ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny. S DENGAN
DIAGNOSA HYPERTENSION HEART FAILURE (HHF)
oleh:
Retno Puji Astuti, S.Kep
NIM. 122311101027
PROGRAM PROFESI NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
Asuhan Keperawatan pada Klien Ny. S dengan Diagnosa Chronic Kidney Disease
(CKD) + Hypertension Heart Failure (HHF) di ruang Adenium telah disetujui dan
disahkan pada:
Hari, tanggal : , Februari 2017
Tempat: Ruang Adenium RSD dr. Soebandi Jember
Jember, Februari 2017
Pembimbing Klinik
Mahasiswa
(...)
(...)
NIP.
NIM
Pembimbing Akademik ,
(...)
NIP.
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL
Nama Mahasiswa
: Retno Puji Astuti, S. Kep
NIM
: 122311101027
Tempat Pengkajian
: Ruang Adenium RSD dr. Soebandi
Tanggal
: 30 Januari 2017
I. Identitas Klien
Nama
: Ny. S
No. RM
: 154822
Umur
: 21-12-1976 (41th)
Pekerjaan
: ibu rumah tangga
Jenis Kelamin : perempuan
Status Perkawinan : menikah
Agama
: islam
Tanggal MRS
: 26 Januari 2017
16.00 wib
Pendidikan
: SD
Tanggal
Pengkajian
: 30 Februari 2017
Jam 09.00 wib
Alamat
:Krajan I 07/02 Gambiran
Kalisat
Sumber Informasi : klien dan keluarga
II. Riwayat Kesehatan
1. Diagnosa Medik:
CKD + HHF
2. Keluhan Utama:
Klien mengeluh sesak dan nyeri di dada dan perut
3. Riwayat penyakit sekarang:
Keluarga mengatakan pada tanggal 25 Januari 2017, klien mengeluh
pusing, BAB hitam dan encer, dan kembung. Klien langsung dibawa ke
Puskesmas Kalisat untuk mendapatkan penanganan. Klien langsung
dirujuk ke RSD Kalisat. Klien dilakukan foto rontgen di RS Kalisat dan
dirujuk ke RSD dr. Soebandi Jember pada tanggal 26 Januari 2017 karena
dicurigai mengalami gagal ginjal dan tekanan darahnya yang tinggi. Klien
diopname di Ruang Adenium dengan kondisi GCS 456, TD: 180/110, Nadi
72x/menit, RR 26x/menit, Suhu: 37,6 derajat celcius, dan memakai 0
2nasal 2 lpm.
4. Riwayat kesehatan terdahulu:
a. Penyakit yang pernah dialami:
Klien sebelumnya belum pernah mengalami kecelakaan dan memiliki
penyakit hipertensi.
b. Alergi (obat, makanan, plester, dll):
Klien tidak memiliki alergi terhadap obat, makanan, dan plester.
c. Imunisasi:
Klien mengatakan tidak mengetahui apakah dulu mendapatkan
imunisasai lengkap atau tidak.
d. Kebiasaan/pola hidup/life style:
Klien mengatakan klien mempunyai kebiasaan bangun pagi untuk
melaksanakan sholat subuh. Setelah menjalankan sholat subuh klien
memulai rutinitas sebagai ibu rumah tangga dari 4 orang anak dan istri
suami.
e. Obat-obat yang digunakan:
Klien mengatakan klien menggunakan obat-obatan yang biasa dibeli di
apotik dan obat-obatan yang diresepkan saat memeriksakan diri di
puskesmas.
5. Riwayat penyakit keluarga:
Orang tua klien memiliki penyakit hipertensi. Kemungkinan besar
hipertensi yang diderita oleh klien disebabkan keturunan dari orang tua.
Keterangan:
: laki-laki
: perempuan
: klien (Ny. S)
: hubungan suami istri - anak
: tinggal satu rumah
: meninggal
III. Pengkajian Keperawatan
1. Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
Sebelum MRS: Keluarga klien mengatakan memperhatikan kondisi
kesehatan klien. Apabila merasa sakit, klien memeriksakan
kondisinya ke puskesmas terdekat. Klien menggunakan
obat-obatan yang telah diresepkan dari puskesmas dan
terkadang klien dan keluarga membeli obat di apotik.
Setelah MRS: Keluarga klien sekarang menyadari keadaan klien saat ini
dan sekarang lebih menghargai kondisi kesehatannya.
Keluarga klien memiliki keyakinan bahwa setelah sembuh
akan meningkatkan kehati-hatian agar lebih dapat menjaga
kondisi kesehatannya. Menurut keluarga klien sakit
merupakan sesuatu yang dapat mengganggu segala
kegiatan dalam hidup dan kejadian yang dialami klien ini
merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Interpretasi : tidak ada masalah terkait pandangan terhadap kesehatan.
Keluarga mengungkapkan ingin meningkatkan status
kesehatan klien.
2. Pola nutrisi/ metabolik (ABCD) (saat sebelum sakit dan saat di rumah
sakit)
Antropometeri BB sebelum sakit
: 48 kg
BB setelah sakit
: 53 kg
TB
: 148 cm
Keterangan : Kurus : <18 ; Normal:18-25 ; Kegemukan: 25-27;
Obesitas :>27.
Interpretasi: klien termasuk kategori normal.
- Biomedical sign :
Tanda biomedis yang dapat dilihat pada klien adalah dilakukan
pemeriksaan penunjang yaitu:
a. Hemoglobin
: 10,8 gr/dl
b. Hematokrit
: 31,6 %
- Clinical Sign :
Kulit lembab, rambut berwarna hitam dan tekstur kasar, sklera
tidak ikterik, konjungtiva anemis, tidak ada mual, tampak lemah.
- Diet Pattern (intake makanan dan cairan):
a. Sebelum masuk rumah sakit, keluarga mengatakan klien makan
3x sehari dengan sayur dan lauk pauk. Klien suka makan
makanan yang asin dan mencampur
b. Saat dirawat di rumah sakit, klien mendapatkan nutrisi bubur
halus 1700 kalori/hari dan minum + 200 ml/ hari.
3. Pola eliminasi(saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit):
BAK
Kriteria
Sebelum MRS
Setelah MRS
Frekuensi
sekitar 3-4 x/hari
-Jumlah
900-1500 ml
240 ml
Warna
Kuning jernih
Hitam pekat
Bau
Bau amoniak (khas urine)
Bau khas darah
Alat bantu
Tidak ada
Kateter
Kemandirian
mandiri
Dibantu keluarga
BAB
Kriteria
Sebelum MRS
Setelah MRS
Frekuensi
Rutin setiap hari
Belum BAB
Konsistensi
Padat tetapi tidak keras
-Warna
Warna feses khas
kekuningan
-Bau
Bau khas amoniak
-alat bantu
Kemandirian
Mandiri
Dibantu keluarga
Interpretasi : ada gangguan pola eliminasi
4. Pola aktivitas & latihan(saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
Sebelum klien dirawat di rumah sakit, klien mengatakan klien mengisi
waktu kesehariannya dengan berkebun dan berjualan disekitar rumahnya.
Saat di rumah sakit, klien hanya beraktivitas diatas tempat tidur dan tidak
mampu turun dari tempat tidur, seperti makan dan minum.
c.1. Aktivitas harian (Activity Daily Living)
Kemampuan perawatan diri
0
1
2
3
4
Makan / minum
√
Toileting
√
Berpakaian
√
Mobilitas di tempat tidur
√
Berpindah
√
Ambulasi / ROM
√
Ket: 0: tergantung total, 1: dibantu petugas dan alat, 2: dibantu petugas, 3:
dibantu alat, 4: mandiri
Status Oksigenasi: RR 23x/menit, ada penggunaan otot bantu pernafasan.
Fungsi kardiovaskuler: TD 100/70 mmHg, nadi dalam batas normal
78x/menit.
Terapi oksigen: klien menggunakan terapi oksigen nasal 2 lpm.
Interpretasi : fungsi pernafasan dan kardiovaskuler kurang baik sehingga
mengganggu aktivitas klien.
