehingga semua anak ayam dapat makan dan minum dengan leluasa. Pengaturan yang memadai untuk setiap 1.000 ekor anak ayam, dapat dilihat pada diagram – 2.
Memasuki umur 14 – 21 hari (tergantung kondisi lingkungan), chick guard sudah bisa dilepas. Pada waktu brooding sistem akan dilepas, sangat penting sekali untuk diperhatikan temperatur dalam keseluruhan kandang.
Diagram – 2 : Pengaturan peralatan dalam brooding
sistem
= tempat pakan : 1 / 50 ekor = tempat minum 1 / 100 ekor
= alat pemanas ditempatkan 1,2 M diatas lantai
= lampu 75 watt dipasang 1,5 M diatas lantai = Chick guards dibuat dari seng dengan diameter awal 3 – 4 meter.
Catatan :
• Intensitas panas yang dihasilkan dan ketinggian dari alat pemanas dapat diatur, sesuai temperatur yang dibutuhkan oleh ayam dan pola penyebaran anak ayam dalam area brooding.
19
Manajemen Litter
Litter berfungsi untuk menyerap air yang berasal dari kotoran atau tumpahan dari sistem air minum ayam. Bila terjadi wet droping yang cukup tinggi dan banyak terjadi tumpahan air minum, menyebabkan litter menjadi lembab dan bahkan cenderung basah. Kondisi dimana litter basah atau kelembabannya melebihi 30% RH, dapat menyebabkan peningkatan terjadinya memar dan lepuh pada kulit dan otot dada, ammonia burn pada kulit dan bantalan kaki serta hock joint.
Meningkatnya konsentrasi ammonia dalam kandang dari litter yang basah/lembab, juga dapat menyebabkan berkurangnya suplai oksigen dan ayam menjadi mudah stress, serta berdampak pada gangguan fungsi sistem imunne pada ayam, sehingga ayam menjadi sensitive terhadap infeksi berbagai kuman penyakit.
Faktor yang dapat mempengaruhi kualitas litter
Berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi kualitas litter. Dimana litter yang kualitasnya kurang baik tersebut dapat menyebabkan kondisi yang tidak nyaman dan gangguan kesehatan serta produktivitas pada ayam broiler.
• Litter dalam keadaan lembab : dapat disebabkan oleh kelemahan dalam disain sistem air minum, seperti tempat air minum yang cukup rendah atau ada kelainan pada automatik sistem dari nipple atau bell drinker; material litter dan ketebalan terpasang; kepadatan ayam; kondisi kesehatan ayam.
Untuk menjaga agar litter tidak cepat menjadi lembab, ketebalan litter yang ideal berkisar antara 5 – 10 cm. Bila bahan litter yang dipergunakan mempunyai kemampuan menyerap air yang rendah, atau karena banyak cipratan air yang timbul selama ayam mengkonsumsi air minum, ketebalan bahan litter akan sangat baik bila dipasang lebih dari 15 cm.
Pada kandang closed house, pemberian air minum ayam dengan sistem nipple atau cup drinker sistem dapat menekan kelembaban litter sampai 70%, dengan catatan nipple tidak ada yang mengalami kelainan dan dipasang pada ketinggian yang tepat.
Faktor nutrisi yang diketahui dapat menyebabkan litter menjadi mudah lembab, diantaranya karena tingginya kandungan Sodium atau Cloride dalam pakan. Potassium yang sumbernya dapat diperoleh dari bahan baku pakan seperti molase dan bungkil kedele, bila kandungannya cukup tinggi ada dalam pakan, punya ekses pada ketidak seimbangan protein dan asam amino. • Litter menggumpal dan mengandung banyak lemak : dampak dari tingginya kandungan
lemak dalam pakan atau karena rendahnya kualitas lemak yang terkandung dalam pakan, dapat meningkatkan kandungan material lemak pada litter. Hal ini menyebabkan berkurangnya kemampuan material litter untuk menyerap air. Bentuk litter yang menggumpal tersebut, dapat menyebabkan lesi atau memar pada bagian tubuh yang kontak langsung dengan litter. Bila ada indikasi material litter mulai menggumpal dan kandungan lemaknya meningkat, sangat penting untuk dilakukan evaluasi pakan dan juga ganti litter yang menggumpal dan mengandung lemak tersebut dengan bahan litter yang baru.
• Nitrogen pada litter: meningkatnya level nitrogen pada litter seringkali berhubungan dengan kelembaban litter yang cukup tinggi dan disebabkan oleh karena kotoran ayam yang basah. Level protein kasar dalam pakan, yang mana lebih tinggi dari jumlah standar yang dibutuhkan serta kandungan asam amino yang tidak seimbang, dapat menyebabkan tingginya kandungan nitrogen dalam bentuk gas ammonia pada litter.
