• Tidak ada hasil yang ditemukan

IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2015–2030, yaitu mengakhiri kelaparan, termasuk mengatasi

gizi buruk (Hoelman et al., 2016). Pencapaian sasaran tersebut melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, termasuk Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang diselenggarakan bersama masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan Posyandu terdiri dari pelayanan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, imunisasi, gizi, pencegahan dan penanggulangan diare. Salah satu manfaat Posyandu bagi masyarakat yaitu pertumbuhan balita terpantau sehingga meningkatkan status kesehatan masyarakat (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

Deteksi dini kasus gizi dapat dilakukan melalui penimbangan balita. Hal ini dimaksudkan apabila berat badan anak tidak naik, dapat segera dilakukan upaya pemulihan dan pencegahan, agar tidak menjadi gizi kurang atau gizi buruk.

Penanganan sesuai tata laksana kasus gizi akan mengurangi risiko kematian

sehingga angka kematian akibat gizi buruk dapat ditekan (Kementerian Kesehatan

RI, 2018). Cakupan penimbangan balita (D/S) adalah salah satu upaya penemuan

kasus gizi kurang atau gizi buruk. Kegiatan bulan timbang merupakan upaya

deteksi dini yang cukup efektif (Kementerian Kesehatan RI, 2007).

(2)

Penyebaran posyandu di Indonesia masih belum diiringi dengan kualitas pelayanan yang baik. Peran kader dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan.

Kehadiran petugas kesehatan di meja ke empat dalam penyuluhan posyandu belum maksimal karena kurangnya peran kader yang seharusnya bisa menangani pelayanan pada meja tersebut. Partisipasi kader yang bersifat sukarela sehingga tidak menjamin bahwa kader akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik.

Program kesehatan berlandaskan peran serta masyarakat termasuk Posyandu banyak mengalami kendala. Desa yang memiliki kepala desa yang selalu memberikan dukungan setiap pelaksanaan kegiatan posyandu juga menyebabkan kinerja dan kelestarian posyandu lebih baik dibandingkan dengan desa yang kepala desanya tidak memberikan dukungan (Profita, 2018).

Kader memiliki peran besar terhadap lancarnya kegiatan posyandu. Tugas

untuk perencanaan berbagai kegiatan yang ada pada posyandu, pelaksanaan,

evaluasi dan pengendalian kegiatan posyandu, serta pelaporan kegiatan posyandu

dilakukan oleh kader posyandu (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Peran kader

sebagai pemberi informasi kesehatan kepada masyarakat, sebagai penggerak

masyarakat untuk datang ke Posyandu dan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih

dan Sehat (PHBS) serta sebagai motivator yang tepat untuk membantu

mewujudkan kesehatan ibu dan anak (Kementerian Kesehatan RI, 2012a). Melihat

dari tugas kader posyandu tersebut sudah dapat disimpulkan bahwa posyandu

akan terlaksana dengan maksimal apabila kinerja kader posyandu juga maksimal.

(3)

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018, persentase rata-rata balita umur 6-59 bulan yang ditimbang sebagai berikut:

Tabel 1.1 Persentase Rata-rata Balita Umur 6-59 bulan yang ditimbang pada Tahun 2018

No Provinsi Persentase (%) Peringkat

1 Bali 84,7 1

2 Jawa Timur 79,2 9

3 Kalimantan Tengah 32,5 34

Indonesia 68,3

Sumber: Kementerian Kesehatan, 2018

Tabel 1.1 memperlihatkan bahwa persentase rata-rata balita umur 6-59 bulan yang ditimbang tertinggi yaitu Provinsi Bali (84,7%), terendah Provinsi Kalimantan Tengah (32,5%), dan Provinsi Jawa Timur (79,2%) menduduki peringkat ke sembilan. Sedangkan persentase balita mengalami gizi buruk dan gizi kurang ditampilkan pada tabel berikut:

Tabel 1.2 Persentase Balita Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Tahun 2018

No Provinsi Persentase (%) Peringkat

1 Nusa Tenggara Timur 29,5 1

2 Jawa Timur 16,7 22

3 Kepulauan Riau 13,0 34

Indonesia 17,7

Sumber: Kementerian Kesehatan, 2018

Tabel 1.2 memperlihatkan bahwa persentase balita gizi buruk dan gizi kurang

tertinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur (29,5%) dan terendah Provinsi

Kepulauan Riau (13,0%), dan Provinsi Jawa Timur (16,7%). Sementara target

persentase balita gizi buruk dan gizi kurang 17,0%. (Kementerian Kesehatan RI,

2018).

