111 BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri dan Swasta Se-Surakarta, Provinsi Jawa Tengah yang membuka program keahlian akuntansi. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018. Penentuan lokasi penelitian ini didasarkan pada nilai akreditasi dan angka partisipasi sekolah.
Penentuan dengan dasar nilai akreditasi dikarenakan bahwa nilai akreditasi menunjukkan tingkat pengendalian dan penjaminan mutu satuan pendidikan (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013, pasal 2 ayat 2).
Jadi sekolah yang memperoleh nilai akreditasi dengan kategori unggul “A” dapat dikatakan memiliki mutu yang baik. Selain itu, penentuan dengan dasar angka partisipasi sekolah dikarenakan bahwa angka tersebut menunjukkan peluang terbukanya akses pendidikan untuk masyarakat umum (https://sirusa.bps.go.id/index.php?r=indikator/view&id=10, diakses pada 27 Agustus 2018). Jadi kabupaten/kota yang memiliki angka partisipasi sekolah tinggi menunjukkan masyarakat yang menempuh pendidikan di tempat tersebut sangat banyak.
Berdasarkan pemaparan tersebut, berikut satuan pendidikan yang memperoleh nilai akreditasi “A” dan angka partisipasi sekolah SMK Negeri dan Swasta yang membuka program keahlian akuntansi di Provinsi Jawa Tengah:
Tabel 3.1 Daftar Nilai Akreditasi “A” dan Angka Partisipasi Sekolah SMK Program Keahlian Akuntansi di Provinsi Jawa Tengah.
No. Kabupaten/Kota
SMK Program Akuntansi
Angka Partisipasi
Sekolah Jumlah
Keseluruhan
Jumlah Perolehan Akreditasi
“A”
Persentase Akreditasi
“A”
1 Kab. Cilacap 45 6 13.33 74.71
2 Kab. Banyumas 30 10 33.33 71.73
3 Kab. Purbalingga 13 3 23.08 67.51
No. Kabupaten/Kota
SMK Program Akuntansi
Angka Partisipasi
Sekolah Jumlah
Keseluruhan
Jumlah Perolehan Akreditasi
“A”
Persentase Akreditasi
“A”
4 Kab. Bnjr Negara 11 3 27.27 54.4
5 Kab. Kebumen 29 7 24.14 80.32
6 Kab. Purworejo 19 4 21.05 77.79
7 Kab. Wonosobo 32 2 6.25 51.22
8 Kab. Magelang 13 2 15.38 67.24
9 Kab. Boyolali 12 3 25.00 57.73
10 Kab. Klaten 25 11 44.00 75.8
11 Kab. Sukoharjo 11 3 27.27 81.03
12 Kab. Wonogiri 26 5 19.23 73.11
13 Kab. Kar. Anyar 9 4 44.44 81.47
14 Kab. Sragen 9 2 22.22 77.72
15 Kab. Grobokan 22 0 0.00 59.21
16 Kab. Blora 30 3 10.00 60.11
17 Kab. Rembang 6 0 0.00 60.97
18 Kab. Pati 10 3 30.00 68.63
19 Kab. Kudus 6 3 50.00 75.74
20 Kab. Jepara 8 3 37.50 62.74
21 Kab. Demak 19 2 10.53 61.76
22 Kab. Semarang 6 0 0.00 71.09
23 Kab. Tmnggung 8 2 25.00 65.89
24 Kab. Kendal 18 5 27.78 67.77
25 Kab. Batang 13 1 7.69 64.48
26 Kab. Pekalongan 20 2 10.00 55.41
27 Kab. Pemalang 40 3 7.50 56.01
28 Kab. Tegal 36 4 11.11 62.39
29 Kab. Brebes 37 3 8.11 56.68
30 Kota Magelang 8 2 25.00 83.3
31 Kota Surakarta 14 7 50.00 86.48
32 Kota Salatiga 7 2 28.57 85.27
33 Kota Semarang 36 9 25.00 83.56
34 Kota Pekalongan 4 1 25.00 66.08
35 Kota Tegal 7 0 0.00 65.57
Sumber: https://datapokok.ditpsmk.net/ dan
https://jateng.bps.go.id/subject/28/pendidikan.html#subjekViewTab3, diakses pada 27 Agustus 2018
Berdasarkan tabel 3.1 di atas tentang daftar nilai akreditasi dan angka partisipasi SMK Program Keahlian Akuntansi di Jawa Tengah menunjukkan bahwa SMK yang membuka Program Keahlian Akuntansi di Kota Surakarta memperoleh nilai
akreditasi “A” paling banyak di antara Kabupaten/Kota lain yaitu sebesar 50%.
Selain itu, Kota Surakarta menjadi rujukan untuk menempuh pendidikan bagi masyarakat ditunjukkan dengan nilai angka partisipasi sekolah paling besar di antara Kabupaten/Kota lainnya yaitu 86,48%.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018. Berikut jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.2 Jadwal Penelitian
Jenis Kegiatan
Tahun 2017 Bulan -
Tahun 2018 Bulan -
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1. Pengajuan judul
2. Penyusunan proposal 3. Bimbingan proposal 4. Seminar proposal 5. Revisi proposal 6. Penelitian 7. Analisis data 8. Ujian kemajuan 1 9. Revisi kemajuan 1 10. Publikasi
11. Ujian kemajuan 2 12. Revisi kemajuan 2 13. Ujian tesis
14. Revisi tesis
B. Rancangan atau Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif. Creswell (2008: 53) menjelaskan bahwa pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang menggambarkan hubungan antar variabel dalam penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini saling berhubungan yaitu variabel model pembelajaran kooperatif, kecerdasan emosional, dan keterampilan berpikir kritis. Pendekatan kuantitatif memiliki beberapa jenis penelitian yaitu
penelitian eksperimen, penelitian korelasi atau hubungan, dan penelitian survei (Creswell, 2008: 60). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen yang dilakukan dengan cara memberikan perlakuan (treatment) untuk mengetahui suatu hasil tertentu antara kelompok satu dengan kelompok yang lain (Creswell. 2008:
60).
Creswell (2003: 167) membagi jenis penelitian eksperimen menjadi tiga bagian yaitu pra-eksperimen (pre-experiment design), kuasi eksperimen (quasi- experiments), dan eksperimen yang sebenarnya (true experiments). Penelitian yang dilakukan ini termasuk penelitian eksperimen semu (quasi-experiments), seperti yang dijelaskan oleh Creswell (2003: 167) bahwa penelitian eksperimen semu merupakan penelitian yang menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, namun tidak memasukkan secara acak para partisipan atau objek uji coba ke dalam dua kelompok tersebut.
Penelitian ini menggunakan desain faktorial (factorial design) dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams-Achievement Division (STAD) berbasis masalah terhadap keterampilan berpikir kritis ditinjau dari kecerdasan emosional. Berdasarkan tujuan tersebut bahwa terdapat dua variabel bebas (independent variable) yang mempengaruhi variabel terikat (dependent variable) yaitu model pembelajaran kooperatif dan kecerdasan emosional, sehingga perlu adanya desain faktorial untuk menganalisisnya. Emzir (2012: 102-110); dan Freankel, Wallen, Hyun (2015: 275- 279) mengklasifikasikan desain faktorial termasuk dalam penelitian eksperimen semu, bahwa desain faktorial merupakan desain penelitian yang dapat menggambarkan interaksi variabel bebas (independent variable) dengan satu atau lebih variabel lainnya biasanya disebut variabel moderating. Penelitian ini menggunakan desain faktorial 3 x 2 digambarkan seperti tabel di bawah ini.
Tabel 3.3 Desain Penelitian Faktorial Model
Pembelajaran (B) Tingkat
Kecerdasan Emosional (A)
Model Pembelajaran Kooperatif Berbasis Masalah
Jigsaw berbasis masalah
(B1)
STAD berbasis masalah
(B2)
Kecerdasan Emosional Tinggi (A1)
(A1,B1) (A1,B2) Kecerdasan Emosional Sedang
(A2)
(A2,B1) (A2,B2) Kecerdasan Emosional Rendah
(A3)
(A3,B1) (A3,B2)
Keterangan:
A1, B1 : Kelompok yang memiliki kecerdasan emosional tinggi diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbasis masalah.