20
Diagram - 3 : Beberapa penyebab rendahnya kualitas litter
Kepadatan Ayam Dalam Kandang
Tujuan dari mengatur kepadatan ayam dalam kandang adalah untuk menjaga agar lingkungan dalam kandang tetap nyama dan ayam mempunyai ruang yang cukup untuk makan dan minum, sehingga pertumbuhan lebih seragam dan kualitas karkas serta optimal dalam pencapaian indek performance-nya.
Tingkat kepadatan yang cukup tinggi dalam kandang, dapat menurunkan daya dukung lingkungan kandang untuk ayam. Dengan tingkat kepadatan ayam yang cukup tinggi dalam kandang, akan meningkatkan temperatur lingkungan kandang, ruang untuk ayam dapat makan dan minum menjadi sempit, sehingga ayam kesulitan untuk mencapai tempat pakan dan minum, serta kualitas udara dalam kandang pun jadi menurun. Kondisi ini tentunya menyebabkan ayam jadi mudah mengalami stress dan dapat menurunkan daya tahan tubuhnya terhadap infeksi penyakit serta pertumbuhan ayam menjadi tidak merata.
Luas lantai kandang yang diperlukan untuk pemeliharaan ayam broiler, tergantung dari : • Target berat badan atau umur panen
• Kondisi iklim dan daya dukung lingkungan kandang
• Tipe dan atau sistem perkandangan serta peralatan yang dipakai.
Tabel - 3 : Kepadatan Ayam Dalam Kandang Sesuai Berat Badan. Tipe Kandang dan Jumlah ( ekor / M2 )
Open housed Berat Badan
(kilogram) Closed
house *) Slat Postal
Keterangan 1.0 30 18 16 1.4 22 13 11 1.8 17 10 9 2.0 15 9 8 2.2 13 8 7 2.6 11 7 6 3.0 9 6 5
*) pada total closed house dengan sistem insulator yang baik dan sesuai rekomendasi untuk Welfare of Livestock, Meat Chickens and Breeding Chickens, Department of the Environment, Food and Rural Affairs (DEFRA), UK.
Rendahnya Kualitas Litter
Kualitas material litter yang rendah
Disain dan pengaturan Sistem air minum
Kandungan Sodium, Cloride dan Protein tinggi dalam pakan
Tingginya kepadatan kandang
Kurang baiknya sistem ventilasi dalam kandang Kelembaban lingkungan
tinggi
Diare baik yang spesifik maupun non spesifik
Tingginya kandungan lemak / rendahnya kualitas lemak pakan
21
4. SISTEM PERKANDANGAN DAN LINGKUNGAN
Satu hal yang sangat penting menjadi pertimbangan berhubungan dengan disain kandang, adalah iklim setempat untuk kondisi sepanjang tahun. Kondisi lingkungan membawa pengaruh terhadap kesehatan dan performance dari ayam broiler.
Konstruksi dan tata letak kandang haruslah didisain untuk memberikan kondisi lingkungan yang nyaman pada ayam. Peralatan sistem ventilasi yang dipergunakan untuk membantu sirkulasi udara dalam kandang, haruslah dapat berfungsi secara optimal dalam mengontrol pengaruh lingkungan terhadap ayam.
Kandang (housing)
Kondisi geografis, iklim, jarak antar peternakan sejenis dan dengan pemukiman penduduk, merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan saat memutuskan untuk membangun dan mendisain bangunan kandang untuk pemeliharaan ayam broiler.
Ada 2 (dua) tipe utama dari sistem perkandangan pada pemeliharaan ayam broiler :
1. Kandang sistem tertutup (Closed House), dengan ventilasi sistem tunnel tanpa atau dengan sistem cooling pad, dimana kondisi temperatur dan kelembaban dalam lingkungan kandang dapat dikontrol sesuai kebutuhan.
2. Kandang sistem terbuka, baik bentuk postal atau panggung.
Dibandingkan kandang sistem terbuka, pemeliharaan ayam dengan kandang sistem tertutup (closed house) mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya :
1. Kapasitas / daya tampung kandang lebih banyak 2. Meningkatkan kemampuan hidup ayam yang dipelihara 3. Rata-rata pertumbuhan dan keseragaman jadi lebih baik 4. Ratio konversi pakan dapat lebih ditekan
Kandang sistem tertutup (Closed House)
Karakteristik dari bangunan kandang closed house modern dengan sistem kontrol lingkungan, meliputi :
1. Adanya konstruksi pengaturan sistem ventilasi
2. Menggunakan insulasi pada sisi dinding (side-wall insulation) dan insulasi pada langit-langit (ceiling insulation).
3. Kontrol penuh untuk sistem penyinaran, baik lama maupun intensitasnya.
4. Kelengkapan kandang untuk mengatur temperatur dan ventilasi harus bisa menghasilkan dan menjaga kondisi yang optimum dalam lingkungan kandang.
