• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bunga Rampai Orasi APU Pustekolah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Bunga Rampai Orasi APU Pustekolah"

Copied!
299
0
0

Teks penuh

(1)

ISBN 978-979-3132-44-0

Penyusun:

Sihati Suprapti

Barly

Paimin Sukartana

Jamal Balfas

Sona Suhartana

▸ Baca selengkapnya: contoh orasi singkat tentang budaya

(2)

HIMPUNAN BUNGA RAMPAI ORASI ILMIAH AHLI PENELITI UTAMA

PUSLITBANG KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN Bogor, 3 Desember 2012

ISBN : 978-979-3132-44-0

Editor : Prof . Dr. Ir. H.R. Sudradjat, M.Sc. Prof . Ir. Dulsalam, M.M.

Prof . Dr. Gustan Pari, M.Si. Prof . Dr. Drs. Adi Santoso, M.Si. Sekretariat : Ir. Syarif Hidayat, M.Sc.

Ayit Tau¿ k Hidayat, S.Hut.T, M.Sc. Drs. Juli Jajuli

Deden Nurhayadi, S.Hut. Dede Rustandi, S.Kom. Sophia Pujiastuti

Dipublikasikan oleh:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Jln. Gunung Batu No. 5 Bogor 16610

Telp. 0251 - 8633 378, Fax. 0251 - 8633413 Website : www.pustekolah.org

E-mail : - [email protected] - [email protected] c 2013 Pustekolah

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas karunianya sehingga rangkaian kegiatan Pertemuan Ilmiah Nasional berupa Orasi Ahli Peneliti Utama (APU) lingkup Pustekolah yang dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2012 di Bogor hingga tersusunnya buku Himpunan Orasi APU ini dapat direalisasikan.

Kegiatan seperti ini merupakan wahana diseminasi/penyebarluasan IPTEK yang telah dicapai oleh Peneliti Pustekolah kepada pengguna dan masyarakat luas. Peneliti yang menyampaikan orasi adalah dikhususkan pada peneliti yang telah mencapai jenjang fungsional peneliti tertinggi (Gol. IV/e), akan tetapi belum terkena kewajiban menyampaikan Orasi.

Sebagaimana amanat Kepala Badan Litbang Kehutanan pada acara tersebut, bahwa acara ini merupakan yang pertama di Badan Litbang Kehutanan sebagai wujud memberikan penghargaan dan fasilitasi kepada peneliti yang telah mencapai jenjang fungsional tertinggi. Kegiatan seperti ini perlu ditiru dan terus dilangsungkan oleh Puslit/UPT Balai Litbang lainnya.

Buku ini merupakan kumpulan orasi APU pada acara tersebut, diharapkan dengan diterbitkannya buku ini dapat menyediakan dan menambah khasanah informasi IPTEK hasil litbang yang ditekuni oleh para pakar Pustekolah dari mulai jenjang peneliti terendah hingga mencapai jabatan fungsional puncak. Selain sebagai wahana monumental bagi yang bersangkutan dalam menyampaikan hasil-hasil penelitiannya secara umum kepada khalayak luas.

Kepada semua pihak yang telah membantu kegiatan ini hingga terbitnya buku ini diucapkan terima kasih yang sebesar besarnya, dan semoga buku ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2013

Kepala Pusat,

(4)
(5)

SAMBUTAN

KEPALA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN

PADA ORASI AHLI PENELITI UTAMA

Bogor , 3 Desember 2012

Yang terhormat:

- Bapak Kepala Badan Litbang Kehutanan,

- Pimpinan Perusahan/Asosiasi/Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Perguruan Tinggi, - Pimpinan instansi kehutanan pusat dan daerah,

- Profesor Riset, pejabat fungsional peneliti, akademisi, widyaiswara maupun penyuluh kehutanan, dan

- Para hadirin undangan sekalian.

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Pada kesempatan ini marilah kita awali dengan memanjatkan syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan kesempatan kepada kita sekalian dapat berkumpul dalam rangka pertemuan ilmiah nasional yaitu orasi delapan orang peneliti Pustekolah yang telah mencapai jenjang fungsional peneliti tertingggi Ahli Peneliti Utama (APU).

Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Badan Litbang Kehutanan dan undangan sekalian, karena disela-sela kesibukannya menyempatkan hadir pada acara ini.

Saudara sekalian, dalam dua hari kedepan ditempat ini kita mengadakan forum dalam rangka diseminasi dan penyebarluasan IPTEK hasil litbang lingkup Pustekolah serta menjaring feed-back bagi peningkatan kegiatan litbang untuk masa yang akan datang. Hari ini berupa acara orasi APU, sedangkan besok adalah ekspose hasil penelitian Pustekolah. Perlu diketahui pula bahwa seminggu yang lalu Pustekolah telah mengadakan acara serupa berupa promosi 4 paten invensi hasil litbang yang telah mendapatkan serti¿ kat paten dari Kemeterian Hukum dan HAM dengan inventornya 4 orang peneliti Pustekolah.

(6)

Disisi lain, dibalik semakin ketatnya peraturan LIPI untuk meningkatkan kualitas peneliti dalam mencapai jenjang fungsional. Terdapat ketentuan bahwa pejabat peneliti setiap akan naik jabatan fungsionalnya harus melakukan presentasi ilmiah. Hal itu peraturannya baru berlaku beberapa tahun yang lalu, dimana jabatan peneliti muda akan naik ke peneliti utama diwajibkan menyampaikan orasi, akan tetapi tidak ada keharusan bagi para peneliti yang telah lebih dahulu mencapai jenjang APU, terkecuali bagi peneliti yang akan dikukuhkan menjadi profesor riset. Sehingga acara Orasi APU ini dapat dikatakan sesuatu yang baru yang digagas oleh Pustekolah, karena secara kebetulan ke-delapan orang peneliti tersebut belum dikenakan kewajiban menyampaikan orasi.

Para peneliti yang akan menyampaikan orasi kali ini adalah insan-insan spesial dan khusus, dimana akumulasi ilmu pengetahuannya, pengalamannya sudah dikumpulkan puluhan tahun. Mestinya perlu dibuat sistem sedemikian rupa supaya begitu peneliti mencapai jenjang APU terbuka tantangan lebih besar dan luas untuk mengekpose diri keluar menyampaikan ide-idenya kepada masyarakat luas.

Oleh karena itu kami harapkan tanggapan dari hadirin sekalian untuk menyampaikan ekspektasinya, harapan ataupun kekecewaannya, kritik dan sarannya, kepada para peneliti utama kami yang akan menyampaikan orasi, yaitu:

1. Dra. Sihati Suprapti, akan menyampaikan topik Pengelolaan Jamur Perusak Kayu untuk Mendukung Pelestarian dan Pemanfaatan Sumber Daya Hutan.

2. Barly, B.Sc, SH, M.Pd, akan menyampaikan topik “Peran Pengawetan Kayu, Status Penelitian dan Penerapannya dalam Praktek”.

3. Drs. Paimin Sukartana, akan menyampaikan topik “Arti Penting Pemahaman Perilaku Serangga Perusak Kayu untuk Pengendaliannya yang Lebih Ramah Lingkungan”.

4. Ir. Jamal Balfas, M.Sc, akan menyampaikan topik “Pemanfaatan Limbah Batang Sawit untuk Produk Solid dan Panel Kayu Lapis”.

5. Ir. Sona Suhartana, akan menyampaikan topik “Pemanenan Hutan Ramah Lingkungan Menjamin Produksi Kayu yang Berkelanjutan”,

6. Ir. Efrida Basri, M.Sc, akan menyampaikan topik “Pengeringan Kayu di Indonesia, Status Penelitian dan Aplikasinya dalam Praktek”,

7. Drs. M. Muslich, M.Sc, akan menyampaikan topik “Permasalahan dan Solusi Penggerek Kayu di Laut”.

(7)

Akhirnya kepada seluruh peserta, kami ucapkan selamat mengikuti Orasi APU, dan semoga acara ini dapat bermanfaat.

Sekian dan terima kasih. Selamat Pagi,

Bogor, Desember 2012

Kepala Pusat,

Dr. Ir. I.B. Putera Parthama, M.Sc.

(8)
(9)

SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG KEHUTANAN PADA ORASI AHLI PENELITI UTAMA (APU)

PUSLITBANG KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN BOGOR, 3 DESEMBER 2012

Assalamu’alaikum wr. wb. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Bapak/Ibu yang kami hormati;

- Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, atau yang mewakili; - Kepala Pusat Bindiklat LIPI, atau yang mewakili;

- Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan, atau yang mewaklli; - Dekan Fakultas Kehutanan PTN/PTS, atau yang mewakili; - Kepala Dinas yang Membidangi Kehutanan atau yang mewakili; - Direktur/Pimpinan BUMN/BUMS bidang Kehutanan/Perkayuan; - Direktur/Kepala Pusat/Kepala UPT lingkup Kementerian Kehutanan; - Ketua/Pengurus Asosiasi Perusahaan/Profesi bidang Kehutanan; - Ketua Lembaga Litbang atau yang mewakili;

- Para pejabat fungsional peneliti, dosen, widyaiswara, penyuluh kehutanan serta hadirin yang kami hormati.

Pertama-tama, marilah kita senantiasa panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatNya yang diberikan kepada kita semua, karena pada hari ini kita dapat berkumpul bersilaturahmi dalam rangka pertemuan Ilmiah nasional berupa forum orasi ilmiah yang akan disampaikan oleh delapan orang peneliti Pusat Penelitian dan Keteknikan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) yang teIah mencapai jenjang jabatan fungsional tertinggi Ahli Peneliti Utama (APU).

Kami ucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu sekalian, semoga apa yang kita lakukan hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Acara hari ini sebagaimana yang disampaikan Kepala Pustekolah merupakan rangkaian dua acara yang diselenggarakan selama dua hari. Hari pertama tentunya kita akan mendengarkan orasi APU dan pada hari ke-dua berupa “Ekspose Hasil Peneiltian”.

(10)

mengetahui apa yang sudah kita kerjakan dan capai, serta mengetahui bahwa kita mempunyai hal-hal yang harus dikerjakan untuk tiap-tiap bidang yang belum sempurna.

