RELEVANSI KITAB
WASHOYA AL-ABAA LIL ABNAA’
KARYA SYAIKH MUHAMMAD SYAKIR
TERHADAP PENDIDIKAN AKHLAK KONTEKSTUAL
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1) dalam Ilmu Tarbiyah
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Oleh :
HIJRIYAH NIM : 3105107
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
PENGESAHAN
Skripsi Saudara : Hijriyah
NIM : 3105107
Judul : RELEVANSI KITAB WASHOYA AL-ABAA LIL ABNAA’ KARYA SYAIKH MUHAMMAD SYAKIR TERHADAP PENDIDIKAN AKHLAK KONTEKSTUAL
Telah dimunaqasahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang, dan dinyatakan lulus pada tanggal: Dan dapat diterima sebagai syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata 1 tahun akademik 2010/2011
Tanggal Tanda Tangan
Drs. Sugeng Ristiyanto, M.Ag
Ketua Sidang
Nur Asiyah, M.Si
Sekretaris sidang
Dr. Hj. Sukasih, M. Pd
Penguji I
Ahwan Fanani, M.Ag
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Lamp : 4 (empat) eks. Hal : Naskah Skripsi
An. Sdri. Hijriyah
Assalamualaikum Wr. Wb.
Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini saya kirim naskah skripsi saudara:
Nama : Hijriyah
Nomor Induk : 3105107
Judul : RELEVANSI KITAB WASHOYA AL-ABAA LIL ABNAA’ KARYA SYAIKH MUHAMMAD SYAKIR TERHADAP PENDIDIKAN AKHLAK KONTEKSTUAL
Dengan ini saya mohon kiranya skripsi saudara tersebut dapat segera dimunaqasahkan.
Demikian harap menjadikan maklum.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Semarang, 21 Juni 2010
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Abdul Kholiq, M.Ag Syamsul Ma’arif, M.Ag.
MOTTO
PERSEMBAHAN
Sebuah karya yang sangat sederhana ini, tidaklah lahir begitu adanya. Karya ini lahir dengan melibatkan kehadiran mereka, maka, peneliti persembahkan karya ini untuk: 1. Bapakku Khamdan dan Ibuku Muzayadah yang selalu mencurahkan kasih dan
sayangnya, yang selalu mengiringi hidupku dengan untaian doa. Semoga anugerah ini akan tetap ada sampai di akhirat.
2. Kakakku Abdur Rokhim sekeluarga dan keponakanku, ubed dan khimsa, semoga menjadi anak dambaan ummat.
3. Adik-adikku, Noor Hasan Nawawi, Abdul Kholiq ZM., Uswatun Hasanah, M. Abu sairi, Siti Sa diyah, Sirril Wafa, Ulin Najah, Siti Asobah, kalian tak pernah lelah memberiku inspirasi dan motivasi untuk selalu berjuang.
4. Ya Habibal Qolby, mas Wahyu KS. Yang telah memberi arti hidupku, kucari engkau untuk bersama menghidupkan sang waktu.
5. Para pengasuh pondok pesantren putri ARIS yang merelakan waktunya untuk mengasuhku dalam menuntut ilmu dan segenap anggota kamar jepara 31, tempatku bersandar dalam suka duka menuntut ilmu.
6. Sohabati fi aunillah, teletubis (Vina, Ulis, Fitri), Kos Safhira 24, Camp. Ladies, Alkoma, Be-Five dan ustadz-ustadh TPQ Miftahul Huda.
7. Anak-anakku di TPQ Miftahul Huda, Syafiq Akram, Irfan, Luqman dan Belinda, uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi .
8. Untuk Bpk.H. Abdul Kholiq, M. Ag. sekeluarga dan Bpk. Syamsul Ma arif, M. Ag. yang senantiasa membimbingku dengan penuh kesabaran.
9. Bapak ibu dosen serta bapak ibu guru yang telah mengantarkanku dari tidak tahu menjadi tahu.
10. Segenap sahabatku di KSMW, EDUKASI dan PMII.
11. Sahabat-sahabatku serta kawan senasib seperjuangan yang menemaniku dalam studi baik dalam keadaan suka maupun duka, kau akan ku kenang selalu.
DEKLARASI
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satu pun pikiran orang lain. Kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Semarang, 21 Juni 2010 Deklarator,
Hijriyah
ABSTRAK
Hijriyah (NIM : 3105107). Relevansi kitabWashoya Al-Abaa lil Abnaa Karya Syaikh Muhammad Syakir Terhadap Pendidikan Akhlak Kontekstual Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2010.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai (1) kandungan pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa karya Syaikh Muhammad Syakir. (2) relevansi kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa terhadap pendidikan akhlak kontekstual. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan metode penelitian deskriptif, yaitu dari keseluruhan data yang terkumpul kemudian dianalisis yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode Hermeneutik dan Content Analysis. Penerapan metode Hermeneutik yaitu: pertama-tama penulis menyajikan apa adanya teks tersebut, kemudian menguraikan data-data terkait biografi pengarangnya, baik beberapa buah karyanya,backgroundnya maupun konteks sosial saat teks tersebut lahir. Selanjutnya setelah melewati proses content analisys untuk menelaah isi pesan yang ada dalam kitab Washoya, penulis memadukan isi dalam Kitab tersebut dengan permasalahan pendidikan akhlak kontekstual. Dalam kondisi ini hermeneutik memerankan dirinya sebagai sebuah metode yang menafsirkan atau menginterpretasikan. Kemudian metode Content Analysis akan mengungkapkan isi kitabWashoya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa
mengandung pedidikan akhlak yang berorietasi pada penegakan moral. Dari 20 bab yang diuraikan, hanya 2 bab yang memfokuskan perhatiannya pada selain sosial. Namun walaupun begitu, cakupan materinya memuat 3 hal terkait tanggung jawab manusia untuk memenuhi akhlaqul karimah. Yakni, tanggung jawab individu terhadap Allah SWT, tanggung jawab individu terhadap manusia, termasuk dirinya sendiri dan tanggung jawab individu terhadap alam serta lingkungan.
Jika dikaitkan dengan pendidikan akhlak kontekstual, pendidikan akhlak dalam kitab Washoya sangat relevan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Baik secara materi, metode penyampaian maupun kemasan bahasanya. Kitab Washoya
membuka diri terhadap perubahan zaman dan mengarah pada perkembangan mental peserta didik sebagai bekal menghadapi arus globalisasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi para mahasiswa, para tenaga pengajar, para peneliti dan semua pihak
Kata Pengantar
Alhamdulillah
Ribuan puji syukur peneliti haturkan kepada Dzat yang telah menciptakan alam lengkap dengan isinya, Dzat yang memberi petunjuk pada hamba-hambanya yang dipilih. Dzat yang mengampuni segala dosa dan Dzat yang maha pengasih, penyayang kepada makhluknya dengan tanpa beda.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Sang Revolusioner, Nabi agung Muhammad SAW semoga kita termasuk dalam lindunganliwa nya besok di hari kiamat.
Kutubussalaf merupakan warisan peradaban Islam yang sangat berharga. Namun, sebagai pewaris kita dihadapkan pada problematika kehidupan yang menuntut jaminan solusi terbaik yang mungkin bisa diakses oleh segenap lapisan. Kita butuh kemampuan olah fikir untuk bisa mentransfer semua itu dengan konteks kekinian. Karena merupakan keniscayaan untuk menterjemahkan pesan-pesan syariat kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dicerna. Yang demikian adalah bagian kewajiban kita untuk mentransformasikan konsep-konsep yang ada dalamkutubussalaf. Begitu juga pesan-pesan akhlak yang terangkum dalam kitab kuning. Khususnya kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa . Terkadang kita lalai dengan sebuah khazanah keilmuan karena bentuk fisiknya yang sepele . Padahal Kitab ini sangat familiar di sekitar kita. Maka jangan sampai Kitab ini hanya menjadi kerangka tulisan saja tanpa punya makna. Salah satu usaha adalah mengupas khazanah di dalamnya.
Sejarah melakukan penelitian terhadap Kitab ini adalah karena terpesona dengan cara Syaikh Muhammad Syakir memperlakukan muridnya. Dan setelah mengkaji lebih dalam, kami jadi membayangkan, alangkah senangnya menjadi murid Syaikh Syakir. Itu yang kemudian menjadikan peneliti melanjutkan langkah berikutnya untuk mengkaji lebih dalam.
Maka, dengan penuh rasa syukur, Alhamdulillah peneliti bisa menyelesaikan penelitian terhadap kitabWashoyadengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu peneliti panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT tidak lupa
peneliti ucapkan terima kasih kepada mereka yang telah membantu serta terlibat baik secara emosional, akademis, moral, material serta keterlibatan yang lain, terutama kepada:
1. Yth. Prof. Dr. H. Ibnu Hadjar, M. Ed.. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
2. Yth. Drs. Marasudin Siregar selaku dosen wali yang selalu membimbing peneliti selama studi.
3. Yth. Abdul Kholiq, M.Ag., selaku pembimbing I dan Syamsul Ma arif, M.Ag, selaku pembimbing II yang dengan sabar membimbing dan mengarahkan peneliti ke arah penulisan yang lebih baik.
