1 BAB 1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Komunikasi merupakan proses yang dilakukan oleh komunikator dalam memberikan stimulan baik dengan bahasa verbal ataupun non-verbal yang nantinya akan berakibat terhadap perubahan tingkah laku seseorang (Mr. Car I. Hovland). Kegiatan dalam berkomunikasi biasanya dilakukan anatara dua orang atau lebih dengan maksud untuk menyampaikan suatu pesan. Di dalam kehidupan sehari-hari komunikasi dapat berguna sebagai bentuk dari interaksi yang dilakukan dengan orang lain, yang sehingganya bisa menjadi cara untuk dapat mempengaruhi orang lain melalui informasi yang kita sampaikan.
Di dalam kehidupan sosial masyarakat saat sekarang ini banyak sekali dijumpai lapisan dan kelompok masyarakat yang saling melakukan pertentangan dalam berbagai hal, baik itu dalam memenuhi kehidupan sehari-hari maupun dalam melakukan interaksi sosial. (Latifianazalati, 2015) Pertentangan ini dapat terjadi karena ketidakmampuan kelompok masyarakat tersebut dalam menerima ketidaksamaan kelompoknya dengan kelompok lain, sehingga mengakibatkan ketidaksediaan kelompok tersebut dalam menerima ketidaksamaan kelompok lain. Ditambah lagi dengan keadaan negara Indonesia yang memiliki masyarakat yang majemuk dengan ditandai banyak nya keberagaman etnis dan budaya di Indonesia (Nasikun, 1985). Yang mana hal ini membuat masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu hal, baik itu pandangannya dalam melihat ataupun menilai sesuatu yang terjadi di dalam kelompok masyarakatnya.
Faktor yang sangat berpengaruh terhadap pandangan masyarakat kepada suatu objek tertentu dapat disebabkan melalui media massa. Dimana pada saat sekarang ini media massa telah menjadi suatu agen budaya dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena banyaknya masyarakat yang menjadikan media massa sebagai sarana komunikasi sentral.
Sehingga interaksi langsung anatara masyarakat sangat kurang dilakukan karena patokan masyarakat lebih banyak kepada media massa, baik itu dalam hal informasi, berita, ataupun fenomena yang ada di media massa. Oleh karena itulah banyak sekali masyarakat pada saat sekarang ini yang banyak memberikan pandangannya ataupun persepsinya terhadap suatu
2 fenomena berdasarkan penilaiaan nya dari informasi yang diterima secara mentah-mentah dari media massa.
Pandangan yang diberikan masyarakat terhadap suatu fenomena atau kejadian tertentu bisa bernilai positif ataupun negatif, tergantung kepada pendangan atau persepsi masyarakat itu sendiri.
Sehingga dapat dikatakan bahwa pandangan masyarakat terhadap suatu hal bersifat relatif, karena tidak ada standar baku yang dapat mengukur pandangan masyarakat tersebut akan selalu bernilai positif ataupun negatif. Dimana pada umumnya masyarakat yang sering memberikan atau mengeluarkan pandangannya terhadap suatu fenomena adalah dari kalangan perempuan. Karena di dalam kehidupan sehari-hari perempuan cenderung mempunyai konsep diri yang rendah yang disebabkan oleh persepsi nya kepada diri sendiri. Menurut William D. Brooks (Rahmat, 1996) konsep diri merupakan persepsi suatu individu terhadap diri sendiri, baik fisik, sosial, maupun psikologis yang mana hal ini didasarkan oleh pengalaman dan interaksi individu dengan individu lainnya. Sedangkan menurut Burn konsep diri merupakan bagaimana kesan seorang individu terhadap dirinya secara keseluruhan, baik itu mengenai pendapatnya terhadap diri sendiri dan orang lain, maupun tentang hal-hal yang ingin dicapai (Pudjijogyanti, 1991). Jika dilihat pada perkembangan zaman saat sekarang ini, maka akan banyak sekali ditemukan individu-individu yang memiliki kebiasaan untuk ikut campur terhadap suatu permasalahan seseorang melalui pandangan yang diberikannya terhadap permasalahan tersebut, khususnya dikalangan perempuan.
Biasanya ketika para perempuan telah berkumpul dengan suatu kelompok sosialnya, perempuan akan cenderung membahas dan membicarakan hal-hal yang mereka lihat dari lingkungannya atau hal-hal yang mereka dapatkan dari media massa. Dimana aktivitas seperti itu disebut dengan gosipping (bergosip). Gosip akan sering sekali dilakukan oleh perempuan khususnya bagi para ibu rumah tangga. Dimana mereka akan sering sekali memberikan pandangannya terhadap suatu individu atau terhadap lingkungan sosial nya melalui penilaiannya terhadap fenomena yang dilihatnya, tidak peduli apakah penilaian itu bersifat positif atau negatif. Pandangan-pandangan seperti ini disebut dengan stereotype.