Hadirin sekalian, mungkin sudah banyak dibahas tapi perlu sekali lagi saya sampaikan, bahwa kita banyak menghadapi berbagai macam tantangan dan masalah yang harus dijawab. Masalah utama yang kita hadapi saat ini adalah bahwa nampaknya suka tidak suka atau setuju tidak setuju, kita akan menghadapi banyak tantangan di dalam persoalan pengukuhan hutan kita. Dinamika kehidupan dan pembangunan semakin cepat dan kompleks, serta semakin besar kita tidak bisa mempertahankan hutan kita seluas yang ada sekarang. Karena pengalokasian kawasan hutan yang selama ini kita terima adalah buah dari pengaruh hasil penataagunaan kawasan hutan tahun 1980an. Pada saat itu data-data masih belum sempurna dan belum menggunakan teknologi Sistem Informasi Geogra¿ s dan sebagainya. Apa yang kita petakan adalah sifatnya makro. Apabila kita kaji dengan ilmu pengetahuan dan teknologi maka akan sangat mungkin pengalokasian kawasan akan berubah, dan perubahan itu lebih banyak akan terjadi pada kawasan hutan produksi. Karena hampir tidak mungkin kita merencanakan pemanfaatan kawasan hutan lindung yang mempunyai hajat hidup orang banyak dan sebagai kawasan konservasi. Oleh karena itu hasil peneiltian di bidang keteknikan dan pengolahan hasil hutan pada hutan produksi tentunya sangat relevan.

Kedua tentunya kita akan semakin dihadapkan pada kendala bahan baku industri hasil hutan yang semakin terbatas. Konsekuensinya akan membawa kita harus semakin irit, semakin hemat, dan semakin perlu teknologi pengawetan hasil hutan. Dengan demikian, maka merupakan tantangan berat kedepan untuk para peneliti. Oleh karena itu even Orasi Ilmiah APU pada masing-masing bidang ilmu yang ditekuninya pada hari ini menjadi sangat penting. Hadirin yang kami horrnati.

Sebagaimana disampaikan Kepala Pustekotah, bahwa peneliti yang akan menyampaikan orasi ini merupakan peneliti senior yang akumulasi pengalaman penetitian di bidangnya masing-masing cukup lama, dengan telah melampaui berbagai ritme dinamika profesionalismenya sehingga berhasil mencapai derajat peneliti utama. Untuk itu mereka kita beri kesempatan lebih luas untuk menyampaikan keahlian dan hasil karyanya.

Saya ucapkan selamat atas prestasi yang dicapai Bapak/Ibu Peneliti Pustekolah yang telah mencapai derajat jabatan fungsional peneliti tertinggi, dan penghargaan yang tinggi atas dedikasinya terhadap penelitian selama ini, yaitu;

1. Sdr. Dra Sihati Suprapti, yang selama ini banyak menekuni bidang “Pengeloaan Jamur Perusak Kayu”. Keahliannya ini merupakan bidang yang sangat penting terkait dengan upaya teknologi pengawetan hasil hutan.

2. Sdr. Barly, B.Sc, yang menekuni masalah “Pengawetan Kayu”, yang kebetulan beliau ini pada tahun 2013 memasuki masa purna tugas.

(11)

5. Sdr. Ir. Jamal Balfas, M.Sc, yang menekuni teknologi bidang “Panel Kayu” dan sumber-sumber yang Inkonvensional, salah satunya berupa teknologi pembuatan panel kayu dari batang sawit.

6. Sdr. Ir. Sona Suhartana, yang menekuni bidang “Pemanenan Kayu Ramah Lingkungan”; 7. Sdr. Ir. Efrida Basri, M.Sc, atas ketekunannya di bidang “Pengeringan Kayu?,

8. Sdr. Ir. M. Muslich, M.Sc, atas ketekunannya mendalami pengawetan kayu dan hama/ penyakit kayu, terutama penggerek kayu di laut (marine boorer).

Hadirin yang saya hormati, jabatan APU adalah suatu prestasi sekaligus komitmen untuk lebih mengembangkan apa yang selama ini kita lakukan di dalam sistem kehutanan maupun sistem pembangunan nasional dan sistem kedepannya. Sebagai contoh jika kita menekuni bidang pengawetan kayu sehingga kita mendapatkan gelar profesor riset ataupun APU. Dengan begitu kita akan menguasai lebih dalam aspeknya dari A sampai Z. Lebih lanjut apakah itu artinya bagi pembangunan kehutanan dan bagi pembangunan nasional. Sehingga APU betul-betul menguasai bidang yang ditekuninya. Sehingga ketika mencapai suatu jabatan tertinggi ini mempunyai konsekuensi keahlian tertinggi yang memang diperlukan masyarakat dan digunakan di dalam pembangunan nasional.

Hadirin sekalian, kesempatan ini merupakan suatu hal yang baik untuk kita diskusikan, sehingga masyarakat tahu siapa ahli peneliti kita? dimana tempat bertanya mengenai aspek dalam penelitian kehutanan kita, siapa ahli eksploitasi hutan kita? siapa ahli hama kayu? dan siapa ahli dalam bidang-bidang lainnya?.

Saya harapkan APU bisa lebih berperan di masyarakat, dan tentunya jenjang APU ini bukanlah sesuatu yang akhir dan masa pengabdian ini, akan tetapi menjadi awal bagi pengabdian yang lebih luas.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas adanya acara ini. Semoga apa yang kita kerjakan hari ini merupakan amal ibadah kita yang diridhoi Allah SWT.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bogor, 3 Desember 2012

Kepala Badan Litbang Kehutanan

(12)
(13)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PEMGEMBANGAN

KEHUTANAN ... iii

DAFTAR ISI …... xi

DAFTAR LAMPIRAN …... xii

MAKALAH ORASI

1. Pengelolaan Jamur Perusak Kayu untuk Mendukung Pelestarian dan Pemanfaatan Sumber Daya Hutan

Sihati Suprapti ... 1 2. Peran Pengawetan Kayu Status Penelitian dan Penerapannya dalam Praktek

Barly ... 45 3. Arti Penting Pemahaman Perilaku Serangga Perusak Kayu untuk Pengendaliannya

yang Lebih Ramah Lingkungan.

Paimin Sukartana ... 69 4. Pemanfaatan Limbah Batang Sawit untuk Produk Solid dan Panel Kayu Lapis

Jamal Balfas ... 105 5. Pemanenan Hutan Ramah Lingkungan Menjamin Produksi Kayu yang

Berkelanjutan

Sona Suhartana ... 123 6. Pengeringan Kayu Di Indonesia, Status Penelitian dan Aplikasinya dalam Praktek

Efrida Basri ... 157 7. Permasalahan dan Solusi Penggerek Kayu di Laut”

M. Muslich ... 183 8. Teknologi Pengolahan Bahan Berserat Ligno-selulosa Ramah Lingkungan

Menjadi Pulp dan Produk Turunannya

Han Roliadi ... 211

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keputusan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan

Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan ... 261

Lampiran 2. Jadwal Acara Orasi Ahli Peneliti Utama (APU) ... 264

Lampiran 3. Tanggapan/ Pembahasan ... 265

(15)

ORASI ILMIAH AHLI PENELITI UTAMA

(APU)

PENGELOLAAN JAMUR PERUSAK KAYU UNTUK

MENDUKUNG PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN

SUMBER DAYA HUTAN

Oleh:

Dra. Sihati Suprapti

KEMENTERIAN KEHUTANAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN

(16)
(17)

PROFIL

Sihati Suprapti, dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 9 September 1954 adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak Prapto Suwito dengan Ibu Suprapti. Menikah dengan Drs. Djarwanto MSi, pada tanggal 6 April 1983. Pendidikan mulai SD Negeri Grogolan di Sleman tamat tahun 1966, SMP Negeri Bogem di Sleman tamat tahun 1969, SMA Negeri II IKIP di Yogyakarta tamat tahun 1972, dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta tamat tahun 1978.

Pendidikan non formal yang diikuti yaitu Penataran Statistika dan Perancangan Percobaan di Jakarta tahun 1982, dan Training Forestry and Forest Products Research di Jepang tahun 1985.

Mulai bekerja sebagai pegawai bulanan proyek pada Lembaga Penelitian Hasil Hutan pada bulan Pebruari-Nopember 1979, calon pegawai negeri sipil pada bulan Desember 1979, pegawai negeri sipil (Penata Muda/IIIa) pada tahun 1981, dan kemudian Pembina Utama/IVe pada tahun 2003. Jabatan fungsional peneliti dimulai staf peneliti pada Lembaga Penelitian Hasil Hutan tahun 1979-1985, Asisten Peneliti Madya tahun 1985, Ajun Peneliti Madya tahun 1988, Peneliti Muda tahun 1989, Peneliti Madya tahun 1992, Ahli Peneliti Muda tahun 1995, Ahli Peneliti Madya tahun 1999 dan Ahli Peneliti Utama tahun 2001.

Bidang penelitian yang ditekuni adalah Pengolahan Hasil Hutan terutama biodeteriorasi hasil hutan. Selain sebagai peneliti juga diminta sebagai pengajar pada kursus/pelatihan dan pembimbing mahasiswa di FMIPA Universitas Indonesia, Fakultas Kehutanan dan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian Universitas Djuanda, Bogor dan FKIP Universitas Pakuan, Bogor.

Kegiatan ilmiah dilakukan untuk menambah wawasan penelitian. Mengikuti beberapa seminar dan pertemuan ilmiah nasional maupun internasional baik sebagai pembicara ataupun peserta. Sampai saat ini karya tulis ilmiah yang ditulis sendiri maupun bersama peneliti lain berjumlah 130 buah.

Keanggotaan profesi ilmiah. Sebagai anggota Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, Perhimpunan Biologi Indonesia, Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia, Perhimpunan Entomologi Indonesia, dan Himpunan Perlindungan Tanaman Indonesia.