5. Didukung dengan daya listrik yang memadai
6. Didukung dengan alarm yang berfungsi baik untuk monitoring sistem yang ada, terutama untuk monitoring adanya kelainan dalam kinerja sistem ventilasi.
Pada wilayah tropis, kandang dengan ventilasi sistem tunnel sangat tepat bila diterapkan saat cuaca panas, khususnya saat musim kemarau. Selama musim kemarau, dimana temperatur lingkungan cukup panas, pemakaian ventilasi sistem tunnel yang dikombinasikan dengan sistem fogging atau sistem cooling pad, sangat membantu untuk menjaga ayam jadi lebih nyaman.
22
Untuk wilayah tropis, kandang sistem tertutup (closed house) dengan sistem cooling pad, mempunyai kelemahan saat musim hujan, dimana kendala yang ada adalah kesulitan dalam mengatur tingkat kelembaban dalam kandang.
Kandang sistem terbuka (Open House)
Karakteristik dari kandang sistem terbuka yang baik, meliputi :
o Dibangun diatas permukaan tanah yang benar-benar kering dengan sirkulasi udara yang bebas keluar masuk kandang, tanpa adanya hambatan.
o Orientasi kandang dengan bagian panjang sisi kandang membujur dari timur ke barat, untuk mencegah masuknya sinar matahari langsung kedalam kandang saat pagi maupun sore hari. o Konstruksi atap kandang harus didisain sebaik mungkin untuk meminimalkan pengaruh yang
sangat ekstrim dari perubahan temperatur diluar lingkungan kandang.
o Digunakan atap dengan bagian permukaan luarnya memantulkan sinar matahari
o Tinggi bagian sisi dinding kandang antara 2.75 – 3.5 meter dengan lebar kandang 6 – 12 meter
o Bagian sisi kandang yang terbuka, ditutup dengan jala kawat 2 - 2,5 cm.
o Dilengkapi dengan tirai dari plastik yang dapat diatur (naik turun-nya), untuk membantu kontrol temperatur udara dalam kandang.
o Sistem ventilasi dan pengaturan temperatur yang dipasang dalam kandang, dipastikan dapat membantu daya dukung lingkungan dalam kandang jadi lebih optimal.
Gambar – 6 : Contoh disain dasar dari kandang sistem terbuka (open house)
Kualitas udara
Suplai udara segar yang masuk kedalam kandang, adalah hal yang sangat penting sekali untuk membuat ayam tetap merasa nyaman dan sehat, sehingga ayam dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal. Untuk memastikan pertumbuhan yang optimal, ayam membutuhkan cukup banyak oksigen dan memproduksi gas buangan dari dalam tubuhnya. Sistem pembakaran dari pemanas yang digunakan selama masa brooding (masa indukan), juga dapat menghasilkan gas yang tidak bermanfaat untuk ayam.
60 cm 30 cm 6 – 12 meter 2,75 – 3 M 350 350 2 – 3 meter 2 M 5 - 6 M Anyaman kawat diameter 1 cm Anyaman kawat diameter 2 – 2,5 cm 50 – 100 cm 1,5 M Saluran air
23
Oleh karena itu, kontruksi bangunan kandang dan sistem ventilasi yang dipasang dalam kandang, harus mampu mengeluarkan gas buangan yang dihasilkan oleh ayam dan juga oleh brooder (alat pemanas) dan menggantikannya dengan udara yang segar dan kaya akan kandungan oksigen. Kontaminan utama dari udara pada kandang broiler diantaranya ; debu, ammonia, karbon dioksida, karbon monoksida dan uap air. Bila semua kontaminan dari udara tersebut diatas, terdapat dalam jumlah yang cukup berlebihan ada dalam kandang, akan dapat menyebabkan terjadinya gangguan serta kerusakan pada saluran pernafasan ayam dan penurunan fungsi dari sistem pernafasan, yang pada akhirnya dapat menurunkan performance dari ayam.
Kontaminan seperti debu dan ammonia yang cukup tinggi dan berlangsung dalam waktu cukup lama, dapat menjadi pemicu terjadinya infeksi kuman penyebab penyakit pernafasan dan juga Ascites. Uap air yang berlebihan ada dalam kandang, mempengaruhi temperatur dan kelembaban serta ketersediaan oksigen dalam kandang.
