• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS PENELITIAN DAN APLIKASINYA

Dalam dokumen Bunga Rampai Orasi APU Pustekolah (Halaman 178-197)

Ir Efrida Basri, M.Sc.

“PENGERINGAN KAYU DI INDONESIA, STATUS PENELITIAN DAN APLIKASINYA DALAM PRAKTEK”

IV. STATUS PENELITIAN DAN APLIKASINYA

Hadirin yang berbahagia,

Sampai saat ini kegiatan yang berhubungan dengan upaya meningkatkan kualitas kayu telah banyak dilakukan di Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (PUSTEKOLAH) Bogor.

Penelitian pembuatan bagan pengeringan merupakan kegiatan yang banyak dilakukan dan sebagian sudah diadopsi oleh industri. Sebanyak 108 bagan pengeringan kayu untuk hutan alam dan sekitar 50 jenis kayu tanaman cepat tumbuh dan kayu diameter kecil sudah dihasilkan4, 13, 15, 18,30, 31, 37, 40, 42, 50, 75. Pengeringan kayu dalam dapur pengering konvensional seperti

kiln drying dan dehumidifi er memerlukan bagan pengeringan yang tepat untuk meminimalkan

kerusakan kayu dan menghemat biaya produksi. Hasil penelitian di industri diperoleh dalam proses pengeringan kayu yang menggunakan kiln drying dengan kapasitas chamber 80 m3, pengurangan waktu pengeringan satu hari saja bisa menghemat biaya Rp 1 — 1,5 juta/chamber48. Menurut75 hampir 80% biaya energi untuk kegiatan pengolahan kayu di industri adalah untuk kegiatan pengeringan.

Hadirin yang berbahagia

Keseragaman dan kecerahan warna pada permukaan kayu merupakan syarat utama dalam perdagangan kayu, sehingga karena cacat warna pada permukaan kayu membuat harga jual kayu menjadi rendah. Problema pewarnaan bisa muncul sebelum atau sesudah kayu dikeringkan. Penelitian penanggulangan penyimpangan warna terkait dengan zat ekstraktif kayu sudah dilakukan melalui perlakuan pengukusan sebelum pengeringan10, 11, kombinasi perlakuan pengeringan dan kimia , metode “shed” kombinasi metode “shed” dan kiln drying25 serta kombinasi perlakuan pendinginan (freezing treatment) dan metode “shed”31. Metode pengeringan “shed” sebagai pre-draying untuk pengeringan kayu mangium sudab diaplikasikan di PT INHUTANI II, Pulau Laut. Perlakuan sebelum pengeringan akan tetap diteruskan pada jenis kayu yang zat ekstraktifnya pekat terhadap suhu atau yang pembuluhnya tersumbat oleh endapan/tilosis atau isi sel yang lain path jari-jari kayu.

Penelitian sifat dan kualitas pengeringan kayu tanaman cepat tumbuh dan berdiameter kecil, terkait dengan umur kayu juga dilakukan untuk penentukan teknologi pengeringannya5,6,28,35,45. Kegiatan tersebut terpadu dengan bidang keilmuan lain dalam upaya memaksimalkan penggunaan kayu dan meningkatkan kualitas produk, seperti pembuatan komponen mebel dan kapal dan kayu lamina dan produk komposit lainnya. Kegiatan ini yang dibutuhkan oleh dunia industti saat ini.

Metode penelitian kombinasi perlakuan teresan pada pohon berdiri dan teknik pengeringan telah dilakukan pada kayu mangium. Hasilnya, waktu pengeringan kayu mangium menjadi lebih cepat dan diikuti dengan perbaikan sifat ¿ sik dari permukaan kayu.

Hadirin yang dimuliakan

Dewasa ini energi sudah menjadi masalah di industri pengolahan kayu. Sebagian besar kebutuhan enegri dan suatu industri pengolahan kayu adalah untuk kegiatan pengeringan kayu. Dengan mempertimbangkan Indonesia kaya akan curahan panas matahari yang menyinari sepanjang tahun, juga limbah industri penggergajian kayu yang melimpah, maka semua ini dapat dimanfaatkan untuk sumber energi pengeringan.