(18)

PRAKATA

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakattuh,

Yang terhormat Bapak/Ibu,

Kepala Badan Litbang Kehutanan, Kepala Pusat Lingkup Badan Litbang Kehutanan, Rekan-rekan peneliti dan pejabat fungsional lingkup Kementerian Kehutanan, Para undangan dan hadirin yang berbahagia,

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat hadir dalam acara orasi ilmiah Ahli Peneliti Utama lingkup Pustekolah. Suatu kehormatan bagi saya untuk tampil di hadapan hadirin yang mulia, mempresentasikan tentang jasad renik ciptaan Allah, yaitu jamur, yang merupakan salah satu sumberdaya hutan yang berukuran sangat kecil sehingga sering tidak diperhatikan. Allah menciptakan makhluk pasti memiliki manfaat bagi kehidupan. Oleh karena itu, manusia berkewajiban mencari atau meneliti kegunaan mikroba/jasad renik tersebut. Jamur memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi ini. Jamur memberi manfaat bagi kehidupan manusia antara lain sebagai perombak utama limbah lignoselulosa, dan sumber pangan.

(19)

PENGELOLAAN JAMUR PERUSAK KAYU UNTUK MENDUKUNG PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA HUTAN

I. PENDAHULUAN

Para hadirin yang saya hormati,

Jamur atau supa atau cendawan atau fungi perusak kayu dapat dikelompokkan menjadi: jamur pelapuk yaitu jamur pelapuk putih (white rot fungi), jamur pelapuk cokelat (brown rot fungi) dan jamur pelunak (soft rot fungi), dan jamur pewarna antara lain jamur biru (blue stain) dan jamur pewarna permukaan atau kapang (mold). Serangan jamur tersebut dapat terjadi pada kayu, rotan, bambu dan biji-bijian yang masih segar/basah sampai yang sudah kering. Hampir semua jenis kayu, rotan dan bambu dapat terserang jamur baik berupa bahan baku maupun barang jadi yang terpasang. Serangan jamur tersebut dapat menurunkan kekuatan dan atau kualitasnya. Penurunan kualitasnya secara umum ditandai oleh cacat genetis, ¿ sis, mekanis dan biologis. Cacat biologis dipandang sebagai faktor yang paling menentukan karena meninggalkan bekas serangan, merusak struktur dan kekuatannya. Namun di balik itu terdapat juga jamur yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan, antara lain sebagai pangan fungsional, bioaktivator dalam pembuatan kompos, untuk proses biopulping, biobleaching, dan bioremediasi lingkungan.

II. JAMUR PERUSAK KAYU

Hadirin yang saya muliakan,

A. Jamur Pewarna Kayu

Jamur biru adalah sejenis jamur dari kelompok Ascomycetes dan fungi imperfect yang dapat menimbulkan cacat warna pada beberapa jenis kayu yang masih basah, terutama kayu yang berwarna cerah seperti ramin (Gonystylus bancanus Kurs.), damar (Agathis spp.), tusam (Pinus merkusii Jung et de Vr.), meranti (Shorea spp.), jelutung (Dyera costulata Hkf.), jabon (Anthocephalus cadamba Miq.), dan karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.). Serangan jamur biru ini dapat terjadi pada dolok yang baru ditebang, biasanya dimulai pada bontos atau kulit yang terkelupas, dan pada kayu gergajian yang masih basah. Serangan tersebut tidak menurunkan kekuatan kayu1 dan tidak menyebabkan pelapukan kayu, namun menurunkan nilai

(20)

secepatnya. Kayu gergajian dapat ditumpuk di dalam ruang yang berventilasi baik. Kayu ganjal (sticker) pada penumpukan sebaiknya dibuat dari kayu yang tahan terhadap serangan jamur biru berupa kayu teras atau kayu yang telah diawetkan. Apabila tindakan pencegahan tersebut sulit dilakukan maka pada bagian ujung dolok (bontos) atau di seluruh permukaan dolok yang kulitnya terkelupas disemprot larutan bahan kimia. Perlindungan ini harus dilakukan paling lambat 48 jam setelah pohon ditebang.

Bahan kimia yang dinilai efektif mencegah serangan jamur biru dan aman terhadap lingkungan adalah pestisida yang mengandung bahan aktif: boron, dichloÀ uanida, bromodichlorophenol, tributyltin, 8-hydroxy-quinoline, thyocyanat, dan benzothiazole3,4,5.

Bahan aktif murni tersebut sulit diperoleh, sehingga digunakan pestisida yang formulasinya mengandung salah satu bahan aktif tersebut. Apabila musim hujan penggunaan bahan pengawet larut minyak lebih baik dibandingkan dengan bahan pengawet larut air. Jika ditemukan serangan kumbang ambrosia (pinhole) maka bahan pengawet yang digunakan untuk jamur biru dapat ditambah insektisida (misalnya benzenehexachlorida dengan konsentrasi larutan 5-10%). Apabila pengeringan tidak dapat dilakukan dengan cepat maka kayu yang sudah digergaji segera disemprot dengan bahan pengawet atau dicelupkan ke dalam bak pengawetan. Pestisida komersil yang mengandung bahan aktif dichloÀ uanid atau Na-4-bromo-2,5-dichlorophenol atau tributyltin acetate + insektisida, dengan konsentrasi larutan 1,5% dapat mencegah serangan jamur biru pada kayu gergajian sampai 4 minggu3

Selain itu, pencegahan serangan jamur biru dapat dilakukan dengan menginokulasikan jamur tertentu pada kayu. Misalnya dengan menginokulasi colorless mutant fungus yaitu Ophiostoma piliferum dan Phlebiopsis gigantea dapat mencegah perkembangan jamur biru pada kayu2. Pencegahan serangan jamur dapat pula dilakukan menggunakan bahan penghambat

(cairan jernih “primer” diformulasi dengan fungisida), seperti “Aidol Primer/Blue Stain Inhibitor” dengan cara pelaburan, pencelupan pada kayu di bagian luar (jendela, pintu luar) tetapi tidak kontak dengan tanah, dan kadar air kayunya tidak lebih 15%6. Didapatkan 6 jenis

bakteri dapat mencegah serangan Ceratocystis coerulescens (blue stain) dan Trichoderma harzianum (mold) pada kayu Pinus sp. (southern yellow pine)7.

B. Jamur Pelapuk Kayu

Hadirin yang saya hormati,

Jamur pelapuk dapat menyerang kayu bangunan perumahan, bantalan rel kereta api, tiang listrik, menara pendingin (cooling tower), perahu, penyangga jembatan, patok, dan pagar8,

serangannya kadang ditandai oleh munculnya tubuh buah jamur. Munculnya jamur tersebut dapat dijumpai pada kayu yang baru dipasang satu bulan sampai beberapa tahun. Serangan jamur umumnya terjadi terhadap kayu yang dipasang di tempat dengan kondisi lingkungan lembab atau pada bagian yang sering terkena air atau bagian yang berhubungan dengan tanah. Jamur berperan utama pada kerusakan 37 jenis kayu Dipterocarpaceae yang dikubur pada tanah lembab yakni sebesar 59,5%9. Didapatkan bahwa sekitar 30 jenis jamur pelapuk dapat

(21)

mencapai 67,10%11 Serangan jamur tersebut dapat menurunkan kekuatan kayu. Keteguhan

pukul kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Fosb.) turun sampai 80% setelah terinfeksi Schizophyllum commune dengan masa inkubasi selama 24 minggu12. Beberapa jenis jamur

pelapuk juga menyerang kayu bantalan rel kereta api, walaupun kayu yang digunakan memiliki kelas awet dan kuat tinggi (I-II), seperti jati (Tectona grandis), merbau (Intsia bijuga), ulin (Eusideroxylon zwageri), keruing (Dipterocarpus sp.), bangkirai (Shorea laevifolia Endert), balau (Shorea sp.). Dari seluruh kayu bantalan yang rusak disebabkan oleh jamur pelapuk sebanyak 49,6%, retak dan pecah 17,1%, patah 1,9%, serangan rayap 0,0%, dan tidak tercatat 31,2%. Tindakan pencegahan serangan jamur perusak kayu bantalan antara lain mengawetkan kayu keruing dengan 4% coppernaphtenate dalam resex (7,3 kg/m3) yang dapat memperpanjang

usia pakai tiga kali lipat dibandingkan dengan kayu kontrol (3 tahun). Kayu rengas yang diawetkan dengan coppernaphtenate (10,3 kg/m3) usia pakainya 4,5 kali dibandingkan dengan

kayu kontrol (2 tahun)13. Kayu jati yang diawetkan dengan Boliden BIS setelah 50 tahun

kondisinya masih layak dan terpasang baik14. Pemakaian bantalan kayu yang diawetkan dapat

menghemat biaya 50%15. Menurut PT KAI (2001) pemakaian kayu bantalan untuk perawatan

atau penggantian sambungan, jembatan, tikungan di Daop I sekitar 1700 batang per semester (+ 260 m3 per tahun), sedangkan untuk di Bogor-Jakarta diperlukan 700 batang per semester

(+ 105 m3 per tahun). Jika usia pakai kayu dapat ditingkatkan satu tahun saja, maka akan dapat

dihemat pemakaian kayu sebanyak volume tersebut. Rumah dari kayu sengon yang diawetkan dengan CCA setelah 47 tahun masih dalam keadaan terpasang dengan baik16.

Jamur yang telah menyerang kayu sulit dimatikan dengan pestisida, karena fungisida umumnya bersifat mencegah atau menghambat pertumbuhan. Jika faktor lingkungannya menguntungkan maka jamur pelapuk dapat menyerang kayu walaupun kayu tersebut telah diawetkan. Ini mungkin disebabkan beberapa jenis jamur memiliki toleransi yang tinggi terhadap bahan pengawet atau memiliki kemampuan mendegradasi bahan pengawet yang digunakan. Kayu bantalan rel kereta api dan tiang listrik masih diserang Lentinus lepideus walaupun telah diawetkan dengan creosot17,18. Jamur pelunak dapat membusukkan kayu yang telah diawetkan

dengan CCA. Phialophora spp. dapat menyerang kayu tiang listrik yang diawetkan dengan CCA19.

