BAB II: STUDI
2.1. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja
Berdasarkan uraian KAK yang telah diberikan sebagai pedoman awal dalam perencanaan dan perancangan Museum Batik Indonesia, di Taman Mini Indonesia Indah. Ide Museum Batik sendiri berawal dari permasalahan Masyarakat Indonesia yang kurang berminat untuk menjaga dan melestarikan budaya bangsa sendiri. Batik merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia yang kurang mendapatkan perhatian. Karena minat masyarakat umum untuk mengunjungi Museum Batik sangat rendah.
Dengan Mewujudkan Pelestarian Warisan dan Identitas Budaya Bangsa Indonesia untuk Kesejahteraan Masyarakat. Maka Museum Batik Indonesia
menyajikan dan menginterpretasikan koleksi batik yang relevan dengan masa
kini untuk khususnya masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia pada
umumnya, serta mendidik masyarakat melalui koleksi batik, mengadakan
komunikasi antara masyarakat lokal, regional, nasional dan internasional
tentang batik sebagai warisan dunia tak benda dan mengkaji sejarah batik,
cara pembuatan, filosofi dan identitas melalui koleksi.
A. Lokasi Batik Museum Indonesia
Gambar 2.1. Batas tapak Museum Batik Indonesia di Kawasan TMII Sumber : KAK
1. Luas lahan yang akan di sayembarakan 6.451,25 m2, Berbatasan dengan Museum Keprajuritan, Museum Pusaka, Museum Serangga.
2. Gerbang utama menuju Museum diarahkan melalui space antara Museum Pusaka dan Museum Serangga.
3. Bangunan memiliki garis axis imaginer kea rah Tugu Api Pancasila.
4. Mobil service/karyawan masuk melalui jalan di belakang Museum Keprajuritan.
5. Parkir kendaraan karyawan diparkir di belakang Museum Batik (kurang lebih 10 mobil dan 30 motor)
B. Regulasi Yang Harus Dirujuk
1. Draft UDGL TMII dari Dinas Tata Ruang
2. SK Kebijakan tentang Bangunan di Area TMII : KDB, KLB, dan Ketinggian Lantai 3. Peraturan Bangunan untuk difabel / penyandang cacat
4. Disain Green Building Architecture 5. Mempergunakan mesin lift jika bertingkat
C. Sekuen / Alur Pengunjung Terkait Story Line
Museum Batik Indonesia mengandung substansi antara lain: Pusat Informasi, Promosi, Pengembangan dan Konservasi yang dirancang dengan
mempertimbangkan alur pengunjung, ditata secara apik, menarik, serta memenuhi kriteria sebuah karya arsitektur yang memenuhi gaya/langgam serta bentuk yang khas agar supaya kelak menjadi salah satukarya kebanggaan Bangsa Indonesia.
D. Jenis Peruntukan Ruang yang dibutuhkan (Interior Museum)
Ruang Penerima Utama
Area outdoor yang sedikitnya 70% dari luas tanah yang dirancang dimungkinkan untuk didisplay sebagai Museum Koleksi Outdoor antara lain 1. Grafis Nama Museum
2. Taman Khusus Terkait Pewarnaan Batik Alamiah 3. Area pengarah menuju Main Entrance
4. Area menuju drop off Tamu VVIP
5. Ada simulasi Prosesi pembuatan batik sederhana dari awal hingga akhir, termasuk perlengkapan fisiknya: sumur, alat untuk nglorot, medel termasuk canting tulis (canting klowong, cantik cecek, canting isen, cantik tembok), cap atau canting Cap, kwas, Lilin Batik (paraffin, microwash, lilin lebah, gondorukem) damar), kompor
6. Sculpture outdoor bertema ‗Batik‘
7. Peresapan Pengolahan Limbah Batik
Ruang Utama 1. Teras lobby 2. Lobby utama
Konsep suasana ruang : aroma was atau malam Pencahayaan boleh alami meliputi:
Area Informasi
- Receipsionist dan ticketing - Loker
- Ruang Tunggu (untuk 60 0rang)
- Pedestal untuk memajang award dan copy sertifikat pengakuan Unesco
- Ruang Security + CCTV Monitor
Art work khas Batik
TV wall tentang : Introduksi MBI
Substansi : sejarah batik, daerah unggulan batik, isi museum
Directory MBI
Dll
3. Hall Of Fame Batik indonesia
Adalah ruang perantara menuju ruang pamer utama dengan Pameran Khusus semacam Hall of Fame untuk memajang karya batik yang dikenakan tokoh/maestro Nasional dan Internasional , ataupun actor yang berdedikasi dalam perkembangan Batik Indonesia.
Catatan untuk MEDIA PAMER meliputi:
- Digital Print
- Lukisan (tokoh mengenakan batik dilukis realis) - Manequine
- Digantung - Digelar di vitrin - dll
4. Materi Hall Of fame Indonesia 5. Tokoh perbatikan Indonesia
1. Era Kolonial Kartini
2. Era Soekarno sebagai pencetus Batik Indonesia Go Tik Swan
Ibu Soed Terang Bulan 3. Era Soeharto
Iwan Tirta Ramli Obien 4. Era Gus Dur
Adji Notonegoro 5. Era Megawati 6. Era SBY
Komar Dudung Sapuan Cahyo
Carmanita 15
6. Tokoh dalam ‗balutan batik indonesia‘
a. Era Hindu-Budha - panel arca candi – media digital print b. Era Kolonial
Dodot era dinasti Mataram
Batik Pagi Sore, Hokokai dll Era Batik Belanda c. Era Soekarno
Batik Indonesia yang dikenakan Isteri-isteri Soekarno: Hartini (dikoleksi oleh ibu Ndari ) dan putri Soekarno (ibu Mega)
d. Era Soeharto
Batik Kembaran P Harto –Ibu Tien (sarimbit) Presiden Clinton
e. Era Gus Dur Batik Gus Dur f. Era Megawati g. Era SBY
Batik diatas tenun Nelson Mandela
7. Ruang Pamer Khusus Karya Maestro 8. Ruang Pamer Batik Karya Industri 9. Ruang Pamer Utama
Area Pamer Per-Daerah
a. Ruang Batik Jawa Barat: Batik Pasundan, Garut, Ciamis, Tasik Malaya, Indramayu, Banten, Cirebon, Kuningan, dan Bogor.
b. Ruang Batik Jawa Timur: Madura, Pacitan, Tuban, Sidoarjo, Ponorogo, Tulungagung.
c. Ruang Batik Jawa Tengah:
- Pesisir utara: Pekalongan, Tegal, Semarang, Kudus, Lasem, Rembang, Jepara
- Pedalaman: Wonogiri, Solo, Kelaten, Yogyakarta, Banyumas, Kebumen, Kutoharjo
d. Ruang Batik dari Luar Jawa: Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Lampung, Riau, Aceh, Kalbar, Kaltim, Bali, NTB, NTT, Toraja, Makassar, Gorontalo, Manado.
e. Konsep suasana ruang pamer, dengan pencahayaan buatan
f. Peralatan yang diperlukan:
1. Direktori / peta wilayah 2. Ruang Pamer Per-Daerah
3. Area Pajang ‗Pengantin‘ ala Daerah 10. Ruang audio visual (kapasitas 40 orang) 11. Ruang perpustakaan
12. Ruang penyimpanan koleksi 13. Ruang perawatan/konservasi 14. Ruang preparasi/study 15. Ruang duduk pengunjung 16. Ruang fasilitas pengunjung Toilet, Mushola, Ruang Menyusui
Ruang Penunjang
1. Auditorium Dengan Theater Style Tanpa Furniture (Black Box) Kapasitas 200 orang, backstage 50 orang.
2. Ruang teknisi (audio video dan lighting) 3. Free function room
4. Ruang Persiapan/ ruang ganti, toilet 5. Ruang Tamu VVIP dengan toilet khusus
6. Museum Shop (batik, buku tentang batik, batik kit, cinderamata batik) 7. Pojok Kafe
8. Ruang Demo dan Workshop harus semi terbuka Tidak disarankan rancangan menyerupai Bale Bengong, akan tetapi meng-eksplore desain / bentuk yang lainnya untuk memacu kreativitas dan karya- karya inovatif berbasis ‗Indonesia‘
9. Pantry/dapur
10. Ruang Interaktif Pengunjung
Art of Illusion agar pengunjung dapat berfoto tanpa berinteraksi dengan koleksi
11. Ruang Penyimpanan Koleksi (untuk 3.000 koleksi Batik, dipersiapkan untuk 10.000 batik) Ditempatkan pada lokasi terlindung dari sinar matahari langsung yang dapat dilihat oleh pengunjung. Ruang gudang koleksi dirancang sedemikia sehingga dapat juga disaksikan
pengunjung dari sebelah luar. Dimungkinkan dapat juga menjadi point view kafetaria dan ruang duduk.