5. Pola tidur & istirahat(saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
Sebelum MRS: Keluarga dan klien mengatakan klien dapat istirahat dan
tidur dengan nyenyak. Dalam sehari klien dapat tidur
kurang lebih selama 6-7 jam. Terkadang klien terbangun di
malam hari karena ingin buang air kecil. Klien merasa
segar saat bangun tidur.
Setelah MRS: Keluarga dan klien mengatakan klien tidak dapat istirahat
dan tidak tidur dengan nyenyak. Pada malam hari, klien
dapat tidur kurang lebih selama 2 jam. Klien sering
terbangun di malam hari karena sesak dan nyeri di dada
dan perut. Klien tidak merasa segar saat bangun tidur.
Interpretasi: terdapat gangguan pola tidur
6. Pola kognitif & perceptual
Fungsi Kognitif dan Memori : klien dapat mengingat dengan baik. Klien
tidak mampu berkonsentrasi dengan baik
karena klien lebih fokus pada posisi untuk
mngurangi rasa nyeri. Kemampuan
komunikasi klien masih baik. Klien mampu
merespon pertanyaan mahasiswa, seperti
hari apa klien datang ke rumah sakit dan
tanggal lahir klien.
Fungsi dan keadaan indera : fungsi indera klien dapat berfungsi dengan
baik.
Interpretasi : tidak ada gangguan persepsi dan sensori
7. Pola persepsi diri
Gambaran diri: Keluarga dan klien mengatakan mampu menerima kondisi
klien saat ini dan memiliki keyakinan klien dapat sembuh
dari keadaan yang dialaminya sekarang.
Identitas diri : Keluarga dan klien mengatakan menerima klien sebagai
perempuan dan tidak ingin mengubah identitas dirinya.
Harga diri : Keluarga dan klien mengatakan ingin agar klien segera dapat
sembuh dan dapat kembali pulang kerumah dan dapat
melakukan aktivitas seperti sebelumnya.
Ideal Diri : Keluarga dan klien mengatakan merasa klien sehat apabila
sudah dapat pulang dan dapat melakukan aktivitas
sehari-harinya seperti sebelumnya.
Peran Diri : Keluarga dan klien mengatakan klien merupakan seorang ibu
rumah tangga yang memiliki tanggung jawab sebagai seorang
istri dan ibu.
Interpretasi : tidak ada masalah terhadap pola persepsi diri
8. Pola seksualitas & reproduksi
Pola seksualitas: klien memiliki suami yang setia mendampingi klien di
rumah sakit.
Fungsi reproduksi: Klien memiliki 4 orang anak dan tidak berencana
menambah anak terkait usia dan kondisi kesehatan
klien.
Interpretasi : tidak ada masalah dengan pola seksualitas dan reproduksi.
9. Pola peran & hubungan
Keluarga mengatakan klien memiliki hubungan baik dengan keluarga
maupun dengan teman, kerabat, tetangga, dan orang lain. Klien tampaak
dijenguk oleh anak, mertua, orang tua, dan tetangganya.
Interpretasi: tidak ada gangguan pola hubungan dan peran
10. Pola manajemen koping-stress
Sebelum MRS: Keluarga mengatakan apabila klien memiliki masalah
maka klien mencoba menyelesaikannya dengan
membicarakannya dengan suami dan seringkali klien
marah terhadap masalah yang sedang dihadapinya.
Setelah MRS: Keluarga mengatakan klien memiliki sistem koping stress
yang kurang baik dimana klien merasa gelisah dengan
hospitalisasinya saat ini dan ingin segera pulang.
Interpretasi: ada masalah terhadap fungsi koping dan stres, klien belum
mampu beradaptasi terhadap masalah yang dihadapi
11. System nilai & keyakinan
Sebelum MRS: Keluarga mengatakan klien beragama islam. Klien
menjalankan ibadah shalatnya sesuai dengan ketentuan
dan keyakinan yang diyakini.
Setelah MRS: Keluarga mengatakan klien beragama islam. Klien tidak
mampu menjalankan ibadah karena lemah.
Interpretasi: ada masalah terhadap sistem nilai dan keyakinan
IV. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum:
Kesadaran umum compos mentis, GCS E4V5M6, terpasang infus ditangan
kanan.
Tanda vital:
- Tekanan Darah
: 100/70 mm/Hg
- Nadi
: 78 x/mnt
- RR
: 23 x/mnt
- Suhu
: 36,4
0C
Interpretasi : Keadaan umum dan tanda vital klien dalam batas normal.
Pengkajian Fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
1. Kepala
Inspeksi : bentuk kepala simetris, distribusi rambut merata, tidak terdapat
uban, ada ketombe.
Palpasi : ada nyeri tekan.
2. Mata
Inspeksi: pupil isokor, reflek cahaya +/+, sklera ikterik (-), konjungtiva
anemis (-), bulu mata rata dan hitam, tidak terdapat jejas pada
palpebral
Palpasi: tidak ada nyeri tekan
3. Telinga
Inspeksi : bentuk telinga simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak ada
edema, dan tidak ada perdarahan (otorea)
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada telinga
4. Hidung
Inspeksi : hidung bersih, tidak ada benjolan, tiada pernapasan cuping
hidung, tidak ada sekret, tidak ada massa, tidak ada perdarahan
(rinorea), tidak ada fraktur nasal
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
5. Mulut
Inspeksi : mukosa bibir kering, tidak ada penggunaan gigi palsu, bau
mulut (+)
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
6. Leher
Inspeksi : bentuk leher simetris, tidak ada benjolan, tidak ada jejas, tidak
ada distensi vena jugularis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
7. Dada
Inspeksi : dada simetris, RR 23x/menit, tidak tampak jejas
Palpasi : tidak teraba benjolan atau massa
Perkusi : suara paru sonor
Auskultasi : bunyi napas vesikuler, irama teratur, tidak ada wheezing
b. Jantung
Inspeksi : ictus kordis tidak terlihat
Palpasi : tidak teraba ictus cordis
Perkusi : pekak
Auskultasi : suara jantung S1 S2 tunggal, tidak ada suara jantung
tambahan, tekanan darah = 100/70 mmHg
8. Abdomen
Inspeksi: bentuk abdomen cembung, tidak ada luka/jejas, terdapat
bercak-bercak merah
Palpasi: extended (+)
Auskultasi : Bising usus (+) 10 x/menit
Perkusi: hipertimpani
9. Urogenital
Inspeksi: tidak terdapat kelainan pada alat kelamin klien, urine produksi
sebanyak ± 240 cc/24 jam, klien terpasang kateter, warna hitam
Palpasi : tidak terdapat distensi kandung kemih
10. Ekstremitas
Inspeksi : terpasang infus di tangan kanan, oedema pada kedua kaki
Palpasi : CRT < 2 detik, pitting edema (+), akral hangat, terdapat sensori,
pulsasi teraba
Kekuatan otot :
5555 5555
5555 5555
11. Kulit dan kuku
Inspeksi : kulit berwarna kuning, kuku tangan dan kaki kurang bersih
12. Keadaan lokal
Keadaan umum compos mentis, GCS E4V3M5.
Skala Jatuh Morse / Morse Fall Scale (MFS)
No Pengkajian Skala Nilai Ket
1. Riwayat jatuh : apakah pasien pernah jatuh dalam 3 bulan terakhir? Tidak Ya 0 25 0 2. Diagnosa
pasien memiliki lebih dari satu penyakit?
Ya 15
3. Alat Bantu jalan: - Bed rest/ dibantu perawat 0 0 - Kruk/ tongkat/ walker 15 - Berpegangan pada benda-benda di sekitar (kursi, lemari, meja) 30 4. Terapi intravena: apakah pasien saat ini terpasang infus?
