• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 1 April 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 1 April 2017"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

21

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG SIBLING RIVALLY PADA BALITA DI PUSKESMAS SELESEI KABUPATEN LANGKAT TAHUN 2015

CANTRY LUMBAN GAOL

DOSEN TETAPAKADEMI KEBIDANAN KHARISMA HUSADA BINJAI ABSTRACT

Sibling rivalry occurs when a child feels begin to lose a parent and feel siblings are rivals in getting the attention and affection of parents, this happens because parents provide different treatment on their children. Sibling rivalry usually arises when the age difference between siblings too close and the presence of the sister thought time and attention too much. Distance ages commonly trigger sibling rivalry is the distance between the ages of 1-3 years and appeared at the age of 3-5 years and then reappeared at the age of 8-12 years.

This study aimed to determine the descriptive picture of Knowledge Capital about Sibling Rivalry in children under five in Puskesmas Selesai Kabupaten Langkat Regency in 2015. The population in this study are all mothers with toddlers a number of 32 respondents, the sampling technique with accidental sampling. The results showed that mothers' knowledge of sibling rivally enough majority that is 23 respondents (71.9%) and good minority ie 4 respondents (12.4%), as well as the lack of knowledge that is 5 respondents (15.8%). In order to introduce her pregnancy the mother advised her son to avoid sibling rivally. Health care workers are advised to provide counseling to the mother how to avoid sibling rivally

Keywords : Knowledge Capital, Sibling Rivally PENDAHULUAN

Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan berkembang.

Pertama kalinya seorang anak mengembangkan dirinya secara sosial adalah kepada keluarganya sendiri. Anak berhubungan secara emosional ke ayah, ibu, dan saudara–

saudaranya Anak akan mendapatkan kasih sayang, perhatian dan pola asuh dari keluarga, berdasarkan fakta keluarga adalah faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan anak apabila hubungan antar saudara baik, maka hubungan keluarga pun akan cenderung baik pula, sebaliknya bila hubungan antar saudara kurang baik, itu akan mengganggu hubungan sosial dan pribadi anggota keluarga lainnya (Hurlock, 2011). Salah satu peristiwa kunci dalam kehidupan adalah kelahiran adik baru. Kehamilan itu sendiri merupakan waktu yang ideal untuk memahami dari mana bayi berasal dan bagaimana bayi itu dilahirkan. Anak mungkin memiliki reaksi campuran terhadap adik baru, bergairah karena mendapat teman baru, takut akan ditelantarkan, dan sering kecewa ketika adik tidak mau segera bermain.

(Dewi dan sunarsih,2011). Permasalahan berakar saat anak kedua lahir, semua perhatian tercurah hanya kepadanya. Akan tetapi setelah sang adik lahir, sang kakak merasa tersisih karena dalam pandangannya, kedua orangtua mengabaikan dirinya karena kehadiran sang adik. Berbagai cara dilakukan anak pertama untuk mendapatkan kembali perhatian dari kedua orangtuanya, akan tetapi cara yang digunakan sering kali tidak menyenangkan banyak pihak. Kakak mengganggu adik, diam-diam mencubit adik yang tak berdaya, atau mungkin merusak mainan adik. Tidak jarang orang tua hanya marah pada sikakak, tanpa menyadari bahwa dia justru sedang sedih. Memberi hukuman padanya hanya akan menambah rasa benci pada sang adik (Brazelton, 2011). Setiap anak memang dilahirkan berbeda, meskipun itu saudara kandung pastilah ada bedanya, hanya saja perbedaan itu tidak boleh diperuncing sehingga timbul perbedaan dari sikap orang tua terhadap masing- masing anak, sehingga timbul istilah anak emas dan bukan anak emas. Mereka akan saling

(2)

