Drs Paimin Sukartana
ARTI PENTING PEMAHAMAN PERILAKU SERANGGA PERUSAK KAYU UNTUK PENGENDALIANNYA YANG LEBIH RAMAH LINGKUNGAN Orasi ini merupakan
C. Rayap Perusak Kayu
2. Rayap kayu kering
Hadirin yang terhormat,
Dari namanya, ada kesamaan dengan bubuk kayu kering, yaitu dari segi habitatnya, yaitu kayu yang telah kering. Serangan jenis rayap ini lebih banyak pada struktur bangunan di bawah atap. Kayu konstruksi rumah/gedung, furnitur, panel lantai, dinding kusen, kertas-kertas dokumen dan lain-lain menjadi sasaran utamanya. Jenis-jenis rayap kayu kering yang sering dijumpai di Indonesia adalah dari genus Cryptotermes (Isoptera: Kalotermitidae) yang meliputi C. cynocephalus, C. dudley, C. domesticus dan C. sumatranus34.
Berbeda dengan rayap tanah, rayap kayu kering tidak membuat koloni di tanah dan juga tidak membuat saluran dipermukaan kayu atau bangunan. Rayap kayu kering berkoloni langsung pada kayu yang diserangnya, misalnya, kusen, kaso, furnitur dsb. Kerusakan karena serangannya meninggalkan rongga-rongga yang kosong yang sering berisi butiran-butiran berbentuk oval berwarna kecokelatan yang sering bertebaran di lantai rumah. Adanya butiran-butiran tersebut merupakan tanda-tanda khas telah terjadi serangan rayap kayu kering pada bangunan. Butiran-butiran ini adalah ekskremen (feses atau frass) yang dikeluarkan dari rongga serangan dalam kayu.
Struktur kasta jenis rayap ini tidak selengkap jenis rayap tanah. Yang disebut kasta pekerja sebenarnya adalah calon laron yang masih muda (nimfa) sehingga disebut kasta pekerja palsu (pseudo-worker).
Koloni rayap ini biasanya tidak besar, namun banyak. Dalam satu potong kayu dapat ditemukan beberapa koloni sekaligus, yang mungkin juga akhirnya berhubungan antara satu dengan yang lain, sehingga serangannya menjadi lebih berat.
Rayap kayu kering terutama C. cynocephalu banyak ditemukan di Bogor dan sekitarnya, dan banyak menimbulkan kerusakan pada konstruksi. Contoh kayu koleksi yang disimpan di gudang dan “Xylarium Bogoriensis” Pusat Litbang Hasil Hutan Bogor banyak yang rusak karena serangannya. Untuk pencegahan serangannya, aset yang tak ternilai harganya ini, terutama xylarium, karena berukuran kecil, secara periodik dimasukkan dalam freezer (dibekukan) untuk mematikan rayap yang ada di dalamnya. Sementara kayu yang digudang lebih banyak dibiarkan, menjadi semacam laboratorium alam untuk mengetahui daya tahan kayu terhadap serangannya dan sebagai sumber spesimen rayap untuk berbagai penelitian.
Meskipun serangan lambat (karena koloninya kecil), rayap kayu kering menyerang hampir semua jenis kayu. Uji laboratorium dengan sistem dipaksa makan (force feeding test) menunjukkan hanya sekitar 20-25% contoh kayu yang termasuk tahan – sangat tahan terhadap rayap kayu kering C. cynocephalus73. Berdasarkan tingkat kerusakan karena serangan secara alami, kayu yang disimpan di Gudang Puslitbang Hasil Hutan Bogor, dengan umur simpan kayu antara 8 – 72 tahun, sekitar 75% termasuk tahan – sangat tahan terhadap serangan rayap ini74, dan pada kesempatan lain, Sukartana dan Mandang75 menyatakan yang termasuk kelas tahan – sangat tahan adalah sekitar 64%.
Sejumlah data menunjukkan adanya hubungan antara berat jenis kayu dengan daya tahan/tingkat keawetannya. Makin tinggi berat jenisnya, makin tinggi pula keawetannya76,74 terutama kalau jenis-jenis kayu tersebut mempunyai kekerabatan taksonomi yang dekat77,78. Pola hubungan yang sama ternyata juga ditemukan pada serangan binatang penggerek di laut79. Jadi kiranya ada benarnya kalau konsumen yang awam cenderung memilih jenis-jenis kayu yang berat jenisnya tinggi, yang cenderung lebih awet daripada yang berat jenisnya rendah. Mungkin kandungan zat ekstraktif, yang berpengaruh terhadap keawetan kayu, pada jenis-jenis kayu yang berat jenisnya tinggi lebih tinggi pula daripada yang berat jenisnya rendah.
