• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEUNTUNGAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG WARALABA DAN NON WARALABA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KEUNTUNGAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG WARALABA DAN NON WARALABA"

Copied!
202
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEUNTUNGAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG

WARALABA DAN NON WARALABA (Kasus: Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC)

Taman Topi dan Rahat Cafe di Bogor)

SKRIPSI

BESTARI DEWI NOVIATNI H34076034

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

▸ Baca selengkapnya: pak andi selalu memisahkan antara keuntungan usaha ritel

(2)

RINGKASAN

BESTARI DEWI NOVIATNI. Analisis Keuntungan dan Strategi Pengembangan Usaha Ayam Goreng Waralaba dan Non Waralaba (Kasus:

Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) Taman Topi dan Rahat Cafe di Bogor). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan MUHAMMAD FIRDAUS).

Keberhasilan dari suatu usaha makanan didukung oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah kemampuan manajemen keuangan. Hal ini untuk mengetahui apakah dana yang digunakan dalam perusahaan dapat dikatakan efisien atau tidak, maka diperlukan suatu analisis keuangan. Dalam mengadakan suatu analisis keuangan, kita dapat mengetahui keadaan dan perkembangan finansial dari perusahaan tersebut. Perbandingan antara waralaba dan non waralaba dari usaha restoran dan cafe tersebut akan menyebabkan perbedaan struktur biaya dan keuntungan usaha. Apabila dilihat dari segi pengembangan usaha, banyak restoran waralaba asing dan cafe-cafe lain yang menawarkan berbagai keunggulan produknya yang menyebabkan konsumen mempunyai banyak pilihan tempat makan. Hal ini menunjukkan tingkat persaingan yang semakin ketat seiring dengan perkembangan restoran dan cafe yang cukup pesat.

Untuk menghadapi persaingan, restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe memerlukan strategi pengembangan usaha yang tepat bagi kemajuan usahanya.

Pengembangan usaha tersebut melihat sejauh mana faktor internal dan eksternal seperti mengetahui kekuatan, peluang, dan cara untuk menghindari ancaman serta menutupi kelemahan yang ada.

Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah (1) membandingkan keuntungan antara restoran ayam goreng KFC Taman Topi dan Rahat cafe, (2) menganalisis kondisi lingkungan internal dan eksternal yang dihadapi oleh KFC Taman Topi dan Rahat cafe, dan (3) merumuskan alternatif strategi pengembangan usaha terbaik dengan memperhatikan lingkungan perusahaan di KFC Taman Topi dan Rahat cafe.

Penelitian dilaksanakan di kedua tempat usaha di kota Bogor, yaitu KFC Taman Topi dan Rahat cafe. Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2009. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menghitung keuntungan usaha dengan menghitung EBIT, EBT, EAT, rasio profitabilitas, rentabilitas, matriks IFE dan EFE, analisis IE, analisis SWOT serta QSPM. Rasio profitabilitas dan rentabilitas pada KFC Taman Topi dan Rahat cafe, menghasilkan marjin laba bersih yang hampir sama sebesar 9 dan 8 persen, artinya bahwa manajemen restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe mampu bekerja secara efisien dalam kegiatan produksi dan penjualan sehingga terjadi peningkatan omset tiap harinya. Rasio rentabilitas, ditunjukkan oleh nilai ROE sebesar 27 dan 85 persen yaitu menunjukkan rasio yang baik, artinya terjadi peningkatan modal sendiri satu persen akan meningkatkan EAT sebesar 27 dan 85 persen. Pada Rahat cafe sebagai non waralaba, nilai ROE lebih tinggi dibandingkan dengan restoran KFC Taman Topi karena Rahat cafe merupakan

(3)

perusahaan kecil atau termasuk home industry yang pengeluaran untuk biaya operasionalnya kecil walaupun modal yang dikeluarkan restoran KFC Taman Topi sebagai waralaba lebih besar.

Analisis lingkungan internal dengan matriks IFE dapat dilihat bahwa restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe memiliki posisi internal yang kuat karena telah mampu menggunakan kekuatan dan mengatasi kelemahan dengan sangat baik. Analisis lingkungan eksternal dengan matriks EFE dapat dilihat bahwa restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe memiliki posisi eksternal yang kuat karena telah mampu memanfaatkan peluang untuk mengatasi ancaman. Total bobot skor pada matriks IFE sebesar 3.538 dan matriks EFE sebesar 3.437.

Gambaran posisi matriks IE restoran KFC Taman Topi saat ini menempati posisi sel I. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berada pada posisi Grow and Build (tumbuh dan berkembang). Strategi yang tepat digunakan dalam kuadran ini adalah strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk). Total bobot skor pada matriks IFE Rahat cafe sebesar 2.604 dan matriks EFE sebesar 2.812. Rahat cafe menempati posisi dalam sel V. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berada pada posisi Hold and Maintain (pertahankan dan pelihara). Strategi yang tepat digunakan dalam kuadran ini adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Strategi terbaik yang harus dilakukan restoran KFC Taman Topi adalah salah satu strategi S-O yaitu meningkatkan pengembangan produk melalui penganekaragaman rasa dan strategi terbaik yang harus dilakukan Rahat cafe adalah strategi S-T yaitu meningkatkan loyalitas konsumen dan menjaga hubungan baik dengan pemasok.

(4)

ANALISIS KEUNTUNGAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG

WARALABA DAN NON WARALABA (Kasus: Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC)

Taman Topi dan Rahat Cafe di Bogor)

BESTARI DEWI NOVIATNI H34076034

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(5)

Judul Skripsi : Analisis Keuntungan dan Strategi Pengembangan Usaha Ayam Goreng Waralaba dan Non Waralaba (Kasus: Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) Taman Topi dan Rahat Cafe di Bogor)

Nama : Bestari Dewi Noviatni

NIM : H34076034

Disetujui, Pembimbing

Muhammad Firdaus, Ph.D NIP. 1973105199702 1 001

Diketahui

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908198403 1 002

Tanggal Lulus:

(6)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Keuntungan dan Strategi Pengembangan Usaha Ayam Goreng Waralaba dan Non Waralaba (Kasus: Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) Taman Topi dan Rahat Cafe di Bogor)“ adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2010

Bestari Dewi Noviatni H34076034

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Bestari Dewi Noviatni, dilahirkan pada tanggal 5 November 1985 di Serang, Banten. Penulis adalah putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak W. Sunaryo, S.Pd dan Ibu Yeti Mu’jizati. Pendidikan yang ditempuh penulis adalah mulai dari Taman kanak-kanak (TK) Artha Kencana Serang, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Serang pada tahun 1992-1998, kemudian Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Cipocok Jaya Serang pada tahun 1998-2001 dan Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 1 Serang pada tahun 2001-2004.

Pada tahun 2004, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Diploma III Agribisnis Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan selesai pada tahun 2007, kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan kuliahnya pada Program Sarjana Ekstensi Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB).

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Keuntungan dan Strategi Pengembangan Usaha Ayam Goreng Waralaba dan Non Waralaba (Kasus: Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) Taman Topi dan Rahat Cafe di Bogor)”.

Skripsi ini disusun sebagai syarat mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi (SE) pada Program Sarjana Agribisnis di Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB).

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang bermakna bagi pengembangan wawasan para pembaca, khususnya mahasiswa dan masyarakat umumnya.

Bogor, Februari 2010

Bestari Dewi Noviatni

(9)

UCAPAN TERIMAKASIH

Penyelesaian skripsi ini penulis telah dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Muhammad Firdaus, Ph.D, selaku dosen pembimbing skripsi atas kesabaran dan kesungguhannya yang telah banyak memberikan masukan, saran dan kritikan pada penulis selama proses penulisan proposal, penelitian, dan penulisan skripsi.

2. Papa dan mamaku tersayang atas segala dukungan, kasih sayang dan doa yang selalu diberikan kepada penulis dengan tulus serta penuh kesabaran. Kakak dan adikku tersayang yaitu Teh Dewi dan Mayang yang selalu memberikan dukungan, doa, dan canda tawanya.

3. Ir.Popong Nurhayati, MM, selaku dosen evaluator dalam kolokium yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

4. Ir. Narni Farmayanti, M.Sc, selaku dosen penguji dari Komisi Pendidikan.

5. Dr.Ir. Suharno, M.Adev, selaku dosen penguji pada ujian sidang yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

6. Bapak Tomy Yuliawan, selaku Manajer Restoran KFC Taman Topi yang telah banyak membantu penulis pada saat turun lapang penelitian. Terimakasih atas kerjasama dan semangat yang diberikan kepada penulis.