4. Kedua orang tuaku: Bapak Khamdan dan Ibu Muzayadah yang dengan tulus membesarkan serta mendidik peneliti.
5. Kakakku Abdur Rokhim dan Norma Wahyu KS. yang selalu memotivasiku, karena dorongannya peneliti mampu menyelesaikan jenjang S.1
6. Teruntuk adik-adikku yang selalu menyayangiku serta memberikan inspirasi. 7. Keluargaku di Pon-Pes Putri ARIS, KSMW, EDUKASI, TPQ MIFTAHUL
HUDA, SAFIRA 24 dan Camp. Ladies. Kalian adalah anugerah terindah bagiku.
8. Sohabati fi aunillah, Teletabis.
9. Sahabat-sahabat PMII Rayon, Komisariat Walisongo Semarang & buat komunitas Be-Five 2005 semoga selalu eksis serta tak lupa pula teman-teman Dewan Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang periode 2008/2009.
10. Serta berbagai pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan namun terasa betul kontribusinya, semoga apa yang telah dilakukan dan berikan menjadi amal kebajikan dan mendapatkan imbalan dari Allah SWT.
Penulis sadar bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan dan kekeliruan, kepada para pembaca kami persilahkan menikmati tulisan ini, segala umpan balik akan disambut dengan baik dan ucapan terima kasih. Dengan harapan bisa menjadi perbaikan pada kajian-kajian yang akan datang.
Hanya ucapan terima kasih yang dapat peneliti haturkan, semoga amal dan jasa yang telah diberikan menjadi amal yang baik dalam kehidupan ini serta diterima oleh Allah SWT dan pada akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat dan menjadi bagian dari usahangurip-ngurip warisan ulama. Amin.
Semarang, 21 Juni 2010 Peneliti,
Hijriyah
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN DEKLARASI ABSTRAK MOTTO PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .. ...
B. Penegasan Istilah
C. Rumusan Masalah ..
D. Tujuan dan Manfaat Penilitian E. Telaah Pustaka
F. Metodologi Penelitian .. ...
BAB II PENDIDIKAN AKHLAK
A. Hakikat dan Pengertian Pendidikan Akhlak ... B. Tujuan Pendidikan Akhlak ... C. Ruang Lingkup Materi ... ...
D. Metode dan Model Penyampaian . ...
E. Problematika Pendidikan Akhlak Kontekstual ... ....
F. Pendidikan Akhlak Kontekstual .. ...
G. Kontekstualisasi Kitab Kuning Akhlak terhadap Pendidikan Akhlak
Kontekstual ... ....
BAB III GAMBARAN UMUM KITABWASHOYA AL-ABAA LIL ABNAA
A. Biografi Syaikh Muhammad Syakir . ...
i ii iii iv v vi vii viii xi 1 7 9 9 10 11 S 15 19 21 22 25 27 34 38
B. Gambaran KitabWashoya Al-Abaa lil Abnaa ... C. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Washoya Al-Abaa lil
Abnaa ... ...
BAB IV ANALISIS
RELEVANSI KITAB WASHOYA AL-ABAA LIL ABNAA
TERHADAP PENDIDIKAN AKHLAK KONTEKSTUAL
A. Analisis terhadap Penyususunan dan Kemasan Bahasa Kitab
Washoya Al-Abaa lil Abnaa ... B. Analisis terhadap Isi Materi Kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa
... BAB V PENUTUP A. Kesimpulan .. B. Saran-saran .. C. Penutup . DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN-LAMPIRAN 40 43 59 76 77 78
TRANSLITERASI
Transliterasi dimaksudkan sebagai pengalih-hurufan dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Transliterasi Arab-Latin di sini ialah penyalinan huruf-huruf Arab dengan huruf-huruf latin beserta perangkatnya. Pedoman transliterasi dalam skripsi ini meliputi:
Huruf Arab Nama Huruf latin Nama
Alif ba ta sa jim ha kha dal zal ra za sin syin sad dad ta za ain gain fa qaf kaf lam mim nun wau ha hamzah ya Tidak dilambangkan b t s j h kh d dz r z s sy s d t z .. g f q k l m n w h .´ y Tidak dilambangkan be te
as (dengan titik di atas) je
ha (dengan titik di bawah) ka dan ha
de
zet (dengan titik di atas) er
zat es
es dan ye
es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik (di atas) ge ef ki ka el em en we ha apostrof ye
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan acapkali ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya bertali-temali dengan transfer of knowledge dan arena indoktrinasi. Pendidikan hanya merupakan penyampaian materi yang hampa dari nilai-nilai spiritual dan pengamalan yang berakibat pada peserta didik danoutput pendidikan itu sendiri, padahal ilmu pengetahuan itu akan lebih berbahaya jika tidak dihiasi dengan akhlak yang mulia, demikian Syaikh Syakir bertutur. Pendapat di atas sangat tepat jika dikaitkan dengan pengertian pendidikan akhlak menurut beberapa cendekiawan, yakni: suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk mempersiapkan peserta didik dengan berbagai cara yang mana dengan cara itu peserta didik dapat merubah sikap atau perilakunya kepada yang lebih baik, yang sesuai dengan ajaran agamanya.
Dalam pendidikan akhlak ini, kriteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang muncul merujuk kepada Al-Qur an dan Sunah sebagai sumber tertinggi dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur an, pesan moral akhlak dijelaskan dalam banyak ayat. Salah satunya surat Al-Baqarah, yakni istilah
Ahlul Birri yaitu orang-orang yang selalu melakukan kebaikan, istilah ini merupakan salah satu teori mengenai akhlak. Dengan demikian maka pendidikan akhlak dapat dikatakan sebagai pendidikan moral dalam diskursus pendidikan Islam. Telaah lebih dalam terhadap konsep akhlak yang telah dirumuskan oleh para tokoh pendidikan Islam masa lalu seperti Ibnu Miskawaih, Ibnu Sina, Al-Ghazali menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku anak didik. Nurul Zuriah memberi pengertian bahwa pendidikan moral dan budi pekerti merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat siswa dengan cara menghayati nilai-nilai
dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya, baik melalui pengajaran, bimbingan maupun latihan.1
Pendidikan akhlak secara global mengandung dua cakupan yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Sedangkan ruang lingkup materi dan subtansi pendidikan akhlak meliputi: akhlak terhadap Tuhan Yang Maha Esa, akhlak terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap lingkungan.2 Atau bisa disimpulkan sebagai tuntutan tanggung jawab sebagai individu, anggota masyarakat dan sebagai bagian dari umat. Perpaduan tiga unsur ini dalam pendidikan Islam bukan tanpa dasar, tapi berlandaskan dalil-dalil dalam Al-Qur an maupun Hadis.3 Menurut undang-undang RI tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan akhlak yang terkandung dalam pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.4
Yang harus berperan dalam pendidikan akhlak adalah semua pihak, baik orang tua maupun masyarakat. Termasuk juga lembaga pendidikan formal punya andil besar dalam pengembangan khususnya sisiknowledge. Ini yang kemudian disebut sebagai kesadaran kolektif. Pendidikan akhlak di sekolah, yang biasanya terkandung dalam pendidikan agama, dirasa perlu karena 3 motif:
1. Melemahnya ikatan keluarga, sekolah berganti peran menjadi pengganti keluarga di dalam memperkenalkan nilai-nilai moral karena keluarga yang seharusnya menjadi guru pertama dari anak, mulai kehilangan fungsinya. Sehingga terjadi kekosongan dalam perkembangan anak.
2. Terjadi krisis moral dan kecenderungan negatif pada kehidupan remaja dewasa ini.
1
Nurul Zuriah,Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan,( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hlm.18.
2
Ibid., Nurul Zuriah, hlm.27-23. 3
Ali Abdul Halim Mahmud,Akhlak Mulia, Penerjemah Abdul Hayyie Alkattani Dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm.173.
4
Tim Redaksi Fokusmedia, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, (Bandung: Fokusmedia, 2003), hlm. 60.
3. Masyarakat mulai menyadari akan pentingnya nilai-nilai etik, moral dan budi pekerti sebagai suatu moralitas dasar dan sangat esensial bagi keberlangsungan kehidupan bermasyarakat.5
Konsep dan materi-materi mengenai pendidikan akhlak juga dibahas dalam kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa . Misalnya, Syaikh Muhammad Syakir menguatkan pendapat mengenai terbentuknya karakter positif dalam ungkapan bahasa proses dan hasil .6 Dalam proses pembentukan karakter (baca: watak) harus dimulai dari sejak manusia masih anak, sedangkan manusia dewasa sudah masuk kategori nihayah, yakni manusia dewasa tidak masuk fase proses tapi harus sudah berkarakter positif. Yang menjadi fokus proses pembentukan pertama kali adalah anak.
