L
SEKRETARIAT
Kementerian Desa, Pembangunan daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
LAPORAN KINERJA
TAHUN 2021
DAFTAR ISI
Kata pengantar i
Daftar Isi ii
Daftar Bagan iii
Daftar Tabel iii
Daftar Grafik iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Dasar Hukum 2
C. Tugas dan Fungsi 3
D. Susunan Organisasi 5
E. Sumber Daya Manusia 6
F. Maksud dan Tujuan 6
G. Sistematika Penyajian 6
BAB II. PERENCANAAN KINERJA
A. Rencana Strategis 8
B. Rencana Kerja Tahunan 2021 10
C. Perjanjian Kinerja 10
D. Perencanaan Anggaran 12
BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA
A. Capaian Kinerja Sekretariat Inspektorat Jenderal 15 B. Analisa Atas Efisiensi Penggunaan Sumber Daya 38
C. Realisasi Anggaran 41
BAB IV. PENUTUP
A. Kesimpulan 43
B. Saran 44
DAFTAR BAGAN
Bagan 1 Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat Jenderal 5
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 SDM Sekretariat Inspektorat Jenderal 6
Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja Tahun 2021 Sekretariat Inspektorat Jenderal 11 Tabel 2.2 Alokasi Anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal TA. 2021 12 Tabel 2.3 Perubahan Pagu Anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal 13
Tabel 2.4 Anggaran Berdasarkan IKU 13
Tabel 3.1 Capaian Kinerja Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021 16 Tabel 3.2 Hasil Penilaian Komponen Pengungkit PMPRB Itjen 19 Tabel 3.3 Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional Tertentu yang mengikuti
Pengembangan Kompetensi 21
Tabel 3.4 Jumlah Auditor Tahun 2021 22
Tabel 3.5 Capaian Kinerja Setitjen Tahun 2021 dan Tahun 2020 35
Tabel 3.6 Efisiensi Penggunaan Anggaran 40
Tabel 3.7 Realisasi Anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal TA. 2021 42
DAFTAR GRAFIK
Grafik 3.1 Capaian Kinerja Tahun 2021 dan Tahun 2020 38
Grafik 3.2 Efisiensi Penggunaan Anggaran dalam Pencapaian Kinerja 41
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sekretariat Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pelayanan dukungan manajemen kepada seluruh unit kerja di lingkungan Inspektorat Jenderal agar Inspektorat Jenderal menjadi yang terdepan dalam penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Sebagai salah satu bentuk akuntabilitas atas pelaksanaan kegiatan Sekretariat Inspektorat Jenderal, maka perlu dilakukan pelaporan kinerja secara terinci dan periodik melalui pengukuran kinerja sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Informasi dalam laporan kinerja memuat tentang rencana kinerja dan capaian kinerja Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021. Upaya ini dilakukan dalam rangka menjamin adanya peningkatan dalam pelayanan publik dan akuntabilitas dengan melakukan analisa atas output dan outcome yang dicapai.
Pengukuran kinerja dilakukan dengan membandingkan antara kinerja yang terjadi dengan kinerja yang diharapkan. Pengukuran kinerja ini dilakukan secara berkala untuk memastikan kesinambungan usaha mewujudkan aparatur yang akuntabel. Berdasarkan pengukuran dan pembandingan kinerja dalam laporan kinerja harus cukup menggambarkan posisi kinerja instansi pemerintah. Indikator kinerja yang digunakan kemudian harus menggambarkan terwujudnya kinerja, tercapainya hasil program dan hasil kegiatan. Indikator kinerja instansi pemerintah harus selaras antar tingkatan unit organisasi, serta memenuhi kriteria spesifik, dapat diukur, dapat
Pendahuluan mengenai latar belakang penyusunan Laporan Kinerja, Perencanaan Kinerja selama tahun 2021, Akuntabilitas Kinerja dan Penutup yang merupakan kesimpulan dari isi Laporan Kinerja serta saran untuk perbaikan akuntabilitas kinerja pada tahun-tahun mendatang.
B. DASAR HUKUM
1. Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.
3. Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2020 tentang Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi.
4. Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
5. Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 11 Tahun 2015 Tentang Pedoman Perencanaan, Pelaksanaan, Pengendalian dan Pelaporan Program Anggaran.
6. Peraturan Menteri PAN RB Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi AKIP di lingkungan Kementerian dan Lembaga
7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214 Tahun 2017 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Anggaran atas Pelaksanaan Rencana dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga
8. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Nomor 22 Tahun 2017 tentang Pedoman Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja di Lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
9. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 15 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
10. Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 16 Tahun 2020 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Tahun 2020-2024.
C. TUGAS DAN FUNGSI SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL
Berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 15 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Sekretariat Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis administrasi kepada seluruh unit satuan organisasi di lingkungan Inspektorat Jenderal. Struktur organisasi Sekretariat Inspektorat Jenderal terdiri atas 2 (dua) unsur, yaitu: Bagian Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Umum serta kelompok jabatan fungsional. Kedua unsur tersebut mengemban tugas dan tanggung jawab masing-masing secara fungsional dalam mendukung kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis lainnya Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi. Dalam menyelenggarakan tugasnya Sekretariat Inspektorat Jenderal menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
1. Koordinasi penyusunan kebijakan, rencana, program, evaluasi, dan pelaporan Inspektorat Jenderal;
2. Koordinasi dan pembinaan pengelolaan keuangan dan barang milik negara di lingkungan Inspektorat Jenderal;
3. Pembinaan hukum dan koordinasi penyusunan peraturan perundang-undangan di lingkungan Inspektorat Jenderal;
4. Pengelolaan urusan kepegawaian Inspektorat Jenderal.
5. Koordinasi dan fasilitasi pembinaan organisasi, tatalaksana, dan reformasi
8. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga
Sekretariat Inspektorat Jenderal juga memberikan dukungan bagi tercapainya sasaran Strategis Inspektorat Jenderal berdasarkan Renstra Inspektorat Jenderal Tahun 2020 – 2024, yaitu:
1. Meningkatnya pengawasan, pengendalian mutu dan akuntabilitas aparatur yang baik serta aturan yang efektif;
2. Terselesaikannya tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan eksternal dan Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP).
Berkaitan dengan hal tersebut Sekretariat Inspektorat memberikan dukungan manajemen terhadap berlangsungnya pelaksanaan pengawasan oleh Inspektorat Jenderal, antara lain melalui:
1. Peningkatan kapabiltas APIP
Dalam rangka meningkatkan kapabilitas APIP, maka Sekretariat Inspektorat Jenderal mendapatkan tugas yang mencakup perencanaan kebutuhan tenaga auditor, penambahan auditor serta program pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.
2. Penerapan Pengendalian Intern di Inspektorat Jenderal
Sekretariat Inspektorat Jenderal berperan mewujudkan penerapan pengendalian intern di lingkup Inspektorat antara lain melalui pembentukan Satgas SPIP Itjen, penyusunan manajemen risiko Itjen dan pengendalian intern atas Pelaporan Keuangan. Pengendalian intern Level 3 menjadi salah satu IKU Sekretariat Inspektorat Jenderal.
3. Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Inspektorat Jenderal
Sekretariat Inspektorat Jenderal berperan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi lingkup Inspektorat Jenderal melalui pembentukan Tim Reformasi Birokrasi Itjen yang berperan melakukan evaluasi mandiri terhadap pelaksanaan RB Itjen. Selain itu Sekretariat Itjen juga berperan dalam penerapan SAKIP Itjen.