A1, B2 : Kelompok yang memiliki kecerdasan emosional tinggi diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis masalah.
A2, B1 : Kelompok yang memiliki kecerdasan emosional sedang diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbasis masalah.
A2, B2 : Kelompok yang memiliki kecerdasan emosional sedang diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis masalah.
A3,B1 : Kelompok yang memiliki kecerdasan emosional rendah diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbasis masalah.
A3,B2 : Kelompok yang memiliki kecerdasan emosional rendah diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis masalah.
2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel a. Variabel Penelitian
Variabel menurut Creswell (2008: 123-124) merupakan karakter atau atribut individu atau organisasi yang memiliki ciri-ciri (1) Peneliti dapat mengukur atau mengamati (dapat di nilai, diamati, dan di catat dengan instrumen); (2) Antara individu atau organisasi yang diteliti bervariasi (dapat mengasumsikan nilai atau skor yang berbeda untuk setiap individu yang berbeda pula). El Qadri (2009: 23) menjelaskan variabel merupakan suatu indikator yang memiliki nilai yang bervariasi atau dapat diartikan konsep yang memiliki variasi dalam suatu nilai atau ukuran. Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditarik simpulan bahwa variabel merupakan segala sesuatu yang dapat diukur, diamati, serta memiliki variasi.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas yaitu model pembelajaran kooperatif dan kecerdasan emosional, selain itu memiliki satu variabel terikat yaitu keterampilan berpikir kritis.
1) Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas disebut juga dengan independent variable merupakan suatu nilai variabel yang dapat mempengaruhi nilai variabel lainnya (El Qadri, 2009: 23). Creswell (2008: 127) menjelaskan bahwa variabel bebas merupakan atribut atau karakteristik yang mempengaruhi hasil dari variabel terikat. Jadi dapat disintesiskan bahwa variabel bebas (independent variable) merupakan suatu variabel yang mempengaruhi variabel lain atau variabel terikat.
Variabel bebas dalam penelitian ini dilambangkan dengan X yang terdiri dari model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbasis masalah sebagai kelas eksperimen (X1), model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis masalah sebagai kelas kontrol (X2), dan kecerdasan emosional (X3).
2) Variabel Terikat
Variabel terikat disebut juga dengan dependent variable merupakan variabel yang nilainya dipengaruhi atau dijelaskan oleh nilai
dari variabel lain (El Qadri, 2009: 23-24). Variabel terikat menurut Creswell (2009: 126) merupakan atribut atau karakteristik yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Jadi dapat disintesiskan bahwa variabel terikat merupakan suatu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain atau variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini dilambangkan dengan Y yang terdiri atas keterampilan berpikir kritis peserta didik (Y).
b. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional dilakukan dengan tujuan agar variabel dapat diukur dengan baik. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini dijelaskan pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.4 Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi
Operasional Indikator Pengukuran
Variabel Skala Kecerdasan
emosional
Kecerdasan emosional merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan
diri sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola emosi diri sendiri dengan baik untuk
berhubungan dengan orang lain.
(Goleman, 2003).
Kesadaran diri,
Pengendalian diri,
Motivasi, Empati, Keterampilan sosial.
Angket Interval
Berpikir kritis
Keterampilan berpikir kritis merupakan menganalisis meliputi (membedakan, mengorganisasi,
Menganalisis, Mengevaluasi, Mencipta.
(Anderson dan
Krathwohl, 2001)
Tes soal uraian
Interval
Variabel Definisi
Operasional Indikator Pengukuran
Variabel Skala mengatribusi);
mengevaluasi meliputi (memeriksa, mengkritik, menilai); dan mengubah informasi/
mencipta meliputi (merumuskan, merencanakan, memproduksi).
(Fisher, 2008;
Paul dan Elder, 2002; Gedik, 2013; Dawyer, Hogan dan Stewart, 2014;
Florea dan Hurjui, 2015)
C. Populasi, Sampel, dan Sampling 1. Populasi
Populasi merupakan sekelompok individu yang memiliki kesamaan karakteristik tertentu (Creswell, 2008: 151). Populasi menurut Sugiyono (2015:
117) merupakan suatu wilayah yang umum terdiri dari objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu untuk dipelajari dan kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa populasi merupakan sekelompok objek atau subjek yang memiliki kesamaan karakteristik dan bersifat umum. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh SMK Negeri dan Swasta di Kota Surakarta tahun pelajaran 2017/2018 yaitu ada 14 SMK.
2. Sampel
Sampel menurut Creswell (2008: 152) merupakan subkelompok populasi sasaran yang dipilih peneliti untuk dipelajari sebagai perwakilan dari populasi sasaran. Sampel menurut Sugiyono (2015: 117) merupakan bagian dari jumlah
populasi yang memiliki kesamaan karakteristik. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki kesamaan karakteristik tertentu dan dijadikan sebagai objek penelitian untuk memperoleh data. Sampel dalam penelitian ini yaitu terdiri dari tiga SMK di Kota Surakarta.
3. Sampling
Teknik atau cara pengambilan sampel disebut sebagai sampling (Sugiyono, 2015: 118). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan cluster random sampling. Sugiyono (2015: 115) menjelaskan bahwa teknik cluster random sampling merupakan teknik atau cara pengambilan sampel yang dilakukan secara bertahap dari wilayah yang luas sampai wilayah terkecil.
Setelah terpilih sampel terkecil, kemudian dipilih sampel secara acak. Freankel, Wallen, Hyun (2015: 97) menyatakan bahwa cluster random sampling merupakan teknik pengambilan sampel dari suatu kelas kelompok yang sudah ada, teknik ini khusus untuk sampel yang berkelompok. Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disintesiskan bahwa teknik cluster random sampling merupakan cara pengambilan sampel dari populasi yang berkelompok, kemudian kelompok tersebut dipilih secara acak/random untuk menentukan sampel penelitian.
Penelitian ini menggunakan tiga SMK di Kota Surakarta tahun pelajaran 2017/2018 sebagai sampel penelitian. Pemilihan ketiga SMK tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) Jumlah seluruh SMK di Kota Surakarta sejumlah 14 sekolah; (2) Berdasarkan 14 sekolah tersebut kemudian diambil subpopulasi dengan kriteria SMK yang menggunakan kurkulum 2013, sehingga didapat 5 sekolah yaitu SMKN 1 Surakarta, SMKN 3 Surakarta, SMKN 6 Surakarta, SMK Batik 1 Surakarta, dan SMK Batik 2 Surakarta.; (3) Kemudian dari 5 sekolah tersebut dipilih secara acak/random dengan menggunakan undian untuk menentukan sampel penelitian; (4) Berdasarkan hasil pengundian didapatkan tiga sekolah sebagai sampel yaitu SMKN 1 Surakarta, SMK Batik 1 Surakarta, dan SMK Batik 2 Surakarta.