12. Gudang Peralatan 13. Area kantor pengelola
a. Ruang pimpinan museum Ruang Kepala Museum Ruang Wakil Kepala Museum Ruang Tamu Pimpinan
Ruang Rapat Pimpinan
b. Ruang Dewan Pembina Museum Sedikitnya ada 6 ruang
Ruang Rapat Dewan Pembina c. Ruang Karyawan/Staff
1) Bidang Administrasi & Umum Sekretariat & Tata Usaha SDM Museum
Keuangan
Pelayanan Rutin Pengunjung Bangunan & Lansekap Security
2) Bidang Pengelolaan Koleksi Display Benda Koleksi Dokumentasi
Perpustakaan Restorasi
Preservasi & Penelitian Registrasi
3) Bidang Program Publik & Marketing Pendidikan dan Penyuluhan
Perancang Kegiatan (event)
Produksi Informasi Koleksi & Kegiatan Deseminasi Publikasi Museum
Promosi dan Canvasing Cinderamata
4) Ruang Tamu 5) Ruang Rapat 6) Ruang Makan Staf 7) Mushola
8) Toilet/shower 9) Ruang Janitor
10) Ruang Office Boy dan Cleaning service 11) Ruang Loading Dock
12) Area Parkir sepeda
E. Pembagian Ruang
Tabel 2.1. Pembagian Ruang
Ruang %
Permanent 40 %
Temporary Parmanent Display 4 % Visitor Facilities 6 % Curatorial/Conservation 13 %
Education 3 %
TemporayExhibition 8 %
Storage 20 %
Other Activity 6 %
100 %
Museum Batik Indonesia membutuhkan lahan berupa Taman yang nantinya akan ditanami berbagai tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pewarna alam.
2.2. Museum
2.2.1. Pengertian Museum
Pengertian museum menurut International Council of Museums (ICOM, 2004) adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh merawat, menghubungkan, dan memamerkan artefak- artefak perihal jadi diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan kenyamanan.
Menurut (Pasal 1 Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.
KM.33/PL.303/MKP/2004) Museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda material hasil
budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.
Museum merupakan suatu lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan dalam melayani masyarakat dan perkembangannya, yang memperoleh, mengawetkan, mengkomunikasikan, dan memamerkan barang- barang pembuktian manusia dan lingkungannya untuk tujuan pengkajian, pendidikan, dan kesenangan (Ensiklopede Nasional Indonesia, 1990).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan secara sederhana, museum adalah suatu tempat untuk memamerkan, menyimpan, merawat dan melindungi benda-benda bernilai sejarah manusia dan alam dengan tujuan sebagai sarana pendidikan dan kebudayaan.
2.2.2. Fungsi Museum
Menurut ICOM (International Council of Museums), fungsi museum ada 9, yaitu sebagai berikut :
1. Tempat pengumpulan dan pengamanan warisan budaya dan alam.
2. Tempat dokumentasi dan penelitian ilmiah.
3. Konservasi dan preservasi.
4. Media penyebaran dan penyerataan ilmu untuk umum.
5. Tempat pengenalan dan penghayatan kesenian.
6. Visualisasi warisan budaya dan alam.
7. Media perkenalan budaya antar daerah dan antar bangsa.
8. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia.
9. Pembangkit rasa bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan YME.
Tujuan museum secara umum menurut ICOM yaitu untuk memelihara, menyelidiki dan memperbanyak. Sedangkan secara khusus yaitu memamerkan kepada khalayak ramai guna pendidikan, pengajaran, dan penikmat akan bukti-bukti nyata berupa benda-benda- dari manusia dan lingkungannya.
2.2.3. Persyaratan Museum
Menurut J. De Chiara dan J.H. Callendar dalam Time Saver Standards for Building Types (1983), persyaratan untuk sebuah museum harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :
1. Pemilihan Tapak
Lokasi tapak tidak harus berada di pusat kota dengan pertimbangan sudah tersedianya jaringan dan fasilitas transportasi untuk mencapai suatu lokasi ke lokasi lainnya.
2. Ruang Servis
Pertimbangan jumlah luasan ruang yang diperlukan untuk kegiatan servis dan kegiatan penunjang lainnya. Penentuan kebutuhan ruang ini berkaitan dengan tujuan dan fungsi museum, sehingga kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya dapat berlangsung dengan baik.
3. Perencanaan Ruang Luar
Sebuah museum yang dibangun di lingkungan yang padat, seperti daerah pusat kota maupun luar kota, penataan ruangnya harus menciptakan suasana yang terlingkupi.
4. Penerangan Alami
Penerangan alami dari cahaya matahari memiliki aspek ekonomis yang tinggi, namun juga memiliki efek yang buruk. Karena itu, keberadaan penerangan alami harus ditata sedemikian rupa agar tidak ada lubang cahaya yang mengganggu.
5. Bentuk Ruang
Dalam mendesain sebuah museum perlu penataan ruang yang baik dan fleksibel. Hal tersebut disebabkan karena fungsi galeri yang temporer dan berubah tema dan isinya.
6. Pembagian Ruang
Pembagian ruang dalam museum ditujukan untuk memenuhi kebutuhan materi pameran, tentunya berkaitan erat dengan sistem penyinaran dan pemanfaatan penerangan alami.
7. Pintu Masuk
Di lokasi, pengunjung sudah diarahkan dan diberi pilihan-pilihan untuk menjelajahi ruang-ruang pamer yang ada. Penempatan pintu ini juga memudahkan pengawasan dan pelayanan terhadap pengunjung.
8. Ruang Pamer
Museum dengan dimensi dan bentuk ruang yang sama akan menciptakan kesan monoton. Dengan membuat variasi antara ketinggian plafon dan lebar rung, didukung dengan perbedaan warna dan bahan dari dinding dan
lantai akan membuat perhatian spontan dari pengunjung. Kesan monoton terjadi bila banyak ruang yang memiliki dimensi dan bentuk yang sama disusun dalam satu garis.
2.2.4. Kegiatan Dalam Museum
Secara garis besar kegiatan yang ada di museum adalah sebagai berikut : Pengumpulan koleksi, kegiatan ini antara lain operasi lapangan, pemotretan lapangan, pembuatan film dokumenter dan lain-lain. Penyimpanan dan pengelolaan koleksi, kegiatan ini antara lain penampungan, penyimpanan, penelitian dan penggandaan (reproduksi) (Sutaarga, 1989).
a. Preservasi
Meliputi kegiatan reproduksi, penyimpanan dan regestrasi.
Reproduksi, sebagai cadangan koleksi untuk menyelamatkan koleksi aslinya.
Penyimpanan, untuk penyelamatan koleksi asli dari faktor yang merugikan
Registrasi, merupakan pemberian dan penyusunan keterangan.
b. Observasi
Merupakan suatu penyelidikan benda-benda calon koleksi untuk disesuaikan dengan persyaratan kolaksi.
Penelitian baik luar maupun dalam (laboratorium)
Perawatan dan perbaikan untuk melestarikan benda koleksi c. Apsresiasi
Pendidikan, menunjang fungsi museum sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat yang bersifat non normal.
Rekreatif, museum sebagai objek rekreasi yang menyajikan hiburan edukatif.
d. Komunikasi
Pameran, ruang pamer merupakan sarana komunikasi antara masyarakat (pengunjung) dengan materi koleksi, yang dibantu dengan guide.
Pertemuan, antara perngelola dengan masyarakat sebagai penunjang kegiatan
Administrasi
2.2.5. Klasifikasi Museum
Berdasarkan (Pasal 2 Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.KM.33/PL.303/MKP/2004), museum dibedakan berdasarkan koleksi yang disimpan menjadi museum umum dan museum khusus.
Museum Umum ciri koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material hasil budaya manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi. Contoh museum umum adalah Museum Nasional di Jakart yang koleksinya mencakup kekayaan budaya dari seluruh pelosok Indonesia.
Museum Khusus ciri koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material hasil budaya manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang seni, satu cabang ilmu atau satu cabang teknologi. Contoh museum khusus adalah Museum IPTEK, Museum Serangga dan Kupu-kupu, Museum Reptil, Museum Air Tawar, dan berbagai museum lainnya di Taman Mini Indonesia Indah yang koleksinya terbatas pada tema tertentu
Berdasarkan (Sutaarga, 1999), klasifikasi museum dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang, antara lain :
1. Berdasarkan status hukum dan kepemilikannya, museum dapat dibagi menjadi :
a. Museum dengan status kepemilikan pemerintah b. Museum dengan status kepemilikan swasta
2. Berdasarkan ruang lingkup wilayah, tugas dan status hukum pendirian serta tujuan penyelenggaraan (kedudukannya), museum dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Museum Nasional b. Museum Lokal
Museum Provinsi
Museum Kabupaten
Museum Kotamadya
Dalam Penggolongannya Museum Umum Negeri Provinsi dibagi 3;
1. Museum Umum Negeri Provensi Tipe A, yaitu Museum Umum Negeri yang tergolong besar.
2. Museum Umum Negeri Provinsi Tipe B, yaitu Museum Umum Negeri yang tergolong sedang.
3. Museum Umum Negeri Provinsi Tipe C, yaitu Umum Negeri yang tergolong kecil.
2.3. Tata Pameran Museum
2.3.1. Pengertian Pameran Museum
Menurut (Mikke Susanto, 2004), sebuah pameran adalah suatu bentuk media penyimpanan informasi, gagasan dan perasaan kepada masyarakat, melalui bentuk penataan benda-benda 2D dan 3D dengan atau tanpa sarana pembantu pada suatu ruang, bias ruang tertutup atau terbuka.
