• Tidak ada hasil yang ditemukan

askep HHF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "askep HHF"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny. S DENGAN

DIAGNOSA HYPERTENSION HEART FAILURE (HHF)

(2)

oleh:

Retno Puji Astuti, S.Kep

NIM. 122311101027

PROGRAM PROFESI NERS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2017

(3)

Asuhan Keperawatan pada Klien Ny. S dengan Diagnosa Chronic Kidney Disease

(CKD) + Hypertension Heart Failure (HHF) di ruang Adenium telah disetujui dan

disahkan pada:

Hari, tanggal : , Februari 2017

Tempat: Ruang Adenium RSD dr. Soebandi Jember

Jember, Februari 2017

Pembimbing Klinik

Mahasiswa

(...)

(...)

NIP.

NIM

Pembimbing Akademik ,

(...)

NIP.

(4)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL

Nama Mahasiswa

: Retno Puji Astuti, S. Kep

NIM

: 122311101027

Tempat Pengkajian

: Ruang Adenium RSD dr. Soebandi

Tanggal

: 30 Januari 2017

I. Identitas Klien

Nama

: Ny. S

No. RM

: 154822

Umur

: 21-12-1976 (41th)

Pekerjaan

: ibu rumah tangga

Jenis Kelamin : perempuan

Status Perkawinan : menikah

Agama

: islam

Tanggal MRS

: 26 Januari 2017

16.00 wib

Pendidikan

: SD

Tanggal

Pengkajian

: 30 Februari 2017

Jam 09.00 wib

Alamat

:Krajan I 07/02 Gambiran

Kalisat

Sumber Informasi : klien dan keluarga

II. Riwayat Kesehatan

1. Diagnosa Medik:

CKD + HHF

2. Keluhan Utama:

Klien mengeluh sesak dan nyeri di dada dan perut

3. Riwayat penyakit sekarang:

Keluarga mengatakan pada tanggal 25 Januari 2017, klien mengeluh

pusing, BAB hitam dan encer, dan kembung. Klien langsung dibawa ke

Puskesmas Kalisat untuk mendapatkan penanganan. Klien langsung

(5)

dirujuk ke RSD Kalisat. Klien dilakukan foto rontgen di RS Kalisat dan

dirujuk ke RSD dr. Soebandi Jember pada tanggal 26 Januari 2017 karena

dicurigai mengalami gagal ginjal dan tekanan darahnya yang tinggi. Klien

diopname di Ruang Adenium dengan kondisi GCS 456, TD: 180/110, Nadi

72x/menit, RR 26x/menit, Suhu: 37,6 derajat celcius, dan memakai 0

2

nasal 2 lpm.

4. Riwayat kesehatan terdahulu:

a. Penyakit yang pernah dialami:

Klien sebelumnya belum pernah mengalami kecelakaan dan memiliki

penyakit hipertensi.

b. Alergi (obat, makanan, plester, dll):

Klien tidak memiliki alergi terhadap obat, makanan, dan plester.

c. Imunisasi:

Klien mengatakan tidak mengetahui apakah dulu mendapatkan

imunisasai lengkap atau tidak.

d. Kebiasaan/pola hidup/life style:

Klien mengatakan klien mempunyai kebiasaan bangun pagi untuk

melaksanakan sholat subuh. Setelah menjalankan sholat subuh klien

memulai rutinitas sebagai ibu rumah tangga dari 4 orang anak dan istri

suami.

e. Obat-obat yang digunakan:

Klien mengatakan klien menggunakan obat-obatan yang biasa dibeli di

apotik dan obat-obatan yang diresepkan saat memeriksakan diri di

puskesmas.

5. Riwayat penyakit keluarga:

Orang tua klien memiliki penyakit hipertensi. Kemungkinan besar

hipertensi yang diderita oleh klien disebabkan keturunan dari orang tua.

(6)

Keterangan:

: laki-laki

: perempuan

: klien (Ny. S)

: hubungan suami istri - anak

: tinggal satu rumah

: meninggal

III. Pengkajian Keperawatan

1. Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan

Sebelum MRS: Keluarga klien mengatakan memperhatikan kondisi

kesehatan klien. Apabila merasa sakit, klien memeriksakan

kondisinya ke puskesmas terdekat. Klien menggunakan

obat-obatan yang telah diresepkan dari puskesmas dan

terkadang klien dan keluarga membeli obat di apotik.

Setelah MRS: Keluarga klien sekarang menyadari keadaan klien saat ini

dan sekarang lebih menghargai kondisi kesehatannya.

Keluarga klien memiliki keyakinan bahwa setelah sembuh

akan meningkatkan kehati-hatian agar lebih dapat menjaga

kondisi kesehatannya. Menurut keluarga klien sakit

merupakan sesuatu yang dapat mengganggu segala

kegiatan dalam hidup dan kejadian yang dialami klien ini

merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Interpretasi : tidak ada masalah terkait pandangan terhadap kesehatan.

Keluarga mengungkapkan ingin meningkatkan status

kesehatan klien.

2. Pola nutrisi/ metabolik (ABCD) (saat sebelum sakit dan saat di rumah

sakit)

Antropometeri BB sebelum sakit

: 48 kg

BB setelah sakit

: 53 kg

TB

: 148 cm

(7)

Keterangan : Kurus : <18 ; Normal:18-25 ; Kegemukan: 25-27;

Obesitas :>27.

Interpretasi: klien termasuk kategori normal.

- Biomedical sign :

Tanda biomedis yang dapat dilihat pada klien adalah dilakukan

pemeriksaan penunjang yaitu:

a. Hemoglobin

: 10,8 gr/dl

b. Hematokrit

: 31,6 %

- Clinical Sign :

Kulit lembab, rambut berwarna hitam dan tekstur kasar, sklera

tidak ikterik, konjungtiva anemis, tidak ada mual, tampak lemah.

- Diet Pattern (intake makanan dan cairan):

a. Sebelum masuk rumah sakit, keluarga mengatakan klien makan

3x sehari dengan sayur dan lauk pauk. Klien suka makan

makanan yang asin dan mencampur

b. Saat dirawat di rumah sakit, klien mendapatkan nutrisi bubur

halus 1700 kalori/hari dan minum + 200 ml/ hari.

3. Pola eliminasi(saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit):

BAK

Kriteria

Sebelum MRS

Setelah MRS

Frekuensi

sekitar 3-4 x/hari

-Jumlah

900-1500 ml

240 ml

Warna

Kuning jernih

Hitam pekat

Bau

Bau amoniak (khas urine)

Bau khas darah

Alat bantu

Tidak ada

Kateter

Kemandirian

mandiri

Dibantu keluarga

BAB

Kriteria

Sebelum MRS

Setelah MRS

Frekuensi

Rutin setiap hari

Belum BAB

Konsistensi

Padat tetapi tidak keras

-Warna

Warna feses khas

kekuningan

-Bau

Bau khas amoniak

(8)

-alat bantu

Kemandirian

Mandiri

Dibantu keluarga

Interpretasi : ada gangguan pola eliminasi

4. Pola aktivitas & latihan(saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)

Sebelum klien dirawat di rumah sakit, klien mengatakan klien mengisi

waktu kesehariannya dengan berkebun dan berjualan disekitar rumahnya.

Saat di rumah sakit, klien hanya beraktivitas diatas tempat tidur dan tidak

mampu turun dari tempat tidur, seperti makan dan minum.

c.1. Aktivitas harian (Activity Daily Living)

Kemampuan perawatan diri

0

1

2

3

4

Makan / minum

Toileting

Berpakaian

Mobilitas di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi / ROM

Ket: 0: tergantung total, 1: dibantu petugas dan alat, 2: dibantu petugas, 3:

dibantu alat, 4: mandiri

Status Oksigenasi: RR 23x/menit, ada penggunaan otot bantu pernafasan.

Fungsi kardiovaskuler: TD 100/70 mmHg, nadi dalam batas normal

78x/menit.

Terapi oksigen: klien menggunakan terapi oksigen nasal 2 lpm.

Interpretasi : fungsi pernafasan dan kardiovaskuler kurang baik sehingga

mengganggu aktivitas klien.

