• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Efektivitas

Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer mendefinisikan efetivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan. Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program. Efektif dapat disebut apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti yang telah ditentukan.

Handayaningrat (1994) menyatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Efektivitas ditinjau dari sudut pencapaian tujuan, dimana keberhasilan suatu organisasi harus mempertimbangkan bukan saja sasaran organisasi tetapi juga mekanisme mempertahankan diri dalam mengejar sasaran. Penilaian efektivitas harus berkaitan dengan mesalah sasaran maupun tujuan.

Steers (1985) mengemukakan bahwa efektivitas adalah jangkauan usaha suatu program sebagai suatu sistem dengan sumber daya dan sarana tertentu untuk memenuhi tujuan dan sasarannya tanpa melumpuhkan cara dan sumber daya itu serta tanpa memberi tekanan yang tidak wajar terhadap pelaksanaannya. Efektivitas merupakan “ketepatgunaan, hasil guna, menunjang tujuan”.

Muhidin (2009) juga menjelaskan bahwa efektivitas juga berhubungan dengan masalah bagaimana pencapaian tujuan atau hasil yang diperoleh, kegunaan atau manfaat dari hasil yang diperoleh, tingkat daya fungsi unsur atau komponen, serta masalah tingka kepuasaan pengguna/client. Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa efektiv.itas merupakan ketepatgunaan suatu program untuk mencapai tujuan yang diinginkan.Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu.

B. Pembelajaran Bioentrepreneurship 1. Pembelajaran

Pembelajaran berasal dari kata belajar yang berarti perubahan perilaku yang

(2)

dilakukan seseorang secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya. Slameto (2013) dalam Hadiyati (2010). Pembelajaran dipandang sebagai proses kegiatan menggerakkan orang untuk belajar. Proses belajar ini berasal dari reaksi suatu situasi yang dihadapi dengan keadaan bahwa karakteristik-karakteristik dengan perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecenderungan-kecenderungan reaksi asli, kematangan atau perubahan-perubahan sementara dari organisme.

Pembelajaran merupakan suatu proses perubahan pengalaman meliputi perubahan kemampuan berfikir, bertindak dan perasaan. Proses belajar melibatkan berbagai aktivitas baik fisik, mental maupun perasaan yang juga melibatkan berbagai komponen yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mempengaruhi proses dan hasil belajar. Pembelajaran juga bisa diartikan sebagai sebuah proses kegiatan pelaksanaan kurikulum suatu lembaga pendidikan yang telah ditetapkan (Sudjana, 2009).

Pembelajaran pada dasarnya adalah suatu proses penambahan informasi dan kemampuan baru (Sanjaya, 2009). Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran diartikan guru menyampaikan informasi kepada siswa, sehingga siswa mendapatkan suatu pengetahuan dan pengalaman yang baru melalui proses pembelajaran.

2. Enterpreneurship

Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, entreprendre, yang sudah dikenal sejak abad ke-17, yang berarti berusaha. Maksudnya adalah memulai sebuah bisnis. Istilah entrepreneurship sering diasosiasikan dengan memulai sesuatu yang baru dan dimotivasi oleh pencapaian keuntungan semata. Di Perancis kata entrepreneur berarti seseorang yang melakukan atau mengusahakan suatu proyek atau aktivitas secara signifikan. Abad ke-20 para ahli ekonomi menyoroti pentingnya entrepreneurship adalah sebagai inovasi yang menggerakkan proses kapitalisme kreatif-destruktif. Akhirnya, esensi dari istilah entrepreneurship adalah inovasi dalam penciptaan nilai-nilai baik bidang ekonomi, sosial, pendidikan maupun bidang lainnya (Starcher, 2003).

Istilah kewirausahaan berasal dari terjemahan entrepreneurship yang berarti suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat dan proses

(3)

dalam menghadapi tantangan hidup. Kewirausahaan berkaitan dengan kemampuan dan perilaku seseorang dalam berkreasi dan berinovasi.

Entrepreneurship merupakan gabungan dari kreativitas, inovasi dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha baru (Starcher, 2003). Dapat disimpulkan bahwa entrepreneurship adalah kemampuan dalam berfikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan sebagai dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup.

Konsep enterpreneurship sampai saat ini masih terus berkembang.

Enterpreneurship adalah suatu minat, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain.