Pengendalian serangan rayap kayu kering lebih sulit daripada rayap tanah. Beruntung, serangan rayap ini berlangsung lambat, sporadis, tidak masif seperti pada rayap tanah, seperti pada serangan rayap Coptotermes spp. Yang paling aman adalah memilih jenis-jenis kayu yang keawetannya tinggi. Beberapa bahan penutup (cat) telah dicoba namun ternyata tidak efektif25. Residu atau À incoat yang sering digunakan masyarakat untuk mengecat kaso dan balok sebenarnya juga tidak efektif untuk pencegahan serangan rayap.
Bila terpaksa, kayu perlu diawetkan terlebih dahulu, baik dengan pengawet organik, misalnya dengan insektisida piretroid, klor¿ ripos dan kreosot, maupun dengan pengawet anorganik misalnya dengan bahan pengawet yang mengandung senyawa tembaga krom boron.
Alat AED dapat digunakan untuk deteksi dini adanya serangan sehingga perlakuan yang bersifat kuratif dapat diberikan pada lokasi-lokasi yang lebih tepat. Perlakuan modi¿ kasi kimia sifat-sifat kayu seperti disebutkan dimuka perlu didorong untuk antisipasi pencegahan serangan rayap yang lebih ramah lingkungan di masa yang akan datang.
III. KESIMPULAN
Hadirin yang saya muliakan,
Indonesia merupakan habitat yang subur bagi berbagai jenis makhluk hidup, termasuk bagi berbagai jenis serangga hama kayu. Sejak pemungutan di hutan sampai di tangan konsumen, kayu dihadapkan dengan berbagai jenis serangga perusak. Berdasarkan habitatnya, ada tiga golongan serangga perusak kayu di negeri ini, yaitu bubuk kayu basah (Coleoptera: Scolytidae dan Platypodidae) yang disebut juga sebagai kumbang ambrosia atau penggerek lubang jarum (pinhole borer beetles), bubuk kayu kering (Coleoptera: Bostrychidae dan Lyctidae) dan rayap (Isoptera).
Pengendalian serangan hama, sejak penebangan pohon sampai pemanfaatannya di tingkat konsumen, adalah salah satu usaha yang harus dilakukan untuk mempertahankan nilai ekonomi dan penghematan penggunaan kayu. Apa lagi, kayu yang tersedia sekarang ini cenderung dari jenis-jenis yang tidak awet.
Kecenderungan global juga menunjukkan bahwa penggunaan insektisida berdaya racun tinggi dan tahan lama (persistent), makin dikurangi dan bahkan dilarang karena alasan lingkungan. Sebagai gantinya adalah penggunaan insektisida berdaya racun rendah dan mudah terurai, yang tentu saja tidak seefektif jenis-jenis insektisida sebelumnya.
Pemahaman mengenai perilaku serangga perusak kayu diperlukan untuk memperoleh cara yang tepat untuk memutus mata rantai daur hidupnya dalam rangka pengendalian serangannya dengan cara-cara yang lebih ramah lingkungan. Pengendalian serangan bubuk kayu basah atau kumbang ambrosia harus dimulai dengan penyiapan penebangan yang cermat agar dolok dapat segera diangkut ke pabrik pengolahan. Penggergajian dan kemudian pengeringan dalam kilang Kiln-dryer efektif untuk mencegah serangan kumbang penggerek ini.
Serangan bubuk kayu kering lebih terbatas pada jenis-jenis kayu (termasuk rotan, kayu kelapa, bambu dll.) yang mempunyai kandungan zat pati tinggi. Pengeringan dalam Kiln-dryer, penggorengan dan pengkukusan (misalnya untuk rotan) dapat mematikan telur dan larva-larva bubuk yang ada di dalam inang. Pengerjaan di ruang yang “steril” akan mencegah serangan bubuk. Untuk produk-produk furnitur, pengecatan seluruh permukaan dengan melamin dapat meningkatkan daya tahannya terhadap serangan bubuk kayu kering. Bila bahan baku perlu disimpan lama, diperlukan gudang yang juga “steril”, sehingga serangga perusak tersebut tidak mudah masuk.