Dikarang oleh Syaikh Muhammad Syakir, asal Iskandariyah, Mesir pada tahun 1326 H. atau 1907 M., Kitab ini berisi tentang wasiat-wasiat seorang guru terhadap muridnya tentang akhlak. Kitab ini di kalangan pesantren sering disebut sebagai kitab kuning , yaitu salah satu kitab klasik berbahasa arab. Dalam pendidikan madrasah diniyah dan pesantren,
Washoya Al-Abaa lil Abnaa sangat familiar sebagai mata pelajaran khusus akhlak dan secara turun temurun menjadi kurikulum pendidikan akhlak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pendidikan akhlak dalam kehidupan modern saat ini sangat diperlukan bagi manusia modern dalam menghadapi perubahan zaman. Apalagi fenomena dunia pendidikan sekarang sering diwarnai dengan tidak adanya keseimbangan antara aspek material dan spiritual, selain itu tokoh-tokoh di Negara kita sering tidak mencontohkanuswah yanghasanah.
Di abad 21 seperti sekarang ini, akhlak harus menyesuaikan perannya tidak hanya secara normatif agama atau sekedar sopan santun, namun dituntut untuk bersifat aktif dan inovatif dalam memecahkan berbagai problematika kehidupan modern, khususnya kehampaan spiritual dan
5
Nurul Zuriah, op.cit., hlm. 10-11. 6
dekadensi moral. Dengan menempatkan kedudukan dan pengertian pendidikan akhlak secara proporsional, akhlak menjadi lebih bermakna di zaman yang berbeda dari sebelumnya.
Globalisasi, disadari atau tidak turut memberi pengaruh terjadinya kemerosotan moral dan budi pekerti anak, maka semua pihak harus ikut berperan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak, ini yang kemudian disebut sebagai kesadaran kolektif. Diantara peran-peran tersebut adalah: Pertama, orang tua, pendidikan agama sejak dini akan secara otomatis tertanam nilai-nilai moral yang akan berdampak sangat positif bagi perkembangan jiwa anak hingga dewasa. Hal ini karena moral dan budi pekerti merupakan bagian dari pendidikan agama yang disebut juga sebagai pendidikan akhlak.7
Kedua, sekolah secara terpadu memasukkan pendidikan akhlak kedalam pendidikan agama khususnya dan terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Ketiga, masyarakat, peran serta masyarakat dalam menanggulangi kemerosotan moral dan sebagai contoh yang baik. Keempat, pemerintah, selama ini peran pemerintah baru pada dataran konsep atau kebijakan makro dalam undang-undang sistem pendidikan nasional.
Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia dengan pendidikan akhlak sebagai trademark di satu sisi, dan menjamurnya tingkat kenakalan perilaku amoral remaja di sisi lain menjadi bukti kuat bahwa pendidikan akhlak dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam sepertinya masih belum optimal. Maka, pendidikan akhlak harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi zaman, baik secara konsep maupun praktiknya. Keselarasan tersebut bisa di tempuh yang pertama dengan menyesuaikan dengan hakikat dan visi misi pendidikan akhlak dengan tujuan puncak terbentuknya karakter positif peserta didik sebagai proses pendewasaan. Berarti, Cakupan materinya pun harus memuat aspek akhlak kepada Allah SWT, dan akhlak sesama manusia, dan akhlak terhadap lingkungan.
7
Selain memenuhi kebutuhan knowledge, juga harus dipertimbangkan pendidikan akhlak harus berpengaruh bagi perkembangan peserta didik. Dalam perkembangan individu dan karakteristik siswa memang memerlukan perlakuan yang berbeda-beda, karena ini merupakan bagian dari pengakuan eksistensi individu, oleh karenanya mutu pengajaran harus diarahkan pada pengaruh kepada siswa secara individual, namun secara umum materi yang dibutuhkan antara siswa satu dengan lainnya bisa disamakan tergantung jenjang usianya.
Nilai-nilai hidup yang diperkenalkan juga harus merupakan realitas yang ada dalam masyarakat kita, karena sesuai dengan karakteristik perkembangan anak, hal ini memberi pengaruh pada perkembangan anak. Terlebih pendidikan akhlak pada pendidikan dasar adalah masa berakhirnya daya khayal dan mulai munculnya berpikir konkrit.8 Pada tahap ini anak dalam masa tamyiz, yakni kemampuan awal membedakan baik dan buruk serta benar dan salah melalui penalarannya. Selanjutnya pada masa amrad, yakni usia 10-15 tahun anak memerlukan pengembangan-pengembangan potensinya untuk mencapai kedewasaan dan bertanggung jawab secara penuh.9 Maka perlu menyusun pendidikan akhlak sesuai kebutuhan moral pada tahap umur anak. Karena masing-masing jenjang umur mempunyai tugas perkembangan dan karakteristik yang berbeda-beda. yang pasti harus bersifat sederhana (dasar) dan praktis yang dapat dilakukan oleh anak dan didasarkan pada kompetensi dasar anak.
TeksWashoya yang lahir pada awal abad 20 yang lalu rupanya masih digunakan sebagai mata pelajaran khusus pendidikan akhlak hingga sampai saat ini, terbukti dengan sangat familiarnya Kitab ini di kalangan pendidikan madrasah diniyah daan pondok pesantren, padahal lahirnya teks saat itu tidak terlepas dari konteks sosial pada masa tersebut.
8
Muallifah,Psycho Islamic Smart Parenting, (Jogjakarta: Diva Press, 2009), hlm. 102. 9
Mohammad Fauzil Adim,Mendidik Anak Menuju Taklif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm.16.
Selama ini fenomena penggunaan kitabWashoya di madrasah diniyah dan pondok pesantren belum memunculkan jawaban bagaimana relevansi Kitab ini dalam memenuhi kebutuhan pendidikan akhlak kontekstual karena tidak ada penjabaran tujuan instruksional dalam kurikulum, selain itu digunakannya Washoya sering mengandung motif kurikulum warisan. Hal ini mengakibatkan kurang terkuaknya signifikansi penggunaan Kitab ini.
Sebagai Kitab yang sangat familiar dalam kurikulum pendidikan non formal seperti madarasah diniyah dan pesantren, tapi tidak familiar dalam kurikulum pendidikan formal, menjadi salah satu alasan mempertanyakan, bagaimana relevansi kitab ini terhadap pendidikan akhlak kontekstual, apakah materi yang terkandung di dalamnya sudah mencakup segala aspek kebutuhan perkembangan moral. Fenomena penggunaan kitab Washoya
sebagai materi khusus pelajaran akhlak tidak hanya memunculkan pertanyaan-pertanyaan di atas, namun juga memunculkan pernyataan mungkin subtansi materi akhlak di dalam kitab Washoya sudah terkandung dalam kurikulum pendidikan nasional .
Selain itu kemerosotan moral serta beberapa problem terkait pendidikan akhlak rupanya menuntut praktisi pendidikan untuk melakukan kajian pendidikan akhlak yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan akhlak kontekstual menuntut kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan zaman namun tidak terlepas dari hakikat pendidikan tersebut baik dari sisi konsep pendidikannya, materi, maupun metode. Lalu apakah kitabWashoya
memenuhi kriteria itu. Beberapa pertanyaan ini menuntut kajian bagaimana relevansi Kitab ini terhadap pendidikan akhlak kontesktual. hal ini yang kemudian memberi sumbangsih wacana, yakni jawaban relevansi kitab tersebut sehingga bisa menguak subtansi-subtansi yang ada, sehingga penggunaan kitab Washoya menjadi beralasan dan mengandung motif yang jelas. Maka, Penelitian ilmiah dirasa perlu karena penelitian ilmiah tentang moralitas anak mempunyai potensi besar untuk membantu kita dalam upaya memperbaiki nilai-nilai moral anak.
B. Penegasan Istilah
Agar memberikan pemahaman yang tepat serta untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasikan judul skripsi ini, maka penulis merasa perlu untuk mengemukakan makna dan maksud kata-kata dalam judul tersebut, serta memberikan batasan-batasan istilah agar dapat dipahami secara konkret dan lebih operasional. Adapun penjelasan dari istilah tersebut adalah :
1. Relevansi
Relevansi secara bahasa berarti hubungan, kaitan, selaras.10 Maka dalam makna relevansi di sini penulis menggabungkannya dengan pendidikan akhlak kontekstual. Yakni, kata relevansi di sini sebagai ungkapan pertanyaan bagaimana relevansi kitab Washoya terhadap pendidikan akhlak kontekstual, apakah sesuai dengan kebutuhan pendidikan akhlak kontekstual?.
2. KitabWashoya Al-Abaa lil Abnaa
Washoya Al-abaa lil Abnaa adalah sebuah Kitab yang berisi wasiat-wasiat seorang guru terhadap muridnya tentang akhlak, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Syakir dari Iskandariyah, Mesir. Pengarang kitab ini berpendapat bahwa materi akhlak yang terkandung dalam Kitab ini sudah memenuhi kebutuhan bagi pelajar pemula.11 Maka sesuai dengan tingkatannya Kitab ini telah memenuhi tuntunan dasar akhlak baik yang bersifat ritual maupun moral.
3. Pendidikan akhlak
Kamus umum bahasa Indonesia memaknai akhlak dengan watak dan tabiat serta tidak membedakan antara akhlak dan budi pekerti.12 Dalam memahami akhlak penulis menggabungkan pemahaman antara pendidikan akhlak dengan pendidikan moral dan budi pekerti. Kalau Nurul
10
Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 738.
11
Muhammad Syakir ,op.cit., hlm. 2. 12
W.J.S.Purwadarminta,Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), hlm. 18.