Enterpreneurship merupakan minat mental dan jiwa yang selalu aktif atau berdaya, bercipta, dan bersahaja serta berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya. Seseorang yang memiliki karakter selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Entrepreneur adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya (Stracher, 2003).

Entrepreneurship (kewirausahaan) pada dasarnya merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai risiko yang mungkin dihadapinya. Entrepreneurship adalah segala hal yang berkaitan dengan sikap, tindakan, minat dan proses yang dilakukan oleh para entrepreneur dalam merintis, menjalankan dan mengembangkan usaha mereka.

Dapat dikatakan bahwa enterpreneurship dalam suatu pembelajaran yakni minat seseorang (siswa) untuk berwirausaha dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran yang bersifat terintegrasi dengan mata pelajaran tertentu.

3. Bioenterpreneurship

Bioentrepreneurship berasal dari dua kata yaitu bio dan entrepreneurship. Bio artinya yaitu pembelajaran biologi, sedangkan entrepreneurship adalah usaha kreatif yang dibangun berdasarkan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru, memiliki nilai tambah, memberi manfaat, menciptakan lapangan kerja dan hasilnya berguna bagi orang lain.

Entrepreneurship mengandung makna wiraswasta atau wirausaha adalah cabang

(4)

ilmu ekonomi yang mengajarkan bagaimana kita bisa mandiri dalam memulai suatu usaha dalam rangka mencapai profil serta mengembangkan seluruh potensi ekonomi yang dimiliki (Yunus, 2008). Bioentrepreneurship berarti pembelajaran biologi yang berbasis kewirausahaan, dimana pembelajarannya dikaitkan dengan pengetahuan dari Biologi yang dapat dimanfaatkan untuk berwirausaha.

4. Pembelajaran Bioentrepreneurship

Fitriah (2016) menyatakan bahwa pembelajaran biologi dengan penerapan bioentrepreneurship adalah perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan mengaitkan langsung pada objek nyata atau fenomena di sekitar kehidupan manusia sebagai peserta didik, sehingga penggunaan perangkat pembelajaran ini memungkinkan peserta didik dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomis, dan menumbuhkan minat wira-usaha.

Pembelajaran bioentrepreneurship memberikan kesempatan siswa untuk berwirausaha berdasarkan pada prinsip-prinsip penerapan teknologi di bidang biologi. Pembelajaran Biologi berbasis kewirausahaan (bioentrepreneurship) merupakan pembelajaran dengan inovasi yang menggabungkan ilmu – ilmu sosial, biomedis, ilmu alam dan teknologi yang dapat digunakan untuk menciptakan peluangan kerja dalam mengurangi pengangguran dari lulusan SMA (Anwar, 2012).

Pembelajaran bermakna dapat dilakukan melalui pembelajaran biologi berbasis entrepreneurship. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membekali penguatan karakter, pengetahuan dan keterampilan para siswa sehingga mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Mengacu pada pilar belajar menurut UNESCO, pembelajaran dilakukan untuk membekali siswa agar dapat memecahkan masalah, hidup saling menguntungkan dan menjadi diri sendiri yang berwawasan ilmu pengetahuan disertai kemandirian dan berkarakter sesuai nilai kehidupan (Damayanti, 2016).

Perangkat pembelajaran berorientasi bioentrepreneurship yang akan dirancang, diperlukan pengajar yang dapat mendesain dan melaksanakannya dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang tentunya berbeda dengan pembelajaran lainnya. Guru harus mengetahui secara pasti materi biologi yang tepat dan sesuai dengan pendekatan pembelajaran bioentrepreneurship, pembuatan desain

(5)

pembelajarannya harus sesuai antara objek atau fenomena yang dipelajari dengan kegiatan siswa. Kegiatan siswa perlu dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan kompetensi yang diharapkan perlu dikuasai siswa (Fitriah, 2016).

Kararakteristik dari program pembelajaran enterpreneurship menurut Susiana (2011) yang dalam hal ini dapat pula dikaitkan dengan pembelajaran biologi. Karakteristiknya sebagai berikut:1) Menumbuhkan sikap wira-usaha dari siswa Sekolah Menengah Atas dalam pembelajaran (biologi), 2) Menumbuhkan kemampuan siswa untung menghubungkan konsep pembelajaran dengan peluang wira-usaha, 3)Menumbuhkan minat siswa untuk menjadi pengusaha, 4) Merangsang minat siswa menyukai suatu pembelajaran (biologi), dan 4) Memahami konsep pembelajaran (biologi) dan hubungan timbal balik dari itu.