7. Bapak Maman, selaku Head Marketing Executive Public Relation PT.

Fastfood Indonesia, Tbk yang telah memberikan pengetahuan untuk menyelesaikan skripsi ini.

8. Bapak Rahmat Herman, selaku Facility Support Manager yang telah memberikan bantuan data dari PT. Fastfood Indonesia, Tbk dalam penyusunan skripsi ini.

9. Bapak Dedi Suwardi, selaku Manajer Rahat Cafe yang telah banyak membantu penulis pada saat turun lapang penelitian. Terimakasih atas kerjasama, semangat, dan doa yang diberikan kepada penulis.

(10)

10. Seseorang “Andi” yang telah menjadi inspirasi dan selalu memberi dukungan, semangat, doa serta kasih sayangnya kepada penulis.

11. Sahabat-sahabatku tercinta: Ivo, Lia, Ismi, Netti, dan Kiki yang selalu memberi masukan dan saran, serta keceriaan dan kebersamaan yang telah kita lewati bersama.

12. Teman-teman AGB’3, terimakasih atas kebersamaan dan kekompakan yang telah terjalin selama ini.

13. Anak-anak kost-an Taman Malabar I (TM I) yang selalu membawa kenyamanan disaat belajar.

14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu terselesaikannya skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas semua amal kebaikan kalian. Amin..

Bogor, Februari 2010

Bestari Dewi Noviatni

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

DAFTAR LAMPIRAN ... iii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan ... 7

1.4 Manfaat ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Definisi Restoran dan Cafe ... 8

2.2 Definisi Waralaba ... 9

2.3 Teori Biaya ... 9

2.4 Laporan Rugi Laba ... 10

2.5 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 11

III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 16

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 16

3.1.1 Konsep Laporan Keuangan ... 16

3.1.2 Pengertian Strategi ... 17

3.1.3 Manajemen Strategis ... 17

3.1.4 Visi, Misi, dan Falsafah ... 17

3.1.5 Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal ... 18

3.1.6 Analisis Pilihan Strategi ... ... 18

3.1.7 Sasaran Jangka Panjang ... 19

3.1.8 Strategi Fungsional ... 19

3.1.9 Program, Pelaksanaan, Pengendalian, dan Evaluasi ... 20

3.2 Lingkungan Bisnis ... 21

3.2.1 Lingkungan Internal ... 21

3.2.2 Lingkungan Eksternal ... 26

3.3 Kerangka Pemikiran Operasional ... 32

IV. METODE PENELITIAN ... 36

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 36

4.2 Jenis dan Sumber Data ... 36

4.3 Metode Pengumpulan Data ... 36

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 37

4.4.1 Analisis Struktur Biaya ... 37

4.4.2 Analisis Keuntungan EBIT, EBT, dan EAT ... 39

4.4.3 Analisis Rasio Profitabilitas ... 39

4.4.4 Analisis Rasio Rentabilitas ... 40

4.4.5 Analisis Deskriptif ... 40

4.4.6 Analisis Tiga Tahap Formulasi Strategi ... 41

(12)

4.4.6.1 Tahap Masukan (Input) ... 41

4.4.6.2 Tahap Pencocokan ... 44

4.4.6.3 Tahap Keputusan ... 47

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 49

5.1 Analisis Keuntungan pada Restoran KFC Taman Topi Bogor ... 49

5.1.1 Analisis Struktur Biaya ... 51

5.1.2 Analisis Keuntungan ... 51

5.2 Analisis Keuntungan pada Rahat Cafe Bogor ... 54

5.2.1 Analisis Struktur Biaya ... 56

5.2.2 Analisis Keuntungan ... 57

5.3 Lingkungan Bisnis ... 60

5.3.1 Analisis Lingkungan Internal Restoran KFC Taman Topi di Bogor ... 60

5.3.2 Analisis Lingkungan Eksternal Restoran KFC Taman Topi di Bogor ... 78

5.3.2.1 Lingkungan Jauh ... 78

5.3.2.2 Lingkungan Industri ... 82

5.3.3 Formulasi Alternatif Strategi Pemasaran ... 85

5.3.3.1 Tahap Masukan ... 85

5.3.3.2 Tahap Pencocokan ... 88

5.3.3.3 Tahap Keputusan ... 93

5.4 Analisis Lingkungan Internal Rahat Cafe di Bogor ... 95

5.5 Analisis Lingkungan Eksternal Rahat Cafe di Bogor ... 104

5.5.1 Lingkungan Jauh ... 105

5.5.2 Lingkungan Industri ... 106

5.6 Formulasi Alternatif Strategi Pemasaran ... 108

5.6.1 Tahap Masukan ... 108

5.6.2 Tahap Pencocokan ... 111

5.6.3 Tahap Keputusan ... 116

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 118

6.1 Kesimpulan ... 118

6.2 Saran ... 118

DAFTAR PUSTAKA ... 120

LAMPIRAN ... 122

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Perkembangan Jumlah Restoran di Kota Bogor Tahun

2000 - 2008 ... 1

2. Perkembangan Restoran dan Rumah Makan di Kota Bogor Berdasarkan Jenis Hidangan yang Disajikan pada Tahun 2005 – 2008 ... 3

3. Metode Analisis Data Berdasarkan Tujuan Penelitian ... 37

4. Struktur Biaya pada Restoran KFC Taman Topi dan Rahat Cafe ... 38

5. Data Keuntungan pada Restoran KFC Taman Topi dan Rahat Cafe ... 40

6. Penilaian Bobot Faktor Internal Perusahaan ... 42

7. Penilaian Bobot Faktor Eksternal Perusahaan... 42

8. Matriks IFE ... 43

9. Matriks EFE ... 44

10. Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM) ... 48

11. Keuntungan Restoran KFC Taman Topi Periode November 2008 – Oktober 2009 ... 50

12. Rasio Profitabilitas dan Rentabilitas pada Restoran KFC Taman Topi Periode November 2008 – Oktober 2009 ... 50

13. Struktur Biaya Pada Restoran KFC Taman Topi Periode November 2008 – Oktober 2009 ... 52

14. Jenis-jenis Investasi dan Penyusutan dalam Analisis Keuntungan Restoran KFC Taman Topi Bogor ... 52

15. Analisis Keuntungan pada Restoran KFC Taman Topi Periode November 2008 – Oktober 2009 ... 53

16. Keuntungan Rahat Cafe Periode Desember 2008 – Desember 2009 ... 54

17. Rasio Profitabilitas dan Rentabilitas pada Rahat Cafe Periode Desember 2008 – Desember 2009 ... 55

(14)

18. Struktur Biaya Pada Rahat Cafe Periode Desember 2008 –

Desember 2009 ... 56

19. Jenis-jenis Investasi dan Penyusutan dalam Analisis Keuntungan Rahat Cafe ... 57

20. Analisis Keuntungan pada Rahat Cafe Bogor Periode Desember 2008 – Desember 2009 ... 58

21. Daftar Menu KFC Taman Topi ... 70

22. Bentuk Strategi Menu Goceng KFC Taman Topi ... 73

23. Analisis Faktor Internal KFC Taman Topi Bogor ... 77

24. Perkembangan dan Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita Kota Bogor Atas Dasar Harga Konstan Tahun (2003-2006) .... 80

25. Analisis Faktor Eksternal KFC Taman Topi Bogor ... 85

26. Hasil Analisis Matriks IFE Restoran KFC Taman Topi ... 86

27. Hasil Analisis Matriks EFE Restoran KFC Taman Topi ... 87

28. Hasil Analisis Matriks SWOT Restoran KFC Taman Topi ... 93

29. Jumlah Karyawan Rahat Cafe Berdasarkan Jabatan Fungsional Tahun 2009 ... 98

30. Analisis Faktor Internal Rahat Cafe ... 104

31. Analisis Faktor Eksternal Rahat Cafe ... 107

32. Hasil Analisis Matriks IFE Rahat Cafe ... 109

33. Hasil Analisis Matriks EFE Rahat Cafe ... 110

34. Hasil Analisis Matriks SWOT Rahat Cafe ... 115

(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ... 35

2. Model Matriks IE (Internal-External Matrix) ... 45

3. Matriks SWOT ... 47

4. Struktur Organisasi Restoran KFC Taman Topi ... 64

5. Hasil Analisis Matriks IE Restoran KFC Taman Topi ... 89

6. Hasil Analisis Matriks IE Rahat Cafe ... 112

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Kuesioner Penelitian untuk Struktur Biaya dan Tingkat

