• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Responden Penelitian

Kuesioner yang disebarkan dan terisi dengan benar berjumlah 105 buah.

Kuesioner tersebut disebarkan kepada responden yang memiliki berbagai macam profesi dalam bidang konstruksi.

4.1.1 Posisi Perusahaan Sebagai Pelaku Konstruksi

Posisi perusahaan yang disebutkan dalam kuesioner adalah konsultan arsitek, konsultan struktur, konsultan ME, kontraktor, pemilik proyek pribadi, dan pemilik proyek developer. Dari 105 responden seperti tampak pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1, tampak bahwa 20% atau 20 responden adalah konsultan arsitek.

Posisi konsultan struktur sebanyak 15 responden atau 14%. Responden dengan posisi sebagai konsultan mekanikal elektrikal ada 13% atau 14 responden. Posisi sebagai kontraktor sebanyak 31% atau 32 responden. Sebagai pemilik proyek pribadi sebanyak 13 responden atau 12%. Sedangkan sebagai pemilik proyek developer sebesar 10% atau 11 responden.

Tabel 4.1 Hasil Kuesioner Posisi Perusahaan Responden Sebagai Pelaku Konstruksi

Posisi Perusahaan Posisi Perusahaan Responden Jumlah Responden

Konsultan Arsitek 20

Konsultan Struktur 15

Konsultan ME 14 49 Konsultan

Kontraktor 32 32 Kontraktor

Pemilik Proyek Pribadi 13

Pemilik Proyek Developer 11 24 Pemilik

Total 105 105

Apabila dikelompokkan dalam 3 besar posisi pelaku konstruksi maka data yang didapat adalah 47% atau 49 orang adalah konsultan, 30% atau 32 orang adalah kontraktor, dan 23% atau 24 orang adalah pemilik proyek.

(2)

47%

30%

23%

Konsultan Kontraktor Pemilik

Gambar 4.1 Distribusi Posisi Perusahaan Sebagai Pelaku Konstruksi

4.1.2 Pengalaman Di Bidang Konstruksi

Dalam kuesioner ditanyakan pengalaman responden bekerja dalam bidang konstruksi. Dari hasil 105 buah kuesioner seperti yang tampak pada Tabel 4.2 dan Gambar 4.2 didapatkan 31 responden atau 30% memiliki pengalaman kurang dari 5 tahun dengan komposisi 22 orang berasal dari konsultan, 5 orang dari kontraktor, dan 4 orang dari pemilik proyek. Yang memiliki pengalaman antara 5- 10 tahun sebanyak 39 orang atau 37% dengan komposisi 17 orang berasal dari konsultan, 9 orang dari kontraktor, dan 13 orang dari pemilik proyek. Untuk responden dengan pengalaman lebih dari 10 tahun ada 33% atau sebanyak 35 responden dengan komposisi 10 orang dari konsultan, 18 orang dari kontraktor, dan 7 orang dari pemilik proyek.

Tabel 4.2 Hasil Kuesioner Pengalaman Responden Di Bidang Konstruksi

Posisi Pengalaman di Bidang Konstruksi Perusahaan Kurang dari Antara Lebih dari

Responden 5 tahun 5-10 tahun 10 tahun

Konsultan 22 17 10

Kontraktor 5 9 18

Pemilik Proyek 4 13 7

Total 31 39 35

(3)

30%

37%

33%

Kurang dari 5 tahun Antara 5-10 tahun Lebih dari 10 tahun

Gambar 4.2 Distribusi Pengalaman Di Bidang Konstruksi

4.1.3 Masa Kerja Di Perusahaan

Untuk masa kerja responden di perusahaan didapatkan 40 orang atau 38%

yang memiliki masa kerja kurang dari 5 tahun dengan komposisi 21 orang berasal dari konsultan, 12 orang dari kontraktor, dan 7 orang dari pemilik. Sedangkan untuk masa kerja antara 5-10 tahun terdapat 47 orang atau 45% dengan komposisi 22 orang berasal dari konsultan, 15 orang dari kontraktor, dan 10 orang dari pemilik proyek. Responden yang memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun hanya ada 18 orang atau sekitar 17% dengan komposisi 6 orang berasal dari konsultan, 5 orang dari kontraktor, dan 7 orang dari pemilik proyek. Secara jelas dan mendetail hasil kuesioner masa kerja responden di perusahaan dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan Gambar 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Kuesioner Masa Kerja Responden Di Perusahaan

Posisi Masa Kerja di Perusahaan

Perusahaan Kurang dari Antara Lebih dari Responden 5 tahun 5-10 tahun 10 tahun

Konsultan 21 22 6

Kontraktor 12 15 5

Pemilik Proyek 7 10 7

Total 40 47 18

(4)

38%

45%

17%

Kurang dari 5 tahun Antara 5-10 tahun Lebih dari 10 tahun

Gambar 4.3 Distribusi Masa Kerja Di Perusahaan

4.2 Analisa Kriteria Kinerja Konsultan Perencana Dengan Menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP)

Terdapat dua buah kriteria untuk mengukur kinerja konsultan perencana, yaitu kinerja tugas (task performance) dan kinerja konteks (contextual performance). Dari analisa AHP untuk ketiga pelaku konstruksi, yaitu konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek didapatkan nilai bobot kriteria kinerja tugas yang lebih dominan dibandingkan kriteria kinerja konteks seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Nilai Bobot Kriteria Kinerja Konsultan Perencana Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Nilai Bobot

Kriteria Kinerja Konsultan Perencana Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Kinerja Tugas TSP 0,518 0,568 0,608

Kinerja Konteks CTP 0,482 0,432 0,392

Nilai bobot yang didapatkan dari analisa AHP disusun dari nilai bobot yang terbesar hingga yang terkecil untuk mengetahui peringkat dari kriteria kinerja konsultan perencana menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.5.

(5)

Tabel 4.5 Peringkat Kriteria Kinerja Konsultan Perencana Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Peringkat

Kriteria Kinerja Konsultan Perencana Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Kinerja Tugas TSP 1 1 1

Kinerja Konteks CTP 2 2 2

Berdasarkan nilai bobot kriteria kinerja konsultan perencana yang didapatkan dari analisa AHP, diketahui bahwa menurut pendapat konsultan kinerja tugas dengan nilai bobot sebesar 0,518 merupakan kriteria yang paling penting bagi kinerja konsultan perencana daripada kinerja konteks yang hanya memiliki nilai bobot sebesar 0,482. Sedangkan menurut pendapat kontraktor kinerja tugas dengan nilai bobot sebesar 0,568 merupakan kriteria yang paling penting bagi kinerja konsultan perencana daripada kinerja konteks yang hanya memiliki nilai bobot sebesar 0,432. Bagi pemilik proyek, kinerja tugas dengan nilai bobot sebesar 0,608 merupakan kriteria yang paling penting bagi kinerja konsultan perencana daripada kinerja konteks yang hanya memiliki nilai bobot sebesar 0,392.

Secara keseluruhan, pendapat ketiga pelaku konstruksi terhadap kriteria kinerja konsultan perencana adalah sama yaitu mengganggap kinerja tugas lebih penting daripada kinerja konteks (peringkat kinerja tugas lebih tinggi dari kinerja konteks). Pemilik proyek menempatkan kinerja tugas sedikit lebih penting dibandingkan konsultan dan kontraktor dengan nilai bobot mencapai 0,608. Jadi dapat dikatakan kinerja tugas merupakan kriteria yang penting bagi kinerja konsultan perencana, tetapi kinerja konteks juga tetap harus diperhatikan karena memiliki kontribusi tersendiri terhadap kinerja konsultan perencana.