Penelitian tentang penggunaan tenaga matahari dalam pengeringan kayu atau kombinasi dengan energi konvensional lain (kayu bakar, minyak solar, listrik) dalam rangka menghemat biaya telah dilakukan 8.9.14.20,24,26,27,33,36,86. Berdasarkan basil uji coba terhadap beberapa jenis kayu menunjukan sistem pengeringan ini secara teknis maupun ekonomis cocok dikembangkan di industri kecil yang memiliki keterbatasan dalam modal dan SDM. Disain alat pengeringan dengan system kombinasi energi matahari dan energi konvensional inii sudah di aplikasikan di beberapa daerah di Indonesia. Penelitian di laboratonium PUSTEKOLAH dan uji coba pengembangannya di lapangan masih tetap dilakukan untuk mendapatkan kesempurnaan.

Hadirin yang berbahagia,

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu problem yang ada di industri pengolahan kayu skala kecil adalah alat pengeringan. Alat pengening yang terscdia dipasar harganya tidak terjangkau dan kapasitasnya besar. Dengan modal yang terbatas dan suplay bahan kayu yang tidak kontinyu, sulit untuk industri memilikinya. Terkait dengan itu, sejak tahun 1993 Pustekolah melakukan penelitian unntuk mendapatkan alat pengering yang bisa diaplikasikan di Industri menengah-kecil. Prototype alat pengering dengan sumber energi yang berbeda sudah dihasilkan20,26,32,36 dan dikembangkan di industri. Selain alat pengering, juga dibuat prototype alat untuk steam kayu sebelum kayu dikeringkan dalam dapur pengeringan52.

Hadirin yang mulia

Persyaratan kayu untuk suatu tujuan tertentu bergantung dan sifat-sifat kayu bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan. Kayu untuk bahan baku mebel harus cukup kuat, berdimensi stabil, mudah dikerjakan serta memiliki permukaan yang halus dan mengkilap atau bernilai dekoraif69,73. Sifat keindahan kayu terkait dengan keberadaan mebel atau furniture sebagai hiasan atau pajangan.

Kayu yang telah kering, terutama kayu dan tanaman umur muda dalam penggunaannya masih bisa berubah dimensinya yang disebabkan oleh perubahan kadar air karena perubahan suhu dan kelembapan udara. Perlakuan kombinasi pengeringan dan pemadatan (densi¿ kasi) pada kayu berkualitas rendah dapat menstabilkan dimensi kayu, meningkatkan kekerasan permukaan, membuat permukaan kayu lebih padat, halus, dan lebih licin, sehingga memenuhi

persyaratan SNI 01-0608-1989 untuk kayu mebel52. Penelitan tentang pemadatan kayu masih tetap berlanjut untuk penyempurnaan sifat kayu agar pemanfaatannya lebih luas.

V. PENUTUP

1. Pengeringan dalam industri pengolahan kayu termaksud kegiatan penting karena berpengaruh langsung terhadap kualitas pengerjaan, pengeleman, penyambungan sampai

¿ nishing. Melalui proses pengeringan dan penggunaan bagan pengeringan yang sesuai dengan kondisi dan sifat kayu maka kerusakan kayu dapat diminimalkan serta warnanya menjadi lebih cerah dan seragam.

2. Kerusakan produk kayu, terkait dengan kadar air lebih banyak di jumpai di industri kecil. Hal ini sudah disebabkan terbatasnya pengetahuan perajin tentang pengeringan dalam hubungannya dengan kualitas kayu, serta belum tersedianya alat pengeringan kayu yang sesuai untuk kebutuhan perajin.

3. Banyak yang sudah dihasilkan di laboratorium pengeringan di Pustekolah, di antaranya sudah menghasilkan 101 bagian pengeringan untuk kayu hutan alam, 50 bagan pengeringan kayu tanaman cepat tumbuh dan kayu berdiameter kecil. Sebagian dari hasil penelitian ini sudah di adopsi industri. Perlakuan penanggulangan penyimpanan warna terkait dengan zat ekstraktif dan perlakuan steam pada kayu yang pembuluhnya tersumbat, sudah di adopsi oleh industri perlakuan kombinasi penerasan dan penggunaan bagan pengeringan yang sesuai dengan sifat kayu mangium meskipun masih dalam skala penelitian, namun layak untuk dikembangkan karena menghasilkan perbaikan yang signi¿ kasi pada ¿ sik mekanik dan warna kayu.