Penelitian ini mengambil sampel tiga SMK di Kota Surakarta yaitu SMKN 1 Surakarta, SMK Batik 1 Surakarta, dan SMK Batik 2 Surakarta. Sebelum penelitian dilakukan perlu melakukan uji kesetaraan terhadap sampel yang akan dijadikan objek penelitian. Uji kesetaraan ini bertujuan untuk melihat apakah sampel yang akan diteliti dalam keadaan setara atau seimbang sebelum diberikan perlakuan. Data uji kesetaraan dalam penelitian ini diambil dengan cara memberikan soal tes yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Budiyono (2016:
151) menjelaskan hasil tes diolah dengan menggunakan uji-t sebagai berikut:
a. Hipotesis
H0 : µ1 = µ2 (kedua kelompok berasal dari populasi yang memiliki kemampuan yang sama)
H1 : µ1 ≠ µ2 (kedua kelompok tidak berasal dari populasi yang memiliki kemampuan yang sama)
b. Taraf signifikansi (α) = 0,05 c. Statistik uji yang digunakan
t = (X 1−X 2) 𝑆𝑃 √1
𝑛1+1 𝑛2
~ 𝑡 (𝑛1+ 𝑛2− 2) d. Komputasi
𝑆𝑃2= (𝑛1−1)𝑠12+(𝑛2−1)𝑠22
𝑛1+𝑛2−2 , d0 = 0 (karena tidak dibicarakan selisih rerata) Keterangan:
𝑋̅1 : rata-rata nilai keterampilan berpikir kritis pada kelas eksperimen 𝑋̅2 : rata-rata nilai keterampilan berpikir kritis pada kelas kontrol S12 : variansi kelas eksperimen
S22 : variansi kelas kontrol
n1 : banyak peserta didik kelas eksperimen n2 : banyak peserta didik kelas kontrol e. Daerah kritis
f. Keputusan uji
H0 diterima apabila nilai statistik uji berada di dalam daerah kritis, dan sebaliknya H0 ditolak apabila nilai statistik uji berada di luar daerah kritis.
Uji kesetaraan juga dilakukan dengan menggunakan program SPSS 23 yaitu sebagai berikut:
a. Masukkan data dalam program SPSS 23 untuk hasil tes dari ketiga SMK tersebut.
b. Setelah semua dimasukkan, klik Analyze Compare Means Independent
Samples T test
c. Muncul kotak dialog, masukkan variabel Y (nilai peserta didik) pada kotak Test Variable (s).
d. Pada Grouping Variable, klik Define Group ketik 1 pada group 1, ketik 2 pada group 2, kemudian klik Continue.
e. Untuk Option gunakan tingkat kepercayaan 95% atau taraf signifikan 5%, klik Continue.
f. Klik OK, maka akan muncul perhitungan dari SPSS.
g. Lihat taraf signifikasinya, apabila taraf signifikansi lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima dan apabila taraf signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak.
Berikut hasil uji kesetaraan yang dilakukan dengan menggunakan nilai Ujian Tengah Semester (UTS) gasal tahun 2017/2018 dari ketiga SMK di Surakarta yaitu SMK Batik 1, SMK Batik 2, dan SMKN 1 Surakarta.
Tabel 3.5 Hasil Uji Keseimbangan SMK Batik 1 dan SMK Batik 2 t-test for Equality of Means
T df Sig. (2-tailed) Means
Differences
Std. Error Difference -1.152
-1.015
76 38.485
.253 .316
-.664 -.664
.576 .654 Sumber: Uji keseimbangan dari nilai UTS tahun 2017/2018. Soal dan nilai UTS dapat
dilihat pada lampiran 7 dan 8.
Berdasarkan tabel 3.5 di atas tentang hasil uji keseimbangan SMK Batik 1 dan SMK Batik 2 menunjukkan bahwa taraf signifikansi sebesar 0,253 (sig. 2-tailed).
Berdasarkan hasil uji keseimbangan tersebut taraf signifikansi 0,253 lebih besar dari 0,05 (0,253 > 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa ke dua sekolah memiliki kemampuan yang sama.
Tabel 3.6 Hasil Uji Keseimbangan SMK Batik 1 dan SMKN 1 Surakarta t-test for Equality of Means
t Df Sig. (2-tailed) Means Differences
Std. Error Difference 1.558
1.335
123 34.006
.123 .191
1.518 1.518
.974 1.137 Sumber: Uji keseimbangan dari nilai UTS tahun 2017/2018. Soal dan nilai UTS dapat
dilihat pada lampiran 7 dan 8.
Berdasarkan tabel 3.6 di atas tentang hasil uji keseimbangan SMK Batik 1 dan SMKN 1 Surakarta menunjukkan bahwa taraf signifikansi sebesar 0,123 (sig. 2- tailed). Berdasarkan hasil uji keseimbangan tersebut taraf signifikansi 0,123 lebih besar dari 0,05 (0,123 > 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa ke dua sekolah memiliki kemampuan yang sama.
Tabel 3.7 Hasil Uji Keseimbangan SMK Batik 2 dan SMKN 1 Surakarta t-test for Equality of Means
T df Sig. (2-tailed) Means
Differences
Std. Error Difference 1.703
1.703
125 50.119
.093 .095
2.182 2.182
1.281 1.281 Sumber: Uji keseimbangan dari nilai UTS tahun 2017/2018. Soal dan nilai UTS dapat
dilihat pada lampiran 7 dan 8.
Berdasarkan tabel 3.7 di atas tentang hasil uji keseimbangan SMK Batik 2 dan SMKN 1 Surakarta menunjukkan bahwa taraf signifikansi sebesar 0,093 (sig. 2- tailed). Berdasarkan hasil uji keseimbangan tersebut taraf signifikansi 0,093 lebih besar dari 0,05 (0,093 > 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa ke dua sekolah memiliki kemampuan yang sama.
Berdasarkan analisis uji keseimbangan di atas, maka dapat disintesiskan H0 diterima dan H1 ditolak, hal ini dikarenakan taraf signifikansi dari ke tiga sekolah lebih besar dari 0,05. Jadi ke tiga kelompok memiliki kemampuan yang sama, sehingga dapat digunakan untuk pengambilan data penelitian. Kemudian untuk mentukan kelas eksperimen, kelas kontrol, dan kelas uji coba dilakukan secara acak atau dengan menggunakan teknik random sampling. Berdasarkan hasil pengundian
diperoleh SMK Batik 2 Surakarta sebagai kelas eksperimen, SMK Batik 1 Surakarta sebagai kelas kontrol, dan SMKN 1 Surakarta sebagai kelas uji coba.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik penumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data (Riduwan, 2008: 97). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:
a. Wawancara
Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur atau wawancara bebas yang dibuat sesuai dengan garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Teknik ini dilakukan dengan cara menanyakan beberapa pertanyaan kepada guru terkait proses pembelajaran pra-eksperimen yang meliputi metode, media, bahan ajar, dan kondisi peserta didik ketika di kelas.
b. Dokumentasi
Teknik dokumentasi yang digunakan yaitu dengan cara mengumpulkan data tentang kompetensi peserta didik terkait keterampilan berpikir kritis. Data yang digunakan berupa hasil ulangan peserta didik, instrumen penilaian guru, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Data yang terkumpul tersebut diidentifikasi dengan cara menganalisis tingkat berpikir yang ada pada instrumen penilaian, serta tujuan pembelajaran yang ditetapkan yang tercantum pada RPP. Selain itu, cara pengambilan data dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran guru.
c. Angket
Angket digunakan untuk mengumpulkan data kecerdasan emosional yang dibuat dengan menggunakan pernyataan tertutup. Teknik ini dilakukan dengan cara mendorong peserta didik menjawab pernyataan sesuai kondisi masing-masing.
d. Tes
Teknik pengumpulan data dengan tes dilakukan untuk mengukur sesuatu dengan cara dan aturan yang sudah ditetapkan. Jenis tes yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes uraian yang disesuaikan dengan indikator keterampilan berpikir kritis.
2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen penelitian merupakan “kegiatan dalam merencanakan, mendesain, menyusun dan menguji suatu alat ukur” (El Qadri, 2009: 93).
Berdasarkan teknik pengumpulan data diatas, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Wawancara
Wawancara yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur atau bebas. Wawancara ini digunakan untuk melakukan studi pendahuluan untuk mencari informasi tentang permasalahan yang dihadapi oleh guru mata pelajaran akuntansi dalam melakukan pembelajaran di kelas. Berikut daftar pertanyaan yang digunakan dalam melakukan wawancara kepada Guru Mata Pelajaran Akuntansi.
