• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 Laporan Kinerja IR III Tahun 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "4 Laporan Kinerja IR III Tahun 2016"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas perkenannya laporan kinerja Inspektorat III Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan Tahun 2016 dapat diselesaikan tepat waktu. Sebagai unsur pelaksanaan pengawasan Inspektorat III Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan mempunyai tugas menyelenggarakan pengawasan terhadap satuan kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Laporan Kinerja ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pimpinan atas pelaksanaan program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Inspektorat III. Laporan Kinerja Inspektorat III Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan tahun 2016 menginformasikan tentang:

1. Pelaksanaan Audit Operasional 2. Pelaksanaan Audit BMN

3. Pelaksanaan Reviu Laporan Keuangan 4. Pelaksanaan Reviu RKA-K/L

5. Pelaksanaan Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pengawasan 6. Pelaksanaan Pembinaan:

a. Pendampingan WBK/WBBM b. Pendampingan SPIP

c. Pendampingan lainnya

Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Inspektur Jenderal Kemenkes RI yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pelaksanaan pengawasan dan pembinaan/pendampingan yang dilakukan jajaran Inspektorat III.

2. Bapak Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemenkes RI yang telah memberikan dukungan sumber daya dan dukungan administratif.

3. Bapak dan Ibu Inspektur I, II, IV dan Investigasi yang telah berkoordinasi dengan baik dalam pelaksanaan tugas pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh Inspektorat III.

4. Seluruh Auditor, Kasubag TU dan Staf Tata Usaha Inspektorat III yang telah mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk pelaksanaan tugas pengawasan dan pembinaan di Inspektorat III.

5. Seluruh jajaran di lingkungan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan yang telah mendukung pelaksanaan pengawasan terutama dalam rangka penyelesaian Laporan Kinerja Inspektorat III Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan tahun 2016.

Semoga Laporan Kinerja Inspektorat III tahun 2016 ini dapat memberikan gambaran tentang pelaksanaan pengawasan yang ditugaskan kepada Inspektorat III yang pada akhirnya dapat meningkatkan Kinerja Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Jakarta, Februari 2017

Inspektur III,

(3)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……….i

Daftar isi ………...ii

Bab I Pendahuluan ...1

A. Latar Belakang…. ...1

B. Visi dan Misi ...1

C. Dasar Hukum ...1

D. Sasaran dan Program ...2

E. Tugas Pokok dan Fungsi ...2

F. Struktur dan Organisasi ...3

G. Sumber Daya Manusia ...3

Bab II Perencanaan dan Perjanjian Kinerja ...7

A. Perencanaan Kinerja ...7

B. Perjanjian Kinerja ...7

Bab III Capaian Akuntabilitas Kinerja ...9

A. Capaian Realisasi Terhadap target yang dijanjikan ... 10

1. Analisis Capaian Realisasi ... 10

2. Perbandingan Capaian Kinerja ... 17

3. Perbandingan Capaian Kinerja dengan target jangka menengah ... 17

4. Keberhasilan pencapaian target ... 17

5. Efisiensi Sumber Daya ... 18

B. Kegiatan Penunjang Keberhasilan ... 19

1. Reviu Laporan Keuangan ... 19

2. Reviu RKBMN ... 46

3. Reviu Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) ... 52

4. Evaluasi SAKIP ... 63

5. Monitoring dan Evaluasi Tindak Lanjut Hasil Pengawasan ... 71

6. Pendampingan dan Pembinaan ... 73

7. Telaahan Permasalahan Kepegawaian ... 75

Bab IV Penutup ... 77

Lampiran-lampiran

(4)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

ementerian Kesehatan mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintah di bidang kesehatan. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan fungsi-fungsi, antara lain pelaksanaan pengawasan fungsional di lingkungan Kementerian Kesehatan. Tugas melaksanakan pengawasan fungsional ini menjadi tanggungjawab Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan.

Pengawasan sebagai salah satu fungsi organik manajemen merupakan proses kegiatan yang harus ada dan harus dilaksanakan dalam suatu organisasi agar pelaksanaan program-program kesehatan dapat dicapai secara efisien dan efektif.

Inspektorat III sebagai salah satu Unit Eselon II yang berada dibawah Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan merupakan salah satu unit yang melaksanakan pengawasan intern terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan penyusunan laporan hasil pengawasan lingkup Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

B. Visi dan Misi

Visi :

Kementerian Kesehatan yang Akuntabel Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, Nepotisme.