Selain itu, untuk menghindari serangan jamur pelapuk dapat dilakukan dengan merubah faktor lingkungannya sampai batas yang tidak menguntungkan pertumbuhannya. Kadar air kayu diusahakan kurang dari 20%. Kayu yang telah kering disimpan di gudang dan dipertahankan agar tetap kering. Pemberian aerasi yang cukup pada tumpukan kayu sehingga tidak terjadi akumulasi uap lembab. Penumpukan kayu yang telah lama tidak dicampur dengan yang masih baru, dan kayu yang telah terserang jamur pelapuk harus diisolir atau dihilangkan. Lantai gudang disemprot dengan antiseptik seperti sodium fl uoride (NaF), zinc chloride (ZnCl2), dan copper sulphate (CuSO4). Sanitasi harus sudah dilakukan mulai di hutan, tempat penumpukan kayu (logpond), dan gudang kayu. Diketahui 6 jenis bakteri dapat menghambat serangan jamur pelapuk cokelat (Postia placenta) dan jamur pelapuk putih (Coriolus versicolor) pada kayu Pinus sp.7.

(22)

ketahanan terhadap mikroba pelapuk setara dengan sampel yang diimpregnasi creosot20. Kayu

yang dipasang di tempat terbuka dan yang berhubungan dengan tanah atau sering terkena air sebaiknya diawetkan dengan pestisida yang berfungsi sebagai fungisida dan insektisida. Golongan pestisida yang diizinkan antara lain tembaga khrom boron (CCB) dan tembaga khrom À uor (CCF), pemakaiannya dengan cara melaburkan atau merendamnya (metode rendaman dingin, rendaman panas dingin) dan secara vakum tekan. Kedua kelompok bahan kimia tersebut mudah luntur, namun masih digunakan karena pilihannya terbatas. Pemerintah diharapkan memfasilitasi penelitian inovasi teknologi peramuan bahan pengawet kayu kepada Litbang dan Universitas, serta teknologi bioremediasi limbah kimia menggunakan jamur.

III. KEMAMPUAN JAMUR DALAM MELAPUKKAN KAYU

Hadirin yang terhormat,

Kemampuan jamur dalam melapukkan kayu berarti juga ketahanan kayu atau daya tahan suatu jenis kayu terhadap jamur. Contoh jamur yang memiliki kemampuan melapukkan kayu tinggi antara lain Pycnoporus sanguineus HHBI-324, Tyromyces palustris, Schizophyllum commune HHBI-204, dan Polyporus sp. HHBI-209. Jika kemampuan jamur dalam melapukkan kayu tinggi maka dapat menurunkan kelas ketahanan kayu. Ketahanan suatu jenis kayu terhadap berbagai jenis jamur bervariasi. Beberapa faktor antara lain tempat tumbuh, kecepatan tumbuh, umur pohon waktu ditebang, bagian batang, zat ekstraktif kayu dan tempat pemasangan kayu dapat mempengaruhi ketahanan kayu tersebut. Ketahanan suatu jenis kayu berperan dalam menentukan usia pakai kayu. Ketahanan kayu rasamala (Altingia excelsa Noronha) yang berasal dari hutan alam termasuk kelas awet I dan kayu yang dari hutan tanaman umur 48 tahun termasuk kelas III-IV21. Ketahanan kayu jati yang berumur < 75 tahun termasuk kayu kelas II–IV. Agar masuk ke dalam kayu kelas 1 (kelompok kayu sangat-tahan) maka pohonnya harus ditebang pada umur lebih dari 93 tahun. Dalam penelitian ketahanan kayu jati, ternyata 85% contoh kayu hancur karena serangan jamur dan sisanya karena serangan rayap atau karena keduanya. Tiga belas varietas jati yang berasal dari dua tempat tumbuh memiliki ketahanan yang sama, yakni kelas II (kelompok kayu tahan)22. Kayu mangium asal Parung Panjang dengan

umur 5-8 tahun termasuk kayu kelas III (agak-tahan) dan umur 11 tahun termasuk kayu kelas II, serta kayu yang berasal dari Serang dengan umur pohon 11 tahun termasuk kayu kelas IV (tidak-tahan). Ketahanan kayu mangium bagian tepi (dianggap gubal) dan kayu bagian dalam (dianggap bagian teras) termasuk dalam kelompok yang sama yaitu kelas III23. Dari 40 jenis

kayu tropis yang duji terhadap tiga jenis jamur pelapuk dan percobaan kuburan didapatkan bahwa yang termasuk kelas I (8 jenis kayu), kelas II (7 jenis), kelas III (9 jenis), kelas IV (12 jenis) dan kelas V (4 jenis)24. Ketahanan kayu dari dolok diameter <30 cm terhadap jamur

menunjukkan bahwa hanya 1 jenis kayu yaitu Palaquium gutta yang termasuk kelas III dan 4 jenis kayu termasuk kelas IV, bagian tepi dan dalam dolok memiliki kelas yang sama yaitu kelas IV25. Didapatkan juga bahwa dua tegakan pohon dari lima jenis kayu asal Sukabumi memiliki

kelas yang sama yaitu kelas IV26. Tingkat ketahanan sembilan jenis kayu asal Kalimantan

(23)

ketahanan 6 jenis kayu terhadap 9 jamur pelapuk menunjukkan bahwa kayu kelas II (1 jenis), kelas III (2 jenis) dan kelas IV (3 jenis)29. Berdasarkan ketahanan 84 jenis kayu terhadap jamur

didapatkan 30 jenis termasuk kelompok kayu kelas II, 20 jenis (kelas III), 32 jenis (kelas IV) dan 2 jenis (kelas V)30. Kelas ketahanan kayu dapat digunakan sebagai acuan dalam mengambil

keputusan tentang pentingnya perlakuan khusus terhadap suatu jenis kayu yang akan dipakai. Berdasarkan hasil penelitian, kayu kelas III-IV jika hendak dipakai sebagai bahan bangunan sebaiknya diawetkan terlebih dahulu guna mencegah serangan jamur pelapuk31. Saat ini kayu

yang beredar di masyarakat memiliki kelas II-V. Oleh karena itu, jika akan menggunakan kayu tersebut untuk perumahan dan gedung, bantalan rel kereta api, dan jembatan sebaiknya kayu tersebut diawetkan dahulu sebelum dipasang agar terhindar dari serangan jamur.

IV. JAMUR PERUSAK PADA ROTAN DAN BAMBU

Hadirin yang saya hormati,

Jamur perusak rotan dan bambu umumnya termasuk kelompok jamur pewarna/blue stain, kapang/mold dan jamur pelapuk. Pertumbuhan jamur tersebut dapat terjadi pada kadar air 23-150%, dan tumbuh baik pada kadar 35-120% dan suhu 22-30oC32,33. Pertumbuhan jamur tersebut

terhambat pada kadar air kurang dari 20% dan suhu lebih dari 40oC34. Serangan jamur tersebut

terjadi segera setelah rotan atau bambu ditebang, baik di tempat pemungutan, pengumpulan, pengangkutan dan pengeringan atau penjemuran, dan biasanya dimulai pada bagian bontos atau permukaan yang kulitnya terkelupas. Noda pewarnaan blue stain yang tampak abu-abu muda sampai biru kehitaman atau sering juga berwarna cokelat gelap.

Hadirin yang berbahagia,

A. Jamur Perusak Rotan

Rotan yang terserang jamur pewarna nampak kotor tetapi kekuatannya tidak menurun sehingga masih dapat digunakan untuk perabot yang pada proses fi nishing/akhir dipakai warna gelap, dan apabila serangannya ringan dapat dikurangi dengan diserut lagi atau diputihkan dengan bahan kimia. Rotan segar yang dikuliti lebih rentan terhadap jamur dibandingkan dengan rotan yang tidak dikuliti bila dikeringkan ditempat terbuka dan kena hujan dan embun. Uji kerentanan tiga jenis rotan (manau, semambu dan irit) menunjukkan bahwa 93,33% terdapat serangan internal (noda pewarnaan bagian dalam) dan sebanyak 46,67% mendapat serangan internal yang hebat35. Serangan jamur tersebut dapat menurunkan nilai jual bahan baku rotan.

Serangan jamur di permukaan 11 jenis rotan berkisar antara 13,30–100% dan turunnya nilai jual berkisar antara 14,29-100%. Nilai jual turun 100% berarti rotan tersebut afkir dan tidak dapat digunakan lagi, yang ditemukan pada rotan irit dan sega dengan serangan permukaan 89,90% dan 87,60%, rotan mandola dengan serangan jamur 72,7% dan jumlah lubang akibat serangan bubuk 845 buah/m2. Khusus untuk rotan manau yang mendapat serangan jamur 100%

(24)

jamur pelapuk telah terlihat pada umur 38 hari (S. commune), 52 hari (Coprinus sp.), lebih kurang 6 bulan (Polyporus sp.) dan lebih dari 12 bulan (D. spathularia) sejak rotan ditebang. Pelapukan rotan yang ditandai oleh penurunan berat akibat serangan S. commune adalah 5,79%37. Penurunan berat tiga jenis rotan yang digoreng dan yang tidak digoreng lalu dicelup larutan kaporit 3% oleh Pycnoporus sanguineus, Dacryopinax spathularia dan S. commune berkisar antara 10,43 - 32,87%38.

Untuk menghindari serangan perlu dilakukan tindakan pencegahan antara lain jika memungkinkan penebangan rotan dilakukan pada musim kemarau, kemudian segera diangkut, diolah dan dikeringkan. Hasil pengamatan di beberapa industri rotan, pengolahan rotan yang cepat dapat menekan serangan jamur pewarna kurang dari 10% (pengeringan dengan sinar matahari dan tidak terkena hujan). Penggorengan rotan dan atau pengasapan rotan tidak mengurangi serangan jamur secara efektif. Penggorengan rotan dengan minyak tanah mampu menekan serangan jamur pewarna 13,13% selama 2 bulan pengeringan ditempat terbuka, namun masih ditemukan serangan jamur pelapuk39. Pengasapan terhadap rotan yang tidak

digoreng maupun yang digoreng dapat mencegah serangan jamur biru, jika rotan tesebut dikeringkan dengan sinar matahari dan bila hujan atau malam disimpan di ruangan berventilasi baik40. Pencegahan serangan jamur pada rotan dapat dilakukan dengan pengeringan memakai

dehumidi¿ er pada suhu 40-45oC34. Selain itu, pencegahan serangan jamur dapat dilakukan

dengan menggunakan pestisida. Batang rotan dipotong sesuai ukuran kemudian diawetkan dengan fungisida di lokasi penebangan, pemotongan, pengumpulan, dan pengolahan kemudian dikeringkan. Fungisida yang digunakan yaitu bahan kimia sama seperti yang digunakan pada kayu dan berfungsi mencegah serangan jamur dan bubuk. Pencelupan rotan segar dengan bahan kimia konsentrasi 0,5-2,5% dapat mencegah serangan jamur pewarna selama 2-4 minggu dalam proses pengeringan di tempat terbuka dan dengan kondisi setiap hari hujan41. Pencelupan tiga

jenis rotan ke dalam larutan asam borat, boraks dan polibor 1–4%, kemudian dikeringkan di ruang beratap seng dan berventilasi baik selama 8 minggu dapat mencegah serangan jamur pewarna menjadi kurang dari 18% dan pewarnaan internal sekitar 1%42. Pencegahan serangan

jamur pada rotan kering sebaiknya digunakan campuran fungisida dan insektisida (untuk mencegah serangan bubuk).