Tabel 3.8 Kisi-Kisi Wawancara
No. Kisi-Kisi Wawancara
1. Cara mengajar guru di kelas
2. Bahan ajar dan media yang digunakan
3. Model/metode/strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran 4. Kendala yang dihadapi guru
5. Proses penilaian 5. Soal ulangan 6. Nilai ulangan
Sumber: Hasil wawancara dapat dilihat pada lampiran 1.
b. Dokumentasi
Penelitian ini menggunakan instrumen dokumentasi berupa nilai ulangan peserta didik, soal ulangan buatan guru, dan soal UTS semester gasal.
nilai ulangan, soal dari guru, soal UTS semester gasal tersebut kemudian
dianalisis dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan penelitian. Silabus dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) termasuk dalam instrumen dokumentasi, kedua dokumen ini digunakan untuk mengetahui langkah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, serta untuk mengetahui urutan materi pelajaran yang telah guru sampaikan (dokumen dapat dilihat pada lampiran 5 dan 6).
c. Angket
Angket dalam penelitian ini hanya digunakan untuk mengumpulkan data variabel kecerdasan emosional. Angket dibuat dengan kalimat pernyataan yang harus diisi sesuai kondisi dari peserta didik. Peserta didik memilih jawaban sesuai kriteria yang telah ditentukan dalam angket tersebut, kriteria menggunakan skala sikap. Freankel, Wallen, Hyun (2015: 127-128); dan Creswell (2008: 161-162) menjelaskan skala sikap merupakan skala penilaian yang digunakan untuk menilai sikap dengan cara meminta seseorang menanggapi serangkaian pilihan pertanyaan atau pernyataan. Skala sikap berbentuk data kuantitatif dan sering digunakan dalam penelitian survey, korelasi, dan eksperimen. Skala sikap memiliki pertanyaan atau pernyataan positif dan negatif. Berikut skala sikap yang digunakan dalam penelitian ini:
Tabel 3.9 Kriteria Skala Likert
Alternatif Jawaban Skor Pertanyaan/
Pernyataan Positif
Skor Pertanyaan/
Pernyataan Negatif
Sangat Setuju (SS) 5 1
Setuju (S) 4 2
Netral (N) 3 3
Tidak Setuju (TS) 2 4
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 5
Sumber: Riduwan (2008: 86)
Setelah kuesioner diisi oleh responden, langkah selanjutnya yaitu mengkategorikan variabel kecerdasan emosional menjadi tiga kategori (tinggi, sedang, dan rendah). Tabel dibawah ini menjelaskan kategori dari variabel kecerdasan emosional.
Tabel 3.10 Kategori Variabel Kecerdasan Emosional
No. Interval Keterangan
1. X < µ – 0,5σ Rendah
2. µ - 0,5σ ≤ X ≤ µ + 0,5σ Sedang
3. X > µ + 0,5σ Tinggi
Sumber: Budiyono (2015: 13) Keterangan:
X = Skor angket σ = Devisasi baku µ = Rerata
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, maka berikut ini disajikan kisi-kisi instrumen penelitian dari variabel kecerdasan emosional:
Tabel 3.11 Kisi-kisi Instrumen Variabel Kecerdasan Emosional
No. Aspek Indikator Sub-Indikator Pernyataan (+) (-) 1. Kecakapan
pribadi
a. Kesadaran diri Kesadaran emosi 1 2 Penilaian diri 3 4, 5
Percaya diri 6 7, 8
b. Pengendalian diri
Pengendalian diri 9, 10 - Dapat dipercaya 11, 12 13
Kehati-hatian 14 15
Adaptabilitas 16 17
Inovasi 18 19
c. Motivasi Dorongan prestasi 20, 21 22
Komitmen 23 24
Inisiatif 25 26
Optimisme 27 28
2. Kecakapan sosial
d. Empati Memahami orang
lain 29 30
Orientasi
pelayanan 31 32
Mengembangkan
orang lain 33 34, 35
Mengatasi
keragaman 36, 37 38, 39 Kesadaran politis 40, 41 - e. Keterampilan
sosial
Pengaruh 42 43
Komunikasi 44 45
No. Aspek Indikator Sub-Indikator Pernyataan (+) (-) Katalisator
perubahan 46 47, 48
Manajemen konflik
49 50
Pengikat jaringan 51 52 Kolaborasi dan
kooperasi
53 54
Kemampuan tim 55 56
Sumber: Goleman (2003: 42-43), angket sebelum validasi di lampiran 11 d. Tes
Tes merupakan bentuk instrumen yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kritis individu. Tes dalam penelitian ini berbentuk soal essay atau uraian. Penelitian ini menggunakan soal untuk mengukur keterampilan berpikir kritis secara individu setelah proses pembelajaran selesai. Materi yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kritis yaitu persediaan barang dagang. Berikut kisi-kisi untuk membuat soal keterampilan berpikir kritis:
Tabel 3.12 Kisi-kisi Instrumen Keterampilan Berpikir Kritis Indikator
Keterampilan berpikir kritis
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
Butir Soal Keterampilan berpikir kritis Menganalisis
(membedakan, mengorganisasi, mengatribusikan)
Membedakan klasifikasi persediaan dan sistem pencatatannya.
4, 5, 6, 7, 8 Membedakan metode-metode yang
digunakan untuk menentukan nilai persediaan.
9, 10
Mengevaluasi (memeriksa, mengkritik, menilai)
Mengevaluasi pengertian persediaan.
1, 2, 3 Mengevaluasi penggunaan metode
dalam menentukan nilai persediaan.
11, 12 Mencipta
(merumuskan, merencanakan, memproduksi)
Mendesain kartu persediaan untuk menghitung nilai persediaan
13, 14
Sumber: (Anderson dan Krathwohl, 2001: 268), soal tes sebelum validasi dapat dilihat pada lampiran 13.
3. Uji Statistik Instrumen a. Uji Validitas Instrumen
El Qadri (2009: 164) menjelaskan “validitas atau kesahihan adalah ukuran seberapa tepat instrumen itu mampu menghasilkan data sesuai dengan ukuran yang sesungguhnya yang ingin diukur.” Freankel, Wallen, Hyun (2015:
149) validitas merupakan kesesuaian, keberagaman, kebenaran, dan kegunaan dari suatu instrumen yang dibuat oleh peneliti berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Berdasarkan pendapat tersebut, maka validitas merupakan kesesuaian, keberagaman, dan kebenaran suatu instrumen untuk mengumpulkan data penelitian.
Validitas angket kecerdasan emosional dan soal tes uraian dalam penelitian ini dapat diukur dengan menggunakan program SPSS 23 dan menggunakan cara manual. Trihendradi (2012: 300-304) mengungkapkan cara melakukan validasi instrumen menggunakan SPSS 23 yaitu sebagai berikut:
1) Masukkan data instrumen dalam lembar kerja SPSS 23
2) Setelah selesai memasukkan, Klik Transform Compute Variable, sehingga akan muncul kotak dialog Compute Variable.
3) Masukkan semua variabel untuk melakukan penjumlahan ke dalam kotak Numeric Expression.
4) Klik OK, maka akan muncul variabel baru yaitu total dari hasil penjumlahan masing-masing variabel.
5) Langkah selanjutnya yaitu klik Analyze Correlate Bivariate, maka akan muncul kotak dialog Bivariate Correlation.
6) Masukkan semua variabel penelitian dan variabel total pada kotak Variables.
7) Lakukan centang Pearson pada Correlation Coefficients dan centang juga Flag Significant Correlations.
8) Klik OK, maka akan muncul hasil perhitungan dari SPSS 23.
9) Lihat taraf signifikansinya, apabila taraf signifikansi variabel di bawah nilai alfa (0,05) maka variabel tersebut dinyatakan valid dan
apabila taraf signifikansi variabel di bawah nilai alfa (0,05) maka variabel tersebut dinyatakan tidak valid.
Cara manual untuk menghitung validitas instrumen yaitu dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment (Budiyono, 43: 2015).