2.3.2. Perencanaan Pameran
Dalam mempersiapkan penyelenggaraan pameran museum diperlukan sarana pendukung yang memadai dan menarik (Sunarso, 2000), antara lain :
1. Panel, Papan untuk menempelkan koleksi, foto-foto, lukisan, label, peta, benda-benda pipih dan sebagainya.
2. Vitrine / Showcase (lemari panjang), mewadahi benda-benda yang dipamerkan. Bisa berupa vitrin dinding atau yang berada di tengah ruang.
Ukurannya disesuaikan dengan ruang yang akan ditempati.
3. Box (kotak) dan Voot stuck (box kaki), untuk menempatkan koleksi diluar vitrin , agar tidak terkesan tergeletak begitu saja.
4. Stage, alas benda koleksi berupa panggung untuk menempatkan koleksi yang besar atau kelompok koleksi, bisa dilengkapi dengan penutup kaca.
2.3.3. Penataan Pameran
Menurut (Ernst Neufert, 2000) penataan objek koleksi memertimbangkan beberapa hal, diantaranya :
1. Jenis-jenis objek koleksi dan tema pameran
2. Kenyamanan visual, kenyamanan pandangan tersebut meliputi :
Kenyamanan pola pengamatan
Kenyamanan pandang
Menurut (Dean, 1996) ada tiga alternatif pendekatan dalam mengatur sirkulasi alur pengunjung dalam penataan ruang pamer sebuah museum :
a. Alur yang disarankan (suggested)
Keberhasilan pendekatan ini bergantung pada kemampuan elemen ruang dalam mengarahkan pengunjung untuk melalui jalur yang sudah disiapkan karena pengunjung masih diberi kesempatan untuk memilih jalur sesuai keinginannya.
Gambar 2.2. Denah pendekatan alur pengunjung dalam pameran (alur yang disarankan) Sumber : Dean, David. 1996. Museum Exhibition: Theory and Practice. New York: Routledge
b. Alur yang tidak berstruktur (unstructured)
Dalam pendekatan ini, pengunjung tidak diberikan batasan gerak dalam ruang, mereka bebas bergerak tanpa adanya alur yang harus diikuti.
Biasanya pendekatan ini digunakan dalam sebuah galeri seni.
Gambar 2.3. Denah pendekatan alur pengunjung dalam pameran (alur yang tidak berstruktur) Sumber : Dean, David. 1996. Museum Exhibition: Theory and Practice. New York: Routledge
c. Alur yang diarahkan (directed)
Pendekatan seperti ini bersifat kaku karena mengarahkan pengunjung untuk bergerak dalam satu arah sesuai alur yang sudah direncanakan.
Gambar 2.4. Denah pendekatan alur pengunjung dalam pameran (alur yang tidak berstruktur) Sumber : Dean, David. 1996. Museum Exhibition: Theory and Practice. New York: Routledge
2.3.4. Jenis Pameran
Menurut (Sutaarga, 1999) Pameran dimuseum dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
1. Pameran Tetap
Merupakan pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu sekurang- kurangnya 5 tahun. Untuk museum khusus, pameran harus dapat menggambarkan suatu aspek tertentu dari sejarah alam, budaya, wawasan nusantara atau teknologi.
2. Pameran Temporer
Pameran temporer dibagi menjadi 2 yaitu :
Pameran Khusus
Pameran Keliling
2.3.5. Persyaratan Ruang Pamer
Menurut (Pickard, 2002), sebuah pameran museum atau gallery terdiri dari ruang pamer permanen dan ruang pamer temporer dalam bentuk dan ukuran yang berbeda. Ruang pamer temporer dapat memperkuat dan memperluas ruang pamer permanen dan memberikan kesempatan benda pamer yang biasanya tersimpan di dalam ruang penyimpanan.
Pedoman dasar merancang ruang pamer :
Dinding : permukaan dinding harus padat dan dilindungin oleh bahan yang mudah untuk diperbaiki secara langsung. Material harus berpori sehingga dapat membantu mengontrol kelembaban ruang pamer dengan menyerap dan melepaskan kelembaban.
Lantai : tenang, nyaman, menarik, awet, dapat merefleksi cahaya, dan mampu menahan beban berat. Biasanya kayu, batu, dan karpet merupakan material yang cocok untuk lantai pada ruang pamer.
Objek pamer : yang terpenting, setiap benda harus ditempatkan di tempat yang memiliki sudut pandang yang tepat dengan pencahayaan yang cukup.
Setiap objek harus diberikan konteks visual. Penyajian informasi tentang masing-masing objek harus di buat dalam konteks strategi informasi keseluruhan seperti surat, penjelasan, nama, dll.
Bentuk media pamer : tampilan media pamer dapat menjadi sangat penting dalam bagian hiasan museum. Masalah bentuk dan tampilan harus di pertimbangkan seperti, latar belakang, yang sangat penting bagi media pamer dan ruang pamer serta objek lain disekitarnya. Media pamer juga harus di desain untuk berbagai macam aspek akses pemeliharaan termasuk objek lain didalamnya seperti pencahayaan, perlengkapan kelembabab, serta media pamer itu sendiri.
Gambar 2.5. Cara memamerkan media pamer Gambar 2.6. Cara memamerkan media pamer Sumber : The architect’s handbook Sumber : The architect’s handbook
Penghawaan : tidak ada acuan yang mutlak tentang kontrol pemanasan dan kelembaban. Pengontrolan koleksi tertentu tergantung pada keadaan museum dan kondisi sebelum objek-objek tersebut disimpan.
a. Suhu, adalah faktor paling sedikit penyebab kerusakan lingkungan tapi penting dalam mengontrol tingkat kelembaban. Suhu rendah dapat menolong dalam mengurangi pembusukan secara kimiawi dan biologis, tapi suhu yang di inginkan sering di atur oleh permintaan kenyamanan manusia yang harusnya tidak boleh lebih dari 19°C.
b. Tingkat kelembaban, adalah faktor yang lebih penting dari suhu didalam suatu konservasi, semakin tinggi kelembaban, maka semakin besar resikonya. Kondisi kering dapat menghambat terjadinya korosi, namun bahan organik seperti kayu dan tekstil dapat menyusut dan mungkin
menjadi rapuh. Dalam kondisi masal, korosi terjadi pada beberapa material yang tidak stabil, dan kebanyakan material organik beresiko diserang oleh serangga dan jamur. Beberapa jamur dapat menyebar dalam tingkat kelembaban serendah 60%, tapi yang benar-benar berbahaya bermulai pada tingkat 75%. Umumnya tingkat kelembababan yang dapat diterima untuk objek yang sensitif dan halus adalah 55,5%.
Fluktuasi jangka pendek pada tingkat kelembaban secara khusus dapat merukan artefak-artefak. Kebanyakan artefak akan lebih aman jika di tempatkan pada ruangan dengan kelambaban 45%-60%.
Pencahayaan : biasanya tampilan pencahayaan bertujuan untuk menyajikan pameran secara akurat dalam hal seluruh objek dan rinciannya serta membuat tampilan objek menjadi lebih menarik. Umumnya hal ini membutuhkan combinasi dari lingkungan dan aksen pencahayaan.
Sehingga lampu mendapatkan tampilan warna yang baik . faktor-faktor yang harus diprtimbangkan dalam mendesain tampilan skema pencahayaan adalah :
1. Secara psikologi : bagaimana pameran terlihat, persepsi tentang bangunan, suasana dalam ruang publik, rute pencahayaan, dll.
2. Secara fisiologis : pencahayaan, kontras, relektansi cahaya, efisiensi, keseragaman, kesilauan, warna, dan degradasi foto.