Keuntungan pada Restoran KFC Taman Topi Bogor ... 123 2. Kuesioner Penelitian untuk Struktur Biaya dan Tingkat

Keuntungan pada Rahat Cafe Bogor ... 131 3. Penilaian Responden Terhadap Faktor Internal Restoran

KFC Taman Topi di Bogor ... 136 4. Penilaian Responden Terhadap Faktor Eksternal Restoran

KFC Taman Topi di Bogor... 138 5. Nilai Bobot dan Rating Faktor Strategis Internal pada

Restoran KFC Taman Topi di Bogor ... 139 6. Nilai Bobot dan Rating Faktor Strategis Eksternal pada

Restoran KFC Taman Topi di Bogor ... 140 7. Tabulasi Jawaban untuk Prioritas Strategi pada Restoran

KFC Taman Topi ... 141 8. Hasil Matriks QSPM Restoran KFC Taman Topi ... 143 9. Kuesioner Penelitian untuk Penilaian Bobot dan Rating

Faktor Strategis Internal dan Eksternal Restoran KFC

Taman Topi ... 145 10. Kuesioner Penelitian untuk Penilaian Attractiveness Score

(AS) Alternatif Strategi Pengembangan Restoran KFC

Taman Topi ... 160

11. Daftar Menu Rahat Cafe ... 163 12. Penilaian Responden Terhadap Faktor Internal Rahat

Cafe di Bogor ... 165

13. Penilaian Responden Terhadap Faktor Eksternal Rahat

Cafe di Bogor... 166 14. Nilai Bobot dan Rating Faktor Strategis Internal pada

Rahat Cafe di Bogor ... 167 15. Nilai Bobot dan Rating Faktor Strategis Eksternal pada

Rahat Cafe di Bogor ... 168

(17)

16. Hasil Matriks QSPM Rahat Cafe ... 169 17. Kuesioner Penelitian untuk Penilaian Bobot dan Rating

Faktor Strategis Internal dan Eksternal Rahat Cafe ... 171 18. Kuesioner Penelitian untuk Penilaian Attractiveness Score (AS) Alternatif Strategi Pengembangan Rahat Cafe... 185 19. Suasana Restoran KFC Taman Topi di Bogor ... 188 20. Suasana Rahat Cafe di Bogor ... 189

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang terdiri dari beragam suku dan adat istiadat serta norma-norma yang dianut. Keragaman suku yang ada di Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda serta kekayaan yang tak ternilai harganya. Perbedaan budaya dan adat istiadat serta norma menjadikan Indonesia sebagai negara dengan khasanah budaya yang unik dan kompleks bila dibandingkan dengan negara lain. Setiap suku yang ada di Indonesia memiliki perbedaan pola hidup termasuk jenis makanan yang dikonsumsi.

Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang dan papan. Manusia harus memenuhi kebutuhan ini untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan demikian, makanan merupakan kebutuhan manusia yang tidak bisa ditunda-tunda dalam pemenuhannya. Salah satu tempat dimana manusia dapat memperoleh pemenuhan kebutuhannya akan makanan adalah restoran. Suatu restoran bisa saja menyediakan layanan dan fasilitas lain selain makanan, seperti sajian kenyamanan tempat makan, musik, dan penampilan. Namun, tetap fungsi utamanya adalah sebagai tempat makan.

Berdasarkan data statistik Dinas Pariwisata Kota Bogor, pertumbuhan jumlah restoran pada tahun 2000 – 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Jumlah Restoran di Kota Bogor Tahun 2000-2008

Tahun Jumlah Pertumbuhan (%)

2000 105 -

2001 107 1,90

2002 161 50,46

2003 178 10,56

2004 192 7,87

2005 222 15,63

2006 248 11,71

2007 268 8,06

2008 211 -21,27

Sumber: Buku Pariwisata Kota Bogor, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, 2008

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa jumlah restoran di kota Bogor setiap tahunnya mengalami peningkatan. Namun pada tahun 2008 jumlah restoran di

(19)

kota Bogor mengalami penurunan karena ada sebagian restoran yang mengalami kebangkrutan. Hal ini bisa dilihat bahwa restoran yang tidak dapat bersaing akan mudah mengelami kebangkrutan.

Saat ini bermunculan berbagai jenis dan sistem pengelolaan restoran.

Salah satunya yang saat ini sedang populer di Indonesia adalah waralaba.

Waralaba adalah sistem pemberian lisensi oleh seseorang (pemberi waralaba) kepada pihak lain (penerima waralaba). Menurut Peraturan Pemerintah No.

16/1997 dan Keputusan Mentri Perindustrian dan Perdagangan No.

259/MPP/Kep/7/1997, waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak memberikan hak untuk memanfaatkan dan menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Usaha restoran waralaba asing di Indonesia seperti Kentucky Fried Chicken (KFC) dan pesaingnya yaitu Mc Donald’s, Texas serta California Fried Chicken (CFC) banyak diminati masyarakat karena penyajiannya yang praktis.

Restoran KFC ini sendiri merupakan salah satu perusahaan yang sudah go public atau Tbk (terbuka) yang bergerak di bidang restoran cepat saji yang menyajikan produk ayam dan berbagai produk lain yang berkaitan dengan produk ayam.

Menu utama dari KFC ini adalah fried chicken atau ayam goreng yang merupakan produk cepat saji yang sampai saat ini terkenal di masyarakat karena mempunyai daya tarik tersendiri dan memiliki cita rasa yang berbeda dari produk cepat saji lain, sehingga KFC hampir tidak pernah sepi pengunjung.

Restoran waralaba asing di Indonesia memang banyak. Namun, suatu tempat makan yang menjual hidangan dengan menu Indonesia seperti cafe juga banyak dan semakin berkembang serta terjaga eksistensinya di kota Bogor.

Berkembangnya jenis restoran di kota Bogor merupakan reaksi dari beragamnya jenis makanan. Adapun perkembangan restoran dan rumah makan berdasarkan jenis-jenis makanan yang beragam dapat dilihat pada Tabel 2.

(20)

Tabel 2. Perkembangan Restoran dan Rumah Makan di Kota Bogor Berdasarkan Jenis Hidangan yang Disajikan Pada Tahun 2005- 2008

Jumlah (Unit) Jenis Hidangan

2005 2006 2007 2008

Indonesia 45 48 51 54

Daerah 38 39 41 43

Internasional 37 38 40 41

Oriental 35 36 40 47

Kontinental 40 43 45 50

Jumlah 195 204 217 235 Sumber: Dinas Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor, 2008

Berdasarkan Tabel 2, perkembangan restoran dengan jenis hidangan menu Indonesia pada tahun 2008 mengalami peningkatan, berarti restoran atau rumah makan Indonesia paling digemari masyarakat di kota Bogor. Rahat cafe merupakan salah satu cafe yang menghidangkan menu Indonesia dengan percampuran hidangan sehat. Salah satu produk unggulan yang ditawarkan disini adalah nasi ayam bakar jumbo yang memiliki rasa yang enak dengan potongan ayam bakar dengan ukuran besar. Rahat cafe bukan merupakan waralaba meskipun cafe ini lokal dari Indonesia karena cafe ini tidak memiliki cabang di kota Bogor maupun kota lain, sehingga merupakan usaha sendiri dan tidak menanam waralaba lokal seperti Ayam Bakar Wong Solo maupun Ayam Goreng Fatmawati. Rahat cafe bersaing dengan cafe-cafe lain di kota Bogor seperti salah satunya Kebun Kita dan Warung-warung tenda pecel lele yang letaknya tidak berjauhan yang juga menawarkan ciri khas makanan Indonesia.

