Barly, Bsc, SH, M.Pd.
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN
III. STATUS PENELITIAN DAN APLIKASINYA IV KESIMPULAN
I. PENDAHULUAN
Sudah kita maklumi bahwa kayu lama-kelamaan akan rusak atau lapuk. Kerusakan akan lebih cepat lagi jika dipasang di tempat terbuka tanpa naungan, terutama jika berhubungan dengan tanah lembab . Sebab pada dasarnya kayu tidak tahan terhadap perubahan suhu, udara, kelembaban dan air. Di pihak lain, kayu juga dihadapkan pada beragam jenis organisme perusak kayu (OPK), seperti bakteri, jamur, rayap dan binatang laut penggerek kayu. Serangan OPK dapat terlihat dari adanya cacat berupa lobang gerek, pewarnaan, pelapukan, rekahan dan pelembekan. Setiap tanda kerusakan merupakan gejala spesi¿ k dari salah satu OPK penyebab dan adanya tanda serangan itu sendiri sekaligus merupakan kriteria bahwa kayu yang bersangkutan cacat. Cacat yang terjadi dapat menyebabkan kualitas kayu turun, bahkan ada OPK yang memakan habis. Hal itulah yang menjadi latar belakang mengapa pengawetan kayu penting untuk dilakukan .
Hadirin yang berbahagia,
Saya mencoba melihat pentingnya pengawetan kayu didasarkan pada tiga alasan:
Pertama, merujuk kepada keprihatinan berbagai kalangan tentang kesenjangan antara kebutuhan dengan kemampuan pasokan kayu yang diduga merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan hutan. Kerisauan di atas pantas menjadi pelajaran dan pemerintah harus selalu menyadarkan semua pihak untuk memanfaatkan kayu secara optimal dan rasional.
Kedua, kelangkaan kayu dari hutan alam mendorong penggunaan kayu alternatif dari hutan tanaman, hutan rakyat dan perkebunan yang potensinya mencapai puluhan juta m3 per tahun. Potensi tersebut di satu sisi memberi harapan bagi pemenuhan kebutuhan, tetapi dalam praktek hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dari segi pengolahan, jenis kayu di atas umumnya memiliki sifat inferior sehingga dibutuhkan pengetahuan yang memadai dan cara penanganan yang tepat.
Ketiga, kayu merupakan produk berbasis sumber daya alam terbarukan yang dapat menjadi bisnis unggulan di masa datang, karena hutan yang dikelola dengan baik akan mampu menyediakan kayu dalam jumlah cukup untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan alasan itu, peran pengawetan kayu sudah terbukti sangat strategis apalagi di masa datang karena dengan meningkatnya umur teknis akan berdampak positif terhadap lingkungan. Di mana hutan merupakan sumber kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.
Berbeda dengan penggunaan pestisida dalam sektor pertanian, perkebunan dan rumah tangga, pengawetan kayu merupakan tindakan pencegahan, bukan untuk membasmi organisme perusak kayu (OPK) meskipun sama mengacu pada penggunaan pestisida. Senyawa kimia yang digunakan lazim disebut dengan bahan pengawet kayu, yaitu bahan kimia tunggal atau campuran yang apabila diaplikasikan dapat mencegah salah satu atau kombinasi antara; jamur, serangga, binatang laut penggerek kayu, api, cuaca (weathering), penyerapan air dan reaksi kimia. Berdasarkan batasan itu, aspek kegiatan pengawetan kayu mencakup pencegahan
kerusakan terhadap serangan OPK, pecah-retak, perubahan warna serta peningkatan daya tahan kayu terhadap api.
Di Indonesia peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestida termasuk bahan pengawet kayu diatur dalam Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1973 yang kemudian ditetapkan lebih lanjut dengan keputusan Menteri Pertanian No.434.1/Kpts/TP.270/7/2001 tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pestisida.
Hadirin yang berbahagia,
Di dalam praktek, usaha pengawetan kayu dapat dilakukan sebagai pendukung untuk melengkapi kegiatan industri perkayuan yang sudah ada dan atau dapat pula berdiri sendiri sebagai industri jasa. Bahkan pengawetan kayu bisa dilakukan oleh perorangan untuk kepentingan sendiri. Masyarakat di pedesaan sudah biasa melalukannya berdasarkan pengetahuan yang diperoleh secara turun-menurun, seperti: merendam dalam lumpur, air mengalir, kolam, pengasapan dan pelaburan dengan menggunakan residu, minyak tanah atau kapur untuk melindungi kayu bangunan. Cara lain yang biasa dilakukan yaitu dengan mengatur waktu (mangsa) atau diteres sebelum pohon ditebang. Cara di atas diyakini efektif terhadap serangga bubuk, tetapi belum tentu terhadap OPK lain.
Penggunaan bahan pengawet dianggap sebagai suatu cara yang paling efektif dan e¿ sien, karena proses dan hasilnya dapat dikendalikan. Pada kayu, pemberian bahan pengawet dapat bersifat sementara dan jangka panjang yang dikenal dengan pengawetan kayu. Disebut sementara, karena waktu perlindungannya terbatas, yaitu sampai kadar air kayu kering udara. Kegiatan semacam itu biasa dilakukan pada dolok atau kayu gergajian segar untuk mencegah serangan jamur pewarna dan kumbang bubuk kayu basah .