(4)

Berdasarkan permasalahan gizi balita, maka usaha deteksi dini penting untuk dilakukan. Alat ukur yang digunakan antara lain dengan pengukuran status gizi melalui kegiatan Posyandu dengan Kartu Menuju Sehat (KMS). Pemantauan status gizi sebagai alat ukur dan deteksi dini untuk memantau tingkat perkembangan gizi balita sehingga didapatkan status gizi balita masuk kategori gizi lebih, gizi kurang, stunting, atau bahkan gizi buruk. Terdapat metode pemantauan status gizi, diantaranya menggunakan antropometri. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Ukuran tubuh seperti berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.

Pemantauan status gizi yang digunakan adalah baku antropometri menurut standar World Health Organization-National Center for Health Statistics.

Berdasarkan data Profil Kesehatan Jawa Timur Tahun 2018 sebagai berikut:

Tabel 1.3 Cakupan Penimbangan Balita Umur 0-59 bulan pada Tahun 2018 No Kabupaten/Kota Persentase (%) Peringkat

1 Kabupaten Bojonegoro 89,7 1

2 Kabupaten Tulungagung 74,7 27

3 Kota Mojokerto 66,1 38

Jawa Timur 79,9

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2018

Tabel 1.3 memperlihatkan bahwa cakupan penimbangan balita umur 0-59

bulan yaitu tertinggi Kabupaten Bojonegoro (89,7%), terendah Kota Mojokerto

(66,1%), dan Kabupaten Tulungagung (74,7%) menduduki peringkat ke 27 dari

38 Kabupaten/Kota se Jawa Timur dengan target 80,0%.

(5)

Berdasarkan data Profil Kesehatan Kabupaten Tulungagung sebagai berikut:

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, 2016-2018

Gambar 1.1 Cakupan Penimbangan (D/S) Kabupaten Tulungagung Tahun 2016 s.d Tahun 2018

Gambar 1.1 memperlihatkan bahwa cakupan penimbangan (D/S) di Kabupaten Tulungagung selama tiga tahun terakhir mengalami trend penurunan yaitu sebesar 80,4% (2016) menurun menjadi 78,5% (2017), dan 74,7% (2018) sedangkan target cakupan penimbangan (D/S) yaitu 80,0%. Hal ini berarti bahwa belum semua balita di Kabupaten Tulungagung datang berkunjung ke posyandu balita dan ditimbang secara rutin.

Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Tulungagung, jumlah Posyandu menurut puskesmas sebagai berikut:

Tabel 1.4 Jumlah Posyandu di Kabupaten Tulungagung pada Tahun 2018

No Puskesmas Strata Posyandu

Pratama Madya Purnama Mandiri Jumlah

1 Besuki 0 0 32 0 32

2 Besole 0 0 21 0 21

3 Bandung 0 5 56 1 62

4 Pakel 0 0 39 0 39

80,0

74,7 78,5

80,4

(6)