4. Keperpihakan Pustekolah terhadap industri kecil di wujudkan dengan mendesain dan membuat prototype alat pengeringan kombinasi tenaga surya dengan biomas (limbah kayu) yang sesuai dan sudah di aplikasikan di beberapa industri kecil.

UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya muliakan,

Pertama, kami panjatkan Puji Syukur ke Hadirat Allah SWT atas ridhoNya kami bisa hadir dalam pertemuan ini.

Terima kasih saya persembahkan kepada para pejabat yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku Jabatan Fungsional Peneliti Utama. Kepada Bapak Kepala Badan Litbang Kehutanan dan Bapak Kepala Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (PUSTEKOLAH) saya ucapkan terima kasih atasberbagai kemudahan dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mencapai Peneliti Utama dalam Bidang Pengolahan Hasil Hutan.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kerabat, teman sejawat, rekan peneliti dan teknisi, terutama peneliti dan teknisi di bagian Pengeringan Hasil Hutan PUSTEKOLAH yang banyak memberikan bantuan dan kerjasama yang sangat berharga.

Ada dua pribadi yang secara khusus patut disampaikan penghargaan yang setinggi- tingginya, yaitu Alm Bapak Dr. Ir. Kosasi Kadir,MS. yang pertama kali meminta saya untuk tetap bertahan sebagai peneliti di bidang pengeringan dan ternyata itu adalah pilihan yang tepat bagi pengembangan karir saya, serta Prof. Dr. Kazuo Hayashi, dari Ehime University- Jepang yang selama 3 tahun bekerjasama, tidak hanya membantu memperluas pengetahuan saya tentang pengeringan dalam segala aspek, juga mengajarkan falsafah “gambate kudesai”.

Terima kasih yang tulus disampaikan kepada kedua orang tua saya, yaitu Alm Hasan Basri dan Almh Asma Juned, serta kedua mertua Alm Abd Kah¿ dan Hj. Siti Aisyah. Terima kasih yang khusus disampaikan kepada suami tercinta Drs. Saefudin, MP, beserta kedua putri dan putra tercinta, yaitu Ixora Adisti, ST., Alm Gibran Oktabrani dan Denvi Giovanita dengan segala kesabaran dan pengorbanannya.

Akhirul kalam. Mohon maaf atas segala kekhilafan baik yang disengaja maupun tidak. Semoga kebaikan dan pengorbanan semua pihak mendapat Ridho Allah SWT. Aamiin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 1994. Pengeringan Kayu dalam Dapur Pengeringan Konvensional. Pedoman Teknis No. 12/Th II/92. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.

2. Anonim. 2006. Kayu Alam Distop Total: Laju Degradasi Hutan Mencapai 2,87 Ha per Tahun. Harian Kompas, Tanggal 28 April 2006. 1 No. 1. Kelompok Peneliti, Praktisi dan Peminat Industri Hasil Hutan.

3. Barly dan E. Basri 1990. Peranan pengawetan dan pengeringan kayu dalam industri kayu skunder. Prosiding Diskusi Industri Perkayuan. Jakarta 14-15 Maret: 89-103.

4. Barnett, J.R. and V.A. Bonham. 2004. Cellulose Micro¿ bril Angle in the Cell Wall of Wood Fibres. Biology Review (79): 461-472.

5. Basri, E. and K. Yuniarti. 2005. The combination of solar energy and heating stoves sistem for drying wood. Proceed. Of the 6th International Wood Science Symposium, August 29-31, 2005 in Bali. LIPI-JSPS Core University Program in the Field of Wood Science. pp 151-155.

6. Basri, E. dan A. Supriadi. 2006. Uji coba mesin pengering kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku Tipe I (SC+TI). Jurnal Penelitian Hasil Hutan 24 (5): 437-448. Bogor.

7. Basri, E., K. Hayashi, N. Hadjib, H. Roliadi. 2000b. The Qualities and Kiln Drying Schedules of Several Wood Species from Indonesia. In Sustainable Utilization of Forest Products, Socio-Economical and Ecological Management of Tropical Forests. Proceed. of the Third International Wood Science Symposium, November 1-2, 2000 in Kyoto. Pp 43-48. Wood Research Institute, Kyoto University. Japan.