Misi :

1. Meningkatnya kualitas pengawasan intern di lingkungan Kementerian Kesehatan.

2. Mencegah terjadinya penyimpangan terhadap pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan di Kementerian Kesehatan.

3. Meningkatnya peran Inspektorat Jenderal dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel.

C. Dasar Hukum

Sebagai realisasi didalam melaksanakan tugas dan fungsinya di bidang pengawasan, Inspektorat III Itjen Kemenkes berpedoman kepada peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

(5)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 2

2. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

3. Instruksi Presiden RI Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

4. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/03/M.PAN/02/2006 tentang Kebijakan Pengawasan Nasional.

5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64/Menkes/Per/XI/2015 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI.

D. Sasaran Program

Sasaran Program Inspektorat III dalam Rencana Aksi Program ditetapkan dengan merujuk sasaran yang ditetapkan dalam RPJMN dan Renstra yaitu Meningkatnya transparansi tata kelola pemerintahan dan terlaksananya Reformasi Birokrasi dengan Indikator Kinerja Persentase satuan kerja wilayah binaan Inspektorat III yang memiliki temuan kerugian negara ≤1%

Untuk mengukur tingkat pencapaian kinerja Inpektorat III maka setiap tahun ditetapkan perjanjian kinerja yang berisikan sasaran kinerja, indikator kinerja dan indikator kinerja dan target yang ingin dicapai. Perjanjian Kinerja yang telah ditetapkan merupakan sasaran program dalam rencana Aksi Program dengan merujuk pada sasaran yang ditetapkan dalam RPJMN dan Renstra serta memperhatikan tugas pokok dan fungsi Inspektorat III.

Laporan Kinerja Tahunan Inspektorat III merupakan laporan tingkat pencapaian kinerja selama tahun 2016 sebagaimana yang telah ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja pada awal tahun 2016. Laporan Kinerja Tahunan merupakan bentuk pertanggungjawaban suatu unit kerja dalam mencapai sasaran/tujuan strategis instansi. Penyusunan Laporan Kinerja Tahunan merupakan salah satu upaya mewujudkan manajemen pemerintah yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil yang merupakan salah satu agenda paling penting dalam reformasi pemerintah.

E. Tugas Pokok dan Fungsi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64/Menkes/Per/XI/2015 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI pasal 653; Inspektorat III mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis dan pelaksanaan pengawasan intern serta penyusunan laporan hasil pengawasan di lingkup Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 653, Inspektorat III menyelenggarakan fungsi:

1. Penyusunan kebijakan teknis pengawasan intern di lingkup Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

(6)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 3

3. Pengawasan intern terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya di lingkup Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

4. Pelaporan hasil pengawasan, dan

5. Pelaksanaan urusan tata usaha Inspektorat III.

F. STRUKTUR ORGANISASI

Struktur Organisasi Inspektorat III mengacu pada peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi Tata kerja Kementerian Kesehatan sebagai berikut :

Gambar 1.1

Struktur Organisasi Inspektorat III (Permenkes 64 Tahun 2015)

G. SUMBER DAYA MANUSIA

Kondisi sumber daya manusia di Inspektorat III sampai dengan 31 Desember 2016 adalah sebanyak 47 orang, yang dapat diuraikan menurut golongan/pangkat, tingkat pendidikan, jenis kelamin dengan rincian sebagai berikut:

1. Menurut Kelompok Jabatan

Gambar 1.2

(7)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 4

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa Kelompok Jabatan pada Inspektorat III terdiri dari JFT Auditor berjumlah 36 orang (77%), JFT Audiwan sebanyak 2 orang (4%), JFU sebanyak 7 orang (15%) dan Struktural sebanyak 2 orang (4 %).

2. Menurut Golongan

Gambar 1.3

Jumlah Pegawai Inspektorat III Menurut Golongan

Dari gambar diatas dapat disampaikan bahwa sebanyak 38 orang (80,85%) adalah Golongan III dan Golongan IV sebanyak 9 orang (19,15 %).

3. Menurut Tingkat Pendidikan

Gambar 1.4

Jumlah Pegawai Inspektorat III Menurut Pendidikan

(8)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 5

4. Menurut Jenis Kelamin

Gambar 1.5

Jumlah Pegawai Inspektorat III Menurut Jenis Kelamin

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa pegawai Inspektorat III terdiri dari 28 orang (60%) laki-laki dan pegawai perempuan sebanyak 19 orang (40%).