Hadirin yang saya hormati,

B. Jamur Perusak Bambu

Bambu yang telah diserang jamur pewarna terlihat kotor namun kekuatannya tidak menurun. Sedangkan bambu yang diserang jamur pelapuk kekuatannya menurun. Jenis jamur pelapuk yang menyerang bambu antara lain Schizophyllum commune, Dacryopinax spathularia, Polyporus spp., Pycnoporus sp., Pleurotus sajor-caju, Pleurotus spp., dan Auricularia spp.

(25)

untuk bahan bangunan/rumah, perabotan dan kerajinan. Sedangkan pencegahan serangan jamur terhadap bambu kering dapat dilakukan dengan cara menyimpan atau memasangnya di tempat kering, terlindung dan tidak terkena atau berhubungan dengan air dan udara lembab. Pencegahan serangan organisme pada bambu kering dapat digunakan campuran fungisida dan insektisida. Selain itu tindakan pencegahan serangan jamur pada bambu untuk bangunan dapat dilakukan menggunakan senyawa kimia golongan tembaga chrom boron (CCB), dan tembaga chrom À uor (CCF)43.

Hadirin yang berbahagia,

Dalam rangka pemasyarakatan pencegahan serangan organisme pada rotan dan bambu telah dilakukan sosialisasi, pelatihan, sedangkan praktek dan evaluasi di salah satu industri rotan di Klaten. Pertemuan antara pengusaha dan peneliti litbang yang di koordinir oleh Asmindo (Asosiasi Mebel Indonesia) di Jawa Timur. Transfer teknologi dan iptek telah bekerjasama dengan Departemen Perindustrian dan indutri serta pengrajin. Dukungan pemerintah diperlukan untuk mendorong pengusaha bahan pengawet meramu sendiri dengan bahan aktif yang tersedia. Pengusaha diharuskan mencegah serangan jamur sejak di penebangan, pengumpulan dan pengolahan agar kualitasnya prima.

Penggunaan pestisida bukan satu-satunya cara untuk mencegah serangan jamur perusak dan bukan suatu keharusan, karena pemakaian yang tidak hati-hati dapat menimbulkan pencemaran lingkungan serta berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu, penggunaan pestisida hanya dilakukan apabila cara lain sudah tidak memungkinkan. Selain itu, pestisida yang dipakai harus dipilih yang aman terhadap lingkungan dan efektif terhadap organisme sasaran serta tidak mengubah warna.

V. PERANAN JAMUR KAYU DALAM MENDUKUNG KEHIDUPAN

Para hadirin yang saya muliakan,

A. Jamur Kayu Budidaya

(26)

edodes)44. Kemampuan jamur budidaya dalam melapukkan kayu solid sangat rendah, sehingga

kerusakan kayu yang ditimbulkannya ringan dan prosesnya berjalan lambat45,46, karena hanya

tumbuh baik pada kondisi lingkungan yang sudah disesuaikan. Hadirin yang saya hormati,

Dolok kayu berdiameter kurang dari 10 cm yang berasal dari batang, cabang dan ranting tumbuhan pioner non komersial, limbah penjarangan dan limbah eksploitasi dapat digunakan untuk media budidaya jamur. Kayu tersebut dikonversi menjadi tubuh buah jamur yang dapat dikonsumsi. Besarnya kayu yang dikonversi menjadi jamur ditunjukkan dengan nilai e¿ siensi konversi biologi (EB) yaitu persentase bobot jamur segar terhadap bobot bahan media kering. Nilai EB jamur kuping hitam pada kayu kebembem (Mangifera odorata Griff.), manii (Maesopsis eminii Engl.), seuhang (Ficus padana Burn.f.) dengan ukuran panjang 100 cm, diameter rata-rata 6,1-7,6 cm, yaitu 10,29-12,76%. Nilai EB jamur kuping cokelat pada kayu jambu biji (Psidium guajava L.) dan turi (Sesbania grandifl ora (L.) Poir.) berdiameter 7,3 cm dan 8,1 cm masing-masing 24,09% dan EB 57,88%. Sedangkan Nilai EB jamur tiram abu-abu pada kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Fosb.), seuseureuhan (Piper aduncum L.), walen (Ficus ribes Reinw. Ex Bl.) yang berdiameter 6,2-10,3 cm, berkisar antara 9,96-25,93% 47,48. Nilai EB jamur shiitake pada kayu saninten (Castanopsis argentea A.DC.) yang berdiameter 6,6 cm adalah EB 14,46%49.

Hadirin yang terhormat,

Serbuk gergaji umumnya digunakan sebagai media jamur kayu karena murah dan mudah diperoleh. Jenis kayu yang cocok untuk media jamur tiram antara lain kayu karet, pulai (Alstonia scholarisR.Br.), sengon, aren (Arenga pinnata Merr.), suren (Toona sureni Merr.), manii, nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.), merkubung (Macaranga gigantea Muell. Arg.), mahang (M. Pruinosa Muell. Arg), balam (Palaquium gutta Baill.), medang (Litsea fi rma Hook. f.) dan bayur (Pterospermum diversifolium Bl)49,50. Sedangkan jenis kayu yang baik untuk media

jamur shiitake yaitu kayu karet, sengon, pulai, aren, ampupu (Eucalyptus urophylla ST. Blake), jengkol (Pithecelebium jiringa Prain.), kemang (Mangifera caesia Jack.), leda (Eucalyptus deglupta BL.), mahoni (Swietenia mahagoni Jack. dan S. macrophylla King.), mangium (Acacia mangium Willd.), meranti merah (Shorea platyclados V.Sl.), dan saninten49,51,52,53,54,55.

Media dirombak oleh jamur sedikit demi sedikit kemudian dikonversi menjadi tubuh buah, sebagian lainnya dikonsumsi oleh jamur untuk metabolisme, sedangkan sisanya bersama miselium akhirnya menjadi kompos. Nilai e¿ siensi konversi biologi yang dihasilkan dapat mencapai 109,89% (A. polytricha), 119,72% (L. edodes), 75,82% (P. cystidiosus), 137,0% (P. fl abellatus), 145,24% (P. ostreatus), dan 111,89% (P. sajor-caju). Hal ini berarti setiap kilogram bahan media kering dapat menghasilkan 0,75–1,45 kg jamur segar56 .

Hadirin yang saya hormati,

(27)

(Auricularia polytricha, Auricularia spp.), jamur gajih/kuping putih (Tremella spp.), jamur pasang (Lentinula edodes), jamur menjangan (Polyporus sp.), jamur amis (Marasmius spp.) dan kulat (Lentinus spp.). Jamur yang diperoleh dari hutan biasanya untuk konsumsi sendiri atau dijual di pasar tradisional terdekat. Pada musim hujan jamur berlimpah, sehingga sebagian jamur tersebut dikeringkan agar dapat disimpan lama. Jangkauan pemasaran jamur kering lebih luas, ditemukan hampir di semua kota di Indonesia57. Rantai pemasaran jamur dari produsen/

petani sampai ke konsumen relatif panjang akibatnya harga sangat bervariasi. Jamur tiram putih merupakan salah satu jamur unggulan yang menembus pasar58.

Jamur kayu sebagai bahan pangan sudah lama dikenal masyarakat, namun baru sedikit orang yang tahu cara budidayanya. Masyarakat umumnya sudah biasa mengkonsumsi jamur kayu produksi petani setempat. Peluang pasar jamur tersebut cukup baik sebab untuk permintaan pasar lokal saja tidak pernah terpenuhi, sedangkan untuk ekspor masih terbuka lebar. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa merupakan potensi peluang pasar. Agar dapat menembus persaingan pasar maka jamur harus berkualitas baik. Beberapa teknologi budidaya jenis jamur sudah dikuasai, bahkan sebagian sudah diusahakan secara komersial walaupun perhatian terhadap jamur belum nampak signi¿ kan.

Hadirin sekalian,

Aspek ekonomi merupakan prioritas utama yang harus dipertimbangkan dalam usaha tani jamur. Keuntungan atau kerugian pengusaha jamur sangat bervariasi. Faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha tersebut yaitu kemampuan teknik budidaya yang meliputi pembuatan bibit, pemilihan bibit berkualitas, pemilihan media, pemeliharaan, sumberdaya manusia (trampil, gigih, telaten, dan motivasi kuat), teknik penanganan pasca panen dan pemasaran. Diperlukan juga biaya investasi yang terdiri atas biaya tetap, biaya variabel dan biaya operasional.

Biaya tetap dikeluarkan pada tahun pertama, terdiri atas lahan (lokasi), bangunan dan peralatan. Biaya untuk membangun satu buah kumbung jamur bervariasi, biasanya + Rp. 1.500.000,- dengan usia pakai lebih 2 tahun. Studi kelayakan budidaya jamur tiram pada skala kecil dengan asumsi jumlah media 30.000 kantong per siklus produksi (3 siklus per tahun), persentase tumbuh 90%, frekuensi panen 3-4 kali, biaya investasi Rp 53.954.000, biaya produksi Rp 43.956.000, akan diperoleh NPV Rp 4.925.492 dan IRR di atas suku bunga pinjaman 20% adalah layak. Cashfl ow positif akan diperoleh pada tahun ke-259.