Stereotype merupakan suatu hal yang mengacu kepada kebiasaan untuk mengembangkan serta mempertahankan suatu persepsi yang konstan atau tidak berubah terhadap suatu kelompok individu dan menggunakan persepsi yang seperti itu unuk menilai atau mengevaluasi kelompok individu tersebut dan bahkan mengabaikan suatu karakteristik individu yang memiliki sifat yang
3 unik (Mufid, 2012). Menurut penulis hal ini terjadi ketika banyak nya individu yang membuat suatu pendapat atau pandangan terhadap individu lain dan akan bertindak sesuai dengan pendapat atau pandangannya tersebut yang digunakan untuk menunjukan pendapat atau pandangan baik atau buruk kepada suatu kelompok individu.
Dalam kajian lain stereotype juga disebut sebagai suatu prasangka terhadap etnis yang ada dipemikiran seorang individu untuk menyederhanakan gambaran yang lebih luas terhadap suatu kelompok masyarakat dan diperkecil dalam pemikiran yang digambarkan di kepala saja. Yang maksudnya adalah bahwa suatu masyarakat akan lebih cenderung memberikan suatu prasangka terhadap sesuatu kelompok masyarakat sesuai dengan pemikiran yang ada di kepalanya, tanpa mempedulikan hal yang lebih kompleks dari suatu kelompok masyarakat tersebut. Menurut Lippman stereotype adalah suatu gambar yang ada dikepala yang merupakan hasil penggambaran kembali (rekonstruksi) dari keadaan lingkungan sosial pada kenyataanya. (Mufid, 2012)
Jadi dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa stereotype merupakan suatu penilaian yang dilakukan kepada seseorang hanya berdasarkan sebuah persepsi terhadap suatu kelompok dimana kelompok atau individu tersebut dapat dikategorikan. Dimana stereotype merupakan suatu jalan yang lebih cepat atau sederhana dalam pemikiran seorang individu yang terkadang bersifat intuitif (pemahaman yang dilakukan tanpa penalaran) dalam menyederhanakan suatu hal yang bersifat kompleks dalam mengambil suatu keputusan yang lebih cepat. Tak jarang juga stereotype ini dipandang sebagai suatu ejekan, angan-angan, dan tanggapan seorang individu terhadap kelompok yang di prasangkai. Atau secara singkatnya stereotype ini merupakan melakukan penilaian kepada seseorang berdasarkan penampilan luar orang tersebut.
Berbicara tentang stereotype maka ada sebuah penelitian yang menarik dilakukan oleh Robert Roenthal dan Leonare Jacobson di tahun 1968, yang mana ia melakukan penelitian mengenai pengaruh ekspektasi guru terhadap prestasi murid berdasarkan persepsinya dalam mengkategorikan murid tersebut. Namun pada penelitian ini, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana stereotype perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana kasus ini akan di bahas melalui sebuah film pendek karya Wahyu Agung Prasetyo yang berjudul “TILIK”. Tilik (menjenguk) merupakan sebuah film pendek yang dirilis pada tahun 2018 dengan durasi sekitar 30 menit. Film ini menceritakan tentang bagaimana sekelompok ibu-ibu rumah tangga (emak- emak) yang menggunakan hijab di dalam sebuah truk dari desa Batul yang hendak menjenguk bu
4 lurah dari desa tersebut yang sedang sakit. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit para ibuk-ibuk di dalam truck tersebut bergosip tentang seorang perempuan muda di desa tersebut yang sudah memiliki cukup umur untuk menikah, tetapi masih melajang. Dimana pembicaraan ini dimulai atau di buka oleh seorang ibuk yang di kenal dengan “Bu Tejo” dengan memberikan persepsi nya dengan menilai seorang perempuan muda yang bernama Dian sebagai perempuan yang tidak memilki moral. Film ini sangat menarik untuk dibahas dalam sebuah penelitian karena di dalam film ini dapat dilihat bagaimana stereotype perempuan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya perempuan Indonesia dalam memberikan persepsi dan mengeluarkan penilaian terhadap kehidupan individu lain. Yang mana di dalam film ini dapat dilihat bahwa tidak ada suatu standar yang baku untuk seorang individu dapat memberikan persepsinya kepada individu lain.
Selain itu di dalam film ini dapat dilihat bahwa seorang individu tidak bisa mengkategorikan individu berdasarkan pemikiran atau persepsinya. Yang mana individu tidak bisa berpersepsi serta mengkategorikan bahwa perempuan berhijab tidak akan melakukan kegiatan membicarakan orang lain berdasarkan apa yang dilihatnya dari luar. Yang di dalam film Tilik dapat dilihat dari karakter Bu Tejo yang sedang menggosipkan seorang gadis muda di desanya, dari karakter Bu Tejo juga dapat dilihat bagaimana sifat dari perempuan dalam kehidupan sehari- hari yang suka sibuk dengan urusan orang lain. Selain itu dari karakter tokoh Bu Tejo juga dapat dilihat bagaimana perempuan di dalam kehidupan sehari-hari dalam memberikan penilaian terhadap orang lain dan berusaha untuk mempengaruhi orang lain tersebut untuk ikut membenarkan penilaiannya. Dari sini dapat dilihat bagaimana stereotype perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa kebanyakan perempuan akan cenderung untuk memberikan suatu penilaian kepada individu lain hanya berdasarkan persepsinya terhadap individu tersebut dan berdasarkan apa yang dilihatnya melalui pemberitaan melalui internet yang selalu di anggap benar dan terpercaya. Seperti di dalam film Tilik yang dapat dilihat dari karakter Bu Tejo, yang mana ia sangat yakin dengan persepsinya dalam memberikan penilaian kepada Dian hanya berdasarkan apa yang dilihat nya melalui internet yang dijadikannya sebagai dasar penilaian nya terhadap Dian.