No Puskesmas Strata Posyandu

Pratama Madya Purnama Mandiri Jumlah

5 Bangunjaya 0 0 27 0 27

6 Campurdarat 0 0 47 1 48

7 Tanggunggunung 0 0 35 0 35

8 Kalidawir 0 3 44 0 47

9 Tunggangri 0 16 17 2 35

10 Pucanglaban 0 2 29 0 31

11 Rejotangan 0 8 32 1 41

12 Banjarejo 0 0 49 1 50

13 Ngunut 0 27 18 0 45

14 Balesono 0 0 40 0 40

15 Sumbergempol 0 0 39 0 39

16 Bendilwungu 0 0 34 0 34

17 Boyolangu 0 0 48 0 48

18 Beji 0 0 35 7 42

19 Tulungagung 0 27 18 0 45

20 Sembung 0 1 46 0 47

21 Kedungwaru 0 3 46 0 49

22 Simo 0 0 37 0 37

23 Ngantru 0 11 22 0 33

24 Pucung 0 9 15 1 25

25 Karangejo 0 0 25 0 25

26 Jeli 0 0 25 0 25

27 Kauman 0 0 58 1 59

28 Gondang 0 0 39 0 39

29 Tiudan 0 0 30 0 30

30 Pagerwojo 0 1 48 1 50

31 Sendang 0 3 30 0 33

32 Dono 0 10 17 0 27

Jumlah 0 126 1098 16 1240

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, 2018

Tabel 1.4 memperlihatkan bahwa posyandu yang ada di 32 puskesmas

Kabupaten Tulungagung sebanyak 1.240 posyandu, terdiri dari posyandu mandiri

sebanyak 16 posyandu (1,3%), posyandu purnama sebanyak 1.098 (88,6%), dan

posyandu madya sebanyak 126 (10,1%).

(7)

Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Tulungagung Tahun 2018 sebagai berikut:

Tabel 1.5 Data SKDN menurut puskesmas di Kabupaten Tulungagung Tahun 2018

NO PUSKESMAS DATA SKDN %

S K D N D/S N/D

1 Karangrejo 1.601 1.506 1.473 872 92,0 59,1 2 Tulungagung 2.416 2.400 2.052 1.533 84,9 74,7 3 Pucanglaban 1.755 1.658 1.481 839 84,4 56,6 4 Kauman 3.638 3.185 3.006 2.251 82,6 74,9 5 Pagerwojo 2.175 1.887 1.757 967 80,7 55,0 6 Bandung 3.296 2.836 2.629 1.501 79,7 57,1 7 Sumbergempol 2.684 2.577 2.121 1.184 79,0 55,8

8 Pakel 2.165 1.884 1.711 936 79,0 54,6

9 Beji 3.020 2.642 2.359 1.845 78,1 78,2

10 Bangunjaya 1.552 1.427 1.197 649 77,1 54,2 11 Bendilwungu 2.289 2.166 1.763 1.294 77,0 73,3 12 Tunggangri 2.271 2.054 1.739 1.027 76,5 59,0

13 Tiudan 2.006 1.775 1.533 933 76,4 60,8

14 Sendang 1.886 1.674 1.437 724 76,1 50,3

15 Campurdarat 3.997 3.323 3.020 1.907 75,5 63,1 16 Banjarejo 2.981 2.665 2.248 1.352 75,4 60,1

17 Besuki 1.435 1.282 1.080 599 75,2 55,4

18 Kalidawir 2.878 2.277 2.154 1.772 74,8 82,2

19 Simo 2.599 2.247 1.931 1.160 74,2 60,0

20 Gondang 2.117 1.777 1.564 862 73,8 55,1

21 Besole 1.211 1.144 888 452 73,2 50,8

22 Boyolangu 2.677 2.409 1.956 1.010 73,0 51,6 23 Rejotangan 2.589 2.135 1.890 1.215 73,0 64,2

24 Pucung 1.723 1.607 1.229 704 71,3 57,2

25 Tanggunggunung 1.767 1.632 1.260 514 71,2 40,8

26 Ngantru 2.250 2.039 1.597 947 71,0 59,3

27 Dono 1.326 1.124 930 595 70,1 63,9

28 Jeli 1.461 1.268 1.020 567 69,8 55,6

29 Kedungwaru 3.725 3.028 2.493 1.211 66,9 48,5

30 Sembung 2.228 2.253 1.480 625 66,4 42,2

31 Balesono 2.425 2.111 1.556 688 64,1 44,2

32 Ngunut 3.302 2.751 1.828 867 55,3 47,4

Jumlah 75.445 66.739 56.379 33.600 74,7 59,6

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, 2018

(8)

Tabel 1.5 memperlihatkan bahwa pada tahun 2018, sebanyak 27 puskesmas dari 32 puskesmas (84,4%) cakupan D/S masih di bawah target 80,0%. Jika dilihat dari total capaian indikator SKDN, maka partisipasi masyarakat atau cakupan penimbangan balita (D/S) masih belum mencapai target 80,0%.