Tingkat pencahayaan yang di anjurkan : - Kantor, 300 (lux)
- Ruang auditorium, area tempat duduk 300 (lux), area pertunjukan 600 (lux)
- Ruang pamer, 500/ 300/ 100 (lux) - Workshop, 200/ 500/ 750 (lux) - Area sirkulasi 200 (lux)
- Toko 600 (lux) - Toilet 150 (lux)
Gambar 2.7. Teknik pencahayaan pameran Sumber : The architect’s handbook
2.3.6. Elemen Pengisi Ruang pamer
Menurut (Dean, 1996), yang menjadi pengisi ruang dalam pameran selain benda koleksi adalah sarana yang digunakan untuk menampilkan benda koleksi tersebut. Manusia juga dapat dikatakan sebagai pengisi ruang karena ruang dibuat untuk manusia berkegiatan didalamnya. Sarana untuk menampilkan benda koleksi menyesuaikan dengan sifat benda yang ingin ditampilkan untuk menonjolkan kualitas benda yang diinginkan. Berikut adalah beberapa dasar bentuk sarana untuk menampilkan koleksi benda dalam museum :
a. Vitrine
Kata Vitrine berasal dari bahasa perancis kuno vitre yang berarti lembaran kaca. Vitrine merupakan kotak kaca tempat untuk menyimpan benda koleksi yang tidakboleh disentuh secara fisik oleh dunia luar. Vitrine menjamin keamanan koleksinya tanpa membatasi pengunjung untuk mengamati benda koleksi didalamnya. Bentuk Vitrine disesuaikan dengan kebutuhan dimensi benda koleksi dan dimensi manusia yang akan mengamatinya sehingga bentuk dan letaknya pun dapat beragam.
b. Panel
Panel merupakan sebuah bidang yang dapat terletak di tengah ruangan sebagai pembatas atau melekat pada dinding. Panel tidak selalu berupa bidang persegi yang kaku tetapi panel dapat berupa bidang lengkung yang menarik. Panel dapat digunakan sebagai sekat ruang, papan informasi atau sarana memamerkan benda koleksi.
c. Panggung atau kotak alas
Benda koleksi yang dipamerkan di atas lantai yang ditinggikan atau diletakkan diatas kotak yang berfungsi sebagai panggung bagi benda tersebut, memberikan keleluasaan bagi pengunjung dalam mengamatinya.
Bentuk tampilan ini tidak memberikan perlindungan dari debu terhadap benda koleksi, tetapi tetap berusaha menghindari kemungkinan pengunjung menyentuh benda. Perbedaan ketinggian yang ada secara tidak langsung memberikan batasan secara visual. Untuk mencegah pengunjung berdiri terlalu dekat dengan panggung dan bersandar padanya, bisa diletakkan pagar pembatas disekelilingnya.
Gambar 2.8. Kebiasaan pengunjung untuk duduk atau bersandar
Sumber : Dean, David. 1996. Museum Exhibition: Theory and Practice. New York: Routledge
Elemen pengisi ruang perlu diatur agar sesuai dengan dimensi manusia karena jika manusia merasa tidak nyaman saat mengamati benda tersebut maka proses penerimaan informasi tidak akan berjalan dengan baik. Sebagai contoh, tinggi letak benda disesuaikan dengan tinggi mata manusia rata-rata sehingga pengunjung tidak perlu mendongak atau menunduk yang membuat badan cepat lelah dan tidak nyaman.
Gambar 2.9. Tinggi benda dan jarak vertikal yang nyaman untuk melihat
Sumber : Dean, David. 1996. Museum Exhibition: Theory and Practice. New York: Routledge
2.3.7. Perencanaan Pameran
Menurut (Mikke Susanto, 2004), sebuah pameran adalah suatu bentuk media penyimpanan informasi, gagasan dan perasaan kepada masyarakat, melalui bentuk penataan benda-benda 2D dan 3D dengan atau tanpa sarana pembantu pada suatu ruang, bias ruang tertutup atau terbuka.
2.4. Tinjauan Koleksi Museum
2.4.1. Pengertian Koleksi
Menurut (Sutaarga, 1999), koleks adalah benda atau kumpulan benda yang berguna bagi suatu cabang kesenian, disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikumpulkan, dirawat, dipelihara, diteliti, dikaji dan dikomunikasikan serta dipamerkan sebagai bukti material dari manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan hiburan.
2.4.2. Persyaratan Koleksi
Berdasarkan (ICOM, 2004), persyaratan koleksi museum antara lain :
1. Koleksi museum haruslah mempunyai nilai sejarah dan ilmiah, serta nilai estetika.
2. Dapat diidentifikasikan wujudnya (morfologi), tipenya (tipologi), gayanya (style), fungsinya, maknanya, asalnya secara historis, geografis genus (orde biologi), ataupun periodenya (dalam geologi khususnya untuk benda- benda sejarah alam dan teknologi).
3. Harus dapat dijadikan dokumen, sebagai bukti kenyataan dan kehadirannya (realitas dan ekstensinya) bagi penelitian ilmiah.
4. Dapat dijadikan suatu dokumen atau cikal bakal monumen dalam sejarah alam atau budaya.
5. Merupakan benda asli.
2.4.3. Jenis Koleksi
Menurut (Sutaarga, 1989) jenis koleksi museum terdiri dari benda- benda realita, replica, reproduksi, miniatur, diorama dan hasil abstraksi.
Berdasarkan wujud keaslian dan jenisnya, koleksi museum dapat digolongkan seperti;
a. Arkeologika b. Historika c. Naskah
d. Keramik Asing
e. Buku/ Majalah Antikuariat f. Karya Seni dan Senikrika g. Benda Grafika
h. Diorama
i. Benda Sejarah Alam, berupa Flora, Fauna, batuan dan mineral j. Replika
k. Miniatur
l. Koleksi Hasil Abstrak
2.4.4. Perawatan Koleksi
Menurut (Sutaarga, 1989), beberapa faktor yang dapat merubah kondisi atau keutuhan koleksi dan dapat menjad gangguan, bahkan mengakibatkan kerusakan pada berbagai benda koleksi museum, antara lain suhu dan kelembaban udara, iklim, pencemaran udara, cahaya, serangga, mikroorganisme, penanganan koleksi, pencemaran atmosferik, bahaya api dan sebagainya.
2.4.5. Pengamanan Dalam Museum
Menurut (Soekono, 1996), pengamanan museum dapat dikelompokkan menjadi :
1. Pengamanan umum melalui tata kerja dan tata ruang
Pengamanan lebih pada benda-benda koleksi yang disimpan di ruang koleksi. Koleksi yang sedang digunakan biasanya mendapat perhatian khusus sehingga keamanannya lebih terjamin. Tidak demikian dengan koleksi yang ada di ruang penyimpanan. Ruang penyimpanan sangat luas dan jumlah koleksinya banyak, jumlah petugasnya kurang memadai, sedangkan pemeriksaan harus dilakukan secara rutin.
Pengamanan melalui tata ruang dapat dilakukan dengan merencanakan hubungan antar ruang penyimpanan dengan bagian bangunan lainnya agar tidak memudahkan terjadinya pencurian atau perusakan oleh tangan jahil. Pengunjung ke ruang penyimpanan harus diantar oleh petugas kurator dan harus melalui ruang registrasi yang merupakan ruang pengawasan.
2. Pengamanan terhadap pencurian dan tangan jahil
Ada 2 jenis alat pengamanan yang sebaiknya digunakan di seluruh bangunan.
Alat yang dimaksud, yaitu :
a. Sistem Perlindungan Sekitar (Perimeter Protection Systems)
b. Sistem Perlindungan Dalam (Interior Protection Systems)
Kedua alat diatas banyak pua ragamnya. Bagi museum yang telah memiliki sistem alarm, dapat melengkai dengan peralatan dibawah ini, yaitu :
Sensor pemberitahuan apabila kaca pecah (Glass Breaking Sensors)
Kamera Pemantau (Photoelectronic Eyes) / perangkat CCTV, mengkap dan menampilkan gambar yang diteruskan ke monitor.
Perangkat CCTV ini terdiri dari camera, monitor, video recorder, control processor.
3. Pengamanan terhadap kebakaran
Pengamanan terhadap kebakaran umumnya tidak dapat diperbaiki, sehingga sedapat mungkin bencana ini dapat dicegah. Mengenai kebakaran itu sendiri diadakan pembagian tingkat sesuai dengan penyebabnya :
Tingkat satu, disebabkan oleh terbakarnya bahan kertas, tekstil, kayu dll.
Tingkat dua, disebabkan oleh terbakarnya bahan seperti minyak, bahan pelumas, cat, cairan yang mudah terbakar, dll.
Tingkat Tiga, disebabkan oleh adanya konsleting pada alat-alat listrik.
pemasangan alat pendeteksi dan pemadam kebakaran, sangat membantu dalam menanggulangi kebakaran sedini mungkin. Ada 2 macam sistem pendeteksi :
Pendeteksi panas (Thermal Detector)
Pendeteksi asap (Smoke Detector)
Alat pemadam kebakaran terdapat dalam berbagai bentuk dengan karakteristik bahan pemadam api dan sistem pemadam yang berbeda, yaitu :
Sistem penyemprotan (Sprinkler System)
Sistem pemadam dengan gas (Gas System)
Tabung pemadam api (Portable Fire Extinguisher)
Pengamanan didalam ruang penyimpanan
4. Pengamanan ini biasanya luput dari perhatian , sebab proses perusakan terjadi dengan memakan waktu atau proses yang cukup lama. Beberapa bentuk pengamanan yang dapat dilakukan di dalam ruang penyimpanan adalah sebagai berikut :
Pengaturan terhadap suhu dan kelembaban udara
Pencahayaan/ penerangan
2.5. Tinjauan Umum Batik
2.5.1. Pengertian Batik
Menurut SNI (Standar Nasional Indonesia) Batik adalah ―Bahan tekstil hasil pewarnaan secara perintangan dengan menggunakan lilin batik sebagai zat perintang, berupa batik tulis, batik cap, dan batik kombinasi tulis & cap‖.
