• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 2 TEORI KONTROL H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab 2 TEORI KONTROL H"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI KONTROL H

Penempatan pole (Pole Placement) dan Linear Quadratic Regulator merupakan strategi klasik untuk mencari pengontrol dari sistem. Kelemahan dari strategi-strategi ini adalah tidak dapat mengatasi ketidakpastian dari model sistem ataupun gangguan dari luar. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini muncullah teori kon-trol modern seperti teori konkon-trol H. Kelebihan dari teori kontrol H ini adalah mampu mengurangi ketidakpastian dari model sistem ataupun gangguan dari luar. Karena alasan inilah, strategi untuk mencari pengontrol H pada sistem manipu-lator fleksibel digunakan. Akan tetapi, sebelum menerapkan teori kontrol H pada manipulator fleksibel, kita perlu mengetahui bagaimana mencari pengontrol Hini. Oleh karena itu, pada Bab 2 ini akan dibahas mengenai konsep dasar dari teori kon-trol H.

Konsep penting dari kontrol H adalah Aljabar Riccati yang akan dibahas pada Subbab 2.2. Akan tetapi, sebelum membahas Aljabar Riccati terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai sistem dinamika linear pada Subbab 2.1 yaitu merupakan kon-sep dasar dalam teori kontrol. Sedangkan untuk teori kontrol Hakan dibahas pada Subbab 2.3.

(2)

2.1

Sistem Dinamika Linear

Persamaan ruang keadaan (state space equation) dari suatu sistem dinamika dapat diekspesikan oleh persamaan diferensial berikut:

˙x(t) = Ax(t) + Bu(t), x(t0) = x0, (2.1)

y(t) = Cx(t) + Du(t), (2.2)

dengan x(t)∈ Rn disebut state sistem, x(t

0) disebut syarat awal dari sistem, u(t)∈

Rm disebut input sistem, dan y(t)∈ Rp disebut output sistem. Sedangkan A, B, C,

dan D adalah matriks real konstan.

Matriks transfer dari u(t) ke y(t) didefinisikan sebagai Y (s) = G(s)U (s),

dengan U(s) dan Y(s) adalah hasil transformasi Laplace dari u(t) dan y(t) dengan syarat awal nol (x(0) = 0). Matriks transfer G(s) dari u(t) ke y(t) dapat diperoleh dengan melakukan transformasi Laplace pada persamaan (2.1) dan (2.2), diperoleh

G(s) = C(sI− A)−1B + D.

Sistem persamaan (2.1) dan (2.2) dapat dituliskan ke dalam bentuk matriks sebagai

berikut: ˙x(t) y(t) ⎤ ⎦ = ⎡ ⎣ A B C D ⎤ ⎦ ⎡ ⎣ x(t) u(t)⎦ .

Untuk mempercepat perhitungan yang melibatkan matriks transfer, kita akan gu-nakan notasi sebagai berikut:

⎣ A B

C D

⎦ := C(sI − A)−1B + D.

Selanjutnya akan diperkenalkan beberapa definisi yang cukup penting dalam teori kontrol H [1].

(3)

disebut terkontrol (controllable) jika untuk setiap state awal x(0) = x0, t1 > 0 dan state akhir x1 terdapat (piecewise continues) input u(·) sedemikian sehingga solusi dari persamaan (2.1) memenuhi x(t1) = x1.

Definisi 2.2 Suatu sistem dinamika ˙x(t) = Ax(t) dikatakan stabil jika semua

ni-lai eigen dari A terletak pada setengah bidang kompleks buka sebelah kiri, yaitu Reλ(A) < 0. Matriks A dengan sifat tersebut dikatakan stabil atau Hurwitz. Seba-liknya, jika Reλ(A) > 0 maka matriks A dikatakan antistabil.

Definisi 2.3 Sistem dinamika pada persamaan (2.1) atau sepasang matriks (A,B )

disebut terstabilkan (stabilizable) jika terdapat state feedback u = F x sedemikan sehingga sistem tersebut stabil (yaitu A + BF stabil).