5. Rincian Lengkap Daftar Pegawai Inspektorat III

Tabel 1.1 Daftar Rinci Pegawai Inspektorat III

No Nama NIP Baru Pangkat Jabatan

Fungsional Gol. TMT

1 Heri Radison, SKM., MKM. 196603231989031003' IV/b 01/04/2014 Inspektur 2 Nona Ambrawati, SST, MM,

CFE 196607311989032003' IV/b 01/04/2016

Auditor Madya

3 Supomo, SE, M.Kes 196305011984031002' IV/a 01/10/2014 Auditor Madya 4 Alamah, SE, M.Ak 196111281982032001' IV/a 01/10/2015 Auditor Madya 5 Eka Widianti, SKM, MM,

CFrA. 196204031982022003' IV/a 01/10/2015

Auditor Madya

6 dr. Doli Wilfried Hasudungan

Simanungkalit, M.Kes 196903172000031001' IV/a 01/10/2011

Auditor Muda

7 Drs. Tjetjep Rochadi

Sukmono, MM 196110031982031001' IV/a 01/04/2010

Auditor Muda

8 Drs. Hadi Suprayitno, MM. 196602231989031000 IV/a 01/10/2012 Kasubag TUIR 9 Antony Chandra Saputra, SH 196807091997031000 IV/a 01/04/2013 Audiwan

Madya 10 Pitra Tri Yuli Nurtjahya, SKM,

MM.Kes 197107211997031006' III/d 01/04/2009

Auditor Muda

11 Ichwan Ridwan, SE, MM 196808081994031004' III/d 01/04/2010 Auditor Muda 12 Drs. R. Dedi Prihadi, MM 196201221991031001' III/d 01/04/2003 Auditor Muda 13 dr. Achmad Yani, M.K.K 196408161997031003' III/d 01/10/2011 Auditor Muda 14 drg. Ossie Sosodoro Wisoto

Wardono, MPH 196902222002121003' III/d 01/04/2010

Auditor Pertama 15 Khairina, SKM 196606261993032002' III/d 01/04/2005 JFU 16 Patar Luhut Panjaitan, SKM 197209181997031003' III/d 01/04/2009 Auditor

Pertama 17 Mohamad Yamin, SE, MM 196504251990031002' III/d 01/04/2011 Auditor

(9)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 6

No Nama NIP Baru Pangkat Jabatan

Fungsional Gol. TMT

19 Emi Kurniasari, S.Sos 197003091993032001' III/c 01/04/2015 Auditor Muda 20 Kamarul Wahdi, SKM, MM 196704211989111002' III/d 01/10/2015 Auditor Muda 21 Herlin Kusmandalani, SKM 196208251984022004' III/c 01/10/2006 Auditor Muda 22 Mochammad Sugeng

Supriadi, ST 196304251989031006' III/c 01/04/2008

Auditor Muda

23 Arin Wiludjeng Hartati, SKM,

MKM 196510201991022001' III/c 01/04/2008

Auditor Muda

24 R. Agus Pratikno, SE 197507031998031001' III/c 01/04/2012 Auditor Pertama 25 Ferry Tubagus Santoso, SE,

M.Ak 197108172005011004' III/c 01/04/2013

Auditor Pertama 26 Yurika Sari Dewi, Apt 197505182009122001' III/c 01/04/2014 JFU Arsiparis 27 Pamong Tarubar M.

Nainggolan, SH, MH, CFrA 197504192008011006' III/b 01/10/2011

Auditor Pertama 28 Allin Remi Nova Sitorus, SE 198011232006042001' III/b 01/04/2010 Auditor

Pertama 29 Ayudya Wikastri, S.Kom 197311071998032001' III/b 01/10/2008 Auditor

Pertama 30 Asep Rizkana, SKM 196909211997031003' III/b 01/04/2010 Auditor

Pertama 31 drg. Satrio Wicaksono, MPH 198405312010121001' III/b 01/04/2012 Auditor

Pertama 32 Duta Setiawan, SKM 197810122005021003' III/b 01/04/2012 Auditor

Pertama 33 Suhatsyah, SE 197406222008011013' III/b 01/04/2012 Auditor

Pertama 34 Meta Libriani Indahsari,

S.Kom 198210082008012000 III/b 01/04/2012

Audiwan Pertama 35 Muhammad Isman 197105291991031001' III/b 01/10/2011 JFU Olah Data 36 Detya Junita, SH, MH 198406222009122003' III/b 01/04/2014 JFU Olah Keu 37 Nur Ariati Mukharomah, SST 198909012010122001' III/b 01/04/2015 Auditor