Keberhasilan dari suatu usaha makanan didukung oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah kemampuan manajemen keuangan. Fungsi penggunaan dana harus dilakukan secara efisien. Hal ini berarti bahwa setiap rupiah yang tertanam dalam aktiva harus dapat digunakan seefisien mungkin untuk dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal. untuk mengetahui apakah dana yang digunakan dalam perusahaan dapat dikatakan efisien atau tidak, maka diperlukan suatu analisis keuangan. Dalam mengadakan suatu analisis keuangan, kita dapat mengetahui keadaan dan perkembangan finansial dari perusahaan tersebut. Laporan analisis keuangan sangat penting karena akan dapat diketahui hasil-hasil finansial yang telah dicapai di waktu-waktu yang telah lalu dan yang

(21)

sedang berjalan. Perbandingan antara waralaba dan bukan waralaba dari usaha restoran dan cafe tersebut akan meyebabkan perbedaan struktur biaya dan keuntungan usaha. Apabila dilihat dari segi pengembangan usaha, banyak restoran waralaba asing dan cafe-cafe lain yang menawarkan berbagai keunggulan produknya yang menyebabkan konsumen mempunyai banyak pilihan tempat makan. Hal ini menunjukkan tingkat persaingan yang semakin ketat seiring dengan perkembangan restoran dan cafe yang cukup pesat. Untuk menghadapi persaingan, restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe memerlukan strategi pengembangan usaha yang tepat bagi kemajuan usahanya. Restoran KFC Taman Topi memiliki prospek yang baik karena dengan waralabanya, KFC memiliki banyak cabang usaha di setiap kota, sedangkan Rahat cafe sebagai usaha berskala menengah memegang peranan penting dalam menyerap tenaga kerja, namun belum memiliki cabang usaha.

Kedua usaha tersebut membutuhkan strategi pengembangan usaha di dalamnya, tetapi terlebih dahulu usaha tersebut melihat sejauh mana faktor internal dan eksternal seperti mengetahui kekuatan, peluang, dan cara untuk menghindari ancaman serta menutupi kelemahan yang ada. Dalam memulai atau mengembangkan suatu bisnis diperlukan pemahaman terhadap bisnis dan lingkungan yang mempengaruhinya terkait dengan potensi laba dan cara mendapatkannya (David, 2002). Lingkungan bisnis dalam mengembangkan usaha terdapat ancaman dan peluang. Ancaman yang perlu dihadapi, yaitu dengan cara memonitor dan beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah terus menerus.

Sedangkan peluang, yaitu kenali trend (arah/urutan kejadian yang memiliki momentum) dan perubahan besar yang berlangsung lama.

1.2 Perumusan Masalah

Tingkat persaingan tinggi dalam bisnis restoran di kota Bogor yang ditandai dengan makin bertambahnya jumlah restoran tiap tahunnya, seperti halnya restoran ayam goreng yang termasuk waralaba asing yaitu KFC, Texas, Mc Donal’s, maupun CFC sudah semakin maju dalam hal manajemen usahanya sehingga membuat restoran KFC Taman Topi harus mampu untuk meningkatkan mutu dan pelayanannya agar dapat meraih pangsa pasar industri restoran di kota

(22)

Bogor. Namun, untuk saat ini KFC tidak melakukan kerjasama dalam bentuk sub- waralaba untuk merek KFC, kecuali kerjasama dalam bentuk lain yaitu kerjasama sewa lokasi, dan kerjasama investasi (termasuk gedung/bangunan). Biaya waralaba ini meliputi: (1) ongkos awal, dimulai dari 10 juta rupiah hingga satu miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI. (2) ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari lima sampai 15 persen dari penghasilan kotor1.

Usaha restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe merupakan salah satu bentuk usaha waralaba asing yang sudah memiliki nama dengan produk dan jasa yang berkualitas dengan tata kelola yang unik yaitu terpenuhinya pemenuhan atas kebutuhan sumberdaya atau aktivitas perusahaan, diantaranya adanya perluasan usaha melalui pengembangan jumlah gerai sendiri atau melalui waralaba dan bukan waralaba yang memiliki keterbatasan ruang gerak dalam mengembangkan berbagai strategi pemasarannya sendiri sehubungan dengan perjanjian waralaba, diantaranya kesepakatan hubungan kontraktual, hak yang diberikan pemberi waralaba kepada pemilik waralaba untuk menggunakan kekayaan intelektual mencakup desain fitur, program pelatihan, serta hak untuk membuat atau mendistribusikan produk dalam melakukan strategi berbagai pemasaran yang akan dilaksanakan. Hal ini tentunya menarik melihat bagaimana restoran waralaba asing dan bukan waralaba bersaing dengan para pesaingnya di dalam industri restoran dan cafe. Kedua bisnis ini menjual beberapa produk olahan, seperti ayam goreng. Pemilik usaha restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe harus mampu mengelola manajemen usahanya secara efektif dan efisien, baik dari aspek biaya maupun keuntungan. Pada usaha restoran dan cafe dalam mengelola keuangan harus ada perencanaan yang baik agar dapat diketahui seberapa besar biaya dan keuntungan usaha yang dimiliki. Jika hal ini diabaikan, maka pemilik usaha tidak dapat mengevaluasi keadaan dan perkembangan usahanya.

1

http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba#Biaya_waralaba [23 Januari 2010] 15:00

(23)

Semakin banyak restoran waralaba asing maupun cafe, masyarakat dapat memilih tempat yang mereka sukai untuk makan di luar rumah. Hal ini dikarenakan seiring dengan pola hidup masyarakat yang semakin dinamis dan ditandai dengan banyaknya aktivitas di luar rumah memperbesar kemungkinan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan di luar secara cepat dan praktis. Dalam hal ini perlu bagaimana caranya pemilik restoran dan cafe mengembangkan usaha yang sudah mereka jalani agar dapat terus diminati oleh konsumen walaupun banyak pesaing, misalnya dengan menciptakan menu baru ataupun dengan menginovasi menu yang sudah ada. Tentunya dalam pengembangan usaha tersebut, masing-masing restoran maupun cafe dapat mengetahui dan menganalisis lingkungan eksternal karena pada hakikatnya kondisi lingkungan eksternal berada di luar kendali organisasi. Selain kondisi lingkungan eksternal, pemahaman terhadap kondisi lingkungan internal usaha secara luas dan mendalam bersifat konsisten dan realistis sesuai dengan situasi dan kondisinya. Berdasarkan pemahaman lingkungan internal ini, hendaknya kelemahan dan juga kekuatan yang dimiliki setiap usaha dapat diketahui. Selain mengetahui kekuatan dan kelemahan, perlu juga memanfaatkan peluang untuk menghindari ancaman.

Pada dasarnya, kedua usaha tersebut dalam menjalankan usahanya mempunyai strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha di masa datang. Hal ini berguna untuk merumuskan strategi apa yang ada di setiap restoran maupun cafe tersebut dalam menemukan beberapa alternatif strategi yang akan dijalankan.

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Manakah yang lebih menguntungkan antara restoran ayam goreng KFC Taman Topi dan Rahat cafe?

2. Apakah kondisi lingkungan internal dan eksternal yang dihadapi oleh restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe berbeda?

3. Apa saja alternatif strategi pengembangan usaha bagi restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe?

(24)

1.3 Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Membandingkan keuntungan antara restoran ayam goreng KFC Taman Topi dan Rahat cafe.

2. Menganalisis kondisi lingkungan internal dan eksternal yang dihadapi oleh KFC Taman Topi dan Rahat cafe.

3. Merumuskan alternatif strategi pengembangan usaha terbaik dengan memperhatikan lingkungan perusahaan di KFC Taman Topi dan Rahat cafe.

1.4 Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat pada beberapa pihak, diantaranya adalah:

1. Bagi pihak restoran dan cafe, sebagai bahan masukan dalam pengelolaan usaha khususnya dalam menjalankan KFC Taman Topi dan Rahat cafe.

2. Bagi penulis, sebagai sarana penerapan ilmu yang telah diperoleh semasa kuliah.

3. Bagi kalangan umum, sebagai tambahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Restoran dan Cafe

Restoran termasuk dalam industri jasa boga yang merupakan industri yang bergerak dalam pengelolaan makanan siap santap (Fardiaz, 1994). Restoran adalah suatu tempat atau bangunan yang dikelola secara komersil yang menyelenggarakan pelayanan yang baik kepada semua tamunya, baik berupa makanan maupun minuman. Menurut Sugiarto (1999), kebutuhan masyarakat akan jasa boga Restoran berkaitan dengan tiga hal pokok, yaitu:

1. Physical Product, yaitu kebutuhan akan makanan dan minuman.

2. Psychological Product, mencakup sensual benefit (cuci mata dan suasana nyaman), sense of side (kebersihan, kerapihan, dan kesopanan), sense of listening (musik).