Terdapat lima tahap yang harus dilakukan guru dalam kegiatan proses belajar mengajar menurut Fitriah (2012: 5), begitu pun pada pembelajaran bioenterpreneurship yaitu : 1) Tahap pendahuluan, 2) Tahap pembentukan konsep, 3)Tahap aplikasi konsep, 4)Tahap pemantapan konsep, dan 5) Tahap evaluasi.

Pembelajaran berbasis bioentrepreneurship diterapkan dengan memberi pengajaran yang bersentuhan langsung dengan dunia wirausaha. Terlepas model pembelajaran yang digunakan dapat berupa berbagai model pembelajaran yang tidak terikat pada model tertentu. Pembelajaran berlangsung dengan memberi prospek kedepan mengenai usaha yang berkaitan dengan materi pelajaran disertai prospek kedepan mengenai usaha tersebut.

Pembelajaran bioentrepreneurship ini merujuk pada Susiana (2011) diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran berupa kegiatan seperti aktivitas tatap muka, aktivitas pembuatan produk, kegiatan presentasi dan pembuatan mind map. Kegiatan siswa meliputi pembelajaran dikelas, diskusi disertai pembuatan mind map, presentasi, serta penugasan pembutan produk olahan tanaman Manihot utillisima (membuat produk), dan melakukan analisis ekonomi dari produk.

Pembuatan produk ini melalui berpikir kreatifnya siswa dapat memiliki kreativitas yang tinggi sehingga dapat menghasilkan produk dengan nilai jual yang tinggi.

Langkah awal penelitian dengan melakukan pengembangan perangkat pembelajaran (silabus, RPP, bahan ajar berupa komik yang berisi tentang materi Angiospermae dan enterpreneurship, dan instrumen soal yang mengarah pada

(6)

keterampilan berpikir kreatif siswa, instrument angket respon siswa, dan instrument observasi aktivitas belajar siswa). Validasi ahli dilakukan setelah itu dan uji coba, revisi, setelah dianalisis dan disetujui oleh pembimbing baru dilakukan penelitian pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

C. Komik

1. Definisi Komik

Sudjana dan Rifai (2002) mendefinisikan komik sebagai bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada para pembacanya. Komik mempunyai cerita-cerita yang ringkas dan menarik perhatian serta dilengkapi dengan aksi-aksi. Bahkan, komik mampu membuat tokoh-tokohnya seolah-olah hidup karena disertai dengan pewarnaan yang bebas.

Daryanto (2010) mengatakan komik sebagai suatu bentuk sajian cerita dengan seri gambar yang lucu. Komik menyediakan cerita-cerita yang sederhana, mudah ditangkap dan dipahami isinya, sehingga sangat digemari baik oleh anak- anak maupun orang dewasa. Komik pendidikan cenderung menyediakan isi yang bersifat informatif. Komik pendidikan banyak diterbitkan oleh industri, dinas kesehatan, dan lembaga-lembaga non-profit.

Bonneff (1998) mengemukakan pembagian komik berdasarkan bentuknya menjadi comic books (komik buku) dan comic strip (komik strip). Komik buku merupakan jenis komik yang berbentuk buku sedangkan komik strip merupakan jenis komik yang biasa dimuat dalam surat kabar, majalah atau buletin. Jadi komik buku merupakan komik yang dicetak dalam satu kesatuan buku sedangkan komik strip hanya menumpang di salah satu edisi surat kabar, majalah atau buletin sehingga jumlah ceritanya tidak sepanjang komik buku.

Komik merupakan kumpulan gambar berwarna berisikan tokoh-tokoh yang memerankan sebuah cerita. Komik disertai teks pendukung untuk memperjelas alur cerita sehingga komik mudah dipahami isi ceritanya.

2. Komik Bioentrepreneurship

Salah satu upaya meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik, yaitu digunakannya media pembelajaran yang menarik, contohnya komik.

(7)

Sebagaimana dikatakan Sudjana & Rivai (2011) bahwa peranan komik dalampengajaran adalah kemampuannya dalam meningkatkan minat belajar para peserta didik. Nugraha (2013) menyatakan bahwa komik sains merupakan salah satu alternatif media bermain sambil belajar. Pemberian pengalaman belajar yang menyenangkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Selain itu, penggunaan komik sains dalam pembelajaran membuat kegiatan pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan sehinggga minat belajar peserta didik menjadi lebih tinggi.