Berikut rumus korelasi Pearson Product Moment : 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 𝑛 (𝛴 𝑋𝑌) − (𝛴𝑋). (𝛴𝑌)
√{𝑛 . 𝛴𝑋2 − (𝛴𝑋)2} . {𝑛 . 𝛴𝑌2 − (𝛴𝑌)2 Keterangan:
r hitung : Koefisien korelasi Σ Xi : Jumlah skor item
Σ Yi : Jumlah skor total (seluruh item) n : Jumlah responden
Setelah data dimasukkan dalam rumus tersebut, kemudian bandingkan hasil dari r hitung dengan r tabel. Apabila r hitung lebih besar dari r tabel maka data tersebut valid, sedangkan r hitung di bawah r tabel maka data tersebut tidak valid. Nilai r tabel dapat dicari dengan menggunakan tabel r, dimana jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 42 responden. Kemudian cari dulu derajat kebebasannya (df) yaitu dengan menggunakan rumus 42 – 2 yaitu 40.
Cari baris ke-40 kolom 0,05 (5%) didapatkan hasil r tabel sebesar 0,3044.
1) Hasil Uji Validitas Angket Kecerdasan Emosional
Berikut hasil validasi instrumen kecerdasan emosional yang telah dihitung dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment:
Tabel 3.13 Hasil Validitas Angket Kecerdasan Emosional
Butir Pernyataan Validitas (>0,3044) Kriteria Kelayakan
1 0,3507 Layak
2 0,0064 Tidak Layak
3 0,2312 Tidak Layak
4 0,3114 Layak
5 0,3077 Layak
6 0,2360 Tidak Layak
7 0,4412 Layak
Butir Pernyataan Validitas (>0,3044) Kriteria Kelayakan
8 0,7546 Layak
9 0,5530 Layak
10 0,4894 Layak
11 0,1630 Tidak Layak
12 0,5486 Layak
13 -0,1384 Tidak Layak
14 0,4392 Layak
15 0,2203 Tidak Layak
16 0,4691 Layak
17 0,1676 Tidak Layak
18 0,7546 Layak
19 0,5530 Layak
20 0,4432 Layak
21 0,4258 Layak
22 0,4106 Layak
23 -0,1455 Tidak Layak
24 0,5474 Layak
25 0,0749 Tidak Layak
26 0,6584 Layak
27 0,4289 Layak
28 0,1026 Tidak Layak
29 0,4567 Layak
30 0,6277 Layak
31 0,2878 Tidak Layak
32 0,4748 Layak
33 0,1892 Tidak Layak
34 0,2093 Tidak Layak
35 0,4423 Layak
36 0,3307 Layak
37 0,4023 Layak
38 0,3834 Layak
39 0,3055 Layak
40 0,3507 Layak
41 0,0064 Tidak Layak
42 0,4748 Layak
43 0,1892 Tidak Layak
44 0,3747 Layak
45 0,6037 Layak
46 0,2671 Tidak Layak
47 0,7247 Layak
48 0,4224 Layak
49 0,2685 Tidak Layak
50 0,4303 Layak
Butir Pernyataan Validitas (>0,3044) Kriteria Kelayakan
51 0,3623 Layak
52 0,0418 Tidak Layak
53 0,2363 Tidak Layak
54 0,5612 Layak
55 0,4633 Layak
56 0,4275 Layak
Sumber: Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 14.
Berdasarkan hasil uji validitas angket kecerdasan emosional di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 19 item pernyataan yang tidak valid atau tidak layak yaitu item nomor 2, 3, 6, 11, 13, 15, 17, 23, 25, 28, 31, 33, 34, 41, 43, 46, 49, 52, 53. Sedangkan terdapat 37 item pernyataan yang valid atau layak digunakan untuk penelitian yaitu item nomor 1, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 12, 14, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 26, 27, 29, 30, 32, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 42, 44, 45, 47, 48, 50, 51, 54, 55, 56. Item yang valid atau layak tersebut masing-masing sudah dapat mewakili dari setiap indikator. Berikut beberapa item yang sudah dapat mewakili setiap indikator :
Tabel 3.14 Item Pernyataan yang Mewakili Indikator Kecerdasan Emosional
No Aspek Indikator Sub-Indikator Pernyataan (+) (-) 1. Kecakapan
pribadi
a. Kesadaran diri
Kesadaran emosi
1 -
Penilaian diri - 4, 5 Percaya diri - 7, 8 b. Pengaturan
diri
Pengendalian diri
9, 10 - Dapat
dipercaya
12 -
Kehati-hatian 14 - Adaptabilitas 16 -
Inovasi 18 19
c. Motivasi Dorongan prestasi
20, 21 22
Komitmen - 24
Inisiatif - 26
Optimisme 27 -
No Aspek Indikator Sub-Indikator Pernyataan (+) (-) 2. Kecakapan
sosial
d. Empati Memahami orang lain
29 30
Orientasi pelayanan
- 32
Mengembangkan
orang lain
- 35
Mengatasi keragaman
36, 37 38, 39 Kesadaran
politis
40 -
e. Keterampilan sosial
Pengaruh 42 -
Komunikasi 44 45
Katalisator perubahan
- 47, 48 Manajemen
konflik
- 50
Pengikat jaringan
51 -
Kolaborasi dan kooperasi
- 54
Kemampuan tim
55 56
Catatan: Hasil akhir angket kecerdasan emosional di lampiran 15.
2) Hasil Uji Validitas Soal Tes Keterampilan Berpikir Kritis
Berikut hasil validasi instrumen keterampilan berpikir kritis yang telah dihitung dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment:
Tabel 3.15 Hasil Validasi Instrumen Keterampilan Berpikir Kritis
Nomor Butir Soal
Validitas Soal Tes
>0,3044
Kriteria Validitas
Kriteria Kelayakan
1 0,2368 Tidak Valid Tidak Layak
2 -0,221 Tidak Valid Tidak Layak
3 0,3259 Valid Layak
4 0,3375 Valid Layak
5 0,2557 Tidak Valid Tidak Layak
6 0,6162 Valid Layak
7 0,7815 Valid Layak
8 0,262 Tidak Valid Tidak Layak
9 0,4855 Valid Layak
Nomor Butir Soal
Validitas Soal Tes
>0,3044
Kriteria Validitas
Kriteria Kelayakan
10 0,6155 Valid Layak
11 0,2606 Valid Tidak Layak
12 0,8364 Valid Layak
13 0,5703 Valid Layak
14 0,2411 Tidak Valid Tidak Layak
Catatan: Hasil perhitungan dapat dilihat di lampiran 16.
Berdasarkan hasil uji validitas dari 14 soal tes keterampilan berpikir kritis diperoleh 8 soal tes yang dinyatakan valid yaitu soal tes nomor 3, 4, 6, 7, 9, 10, 12, 13. Sedangkan 6 soal tes yang lain dinyatakan tidak valid yaitu soal tes nomor 1, 2, 5, 8, 11, 14.
b. Uji Reliabilitas Instrumen
Freankel, Wallen, Hyun (2015: 155) mendefinisikan reliabilitas mengacu pada konsistensi nilai yang diperoleh masing-masing individu dari setiap pernyataan dalam instrumen. Creswell (2008: 169) mengatakan bahwa reliabilitas merupakan stabilitas dan konsistensi skor pernyataan dalam suatu instrumen. Jadi dapat disintesiskan reliabilitas merupakan konsistensi skor yang ada pada setiap butir pertanyaan atau pernyataan instrumen penelitian.
Reliabilitas untuk mengukur angket kecerdasan emosional menggunakan dua cara yaitu menggunakan program SPSS 23 dan cara manual.
Trihendradi (2012: 304-307) mengungkapkan cara melakukan reliabilitas instrumen menggunakan SPSS 23 yaitu sebagai berikut:
1) Masukkan data instrumen dalam lembar kerja SPSS 23
2) Setelah selesai memasukkan, Klik Analyze Scale Reability Analysis, sehingga akan muncul kotak dialog Reliability Analyze.
3) Masukkan semua variabel ke dalam kotak Items
4) Klik Statistic, maka akan muncul kotak dialog Reliability Analysis Statistic.
5) Pada kotak Descriptive For, centang Scale if item deleted
6) Klik Continue, maka akan kembali ke kotak dialog Reliability Analysis.