Menurut Djumena (1990:IX) Seni batik adalah salah satu kesenian khas Indonesia yang telah ada sejak berabad-abad lamanya hidup dan berkembang, sehingga merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah budaya bangsa Indonesia.
2.5.2. Sejarah Batik
Ada dua pandangan mengenai sejarah asal-usul batik di Indonesia.
Pandangan pertama mengenai asal-usul batik berasal dari luar, yang dalam hal ini batik bukan asli kebudayaan Indonesia adalah pendapat dari G.P. Rouffaer memaparkan bahwa seni batik yang ada di Indonesia berasal dari India yang dibawa oleh orang-orang Kalingga-Koromandel (India) yang beragama Hindhu ke Jawa pada abad 4 M, sebagai akibat dari adanya kontak perdagangan. Perkembangan batik dari Kalingga- Koromandel berjalan sampai pada periode pengaruh Hindhu berakhir, yaitu pada jaman kerajaan Daha di Kediri. Sudarsono mengatakan bahwa warna batik klasik yang terdiri dari tiga warna (coklat identik dengan merah, biru identik dengan hitam dan kuning atau coklat muda identik dengan warna putih), ketiga warna ini mempunyai alegori sesuai dengan tiga konsep dewa Hindhu yaitu Trimurti. Menurut Kuswadji Kawindrosusanto menuturkan bahwa, warna coklat atau merah merupakan lambang Dewa Brahma atau lambang keberanian, biru atau hitam merupakan lambang Dewa Wisnu atau lambang ketenangan, dan kuning atau putih lambang dewa Siwa. Hal ini menunjukkan peran orang-orang India (Hindhu) dalam keberadaan batik di Indonesia. Sementara itu, Pigeaut mencatat, bahwa perihal pembuatan
batik tidak disebut-sebut dalam naskah-naskah Jawa pada abad XIV, kemungkinan batik pada waktu itu diimpor secara langsung dari India.
Pandangan kedua mengganggap bahwa seni batik memiliki akar sejarah yang sangat kuat di Indonesia, yakni batik merupakan kebudayaan asli Indonesia (cultural Identity). Dr. J.L.A. Brandes dalam teorinya ―Brandes ten is point‖ menempatkan batik sebagai kebudayaan pra-sejarah yang sejaman dengan kebudayaan seperti gamelan, wayang, syair, barang- barang dari logam, pelayaran, ilmu falak dan pertanian. Wirjosaputro , menyatakan bahwa bangsa Indonesia sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan India telah mengenal aturan-aturan menyulam untuk teknik membuat kain batik, industri logam dan penanaman padi. Temuan teknik membuat batik semakin menguatkan betapa batik sudah menjadi milik kebudayaan Indonesia jauh sebelum bersentuhan dengan India. Di tinjau dari desainnya batik India mencapai puncaknya pada abad XVII M sampai XIX M, sedangkan di Indonesia batik mencapai puncaknya pada abad XIV M sampai XV M, selain itu juga motif-motif seperti kawung, ceplok dan cinde tidak terdapat di Kalingga-Koromandel (India).(www.wikipedia.com)
2.5.3. Jenis Dan Corak Batik
a. Jenis Batik
Berbagai macam batik dapat dijumpai di Indonesia. Apabila ditinjau dari cara dan teknik pembuatannya, batik dapat dibedakan menjadi batik tulis, batik cap dan batik kombinasi tulis dan cap.
(http://indonesia.gunadarma.ac.id/batik/index.php?option=com_conten t&view=article&id=206&Itemid=29)
Batik Tulis
Batik tulis adalah jenis batik yang dihasilkan melalui pemberian malam pada kain dengan menggunakan alat yang benama canting. Canting terbuat dari tembaga yang berbentuk seperti corong untuk menampung malam (lilin batik) dan mempunyai lubang pada salah satu sisinya yang berupa pipa kecil sebagai saluran keluarnya malam.
Canting tulis terdiri dari berbagai jenis dan ukuran yang disesuaikan dengan fungsinya. Karena batik ini ditulis maka bentuk gambar atau desain batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas sehingga tampak
luwes. Setiap potongan gambar yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. (lihat gambar 2.11)
Batik Cap
Batik cap adalah batik yang dihasilkan dengan cara membasahi salah satu permukaan bagian cap dengan malam yang kemudian dicapkan pada kain. Cap tersebut membentuk rangkaian motif atau corak. Motif atau corak batik cap selalu ada pengulangan yang jelas sehingga bentuknya sama. Garis motif mempunyai ukuran yang lebih besar dari batik tulis dan proses pembuatan batik cap lebih cepat dibandingkan dengan proses pembuatan batik tulis. (lihat gambar 2.12)
Gambar 2.10. Pembuatan batik tulis Gambar 2.11. Pembuatan Batik Cap Sumber :www.google.com Sumber :www.google.com
b. Corak Batik
Batik pedalaman (batik tradisional)
Batik corak pedalaman (tradisional) adalah motif batik yang berkembang di daerah sekitar Surakarta Hadiningrat (Solo) dan Yogyakarta Hadiningrat (Yogya) seiring dengan berpindahnya pusat pemerintahan Jawa dari Demak ke Pajang/Mataram. Meskipun batik init hanya didominasi oleh corak warna putih, coklat, dan hitam, namun motifnya sudah mengalami perkembangan yang sangat beragam. Berikut ini adalah beberapa motif batik pedalaman. (lihat gambar 2.13)
Batik pesisiran
Batik pesisiran yaitu batik yang berkembang diluar keraton.
Pertumbuhan pesisir jawa bagian timur dimulai sejak masa pra islam abad ke 15 M dan 16 M. Orientasi pengembangan seni batik pesisiran
juga dipengaruhi oleh budaya keraton yang saait itu menjadi pusat pemerintahan.
Dalam sejarah batik pesisir, seperti batik pekalongan, batik tegal, batik indramayu, dan batik cirebon. Pilihan warna yang mencolok pada batik pesisiran dipengaruhi warna keramik pada masa dinasti Ming yang hanya diproduksi pada abad ke – 17 M sampai abad ke – 18 M.
Warna yang dominan selain warna biru dan putih juga berbagai warna. (lihat gambar 2.14)
Batik kontemporer
Batik kontemporer berarti memiliki makna batik masa kini yang proses penciptaannya lebih banyak dibuat oleh para seniman batik atau desainer batik itu sendiri. Motif-motif yang dipilih bergaya bebas tidak terikat oleh bentuk-bentuk sebelumnya yang terikat oleh aturan atau acuan pembuatan batik. Teknik pembuatan batik kontemporer itu sendiri cenderung seperti apa yng dilakukan oleh seorang pelukis, tidak terikat pada canting yang biasa digunakan dalam proses pembuatan batik.
Menurut S.priyadi (1979), batik kontemporer cenderung berpola bebas. Biasanya motif yang dipilih mengambil dari bentuk-bentuk seni primitif seperti bntuk-bentuk patung manusia, hewan, alam tumbuh- tumbuhan, roh, dan bentuk-bentuk abstrak. (lihat gambar 2.15).
Gambar 2.12. Batik Pedalaman Gambar 2.13. Batik Pesisir Sumber : www.batikwarnanusantara.blogspot.com Sumber : www.google.com
Gambar 2.14. Batik Kontemporer
Sumber : www.denmaspriyadi.blogspot.com
2.5.4. Alat Dan Bahan Pembuatan Batik
Dibawah ini merupakan alat dan bahan pembuatan batik tulis dan batik cap : A. Alat dan bahan pembuatan batik tulis adalah :
(http://www.kianibatik.com/news/21/Bahan-bahan-pembuatan-Batik-Tulis) : 1. Kain Mori
Mori adalah bahan baku batik dari katun atau sutra. kwalitas mori bermacam- macam, dan jenisnya sangat menentukan baik dan buruknya kain batik yang dihasilkan.(lihat gambar 2.16)
2. Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk mengambil cairan. canting untuk membatik terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya.(lihat gambar 2.17)
3. Gawangan
Gawangan adalah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori sewaktu dibatik. gawangan terbuat dari bahan kayu atau bamboo.(lihat gambar 2.18)
4. Bandul
Bandul dibuat dari timah atau kayu dan bata yang dikantongi. fungsinya adalah untuk menaruh mori yang baru dibatik agar tidak mudah tergeser tertiup angin, atau tarikan si pembatik secara tidak sengaja.