Kualitas udara yang baik, dapat diperoleh dengan cara menjaga ventilasi tetap berlangsung baik dan menekan semaksimal mungkin tingkat pencemaran udara dari ammonia, debu dan karbon dioksida. Dipasaran saat ini sudah bisa didapatkan bahan kimia tertentu, yang dapat dipergunakan untuk treatmen litter guna menekan produksi atau kadar ammonia dalam kandang.
Ventilasi
Ventilasi yang baik merupakan satu hal yang sangat krusial untuk mendukung kesehatan, pertumbuhan dan kenyamanan ayam yang ada dalam kandang. Sistem ventilasi yang ada dalam kandang harus didisain sebaik mungkin untuk membawa udara luar yang segar (kaya akan kandungan oksigen) masuk kedalam kandang dan untuk mengeluarkan udara yang kotor (udara dengan cemaran ammonia, debu dan gas beracun lainnya) dari dalam kandang. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa persyaratan minimum untuk kualitas udara dapat tersedia sepanjang waktu ayam ada dan dipelihara dalam kandang.
Untuk kandang sistem tertutup (close house), disain dan konstruksi dari sistem ventilasi-nya harus disesuaikan dengan luas ruangan, kapasitas kandang dan kapasitas kerja dari sistem ventilasi yang akan dipasang.
Gambar - 7 dan 8 :
Sistem ventilasi udara pada kandang closed house dengan
24
Tabel – 4 : Minimum dan maksimum kapasitas ventilasi berdasarkan berat badan ayam
Kapasitas Ventilasi (meter3/jam) Kapasitas Ventilasi (meter3/jam) Berat Hidup (gram) Minimum Maksimum Berat Hidup (gram) Minimum Maksimum 50 0.07 0.76 1300 0.86 8.77 100 0.12 1.28 1400 0.90 9.27 150 0.17 1.73 1500 0.95 9.76 200 0.21 2.15 1600 1.00 10.24 250 0.25 2.55 1700 1.04 10.72 300 0.28 2.92 1800 1.09 11.19 350 0.32 3.28 1900 1.14 11.65 400 0.35 3.62 2000 1.18 12.11 450 0.39 3.95 2100 1.22 12.56 500 0.42 4.28 2200 1.27 13.01 550 0.45 4.60 2300 1.31 13.45 600 0.48 4.91 2400 1.35 13.88 650 0.51 5.21 2500 1.40 14.31 700 0.54 5.51 2600 1.44 14.74 750 0.57 5.80 2700 1.48 15.16 800 0.59 6.09 2800 1.52 15.58 850 0.62 6.37 2900 1.56 16.00 900 0.65 6.65 3000 1.60 16.41 950 0.68 6.93 3100 1.64 16.82 1000 0.70 7.20 3200 1.68 17.23 1050 0.72 7.50 3300 1.72 17.63 1100 0.75 7.73 3400 1.76 18.03 1200 0.80 8.25 3500 1.80 18.42
Hubungan temperatur dan kelembaban
Untuk mengurangi panas tubuhnya, ayam melakukan evaporasi uap air dari dalam tubuhnya, melalui saluran pernafasannya dengan cara panting (membuka paruhnya). Pada tingkat kelembaban lingkungan dalam kandang yang relatif tinggi, dapat mengganggu aktivitas evaporasi dari ayam, sehingga ayam akan mengalami peningkatan temperatur tubuh. Terjadinya peningkatan tubuh yang cukup ekstrim, karena kelembaban yang tinggi dan evaporasi yang terganggu tersebut, dapat memicu terjadinya heat stress (stress karena kepanasan) pada ayam. Perubahan temperatur dari tubuh ayam sangat tergantung pada perubahan temperatur dan kelembaban lingkungan.
Untuk meminimalkan pengaruh yang cukup ekstrim dari peningkatan temperatur dan berkurangnya kelembaban dalam kandang, saat cuaca panas, terutama pada saat siang hari, dapat dibantu dengan melakukan fogging (penyemprotan uap air dengan sistem kabut) didalam kandang saat siang hari.
Sebagai catatan, selama interaksi antara temperatur dengan kelembaban relatif tidak diketahui dengan pasti, sebaiknya fogging dilakukan tidak melampaui kelembaban relatif yang ideal pada temperatur tertentu (lihat tabel - 5). Dimana angka-angka tersebut diperhitungkan untuk mempertahankan kestabilan kelembaban udara dalam kandang.