4. Koordinasi Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Eksternal maupun APIP.
Tidak hanya terhadap TLHP Itjen, tetapi koordinasi TLHP dilakukan terhadap seluruh UKE I yang dilkoordinir oleh Bagian TLHP dan Umum Sekretariat Inspektorat Jenderal.
D. SUSUNAN ORGANISASI
Berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 15 Tahun 2020, tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, susunan organisasi Inspektorat Jenderal terdiri dari:
1. Sekretariat Inspektorat Jenderal 2. Inspektorat I
3. Inspektorat II 4. Inspektorat III 5. Inspektorat IV 6. Inspektorat V
Susunan organisasi Sekretariat Inspektorat Jenderal digambarkan dengan bagan sebagai berikut:
Bagan 1. Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat Jenderal
E. SUMBER DAYA MANUSIA
Jumlah sumber daya manusia (SDM) yang mendukung pelaksanaan kegiatan di Sekretariat Inspektorat Jenderal sebanyak 73 orang dengan rincian sebagai berikut sebagai berikut:
Tabel 1.1
SDM Sekretariat Inspektorat Jenderal
No Jabatan Jumlah/orang
a. Jabatan Struktural 5
b. Jabatan Fungsional 21
c. Jabatan Pelaksana 18
d. Tenaga Penunjang 21
e. Pengemudi 3
f. Pramubakti 5
Jumlah 73
Sumber: JF SDM Aparatur SetInspektorat Jenderal, Januari 2022
F. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Inspektorat Jenderal adalah:
1. Dari aspek manajerial sebagai bahan evaluasi atas kinerja Sekretariat Inspektorat Jenderal dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diembannya.
2. Dari aspek akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tugas dan fungsi yang dipercayakan kepada Sekretariat Inspektorat Jenderal serta pertanggungjawaban penggunaan anggaran.
G. SISTEMATIKA PENYAJIAN
Penyajian Laporan Kinerja Instansi Pemerintah ini disesuaikan sebagaimana amanat Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan laporan kinerja Tahun 2021 berdasarkan sistematika laporan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini disajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issued) yang sedang dihadapi organsiasi.
Bab II Perencanaan Kinerja
Pada bab ini diuraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun yang bersangkutan.
Bab III Akuntabilitas Kinerja
A. Capaian Kinerja Organisasi
Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja sebagai berikut:
1. Membandingkan antara target dan realisasi kinerja tahun ini;
2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir;
3. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/
penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan;
4. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya;
5. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian pernyataan kinerja.
B. Realisasi Anggaran
Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran yang digunakan dan yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dokumen Perjanjian Kinerja. Analisis kinerja Anggaran secara menyeluruh pada
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
A. RENCANA STRATEGIS 2020- 2024
Rencana strategis (Renstra) pada dasarnya merupakan dokumen perencanaan yang memuat visi, misi, tujuan, sasaran strategis, program dan kegiatan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang akan dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal.
1. Visi
Visi Inspektorat Jenderal adalah “Menjadi unit pengawasan intern yang profesional dan handal di Lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam mewujudkan Perdesaan yang memiliki keunggulan kolaboratif dan daya saing secara berkelanjutan.”
2. Misi
Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, maka Misi yang dijalankan oleh Inspektorat Jenderal adalah:
a. Meningkatkan kualitas pengawasan untuk mendorong terlaksananya program dan kegiatan secara ekonomis, efektif dan efisien (3E), serta mencegah terjadinya penyimpangan terhadap pelaksanaan program dan kegiatan Pembangunan Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
b. Mewujudkan sistem pengawasan yang efektif dan terintegrasi untuk meningkatkan kinerja aparatur pengawasan dalam mendukung Reformasi Birokrasi.
c. Melaksanakan koordinasi pelaksanaan tupoksi serta pembinaan seluruh unsur Inspektorat Jenderal.
3. Tujuan
Pejabaran atau implementasi dari pernyataan misi yang akan dicapai dalam jangka waktu 2020-2024 dituangkan dalam tujuan Inspektorat Jenderal.
a. Mengawal pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi.
b. Memberikan keyakinan yang memadai bahwa dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan desa telah dilaksanakan secara efisien, efektif, hemat, bebas KKN serta taat terhadap aturan yang berlaku.
c. Meningkatkan kualitas (kemampuan, pengetahuan dan profesionalisme) sumber daya manusia di lingkungan Inspektorat Jenderal dalam rangka peningkatan kapabilitas APIP.
4. Sasaran Inspektorat Jenderal
Dalam rangka mendukung tercapainya tujuan tersebut diatas, sasaran strategis Inspektorat Jenderal yang dituangkan dalam Renstra 2020 s.d 2024 sebagai berikut:
a. Meningkatnya pengawasan, pengendalian mutu dan akuntabilitas aparatur yang baik serta aturan yang efektif;
b. Terselesaikannya tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan eksternal dan Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP).
5. Sasaran Kegiatan Sekretariat nspektorat Jenderal
Dalam rangka mendukung tercapainya tujuan tersebut diatas, sasaran strategis Inspektorat Jenderal yang dituangkan dalam Renstra 2020 s.d 2024 sebagai berikut:
a.
Terwujudnya Inspektorat Jenderal yang bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi;
B. RENCANA KERJA TAHUNAN 2021
Dokumen Renstra selanjutnya dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Tahunan (Renja) yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan yang mendukung tercapainya sasaran. Sebagai wujud pelaksanaan program dukungan manajemen pada tahun 2021, Sekretariat Inspektorat Jenderal melaksanakan 2 kegiatan utama dengan alokasi anggaran sebesar Rp27.974.671.000,00. Kegiatan tersebut adalah:
1. Dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi dengan alokasi anggaran senilai Rp3.643.460.000,00 yang merupakan kegiatan SOTK lama, dengan rencana output sebagai berikut:
a. 1 layanan perkantoran berupa pembayaran gaji Bulan Januari s.d Maret 2021, pembayaran tunjangan kinerja dan uang makan Bulan Januari dan Februari 2021 serta operasional dan pemeliharaan kantor;
b. 1 layanan organisasi dan tata kelola internal.
2. Dukungan manajemen Eselon I Inspektorat Jenderal dengan alokasi anggaran senilai Rp24.331.211.000,00 dengan rencana output sebagai berikut:
a. 1 layanan perkantoran (layanan gaji, tunjangan, operasional dan pemeliharaan Kantor)
b. 1 unit layanan prasarana internal
c. 1 layanan organisasi dan tata kelola internal yang terdiri dari 92 laporan.
C. PERJANJIAN KINERJA
Perjanjian kinerja merupakan dokumen yang berisikan penugasan dari Inspektur Jenderal kepada Sekretaris Inspektorat Jenderal untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta sumber daya yang tersedia. Dokumen ini berisi indikator kinerja dan
target kinerja yang diperjanjikan dalam satu tahun serta memuat rencana anggaran untuk program dan kegiatan yang mendukung pencapaian sasaran strategis.