Zuriah memberi pengertian bahwa pendidikan moral dan budi pekerti merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat siswa dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya, baik melalui pengajaran, bimbingan maupun latihan13, maka penulis melengkapi pengertian di atas dengan perspektif Islam, yakni pendidikan akhlak mempunyai dasar yang bersumber dari Al-Qur an dan Hadis. Pendidikan akhlak juga mengharuskan sebuah proses sebagai implementasi nilai-nilai moral tersebut supaya menjadi watak atau karakteristik-karakteristik yang membentuk kerangka psikologi seseorang. 4. Kontekstual
Konteks secara bahasa adalah situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.14 Maka kontekstual berarti sesuatu yang berdasarkan dengan masanya atau zamannya. Pendidikan akhlak kontekstual harus mencakup segala aspek kebutuhan masa sekarang dan menyesuaikan problematika yang dihadapi, ini yang kemudian disebut sebagai pendidikan menjawab tantangan zaman.
C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah dan kerangka pemikiran diatas, dapatlah dibuat rumusan sub-sub masalah antara lain :
1. Apa kandungan pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa karya Syaikh Muhammad Syakir?
2. Bagaimana relevansi kitab Washoya Al-Aba lil Abnaa terhadap pendidikan akhlak kontekstual?
13
Nurul Zuhriyah,op.cit., hlm. 18. 14
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian
Penelitian ini diharapkan nantinya dapat mencapai beberapa tujuan antara lain:
a. Mengetahui kandungan pendidikan akhlak dalam kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa karya Syaikh Muhammad Syakir.
b. Mengetahui relevansi kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa terhadap pendidikan akhlak kontekstual.
2. Manfaat penelitian
Setelah proses penelitian diselesaikan, maka diharapkan hasil tulisan ini dapat bermanfaat dalam memberikan gambaran yang jelas tentang pendidikan akhlak dalam kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa dan relevansinya terhadap pendidikan akhlak kontekstual. Dengan demikian penulisan ini bisa memberikan manfaat baik teoritis maupun praktis dalam dunia pendidikan, yaitu wacana baru yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan bersama sesama praktisi pendidikan dalam memberikan cara pandang dan landasan pijak dalam memahami bagaimana relevansi pendidikan akhlak dalam kitab Washoya menghadapi kebutuhan zaman kekinian.
E. Telaah Pustaka
Dalam wacana pendidikan, wacana mengenai pendidikan akhlak sangat banyak dibicarakan. Adapun penelitian yang membahas tentang materi pendidikan akhlak yang terkandung dalam kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa dan relevansinya terhadap pendidikan akhlak kontekstual, sejauh pengamatan penulis belum ditemukan. Akan tetapi, terdapat beberapa karya yang sangat bersinggungan dan berkaitan dengan pendidikan akhlak dan relevansinya yang dikaitkan dengan beberapa hal.
Adanya tinjauan pustaka diharapkan dapat mengurai letak perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya, sehingga bisa dibandingkan untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihan diantara beberapa penelitian mengenai pendidikan akhlak. Demikian yang disebut kegiatan ilmiah. Tinjauan pustaka juga bermanfaat membantu penulis kaitannya dengan landasan teori. Diantara karya yang bersinggungan dengan pendidikan akhlak dan relevansinya dengan kehidupan yang kontekstual yaitu:
Pertama, nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Abyan Al-Hawaij
karya K.H. Ahmad Rifa i. Penelitian ini sebagai tinjauan pustaka mengenai pendidikan akhlak. Penelitian ini mengurai nilai-nilai pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Abyan Al-Hawaij kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Islam. Selain Kitab yang dikaji berbeda, hasil penelitian ini juga lebih mengarah pada pendidikan akhlak yang bersifat pendekatan kepada Allah dan tasawuf. Materi pendidikan akhlaknya sama, tapi relevansi isi Kitab dikaitkan pada sesuatu yang berbeda.
Kedua, sebagai tinjauan pustaka mengenai pendidikan akhlak kontekstual, penelitian Sukiman dalam jurnal penelitian agama UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta dengan judul, Pengembangan Aspek Sosial Anak Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar Negeri (Studi Kasus di SDN Maguwoharjo I dan SDN Depok II). Pendidikan akhlak yang penulis maksud disesuaikan dengan pengembangan aspek sosial dalam pembelajaran PAI. Penelitian ini mengelompokkan pengembangan aspek sosial pada 4 hal, yaitu: a. Penanaman dasar-dasar kejiwaan yang mulia, b. Pemeliharaan hak-hak orang lain, c. Melaksanakan tata krama atau etika sosial yang berlaku umum , d. Kontrol dan kritik sosial. Obyek kajian penelitian ini hanya difokuskan pada pendidikan dasar atau SD, tidak pendidikan akhlak secara lebih luas. Penelitian ini lebih membahas aspek-aspek pengembangan sosial secara lebih terperinci daripada menguraikan aspek hubungan dengan Allah (hablun min Allah) sebagai salah satu cakupan materi pendidikan akhlak. Penelitian ini mencoba mengkritik bagaimana
pengembangan aspek sosial dalam pembelajaraan PAI di Sekolah dasar yang kurang memenuhi standar pendidikan akhlak kontekstual.
Ketiga, buku karya Nurul Zuriah, pendidikan moral dan budi pekerti dalam perspektif perubahan, menggagas platform pendidikan budi pekerti secara konstektual dan futuristik. Buku ini menerangkan urgensi pendidikan akhlak bagi kehidupan bermasyarakat serta bagaimana menggagas pendidikan moral bagi masa depan. Tidak berbeda jauh dengan buku-buku akhlak lain, buku ini juga mengungkapkan pengertian pendidikan akhlak. Namun lebih secara khusus buku ini membidik bagaimana mengonsep pendidikan akhlak yang relevan sesuai perubahan zaman serta problematika dan kurikulum berbasis kompetensi pendidikan budi pekerti di lingkungan sekolah.
F. Metodologi Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif, sebagaimana dalam banyak literatur, penelitian kualitatif instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. Maka untuk lebih jelasnya metodologi yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut:
1. Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kepustakaan, (library reseach) yaitu dengan mengumpulkan data atau bahan-bahan yang berkaitan dengan pokok pembahasan dengan mengambil dari sumber kepustakaan.
2. Obyek Penelitian
Obyek Penelitian skripsi ini adalah kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa yakni, secara khusus meneliti pendidikan akhlak dalam Kitab ini untuk diselaraskan dengan pendidikan akhlak kontekstual.
3. Metode Pengumpulan Data
Sebagaimana para ahli berpendapat bahwa kualitas data itu ditentukan oleh reliabilitas dan validitas alat pengambil data, sehingga antara analisis data dan pengumpulan datanya harus saling menyesuaikan. sebagai bentuk upaya penelitian yang digunakan adalah penelitian
kepustakaan, (library reseach),maka peneliti mengumpulkan data atau bahan-bahan yang berkaitan dengan pokok pembahasan dengan mengambil dari sumber kepustakaan, sumber ini diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
a. Sumber data primer
Data primer adalah data yang langsung berkaitan dengan pokok bahasan penelitian ini15, yaitu berupa kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa dan buku pelajaran Dasar Tentang akhlak sebagai interpretasi dari kitab aslinya.
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder bisa dikatakan sebagai buku penunjang dan pendukung dalam melengkapi sumber data primer, serta membantu interpretasi dalam menganalisis isi materi. Diantara data- data tersebut adalah: Pertama, buku Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan karangan Nurul Zuhriah. Buku ini sebagai acuan dalam mengupas pendidikan akhla kontekstual. Kedua, buku Akhlak Mulia , Penerjemah Abdul Hayyie Alkattani Dkk, karangan Ali Abdul Halim Mahmud. Yaitu, sebagai landasan teori mengenai hakikat dan tujuan pendidikan akhlak. Ketiga, buku Dinamika Pendidikan Nasional, dalam Percaturan Dunia Global karangan Suyanto, dan buku Wawasan Pendidikan, Sebuah Pengantar Pendidikan karangan karangan Suparlan Suhartono, kedua buku ini sebagai referensi terkait problematika pendidikan akhlak saat ini.
4. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang penulis gunakan yaitu metode hermeneutik. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara non statistik. Lexy J Moleong berpendapat, hal ini karena pengaruh penerapan metode secara kualitatif. Metode ini untuk menganalisis relevansi kitab
Washoya Al-Abaa lil Abnaa terhadap pendidikan akhlak kontekstual.
15
Winarno Muhammad,Dasar dan Teknik Research, Pengantar Metodologi llmiah, (Bandung: CV Transito, 1997), hlm. 156.