Komik bioenterpreuneurship adalah suatu bentuk media komunikasi visual yang mempunyai kekuatan untuk menyampaikan informasi secara popular dan mudah dimengerti yang berkaitan dengan pembelajaran biologi berkaitan dengan kewira-usahaan. Hal ini dimungkinkan karena komik memadukan kekuatan gambar dan tulisan yang dirangkai dalam suatu alur cerita gambar yang membuat informasi lebih mudah diserap. Teks membuatnya lebih dimengerti, dan alur membuatnya lebih mudah untuk diikuti dan diingat. Komik bioenterpreuneurship yang dibuat diharapkan lebih efektif untuk mengembangkan kreativitas dalam bidang desain komunikasi visual.

Bahan ajar komik dapat digunakan dalam pembelajaran biologi sebagai alat agar menarik perhatian siswa untuk lebih antusias dalam belajar. Serta dikemas dalam buku komik berukuran kecil serta berkaitan dengan pembelajaran bioenterpreuneurship. Buku komik yang dibuat ini berisi tentang materi Angiospermae kelas X SMA dengan kaitan enterpreneurship. Komik ini digunakan sebagai pelengkap bahan ajar guru agar siswa memiliki pemahaman yang lebih variatif tidak hanya dari buku teks saja.

Komik bioenterpreuneurship yang diimpementasikan dalam pembelajaran selain dapat meningkatkan respon siswa, pada perannya dalam pembelajaran sebagai pelengkap sumber belajar siswa. Komik bioenterpreuneurship yang digunakan siswa dapat meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar siswa.

Komik bioenterpreuneurship yang didalamnya berisi materi pembelajaran yang berkaitan dengan kewirausahaan pun dapat menumbuhkan minat dan jiwa wira- usaha siswa.

(8)

D. Kreativitas dan Prestasi Belajar 1. Kreativitas

Komarudin (2015) mengatakan bahwa kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya atau kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumny. Kreativitas ialah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara baru dan tidak biasa dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu masalah.

Kreativitas adalah suatu kemampuan, yaitu kemampuan untuk membayangkan atau menciptakan sesuatu yang baru, kemampuan untuk membangun ide-ide baru dengan mengkombinasikan, merubah, menerapkan ulang ide-ide yang sudah ada; suatu sikap, yaitu kemampuan menerima perubahan dan pembaruan, kemauan untuk bermain dengan ide dan kemungkinan untuk fleksibilitas pandangan, kebiasaan menikmati sesuatu dengan baik, ketika mencari cara untuk mengimprovisasi ide tersebut; suatu proses, yaitu orang kreatif bekerja keras dan terus menerus, sedikit demi sedikit membuat perubahan dan perbaikan terhadap pekerjaannya (Mursidik et al, 2015).

Dapat ditarik kesimpulan mengenai kreativitas, yakni merupakan kemampuan individu untuk mengekspresikan suatu ide atau pemikiran yang dimiliki seseorang sebagai hasil dari kemampuan berpikir kreatif. Kreativitas merupakan kecakapan menggunakan akal untuk menghasilkan ide, mencipta sesuatu yang baru, asli, luar biasa, bernilai, baik bersifat abstrak, nyata berupa ide atau gagasan, mencari makna dan penyelesaian masalah secara inovatif.

Berpikir Kreatif

Mursidik et al (2015) mengemukakan bahwa berpikir adalah kegiatan memanipulasi dan mentranformasi informasi dalam memori untuk membentuk konsep, menalar, berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir secara kreatif, dan memecahkan masalah.

Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak.Walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak. Fungsi otak serta kondisi otak manusia mempunyai peluang yang ikut mewarnai cara berpikir seseorang.

Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan

(9)

perasaan dan kehendak manusia. Memikirkan sesuatu berarti mengarahkan diri pada obyek tertentu, menyadari secara aktif dan menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai wawasan tentang obyek tersebut (Mursidik et al, 2015).

Supardi (2008) mengatakan bahwa “berpikir adalah tingkah laku yang menggunakan ide, yaitu suatu proses simbolis”. Misalnya kalau kita makan, kita bukan berpikir. Tetapi kalau kita membayangkan suatu makanan yang tidak ada, maka kita menggunakan ide atau simbol-simbol tertentu dan tingkah laku ini disebut berpikir. Lebih lanjut ia juga menjelaskan tentang macam-macam kegiatan berpikir yang digolongkan menjadi dua, yaitu: berpikir asosiatif dan berpikir terarah.