Hadirin yang saya hormati,

(28)

biaya yang tidak terukur secara riil dengan uang yang menjadi beban masyarakat. Pemanfaatan limbah tersebut untuk media jamur, dapat memberikan nilai manfaat langsung (real benefi ts) berupa jamur pangan yang bergizi baik dan kompos (spent compost), yang dapat digunakan untuk menggemburkan tanah. Manfaat tidak langsung (intangible benefi ts) berupa ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat, sehingga mengurangi minat masyarakat untuk merambah hutan, memperbaiki kesehatan lingkungan, dan e¿ siensi pemanfaatan sumber daya hutan.

Banyaknya kompos dari sisa media (spent compost) tergantung pada jenis kayu yang digunakan untuk media, jenis jamur dan periode (siklus) pemeliharaan media. Kompos jamur shiitake 20,51–45,60% bobot media basah. Kompos tersebut dapat digunakan untuk pupuk tanaman dan campuran media persemaian60. Kompos terdiri dari hasil perombakan selulosa,

hemiselulosa dan lignin, yang efektif sebagai pupuk dan penggembur tanah serta dapat menjaga keseimbangan sumber nitrogen dan karbon untuk pertumbuhan tanaman61. Kompos tersebut

dan kantong plastik bekas bungkus media dapat dijual, dengan demikian usaha budidaya jamur tidak meningggalkan limbah dan layak disebut sebagai usaha berbasis teknologi bersih lingkungan. Sisa dolok kayu (waste mushroom logs) digunakan untuk kayu bakar. Selain itu, waste mushroom logs dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif (bioethanol)62.

Hadirin yang saya hormati,

B. Pemasyarakatan Budidaya Jamur

Masyarakat sekitar hutan umumnya miskin materi dan pengetahuan, kebutuhan hidup mereka bergantung kepada alam (hutan sekitarnya) seperti mengambil kayu dan hasil hutan lain bahkan serasah hutan termasuk yang sudah jadi kompos atau top-soil. Lambat laun eksistensi hutan akan terancam, sementara mereka tetap miskin. Oleh karena itu, harus dicari cara efektif agar laju perusakan hutan terkendalikan. Banyak cara dapat dilakukan misalnya dengan memberikan lapangan kerja berkaitan dengan hutan (ketergantungan terhadap hutan merupakan cara hidup turun temurun). Namun, harus memberikan peningkatan nilai ekonomis dan manfaat hasil hutan bagi mereka, dan kelestarian hutan tetap terjaga63. Salah satu upaya yaitu

memberdayakan masyarakat melalui budidaya jamur menggunakan media serbuk gergaji64,

dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan dan kemandirian mereka dalam usaha tani jamur.

Usaha memasyarakatkan jamur kayu di Jawa telah mulai dilakukan sejak tahun 1984 dan di luar Jawa dimulai tahun 1991 kepada masyarakat sekitar industri kayu, peladang berpindah, dan para pemungut humus di sekitar kawasan taman nasional. Dalam pengembangan budidaya jamur kayu, langkah-langkah yang telah ditempuh antara lain pemberdayaan masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan, bimbingan dan pembinaan, serta evaluasi. Selain itu telah mendidik dan membina masyarakat melalui program magang dan petani binaan.

(29)

Dukungan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mendorong pengusaha di bidang pembibitan, produksi dan pemasaran jamur. Selain itu, diperlukan bantuan modal usaha kecil menengah dengan cara mudah dan bunga rendah. Petani jamur diorganisasi secara terpadu di bawah pembinaan dan pengawasan instansi setempat yang terkait. Pemerintah diharapkan memfasilitasi penelitian inovasi teknologi budidaya dan penanganan pasca panen jamur kayu kepada Litbang Pertanian dan Kehutanan.

Hadirin yang saya muliakan,

C. Jamur Kayu Sebagai Pangan Fungsional

Pangan fungsional (functional foods) menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan adalah pangan yang baik secara alamiah maupun telah melalui proses mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi ¿ siologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan, dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan dan minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima konsumen, tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberikan efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya. Pangan fungsional berbeda dengan makanan tambahan (food supplement) dan obat, tidak dikemas dalam bentuk kapsul, tablet ataupun bubuk, dan manfaatnya hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit. Manfaat tersebut berasal dari senyawa aktif yang secara alami terdapat di dalam pangan tersebut65. Pangan fungsional jamur kayu dapat berasal dari tubuh buah dan miselium

serta dapat ditambahkan pada bahan pangan lain, yang dapat berupa sup, sate, soto, pepes, makanan (snacks), pasta, baso, sosis, biskuit, teh, sereal, mi instan, minuman sehat untuk pencernaan dan pemulih energi. Disebutkan bahwa pangan fungsional dari tepung jamur tiram dengan nama WeiQi dapat digunakan sebagai makanan siap saji (sup), bumbu (penambah cita rasa makanan), saus bistik dan selai roti66.

Para hadirin yang terhormat,

Berdasarkan hasil analisis kimia, nilai gizi jamur kayu umumnya lebih baik daripada sayur, buah, telur dan daging kecuali hati67,68,69,70,71,72. Jamur kayu mengandung protein, karbohidrat,

lemak, serat, mineral dan vitamin yang besarnya bervariasi. Kandungan protein jamur diketahui cukup tinggi, dengan mengkonsumsi jamur dalam jumlah tertentu maka kebutuhan akan protein diharapkan dapat terpenuhi. Oleh karena itu, jamur pangan tersebut dapat dikembangkan sebagai salah satu pendukung terwujudnya kecukupan protein. Kandungan protein jamur kayu cukup lengkap, meliputi 18 macam asam amino67. Pada abad ke-20 asam amino populer sebagai

suplemen diet untuk pasien berpenyakit kronis seperti depresi, penyakit hati, gastrointestinal, kolesterol tinggi, gula darah, insomnia, epilepsi, autis dan kelelahan73.

Hadirin yang saya hormati,

Manfaat lain jamur kayu adalah sebagai bahan pangan dan obat tradisional74. Jamur kayu

(30)

dan Beta-glukan61. Jamur kuping cokelat (Auricularia auricula-yudae) dan jamur kuping hitam

(A. polytricha) telah dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat di Cina. Mengkonsumsi jamur tersebut secara teratur dapat mengobati sakit tenggorokan, anemia dan sakit saluran pernapasan, serta penyakit usus yang disebabkan oleh organisme patogen. Jamur tersebut dapat pula digunakan untuk penguat tulang dan pencuci darah. Di Cina, jamur kuping putih (Tremella fuciformis) dipercayai sebagai obat pencuci darah, penguat paru-paru dan saluran pernapasan75. T. fuciformis memiliki efek antitumor, menjaga ketahanan tubuh pada sistim otot,

sel dan kekebalan76. Jamur shiitake (L. edodes) memiliki efek medis: antifungal, antitumor,

antiviral (dapat melawan inÀ uenza secara invitro maupun invivo) dan dapat menurunkan kadar kolesterol sekitar 24% 77,78. Jamur tiram cocok untuk menu diet penderita diabetes/gagal ginjal,

penyakit hati dan hipertensi. Jamur tersebut dapat menghambat pertumbuhan kanker sarcoma sebesar 75,3%, serta dapat menurunkan kadar kolesterol79. Jamur grigit (S. commune) telah

dipakai untuk obat kanker cervic di Jepang61,77. Jamur lingzhi (G. lucidum) memiliki efek medis,

seperti anti tumor, anti hipertensi, dan anti HIV (human immunode¿ ciency virus)77,80, dan telah

lama digunakan secara turun temurun sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit di China dan Jepang81.

Hadirin sekalian,

D. Peran Jamur Untuk Proses Biopulping dan Biobleaching

Industri pulp dan kertas masih menggunakan teknologi konvensional sehingga rawan mencemari lingkungan. Di negara maju proses pembuatan pulp telah diarahkan melalui proses yang ramah lingkungan. Salah satu alternatif adalah pemanfaatan jamur dalam pembuatan pulp (biopulping) dan pemutihan (biobleaching). Biopulping adalah proses penghancuran lignin secara biologis menggunakan mikroba yang memiliki enzim lignolitik. Proses biopulping merupakan fermentasi bahan baku pulp oleh jamur sebelum dilakukan proses pembuatan pulp secara mekanis dan atau secara kimia dengan tujuan memperbaiki sifat-sifat pulp, mengurangi energi re¿ ning, biaya dan pencemaran lingkungan. Perlakuan pendahuluan tersebut bertujuan menghancurkan sebagian lignin sehingga serpih kayu yang akan diproses secara mekanis menjadi lebih lunak. Pembuatan pulp untuk kertas koran dari tandan kosong kelapa sawit yang ditulari jamur pelapuk (isolat FPPK14) menghemat bahan kimia sebesar 7% sehingga biaya produksi lebih rendah dan potensi pencemaran lingkungan lebih kecil82. Biodeligni¿ kasi serpih kayu A.

mangium dan Gmelina arborea dengan jamur Pleurocybella porrigens mampu menghasilkan papan serat berkerapatan sedang dengan beberapa sifat lebih baik dan memenuhi standar FAO, serta menghemat energi mekanis sebesar 17% (G. arborea) dan 25% (A. mangium)83.

(31)

Hadirin yang saya hormati,

E. Pemanfaatan Jamur Untuk Kompos

Kompos adalah bahan organik yang berasal dari hewan dan tumbuhan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pembusukan. Faktor utama yang berperan dalam proses dekomposisi adalah mikroorganisme yang menyukai bahan tersebut untuk sumber makanannya. Dalam proses pembuatan kompos bioaktif digunakan mikroba penghancur selulosa dan lignin sebagai aktivator hayati (bioaktivator). Bioaktivator yang dikembangkan yaitu jamur Trichoderma pseudokoningii dan bakteri Cytophaga sp., yang dikemas dalam satu formula yang disebut Orgadec (Organic decomposer)85. Orgadec ini dapat digunakan untuk aktivator dalam

pembuatan kompos dari semua limbah lignoselulosa termasuk serbuk gergaji kayu. Aplikasi kompos bioaktif yang telah matang (nisbah C/N < 20) ke tanaman kelapa sawit dengan cara dibenam dalam parit mampu menghemat 50% dosis pupuk konvensional tanpa berpengaruh negatif terhadap produksi, dan dalam waktu 1-2 bulan kompos tersebut telah menyatu dengan tanah86. Kompos dari kulit kayu mangium dapat digunakan untuk media pembawa (carrier)

mikoriza dan untuk media tanam bibit Acacia mangium87. Hadirin yang terhormat,

F. Peran Jamur Untuk Bioremediasi Lingkungan

Untuk menjaga kesehatan lingkungan, jamur dapat digunakan dalam proses remediasi lingkungan. Secara alami, jamur dapat tumbuh sendiri dan mendegradasi limbah seperti daun, ranting, batang kayu/bambu/rotan. Namun demikian, jamur belum dimanfaatkan untuk bioremediasi limbah hutan, yang apabila kering limbah tersebut mudah terbakar.