Definisi 2.4 Sistem dinamika pada persamaan (2.1) dan (2.2) atau sepasang

ma-triks (C,A) disebut terobservasi (observable) jika untuk setiap t1 > 0, state awal x(0) = x0 dapat ditentukan dari time history dari input u(t) dan output y(t) dalam interval [0, t1].

Definisi 2.5 Suatu sistem, atau sepasang matriks (C,A) disebut terdeteksi

(de-tectable) jika A+LC stabil untuk suatu L.

2.2

Operator Riccati

Misalkan A, Q, R matriks real berukuran n x n dengan Q dan R simetri, yaitu Q = Q∗ dan R = R∗. Definisikan matriks Hamiltonian 2n x 2n :

H := ⎡ ⎣ A R Q −A∗⎦ .

Asumsikan H tidak mempunyai nilai eigen pada sumbu imajiner, maka H haruslah mempunyai n nilai eigen di Re s < 0 dan n nilai eigen di Re s > 0. Misalkan

(4)

χ(H) adalah subruang spectral berdimensi n yaitu pembentuk subruang tersebut merupakan subruang invariant yang berkaitan dengan nilai-nilai eigen di Re s < 0. Dengan mencari basis dari χ(H), kemudian menyusunnya menjadi sebuah matriks, dan mempartisi matriks tersebut, maka akan diperoleh

χ(H) = Im ⎡ ⎣ X1 X2⎦ , dengan X1, X2 ∈ Cn×n. Jika X

1 nonsingular, atau ekivalen dengan jika dua buah

subruang χ(H), Im ⎡ ⎣ 0 I ⎤ ⎦ (2.3)

saling komplementer, maka kita dapat memisalkan X := X2X1−1 dan X ditentukan oleh H secara tunggal yaitu H → X adalah sebuah fungsi y, disimbolkan dengan Ric. Jadi, X = Ric (H ). Kita akan ambil domain dari Ric, disimbolkan dengan dom (Ric), terdiri dari matriks-matriks Hamiltonian H dengan dua buah sifat yaitu H tidak mempunyai nilai eigen pada sumbu imajiner dan dua buah subruang pada (2.3) saling komplementer. Sifat yang pertama disebut sifat stabilitas dan sifat yang kedua disebut sifat kekomplementeran.

Lemma 2.1 Misalkan H ∈ dom(Ric) dan X = Ric(H ). Maka

1. X simetri.

2. X memenuhi persamaan aljabar Riccati, yaitu

A∗X + XA + XRX − Q = 0.

3. A + RX stabil.

Lemma 2.2 Misalkan H tidak mempunyai nilai-nilai eigen imajiner, R semidefinit

(5)

Lemma 2.3 Misalkan H mempunyai bentuk H = ⎡ ⎣ A −BB∗ −CC∗ −A⎦ ,

dengan (A,B ) terstabilkan dan (C,A) terdeteksi . Maka H ∈ dom(Ric), X = Ric(H ) = 0, dan ker(X ) ⊂ χ.

2.3

Masalah Kontrol H

Salah satu pengukur unjuk kerja performance dalam teori kontrol optimal adalah menggunakan norm H yang didefinisikan dalam suatu domain frekuensi untuk suatu matriks transfer stabil G(s), yaitu

G := sup

ω

σmax[G (jω)] max:= nilai singular maksimum). Misalkan suatu sistem digambarkan oleh diagram blok sebagai berikut:

Gambar 2.1: Diagram blok

dengan G adalah plant diperumum dan K adalah pengontrol (controller ). Plant diperumum terdiri dari plant suatu masalah kontrol ditambah dengan semua fungsi bobot untuk masalah kontrol tersebut. Sinyal w terdiri dari semua input dari luar, termasuk gangguan (disturbance) dan sensor noise; output z adalah sinyal error; y adalah variabel pengukur; dan u adalah input kontrol. Fungsi transfer lup tertutup dari w ke z dilambangkan dengan Tzw Plant diperumum G dan pengontrol K kita asumsikan real rasional dan proper. Model ruang keadaan untuk G dan K kita

(6)

asumsikan tersedia (available) dan realisasi dari model ruang keadaan kita asum-sikan terstabilkan (stabilizable) dan terdeteksi (detectable).