Pengendalian serangan tanah rayap seara ¿ sis/mekanis dan biologis banyak dikembangkan. Partikel pasir ukuran tertentu dan kawat kasa anti rayap namun tahan karat dapat dipasang di bawah fondasi untuk penghalang masuknya rayap ke bangunan.
Jamur patogen serangga sebagai insektisida biologis, misalnya Metarhizium anisopliae, secara laboratoris efektif untuk mematikan rayap, namun belum terbukti efektif di lapangan.
Penggunaan senyawa kimia mirip hormon penghambat pendewasaan, juvenile hormone analogue (JHA) dan penghambat pembentukan khitin, chitin synthesis inhibitor (CSI) dapat mematikan koloni rayap karena terjadi kekacauan struktur koloni rayap tersebut. Baik jamur patogen maupun JHA dan CSI, penggunaannya berdasarkan perilaku koloni rayap sebagai serangga sosial. Penularan sebagian anggota koloni akan menular ke seluruh anggota koloni melalui kegiatan saling sentuh dan saling menyuap antara satu dengan yang lain (trofalaksis).
Alternatif pengendalian rayap kayu kering tidak (belum) banyak tersedia. Beruntung, koloni rayap kayu kering tidak sebesar rayap tanah. Jadi perusakannya pun lebih lambat.
Penggunaan insektisida menjadi pilihan terakhir, dan itu pun hanya tersedia jenis-jenis yang berdaya racun rendah dan mudah terurai. Penggabungan dari berbagai cara diperlukan agar masa pakai kayu menjadi lebih lama. Cara ini barangkali menjadi lebih rumit dan mahal, namun diperlukan baik untuk keperluan nasional maupun global, yang cenderung mengurangi penggunaan bahan-bahan yang membahayakan lingkungan.
PENUTUP
Hadirin yang saya muliakan,
Kebutuhan kayu makin meningkat, namun ketersediaannya makin terbatas. Pengawetan kayu diperlukan, namun jenis-jenis bahan pengawet yang tersedia makin terbatas. Jenis-jenis bahan pengawet yang tahan lama dan efektif banyak yang dilarang digunakan karena alasan lingkungan. Pengendalian serangga perusak menjadi tidak mudah, tidak dapat mengandalkan satu cara saja. Perlu pendekatan secara komprehensif, termasuk dari aspek perilaku hama itu sendiri.
Aspek perilaku serangga hama banyak dipelajari dalam rangka mencari metode pengendalian yang paling tepat. Dari perilakunya, dicari fase-fase terlemah dari daur hidup serangga untuk menentukan atau merekayasa model pengendalian yang lebih tepat sasaran.
UCAPAN TERIMA KASIH
Hadirin yang terhormat,
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak sehingga saya diberi kepercayaan untuk memangku jabatan tertinggi sebagai Ahli Peneliti Utama sebagai dikukuhkan pada hari ini:
1. Direktur Lembaga Penelitian Hasil Hutan (LPHH), Bapak Ir. Sunarjo Hardjodarsono, M.Sc., yang telah memberikan kesempatan pertama untuk berkarya di lembaga ini, suatu lembaga yang tugasnya berbeda dengan latar belakang pendidikan saya;
2. Para pejabat di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, di Jakarta, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan dan Pengembangan Hasil Hutan (PUSTEKOLAH) di Bogor atas fasilitas dan dorongannya dalam pengembangan karir saya.
3. Para peneliti senior di lembaga tempat saya bekerja yang tidak dapat saya sebutkan satu- persatu yang dengan caranya masing-masing memberikan inspirasi sehingga saya dapat meraih jabatan seperti sekarang ini.
4. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan seluruh staf terkait atas penilaiannya bahwa saya telah dianggap layak memangku jabatan dan gelar terhormat ini;
5. Bapak dan ibu guru saya, khususnya Bapak Roesalin, Bapak Sukardi dan Bapak Syawal Hadi di Sekolah Rakyat, Kaliurang, bapak dan ibu guru SMP Hamong Putro dan SMA III IKIP Yogya di Pakem, Yogyakarta yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sangat berharga. Kepada Almamater saya di IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta; UNY), terutama Bapak Prof. Dr. Djohar dan Prof. Dr. Wurjadi, atas bimbingan yang diberikan selama menempuh studi di perguruan tersebut. Juga kepada Almamater saya Universitas Terbuka (UT) Jakarta. Inilah sumbang sih saya bagi almamater tercinta. Semoga saya tidak mengecewakan.