5. Lilin (malam yangdicairkan)
Lilin atau malam adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik, sebenarnya malamtidak habis, karena akhirnya diambil kembali pada proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain.
Malam untuk membatik bersifat menyerap pada kain.(lihat gambar 2.19) 6. Wajan
Wajan adalah perkakas untuk mencairkan ―Malam‖. Wajan dibuat dari logam baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari pengapian tanpa pakai alat lain.
7. Kompor
Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor ini bahan bakar minyak.
8. Saringan Malam
Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas yang banyak kotorannya. Jika malam disaring, maka kotoran dapat dibuang sehingga tidak mengganggu dalam proses membatik.
Gambar 2.15. Kain Mori Gambar 2.16. Canting Sumber : www.google.com Sumber : www.google.com
Gambar 2.17. Gawangan Gambar 2.18. Lilin Malam Sumber : www.google.com Sumber : www.google.com
b. Alat dan bahan pembuatan batik cap
Berikut ini merupakan alat dan bahan pembuatan batik cap antara lain: (http://www.kriyalea.com/cara-membuat-batik-cap/). Bila pada batik tulis, proses pembuatannya memakai canting, maka pada batik cap, proses pembuatannya memakai alat yaitu stempel besar yang terbuat dari tembaga yang sudah di desain dengan desain tertentu.
Dimensi yang digunakan adalah 20cmx20cm. Selebihnya, peralatan dan bahan yang dibutuhkan tidak jauh beda dengan perlengkapan membuat batik tulis seperti :
1. Kain mori 2. Malam 3. Kompor 4. Gawangan 5. Bandul 6. Wajan
7. Pewarna alami
2.5.5. Proses Pembuatan Batik
Adapun tahan/proses membatik adalah sebagai berikut : A. Pembuatan batik tulis
1. Pencucian mori : tahap pertama adalah pencucian kain mori untuk menghilangkan kanji, dilanjutkan dengan pengloyoran (memasukkan kain ke minyak jarak/ minyak kacang dalam abu merang/ londo agar kain menjadi lemas), dan daya serap terhadap zat warna lebih tinggi.
Agar susunan benang tetap baik, kain kanji kemudian dijemur, selanjutnya dilakukan pengeplongan (kain mori dipalu untuk menghaluskan lapisan kain agar mudah dibatik).
2. Menyorek/ mola : pola diatas kain dengan cara meniru pola yang sudah ada (ngeblat). Contoh pola biasanya dibuat diatas kertas dan kemudian dijiplak sesuai pola diatas kain. Proses ini bisa dilakukan dengan membuat pola diatas kain langsung dengan canting maupun dengan menggunakan pensil. Agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan bagus atau tidak pecah, perlu mengulang batikan di kain sebaliknya. Prosesnya ini disebut gagangi.
3. Membatik/ nyanting : menorehkan malam batik ke kain mori yang dimulai dengan nglowong (menggambar garis luar pola dengan isen- isen). Didalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek yaitu membuat isian di dalam pola yang sudah dibuat, misalnya titik-titik. Adapula istilah nruntum yang hampir sama dengan isen-isen namun lebih rumit. Lalu dilanjurkan dengan nembok (mengeblok bagian pola yang tidak akan diwarnai atau akan diwarnai dengan warna yang lain).
4. Medel : pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang kali hingga mendapatkan warna yang dikehendaki.
5. Ngerok dan Nggirah : malam pada kain mori dikerok dengan lempengan logam dan dibilas dengan air bersih, kemudian diangin- anginkan hingga kering.
6. Mbironi : menutup warna biru dengan isen pola berupa cecek atau titik dengan malam.
7. Nyoga : pencelupan kain untuk memberi warna coklat pada bagian- bagian yang tidak ditutup malam.
8. Nglorot : melepaskan malam dengan memasukan kain ke dalam air mendidih yang sudah dicampuri bahan untuk mempermudah lepasnya lilin. Kemudian dibilas dengan air dan diangin-anginkan.
B. Pembuatan batik cap
1. Kain mori diletakkan diatas meja dengan alas dibawahnya menggunakan bahan yang empuk.
2. Malam direbus hingga suhu 60-70 derajat celcius.
3. Cap dicelupkan ke malam yang telah mencair tadi tetapi hanya 2 cm saja dari bagian bawah cap.
4. Kemudian kain mori di cap dengan tekanan yang cukup supaya rapih. Pada proses ini, cairan malam akan meresap ke dalam pori- pori kain mori.
5. Selanjutnya adalah proses pewarnaan dengan cara mencelupkan kain mori yang sudah di cap tadi kedalam tangki yang berisi cairan pewarna.
6. Kain mori direbus supaya cairan malam yang menempel hilang dari kain.
7. Proses pengecapan>pewarnaan>penggodongan diulangi kembali jika ingin diberikan kombinasi beberapa warna.
8. Setelah itu, proses pembersihan dan pencerahan warna dengan menggunakan soda.
9. Penjemuran, kemudian disetrika rapih.
2.5.6. Cara Perawatan Batik
Setelah proses pembuatan batik, berikut ini merupakan cara untuk merawat batik. Cara ini dapat dari beberapa sumber saat survey, adalah : 1. Kain batik jangan dicuci menggunajan dtergen, shampoo, atau pembersih
tekstil yang mengandung bahan kimia. Bahan-bahan tersebut akan merusak dan memudarkan warna kain. Sebaiknya untuk mencuci gunakan buah lerak sabun cair yang terbuat dari buah lerak. Buah ini berguna untuk mneguatkan dan memelihara warna kain agar tetap cemerlang. Gunakan air hangat saat merendam kain batik, dan rendam selama 5 menit sambil hilangkan bagian yang kotor secara perlahan.
2. Batik yang sudah dicuci dan dibilas, jangan dikeringkan dengan cara diperas. Ini akan menyebabkankain kusut dan sulit rapi walaupun sudah disetrika.
3. Menjemur batik cukup dengan cara diangin-anginkan, tidak perlu sampai terkena sinar matahari secara langsung karena akan memudarkan warna kain batik.
4. Simpan kain batik secara terpisah dengan jenis kain lainnya. Bau akar wangi atau rempah-rempah segar seperti cengkeh dan merica utuh, untuk mengusir ngengat atau semut yang sering mengigiti kain batik.
5. Sebulan sekali keluarkan batik dari dalam lemari penyimpanan. Buka lipatannya, kibas-kibaskan untuk menghilangkan debu juga mungkin ngengat yang sudah terlanjur hinggap. Kemudian, angin-anginkan selama 1 jam. Bersihkan lemari penyimpanan dan ganti alas lemari. Gunakan kertas roti sebagai alas lemari, bukan kertas koran yang tintanta bisa merusak motif batik.
6. Agar kain batik senantiasa harum, sebulan sekali ratus dengan akar wangi.
Buat bara api dengan menggunakan akar wangi, kemudian masukkan ke dalam sangkar ayam, lalu bentangkan kain batik diatasnya. Biarkan 35 menit.
2.6. Arsitektur Kontemporer
2.6.1. Sejarah Arsitektur Kontemporer
Arsitektur kontemporer atau sebut saja dengan gaya pada masa ini buat sebuah seni bangunan, mulai berkembang pada 1940-1980an. Pada masa ini sendiri dapat kita artikan sebagai sesuatu nan serba modern atau up to date . Itu menandakan sebuah perubahan desain nan selalu berusaha menyesuaikan dengan waktu dan eranya. Dalam hal ini nan dimaksud ialah hunian. Hunian bergaya pada masa ini biasanya akan menjadi desain nan lebih maju, variatif, fleksibel, dan inovatif.
Perubahan desain itu diiringi oleh perubahan bentuk, tampilan, jenis material, proses pengolahan, atau pun teknologi nan dipakai buat meramu sebagal bentuk gaya baru tersebut. Artinya, arsitektur pada masa ini itu ialah sebuah desain nan menampilkan gaya baru dalam segala aspeknya.
Arsitektur pada masa ini menyajikan konsep dan gaya kekinian atau istilahnya modern . Biasanya desain arsitektur lebih kompleks dan inovatif. Ada banyak cabang nan mencirikan modern nan biasanya masuk juga ke dalam
―kontemporer‖. Misalnya saja kita mengenal : 1. Dekonstruksi,
2. Post modern, atau 3. Modern high tech.
Meski ―kontemporer‖ sendiri dapat masuk pada tingkah laku manusia itu sendiri. Akan tetapi semuanya merujuk pada sebuah konsep hunian. Di Indonesia sendiri, arsitektur pada masa ini dipengaruhi oleh arsitektur pada masa ini asing.
Karya-karya arsitektur pada masa ini Indonesia memiliki kecenderungan dengan karya Mies van de Rohe, Marcel Breuer, Le Corbusier, dan Charles Eames.