7) Kemudian klik OK
8) Muncul hasil perhitungan dari SPSS 23. Lihat nilai Alpha Cronbach dari masing-masing variabel. Apabila nilai Alpha Cronbach diatas (0,6), maka variabel tersebut dinyatakan reliabel dan apabila nilai Alpha Cronbach dibawah (0,6), maka variabel tersebut dinyatakan
tidak reliabel.
Cara manual untuk mengukur reliabilitas instrumen menggunakan metode belah dua (ganjil-genap) (Riduwan, 2008: 116-119):
1) Langkah 1 menghitung dengan korelasi Product Moment 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 𝑛 (𝛴 𝑋𝑌) − (𝛴𝑋). (𝛴𝑌)
√{𝑛 . 𝛴𝑋2− (𝛴𝑋)2} . {𝑛 . 𝛴𝑌2− (𝛴𝑌)2 Keterangan:
r hitung : Koefisien korelasi Σ Xi : Jumlah skor item
Σ Yi : Jumlah skor total (seluruh item) n : Jumlah responden
2) Langkah 2 menghitung reliabilitas dengan menggunakan Spearman Brown
𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔= 2 . 𝑟𝑏 1 + 𝑟𝑏 Keterangan:
r hitung : Koefisien korelasi
rb : Nilai reliabilitas dari product moment 3) Langkah 3 mencari r tabel
Menggunakan taraf signifikansi α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk = n – 2).
4) Langkah 4 kaidah keputusan
Kriteria reliabilitas yaitu jika r hitung > r tabel berarti item dinyatakan reliabel, apabila r hitung < r tabel berarti item tidak reliabel.
Reliabilitas untuk mengukur instrumen soal tes keterampilan berpikir kritis bentuk uraian menggunakan rumus Cronbach Alpha (Budiyono, 2015:
55). Kriteria soal tes dikatakan reliabel apabila indeks reliabilitas lebih besar dari 0,60 (Trihendradi, 2012: 304-307). Berikut rumus Cronbach Alpha yang digunakan untuk menghitung soal tes keterampilan berpikir kritis bentuk uraian yaitu sebagai berikut:
𝑟11 = ( 𝑛
𝑛 − 1)(1 −∑ 𝑠𝑖2 𝑠𝑡2 ) Keterangan:
r 11 : Koefisien reliabilitas instrumen n : Banyaknya butir instrumen
𝑠𝑖2 : Variansi belahan ke-i, i = 1, 2, …. k (k ≤ n) 𝑠𝑡2 : Variansi skor total yang diperoleh subjek uji coba
Berdasarkan hasil uji reliabilitas terhadap 56 item instrumen kecerdasan emosional memperoleh nilai r hitung sebesar 0,7571 lebih besar dari nilai Alpha Cronbach sebesar 0,6. Jadi item instrumen kecerdasan emosional dinyatakan reliabel (hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17). Sedangkan hasil uji reliabilitas terhadap 14 item soal tes keterampilan berpikir kritis bentuk uraian memperoleh nilai r hitung sebesar 0,6548 lebih besar dari nilai Alpha Cronbach sebesar 0,6. Jadi item soal tes keterampilan berpikir kritis dinyatakan reliabel (hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17).
c. Uji Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran merupakan kriteria untuk melihat bentuk soal tes keterampilan berpikir kritis dalam tingkatan mudah, sedang atau sulit (Arikunto, 2012: 222). Tingkat kesukaran soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Budiyono, 2015: 117):
𝑃 = 𝑆̅
𝑆 𝑚𝑎𝑘𝑠
Keterangan:
P : Indkes tingkat kesulitan 𝑆̅ : Rerata untuk skor butir
Smaks : Skor maksimum untuk butir tersebut
Kriteria tingkat kesukaran soal yaitu ditetapkan sebagai berikut:
Tabel 3.16 Kriteria Tingkat Kesukaran Soal
Tingkat Kesukaran Kriteria
0,00 – 0,30 Sukar
0,31 – 0,70 Sedang
0,71 – 1,00 Mudah
Sumber: Jihad dan Haris (2008: 182)
Berdasarkan tabel 3.16 di atas tentang kriteria tingkat kesukaran soal, bahwa soal yang diterima atau layak digunakan sebagai instrumen penelitian yaitu soal yang memiliki tingkat kesukaran antara 0,31-0,71. Berikut hasil uji tingkat kesukaran instrumen soal tes keterampilan berpikir kritis bentuk uraian:
Tabel 3.17 Hasil Uji Tingkat Kesukaran Soal Keterampilan Berpikir Kritis
Nomor Butir Soal
Tingkat Kesukaran 0,31-0,71
Kriteria Soal
Kriteria Kelayakan
1 0,6381 Sedang Layak
2 0,6952 Sedang Layak
3 0,6904 Sedang Layak
4 0,6523 Sedang Layak
5 0,8142 Mudah Tidak Layak
6 0,7428 Mudah Tidak Layak
7 0,3857 Sedang Layak
8 0,2333 Sukar Tidak Layak
9 0,4142 Sedang Layak
10 0,8023 Mudah Tidak Layak
11 0,3904 Sedang Layak
12 0,4904 Sedang Layak
13 0,4333 Sedang Layak
14 0,2333 Sukar Tidak Layak
Catatan: Hasil uji tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada lampiran 18.
Berdasarkan hasil uji tingkat kesukaran dari 14 soal tes keterampilan berpikir kritis diperoleh 9 soal tes yang dinyatakan layak yaitu soal tes nomor 1, 2, 3, 4, 7, 9, 11, 12, 13. Sedangkan 5 soal tes yang lain dinyatakan tidak layak yaitu soal tes nomor 5, 6, 8, 10, 14.
d. Uji Daya Beda
Kemampuan suatu soal yang dapat digunakan untuk membedakan antara peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi dan memiliki kemampuan rendah disebut uji daya beda (Arikunto, 2012: 226). Daya beda suatu soal dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Budiyono, 2015: 117):
𝐷 = 𝑟𝑝𝑏𝑖𝑠 = 𝑛 (𝛴 𝑋𝑌) − (𝛴𝑋)(𝛴𝑌)
√{𝑛𝛴𝑋2 − (𝛴𝑋)2}{𝑛𝛴𝑌2− (𝛴𝑌)2 Keterangan:
D : Daya beda X : Skor butir Y : Skor total
Kriteria daya beda soal yaitu ditetapkan sebagai berikut:
Tabel 3.18 Kriteria Daya Beda Soal
Tingkat Daya Beda Kriteria
≥ 0,40 Sangat baik
0,30 – 0,39 Cukup baik
0,20- 0,29 Minimum, perlu diperbaiki
≤ 0,19 Jelek, dibuang atau dirombak Sumber: Jihad dan Haris (2008: 181)
Berdasarkan tabel tersebut, soal yang diterima atau layak digunakan sebagai instrumen penelitian yaitu soal yang memiliki tingkat daya beda 0,30 – 0,39 dan ≥ 40. Berikut hasil uji tingkat kesukaran instrumen soal tes keterampilan berpikir kritis bentuk uraian:
Tabel 3.19 Hasil Uji Daya Beda Soal Keterampilan Berpikir Kritis
Nomor Butir Soal
Daya Beda
≥ 0,40 atau 0,30-0,39 Kriteria Soal
Kriteria Kelayakan
1 0,2368 Minimum Tidak Layak
2 -0,221 Jelek Tidak Layak
3 0,3259 Cukup Baik Layak
4 0,3375 Cukup Baik Layak
5 0,2557 Minim Tidak Layak
6 0,6162 Sangat Baik Layak
7 0,7815 Sangat Baik Layak
8 0,262 Minimum Tidak Layak
9 0,4855 Sangat Baik Layak
10 0,6155 Sangat Baik Layak
11 0,2606 Minimum Tidak Layak
12 0,8364 Sangat Baik Layak
13 0,5703 Sangat Baik Layak
14 0,2411 Minimum Tidak Layak
Catatan: Hasil uji tingkat kesukaran dapat dilihat pada lampiran 19.