6. Prof. Dale Norris dari Department of Entomology University of Wisconsin, Madison dan Dr. Terry Highley dari Forest Products Laboratory (FPL), Wisconsin, Madison USA, yang telah mempertajam wawasan saya dalam dunia penelitian ini;
7. Almarhum Bapak dan Ibu saya, dan seluruh keluarga saya yang dengan segala pengorbanan beliau-beliau semua sehingga akhirnya saya dapat meraih kedudukan ini;
8. Isteri saya tercinta, C. Sri Sudarjati, S.Pd. dan anak-anak yang saya terkasih Nina Octoviana, SIP., MBA. dan Andreas Yuli Nugroho, S.Sos. atas dorongan baik moril maupun materiil dan selalu setia dalam menjalani hidup ini baik dalam suasana suka maupun duka. Mereka ini semua adalah sumber inspirasi dan kekuatan utama sehingga saya meraih kedudukan seperti sekarang ini. Semoga pengorbanan dan kesabaran kalian bermanfaat dalam menjalani kehidupan kita, meskipun dalam kesederhanaan.
9. Last but not least, saya ucapkan terima kasih pula atas perhatian dan kesabaran hadirin yang saya muliakan dalam meluangkan waktu untuk mengikuti acara pengukuhan saya ini sampai purnanya. Sekian, terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dubey, B., H.M. Solo-Gabriele and T.G. Townsendt. 2007. Quantities of arsenic-treated wood in demolition debris generated by Hurricane Katrina. Environ. Sci. Tecknol. 1; 4 (5): 1533-6.
2. Fonceca, A. 2004. Environmental management in wood processing industries and the European Legislation on VOC emission control. Proceeds 1st Int. Conf. Environmentally- Compatible Forest Products, Oporto, Portugal: 313-324.
3. Schmidberger, J. 1836. Naturgeschichte des Apfelborkenkafers Apate Dispar. Beitr. Obsbaumzucht Naturhech. Obsbaumen schadlichen Insekten 4: 213-230.
4. Hartig, T. 1844. Ambrosia des Bostrychus dispar. Allg. Forst-u. Jagdztg. 13: 73.
5. Hubbard, H.G. 1897. The ambrosia beetles in the United States. U.S.D.A. Bull. 7: 9-30. 6. Batra, L.R. 1966. Ambrosia fungi: extent of speci¿ city to ambrosia beetles. Science 153:
193-195.
7. Hubbard, H.G. 1986. Ambrosia beetles, general remarks. Yearbook U.S.D.A: 421-430. 8. Francke-Grosmann, H. 1967. Ectosymbiosis in Wood-Inhabiting insects. In Symbiosis
(S.M. Henry, ed.). Academic Press, pp: 141-205.
9. Schedl, K.E. 1958. Breeding habits of arboricole insects in Central Africa. Proc. 10th Int. Congr. Entomol., Montreal, 1956. Vol. 1, pp: 185-197.
10. Graham, K. 1968. Anaerobic induction of primary chemical attractant for ambrosia beetles. Can. J. Zool. 46: 905-907.
11. Cade, S.C., B.F. Hru¿ ord, and R.I. Gara. 1970. Identi¿ cation of primary attractant for Gnathotrichus sulcatus isolated from western hemlock logs. J. Econ. Entomol. 63(3): 1014-1015.
12. Moeck, H.A. 1970. Ethanol as the primary attractant for the ambrosia beetle Trypodendron lineatum. Can. Entomol. 102: 985-995.
13. Sukartana, P. 1987. Serangan kumbang ambrosia Platypus trepanatus pada dolok ramin yang diumpan dengan etanol. Kongr. Entomol. III, Jakarta.
14. Browne, F.G. 1961. The Biology of Malayan Scolytidae and Platypodidae. Malayan For. Records No. 22.
15. Sukartana, P. 1986. Initial attack of ambrosia beetle Platypus trepanatus on ramin logs. J. Pen. Has. Hutan, 3(2): 25-27.
16. Sukartana, P. 1987. Infestation habits of ambrosia beetle Platypus trepanatus on ramin logs. J. Pen. Pengemb. Kehutanan, 3(1): 27-31.