Hal ini didukung hasil interview dari beberapa orang konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek. Menurut konsultan, kinerja tugas merupakan parameter yang penting dalam menentukan kemampuan konsultan perencana secara teknis. Dalam prakteknya, konsultan lebih mengutamakan sisi teknis daripada non teknis karena berkaitan dengan disain itu sendiri sehingga akan lebih menonjolkan sisi kinerja tugas daripada kinerja konteks. Sangat wajar apabila konsultan menganggap skill lebih berperan dalam menghasilkan disain yang

(6)

yang tidak dapat diabaikan guna kelancaran pembuatan disain yang memerlukan koordinasi, komunikasi, dan kerja sama yang baik dari sesama konsultan perencana dan pemilik proyek.

Menurut kontraktor seharusnya kinerja konteks lebih penting bagi kinerja konsultan perencana meskipun hasil penelitian lebih mengarah pada kinerja tugas.

Pertimbangan kontraktor ini berkaitan erat dengan kemampuan konsultan perencana dalam menghasilkan disain yang constructability (mudah dilaksanakan di lapangan). Kontraktor menyatakan ada kalanya kinerja tugas lebih dominan dalam kinerja konsultan perencana. Salah satunya apabila berkaitan dengan struktur organisasi suatu proyek, contohnya adalah kontraktor Design Builder memiliki kontrol terhadap disain konsultan perencana langsung di bawah kontraktor sehingga kontraktor Design Builder akan lebih memandang penting kinerja tugas daripada kinerja konteks.

Menurut pemilik proyek, kinerja tugas sudah tepat dinyatakan sebagai kriteria yang penting dari kinerja konsultan perencana namun bukan berarti kinerja konteks tidak diperhatikan. Pemilik proyek beranggapan bahwa konsultan perencana harus mampu menyelesaikan tugas-tugas kerjanya dengan baik dan menghasilkan disain sesuai dengan standar yang berlaku. Pemilik proyek biasanya lebih memandang kepada hasil yang identik dengan kinerja tugas daripada proses yang lebih mengarah kepada kinerja konteks. Padahal hasil yang baik belum tentu didapatkan dari proses yang benar dan proses yang benar belum tentu mendapatkan hasil yang baik. Kinerja tugas maupun kinerja konteks keduanya memiliki keterkaitan dalam pembuatan suatu disain, sehingga akan lebih baik jika keduanya berjalan dengan seimbang.

4.3 Analisa Sub Kriteria Kinerja Konsultan Perencana Dengan Menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP)

Kriteria kinerja tugas dan kriteria kinerja konteks memiliki sub kriteria sebagai komponen pendukungnya. Kinerja tugas memiliki empat sub kriteria sedangkan kinerja konteks memiliki lima sub kriteria.

(7)

4.3.1 Sub Kriteria Dari Kriteria Kinerja Tugas

Dari analisa AHP untuk ketiga pelaku konstruksi, yaitu konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek didapatkan nilai bobot sub kriteria kinerja tugas seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Nilai Bobot Sub Kriteria Kinerja Tugas Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Sub Kriteria Kinerja

Konsultan Perencana Nilai Bobot

Kinerja Tugas Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Pengalaman Kerja JE 0,364 0,449 0,232

Kecakapan Tugas TP 0,268 0,238 0,302

Pengetahuan Kerja JK 0,211 0,180 0,171

Kemampuan Memahami CA 0,157 0,132 0,296

Nilai bobot yang didapatkan dari analisa AHP disusun dari nilai bobot yang terbesar hingga yang terkecil untuk mengetahui peringkat dari sub kriteria kinerja tugas menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Peringkat Sub Kriteria Kinerja Tugas Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Sub Kriteria Kinerja

Konsultan Perencana Peringkat

Kinerja Tugas Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Pengalaman Kerja JE 1 1 3

Kecakapan Tugas TP 2 2 1

Pengetahuan Kerja JK 3 3 4

Kemampuan Memahami CA 4 4 2

Berdasarkan nilai bobot sub kriteria dari kriteria kinerja tugas yang didapatkan dari analisa AHP pada Tabel 4.6, diketahui bahwa menurut pendapat konsultan dan kontraktor, pengalaman kerja dengan nilai bobot sebesar 0,364 merupakan sub kriteria yang paling penting bagi kriteria kinerja tugas karena berada pada peringkat teratas. Kecakapan tugas berada pada peringkat kedua sehingga dianggap sebagai sub kriteria yang cukup penting bagi kriteria kinerja tugas dengan nilai bobot sebesar 0,268. Pada peringkat ketiga, terdapat

(8)

pengetahuan kerja dengan nilai bobot sebesar 0,211 yang merupakan sub kriteria kurang penting bagi kriteria kinerja tugas. Kemampuan memahami yang memiliki nilai bobot sebesar 0,157 dapat dianggap sebagai sub kriteria yang tidak begitu penting bagi kriteria kinerja tugas karena hanya berada pada peringkat terakhir.

Menurut pendapat pemilik proyek, kecakapan tugas dengan nilai bobot sebesar 0,302 merupakan sub kriteria yang paling penting bagi kriteria kinerja tugas karena berada pada peringkat teratas. Kemampuan memahami berada pada peringkat kedua sehingga dianggap sebagai sub kriteria yang cukup penting bagi kriteria kinerja tugas dengan nilai bobot sebesar 0,296. Pada peringkat ketiga, terdapat pengalaman kerja dengan nilai bobot sebesar 0,232 yang merupakan sub kriteria kurang penting bagi kriteria kinerja tugas. Pengetahuan kerja memiliki nilai bobot sebesar 0,171 dapat dianggap sebagai sub kriteria yang tidak begitu penting bagi kriteria kinerja tugas karena hanya berada pada peringkat terakhir.

Secara keseluruhan, pendapat konsultan dan kontraktor terhadap sub kriteria pengalaman kerja adalah sama, yaitu menganggap pengalaman kerja lebih penting daripada sub kriteria lainnya. Meskipun pengalaman kerja memiliki nilai bobot yang lebih besar dari nilai bobot kecakapan tugas namun selisihnya hanya sekitar 0,100 sehingga menempatkan kecakapan tugas pada peringkat kedua setelah pengalaman kerja. Begitu pula untuk nilai bobot pengetahuan kerja yang hanya berselisih sekitar 0,100 dari nilai bobot pengalaman kerja dapat juga dianggap memiliki tingkat kepentingan bagi kinerja tugas. Untuk kemampuan memahami yang hanya memiliki nilai bobot 0,157 sebenarnya juga memiliki tingkat kepentingan harus diperhatikan. Berbeda dengan pendapat pemilik proyek yang menganggap kecakapan tugas lebih penting daripada sub kriteria lainnya sehingga menempati peringkat pertama dan kemampuan memahami pada peringkat kedua. Meski demikian selisih nilai bobot yang hanya berkisar 0,100 membuat pengalaman kerja juga dipandang penting bagi kinerja tugas. Untuk pengetahuan kerja yang hanya memiliki nilai bobot 0,171 sebenarnya juga memiliki tingkat kepentingan harus diperhatikan.

Jadi dapat dikatakan ketiga pelaku konstruksi memandang keempat sub kriteria sebagai sub kriteria yang penting bagi kinerja tugas dengan tingkat

(9)

kepentingan yang berbeda. Hal ini didukung hasil interview dari beberapa orang konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek.

