INISIASI 3
ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
A. Etika Bisnis
Etika adalah kepercayaan tentang apa yang benar dan salah atau baik dan buruk dalam tindakan yang mempengaruhi yang lain. Sedangkan perilaku etis adalah tingkah laku yang disesuaikan terhadap norma sosial yang diterima secara umum berkenaan dengan tindakan yang berguna dan berbahaya.
Ada model 3 langkah sederhana untuk melakukan penilaian etika untuk situasi yang muncul selama aktivitas bisnis, yakni:
a. mengumpulkan informasi relevan yang sesungguhnya;
b. menganalisis fakta-fakta untuk menetapkan nilai moral yang paling sesuai;
c. membuat keputusan etik berdasarkan pada kebenaran atau kesalahan dari kebijakan atau aktivitas yang dimaksudkan.
Tangung jawab sosial merupakan penerimaan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan, dan kesejahteraan sosial sebagai nilai sepadan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan.
Tanggung jawab sosial perusahaan terhadap stakeholder, yakni meliputi tanggung jawab kepada konsumen, karyawan, investor, pemasok, dan komunitas lokal di mana bisnis berada. Empat area tanggung jawab organisasi terdiri tanggung jawab ke depan terhadap lingkungannya, konsumennya, karyawannya, dan investornya.
Tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) kini telah menjadi isu penting dalam dunia bisnis khususnya berkaitan dengan dampak menurunnya kondisi lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut mengemuka sebagai reaksi dari banyak pihak terhadap menurunnya kualitas kehidupan baik fisik, psikis, sosial, budaya, maupun alam sebagai akibat dari pengelolaan sumber-sumber produksi yang tidak benar. Para pengelola bisnis lebih mengutamakan keuntungan finansial sebesar-besarnya daripada membangun kepentingan dan keberlanjutan pembangunan.
konglomerat pendiri perusahaan U.S Steel yang pada tahun 1889 menerbitkan buku The Gospel of Wealth yang secara garis besar mengemukakan pernyataan klasik mengenai tanggung jawab social perusahaan yang didasarkan pada dua prinsip yaitu amal dan mengurus harta orang lain. Keduanya bersifat paternalistik yaitu memandang bahwa para pebisnis mempunyai peran sebagai orang tua terhadap karyawan dan pelanggannya.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka konsep CSR sendiri juga mengalami berbagai perkembangan pemahaman salah satunya ada yang mendefenisikan CSR sebagai kewajiban para pelaku bisnis untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif bisnis bagi masyarakat, namun ada juga di sebagian kalangan masyarakat yang mendefinisikan atau memahami CSR secara sempit yaitu hanya sebagai sebuah kedermawanan.
Globalisasi adalah fenomena integrasi dari berbagai aspek kehidupan ketika kepentingan individu, kelompok, bangsa dan negara berada dibawah kepentingan dunia secara menyeluruh.
Para pendukung globalisasi menganggap bahwa globalisasi dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Tahap memuncaknya globlasisasi dirasakan pada tahun 1970-1n yang ditandai dnegan menyebarnya mata rantai produksi sejumlah perusahaan besar dan ternama masuk keseluruh penjuru dunia dengan menerobos batas-batas geografis, psikografis, demografis, dan kelembagaan yang mampu merubah tatanan politik, kekuasaan dan mentalitas masyarakat dunia khususnya di Negara-negara sedang berkembang.
Globalisasi memberikan efek bagi peningkatan peredaran kapital, negosiasi kelas elit, transformasi ilmu, pengetahuan dan teknologi serta munculnya aliansi strategis yang memungkinkan produk berkualitas dan berstandar global dapat di produksi dan di pasarkan dimana saja, oleh siapa saja dan kapan saja. Seperti contoh perusahaan-perusahaan seperti
Sony, Toshiba, Panasonic, Siemens, Motorola, Nokia, Toyota, Nissan, Ford, BMW, Mercedes, Hyundai, Nike, Adidas, Fila, Marlboro, McDonald, Kentucky Fried Chicken dan sebagainya.
memicu persaingan yang mendorong para pebisnis local untuk memiliki kreativitas dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Dampak lain dari globlasasi adalah adanya restrukturisasi proses produksi dimana untuk meningkatkan kualitas maka perusahaan lebih cenderung menggunakan teknologi modern yang lebih efisien. Dampak sosialnya adalah terjadinya pengurangan tenaga kerja yang menyebabkan pengangguran secara luas. Sedangkan dampak industrinya adalaha terciptanya prinsip siapa yang kuat menjadi pemenang dan yang berhak untuk melakukan apa saja. Siapa yang kuat akan semakin kuat dan sebaliknya siapa yang tertinggal akan semakin tertinggal.