8. Basri, E dan D. Rohadi. 1995. Prospek pemanfaatan energi surya pada proses pengeringan kayu. Prosid. Lokakarya Teknologi Tepat Guna Energi Non Konvensional untuk Pembangunan di Indonesia, tanggal 18-19 Desember, 1995 di Bandung. Fisika Terapan- LIPI. Bandung. Hal. 1-10.

9. Basri, Edan Saefudin. 2007. Kualitas pengolahan tiga jenis kayu substitusi ramin dari koleksi kebun raya Bogor. Prosid. Semnas Mapeki X. Pontianak. Hal 222-228.

10. Basri, E, K. Hayashi, S. Masasuke dan H. Nishiyama. 2001. Optimum drying schedule for some fast grown species from Indonesia. Proceedings of The Seventh International IUFRO Wood Drying Conference, July 9 – 13, 2001 in Tsukuba. Pp 84-89. Forestry and Forest Products Research Institute. Japan.

11. Basri, E. 1992. Sifat pengeringan beberapa jenis kayu hutan tanaman industri (HTI). Jurnal Sifat dan Kegunaan Jenis Kayu Hutan Tanaman Industri Vol. 1: 1-4. Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.

12. Basri, E. 1990. Bagan pengeringan beberapa jenis kayu hutan tanaman industri. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 6 (7): 447-451. P3HH, Bogor.

13. Basri, E. 1994. Research and development on wood drying in Indonesia. Worshop on Solar Thermal Energy Utilization System. Jakarta.

14. Basri, E. 1998a. Penerapan teknologi pengeringan tepat guna pada industri kayu skala kecil. Prosid. Semnas Mapeki I. Fahutan IPB. Bogor. Hal 117-123.

15. Basri, E. 2000a.Penerapan bagan pengeringan tiga jenis kayu dalam dapur pengering konvensional. Prosid. Diskusi Peningkatan Kualitas Kayu. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. Hal 178-185.

16. Basri, E. 2000b.Teknologi pengeringan: Pilihan bagi industri kecil kehutanan. Prosid. Diskusi Peningkatan Kualitas Kayu. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. Hal 31-46. 17. Basri, E. 2000c. Teknik pengeringan empat jenis kayu diameter kecil asal hutan tanaman.

Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol. 17 (4): 199-2008.

18. Basri, E. 2001. Drying schedules for Small-Diameter Logs from Jambi and Their Proper Utilization for Wooden Craft Products. Forestry Research Journal Vol. 2 (1): 23 – 27. Forestry Research and Development Agency. Jakarta.

19. Basri, E. 2001. Drying schedules for Small-Diameter Logs from Jambi and Their Proper Utilization for Wooden Craft Products. Forestry Research Journal Vol. 2 (1): 23 – 27. Forestry Research and Development Agency. Jakarta.

20. Basri, E. 2002a. Pengeringan kayu di Indonesia: Permasalahan dan upaya pemecahannya. Prosid. Workshop Teknologi Pengeringan dan Teknik Pengawetan kayu.Puslitbang Teknologi Hasil Hutan. Bogor. Hal 53-58.

21. Basri, E. 2002b. Teknologi pengeringan kayu kombinasi energi surya dengan panas tungku. Proyek Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Jakarta.

22. Basri, E. 2003. The combination of solar and Biomass energy in wood drying. Workshop and Expose Fundamental Research Scienti¿ c Results of Indonesian-Japan Cooperation Program LIPI – JSPS July 17-18, 2003 in Jakarta.

23. Basri, E. 2005.Basic Drying Schedules of 16 Indonesian Wood Species. Journ. of Forest Prod. Research 23 (1): 23 - 33.Centre for Forest Products R&D. Bogor. (In Indonesian). 24. Basri, E. 2005a. Bagan pengeringan dasar 16 jenis kayu Indonesia. Jurnal Penelitian Hasil

Hutan Vol. 23 (1): 15 –22. P3HH, Bogor.

25. Basri, E. 2005b. Mutu kayu mangium dalam beberapa metode pengeringan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 23 (2): 117 –126. P3HH, Bogor.

26. Basri, E. 2005c. Alat pengering kayu buatan Puslitbanghut: Karya lokal mutu internasional. Agro Indonesia Vol. I No. 41. Jakarta.

27. Basri, E. 2008a. Bagan pengeringan dasar 12 jenis kayu dari Indonesia. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 26 (2): 181 –192. P3HH, Bogor.

28. Basri, E. 2008b. Standar mutu kayu berdasarkan sifat pengeringannya.Prosid. Semnas Mapeki XI. Palangka Raya. Hal 221-229.

29. Basri, E. 2009a. Kualitas pengeringan kayu jati cepat tumbuh dan jati konvensional. Buletin Hasil Hutan Vol. 15 (1): 1-7. P3HH, Bogor.

30. Basri, E. 2009b. Pengaruh lama pengukusan terhadap laju pengeringan, penyusutan, dan mutu kayu titi. Buletin Hasil Hutan Vol. 15 (1): 23-29. P3HH, Bogor.

31. Basri, E. and K. Yuniarti. 2006. Sifat dan bagan pengeringan sepuluh jenis kayu hutan rakyat untuk bahan baku mebel. Prosid. Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan, tanggal 21 September 2006 di Bogor. P3HH, Bogor.

32. Basri, E. and N. Hadjib. 2004. The Relation Between Basic Properties and Drying Properties of Five Priority Wood Species from West Java. Journ. of Forest Prod. Research 22 (3): 155-166. Centre for Forest Products Technology R&D. Bogor. (In Indonesian). 33. Basri, E. dan K. Yuniarty. 2001. Perkembangan penelitian pengeringan kayu mangium

(Acacia mangium)di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bogor. Prosid. Diskusi Teknologi Pemanfaatan Kayu Budidaya untuk Mendukung Industri Perkayuan yang Berkelanjutan. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan, Bogor.

34. Basri, E. dan Y.I. Mandang. 2001. Pengeringan kayu: Pentingnya pemahaman sifat-sifat kayu untuk mendukung teknologi pengolahan. Prosid. Diskusi Teknologi Pemanfaatan Kayu Budidaya untuk Mendukung Industri Perkayuan yang Berkelanjutan, tanggal 7 Nov. 2001. Puslitbang Tekno. Hasil Hutan. Bogor. Hlm. 261-268.

35. Basri, E. dan M. Muslich. 2005. Teknologi pengolahan kayu karet. Proyek Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan Departemen Perindustrian. Jakarta.

36. Basri, E. dan N. Hadjib. 2004. Hubungan Sifat Dasar dan Sifat Pengeringan Lima Jenis Kayu Andalan Jawa Barat. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 22 (3): 155-166. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

37. Basri, E. dan N. Hadjib. 2007. Pengeringan kayu tanaman untuk bahan baku kayu pertukangan. Semnas Sistem penyediaan Kayu bermutu Konstruksi di Bandung, tanggal 27 Nov. 2007. Puslitbang Permukiman. Bandung.

38. Basri, E. dan Rahmat. 2001. Pembuatan kilang pengeringan kayu kombinasi energi surya dan tungku. Petunjuk Teknis. Puslitbang Teknologi Hasil Hutan. (Edisi cetak ulang). 39. Basri, E. dan S. Hidayat. 1993. Pengaruh asal dan umur pohon terhadap sifat pengeringan

kayu sengon.Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 11 (4): 129-133. P3HH, Bogor.

40. Basri, E. dan S. Rulliaty, dan Saefudin. 2007a. Sifat dan kualitas pengeringan lima jenis kayu dari Kebun Raya Bogor. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 25 (3): 256-265. P3HH, Bogor.

41. Basri, E. dan S. Rulliaty. 2008a. Pengaruh Sifat Fisik dan Anatomi terhadap Sifat Pengeringan Enam Jenis Kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 26 (3): 253-272. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor.

42. Basri, E. dan S. Rulliaty. 2008b. Peningkatan kualitas kayu cepat tumbuh untuk bahan baku mebel melalui pengeringan. Buletin Hasil Hutan Vol. 14 (1): 39-44. P3HH, Bogor. 43. Basri, E. dan Saefudin. 2011. Rasio penyusutan arah tangensial terhadap radial dan kadar

air titik jenuh serat tiga jenis cabang. Prosid. Semnas Mapeki XIII. Sanur-Bali. Hal 923- 928.

44. Basri, E.dan Saefudin. 2008. Sifat pengeringan cabang tiga jenis kayu kurang dikenal. Prosid. Semnas Mapeki XI. Palangka Raya. Hal 504-508.

45. Basri, E. dan Saefudin. 2009. Perbedaan sifat pengeringan dua jenis kayu dari genus Litsea dalam dua metode pengeringan. Prosid. Semnas Mapeki XII. Bandung. Hal 577- 584.

46. Basri, E., D. Rohadi and T. Priadi. 2004. The Alleviation of Discoloration in Teak (Tectona grandis) Wood through Drying and Chemical Treatments. Jurnal IPTEK Kayu Tropis Vol. 2 (1): 57-61. Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia, Bogor.

47. Basri, E., E.M. Alamsyah, E. Rasyid. 2000a. Ketergantungan kadar air keseimbangan terhadap jenis kayu dan suhu lingkungan.Semnas Mapeki III. Fahutan UNWIM. Bandung. Hal 442-447.

48. Basri, E., E.T. Choong, K. Sofyan dan H. Roliadi. 1999a. Dryability classi¿ cation of twenty-¿ ve timber species of Indonesia. Jurnal Teknologi Hasil Hutan Vol. XII ( 2): 21- 28. Fahutan IPB, Bogor.

49. Basri, E., E.T. Choong, K. Sofyan, H. Roliadi. 1999. Dryability Classi¿ cation of Twenty- Five Timber Species of Indonesia. Journ. of Forest Prod. Techn. Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University. IPB. Bogor.

50. Basri, E., Gusmailina and Priadi. 2003. The combination of solar and biomass energy in wood drying. Regional Workshop on Drying Technology. The Third Seminar and Workshop. ASEAN Subcommittee on Non-Conventional Energy Research in Bogor. 51. Basri, E.,H. Roliadi, Rahmat. 1998b. Drying technique for Kumia (Manilkara sp) wood.

Proceedings. TheSecond International Wood Sci. Seminar. LIPI – JSPS Core University Program In The Field of Wood Sci. pp. C46-C56. Serpong, Indonesia.

52. Basri, E.,H. Roliadi, Rahmat. 1999b.The effect of pre-steaming and cross-sectional end- coating on drying properties of Indonesian torem (Manilkara kanosiensis) wood. Proceed the Fourth Intern Conference on the Development of Wood Sci., Wood Techn. and Forestry. Forest Prod. Research Centre. England. Pp 14-17.

53. Basri, E., K. Hayashi, and Rahmat. 2002. The combination of shed and kiln drying resulted in good quality of mangium lumbers. Proceed. of the Fourth International Wood Science Symposium, September 2-5, 2002 in Serpong. Pp. 101-106. LIPI-JSPS Core University Program in the Field of Wood Science. Indonesia.

54. Basri, E., K. Hayashi, and Rahmat. 2002. The combination of shed and kiln drying resulted in good quality of mangium lumbers. Proceed. of the Fourth International Wood Science

Symposium, September 2-5, 2002 in Serpong. Pp. 101-106. LIPI-JSPS Core University Program in the Field of Wood Science. Indonesia.

55. Basri, E., K. Hayashi, S. Masasuke dan H. Nishiyama. 2001. Optimum Drying Schedule for Some Fast Grown Species from Indonesia. Proceedings of the Seventh International IUFRO Wood Drying Conference, July 9 – 13, 2001 in Tsukuba. Pp 84-89. Forestry and Forest Products Research Institute. Japan.

56. Basri, E., Kaomini, dan K. Yuniarti. 2009. Kualitas ¿ lamen dan benang sutera dari kokon hasil uji coba pengeringan dan penyimpanan menggunakan alat desain P3HH Bogor. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27 (3): 213-222. P3HH, Bogor.

57. Basri, E., N. Hadjib, Abdurachman, Jasni, M. Iqbal. 2012. E¿ siensi Pemanfaatan Kayu untuk Rumah Sederhana Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna

58. Basri, E., N.Hadjib and Saefudin. 2005. Basic properties in relation to drying properties of three wood species from Indonesia. Journal of Forestry Research Vol. 2 No. 1. Forestry Research and Development Agency, Jakarta.