Realisasi matriks transfer G kita ambil berbentuk

G(s) = ⎡ ⎢ ⎢ ⎢ ⎣ A B1 B2 C1 0 D12 C2 D21 0 ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ dengan asumsi sebagai berikut:

1. (A,B1) terkontrol dan (C1,A) terobservasi. 2. (A,B2) terstabilkan dan (C2,A) terdeteksi. 3. D12 [C1 D12] = [0 I]. 4. ⎡ ⎣ B1 D21⎦ D∗ 21= ⎡ ⎣ 0 I ⎤ ⎦.

Asumsi (1) dan (2) dibuat untuk menjamin bahwa dua buah persamaan aljabar Riccati mempunyai solusi terstabilkan definit positif. Asumsi (2) merupakan syarat cukup dan syarat perlu untuk plant G agar terstabilkan secara internal.

Misalkan realisasi pengontrol K dapat dituliskan sebagai berikut:

K(s) = ⎡ ⎣ Aˆ Bˆ ˆ C Dˆ ⎤ ⎦ .

(7)

Fungsi transfer lup tertutup dari w ke z yaitu Tzw dapat dicari dengan cara menuliskan G dan K kedalam persamaan ruang keadaan, sebagai berikut:

G(s) : ⎧ ⎪ ⎪ ⎪ ⎨ ⎪ ⎪ ⎪ ⎩ ˙x = Ax + B1w + B2u z = C1x + 0w + D12u y = C2x + D21w + 0u , (2.4) K(s) : ⎧ ⎨ ⎩ ˙v = ˆAv + ˆBy u = ˆCv + ˆDy . (2.5)

Kemudian substitusikan u dari persamaan (2.5) kedalam persamaan (2.4), diperoleh ⎧ ⎪ ⎪ ⎪ ⎨ ⎪ ⎪ ⎪ ⎩ ˙x = Ax + B1w + B2( ˆCv + ˆDy) z = C1x + D12( ˆCv + ˆDy) y = C2x + D21w , (2.6)

dengan mengeliminasi y pada persamaan (2.6) maka akan diperoleh ⎧ ⎨ ⎩ ˙x = Ax + B1w + B2Cv + Bˆ 2D(Cˆ 2x + D21w) z = C1x + D12Cv + Dˆ 12D(Cˆ 2x + D21w) , (2.7) atau ⎧ ⎨ ⎩ ˙x = (A + B2DCˆ 2)x + B2Cv + (Bˆ 1+ B2DDˆ 21)w z = (C1+ D12DCˆ 2)x + D12Cv + Dˆ 12DDˆ 21w . (2.8)

Selanjutnya substitusikan y dari persamaan (2.4) kedalam persamaan (2.5), diper-oleh

˙v = Av + ˆˆ B(C2x + D21w) = Av + ˆˆ BC2x + ˆBD21w

(8)

Kita tuliskan persamaaan (2.8) dan (2.9) dalam bentuk matriks ⎧ ⎪ ⎪ ⎪ ⎪ ⎪ ⎪ ⎨ ⎪ ⎪ ⎪ ⎪ ⎪ ⎪ ⎩ ⎡ ⎣ ˙x ˙v ⎤ ⎦ = ⎡ ⎣ A + B2DCˆ 2 B2Cˆ ˆ BC2 Aˆ ⎤ ⎦ ⎡ ⎣ x v ⎤ ⎦ + ⎡ ⎣ B1+ B2DDˆ 21 ˆ BD21⎦ w = ACx + B˜ Cw z = C1+ D12DCˆ 2 D12Cˆ ⎡ ⎣ x v⎦ + D12DDˆ 21w = C Cx + D˜ Cw. (2.10) Jadi, fungsi transfer lup tertutup dari w ke z adalah

Tzw(s) = CC(sI− AC)−1BC+ DC. (2.11) Suatu sistem lup tertutup dikatakan stabil secara internal jika dan hanya jika nilai-nilai eigen dari

AC = ⎡ ⎣ A + B2DCˆ 2 B2Cˆ ˆ BC2 Aˆ ⎤ ⎦ ,

terletak pada setengah bidang kompleks buka kiri, yaitu Reλ(AC) < 0.