Berikut adalah contoh beberapa jamur yang dapat digunakan dalam biodegradasi atau penghilangan warna limbah cair di industri kimia, tekstil, pemutihan kapas, dan pulp & kertas yaitu Flammulina velutipes, G. lucidum, L. edodes, P. ostreatus, P. sajor-caju, Pycnoporus cinnabarinus, S. commune, dan Trametes spp88. Jamur tiram putih (P. ostreatus HHBI-314)

dapat menghilangkan warna limbah cair industri pulp dan kertas sebesar 93,08% dalam waktu 48 jam89.

Sekitar 43% pentachlorophenol (PCP) hilang dari serpih kayu yang diinokulasi Trichoderma sp. setelah diinkubasikan selama 12 minggu90. Melalui proses metilasi Trichoderma virgatum dapat mentransformasi 10-20% PCP menjadi pentachloroanisole90. Sisa media (spent compost) jamur shiitake (L. edodes) yang diinokulasikan pada tanah steril yang mengandung 200 mgKg-1 PCP dapat menurunkan pencemar tersebut sebesar 44,4-60,5%90. Phanerochaete chrysosporium dapat membantu biodegradasi dan remobilisasi fungisida anilazin dalam tanah humus91. P. ostreatus dapat mendegradasi 80% Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs)

dalam tanah setelah diinkubasi selama 35 hari92. Jamur pelapuk (PLI) mampu mendegradasi

51% 2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-p-dioxin pada konsentrasi 10 ng g-1 dalam tanah yang telah

(32)

Hadirin yang saya hormati,

G. Pemanfatan Jamur di Bidang Peternakan

Pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak mendapat perhatian pada masa lalu. Kandungan polisakharida yang tinggi pada lignoselulosa merupakan sumber energi potensial bagi ruminansia. Nilai nutrisinya terbatas karena sulit dicerna di dalam rumen. Daya cerna yang terbatas karena adanya komponen rekalsitran (lignin) yang merupakan hambatan ¿ sik bagi enzim hidrolitik untuk merombak polisakarida. Deligni¿ kasi lignoselulosa secara biologi dapat meningkatkan daya cernanya94. Prinsip metode ini memutus ikatan selulose-lignin dengan cara

mendekomposisi lignin dengan jamur.

Deligni¿ kasi kayu oleh jamur dapat digunakan untuk pakan ternak yang dikenal sebagai “Palo podrido” di Chili Selatan. Jenis kayu yang dideligni¿ kasi yaitu Drymis winteri Forst., Eucryphia cordifolia Cav., Laurelia philippiana dan Nothofagus dombeyi, dengan jamur Ganoderma applanatum atau Armillariella spp., dapat meningkatkan daya cerna secara invitro 3-77%, tetapi proses degradasinya lambat94. Fermentasi serbuk gergaji dengan Pleurotus

sp. Florida, P. cornucopiae, dan Stropharia rugosoannulata selama 60 hari menunjukkan degradasi lignin secara baik dan dapat meningkatkan daya cerna secara invitro94. Fermentasi

tandan kosong kelapa sawit selama 4 minggu oleh jamur P. ostreatus HHBI-314, P. fl abellatus HHBI-230, dan S. commune HHBI-204 belum dapat meningkatkan mutu nutrisi serat kelapa sawit95. Fermentasi jerami selama 2 bulan oleh Lentinus edodes dapat meningkatkan daya cerna

28%96.

Hadirin yang saya hormati,

VI. KESIMPULAN

Jamur perusak kayu dapat menyerang bahan yang mengandung lignoselulosa seperti kayu, bambu, dan rotan. Jamur menyerang bahan tersebut segera setelah pohon ditebang sampai menjadi barang jadi. Serangan jamur dapat meninggalkan bekas/warna kotor, menurunkan kekuatan dan nilai jualnya. Tindakan pencegahan adalah cara terbaik untuk menghindari serangan tersebut, jika telah terjadi infeksi maka tindakan pemberantasan tidak dapat dilakukan karena tidak efektif. Pencegahan terhadap serangan jamur, dapat dilakukan melalui proses cepat yaitu segera mengolah, mengeringkan dan menyimpannya di ruang berventilasi baik. Apabila hal tersebut tidak mungkin dilakukan maka pencegahan dapat dilakukan memakai bahan kimia (pestisida). Pencegahan yang benar dan baik dapat meningkatkan kualitas dan usia pakai, yang berarti menghemat sumber daya hutan.

(33)

Dampak positif berkembangnya usaha tani jamur kayu yaitu dapat memperkuat ketahanan pangan melalui penambahan keaneka-ragaman sumber pangan dan pemberdayaan sumber daya manusia dengan membuka lapangan kerja baru. Pengembalian bekas media jamur (spent compost) ke alam sebagai penghara tanah dapat memperbaiki lingkungan.

PENUTUP

Hadirin yang saya hormati,

Di masa datang diperlukan inovasi teknologi budidaya jamur kayu yang dapat dimakan dan berkhasiat obat yang meliputi teknologi penyediaan bibit yang berkualitas, budidaya dan penanganan pasca panen. Dalam pemanfatan limbah industri kayu, inovasi tersebut diarahkan untuk diversi¿ kasi sehingga tidak tergantung pada suatu jenis substrat dari jenis kayu tertentu saja. Sedangan inovasi dalam penanganan pasca panen meliputi teknologi pengeringan, pengawetan, penyimpanan dan pengemasan, dan pengolahan lanjut mencakup pengembangan aneka produk makanan dan pangan fungsional. Diperlukan penelitian jamur pangan untuk menunjang program riset dan teknologi dalam pembangunan ketahanan pangan dan pengembangan teknologi kesehatan dan obat-obatan. Di bidang kehutanan, diperlukan penelitian jamur untuk kesehatan lingkungan (bioremediasi), bioaktivator dalam perombakan limbah hutan seperti daun dan ranting.

UCAPAN TERIMA KASIH

Sebelum mengakhiri orasi ilmiah ini, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu:

• Presiden Republik Indonesia, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Kepala dan Anggota Panitia Penilai Jabatan Peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Ahli Peneliti Utama.

• Kepala Badan Litbang Kehutanan, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan atas dorongan, bantuan dan fasilitas serta kesempatan yang telah diberikan kepada saya selama ini.

• Secara khusus saya sampaikan kepada Ir. Sunaryo Hardjodarsono MSc, Ir. Abdurahim Martawijaya, Dr. Ir. Nana Supriana (Alm), Dr. Ir. Paribotro Sutigno, Dr. Ir. Kosasi Kadir (Alm), Dr. Ir. Ngaloken Gintings, Prof. Dr. Indrawati Ganjar, Prof. Dr. Mien Rifai yang telah membimbing dan memberikan dorongan dalam penelitian.

(34)

• Semua rekan-rekan peneliti, teknisi litkayasa dan administrasi serta semua rekan seprofesi yang telah menjalin kerjasama yang baik, memberikan bantuan dan pertolongan kepada saya selama ini.

• Bapak/Ibu Undangan atas kesediaannya meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir pada acara ini.

• Semua panitia penyelenggara orasi ilmiah yang telah bekerja dengan baik sehingga dapat terlaksana dengan lancar.

• Kedua orang tua saya yaitu Bapak Praptosuwito (Alm.) dan Ibu Suprapti yang telah mendidik, membesarkan, mendorong dan membiayai saya. Semua saudara / kerabat yang pernah tinggal serumah yang telah mendorong dan membantu saya.

• Suami saya tercinta yang dengan sabar dan tulus ikhlas telah mendorong, membantu dan mengorbankan baik yang berupa materiil maupun spiritual, sampai mencapai Ahli Penelti Utama.

Hadirin yang saya hormati,

(35)

DAFTAR PUSTAKA

1. Humar, M., V. Vek., and B. Bu-an. 2008. Properties of blue-stained wood. Drvna Industrija 59 (2): 75-79

2. Zulpa, G., M.C. Zaccaro, F. Boccazzi, J.L. Parada, and M. Storni. 2002. Bioactivity of intra and extracellular substances from cyanobacteria and lactic acid bacteria on “wood blue stain” fungi. Biological control 27: 345-348. Academic Press.

3. Martawijaya, A.; S. Abdurrohim dan D. Martono. 1980. Pestisida pengganti Natrium-pentachlorophenol untuk mencegah serangan jamur biru pada kayu basah. Proceeding Diskusi Industri Perkayuan tanggal 26-27 Maret 1980 di Jakarta. Hal.: 121-125. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

4. Wong , A.H.H., L.T. Hong and J. M. Shapei. 1995. Sap-stain in timber evaluation of anti-sapstain preservatives. Timber Technology Bulletin no. 4, November 1995. 4p. Timber Technology Centre, FRIM, Kuala Lumpur.

5. Antizar-Ladislao, B. 2008. Environmental levels, toxicity and human exposure to tributiltin (TBT)-contaminated marine environment. A review. Enviroment International 34: 292-308.

6. Anonimus. Aidol Primer/Blue stain inhibitor. Tecnical Information Sheet. Article No. 2040. p.: 1-2. REMMERS.

7. Benko, R. And T.L. Highly. 1990. Biological control of wood-attacking fungi using bacteria. Biodeterioration Research 3: 327-332. Plenum Press, New York.

8. Duncan, C.G. 1960. Softrot in wood and toxicity studies on causal fungi. American Wood-preservers Organisms. pp.: 1-8.