5. Pola tidur & istirahat(saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)

Sebelum MRS: Keluarga dan klien mengatakan klien dapat istirahat dan

tidur dengan nyenyak. Dalam sehari klien dapat tidur

kurang lebih selama 6-7 jam. Terkadang klien terbangun di

malam hari karena ingin buang air kecil. Klien merasa

segar saat bangun tidur.

Setelah MRS: Keluarga dan klien mengatakan klien tidak dapat istirahat

dan tidak tidur dengan nyenyak. Pada malam hari, klien

dapat tidur kurang lebih selama 2 jam. Klien sering

(9)

terbangun di malam hari karena sesak dan nyeri di dada

dan perut. Klien tidak merasa segar saat bangun tidur.

Interpretasi: terdapat gangguan pola tidur

6. Pola kognitif & perceptual

Fungsi Kognitif dan Memori : klien dapat mengingat dengan baik. Klien

tidak mampu berkonsentrasi dengan baik

karena klien lebih fokus pada posisi untuk

mngurangi rasa nyeri. Kemampuan

komunikasi klien masih baik. Klien mampu

merespon pertanyaan mahasiswa, seperti

hari apa klien datang ke rumah sakit dan

tanggal lahir klien.

Fungsi dan keadaan indera : fungsi indera klien dapat berfungsi dengan

baik.

Interpretasi : tidak ada gangguan persepsi dan sensori

7. Pola persepsi diri

Gambaran diri: Keluarga dan klien mengatakan mampu menerima kondisi

klien saat ini dan memiliki keyakinan klien dapat sembuh

dari keadaan yang dialaminya sekarang.

Identitas diri : Keluarga dan klien mengatakan menerima klien sebagai

perempuan dan tidak ingin mengubah identitas dirinya.

Harga diri : Keluarga dan klien mengatakan ingin agar klien segera dapat

sembuh dan dapat kembali pulang kerumah dan dapat

melakukan aktivitas seperti sebelumnya.

Ideal Diri : Keluarga dan klien mengatakan merasa klien sehat apabila

sudah dapat pulang dan dapat melakukan aktivitas

sehari-harinya seperti sebelumnya.

Peran Diri : Keluarga dan klien mengatakan klien merupakan seorang ibu

rumah tangga yang memiliki tanggung jawab sebagai seorang

istri dan ibu.

Interpretasi : tidak ada masalah terhadap pola persepsi diri

8. Pola seksualitas & reproduksi

Pola seksualitas: klien memiliki suami yang setia mendampingi klien di

rumah sakit.

(10)

Fungsi reproduksi: Klien memiliki 4 orang anak dan tidak berencana

menambah anak terkait usia dan kondisi kesehatan

klien.

Interpretasi : tidak ada masalah dengan pola seksualitas dan reproduksi.

9. Pola peran & hubungan

Keluarga mengatakan klien memiliki hubungan baik dengan keluarga

maupun dengan teman, kerabat, tetangga, dan orang lain. Klien tampaak

dijenguk oleh anak, mertua, orang tua, dan tetangganya.

Interpretasi: tidak ada gangguan pola hubungan dan peran

10. Pola manajemen koping-stress

Sebelum MRS: Keluarga mengatakan apabila klien memiliki masalah

maka klien mencoba menyelesaikannya dengan

membicarakannya dengan suami dan seringkali klien

marah terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Setelah MRS: Keluarga mengatakan klien memiliki sistem koping stress

yang kurang baik dimana klien merasa gelisah dengan

hospitalisasinya saat ini dan ingin segera pulang.

Interpretasi: ada masalah terhadap fungsi koping dan stres, klien belum

mampu beradaptasi terhadap masalah yang dihadapi

11. System nilai & keyakinan

Sebelum MRS: Keluarga mengatakan klien beragama islam. Klien

menjalankan ibadah shalatnya sesuai dengan ketentuan

dan keyakinan yang diyakini.

Setelah MRS: Keluarga mengatakan klien beragama islam. Klien tidak

mampu menjalankan ibadah karena lemah.

Interpretasi: ada masalah terhadap sistem nilai dan keyakinan

IV. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum:

Kesadaran umum compos mentis, GCS E4V5M6, terpasang infus ditangan

kanan.

(11)

Tanda vital:

- Tekanan Darah

: 100/70 mm/Hg

- Nadi

: 78 x/mnt

- RR

: 23 x/mnt

- Suhu

: 36,4

0

C

Interpretasi : Keadaan umum dan tanda vital klien dalam batas normal.

Pengkajian Fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)

1. Kepala

Inspeksi : bentuk kepala simetris, distribusi rambut merata, tidak terdapat

uban, ada ketombe.

Palpasi : ada nyeri tekan.

2. Mata

Inspeksi: pupil isokor, reflek cahaya +/+, sklera ikterik (-), konjungtiva

anemis (-), bulu mata rata dan hitam, tidak terdapat jejas pada

palpebral

Palpasi: tidak ada nyeri tekan

3. Telinga

Inspeksi : bentuk telinga simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak ada

edema, dan tidak ada perdarahan (otorea)

Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada telinga

4. Hidung

Inspeksi : hidung bersih, tidak ada benjolan, tiada pernapasan cuping

hidung, tidak ada sekret, tidak ada massa, tidak ada perdarahan

(rinorea), tidak ada fraktur nasal

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

5. Mulut

Inspeksi : mukosa bibir kering, tidak ada penggunaan gigi palsu, bau

mulut (+)

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

6. Leher

Inspeksi : bentuk leher simetris, tidak ada benjolan, tidak ada jejas, tidak

ada distensi vena jugularis

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

7. Dada

(12)

Inspeksi : dada simetris, RR 23x/menit, tidak tampak jejas

Palpasi : tidak teraba benjolan atau massa

Perkusi : suara paru sonor

Auskultasi : bunyi napas vesikuler, irama teratur, tidak ada wheezing

b. Jantung

Inspeksi : ictus kordis tidak terlihat

Palpasi : tidak teraba ictus cordis

Perkusi : pekak

Auskultasi : suara jantung S1 S2 tunggal, tidak ada suara jantung

tambahan, tekanan darah = 100/70 mmHg

8. Abdomen

Inspeksi: bentuk abdomen cembung, tidak ada luka/jejas, terdapat

bercak-bercak merah

Palpasi: extended (+)

Auskultasi : Bising usus (+) 10 x/menit

Perkusi: hipertimpani

9. Urogenital

Inspeksi: tidak terdapat kelainan pada alat kelamin klien, urine produksi

sebanyak ± 240 cc/24 jam, klien terpasang kateter, warna hitam

Palpasi : tidak terdapat distensi kandung kemih

10. Ekstremitas

Inspeksi : terpasang infus di tangan kanan, oedema pada kedua kaki

Palpasi : CRT < 2 detik, pitting edema (+), akral hangat, terdapat sensori,

pulsasi teraba

Kekuatan otot :

5555 5555

5555 5555

11. Kulit dan kuku

Inspeksi : kulit berwarna kuning, kuku tangan dan kaki kurang bersih

12. Keadaan lokal

Keadaan umum compos mentis, GCS E4V3M5.

Skala Jatuh Morse / Morse Fall Scale (MFS)

No Pengkajian Skala Nilai Ket

1. Riwayat jatuh : apakah pasien pernah jatuh dalam 3 bulan terakhir? Tidak Ya 0 25 0 2. Diagnosa

(13)

pasien memiliki lebih dari satu penyakit?

Ya 15

3. Alat Bantu jalan: - Bed rest/ dibantu perawat 0 0 - Kruk/ tongkat/ walker 15 - Berpegangan pada benda-benda di sekitar (kursi, lemari, meja) 30 4. Terapi intravena: apakah pasien saat ini terpasang infus?