Hasil dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat terhadap posyandu dipengaruhi oleh kinerja kader sebagai faktor dominan dan ketersediaan sarana dan prasarana (Nasution and Zulihartika, 2018). Terdapat hubungan antara pendidikan, pekerjaan, peran kader, peran petugas puskesmas dengan cakupan kunjungan balita ke Posyandu (Herawati, 2019). Terdapat hubungan umur kader, pekerjaan dengan kehadiran kader dalam pengelolaan posyandu (Banowati, 2018). Ada hubungan pekerjaan ibu balita dan peran kader dengan kunjungan ibu balita ke Posyandu (BD, 2018). Terdapat hubungan antara pelatihan yang diikuti kader dengan kinerja kader (Sukandar, 2019).

Faktor umur balita dan umur ibu berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat berkunjung ke posyandu (Rivolta G.M. Walalangi, Imbar and Wuisang, 2014).

Terdapat keterkaitan antara pembinaan kader posyandu dengan trust, capacity

dengan participation kader posyandu, pendidikan dan pekerjaan ibu dengan

kehadiran balita di Posyandu (Putri, 2014). Hasil penelitian lain menyebutkan

bahwa terdapat hubungan antara peran pemerintah Desa/Kelurahan dengan

keaktifan kader posyandu (Profita, 2018). Pemberdayaan kader posyandu balita

dapat dipelajari dengan pendekatan pemberdayaan yang terdiri dari Alignment,

Capability, Trust dan Participation, diadaptasi dari teori Tenner dan Detoro tahun

1992 dalam Total QualityManagement (TQM) (Supriyanto and Wulandari, 2011).

(9)

Berdasarkan data dan hasil kajian yang telah diuraikan, maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah belum tercapainya cakupan D/S yaitu sebesar 74,7% pada Tahun 2018 dari target 80,0% di Kabupaten Tulungagung.

1.2 Kajian Masalah

Berdasarkan latar belakang maka masalah belum tercapainya cakupan D/S yaitu sebesar 74,7% dari target 80% di Kabupaten Tulungagung pada Tahun 2018, kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini:

Posyandu

Gambar 1.2 Kajian Masalah Faktor Eksternal

1. Peran Petugas Puskesmas 2. Peran Desa/ Kelurahan 3. Pembinaan Kader

Posyandu 4. Pemberdayaan

a. Alignment b. Capability c. Trust

Faktor Internal 1. Kinerja Kader Posyandu 2. Karakteristik Kader

a. Umur b. Pendidikan c. Status Pekerjaan 3. Karakteristik Balita

a. Umur Balita b. Umur Ibu Balita c. Pendidikan Ibu d. Status Pekerjaan Ibu 4. Pelatihan Kader Posyandu 5. Ketersediaan Sarana

Belum tercapainya cakupan D/S yaitu

sebesar 74,7%

dari target 80%

di Kabupaten

Tulungagung

pada Tahun 2018

(10)

Dari gambar 1.2 terlihat bahwa belum tercapainya cakupan D/S yaitu sebesar 74,7% dari target 80,0% di Kabupaten Tulungagung pada Tahun 2018 kemungkinan karena beberapa faktor, antara lain yaitu:

1. Faktor Internal

a. Kinerja Kader Posyandu

Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan. Namun masih banyaknya balita yang belum secara rutin hadir di posyandu, menggambarkan bahwa masih kurang optimalnya kinerja kader posyandu, baik dalam melaksanakan peran sebelum hari buka posyandu, saat hari buka posyandu, dan sesudah hari buka posyandu.

b. Karakteristik Kader 1. Umur

Umur kader berpengaruh pada produktivitas kerja posyandu. Kader dengan usia produktif diharapkan dapat meningkatkan produktifitas kerja di posyandu sehingga tujuan posyandu dapat tercapai.

2. Pendidikan

Tingkat pendidikan kader dapat mempengaruhi kemampuan kader dalam menjalankan program posyandu. Kader dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah menerima suatu perubahan dibandingkan dengan pendidikan yang lebih rendah.

3. Pekerjaan

Kader yang tidak bekerja memiliki waktu luang lebih banyak dalam

kegiatan posyandu dibandingkan kader yang bekerja.

(11)

c. Karakteristik Balita 1. Umur Balita

Umur balita berpengaruh pada kehadiran di posyandu. Ibu merasa perlu ke posyandu pada saat pemberian imunisasi dan vitamin A.

2. Umur Ibu Balita

Umur ibu berpengaruh pada kehadiran balita di Posyandu. Ibu balita dengan usia produktif mempunyai aktivitas tinggi sehingga tersedianya waktu bagi untuk mengantarkan ke posyandu juga dapat terpengaruh.

3. Pendidikan Ibu Balita

Pendidikan merupakan hal penting dalam proses peningkatan kemampuan. Ibu balita berlatar belakang pendidikan rendah cenderung kurang sadar akan kebutuhan balita untuk datang ke Posyandu.

4. Pekerjaan Ibu Balita

Jika Ibu balita memiliki pekerjaan lainnya, maka akan menyebabkan balita tidak datang ke Posyandu karena tidak ada yang mendampingi.

d. Pelatihan Kader Posyandu

Pelatihan merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas kader posyandu dengan berbagai cara, yaitu: memberikan materi/pendidikan (education) maupun pelatihan (training) tentang kegiatan posyandu.

e. Ketersediaan Sarana

Apabila ketersediaan sarana posyandu, yaitu pengukur berat badan,

tinggi/panjang badan, media penyuluhan, dan buku KIA/KMS belum

optimal, maka akan berpengaruh terhadap kehadiran balita di posyandu.

(12)

2. Faktor Eksternal

a. Peran Petugas Puskesmas

Masih banyaknya kader posyandu yang belum mampu melaksanakan perannya secara optimal di Kabupaten Tulungagung menggambarkan bahwa masih kurang optimalnya peran petugas Puskesmas dalam pemberdayaan kader posyandu.

b. Peran Desa/Kelurahan

Desa/Kelurahan bertanggung jawab untuk memberikan dukungan sarana prasarana, dan dana untuk penyelenggaraan posyandu, mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk hadir di posyandu, menindaklanjuti hasil kegiatan posyandu serta melakukan pembinaan posyandu secara teratur.

c. Pembinaan Kader Posyandu

Upaya pembinaan kader posyandu berkaitan dengan peningkatan fungsi dan kinerja kader posyandu, meliputi sosialisasi kesehatan, kegiatan refreshing kader, dan supervisi pencatatan pelaporan posyandu. Apabila

pembinaan kader posyandu belum secara rutin dilakukan, maka dapat berpengaruh terhadap kinerja kader posyandu.

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi faktor penyebab masalah belum tercapainya

cakupan D/S seperti yang telah diuraikan, maka hal yang dikaji adalah faktor yang

mempengaruhi kinerja kader posyandu dalam pencapaian cakupan D/S tanpa

mengkaji karakteristik kader posyandu dan karakteristik balita.

(13)

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan kajian masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah:

1. Bagaimana peran Desa/Kelurahan, peran petugas puskesmas, ketersediaan sarana, pembinaan kader posyandu, pelatihan kader posyandu, alignment, capability, trust, dan kinerja kader posyandu di Kabupaten Tulungagung?

2. Bagaimana pengaruh peran Desa/Kelurahan, peran petugas puskesmas, ketersediaan sarana, pembinaan kader posyandu, dan pelatihan kader posyandu terhadap alignment, capability, dan trust di Kabupaten Tulungagung?

3. Bagaimana pengaruh alignment, capability, dan trust terhadap kinerja kader posyandu di Kabupaten Tulungagung?

4. Bagaimana upaya peningkatan kinerja kader posyandu berdasarkan analisis pemberdayaan kader di Kabupaten Tulungagung?

1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum

Menyusun upaya peningkatan kinerja kader posyandu berdasarkan analisis

pemberdayaan kader posyandu di Kabupaten Tulungagung.

(14)

1.5.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi peran Desa/Kelurahan, peran petugas puskesmas, ketersediaan sarana, pembinaan kader posyandu, pelatihan kader posyandu, alignment, capability, trust, dan kinerja kader posyandu di Kabupaten

Tulungagung.

2. Menganalisis pengaruh peran Desa/Kelurahan terhadap alignment, capability, dan trust di Kabupaten Tulungagung.

3. Menganalisis pengaruh peran petugas puskesmas terhadap alignment, capability, dan trust di Kabupaten Tulungagung.

4. Menganalisis pengaruh ketersediaan sarana terhadap alignment, capability, dan trust di Kabupaten Tulungagung.

5. Menganalisis pengaruh pembinaan kader posyandu terhadap alignment, capability, dan trust di Kabupaten Tulungagung.

6. Menganalisis pengaruh pelatihan kader posyandu terhadap alignment, capability, dan trust di Kabupaten Tulungagung.

7. Menganalisis pengaruh antara alignment, capability, dan trust terhadap kinerja kader posyandu di Kabupaten Tulungagung.

8. Menyusun rekomendasi upaya peningkatan kinerja kader posyandu

berdasarkan analisis pemberdayaan kader posyandu di Kabupaten

Tulungagung.

(15)

1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai penambahan keilmuan untuk upaya peningkatan kinerja kader posyandu di Kabupaten Tulungagung.

1.6.2 Bagi Instansi Kesehatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mendukung upaya peningkatan kinerja kader posyandu di Kabupaten Tulungagung.

1.6.3 Bagi Penulis

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memberdayakan kader posyandu dalam memotivasi ibu balita membawa balita secara rutin ke posyandu sebagai upaya peningkatan cakupan D/S di Kabupaten Tulungagung.

1.6.4 Bagi Peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pengembangan dan tambahan literatur penelitian yang serupa.

1.6.5 Bagi Masyarakat

Kader posyandu dapat menjadi sarana penyebarluasan informasi dan

motivasi bagi ibu balita untuk datang secara rutin ke posyandu.

Gambar

Tabel 1.1   Persentase  Rata-rata  Balita  Umur  6-59  bulan  yang  ditimbang  pada  Tahun 2018
Tabel 1.3   Cakupan Penimbangan Balita Umur 0-59 bulan pada Tahun 2018  No  Kabupaten/Kota  Persentase (%)  Peringkat
Gambar 1.1   Cakupan Penimbangan (D/S) Kabupaten Tulungagung Tahun 2016  s.d Tahun 2018
Tabel  1.4  memperlihatkan  bahwa  posyandu  yang  ada  di  32  puskesmas  Kabupaten Tulungagung sebanyak 1.240 posyandu, terdiri dari posyandu mandiri  sebanyak  16  posyandu  (1,3%),  posyandu  purnama  sebanyak  1.098  (88,6%),  dan  posyandu madya seba
+3

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya Panitia/Pokja ULP akan mengadakan penilaian/evaluasi administrasi dan teknis terhadap surat penawaran yang memenuhi syarat/lengkap pada saat pembukaan penawaran,

[r]

--- Pasal --- Dalam hal terdapat perbedaan luas tanah menjadi obyek tukar menukar dalam akta ini dengan hasil pengukuran oleh instansi Badan Pertanahan Nasional,

07.III/PV-ULP/MT/APBD-DIKNAS/IX/2017 Tanggal 15 September 2017 dengan ini Pokja V ULP Kabupaten Maluku Tengah mengumumkan Pemenang Pengadaan Barang/Jasa untuk pekerjaan tersebut

Aktivitas CRM yang diterapkan pada Bank BRI Unit Duren Jaya Bekasi adalah (1) Identify (identifikasi nasabah dengan adanya sistem informasi database); (2) Acquire

Pendektan pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)/ pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas

Hasil tersebut juga menunjukkan kesesuaian hipotesis bahwa terdapat kemiripan keragaan fenotipik dari klon-klon kentang yang diujicobakan dalam rumah ketat serangga terhadap kultivar

Pengembangan bahan ajar tentang perubahan materi dapat meningkatkan pemahaman konsep peserta didik, dalam ini adalah mahasiswa, jika (1) dalam pembuatannya didasarkan