Berdasarkan tabel 3.19 tentang hasil uji daya beda soal keterampilan berpikir kritis di atas, diperoleh 8 soal tes yang dinyatakan layak yaitu soal tes nomor 3, 4, 6, 7, 9, 10, 12, 13. Sedangkan 6 soal tes yang lain dinyatakan tidak layak yaitu soal tes nomor 1, 2, 5, 8, 11, 14.
Berdasarkan hasil uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda soal tes keterampilan berpikir kritis di atas, maka berikut rangkuman kelayakan dari setiap butir soal tes yang dapat digunakan sebagai instrumen penelitian untuk mengambil data:
Tabel 3.20 Rangkuman Kelayakan Soal Keterampilan Berpikir Kritis Soal
Kelayakan Soal Tes
Kriteria Kelayakan Validasi Reliabilitas Daya
Pembeda
Tingkat Kesukaran
1 Tidak Valid Reliabel Tidak Baik Sedang Tidak Layak 2 Tidak Valid Reliabel Tidak Baik Sedang Tidak Layak
3 Valid Reliabel Cukup Sedang Layak
4 Valid Reliabel Cukup Sedang Layak
5 Tidak Valid Reliabel Tidak Baik Mudah Tidak Layak
6 Valid Reliabel Baik Mudah Tidak Layak
7 Valid Reliabel Baik Sedang Layak
Soal
Kelayakan Soal Tes
Kriteria Kelayakan Validasi Reliabilitas Daya
Pembeda
Tingkat Kesukaran
8 Tidak Valid Reliabel Tidak Baik Mudah Tidak Layak
9 Valid Reliabel Baik Sedang Layak
10 Valid Reliabel Baik Mudah Tidak Layak
11 Tidak Valid Reliabel Tidak Baik Sedang Tidak Layak
12 Valid Reliabel Baik Sedang Layak
13 Valid Reliabel Baik Sedang Layak
14 Tidak Valid Reliabel Tidak Baik Mudah Tidak Layak
Tabel 3.21 Item Soal yang Mewakili Setiap Indikator Berpikir Kritis Indikator
Keterampilan berpikir kritis
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
Butir Soal Keterampilan berpikir kritis Menganalisis
(membedakan, mengorganisasi, mengatribusikan)
Membedakan klasifikasi persediaan dan sistem pencatatannya.
4, 7 Membedakan metode-metode yang
digunakan untuk menentukan nilai persediaan.
9
Mengevaluasi (memeriksa, mengkritik, menilai)
Mengevaluasi pengertian persediaan.
3 Mengevaluasi penggunaan metode
dalam menentukan nilai persediaan.
12 Mencipta
(merumuskan, merencanakan, memproduksi)
Mendesain kartu persediaan untuk menghitung nilai persediaan
13
Catatan: Soal tes keterampilan berpikir kritis dapat dilihat pada lampiran 20.
E. Teknik Analisis Data 1. Deskripsi Data
Penelitian ini mengukur variabel kecerdasan emosional dan variabel keterampilan berpikir kritis peserta didik. Data variabel kecerdasan emosional dikumpulkan menggunakan angket dengan skala likert, sehingga akan menghasilkan jenis data kuantitatif. Data variabel keterampilan berpikir kritis dikumpulkan menggunakan soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik, kemudian dari soal tersebut akan diketahui skor atau nilai yang diperoleh peserta didik dan akan menghasilkan jenis data kuantitatif. Jadi secara keseluruhan
penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif yang harus di uji dengan menggunakan perhitungan statistik.
2. Uji Prasyarat Analisis
Uji prasyarat analisis dilakukan untuk melihat normalitas dan homogenitas suatu data sebelum dilakukan uji statistik untuk menarik kesimpulan penelitian.
Berikut uji normalitas dan uji homogenitas yang digunakan penelitian ini:
a. Uji Normalitas
Penelitian yang baik harus memiliki data yang normal, sehingga diperlukan uji normalitas data. Budiyono (2016: 170) mengungkapkan bahwa uji normalitas digunakan untuk melihat apakah suatu sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Shapiro-Wilk yaitu metode yang digunakan untuk menguji normalitas data penelitian yang tidak termasuk distribusi frekuensi data bergolong. Metode Shapiro-Wilk dihitung dengan cara mengubah setiap data Xi menjadi bilangan baku Zi. Berikut langkah-langkah uji normalitas data secara manual dengan metode Shapiro-Wilk (Budiyono, 2016: 170 – 171):
1) Menentukan hipotesis
H0 : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal H1 : Sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal 2) Taraf signifikansi (α) = 0,05
3) Statistik uji yang digunakan
𝐿 = 𝑀𝑎𝑘𝑠|𝐹(𝑍𝑖) − 𝑆(𝑍𝑖)|
dengan F(Zi) = P(Z ≤ zi); Z ~ N(0,1); dan S(Zi) = Proporsi cacah Z ≤ zi terhadap seluruh zi.
4) Membuat komputasi
Pada metode Shapiro-Wilk setiap data Xi diubah menjadi bilangan baku zi dengan transformasi:
𝑧𝑖= 𝑋𝑖− 𝑋̅
𝑠
Keterangan:
zi : Bilangan baku dari Xi
Xi : Bilangan X ke i 𝑋̅ : Rata-rata s : Standar deviasi 5) Daerah kritis
𝐷𝐾 = {𝐿|𝐿 > 𝐿𝛼;𝑛} dengan n adalah ukuran sampel
Berikut langkah-langkah uji normalitas data dengan bantuan program SPSS 23 menggunakan metode Shapiro-Wilk:
1) Masukkan semua data variabel ke dalam program SPSS 23 2) Klik Analyze Descriptive Statistics Explore
3) Kemudian akan muncul kotak dialog Explore. Masukkan semua variabel penelitian ke dalam kotak Dependent List, lalu klik tombol Plots.
4) Untuk menguji normalitas beri tanda checklist pada Normality Plots With Test, kemudian klik Continue.
5) Klik OK, kemudian hasil perhitungan normalitas akan muncul.
6) Taraf signifikansi (α) 0,05
Apabila taraf signifikansi kurang dari 0,05 maka data tidak berdistribusi normal dan apabila taraf signifikansi lebih dari 0,05 maka data berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Uji prasarat yang kedua yaitu uji homogenitas merupakan uji prasyarat yang dilakukan untuk mengetahui apakah variansi-variansi dari sejumlah populasi sama atau tidak (Budiyono, 2016: 174). Berikut langkah- langkah manual untuk menguji homogenitas data penelitian yaitu:
1) Menentukan hipotesis
H0 : Semua variansi sama H1 : Tidak Semua variansi sama 2) Taraf signifikansi (α) = 0,05
3) Uji statistik yang digunakan
𝑏 =[(𝑆12)𝑛1−1(𝑆22)𝑛2−1… (𝑆𝑘2)𝑛𝑘−1]𝑁−𝑘1 𝑆𝑝2
4) Komputasi
Menghitung homogenitas dengan menggunakan rumus 𝑆𝑝2 = ∑𝑘𝑖=1(𝑛𝑘− 1)𝑆𝑖2
𝑁 − 𝑘
Hasil dari rumus diatas kemudian dimasukkan kedalam 𝑏 =[(𝑆12)𝑛1−1(𝑆22)𝑛2−1… (𝑆𝑘2)𝑛𝑘−1]𝑁−𝑘1
𝑆𝑝2 5) Daerah kritis
𝐷𝐾 = {𝑏|𝑏 < 𝑏𝑘(𝛼; 𝑛1, 𝑛2, 𝑛3, … , 𝑛𝑘} dengan
bk (α;n1, n2, n3, …, nk) = 𝑛1𝑏𝑘(𝛼;𝑛1)+𝑛2𝑏𝑘(𝛼;𝑛2)+⋯+𝑛𝑘𝑏𝑘(𝛼;𝑛𝑘)
𝑁
Berikut langkah-langkah untuk menguji homogenitas data penelitian menggunakan data SPSS 23 yaitu sebagai berikut:
1) Masukkan semua data variabel ke dalam program SPSS 23 2) Klik Analyze Compare Means One Way Anova
3) Kemudian akan muncul kotak dialog One Way Anova. Masukkan variabel bebas (X) ke dalam kotak Factor dan variabel terikat (Y) ke dalam kotak Dependen List.