Suatu pengontrol dikatakan diperkenankan (admissible) jika pengontrol tersebut menyetabilkan sistem secara internal. Oleh karena itu, kestabilan adalah syarat pa-ling dasar agar suatu sistem dapat bekerja. Secara umum masalah kontrol optimal H dapat dinyatakan sebagai berikut :

Kontrol Optimal H : Mencari semua pengontrol K(s) yang diperkenankan

se-hingga Tzwminimum.

Untuk kasus sistem MIMO (Multi Input Multi Output) pengontrol optimal H tidaklah tunggal. Lebih jauh lagi bahwa mencari pengontrol optimal H sangatlah rumit baik secara numerik maupun secara teoritis. Oleh karena itu, dalam prak-tiknya cukup dicari pengontrol dengan norm yang sangat dekat dengan norm pen-gontrol optimal. Penpen-gontrol yang demikian disebut penpen-gontrol suboptimal. Masalah kontrol suboptimal H dapat dinyatakan sebagai berikut :

(9)

diperkenankan K(s), jika ada, sehingga Tzw< γ.

Solusi dari H terkait dengan dua matriks Hamiltonian sebagai berikut :

H = ⎡ ⎣ A γ−2B1B1∗− B2B2 −C∗ 1C1 −A∗⎦ , J= ⎡ ⎣ A∗ γ−2C1∗C1− C2∗C2 −B1B1 −A⎦ .

Teorema 2.1 Terdapat pengontrol yang diperkenankan sehingga Tzw < γ jika

dan hanya jika tiga kondisi berikut dipenuhi:

1. Matriks Hamiltonian H∈ dom(Ric) dan Ric(H) > 0. 2. Matriks Hamiltonian J∈ dom(Ric) dan Ric(J) > 0. 3. ρ(XY) < γ2.

Jika ketiga kondisi ini terpenuhi, salah satu pengontrol K mempunyai realisasi se-bagai berikut: Ksub(s) := ⎡ ⎣ Aˆ −Z∞L∞ F 0 ⎤ ⎦ , dengan ˆ A := A + γ−2B1B1∗X + B2F+ ZLC2, F :=−B2∗X , L :=−YC2∗, Z := (I− γ−2XY )−1.

Untuk membuktikan Teorema 2.1 kita memerlukan beberapa lemma dan teorema pendukung.

Lemma 2.4 Misalkan X ∈ Rn×n, Y ∈ Rn×n, dengan X = X∗ > 0, dan Y = Y∗ >

0. Misalkan r adalah bilangan bulat positif, maka terdapat matriks X12 ∈ Rn×r,

X2 ∈ Rr×rX2 ∈ Rr×r sehingga X2 = X2∗, ⎡ ⎣ X X12 X12 X2⎦ > 0 dan ⎡ ⎣ X X12 X12 X2 ⎤ ⎦ −1 = ⎡ ⎣ Y ∗ ∗⎦,

(10)

jika dan jika ⎡ ⎣ X In In Y⎦ ≥ 0 dan rank ⎡ ⎣ X In In Y⎦ ≤ n + r. Bukti:

(⇐) Berdasarkan asumsi, terdapat matriks X12∈ Rn×rsehingga X−Y−1 = X

12X12 .

Definisikan X2 = Ir, maka bukti telah lengkap. (⇒) Gunakan Schur Complement,

Y = X−1+ X−1X12(X2− X12 X−1X12)−1X12 X−1, invers-kan persamaan diatas diperoleh

Y−1 = X − X12X2−1X12 .