Globalisasi merupakan fenomena yang menakjubkan terhadap perubahan dalam banyak aspek kehidupan. Kini, masyarakat menjadi lebih teliti, kritis, well-informated serta banyak menuntut secara rinci dalam mengkonsumsi produk maupun jasa yang dikehendaki. Kelompok-kelompok menengah keatas misalnya akan memilih produk yang mengandung unsur keberlanjutan seperti penggunaan bahan-bahan organik. Produk apapun, kini harus dibuat dengan mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan.
Globalisasi di satu sisi memang meningkatkan kualitas hidup tapi di sisi lain globalisasi meluruhkan nilai-nilai kebersamaan dan hilangnya keberpihakan terhadap kelompok masyarakat kecil dan menyebabkan ketergantungan bagi mereka yang tidak mampu untuk masuk ke dunia kemajuan teknologi yang berakibat tumbuh suburnya kejahatan dalam berbagai kemasan, seperti bantuan pinjaman lunak, bantuan teknologi, hibah ataupun pinjaman mengikat yang semuanya membuat pihak negara-negara berkembang ataupun negara tertinggal akan selalu terikat oleh sindikasi yang dipelopori oleh kaum kapitalis. Dengan CSR (corporate social responsibility) di harapkan dapat meredam ataupun menurunkan dampak negatif dari globalisasi.
B. Pengertian Corporate Social Responsibility
masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability.
World Business Council for sustainable Developmnet (WBCSD) (2004) secara khusus mengarahkan tanggung jawab social lebih di fokuskan kepada pembangunan ekonomi. WBCSD menggambarkan tanggung jawab sosial sebagai business commitment to contribute to sustainable economic development, working with employees, their families, the local community and society at large to inprove their quality of live. Definisi tersebut menunjukkan bahwa setiap perusahaan harus bertanggung jawab secara ekonomi terhadap karyawan dan keluargany, masyarakat sekitar lokasi perusahaan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup mereka (Poerwanto,2010).
Pada tahun 2005, pakar pemasaran Philip Kotler dan Nency Lee mendefinisikan tanggung jawab social perusahaan sebagai komitmen untuk memperbaiki kesejahteraan komunitas melalui praktek-praktek kebijakan bisnis dan dengan keterlibatan dari sumber-sumber perusahaan. Menurut mereka elemen kunci dari definisi tersebut adalah kebijakan. Sedangkan istilah kesejahteraan komunitas termasuk didalamnya adalah kondisi kehidupan manusia dan juga isu-isu lingkungan.
Sedangkan C.Ferrel, George Hirt, dan Linda Ferrel (2006) mendefinisikan tanggung jawab sosial sebagai kewajiban para pelaku bisnis untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif pada masyarakat.
Tantangan dan perubahan lingkungan menciptakan peluang baru dan memaksa bagi setiap perusahaan untuk melaksanakan apa yang disebut dengan tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility). Nampaknya perusahaan tidak bisa lagi hanya menerapkan prinsip “the business of bussines is bussines” tetapi, perusahaan hendaknya bertanggungjawab terhadap masalah-masalah sosial disekitarnya termasuk soal pengangguran, kemiskinan, perempuan termarginalkan, gelandangan, pengemis, anak jalanan, gizi buruk, kelaparan, pendidikan untuk semua, kerusakan lingkungan, bencana alam dll.
untuk menggaet simpati masyarakat sekitar demi keberlangsungan usaha. Sudah semestinya CSR dilaksanakan atas dasar kesukarelaan (voluntary), bukan didasarkan atas kewajiban yang bersifat mandatary dalam makna liability. Implementasi CSR yang sesungguhnya berkaitan erat dengan United Millennium Declaration yang berupa Millennium Development Goals (MDGs) yang disepakati oleh 189 negara anggota PBB. Bagaimana caranya CSR yang menjadi kewajiban bagi perusahaan didorong untuk mengupayakan terhadap penghapusan tingkat kemiskinan dan kelaparan, pencapaian pendidikan dasar secara universal, dapat mengembangkan kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu melakukan perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya yang akhirnya mampu menjamin berlanjutnya pembangunan lingkungan serta dapat mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat, ini akan sangat tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSR meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty). Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.