Pertama 38 dr. Sandra Reinny

Parengkuan 198812032015032003' III/b 01/05/2016

JFU Auditor

39 Novita Devianty Mawardi,

S.IP 198511162010122001' III/b 01/04/2015

JFU Arsiparis

40 Wiji Lestari, SE 198404212010122001' III/a 01/04/2012 Auditor Pertama 41 Lukman Nurhakim, SE 198308222014021001' III/a 01/04/2015 Auditor

Pertama 42 Dhany Assegaf, SE 198409222014021001' III/a 01/04/2015 Auditor

Pertama 43 Hanifiansyah, SE 198610302014021001' III/a 01/04/2015 Auditor

Pertama 44 Fifit Awaliah, SE 198708112014022003' III/a 01/04/2015 Auditor

Pertama 45 Dini Anggun Sasmita, S.Kom 198509052014022003' III/a 01/04/2015 Auditor

Pertama 46 Maisa Dwi Cahyo Ahdiat,

S.Kom 198805242014021003' III/a 01/04/2015

Auditor Pertama 47 Danan Rizky Rifani, SE 199010072014021002' III/a 01/04/2015 Auditor

(10)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 7

BAB II

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN

KINERJA

A. PERENCANAAN KINERJA

erencanaan Kinerja merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu satu sampai lima tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul.

Sasaran Startegis Inspektorat III merupakan sasaran strategis dalam Rencana Aksi Program yang diseusaikan dengan tugas dan fungsi Inspektorat Jenderal Kemenkes RI. Sasaran tersebut adalah Meningkatnya transparansi tata kelola pemerintahan dan terlaksananya Reformasi Birokrasi. Sedangkan indikator kinerja adalah Persentase satuan kerja wilayah binaan Inspektorat III yang

memiliki temuan kerugian negara ≤1%.

TABEL 2.1

SASARAN PROGRAM INSPEKTORAT III TAHUN 2015-2019

B. PERJANJIAN KINERJA

Perjanjian Kinerja Inspekorat III merupakan dokumen pernyataan kinerja/kesepakatan kinerja/ perjanjian kinerja Inspektur III dengan Inspektur Jenderal Kemenkes RI untuk mewujudkna target-target kinerja sasaran Inspektorat III pada akhir tahun 2016. Perjanjian Kinerja Inspektorat III disusun berdasarkan Rencana Aksi Kegiatan Inspektorat III Tahun 2015-2019. Perjanjian Kinerja merupakan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) dan telah mendapatkan persetujuan anggaran. Perjanjian Kinerja Inspektorat III telah disusun, didokumentasikan dan ditetapkan setelah turunnya DIPA dan RKA-K/L Tahun 2016. Target-target kinerja sasaran kegiatan yang ingin dicapai Inspektorat III dalam Perjanjian Kinera Tahun Anggaran 2016 adalah sebagai berikut :

(11)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 8 TABEL 2.2

PERJANJIAN KINERJA INSPEKTORAT III TAHUN 2016

(12)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 9

BAB III

CAPAIAN AKUNTABILITAS

KINERJA

erdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, dinyatakan bahwa target kinerja Inspektorat III Itjen Kemenkes adalah “Peningkatan Pengawasan Program/Kegiatan Lingkup Satuan Kerja Binaan Inspektorat III“ yakni; meningkatnya transparansi tata kelola pemerintahan dan terlaksananya reformasi birokrasi lingkup satuan kerja binaan Inspektorat III. Sedangkan Indikator pencapaian sasaran adalah persentase Satuan Kerja di lingkup binaan Inspektorat III yang memiliki temuan kerugian negara < 1 % sebesar 100 % di tahun 2019. Sedangkan indikator pencapaian sasaran di tahun 2016 sebesar 95%.

No Program Sasaran Program Indikator Kinerja Target

2016

Capaian 2016

1.

Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Kesehatan

Meningkatnya

transparansi tata kelola pemerintahan dan terlaksananya Reformasi Birokrasi

Persentase satuan kerja yang memiliki temuan

kerugian negara ≤1% 95,00 % 100,00 %

Kemudian pelaksanaan pengawasannya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah, pada pasal 48, Inspektorat Jenderal melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan intern melalui: audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya.

Dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Inspektorat III sudah menyusun, menetapkan dan melaksanakan fungsi pengawasan secara reguler setiap tahun yang dituangkan didalam Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT). Dalam perkembangannya tugas pengawasan pada Inspektorat Jenderal mengalami beberapa penambahan tugas, seperti melakukan pembinaan, konsultasi, reviu perencanaan anggaran, reviu laporan keuangan, evaluasi SAKIP dan Reviu RKBMN, seiring dengan berlakunya peraturan-peraturan yang menyertai pelaksanaan tugas dan fungsi Inspektorat Jenderal tersebut. Berikut Target dan Realisasi output kegiatan serta Alokasi dan Realisasi tahun 2016 di Inspektorat III sebagai berikut:

(13)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 10 Tabel 3.1

Capaian dan Realisasi Inspektorat III

FISIK % RUPIAH % Koordinasi/Pemantauan RB/SPIP Lingkup Binaan Inspektorat III (2054.021.006)

JUMLAH

Hasil Pengawasan Program/Kegiatan Lingkup Satker Binaan Inspektorat III

Hasil Audit Satker Binaan Inspektorat III Hasil Reviu Laporan Keuangan Satker Binaan Inspektorat III (2054.021.002)

Hasil Reviu RKA-K/L Satker Binaan Inspektorat III (2054.021.003)

Hasil Evaluasi SAKIP Satker Binaan Inspektorat III (2054.021.004)

Hasil Pemantauan Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Audit Inspektorat I (2054.021.005)

A. Capaian Realisasi Terhadap Target yang dijanjikan

1. Analisis capaian realisasi untuk mencapai target yang dijanjikan

Indikator yang digunakan untuk mengukur capaian output tersebut, yaitu: Persentase satuan kerja di lingkup binaan Inspektorat III yang memiliki temuan

kerugian negara ≤1% dengan target 95%.

Definisi operasional dari indikator kinerja kegiatan:

Satuan kerja di lingkup binaan Inspektorat III yang memiliki temuan kerugian

negara ≤1% adalah satuan kerja pengelola APBN Kementerian Kesehatan di

lingkup Inspektorat III dengan temuan kerugian negara ≤1% dari total realisasi anggaran dalam satu periode tahun anggaran berdasarkan laporan hasil audit (Audit Operasional oleh Inspektorat III Itjen Kemenkes, Audit Laporan Keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Semua Jenis Audit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan).

Kondisi yang dicapai:

Realisasi capaian indikator kinerja kegiatan Inspektorat III Tahun 2016 adalah 100,00% dari target 95% dengan dasar perhitungan sebagai berikut:

Jumlah satker pengelola APBN Itjen Kemenkes dengan

nilai temuan kerugian negara ≤1% berdasarkan hasil audit

Jumlah satker pengelola APBN Itjen Kemenkes di lingkup binaan Inspektorat III yang diaudit

X 100%

(14)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 11

kerugian Negara diatas 1 % sehingga persentase satker yang memiliki

kerugian Negara ≤ 1% adalah sebagai berikut:

71 satker – 0 satker = 71 satker

71 satker KN ≤ 1% X 100% = 100,00% 71 satker yang diaudit

Pada periode tahun 2016, jenis audit yang dilaksanakan oleh Inspektorat III adalah audit operasional (kinerja), dengan objek sasaran pada satuan kerja yang berada pada Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Untuk Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan sasaran audit difokuskan kepada satuan kerja Kantor Daerah (KD-05) yaitu Kantor Kesehatan Pelabuhan, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit serta Dana Dekonsentrasi (DK-05) di provinsi sedangkan di lingkungan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) sasaran audit difokuskan kepada satuan kerja Kantor Daerah (KD-11).

Anggaran audit pada satker binaan Inspektorat III Tahun 2016 sebesar Rp2.475.080.000,00 telah terealisasi sebesar Rp2.447.034.688,00 (98,87%). Sedangkan untuk target output kegiatan tersebut, semula 28 laporan direvisi menjadi 98 laporan. Hal ini karena adanya perubahan sasaran audit dari Audit Operasional Kantor Pusat dan Kantor Daerah pada Ditjen P2P dan Badan Litbang Kesehatan menjadi Audit Operasional UPT Kantor Daerah (KD-05), Audit BMN Dana Tugas Pembantuan (TP-05) atas kegiatan PAM-STBM tahun 2013-2015, Audit Sisa Saldo Dana Jamkesmas, dan Verifikasi Hutang tahun anggaran 2015. Target volume ouput tersebut di atas telah terealisasikan sebanyak 90 laporan (91,84%) dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3.2