Jadi, X − Y−1 = X12X2−1X12 ≥ 0 dan rank(X − Y−1) = rank(X12X2−1X12 ) ≤ r.

Lemma 2.5 (Bounded Real Lemma) Misalkan

γ > 0, G(s) = ⎡ ⎣ A B C D ⎤ ⎦ dan H := ⎡ ⎣ A + BR−1D∗C BR−1B∗ −C∗(I + DR−1D)C −(A + BR−1DC)⎦ ,

dengan R = γ2I− D∗D, maka pernyataan- pernyataan berikut ekivalen: 1. G< γ.

2. ¯σ(D) < γ dan H tidak mempunyai nilai eigen pada sumbu imajiner. 3. ¯σ(D) < γ dan H∈ dom(Ric).

4. ¯σ(D) < γ dan H∈ dom(Ric) dan Ric(H) = 0 (Ric(H ) > 0 jika (C,A) terob-servasi).

(11)

5. ¯σ(D) < γ dan terdapat X ≥ 0 sehingga X(A + BR−1D∗C) + (A + BR−1D∗C)∗ X + XBR −1B∗X + C∗(I + DR−1D∗)C = 0 dan A + BR−1D∗C + BR−1B∗Xtidak mempunyai nilai eigen di sumbu imajiner.

6. ¯σ(D) < γ dan terdapat X > 0 sehingga

X(A + BR−1D∗C) + (A + BR−1D∗C)∗ X + XBR−1B∗X + C∗(I + DR−1D∗)C < 0. 7. Terdapat X > 0 sehingga ⎡ ⎢ ⎢ ⎢ ⎣ XA + A∗X XB C∗ B∗X −γI D∗ C D −γI ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦< 0.

Lemma 2.5 Terdapat pengontrol yang diperkenankan berorde r sehinggaTzw hanya jika tiga kondisi berikut dipenuhi :

1. Terdapat Y1 > 0 sehingga AY1+ Y1A∗+ Y1C1∗C1Y12+ B1B1∗− γ2B2B2 < 0. 2. Terdapat X1 > 0 sehingga X1A + A∗X1+ X1B1B1∗X12+ B1B1∗− γ2C2∗C2 < 0. 3. ⎡ ⎣ X1 In In Y1/γ⎦ ≥ 0, rank ⎡ ⎣ X1 In In Y1/γ⎦ ≤ n + r. Bukti:

Misalkan terdapat pengontrol K(s) berorde r sehinggaTzw< γ. Misalkan K(s) mempunyai realisasi ruang keadaan sebagai berikut:

K(s) = ⎡ ⎣ Aˆ Bˆ ˆ C Dˆ ⎤ ⎦

(12)

Fungsi transfer lup tertutup dari z ke w pada persamaan (2.11) dapat dituliskan sebagai Tzw= ⎡ ⎢ ⎢ ⎢ ⎣ A + B2DCˆ 2 B2Cˆ B1+ B2DDˆ 21 ˆ BC2 Aˆ BDˆ 21 C1+ D12DCˆ 2 D12Cˆ D12DDˆ 21 ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦=: ⎡ ⎣ AC BC CC DC⎦ . Misalkan R = γ2I− DC∗Dc, ˜R = γ2I− DcDC∗.

Berdasarkan bounded real lemma, terdapat ˜X = ⎡ ⎣ X1 X12 X12 X2⎦ > 0 sehingga ˜ X(AC+ BCR−1DC∗CC) + (AC+ BCR−1D∗CCC)∗X + ˜˜ XBCR−1BC∗X + C˜ C∗R˜−1CC < 0. (2.12) Setelah melalui beberapa manipulasi aljabar, diperoleh

X1A + A∗X1 + X1B1B1∗X12+ C1∗C1 − γ2C2∗C2

+(X1B1D + X˜ 12B + γ˜ 2C2∗)(γ2I− ˜D∗D)˜ −1(X1B1D + X˜ 12B + γ˜ 2C2) < 0, yang mengakibatkan bahwa