59. Basri, E., O. Rachman, dan A. Supriadi. 1998c. Pengupasan dan pemolesan rotan dalam keadaan basah dan kering. Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol. 15 No. 8.

60. Basri, E., R.G.N. Triantoro dan Wahyudi. 2007b. Sifat dan Jadwal Pengeringan Lima Jenis Kayu Papua Barat. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis 5 (2): 57-62.

61. Basri, E., Saefudin, S. Rulliaty, and K. Yuniarti. 2009. Drying Conditions for 11 Potential Ramin Subtitutes. Journ. of Tropical Forest Science 21 (4): 328-335. Forest Research Institute Malaysia.

62. Budianto AD. 1996. Sistem Pengeringan Kayu. Semarang. Kanisius.

63. Coto Z. 1996. Pentingnya Pengeringan Kayu. Buletin Teknologi Hasil Hutan Vol.

64. FVC (Furniture Value Chains). 2011. Improving capacity of small-scale furniture producers to increase pro¿ t share: Institutions, certi¿ cation and collective marketing. Furniture Value Chains News No. 4. CIFOR. Bogor, Indonesia.

65. Hadjib, N. dan E. Basri. 1990. Sifat ¿ sik, mekanik, dan pengeringan beberapa jenis kayu dari kayu hutan alam dan hutan tanaman. Prosid. Diskusi Hutan Tanaman Industri, Jakarta tanggal 13 Maret.

66. Haygreen, J.G. dan J.L. Bowyer. 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu: Suatu Pengantar. Terjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia oleh Sutjipto Hadikusumo. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

67. Kadir, K. 1973. Kadar Air Kayu Kering Udara di Bogor. Laporan No. 12. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

68. Kadir, K. 1975. Bagan Pengeringan Beberapa Jenis Kayu Industri. Laporan No.57. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

69. Kadir, K. 1978. Kadar Air yang Dianjurkan dalam Kayu untuk Pemakaian dalam ruangan di Beberapa Kota di Jawa. Laporan No. 106. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

70. Móttonen, V. 2006. Variation in Drying Behavior and Final Moisture Content of Wood During Conventional Low Temperature Drying and Vacuum Drying of Betula pendula Timber. Journ. Of Wood Drying Technology 24: 1405-1413.

71. Perré, P. 2001. The Drying of Wood: the Bene¿ t of Fundamental Research to Shift from Improvement to Innovation?. Proceedings of The Seventh International IUFRO Wood Drying Conference, July 9 – 13, 2001 in Tsukuba. Pp 2-13. Forestry and Forest Products Research Institute. Japan.

72. Qumruzzaman, C., S. Iftekhar, A. Mahbubul. 2005. Effects of Age and Height Variation on Physical Properties of Mangium (Acacia mangium Willd) Wood. Australian Forestry 68: 17-19.

73. Rulliaty, S. 2008. Karakteristik Kayu Muda pada Mangium (Acacia mangium Willd.) dan Kualitas Pengeringannya. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 26 (2): 117-128. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor.

74. Rulliaty, S. 1994. Wood Quality Indicators as Estimator of Juvenile Wood in Mahogany (Swietenia macrophylla King.) from Forest Plantation in Sukabumi, West Java, Indonesia. Master’s Thesis. University of The Philippines at Los Baños, College, Laguna. The Philippines. Unpublished.

75. Sasono, A. 1999. Ekonomi Kerakyatan dan Dinamika Perubahan. Harian Umum Republika terbitan bulan Oktober 1999.

76. Taylor, A. B. Gartner, J. Morrel. 2002. Heartwood Formation and Natural Durability : A Review. Wood and Fiber Science 34: 587 – 611.

77. Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood : Structure, Properties, Utilization. Van Non-strand Reinhold. New York.

78. Yano, H., S. Kawai, K. Hayashi,E. Basri, A. Firmanti, C.M.E. Susanti, B. Subiyanto and Subyakto. 2006. Sustainable development and utilization of Tropical Forest Resources: Total utilization of Acacia mangium Wild. Report of JSPS-LIPI Core University Program in the Field of Wood Science 1996-2005. Research Institute for Sustainable Humanosphere,

Dalam dokumen Bunga Rampai Orasi APU Pustekolah (Halaman 178-197)