3. Customer Service Product, mencakup kecepatan, reservasi dan kemudahan transaksi.

Kafe dari bahasa Perancis yaitu cafe. Arti secara harafiah adalah (minuman) kopi, tetapi kemudian menjadi tempat dimana seseorang bisa minum- minum tidak hanya kopi tetapi juga minuman lainnya. Di Indonesia, kafe berarti semacam tempat sederhana tetapi cukup menarik dimana seseorang bisa makan makanan ringan. Dengan ini kafe berbeda dengan warung. Di sebagian negara- negara Eropa, seperti Austria, Perancis, Denmark, Jerman, Swedia, Portugal, dan lain-lain, istilah kafe menyiratkan terutama yang menyediakan kopi yang biasanya dilengkapi dengan sepotong kue. Banyak (atau sebagian besar) kafe juga melayani makanan kecil seperti sandwich. Kafe di Eropa sering mempunyai bagian luar ruangan tertutup atau memperpanjang ke trotoar. Beberapa kafe juga menyediakan minuman beralkohol. Sedangkan di Amerika Utara, kafe adalah restoran informal dengan layanan penuh meja dan counter serta menu luas perpanjangan masa penawaran selama hari itu1.

(26)

2.2 Definisi Waralaba

Waralaba sebagai suatu bentuk organisasi terus berkembang dan semakin menarik perhatian, karena hal-hal yang ditawarkan oleh bisnis ini menyangkut profesi jasa, pekerjaan, dan peluang profesi mandiri (self-employment opportunities). Waralaba pada dasarnya adalah suatu bentuk bisnis dimana pemberi waralaba dengan sistem bisnis yang telah teruji di pasar dan produk atau jasa sebagai unsur sentralnya melakukan hubungan kontraktual dengan perusahaan-perusahaan kecil yang didanai secara mandiri dan dikelola secara langsung oleh pemiliknya untuk beroperasi di bawah nama (brand) pemberi waralaba, memproduksi, dan memasarkan barang atau jasa menurut format yang ditentukan oleh pemberi waralaba. Jadi, berdasarkan uraian tersebut, pengertian waralaba dapat dirumuskan sebagai bentuk sinergi usaha yang ditawarkan oleh suatu perusahaan yang sudah memiliki kinerja unggul karena didukung oleh sumberdaya berbasis pengetahuan dan orientasi kewirausahaan yang cukup tinggi dengan tata kelola yang baik, dan dapat dimanfaatkan oleh pihak lain dengan melakukan hubungan kontraktual untuk menjalankan bisnis di bawah format bisnisnya dengan imbalan yang disepakati (Rachmadi, 2007).

2.3 Teori Biaya

Biaya dari perusahaan yang kegiatannya memproduksi barang adalah nilai input yang akan digunakan untuk memproduksi outputnya. Sedangkan konsep biaya adalah suatu pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh suatu barang ataupun jasa yang diukur dengan nilai uang, baik itu pengeluaran berupa uang, melalui tukar-menukar ataupun melalui pemberian jasa. Penggolongan biaya pada umumnya ditentukan atas dasar tujuan yang hendak dicapai dari penggolongan biaya tersebut (Lipsey dalam Rahmayanti, 2008).

Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun output berubah, jumlahnya tidak tergantung atas besar kecilnya kuantitas produksi yang dilaksanakan. Misalnya biaya penyusutan investasi, gaji karyawan, abodemen listrik, abodemen telepon, pajak penghasilan, profit sharing, gas elpiji, gas alam, steroform, kantong plastik, kardus/tempat membungkus produk take away, dan lain-lain. Biaya seperti ini seringkali disebut biaya yang tidak dapat dihindari.

(27)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan kuantitas produksi yang dihasilkan. Biaya variabel merupakan biaya yang berkaitan langsung dengan output yang bertambah besar dengan meningkatnya produksi dan berkurang dengan menurunnya produksi. Biaya ini antara lain adalah pembelian bahan baku, sewa tempat, biaya listrik, biaya telepon, biaya air, dan lain-lain.

2.4 Laporan Rugi Laba

Laporan rugi laba menyajikan informasi pendapatan yang diperoleh selama satu periode dengan beban selama satu periode serta selisih lebih (kurang) pendapatan di atas beban yang terjadi. Selisih lebih pendapatan di atas beban yang terjadi disebut dengan laba bersih, dan selisih kurang pendapatan di atas beban yang terjadi disebut rugi bersih (Sulastiningsih, 2003). Laporan rugi laba mengungkapkan keberhasilan atau kegagalan jalannya suatu perusahaan selama satu tahun. Dapat juga dikatakan bahwa laporan ini menjelaskan macam biaya dan pendapatan yang timbul akibat pemakaian bermacam-macam modal termasuk kredit didalam perusahaan selama jangka waktu satu tahun (Kadarsan, 1992).

Laporan rugi laba adalah ringkasan dari semua penerimaan ditambah keuntungan dikurangi semua pengeluaran ditambah kerugian, sama dengan hasil pendapatan bersih perusahaan atau kerugian bersih perusahaan selama suatu jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Laporan rugi laba berguna untuk: (1) untuk menentukan pembayaran pajak; (2) untuk menganalisis kemungkinan perubahan luas usaha; (3) untuk mengevalusi hasil kegiatan operasional perusahaan; (4) untuk mengukur daya bayar utang perusahaan (Kadarsan, 1992).

1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Istimewa%3Apencarian&search=cafe&fulltext=Cari.

[30 Desember 2009] 19:01

(28)

2.5 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Anggraini (2006) meneliti tentang Analisis Pendapatan dan Strategi Pemasaran Usaha Warung Tenda Pecel Lele di Sepanjang Jalan Pajajaran Bogor.

Tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengidentifikasi profil dan karakteristik para pedagang warung tenda pecel lele di Jalan Pajajaran Bogor, menganalisis pendapatan usaha warung tenda pecel lele di Jalan Pajajaran Bogor, dan memformulasi strategi pemasaran yang dilakukan warung tenda pecel lele di Jalan Pajajaran Bogor. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan tabulasi dan deskriftif, analisis biaya, analisis pendapatan usaha, analisis imbangan penerimaan dan biaya, matriks IFE, matriks EFE, matriks internal external, dan matriks SWOT.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa analisis usaha warung tenda pecel lele ini menguntungkan dimana nilai R/C Ratio lebih dari satu. Sumber penerimaan terbesar rata-rata berasal dari penjualan ayam goreng dan ikan lele.

Berdasarkan analisis matriks IE, usaha warung tenda pecel lele menempatkan posisi pada sel V dimana strategi yang dapat digunakan adalah dengan penetrasi pasar dan pengembangan produk. Dari hasil matriks SWOT, didapatkan bahwa strategi S-O yaitu mengembangkan layanan pesan antar, strategi W-O yaitu melakukan promosi yang lebih baik lagi untuk menarik konsumen baru, meningkatkan keahlian para pekerja dalam kegiatan usaha. Strategi S-T yaitu mempertahankan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok untuk menjaga kontinuitas pasokan bahan baku, pinjaman modal kepada pelaku usaha kecil dengan bunga ringan dan menawarkan variasi makanan baru kepada konsumen.

Pembinaan terhadap kemampuan manajerial dari pemerintah merupakan strategi W-T yang cukup efektif untuk diterapkan.

Rahmayanti (2008) meneliti tentang Analisis Struktur Biaya dan Optimalisasi Pola Tanam Sayuran Organik di Permata Hati Organic Farm Cisarua, Bogor. Metode analisis data yang dilakukan meliputi analisis terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan, penerimaan yang diperoleh, pendapatan usahatani dengan menggunakan rasio penerimaan atas biaya (R/C rasio). Sedangkan untuk optimalisasi pola tanam sayuran organik ini dengan menggunakan LP (Linear Programming) serta menggunakan data aktual.

(29)

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa struktur biaya sayuran organik di Permata Hati Organic Farm, penerimaan sangat ditentukan oleh harga dan jumlah produk yang dihasilkan. Penerimaan pada usaha sayuran organik disini diperoleh dari hasil penjualan sayuran organik sebanyak 34 komoditi.

Sedangkan pengeluaran ditentukan oleh biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya variabel yang dikeluarkan untuk pengadaan benih sangat bergantung dari jenis tanamannya. Banyaknya pupuk kandang yang digunakan dalam proses produksi sayuran organik untuk semua komoditi ini sama yaitu 10 kg untuk satu bed per musim tanam. Sedangkan tenaga kerja yang digunakan merupakan karyawan dari Permata Hati Organic Farm yang bertanggungjawab atas seluruh kegiatan produksi di lahan Permata Organic Farm.

