• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS PENELITIAN DAN PENERAPANNYA DALAM PRAKTEK

Dalam dokumen Bunga Rampai Orasi APU Pustekolah (Halaman 66-69)

Barly, Bsc, SH, M.Pd.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN

III. STATUS PENELITIAN DAN PENERAPANNYA DALAM PRAKTEK

Keberhasilan pengawetan kayu selain bergantung kepada e¿ kasi bahan pengawet, juga pada cara bagaimana memasukkan bahan pengawet ke dalam kayu sesuai persyaratan standar. Salah satu sifat dasar kayu berkaitan dengan pengawetan adalah sifat keterawetan yang menggambarkan kemampuan kayu untuk ditembus bahan pengawet. Paling sedikit ada empat faktor yang saling mempengaruhi, yaitu jenis kayu, keadaan kayu pada waktu diawetkan, bahan pengawet dan cara pengawetan yang digunakan. Dengan menggunakan cara pengawetan dan bahan pengawet tertentu pada keadaan kayu yang sama dapat diusahakan membuat klasi¿ kasi keterawetan berbagai jenis kayu. Pengetahuan itu penting, karena sebagian besar kayu yang kita miliki terdiri dari jenis kayu daun lebar yang umumnya lebih sukar diawetkan dibandingkan dengan kayu daun jarum .

Penelitian sifat keterawetan kayu akan membantu dalam memilih metode pengawetan dan bahan pengawet yang tepat untuk jenis kayu dan komoditi tertentu sehingga diperoleh hasil pengawetan maksimal. Kegiatan penelitian dimulai pada awal tahun 60an dengan menggunakan metode pengawetan sederhana sesuai dengan perkembangan teknologi dan kemampuan masyarakat pada waktu itu. Baru pada tahun 70an selain menggunakan metode sederhana, juga menggunakan metode vakum-tekan dengan sasaran 120 jenis kayu perdagangan .

Penelitian teknik pengawetan kayu diarahkan untuk menemukan metode pengawetan dan bahan pengawet yang tepat untuk keperluan tertentu dalam rangka usaha meningkatkan umur teknis kayu yang secara ekonomis menguntungkan. Metode vakum-tekan diarahkan dalam rangka menunjang program listrik masuk desa, kemungkinan mengganti bantalan jati dengan kayu lain yang berkualitas rendah, dan kayu untuk menara pendingin serta kayu untuk perumahan rakyat. Metode sederhana seperti rendaman, difusi, dan pelaburan karena memiliki jangkauan pemakaian terbatas diarahkan pada kayu bangunan perumahan dan gedung serta barang kerajinan yang produksinya tidak begitu besar. Metode difusi diarahkan pada kayu basah dari semua jenis termasuk jenis kayu yang sukar diawetkan dengan cara vakum-tekan dan rendaman.

Penelitian bahan pengawet diarahkan pada pengujian e¿ kasi produk impor yang akan digunakan dan diperdagangkan di Indonesia. Di samping itu, studi formulasi diarahkan untuk mendapatkan produk substitusi bahan pengawet impor.

Hadirin yang berbahagia,

Hasil penelitian tersebut di atas cukup banyak dan dapat dilihat dalam buku Abstrak serta sudah dipublikasikan dalam media Atlas Kayu Indonesia, Pengumuman, Pengumuan Istimewa, Laporan, Publikasi Khusus, Jurnal, Buletin, Prosiding, Petunjuk Teknis dan Pedoman. Di samping disalurkan melalui ekspose, gelar teknologi, seminar, lokakarya, ceramah, kursus, pelatihan dan bimbingan teknis.

Hasil penelitian juga telah dijadikan bahan rekomendasi yang disampaikan kepada Komisi Pestisida untuk menentukan mana yang boleh digunakan. Selain dijadikan bahan bagi penyusunan konsep standar pengawetan dan pengujian bahan pengawet.

Petunjuk atau pedoman yang berisi penjelasan lebih lanjut mengenai masalah teknis diterbitkan sebagai penjabaran dari standar. Petunjuk teknis yang sudah terbit, yaitu Pengawetan Kayu Bangunan Perumahan dean Gedung, Pengolahan dan Pemanfaatan Batang Kelapa, Pengolahan Kayu Karet, Pengawetan Bambu, Pencegahan Serangan Jamur Biru, dan Pengawetan Kayu Karet.

Penelitian formulasi bahan pengawet substitusi produk impor untuk mencegah serangga dan jamur perusak, menghasilkan boron- À uorida, seng-khlorida-dikhromat, tembaga-khrom- boron dan boron-khrom. Di samping soda abu-boraks dan anti septik untuk mencegah jamur biru. Hasil pengujian e¿ kasi formulasi tersebut terbukti efektif terhadap OPK yang sesuai.

Hadirin yang berbahagia,

Pengawetan kayu secara komersial dimulai pada tahun 1939 ketika Jawatan Kehutanan di Bengkalis, Riau mengawetkan bantalan kayu kempas (Koompassia sp.) untuk tujuan ekspor. Kemudian pada tahun 1953, atas permintaan Jawatan Kehutanan perusahaan van Swaay (Belanda) membuka cabang di Jakarta dan Surabaya. Perusahaan tersebut selanjutnya berubah nama menjadi PN METRIKA, yang kegiatannya: (i) mengawetkan tiang kayu untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN), (ii) mengawetkan kayu bahan bangunan perumahan proyek Khusus Kebayoran dan Slipi di Jakarta dan (iii) mengawetkan bantalan, tiang kayu serta bahan bangunan untuk pelabuhan. Sampai akhir tahun lima puluhan jumlah instalasi pengawetan tercatat sebanyak 10 buah tersebar di beberapa kota seperti Surabaya, Jakarta, Palembang dan Medan dengan kapasitas terpasang 90.000 m3 per tahun, tetapi tidak beroperasi penuh bahkan beberapa di antaranya hampir tidak pernah beroperasi. Produksi dalam tahun 1957 hanya mencapai 15.400 m3 atau 17% dari kapasitas terpasang, terdiri atas bantalan, tiang dan kayu perumahan masing-masing 10.000 m3, 1,900 m3 dan 3.500 m3. Jumlah instalasi dan kapasitas produksinya terus menurun, sehingga pada tahun 1966 tercatat 2 buah dengan produksi sebesar 520 m3 atau 0,6% dari kapasitas terpasang, terdiri 390 m3 tiang dan 130 m3 kayu perumahan .

Periode pembangunan lima tahun tahap pertama memberi harapan kebangkitan usaha pengawetan kayu ketika pemerintah menggalakkan program listrik masuk desa dan akan membangun 50.000 km jaringan distribusi tegangan rendah. PLN dan Departemen Koperasi (UP3LP) ketika itu merencanakan penggunaan tiang dari kayu yang diawetkan. Untuk menjawab tantangan itu pada tanggal 21-22 Pebruari 1977 di Puslitbang Hasil Hutan dilangsungkan

Lokakarya Standardisasi Pengawetan Tiang Kayu, yang melahirkan spesi¿ kasi pengawetan tiang kayu sebagai cikal bakal Standar Perusahaan Listrik Negara (SPLN 115:1995) yang kemudian menjadi SNI 04-3232-1992. Spesi¿ kasi itu digunakan untuk mengawetkan ribuan tiang kayu damar laut dan keruing bagi PLN Wilayah II Sumatra Utara dan kayu rasamala dan pinus bagi PLN Wilayah XII di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Lampung, Luwu dan Lombok Departemen Koperasi (UP3LP) menggunakan berbagai jenis kayu setempat.

Seiring dengan pesatnya pembangunan perumahan dalam periode tahun 1972- 1986 intalasi pengawetan meningkat dari 2 buah menjadi 32 buah, belum termasuk instalasi yang ada di tempat pengolahan kayu karet dan instalasi rendaman milik pengembang perumahan rakyat. Berkembangnya industri pengawetan pada waktu itu, karena adanya intervensi Menteri Perumahan Rakyat. Direktur Bank Tabungan Negara (BTN) mengeluarkan surat edaran No.733/BKR/Pen/1983 yang isinya mensyaratkan kayu yang digunakan dalam pembangunan perumahan dengan kredit pemilikan rumah (KPR-BTN) harus diawetkan. Untuk memenuhi keinginan BTN itulah, maka disusun spesi¿ kasi pengawetan kayu perumahan dan gedung dilengkapi petunjuk teknis pelaksanaannya sebagai Lampiran Surat Edaran Menteri Perumahan Rakyat No.148/U.M.01.01/M/9/1985. Kemudian diterbitkan Standar Kehutanan Indonesia No. SKI-c-m-001:1987 yang diubah menjadi SNI 03-5010.1-1999 Pengawetan kayu perumahan dan gedung.

Hadirin yang berbahagia,

Untuk merangsang penggunaan kayu yang diawetkan, pada tahun 1995 Presiden menginstruksikan kepada Menteri Kehutanan agar kayu yang berkualitas diarahkan untuk ekspor, sedang untuk keperluan dalam negeri cukup menggunakan kayu kualitas rendah yang diawetkan. Atas dasar instruksi itu Menteri Kehutanan mengirim surat No. 348/Menhut-IV/95, tanggal 9 Maret 1995 kepada Menpera selaku Ketua Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan dan Pemukiman Nasional guna menyusun Keppres mengenai pemakaian kayu yang diawetkan. Konsep Keppres sudah disampaikan oleh Menpera kepada Mensekneg, tetapi tidak tuntas. Sejak itu dan kemudian diikuti dengan resesi ekonomi tahun 1997 belum ada kebijakan baru pengembang untuk menggunakan kayu yang diawetkan. Keadaan itu mengakibatkan, infrastruktur, sarana-prasarana, dan SDM yang sudah dipersiapkan tidak dapat dimanfaatkan.

Namun demikian, bagi industri yang menempatkan pengawetan bagian dari proses produksi masih tetap hidup dan cenderung tumbuh, karena tuntutan pasar. Dalam pengolahan kayu karet, kayu jabon dan palet misalnya pengawetan mutlak diperlukan, sebab jika tidak pasti merugi. Nilai tambah yang bisa diperoleh dari ekspor kayu yang telah diawetkan sangat tinggi. Kayu karet tanpa pengawetan harganya US$150/m3 meningkat menjadi US$275/m3. Di samping itu, pemberlakuan kesepakatan SPS (Sanitary and Phytosatnitary Agreements) yang tertuang dalam pasal 14 WTO- Agreements on Agriculture, mengharuskan setiap negara anggota WTO mentaatinya dan Indonesia telah ikut merati¿ kasi ISPM-15 (FAO, 2002).

Hadirin yang berbahagia,

IV. KESIMPULAN

Dari segi teknis, teknologi pengawetan kayu bukanlah sesuatu yang sulit. Keuntungan dari penggunaan kayu awet semua pihak pasti mengapresiasi. Hanya saja, sosialisasi peran dan manfaat pengawetan masih perlu ditingkatkan agar semua pihak yang berkepentingan memiliki persepsi yang sama. Segmen yang harus dikembangkan adalah pasar yang menuntut penawaran jasa yang cepat, kontinu, mutu sesuai standar dan harga yang dapat bersaing dengan kayu awet atau bahan pesaing kayu, seperti, besi, baja dan beton. Potensi pasar sebenarnya cukup besar tidak hanya untuk bangunan perumahan dan gedung, tetapi juga untuk keperluan lain seperti menara pendingin, bantalan rel, tiang listrik/ telepon, kapal dan perahu, kemasan (palet, gulungan kabel, pengganjal) dan barang kerajinan/mebel. Tidak berkembangnya industri jasa pengawetan kayu seharusnya menyadarkan semua pihak termasuk para pejabat struktural dan peneliti kehutanan, karena ke depan kita dihadapkan pada sifat kayu inferior dari hutan tanaman. Pengawetan kayu dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi pemborosan biaya pemakaian dan penggantian kayu yang tidak perlu. Intervensi pemerintah dibutuhkan dalam bentuk regulasi, pembinaan dan pengawasan dengan melibatkan inter- departemen, lembaga penelitian dan perguruan tinggi, Badan Usaha, Bank, serta masyarakat melalui LSM dan YLKI. Harapan saya, pengawetan kayu jangan dianggap sebagai hambatan tetapi dapat djadikan peluang untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk menghasilkan produk berkualitas.

Hadirin yang berbahagia,

Dalam dokumen Bunga Rampai Orasi APU Pustekolah (Halaman 66-69)