Tidak Ya

0 20

20

5. Gaya berjalan/ cara

berpindah:

- Normal/ bed rest/ immobile (tidak dapat bergerak sendiri) 0 10 - Lemah (tidak bertenaga) 10 - Gangguan/ tidak normal (pincang/ diseret) 20 6. Status Mental - pasien menyadari kondisi dirinya 0 0 - pasien mengalami keterbatasan daya ingat 15 Total nilai 45

Keterangan :

Tingkatan risiko Nilai MFS Tindakan

Tidak berisiko 0 - 24 Perawatan dasar

Risiko rendah 25 - 50 Pelaksanaan intervensi

pencegahan jatuh standar

Risiko tinggi ≥ 51 Pelaksanaan intervensi

pencegahan jatuh risiko tinggi

Intepretasi: Pasien memiliki resiko jatuh rendah

Pengkajian Resiko Dekubitus: Braden scale

(14)

1. Persepsi Sensori 4

2. Kelembapan 2

3. Tingkat aktifitas fisik 2

4. Mobilisasi 3

5. Nutrisi 2

6. Friksi dan Gesekan 2

Total 15 (Resiko dekubitus)

Keterangan:

Indikator no 1-5

: skala 1-4

Indikator 6

: skala 1-3

(15)

V. Terapi

N O

Jenis terapi Farmakodinamik dan Farmakokinetik Dosis dan Rute Pemberian

Indikasi dan Kontra Indikasi

Efek Samping

1 NaCl - 7 tpm IV Indikasi:

Klien dengan resusitasi, diare, luka bakar, gagal ginjal akut

Kontraindikasi:

Untuk pasien penyakit hati perifer udem atau pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.

Keracunan NaCl

disebabkan oleh induksi yang gagal dapat menyebabkan

hipernatremia yang

memicu terjadinya

trombosit dan

hemorrage. Efek

samping yang sering terjadi nausea, mual, diare, kram usus, haus, menurunkan salivasi dan lakrimasi, berkeringat,

demam, hipertensi,

takikardi, gagal ginjal, sakit kepala, lemas, kejang, koma dan kematian.

2 Ceftriaxone Farmakodinamik:

Ceftriaxone adalah golongan cefalosporin dengan spektrum luas, yang membunuh bakteri dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Ceftriaxone secara relatif mempunyai waktu paruh yang panjang dan diberikan dengan injeksi dalam bentuk garam sodium.

2x1 ampul Indikasi:

1.

Sepsis

2.

Meningitis

3.

Infeksi abdominal

4.

Infeksi tulang, persendian, jaringan lunak, kulit, dan luka-luka

Lelah, sariawan, nyeri tenggorokan, diare

(16)

Farmakokinetik:

Ceftriaxone secara cepat terdifusi kedalam cairan jaringan, diekskresikan dalam bentuk aktif yang tidak berubah oleh ginjal (60%) dan hati (40%). Setelah pemakaian 1 g, konsentrasi aktif secara cepat terdapat dalam urin dan empedu dan hal ini berlangsung lama, kira-kira 12-24 jam. Rata-rata waktu paruh eliminasi plasma adlah 8 jam. Waktu paruh pada bayi dan anak-anak adalah 6,5 dan 12,5 jam pada pasien dengan umur lebih dari 70 tahun. Jika fungsi ginjal terganggu, eliminasi biliari terhadap Ceftriaxone meningkat.

5.

Pencegah infeksi

prabedah

6.

Infeksi dengan pasien gangguan mekanisme daya tahan tubuh

7.

Infeksi ginjal dan

saluran kemih

8.

Infeksi saluran pernafasan

9.

Infeksi kelamin termasuk gonorrhea Kontra Indikasi:

1.

Hipersensitif terhadap Cefalosporin

2.

Hipersensitif terhadap penisilin/antibiotika β-lactam 3 Ranitidin

a.

Farmakodinamik

Ranitidine menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Reseptor H2 akan merangsang sekresi cairan lambung srhingga pada pemberian Cimetidin dan ranitidine sekresi cairan lambung dihambat. Pengaruh fisiologi cimetidin dan ranitidine terhadap reseptor H2 lainnya, tidak begitu penting.walaupun tidak lengkap cimetidin dan ranitidine dapat menghambat sekresi cairan lembung akibat rangsangan obat muskarinik atau gastrin. Cimetidin dan ranitidine

2x1 ampul Indikasi:

1.

mengobati ulkus

lambung dan

duodenum

2.

melindungi lambung dan duodenum agar tidak sampai teradi ulkus

3.

mengobati masalah yang disebabkan oleh

asam pada

kerongkongan

a.

Kegelisahan, depresi, halusinasi

b.

Reaksi alergi seperti

kulit ruam, gatal atau gatal-gatal,

pembengkakan wajah, bibir, atau lidah

c.

Gangguan pernapasan

Perdarahan yang tidak biasa atau

(17)

mengurangi volume dan kadar ion hydrogen cairan lambung. Penurunan sekresi asam

lambung mengakibatkan perubahan

pepsinogen menjadi pepsin menurun.

b.

Farmakokinetik

Bioavailabilitas ranitidine yang diberikan secara oral sekitar 50% dan meningkat pada klien penyakit hati. Masa paruhnya kira-kira 1,7 -3 jam pada orang dewasa, dan memanjang pada orang tua dan klien gagal ginjal. Pada klien penyakit hati masa paruh ranitidine juga memanjang meskipun tidak sebesar pada ginjal. Pada ginjal normal, volume distribusi 1,7 L/kg sedangkan klirens kreatinin 25-35 ml/menit. Kadar puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah penggunaan ranitidine 150 mg secara oral, dan terikat protein plasma hanya 15 %. Ranitidine mengalami metabolism lintas pertama di hati dalam jumlah yang cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidine dan matabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja. Sekitar 70% dari ranitidine yang diberikan IV dan 30 % yang diberikan secara oral diekskresi dalam urin dalam bentuk asal.

(contohnya pada

GERD)

4.

mencegah tukak

lambung agar tidak berdarah

5.

Digunakan sebelum

operasi bedah,

supaya asam datang tidak tinggi selama klien tidak sadar

6.

Mengobati Sindrom

Zollinger-Ellison

(Tingginya kadar

hormon gastrin yang menyebabkan

lambung memproduks i terlalu banyak asam)

7.

Mengobati sakit maag

beserta gejala-gejala yang ditimbulkannya Kontraindikasi: 1. Lansia 2. Ibu hamil 3. Ibu menyusui 4. Kanker lambung 5. Penyakit ginjal 6. Mengonsumsi obat non-steroid anti-inflamasi memar

d.

Muntah

e.

Menguningnya kulit atau mata

f.

Sembelit atau diare

g.

Pusing

h.

Sakit kepala

i.

Mual

(18)

7. Sakit paru paru 8. Diabetes 9. Masalah dengan sistem kekebalan tubuh 10. Porfiria akut (gangguan metabolisme langka 4 Ondansentro ne Farmakodinamik:

Ondansetron bekerja sebagai antagonis selektif dan bersifat kompetitif pada reseptor 5HT3, dengan cara menghambat aktivasi aferen-aferen vagal sehingga menekan terjadinya refleks muntah. Pemberian sitostatika (kemoterapi) dan radiasi dapat menyebabkan pelepasan 5HT dalam usus halus yang merupakan awal terjadinya refleks muntah karena terjadi aktivasi aferen-aferen vagal melalui reseptor 5 HT3. Aktivasi aferen-aferen vagal juga dapat menyebabkan pelepasan 5HT pada daerah psotrema otak yang terdapat di dasar ventrikel 4. Hal ini merangsang terjadinya efek muntah melalui mekanisme sentral. Jadi efek ondansentron dalam pengelolaan mual muntah yang disebabkan sitostatika (kemoterapi) dan radioterapi bekerja sebagai antagonis reseptor 5HT3 pada neuron-neuron yang terdapat pada sistem syaraf pusat dan sistem syaraf tepi.

3x4 mg Indikasi:

1. Mencegah dan

mengobati

mual-muntah akut pasca bedah (PONV) 2. Mencegah dan mengobati mual-muntah pasca kemoterapi pada penderita kanker 3. Mencegah dan mengobati mual-muntah pasca radioterapi pada penderita kanker Kontraindikasi: Pasien hipersensitif terhadap Ondansetron Ondansetron pada umumnya dapat

ditoleransi dengan baik. Konstipasi merupakan efek samping yang paling sering ditemukan (11%). Kadang dapat dijumpai sakit kepala, wajah ke merahan (flushing), rasa panas atau hangat di kepala dan epigastrium yang bersifat sementara. Peningkatan

aminotransferase tanpa disertai gejala-gejala, Kadang juga dapat dijumpai peningkatan serum transaminase (5%) dan ruam kulit (1%), sedasi dan diare, karena meningkatnya

(19)

Farmakokinetik:

etelah pemberian per oral, Ondansetron yang diberikan dengan dosis 8 mg akan diserap dengan cepat dan konsentrasi maksimum (30 ng / ml) dalam plasma dicapai dalam waktu 1,5 jam. Konsentrasi yang sama dapat dicapai dalam 10 menit dengan pemberian Ondansetron 4 mg i.v. Bioavalibilitas oral absolut Ondansetron sekitar 60%. Kondisi sistemik yang setara juga dapat dicapai melalui pemberian secara i.m atau i.v. Waktu paruhnya sekitar 3 jam.