Ciri-ciri yang utama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian, dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Berpikir dalam arti luas kita dapat mengatakan bahwa berpikir adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi (Supardi, 2008).

Dapat diketahui berdasarkan uraian diatas bahwa berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif yang sangat rumit dan kompleks. Berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi. Serta berkaitan terhadap berbagai input indera dan data yang dipanggil dalam memori untuk diolah, diformulasi, dan dinilai sehingga diperoleh suatu makna.

Evans (1991) menjelaskaan bahwa berfikir kreatif adalah suaru aktivitas mental untuk membuat hubungan-hubungan (conection) yang terus menerus (continue), sehingga ditemukan kombinasi yang “benar” atau sampai orang itu menyerah. Asosiasi ide-ide membentuk ide-ide baru. Jadi, berpikir kreatif mengabaikan hubungan-hubungan yang sudah mapan dan menciptakan hubungn- hubungan tersendiri. Pengertian ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif merupakan kegiatan mental untuk menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya.

Guilford (1986) dalam Kim (2010) menganggap bahwa berfikir kreatif menyertakan berfikir divergen, yang menekankan pada fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Berfikir kreatif tidak sama dengan berfikir divergen, karena berfikir kreatif membutuhkan sensitivitas untuk masalah sebagai

(10)

kesanggupan mendefinisikan ulang, yang didalamnya dapat mentransformasikan pikiran, interpretasi ulang, dan kebebasan dari fungsi yang pasti untuk menghasilkan solusi yang unik.

Guilford (1964) dalam Filsaime (2008) menyatakan bahwa berpikir divergen adalah sebuah proses penciptaan banyak ide tentang sebuah topik tertentu didalam waktu yang pendek. Berfikir divergen pada dasarnya terjadi secara spontan, dengan cara yang mengalir bebas. Ide-ide tersebut diciptakan dalam bentuk yang acak dan tidak terstruktur. Pehkonen (1997) dalam Risnita (2013) menyatakan bahwa berpikir kreatif sebagai kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang berdasarkan pada intuisi dalam kesadaran. Berpikir kreatif melibatkan logika dan intuisi secara bersama-sama.

Torrance (1984) dan Gilford (1975) dalam Filsaime (2008) menentukan empat karakteristik berfikir kreatif: orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas, dan elaborasi. Senada dengan Anwar (2012) bahwa berfikir kreatif dapat dilihat dan dilakukan berdasarkan jalan karakteristik dengan empat komponen: a) Fluency (mengumpulkan sejumlah ide), b) Flexibility (menggeser perspective dengan mudah), c) Originality (terdiri atas sesuatu yang baru), dan d) Elaboration (Membangun ide yang telah ada).

Kim (2010) menyatakan bahwa mengukur keterampilan berfikir kreatif mengacu pada TTCT (Torrance Test Creative Thinking). Meskipun terdapat beberapa perubahan terkait TTCT tetapi pada intinya tetap sama. Edisi pertama yakni pada tahun 1996 mengukur fluency, flexibility, originality, dan elaboration.

Filsaime (2008) berdasarkan Torrance (1984) menyatakan bahwa empat karakteristik berpikir kreatif tersebut didefinisikan sebagai berikut:

a. Fluency (kefasihan/kelancaran)

Kemampuan untuk menciptakan segudang ide (Guilford, 1950) dalam Filsaime (2008). Ini mungkin indikator yang paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan. Anwar et al (2012) dalam Mursidik et al (2015) mengungkapkan aspek kefasihan terkait dengan cara siswa membangun ide. Kefasihan dalam berfikir mengacu pada baeragamnya jawaban yang benar yang diberikan kepada siswaa. Aspek kefasihan, didalamnya bahwa jawaban yang berbeda belum tentu dianggap beragam.