Kesemuanya ialah arsitek-arsitek nan karyanya masuk ke dalam gaya kontemporer.
Pengaruh itu terjadi sebab sebagian besar karya mereka ini masuk ke dalam konteks negeri tropis, dan itu sangat cocok dengan iklim di Indonesia.
2.6.2. Kontemporer
Salah satu konsep yang terdapat didalam sekian banyak konsep lainnya yaitu konsep kontemporer. Dalam pengertian kali ini kontemporer dalam konsep arsitektur dapat diartikan sebagai "suatu desain yang lebih maju, variatif, fleksibel, dan inovatif, baik secara bentuk maupun tampilan, jenis material, pengolahan material, bentuk asimetris maupun teknologi yang digunakan dan menjadi trand pada tahun-tahun terakhir. Desain yang kontemporer menampilkan gaya yang lebih baru. Gaya lama yang diberi label kontemporer akan menghsilkan suatu desain yang lebih segar dan berbeda dari keiasaan. Kontemporer menyajikan kombinasi gaya seperti, modern kontemporer, klasik kontemporer, etnik kontemporer, dan lainnya.
"(Sumber ; www.wahana-arsitektur-indonesia.blogspot.com dalam http://www.academia.edu/7864144/ARSITEKTUR_KONTEMPORER)
Seni kontemporer yang lahir setelah era seni modern sangat mewakili kekinian baik dalam konsep maupun produk akhir yang dihasilkan. Para seniman atau arsitek yang menggeluti konsep kontemporer ini menuangkan ide dan konsep modern dalam karya-karya mereka serta menggabungkan antara idealisme dan trend yang diyakininya. Arsitektur kontemporer bisa juga dikatakan dengan istilah arsitektur non-vernakular dimana konsep kontemporer ini sangat memaksimalkan
penggunaan produk atau material yang baru non-lokal secara aspiratif, inovatif dan memiliki resiko yang tinggi.
( sumber http://studioideal.wordpress.com/2013/09/27/arsitektur-kontemporer/ dalam http://www.academia.edu/7864144/ARSITEKTUR_KONTEMPORER)
"Untuk menciptakan suatu desain kontemporer yang unik perlu diperhatikan harmonisasi bentuk, warna, dan material yang digunakan didalam suatu bangunan agar terkesan menyatu". konsep kontemporer ini ingin menyajikan sesuatu yang baru bagi orang-orang yang telah jenuh dengan sesuatu yang "biasa". ( sumber : www.anneahira.com).
Arsitektur ini dikenali lewat karakter desain yang praktis dan fungsional dengan pengolahan bentuk geometris yang simple dan warna-warna netral dengan tampilan yang bersih. Dalam desainnya banyak diterapkan penggunaan bahan- bahan natural dengan kualitas tinggi seperti sutera, marmer dan kayu.
Untuk desain interiornya, misalnya lantai, ditampilkan dengan kesan ringan melaui penggunaan keramik putih, lantai batu atau kayu atau penggunaan karpet berwarna lembut dan simple. Pengolahan dinding dengan warna-warna netral (krem, putih bersih dan abu-abu) atau diolah unfinished dengan media semen plester atau bata ekspos. Untuk penutup jendela banyak ditemui penutup dari jenis blinds atau tirai yang simple. Furniture pun tampil dengan bentuk fungsional dan praktis dengan banyak mengeksplorasi dari kayu, kaca, kulit, krom, stainless steel dan besi.
2.6.3. Kesimpulan Tentang Arsitektur Kontemporer
Arsitektur kontemporer lahir akibat perkembangan zaman yang menuntut perubahan, perubahan dalam penciptaan sebuah karya arsitektur. Keberadaannya timbul dari rasa ketidakpuasan arsitek terhadap teori-teori yang mengekang arsitektur itu sendiri. Arsitektur kontemporer memiliki sifat untuk selalu berkembang seiring perkembangan zaman yang diikutinya. Seperti contoh: arsitektur tradisional yang menuntut pelestarian dari arsitektur itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa arsitektur tradisional akan tetap bertahan tanpa adanya perubahan akibat dari usaha pelestariannya itu. Untuk arsitektur kontemporer akan terus berkembang dan berubah sesuai zaman. Hal itulah yang menjadi perbedaan mendasar dari arsitektur kontemporer dengan langgam arsitektur lainnya di dunia arsitektur.
2.7. Studi Banding (Museum Batik Pekalongan)
Gambar 2.19. Eksterior Museum Batik Pekalongan Sumber : www.google.com
Museum Batik Pekalongan merupakan salah satu museum pemerintah yang didirikan pada hari Selasa, tanggal 12 Juli, jam 12.00 WIB dan diprakarsai oleh oleh Drs. Woerjanto selaku Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah, dengan mendapat persetujuan dari Kepala Daerah Tingkat II Kotamadya Pekalongan (Tim Penyusun Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan, 1996:6). Museum Batik tersebut dikategorikan sebagai museum kota/
kabupaten atau museum lokal, karena benda koleksinya hanya memamerkan batik- batik serta alatalat dalam pengerjaannya tersebut dan batik merupakan ciri khas dari daerah Pekalongan.
Museum Batik merupakan salah satu museum yang ada di Pekalongan, apabila dilihat dari jenisnya maka termasuk dalam jenis museum khusus, karena dalam museum tersebut mengoleksi benda-benda yang berupa jenis kain batik, khususnya dari daerah Pekalongan dan alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan batik tersebut. Apabila dilihat dari kedudukannya termasuk jenis museum lokal, sebab museum tersebut terletak di Daerah Tingkat II Pekalongan dan benda
koleksinyapun banyak mewakili jenis batik daerah Pekalongan, walaupun ada jenis batik dari daerah lain. Jika dilihat dari penyelenggaranya termasuk dalam Museum Pemerintah. Sebab pengelolaan museum Batik tersebut dikelola oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan (Depdiknas, 2000:25).
Museum memiliki ruang pameran tetap, perpustakaan, ruang administrasi dan antara lain mengoleksi sejumlah kain kuno yang sangat luhur dan tinggi nilainya itu dimaksudkan untuk melestarikan dan mengenalkan produk atau seni batik, baik masa silam maupun masa yang akan datang. Dari kondisi tersebut pengunjung memperoleh penghayatan bahwa batik memang bukan sekedar kain hasil dari suatu proses pengerjaan. Sebab kenyataannya batik yang dikoleksi dalam museum itu juga mencerminkan hasil karya seni adi luhung yang mesti dijaga kelestariannya.
Kegiatan kerajinan batik ini telah dikerjakan dan dihayati oleh masyarakat Pekalongan sejak jaman dulu, sehingga dapat disimpulkan bahwa kerajinan batik di Pekalongan sudah mereka lakukan sejak jaman penjajahan Belanda dan mungkin sejak jaman Mataram.
Bagan 2.2. Kronologi Sejarah Berdirinya dan Perkembangan PengelolaanMuseum Batik Kota Pekalongan
Adapun awalnya lokasi lama gedung museum adalah di komplek Taman Hiburan Rakyat Kotamadya Pekalongan. Berhubung belum tersedianya dana, maka gedung museum tersebut disediakan oleh Pemerintah Daerah yang sebenarnya gedung tersebut berfungsi sebagai Shooping Room pada bagian depan, dan untuk museum pada bagian belakang. Koleksi museum merupakan koleksi pinjaman dari pengurus dan pengusaha batik di Pekalongan, karena terbatasnya dana.
Luas tanah gedung Museum Batik Pekalongan 510 m2
Luas bangunan gedung : 90 m2
Luas ruang pameran : 81 m2
Luas ruang jaga : 4,5 m2
Luas toilet : 2,25 m2
Luas ruang gudang : 2,25 m2
Gedung Museum Batik yang baru berada di komplek Sekertariat Kotamadya Pekalongan, diantara jajaran gedung perkantoran sepanjang Jalan Majapahit. Areal taman parkir di museum tersebut masih terbatas untuk kendaraan roda dua, sehingga masih membutuhkan areal parkir yang memadai.
1. Lokasi Museum
Lokasi Museum Batik Pekalongan beralamatkan di Jln. Majapahit (komplek Kantor Sekretaris Daerah Kota Pekalongan). Lokasi ini mudah dijangkau dari mana saja, karena semua angkutan kota di Pekalongan melewati depan gedung Museum Batik.
Lokasi yang strategis menjadikan museum mudah dikenal dan bagi masyarakat yang ingin mengunjungi
museum dapat dengan mudah untuk mencapainya.
2. Arsitektur Bangunan
Bangunan yang baik untuk museum adalah bangunan yang dapat memenuhi keinginan pemakai, sehingga bentuk atau motif bangunan museum juga harus disesuaikan koleksi yang ada didalamnya. Model bangunan Museum Batik berbentuk Joglo, sehingga sangat serasi dengan benda-benda koleksi yang ada di dalamnya.