Volume distribusi dalam keadaan statis sekitar 140 L. Ondansetron yang berikatan dengan protein plasma sekitar 70 – 76%. Ondansetron dimetabolisme sanagt baik di sistem sirkulasi, sehingga hanya kurang dari 5 % saja yang terdeteksi di urine.

waktu transfer di usus besar.

5 Furosemide Farmakodinamik:

Farmakodinamik dari obat ini yaitu menghambat sistem transpor pasangan Na+/K+/2Cl- di membran

luminal bagian tebal ansa Henle asendens. Dengan menghambat pentranspor ini, diuretic tersebut menurunkan reabsorpsi NaCl dan juga mengurangi potensial positif lumen normal yang didapat dari daur ulang K+. Potensial elektrik

tersebut didapat dari reabsorpsi kation divalen di ansa Henle.Diuretik kuat, dengan menghilangkan potensial positif lumen menyebabkan peningkatan ekskresi Mg2+ dan Ca2+. Penggunaan yang lama

dapat menyebabkan hipomagnesium yang bermakna pada beberapa jenis penderita. Karena

3x1 mg IV Indikasi:

Indikasi furosemide

digunakan untuk

mengobati tekanan darah

tinggi. Menurunkan

tekanan darah tinggi membantu mencegah stroke, serangan jantung, dan ginjal. Obat ini juga mengurangi bengkak / retensi cairan (edema) yang dapat disebabkan oleh kondisi seperti gagal

Efek samping yang umum dari furosemide termasuk tekanan darah rendah, dehidrasi dan elektrolit penipisan (misalnya, natrium, kalium). Efek samping yang kurang umum

termasuk penyakit

kuning, dering di telinga (tinnitus), kepekaan

terhadap cahaya

(ketakutan dipotret), ruam, pankreatitis,

(20)

Ca2+ secara aktif diabsorpsi ditubulus distal

konvultus, diuretik kuat secara umum tidak menyebabkan hipokalsemia. Namun demikian, pada gangguan yang menyebabkan hipokalsemia, ekskresi Ca2+ dapat ditingkatkan dengan

pemberian kombinasi diuretik kuat dan infus cairan garam. Efek ini bermakna besar pada penanganan hiperkalsemia akut. Tambahan terhadap aktivitas diuretiknya, diuretik kuat mempunyai efek langsung pada aliran darah yang melalui beberapa vascular bed. Mekanisme kerja tersebut tidak dapat dijelaskan. Furosemide meningkatkan aliran darah ginjal dan menyebabkan redistribusi aliran darah dalam korteks ginjal. Furosemide dan asam etakrinat dapat juga mengurangi kongesti paru dan menurunkan tekanan ventrikel kiri pada gagal jantung kongestif sebelum peningkatan keluaran urin dapat diukur, dan pada penderita anefrik.

jantung kongestif,

penyakit hati, atau penyakit ginjal. Hal ini

dapat membantu

meningkatkan gejala

seperti sesak napas.

Kontraindikasi pada

pasien dengan anuria dan pada pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap furosemide.

mual, diare, sakit perut, dan pusing. Peningkatan gula darah dan kadar asam urat juga dapat terjadi. Pusing, sakit kepala ringan, sakit kepala, penglihatan kabur, kehilangan nafsu makan, sakit perut, diare, atau konstipasi dapat terjadi karena tubuh menyesuaikan obat.

Kejang otot atau kelemahan,

kebingungan, pusing berat, mengantuk, mulut kering yang tidak biasa atau haus, mual atau muntah, cepat / tidak beraturan detak jantung, penurunan yang tidak biasa jumlah urin, pingsan, kejang-kejang. Efek samping yang serius dapat terjadi seperti mati rasa / kesemutan dari lengan / kaki, dering di telinga, gangguan pendengaran, tanda-tanda infeksi

(21)

(misalnya, demam, sakit tenggorokan persisten), mudah perdarahan atau memar, menguning mata / kulit.

6 Kalitake Kalitake mengandung ion Ca2+ dalam grup radikal

resin sulfonate yang merupakan kopolimer styrene divinil benzene. Dengan mekanisme kerja sebagai resin penukar ion. Kalitake melepaskan ion Ca2+

dan mengikat ion K+ melalui adsorpsi.

Pada konsumsi per oral, obat ini mengakibatkan terjadinya proses pertukaran ion dalam traktus gastrointestinalis, diekskresi dalam feses. Kalitake tidak mempengaruhi aktivitas motorik spontan. Dalam larutan Tyrode, Kalitake mengakibatkan peningkatan bermakna ion Ca2+ dan penurunan

Mg2+ dan Na+ sampai 10%. Kalitake

mengakibatkan eliminasi ion K+ pada pasien gagal

ginjal.

3x1 mg IV Indikasi:

Hiperkalemia sebagai akibat gagal ginjal akut

dan kronis. Kontra Indikasi: 1. Hipertiroid 2. Mieloma multiple 3. Sarkoidosis atau metastasis karsinoma dengan gagal ginjal dan hiperkalsemi

4. Kadar

kalium/potassium serum kurang dari 5 mmol/L 5. Riwayat hipersensitivitas terhadap resin polistirene sulfonate  Traktus gastrointestinalis : Dapat terjadi

konstipasi dan lebih

jarang nausea, vomitus, anoreksia dan dispepsia  Elektrolit, Kadang terjadi hipokalemia, harus dilakukan monitoring terhadap kadar kalium serum dan jika perlu dosisnya dikurangi/ dihentikan

 Dapat juga

terjadi hiperkalsemia

7 Aminefron Ada 9 jenis asam amino esensial: histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan dan valin. Asam amino esensial tidak dapat disintesis dalam jumlah yang cukup di dalam tubuh dan untuk itu harus tersedia dalam makanan. Fungsi utamanya adalah sebagai

3x1 mg IV Indikasi:

Terapi disfungsi ginjal kronik, dalam kombinasi dg diet tinggi kalori rendah protein.

(22)

kofaktor esensial pada berbagai sistem enzim. Keto atau asam-asam hidroksi ditransaminasi secara enzimatik menjadi asam-asam L-amino yang bersangkutan sementara gugus urea mengalami dekomposisi. Pada penderita yang mendapat diet rendah protein, penggunaan aminefron dapat memungkinkan asupan dengan asam-asam amino esensial bebas nitrogen; penggunaan kembali katabolit yang mengandung nitrogen; anabolisme protein dan penurunan yang simultan dari urea serum; perbaikan dari ketidakseimbangan nitrogen dan asam amino serum; reduksi dari serum, PO4-3.

Kontraindikasi: hiperkalsemia

8 Amlodipin Farmakodinamik :

Amlodipine merupakan antagonis kalsium golongan dihidropiridin (antagonis ion kalsium) yang menghambat influks (masuknya) ion kalsium melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung sehingga mempengaruhi kontraksi otot polos vaskular dan otot jantung. Amlodipine menghambat influks ion kalsium secara selektif, di mana sebagian besar mempunyai efek pada sel otot polos vaskular dibandingkan sel otot jantung. Efek antihipertensi amlodipine adalah dengan bekerja langsung sebagai vasodilator arteri perifer yang dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskular serta penurunan tekanan darah. Dosis satu kali sehari akan menghasilkan penurunan tekanan darah yang berlangsung selama 24 jam. Onset kerja amlodipine adalah perlahan-lahan, sehingga tidak

10 mg 0-0-1 Oral Indikasi : Amlodipin digunakan untuk pengobatan

hypertensi, angina stabil

kronik, angina

vasospastik (angina

prinzmetal atau variant

angina). Amlodipine

dapat diberikan sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan obat anti hypertensi dan anti angina lain.

Kontra indikasi :

Amlodipine tidak boleh diberikan pada pasien

yang hipersensitif

Efek samping yang sering timbul dalam uji klinik antara lain : edema, sakit kepala. Secara umum :

fatigue, nyeri,

peningkatan atau

(23)

menyebabkan terjadinya hipotensi akut.