C. Pendekatan Pembentukan Tanggung jawab sosial
tindakan dan kebijakan adalah moral para pengelola, karena jiwa dari organisasi adalah para pengelola yang bisa pemilik, unsur pimpinan serta seluruh jajaran karyawan. Tanggung jawab sosial merupakan respons, kewajiban, kontrol, wewenang, kepedulian dan tugas dari perusahaan terhadap lingkungan baik fisik maupun sosial budaya.
Etika itu sendiri dipahami sebagai aturan tentang prinsip – prinsip dan nilai – nilai moral yang mengarahkan perilaku seseorang atau kelompok masyarakat mengenai baik atau buruk. Etika berkaitan dengan nilai – nilai internal yang merupakan bagian dari budaya perusahaan yang mengarahkan perilaku organisasi dalam hubungannya dengan tanggung jawab sosialnya-moral organisasi.
Secara Konseptual terdapat tiga pendekatan dalam pembentukan tanggung jawab sosial :
1. Pendekatan moral, yaitu kebijakan atau tindakan yang didasarkan pada prinsip kesantunan dan nilai – nilai positif yang berlaku, dengan pengertian bahwa apa yang dilakukan tidak melanggar atau merugikan pihak – pihak lain.
2. Pendekatan kepentingan bersama, menyatakan bahwa kebijakan – kebijakan moral harus didasarkan pada standar kebersamaan, kewajaran, keterbukaan dan kebebasan.
3. Pendekatan manfaat adalah konsep tanggung jawab sosial yang didasarkan pada nilai – nilai bahwa apa yang dilakukan oleh organisasi harus dapat menghasilkan manfaat besar bagi pihak – pihak berkepentingan secara adil.
D. Area Tanggung Jawab Sosial
Pada saat mendefinisikan permasalahan atau rasa tanggung jawab sosial, suatu perusahaan akan menghadapi 4 hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu tanggung jawab terhadap lingkungannya, konsumennya, karyawannya dan investornya.
a. Tanggung jawab ke depan terhadap lingkungannya
b. Tanggung jawab ke depan terhadap konsumennya
Dengan menyediakan produk yang berkualitas dan dengan harga yang sesuai. Konsumen memiliki hak untuk memperoleh produk yang aman, memperoleh informasi mengenai produk yang digunakan, hak untuk didengarkan dan hak untuk memilih apa yang hendak dibeli. Tanggung jawab perusahaan terhadap konsumennya juga termasuk dengan memperhatikan etika dalam beriklan, antara lain dengan tidak membuat janji – janji tentang sebuah produk yang tidak ditepati oleh perusahaan.
c. Tanggung jawab ke depan terhadap karyawannya
Dengan melakukan berbagai aktivitas, seperti rekruitmen, pelatihan, promosi dan kompensasi sesuai dengan hak – hak yang harus diperoleh karyawan
d. Tanggung jawab ke depan terhadap investornya
Misal, dengan memberikan laporan keuangan dengan jujur dan sesuai keadaan, tidak memberikan informasi kepada investor – investor tertentu saja, dan memberikan laporan keuangan sesuai dengan aturan dalam laporan keuangan yang berlaku.
E. Pendekatan – pendekatan terhadap tanggung jawab sosial
Terdapat 4 tahapan yang perusahaan dapat ambil dalam memenuhi kewajiban tanggung jawab sosialnya dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi
a. Obstructive stance
Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial, meliputi melakukan seminimal mungkin dan mungkin meliputi usaha untuk mengingkari atau menutupi pelanggaran
b. Defensive stance
Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan memenuhi hanya kebutuhan legal minimum dalam komitmenya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya
c. Accommodative stance
Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan, jika secara khusus diminta, melebihi kebutuhan legal minimum dalam komitmennya terhadapa kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya
Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan secara aktif mencari peluang untuk berkontribusi untuk kebaikan kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.
Gambar
Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial
Level Terendah Level Tertinggi
Tanggung Jawab Sosial Tanggung Jawab Sosial
Proactive stance Obstructive