Karena batik merupakan salah satu warisan budaya Jawa.
a. Denah
Keterangan:
A : Bangunan gedung Museum B : kamar tidur penjaga
C : Gudang D : Toilet
: Batas Tanah
Sumber : Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan
b. Ukuran Denah :
1. Luas tanah gedung Museum Batik Pekalongan 510 m2 (30m x 17m).
2. Ruang A (ruang pameran) : 81 m2 (9m x 9m).
3. Ruang B (ruang penjaga) : 4,5 m2 (3m x 1,5m).
4. Ruang C (ruang gudang) : 2,25 m2 (1,5m x 1,5m).
5. Ruang D (ruang toilet) : 2,25 m2 (1,5m x 1,5m).
3. Koleksi yang berupa peralatan teknis, antara lain:
1. ATBM/ Alat Tenun Bukan Mesin
2. Anglo 3. Canting
4. Jodhi/ tempat untuk mencelup warna 5. Wajan kecil
6. Tempat lorot
7. Gawangan/ seleregan 8. Lilin (bahasa jawa=malam)
(Tim Penyusun Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan, 1996:12).
4. Sarana dan Prasarana yang memadai sekaligus pendukung guna kelancaran kegiatan di Museum Batik, antara lain:
1. Bangunan utama (ruang pameran tetap dan pameran temporer) yang dapat memuat benda-benda koleksi yang akan dipamerkan, yang merupakan bangunan penerima yang memiliki daya tarik sebagai bangunan pertama yang dikunjungi oleh pengunjung museum.
2. Pintu masuk utama untuk keluar masuk pengunjung museum.
3. Adanya area parkir yang memadai, sehingga pengunjung dapat dengan mudah untuk memarkirkannya. Tempat parkir di Museum Batik masih terbatas hanya untuk kendaraan roda dua (lihat gambar 3).
4. Adanya kamar ruang untuk penjagaan dan kamar tidur penjaga.
5. Gudang untuk menyimpan benda-benda yang tidak terpakai.
6. Adanya kamar mandi/ toilet untuk pengunjung .
Gambar 2.20. Denah Museum Batik Pekalongan Sumber: www.google.com
Gambar 2.21. Ruang Pamer
Sumber: www.google.com
Gambar 2.22.Perpustakaan Gambar 2.23. Audio Visual Sumber: www.google.com Sumber: www.google.com
2.8. Studi Banding (Museum Tekstil, Tanah Abang)
Gambar 2.24. Peta Makro Museum Tekstil Sumber : google map
Beralamat di Jl. Aipda KS. Tubun No.2-4 Tanah Abang Petamburan, Jakarta Barat 10260 Indonesia. Museum Tekstil menempati gedung tua di Jalan K. S. Tubun / Petamburan No. 4 Tanah Abang, Jakarta Barat. Museum Tekstil Jakarta didirikan pada tahun 1976 sebagai hasil dari upaya bersama, dipelopori oleh Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Ini didirikan untuk menghormati Ibu Tien Soeharto (Istri Presiden Soeharto) yang diresmikan pada tanggal 28 Juni 1976.
Gambar 2.25.Eksterior Museum Tekstil Sumber : www.google.com
Gambar 2.26. Denah Gedung Utama
Gambar 2.27. Interior Gedung Utama Sumber: Data Pribadi, 2015
Gambar 2.28. Gedung Galeri Batik Sumber: Data Pribadi, 2015
Gambar 2.29. Denah Gedung Galeri Batik
Gambar 2.30. Interior Galeri Batik Sumber: Data Pribadi, 2015
R.Pamer Galeri Batik R.Informasi
R.Penyim -panan Koleksi
2.9. Studi Banding (Museum Tsunam, Aceh)
Gambar 2.31. Museum Tsunami, Aceh Sumber: www.google.com
Museum Tsunami Aceh adalah museum untuk mengenang kembali peristiwa tsunami yang maha daysat yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih kurang 240,000 orang. Dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yang sekaligus merangkap panitia. Di antaranya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai penyandang anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai penyandang anggaran perencanaan, studi isi dan penyediaan koleksi museum dan pedoman pengelolaan museum, Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang NAD yang membantu penyelenggaraan sayembara prarencana museum.
Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil.
Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, atapnya membentuk
gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.
Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.
Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk "bukit pengungsian" bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.
Museum ini memiliki 3 fungsi : 1. Wahana Edukasi
2. Memorial Building 3. Escape Building
Model bangunnya sesuai dengan rancangan pemenang dalam sayembara, M. Ridwan Kamil, dosen arsitektur Institute Teknologi Bandung (ITB) dengan ide bangunan; Rumoh Aceh as Escape Hill.
Desainnya, lantai pertama museum merupakan ruang terbuka, sebagaimana rumah tradisional orang Aceh. Selain dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik, jika terjadi banjir atau tsunami lagi, maka air yang datang tidak akan terhalangi lajunya.
Tak hanya itu, unsur tradisional lainnya berupa seni Tari Saman diterjemahkan dalam kulit luar bangunan eksterior. Sedangkan denah bangunan merupakan analogi dari epicenter sebuah gelombang laut tsunami Tampilan eksterior museum mengekspresikan keberagaman budaya Aceh melalui pemakaia ornamen dekoratif unsur transparansi elemen kulit luar bangunan, seperti anyaman bambu. Sedangkan tampilan interiornya mengetengahkan sebuah tunnel of sorrow yang menggiring pengunjung ke suatu perenungan atas musibah dahsyat yang diderita warga Aceh sekaligus kepasrahan dan pengakuan atas kekuatan dan kekuasaan Allah dalam mengatasi sesuatu.
Fungsi dari Museum Tsunami, yaitu :
1. Sebagai objek sejarah, dimana museum tsunami akan menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami.
2. Sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami.
3. Sebagai warisan kepada generasi mendatang di Aceh dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi tsunami.
4. Untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia terletak di ―Cincin Api‖ Pasifik, sabuk gunung berapi, dan jalur yang mengelilingi Basin Pasifik.
Wilayah cincin api merupakan daerah yang sering diterjang gempa bumi yang dapat memicu tsunami.
Desain Museum Tsunami ini mengambil ide dasar dari rumoh Aceh atau rumah panggung Aceh sebagai contoh kearifan arsitektural masa lalu dalam merespon tantangan dan bencana alam. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.32. Gambar Ilustrasi terjadi peristiwa tsunami Gambar 2.33. Gambar Rumah Aceh Sumber: www.google.com
Terlihat, jika Museum Tsunami ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat Aceh untuk berlindung dari bahaya gelombang tsunami. Selain itu, bangunan ini juga dapat menjadi iconic building di Aceh, sehingga dapat dikatakan sebagai bangunan anti-tsunami (antitsunami building).
Gambar 2.34. Konsep Habluminnallah dan Habluminannas Sumber: www.google.com
Dalam islam dikenal habluminnallah dan habluminnannas. Tanda panah ke atas itu menggambarkan habluminnallah atau hubungan dengan Allah. Hal tersebut dapat dilihat pada ―The light of God‖, sebuah ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya ke atas tersebut dan terdapat lafal ―Allah‖ dipuncaknya serta nama para korban yang ada dinding sumur silinder. Hal ini sangat mengandung nilai- nilai religi yang merupakan cerminan Hablumminallah (konsep hubungan manusia dan Allah). Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah adalah maha Pencipta sekaligus maha segala-galanya, oleh sebab itu kita sebagai umat manusia diingatkan jika di
atas kita itu masih ada sang Pencipta sehingga kita harus menjaga hubungan baik dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Gambar 2.35. The light of God Sumber: www.google.com
Sedangkan tanda panah ke samping itu menggambarkan habluminannas atau hubungan antar umat manusia. Hal tersebut diterapkan pada kulit bangunan eksterior. Dimana ukiran kulit bangunan tersebut mengadopsi dari tari saman yang menurut sang arsiteknya melambangkan kekompakan dan kerja sama antar manusia Aceh. Fletcher (1961:14-23), ―Konsep yang menganggap bangunan sebagai monument dari sejarah tertentu sebenarnya bukan pemikiran yang baru sehingga bentuk frame ini bukan dari sesuatu yang baru atau imajjinasi si perancang melaikan mengangkat kembali dari unsu-unsur budaya yang ada.‖
Motif di dinding museum tsunami aceh ini simbol tari saman. Simbol kekompakan, hubungan harmonis antar sesama manusia.
Dalam pembuatan Museum Tsunami ini juga dirancang untuk menggambarkan hubungan itu sendiri. Hal tersebut dapat dilihat pada saat teragedi tsunami, dimana para korban dengan rasa ikhlas dan tetap beribadah kepada Allah dalam menghadapi musibah ini serta saling menolong dalam keadaan yang sama- sama ditinggal sanak saudara dengan membantu menguburkan korban-korban tsunami Aceh.