Efek antiangina amlodipine adalah melalui dilatasi arteriol perifer sehingga dapat menurunkan resistensi perifer total (afterload). Karena amlodipine tidak mempengaruhi frekuensi denyut jantung, pengurangan beban jantung akan menyebabkan penurunan kebutuhan oksigen miokardial serta kebutuhan energi.

Amlodipine menyebabkan dilatasi arteri dan arteriol koroner baik pada keadaan oksigenisasi normal maupun keadaan iskemia. Pada pasien angina, dosis amlodipine satu kali sehari dapat meningkatkan waktu latihan, waktu timbulnya angina, waktu timbulnya depresi segmen ST dan menurunkan frekuensi serangan angina serta penggunaan tablet nitrogliserin.

Amlodipine tidak menimbulkan perubahan kadar lemak plasma dan dapat digunakan pada pasien asma, diabetes serta gout.

Catatan: untuk kontraksi, otot jantung memerlukan ion Ca2+ yang masuk dari luar sel

disamping ion Ca2+ dari gudang intrasel, otot

polos bergantung hampir seluruhnya pada ion Ca2+ ekstrasel, sedangkan otot rangka tidak

memerlukan ion Ca2+ ekstrasel. Oleh karena itu

Calsium kanal bloker menghambat kontraksi otot polos dan otot jantung, tetapi tidak menghambat kontraksi otot rangka.

Farmakokinetik:

Amlodopin diabsorbsi secara bertahap pada

terhadap amlodipine dan golongan dihidropiridin lainnya.

(24)

pemberian peroral. Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 6-12 jam. Bioavaibilitas amlodipine sekitar 64-90% dan tidak dipengaruhi makanan. Ikatan dengan protein plasma sekitar 93%. Waktu paruh amlodopin sekitar 30-50 jam dan kadar mantap dalam plasma dicapai setelah 7-8 hari.

Amlodopin dimetabolisme dihati secara luas (sekitar 90%) dan diubah menjadi metabolit inaktif, dengan 10% bentuk awal serta 60% metabolit diekskresikan melalui urin. Pola farmakokinetik amlodipine tidak berubah secara bermakna pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, sehingg tidak perlu dilakukan penyesuaian dosis. Pasien usia lanjut dan pasien dengan gangguan fungsi hati didapatkan peningkatan AUC sekitar 40-60%, sehingga diperlukan pengurangan dosis pada awal terapi. Demikian juga pada pasien dengan gagal jantung sedang sampai berat.

9 Kasorbid Farmakokinetik:

Penggunaan nitrate organik sangat dipengaruhi keberadaan suatu reduktase nitrate organik hati berkapasitas tinggi yang dapat memindahkan kelompok nitrate tahap demi tahap dari molekul induk dan akhirnya menyebabkan inaktivasi obat. Karena itu, bioavailibilitas nitrate organik oral tradisional (nitroglycerin dan isosorbid dinitrate) keduanya diabsorpsi secara efisien dengan cara pemberian tersebut dan mencapai kadar darah terapeutik dalam beberapa menit. Bagaimanapun,

5 mg 1-1-1 oral

Indikasi:

Profilaksis dan

pengobatan angina; gagal jantung kiri

Kontraindikasi:

Hipersensitivitas terhadap nitrat, hipotensi dan hipovolemia, kardiopati obstruktif hipertrofik, stenosis aorta, tamponade

Sakit kepala berdenyut, muka merah, pusing, hipotensi postural, takikardi (dapat terjadi bradikardi

paradoksikal). Efek samping yang khas setelah injeksi meliputi hipotensi berat, mual dan muntah, diaforesis, kuatir, gelisah, kedutan

(25)

dosis total yang diberikan dengan cara tersebut harus dibatasi untuk menghindari efek berlebihan; durasi total efek tersebut singkat (15-30 menit). Ketika diperlukan durasi efek yang lebih lama, sediaan oral dapat diberikan dengan jumlah obat yang cukup untuk mempertahankan kadar darah sistemik dari obat induk atau metabolit aktifnya. Cara pemberian nitroglycerin lain mencakup absorbsi transdermal dan bukal dari sediaan rilis lambat;dibahas berikut.

Sekali diserap, campuran senyawa nitrate yang tidak berubah memiliki waktu paruh hanya 2-8 menit. Metabolit terdenitrasi secara parsial memiliki waktu paruh yang jauh lebih lama (sampai 3 jam). Dari metabolit nitroglycerin (dua dinitroglycerin dan dua bentuk mononitro), turunan dinitro memiliki efektivitas yang lebih bermakna; mereka diduga memberikan sebagian besar efek terapeutik nitroglycerin pada pemberian oral. Metabolit aktif isosorbide dinitrate, 5-mononitrate, tersedia untuk penggunaan klinis sebagai isosorbide mononitrate. Mempunyai bioavailibilitas 100%.

Ekskresi, terutama dalam bentuk turunan glucuronide dari metabolit terdenitrasi, sebagian melalui ginjal.

Farmakodinamik:

Nitroglycerin diduga didenitrasi, merilis ion nitrite bebas, di otot polos seperti pada jaringan lain, oleh glutatione S-transferase. Suatu reaksi

jantung, perikarditis konstriktif, stenosis mitral, anemia berat, trauma kepala, perdarahan otak, glaukoma sudut sempit.

otot, palpitasi, nyeri perut, sinkop, pemberian jangka panjang disertai dengan

(26)

enzim berbeda yang tidak diketahui merilis nitric oxide dari molekul obat induk. Nitric oxide adalah vasodilator yang lebih kuat daripada nitrite yang olehnya sendiri, dapat melepaskan nitrite oxide. Nitrite oxide menyebabkan aktivitas guanyl cyclase dan suatu peningkatan c-GMP, yang merupakan langkah awal relaksasi otot polos. Produksi prostaglandin E atau prostasiklin (PGI2) dan hiperpolarisasi membran diduga terlibat pula. Tidak ada bukti bahwa reseptor autonom terlibat dalam respons utama nitrate (meskipun terjadi respons refleks otomatis pada pemberian dosis hipotensi). Seperti diuraikan berikut, toleransi adalah suatu pertimbangan penting pada penggunaan nitrate. Karena toleransi dapat disebabkan sebagian oleh penurunan pada kelompok sulfhydryl jaringan, toleransi hanya dapat dicegah atau diperbaiki sebagian dengan suatu agen penghasil kembali sulfhydryl. Tempat toleransi seluler tersebut diduga didapat pada suatu reaksi bertanggung jawab yang tidak diketahui, untuk merilis nitric oxide dari nitrate, karena agen lain seperti acetylcholine, yang menyebabkan vasodilatasi melalui rilis nitric oxide dari substrat endogen tidak menunjukkan toleransi silang pada nitrate.

10 Biscor Farmakodinamik :

Mekanisme kerja antihipertensi dari bisoprolol belum seluruhnya diketahui. Faktor-faktor yang terlibat adalah :

1. Penurunan curah jantung

5 mg ½-0-0 Oral

Indikasi: :

Bisoprolol diindikasikan untuk hipertensi, bisa

digunakan sebagai

monoterapi atau

1. Sistem saraf

pusat: dizziness, vertigo, sakit kepala, parestesia,

(27)

2. Penghambatan pelepasan renin oleh ginjal. 3. Pengurangan aliran tonus simpatis dari pusat

vasomotor pada otak.

Pada orang sehat, pengobatan dengan bisoprolol menurunkan kejadian takikardia yang diinduksi oleh aktivitas fisik dan isoproterenol. Efek maksimum terjadi dalam waktu 1-4 jam setelah pemakaian. Efek tersebut menetap selama 24 jam pada dosis >5 mg. Penelitian secara elektrofisiologi pada manusia menunjukkan bahwa bisoprolol secara signifikan mengurangi frekuensi denyut jantung, meningkatkan waktu pemulihan sinus node, memperpanjang periode refrakter AV node dan dengan stimulasi atrial yang cepat, memperpanjang konduksi/W node. Bisoprolol juga dapat diberikan bersamaan dengan diuretik tiazid. Hidroklorotiazid dosis rendah (6,25 mg) digunakan bersamaan dengan bisoprolol fumarate untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi ringan sampai sedang.