Sudah disebutkan di atas, bahwa pengawetan kayu adalah usaha untuk memperbaiki ketahanan kayu terhadap OPK agar umur teknisnya bertambah panjang beberapa kali lipat dari umur kayu tanpa diawetkan. Prosesnya dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti rendaman dingin, rendaman panas-dingin, dan difusi serta dengan alat vakum-tekanan. Masing- masing cara memiliki keungulan dan kekurangan, namun cara mana yang dipilih bergantung pada keadaan kayu, bahan pengawet dan faktor ekonomisnya sesuai standar produk kayu.
Hadirin yang berbahagia,
II. PERAN PENGAWETAN KAYU
Menurut hemat saya, peran pengawetan kayu dapat dilihat dari dua makna: Pertama,
kerugian yang timbul akibat penggunaan kayu tidak awet. Nilai kerugian yang ditimbulkan bukan hanya berupa pemborosan kayu, biaya dan waktu, tetapi juga imateri seperti trauma, rasa aman, kepercayaan dan reputasi. Bahkan tidak menutup kemungkinan timbul tuntutan hukum berupa ganti kerugian atau pidana jika karena kelalaian menyebabkan bangunan tidak aman. Berdasarkan hasil penelitian, pada bangunan perumahan di Jawa Barat menunjukkan bahwa rayap kayu kering merupakan hama perusak kayu terbesar (59%), selanjutnya jamur pelapuk
(53%), rayap tanah (26%), bubuk kayu kering (21%) dan OPK lain (9%). Kerugian akibat serangan rayap pada bangunan pemerintah saja diperkirakan mencapai ratusan milyar rupiah setiap tahun. Kerugian diperkirakan akan bertambah besar lagi karena 25 persen bangunan di 10 kota besar di Jawa, dimakan rayap. Sementara di Jakarta mencapai 78 % . Bahkan, rayap merupakan musuh paling berat Angkatan Bersenjata Malaysia karena telah menyerang 80 bangungan markas tentara .
Sebagai ilustrasi, jika di Amerika Serikat sekitar 10% dari tebangan tahunan digunakan untuk pengganti kontruksi karena pelapukan , maka di Indonesia persentasenya akan jauh lebih besar. Hal itu disebabkan oleh bukan saja jenis OPKnya beragam, tetapi SDMnya juga kurang pengetahuan dan disiplin. Maka dengan asumsi kerusakan 10% dari realisasi pasokan kayu nasional 36,36 juta m3, berarti kayu sebanyak 36,36 juta m3 tidak dapat dimanfaatkan yang apabila dirupiahkan setara dengan Rp.1,816 triliun per tahun, apabila harga kayu dolok Rp.500.000/m3.
Sekarang, di daerah penghasil kayu seperti Kalimantan dan Sumatra, masyarakat sudah mulai kesulitan untuk mendapatkan kayu bangunan yang berkualitas. Di pulau Jawa, langka dan tingginya harga kayu telah mendorong digunakannya kayu murah dari kebun dan pekarangan rakyat. Pemanfaatan kayu rakyat di satu sisi sangat membantu dalam pemenuhan sebagian kebutuhan, tetapi akibat penebangan yang tidak terkendali menyebabkan berkurangnya tutupan lahan. Di Malingping-Banten, setelah pohon karet dan durian menghilang, terjadi enam kali banjir bandang yang diikuti tanah longsor. Bencana itu berdampak pada kerusakan lingkungan yang nilai kerugiannya sukar diukur dengan rupiah.
Hadirin yang berbahagia
Kedua, pengawetan dapat memperpanjang umur teknis kayu bangunan. Pada kayu bantalan pengawetan dapat meningkatkan umur teknis 10-20 kali lipat.
No Jenis kayu
Umur (Tahun)
Pengawet
Tanpa diawet Diawet
1 Pine, Fagus silvatica 2 40 Kreosot
2 Keruing, Dipterocarpus sp. 3 28 Tanalith C
3 Karet, Hevea brasiliensis 0,75 28 Kreosot
4 Jati, Tectona grandis 5 -
Di Jawa Barat, kayu sengon banyak dipergunakan untuk bangunan rumah. Jenis kayu ini termasuk golongan kayu yang mempunyai keawetan rendah, yaitu kelas IV/V, jika ditanam di tempat lembab dan ditulari jamur perusak Schizophyllum commune, setelah 24 minggu ketahanan pukulnya sudah hilang 80%. Akan tetapi dengan pengawetan rumah yang dibangun tahun 1963 sampai sekarang masih baik (49 tahun). Rumah dari batang kelapa yang dibangun tahun 1984 serta menara pendingin (cooling tower) pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dibangun pada tahun 1987 menggunakan kayu keruing , sampai sekarang masih baik.
Hadirin yang berbahagia,
Pengawetan bukan hanya menjanjikan tetapi dapat membuktikan umur teknis bertambah panjang 10-20 kali lipat. Manfaat pengawetan bukan hanya pemakaian kayu dalam satuan waktu dapat diperkecil, tetapi diversi¿ kasi jenis dapat memperbesar volume pasokan kayu sehingga tekanan terhadap hutan berkurang. Masyarakat pengguna kayu juga akan diuntungkan dari biaya renovasi yang tidak diperlukan. Dengan adanya pengawetan kayu perumahan dan gedung saja biaya yang dapat dihemat bisa mencapai Rp. 6,75 triliun/tahun, belum termasuk biaya pembongkaran dan pemasangan kembali yang biasanya lebih mahal dari harga kayu yang diganti .