Tidak Ya
0 20
20
5. Gaya berjalan/ cara
berpindah:
- Normal/ bed rest/ immobile (tidak dapat bergerak sendiri) 0 10 - Lemah (tidak bertenaga) 10 - Gangguan/ tidak normal (pincang/ diseret) 20 6. Status Mental - pasien menyadari kondisi dirinya 0 0 - pasien mengalami keterbatasan daya ingat 15 Total nilai 45
Keterangan :
Tingkatan risiko Nilai MFS Tindakan
Tidak berisiko 0 - 24 Perawatan dasar
Risiko rendah 25 - 50 Pelaksanaan intervensi
pencegahan jatuh standar
Risiko tinggi ≥ 51 Pelaksanaan intervensi
pencegahan jatuh risiko tinggi
Intepretasi: Pasien memiliki resiko jatuh rendah
Pengkajian Resiko Dekubitus: Braden scale
1. Persepsi Sensori 4
2. Kelembapan 2
3. Tingkat aktifitas fisik 2
4. Mobilisasi 3
5. Nutrisi 2
6. Friksi dan Gesekan 2
Total 15 (Resiko dekubitus)
Keterangan:
Indikator no 1-5
: skala 1-4
Indikator 6
: skala 1-3
V. Terapi
N OJenis terapi Farmakodinamik dan Farmakokinetik Dosis dan Rute Pemberian
Indikasi dan Kontra Indikasi
Efek Samping
1 NaCl - 7 tpm IV Indikasi:
Klien dengan resusitasi, diare, luka bakar, gagal ginjal akut
Kontraindikasi:
Untuk pasien penyakit hati perifer udem atau pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.
Keracunan NaCl
disebabkan oleh induksi yang gagal dapat menyebabkan
hipernatremia yang
memicu terjadinya
trombosit dan
hemorrage. Efek
samping yang sering terjadi nausea, mual, diare, kram usus, haus, menurunkan salivasi dan lakrimasi, berkeringat,
demam, hipertensi,
takikardi, gagal ginjal, sakit kepala, lemas, kejang, koma dan kematian.
2 Ceftriaxone Farmakodinamik:
Ceftriaxone adalah golongan cefalosporin dengan spektrum luas, yang membunuh bakteri dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Ceftriaxone secara relatif mempunyai waktu paruh yang panjang dan diberikan dengan injeksi dalam bentuk garam sodium.
2x1 ampul Indikasi:
1.
Sepsis2.
Meningitis3.
Infeksi abdominal4.
Infeksi tulang, persendian, jaringan lunak, kulit, dan luka-lukaLelah, sariawan, nyeri tenggorokan, diare
Farmakokinetik:
Ceftriaxone secara cepat terdifusi kedalam cairan jaringan, diekskresikan dalam bentuk aktif yang tidak berubah oleh ginjal (60%) dan hati (40%). Setelah pemakaian 1 g, konsentrasi aktif secara cepat terdapat dalam urin dan empedu dan hal ini berlangsung lama, kira-kira 12-24 jam. Rata-rata waktu paruh eliminasi plasma adlah 8 jam. Waktu paruh pada bayi dan anak-anak adalah 6,5 dan 12,5 jam pada pasien dengan umur lebih dari 70 tahun. Jika fungsi ginjal terganggu, eliminasi biliari terhadap Ceftriaxone meningkat.
5.
Pencegah infeksiprabedah
6.
Infeksi dengan pasien gangguan mekanisme daya tahan tubuh7.
Infeksi ginjal dansaluran kemih
8.
Infeksi saluran pernafasan9.
Infeksi kelamin termasuk gonorrhea Kontra Indikasi:1.
Hipersensitif terhadap Cefalosporin2.
Hipersensitif terhadap penisilin/antibiotika β-lactam 3 Ranitidina.
FarmakodinamikRanitidine menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Reseptor H2 akan merangsang sekresi cairan lambung srhingga pada pemberian Cimetidin dan ranitidine sekresi cairan lambung dihambat. Pengaruh fisiologi cimetidin dan ranitidine terhadap reseptor H2 lainnya, tidak begitu penting.walaupun tidak lengkap cimetidin dan ranitidine dapat menghambat sekresi cairan lembung akibat rangsangan obat muskarinik atau gastrin. Cimetidin dan ranitidine
2x1 ampul Indikasi:
1.
mengobati ulkuslambung dan
duodenum
2.
melindungi lambung dan duodenum agar tidak sampai teradi ulkus3.
mengobati masalah yang disebabkan olehasam pada
kerongkongan
a.
Kegelisahan, depresi, halusinasib.
Reaksi alergi sepertikulit ruam, gatal atau gatal-gatal,
pembengkakan wajah, bibir, atau lidah
c.
Gangguan pernapasanPerdarahan yang tidak biasa atau
mengurangi volume dan kadar ion hydrogen cairan lambung. Penurunan sekresi asam
lambung mengakibatkan perubahan
pepsinogen menjadi pepsin menurun.
b.
FarmakokinetikBioavailabilitas ranitidine yang diberikan secara oral sekitar 50% dan meningkat pada klien penyakit hati. Masa paruhnya kira-kira 1,7 -3 jam pada orang dewasa, dan memanjang pada orang tua dan klien gagal ginjal. Pada klien penyakit hati masa paruh ranitidine juga memanjang meskipun tidak sebesar pada ginjal. Pada ginjal normal, volume distribusi 1,7 L/kg sedangkan klirens kreatinin 25-35 ml/menit. Kadar puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah penggunaan ranitidine 150 mg secara oral, dan terikat protein plasma hanya 15 %. Ranitidine mengalami metabolism lintas pertama di hati dalam jumlah yang cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidine dan matabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja. Sekitar 70% dari ranitidine yang diberikan IV dan 30 % yang diberikan secara oral diekskresi dalam urin dalam bentuk asal.
(contohnya pada
GERD)
4.
mencegah tukaklambung agar tidak berdarah
5.
Digunakan sebelumoperasi bedah,
supaya asam datang tidak tinggi selama klien tidak sadar
6.
Mengobati SindromZollinger-Ellison
(Tingginya kadar
hormon gastrin yang menyebabkan
lambung memproduks i terlalu banyak asam)
7.
Mengobati sakit maagbeserta gejala-gejala yang ditimbulkannya Kontraindikasi: 1. Lansia 2. Ibu hamil 3. Ibu menyusui 4. Kanker lambung 5. Penyakit ginjal 6. Mengonsumsi obat non-steroid anti-inflamasi memar
d.
Muntahe.
Menguningnya kulit atau mataf.
Sembelit atau diareg.
Pusingh.
Sakit kepalai.
Mual7. Sakit paru paru 8. Diabetes 9. Masalah dengan sistem kekebalan tubuh 10. Porfiria akut (gangguan metabolisme langka 4 Ondansentro ne Farmakodinamik:
Ondansetron bekerja sebagai antagonis selektif dan bersifat kompetitif pada reseptor 5HT3, dengan cara menghambat aktivasi aferen-aferen vagal sehingga menekan terjadinya refleks muntah. Pemberian sitostatika (kemoterapi) dan radiasi dapat menyebabkan pelepasan 5HT dalam usus halus yang merupakan awal terjadinya refleks muntah karena terjadi aktivasi aferen-aferen vagal melalui reseptor 5 HT3. Aktivasi aferen-aferen vagal juga dapat menyebabkan pelepasan 5HT pada daerah psotrema otak yang terdapat di dasar ventrikel 4. Hal ini merangsang terjadinya efek muntah melalui mekanisme sentral. Jadi efek ondansentron dalam pengelolaan mual muntah yang disebabkan sitostatika (kemoterapi) dan radioterapi bekerja sebagai antagonis reseptor 5HT3 pada neuron-neuron yang terdapat pada sistem syaraf pusat dan sistem syaraf tepi.
3x4 mg Indikasi:
1. Mencegah dan
mengobati
mual-muntah akut pasca bedah (PONV) 2. Mencegah dan mengobati mual-muntah pasca kemoterapi pada penderita kanker 3. Mencegah dan mengobati mual-muntah pasca radioterapi pada penderita kanker Kontraindikasi: Pasien hipersensitif terhadap Ondansetron Ondansetron pada umumnya dapat
ditoleransi dengan baik. Konstipasi merupakan efek samping yang paling sering ditemukan (11%). Kadang dapat dijumpai sakit kepala, wajah ke merahan (flushing), rasa panas atau hangat di kepala dan epigastrium yang bersifat sementara. Peningkatan
aminotransferase tanpa disertai gejala-gejala, Kadang juga dapat dijumpai peningkatan serum transaminase (5%) dan ruam kulit (1%), sedasi dan diare, karena meningkatnya
Farmakokinetik:
etelah pemberian per oral, Ondansetron yang diberikan dengan dosis 8 mg akan diserap dengan cepat dan konsentrasi maksimum (30 ng / ml) dalam plasma dicapai dalam waktu 1,5 jam. Konsentrasi yang sama dapat dicapai dalam 10 menit dengan pemberian Ondansetron 4 mg i.v. Bioavalibilitas oral absolut Ondansetron sekitar 60%. Kondisi sistemik yang setara juga dapat dicapai melalui pemberian secara i.m atau i.v. Waktu paruhnya sekitar 3 jam.