(11)

b. Fleksibility (fleksibilitas/keluwesan)

Karakteristik ini menggambarkan kemampuan seorang individu untuk mengubah perangkat mentalnya ketika keadaan memerlukan untuk itu, atau kecenderungan untuk memandang sebuah masalah secara instan dari berbagai perspektif. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan- rintangan mental, mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bias diterapkan pada sebuah masalah.

c. Originality (orisinalitas/ keaslian)

Kategori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apa pun yang diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan jarang memberikan stimulasi ide-ide orisinil. Jenis pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk menguji kemampuan ini adalah tuntutan penggunaan-penggunaan yang menarik dari obyek-obyek umum.

d. Elaboration (elaborasi/keterincian)

Kemampuan untuk menguraikan sebuah obyek tertentu. Elaborasi ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail yang bisa dibuat untuk stimulus sederhana untuk membuatnya lebih kompleks. Anwar et al (2012) dalam Mursidik et al (2015) menyatakan bahwa aspek keterincian terkait dengan kemampuan siswa untuk menjelaskan secara runut terkait, rinci, dan saling terkait antara satu langkah dengan langkah yang lain.

Dapat diartikan bahwa kemampuan berpikir kreatif merupakan suatu kebiasaan berpikir yang tajam dengan intuisi yang menggerakkan imajinasi yang mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan baru atau ide baru sebagai pengembangan dari ide lama untuk memecahkan permasalahan dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Berpikir kreatif (kreativitas) dapat diukur dengan menggunakan Torrance Test of Creative Thingking (TTCT) yang dikembangkan oleh Torrance (dalam Kim, 2010). Terdapat empat aspek yakni fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Empat aspek tersebut digunakan dalam penilaian mind map yang ditugaskan karena dalam pembuatannya diperlukan keempat aspek tersebut.

2. Prestasi Belajar

Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti :

(12)

a) Penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru,

b) Kemampuan yang sungguh-sungguh ada atau dapat diamati (actual ability) dan yang dapat diukur langsung dengan tes tertentu.

Suryabrata (2006) mengemukakan bahwa prestasi dapat pula didefinisikan sebagai berikut : “nilai merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru mengenai kemajuan/prestasi belajar siswa selama masa tertentu”. Jadi, prestasi adalah hasil usaha siswa selama masa tertentu melakukan kegiatan.

Pendapat Hutabarat (1995) bahwa hasil belajar dibagi menjadi empat golongan yaitu :

a) Pengetahuan, yaitu dalam bentuk bahan informasi, fakta, gagasan, keyakinan, prosedur, hukum, kaidah, standar, dan konsep lainya.

b) Kemampuan, yaitu dalam bentuk kemampuan untuk menganalisis, mereproduksi, mencipta, mengatur, merangkum, membuat generalisasi, berfikir rasional dan menyesuaikan.

c) Kebiasaaan dan keterampilan, yaitu dalam bentuk kebiasaan perilaku dan keterampilan dalam menggunakan semua kemampuan.

d) Sikap, yaitu dalam bentuk apresiasi, minat, pertimbangan dan selera.

Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha siswa yang dapat dicapai berupa penguasan pengetahuan, kemampuan kebiasaan dan keterampilan serta sikap setelah mengikuti proses pembelajaran yang dapat dibuktikan dengan hasil tes. Prestasi belajar merupakan suatu hal yang dibutuhkan siswa untuk mengetahui kemampuan yang diperolehnya dari suatu kegiatan yang disebut belajar.

E. Analisis Materi Pelajaran Angiospermae Di SMA

Angiospermae (bahasa Yunani, angieo=‘botol’, sperma = ‘biji’). Berbeda dengan Gymnospermae, tumbuhan anggota Angiospermae mempunyai biji yang dilindungi oleh bakal buah. Anggotanya dapat berupa tumbuhan berkayu atau berbatang basah (herba), mempunyai bentuk dan susunan bunga bermacam-macam.

(13)

Mikrosporangia terdapat pada mikrosporofil yang disebut benang sari (Widayati, 2010).

Angiospermae adalah tumbuhan berpembuluh berbiji dan satu-satunya tumbuhan yang membentuk bunga dan biji. Namanya mengarah pada ovarium, suatu ruangyang membungkus satu atau lebih ovula penghasil sel telur. Setelah pembuahan, ovula dewasa menjadi biji dan ovarium menjadi buah (Starr et al, 2012). Daur hidup Angiospermae, tumbuhan berbunga mirip dengan daur hidup gymnospermae. Walau terdapat perbedaan-perbedaan kecil secara terperinci pada banyak spesies Angiospermae, ciri-ciri utama dijumpai secara umum (Kimball et al,1989).