22

berusaha mencari cara agar lebih baik dari saudara kandungnya (Indrawati & Nugroho, 2006). Sibling rivalry terjadi jika anak merasa mulai kehilangan orangtua dan merasa saudara kandungnya adalah saingan dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua, ini terjadi karena orang tua memberikan perlakuan yang berbeda pada anak-anak mereka. Sibling rivalry biasanya muncul ketika selisih usia saudara kandung terlalu dekat dan kehadiran adik dianggap menyita waktu dan perhatian terlalu banyak. Jarak usia yang lazim memicu munculnya sibling rivalry berkonstribusi dalam membentuk kepribadian anak pada periode formatif, yaitu pada periode usia sekolah. Pengetahuan orangtua mengenai dasar keterampilan menjadi orangtua, keinginan, waktu dan kesempatan yang tersedia untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dapat menciptakan hubungan antara saudara kandung yang sehat untuk kesehatan anak secara umum (Boyse, 2010). Orang tua harus selalu menunjukan bahwa semua sama-sama mendapatkan kasih sayang. Jangan membandingkan salah satu dengan yang lain baik keunggulannya maupun kekurangannya. Anak-anak harus didorong untuk senang bersama, dan saling membantu, tidak boleh menanggapi secara berlebihan laporan salah satu saudaranya yang berlebihan dan menyalahkan salah satunya (Suherni, 2009). Pengetahuan ibu sangat penting dalam menghadapi masalah pada anak yang sangat mengganggu yaitu kehadiran anggota baru (adik) atau gangguan dari kakaknya. Ibu yang memiliki anak harus menyediakan banyak waktu dan tenaga untuk mengorganisasi kembali hubungan dengan anak-anaknya. Banyak permasalahan yang timbul, oleh karena itu memberikan perhatian yang lebih pada anak yang lain, sehingga akan menimbulkan reaksi sibling rivalry. Hal ini tidak dapat disangkal bahwa perselisihan antara saudara kandung akan selalu ada. Sibling Rivalry biasanya terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling Rivalry akan semakin besar apabila berjenis kelamin sama dan jarak usia keduanya cukup dekat antara 1-3 tahun (Bahiyatun, 2009). Menurut McNerney dan Joy (dalam Asupah, 2008), berdasarkan pengalaman yang diungkapkan beberapa orang Amerika dilaporkan 55% mengalami kompetisi dalam keluarga dan umur antara 3-5 tahun merupakan kategori tertinggi (dalam http: // jrscience.wcp.Muohio.edu diunduh tanggal 26 Mei 2012). Masalah ini sering dimulai setelah kelahiran anak ke dua. Menurut Boyle (2007) hampir 75% anak mengalami reaksi sibling Rivalry, reaksi yang sering ditampakkan adalah anak lebih agresif, memukul atau melukai kakak maupun adiknya, membangkang kepada ibunya, rewel, sering marah yang meledak ledak, sering menangis tanpa sebab, menjadi lebih dekat kepada ibu (Edelman, 2009). Survei pendahuluan di Puskesmas Selesei Kabupaten Langkat tahun 2015. diketahui bahwa terdapat 9 pasangan adik kakak dengan rentang usia rata-rata 4 tahun yang bisa dimungkinkan terjadi persaingan saudara kandung.

Berdasarkan hasil wawancara dari 6 ibu, 5 diantaranya anaknya mengalami sibling rivalry dan anak mengalami reaksi negative seperti: keluarga mengatakan bahwa sering terjadi iri dan sikap cemburu kakak terhadap adiknya, misalnya berebut mainan dan terutama ketika kelahiran awal adiknya si kakak sering merengek minta digendong dan iri ketika adiknya dimandikan, kakak ikut-ikutan minta dimandikan, memukul adiknya, mengompol setelah adik lahir, suka marah, mencari perhatian baik kepada satu maupun kedua orang tua, dan memiliki pikiran negatif terhadap saudara kandung. Hal ini membuat kerepotan ibu karena jarak antara kakak adik tidak beda jauh antara 1 tahun sampai 3 tahun dan ibu mengurus anak-anaknya sendirian, jika terdapat pertengkaran antara kakak adik ibu hanya menasihati dan menjauhkan adik dari kakaknya, seharusnya ibu bersikap yang adil jika adik yang salah harus dihukum sedangkan jika kakak yang menang diberikan penghargaan yang berupa hadiah main-mainan. Dikarenakan hal tersebut berdampak untuk tahap perkembangan selanjutnya anak akan cenderung pendiam ataupun agresif. Kurangnya informasi tentang sibling rivalry dalam keluarga di Puskesmas Selesei Kabupaten langkat tahun 2015.

Dampak dari sibling rivalry bagi orangtua ataupun anak membuat peneliti tertarik untuk mengetahui dan meneliti lebih lanjut bagaimana cara mengatasi sibling rivalry pada anak usia pra sekolah. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik melakukan

(3)

23

penelitian dengan judul : “Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Sibling Rivalry pada anak Balita di Puskesmas Selesei kabupaten langkat tahun 2015.”

TINJAUAN PUSTAKA Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2010).

Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai tingkatan yaitu :

Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebulumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

Aplikasi (application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

Analisis (analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu sruktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

Sintesis (synthesis) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

Evaluasi (evaluation) ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Ibu

Umur Semakin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun. Memang daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur. Dari uraian ini maka dapat kita simpulkan bahwa bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.

Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk atau meningkatkan

(4)

24

kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula pengetahuannya (Hendra, 2010).

Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu. Dimana primigravida wanita yang hamil untuk pertama kali, para wanita yang melahirkan aterem, primipara wanita yang melahirkan bayi aterem sebanyak satu kali, multipara wanita yang telah pernah melahirkan anak hidup beberapa kali,dimana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali, grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan bayi aterem lebih dari lima kali (Manuaba, 2008).

Sibling Rivalry

Sibling Rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih (Suherni,2008).Sibling Rivalry suatu perasaan cemburu atau menjadi pesaing dengan bayi atau saudara kandung yang baru dilahirkan. Perasaan cemburu ini pun dapat timbul terhadap sang ayah. Kadang-kadang para ayah menjadi cemburu terhadap hubungan antar ibu/istrinya dengan anak-anak mereka sendiri, bayi adalah produk dari hubungan mereka dan semestinya memperkaya hubungan itu (Nurjanah, 2010).

Sibling rivalry biasanya muncul ketika selisih usia saudara kandung terlalu dekat, karena kehadiran adik dianggap menyita waktu dan perhatian terlalu banyak orang tua (Setiawati, 2008). Jarak usia yang lazim memicu munculnya sibling rivalry adalah jarak usia antara 1-3 tahun dan muncul pada usia 3-5 tahun kemudian muncul kembali pada usia 8–

12 tahun, dan pada umumnya, sibling rivalry lebih sering terjadi pada anak yang berjenis kelamin sama dan khususnya perempuan. Namun persaingan antar saudara cenderung memuncak ketika anak bungsu berusia 3 atau 4 tahun (Woolfson, 2006).

Bagi keluarga yang memiliki pendidikan yang cukup untuk mendidik anak-anaknya, maka akan berlakuk adil sehungga semua merasa memdapat kasih sayang yang sama.

Akan tetapi yang bagi kurang mengerti bagaimana mendidik anak yang baik, yang umumnya terjadi didaerah pedesaan dengan keluarga yang miskin dan pendidikannya rendah, karena kekurang tahuannya cara mendidik anak, sangat mungkin anak yang menangis dicubit bahkan mungkin dicambuk dan lain-lain cara penyiksaan fisik. Tentu hal itu sangat fatal dan berbahaya di tilik dari pendidikan perkembangan anak (Nurjanah, 2010).

Ciri – Ciri Sibling Rivalry

Ciri – Ciri khas yang sering muncul pada sibling rivalry, yaitu: egois, suka berkelahi, memiliki kedekatan yang khusus dengan salah satu orangtua, mengalami gangguan tidur, kebiasaan menggigit kuku, hiperaktif, suka merusak, dan

menuntut perhatian lebih banyak (Sains, 2009). Terdapat dua macam reaksi sibling rivalry, secara langsung yaitu biasanya berupa perilaku agresif seperti memukul, mencubit, atau bahkan menendang. Reaksi yang lainnya adalah reaksi tidak langsung seperti, munculnya kenakalan, rewel, mengompol atau pura-pura sakit (Sulistiawati, 2009).

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sibling rivalry dapat diartikan sebagai kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih.

Faktor-Faktor Penyebab Sibling Rivalry

Faktor penyebab sibling rivalry diantaranya karena orang tua membagi perhatian dengan orang lain, mengidolakan anak tertentu, rasa kesal orang tua, serta kurangnya pemahaman diri. Faktor penyebab sibling rivalry adalah faktor internal dan eksternal.

Faktor internal adalah faktor yang tumbuh dan berkembang dalam diri anak itu sendiri seperti temperamen, sikap masing-masing anak mencari perhatian orang tua, perbedaan usia atau jenis kelamin, dan ambisi anak untuk mengalahkan anak yang lain . Faktor yang disebabkan karena orang tua yang salah dalam mendidik anak

(5)

25

seperti sikap membanding-bandingkan, dan adanya anak emas diantara anak yang lain (Sains, 2009).

Ada banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka. Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/bayi. Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain. Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.

Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka.Dinamika keluarga dalam memainkan peran. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga. Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya. Lusa (2010).

2.2.1. Mengantisipasi Sibling Rivalry

Cara mengantisipasi perubahan sikap dan perilaku anak adalah dengan menyiapkan mereka untuk kelahiran adiknya Mulai memperkenalkan pada organ reproduksi dan seksual.

Beri penjelasan yang konkret tentang pertumbuhan bayi dalam rahim dengan menunjukan gambar sederhana tentang uterus dan perkembangan janin. Beri kesempatan anak untuk ikut gerakan janin. Libatkan anak dalam perawatan bayi. Beri pengertian mendasar tentang perubahan suasana rumah, seperti alasan pindah kamar.Lakukan aktivitas seperti biasa dan lakukan bersama dengan anak, seperti smendingeng sebelum tidur atau piknik bersama.

( Bahiyatun, 2009),

2.2.2. Penatalaksanaan Sibling Rivalry

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah timbulnya kecemburuan pada anak melalui cara-cara seperti Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik (selama masa kehamilan). Jadikan sang kakak sebagai pusat perhatian saat perjumpaan atau kunjungan pertama. Biarkan sang kakak membantu menjaga adiknya. Sediakan waktu untuk anak yang lebih tua. Pembesuk harus memahami bahwa anak yang lebih tua juga membutuhkan perhatian. Ajari sang kakak untuk mengajari adik baru lagu-lagu dan berbagai permainan. Beberapa cara untuk menangani kecemburuan pada anak Lihat tanda-tandanya, jika kita melihat tanda-tanda ini tenangkan anak sebelum menjadi terlalu marah. Alihkan perhatiannya, bila melihat anak menjadi terganggu oleh saudaranya, ada baiknya kita alihkan perhatiannya. Tentramkan anak, yakinkan bahwa kita dan sang adik sangat mencintainya. Tunjukkan minat dan bakat sang kakak. Beri sang kakak beberapa kegiatan.

Jangan membandingkan sang kakak dengan saudara yang lebih muda.

Mengatasi Sibling Rivalry

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengatasi Sibling Rivalry Orang tua tidak perlu langsung campur tangan, kecuali saat terdapat tanda-tanda akan terjadi kekerasan fisik. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, demikian rupa sehingga menyelesaikan masalah dengan anka-anak, bukan untuk anak-anak. Cara memisahkan dua anak yang konflik menjurus kefisik, tidak boleh menyalahkan salah satu, akan tetapi akan keduanya dihargai, seakan sama-sama benar, cara memberikan nasehat bahwa salah satu itu salah dengan memberika contoh-contoh tetapi tidak langsung itu. Jika anak-anak memperebutkan benda yang sama, orang tua harus dapat memberikan teknik pengajaran agar keduanya dapat menggunakan secara bergantian yang adil dan menggembirakan. Memberi kesempatan setiap anak mengungkapan apa yang dirasakan tentang saudaranya, dan membawa anak dapat mengendalikan emosinya bahkan dibawa ke teknik yang bersahabat. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak, hal ini bias memperdalam sibling rivalry, jangan memberikan cap pada anak tentang kekurangannya atau kelebihannya dari pada anak yang lain. Kesabaran dan keuletan serta contoh –contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cata pendidikan anak-

(6)

26

anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus (Suherni, 2008). Sibling rivalry juga dapat dikurangi kemungkinan terjadinya dengan mengajarkan anak untuk memperlakukan saudara kandungnya seperti teman dengan cara Persiapkan sebelum kelahiran Persiapkan kepada si kakak bahwa dia akan mempunyai adik baru, yang akan menemaninya bermain ketika sudah besar nanti. Ajari dia untuk menyayangi adiknya sebelum adiknya lahir. Biarkan dia menepuk” perut ibu dan mengelusnya dengan sayang sambil pura” sedang menyayangi adiknya. Biarkan dia menciumi adiknya dan ngobrol dengannya. Ajari dia akan beberapa manfaat jika adiknya sudah lahir nanti. Buat si kakak merasa berharga. Saat datang pengunjung yang membawakan hadiah kepada si adik baru, libatkan kakak dalam aktivitas

„terima hadiah‟ ini. Jika dia mengatakan bahwa para hadiah itu untuknya, jangan ditentang.

Katakan bahwa hadiah” itu untuk semua anak ibu : kakak dan adiknya. Biarkan kakak merasakan senangnya diberi hadiah dengan menerimanya dan membuka bungkus kadonya serta menatanya. Berbagi Waktu Hal yang paling menjengkelkan bagi seorang anak adalah ketika dia harus membagi ibunya kepada adik barunya. Karena selama ini ibu adalah miliknya semata. Bisa saja kita katakan kepadanya bahwa kita akan membagi waktu kita bersamanya secara adil, walaupun pada praktiknya itu tidak akan mungkin terjadi. (Sains, 2009).Oleh karena itu, siasatilah kegiatan bersama si kecil dan kakaknya. Buatlah waktu bersama dengan anak” kita. Sementara kita menyusuinya misalnya, kita bisa sambil mendongengi si kakak atau mengajarinya belajar. Atau sambil menyuapi si adik, kita bisa sambil menemani kakak bermain. Atau ajak kakak untuk bermain bersama dengan adiknya.

Ajarkan anak untuk mendapatkan hal lain yang lebih positif Anak” yang memang sedang dalam taraf egosentris sering akan berpikir „Apa yang akan kudapatkan dengan hadirnya adik baru?‟. Ketika dia mendapati bahwa kemudian ternyata yang dijumpainya adalah ibunya yang mempunyai sedikit waktu untuk dirinya, ajarkan kepadanya untuk mendapatkan

„waktu spesial‟. Waktunya yang hilang dengan dengan ibunya mungkin bisa digantikan dengan perhatian yang lebih besar dari ayahnya atau anggota keluarga yang lainnya.

Mintalah ayah atau anggota keluarga yang lain untuk mengajak kakak jalan” keluar dan memberinya sedikit kebebasan untuk memilih es krim misalnya. Katakan kepadanya bahwa ini adalah „waktu spesial‟ yang bisa didapatnya dengan kehadiran adiknya. Awali hari dengan harmoni Jika memungkinkan, awali hari ibu dengan bercanda bersama si kakak selama menit” pertama. Sisihkan 10 – 20 menit untuk bercanda dengannya. Ini akan memberikan kepercayaan kepadanya bahwa dia tidak kehilangan waktu bersama ibunya.

Tingkatkan sensitivitas terhadap saudara kandung Belajar hidup bersama dalam satu keluarga adalah pelajaran pertama seorang anak untuk bisa bergaul dengan anak-anak lainnya. Orang tua adalah fasilitator dalam menciptakan hubungan yang rukun (Yuni, 2010).

Segi Positif Sibling Rivalry

Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting. Cara cepat berkompromi dan bernegoisasi. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif (Suherni, 2008).

Dampak Dari Sibling Rivalry.

Akan timbul perasaan tidak puas hati seperti ketidakpuasan hati terhadap ibu bapak, sikap suka mendesak, memperkecilkan, bertengkar atau berkelahi sesama saudara kandung, ketidak seimbangan pemberian kasih sayang yang diberi oleh ibu bapak, tidak mempunyai masa untuk bergembira bersama saudara kandung. Sehingga perasaan ini akan menyebabkan tingkah laku yang negative termasuk berkelakuan buruk diantara satu sama lain, tidak menghormati sesame sendiri (Keyle B, 2009). Antara saudara kandung tidak rukun dan lebih memilih untuk lebih dekat den gan prang lain dari pada dengan saudaranya dan yang sering menjadi pelarian adalah saudara sepupu, sebab dengan saudara sepupu yang bersangkutan dapat merasakan aura persaudaraan dengan resiko persaingan yang minimum. Dampak yang paling fatal dari sibling rivalry adalah putusnya tali persaudaraan juka kelak orang tua meninggal. Permasalahan ini bias menyebabkan pembunuhan seperti oleh dua orang putra Nabi Adam AS, yaitu Habil dan Qabil (atau Cain

(7)

27

dan Abel dalam Alkitab). Hal ini juga merupakan salah satu sejarah yang terjadi karena sibling rivalry.

METODE PENELITIAN Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep penelitian ini yang berjudul tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Sibling Rivalry pada anak balita di Puskesmas Selesei kabupaten langkat tahun 2015”.

Variabel Penelitian

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry Pada Anak Balita

Jenis Penelitian

Jenis penelitian merupakan penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita di Puskesmas Selesei Kabupaten Langkat tahun 2015.

Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian dilakukan di Puskesmas Selesei kabupaten Langkat.

Waktu Penelitian

waktu yang dilakukan dalam penelitian ini adalah selama 6 bulan yang di mulai dari periode Januari sampai Juni 2015.

Populasi dan Sampel Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi dan anak berusia 1-5 tahun di Puskesmas Selesei Kabupaten langkat tahun 2015.

Sampel

Teknik pengambilam sampel yang akan digunakan pada penelitian ini adalah total populasi, dengan cara keseluruhan dari pada populasi dijadikan sampel.

Metode Penggumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer yang datanya diambil langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner. Prosesnya dengan membagikan kuesioner pada ibu yang memiliki anak dan diberikan pejelasan tentang kuesioner bagaimana cara pengisiannya, serta menjelaskan hal-hal yang tidak dimengerti oleh responden dengan jumlah kuesioner sebanyak 20. Setelah kuesioner terisi, peneliti mengumpulkannya kembali.

Teknik Pengolahan Data

Metode Pengumpulan data merupakan cara peneliti untuk mengumpulakan data yang dilakukan dalam penelitian. data yang terkumpul di olah secara manual dengan langkah- langkah sebagai berikut :

Editing adalah upaya untuk memeriksakan kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan.Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul.

(8)

28

Coding Data telah diedit dalam bentuk angka (kode), maka responden telah diubah menjadi nomor responden.

Tabulating Untuk mempermudah analis data serta mengambil kesimpulan, data telah dimasukkan kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan telah dihitung persentasenya untuk setiap variabel yang diisi.

Teknik Analisa Data

Analisa data yang dilakukan dengan melihat persentase data yang terkumpul yang disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi yang dilakukan dengan membahas hasil penelitian berdasarkan teori dan kepastian yang ada (Hidayat,2010).

HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian

Telah dilakukan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita di Puskesmas Selesei Kabupaten Langkat tahun 2017, didapatkan hasil penelitian bahwa Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita sebanyak 18 pasang. Dari 18 pasang ditemukan 6 (33,3%) ibu yang belum mengetahui tentang Sibling Rivalry 5 (27,7%). Dari hasil tersebut maka diperoleh data sebagai berikut.

Tabel Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Puskesmas Selesei Kabupaten Langkat tahun 2015.

Tabel Karakteristik Responden di Puskesmas Selesei.

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 Umur

< 20 Tahun 20 – 35 Tahun

> 35 Tahun

35 28 17

43,7 34,4 21,9

Total 80 100

2 Pendidikan

SMP SMU Perguruan Tinggi

38 18 24

46,9 22,2 30,3

Total 80 100

3 Pekerjaan

Bekerja Tidak Bekerja

30 50

37,5 62,5

Total 80 100

Berdasarkan Tabel dapat dilihat bahwa dari 80 responden, mayoritas umur < 20 tahun yaitu orang 35 (43,7%) dan minoritas umur > 35 tahun yaitu 17 orang (21,9%), berdasarkan pendidikan mayoritas SMP yaitu 38 orang (37,5%) dan minoritas perguruan tinggi yaitu 24 orang (21,8%), berdasarkan pekerjaan mayoritas tidak bekerja yaitu 50 orang (62,5%).

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita di Puskesmas Selesei Kabupaten Langkat Tahun 2015.

Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita

No Pengetahuan Frekuensi Persentase

1 Baik 10 12,4

2 Cukup 57 71,9

(9)

29

3 Kurang 13 15,7

Total 80 100

Berdasarkan Tabel dapat dilihat bahwa Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita dari 80 responden mayoritas berpengetahuan cukup yaitu 57 responden (71,9%) dan minoritas berpengetahuan baik yaitu 10 responden (12,4%).

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita mayoritas berpengetahuan cukup yaitu 57 responden (71,9%) dan minoritas berpengetahuan baik yaitu 10 responden (12,4%), serta pengetahuan kurang yaitu 13 responden (15,8%). Menurut Notoadmojo (2010) pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah kita melakukan penginderaan terhadap objek tertentu dan pengetahuan tersebut lebih banyak diperoleh dari panca indera manusia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu sudah memehami bagaimana memperkenalkan kehamilannya pada anaknya (kakaknya) yang lain. Yaitu dengan memberitahukan bahwa sebentar lagi dia akan mempunyai adik, sehingga dia akan menjadi kakak yang senarnya seorang kakak harus ikut serta menjaga adiknya, dan menyayanginya. Hal demikian dapat memberikan rasa nyaman pada seorang kakak sehingga akan menghindari terjadinya sibling rivally. Memperkenalkan kehamilan kita pada anak kita menimbulkan kepercayaan diri seorang anak sehingga dia tidak akan merasa kehilangan kasih sayang dari ibunya. Sibling Rivalry suatu perasaan cemburu atau menjadi pesaing dengan bayi atau saudara kandung yang baru dilahirkan.

Perasaan cemburu ini pun dapat timbul terhadap sang ayah. Kadang-kadang para ayah menjadi cemburu terhadap hubungan antar ibu/istrinya dengan anak-anak mereka sendiri, bayi adalah produk dari hubungan mereka dan semestinya memperkaya hubungan itu (Nurjanah, 2010). Sibling rivalry biasanya muncul ketika selisih usia saudara kandung terlalu dekat, karena kehadiran adik dianggap menyita waktu dan perhatian terlalu banyak orang tua (Setiawati, 2008). Jarak usia yang lazim memicu munculnya sibling rivalry adalah jarak usia antara 1-3 tahun dan muncul pada usia 3-5 tahun kemudian muncul kembali pada usia 8–12 tahun, dan pada umumnya, sibling rivalry lebih sering terjadi pada anak yang berjenis kelamin sama dan khususnya perempuan. Namun persaingan antar saudara cenderung memuncak ketika anak bungsu berusia 3 atau 4 tahun (Woolfson, 2006).Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menghindari terjadinya sibling rivally adalah dengan memperkenalkan kehamilan ibu kepada anaknya, mengajak anak untuk ikut membantu melengkapi kebutuhan adiknya, membiasakan anak untuk melakukan kegiatan sendiri (sebagai pendewasaan) agar anak dapat melakukan semua kegiatan sendiri untuk menghindari ketergantungan kepada orang tuanya.Pengetahuan cukup adalah karena sumber informasi yang sudah didapat dari keluarga, tetangga dan petugas kesehatan.

Pengetahuan yang cukup juga didasarkan karena mayoritas ibu tidak bekerja yang artinya lebih banyak waktu untuk anaknya dalam memperkenalkan kehamilannya kepada anaknya (kakaknya) sehingga diharapkan seorang anak tidak stress dalam menanti kelahiran adiknya sehingga tidak akan terjadi sibling rivally.

Dari hasil penelitian tentang bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Sibling Rivalry pada Balita di Puskesmas Kabupaten Langkat tahun 2015 maka pembahasan dari hasil penelitian diatas adalah sebagai berikut :

Faktor umur yang mempengaruhi tentang sibling rivally.

Mayoritas Sibling Rivalry berdasarkan faktor umur adalah menunjukkan bahwa dari 19 pasang ditemukan umur < 20 tahun yaitu 35 orang (43,7%) dan Minoritas berdasarkan Faktor umur yang belum mengetahui tentang Sibling Rivallry > 35 tahun yaitu 17 orang (21,9%).

(10)

30

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sidi Gazalba pada tahun 2014 bahwa < 20 tahun yaitu 35 orang (43,7%) dan Minoritas berdasarkan Faktor umur yang belum mengetahui tentang Sibling Rivallry > 35 tahun yaitu 17 orang (21,9%).

Faktor pendidikan yang mempengaruhi tentang sibling rivally.

Mayoritas Sibling Rivalry berdasarkan faktor Pendidikan adalah tingkat pendidikan SMP yaitu sebanyak 38 (46,9 %), tingkat SMA sebanyak 18 (22,2%), Dan Minoritas Sibling Rivallry berdasarkan Faktor pendidikan adalah tingkat Pendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 24 (30,3%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sidi Gazalba pada tahun 2014 bahwa 38 (46,9 %), tingkat SMA sebanyak 18 (22,2%), Dan Minoritas Sibling Rivallry berdasarkan Faktor pendidikan adalah tingkat Pendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 24 (30,3%).

Faktor Pekerjaan yang mempengaruhi tentang sibling rivally.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan hasil yang menunjukan mayoritas penyebab Sibling Rivalry berdasarkan pekerjaan terdapat pada masyarakat yang tidak bekerja yaitu sebanyak 30 (37,5 %), tingkat yang tidak bekerja sebanyak 50 (60,5%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sidi Gazalba pada tahun 2014 bahwa berdasarkan pekerjaan terdapat pada masyarakat yang bekerja yaitu sebanyak 30 (37,5 %), tingkat yang tidak bekerja sebanyak 50 (60,5%).

Faktor Pengetahuan yang mempengaruhi tentang Sibling Rivalry.

Mayoritas Sibling Rivalry berdasarkan faktor Pengetahuan adalah tingkat Baik yaitu sebanyak 10 (12,4%), tingkat Cukup sebanyak 57 (71,9%), Dan Minoritas Sibling Rivallry berdasarkan Faktor pengetahuan adalah tingkat Kurang sebanyak 13 (15,7%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sidi Gazalba pada tahun 2014 bahwa tingkat Baik yaitu sebanyak 10 (12,4%), tingkat Cukup sebanyak 57 (71,9%), Dan Minoritas Sibling Rivallry berdasarkan Faktor pengetahuan adalah tingkat Kurang sebanyak 13 (15,7%).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Setelah dilaksanakan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita di Puskesmas Selesei Kabupaten Langkat tahun 2015 maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Mayoritas Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak Balita berdasarakan Faktor Umur terdapat pada tingkat bawah yaitu sebanyak 35 (43,7 %), tingkat menengah 28 (34,4%) tingkat atas sebanyak 17 (21,9%).

2. Mayoritas Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita berdasarakan berdasarakan Faktor Pendidikan terdapat pada tingkat bawah yaitu SMP sebanyak 38 (46,9%), tingkat menengah SMA 18 (22,2%) tingkat atas Perguruan Tinggi sebanyak 24 (30,3%).

3. Mayoritas Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita berdasarakan tingkat Pekerjaan Minoritas yaitu sebanyak yang Bekerja 30 (37,5 %), Dan Mayoritas Tidak bekerja 50 (62,5%).

4. Mayoritas Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita berdasarakan tingkat Pengetahuan Baik yaitu sebanyak 10 (12,4 %), tingkat Cukup sebanyak 57 (71,9%) Dan tingkat Kurang 13 (15,7%).

Saran.

Setelah penulis menyimpulkan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada anak balita di Puskesmas Selesei Kabupaten Langkat tahun 2015 “. saran yang dapat penulis sampaikan adalah :

(11)

31 1. Bagi Masyarakat

Diharapkan kepada seluruh masyarakat, khususnya di Puskesmas Selesei agar memantau Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry.

2. Bagi Institusi Akademik Kebidanan Kharisma Husada Binjai

Dapat digunakan sebagai tambahan informasi dan sumbangan pemikiran di bidang Kesehatan serta sebagai masukan bagi Mahasiswa Akbid Kharisma Husada Binjai serta bagi peneliti selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, 2011. Asuhan Kebidanan Masa Nifas, Pustaka Rihama, Yogyakarta.

Arikunto, 2009. Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.

Bahiyatun, 2009. Asuhan Kebidanan Nifas Normal, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Brazelton, 2009. Kakak Adik Rukun. http://www.goegle.com. Jakarta.

Boyse, 2006. Sibling Rivalry. http://www.goegle.com. Jakarta

Edelman, 2009. Mengatasi Persaingan Kakak Beradik, BIB, Jakarta.

Hurlock, E, 2009. Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta.

Hidayat,Azis, 2010. Metode Penelitian Kebidanan dan Tehnik Analisa Data, Salemba Medica, Jakarta.

Indrawaty dan Nugroho. 2006. Fenomena Sibling Rivalry.

Kennedy. 2006. Bila Anak Cemburu, Erlangga, Jakarta.

Notoadmojo, 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.

Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.

Suherni, dkk, 2009. Perawatan Masa Nifas, Penerbit Fitramaya, Yogyakarta.

Sujiyatini, dkk, 2010. Catatan Kuliah Asuhan Ibu Nifas, Cyrilius Publisher, Yogyakarta.

Sulistiawati, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas, Penerbit Andi, Jakarta.

Woolfson, 2006. Persaingan Saudara Kandung, Erlangga, Jakarta.

Yuni, 2010. Sibling Rivalry, Http://www.goegle.com. Medan.

Referensi

Dokumen terkait

Proses Dekripsi tidak jauh beda dengan proses enkripsi, yaitu Setelah membuka form kriptografi user /pengguna di minta untuk mengetikkan ciphertext yang akan

Petugas kesehatan hendaknya memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang gangguan jiwa sehingga stigma tinggi yang dirasakan oleh keluarga tidak

Survey tentang motivasi dan paritas ibu hamil, terhadap 8 orang ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya, mengatakan bahwa kehamilan dan persalinan

Cemas merupakan masalah psikososial yang sering dialami oleh pasien dengan PJK, dan diduga memiliki kontribusi yang besar terhadap kejadian depresi, namun hubungan antara

Sistem akuntansi kas meliputi formulir-formulir , catatan-catatan, prosedur-prosedur dan alat-alat yang digunakan untuk mengolah data yang berhubungan dengan penerimaan dan

Kombinasi konsentrasi BAP dan IAA berpengaruh nyata terhadap penggandaan tunas melalui kultur jaringan yang dapat dilihat pada parameter jumlah daun, jumlah akar

Sedangkan diantara ibu yang berpendapatan rendah, ada 65,8% status gizi balitanya baik.Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,635 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan faktor lingkungan dengan kejadian diare pada keluarga yang memiliki balita di sekitar tempat pembuangan sampah Dusun I