Sehubungan dengan telah dilakukannya pemotongan anggaran untuk penanganan Covid-19, maka dilakukan revisi atas Perjanjian Kinerja sebagaimana dituangkan dalam dokumen revisi Perjanjian Kinerja Inspektorat Jenderal Tahun 2021 dalam tabel berikut ini:
Tabel 2.1
Perjanjian Kinerja Tahun 2021 Sekretariat Inspektorat Jenderal
Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Target Terwujudnya Inspektorat
Jenderal yang bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi
Persentase Nilai Hasil Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) di Inspektorat Jenderal
80 Persentase pejabat struktural dan fungsional
tertentu yang mengikuti pengembangan kompetensi per tahun
50 Persentase terpenuhinya jumlah Auditor sesuai
beban kerja 50
Opini atas Pengendalian Internal atas Laporan Keuangan dan BMN Inspektorat Jenderal berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dari hasil evaluasi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)/Tim Penilai PIPK UKE I
PIE
Nilai SAKIP Inspektorat Jenderal 80
Nilai Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja
dan Anggaran Inspektorat Jenderal 80 Nilai atas Indikator Kinerja Pelaksanaan
Anggaran Inspektorat Jenderal 88
Tingkat penerapan pengendalian intern
Inspektorat Jenderal 3
Jumlah bahan kebijakan dan regulasi
Inspektorat Jenderal yang ditetapkan pada 2
Tabel 2.2
Alokasi Anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal TA. 2021
Kegiatan Anggaran (Rp)
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi
27.974.671.000
D. PERENCANAAN ANGGARAN
Sekretariat Inspektorat mengalami 4 kali perubahan anggaran yang disebabkan adanya penyesuaian struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) Kementerian di awal tahun dan adanya kebijakan penghematan anggaran, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Penyesuaian SOTK baru
Terjadi pergeseran/realokasi antar Unit Kerja Eselon II di Lingkup Itjen sehingga pagu anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal mengalami pengurangan sebesar Rp749.980.000,00 (2,15%).
2. Penghematan Tahap I (Tunjangan Kinerja THR dan Gaji 13)
Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-408/MK.02/2021 Tanggal 18 Mei 2021 tentang Penghematan Belanja Kementerian/Lembaga TA. 2021 dan surat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan transmigrasi Nomor 993/KU.00.05/V/2021 tanggal 7 Mei 2021, maka Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan transmigrasi melakukan penghematan anggaran belanja pegawai TA. 2021 yang berasal dari alokasi tunjangan kinerja (THR) dan gaji ke-13 sehingga pagu anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal mengalami pengurangan sebesar Rp1.447.806.000,00 menjadi Rp32.602.194.000,00.
3. Penghematan Tahap III
Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-584/MK.02/2021 Tanggal 6 Juli 2021 tentang refocusing dan realokasi belanja K/L TA.2021 dan surat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor S-
Inspektorat Jenderal mengalami pengurangan sebesar Rp2.364.481.000,00 sehingga pagu anggaran Inspektorat Jenderal menjadi Rp30.237.713.000,00.
4. Penghematan Tahap IV
Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-629/MK.02/2021 Tanggal 20 Juli 2021 tentang Refocusing dan Realokasi Belanja Kementerian/Lembaga TA.2021 Tahap IV dan Surat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 1312/PR.01/01/VII/2021 Tanggal 26 Juli 2021 Alokasi Anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal mengalami pengurangan sebesar Rp2.263.042.000,00 sehingga pagu anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021 menjadi Rp27.974.671.000,00. Secara singkat perubahan pagu Sekretariat Inspektorat Jenderal dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.3
Perubahan Pagu Anggaran Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021
Pagu Awal
(Rp) Penyesuaian SOTK baru
(Rp)
Penghematan I
(Rp) Penghematan III
(Rp) Penghematan IV (Rp) 34.800.000.000 34.050.020.000 32.602.194.000 30.237.713.000 27.974.671.000
Alokasi anggaran Inspektorat Jenderal berdasarkan pagu Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021 adalah sebagai berikut
Tabel 2.4
Anggaran berdasarkan IKU
Sasaran Indikator Kinerja Utama Anggaran
(Rp) Terwujudnya Inspektorat
Jenderal yang bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi
1. Persentase Nilai Hasil Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) di Inspektorat Jenderal
52.600.000
2. Persentase pejabat struktural dan fungsional 1.934.910.000
Sasaran Indikator Kinerja Utama Anggaran (Rp) 4. Opini terhadap Pengendalian Internal atas
Laporan Keuangan dan BMN Inspektorat Jenderal berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dari hasil evaluasi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)/Tim Penilai PIPK UKE I
169.560.000
5. Nilai SAKIP Inspektorat Jenderal 221.932.000 6. Nilai Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja
dan Anggaran Inspektorat Jenderal
191.000.000
7. Nilai atas Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Inspektorat Jenderal
21.875.000
8. Tingkat penerapan pengendalian intern Inspektorat Jenderal
646.966.000
9. Jumlah bahan kebijakan dan regulasi Inspektorat Jenderal yang ditetapkan pada tahun yang bersangkutan
18.040.000
Terwujudnya pelayanan publik Inspektorat Jenderal yang berkualitas
10. Tingkat kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal atas dukungan manajemen
24.700.378.000
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Akuntabilitas kinerja merupakan bentuk pertanggungjawaban kinerja Sekretaris Inspektorat Jenderal yang memuat realisasi kinerja dan capaian kinerja ditujukan untuk memenuhi target rencana kinerja yang diperjanjikan pada tahun 2021.
A. CAPAIAN KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL
Pengukuran kinerja dilakukan sebagai hasil dari proses penilaian yang terencana dan sistematis berdasarkan indikator kinerja kegiatan berupa indikator input, output maupun outcome guna mengukur efektivitas, efisiensi dan kualitas pencapaian sasaran. Pengukuran kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara target dengan realisasinya. Persentase pencapaian dihitung dengan rumus bahwa semakin tinggi realisasi mengambarkan pencapaian atas rencana capaian yang semakin baik.