Angiospermae umumnya dikenal sebagai tumbuhan berbunga, Angiospermae adalah tumbuhan berbiji yang menghasilkan struktur-struktur reproduksi yang disebut bunga dan buah. Angiospermae berasal dari bahasa Yunani yaitu angion yang artinya wadah. Angiospermae saat ini merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling tersebar luas, dengan lebih dari 250.000 spesies (sekitar 90% semua spesies tumbuhan). Angiospermae memiliki ciri antara lain: Memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah, mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba dan dalam reproduksi terjadi pembuahan ganda (Campbell, 2008).

Tubuh Angiospermae memiliki bentuk dan ukuran yang bervarisi. Tubuhnya terdiri dari atas bagian akar, batang, daun, dan bunga. Akar Angiospermae berbentuk serabut atau tunggan. Batagnya ada yang berkambium atau tidak berkambium. Serta memiliki pembuluh xylem yang diperkuat oleh serat didnding sel yang tebal dan berlignin. Daun Angiospermae memiliki tipe tulang daun yang bervariasi, lurus, menyirip, dan menjari. Bunga sebagai alat reproduksi generatif tumbuh dari tunas yang mampat dengan empat lingkaran daun yang termodifikasi menjadi kelopak (sepal) yang pada umumnya berwarna hijau, mahkota (petal) yang pada umumnya berwarna cerah, benang sari (stamen), dan putik (karpel) (Irnaningtyas, 2013).

Tumbuhan berbunga yang kita lihat sehari-hari merupakan generasi sporofit (2n) yang dominan. Angiospermae bersifat heterospora. Bunga sporofit akan menghasilkan megaspora dan mikrospora. Siklus hidup tumbuhan angiospermae adalah sebagai berikut:

1) Bunga pada sporofit (2n) memiliki kepala sari yang di dalamnya terdapat sel induk mikrospora (2n).

(14)

2) Sel induk mikrospora (2n) mengalami pembelahan secara meiosis menghasilkan mikrospora yang haploid (n).

3) Mikrospora (n) mengalami pembelahan mitosis menghasilkan gametofit jantan berupa butir serbuk sari yang hapolid (n)

4) Pada bakal biji terdapat sel induk megaspora (2n). Sel induk megaspora membelah secara meiosis menghasilkan empat sel megaspora (n). Namun, hanya satu megaspora yang hidup, sedangkan tiga lainnya mengalami degrenasi (mati).

5) Megaspora yang hidup akan membentuk gametofit betina (sel kandung lembaga atau kantong embrio). Inti kandung lembaga membelah secara mitosis tiga kali berturut-turut. Pembelahan inti tersebut tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma; disebut kariokinesis. Dari kariokonesis dihasilkan 8 inti (nukleus) yang akan tumbuh menjadi satu ovum (n), dua sinergid (n), tiga antipoda (n), dua inti polar yang bersatu disebut inti kandung lembaga sekunder (2n) (Gambar 2).

6) Bila terjadi penyerbukan, serbuk sari (n) akan berkecambah membentuk buluh (tabung) serbuk sari yang nantinya akan mengalami kariokinesis dan menghasilkan dua inti, yaitu satu inti vegetatif (n) satu inti generatif (n) . Inti generatif (n) membelah lagi secara kariokinesis sehingga menghasilkan dua inti, yaitu satu inti sperma I (n) dan satu inti sperma II (n).

7) Setelah buluh serbuk sampai di mikrofil, inti vegetatif mengalami degenerasi. Inti sperma I (n) membuahi ovum (n) dan menghasilkan zigot (n). Inti sperma II membuahi inti kandung lembaga sekunder (2n) dan menghasilkan endosperma (3n). Pembuahan (fertilisasi) pada Angiospermae disebut pembuahan ganda.

8) Zigot (2n) akan tumbuh menjadi embrio (2n). Endosperma (3n) berfungsi sebagai cadangan makanan bagi embrio. Struktur yang meliputi embrio, endosperma, dan selaput biji disebut biji. Ketika bakal biji tumbuh menjadi biji, ovarium akan berkembang menjadi buah yang melindungi biji dan membantu pemencarannya, bila biji tumbuh di tempat yang cocok, biji akan tumbuh menjadi tumbuhan saprofit yang baru (Irnaningtyas, 2013).

Spesies pada Angiospermae terdapat dua yaitu yang memiliki satu kotiledon disebut monokotiledon, sedangkan untuk yang memiliki dua kotiledon disebut dikotil.