Volume distribusi dalam keadaan statis sekitar 140 L. Ondansetron yang berikatan dengan protein plasma sekitar 70 – 76%. Ondansetron dimetabolisme sanagt baik di sistem sirkulasi, sehingga hanya kurang dari 5 % saja yang terdeteksi di urine.
waktu transfer di usus besar.
5 Furosemide Farmakodinamik:
Farmakodinamik dari obat ini yaitu menghambat sistem transpor pasangan Na+/K+/2Cl- di membran
luminal bagian tebal ansa Henle asendens. Dengan menghambat pentranspor ini, diuretic tersebut menurunkan reabsorpsi NaCl dan juga mengurangi potensial positif lumen normal yang didapat dari daur ulang K+. Potensial elektrik
tersebut didapat dari reabsorpsi kation divalen di ansa Henle.Diuretik kuat, dengan menghilangkan potensial positif lumen menyebabkan peningkatan ekskresi Mg2+ dan Ca2+. Penggunaan yang lama
dapat menyebabkan hipomagnesium yang bermakna pada beberapa jenis penderita. Karena
3x1 mg IV Indikasi:
Indikasi furosemide
digunakan untuk
mengobati tekanan darah
tinggi. Menurunkan
tekanan darah tinggi membantu mencegah stroke, serangan jantung, dan ginjal. Obat ini juga mengurangi bengkak / retensi cairan (edema) yang dapat disebabkan oleh kondisi seperti gagal
Efek samping yang umum dari furosemide termasuk tekanan darah rendah, dehidrasi dan elektrolit penipisan (misalnya, natrium, kalium). Efek samping yang kurang umum
termasuk penyakit
kuning, dering di telinga (tinnitus), kepekaan
terhadap cahaya
(ketakutan dipotret), ruam, pankreatitis,
Ca2+ secara aktif diabsorpsi ditubulus distal
konvultus, diuretik kuat secara umum tidak menyebabkan hipokalsemia. Namun demikian, pada gangguan yang menyebabkan hipokalsemia, ekskresi Ca2+ dapat ditingkatkan dengan
pemberian kombinasi diuretik kuat dan infus cairan garam. Efek ini bermakna besar pada penanganan hiperkalsemia akut. Tambahan terhadap aktivitas diuretiknya, diuretik kuat mempunyai efek langsung pada aliran darah yang melalui beberapa vascular bed. Mekanisme kerja tersebut tidak dapat dijelaskan. Furosemide meningkatkan aliran darah ginjal dan menyebabkan redistribusi aliran darah dalam korteks ginjal. Furosemide dan asam etakrinat dapat juga mengurangi kongesti paru dan menurunkan tekanan ventrikel kiri pada gagal jantung kongestif sebelum peningkatan keluaran urin dapat diukur, dan pada penderita anefrik.
jantung kongestif,
penyakit hati, atau penyakit ginjal. Hal ini
dapat membantu
meningkatkan gejala
seperti sesak napas.
Kontraindikasi pada
pasien dengan anuria dan pada pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap furosemide.
mual, diare, sakit perut, dan pusing. Peningkatan gula darah dan kadar asam urat juga dapat terjadi. Pusing, sakit kepala ringan, sakit kepala, penglihatan kabur, kehilangan nafsu makan, sakit perut, diare, atau konstipasi dapat terjadi karena tubuh menyesuaikan obat.
Kejang otot atau kelemahan,
kebingungan, pusing berat, mengantuk, mulut kering yang tidak biasa atau haus, mual atau muntah, cepat / tidak beraturan detak jantung, penurunan yang tidak biasa jumlah urin, pingsan, kejang-kejang. Efek samping yang serius dapat terjadi seperti mati rasa / kesemutan dari lengan / kaki, dering di telinga, gangguan pendengaran, tanda-tanda infeksi
(misalnya, demam, sakit tenggorokan persisten), mudah perdarahan atau memar, menguning mata / kulit.
6 Kalitake Kalitake mengandung ion Ca2+ dalam grup radikal
resin sulfonate yang merupakan kopolimer styrene divinil benzene. Dengan mekanisme kerja sebagai resin penukar ion. Kalitake melepaskan ion Ca2+
dan mengikat ion K+ melalui adsorpsi.
Pada konsumsi per oral, obat ini mengakibatkan terjadinya proses pertukaran ion dalam traktus gastrointestinalis, diekskresi dalam feses. Kalitake tidak mempengaruhi aktivitas motorik spontan. Dalam larutan Tyrode, Kalitake mengakibatkan peningkatan bermakna ion Ca2+ dan penurunan
Mg2+ dan Na+ sampai 10%. Kalitake
mengakibatkan eliminasi ion K+ pada pasien gagal
ginjal.
3x1 mg IV Indikasi:
Hiperkalemia sebagai akibat gagal ginjal akut
dan kronis. Kontra Indikasi: 1. Hipertiroid 2. Mieloma multiple 3. Sarkoidosis atau metastasis karsinoma dengan gagal ginjal dan hiperkalsemi
4. Kadar
kalium/potassium serum kurang dari 5 mmol/L 5. Riwayat hipersensitivitas terhadap resin polistirene sulfonate Traktus gastrointestinalis : Dapat terjadi
konstipasi dan lebih
jarang nausea, vomitus, anoreksia dan dispepsia Elektrolit, Kadang terjadi hipokalemia, harus dilakukan monitoring terhadap kadar kalium serum dan jika perlu dosisnya dikurangi/ dihentikan
Dapat juga
terjadi hiperkalsemia
7 Aminefron Ada 9 jenis asam amino esensial: histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan dan valin. Asam amino esensial tidak dapat disintesis dalam jumlah yang cukup di dalam tubuh dan untuk itu harus tersedia dalam makanan. Fungsi utamanya adalah sebagai
3x1 mg IV Indikasi:
Terapi disfungsi ginjal kronik, dalam kombinasi dg diet tinggi kalori rendah protein.
kofaktor esensial pada berbagai sistem enzim. Keto atau asam-asam hidroksi ditransaminasi secara enzimatik menjadi asam-asam L-amino yang bersangkutan sementara gugus urea mengalami dekomposisi. Pada penderita yang mendapat diet rendah protein, penggunaan aminefron dapat memungkinkan asupan dengan asam-asam amino esensial bebas nitrogen; penggunaan kembali katabolit yang mengandung nitrogen; anabolisme protein dan penurunan yang simultan dari urea serum; perbaikan dari ketidakseimbangan nitrogen dan asam amino serum; reduksi dari serum, PO4-3.
Kontraindikasi: hiperkalsemia
8 Amlodipin Farmakodinamik :
Amlodipine merupakan antagonis kalsium golongan dihidropiridin (antagonis ion kalsium) yang menghambat influks (masuknya) ion kalsium melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung sehingga mempengaruhi kontraksi otot polos vaskular dan otot jantung. Amlodipine menghambat influks ion kalsium secara selektif, di mana sebagian besar mempunyai efek pada sel otot polos vaskular dibandingkan sel otot jantung. Efek antihipertensi amlodipine adalah dengan bekerja langsung sebagai vasodilator arteri perifer yang dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskular serta penurunan tekanan darah. Dosis satu kali sehari akan menghasilkan penurunan tekanan darah yang berlangsung selama 24 jam. Onset kerja amlodipine adalah perlahan-lahan, sehingga tidak
10 mg 0-0-1 Oral Indikasi : Amlodipin digunakan untuk pengobatan
hypertensi, angina stabil
kronik, angina
vasospastik (angina
prinzmetal atau variant
angina). Amlodipine
dapat diberikan sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan obat anti hypertensi dan anti angina lain.