Berdasarkan hasil analisis, biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk bagian staf sebesar Rp. 2.232,14 per 10 m2 dan akan dimasukkan ke dalam biaya tetap sedangkan biaya tenaga kerja yang akan dikeluarkan untuk bagian kebun sebesar Rp. 6.857,14 per 10 m2 dan akan dimasukkan ke dalam biaya variabel.

Pada pola tanam monokultur pada tahun 2007 di Permata Hati Organic Farm, pengeluaran biaya variabel tertinggi terdapat pada komoditi zukini yaitu sebesar Rp. 10.057 per musim tanam dan pengeluaran biaya variabel terendah terdapat pada komoditi labu siem yaitu sebesar Rp. 9.025, sehingga rata-rata biaya variabel pada komoditi dengan pola tanam monokultur yaitu sebesar Rp. 9.541. Sedangkan pada pola tanam tumpangsari, pengeluaran biaya variabel tertinggi terdapat pada komoditi bayam merah yang ditumpangsarikan dengan tanaman buncis yaitu sebesar Rp. 11.087 per musim tanam dan pengeluaran biaya variabel terendah terdapat pada komoditi petsai yang ditumpangsarikan dengan tanaman tomat yaitu sebesar Rp. 9.077, sehingga rata-rata variabel pada komoditi dengan pola tanam monokultur yaitu sebesar Rp. 10.082.

Biaya tetap yang muncul dalam usaha ini yaitu biaya tenaga kerja bagian staf perusahaan, biaya sewa lahan, dan biaya penyusutan. Biaya tetap tersebut pada kenyataannnya tidak semua dibayarkan, tetapi diperhitungkan. Sewa lahan sebesar 10 m2 adalah sebesar Rp 2.000 karena dalam satu tahun terdapat empat musim penanaman, maka harga sewa lahan adalah Rp. 500 untuk satu musim

(30)

tanam. Dari hasil analisis, jumlah biaya penyusutan yang dikeluarkan sebesar Rp.

1.592.400/tahun atau Rp. 398.100/musim tanam.

Berdasarkan hasil analisis pendapatan pada pola tanam tumpangsari dan monokultur, rata-rata nilai R/C rasio sayuran organik adalah sebesar 2,34. maka dapat dikatakan bahwa usaha sayuran organik tersebut efisien. Sedangkan dalam optimalisasi pola tanam dibatasi oleh kendala-kendala, diantaranya luas lahan, transfer penjualan, dan produksi minimum. Oleh karena itu dibutuhkan usaha untuk mengoptimalkan pendapatan dengan kendala-kendala tersebut dengan menggunakan LP. Hasil optimalisasi dengan menggunkan LP tersebut yaitu meningkatkan pendapatan dengan mencapai nilai optimum pada Permata Hati Organic Farm ini.

Siahaan (2008) meneliti tentang Analisis Strategi Pengembangan Usaha Restoran Rice Bowl (Studi Kasus pada Restoran Rice Bowl Botani Square, Bogor). Tujuan penelitian yang dilakukan adalah mengkaji strategi usaha yang telah dilakukan oleh Restoran Rice Bowl Botani Square, menganalisis faktor eksternal dan internal Restoran Rice Bowl Botani Square, dan mengkaji alternatif strategi yang paling sesuai bagi Restoran untuk mengembangkan usahanya.

Metode analisis data yang digunakan adalah menggunakan analisis SWOT untuk mengidentifikasi alternatif kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan Restoran Rice Bowl. Analisis ini diperoleh dari matriks IFE, matriks EFE serta matriks IE. Sedangkan untuk proses pemilihan keputusan strategis menggunakan metode QSPM. Dari hasil penelitian didapat bahwa alternatif strategi Restoran Rice Bowl dalam mengembangkan usahanya dengan alternatif strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Urutan prioritas strategi yang dilaksanakan adalah menjaga kualitas produk makanan dan layanan konsumen, melakukan evaluasi dan kajian kemampuan restoran dalam menghadapi persaingan, mengoptimalkan kegiatan promosi melalui iklan, media, website, mensponsori event dan exhibition di Botani Square, menyediakan layanan pesan antar dan paket menu khusus, membuka outlet baru di pusat pembelanjaan lain di Kota Bogor, mempertahankan strategi penetapan harga, dan menjaga hubungan baik dengan pemasok untuk menjaga kualitas bahan baku.

(31)

Yulia (2006) melakukan penelitian dengan judul Analisis Strategi Pengembangan Usaha Rajungan di PT Muara Bahari Internasional Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tujuan penelitian yang dilakukan adalah menganalisis faktor-faktor yang terdapat pada lingkungan internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan yang mempengaruhi dalam pengembangan usaha PT MBI, menganalisis faktor-faktor yang terdapat pada lingkungan eksternal yang menjadi peluang dan ancaman bagi PT MBI yang mempengaruhi dalam pengembangan usaha PT MBI, dan merumuskan alternatif strategi yang paling tepat yang dapat diterapkan oleh PT MBI. Penelitian ini dengan menggunakan alat analisis matriks IFE-EFE, analisis SWOT, dan QSPM.

Hasil penelitian ini dikemukakan bahwa berdasarkan matriks IE, posisi perusahaan berada pada kuadran ke II. Posisi tersebut berada pada posisi tumbuh dan bina dimana strategi yang dikembangkan adalah strategi penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk. Hasil matriks QSPM diperoleh strategi yang menjadi prioritas utama dan dapat diimplikasi bagi perusahaan saat ini adalah strategi mempertahankan kualitas dan meningkatkan kualitas produk untuk mempertahankan pelanggan yang ada dan menarik pelanggan potensial.

Rahmadhoni (2006) meneliti tentang Analisis Strategi Pemasaran Restoran Sunda Pajajaran Bogor. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk mempelajari pelaksanaan bauran pemasaran restoran pajajaran, menganalisis tingkat kepuasan konsumen terhadap kinerja bauran pemasaran yang telah dilakukan oleh restoran sunda pajajaran sehingga dapat dilakukan perbaikan strategi pemasaran yang sesuai dengan keinginan konsumen, dan mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keberhasilan restoran sunda pajajaran. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan wawancara dengan pihak manajemen restoran serta data sekunder yang diperoleh dari dokumen restoran sunda pajajaran dan literatur yang relevan, analisis importance performance, IFE, EFE, IE, dan SWOT.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil analisis importance performance adalah sebesar 75,53 persen yang menunjukkan konsumen sudah mendekati sesuai. Pada matriks IE, posisi restoran sunda pajajaran berada pada kuadran V berdasarkan nilai total skor pada matriks IFE dan EFE yang

(32)

menunjukkan restoran berada dalam posisi yang sedang tumbuh. Berdasarkan hasil analisis matriks IE yang dikombinasikan dengan hasil IPA, dihasilkan analisis SWOT dengan berbagai alternatif strategi yaitu strategi S-O, W-O, S-T, dan W-T. Alternatif strategi terbaik adalah melakukan kombinasi strategi SWOT, yaitu strategi produk: mempertahankan bahan baku lokal, strategi promosi:

meningkatkan efektifitas promosi seperti pemuatan iklan pada internet dan radio, strategi harga: mengadakan program pemberian diskon pada moment tertentu seperti hari libur nasional, strategi tempat: mempertahankan desain ruangan dan meningkatkan kenyamanan suasana restoran.

Rizki Firbani (2006) meneliti tentang Analisis Strategi Pemasaran Restoran Waralaba Lokal (studi kasus: Ayam Bakar Wong Solo cabang Bogor).

Tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk menganalisis persepsi konsumen terhadap strategi bauran pemasaran yang telah diterapkan restoran Ayam Bakar Wong Solo Bogor, mengkaji strategi bauran pemasaran yang telah diterapkan dalam upaya pengembangan usaha restoran Ayam Bakar Wong Solo Bogor, dan menyusun alternatif strategi pemasaran restoran Ayam Bakar Wong Solo Bogor dalam mempertahankan dan meningkatkan posisinya agar dapat bersaing dengan restoran lainnya. Analisis data yang digunakan adalah analisis bauran pemasaran, analisis lingkungan internal dan eksternal, serta analisis SWOT.