17. Sukartana, P. 1989. Serangan kumbang ambrosia Xyleborus sp. dan perkembangan lubang gereknya pada dolok tusam. Diskusi Sifat & Kegunaan Kayu HTI, Jakarta.
18. Sukartana, P. 1994. Laju serangan kumbang abrosia Xyleborus sp. pada dolok tusam (Pinus merkusii). J. Pen. Has. Hutan, 12(1): 21-25.
19. Sukartana, P. 1988. Pendugaan kepekaan kayu karet terhadap serangan kumbang ambrosia. J. Pen. Has. Hutan, 5(7): 417-419.
20. Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta, p. 530.
21. Sukartana, P. dan A. Martawijaya. 1997. Pola penyebaran serangan kumbang ambrosia Platypus trepanatus pada dolok ramin. J. Pen. Has. Hutan, 4(4): 1-3.
22. Browne, F.G. 1949. Test of preservatives against ambrosia beetles in Malaya. Malay. For. 7: 77-86.
23. Sukartana, P. 1988. Daya tarik pohon ramin terhadap kumbang ambrosia. Lembaran Penelitian No. 28. Puslitbang Has. Hut., Bogor.
24. Sukartana, P. 1989. Kepekaan kayu karet terhadap kumbang penggerek, J. Pen. Pengemb. Kehutanan, 5(1): 36-42.
25. Sukartana, P. 2008. Possible control of wood destroying insects on rubber-wood (Hevea Brasiliensis) using coating materials. J. Pen. Has. Hutan (In press).
26. Sukartana, P. 2006. Kerusakan struktur bangunan perumahan di suatu real estate, di Tangerang. Data tidak dipublikasikan.
27. Mandang, Y.I. 2008. Komunikasi pribadi.
28. Ahmad, M. 1952. Key to the Indomalayan Termites. Biologia. 4(5): 33-198 & index: 12 pp.
29. Su, N.Y and R.H. Scheffrahn. 1988. A method for elimination of subterranean termite colonies. REC Research Report FTL96-1, Univ. Florida, Ft. Lauderdale Res. & Educ. Center.
30. Becker, G. 1976. Concerning termite and wood. Unasylva, Vol. 128, No. 11, FAO.
31. Yanase, Y., Y. Fujii, S. Okumura, T. Yoshimura and Y. Imamura.2002. Detection of acoustic emission (AE) generated by the feeding activity of drywood termite. Proceeds. 4th Int. Wood Sci. Symp.JSPS-LIPI, Serpong, Indonesia.
32. Sukartana, P. 2002. Some evidences of damage caused by subterranean termites Coptotermes spp. on buildings and trees in Bogor and its around. Proceeds. 4th Int. Wood Sci. Symp., JSPS-LIPI Core University Program in Field of Wood Science, 150-155. 33. Fink, T., L. Gui, Y. Wang, Z. Cao, A. Jaiswal, O. Tahaineh, V. Ramalin-gam, R. Hasse,
A. Lax and J. Seiner. 2006. Termite Head-Banging: Sounding the Alarm. 152nd ASA Meeting in Honolulu.
34. Tarumingkeng, R. 1971. Biology and identi¿ cation of wood destroying termites in Indonesia. For. Prods. Res. Inst. Bogor, Indonesia, Report No. 138.
35. Sukartana, P. 1995. Daya tahan alami 30 jenis kayu terhadap rayap tanah Macrotermes gilvus (Hagen); suatu uji lapang yang dipercepat. J. Pen. Has. Hutan, 13(2): 71-76. 36. Sukartana, P. 1995. Ketahanan alami sejumlah jenis kayu Indonesia terhadap rayap tanah
Macrotermes gilvus rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus. Sem. Biol. XIV & Kongr. Nas. Biol. XI, UI-Depok.
37. Gathorne-Hardy, F.J., Collins, M., Buxton, R.D. and Eggleton, P. 2000. A faunistic review of the termites of Sulawesi including an updated checklist of the species. Malayan Nature J.: 347-353
38. Gathorne-Hardy, F.J., Syaukani and Eggleton, P. 2001. The effect of altitude and rainfall on the composition of the termites of Leuser Ecosystem (Sumatra, Indonesia). J. Trop. Ecol.: 379-393
39. Shimada, M., Watanabe, T., Ito, T., Komatsu, K., Yoshimura, T. and Inoue, M. (eds). 2001. JSPS-LIPI Core University Program in the Field of Wood Science; Important remark on the activities during 1996-2000 and future prospects of this program. In Science for sustainable utilization of forest resources in the tropics. Wood Res. Inst. Kyoto Univ. pp: 3.
40. Takematsu, Y., Yoshimura, T., Yusuf, S., Yanase, Y., Kambara, K., Tashiro, A., Doi, S., Takahashi, M., Sukartana, P., Inoue, T., Yazawa, H., Ohkuma, M., Kudo, T., Sornuwat, Y. and Vongkaluang, C. 2006. Termite assemblages in urban areas of South East Asia – Diversity and economic impacts. Sustainable Development and Utilization of Tropical Forest Resources. Report JSPS-LIPI Core Univ. Prog. Field of Wood Science 1996-2005, pp: 54-91.
41. Su, N.-Y. and M. Tamashiro. 1987. An overview of the Formosan subterranean termite in the world. In Biology and Control of the Formosan subterranean termite. Ed. M. Tamashiro, and N-Y. Su. Ed. M. Tamashiro, and N-Y. Su. Research Extension Series 083: 3-13.
42. Su, N.-Y. and R.H. Scheffrahn. 1988. Foraging population and territory of the Formosan subterranean termite in an urban environment. Sociobiology, 14(2): 353-359.
43. Lin, S.-Q. 1987. Present status of Coptotermes formosanus and its conrol in China, in Biology and Conrol of the Formosan subterranean termite. Ed. by M. Tamashiro & Nan- Yao Su, Research Extension Series 083: 31-36.
44. Ratcliffe, F.N., J.F. Gay and T. Greaves. 1952. Australian termites. CSIRO, Melbourne, Australia.
45. Su, N.-Y. and R.H. Scheffrahn, 1987. Current status of the Formosan termite in Florida. In Biology and Control of the Formosan subterranean termite. Ed. M. Tamashiro, and N-Y. Su. Research Extension Series 083: 27-30.
46. Tamshiro, M. J.R. Yates and R.H. Ebesu. 1987. The Formosan subterranean termite in Hawaii. Problem and control. In Biology and Control of the Formosan subterranean termite. Ed. M. Tamashiro, and N-Y. SuEd. M. Tamashiro, and N-Y.Su. Research Extension Series 083: 15-22
47. Su, N-Y. and R.H. Scheffrahn. 1990. Economically important termites in the United States and their control. Sociobiology, 17(1): 77-94.
48. Yates III, J.R and M. Tamashiro. 1990. The Formosan subterranean termite in Hawaii. Res. Extension Series 117, 4 p.
49. Yoshimura, T. Y. Takematsu, M. Takahashi, S. Yusuf and P. Sukartana. 1998. Coptotermes in Indonesia. Proceeds. 2nd Int. Wood Sci. Seminar. JSPS-LIPI Core University Program in the Field of Wood Science.
50. French, J.R.J. 1991. Baiting techniques for control of Coptotermes species within existing building in Australia. In Proceeds. Symp. Current Res. Wood-destroying Organisms an Future Prospects for Protecting Wood in Use, 1989; Oregon . Paci¿ c Southwest Res. Stn: 46-50.
51. Haverty, M.I. 1991. Discussion. In Proceeds. Symp. Current Res. Wood-destroying organisms an Future Prospects for Protecting Wood in Use, 1989; Oregon.Paci¿ c Southwest Res.Stn:p. 65.
52. Sukartana, P. 2002. Some evidences of damage caused by subterranean termites Coptotermes spp. on building and trees in Bogor and its around. Pp. 150-155. In W. Dwianto et al. (eds.), Proceeds. 4th Int. Wood Sci. Symp., JSPS-Japan and LIPI-Indonesia. 53. Sukartana, P., G. Sumarni and S. Broadbent. 2008. Evaluation of chlorÀ uazuron for
controlling the subterranean termite Coptotermes curvignathus (Isoptera: Rhinotermitidae) in Indonesia. J. Trop. For. Sci. (In pres).
54. French, J. 1993. New approaches to termite control. Onwood, CSIRO, Spring, p.2. 55. Su, N-Y. and R.H. Scheffrahn. 1992. Penetration of sized-particle barriers by ¿ led
populations of subterranean termites (Isoptera: Rhinotermitidae). J. Econ. Entomol. 85: 2275-2278.