Menurut konsultan dan kontraktor, pertimbangan mengapa pengalaman kerja berada pada peringkat pertama adalah ditinjau dari jam terbang konsultan perencana. Konsultan perencana memandang jam terbang yang tinggi yang akan membuat konsultan perencana jeli terhadap detil disain dan permasalahan yang sering terjadi dalam hal mendisain, terutama jika hal ini dikaitkan dengan hasil disain konsultan perencana yang harus dapat dikerjakan oleh kontraktor di lapangan (berhubungan dengan constructability). Hal ini tidak dapat diartikan bahwa ketiga sub kriteria lainnya yang tidak berada pada peringkat pertama tidak diperhatikan. Bagaimanapun juga dalam menentukan skill seorang konsultan perencana, kecakapan tugas, pengetahuan kerja, dan kemampuan memahami juga dijadikan sebagai bahan pertimbangan selain pengalaman kerja.

Pemilik proyek memiliki pendapat yang berbeda dari konsultan dan kontraktor. Agar seorang konsultan perencana mampu menyelesaikan tugas-tugas kerjanya, pemilik proyek berpendapat bahwa kecakapan tugas memiliki porsi yang paling penting sebagai sub kriteria dari kinerja tugas. Seorang konsultan perencana yang cakap diharapkan mampu memberikan solusi dan inovasi disain agar dapat mendisain suatu bangunan sesuai dengan yang dikehendaki pemilik.

Sub kriteria kecakapan tugas memang dianggap lebih penting, akan tetapi sub kriteria kemampuan memahami, pengetahuan kerja, dan pengalaman kerja dari kriteria kinerja tugas juga dianggap penting bagi kinerja konsultan perencana sehingga tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Seperti halnya kemampuan memahami yang berperan bagi kelancaran mengintepretasikan gambaran disain yang diharapkan oleh pemilik proyek. Bagi pemilik proyek kemampuan constructability yang akan memperlancar kerja sama konsultan dan kontraktor bukan dianggap tidak penting. Pemilik proyek menganggap konsultan perencana dengan kecakapan tugas yang baik secara otomatis akan menghasilkan disain yang dapat diterjemahkan kontraktor untuk dikerjakan di lapangan.

(10)

4.3.2 Sub Kriteria Dari Kriteria Kinerja Konteks

Dari analisa AHP untuk ketiga pelaku konstruksi, yaitu konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek didapatkan nilai bobot sub kriteria kinerja konteks seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Nilai Bobot Sub Kriteria Kinerja Konteks Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Sub Kriteria Kinerja

Konsultan Perencana Nilai Bobot

Kinerja Konteks Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Pengendalian CTR 0,293 0,347 0,172

Komitmen COM 0,246 0,242 0,175

Inisiatif IN 0,166 0,128 0,192

Kemampuan Bersosialisasi SS 0,149 0,123 0,185

Kesungguhan CS 0,147 0,160 0,276

Nilai bobot yang didapatkan dari analisa AHP disusun dari nilai bobot yang terbesar hingga yang terkecil untuk mengetahui peringkat dari sub kriteria kinerja konteks menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Peringkat Sub Kriteria Kinerja Konteks Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Sub Kriteria Kinerja

Konsultan Perencana Peringkat

Kinerja Konteks Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Pengendalian CTR 1 1 5

Komitmen COM 2 2 4

Inisiatif IN 3 4 2

Kemampuan Bersosialisasi SS 4 5 3

Kesungguhan CS 5 3 1

Berdasarkan nilai bobot sub kriteria dari kriteria kinerja konteks yang didapatkan dari analisa AHP pada Tabel 4.8, diketahui bahwa menurut pendapat konsultan, pengendalian dengan nilai bobot sebesar 0,293 merupakan sub kriteria yang paling penting bagi kriteria kinerja konteks karena berada pada peringkat teratas. Komitmen berada pada peringkat kedua sehingga dianggap sebagai sub kriteria yang cukup penting bagi kriteria kinerja konteks dengan nilai bobot

(11)

sebesar 0,246. Pada peringkat ketiga, terdapat inisiatif dengan nilai bobot sebesar 0,166 yang merupakan sub kriteria yang penting bagi kriteria kinerja konteks.

Peringkat keempat diduduki oleh kemampuan bersosialisasi yang dianggap sebagai sub kriteria yang kurang penting bagi kriteria kinerja konteks dengan nilai bobot sebesar 0,149. Kesungguhan yang memiliki nilai bobot sebesar 0,147 dapat dianggap sebagai sub kriteria yang tidak begitu penting bagi kriteria kinerja konteks karena hanya berada pada peringkat terakhir.

Menurut pendapat kontraktor, pengendalian dengan nilai bobot sebesar 0,347 merupakan sub kriteria yang paling penting bagi kriteria kinerja konteks karena berada pada peringkat teratas. Komitmen berada pada peringkat kedua sehingga dianggap sebagai sub kriteria yang cukup penting bagi kriteria kinerja konteks dengan nilai bobot sebesar 0,242. Pada peringkat ketiga, terdapat kesungguhan dengan nilai bobot sebesar 0,160 yang merupakan sub kriteria yang penting bagi kriteria kinerja konteks. Peringkat keempat diduduki oleh inisiatif yang dianggap sebagai sub kriteria yang kurang penting bagi kriteria kinerja konteks dengan nilai bobot sebesar 0,128. Kemampuan bersosialisasi memiliki nilai bobot sebesar 0,123 dapat dianggap sebagai sub kriteria yang tidak begitu penting bagi kriteria kinerja konteks karena hanya berada pada peringkat terakhir.

Menurut pendapat pemilik proyek, kesungguhan dengan nilai bobot sebesar 0,276 merupakan sub kriteria yang paling penting bagi kriteria kinerja konteks karena berada pada peringkat teratas. Inisiatif berada pada peringkat kedua sehingga dianggap sebagai sub kriteria yang cukup penting bagi kriteria kinerja konteks dengan nilai bobot sebesar 0,192. Pada peringkat ketiga, terdapat kemampuan bersosialisasi dengan nilai bobot sebesar 0,185 yang merupakan sub kriteria yang penting bagi kriteria kinerja konteks. Peringkat keempat diduduki oleh komitmen yang dianggap sebagai sub kriteria yang kurang penting bagi kriteria kinerja konteks dengan nilai bobot sebesar 0,175. Pengendalian memiliki nilai bobot sebesar 0,172 dapat dianggap sebagai sub kriteria yang tidak begitu penting bagi kriteria kinerja konteks karena hanya berada pada peringkat terakhir.

Secara keseluruhan, pendapat konsultan dan kontraktor terhadap sub kriteria pengalaman kerja adalah hampir sama, yaitu menganggap pengendalian dan komitmen lebih penting daripada sub kriteria lainnya dengan nilai bobot yang

(12)

hampir sama yaitu sekitar 0,200 menurut konsultan dan nilai bobot yang hanya berselisih 0,100 antara pengendalian dan komitmen menurut pendapat kontraktor.

Untuk nilai bobot inisiatif, kemampuan bersosialisasi, dan kesungguhan dengan kisaran 0,100 atau dapat dianggap relatif sama diantara ketiganya, antara konsultan dan kontraktor terdapat perbedaan peringkat namun sebenarnya juga memiliki tingkat kepentingan harus diperhatikan. Berbeda dengan pendapat pemilik proyek yang menganggap kesungguhan lebih penting daripada sub kriteria lainnya sehingga menempati peringkat pertama. Meski demikian selisih nilai bobot yang hanya berkisar 0,100 membuat keempat sub kriteria lainnya juga dipandang penting bagi kinerja konteks.

Jadi dapat dikatakan ketiga pelaku konstruksi memandang kelima sub kriteria sebagai sub kriteria yang penting bagi kinerja konteks dengan tingkat kepentingan yang berbeda. Hal ini didukung hasil interview dari beberapa orang konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek.