Farmakokinetik :

Bioavailabilitas dosis oral 10 mg adalah sekitar 80%. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Metabolisme lintas pertama bisoprolol fumarate sekitar 20%. Ikatan dengan protein serum sekitar 30%. Konsentrasi puncak plasma pada dosis 5-20 mg terjadi dalam 2-4 jam, dan nilai puncak rata-rata berkisar dari 16 ng/ml pada 5 mg hingga 70 ng/ml pada 20 mg. Pemberian

dikombinasikan dengan antihipertensi lain. Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap bisoprolol fumarate. Bisoprolol dikontraindikasikan pada penderita cardiogenic shock, kelainan jantung, AV block tingkat II atau III, bradikardia sinus.

ansietas, konsentrasi berkurang 2. Sistem saraf otonom: mulut kering. 3. Kardiovaskular: bradikardia, palpitasi dan gangguan ritme lainnya, cold

extremities,

klaudikasio,

hipotensi, hipotensi ortostatik, sakit dada, gagal jantung.

4. Psikiatrik: inso mnia, depresi.

5. Gastrointestinal: nyeri perut, gastritis, dispepsia, mual,

muntah, diare,

konstipasi.

6. Muskuloskeletal

: sakit otot, sakit leher, kram otot, tremor.

7. Kulit: rash,

jerawat, eksim,

iritasi kulit, gatal-gatal, kulit kemerah-merahan,

(28)

bisoprolol fumarate sekali sehari memperlihatkan adanya variasi kadar plasma puncak intersubyek kurang dari dua kali lipat. Waktu paruh eliminasi plasma adalah 9-12 jam dan sedikit lebih lama pada penderita usia lanjut, hal ini disebabkan menurunnya fungsi ginjal. Steady state dicapai dalam 5 hari, pada dosis sekali sehari. Akumulasi plasmanya rendah pada penderita usia muda dan tua; faktor akumulasi berkisar antara 1,1 sampai 1,3, sesuai dengan yang diharapkan dari kinetik urutan pertama dan pemberian sekali sehari. Konsentrasi plasma pada dosis 5-20 mg adalah proposional. Karakteristik farmakokinetik dari kedua enansiomer adalah serupa.Bisoprolol fumarate dieliminasi melalui ginjal dan bukan ginjal, sekitar 50% dari dosis, tetap dalam bentuk utuh di urin dan sisanya dalam bentuk metabolit tidak aktif. Kurang dari 2% diekskresikan melalui feses. Bisoprolol fumarate tidak dimetabolisme oleh sitokrom P450 II D6 {debrisokuin hidroksiiase). Pada subyek dengan bersihan kreatinin kurang dari 40 ml/menit, waktu paruh plasma meningkat kira-kira 3 kali lipat dari orang sehat. Pada penderita sirosis hati, eliminasi bisoprolol fumarate lebih bervariasi dalam hal kecepatan dan secara signifikan lebih lambat dari orang sehat, dengan waktu paruh plasma berkisar antara 8,3 hingga 21,7 jam.

alopesia, angioedema, dermatitis eksfoliatif, vaskulitis kutaneus 8. Khusus: ganggu

an visual, sakit mata, lakrimasi abnormal, tinitus, sakit telinga.

9. Metabolik: peny akit gout. 10. Pernafasan: asm a, bronkospasme, batuk, dispnea, faringitis, rinitis, sinusitis. 11. Genitourinaria: menurunnya libido/impotensi, penyakit Peyronie, sistitis, kolik ginjal.

12. Hematologi: pur pura

13. Lain-lain: kelem ahan, letih, nyeri dada, peningkatan berat badan.

11 Allop Farmakokinetik:

Allopurinol diabsorbsi kurang lebih 80% setelah pemberian peroral dan mempunyai waktu paruh

300 mg 0-0-1 Oral

Indikasi

1. Allopurinol

sering menjadi

first-Efeksamping dari obat ini adalah diantanya berupa ruam (hentikan

(29)

1-2jam hingga mencapai keseimbangan (terminal serum half time). Seperti asam urat, allopurinol dimetabolisme oleh xanthine oxidase, tapi hasil gabungannya, alloxanthine, mempunyai kemampuan untuk menghambat xanthine oxidase dan mempunyai waktu kerja yang cukup lama sehingga allopurinol hanya diberikan sekali per hari.

Farmakodinamik:

Diet makanan yang mengandung purin bukanlah sumber utama pembentukan asam urat. Sebagian besar purin dibentuk dari asam amino, format, dan karbon dioksida di dalam tubuh. Ribonukleosida purin yang tidak membentuk asam nukleat maupun purin hasil degradasi asam nukleat tersebut diubah menjadi xanthine atau hypoxanthine kemudian dioksidasi menjadi asam urat. Allopurinol menghambat proses yang terakhir tersebut(oksidasi menjadi asam urat), mengakibatkan penurunan konsetrasi urat plasma dan mengurangi urate burden secara keseluruhan. Xanthine dan hipoxanshine yang mudah larut (soluble) bertambah.

line (lini utama) untuk terapi serangan gout

kronis dan memperpanjang the intercritical period. 2. Ketikan memberikan terapi Allopurinol, colchicline atau NSAID sebaiknya juga diberikan sampai serum asam urat stabil atau sampai dibawah 6 mg/dL, uricosuric dilanjutkan selama 3-6 bulan bahkan lebih

lama. Setelahnya

uricosuric bisa

dihentikan.

3. Allopurinol juga digunakan sebagai obat anti-protozoa dan diindikasikan untuk mencegah urikosuria yang massif diikuti

terapi blood

dyscrasias yang bisa otherwise lead to renal calculi.

Kontraindikasi:

terapi, jika ruam ringan,

gunakan kembali

dengan hati-hati namun hentikan segera apabila muncul kembali reaksi kuit dikaitkan dengan pengelupasan kulit, demam, limfadenopati,

arthralgia, dan

eosinophilia, sindrom mirip sindrom steven jonhson atau Lyell,

jarang terjadi),

gangguan saluran cerna, jarang malaise, sakit

kepala, vertigo,

mengantuk, gangguan pengecapan, hipertensi, deposit xantin di otot tanpa gejala, alopesia, hepato-toksisitas, para-estasia, dan nueropati.

(30)
(31)

VI. Pemeriksaan Penunjang & Laboratorium

N

o pemeriksaaJenis n

Nilai normal

(rujukan) (hari/tanggal)Hasil

nilai Satuan 1 Hematologi Hematologi lengkap (HLT) Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit 12,0-16,0 4,5-11,0 36-46 150-450 gr/dl 109/L % 109/L 8,4 7,5 24,5 69 gr/dl 109/L % 109/L 26 Januari 2017 Elektrolit Na Kalium Chlorida Calcium 135-155 3,5-5,0 90-110 2,15-2,57 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III) 138,0 6,84 116,2 1,77 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III) Faal hati SGOT SGPT 10-319-36 U/L (37 0C) U/L (370C) 2826 U/L (37 0C) U/L (370C) Gula darah Glukosa sewaktu <200 mg/dl 84 mg/dl Faal ginjal Kreatinin serum BUN Urea 0,5-1,1 6-20 12-43 mg/dl mg/dl mg/dl 6,5 132 282 mg/dl mg/dl mg/dl 2 Hematologi Hematologi lengkap (HLT) Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit 12,0-16,0 4,5-11,0 36-46 150-450 gr/dl 109/L % 109/L 10,8 8,3 31,6 62 gr/dl 109/L % 109/L 27 Januari 2017 Elektrolit Na Kalium Chlorida Calcium 135-155 3,5-5,0 90-110 2,15-2,57 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III) 140,0 6,29 116,6 1,99 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III)

(32)

Hasil EKG:

(33)

Jember, 30 Januari 2017

Pengambil Data,

(Retno Puji Astuti, S. Kep)

NIM 122311101027

ANALISA DATA

NO DATA PENUNJANG ETIOLOGI MASALAH

1 S: klien mengatakan lemas, tidak berenergi O: TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C

Edema pada kedua kaki Klien terlihat lemah

Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam

UP: 240 cc/24 jam

Kulit lembap pada ekstremitas,

HHF ↓ Gagal pompa ventrikel kiri ↓ Sinyal mencapai sistem saraf pusat

↓ Forward failure ↓ Perubahan preload afterload ↓

Suplai darah dari

Penurunan curah jantung (00029)