Adapun langkah konkret metode hermeneutik yang digunakan adalah sebagai berikut: Metode ini penulis gunakan dalam rangka untuk menyimpulkan isi kitab Washoya terkait dengan pembahasan sub pokok pembahasan tertentu, yakni pendidikan akhlak kontekstual. Dan sebelumnya telah penulis identifikasi secara keseluruhan dari pokok-pokok pemikiran Syaikh Muhammad Syakir. Dalam buku hermeneutika Al-Qur an Mazhab Yogya, Muzairi mengutip dari Rihchard E Palmer, kata hermeneutika diterjemahkan dengan to interpret (artinya: menginterpretasikan, menerjemahkan, menafsirkan). Atau dalam padanan katanya adalahtafsir, ta wil, syarh danbayan.16
Ada 3 unsur pokok yang menjadi pilar utama dalam hermeneutik sebagaimana yang diungkapkan Ibnu Taimiyyah mengenai proses penafsiran. Tiga unsur tersebut yaitu: teks, pengarang dan audien atau ditujukan kepada siapa.17 Terlepas dari perdebatan metodologi hermeneutik dalam penafsiran Al-Qur an, karena penafsiran Al-Qur an terkait dengan nilai sakral Al-Qur an, penulis berpendapat metode ini bisa ditransfer sebagai metode analisis data dalam penelitian sosial. Praktiknya adalah: pertama-tama penulis menyajikan apa adanya teks tersebut, kemudian menguraikan data-data terkait biografi pengarangnya, baik beberapa buah karyanya,backgroundnnya maupun konteks sosial saat teks tersebut lahir. Selanjutnya setelah melewati prosescontent analisys untuk menelaah isi pesan yang ada dalam kitab Washoya (termasuk juga Kitab ini diperuntukkan untuk siapa), penulis memadukan isi dalam Kitab tersebut dengan permasalahan pendidikan akhlak kontekstual. Dalam kondisi ini hermeneutik memerankan dirinya sebagai sebuah metode yang menafsirkan atau menginterpretasikan.
Langkah selanjutnya yaitu menganalisis data menurut isinya atau usaha untuk mengungkapkan isi sebuah buku baik situasi penulis maupun
16
Syahiron Syamsudin Dkk,Hermeneutika Al-Qur an, (Yogyakarta: Penerbit Islamika, 2003), hlm. 54.
17
bukunya. Pertimbangan metode ini selain sebagai penyesuaian data dengan analisis data non statistik, juga sebagai penunjang utama untuk menginterpretasikan data. Tujuan analisis pada tahapan ini untuk menganalisis isi pesan suatu komunikasi yang ada.
Dengan menganalisis isi kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa baik dari sisi materi, bahasa maupun sisi penulisnya, diharapkan bisa memberi gambaran mengenai relevansi kitabWashoya terhadap pendidikan akhlak kontekstual. Sehingga memunculkan wacana mengenai hakikat pendidikan akhlak, bagaimana Kitab ini jika disesuaikan dengan pendidikan akhlak kontekstual. Diharapkan usaha ini bisa menciptakan praktik pendidikan akhlak yang bersifat subtantif bukan formalitas semata.
BAB II
PENDIDIKAN AKHLAK
A. Hakikat dan Pengertian Pendidikan Akhlak
Penggabungan dua kata yakni pendidikan dan akhlak menunjukkan ada keterkaitan diantara dua kata tersebut. Maka perlu diketahui maknanya satu persatu.Pertama, Pendidikan, diartikan sebagai proses pengubahan sikap tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.18 Dalam undang-undang RI No.20 Tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketermpilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.19 Dan pendidikan ini merupakan kegiatan simultan di seluruh aspek kehidupan manusia yang berlansung di segala lingkungan di mana dia berada, di segala waktu, dan merupakan hak dan kewajiban bagi siapapun, serta terlepas dari diskriminasi apapun.20
Kedua, akhlak, masih serumpun dengan kata khuluqun dan al-kholqu
yang secara bahasa diartikan ciptaan. Akhlak dimaksudkan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan sikap, perilaku, dan sifat-sifat manusia dalam berinteraksi dengan dirinya dan sasarannya dan makhluk-makhluk lain serta dengan Tuhannya.21
Menurut Imam Al-Ghazali:
18
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), Cet. Ke-10, hlm. 232.
19
Tim Redaksi Fokus Media,Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, (Bandung: Fokus Media, 2003), hlm. 3.
20
Suparlan Suhartono, Wawasan Pendidikan, Sebuah Pengantar Pendidikan, (Jogjakarta: Arruz Media, 2008), hlm. 49.
21
Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran.
Imam al-Gazhali berpendapat bahwa suatu perbuatan itu bisa disebut akhlak jika perbuatan tersebut dilakukan dengan spontan atau tanpa pertimbangan karena sikap dan perbuatan yang sudah melekat dalam pribadi menjadi watak. Batasan tentang perbuatan yang sudah menjadi watak ini yang kemudian banyak disepakati sebagai salah satu ciri akhlak.
Iman Abdul Mukmin dalam buku meneladani akhlak Nabi , berpendapat bahwa akhlak mengandung beberapa arti yaitu: tabiat, adat dan watak. Pengertian akhlak sering kali membaur dengan pengertian moral, budi pekerti, etika, kepribadian, afektif. Namun, dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud akhlak adalah sebuah sistem yang lengkap yang terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau tingkah laku yang membuat seseorang menjadi istimewa. Karakteristik-karakteristik ini membentuk kerangka psikologi seseorang dan membuatnya berperilaku sesuai dengan dirinya dan nilai yang cocok dengan dirinya dalam kondisi yang berbeda-beda.23
Dari pengertian tersebut Ali Abdul Halim menyamakan antara akhlak dan moral, kemudian membedakan akhlak atau moral dengan kepribadian, yakni: moral lebih terarah pada kehendak dan diwarnai dengan nilai-nilai, sedangkan kepribadian mencakup pengaruh fenomena sosial bagi tingkah laku. Hal ini sangat rasional karena secara universal dan hakiki, moralitas merupakan aturan, kaidah baik dan buruk, simpati atas fenomena kehidupan dan penghidupan orang lain dan keadilan dalam bertindak.24 Berarti akhlak itu mencakup pada nalar emosional dan afeksi.
22
Al-Gazhali,Ihya Ulumudin, Jilid III, (Libanon: Daarul Fikr, 1995), hlm. 57. 23
Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, Penerjemah Abdul Hayyie Alkattani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), hlm. 173.
24
Sudarwan Danim, Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 65.
Manusia secara fitrah dapat membedakan tindakan yang baik dan yang buruk atau yang pantas dan yang tidak pantas,25 Namun kelengkapan kaidah-kaidahnya perlu diisi lewat pembinaan atau pendidikan. Maka dari itulah dalam Islam akhlak merupakan asas terpenting untuk membina pribadi dan masyarakat.
Penggabungan dua kata tersebut menjadi pendidikan akhlak berarti suatu usaha mendewasakan manusia melalui penyampaian bahan pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar terutama dalam bidang akhlak. Atau sebagaimana pendapat Nurul Zuriah yang mengartikannya sama dengan pendidikan budi pekerti yang berarti usaha pendidikan yang bertujuan mengembangkan watak dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Yakni, melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin dan kerja sama yang menekankan ranah afektif tanpa meninggalkan ranah kognitif dan psikomotorik. Pengertian ini yang kemudian menjadikan akhlak sebagai suatu hal yang kompleks dan sempurna, karena mencakup semua aspek. Sehingga menjadi tugas utama Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak manusia.
Uraian pengertian di atas menunjukkan letak keterkaitannya adalah bahwa salah satu usaha pembentukan akhlak adalah lewat pendidikan, begitu juga salah satu tujuan pendidikan adalah sebagai upaya mengembangkan manusia seutuhnya.
Sebagaimana termuat dalam UU RI No.2 Tahun 1989, Pasal 4:
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
25
Iman Abdul Mukmin Sa adatun,Meneladani Akhlak Nabi, Membangun Kepribadian Muslim, Penerjemah Dadang Sobar Ali, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2006), hlm. 1.
Termaktub dalam pasal tersebut bahwa pendidikan sejati merupakan proses pembentukan moral masyarakat beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusiaan dan pemanusiaan yang normal. Atau kata lainnya, pendidikan adalah moralisasi masyarakat, terutama peserta didik.26 Jadi, tanpa menggabungkan dua kata tersebut pun pendidikan dan akhlak sangat berkaitan.
Akhlak dalam Islam bukanlah tanpa dasar, mengenai pembinaan akhlak, Islam secara lengkap menerangkannya baik dalam nash Al-Qur an maupun Hadis. Keterangan akhlak dalam Al-Qur an tersebut ada yang sifatnya mendidik, memotivasi untuk selalu berbuat baik maupun peringatan dan ancaman bagi orang-orang yang yang berperilaku tercela. Baik bersifat umum maupun secara khusus membidik satu perbuatan, seperti dalam surat Al-Hujuraat ayat 12: $pkš‰r'¯»tƒ t ûïÏ%©!$# ( #qãZtB#uä ( #qç7Ï^tGô_$# #ZŽ•ÏWx. z `ÏiB Çd `©à9$# ž cÎ) u Ù÷èt/ Çd `©à9$# Ò OøOÎ) ( Ÿ wur ( #qÝ¡¡¡pgrB Ÿ wur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è-/ $³Ò÷èt/ 4 • =Ïtä†r& ó Oà2߉tnr& br& Ÿ @à2ù'tƒ z Nóss9 Ï mŠÅzr& $\GøŠtB ç nqßJçF÷dÌ•s3sù 4 ( #qà)¨?$#ur © !$# 4 ¨ bÎ) © !$# Ò >#§qs? × LìÏm§‘
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Sedangkan ayat-ayat yang menunjukkan motivasi untuk berbuat baik tersebut diistilahkan adalam Al-Qur an misalnya sebutan Ahlul Birri atau orang-orang yang selalu melakukan kebaikan (Al-Baqarah ayat 177), Uluul
26
Al-Baab atau orang-orang yang selalu mengingat Allah dan berakal (Ar-Ra ad ayat 19-20), dan Al-Muhsinun atau orang-orang yang selalu melakukan kebaikan (An-Nisa ayat 36).