Konsultan dan kontraktor sama-sama menempatkan pengendalian dan komitmen pada dua posisi teratas sebagai sub kriteria yang paling penting bagi kinerja konteks. Hal ini dikarenakan apabila pengendalian yang baik disertai dengan komitmen yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugas kerja yang menjadi kewajiban dari konsultan perencana akan membuat hasil disain menjadi lebih terjamin secara kualitas. Sedangkan untuk inisiatif, kemampuan bersosialisasi, dan kesungguhan memiliki peringkat yang berbeda bagi konsultan dan kontraktor.

Konsultan memandang insiatif harus didahulukan setelah pengendalian dan komitmen dengan pertimbangan bahwa konsultan perencana harus secara aktif memberikan saran, solusi, dan pertimbangan disain pada pemilik guna penghematan dalam sumber daya proyek yang sering kali tidak diperhatikan oleh konsultan perencana. Konsultan perencana hanya terfokus pada menghasilkan disain yang sesuai standar dan permintaan pemilik tanpa mengoptimalkan penggunaan sumber daya proyek sebagai pendekatan terhadap keefektifan seluruh biaya proyek. Kemampuan bersosialisasi dan kesungguhan tetap dipandang penting agar tercipta kelancaran komunikasi dalam pencapaian target yang telah ditentukan oleh pemilik proyek.

(13)

Berbeda dengan pemilik yang beranggapan kesungguhan adalah sub kriteria yang paling penting bagi kriteria kinerja konteks. Hal ini dikarenakan anggapan pemilik bahwa kesungguhan konsultan perencana sebagai bagian dari kesadaran untuk melaksanakan kewajiban kerja akan membuat konsultan perencana menjadi lebih produktif dan tidak membuang-buang jam kerja yang efektif. Pemilik menginginkan konsultan perencana dapat menghasilkan disain yang akurat dengan tidak melebihi batas waktu yang telah ditentukan pemilik.

Inisiatif, kemampuan bersosialisasi, komitmen, dan pengendalian tetap dianggap pemilik sebagai sub kriteria dari kinerja konteks yang saling berkesinambungan.

Insiatif akan melahirkan ide-ide baru dalam penyempurnaan disain yang tidak terpikirkan oleh pemilik terlebih bagi pemilik yang tidak begitu memahami dunia konstruksi. Kemampuan bersosialisasi akan memperlancar komunikasi dan memudahkan intepretasi disain. Komitmen dan pengendalian akan membuat konsultan perencana fokus pada tujuan proyek dan terjaminnya kualitas disain.

Kelima sub kriteria tersebut tetap dianggap penting bagi pemilik proyek dengan tingkat kepentingan yang berbeda.

Pemilik menempatkan kesungguhan pada peringkat pertama karena berhubungan dengan pandangan pemilik terhadap kosultan perencana, sedangkan konsultan dan kontraktor menempatkan pengendalian pada peringkat pertama karena berhubungan dengan pandangan konsultan terhadap diri sendiri dan pandangan kontraktor terhadap diri sendiri apabila memiliki struktur organisasi design build.

4.4 Analisa Atribut-Atribut Kinerja Konsultan Perencana Berdasarkan Pemberian Peringkat Menurut Pendapat Responden

Dari empat sub kriteria kinerja tugas dan lima sub kriteria kinerja konteks, masing-masing memiliki beberapa atribut. Empat sub kriteria kinerja tugas total memiliki 25 atribut sedangkan lima sub kriteria kinerja konteks memiliki 33 atribut. Atribut-atribut tersebut disusun berdasarkan peringkat dari isian kuesioner untuk mengetahui atribut mana yang penting dari masing-masing sub kriteria.

(14)

4.4.1 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Kemampuan Memahami

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria kemampuan memahami menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Kemampuan Memahami Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Kemampuan Memahami Kode Konsultan Kontraktor Pemilik Kemampuan menganalisa situasi dengan tepat

dan menentukan rangkaian tindakan

yang benar CA4 1 1 1

Kemampuan menyelesaikan masalah

dan teknis disain CA6 2 2 5

Kreatifitas dan inovasi dalam menyusun

konsep disain CA1 3 4 4

Identifikasi terhadap permintaan pemilik

dan tujuan proyek CA3 4 6 2

Kemampuan membuat keputusan yang

baik terhadap hambatan yang datang CA5 5 5 6

Kualifikasi akademis dan profesional

dari konsultan CA2 6 3 3

Berdasarkan Tabel 4.10, menurut pendapat konsultan ’kemampuan menganalisa situasi dengan tepat dan menentukan rangkaian tindakan yang benar’

merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kemampuan memahami karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut

’kualifikasi akademis dan profesional dari konsultan’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kemampuan memahami. Menurut pendapat kontraktor

’kemampuan menganalisa situasi dengan tepat dan menentukan rangkaian tindakan yang benar’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kemampuan memahami karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’identifikasi terhadap permintaan pemilik dan tujuan proyek’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kemampuan memahami.

Menurut pendapat pemilik proyek ’kemampuan menganalisa situasi dengan tepat dan menentukan rangkaian tindakan yang benar’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kemampuan memahami karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’kemampuan membuat keputusan

(15)

yang baik terhadap hambatan yang datang’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kemampuan memahami.

Secara keseluruhan pendapat ketiga pelaku konstruksi adalah hampir sama, yaitu menganggap ’kemampuan menganalisa situasi dengan tepat dan menentukan rangkaian tindakan yang benar’ sebagai atribut yang paling penting dari kelima atribut lainnya. Pada peringkat kedua, baik konsultan maupun kontraktor sama-sama menempatkan ’kemampuan menyelesaikan masalah dan teknis disain’ dengan pertimbangan bahwa dalam proses disain pasti akan banyak kendala yang dihadapi konsultan perencana sehingga dibutuhkan kemampuan menyelesaikan masalah yang terjadi dengan sigap. Sedangkan pemilik menempatkan ’identifikasi terhadap permintaan pemilik dan tujuan proyek’ pada peringkat kedua dengan pertimbangan bahwa konsultan perencana yang handal akan mampu menerjemahkan keinginan pemilik secara tepat. Perbedaan ini terjadi hanya karena perbedaan kepentingan masing-masing pelaku konstruksi dalam memandang atribut-atribut yang menunjang kinerja konsultan perencana.

Berdasarkan hasil penelitian dari Tanjungan (2000) tentang identifikasi dan peringkat kriteria-kriteria prakualifikasi konsultan perencana didapatkan hasil bahwa kriteria ’analisa masalah dan pengambilan keputusan’ untuk target proyek berdasarkan waktu tanpa memperhatikan aspek berada pada peringkat kedua.

Apabila memperhatikan aspek manajemen, maka kriteria tersebut berada pada peringkat pertama. Hal ini membuktikan bahwa pentingnya kriteria ’analisa masalah dan pengambilan keputusan’ yang terangkum dalam atribut paling penting dari sub kriteria kemampuan memahami ternyata tidak hanya penting dalam menentukan kinerja konsultan perencana tetapi juga penting bagi prakualifikasi konsultan perencana.

4.4.2 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Pengetahuan Kerja

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria pengetahuan kerja menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.11.