Kontra indikasi :
Amlodipine tidak boleh diberikan pada pasien
yang hipersensitif
Efek samping yang sering timbul dalam uji klinik antara lain : edema, sakit kepala. Secara umum :
fatigue, nyeri,
peningkatan atau
menyebabkan terjadinya hipotensi akut.
Efek antiangina amlodipine adalah melalui dilatasi arteriol perifer sehingga dapat menurunkan resistensi perifer total (afterload). Karena amlodipine tidak mempengaruhi frekuensi denyut jantung, pengurangan beban jantung akan menyebabkan penurunan kebutuhan oksigen miokardial serta kebutuhan energi.
Amlodipine menyebabkan dilatasi arteri dan arteriol koroner baik pada keadaan oksigenisasi normal maupun keadaan iskemia. Pada pasien angina, dosis amlodipine satu kali sehari dapat meningkatkan waktu latihan, waktu timbulnya angina, waktu timbulnya depresi segmen ST dan menurunkan frekuensi serangan angina serta penggunaan tablet nitrogliserin.
Amlodipine tidak menimbulkan perubahan kadar lemak plasma dan dapat digunakan pada pasien asma, diabetes serta gout.
Catatan: untuk kontraksi, otot jantung memerlukan ion Ca2+ yang masuk dari luar sel
disamping ion Ca2+ dari gudang intrasel, otot
polos bergantung hampir seluruhnya pada ion Ca2+ ekstrasel, sedangkan otot rangka tidak
memerlukan ion Ca2+ ekstrasel. Oleh karena itu
Calsium kanal bloker menghambat kontraksi otot polos dan otot jantung, tetapi tidak menghambat kontraksi otot rangka.
Farmakokinetik:
Amlodopin diabsorbsi secara bertahap pada
terhadap amlodipine dan golongan dihidropiridin lainnya.
pemberian peroral. Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 6-12 jam. Bioavaibilitas amlodipine sekitar 64-90% dan tidak dipengaruhi makanan. Ikatan dengan protein plasma sekitar 93%. Waktu paruh amlodopin sekitar 30-50 jam dan kadar mantap dalam plasma dicapai setelah 7-8 hari.
Amlodopin dimetabolisme dihati secara luas (sekitar 90%) dan diubah menjadi metabolit inaktif, dengan 10% bentuk awal serta 60% metabolit diekskresikan melalui urin. Pola farmakokinetik amlodipine tidak berubah secara bermakna pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, sehingg tidak perlu dilakukan penyesuaian dosis. Pasien usia lanjut dan pasien dengan gangguan fungsi hati didapatkan peningkatan AUC sekitar 40-60%, sehingga diperlukan pengurangan dosis pada awal terapi. Demikian juga pada pasien dengan gagal jantung sedang sampai berat.
9 Kasorbid Farmakokinetik:
Penggunaan nitrate organik sangat dipengaruhi keberadaan suatu reduktase nitrate organik hati berkapasitas tinggi yang dapat memindahkan kelompok nitrate tahap demi tahap dari molekul induk dan akhirnya menyebabkan inaktivasi obat. Karena itu, bioavailibilitas nitrate organik oral tradisional (nitroglycerin dan isosorbid dinitrate) keduanya diabsorpsi secara efisien dengan cara pemberian tersebut dan mencapai kadar darah terapeutik dalam beberapa menit. Bagaimanapun,
5 mg 1-1-1 oral
Indikasi:
Profilaksis dan
pengobatan angina; gagal jantung kiri
Kontraindikasi:
Hipersensitivitas terhadap nitrat, hipotensi dan hipovolemia, kardiopati obstruktif hipertrofik, stenosis aorta, tamponade
Sakit kepala berdenyut, muka merah, pusing, hipotensi postural, takikardi (dapat terjadi bradikardi
paradoksikal). Efek samping yang khas setelah injeksi meliputi hipotensi berat, mual dan muntah, diaforesis, kuatir, gelisah, kedutan
dosis total yang diberikan dengan cara tersebut harus dibatasi untuk menghindari efek berlebihan; durasi total efek tersebut singkat (15-30 menit). Ketika diperlukan durasi efek yang lebih lama, sediaan oral dapat diberikan dengan jumlah obat yang cukup untuk mempertahankan kadar darah sistemik dari obat induk atau metabolit aktifnya. Cara pemberian nitroglycerin lain mencakup absorbsi transdermal dan bukal dari sediaan rilis lambat;dibahas berikut.
Sekali diserap, campuran senyawa nitrate yang tidak berubah memiliki waktu paruh hanya 2-8 menit. Metabolit terdenitrasi secara parsial memiliki waktu paruh yang jauh lebih lama (sampai 3 jam). Dari metabolit nitroglycerin (dua dinitroglycerin dan dua bentuk mononitro), turunan dinitro memiliki efektivitas yang lebih bermakna; mereka diduga memberikan sebagian besar efek terapeutik nitroglycerin pada pemberian oral. Metabolit aktif isosorbide dinitrate, 5-mononitrate, tersedia untuk penggunaan klinis sebagai isosorbide mononitrate. Mempunyai bioavailibilitas 100%.
Ekskresi, terutama dalam bentuk turunan glucuronide dari metabolit terdenitrasi, sebagian melalui ginjal.
Farmakodinamik:
Nitroglycerin diduga didenitrasi, merilis ion nitrite bebas, di otot polos seperti pada jaringan lain, oleh glutatione S-transferase. Suatu reaksi
jantung, perikarditis konstriktif, stenosis mitral, anemia berat, trauma kepala, perdarahan otak, glaukoma sudut sempit.
otot, palpitasi, nyeri perut, sinkop, pemberian jangka panjang disertai dengan
enzim berbeda yang tidak diketahui merilis nitric oxide dari molekul obat induk. Nitric oxide adalah vasodilator yang lebih kuat daripada nitrite yang olehnya sendiri, dapat melepaskan nitrite oxide. Nitrite oxide menyebabkan aktivitas guanyl cyclase dan suatu peningkatan c-GMP, yang merupakan langkah awal relaksasi otot polos. Produksi prostaglandin E atau prostasiklin (PGI2) dan hiperpolarisasi membran diduga terlibat pula. Tidak ada bukti bahwa reseptor autonom terlibat dalam respons utama nitrate (meskipun terjadi respons refleks otomatis pada pemberian dosis hipotensi). Seperti diuraikan berikut, toleransi adalah suatu pertimbangan penting pada penggunaan nitrate. Karena toleransi dapat disebabkan sebagian oleh penurunan pada kelompok sulfhydryl jaringan, toleransi hanya dapat dicegah atau diperbaiki sebagian dengan suatu agen penghasil kembali sulfhydryl. Tempat toleransi seluler tersebut diduga didapat pada suatu reaksi bertanggung jawab yang tidak diketahui, untuk merilis nitric oxide dari nitrate, karena agen lain seperti acetylcholine, yang menyebabkan vasodilatasi melalui rilis nitric oxide dari substrat endogen tidak menunjukkan toleransi silang pada nitrate.
10 Biscor Farmakodinamik :
Mekanisme kerja antihipertensi dari bisoprolol belum seluruhnya diketahui. Faktor-faktor yang terlibat adalah :
1. Penurunan curah jantung
5 mg ½-0-0 Oral
Indikasi: :
Bisoprolol diindikasikan untuk hipertensi, bisa
digunakan sebagai
monoterapi atau
1. Sistem saraf
pusat: dizziness, vertigo, sakit kepala, parestesia,
2. Penghambatan pelepasan renin oleh ginjal. 3. Pengurangan aliran tonus simpatis dari pusat
vasomotor pada otak.
Pada orang sehat, pengobatan dengan bisoprolol menurunkan kejadian takikardia yang diinduksi oleh aktivitas fisik dan isoproterenol. Efek maksimum terjadi dalam waktu 1-4 jam setelah pemakaian. Efek tersebut menetap selama 24 jam pada dosis >5 mg. Penelitian secara elektrofisiologi pada manusia menunjukkan bahwa bisoprolol secara signifikan mengurangi frekuensi denyut jantung, meningkatkan waktu pemulihan sinus node, memperpanjang periode refrakter AV node dan dengan stimulasi atrial yang cepat, memperpanjang konduksi/W node. Bisoprolol juga dapat diberikan bersamaan dengan diuretik tiazid. Hidroklorotiazid dosis rendah (6,25 mg) digunakan bersamaan dengan bisoprolol fumarate untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi ringan sampai sedang.