(34)

kasar pada daerah abdomen dan menuju ke jantung menurun 2 S: klien mengatakan sesak

O:

TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C

Terlihat penggunaan otot bantu pernfasan,

Ada pernafasan cuping hidung

Gagal pompa venrikel kanan ↓ Tekanan diastole meningkat ↓ Bendungan atrium kanan ↓ Mendesak diafragma ↓ Sesak nafas Ketidakefektifan pola nafas (00032)

3 S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki O:

TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C

Edema pada ekstremitas Ada penggunaan otot bantu pernafasan

Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl

Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam

Renal flow menurun ↓ RAA meningkat ↓ ADH meningkat ↓ Retensi Na + H2O Kelebihan volume cairan (00026)

4 S: klien mengatakan nyeri terutama di daerah perut O: TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C

Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri

menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat Gagal pompa venrikel kanan ↓ Tekanan diastole meningkat ↓ Bendungan atrium kanan ↓ Bendungan sistemik ↓ Hepar ↓ Hepatomegali ↓ Mendesak diafragma Nyeri akut (00132)

(35)

DIAGNOSA KEPERAWATAN

N

o Diagnosa perumusanTanggal pencapaiTanggal

an

Keteran gan

1 Penurunan curah jantung

berhubunagan dengan perubahan afterload ditandai dengan klien mengatakan lemas, tidak berenergi, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C,

Edema pada kedua kaki, Klien terlihat lemah, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam, Kulit lembap pada ekstremitas, kasar

30 Januari

(36)

pada daerah abdomen

2 Ketidakefektifan pola nafas

berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan klien mengatakan sesak, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C,

Terlihat penggunaan otot bantu pernfasan, Ada pernafasan cuping hidung

30 Januari

2017 1 Februari 2017

3 Kelebihan volume cairan

berhubungan dengan Gangguan mekanisme regulasi ditandai dengan klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C,

Edema pada ekstremitas, Ada penggunaan otot bantu pernafasan, Hasil lab:

Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam

30 Januari

2017 1 Februari 2017

4 Nyeri akut berhubungan

dengan agens cedera biologis ditandai dengan klien mengatakan nyeri terutama di daerah perut, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Nyeri timbul

di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4 paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat

30 Januari

2017 1 Februari 2017

PERENCANAAN KEPERAWATAN

N

O

DIAGNOSA TUJUAN DAN

KRITERIA HASIL INTERVENSI 1 Penurunan curah jantung NOC: - Circulation Status NIC: Circulation Status

(37)

berhubunagan dengan perubahan afterload ditandai dengan klien mengatakan lemas, tidak berenergi, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Edema pada kedua kaki, Klien terlihat lemah, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam, Kulit lembap pada ekstremitas, kasar pada daerah abdomen - Fluid Management - Vital Signs Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien menunjukkan

keefektifan jalan nafas dibuktikan dengan kriteria hasil : a. Tekanan darah sistolik normal b. Tekanan darah diastolik normal c. Kekuatan nadi normal d. Rata-rata tekanan darah normal e. Nadi normal

f. Tekanan vena sentral normal

g. Tidak ada bunyi hipo jantung abnormal h. Tidak ada angina i. AGD normal j. Kesimbangan intake

dan output 24 jam k. Perfusi jaringan

perifer

l. Kekuatan pulsasi perifer

m. Tidak ada pelebaran vena

n. Tidak ada distensi vena jugularis o. Tidak ada edema

perifer

p. Tidak ada asites q. Pengisian kapiler r. Warna kulit normal s. Kekuatan fungsi otot t. Kekuatan kulit u. Suhu kulit hangat v. Tidak ada nyeri

ekstremitas

1. Kaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary refill, warna dan temperatur ekstremitas)

2. Evaluasi nadi perifer dan edema

3. Inpseksi kulit adanya luka 4. Kaji tingkat nyeri

5. Elevasi anggota badan 20 derajat atau lebih tinggi dari jantung untuk meningkatkan venous return

6. Ubah posisi klien minimal setiap 2 jam sekali

7. Monitor status cairan masuk dan keluar

8. Gunakan therapeutic bed 9. Dorong latihan ROM

selama bedrest

10. Dorong pasien latihan sesuai kemampuan

11. Jaga keadekuatan hidrasi

untuk mencegah peningkatan viskositas darah 12. Kolaborasi pemberian antiplatelet atau antikoagulan 13. Monitor laboratorium Hb, Hematokrit Fluid Management

1. Catat intake dan output cairan

2. Monitor status hidrasi 3. Monitor tanda-tanda vital 4. Monitor status nutrisi

2 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi NOC: Respiratory status : Ventilation

1. Suara nafas yang bersih, tidak ada

Airway management

1. Monitor respirasi dan status O2

2. Pantau frekuensi, irama, kedalaman

(38)

ditandai dengan klien mengatakan sesak, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Terlihat penggunaan otot bantu pernfasan, Ada pernafasan cuping hidung sianosis dan dyspneu 2. Irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal (16-20x/menit) 3. TTV dalam batas normal (TD: 120/80, RR 16-20x/mnt, Nadi 80-100x/mnt, Suhu 36,5-37,5oC) pernafasan.

3. Berikan posisi yang

nyaman yaitu semifowler 4. Anjurkan pasien untuk melakukan nafas dalam. 5. Kolaborasi dengan dokter untu pemberian terapi oksigen. Respiratory monitoring 1. Monitor kecepatan, frekuensi, kedalaman dan kekuataan ketika pasien bernapas

2. Monitor hasil

pemeriksaan rontgen dada

3. Monitor suara napas pasien

4. Kaji dan pantau adanya perubahan dalam pernapasan 5. Monitor sekret yang

dikeluarkan oleh pasien 3 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan Gangguan mekanisme regulasi ditandai dengan klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Edema pada ekstremitas, Ada penggunaan otot bantu pernafasan, NOC: Cardiopulmonary Status 1. Saturasi oksigen dalam rentang yang diharapkan (90-100%) 2. RR dalam batas yang diharapkan (20-30x/mnt) 3. Tidak terjadi dispnea saat beristirahat 4. Kelelahan berkurang NOC Label >> Kidney Function 1. Serum kreatinin kembali ke rentang yang diharapkan (0.7 – 7.2 mg/dL) NIC Fluid/Electrolyte Management 1. Memonitor level abnormal elektrolit serum. 2. Mendapatkan spesiemen pemeriksaan laboratorium untuk memantau perubahan elektrolit. 3. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan keseimbangan cairan. 4. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan retensi cairan.

(39)

Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam 2. Nilai BUN kembali ke rentang yang diharapkan (8.00-50.00 mg/dl)

5. Monitor tanda dan

gejala retensi cairan dan

ketidakseimbangan elektrolit

6. Monitor tanda

Vital, jika diperlukan.

7. Monitor respon

pasien dalam

pemberian medikasi terkait elektrolit.

NIC Label :Hemodialysis Therapy

1. Catat batas tanda

vital seperti: berat,

temperature, nadi,

respirasi, dan tekanan darah.

2. Menjelaskan

prosedur hemodialisa dan tujuannya.

3. Kolaborasi dengan

tenaga kesehatan lain untuk pelaksanaan hemodialisa.

4. Ajarkan pasien

untuk memonitor diri sendiri tanda dan

gejala yang

memerlukan

pengobatan medis.

NIC Label : Medication Management

1. Berikan medikasi

sesuai indikasi pasien.