(16)

Tabel 4.11 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Pengetahuan Kerja Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Pengetahuan Kerja Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Pengetahuan akan ilmu dasar disain JK1 1 1 1

Pengetahuan constructability JK3 2 3 2

Pertimbangan terhadap lingkungan dalam disain JK5 3 5 5

Pengetahuan disain yang ekonomis JK2 4 2 3

Pertimbangan estetika untuk pekerjaan yang

akan diselesaikan pada masa datang JK4 5 4 4

Penggunaan program komputer yang lebih

maju dalam disain JK6 6 6 6

Berdasarkan Tabel 4.11, menurut pendapat konsultan ’pengetahuan akan ilmu dasar disain’ merupakan atribut paling penting bagi sub kriteria pengetahuan kerja karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut

’penggunaan program komputer yang lebih maju dalam disain’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengetahuan kerja. Menurut pendapat kontraktor

’pengetahuan akan ilmu dasar disain’ merupakan atribut paling penting bagi sub kriteria pengetahuan kerja karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’penggunaan program komputer yang lebih maju dalam disain’ disain’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengetahuan kerja.

Menurut pendapat pemilik proyek ’pengetahuan akan ilmu dasar disain’

merupakan atribut paling penting bagi sub kriteria pengetahuan kerja karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’penggunaan program komputer yang lebih maju dalam disain’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengetahuan kerja.

Secara keseluruhan pendapat ketiga pelaku konstruksi adalah hampir sama, yaitu menganggap ’pengetahuan akan ilmu dasar disain’ sebagai atribut yang paling penting dari kelima atribut lainnya karena merupakan modal utama konsultan perencana untuk menghasilkan disain sesuai standar dan fungsinya.

Pada peringkat kedua, baik konsultan maupun pemilik sama-sama menempatkan atribut ’pengetahuan constructability’ dengan pertimbangan bahwa pengetahuan ini mutlak diperlukan agar disain yang telah dihasilkan oleh konsultan perencana dapat dikerjakan oleh kontraktor di lapangan. Kontraktor juga menganggap atribut ini penting dengan menempatkannya pada peringkat ketiga sesudah atribut

(17)

’pengetahuan disain yang ekonomis’. Menurut ketiga pelaku konstruksi atribut

’penggunaan program komputer yang lebih maju dalam disain’ menduduki peringkat paling akhir tetapi bukan berarti atribut tersebut tidak memiliki tingkat kepentingan tersendiri bagi kinerja konsultan perencana.

Pada prakteknya, penggunaan program komputer yang lebih maju sangat menunjang kinerja konsultan perencana, misalnya penggunaan program Autocad dan 3D Max versi terbaru membuat hasil gambar disain dan gambar rendering konsultan perencana arsitek menjadi lebih bagus secara kualitas atau penggunaan program ETABS dan Plaxis versi terbaru yang membuat perhitungan momen dan tiang pancang bagunan menjadi lebih mudah diprediksi oleh konsultan perencana struktur, dll.

4.4.3 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Kecakapan Tugas

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria kecakapan tugas menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Kecakapan Tugas Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Kecakapan Tugas Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Kualitas teknis disain TP1 1 3 3

Ketahanan dari disain yang telah selesai

dikerjakan TP4 2 2 5

Keakuratan disain TP3 3 6 7

Kualitas fungsional disain TP2 4 1 2

Solusi disain yang secara umum menerapkan

semua aspek constructability TP5 5 4 4

Gambar disain dan dokumen yang mencakup

banyak hal, jelas, dan didefinisikan dengan baik TP7 6 5 6 Menghasilkan pekerjaan yang berstandar

kualitas tinggi TP9 7 8 8

Menunjukkan penguasaan dalam

tugas-tugas kerja TP8 8 9 9

Solusi disain yang memenuhi standar

finansial proyek TP6 9 7 1

Berdasarkan Tabel 4.12, menurut pendapat konsultan ’kualitas teknis disain’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kecakapan tugas

(18)

karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’solusi disain yang memenuhi standar finansial proyek’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kecakapan tugas. Menurut pendapat kontraktor ’kualitas fungsional disain’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kecakapan tugas karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut

’menunjukkan penguasaan dalam tugas-tugas kerja’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kecakapan tugas. Menurut pendapat pemilik proyek ’solusi disain yang memenuhi standar finansial proyek’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kecakapan tugas karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’menunjukkan penguasaan dalam tugas-tugas kerja’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kecakapan tugas.

Secara keseluruhan pendapat ketiga pelaku konstruksi adalah berbeda.

Konsultan menganggap ’kualitas teknis disain’ sebagai atribut yang paling penting dari kedelapan atribut lainnya. Kontraktor menganggap ’kualitas fungsional disain’ sebagai atribut yang paling penting dari kedelapan atribut lainnya.

Sedangkan pemilik proyek menganggap ’solusi disain yang memenuhi standar finansial proyek’ sebagai atribut yang paling penting dari kedelapan atribut lainnya. Perbedaan ini wajar terjadi karena masing-masing pelaku konstruksi memiliki tugas dan deskripsi kerja yang berbeda. Konsultan lebih mengutamakan agar disain yang dihasilkan berkualitas, menjawab keinginan pemilik, dan secara teknis dapat dikerjakan di lapangan. Kontraktor lebih memilih mengerjakan konstruksi yang jelas fungsinya daripada konstruksi yang fungsinya belum terdefinisikan dengan baik. Sedangkan pemilik proyek lebih menginginkan hasil disain sesuai standar finansial proyek yang telah ditetapkan pemilik.

Meskipun perbedaan ini wajar terjadi, bukan berarti pada prakteknya konsultan menganggap kualitas fungsional disain tidak perlu diperhatikan karena bagi kontraktor dianggap sebagai atribut paling penting. Begitu pula solusi disain yang diharapkan pemilik dapat memenuhi standar finansial proyek juga harus tetap diperhatikan oleh konsultan. Hal yang paling menarik adalah atribut

’menunjukkan penguasaan tugas-tugas kerja’ yang hanya menempati peringkat terakhir menurut kontraktor dan pemilik. Idealnya pemilik menginginkan konsultan perencana menguasai dan mampu menyelesaikan tugas-tugas kerjanya

(19)

dengan baik. Jadi meskipun terjadi perbedaan tingkat kepentingan antara konsultan, kontraktor, dan pemilik, semua atribut-atribut tersebut tetaplah menentukan kecakapan dari seorang konsultan perencana dalam menjalankan tugas-tugasnya.

4.4.4 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Pengalaman Kerja

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria pengalaman kerja menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Pengalaman Kerja Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Pengalaman Kerja Kode Konsultan Kontraktor Pemilik Pengalaman dalam perencanaan disain yang

sering ditangani (spesialisasi) JE4 1 1 2

Lama pengalaman dalam industri konstruksi JE1 2 2 1

Pengalaman dalam perencanaan disain JE3 3 3 3

Pengalaman dalam proyek yang serupa

tipe dan ukurannya JE2 4 4 4

Berdasarkan Tabel 4.13, menurut pendapat konsultan ’pengalaman dalam perencanaan disain yang sering ditangani (spesialisasi)’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria pengalaman kerja karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’pengalaman dalam proyek yang serupa tipe dan ukurannya’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengalaman kerja. Menurut pendapat kontraktor ’pengalaman dalam perencanaan disain yang sering ditangani (spesialisasi)’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria pengalaman kerja karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’pengalaman dalam proyek yang serupa tipe dan ukurannya’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengalaman kerja. Menurut pendapat pemilik proyek ’lama pengalaman dalam industri konstruksi’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria pengalaman kerja karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’pengalaman dalam proyek yang serupa tipe dan ukurannya’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengalaman kerja.