Farmakokinetik :
Bioavailabilitas dosis oral 10 mg adalah sekitar 80%. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Metabolisme lintas pertama bisoprolol fumarate sekitar 20%. Ikatan dengan protein serum sekitar 30%. Konsentrasi puncak plasma pada dosis 5-20 mg terjadi dalam 2-4 jam, dan nilai puncak rata-rata berkisar dari 16 ng/ml pada 5 mg hingga 70 ng/ml pada 20 mg. Pemberian
dikombinasikan dengan antihipertensi lain. Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap bisoprolol fumarate. Bisoprolol dikontraindikasikan pada penderita cardiogenic shock, kelainan jantung, AV block tingkat II atau III, bradikardia sinus.
ansietas, konsentrasi berkurang 2. Sistem saraf otonom: mulut kering. 3. Kardiovaskular: bradikardia, palpitasi dan gangguan ritme lainnya, cold
extremities,
klaudikasio,
hipotensi, hipotensi ortostatik, sakit dada, gagal jantung.
4. Psikiatrik: inso mnia, depresi.
5. Gastrointestinal: nyeri perut, gastritis, dispepsia, mual,
muntah, diare,
konstipasi.
6. Muskuloskeletal
: sakit otot, sakit leher, kram otot, tremor.
7. Kulit: rash,
jerawat, eksim,
iritasi kulit, gatal-gatal, kulit kemerah-merahan,
bisoprolol fumarate sekali sehari memperlihatkan adanya variasi kadar plasma puncak intersubyek kurang dari dua kali lipat. Waktu paruh eliminasi plasma adalah 9-12 jam dan sedikit lebih lama pada penderita usia lanjut, hal ini disebabkan menurunnya fungsi ginjal. Steady state dicapai dalam 5 hari, pada dosis sekali sehari. Akumulasi plasmanya rendah pada penderita usia muda dan tua; faktor akumulasi berkisar antara 1,1 sampai 1,3, sesuai dengan yang diharapkan dari kinetik urutan pertama dan pemberian sekali sehari. Konsentrasi plasma pada dosis 5-20 mg adalah proposional. Karakteristik farmakokinetik dari kedua enansiomer adalah serupa.Bisoprolol fumarate dieliminasi melalui ginjal dan bukan ginjal, sekitar 50% dari dosis, tetap dalam bentuk utuh di urin dan sisanya dalam bentuk metabolit tidak aktif. Kurang dari 2% diekskresikan melalui feses. Bisoprolol fumarate tidak dimetabolisme oleh sitokrom P450 II D6 {debrisokuin hidroksiiase). Pada subyek dengan bersihan kreatinin kurang dari 40 ml/menit, waktu paruh plasma meningkat kira-kira 3 kali lipat dari orang sehat. Pada penderita sirosis hati, eliminasi bisoprolol fumarate lebih bervariasi dalam hal kecepatan dan secara signifikan lebih lambat dari orang sehat, dengan waktu paruh plasma berkisar antara 8,3 hingga 21,7 jam.
alopesia, angioedema, dermatitis eksfoliatif, vaskulitis kutaneus 8. Khusus: ganggu
an visual, sakit mata, lakrimasi abnormal, tinitus, sakit telinga.
9. Metabolik: peny akit gout. 10. Pernafasan: asm a, bronkospasme, batuk, dispnea, faringitis, rinitis, sinusitis. 11. Genitourinaria: menurunnya libido/impotensi, penyakit Peyronie, sistitis, kolik ginjal.
12. Hematologi: pur pura
13. Lain-lain: kelem ahan, letih, nyeri dada, peningkatan berat badan.
11 Allop Farmakokinetik:
Allopurinol diabsorbsi kurang lebih 80% setelah pemberian peroral dan mempunyai waktu paruh
300 mg 0-0-1 Oral
Indikasi
1. Allopurinol
sering menjadi
first-Efeksamping dari obat ini adalah diantanya berupa ruam (hentikan
1-2jam hingga mencapai keseimbangan (terminal serum half time). Seperti asam urat, allopurinol dimetabolisme oleh xanthine oxidase, tapi hasil gabungannya, alloxanthine, mempunyai kemampuan untuk menghambat xanthine oxidase dan mempunyai waktu kerja yang cukup lama sehingga allopurinol hanya diberikan sekali per hari.
Farmakodinamik:
Diet makanan yang mengandung purin bukanlah sumber utama pembentukan asam urat. Sebagian besar purin dibentuk dari asam amino, format, dan karbon dioksida di dalam tubuh. Ribonukleosida purin yang tidak membentuk asam nukleat maupun purin hasil degradasi asam nukleat tersebut diubah menjadi xanthine atau hypoxanthine kemudian dioksidasi menjadi asam urat. Allopurinol menghambat proses yang terakhir tersebut(oksidasi menjadi asam urat), mengakibatkan penurunan konsetrasi urat plasma dan mengurangi urate burden secara keseluruhan. Xanthine dan hipoxanshine yang mudah larut (soluble) bertambah.
line (lini utama) untuk terapi serangan gout
kronis dan memperpanjang the intercritical period. 2. Ketikan memberikan terapi Allopurinol, colchicline atau NSAID sebaiknya juga diberikan sampai serum asam urat stabil atau sampai dibawah 6 mg/dL, uricosuric dilanjutkan selama 3-6 bulan bahkan lebih
lama. Setelahnya
uricosuric bisa
dihentikan.
3. Allopurinol juga digunakan sebagai obat anti-protozoa dan diindikasikan untuk mencegah urikosuria yang massif diikuti
terapi blood
dyscrasias yang bisa otherwise lead to renal calculi.
Kontraindikasi:
terapi, jika ruam ringan,
gunakan kembali
dengan hati-hati namun hentikan segera apabila muncul kembali reaksi kuit dikaitkan dengan pengelupasan kulit, demam, limfadenopati,
arthralgia, dan
eosinophilia, sindrom mirip sindrom steven jonhson atau Lyell,
jarang terjadi),
gangguan saluran cerna, jarang malaise, sakit
kepala, vertigo,
mengantuk, gangguan pengecapan, hipertensi, deposit xantin di otot tanpa gejala, alopesia, hepato-toksisitas, para-estasia, dan nueropati.