Sedangkan dalam Hadis diterangkan baik dalam bentuk sabda Nabi maupun sikap Nabi, baik tentang perbuatan terpuji maupun tercela, baik sikap Nabi sebagai seorang pribadi, dalam kehidupan sosial maupun dalam berpolitik. Salah satu Hadisnya adalah:
:
)
(
Dari Abu Hurairah Ra. Berkata Rasulullah SAW Bersabda: sesungguhnya aku diutus adalah hanya demi memperbaiki akhlak .
B. Tujuan Pendidikan Akhlak
Mengacu pada definisinya, pendidikan akhlak bertujuan untuk membentuk akhlak terpuji dan mulia agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan manusia seutuhnya dan sesuai dengan ajaran agama Islam. Yakni, seimbang antara hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia, dengan alam maupun dengan dirinya sendiri, agar seseorang bisa membedakan makna hak dan kewajiban. Sedangkan dalam proses belajar mengajar pendidikan akhlak bertujuan agar peserta didik mampu menggunakan pengetahuan, nilai, dan keterampilan mata pelajaran itu sebagai wahana yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya serta terwujudnya sikap dan perilaku peserta didik yang konsisten dengan akhlak mulia.
Tujuan tersebut sangat sesuai dengan tujuan seorang muslim dalam kehidupan di dunia, yaitu:
a) Mengesakan Allah SWT, tidak menyekutukan-Nya dan hanya menyembah-Nya sesuai dengan syariat yang Dia turunkan.
b) Mengikuti dan konsisten terhadap aturan Allah yang sesuai dalam Al-Qur an dan Hadis.
27
c) Memakmurkan bumi dan menghantarkan manusia kepada tingkat kehidupan yang lebih baik, sesuai dengan kemuliaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka.28
Dalam kitab Washoya Al-Abaa lil Abnaa , Syaikh Muhammad Syakir berpendapat tujuan pendidikan akhlak adalah agar seseorang bisa berperilaku dengan akhlak yang mulia. Maka dari itu pendidikan akhlak harus lebih menekankan pada penanaman nilai daripada pengajaran. Tujuan tersebut bisa dikatakan sebagai tujuan pendidikan akhlak secara umum. Sedangkan tujuan yang sifatnya praktis dalam dunia pendidikan nasional, kita bisa mengacu pada tujuan pendidikan budi pekerti sebagaimana menurut Nurul Zuriah:
a. Siswa memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga, lokal, nasional, dan internasional melalui adat istiadat, hukum, undang-undang dan tatanan antar bangsa.
b. Siswa mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini.
c. Siswa mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti.
d. Siswa mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggung jawab atas tindakannya.29
C. Ruang Lingkup Materi
Pendidikan akhlak secara global mengandung dua cakupan yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Sedangkan ruang lingkup materi dan subtansi pendidikan akhlak meliputi: akhlak terhadap Tuhan Yang Maha Esa, akhlak terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap lingkungan. Atau bisa
28
Ali Abdul Halim Mahmud,op.cit., hlm. 11. 29
Nurul Zuriah,Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan,( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hlm. 67.
disimpulkan sebagai tuntutan tanggung jawab sebagai individu, anggota masyarakat dan sebagai bagian dari umat. Perpaduan tiga unsur ini dalam pendidikan Islam bukan tanpa dasar, tapi berlandaskan dalil-dalil dalam Al-Qur an maupun Hadis.30 Sesuai dengan tujuan pendidikan akhlak serta menurut pendapat kebanyakan tokoh bahwa materi pendidikan akhlak harus mencakup 3 hal yaitu:
a. Akhlak terhadap Allah SWT, termasuk juga iman kepada malaikat, rasul dan rukun iman yang lain. Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah akidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, oleh karena itu jika seseorang berakidah dengan benar niscaya akhlaknya pun akan benar.31 Beberapa rukun iman tersebut merupakan akidah yang dimaksudkan sebagai dasar pendidikan akhlak.
Keterkaitan akidah dan akhlak juga diterangkan dalam Al-Qur an:
ž wÎ) š úïÏ%©!$# N›?‰yg»tã z `ÏiB t ûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# § NèO ö Ns9 ö Nä.qÝÁà)Ztƒ $\«ø‹x© ö Ns9ur ( #rã•Îg»sàムö Nä3ø‹n=tæ #Y‰tnr& ( #þq‘JÏ?r'sù ö NÎgøŠs9Î) ó Oèdy‰ôgtã 4 ’n<Î) ö NÍkÌE£‰ãB 4 ¨ bÎ) © !$# • =Ïtä† ûüÉ)-GßJø9$#
Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu Telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, Maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.(QS. 9:4)
30
Ibid., hlm. 173. 31
b. Akhlak terhadap sesama manusia, mencakup akhlak terhadap dirinya sendiri dan orang tuanya, serta manusia-manusia yang lain. Di sini pendidikan akhlak sebagai landasan terpenting dalam kehidupan sosial karena kehidupan sosial adalah fitrah manusia.
c. Akhlak terhadap lingkungan, yakni alam.
D. Metode dan Model Penyampaian
Pendidikan akhlak merupakan manifestasi pendidikan nilai di sekolah. Sesuai dengan definisi akhlak, bahwa suatu perilaku bisa dikatakan sebagai akhlak ketika sudah menjadi watak, maka hal ini membutuhkan suatu proses yang panjang dan terus menerus. Penanaman ini harus terus menerus diberikan, ditawarkan dan diulang-ulang agar terinternalisasi dan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata dan konkret. Peristiwa dan pengalaman hidup yang diolah, didalami dan dimaknai inilah yang akan menjadikan seseorang berakhlak baik secara sejati dan hakiki. Maka ada beberapa beberapa model dan cara bagaimana pendidikan akhlak itu ditanamkan.
Beberapa model tersebut adalah:
1. Model sebagai mata pelajaran tersendiri
Pendidikan akhlak disampaikan sebagai mata pelajaran tersendiri seperti bidang mata pelajaran yang lain. Dalam hal ini guru bidang studi budi pekerti harus membuat Garis Besar Pedoman Pengajaran (GBPP), satuan pelajaran (SP), Rencana Pengajaran (RP), metodologi pengajaran, dan evaluasi pengajaran. Selain itu akhlak sebagai mata pelajaran harus masuk pada jadwal yang tersetruktur.
2. Model terintegrasi dalam semua bidang studi
Penanaman nilai dalam pendidikan akhlak juga dapat di sampaikan secara terintregasi dalam semua bidang studi. Guru dapat memilih nilai-nilai yang akan di tanamkan melalui beberapa pokok atau sub pokok
bahasan yang berkaitan nilai-nilai hidup. Dengan model seperti ini, semua guru adalah pengajar akhlak tanpa terkecuali.
3. Model di luar pengajaran
Penanaman nilai-nilai hidup yang membentuk akhlak juga dapat ditanamkan melalui kegiatan di luar pengajaran. Penanaman nilai dengan model ini lebih mengutamakan pengolahan dan penanaman nilai melalui suatu kegiatan untuk dibahas dan dikupas nilai-nilai hidupnya. Keunggulan metode ini adalah anak mendapat nilai melalui pengalaman konkret. Pengalaman akan lebih tertanam dibanding sekedar informasi.32
4. Model gabungan
Model gabungan berarti menggunakan gabungan antara model terintegrasi dan model di luar pelajaran. Penanaman nilai dilakukan melalui pengakaran formal terintegrasi bersamaan dengan kegiatan di luar pelajaran.
Kemudian, beberapa metode penyampaian tersebut adalah: 1. Metode demokratis
Metode demokratis menekankan pencarian secara bebas dan penghayatan nilai-nilai hidup dengan langsung melibatkan anak untuk menemukan nilai-nilai tersebut dalam pendampingan dan pengarahan guru. Anak di beri kesempatan untuk memberikan tanggapan, pendapat, dan penilaian terhadap nilai-nilai yang di temukan. Guru tidak bersikap sebagai pemberi informasi satu-satunya dalam menemukan nilai-nilai hidup yang dihayatinya. Guru berperan sebagai penjaga garis atau koridor dalam penemuan nilai hidup tersebut.
2. Metode pencarian bersama
Metode ini menekankan pada pencarian bersama yang melibatkan siswa dan guru. Pencarian bersama lebih berorentasi pada diskusi atas soal-soal yang aktual dalam masyarakat, di mana proses ini di harapkan
32
Paul Suparno Dkk,Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah, Suatu Tinjauan Umum, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 42-44.
menumbuhkan sikap berpikir logis, analitis, sistematis, argumentatif untuk dapat mengambil nilai-nilai hidup dari masalah yang diolah bersama.