X1A + A∗X1+ X1B1B1∗X12+ C1∗C1− γ2C2∗C2 < 0. Dipihak lain, misalkan

˜

Y = γ2X˜−1,

dan partisi Y sebagai

˜ Y = ⎡ ⎣ Y1 Y12 Y12 Y2⎦ > 0, maka (AC+ BCR−1D∗CCC) ˜Y + ˜Y (AC+ BCR−1D∗CCC)+ ˜Y CC∗R˜−1CCY + B˜ CR−1B∗C < 0. (2.13)

(13)

Ini memberikan

AY1+ Y1A∗+ B1B1∗X1− γ2B2B2∗+ Y1C1∗C1Y12

+(Y1C1∗D˜∗+ Y12C˜∗+ γ2B2)(γ2I− ˜D ˜D∗)−1(Y1C1∗D˜∗+ Y12C˜∗+ γ2B2) < 0, yang mengakibatkan bahwa

AY1+ Y1A∗ + B1B1∗X1− γ2B2B2 + Y1C1∗C1Y12 < 0.

Berdasarkan Lemma 2.4, diberikan X1 > 0 dan Y1 > 0 terdapat X12dan X2sehingga  Y = γ2X˜−1 atau Y /γ =   X/γ −1 : ⎡ ⎣ X1 X12 X12 X2 ⎤ ⎦ −1 = ⎡ ⎣ Y1 ⎤ ⎦

jika dan hanya jika ⎡ ⎣ X1 In In Y1⎦ ≥ 0, rank ⎡ ⎣ X1 In In Y1⎦ ≤ n + r.

Untuk menunjukkan peridaksamaan pada lemma terakhir termasuk eksistensi dari solusi stabil persamaan Riccati X dan Y, kita memerlukan teorema berikut.

Teorema 2.2 Misalkan R ≥ 0 dan andaikan (A, R) terkontrol dan terdapat X =

X* sehingga

ϑ(X) := XA + A∗X + XRX + X < 0, (2.14)

maka terdapat solusi X+ > X untuk persamaan Riccati

X+A + AX+ + X+RX+ + Q = 0, (2.15)

sehingga A+ RX+ antistabil.

Bukti:

(14)

hanya jika (A, B) terkontrol. Misalkan X sedemikian sehingga ϑ(X) < 0. Karena (A, B) terkontrol maka terdapat F0 sehingga

A0 := A− BF0

antistabil. Misalkan X0 = X0 adalah solusi tunggal untuk persamaan Lyapunov

X0A0+ A∗0X0− F0∗F0 + Q = 0. Definisikan

ˆ

F0 := F0+ B∗X,

maka kita mempunyai persamaan berikut :

(X0− X)A0+ A∗0(X0− X) = ˆF0∗− ϑ(X) > 0.

Karena A0antistabil, ini mengakibatkan X0 > X. Kita mulai dengan X0, definisikan barisan tak turun matriks Hermitian{Xi}. Berkaitan dengan {Xi}, kita definisikan juga barisan matriks antistabil {Ai} dan barisan matriks {Fi}. Asumsikan secara induktif bahwa kita telah mendefinisikan matriks {Xi}, {Ai}, dan {Fi} untuk i sampai n− 1 sehingga Xi Hermitian dan

X0 ≥ X1 ≥ · · · ≥ Xn−1 > X,

Ai = A− BFi antistabil, i = 0, . . . , n− 1;

Fi =−B∗Xi−1, i = 1, . . . , n− 1;

XiAi+ A∗iXi = Fi∗Fi− Q, i = 0, 1, . . . , n − 1. (2.16) Selanjutnya, kita perkenalkan

Fn=−B∗Xn−1, An = A− BFn.

(15)

Pertama kita tunjukkan bahwa An antistabil. Gunakan persamaan (2.16) dengan i = n-1, kita peroleh Xn−1An+ A∗nXn−1+ Q− Fn∗Fn− (Fn− Fn−1)∗(Fn− Fn−1) = 0. (2.17) Misalkan ˆ Fn := Fn+ B∗X, maka (Xn−1− X)An+ A∗n(Xn−1− X) = −ϑ(X) + ˆFn∗Fˆn+ (Fn− Fn−1)∗(Fn− Fn−1) > 0, (2.18) ini mengakibatkan bahwa An antistabil menurut teorema Lyapunov karena Xn−1 X > 0. Sekarang kita perkenalkan Xn sebagai solusi tunggal dari persamaan Lya-punov :

XnAn+ A∗nXn = Fn∗Fn− Q, (2.19) maka Xn Hermitian. Selanjutnya kita mempunyai

(Xn− X)An+ A∗n(Xn− X) = −ϑ(X) + ˆFn∗Fˆn > 0, Dengan menggunakan persamaan (2.17),

(Xn−1− Xn)An+ A∗n(Xn−1− Xn) = (Fn− Fn−1)∗(Fn− Fn−1) > 0. Karena An antistabil maka

Xn−1 ≥ Xn> X.

Kita mempunyai barisan tak turun{Xi}, dan barisan terbatas dibawah oleh Xi > X. Oleh karena itu, limit

X+:= lim

n→∞Xn

ada dan Hermitian, dan kita mempunyai X+ > X. Kita ambil limit n → ∞ pada persamaan (2.18) kita peroleh ϑ(X+) = 0. Jadi, X+ adalah solusi dari persamaan (2.15). Perlu dicatat bahwa X+− X ≥ 0 dan

(16)

Jadi, X+− X > 0 dan A+= A + RX+stabil.

Bukti (Teorema 2.1):

(⇒)

1. KarenaTzw < γ maka berdasarkan Bounded Real Lemma H∈ dom(Ric). Selanjutnya dengan menggunakan lemma 2.6 bagian (1), kita peroleh bahwa terdapat Y1 > 0 sehingga

AY1+ Y1A∗+ Y1C1C1∗Y12+ B1∗B1− γ2B2∗B2 < 0.

Dengan menggunakan Teorema (2.2) dapat disimpulkan bahwa terdapat Y > Y1 > 0 sehingga

AY + Y A∗+ Y C1C1∗Y /γ2+ B1∗B1 − γ2B2∗B2 = 0 (2.21) dan A∗ + C1∗C1Y /γ2 antistabil. Misalkan X = γ2Y−1, karena Y > 0 maka X > 0. Kalikan persamaan (2.21) dengan Y−1 dari kanan dan dengan X dari kiri, maka diperoleh

XA + A∗X+ X(B1B1∗/γ2− B2B2∗)X+ C1C1 = 0. (2.22) Persamaan (2.22) dapat dituliskan sebagai

XA + X(B1B1∗/γ2− B2B∗2)X=−A∗X− C1∗CX−1X. (2.23) Kalikan persamaan (2.23) dengan X−1, diperoleh

A + (B1B1∗/γ2− B2B2∗)X = −X−1A∗X− X−1C1∗CX−1X.

(2.24)

Karena X > 0 maka X−1 > 0, sedangkan A∗+ C1∗C1Y /γ2 antistabil, maka A∗ + C1∗C1Y /γ2 > 0, sehingga −X−1(A∗ + C1∗CY /γ2)X < 0. Jadi, A + (B1B1∗/γ2− B2B2∗)X stabil.

2. Dengan cara yang sama pada bagian (1) diperoleh bahwa H ∈dom(Ric) dan berdasarkan Lemma 2.6 bagian (2) dan Teorema 2.2 dapat disimpulkan bahwa

(17)

terdapat X > X1 > 0 sehingga

XA + A∗X + XB1B1∗X/γ2+ C1∗C1− γ2C2∗C2 = 0 dan A + B1B1∗X/γ2 antistabil. Misalkan Y= γ2X−1, kita peroleh

AY+ YA∗+ Y(C1∗C12− C2∗C2)Y+ B1B1 = 0 (2.25) danA + (C1∗C12− C2∗C2)Ystabil. Jadi, Y= Ric(H) > 0.