VI. Pemeriksaan Penunjang & Laboratorium
No pemeriksaaJenis n
Nilai normal
(rujukan) (hari/tanggal)Hasil
nilai Satuan 1 Hematologi Hematologi lengkap (HLT) Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit 12,0-16,0 4,5-11,0 36-46 150-450 gr/dl 109/L % 109/L 8,4 7,5 24,5 69 gr/dl 109/L % 109/L 26 Januari 2017 Elektrolit Na Kalium Chlorida Calcium 135-155 3,5-5,0 90-110 2,15-2,57 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III) 138,0 6,84 116,2 1,77 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III) Faal hati SGOT SGPT 10-319-36 U/L (37 0C) U/L (370C) 2826 U/L (37 0C) U/L (370C) Gula darah Glukosa sewaktu <200 mg/dl 84 mg/dl Faal ginjal Kreatinin serum BUN Urea 0,5-1,1 6-20 12-43 mg/dl mg/dl mg/dl 6,5 132 282 mg/dl mg/dl mg/dl 2 Hematologi Hematologi lengkap (HLT) Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit 12,0-16,0 4,5-11,0 36-46 150-450 gr/dl 109/L % 109/L 10,8 8,3 31,6 62 gr/dl 109/L % 109/L 27 Januari 2017 Elektrolit Na Kalium Chlorida Calcium 135-155 3,5-5,0 90-110 2,15-2,57 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III) 140,0 6,29 116,6 1,99 mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (ISE) mmol/L (Arsena III)
Hasil EKG:
Jember, 30 Januari 2017
Pengambil Data,
(Retno Puji Astuti, S. Kep)
NIM 122311101027
ANALISA DATA
NO DATA PENUNJANG ETIOLOGI MASALAH
1 S: klien mengatakan lemas, tidak berenergi O: TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C
Edema pada kedua kaki Klien terlihat lemah
Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam
UP: 240 cc/24 jam
Kulit lembap pada ekstremitas,
HHF ↓ Gagal pompa ventrikel kiri ↓ Sinyal mencapai sistem saraf pusat
↓ Forward failure ↓ Perubahan preload afterload ↓
Suplai darah dari
Penurunan curah jantung (00029)
kasar pada daerah abdomen dan menuju ke jantung menurun 2 S: klien mengatakan sesak
O:
TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C
Terlihat penggunaan otot bantu pernfasan,
Ada pernafasan cuping hidung
Gagal pompa venrikel kanan ↓ Tekanan diastole meningkat ↓ Bendungan atrium kanan ↓ Mendesak diafragma ↓ Sesak nafas Ketidakefektifan pola nafas (00032)
3 S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki O:
TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C
Edema pada ekstremitas Ada penggunaan otot bantu pernafasan
Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl
Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam
Renal flow menurun ↓ RAA meningkat ↓ ADH meningkat ↓ Retensi Na + H2O Kelebihan volume cairan (00026)
4 S: klien mengatakan nyeri terutama di daerah perut O: TD: 100/70 mmHg Nadi: 78x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36,4 0C
Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri
menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat Gagal pompa venrikel kanan ↓ Tekanan diastole meningkat ↓ Bendungan atrium kanan ↓ Bendungan sistemik ↓ Hepar ↓ Hepatomegali ↓ Mendesak diafragma Nyeri akut (00132)
DIAGNOSA KEPERAWATAN
No Diagnosa perumusanTanggal pencapaiTanggal
an
Keteran gan
1 Penurunan curah jantung
berhubunagan dengan perubahan afterload ditandai dengan klien mengatakan lemas, tidak berenergi, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C,
Edema pada kedua kaki, Klien terlihat lemah, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam, Kulit lembap pada ekstremitas, kasar
30 Januari
pada daerah abdomen
2 Ketidakefektifan pola nafas
berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan klien mengatakan sesak, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C,
Terlihat penggunaan otot bantu pernfasan, Ada pernafasan cuping hidung
30 Januari
2017 1 Februari 2017
3 Kelebihan volume cairan
berhubungan dengan Gangguan mekanisme regulasi ditandai dengan klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C,
Edema pada ekstremitas, Ada penggunaan otot bantu pernafasan, Hasil lab:
Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam
30 Januari
2017 1 Februari 2017
4 Nyeri akut berhubungan
dengan agens cedera biologis ditandai dengan klien mengatakan nyeri terutama di daerah perut, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Nyeri timbul
di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4 paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat
30 Januari
2017 1 Februari 2017
PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO
DIAGNOSA TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL INTERVENSI 1 Penurunan curah jantung NOC: - Circulation Status NIC: Circulation Status
berhubunagan dengan perubahan afterload ditandai dengan klien mengatakan lemas, tidak berenergi, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Edema pada kedua kaki, Klien terlihat lemah, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam, Kulit lembap pada ekstremitas, kasar pada daerah abdomen - Fluid Management - Vital Signs Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien menunjukkan
keefektifan jalan nafas dibuktikan dengan kriteria hasil : a. Tekanan darah sistolik normal b. Tekanan darah diastolik normal c. Kekuatan nadi normal d. Rata-rata tekanan darah normal e. Nadi normal
f. Tekanan vena sentral normal
g. Tidak ada bunyi hipo jantung abnormal h. Tidak ada angina i. AGD normal j. Kesimbangan intake
dan output 24 jam k. Perfusi jaringan
perifer
l. Kekuatan pulsasi perifer
m. Tidak ada pelebaran vena
n. Tidak ada distensi vena jugularis o. Tidak ada edema
perifer
p. Tidak ada asites q. Pengisian kapiler r. Warna kulit normal s. Kekuatan fungsi otot t. Kekuatan kulit u. Suhu kulit hangat v. Tidak ada nyeri
ekstremitas
1. Kaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary refill, warna dan temperatur ekstremitas)
2. Evaluasi nadi perifer dan edema
3. Inpseksi kulit adanya luka 4. Kaji tingkat nyeri
5. Elevasi anggota badan 20 derajat atau lebih tinggi dari jantung untuk meningkatkan venous return
6. Ubah posisi klien minimal setiap 2 jam sekali
7. Monitor status cairan masuk dan keluar
8. Gunakan therapeutic bed 9. Dorong latihan ROM
selama bedrest
10. Dorong pasien latihan sesuai kemampuan
11. Jaga keadekuatan hidrasi
untuk mencegah peningkatan viskositas darah 12. Kolaborasi pemberian antiplatelet atau antikoagulan 13. Monitor laboratorium Hb, Hematokrit Fluid Management
1. Catat intake dan output cairan
2. Monitor status hidrasi 3. Monitor tanda-tanda vital 4. Monitor status nutrisi
2 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi NOC: Respiratory status : Ventilation
1. Suara nafas yang bersih, tidak ada
Airway management
1. Monitor respirasi dan status O2
2. Pantau frekuensi, irama, kedalaman
ditandai dengan klien mengatakan sesak, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Terlihat penggunaan otot bantu pernfasan, Ada pernafasan cuping hidung sianosis dan dyspneu 2. Irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal (16-20x/menit) 3. TTV dalam batas normal (TD: 120/80, RR 16-20x/mnt, Nadi 80-100x/mnt, Suhu 36,5-37,5oC) pernafasan.
3. Berikan posisi yang
nyaman yaitu semifowler 4. Anjurkan pasien untuk melakukan nafas dalam. 5. Kolaborasi dengan dokter untu pemberian terapi oksigen. Respiratory monitoring 1. Monitor kecepatan, frekuensi, kedalaman dan kekuataan ketika pasien bernapas
2. Monitor hasil
pemeriksaan rontgen dada
3. Monitor suara napas pasien
4. Kaji dan pantau adanya perubahan dalam pernapasan 5. Monitor sekret yang
dikeluarkan oleh pasien 3 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan Gangguan mekanisme regulasi ditandai dengan klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Edema pada ekstremitas, Ada penggunaan otot bantu pernafasan, NOC: Cardiopulmonary Status 1. Saturasi oksigen dalam rentang yang diharapkan (90-100%) 2. RR dalam batas yang diharapkan (20-30x/mnt) 3. Tidak terjadi dispnea saat beristirahat 4. Kelelahan berkurang NOC Label >> Kidney Function 1. Serum kreatinin kembali ke rentang yang diharapkan (0.7 – 7.2 mg/dL) NIC Fluid/Electrolyte Management 1. Memonitor level abnormal elektrolit serum. 2. Mendapatkan spesiemen pemeriksaan laboratorium untuk memantau perubahan elektrolit. 3. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan keseimbangan cairan. 4. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan retensi cairan.
Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl, Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 240 ml/24 jam, UP: 240 cc/24 jam 2. Nilai BUN kembali ke rentang yang diharapkan (8.00-50.00 mg/dl)
5. Monitor tanda dan
gejala retensi cairan dan
ketidakseimbangan elektrolit
6. Monitor tanda
Vital, jika diperlukan.
7. Monitor respon
pasien dalam
pemberian medikasi terkait elektrolit.
NIC Label :Hemodialysis Therapy
1. Catat batas tanda
vital seperti: berat,
temperature, nadi,
respirasi, dan tekanan darah.
2. Menjelaskan
prosedur hemodialisa dan tujuannya.
3. Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan lain untuk pelaksanaan hemodialisa.
4. Ajarkan pasien
untuk memonitor diri sendiri tanda dan
gejala yang
memerlukan
pengobatan medis.
NIC Label : Medication Management
1. Berikan medikasi
sesuai indikasi pasien.