56. Ebeling, W. and R.J. Fence. 1957. Relation of particle size to the penetration of subterranean termites through barriers of sand and cinders. J. Econ. Entomol. 50: 590-592.
57. Anonim. 2008. Aggregate Barriers. utoronto.ca/forest /termite/agbar1.htm.
58. Sukartana, P. 1998. Penembusan rayap tanah Coptotermes curvignathus pada berbagai ukuran butiran pasir. Bul. Pene. Has. Hutan, 16(2): 93-99.
59. Sukartana, P. dan Jasni. 2003. Pengendalian rayap tanah Coptotermes curvignathus dengan beberapa macam penghalang. Bul. Pertanian dan Peternakan, 4(7): 11-19.
60. Anonim. 2008. Termi-mesh. University of Hawaii Ter-Termite Project. www2.hawaii. edu/ entomol/research /r_termimesh.htm
61. Jones, W. E., J. K. Grace and Tamashiro. 1996. Virulence of seven isolates of Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae to Coptotermes formosanus (Isoptera: Rhinotermitidae). Environ. Entomol. 25(2): 481-487.
62. Milner, R. J. 2000. Improved formulations of Metarhizium for biological control of termites. CSIRO-Entomol. Technic. Report No. 86.
63. Milner, R.J., J.A. Staples and G.G. Lutton. 1997. The selection of an isolate of the hyphomycete fungus, Metarhizium anisopliae for control of termite in Australia. Biol. Control. 11:240-247.
64. Sukartana, P., A. Ismanto, W. Rumini and G. Sumarni. 2000. Susceptibility of three termite species to attack by antomopathogenic fungus Metarhizium anisopliae (Metschnikoff) Sorokin. For. Estate Crops Res. J. 1(2): 45-49.
65. Lelana, N.E., P. Sukartana, A. Ismanto dan R. Rushelia. 2006. Efektivitas penularan beberapa isolat jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae oleh rayap Coptotermes curvignathus. J. Pen. Has. Hutan, 24(3): 219-225.
66. Sukartana, P., A. Ismanto, R. Rushelia and N. E. Lelana. 2005. A laboratory trial on applying entomopathogenic fungus Metarhizium anisopliae as a barrier for subterranean termite Coptotermes curvignathus. J. Pen. Has. Hutan, Bogor, 23(3): 229-237.
67. French, J.R.J. 1974. A juvenile hormone analogue inducing caste differentiation in the Australian termite, Nasutitermes exitiosus. J. Aust. Entomol. Soc. 13: 353-355.
68. Korb., J, E.A. Roux and M. Lenz. 2004. Proximate factors inÀ uencing soldier development in the basal termite Cryptotermes secundus. Insectes Sociaux, 50(4): 299-303.
69. Su, N-Y., and R.H. Scheffrahn, 1993. Laboratory evaluation of two chitin synthesis inhibitors, hexaÀ umuron and diÀ ubenzuron, as bait toxicants against Formosan and Eastern subterranean termites (Isoptera: Rhinotermitidae). J. Econ. Entomol. 86: 1453- 1457.
70. Su, N-Y. 1994. Field evaluation of a hexaÀ umuron bait for population suppression of subterranean termites (Isopteran: Rhinotermitidae). J. Econ. Entomol. 87: 389-397. 71. Sukartana, P., G. Sumarni, A. Ismanto 2001. Evaluasi penggunaan bahan pengatur
pertumbuhan serangga heksaÀ umuron (HF) untuk eliminasi rayap tanah (Isoptera), pp. 291-297. In P. Sukartana et al. [ed.], Prosiding Seminar Nasional III, Perhimpunan Entomologi Indonesia, Bogor.
72. P. Sukartana, G. Sumarni and S. Broadbent. 2008. Evaluation of chlorÀ uazuron for controlling the subterranean termite Coptotermes curvignathus (isoptera: rhinotermitidae) in Indonesia. J. Tropical For. Prods. (In press).
73. Martawijaya, A. and G. Sumarni. 1978. Resistance of a number of Indonesian wood species against Cryptotermes cynocephalus. For. Prods. Res. Inst., Bogor, Report No. 129.
74. Sukartana, P. 1995. Serangan serangga perusak pada contoh kayu di gudang Pusat