1. Capaian Kinerja Tahun 2021
Sekretariat Inspektorat Jenderal melaksanakan kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya Inspektorat Jenderal serta kegiatan dukungan manajemen eselon I Inspektorat Jenderal, dengan capaian kinerja Tahun 2021 sebagai berikut:
Tabel 3.1
Capaian Kinerja Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021
Sasaran Program Bobot Indikator Kinerja Utama Formulasi Perhitungan
Ketercapaian Target Target Realisasi
Kinerja Capaian
Kinerja Bobot
IKU NIU
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Terwujudnya
dukungan pengawasan
internal 100 Persentase Nilai Hasil Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) di Inspektorat Jenderal
Nilai PMPRB Inspektorat Jenderal dibagi nilai maksimal PMPRB pada
tahun berjalan dikali 100% 80 83,42 104,28 10 10
Persentase pejabat struktural dan fungsional tertentu yang mengikuti pengembangan kompetensi per tahun (2021)
Jumlah Pejabat Struktural dan Fungsional di lingkungan Inspektorat Jenderal yang mengikuti Pengembangan Kompetensi pada tahun yang bersangkutan dibagi jumlah pejabat struktural dan fungsional pada tahun yang bersangkutan dikali 100%
50 55,65 111,3 10 10
Persentase terpenuhinya jumlah
Auditor sesuai beban kerja Jumlah Auditor pada tahun bersangkutan dibagi jumlah Auditor yang dibutuhkan sesuai beban kerja (Analisa Beban Kerja) pada tahun yang bersangkutan dikali 100%
50 62,58 125,16 10 10
Opini terhadap Pengendalian Internal atas Laporan Keuangan dan BMN Inspektorat Jenderal berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dari hasil evaluasi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)/Tim Penilai
Opini atas penyajian Laporan Keuangan dan BMN Inspektorat Jenderal berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dari hasil evaluasi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) / Tim Penilai PIPK UKE I pertahun
PIE* PIE 100 10 10
Sasaran Program Bobot Indikator Kinerja Utama Formulasi Perhitungan
Ketercapaian Target Target Realisasi
Kinerja Capaian
Kinerja Bobot
IKU NIU Nilai SAKIP Inspektorat Jenderal Nilai hasil evaluasi atas
implementasi SAKIP Inspektorat
Jenderal dari APIP 80 80,06 100,07 10 10
Nilai Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Inspektorat Jenderal
Nilai hasil evaluasi atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Inspektorat Jenderal per tahun
80 82,39 102,99 10 10
Nilai atas Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Inspektorat Jenderal
Nilai atas Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Inspektorat
Jenderal per tahun 88 97,13 110,38 10 10
Tingkat penerapan pengendalian intern Inspektorat Jenderal
Tingkat penerapan pengendalian intern Inspektorat Jenderal per
tahun Level 3 3,071 102,37 10 10
Jumlah bahan kebijakan dan regulasi Inspektorat Jenderal yang ditetapkan pada tahun yang bersangkutan
Jumlah bahan kebijakan dan regulasi Inspektorat Jenderal yang ditetapkan pada tahun yang bersangkutan.
2 11 550 10 10
Terwujudnya
pelayanan publik Inspektorat Jenderal yang berkualitas
Tingkat kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal atas pelayanan teknis dan dukungan manajemen
Hasil survey kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal per
tahun 3 3,07 102,33 10 10
Total Bobot 100 100
Berdasarkan tabel diatas, pencapaian sasaran kegiatan berdasarkan capaian Kinerja Utama dari Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021 memperoleh nilai 100 atau sangat baik. Penjelasan capaian tiap indikator kinerja diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:
Sasaran Kegiatan 1
Terwujudnya Inspektorat Jenderal yang bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi.
Sasaran kegiatan ini dijabarkan dalam 9 (sembilan) indikator kinerja utama yaitu:
a. Persentase Nilai Hasil Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) di Inspektorat Jenderal
Pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dimulai pada Tahun 2015 sejalan dengan terbentuknya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, namun dalam menjalankan tugas dan fungsinya Inspektorat Jenderal telah mengaplikasikan beberapa perilaku kerja yang mencerminkan konsep reformasi birokrasi itu sendiri sebelum dilakukan pengabungan Kementerian seperti penerapan jam kerja dan kehadiran, peningkatan kinerja secara kelembagaan dan pemberian tunjangan kinerja.
Untuk memudahkan unit kerja memperoleh informasi mengenai perkembangan pelaksanaan reformasi birokrasi dan upaya perbaikan yang dilakukan maka Inspektorat Jenderal melakukan penilaian mandiri pelaksanaan reformasi birokrasi sesuai Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 26 Tahun 2020. PMPRB dilaksanakan secara self assessment terhadap proses penerapan reformasi birokrasi pada 8 (delapan) area perubahan (komponen pengungkit). Aspek yang dinilai pada komponen pengungkit antara lain aspek pemenuhan dan aspek reform dengan nilai maksimal 36,30. Sedangkan hasil penerapan
reformasi birokrasi (komponen hasil) penilaiannya dilakukan oleh Kementerian PAN dan RB.
Berdasarkan hasil evaluasi APIP yang tertuang dalam Laporan Hasil Monitoring dan Evaluasi terhadap Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Inspektorat Jenderal dengan Nomor 36.1/LHE/OT.3/VI/2021 tanggal 7 Juni 2021, nilai PMPRB Inspektorat Jenderal atas aspek pemenuhan dan aspek reform adalah 30,28 dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 3.2
Hasil Penilaian Komponen Pengungkit PMPRB Inspektorat Jenderal
No Komponen Bobot Nilai
Komponen Pengungkit 36,30 30,28
A Aspek Pemenuhan 14,60 12,18
1 Manajemen Perubahan 2,00 1,41
2 Deregulasi Kebijakan 1,00 0,50
3 Penataan dan Penguatan Organisasi 2,00 2,00
4 Penataan Tata Laksana 1,00 0,85
5 Penataan Sistem Manajemen SDM 1,40 1,30
6 Penguatan Akuntabilitas 2,50 2,50
7 Penguatan Pengawasan 2,20 1,69
8 Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 2,50 1,93
B Aspek Reform 21,70 18,10
1 Manajemen Perubahan 3,00 2,51
2 Deregulasi Kebijakan 2,00 1,50
3 Penataan dan Penguatan Organisasi 1,50 1,50
4 Penataan Tata Laksana 3,75 3,27
5 Penataan Sistem Manajemen SDM 2,00 1,75
6 Penguatan Akuntabilitas 3,75 2,99
7 Penguatan Pengawasan 1,95 1,66
8 Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 3,75 2,93
Keterangan: pelaksanaan pengisian Lembar Kerja Evaluasi (LKE) pelaksanaan RB di lingkup
terdapat realisasi sebesar 83,42% melebihi dari target yang ditetapkan pada tahun 2021 yaitu 80%. Dengan demikian capaian kinerja atas IKU ini adalah sebesar 104,28%.
Upaya-upaya yang dilaksanakan Sekretariat Inspektorat Jenderal untuk mencapai IKU tersebut adalah:
1) Membentuk tim reformasi birokrasi Inspektorat Jenderal melalui SK Tim RB Nomor 61 Tahun 2021;
2) Menyusun rencana kerja dan rencana aksi reformasi birokrasi;
3) Sosialisasi dan internalisasi rencana kerja dan rencana aksi reformasi birokrasi Tahun 2021 kepada pegawai Inspektorat Jenderal;
4) Mengusulkan agen perubahan kepada Sekretariat Jenderal;
5) Melakukan pemantauan terhadap rencana kerja, rencana aksi serta pemenuhan dokumen pendukung reformasi birokrasi.
b. Presentase Pejabat Struktural dan Fungsional Tertentu yang Mengikuti Pengembangan Kompetensi per Tahun
Pengembangan kompetensi bertujuan untuk mewujudkan profesionalisme birokrasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Pengembangan kompetensi dapat dilakukan antara lain melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus dan penataran. Pejabat struktural dan fungsional tertentu di lingkungan Inspektorat Jenderal yang telah mengikuti pengembangan kompetensi sampai pada Tahun 2021 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3
Pejabat Struktural dan Fungsional Tertentu yang mengikuti Pengembangan Kompetensi Tahun 2021
Jabatan Jumlah
Pegawai Pejabat yang telah Mengikuti Pengembangan
Kompetensi
Jabatan Struktural 14 9
Fungsional Auditor 73 35
Fungsional Analis SDM Aparatur 4 3
Fungsional Perencana 6 2
Fungsional Arsiparis 9 10
Fungsional Analis Kepegawaian 1 -
Fungsional Pengelola Keuangan APBN 2 -
Fungsional Analis Kebijakan 1 -
Fungsional Auditor Kepegawaian 5 5
Total 203 64
Realisasi kinerja dihitung berdasarkan jumlah pejabat struktural dan fungsional tertentu di lingkungan Inspektorat Jenderal (64 orang) yang mengikuti pengembangan kompetensi pada tahun yang bersangkutan dibagi jumlah pejabat struktural dan fungsional tertentu pada tahun yang bersangkutan (203 orang) dikali 100% menjadi 55,65%. Realisasi tersebut melebihi target tahun 2021 yaitu 50% sehingga capaian kinerja atau ketercapaian targetnya adalah 111,3%.
Upaya yang telah dilakukan Sekretariat Inspektorat Jenderal untuk mencapai target tersebut adalah:
2) Mengikutsertakan para pejabat pimpinan struktural dan fungsional tertentu untuk mengikuti pengembangan kompetensi yang diselenggarakan oleh UKE I lainnya.
c. Persentase Terpenuhinya Jumlah Auditor sesuai dengan Beban Kerja Formasi jabatan fungsional auditor masing-masing satuan organisasi pengawasan disusun berdasarkan analisis kebutuhan dan penyediaan pegawai sesuai dengan jabatan yang tersedia. Kebutuhan dan penyediaan pegawai tersebut dilakukan berdasarkan analisis terhadap jenis pekerjaan, sifat pekerjaan, beban kerja, kapasitas auditor, prinsip pelaksanaan pekerjaaan, dan peralatan yang tersedia. Beban kerja auditor dalam melaksanakan tugas pengawasan lingkup Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dilihat dari program dan kegiatan, jumlah satuan kerja, serta cakupan wilayah kerjanya membutuhkan jumlah auditor yang cukup besar. Kebutuhan jabatan fungsional auditor berdasarkan surat Kepala BPKP Nomor S-1077/K/J/2019 tanggal 9 Desember 20219 perihal Rekomendasi Kebutuhan JFA pada Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah 147 orang auditor.
Jumlah auditor Tahun 2021 adalah 92 orang, sehingga realisasi IKU ini adalah 62,58%. Hal ini sudah melebihi dari target 50%. Dengan demikian capaian kinerja atau ketercapaian targetnya sebesar 125,16%.
Rincian jumlah auditor Inspektorat Jenderal adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
Jumlah Auditor Tahun 2021
No. Uraian Jumlah
1. Auditor 73 orang
2. PNS bersertifikat auditor yang belum diangkat dalam
jabatan 9 orang
3. PNS Formasi Auditor 10 orang
Total 92 Orang
Langkah-langkah yang dilakukan Sekretariat Inspektorat Jenderal untuk meningkatkan capaian atas IKU ini adalah:
1) Mengikutsertakan PNS formasi Auditor yang berjumlah 10 orang untuk mengikuti diklat Jabatan Fungsional Auditor Ahli Pertama.
2) Mengajukan usulan pegawai yang bersertifikat auditor yang belum diangkat dalam jabatan kepada Sekretariat Jenderal untuk segera diajukan pengangkatannya
3) Mengajukan usulan CPNS formasi Auditor kepada Sekretariat Jenderal.
d. Opini terhadap Pengendalian Internal atas Laporan Keuangan dan BMN (PIPK) Inspektorat Jenderal berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dari hasil evaluasi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)/Tim Penilai PIPK UKE I
Dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan yang dihasilkan Inspektorat Jenderal merupakan laporan yang andal, disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan serta berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai maka perlu dilakukan penilaian dan reviu PIPK Inspektorat Jenderal. Kriteria Penilaian terhadap Pengendalian Internal atas Laporan Keuangan dan BMN berdasarkan hasil evaluasi APIP/tim penilai PIPK UKE I adalah sebagai berikut:
1) Pengendalian Internal Efektif (PIE)
2) Pengendalian Internal Efektif dengan Pengecualian (PIEDP) 3) Pengendalian Internal Tidak Efektif (PITE)
Penilaian PIPK Inspektorat Jenderal dilakukan terhadap akun
tertuang dalam Laporan Hasil Penilaian Penerapan Pengendalian Intern atas Pelaporan Keuangan Inspektorat Jenderal Tahun 2021 Tanggal 11 November 2021 menyatakan bahwa pengendalian intern atas pelaporan keuangan Inspektorat Jenderal tahun 2021 adalah efektif dan memadai.
Realisasi tersebut telah sesuai dengan target IKU yang ditetapkan dalam dokumen Renstra dan perjanjian kinerja yaitu Pengendalian Internal Efektif (PIE), sehingga capaian kinerja atau ketercapaian targetnya adalah 100%.
Faktor pendukung tercapainya indikator kinerja ini adalah:
1) Komitmen pimpinan terhadap penyusunan Laporan keuangan yang sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah;
2) Komitmen pimpinan dan pegawai lingkup Inspektorat Jenderal terhadap penerapan pengendalian intern.
e. Nilai SAKIP
Nilai SAKIP adalah nilai hasil evaluasi atas implementasi SAKIP Inspektorat Jenderal dan merupakan proses penilaian yang sistematis atas pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada tahun sebelumnya, yang menghasilkan rekomendasi perbaikan untuk ditindaklanjuti. SAKIP Inspektorat Jenderal Tahun 2020 dievaluasi oleh Inspektorat V dengan mengacu pada Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang dituangkan ke dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Nomor 22 Tahun 2017 tentang Pedoman Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja di Lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Evaluasi dilakukan terhadap unit kerja lingkup Inspektorat Jenderal untuk menilai kualitas 5 (lima) komponen SAKIP yang terdiri dari perencanaan
pencapaian sasaran/kinerja organisasi. Berdasarkan hasil evaluasi atas implementasi SAKIP Inspektorat Jenderal yang tertuang dalam Laporan hasil evaluasi nomor LHE-122/PR.03.02/II/2021 tanggal 5 Februari 2021, nilai implementasi SAKIP Inspektorat Jenderal secara kumulatif adalah 80,06 berada di kategori “A” dengan interpretasi memuaskan. Dalam tahun 2021, Sekretariat Inspektorat Jenderal menargetkan SAKIP Inspektorat Jenderal memperoleh nilai 80. Realisasi tersebut telah sesuai dengan target tahun 2021 yaitu 80, sehingga capaian kinerja atau ketercapaian target yang diperoleh adalah sebesar 100,07%.
Untuk meningkatkan kualitas SAKIP, maka Inspektorat Jenderal telah menindaklanjuti 5 (lima) butir dari 6 (enam) butir rekomendasi hasil evaluasi SAKIP sebagai berikut:
1) Menyusun Renstra 2020-2024 sampai dengan level satuan kerja berdasarkan Bisnis Proses Organisasi dengan mengacu pada Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga Tahun 2020-2024;
2) Menyusun Perjanjian Kinerja sampai dengan level individu dengan memperhatikan kriteria indikator kinerja yang baik (SMART), cukup, dan berorientasi hasil (bukan merupakan proses) yang selanjutnya digunakan dalam pengukuran kinerja berupa Sasaran Kinerja Pegawai (SKP);
3) Meningkatkan pemanfaatan serta pendokumentasian hasil aplikasi monitoring dan evaluasi kinerja, seperti EKOntrol dan e-kinerja sebagai upaya perbaikan perencanaan dan pengendalian kinerja berkala;
4) Melakukan monitoring dan evaluasi PKPT secara memadai (mencakup
6) Menyusun Rencana Aksi Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Evaluasi atas Implementasi SAKIP yang ditandatangani pejabat berwenang paling lambat 1 (satu) bulan sejak LHE Terbit.
Selain hal tersebut, terdapat upaya-upaya yang telah dilakukan Sekretariat Inspektorat Jenderal untuk mencapai target IKU Nilai SAKIP, yaitu:
1) Melakukan monitoring capaian kinerja secara berkala melalui penyusunan laporan kinerja triwulan;
2) Sekretariat Inspektorat Jenderal selaku koordinator SAKIP Inspektorat Jenderal mendorong UKE-II lingkup Inspektorat Jenderal untuk memanfaatkan aplikasi e-SAKIP dan e-Monev dalam pelaporan capaian kinerja;
3) Mendorong unit kerja menerapkan anggaran berbasis kinerja dalam penyusunan Renja dan RKA.
Faktor pendukung tercapainya indikator kinerja ini adalah komitmen pimpinan terhadap implementasi SAKIP di lingkungan Inspektorat Jenderal.
f. Nilai Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Inspektorat Jenderal
Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja anggaran kementerian yang bersumber dari APBN, diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2020 tentang Pemberian Penghargaan dan/atau Pengenaan Sanksi. Nilai kinerja atas pelaksanaan rencana kerja dan anggaran Inspektorat Jenderal merupakan IKU Sekretariat Inspektorat Jenderal yang ditetapkan sebagai wujud dukungan terhadap pelaksanaan Peraturan Presiden tersebut.
Realisasi IKU ini dihitung dari data capaian kinerja yang diinput kedalam aplikasi SMART Kementerian Keuangan dengan indikator penilaian sebagai berikut:
1) Penyerapan Anggaran;
3) Konsistensi atas penarikan anggaran;
4) Pencapaian keluaran; dan 5) Efisiensi.
Berdasarkan data yang diunduh dari dashboard aplikasi SMART Kementerian Keuangan, nilai kinerja atas pelaksanaan rencana kerja dan anggaran Inspektorat Jenderal tahun 2021 yaitu 82,39. Target yang ditetapkan pada tahun 2021 yaitu 80%, sehingga capaian kinerja atau ketercapaian targetnya adalah sebesar 102,99%.
Kendala yang dihadapi Sekretariat Inspektorat Jenderal dalam mencapai IKU ini adalah proses revisi informasi kinerja yang membutuhkan waktu yang relatif lama karena revisi tersebut melibatkan Bappenas sebagai leading sector dengan aplikasi KRISNA dan Kementerian Keuangandengan aplikasi satu DJA dan aplikasi SMART. Upaya yang dilakukan Sekretariat Inspektorat Jenderal untuk mencapai IKU ini adalah:
1) Berkoordinasi dengan Biro Perencanaan terkait Langkah-langkah revisi informasi kinerja pada aplikasi KRISNA dan Satu DJA;
2) Melakukan monitoring dan evaluasi capaian kinerja dan output lingkup Inspektorat Jenderal secara berkala;
3) Melakukan monitoring realisasi anggaran serta berkoordinasi dengan UKE II lingkup Inspektorat Jenderal agar segera menyampaikan pertanggungjawaban keuangan setelah pelaksanaan kegiatan;
4) Melakukan kontrol terhadap pengelolaan perbendaharaan agar penyerapan anggaran dapat berjalan secara konsisten sesuai dengan perencanaan anggaran pada halaman III DIPA.
pelaksanaan anggaran (IKPA) menjadi ukuran evaluasi kinerja pelaksanaan anggaran yang memuat 13 indikator dan mencerminkan aspek kesesuaian perencanaan dan pelaksanaan anggaran, kepatuhan pada regulasi, serta efektifitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan. Ketigabelas (13) indikator tersebut adalah sebagai berikut:
1) Penyerapan Anggaran (15%);
2) Data kontrak (10%);
3) Penyelesaian tagihan (10%);
4) Capaian output (17%);
5) Pengelolaan Uang Persediaan dan Tambahan uang persediaan (8%);
6) Revisi DIPA (5%);
7) Deviasi Halaman III DIPA (5%);
8) LPJ bendahara (5%);
9) Perencanaan kas (5%);
10) Kesalahan surat perintah membayar (5%);
11) Retur surat perintah pencairan dana (5%);
12) Pagu minus (5%);
13) Dispensasi SPM (5%).
Realisasi IKU ini dihitung berdasarkan nilai atas Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Inspektorat Jenderal per tahun. Berdasarkan data yang diunduh dari aplikasi omspan Kementerian Keuangan, nilai IKPA Tahun 2021 adalah 97,13. Sedangkan target yang ditetapkan pada tahun 2021 adalah 88, sehingga capaian kinerja atas IKU ini sebesar 110,38%.
Upaya yang telah dilakukan Sekretariat Inspektorat Jenderal dalam mencapai target IKU adalah sebagai berikut:
1) Melakukan penghitungan rencana penarikan dana seakurat mungkin 2) Melakukan revolving UP minimal satu bulan sekali
3) Menyampaikan rekon LPJ ke KPPN secara tepat waktu
4) Konfirmasi capaian output disampaikan setelah 10 hari bulan berikutnya untuk mewujudkan belanja berkualitas sesuai dengan prinsip penganggaran berbasis kinerja.
h. Tingkat Penerapan Pengendalian Intern Inspektorat Jenderal
Untuk dapat mewujudkan tata kelola penyelenggaraan pemerintah yang baik diperlukan suatu sistem yang dapat mengendalikan seluruh kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, sistem yang dimaksud adalah Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) memberikan amanat kepada setiap Instansi Pemerintah untuk menyelenggarakan SPIP di lingkungan organisasinya masing-masing.
Kerangka maturitas penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah dalam mencapai tujuan pengendalian intern terpola dalam enam tingkatan yaitu:
Level 0: Belum ada SPIP Level 1: Rintisan SPIP Level 2: Berkembang Level 3: Terdefinisi
Level 4: Terkelola dan terukur Level 5: Optimum.
Dalam Tahun 2021 telah dilakukan penilaian mandiri maturitas penyelenggaraan SPIP Inspektorat Jenderal Tahun 2020/2021. Penilaian dilakukan berdasarkan Peraturan Kepala BPKP Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penilaian Maturitas Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terintegrasi pada Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah.
penilaian yaitu penetapan tujuan, struktur dan proses serta pencapaian tujuan penyelenggaraan SPIP menghasilkan nilai maturitas penyelenggaraan SPIP sebesar 3,071.
Hasil penjaminan kualitas atas penilaian mandiri telah disampaikan kepada tim evaluator BPKP namun sampai dengan penyusunan Laporan Kinerja Tahun 2021, hasil evaluasi atas penerapan pengendalian intern masih dalam proses evaluasi oleh BPKP sehingga realisasi kinerja atas IKU ini mengacu kepada hasil penjaminan kualitas atas penilaian mandiri maturitas penyelenggaraan SPIP. Pada Tahun 2021, Sekretariat Inspektorat Jenderal menargetkan capaian IKU tingkat penerapan pengendalian intern Inspektorat Jenderal adalah level 3. Mengacu pada hasil penjaminan kualitas penilaian mandiri mandiri maturitas penyelenggaran SPIP maka persentase capaian kinerja atau ketercapaian targetnya adalah 100%. Dengan tingkat maturitas berada pada level 3 atau terdefinisi, maka karakteristik penyelenggaraan SPIP secara umum menunjukan bahwa Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi telah mampu mendefinisikan kinerjanya dengan baik dan strategi pencapaian kinerjanya telah relevan dan tertintegrasi serta pelaksanaan pengendalian telah dilaksanakan namun belum efektif.