2. Berikan medikasi
sesuai dengan standar prosedur yang berlaku (metode 6 Benar). 3. Monitor adanya kemungkinan terjadi alergi atau kontraindikasi terkait therapy. 4. Bantu pasien untuk meminum obatnya. 5. Berikan obat
6. Berikan obat antihipertensi sesuai indikasi 4 Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis ditandai dengan klien mengatakan nyeri terutama di daerah perut, TD: 100/70 mmHg, Nadi: 78x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,4 0C, Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat NOC : - Pain Level, - pain control, - comfor t level Setelah dilakukan tinfakan keperawatan, klien dapat beradaptasi dengan nyeri, dengan kriteria hasil: a. Mam pu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) b. Mela porkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri c. Mam pu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) d. Meny atakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang e. Tand a vital dalam rentang normal f. Tidak NIC: Pain Management 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2. Observasi reaksi
nonverbal dari
ketidaknyamanan 3. Bantu pasien dan
keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan 4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
5. Kurangi faktor
presipitasi nyeri
6. Kaji tipe dan sumber nyeri
7. Ajarkan tentang teknik
non farmakologi:
napas dada, relaksasi,
distraksi, kompres hangat/ dingin 8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 9. Tingkatkan istirahat 10.Berikan informasi
tentang nyeri seperti
penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari prosedur
mengalami gangguan tidur
CATATAN PERKEMBANGAN
DIAGNOSA 1:
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Senin, 30 Januari 2017 10.00 wib 10.10 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary refill, warna dan temperatur
S: klien mengatakan masih lemas O: TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C
Edema pada kedua kaki Klien terlihat lemah
10.20 wib 10.30 wib 08.30 wib
ekstremitas)
3. Menganjurkan minum sedikit tapi sering 4. Mengajarkan latihan
ROM selama bedrest
5. Berkolaborasi
pemberian antiplatelet atau antikoagulan
Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 100 ml/24 jam
UP: 50cc/5 jam
Kulit lembap pada ekstremitas, kasar pada daerah abdomen A: penurunan curah jantung masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-13
DIAGNOSA 2:
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Senin, 30 Januari 2017 10.05 wib 10.15 wib 10.25 wib 11.05 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan 3. Menganjur
kan keluarga untuk memberikan posisi yang nyaman pada klien (semi fowler0 4. Mengajarkan pasien untuk melakukan nafas dalam 5. Berkolaborasi pemberian terapi 02 S: klien mengatakan kadang-kadang tidak sesak O:
TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C
Tidak terlihat penggunaan otot bantu pernfasan O2 nasal 2 lpm dilepas setelah dipakai
A: ketidakefektifan pola nafas masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-10
DIAGNOSA 3:
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Senin, 30 Januari 2017 13.10 wib 13.20 wib 13.30 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang
berkaitan dengan retensi cairan
3. Menganjurka
S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki O: TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C
Edema pada ekstremitas Tidak ada penggunaan otot
13.10 wib 08.30 wib
n keluarga untuk memberikan posisi yang
membantu pasien
meminum obatnya 4. Mengajarkan pasien dan
keluarga indikasi
meminum obat
5. Berkolaborasi pemberian diuretik
bantu pernafasan Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl
Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 100 ml/24 jam, UP: 50 cc/5 jam
A: kelebihan volume cairan masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-11
DIAGNOSA 4:
Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Senin, 30 Januari 2017 10.10 wib 10.20 wib 10.30 wib 11.10 wib 08.30 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
3. Menganjurka
n keluarga dank pasien untuk mencari dan menemukan dukungan 4. Mengajarkan tentang
teknik non farmakologi: napas dalam
5. Berkolaborasi pemberian analgesik
S: klien mengatakan nyeri masih terasa terutama di daerah perut O: TD: 100/60 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,6 0C
Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 4, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat
Klien melakukan tarik nafas dalam 4 kali
A: nyeri akut masih dirasakan klien
DIAGNOSA 1:
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Selasa, 31 Januari 2017 09.00 wib 09.10 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary refill, warna dan temperatur ekstremitas)
S: klien mengatakan masih lemas O: TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C
Edema pada kedua kaki Klien terlihat lemah
9.20 ib 09.31wib 08.30 wib
3. Menganjur
kan minum sedikit tapi sering
4. Mengajarkan latihan ROM selama bedrest
5. Berkolaborasi
pemberian antiplatelet atau antikoagulan
minum 80 ml/6 jam UP: 5cc/24 jam
Kulit lembap pada ekstremitas, kasar pada daerah abdomen A: penurunan curah jantung masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-13
DIAGNOSA 2:
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Selasa, 31 Januari 2017 09.05 wib 09.15 wib 09.25 wib 10.05 wib 08.45 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan 3. Menganjur
kan keluarga untuk memberikan posisi yang nyaman pada klien (semi fowler0 4. Mengajarkan pasien untuk melakukan nafas dalam 5. Berkolaborasi pemberian terapi 02 S: klien mengatakan kadang-kadang tidak sesak O:
TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C
Ada penggunaan otot bantu pernfasan
O2 nasal 2 lpm dipakai A: ketidakefektifan pola nafas masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-10
DIAGNOSA 3:
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Senin, 30 Januari 2017 09.10 wib 10.20 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang
berkaitan dengan retensi cairan
S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki O: TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C
13.30 wib
13.10 wib 08.30 wib
3. Menganjurka
n keluarga untuk memberikan posisi yang
membantu pasien
meminum obatnya 4. Mengajarkan pasien dan
keluarga indikasi
meminum obat
5. Berkolaborasi pemberian diuretik
Edema pada ekstremitas Ada penggunaan otot bantu pernafasan
Hasil lab: Kreatinin 6,5 mg/dl; urea 282 mg/dl; BUN 132 mg/dl
Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 80 ml/6 jam UP: 5cc/24 jam
A: kelebihan volume cairan masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-11
DIAGNOSA 4:
Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Senin, 30 Januari 2017 13.10 wib 13.20 wib 13.30 wib 11.10 wib 08.30 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
3. Menganjurka
n keluarga dank pasien untuk mencari dan menemukan dukungan 4. Mengajarkan tentang
teknik non farmakologi: napas dalam
5. Berkolaborasi pemberian analgesik
S: klien mengatakan nyeri masih terasa terutama di daerah perut saat akan BAK O:
TD: 130/90 mmHg Nadi: 76x/menit RR: 22x/menit Suhu: 37 0C
Nyeri timbul di daerah perut terutama saat ingin BAK BAB, rasa nyeri seperti ditusuk, nyeri menyebar sampai ke punggung, skala nyeri 5, nyeri paling dirasakan saat bergerak/ beraktivitas dan berkurang saat istirahat
Klien melakukan tarik nafas dalam 3 kali
A: nyeri akut masih dirasakan klien
DIAGNOSA 1:
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Rabu, 1 Februari 2017 06.40 wib 06.42 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji secara komprehensif sirkukasi perifer (nadi perifer, edema, kapillary
S: klien mengatakan masih lemas O: TD: 110/60 mmHg Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 37 0C
6.45 wib 6.46 wib 08.15 wib
refill, warna dan temperatur ekstremitas)
3. Menganjur
kan minum sedikit tapi sering
4. Mengajark
an latihan ROM selama bedrest
5. Berkolabor
asi pemberian
antiplatelet atau
antikoagulan
Klien terlihat lemah
Input: infuse 500cc/24 jam dan minum 150 ml/6 jam
UP: - cc/ 7 jam
Kulit kasar pada daerah abdomen dan ekstremitas A: penurunan curah jantung masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-13
DIAGNOSA 2:
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Rabu, 1 Februari 2017 10.05 wib 10.15 wib 10.25 wib 08.30 wib
07.00 wib
1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan 3. Menganjurkan keluarga untuk memberikan posisi yang nyaman pada klien (semi fowler0 4. Mengajark an pasien untuk melakukan nafas dalam 5. Berkolabor
asi pemberian terapi 02
S: klien mengatakan kadang-kadang tidak sesak O:
TD: 110/60 mmHg Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 37 0C
Tidak ada penggunaan otot bantu pernfasan
Klien lepas pasang terapi 02 nasal 2 lpm
A: ketidakefektifan pola nafas masih dirasakan klien P: lanjutkan intervensi 1-10
DIAGNOSA 3:
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
WAKTU IMPLEMENTASI PARAF EVALUASI
Rabu, 1 Februari 2017 09.10 wib 09.20 wib 1. Mengkaji tanda-tanda vital 2. Memonitor S: klien mengatakan badannya bengkak semua terutama kaki
O: