BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2015–2030, yaitu mengakhiri kelaparan, termasuk mengatasi
gizi buruk (Hoelman et al., 2016). Pencapaian sasaran tersebut melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, termasuk Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang diselenggarakan bersama masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan Posyandu terdiri dari pelayanan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, imunisasi, gizi, pencegahan dan penanggulangan diare. Salah satu manfaat Posyandu bagi masyarakat yaitu pertumbuhan balita terpantau sehingga meningkatkan status kesehatan masyarakat (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Deteksi dini kasus gizi dapat dilakukan melalui penimbangan balita. Hal ini dimaksudkan apabila berat badan anak tidak naik, dapat segera dilakukan upaya pemulihan dan pencegahan, agar tidak menjadi gizi kurang atau gizi buruk.
Penanganan sesuai tata laksana kasus gizi akan mengurangi risiko kematian
sehingga angka kematian akibat gizi buruk dapat ditekan (Kementerian Kesehatan
RI, 2018). Cakupan penimbangan balita (D/S) adalah salah satu upaya penemuan
kasus gizi kurang atau gizi buruk. Kegiatan bulan timbang merupakan upaya
deteksi dini yang cukup efektif (Kementerian Kesehatan RI, 2007).
Penyebaran posyandu di Indonesia masih belum diiringi dengan kualitas pelayanan yang baik. Peran kader dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan.
Kehadiran petugas kesehatan di meja ke empat dalam penyuluhan posyandu belum maksimal karena kurangnya peran kader yang seharusnya bisa menangani pelayanan pada meja tersebut. Partisipasi kader yang bersifat sukarela sehingga tidak menjamin bahwa kader akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik.
Program kesehatan berlandaskan peran serta masyarakat termasuk Posyandu banyak mengalami kendala. Desa yang memiliki kepala desa yang selalu memberikan dukungan setiap pelaksanaan kegiatan posyandu juga menyebabkan kinerja dan kelestarian posyandu lebih baik dibandingkan dengan desa yang kepala desanya tidak memberikan dukungan (Profita, 2018).
Kader memiliki peran besar terhadap lancarnya kegiatan posyandu. Tugas
untuk perencanaan berbagai kegiatan yang ada pada posyandu, pelaksanaan,
evaluasi dan pengendalian kegiatan posyandu, serta pelaporan kegiatan posyandu
dilakukan oleh kader posyandu (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Peran kader
sebagai pemberi informasi kesehatan kepada masyarakat, sebagai penggerak
masyarakat untuk datang ke Posyandu dan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS) serta sebagai motivator yang tepat untuk membantu
mewujudkan kesehatan ibu dan anak (Kementerian Kesehatan RI, 2012a). Melihat
dari tugas kader posyandu tersebut sudah dapat disimpulkan bahwa posyandu
akan terlaksana dengan maksimal apabila kinerja kader posyandu juga maksimal.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018, persentase rata-rata balita umur 6-59 bulan yang ditimbang sebagai berikut:
Tabel 1.1 Persentase Rata-rata Balita Umur 6-59 bulan yang ditimbang pada Tahun 2018
No Provinsi Persentase (%) Peringkat
1 Bali 84,7 1
2 Jawa Timur 79,2 9
3 Kalimantan Tengah 32,5 34
Indonesia 68,3
Sumber: Kementerian Kesehatan, 2018
Tabel 1.1 memperlihatkan bahwa persentase rata-rata balita umur 6-59 bulan yang ditimbang tertinggi yaitu Provinsi Bali (84,7%), terendah Provinsi Kalimantan Tengah (32,5%), dan Provinsi Jawa Timur (79,2%) menduduki peringkat ke sembilan. Sedangkan persentase balita mengalami gizi buruk dan gizi kurang ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 1.2 Persentase Balita Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Tahun 2018
No Provinsi Persentase (%) Peringkat
1 Nusa Tenggara Timur 29,5 1
2 Jawa Timur 16,7 22
3 Kepulauan Riau 13,0 34
Indonesia 17,7
Sumber: Kementerian Kesehatan, 2018
Tabel 1.2 memperlihatkan bahwa persentase balita gizi buruk dan gizi kurang
tertinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur (29,5%) dan terendah Provinsi
Kepulauan Riau (13,0%), dan Provinsi Jawa Timur (16,7%). Sementara target
persentase balita gizi buruk dan gizi kurang 17,0%. (Kementerian Kesehatan RI,
2018).
Berdasarkan permasalahan gizi balita, maka usaha deteksi dini penting untuk dilakukan. Alat ukur yang digunakan antara lain dengan pengukuran status gizi melalui kegiatan Posyandu dengan Kartu Menuju Sehat (KMS). Pemantauan status gizi sebagai alat ukur dan deteksi dini untuk memantau tingkat perkembangan gizi balita sehingga didapatkan status gizi balita masuk kategori gizi lebih, gizi kurang, stunting, atau bahkan gizi buruk. Terdapat metode pemantauan status gizi, diantaranya menggunakan antropometri. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Ukuran tubuh seperti berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.
Pemantauan status gizi yang digunakan adalah baku antropometri menurut standar World Health Organization-National Center for Health Statistics.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Jawa Timur Tahun 2018 sebagai berikut:
Tabel 1.3 Cakupan Penimbangan Balita Umur 0-59 bulan pada Tahun 2018 No Kabupaten/Kota Persentase (%) Peringkat
1 Kabupaten Bojonegoro 89,7 1
2 Kabupaten Tulungagung 74,7 27
3 Kota Mojokerto 66,1 38
Jawa Timur 79,9
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2018
Tabel 1.3 memperlihatkan bahwa cakupan penimbangan balita umur 0-59
bulan yaitu tertinggi Kabupaten Bojonegoro (89,7%), terendah Kota Mojokerto
(66,1%), dan Kabupaten Tulungagung (74,7%) menduduki peringkat ke 27 dari
38 Kabupaten/Kota se Jawa Timur dengan target 80,0%.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Kabupaten Tulungagung sebagai berikut:
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, 2016-2018
Gambar 1.1 Cakupan Penimbangan (D/S) Kabupaten Tulungagung Tahun 2016 s.d Tahun 2018
Gambar 1.1 memperlihatkan bahwa cakupan penimbangan (D/S) di Kabupaten Tulungagung selama tiga tahun terakhir mengalami trend penurunan yaitu sebesar 80,4% (2016) menurun menjadi 78,5% (2017), dan 74,7% (2018) sedangkan target cakupan penimbangan (D/S) yaitu 80,0%. Hal ini berarti bahwa belum semua balita di Kabupaten Tulungagung datang berkunjung ke posyandu balita dan ditimbang secara rutin.
Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Tulungagung, jumlah Posyandu menurut puskesmas sebagai berikut:
Tabel 1.4 Jumlah Posyandu di Kabupaten Tulungagung pada Tahun 2018
No Puskesmas Strata Posyandu
Pratama Madya Purnama Mandiri Jumlah
1 Besuki 0 0 32 0 32
2 Besole 0 0 21 0 21
3 Bandung 0 5 56 1 62
4 Pakel 0 0 39 0 39
80,0
74,7 78,5
80,4
No Puskesmas Strata Posyandu
Pratama Madya Purnama Mandiri Jumlah
5 Bangunjaya 0 0 27 0 27
6 Campurdarat 0 0 47 1 48
7 Tanggunggunung 0 0 35 0 35
8 Kalidawir 0 3 44 0 47
9 Tunggangri 0 16 17 2 35
10 Pucanglaban 0 2 29 0 31
11 Rejotangan 0 8 32 1 41
12 Banjarejo 0 0 49 1 50
13 Ngunut 0 27 18 0 45
14 Balesono 0 0 40 0 40
15 Sumbergempol 0 0 39 0 39
16 Bendilwungu 0 0 34 0 34
17 Boyolangu 0 0 48 0 48
18 Beji 0 0 35 7 42
19 Tulungagung 0 27 18 0 45
20 Sembung 0 1 46 0 47
21 Kedungwaru 0 3 46 0 49
22 Simo 0 0 37 0 37
23 Ngantru 0 11 22 0 33
24 Pucung 0 9 15 1 25
25 Karangejo 0 0 25 0 25
26 Jeli 0 0 25 0 25
27 Kauman 0 0 58 1 59
28 Gondang 0 0 39 0 39
29 Tiudan 0 0 30 0 30
30 Pagerwojo 0 1 48 1 50
31 Sendang 0 3 30 0 33
32 Dono 0 10 17 0 27
Jumlah 0 126 1098 16 1240
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, 2018
Tabel 1.4 memperlihatkan bahwa posyandu yang ada di 32 puskesmas
Kabupaten Tulungagung sebanyak 1.240 posyandu, terdiri dari posyandu mandiri
sebanyak 16 posyandu (1,3%), posyandu purnama sebanyak 1.098 (88,6%), dan
posyandu madya sebanyak 126 (10,1%).
Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Tulungagung Tahun 2018 sebagai berikut:
Tabel 1.5 Data SKDN menurut puskesmas di Kabupaten Tulungagung Tahun 2018
NO PUSKESMAS DATA SKDN %
S K D N D/S N/D
1 Karangrejo 1.601 1.506 1.473 872 92,0 59,1 2 Tulungagung 2.416 2.400 2.052 1.533 84,9 74,7 3 Pucanglaban 1.755 1.658 1.481 839 84,4 56,6 4 Kauman 3.638 3.185 3.006 2.251 82,6 74,9 5 Pagerwojo 2.175 1.887 1.757 967 80,7 55,0 6 Bandung 3.296 2.836 2.629 1.501 79,7 57,1 7 Sumbergempol 2.684 2.577 2.121 1.184 79,0 55,8
8 Pakel 2.165 1.884 1.711 936 79,0 54,6
9 Beji 3.020 2.642 2.359 1.845 78,1 78,2
10 Bangunjaya 1.552 1.427 1.197 649 77,1 54,2 11 Bendilwungu 2.289 2.166 1.763 1.294 77,0 73,3 12 Tunggangri 2.271 2.054 1.739 1.027 76,5 59,0
13 Tiudan 2.006 1.775 1.533 933 76,4 60,8
14 Sendang 1.886 1.674 1.437 724 76,1 50,3
15 Campurdarat 3.997 3.323 3.020 1.907 75,5 63,1 16 Banjarejo 2.981 2.665 2.248 1.352 75,4 60,1
17 Besuki 1.435 1.282 1.080 599 75,2 55,4
18 Kalidawir 2.878 2.277 2.154 1.772 74,8 82,2
19 Simo 2.599 2.247 1.931 1.160 74,2 60,0
20 Gondang 2.117 1.777 1.564 862 73,8 55,1
21 Besole 1.211 1.144 888 452 73,2 50,8
22 Boyolangu 2.677 2.409 1.956 1.010 73,0 51,6 23 Rejotangan 2.589 2.135 1.890 1.215 73,0 64,2
24 Pucung 1.723 1.607 1.229 704 71,3 57,2
25 Tanggunggunung 1.767 1.632 1.260 514 71,2 40,8
26 Ngantru 2.250 2.039 1.597 947 71,0 59,3
27 Dono 1.326 1.124 930 595 70,1 63,9
28 Jeli 1.461 1.268 1.020 567 69,8 55,6
29 Kedungwaru 3.725 3.028 2.493 1.211 66,9 48,5
30 Sembung 2.228 2.253 1.480 625 66,4 42,2
31 Balesono 2.425 2.111 1.556 688 64,1 44,2
32 Ngunut 3.302 2.751 1.828 867 55,3 47,4
Jumlah 75.445 66.739 56.379 33.600 74,7 59,6
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, 2018