3. Metode siswa aktif
Metode siswa aktif menekankan pada proses yang melibatkan anak sejak awal pembelajaran. Guru memberikan pokok bahasan dan anak dalam kelompok mencari dan mengembangkan proses selanjutnya. Anak membuat pengamatan, pembahasan analisis sampai pada proses penyimpulan atas kegiatan mereka. Metode ini ingin mendorong anak untuk mempunyai kreatifitas, ketelitian, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, kerjasama, kejujuran dan daya juang.
4. Metode keteladanan
Apa yang dilakukan oleh guru dan orang tua akan ditiru oleh anak-anak. Tingkah laku orang muda dimulai dengan meniru, dan ini berlaku sejak anak masih kecil. Apa yang dikatakan orang yang di lebih tua akan terekam dan dimunculkan kembali oleh anak. Anak belajar dari lingkungan terdekat dan mempunyai intensitas rasional yang tingi. Apa yang terjadi dan tertangkap oleh anak bisa jadi tanpa disaring akan langsung dilakukan.
Guru dapat menjadi tokoh idola dan panutan bagi anak. Dengan keteladanan guru dapat membimbing anak untuk membentuk sikap yang kokoh. keselarasan antara kata dan tindakan guru-guru akan amat berarti bagi seorang anak, demikian pula apabila terjadi ketidakcocokan antara kata dan tindakan guru.
5. Metodelive in
Metode ini di maksudkan agar anak mempunyai pengalaman hidup bersama orang lain langsung dalam situasi yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-harinya. Dengan pengalaman langsung anak dapat mengenal lingkungan hidup yang berbeda dalam cara berpikir, tantangan, permasalahan, termasuk tentang nilai-nilai kehidupannya.live in tidak harus berhari-hari secara berturut-turut dilakukan, namun dapat juga dilaksanakan secara periodik.
Latar belakang sosial kehidupan, pendidikan dan pengalaman dapat membawa perbedaan pemahaman dan penerapan nilai-nilai hidup. Adanya berbagai pandangan hidup dalam masyarakat membuat bingung seorang anak. Apabila kebingungan ini tidak dapat terungkap dengan baik dan tidak mendapat pendampingan yang baik, ia akan mengalami pembelokan nilai hidup. Oleh karena itu, dibutuhkan proses penjernihan nilai dengan dialog afektif dalam bentuksharing atau diskusi yang mendalam dan intensif.33
E. Problematika Pendidikan Akhlak Kontekstual
Kemerosotan moral di zaman modern rupanya cukup besar mendorong dunia pendidikan untuk memfokuskan perhatiannya pada pendidikan akhlak. Kini telah muncul kesadaran bahwa prakarsa untuk melakukan reformasi pendidikan akhlak harus menempatkan sekolah sebagai ujung tombaknya. Terlebih dewasa ini, pendidikan akhlak dipandang sebagai tanggung jawab semua pihak. Bisa dikatakan problem utama kemerosotan akhlak adalah dekadensi moral dan ketaatan seseorang terhadap agama. Sebagai contohnya adalah terlihat teladan para birokrat dan publik figur lain yang semakin kurang. Nilai-nilai moral yang mereka pertunjukkan di depan anak-anak sedemikian riskan dan vulgar diketahui anak-anak.
Arus globalisasi sangat berpengaruh pada pergeseran nilai-nilai akhlak, karena dunia menjadi tanpa pembatas ruang dan waktu. Seseorang bisa berinteraksi dengan siapapun tanpa ada yang mengontrol. Kepribadiannyalah yang bisa mengontrol dari sikap yang negatif. Akibat selanjutnya adalah krisis ekonomi di Indonesia yang membawa dampak pada tuntutan ekonomi keluarga, sehingga walaupun orang tua mengetahui akan pentingnya penanaman akhlak, tetapi kurang dapat menerapkannya pada anak.
Problematika pendidikan akhlak tersebut menjangkiti pada semua lapisan, yakni, peran orang tua, peran sekolah, peran masyarakat dalam membangun generasi yang bermoral, serta peran pemerintah yang sampai saat ini baru berperan dalam dataran konsep. Maka dari itu, pendidikan akhlak
33
mempunyai beberapa tantangan dan catatan penting untuk menuju pada pendidikan akhlak kontekstual. Diantara tantangan tersebut adalah: arus globalisasi yang berkembang pesat, pola hidup dan perilaku masyarakat yang telah bergeser sedemikian serempaknya, moral para pejabat yang sudah amat melekat, kurikulum sekolah yang mengintegrasikan pendidikan akhlak pada semua mata pelajaran, padahal tidak semua guru bisa mengaplikasikannya.34
Catatan kritis tersebut adalah: Pertama, Lingkungan masyarakat dan keluarga sangat berpengaruh bagi terlaksananya pendidikan akhlak secara optimal.Kedua, praktek pendidikan akhlak jangan hanya sebatas sopan santun yang bersifatdhohir seperti etika makan, etika minum dan sebagainya.Ketiga, isi materi pendidikan akhlak harus dicermati supaya jangan sampai kemudian membatasi kreativitas peserta didik. Keempat, sikap pendidik juga harus sebagai teladan.
Maka, diantara beberapa tantangan pendidikan akhlak dewasa ini adalah: Pertama, arus globalisasi dengan teknologinya yang berkembang pesat merupakan tantangan tersendiri di mana informasi, baik positif maupun negatif dapat langsung diakses. Tanpa adanya bekal yang cukup dalam penanaman agama (termasuk akhlak) hal itu akan berdampak negatif jika tidak disaring dengan benar. Kedua, pola hidup dan perilaku yang telah bergeser sedemikian serempaknya di tengah-tengah masayarakat. Ketiga, krisis kepercayaan rakyat terhadap para pejabat dan birokrat karena moral yang sudah amat melekat, seperti, koruptor, curang, tidak perduli pada kesusahan rakyatnya.Keempat, kondisi ekonomi Indonesia.
F. Pendidikan Akhlak Kontekstual
Melihat problematika di atas, maka pendidikan akhlak dikatakan kontekstual ketika bisa mnejawab tantangan tersebut. Tentunya dengan tidak menafikan maksud hakikat pendidikan akhlak. Sehingga kontekstual tersebut bisa diukur dengan beberapa pertimbangan di bawah ini.
34
Pertama, sesuai dengan hakikat dan tujuan pendidikan akhlak. Menurut undang-undang RI tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan akhlak yang terkandung dalam pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.35 Yakni terwujudnya insan kamil. Sedangkan yang dimaksud insan kamil adalah individu-individu manusia, bukan kelompok, dan mampu menjangkau segenap hubungan dengan tuhan, lingkungan atau alam sekeliling dan dengan manusia lain dalam suatu kehidupan sosial yang konstruktif dan dengan dirinya sendiri.
Kedua, pendidikan akhlak yang bisa menjawab tantangan zaman sebagaimana problematika pendidikan akhlak di atas. Tujuan akhir pendidikan akhlak di era global adalah menyediakan SDM (Sumber Daya Manusia) yang memiliki mental untuk tidak hanyut diera globalisasi.
Melihat problematika di atas, maka pendidikan akhlak harus lebih diarahkan pada aspek sosial. Sehingga pendidikan akhlak tidak terlalu disibukkan dengan urusan formalitas sopan santun belaka, tapi juga perhatian terhadap problem sosial. Sedangkan pendidikan akhlak yang berorientasi pada penegakan moral harus mencakup beberapa komponen penting, diantaranya yaitu:
a. Pengembangan nilai-nilai demokratis
b. Pengembangan kehidupan kewargaan dan nilai-nilai komunitas c. Pengembangan pemerintahan yang bersih
d. Pembentukan identitas nasional
e. Pengembangan ikatan sosial dan kebhinnekaan f. Pengembangan kehidupan pribadi.36
Ketiga, Berkaitan dengan terciptanya insan kamil dan kebutuhan pendidikan akhlak, maka mata pelajaran akhlak harus dirancang dengan pertimbangan bisa memberi pengaruh pada tingkat perkembangan anak,
35
Tim Redaksi Fokusmedia,op.cit., hlm. 60. 36
Suyanto, Dinamika Pendidikan Nasional, dalam Percaturan Dunia Global, (Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2006), hlm. 145.
khususnya perkembangan moral. Walaupun fokus pendidikan akhlak lebih khusus pada perkembangan moral anak, namun perlu dicermati lebih dalam bahwa perkembangan berbagai aspek dalam diri anak itu saling berkaitan, sebagai contoh perkembangan fisik mempengaruhi perkembangan psikis, bertambahnya fungsi otak memungkinkan anak dapat tertawa, berjalan dan sebagainya.37 Hal ini sama dengan apa yang dimaksud kecerdesan menurut John Dewey, yaitu sesuatu yang menggambarkan tingkah laku manusia secara kompleks, meliputi hal-hal yang berkaitan dengan usaha penyelesaian suatu kesulitan permasalahan dengan situasi problematika hidup.38 Berarti perkembangan kecerdasan otak, emosi dan spiritual itu saling berkaitan. Terdapat kepribadian terpadu antara akal pikiran, perasaan, moral dan keterampilan (cipta, rasa dan karsa) jasmani maupun rohani.