Yang mana dari karakter Bu Tejo dapat dibuktikan lagi bagaimana perempuan di dalam kehidupan sehari-hari yang selalu membenarkan pemberitaan melalui internet secara mentah-mentah tanpa memfilter setiap pemberitaan tersebut dan diadikan bahan pembicaraan atau dasar untuk menjudge seseorang dengan pelabelan yang tidak baik.
5 Dan dari film Tilik ini juga dapat dilihat bahwa penilaian yang di berikan terhadap seorang individu terhadap suatu objek yang sama (penilaian terhadap Dian) dapat bernilai positif ataupun negatif, hal ini tergantung dari bagaimana suatu individu memberikan persepsinya terhadap individu lain. Hal ini di buktikan dengan karakter Bu Yu ning di dalam film Tilik ini yang memberikan penilaian positif terhadap Dian dan selalu membantah atau mematahkan pembicaraan buruk Bu Tejo terhadap Dian. Namun karakter Bu Tejo selalu bisa mematahkan setiap pembelaan dari Bu Yu Ning terhadap Dian. Yang mana dari karakter Bu Tejo di film ini dapat dilihat bagaimana stereotype perempuan dalam kehidupan sehari-hari yang berusaha memberikan penilaiannya untuk menjatuhkan individu lain baik secara moral ataupun secara fisik. Satu hal yang menarik lagi dari karakteristik Bu Tejo terhadap stereotype perempuan di dalam kehidupan sehari-hari adalah bahwa persepsi yang diberikan seorang individu dalam menilai individu lain akan dijadikan sebagai pembanding dirinya dengan diri orang lain. Dan dari sini lah dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari Bu Tejo banyak sekali di temukan di tengah masyarakat khususnya pada perempuan saat ini. Meskipun stereotype yang dimiliki oleh setiap orang berbeda- beda, namun implementasi stereotype dari tokoh Bu Tejo yang merupakan perempuan yang berasal dari suku jawa dapat mewakili stereotype yang dimiliki oleh perempuan Indonesia pada umumnya. Yang dari film ini dapat dilihat stereotype perempuan dalam kehidupan seharu-hari dalam memberikan penilaian, pelabelan dan ejekan kepada individu lain berdasarkan pemikirannya dalam menyederhanakan sesuatu hal yang lebih kompleks dengan struktualisme yang berfokus pada bahasa verbal dalam kaitannya dengan budaya. Hal ini pun juga memperkuat stereotype gender pada kehidupan sehari-hari perempuan. Oleh karena itulah peneliti tertarik untuk mengetahui “ STEREOTYPE PEREMPUAN JAWA DALAM FILM PENDEK”.
1.2 Batasan dan Rumusan Masalah 1.2.1 Batasan masalah
Batasan masalah di dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui stereotype perempuan di dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan suatu objek baik melalui apa yang dilihat individu di lingkungannya maupun dari pemberitaan yang ada di internet yang kerap di anggap benar oleh banyak perempuan dengan karakter yang menjadi rujukan nya adalah karakter Bu Tejo di dalam film TILIK karya Wahyu Agung Prasetyo.
6 1.2.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Bagaimana makna dari karakter Bu Tejo di dalam film TILIK terhadap stereotype perempuan jawa dalam kehidupan sehari-hari
2. Bagaimana gambaran karakter Bu Tejo dengan menggunakan analisis semiotika dengan teori yang dikemukakan oleh Roland Barthes
3. Bagaimana hubungan analisis semiotika dengan teori Roland Barthes dengan mengambil berbagai sistem tanda seperti; substansi, batasan, gambar, gesture suara music dan objek.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dari penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
a. Untuk mengetahui bagaimana gambaran karakter Bu Tejo dengan menggunakan analisis semiotika dengan teori yang dikemukakan oleh Roland Barthes
b. Untuk mengetahui makna dari karakter Bu Tejo di dalam film TILIK terhadap stereotype perempuan dalam kehidupan sehari-hari
c. Untuk mengetahui bagaimana hubungan analisis semiotika dengan teori Roland Barthes dengan mengambil berbagai sistem tanda seperti; substansi, batasan, gambar, gesture suara music dan objek.
1.4 Manfaat penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai media untuk merealisasikan dan mengimplementasikan teori yang sudah di dapatkan di dalam perkuliahan dan untuk melihat implikasi nya terhadap kehidupan sehari-hari.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemabaca dalam melakukan penilaian terhadap persepsinya kepada suatu individu tanpa melihat sisi luar individu tersebut.
3. Sebagai referensi untuk peneliti yang akan melakukan penelitian di masa yang akan datang.