(20)

Secara keseluruhan pendapat konsultan dan kontraktor adalah sama, yaitu menganggap ’pengalaman dalam perencanaan disain yang sering ditangani (spesialisasi)’ sebagai atribut yang paling penting dari ketiga atribut lainnya. Pada peringkat kedua, baik konsultan maupun kontraktor sama-sama menempatkan atribut ’lama pengalaman dalam industri konstruksi’. Berkebalikan dengan pemilik yang menempatkan atribut ’lama pengalaman dalam industri konstruksi’

pada peringkat pertama dan atribut ’pengalaman dalam perencanaan disain yang sering ditangani (spesialisasi)’ pada peringkat kedua. Hal ini membuktikan bahwa kedua atribut ini hampir sama pentingnya dalam menentukan sub kriteria pengalaman kerja bagi ketiga pelaku konstruksi. Menurut ketiga pelaku konstruksi atribut ’pengalaman dalam proyek yang serupa tipe dan ukurannya’ menduduki peringkat paling akhir dengan anggapan sudah terwakili oleh atribut ’pengalaman dalam perencanaan disain yang sering ditangani (spesialisasi)’.

Pada prakteknya, disain suatu proyek yang sama tipe dan ukurannya biasa terdapat pada jenis proyek perumahan, meski begitu bentuk rumah tersebut pastilah berbeda untuk setiap proyek perumahan. Begitu pula dengan jenis proyek gudang yang mungkin memiliki ukuran yang sama, hanya saja pasti memiliki fungsi ataupun tampak yang berbeda untuk tiap proyek gudang, kecuali atas permintaan pemilik terdahulu yang sudah pernah bekerja sama dalam proyek gudang sebelumnya. Jadi konsultan perencana yang memiliki spesialisasi perencanaan disain tertentu dianggap sudah memahami tipe dan ukuran suatu bangunan yang sering didisain. Selain spesialisasi, lama pengalaman konsultan perencana dalam industri konstruksi selalu menjadi pertimbangan utama bagi pemilik dalam memilih dan menilai konsultan perencana. Menurut Tanjungan (2000), pengalaman dianggap sebagai aspek yang perlu dipertimbangkan dalam kriteria prakualifikasi konsultan perencana. Lamanya pengalaman akan membuat konsultan perencana cepat tanggap dalam menangani klaim dan revisi disain yang berujung pada target penyelesaian proyek.

4.4.5 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Kesungguhan

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria kesungguhan menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.14.

(21)

Tabel 4.14 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Kesungguhan Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Kesungguhan Kode Konsultan Kontraktor Pemilik Perhatian terhadap detil disain dan konstruksi CS2 1 2 1

Ketekunan menanggulangi hambatan CS3 2 1 2

Antusiasme dalam mengatasi masalah yang

didapatkan pemilik CS5 3 3 3

Antusiasme dalam mengerjakan

pekerjaan yang sulit CS4 4 4 4

Kecepatan dalam menghasilkan

gambar disain CS1 5 5 5

Sukarela diberi tanggung jawab tambahan CS6 6 6 6

Menawarkan bantuan kepada personil lain

untuk menyelesaikan pekerjaan mereka CS7 7 8 8

Dengan sukarela melakukan pekerjaan lebih dari yang dibutuhkan untuk membantu personil lain atau sebagai bagian dari

keefektifan perusahaan CS8 8 7 7

Berdasarkan Tabel 4.14, menurut pendapat konsultan ’perhatian terhadap detail disain dan konstruksi’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kesungguhan karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’dengan sukarela melakukan pekerjaan lebih dari yang dibutuhkan untuk membantu personil lain atau sebagai bagian dari keefektifan perusahaan’

yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kesungguhan. Menurut pendapat kontraktor ’ketekunan menanggulangi hambatan’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kesungguhan karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’menawarkan bantuan kepada personil lain untuk menyelesaikan pekerjaan mereka’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kesungguhan. Menurut pendapat pemilik proyek ’perhatian terhadap detail disain dan konstruksi’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kesungguhan karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’menawarkan bantuan kepada personil lain untuk menyelesaikan pekerjaan mereka’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kesungguhan.

Pendapat konsultan dan pemilik adalah sama, yaitu menganggap

’perhatian terhadap detail disain dan konstruksi’ sebagai atribut yang paling penting dari ketujuh atribut lainnya. Pada peringkat kedua, baik konsultan maupun

(22)

pemilik sama-sama menempatkan atribut ’ketekunan menanggulangi hambatan’.

Berkebalikan dengan kontraktor yang menempatkan atribut ’ketekunan menanggulangi hambatan’ pada peringkat pertama dan atribut ’perhatian terhadap detail disain dan konstruksi’ pada peringkat kedua. Hal ini membuktikan bahwa kedua atribut ini hampir sama pentingnya dalam menentukan sub kriteria kesungguhan bagi ketiga pelaku konstruksi. Secara keseluruhan, pendapat ketiga pelaku konstruksi adalah hampir sama, karena perbedaan peringkat yang ada hanya berselisih satu peringkat diatas atau dibawahnya. Tiap atribut memiliki tingkat kepentingan masing-masing yang perlu diperhatikan.

Perhatian terhadap detail disain dan konstruksi, seperti gambar rencana, spesifikasi teknik dan syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan perlu disusun secara sistematis dan terstruktur sehingga tidak memberikan peluang timbulnya pekerjaan-pekerjaan tambahan di kemudian hari yang mengganggu tercapainya target proyek (Dipohusodo, 1996). Perhatian detail disain tercakup dalam kriteria proses disain yang dipandang dari aspek teknik dan berada pada peringkat paling penting untuk kriteria prakualifikasi konsultan perencana berdasarkan target proyek dari sisi biaya (Tanjungan, 2000).

4.4.6 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Inisiatif

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria inisiatif menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Inisiatif Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Inisiatif Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Memberikan pertimbangan disain yang baik IN1 1 1 1

Tersedianya inovasi dan solusi alternatif IN3 2 3 6

Memberikan saran untuk perbaikan disain IN2 3 2 2

Penurunan biaya konstruksi dari yang

dianggarkan pemilik IN5 4 4 3

Pengurangan keseluruhan sumber daya proyek

dari yang disediakan pemilik IN6 5 5 4

Pengurangan durasi konstruksi dari yang

ditetapkan pemilik IN4 6 6 5

(23)

Berdasarkan Tabel 4.15, menurut pendapat konsultan ’memberikan pertimbangan disain yang baik’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria inisiatif karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’pengurangan durasi konstruksi dari yang ditetapkan pemilik’

yang tidak begitu penting bagi sub kriteria inisiatif. Menurut pendapat kontraktor

’memberikan pertimbangan disain yang baik’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria inisiatif karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’pengurangan durasi konstruksi dari yang ditetapkan pemilik’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria inisiatif. Menurut pendapat pemilik proyek ’memberikan pertimbangan disain yang baik’

merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria inisiatif karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’tersedianya inovasi dan solusi alternatif’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria inisiatif.

Secara keseluruhan pendapat ketiga pelaku konstruksi adalah hampir sama, yaitu menganggap ’memberikan pertimbangan disain yang baik’ sebagai atribut yang paling penting dari kelima atribut lainnya karena memang untuk hal itulah jasa konsultan perencana dibutuhkan oleh pemilik proyek. Selain menghasilkan disain yang memenuhi harapan pemilik, konsultan perencana juga harus mampu memberikan pertimbangan disain yang baik sesuai dengan tujuan dan spesifikasi proyek. Pada peringkat kedua, baik kontraktor maupun pemilik sama-sama menempatkan atribut ’memberikan saran untuk perbaikan disain’

dengan pertimbangan bahwa perubahan pada disain tidak boleh menyebabkan penurunan kualitas disain. Sedangkan konsultan menempatkan ’tersedianya inovasi dan solusi alternatif’ pada peringkat kedua dengan anggapan bahwa pertimbangan disain yang baik semestinya disertai solusi alternatif dan inovasi disain yang harus disesuaikan dengan kebutuhan pemilik proyek. Berdasarkan hal tersebut barulah dapat disusun spesifikasi disain untuk memenuhi kebutuhan pemilik proyek (Tanjungan, 2000).