Begitu juga mata pelajaran akhlak, materi-materi akhlak seperti sifat-sifat terpuji dan tercela juga berperan dalam membentuk mental anak. Sebagai contoh: salah satu akhlak kepada Allah mengenal sifat-sifat Allah seperti Al-khallaq, Al-Khaliq dan Al-Badi , materi ini bertujuan pula untuk menumbuhkan mental kreatif peserta didik karena keterangan dari sifat Al-Khaliq adalah kreatifitas (kesanggupan mencipta atau berdaya cipta) sebagai salah satu sifat Allah merupakan potensi yang ada dalam diri manusia. Contoh lagi, akhlak terpuji seperti toleransi, tanggung jawab dan peduli terhadap sesama dirasa dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan emosi anak.
Maka kurikulum pendidikan akhlak perlu kiranya dirancang sesuai standar pemenuhan kebutuhan perkembangan anak. Supaya pendidikan akhlak itu dapat mengena pada peserta didik, maka dibutuhkan konsep pendidikan akhlak yang tepat, karena pendidikan akhlak tidak seperti pendidikan lain yang bisa secara langsung dimonitoring pendidik. Sebelum anak didik berfikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak, serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, maka ada berbagai metode yang dapat
37
F.J. Monks. A.M.P. Knoers, Siti Rahayu Haditomo, Psikologi Perkembangan, Cet.14 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002), hlm. 2.
38
James Gounlod, John Dewey s, Philosophy of Value, (New York: Humanity Press, 1972), hlm. 278.
ditetapkan dalam pendidikan khususnya pada aspek khuluqiyah. Menumbuh-kembangkan pemahaman pendidikan akhlak serta mencari inovasi baru menuju tercapainya keberhasilan dalam menanamkan pendidikan akhlak.
Mengenai aspek kwowledge, penyusunan materi pendidikan akhlak menjadi urgen. Karena materi pendidikan akhlak mempunyai peran penting bagi tercapainya insan kamil. Menurut hemat penulis, minimal ada dua hal yang harus menjadi pertimbangan penyusunan materi pendidikan akhlak terlepas dari cara penyampaiannya, yaitu (1) dari sisi kemasan bahasa, (2) dari sisi isi materi. Standar isi yang dimaksud adalah memenuhi kebutuhan
knowledge dan berpengaruh bagi perkembangan anak. Dalam perkembangan individu dan karakteristik siswa memang memerlukan perlakuan yang berbeda-beda, karena ini merupakan bagian dari pengakuan eksistensi individu, oleh karenanya mutu pengajaran harus diarahkan pada pengaruh kepada siswa secara individual, namun secara umum materi yang dibutuhkan antara siswa satu dengan lainnya bisa disamakan tergantung jenjang usianya.
Dari aspek isi materi banyak pendapat mengenai idealitas isi materi pendidikan akhlak berkaitan dengan kebutuhan moral anak. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan untuk mengukur relevansi materi bagi perkembangan anak. Yang demikian adalah sebagai perwujudan insan kamil. Dari tulisan E. Shapiro Lawrence dalam bukunya,Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak, bisa disimpulkan bahwa kebutuhan materi moral anak harus mengandung unsur-unsur:
1. Perbedaan antara perilaku yang baik dan perilaku yang buruk .
2. Pengembangan kepedulian, perhatian dan rasa tanggung jawab atas kesejahteraan dan hak-hak orang lain.
Dari aspek perkembangan akhlak, anak usia 7-12 tahun konsep moralnya tidak lagi sesempit pada masa sebelumnya. Diantara alasan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan anak adalah karena anak ingin menegakkan kemandiriaanya atau bisa juga karena anak sering menganggap
peraturan tidak adil.39 Maka penyusunan materi pada tahap awal, anak diperkenalkan pada penalarannya tahap demi tahap.
Nilai-nilai hidup yang diperkenalkan juga harus merupakan realitas yang ada dalam masyarakat kita, karena sesuai dengan karakteristik perkembangan anak, masa ini adalah masa berakhirnya daya khayal dan mulai munculnya berpikir konkret.40 Pada tahap ini anak dalam masa tamyiz, yakni kemampuan awal membedakan baik dan buruk serta benar dan salah melalui penalarannya.
Selanjutnya pada masa amrad , yakni usia 10-15 tahun anak memerlukan pengembangan-pengembangan potensinya untuk mencapai kedewasaan dan bertanggung jawab secara penuh.41 Maka perlu menyusun pendidikan akhlak sesuai kebutuhan moral pada tahap umur anak. Karena masing-masing jenjang umur mempunyai tugas perkembangan dan karakteristik yang berbeda-beda. yang pasti harus bersifat sederhana (dasar) dan praktis yang dapat dilakukan oleh anak dan didasarkan pada kompetensi dasar anak.
39
Elisabeth B.Hurlock, Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (Jakarta: Erlangga, 2000), Edisi Ke-5, hlm. 163.
40
Muallifah,Psycho Islamic Smart Parenting, (Jogjakarta: Diva Press, 2009), hlm. 129. 41
Mohammad Fauzil Adim, Mendidik Anak Menuju Taklif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 16.
Di bawah ini adalah matriks materi dan metode pendidikan akhlak yang kontekstual dan sesuai tingkat perkembangan emosional,42 ini sebagai acuan menyusun materi pendidikan akhlak kaitannya dengan perkembangan emosional. Mengenai aspek religiusitas atau akidah tinggal disesuaikan.
Tabel Materi dan MetodePendidikan Akhlak yang Kontekstual dan Tingkat Perkembangan Emosionalnya
Tingkat
perkembangan manusia
Lingkungan
hidup Tingkatperkembangan
emosi-intelek Materi/nilai yang dididikkan Metode penyampaian dan pembiasaan
Balita Keluarga Konformis Nilai-nilai
(kelakuan, kerajinan, kerapian dan lain-lain) melekat pada contoh kelakuan ibu, ayah dan saudara. Ganjaran dan hukuman Anak -keluarga -masyarakat lokal -lingkungan sekolah
Konformis kritis Nilai-nilai (kelakuan, kerajinan, kerapian dan lain-lain) melekat pada idola dan tokoh ideal melalui legenda, mitos dan pahlawan. -teladan nyata -ganjaran dan hukuman -instruksi 42
Remaja -keluarga -masyarakat lokal -lingkungan sekolah -masyarakat nasional -kritis -oportunis -eksperimen nilai Nilai-nilai (kelakuan, kerajinan, kerapian dan lain-lain) dilihat dari kasus aktual, lingkup lokal dan nasional. -keteladanan nyata orang tua, guru dan pemimpin -diskusi Pemuda -keluarga -masyarakat lokal -masyarakat regional -masyarakat internasional -kritis reflektif -kritis emosional Nilai-nilai (kelakuan, kerajinan, kerapian dan lain-lain) dilihat dari: -kontekstual aktual -kasus-kasus sosial politik dan ekonomi dalam lingkup nasional dan internasio nal -individuali sasi -diskusi terbuka -Komparatif reflektif
G. Kontekstualisasi Kitab Kuning Akhlak terhadap Pendidikan Akhlak Kontekstual
Kitab kuning adalah kitab klasik berbahasa arab yang berisi tentang ilmu agama. Kitab klasik yang dipelajari di pesantren di Indonesia merupakan khazanah keilmuan Islam yang harus dilestarikan. Kitab klasik ini dalam istilah pesantren sering disebut kitab kuning. Pesantren sangat menghormati dan menghargai kitab kuning karena kitab klasik ini merupakan karya agung para ulama sholeh sejak dari periodetabi in.
Melestarikan kitab kuning berarti menjaga mata rantai keilmuan Islam. Memutuskan mata rantai ini, sama artinya membuang sebagian sejarah intelektual umat. Membaca karya ulama berarti menyerap keilmuan para pewaris Nabi. Secara umum, keberadaan kitab-kitab ini sesungguhnya merupakan hasil karya ilmiah para ulama di masa lalu.
Kitab kuning merupakan hasil kerja keras para sarjana Islam klasik yang menyimpan segudang jawaban atas permasalahan-permasalahan masa lalu. Sementara itu, di sisi lain kita adalah generasi yang hidup di ruang dan kondisi yang berbeda serta menghadapi peliknya problematika modern. Upaya yang dilakukan para pemikir bebas dalam merespon pernak-pernik modernitas sembari meninggalkan khazanah tradisional Islam tak lain hanyalah kecongkakan intelektual. Namun serta merta menjadikan kitab kuning sebagai pedoman yang sepenuhnya laku adalah tindakan yang kurang bijaksana, karena hanya Al-Quran dan Hadis-lah yang bersifat universal.
Untuk memahaminya memerlukan keterampilan tertentu dan tidak cukup hanya dengan menguasai bahasa Arab saja. Sehingga banyak ditemukan orang yang pandai berbahasa Arab namun masih kesulitan menjelaskan kandungan kitab kuning secara persis. Sebaliknya tidak sedikit ulama yang menguasai kitab kuning tetapi tidak bisa berbahasa Arab.
Sebenarnya kesulitan memahami kitab kuning yang keseluruhan isinya ditulis dengan bahasa Arab bisa saja dijembatani dengan