2. Berikan medikasi

sesuai dengan standar prosedur yang berlaku (metode 6 Benar). 3. Monitor adanya kemungkinan terjadi alergi atau kontraindikasi terkait therapy. 4. Bantu pasien untuk meminum obatnya. 5. Berikan obat

(40)

6. Berikan obat antihipertensi sesuai indikasi 4 Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis ditandai dengan klien mengatakan nyeri terutama di daerah perut, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat NOC : - Pain Level, - pain control, - comfor t level Setelah dilakukan tinfakan keperawatan, klien dapat beradaptasi dengan nyeri, dengan kriteria hasil: a. Mam pu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) b. Mela porkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri c. Mam pu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) d. Meny atakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang e. Tand a vital dalam rentang normal f. Tidak NIC: Pain Management 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

2. Observasi reaksi

nonverbal dari

ketidaknyamanan 3. Bantu pasien dan

keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan 4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,

pencahayaan dan

kebisingan

5. Kurangi faktor

presipitasi nyeri

6. Kaji tipe dan sumber nyeri

7. Ajarkan tentang teknik

non farmakologi:

napas dada, relaksasi,

distraksi, kompres hangat/ dingin 8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 9. Tingkatkan istirahat 10.Berikan informasi

tentang nyeri seperti

penyebab nyeri,

berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi

ketidaknyamanan dari prosedur

(41)

mengalami gangguan tidur

CATATAN PERKEMBANGAN

DIAGNOSA 1:

Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Senin, 30 Januari 2017 10.00 wib 10.10 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary refill, warna dan temperatur

S: klien mengatakan masih lemas O: TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C

Edema pada kedua kaki Klien terlihat lemah

(42)

10.20 wib 10.30 wib 08.30 wib

ekstremitas)

3. Menganjurkan minum sedikit tapi sering 4. Mengajarkan latihan

ROM selama bedrest

5. Berkolaborasi

pemberian antiplatelet atau antikoagulan

Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 100 ml/24 jam

UP: 50cc/5 jam

Kulit lembap pada ekstremitas, kasar pada daerah abdomen A: penurunan curah jantung masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-13

DIAGNOSA 2:

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Senin, 30 Januari 2017 10.05 wib 10.15 wib 10.25 wib 11.05 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan 3. Menganjur

kan keluarga untuk memberikan posisi yang nyaman pada klien (semi fowler0 4. Mengajarkan pasien untuk melakukan nafas dalam 5. Berkolaborasi pemberian terapi 02 S: klien mengatakan kadang-kadang tidak sesak O:

TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C

Tidak terlihat penggunaan otot bantu pernfasan O2 nasal 2 lpm dilepas setelah dipakai

A: ketidakefektifan pola nafas masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-10

DIAGNOSA 3:

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Senin, 30 Januari 2017 13.10 wib 13.20 wib 13.30 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang

berkaitan dengan retensi cairan

3. Menganjurka

S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki O: TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C

Edema pada ekstremitas Tidak ada penggunaan otot

(43)

13.10 wib 08.30 wib

n keluarga untuk memberikan posisi yang

membantu pasien

meminum obatnya 4. Mengajarkan pasien dan

keluarga indikasi

meminum obat

5. Berkolaborasi pemberian diuretik

bantu pernafasan Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl

Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 100 ml/24 jam, UP: 50 cc/5 jam

A: kelebihan volume cairan masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-11

DIAGNOSA 4:

Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Senin, 30 Januari 2017 10.10 wib 10.20 wib 10.30 wib 11.10 wib 08.30 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

3. Menganjurka

n keluarga dank pasien untuk mencari dan menemukan dukungan 4. Mengajarkan tentang

teknik non farmakologi: napas dalam

5. Berkolaborasi pemberian analgesik

S: klien mengatakan nyeri masih terasa terutama di daerah perut O: TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C

Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat

Klien melakukan tarik nafas dalam 4 kali

A: nyeri akut masih dirasakan klien

(44)

DIAGNOSA 1:

Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Selasa, 31 Januari 2017 09.00 wib 09.10 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary refill, warna dan temperatur ekstremitas)

S: klien mengatakan masih lemas O: TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C

Edema pada kedua kaki Klien terlihat lemah

(45)

9.20 ib 09.31wib 08.30 wib

3. Menganjur

kan minum sedikit tapi sering

4. Mengajarkan latihan ROM selama bedrest

5. Berkolaborasi

pemberian antiplatelet atau antikoagulan

minum 80 ml/6 jam UP: 5cc/24 jam

Kulit lembap pada ekstremitas, kasar pada daerah abdomen A: penurunan curah jantung masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-13

DIAGNOSA 2:

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Selasa, 31 Januari 2017 09.05 wib 09.15 wib 09.25 wib 10.05 wib 08.45 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan 3. Menganjur

kan keluarga untuk memberikan posisi yang nyaman pada klien (semi fowler0 4. Mengajarkan pasien untuk melakukan nafas dalam 5. Berkolaborasi pemberian terapi 02 S: klien mengatakan kadang-kadang tidak sesak O:

TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C

Ada penggunaan otot bantu pernfasan

O2 nasal 2 lpm dipakai A: ketidakefektifan pola nafas masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-10

DIAGNOSA 3:

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Senin, 30 Januari 2017 09.10 wib 10.20 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang

berkaitan dengan retensi cairan

S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki O: TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C

(46)

13.30 wib

13.10 wib 08.30 wib

3. Menganjurka

n keluarga untuk memberikan posisi yang

membantu pasien

meminum obatnya 4. Mengajarkan pasien dan

keluarga indikasi

meminum obat

5. Berkolaborasi pemberian diuretik

Edema pada ekstremitas Ada penggunaan otot bantu pernafasan

Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl

Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 80 ml/6 jam UP: 5cc/24 jam

A: kelebihan volume cairan masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-11

DIAGNOSA 4:

Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Senin, 30 Januari 2017 13.10 wib 13.20 wib 13.30 wib 11.10 wib 08.30 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

3. Menganjurka

n keluarga dank pasien untuk mencari dan menemukan dukungan 4. Mengajarkan tentang

teknik non farmakologi: napas dalam

5. Berkolaborasi pemberian analgesik

S: klien mengatakan nyeri masih terasa terutama di daerah perut saat akan BAK O:

TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C

Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 5, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat

Klien melakukan tarik nafas dalam 3 kali

A: nyeri akut masih dirasakan klien

(47)

DIAGNOSA 1:

Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Rabu, 1 Februari 2017 06.40 wib 06.42 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary

S: klien mengatakan masih lemas O: TD: 110/60 mmHg Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 37 0C

(48)

6.45 wib 6.46 wib 08.15 wib

refill, warna dan temperatur ekstremitas)

3. Menganjur

kan minum sedikit tapi sering

4. Mengajark

an latihan ROM selama bedrest

5. Berkolabor

asi pemberian

antiplatelet atau

antikoagulan

Klien terlihat lemah

Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 150 ml/6 jam

UP: - cc/ 7 jam

Kulit kasar pada daerah abdomen dan ekstremitas A: penurunan curah jantung masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-13

DIAGNOSA 2:

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Rabu, 1 Februari 2017 10.05 wib 10.15 wib 10.25 wib 08.30 wib

07.00 wib

1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan 3. Menganjur

kan keluarga untuk memberikan posisi yang nyaman pada klien (semi fowler0 4. Mengajark an pasien untuk melakukan nafas dalam 5. Berkolabor

asi pemberian terapi 02

S: klien mengatakan kadang-kadang tidak sesak O:

TD: 110/60 mmHg Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 37 0C

Tidak ada penggunaan otot bantu pernfasan

Klien lepas pasang terapi 02 nasal 2 lpm

A: ketidakefektifan pola nafas masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-10

DIAGNOSA 3:

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI

Rabu, 1 Februari 2017 09.10 wib 09.20 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Memonitor S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki

O:

Referensi

Dokumen terkait

M.B ada 2 (dua) diagnosa keperawatan yang didapatkan yaitu: 1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis dibuktikan dengan, nyeri yang dirasakan

Saat pengkajian klien masih berbaring di tempat tidur dengan menggunakan 1 pembalut dengan penuh darah sampai tembus pada pakaian luar, dan klien merasakan nyeri pada perut

Dalam teori diagnosa yang keperawatan yang dapat diambil pada pasien dengan kanker usus adalah Nyeri kronik berhubungan dengan agens cedera biologis, ketidakseimbangan

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskuler serebral ditandai dengan klien mengatakan sakit pada bagian kepala dan klien tampak

Keluarga Klien mengatakan nyeri pada perut bagian atas epigasrtrium mulai tanggal 10 Oktober 2010 jam 10:10, nyeri akan terasa lebih sakit saat dibuat berjalan dan

1 Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik (kanker), ditandai dengan klien mengatakan merasa nyeri pada daerah penis, klien mengatakan nyeri seperti ditusuk- tusuk,

Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus ini adalah Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kerusakan integritas kulit ditandai dengan klien mengeluh nyeri

Analisa Data Data Problem Etiologi Ds : -Klien mengatakan sering sakit kepala puyeng -Klien mengeluh suka nyeri dada -Klien mengatakan suka mengalami kram Do : -TD Klien 157/89