4) Pilih menu Options, lalu beri tanda pada Homogeneity of Variance, kemudian klik Continue.
5) Klik OK, kemudian perhitungan homogenitas akan muncul.
6) Signifikansinya (α) 0,05
Apabila taraf signifikansi lebih dari 0,05 maka data tersebut memiliki variansi yang sama, sedangkan apabila taraf signifikansi kurang dari 0,05 maka data tersebut tidak memiliki variansi yang sama.
3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis merupakan langkah – langkah yang berisi kumpulan aturan yang bertujuan untuk memutuskan apakah menerima atau menolak hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Penelitian ini menggunakan Analisis Variansi (ANAVA) dua jalan untuk menguji hipotesis. Pengujian hipotesis dirumuskan dalam Hipotesis Nol (H0) dan Hipotesis Alternatif (H1). Berikut hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:
a. Hipotesis pertama
H0 : Tidak ada pengaruh antara model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan tipe STAD terintegrasi dengan pemecahan masalah terhadap keterampilan berpikir kritis akuntansi.
H1 : Ada pengaruh antara model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan tipe STAD terintegrasi dengan pemecahan masalah terhadap keterampilan berpikir kritis akuntansi.
b. Hipotesis kedua
H0 : Tidak ada pengaruh antara kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah terhadap keterampilan berpikir kritis akuntansi.
H1 : Ada pengaruh antara kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah terhadap keterampilan berpikir kritis akuntansi.
c. Hipotesis ketiga
H0 : Tidak ada interaksi pengaruh antara model pembelajaran dan kecerdasan emosional terhadap keterampilan berpikir kritis akuntansi.
H1 : Ada interaksi pengaruh antara model pembelajaran dan kecerdasan emosional terhadap keterampilan berpikir kritis akuntansi.
Jadi simpulan untuk membuat keputusan hipotesis yaitu H0 akan ditolak dan H1 akan diterima jika taraf signifikansi lebih kecil dari 0,05 (Sig. < 0,05) dan sebaliknya H0 akan diterima dan H1 akan ditolak jika taraf signifikansi lebih besar dari 0,05 (Sig. > 0,05).
4. Uji Statistik
Uji statistik dilakukan dengan tujuan untuk mengolah data hasil penelitian dan selanjutnya dapat digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Budiyono (2016: 229) menyatakan bahwa model untuk data populasi pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama yaitu:
𝑋𝑖𝑗𝑘 = µ + 𝛼𝑖+ 𝛽𝑗+ (𝛼𝛽)𝑖𝑗+ 𝜀𝑖𝑗𝑘 Keterangan:
Xijk : Data amatan ke k yang dikenai faktor A (kecerdasan emosional) kategori ke-I, faktor B (model pembelajaran) kategori ke-j.
µ : Rerata besar (pada populasi)
𝛼𝑖 : Efek faktor A kategori ke-i pada variabel terikat 𝛽𝑗 : Efek faktor B kategori ke-j pada variabel terikat
(𝛼𝛽)𝑖𝑗 : Interaksi efek baris ke-i dan kolom ke-j pada variabel terikat 𝜀𝑖𝑗𝑘 : Kesalahan eksperimental yang berdistribusi normal N (O, αijk2) i = 1, 2, 3 merupakan:
i = 1 = Kecerdasan emosional tinggi i = 2 = Kecerdasan emosional sedang i = 3 = Kecerdasan emosional rendah j = 1, 2 merupakan:
j = 1 = Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbasis masalah.
j = 2 = Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis masalah.
k = 1, 2, 3, …. nij nij = Banyaknya data amatan pada sel ij
Berikut disajikan tabel yang menggambarkan model analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama yaitu:
Tabel 3.22 Tata Letak Data
Faktor a Faktor b
Total
b1 b2
a1 ab11 ab12 A1
a2 ab21 ab22 A2
a3 ab31 ab32 A3
Total B1 B2 G
Keterangan:
a1 = Kecerdasan emosional tinggi a2 = Kecerdasan emosional sedang a3 = Kecerdasan emosional rendah
b1 = Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbasis masalah b2 = Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis masalah A1 = Jumlah data pada baris ke-1
A2 = Jumlah data pada baris ke-2 B1 = Jumlah data pada kolom ke-1 B2 = Jumlah data pada kolom ke-2 G = Jumlah seluruh data
Data penelitian dapat dianalisis secara manual dengan menggunakan perhitungan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama dengan langkah sebagai berikut:
a. Melakukan analisis variansi untuk melihat apakah terdapat efek utama pada baris dan kolom serta efek interaksi.
1) H0A : Tidak ada perbedaan efek antara baris terhadap variabel terikat H1A : Ada perbedaan efek antara baris terhadap variabel terikat 2) H0B : Tidak ada perbedaan efek antara kolom terhadap variabel
terikat
H1B : Ada perbedaan efek antara kolom terhadap variabel terikat 3) H0AB : Tidak ada interaksi baris dan kolom terhadap variabel terikat
H1AB : Ada interaksi baris dan kolom terhadap variabel terikat b. Taraf signifikan (α) yang digunakan yaitu 0,05
c. Komputasi
Pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diidentifikasi notasi-notasi sebagai berikut:
nij = Ukuran sel ij (sel pada baris ke-I dan kolom ke-j) n = Banyaknya data amatan pada sel ij
ij = Frekuensi sel ij
𝑛̅ℎ = Rerata harmonik frekuensi seluruh sel = 𝑝𝑞
∑ 1
𝑖,𝑗𝑛𝑖𝑗
N = ∑𝑖,𝑗𝑛𝑖𝑗= Banyaknya seluruh data amatan SSij = ∑ 𝑋𝑖𝑗𝑘2 − (∑ 𝑋𝑖𝑗𝑘
𝑘 2 )2 𝑛𝑖𝑗
𝑘 = Jumlah kuadrat deviasi data amatan sel ij 𝐴𝐵̅̅̅̅𝑖𝑗 = Rerata pada sel ij
Ai = ∑𝑗̅̅̅̅𝐴𝐵𝑖𝑗 = Jumlah rerata pada baris ke-i Bj = ∑𝑖𝐴𝐵̅̅̅̅𝑖𝑗 = Jumlah rerata pada baris ke-j G = ∑𝑖,𝑗𝐴𝐵̅̅̅̅𝑖𝑗 = Jumlah rerata semua sel
Selanjutnya untuk mempermudah perhitungan, berikut didefinisikan besaran-besaran sebagai berikut:
1) = 𝐺
2
𝑝𝑞
2) = ∑𝑖,𝑗𝑆𝑆𝑖𝑗 3) = ∑ 𝐴𝑖
2 𝑖 𝑞
4) = ∑ 𝐵𝑖
2
𝑗 𝑃
5) = ∑𝑖,𝑗̅̅̅̅𝐴𝐵𝑖𝑗2
Langkah selanjutnya yaitu menghitung jumlah kuadrat yang terdiri dari lima jenis jumlah kuadrat pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama yaitu jumlah kuadrat baris (JKA), jumlah kuadrat kolom (JKB), jumlah kuadrat interaksi (JKAB), jumlah kuadrat galat (JKG), dan jumlah kuadrat total (JKT). Berikut formula dari sifat matematisnya:
JKA = 𝑛̅ℎ {(3) – (1)}
JKB = 𝑛̅ℎ {(4) – (1)}
JKAB = 𝑛̅ℎ {(1) + (5) – (3) – (4)}
JKG = (2)
JKT = JKA + JKB + JKAB + JKG
Derajat kebebasan untuk masing-masing jumlah kuadrat yaitu:
dkA = p -1; dkAB = (p – 1) (q – 1); dkT = N – 1; dkB = q – 1; dkG = N – pq