25
Tabel – 5 : Kelembaban dan temperatur ideal dalam kandang untuk kandang sistem terbuka pada wilayah iklim tropis
Temperatur ( derajat Celsius) Kelembaban relatif ( RH % )
36 0 C 50 34 0 C 57 32 0 C 63 30 0 C 70 28 0 C 74 26 0 C 75 - 80 Catatan :
o Angka – angka diatas bukan bersifat baku dan akan sangat bergantung pada berat ayam, kecepatan sirkulasi udara dalam kandang, penyesuaian ayam terhadap lingkungan dan sejumlah faktor lainnya.
Faktor yang paling penting dapat dijadikan pedoman untuk menentukan nilai-nilai diatas secara tepat adalah tingkah laku dari ayam sendiri. Karena bila kelembaban dalam kandang melampaui tingkat kelembaban sebagaimana tabel diatas, dapat menyebabkan penurunan dalam efesiensi penguapan dari paru-paru dan menimbulkan resiko kematian pada ayam. Untuk temperatur kandang lebih rendah dari 28 0 C, dianjurkan agar kelembaban dalam kandang tidak lebih dari 75%
RH.
Tabel - 6 : Temperatur ideal yang dibutuhkan ayam dan hubungan temperatur dengan tingkat kelembaban berbeda, untuk kandang sistem tertutup (closed house) pada wilayah tropis.
Temperatur 0 C pada Kelembaban (%RH)
ideal Umur (hari) 50 60 70 80 1 33.0 31.0 30.0 29.0 3 32.0 30.5 29.5 28.0 6 31.0 29.5 29.0 27.0 9 30.0 28.5 28.5 26.0 12 29.5 27.5 26.5 25.0 15 28.5 26.0 25.5 24.0 18 27.0 25.0 24.0 23.0 21 25.0 24.0 22.5 22.0 23 24.0 23.0 21.5 21.0 27 - panen 23.0 22.0 21.0 20.0
26
Bila kelembaban lingkungan tidak sesuai dengan kondisi ideal yang dibutuhkan oleh ayam, maka temperatur dalam kandang dapat diatur sesuai table diatas. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah selalu memonitor keadaan ayam, untuk memastikan bahwa ayam mendapatkan temperatur yang memadai sesuai kebutuhannya. Bila kemudian dari tingkah lakunya, ayam nampak kedinginan atau kepanasan, temperatur dalam kandang harus diatur sesuai kebutuhan ideal.
Gambar – 9 :
o Pemasangan sprayer untuk fogging sistem (semprot air berbentuk kabut) pada kandang sistem terbuka (open house), sangat membantu untuk menurunkan temperatur kandang saat cuaca panas.
Peningkatan Temperatur dan Heat Stress
Pada kandisi cuaca panas, dimana terjadi peningkatan temperatur diluar kandang, akan menyebabkan pula peningkatan temperatur dalam kandang. Pada kandang sistem tertutup (closed house) dengan sistem insulator yang baik dan sistem tunnel dengan cooling pad, adanya peningkatan temperatur diluar kandang, karena pengaruh cuaca panas, tidak banyak mempengaruhi perubahan temperatur dalam kandang. Namun pada kandang sistem terbuka, perubahan temperatur yang sangat ekstrim diluar kandang, akan sangat berpengaruh pada perubahan temperatur dalam kandang.
Tingkat akumulasi amonia, CO2 dan gas buangan lainnya yang cukup tinggi ada dalam kandang,
akan memicu terjadi peningkatan temperatur yang cukup ekstrim dalam lingkungan kandang. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya heat stress pada ayam.
Mengatasi Heat Stress
Heat stress merupakan suatu keadaan, dimana ayam mengalami cekaman oleh karena peningkatan temperatur tubuhnya melebihi temperatur lingkungan, yang disebabkan oleh menurunnya daya dukung lingkungan baik didalam maupun diluar kandang. Keadaan heat stress, umumnya ditandai dengan; panting (membuka paruhnya) dengan sayap direntangkan untuk upaya mengeluarkan panas tubuhnya.
Pada broiler heat stress mempunyai efek tidak baik, dimana ayam menjadi tidak nyaman dan menyebabkan gangguan pertumbuhan bahkan sering berdampak pada meningkatnya jumlah kematian.
27
Langkah-langkah untuk menekan kejadian heat stress
Pada cuaca panas, tingkat kepadatan ayam disesuaikan dengan temperatur, kelembaban dan kapasitas dari sistem ventilasi yang ada dalam kandang.
Penurunan kepadatan ayam dalam kandang dapat membantu menurunkan temperatur dan selanjutnya mengurangi kejadian heat stress yang dialami oleh ayam.