Ciri-ciri lain, seperti bunga dan struktur daun, juga digunakan untuk mendefinisikan kedua kelompok tersebut. Monokotil biasanya memiliki vena daun sejajar, sedangkan pada dikotil memiliki pola seperti jaring. Beberapa contoh monokotil adalah anggrek,

(15)

palem, dan tanaman padi, sedangkan contoh dikotil yaitu mawar dan mangga (Campbell, 2008).

Tumbuhan berbiji tertutup dikenal denga istilah Angiospermae yakni terdiri dari Monocotyledonae (berkeping satu) dan Dycotiledonae (berkeping dua). Terdapat beragam macam spesies pada masing-masing kelas tersebut. Kedua golongan tumbuhan ini selain jumlah bijinya dapat pula dibedakan dari organ tubuh lainnya.

Seperti dari daunnya, akar, batang, bunga, dan buahnya. dimana dapat dijabarkan pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Klasifikasi Angiospermae

Klasifikasi Angiospermae

Monocotyledonae Dycotiledonae

Ciri utama tumbuhan monokotil adalah akar berbentuk serabut, batang beruas- ruas, tidak berkambium, pertulangan daun sejajar atau melengkung, bagian- bagian bunga berjumlah tiga atau kelipatannya, memiliki satu kotiledon/keping lembaga.

Mencakup semua tumbuhan berbunga yang memiliki 2 kotiledon (berkeping biji dua). Daun dengan pertulangan menjari atau menyirip. Batangnya berkambium, oleh karena itu mengalami pertumbuhan sekunder.

Pembuluh xilem dan floem tersusun melingkar (konsentris). Akar berupa akar tunggang ujung akar lembaga tidak dilindungi selaput pelindung.

Jumlah bagian-bagian bunga berkelipatan 4 atau 5.

Tumbuhan Angiospermae dalam kedua kelompok tersebut terbagi lagi kedalam beberapa family yang banyak dan memiliki manfaat yang berbeda dari setiap tumbuhannya. Tumbuhan Angiospermae dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan manusia, antara lain sebagai makanan pokok (padi, jagung, ubi jalar, singkong), bahan obat-obatan (kina, jahe, kunyit, sambiloto, adas) dan sayuran (bayam, katuk, labu siam, kacang panjang). Ada juga tumbuhan Angiospermae yang merugikan misalnya rumput yang tumbuh liar dapat mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya pertanian.

Dapat diketahui bahwa tumbuhan Angiospermae memiliki peranan yang besar dibidang pangan. Pemanfaatan tumbuhan Angiospermae tersebut sangat dapat dimaksimalkan oleh peserta didik selain dalam hal memahami keanekaragaman tumbuhan, juga dapat dijadikan sarana berfikir kreatif siswa dalam materi

(16)

pembelajaran Plantae. Dampaknya dapat memunculkan ide-ide kreatif siswa yang dapat mengahsilkan seuatu produk yang kreatif dan inovatif dan dapat bernilai jual tingggi. Serta dapat diintegrasikan antara materi pembelajaran dengan implementasi pembelajaran bioenterpreneurship dengan adanya kreativitas siswa.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut peneliti terdahulu(6,a.9I, yang menyatakan bahwa semakin lama waktu penuaan dengan pengerjaan dingin akan terjadi peningkatan kerapatan dislokasi da.Iam

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh keahlian, independensi, kecakapan profesional dan tingkat pendidikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan serta pengaruh

Indah Permata Sari (2019): PeranSupervisiKepala Madrasah dalam PeningkatanMutuPendidikan di Madrasah AliyahMuhammadiyahPekanbaru. Tujuandaripenelitianini adalah untuk

Disamping itu dengan menerapkan pasal ini maka seseorang dapat mengajukan penghapusan data dan informasi yang terkait dengan kasus korupsi yang terjadi pada masa lalu yang sudah

Penelitian pertama merupakan penelitian daya antiinflamasi dengan menggunakan karagenin sebagai penginduksi edema pada telapak kaki mencit dan diklofenak 4,48 mg/kg BB sebagai

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Trichoderma isolat bawang efektif dalam mengendalikan penyakit akar gada dan meningkatkan hasil tanaman caisin, dengan menekan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan telah ditemukan bahwa golongan jasa aeronautika tidak dimasukkan kedalam objek Pajak Penghasilan Pasal 23 atas jasa penunjang di bidang

Slide 7-3 Kecurangan Pengendalian internal Prinsip-prinsip aktivitas pengendalian internal Keterbatasan Setara kas Kas yang penggunaannya dibatasi Saldo kompensasi Membuat