Atribut ’pengurangan durasi konstruksi dari yang ditetapkan pemilik’ yang ada di peringkat terakhir menurut konsultan dan kontraktor bukan dianggap tidak penting, hanya saja pada prakteknya konsultan dan kontraktor kurang begitu mengutamakan pengurangan durasi konstruksi melainkan berusaha menyelesaikan

(24)

konstruksi tepat waktu sesuai dengan jadwal proyek yang telah ditetapkan oleh pemilik proyek. Pendapat pemilik proyek ternyata tidak jauh berbeda dengan menempatkan atribut pengurangan durasi konstruksi pada peringkat kelima.

Pemilik proyek memang menginginkan penyelesaian proyek secepat mungkin tetapi tidak menginginkan terjadinya penurunan kualitas disain, sehingga pemilik beranggapan akan lebih baik jika proyek selesai tepat pada waktu yang ditentukan dan memenuhi standar kualitas yang baik.

Ketika konsultan menganggap atribut ’tersedianya inovasi dan solusi alternatif’ berada pada peringkat kedua, ternyata pemilik justru beranggapan atribut tersebut berada pada peringkat terakhir. Hal ini bisa terjadi karena pemilik menganggap atribut ’tersedianya inovasi dan solusi alternatif’ dari konsultan perencana sudah tercakup dalam atribut ’memberikan pertimbangan disain yang baik’. Tentunya konsultan perencana yang profesional akan memberikan pertimbangan disain yang disertai solusi alternatif dan inovasi dalam disain sehingga pemilik memiliki pandangan yang luas dan beragam pilihan untuk menyempurnakan disain yang diinginkan.

4.4.7 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Kemampuan Bersosialisasi

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria kemampuan bersosialisasi menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.16.

Tabel 4.16 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Kemampuan Bersosialisasi Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Kemampuan Bersosialisasi Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Keahlian komunikasi dengan pemilik SS2 1 2 1

Keahlian komunikasi dengan

konsultan lainnya SS3 2 5 4

Kemampuan bekerja sama dengan

personil lain dalam tim SS5 3 1 2

Keahlian hubungan antar individu SS1 4 4 3

Keahlian komunikasi dengan kontraktor SS4 5 3 5

(25)

Berdasarkan Tabel 4.16, menurut pendapat konsultan ’keahlian komunikasi dengan pemilik’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kemampuan bersosialisasi karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’keahlian komunikasi dengan kontraktor’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kemampuan bersosialisasi. Menurut pendapat kontraktor ’kemampuan bekerja sama dengan personil lain dalam tim’

merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kemampuan bersosialisasi karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut

’keahlian komunikasi dengan konsultan lainnya’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kemampuan bersosialisasi. Menurut pendapat pemilik proyek

’keahlian komunikasi dengan pemilik’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria kemampuan bersosialisasi karena berada pada peringkat teratas.

Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’keahlian komunikasi dengan kontraktor’

atribut yang tidak begitu penting bagi sub kriteria kemampuan bersosialisasi.

Pendapat konsultan dan pemilik adalah sama, yaitu menganggap ’keahlian komunikasi dengan pemilik’ sebagai atribut yang paling penting dari keempat atribut lainnya. Sedangkan kontraktor justru menganggap ’kemampuan bekerja sama dengan personil lain dalam tim’ sebagai atribut yang paling penting.

Perbedaan ini wajar terjadi karena masing-masing pelaku konstruksi memiliki tingkat komunikasi yang berbeda bergantung kepada struktur organisasi yang mengatur kewenangan dan garis pertanggung jawaban hasil kerja. Konsultan lebih mengutamakan keahlian komunikasi dengan pemilik proyek selaku pemakai jasa agar tercipta kelancaran dalam menerjemahkan keinginan pemilik. Begitu pula dengan pemilik yang juga mengharapkan konsultan perencana memiliki keahlian komunikasi dengan pemilik agar maksud pemilik dapat tersampaikan dengan jelas. Pendapat kontraktor lebih bersifat global dengan mengedepankan kemampuan kerja sama antar personil dalam tim yang dianggap sudah mencakup kelancaran komunikasi dan akan lebih berfungsi secara maksimal apabila struktur organisasi kontraktor adalah design build.

Meskipun menurut konsultan dan pemilik, atribut ’keahlian komunikasi dengan kontraktor’ berada pada peringkat terakhir bukan berarti dikesampingkan begitu saja. Struktur organisasi pada umumnya yang menempatkan pemilik

(26)

proyek atau konsultan pengawas/konsultan manajemen konstruksi (yang mewakili pemilik proyek) sebagai pihak yang harus diberi pertanggung jawaban langsung oleh kontraktor tentunya membutuhkan keahlian komunikasi dengan kontraktor agar memperlancar proses konstruksi. Dengan struktur organisasi yang demikian, kontraktor hanya akan berhubungan secara langsung dengan pemilik proyek atau konsultan pengawas/konsultan manajemen konstruksi yang mewakili pemilik proyek sehingga wajar apabila kontraktor menempatkan atribut ’keahlian komunikasi dengan konsultan lainnya’ pada peringkat terakhir.

Jadi meskipun terjadi perbedaan tingkat kepentingan antara pelaku konstruksi, semua atribut-atribut tersebut tetaplah menunjang kemampuan bersosialisasi dari seorang konsultan perencana dalam hal komunikasi, kerja sama, dan hubungan antar personil. Selain kerja sama dan hubungan antar personil, komunikasi adalah hal yang sangat penting karena merupakan proses yang melibatkan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, kepemimipinan, pengawasan, dan organisasi. Masalah komunikasi seringkali diremehkan padahal sering menjadi salah satu faktor pendorong kegagalan proyek (Tanjungan, 2000).

4.4.8 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Pengendalian

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria pengendalian menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.17.

Tabel 4.17 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Pengendalian Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Pengendalian Kode Konsultan Kontraktor Pemilik Kecepatan tanggapan terhadap permintaan

dan perintah pemilik CTR3 1 2 3

Mengikuti standar prosedur operasi dan

menghindari jalan pintas yang tidak sah CTR6 2 4 4

Kemampuan untuk memenuhi batas waktu

yang diminta pemilik CTR5 3 1 2

Pemenuhan terhadap perintah dan

permintaan pemilik CTR2 4 3 1

Mendukung keputusan pemilik CTR4 5 5 6

Rasa hormat terhadap pemilik sebagai

pimpinan tim CTR1 6 6 5

(27)

Berdasarkan Tabel 4.17, menurut pendapat konsultan ’kecepatan tanggapan terhadap permintaan dan perintah pemilik’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria pengendalian karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’rasa hormat terhadap pemilik sebagai pimpinan tim’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengendalian.

Menurut pendapat kontraktor ’kemampuan untuk memenuhi batas waktu yang diminta pemilik’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria pengendalian karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’rasa hormat terhadap pemilik sebagai pimpinan tim’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengendalian. Menurut pendapat pemilik proyek

’pemenuhan terhadap perintah dan permintaan pemilik’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria pengendalian karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’mendukung keputusan pemilik’

yang tidak begitu penting bagi sub kriteria pengendalian.

Secara keseluruhan pendapat ketiga pelaku konstruksi adalah berbeda.

Konsultan menganggap ’kecepatan tanggapan terhadap permintaan dan perintah pemilik’ sebagai atribut yang paling penting dari kelima atribut lainnya.

Kontraktor menganggap ’kemampuan untuk memenuhi batas waktu yang diminta pemilik’ sebagai atribut yang paling penting dari kelima atribut lainnya.

Sedangkan pemilik proyek menganggap ’pemenuhan terhadap perintah dan permintaan pemilik’ sebagai atribut yang paling penting dari kelima atribut lainnya. Perbedaan ini wajar terjadi karena masing-masing pelaku konstruksi memiliki jenis pertanggung jawaban yang berbeda. Konsultan lebih mengutamakan kecepatan dalam menanggapi permintaan pemilik karena respon yang cepat dan tepat akan membuat pemilik memiliki kesan yang baik dan menganggap konsultan perencana dapat bekerja secara profesional, sehingga memperbesar kemungkinan pemilik untuk kembali menggunakan jasanya.

Kontraktor lebih mengutamakan kemampuan konsultan perencana untuk memenuhi batas waktu yang diminta pemilik dengan pertimbangan penyelesaian disain tepat waktu akan membuat proses konstruksi dapat segera dilaksanakan dan dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Jika kontrakor juga bertindak sebagai designer builder maka penyelesaian disain tepat waktu juga dianggap sebagai

(28)

bentuk pertanggung jawaban tugas-tugas kerja konsultan perencana terhadap kontraktor selaku pemakai jasa. Sedangkan pemilik proyek lebih menginginkan konsultan perencana yang mampu memenuhi perintah dan permintaan pemilik, karena bagi pemilik kecepatan tanggapan bukan berarti konsultan perencana mampu memahami dan memenuhi keinginan pemilik dengan cepat dan tepat.

Meskipun perbedaan ini wajar terjadi, bukan berarti pada prakteknya konsultan menganggap kemampuan untuk memenuhi batas waktu yang diminta pemilik tidak perlu diperhatikan karena bagi kontraktor dianggap sebagai atribut paling penting. Begitu pula pemenuhan terhadap perintah dan permintaan pemilik juga harus tetap diperhatikan oleh konsultan karena hal tersebut paling krusial bagi pemilik dan juga menentukan profesionalisme konsultan perencana.

Hal yang paling menarik adalah atribut ’rasa hormat terhadap pemilik sebagai pimpinan tim’ yang hanya menempati peringkat terakhir menurut konsultan dan kontraktor. Rasa hormat dianggap sudah wajib dilakukan karena hal tersebut berhubungan dengan dasar profesionalisme kerja. Sudah sepantasnya konsultan perencana menunjukkan sikap profesionalisme dan menghargai permintaan maupun perintah pemilik karena pemilik proyek adalah pemakai jasa.

Sedangkan pemilik menempatkan atribut ’mendukung keputusan pemilik’ pada peringkat terakhir dengan anggapan bahwa meskipun pemilik adalah pemakai jasa yang harus dipenuhi permintaan dan keputusannya, tetapi jika tidak memenuhi aturan-aturan disain tertentu maupun standar yang berlaku sebaiknya konsultan perencana berdiskusi dan memberikan solusi alternatif kepada pemilik. Jadi meskipun terjadi perbedaan tingkat kepentingan antara konsultan, kontraktor, dan pemilik, semua atribut-atribut tersebut tetaplah menentukan profesionalisme konsultan perencana.

4.4.9 Atribut-Atribut Dari Sub Kriteria Komitmen

Peringkat dari atribut-atribut sub kriteria komitmen menurut pendapat konsultan, kontraktor, dan pemilik proyek dapat dilihat pada Tabel 4.18.

(29)

Tabel 4.18 Peringkat Atribut-Atribut Sub Kriteria Komitmen Menurut Konsultan, Kontraktor, dan Pemilik Proyek

Atribut Kinerja Konsultan Perencana Peringkat

Komitmen Kode Konsultan Kontraktor Pemilik

Pencapaian tujuan dan sasaran COM3 1 3 1

Memberikan saran yang berkualitas dan

dapat dipercaya COM4 2 2 2

Siap sedia untuk merevisi disain untuk mencapai constructability lebih tinggi dan

penghematan terhadap biaya dan waktu COM7 3 1 3

Meminimalisasi resiko melalui rekomendasi

disain yang efektif COM8 4 4 5

Melatih disiplin pribadi dan pengendalian diri COM5 5 5 4 Kesiapan untuk dapat dihubungi oleh pemilik COM2 6 7 6

Ketertarikan dengan pekerjaan COM6 7 6 7

Kesetiaan terhadap pemilik COM1 8 8 8

Berdasarkan Tabel 4.18, menurut pendapat konsultan ’pencapaian tujuan dan sasaran’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria komitmen karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut

’kesetiaan terhadap pemilik’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria komitmen. Menurut pendapat kontraktor ’siap sedia untuk merevisi disain untuk mencapai constructability lebih tinggi dan penghematan terhadap biaya dan waktu’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria komitmen karena berada pada peringkat teratas. Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’kesetiaan terhadap pemilik’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria komitmen. Menurut pendapat pemilik proyek ’pencapaian tujuan dan sasaran’ merupakan atribut yang paling penting bagi sub kriteria komitmen karena berada pada peringkat teratas.

Pada peringkat akhir, terdapat atribut ’kesetiaan terhadap pemilik’ yang tidak begitu penting bagi sub kriteria komitmen.

Pendapat konsultan dan pemilik adalah sama, yaitu menganggap

’pencapaian tujuan dan sasaran’ sebagai atribut yang paling penting dari ketujuh atribut lainnya. Sedangkan kontraktor justru menganggap ’siap sedia untuk merevisi disain untuk mencapai constructability lebih tinggi dan penghematan terhadap biaya dan waktu’ sebagai atribut yang paling penting. Perbedaan ini wajar terjadi karena masing-masing pelaku konstruksi memiliki komitmen yang berbeda yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas kerjanya. Konsultan

Referensi

Dokumen terkait

Pada metode AHP dan penggabungan preferensi yang telah dilakukan menggunakan geometric mean maka didapatkan nilai bobot setiap kriteria yaitu nilai bobot kriteria kualitas

Hasil regresi logistik dapat dilihat pada tabel 4.13 Dari analisa regresi logistik tersebut dapat dilihat bahwa faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap pengalokasian

Penilaian karyawan Restoran Ikan Bakar Cianjur (IBC) Manyar terhadap Organizational Commitment to Employee (OCE), dilihat dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai

Dari hasil analisa regresi dapat diketahui bahwa dengan penambahan metakaolin dalam adukan beton akan mengurangi permeabilitas beton sampai penambahan kadar optimum

Berdasarkan pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa seluruh item pernyataan mengenai Product, Price, Place, Promotion, People, Physical Evidence, Process maupun

Dalam prosedur ini , Nilai matriks yang sudah didapatkan setelah proses normalisasi (tabel 4.22) akan dikalikan dengan bobot global masing-masing sub- kriteria

Misal akan dilakukan penghitungan bobot sub faktor dari faktor kualitas functionality, maka didapatkan matrik perbandingan pada Tabel 7 berdasarkan masukan pengguna

Berdasarkan hasil pemetaan kriteria dan sub kriteria dalam evaluasi vendor, serta bobot penilaian dari masing-masing kriteria dan sub kriteria, didapatkan 4 kriteria dan