9. Martawijaya, A. 1983. Keawetan beberapa jenis kayu Dipterocarpaceae. Proceeding Pertemuan Ilmiah Pengawetan Kayu tanggal 12-13 Oktober 1983 di Jakarta. Hal.: 157-169. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

10. Suprapti, S. 1995. Pengaruh temperatur dan kelembaban terhadap intensitas pelapukan kayu bangunan. Laporan proyek penelitian tahun 1994. Tidak dipublikasikan.

11. Barly dan N. Supriana. 1983. 0rganisme perusak kayu di beberapa proyek perumahan rakyat. Proceeding Pertemuan Ilmiah Pengawetan Kayu tanggal 12-13 Oktober 1983 di Jakarta. Hal.: 18-28. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

12. Martawijaya, A. 1972. Keawetan dan pengawetan kayu karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Laporan No. 1. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

13. Martawijaya, A. 1961. Beberapa hasil percobaan bantalan yang diawetkan. Pengumuman Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan Nr 74. Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan. Bogor-Indonesia.

(36)

15. Anonim. 1971. Wooden railway ties: their advantages over steel and concrete. Technical Note No. 105. Forest Products Research and Industries Development, Laguna. Philippines. 16. Martawijaya, A. dan Barly. 2010. Pedoman pengawetan kayu untuk mengatasi jamur dan

rayap pada bangunan rumah dan gedung. IPB Press.

17. Bruce, A. and B. King. 1983. Biological control of wood decay by Lentinus lepideus (Fr.) produced by Scytalidium dan Trichoderma residues. Material und Organismen 18. band 1983 Heft 3, Duncker & Humblot – Berlin. pp.: 171-181.

18. Bruce, A. and B. King. 1986. Biological control of decay in creosote treated distribution poles. Material und Organismen 21. band 1986 Heft 1, Duncker & Humblot–Berlin. pp.: 1-13.

19. Suhirman. 1983. Masalah soft-rot di daerah tropis. Proceeding Pertemuan Ilmiah Pengawetan Kayu tanggal 12-13 Oktober 1983 di Jakarta. Hal.: 28-37. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

20. Gosselink R.J.A., A.M.A. Krosse, J.C. van der Kolk, B.de Klark-Engels, and JEG. Van Dam. 2004. Wood preservation by low-temperature carbonization. Jurnal Industrial Crops and Products 19: 3-12.

21. Martawijaya, A. 1989. Keawetan kayu yang berasal dari hutan alam dan hutan tanaman. Proceedings Diskusi Sifat dan Kegunaan Jenis Kayu HTI, 23 Maret 1989 di Jakarta. Hal.: 280-288. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta.

22. Martawijaya, A. 1965. Pengaruh umur pohon terhadap keawetan kayu jati. Laporan No. 98. Hal.: 1-12. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

23. Suprapti, S. 2002. Ketahanan kayu mangium (Acacia mangium Willd.) terhadap sebelas jamur pelapuk. Bulletin Penelitian Hasil Hutan 20 (3): 187-193. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

24. Amemiya, S. and S. Matsuoka. 1979. Durability of tropical woods. JARJA 9, Vol. 13, No. 4. Tropical Agriculture Research Center, Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries. Japan.

25. Suprapti, S. and Djarwanto. 2001a. Decay resistance of some wood of small log diameter to the attack of white rot and brown rot fungi. In Utilization of Small Diameter Logs. Report on The Collaboration Research Project of Indonesia – Republic of Korea. pp.: 80-87. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

26. Suprapti, S., Djarwanto dan Hudiansyah. 2011. Ketahanan lima jenis kayu asal Lengkong Sukabumi terhadap beberapa jamur pelapuk. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 29 (3): 248-258. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor.

(37)

28. Suprapti, S., Djarwanto dan Hudiansyah. 2003. Ketahanan delapan jenis kayu terhadap duabelas jamur pelapuk. Prosiding Seminar Nasional V MAPEKI tanggal 30 Agustus - 1 September 2002. Hal.: 179-184. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

29. Suprapti, S. dan Djarwanto. 2012. Ketahanan enam jenis kayu terhadap jamur pelapuk. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 30(3): 213-220. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor.

30. Suprapti, S. 2010. Decay resistance of 84 indonesian wood species against fungi. Journal of Tropical Forest Science 22(1): 81-87.

31. Djarwanto dan S. Abdurrohim. 2000. Teknologi pengawetan kayu untuk perpanjangan usia pakai. Buletin Kehutanan dan Perkebunan 1 (2): 159-172. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta.

32. Cummin, J. E. 1933. Blue stain in Pinus radiata (insignis) timber. Some preliminary experiments with case stock. Division of Forest Products Reprint 14. pp.: 244-251. 33. Holtam, B.W. 1966. Blue stain. Its affect on the wood of home grown conifers and

suggested methods of control. Forestry commission. LeaÀ eat No. 53: 1-3.

34. Salita, A.A. 1985. Techniques for the control of cane quality in small-scale rattan industries in the Philippines. In Wong, K. M. and N. Manokaran (ed.). Proceeding of the Rattan Seminar. pp.: 163-168. The Rattan Information Centre, Forest Research Institute, Kepong. Malaysia.

35. Suprapti, S. 1989. Kerentanan tiga jenis rotan komersil terhadap serangan jamur. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 6 (3): 194-197. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

36. Suprapti, S. 1990a. Penurunan nilai ekonomis rotan akibat organisme perusak. Kongres I Himpunan Perlindungan Tumbuhan Indonesia tanggal 8-10 Januari 1990 di Jakarta. 37. Sulthoni, A. 1986. Aspek proteksi hama penyakit dalam usaha pengembangan rotan.

Dalam Silitonga, T. (ed.). Proceedings Lokakarya Nasional Rotan. Hal.: 218-233. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta.

38. Djarwanto, Jasni dan S. Suprapti. 2000. Ketahanan tiga jenis rotan terhadap jamur pelapuk. Proceedings Seminar Nasional II Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia tanggal 2-3 September 1999 di Yogyakarta. Hal.: 28-36. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta. 39. Suprapti. S. 1990b. Pengaruh penggorengan terhadap serangan jamur pada tiga jenis rotan

komersil. Kongres I Himpunan Perlindungan Tumbuhan Indonesia tanggal 8-10 Januari 1990 di Jakarta.

(38)

41. Suprapti, S. 1986. Pengaruh pestisida terhadap serangan jamur pada rotan manau (Calamus manan). Laporan Kegiatan Penelitian tahun 1985/1986. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

42. Djarwanto. 1992. Pengawetan tiga jenis rotan dengan senyawa boron. Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia tanggal 31 Juli-1 Agustus 1992 di Bandung.

43. Barly. 1999. Petunjuk teknis. Pengawetan bambu untuk bahan konstruksi bangunan dan mebel. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Bogor.

44. Suprapti, S. 1987. Kemungkinan pemasyarakatan jamur kayu di Indonesia. Duta Rimba 83-84/XIII/1987: 36-40. Perum Perhutani. Jakarta.

45. Djarwanto dan S. Suprapti. 1998. Decay resistance of three wood species against some wood destroying fungi. Proceedings of The Second International Wood Science Seminar, November 6-7, 1998, Serpong. pp.: C57-C63. Research and Development Center For Applied Physics, LIPI. Indonesia.

46. Suprapti, S. dan Djarwanto. 2000. Ketahanan 15 jenis kayu terhadap jamur pelapuk putih. Proceedings Seminar Nasional II Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia tanggal 2-3 September 1999. Buku 2. Hal.: 19-27. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

47. Suprapti, S. dan Djarwanto. 2001b. Pemanfaatan dolok kayu untuk media jamur Pleurotus sajor-caju. Environment Conservation Through Ef¿ ciency Utilization of Forest Biomass. pp.: 333-340. Debut Press Jogyakarta. Yogyakarta.

48. Suprapti, S. dan Djarwanto. 2002. Produktivitas tiga jenis jamur kuping pada dolok diameter kecil 20 jenis kayu. Prosiding Seminar Nasional IV Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia tanggal 6-9 Agustus 2001 di Samarinda. Hal.: VI.59 – VI.65. Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Samarinda

49. Suprapti, S. 1993. Cultivation of some species of edible mushroom on log and sawdust media. The First International Conference on Mushroom Biology and Mushroom Products, 23-26th August, 1993. Hong Kong.

50. Djarwanto dan S. Suprapti. 2001. Pemanfaatan serbuk gergaji kayu diameter kecil untuk media tiga jenis jamur tiram. Environment Conservation Through Ef¿ ciency Utilization of Forest Biomass. pp.: 325-332. Debut Press Jogjakarta. Yogjakarta.

51. Suprapti, S. dan Djarwanto. 1994a. Pertumbuhan jamur Lentinus edodes pada substrat serbuk gergaji dari kayu hutan tanaman. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Peranan Mikrobiologi Dalam Industri Pangan tanggal 10 Desember 1994. Hal.: 332-337. Institut Pertanian Bogor.

Gambar

Tabel 1. Dimensi � sik rata-rata batang sawit
Tabel 2. Distribusi potensi kayu sawit nasional (m3/tahun)
Tabel 4. Karakteristik kimia kayu sawit, agatis dan jati
Tabel 5. Perbandingan sifat kayu sawit sebelum dan sesudah modi� kasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan YME, karena berkat rahmat dan karuniaNya pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul dalam rangka acara

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan, atas berkat dan rahmat-NYA, saya dapat menyampaikan naskah orasi ilmiah pada kesempatan yang diberikan oleh Universitas Bina Nusantara

Pertama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt, atas limpahan Rahmat karunia-Nya serta karena Ridlo-Nya, maka pada hari yang berbahagia ini kita dapat

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya menyampaikan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan Rahmat dan Izin-Nya, kita diberi kesempatan untuk hadir pada

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan YME, karena berkat rahmat dan karuniaNya pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul dalam rangka acara pelatihan

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas atas karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita semua, sehingga kita akan kembali menyelenggarakan acara dua

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat-Nya pada hari ini kita dapat berkumpul bersama guna mengadakan acara

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya menyampaikan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan Rahmat dan Izin-Nya, kita diberi kesempatan untuk hadir pada