Pada kandang sistem closed house dengan kondisi lingkungan yang terkontrol, pada kondisi cuaca panas, tingkat kepadatan ayam harus dikurangi dengan kapasitas maksimum 30 Kg/M2
sampai umur panen.
Pada kandang sistem open house (kandang terbuka), pada cuaca panas kepadatan maksimum 16 – 18 kg/ M2 sampai umur panen.
Dalam keadaan cuaca panas, ayam mengeluarkan panas tubuhnya dengan cara evaporasi air tubuh selama panting dan saat yang sama terjadi peningkatan konsumsi air minum. Untuk itu diperlukan ketersediaan air yang segar dengan temperatur yang cukup dingin (dibawah 180 C)
selama cuaca panas tersebut. Penempatan tangki / bak air secara khusus di dalam setiap unit kandang dan dilindungi dari sinar matahari serta melindungi pipa air minum dari pengaruh sinar matahari, akan sangat membantu menekan heat stress melalui ketersediaan air minum yang selalu segar untuk ayam.
Proses pencernaan pakan menimbulkan terjadinya peningkatan panas tubuh; untuk itu pemberian pakan pada saat cuaca panas, terutama pada siang hari agar dihindari. Hal ini sangat membantu menekan terjadinya heat stress, terutama pada kandang sistem open house.
Dalam keadaan dimana kelembaban tinggi, penurunan panas dalam lingkungan kandang melalui pemindahan hawa panas sangat penting untuk dilakukan. Pada kandang dengan sistem closed house, pemindahan hawa panas dalam kandang dapat dilakukan dengan meningkatkan kecepatan angin setidaknya sampai 2,5 m / detik. Pada kandang sistem open house, dapat dilakukan dengan menambahkan kipas diameter 90–100 cm, dipasang dengan kemiringan 320
atau sesuai kebutuhan.
Kelembaban yang tinggi menekan efektifitas penghilangan panas tubuh melalui evaporasi selama ayam panting. Oleh sebab itu kondisi litter pada kandang postal sangat penting untuk dijaga kondisinya, dimana kelembabannya tidak boleh lebih besar dari 30% RH.
Radiasi sinar matahari secara langsung dapat meningkatkan temperatur dalam kandang, khususnya pada kandang dengan atap tanpa insulator yang memadai. Menyirami air secara merata diatas atap pada saat siang hari, akan sangat membantu pengaruh panas matahari tersebut untuk menyebabhan terjadinya heat stress.
Pada bagian terbuka dari kandang, dimana sinar matahari dapat menerobos masuk kedalam kandang, dapat digantungkan plastik netting (paranet) pada tepi atap bagian bawah, dengan lebar 30% dari bagian kandang yang terbuka, sehingga dapat mencegah efek panas yang dapat ditimbulkan oleh radiasi sinar matahari tersebut.
Instalasi sistem tunnel dan evaporasi cooling system-nya, akan sangat membantu mencegah terjadinya heat stress, terutama pada kondisi cuaca panas.
28
Diagram – 4 : Respon psikologikal ayam broiler terhadap heat stress dan efeknya terhadap performance
Respon ayam broiler terhadap Panas dan kelembaban tinggi
Penyinaran
Penyinaran yang diberikan pada ayam broiler ditujukan untuk membantu pencapaian berat badan dan tingkat hidup yang optimal dari ayam.
Program penyinaran yang umum pada ayam broiler, diberikan secara kontinyu dengan periode terang yang panjang dan dilakukan pengurangan intensitas dan waktu penyinaran seiring pertambahan umur ayam. Selain dengan program konvensional tersebut diatas, program penyinaran sistem terang dan gelap dimana diberikan penerangan dengan periode terang yang cukup panjang (3 – 4 jam) dan diikuti dengan periode gelap yang singkat (0.5 – 1 jam), efektif dapat dijalankan pada kandang sistem tertutup dan sekaligus juga untuk membiasakan ayam untuk tidak menjadi kaget dan stress saat terjadi mati lampu.
Panas dan Kelembaban Aktivitas menurun Tingkat konsumsi pakan menurun Kekurangan nutrient intake Panting Alkalosis pernafasan, CO2, H2O Kehilangan bahan dasar asam, H C O3- dan K+ • Keuntungan berkurang • Tingkat efesiensi menurun • Kematian meningkat • Keuntungan rendah
29
Saat ini berbagai variasi program penyinaran diberikan pada ayam, untuk memodifikasi tingkat pertumbuhan dan atau rata-rata pertumbuhan, meminimalkan ratio konversi pakan (FCR) dan membantu menekan jumlah kematian. Sistem yang saat ini banyak digunakan, adalah dengan meningkatkan periode gelap, yakni dengan metode “ intermittent lighting programe ” (program penyinaran terang - gelap).