Berdasarkan analisis persepsi konsumen terhadap bauran pemasaran yang dilakukan oleh restoran Ayam Bakar Wong Solo Bogor adalah manajemen restoran untuk ditingkatkan yaitu kegiatan promosi yang efektif, variasi produk, kemenarikan penyajian makanan, dan citra pemilik di mata konsumen. Hasil analisis internal dan eksternal berada pada kuadran V yang merupakan posisi

”pertahankan dan pelihara”. Perusahaan harus bisa mempertahankan kinerja, dan lain-lain. Berdasarkan hasil SWOT, ketiga strategi ini adalah (1) strategi pengembangan promosi, (2) strategi diversifikasi dan pengembangan produk, (3) strategi jangka panjang. Hasil QSPM yang paling menarik untuk dijalankan restoran Ayam Bakar Wong Solo Bogor adalah alternatif strategi I yang merupakan strategi pengembangan promosi.

(33)

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Laporan Keuangan

Laporan keuangan biasanya terdiri atas neraca atau laporan posisi keuangan yang menggambarkan likuiditas dan kelancaran operasi perusahaan, laporan rugi laba yang memberikan gambaran tentang besarnya pendapatan serta besarnya laba atau rugi yang diperoleh perusahaan yang bersangkutan, dan laporan perubahan modal yang berisikan tentang besarnya modal perusahaan pada saat tertentu akibat adanya pendapatan dan penarikan untuk kepentingan pemiliknya. Pada dasarnya laporan keuangan disusun secara periodik yaitu setahun sekali, akan tetapi sering juga perusahaan menyusun laporan keuangannya setiap tiga bulan sekali bahkan laporan keuangan disusun setiap bulan (Machmud, 1993).

Analisis laporan keuangan diperlukan adanya ukuran. Ukuran yang sering digunakan dalam analisis keuangan adalah ”rasio”. Menurut David (2004) rasio profitabilitas adalah mengukur efektivitas manajemen keseluruhan seperti yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Pada umumnya terdapat dua jenis rasio profitabilitas, yaitu profitabilitas penjualan dan profitabilitas investasi. Dalam analisis keuntungan pada KFC Taman Topi dan Rahat cafe, analisis rasio profitabilitas yang akan dilakukan terdiri dari marjin laba operasi dan marjin laba bersih.

Rasio rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Cara untuk menilai rentabilitas suatu perusahaan adalah bermacam- macam dan tergantung pada laba atau modal mana yang akan diperbandingkan satu dengan lainnya (Riyanto, 1995). Rentabilitas modal sendiri (ROE) merupakan rasio antara laba bersih atau laba setelah dikurangi bunga dan pajak (EAT) terhadap modal sendiri. Sedangkan Kinerja keuangan yang dianalisis dalam pengembangan usaha di restoran KFC Taman Topi dan Rahat cafe adalah terdiri

(34)

dari laporan laba rugi sebagai dasar untuk melakukan analisis rasio profitabilitas dan rentabilitas.

3.1.2 Pengertian Strategi

Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies). Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang dilakukan (David, 2004).

3.1.3 Manajemen Strategis

Pengertian manajemen strategis menurut David (2004), didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategi antar-fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan di masa datang. Dari beberapa model manajemen strategis seperti model dari Wheelen-Hunger, model dari Fred R. David serta model dari Glenn Baseman dan Arvind Platak, terdapat komponen- komponen manajemen strategi yang terdiri dari: (1) Visi, misi, dan falsafah, (2) Analisis lingkungan eksternal dan internal, (3) Analisis pilihan strategi, (4) Sasaran jangka panjang, (5) Strategi fungsional, dan (6) Program, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi.

3.1.4 Visi, Misi, dan Falsafah

Visi yang dimiliki oleh sebuah perusahaan merupakan suatu cita-cita tentang keadaan di masa datang yang diinginkan untuk terwujud oleh seluruh personel perusahaan, mulai dari jenjang yang paling atas sampai yang pling bawah, bahkan pesuruh sekalipun. Cita-cita masa depan yang ada dalam benak pendiri yang kira-kira mewakili seluruh anggota perusahaan inilah yang disebut visi. Langkah berikutnya adalah membuat misi. Misi adalah penjabaran secara

(35)

tertulis mengenai visi agar visi menjadi mudah dimengerti atau jelas bagi seluruh staf perusahaan.

3.1.5 Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal

Realisasi misi perusahaan akan menjadi sulit dilakukan jika perusahaan tidak berinteraksi dengan lingkungan eksternalnya. Oleh sebab itu, tindakan untuk mengetahui dan menganalisis lingkungan eksternal menjadi sangat penting karena pada hakikatnya kondisi lingkungan eksternal berada di luar kendali organisasi.

Selain pemahaman kondisi lingkungan eksternal, pemahaman terhadap kondisi lingkungan internal perusahaan secara luas dan mendalam pun perlu dilakukan.

Oleh karena itu, strategi yang dibuat perlu bersifat konsisten dan realistis sesuai dengan situasi dan kondisinya. Berdasarkan pemahaman lingkungan internal ini, hendaknya kelemahan dan juga kekuatan yang dimiliki perusahaan dapat diketahui. Selain mengetahui kekuatan dan kelemahan, perusahaan perlu mencermati peluang yang ada dan memanfaatkannya agar perusahaan memiliki keunggulan kompetitif. Jika peluang tidak dimanfaatkan, dapat saja peluang berbalik menjadi ancaman bagi perusahaan. Logikanya, karena peluang yang tidak dimanfaatkan dapat diambil oleh pesaing.

Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum jajaran manajemen menerapkan strategi yang cocok bagi jalannya perusahaan di masa yang akan datang, mereka harus lebih dulu menganalisis posisi perusahaan saat ini, baik dilihat dari posisi persaingan dengan usaha sejenis maupun dari faktor kondisi perusahaan sendiri.

3.1.6 Analisis Pilihan Strategi

Pada dasarnya setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya mempunyai strategi. Namun, para pemimpin perusahaan kadang-kadang tidak tahu atau tidak menyadarinya. Bentuk strategi berbeda-beda antarindustri, antarperusahaan, dan bahkan antar situasi. Namun ada sejumlah strategi yang sudah umum diketahui, dimana strategi-strategi ini dapat diterapkan pada berbagai bentuk industri dan ukuran perusahaan. Strategi-strategi ini dikelompokkan sebagai strategi generik.

Dari bermacam-macam strategi dalam kelompok strategi generik ini akan dipilih

(36)

salah satu atau kombinasi beberapa strategi induk (grand Strategy) dengan menggunakan cara-cara tertentu.

3.1.7 Sasaran Jangka Panjang

Upaya pencapaian tujuan perusahaan merupakan suatu proses berkesinambungan yang memerlukan pentahapan. Untuk menentukan apakah suatu tahapan sudah dicapai atau belum diperlukan suatu tolak ukur, misalnya kurun waktu dan hasil yang ingin dicapai dirumuskan secara jelas, yaitu dengan angka-angka kuantitatif. Pembuatan sasaran jangka penjang ini mengacu kepada strategi induk yang telah ditetapkan sebelumnya.

3.1.8 Strategi Fungsional

Langkah penting implementasi strategi induk dilakukan dengan membagi- baginya ke dalam berbagai sasaran jangka pendek, misalnya dalam jangka waktu tahunan secara berkesinambungan dengan memperlihatkan skala prioritas serta dapat diukur. Sasaran jangka pendek ini hendaknya mengacu pada strategi fungsional yang sifatnya operasional. Strategi fungsional yang sifatnya lebih operasional ini mengarah kepada berbagai bidang fungsional dalam perusahaan untuk memperjelas hubungan makna strategi utama dengan identifikasi rincian yang sifatnya spesifik. Strategi fungsional ini menjadi penentuan dalam melakukan berbagai aktivitas agar konsisten bukan hanya dengan strategi utamanya saja, melainkan juga dengan strategi di bidang fungsional lainnya. Di dalam organisasi perusahaan yang konvensional, bidang-bidang fungsional yang utama adalah bidang keuangan, sumberdaya manusia, serta bidang pemasaran.

• Strategi Manajemen Keuangan

Strategi ini harus mampu menentukan arah penggunaan dana baik untuk jangka penjang maupun jangka pendek. Strategi ini umumnya berkisar pada tiga hal, yaitu bagaimana perusahaan memperoleh modal, alokasi kapital, dan manajemen modal kerja termasuk dalam hal pembagian keuntungan.