Upaya yang telah dilakukan Sekretariat Inspektorat Jenderal untuk meningkatkan penyelenggaraan pengendalian intern Inspektorat Jenderal adalah sebagai berikut:
1) Melakukan analisis risiko;
2) Pembentukan tim satgas SPIP Inspektorat Jenderal;
3) Pengisian kertas kerja penilaian mandiri.
i. Jumlah Bahan Kebijakan dan Regulasi Inspektorat Jenderal yang ditetapkan pada Tahun yang Bersangkutan
IKU ini merupakan ukuran kinerja Inspektorat Jenderal dalam melaksanakan salah satu fungsi yang tertuang dalam Peraturan Menteri Desa PDT, dan Transmigrasi nomor 15 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata
yaitu penyusunan kebijakan teknis pengawasan intern di lingkungan kementerian. Bahan kebijakan dan regulasi Inspektorat bertujuan untuk mewujudkan pelaksanaan program dan kegiatan pengawasan yang efektif, efisien, terarah serta terkoordinasi di lingkungan Inspektorat Jenderal dalam menghadapi tantangan yang semakin besar yakni adanya peraturan baru, perubahan model bisnis atau strategi baru, ancaman cyber security dan privasi serta adanya kemajuan/perkembangan teknologi.
Bahan kebijakan dan regulasi yang telah disusun Inspektorat Jenderal selama Tahun 2021 adalah sebanyak 11 dokumen, sehingga jika dibandingkan dengan target 2 dokumen, maka capaian kinerja IKU ini adalah 550%. Adapaun rincian 11 dokumen tersebut adalah sebagai berikut:
1) Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No 97 Tahun 2021 tanggal 27 Oktober 2021 tentang Tata Kelola Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan di Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi;
2) Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No 104 Tahun 2021 tanggal 10 November 2021 tentang Kebijakan Pengawasan Intern di Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi;
3) Keputusan Inspektur Jenderal Nomor 1 Tahun 2021 tanggal 19 Februari 2021 tentang Pedoman Penyelesaian Temuan Hasil Pengawasan Yang Tidak Dapat Ditindaklanjuti;
4) Keputusan Inspektur Jenderal Nomor 3 Tahun 2021 tanggal 26 Februari 2021 tentang Pedoman Teknis Audit Investigasi;
5) Keputusan Inspektur Jenderal Nomor 4 Tahun 2021 tanggal 26 Februari 2021 tentang Pedoman Teknis Audit Kinerja;
9) Keputusan Inspektur Jenderal Nomor 7 Tahun 2021 tanggal 23 Maret 2021 tentang Program Kerja Pengawasan Tahun 2021;
10) Keputusan Inspektur Jenderal Nomor 19 Tahun 2021 tanggal 20 Agustus 2021 tentang Standar Kompetensi Aparatur Pengawas Internal;
11) Keputusan Irjen Nomor 32 Tahun 2021 tanggal 27 Desember 2021 tentang Pedoman Pola Hubungan Kerja Pejabat Struktural Dengan Pejabat Fungsional Auditor.
Kendala yang dihadapi dalam penyusunan bahan kebijakan dan regulasi Inspektorat Jenderal adalah:
1) Penyusunan bahan kebijakan dan regulasi dilaksanakan secara simultan dengan kegiatan lain termasuk aktivitas-aktivitas tambahan lain;
2) Kebijakan dan regulasi yang diatur mempunyai dampak yang cukup besar sehingga memerlukan kehati-hatian.
Untuk mengatasi kendala tersebut, beberapa cara telah dilakukan antara lain:
1) Menyesuaikan rencana penyelesaian dengan mempertimbangan dinamika dan kegiatan prioritas lainnya;
2) Melaksanakan kegiatan koordinasi secara intesif dengan pihak-pihak yang terlibat dan meminta masukan kepada unit kerja lain.
Sasaran Kegiatan 2
Terwujudnya pelayanan publik Inspektorat Jenderal yang berkualitas.
Indikator kinerja yang ditetapkan untuk menilai capaian sasaran Kegiatan adalah:
Tingkat Kepuasan Aparatur Lingkup Inspektorat Jenderal atas Pelayanan Teknis dan Dukungan Manajemen
Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan internal, Sekretariat Inspektorat Jenderal melaksanakan evaluasi dan pemantauan kinerja melalui survei kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal. Pelaksanaan survei kepuasan internal dilakukan pada tanggal 13 sampai dengan 15 Oktober 2021
dengan melakukan penyebaran surat dan e-survey kepada pimpinan masing- masing unit kerja untuk disebarkan kepada seluruh responden. Jumlah responden survei kepuasan internal sebanyak 71 (tujuh puluh satu) responden. Karakteristik responden dibedakan menjadi 4 jenis yaitu berdasarkan jenis layanan yang diterima, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan. Survei yang dilakukan berdasarkan jenis layanan yang diterima oleh responden internal sebagai berikut:
1) Layanan penyusunan kebijakan, rencana program, evaluasi dan pelaporan;
2) Layanan pengelolaan keuangan;
3) Layanan permintaan pemenuhan sarana prasarana
4) Layanan pembinaan hukum dan penyusunan peraturan perundang-undangan dilingkungan Inspektorat Jenderal;
5) Layanan pengelolaan urusan kepegawaian;
6) Layanan organisasi, ketatalaksanaan dan reformasi birokrasi Inspektorat Jenderal;
7) Layanan pemantaua, evaluasi dan analisis tindak lanjut hasil pengawasan;
8) Layanan pelaksanaan sistema pengendalian intern pemerintah dan pengelolaan risiko;
9) Layanan tata usaha dan rumah tangga.
Berdasarkan hasil survei, nilai indeks kepuasan layanan internal adalah 3,07 sesuai dengan target tahun 2021, yaitu 3. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah 102,33%.
2. Perbandingan antara Capaian Kinerja Tahun 2021 dan Tahun 2020 Perjanjian Kinerja Tahun 2020 mengacu pada Keputusan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Nomor 16 Tahun 2020 tentang Penetapan Indikator Kinerja
dalam Keputusan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Tahun 2021-2024. Berikut disajikan perbandingan capaian kinerja Tahun 2021 dan Tahun 2020:
Tabel 3.5
Capaian Kinerja Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021 dan Tahun 2020
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Utama
Tahun 2021
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Utama
Tahun 2020
Target Realisasi
Kinerja Capaian
Kinerja Target Realisasi
Kinerja Capaian Kinerja Terwujudnya
dukungan pengawasan internal
Persentase Nilai Hasil Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
(PMPRB) di Inspektorat Jenderal 80 83,42 104,28
Terwujudnya Dukungan Pengawasan
Internal
Nilai Kesesuaian atas Penyajian Laporan Keuangan dan BMN Inspektorat Jenderal berdasarkan Standa Akuntansi Pemerintah (SAP) dari hasil evaluasi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)
4 4 100
Persentase pejabat struktural dan fungsional tertentu yang mengikuti
pengembangan kompetensi per tahun 50 55,65 111,3
Nilai SAKIP 80 80,05 100,06
Persentase terpenuhinya jumlah
Auditor sesuai beban kerja 50 62,58 125,16 Persentase rekomendasi hasil temuan
audit eksternal yang ditindaklanjuti 63 74,07 117,57 Opini terhadap Pengendalian Internal
atas Laporan Keuangan dan BMN Inspektorat Jenderal berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dari hasil evaluasi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)/Tim Penilai PIPK UKE I
PIE PIE 100
Jumlah Norma Standar Prosedur Kriteria (NSPK) pengawasan internal yang diselesaikan dan
diimplmentasikan 13 19 146,15
Nilai SAKIP Inspektorat Jenderal 80 80,06 100,07 Jumlah penyampaian laporan di
lingkungan Inspektorat Jenderal yang tepat waktu sesuai dengan ketentuan
5 5 100
Nilai Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Inspektorat Jenderal total realisasi anggaran Kemendesa PDT, dan Transmigrasi
80 82,39 102,99
Persentase Pejabat Pimpinan Tinggi dan Pejabat Administrasi di lingkungan Inspektorat Jenderal yang mengikuti pengembangan kompetensi per tahun
23 60,86 264,61
Nilai atas Indikator Kinerja Pelaksanaan
Anggaran Inspektorat Jenderal 88 97,13 110,38
Persentase Pejabat fungsional di lingkungan Inspektorat Jenderal yang
mengikuti pengembangan kompetensi 24 81.48 339,50
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Utama
Tahun 2021
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Utama
Tahun 2020
Target Realisasi Kinerja
Capaian
Kinerja Target
Realisasi
Kinerja Capaian Kinerja Terwujudnya
pelayanan publik Inspektorat Jenderal yang berkualitas
Tingkat kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal atas pelayanan teknis dan dukungan manajemen
3 3,07 102,33
Tingkat kepuasan aparatur Kementerian atas pelayanan konsultasi dan pendampingan
4 4.61 115,25
Nilai kinerja atas pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran
Inspektorat Jenderal 75 89,69 119,59
Persentase Kesesuaian sasaran RENJA yang diprogramkan dalam
RKA Inspektorat Jenderal 100 100 100
Rata-rata revisi DIPA di lingkungan
Inspektorat Jenderal 3 5 60
Nilai hasil penguatan pengawasan berdasarkan PMPRB terhadap agenda prioritas 8 (delapan) area perubahan Reformasi Birokrasi
6 6.80 113,33
Tingkat kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal atas pelayanan teknis dan dukungan manajemen
4 4,58 114,50
Persentase pengaduan yang ditindaklanjuti
50 89,59 179,18
Tingkat kapabilitas APIP 2 2 Plus 100
Nilai Kinerja Unit (NKU) 100
Sangat Baik Nilai Kinerja Unit (NKU) 97,31
Sangat Baik
Dari tabel di atas dapat dijelaskan beberapa hal sebagai berikut:
a. Terdapat perubahan sasaran program dari 1 sasaran program dengan 17 indikator kinerja utama pada tahun 2020 menjadi 2 sasaran program dengan 10 indikator kinerja pada tahun 2021.
b. Terdapat 5 indikator kinerja yang sama pada tahun 2021 dengan tahun 2020 sehingga dapat diperbandingkan, yaitu:
1) Persentase terpenuhinya jumlah Auditor sesuai beban kerja;
2) Nilai SAKIP Inspektorat Jenderal;
3) Nilai Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Inspektorat Jenderal;
4) Tingkat kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal atas pelayanan teknis dan dukungan manajemen.
5) Jumlah bahan kebijakan dan regulasi Inspektorat Jenderal yang ditetapkan pada tahun yang bersangkutan (merupakan IKU 2021 yang dapat dipersamakan dengan IKU Jumlah Norma Standar Prosedur Kriteria pengawasan internal yang diselesaikan dan diimplmentasikan pada tahun 2020).
Dari perbandingan capaian 5 IKU tersebut diketahui bahwa keseluruhan IKU tersebut telah tercapai melebihi dari target yang ditetapkan (lebih dari 100%).
c. Secara keseluruhan terdapat kenaikan capaian IKU pada tahun 2021 (100%) dibanding capaian IKU tahun 2020 (97,31%), dengan predikat yang sama yaitu
“sangat baik”.
Perbandingan capaian IKU tahun 2021 dan 2020 dapat dilihat pada grafik berikut:
Grafik 3.1
Capaian Kinerja Tahun 2021 dan Tahun 2020
B. ANALISA ATAS EFISIENSI PENGGUNAAN SUMBER DAYA
Efisiensi penggunaan sumber daya yang mendukung pencapaian kinerja diidentifikasi melalui faktor sumber daya keuangan dan sumber daya manusia.
1. Efisiensi Sumber Daya Manusia (SDM)
Jumlah SDM Sekretariat Inspektorat Jenderal Tahun 2021 sebanyak 73 orang.
Dengan keterbatasan sumber daya yang ada serta beban kerja yang cukup tinggi, Sekretariat Itjen tetap dapat menghasilkan capaian kinerja yang “sangat baik”
(100%). Hal ini menunjukan adanya optimalisasi pemanfaatan SDM untuk melaksanakan program dan kegiatan tahun 2021 dengan baik, sehingga terjadi efisiensi dalam pemanfaatan SDM.
125.16 100.07 102.99 102.33
550
104.76 100.06 119.59 114.5 146.15
0 100 200 300 400 500 600
Persentase Terpenuhinya jumlah auditor sesuai dengan
beban kerja
Nilai SAKIP Inspektorat Jenderal
Nilai Kinerja atas pelaksanaan RKA Inspektorat Jenderal
Tingkat kepuasan aparatur lingkup Inspektorat Jenderal atas pelayanan teknis
dan dukungan manajemen
Jumlah bahan kebijakan dan regulasi
Chart Title
Capaian 2021 Capaian 2020
2. Efisiensi Penggunaan Anggaran
Efisiensi penggunaan anggaran Inspektorat Jenderal diperoleh jika persentase capaian kinerja lebih besar daripada persentase penggunaan dana.
Efisiensi penggunaan anggaran Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam mendukung pencapaian Indikator kinerja utama Inspektorat Jenderal Tahun 2021 dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Adanya pengurangan anggaran sebesar Rp6.825.329.000 atau 19,61% dari pagu awal dalam rangka penanganan pandemi Covid-19, sehingga secara umum sudah terdapat efisiensi dalam penggunaan anggaran;
b. Seluruh IKU tercapai melebihi target yang ditetapkan, dimana presentase capaian IKU lebih besar daripada presentase realisasi anggaran (tabel 3.6) Dengan demikian Inspektorat Jenderal telah dapat mengefisienkan dan mengefektifkan penggunaan anggaran dalam pelaksanaan kegiatan pengawasan.
c. Efisiensi penggunaan anggaran terdapat pada IKU Jumlah bahan kebijakan dan regulasi Inspektorat Jenderal yang ditetapkan pada tahun yang bersangkutan yaitu sebesar 452,14% (tabel 3.6)