Untuk semua sistem penyinaran yang diterapkan pada ayam, hal yang terpenting adalah pemberian penyinaran dengan periode terang yang panjang (-/+ 23 jam) dengan intensitas sinar yang cukup tinggi (50 - 60 lux) sampai ayam berumur 7 hari, untuk tujuan menstimulasi tingkat konsumsi pakan (konsumsi pakan) pada umur awal dari perkembangan ayam.
Tabel – 7 : Intensitas sinar yang diperlukan ayam broiler
Umur (hari)
Lampu Pijar (Watt/M2 ) Fluorescent (Lux/ M2)
1 - 7 5 50 - 60
7 - 21 5 - 2 60 - 10
21 - panen 2 10
Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan program penyinaran pada ayam broiler :
• Sinar yang diberikan haruslah terdistribusi secara merata pada seluruh ruangan dalam kandang
• Untuk meningkatkan efesiensi dalam pemakaian lampu dan menekan biaya untuk penyinaran, dapat ditambahkan reflektor yang ditempatkan diatas lampu.
• Bola lampu dan reflektornya secara teratur dijaga kebersihannya, untuk memaksimalkan efesiensi lampu.
• Beberapa tipe lampu yang umum digunakan untuk penyinaran :
o Lampu pijar (incandescent) mampu menghasilkan spektur sinar yang luas, hanya saja lebih boros energi. Lampu jenis ini memerlukan daya listrik yang lebih besar dan seringkali usia lampunya tidak dapat bertahan lama. Lampu pijar dengan sistem output model lumen tinggi per watt-nya, dapat menakan biaya operasinal untuk penyinaran.
o Lampu model fluorescent (cahaya memijar) memproduksi tiga sampai lima kali jumlah sinar per watt-nya dibandingkan dengan lampu pijar (incandescent). Hanya saja kelemahannya, bila usianya sudah cukup lama, akan kehilangan intensitas-nya sehingga perlu diganti sebelum mati.
o Bola lampu dengan sodium tekanan tinggi (High-pressure sodium bulbs) sangat efesien dan juga sangat efektif digunakan pada bangunan kandang dengan langit-langit yang tinggi. Lampu jenis ini memproduksi sepulu kali lipat sinar per watt-nya, bila dinadingkan dengan lampu jenis pijar.
30
Tabel – 8 : Contoh Program penyinaran untuk daya hidup broiler yang baik
Umur (hari) Intensitas (lux)/ M2
Periode terang (jam)
Periode gelap (jam)
1- 3 30 - 40 23 - 24 0 - 1
4 - 15 5 - 10 12 12
16 - 22 5 - 10 16 8
22 - panen 5 - 10 18 - 23 1 - 6
Tabel – 9 : Contoh Intermittent Lighting Program
Umur (hari) Intensitas (lux)/M2
Periode terang (jam)
Periode gelap (jam) 1 - 3 20 24 0 4 20 18 6 7 20 6 dan 1 8.5 dan 8.5 14 5 10 dan 1 6.5 dan 6.5 21 5 14 dan 1 4.5 dan 4.5 28 5 18 6 35 5 18 6 42 5 21 3 49 5 24 0
Source Classen, H.L. Department of Animal and Poultry Science, University of Saskatcayam, Canada. June 1991 Poultry Digest.
Catatan :
o Metode diatas hanya tepat dilakukan pada kandang sistem tertutup (closed house)
Sistem Pemberian Pakan
Beberapa sistem yang banyak dipakai, terkait dengan cara pengangkutan dan pemberian pakan untuk ayam broiler di lapangan. Dimana semuanya dirancang untuk memastikan ayam dapat mengkonsumsi pakan sesuai kebutuhan dengan kualitas pakan yang tetap stabil dan semaksimal mungkin dapat menekan terjadinya pemborosan pakan.
31
Ada 3 (tiga) sistem yang umum dilakukan dan tersedia, berkaitan dengan cara pemberian pakan untuk ayam pedaging :
1. Dengan automatik pan feeder : 1 Pan untuk 30 - 50 ekor ayam (untuk diameter Pan : 33 cm) 2. Dengan Chain feeder : 2,5 - 5 cm per ekor ayam ; 80 – 40 ekor ayam untuk setiap meter lari
dari chain feeder.
3. Dengan tempat pakan jenis round chick feeder tray untuk 60 – 100 ekor ayam sampai umur 7 hari dan bila dengan Hanging tube feeder : 30 - 50 ekor per tempat pakan; dengan diameter piringan tabung 38 / 42 cm.