• Strategi Manajemen Sumberdaya Manusia

Kegiatan manajemen sumberdaya manusia berkisar pada pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan sumberdaya manusia. Agar ketiga pokok kegiatan

(37)

tersebut berjalan lancar perlu disiapkan sistem yang andal. Tahap pengadaan mencakup perencanaan SDM, rekrutmen, seleksi, dan orientasi. Tahap penggunaan perlu memperhatikan kesesuaian antara kemampuan SDM dan apa yang menjadi tugas serta tanggungjawabnya. Selain itu, perlu diperhatikan hal-hal mengenai kesempatan memperoleh pelatihan dan pendidikan, supervisi, penilaian kinerja, imbalan serta jaminan perlindungan dan kesehatan kerja. Terakhir, pada tahapan pemeliharaan sumberdaya manusia tujuannnya adalah bagaimana agar karyawan merasa puas bekerja.

• Strategi Manajemen Operasional

Merumuskan strategi manajemen operasional paling tidak membutuhkan dua komponen, yaitu adanya sarana dan prasarana yang memadai dan cara menyediakan sarana dan prasarana tersebut. Dari dua komponen di atas, hal-hal pokok dalam manajemen operasional dapat dijabarkan menjadi beberapa bidang, yaitu inventarisasi, prosedur pembelian barang, pengendalian mutu, biaya produksi, produktivitas kerja, jadwal produksi, tenaga kerja, penggunaan fasilitas, dan pemeliharaan (maintenance) peralatan.

• Strategi Manajemen Pemasaran

Ada empat komponen pokok bidang pemasaran yang dapat dikendalikan perusahaan yang kita kenal dengan sebutan 4P (product, Price, Place, dan Promotion), termasuk pula kondisi persaingan.

3.1.9 Program, Pelaksanaan, Pengendalian, dan Evaluasi

Agar sasaran yang ingin diraih dapat direalisasikan dengan strategi yang telah ditetapkan, strategi yang perlu ditindaklanjuti dengan pelaksanaan (action).

Pelaksanaan tidak akan efektif bila tidak didahului dengan perencanaan.

Perencanaan yang baik minimal mengandung asas-asas untuk mencapai tujuan, realistis dan wajar, efisien serta merupakan cerminan dari strategi dan kebijakan perusahaan. Perencanaan yang masih dalam bentuk global hendaknya dibuat dalam bentuk yang lebih detail, misalnya dalam bentuk program-progran kerja.

Jika program kerja telah disiapkan berikut sumberdaya yang dibutuhkan, maka pelaksanaan kerja sudah dapat dimulai. Pengendalian atau pengawasan dimaksudkan untuk lebih menjamin bahwa semua kegiatan yang diselenggarakan

(38)

oleh perusahaan hendaknya didasarkan pada rencana yang telah disepakati, sehingga sasaran tidak menyimpang atau keluar dari batas-batas teloransi. Jika dari hasil evaluasi pekerjaan diketahui bahwa ada faktor X yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan kerja dari rencana yang ada dan memang disebabkan salah asumsi atau oleh hal-hal lain yang sifatnya uncontrollable, maka rencana perlu direvisi ulang.

3.2 Lingkungan Bisnis

Bisnis dan perusahaan sebagai suatu sistem akan berkait dengan sekumpulan faktor tertentu yang dapat mempengaruhi arah dan kebijakan perusahaan dalam mengelola bisnisnya. Lingkungan bisnis dapat dibagi atas dua lingkungan, yaitu lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal dibagi dalam dua kategori, yaitu lingkungan jauh (faktor politik, teknologi, ekonomi, dan sosial) serta lingkungan industri (aspek hambatan masuk, daya tawar pemasok, daya tawar pembeli, ketersediaan barang substitusi, dan persaingan dalam industri). Sedangkan lingkungan internal merupakan aspek yang ada di dalam perusahaan, seperti aspek keuangan, sumberdaya manusia, pemasaran, operasional, dan manajemen.

3.2.1 Lingkungan Internal

Secara tradisional, aspek-aspek lingkungan internal perusahaan yang hendaknya diamati dapat dilihat dari beberapa pendekatan, diantaranya adalah:

• Pendekatan Fungsional, terdiri atas: pemasaran, keuangan, operasi, SDM, dan sistem informasi manajemen.

• Pendekatan Fungsional

Pada pendekatan ini, pengkategorian analisis internal sering diarahkan pada pasar dan pemasaran, kondisi keuangan dan akuntansi, produksi, sumberdaya manusia, dan struktur organisasi dan manajemen. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

(39)

1. Pasar dan Pemasaran

 Segmentation, Targeting, Positioning

Agar posisi produk di pasar sesuai dengan harapan, faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain adalah pangsa pasar, pelayanan purna jual, kepemilikan informasi tentang pasar, pengendalian distributor, kondisi satuan kerja pemasaran, kegiatan promosi, harga jual produk, komitmen manajemen puncak, loyalitas pelanggan dan kebijakan produk baru.

1. Segmentasi Pasar

Pasar terdiri dari banyak pembeli yang berbeda dalam beberapa hal, misalnya keinginan, kemampuan keuangan, lokasi, sikap pembelian dan praktek- praktek pembeliannya. Berdasarkan perbedaan ini dapat dilakukan segmentasi pasar. Beberapa aspek utama untuk mensegmentasikan pasar yaitu aspek geografis, demografis, psikografis, dan perilaku.

2. Target Pasar

Menetapkan target pasar atau sasaran adalah tindakan mengevaluasi dan membandingkan kelompok yang diidentifikasi, kemudian memilih salah satu atau beberapa diantaranya sebagai calon target dengan potensi paling besar.

3. Posisi Pasar

Penetapan posisi pasar adalah tindakan merancang tawaran dan citra perusahaan sehingga menempati posisi yang khas (diantara para pesaing) di dalam benak pelanggan sasarannya. Setelah perusahaan memutuskan segmen mana yang akan dimasuki, selanjutnya diputuskan pula posisi mana yang ingin ditempati dalam segmen tersebut.

 Bauran Pemasaran

Kotler dan Amstrong (1997) mengatakan bahwa bauran pemasaran adalah kombinasi dari empat variabel, kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran yaitu struktur produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan sistem distribusi. Strategi pemasaran pada jasa terkenal dengan Manajemen Jasa Terpadu yaitu perencanaan dan pelaksanaan terkoordinasi kegiatan-kegiatan pemasaran, operasi, Sumberdaya Manusia (SDM), dan yang penting bagi keberhasilan perusahaan jasa, lebih dikenal dengan komponen 7P (Kotler, 2005) komponen manajemen mutu terdiri dari:

Gambar

Tabel 1. Perkembangan Jumlah Restoran di Kota Bogor Tahun 2000-2008
Tabel  2.  Perkembangan  Restoran  dan  Rumah  Makan  di  Kota  Bogor  Berdasarkan  Jenis  Hidangan  yang  Disajikan  Pada  Tahun   2005-2008  Jumlah (Unit) Jenis Hidangan  2005  2006  2007  2008  Indonesia  45  48  51  54  Daerah  38  39  41  43  Internas
Tabel 3. Metode Analisis Data Berdasarkan Tujuan Penelitian  Data No Tujuan Penelitian  Jenis  Sumber  Metode  Analisis  1
Tabel 4. Struktur Biaya Pada Restoran KFC Taman Topi dan Rahat Cafe
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Pilih dokumen kuitansi yang pernah dicatat, aplikasi akan secara otomatis menampilkan data kuitansi yang belum pernah dicatat dalam menu RUH Transaksi. Hal

Berdasarkan lokasi, awal bangkitan status epileptikus terjadi dari area tertentu di korteks ( Partial Onset ) atau kedua hemisfer otak ( Generalized onset ) sedangkan

Pada indikator empati mendapatkan hasil lebih dominan pasien mengatakan puas 19 orang (63%), sehingga dapat di simpulkan bahwa sikap empati yang diberikan perawat

Secara tehnis unit pelayanan di RSUD Kabupaetn Badung berpedoman pada kebijakan yang telah dikeluarkan dari instansi verti cal di jajaran pemerintah daerah

Virus parvo anjing baik pada aplikasi oral maupun infravena tidak berhasil diisolasi dari feses dengan menggunakan jaringan FK dan uji HA selama penelitian

2.2 Membandingkan peranan atau fungsi musik dalam konteks yang berbeda 2.3 Mengidentifikasi suatu pola ritmik yang terdengar dalam suatu karya musik 2.4 Menirukan permainan suatu

Nasabah menitipkan barang kepada bank syariah dengan menggunakan akad al-Wadiah yad al-Amanah. Bank syariah menerima titipan, dan barang yang dititipkan akan ditempatkan

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun , dan Dia memberi kamu pendengaran ,.. penglihatan dan perasaan , agar