3. Berdasarkan Lemma (2.6) bagian (3) diperoleh ⎡ ⎣ γY∞−1 In In γX−1 ⎤ ⎦ = ⎡ ⎣ X/γ In In Y /γ⎦ > ⎡ ⎣ X/γ In In Y1⎦ ≥ 0 Karena ⎡ ⎣ γY∞−1 In In γX−1⎦ > 0 dan γY−1

> 0 maka berdasarkan Schur Complement

kita peroleh γY−1− Inγ−1XIn > 0 atau ρ(XY) < γ2. (⇐)

Untuk melengkapi bukti, kita hanya perlu menunjukkan bahwa pengontrol Ksub(s) yang diberikan pada Teorema 2.1 mengakibatkan Tzw< γ. Perhatikan fungsi transfer lup tertutup dari w ke z (dengan Ksub diberikan),

Tzw = ⎡ ⎢ ⎢ ⎢ ⎣ A B2F B1 −Z∞L∞C2 Aˆ −Z∞L∞D21 C1 D12F 0 ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦=: ⎡ ⎣ AC BC CC DC⎦ . Definisikan P = ⎡ ⎣ γ2Y∞−1 −γ2Y∞−1Z∞−1 γ2(Z ) Y−1 γ2Y−1Z−1⎦ , maka P >0 dan P AC+ A∗CP + P BCBC∗P/γ2 = 0.

(18)

Selain itu, AC + BCBC∗P/γ2 = ⎡ ⎣ A + B1B1∗Y∞−1 B2F∞− B1B1∗Y∞−1Z∞−1 0 A + B1B1∗X2+ B2F ⎤ ⎦

tidak mempunyai nilai eigen pada sumbu imajiner karena A + B1B1∗X2+ B2F stabil dan A+B1B1∗Y−1antistabil. Berdasarkan Bounded Real Lemma makaTzw < γ.

Teorema 2.1 menunjukkan eksistensi dari pengontrol Hdan juga menjelaskan men-genai langkah-langkah untuk mencari pengontrol H. Masalah selanjutnya adalah bagaimana menerapkan pengontrol H ini pada sistem manipulator fleksibel. Un-tuk menerapkan kontrol H ini maka perlu dibuat model matematika dari sistem manipulator fleksibel kemudian mendesain sistem kontrolnya.

Referensi

Dokumen terkait

Teori lain berpendapat bahwa defisit fungsi eksekutif (termasuk working memory) dan masalah kontrol impuls mewakili gangguan dari dua sistem perkembangan saraf yang

Dari teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi adalah sekumpulan sumber daya manusia dan modal dalam suatu organisasi yang dirancang untuk

Teori gangguan untuk sistem non degenerasi adalah aplikasi teori gangguan untuk penentuan tingkat-tingkat energi dan fungsi gelombang suatu sistem dimana sistem yang tak

Pengembangan visi dan misi ialah termasuk ke dalam formulasi strategi, mengidentifikasikan peluang dan ancaman eksternal perusahaan, menentukan kekuatan dan kelemahan

ri metode transmisi data melalui saluran komunikasi yang tidak bebas gangguan secara efisien dan akurat. Teori ini berkembang pesat terutama dalam penerapan sistem

Dari teori diatas, dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah suatu strategi yang dilakukan perusahaan dalam mencapai sasaran untuk mengembangkan kinerja organisasi

16 Terlihat pada gambar diatas bahwa kolom akan mengalami ketidakstabilan dengan adanya deformasi pada arah w yang terjadi akibat adanya gangguan baik dari luar maupun dari

Strategi W-O Weaknesses – Opportunities Strategi W-O adalah strategi yang dilaksanakan dengan memanfaatkan peluang yang ada untuk mengatasi kelemahan dalam upaya peningkatan