Pemberian pakan dengan automatik pan feeding sistem, yang dilakukan pada peternakan modern sudah menjadi satu standar untuk menekan pemborosan pakan dan lebih meningkatkan efesiensi pemakaian pakan. Dengan automatik pan feeding sistem, disamping mudah untuk diatur ketinggian tempat pakannya, disesuaikan dengan umur dan ukuran tubuh ayam, pakan yang diberikan juga jadi tetap lebih segar dan meminimalkan pencemaran pakan dari kotoran maupun debu serta material lain yang berasal dari litter kandang.
Automatik pan feeding sistem dengan spesifikasi sedikit berbeda satu sama lainnya, sudah cukup banyak tersedia di pasaran, sehingga dalam mengatur ketinggian untuk ayam, harus benar-benar mengikuti rekomendasi dari pabrik pembuatnya. Jarak antar pan feeder dalam satu pipa tidak boleh melebihi 2,5 meter. Hal ini untuk memastikan semua ayam dapat mengkonsumsi pakan dengan baik sesuai kebutuhannya.
Gambar – 10 dan 11 :
Penyimpanan pakan pada silo dan pemberian pakan dengan automatik fan feeder, dapat miminimumkan resiko pakan yang tercecer atau tumpah saat ayam mengkonsumsi pakan dan pakan yang diberikan juga sesalu dalam keadaan segar dan terjaga kualitasnya.
Level pakan dalam tempat pakan, harus diatur ketinggiannya untuk meminimalkan pakan yang tercecer atau tumpah saat ayam mengkonsumsi pakan. Bila memungkinkan sistem suplai pakannya harus diatur, agar pakan dapat habis dikonsumsi dalam satu hari, sehingga tidak ada pakan yang tersisa dan mencegah terjadinya resiko pencemaran dan pertumbuhan mikroorganisme dalam pakan yang tersisa tersebut.
Bila menggunakan nampan (chick feeder tray), khususnya pada anak ayam umur dibawah 7 hari, untuk memastikan agar konsumsi pakannya tetap baik, maka pemberian pakan harus dilakukan sesering mungkin (minimal 5 – 7 kali sehari). Dengan demikian pakan yang diberikan juga kualitasnya dapat dijaga dan selalu dalam keadaan segar.
32
Pemberian pakan menggunakan hanging tube feeder (tempat pakan gantung), upayakan pemberian pakan minimum 3 - 4 kali sehari dengan mengisi ¼ bagian dari volume tabung. Hal ini sangat membantu pakan yang diberikan tetap segar dan sama baik kualitasnya, sehingga tingkat konsumsi pakan ayam pun dapat tercapai sesuai kebutuhan standarnya.
Sistem Pemberian Air Minum
Sangat penting sekali ketersediaan air minum yang segar dan sehat untuk sepanjang waktu bagi ayam, dimana air yang sehat tersebut harus bebas dari kontaminasi, baik logam berat (Zn, Fe, Pb dll) kuman pathogen (E.coli, Pseudomonas, Salmonella dll) dan mempunyai pH netral (6,5 – 7,2). Untuk memenuhi kebutuhan air minum ayam, dimana sistem pemberian air minum yang dipilih, harus dipastikan mampu secara efesien memenuhi kebutuhan air untuk ayam dan dapat meminimalkan resiko air yang tumpah.
Untuk memastikan setiap flok dari ayam yang dipelihara, dapat menerima air dalam jumlah cukup sesuai kebutuhannya, setiap harinya, ratio konsumsi air dan pakan harus selalu dimonitor. Bila ratio antara konsumsi pakan dengan air sudah mendekati standar, sesuai dengan kondisi cuaca dan tipe bangunan kandang, yakni ; 1 : 2 (temperatur dalam kandang 24 – 300C) sampai 1 : 2,5 (pada
cuaca panas, temperatur diatas 300C ) atau 1 : 1.8 – 1.9 (untuk nipple drinker), dapat diasumsikan
kebutuhan air untuk ayam sudah terpenuhi. Ayam akan mengkonsumsi air dalam jumlah lebih banyak pada saat cuaca panas. Konsumsi air minum ayam cenderung meningkat sebesar 6.5%. setiap terjadi peningkatan 10C temperatur dalam kandang.
Tabel – 10 : Tipikal konsumsi air pada temperatur 24 - 300C (dalam litter/1.000 ekor)
Nipple Drinker Nipple Drinker tanpa Cup dengan Cup Konsumsi Air Umur ( hari ) 7 70 75 80 14 115 125 135 21 165 195 210 28 225 250 270 35 280 300 320 42 315 330 345 49 335 355 375 56 350 365 400
Bell Drinker / Galon