Realisasi Sasaran Audit Inspektorat III Tahun 2016

AUDIT Ditjen P2P Badan

Litbangkes

Selain P2P

dan LITBANG Jumlah

Audit Operasional 7 3 0 10

Audit BMN 56 0 10 66

Audit Saldo Jamkesmas 0 0 11 11

Verifikasi Hutang 1 2 0 3

Jumlah 64 5 21 90

a) Audit Operasional

Audit Operasional dilakukan pada bulan Februari dan September 2016 di 10 satker binaan Inspektorat III, yaitu:

1. KKP Kelas I Medan

(15)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 12

3. KKP Kelas II Ambon 4. KKP Kelas II Pekanbaru 5. KKP Kelas II Pontianak 6. KKP Kelas II Bandung 7. KKP Kelas III Palangkaraya

8. B2P2 Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu 9. B2P2 Vektor Reservoir Penyakit Salatiga

10. BP2 GAKI Magelang

Hasil audit operasional satker Binaan Inspektorat III tahun 2016 diuraikan sebagai berikut:

Tabel 3.3

Nilai KN Kegiatan Audit Operasional Tahun 2016 pada Ditjen P2P dan Badan Litbangkes

No Satuan Kerja Tahun

Anggaran Alokasi Realisasi Temuan

Rekomend asi KN

Tahun 2014 43.288.064.000 36.401.903.002 89.194.142 Tahun 2015 129.272.314.000 110.965.308.471 277.985.180 Tahun 2016 109.522.662.000 46.966.462.415 42.945.707

282.083.040.000

194.333.673.888 410.125.029 Tahun 2015 220.443.868.000 155.394.227.631 25.997.000 Tahun 2016 302.887.512.000 114.270.280.110

-523.331.380.000

269.664.507.741 25.997.000

90 261 436.122.029

1 DITJEN P2P

BADAN LITBANGKES (i) Sub Total

(ii) Sub Total

24 58

Jumlah (i+ii)

2

66 203

Audit terhadap satker di lingkungan Ditjen P2P dihasilkan 66 temuan, 203 rekomendasi dengan nilai Kerugian Negara sebesar Rp410.125.029,00. Sedangkan pada Badan Litbangkes dihasilkan 24 temuan, 58 rekomendasi dengan nilai Kerugian Negara sebesar Rp25.997.000,00.

Temuan hasil audit operasional tahun 2016 tersebut apabila dikelompokkan berdasarkan sub kelompok temuan sesuai Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 42 Tahun 2011 adalah Temuan kepatuhan terhadap Peraturan sebanyak 61 temuan (68%) dan temuan Kelemahan SPI sebanyak 26 temuan (29%) serta Kelemahan temuan 3E sebanyak 3 temuan (3%) :

No Sub Kelompok Temuan*) Kode

Jumlah Kejadian

1 2 3 4

Temuan Ketidakpatuhan Terhadap Peraturan 1.00.00

1 Kerugian negara atau kerugian negara yang terjadi

pada perusahaan milik negara 1.01.00 22

2 Potensi kerugian negara atau kerugian negara yang

(16)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 13

No Sub Kelompok Temuan*) Kode

Jumlah Kejadian

3 Kekurangan penerimaan negara atau perusahaan

milik negara 1.03.00 3

4 Administrasi 1.04.00 37

5 Indikasi tindak pidana 1.05.00 -

Subtotal Kejadian 61

Temuan Kelemahan Sistem PengendalianIntern 2.00.00

1 Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan

pelaporan 2.01.00 10

2 Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan

anggaran pendapatan dan belanja 2.02.00 7

3 Kelemahan struktur pengendalian intern 2.03.00 9

Subtotal Kejadian 26

Temuan 3 E (Ekonomis, Efisien dan Efektif) 3.00.00

1 Ketidakhematan/pemborosan/ketidakekonomisan 3.01.00 1

2 Ketidakefisienan 3.02.00 -

3 Ketidakefektifan 3.03.00 2

Subtotal Kejadian 3

Jumlah Kejadian 90

Sedangkan yang menjadi penyebab permasalahan terjadinya temuan tersebut yang terbanyak adalah kelalaian manusia sebanyak dapat diklasifikasikan menjadi empat, dengan penyebab terbanyak adalah kelalaian manusia sebanyak 156 kali (83%) dan yang paling sedikit adalah faktor eksternal sebanyak 6 kali (3,2%). Sebagaimana terlihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 3.1

(17)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 14

b) Audit BMN

Pelaksanaan Audit BMN dana Tugas Pembantuan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (TP-05) Kementerian Kesehatan RI dilaksanakan untuk memenuhi salah satu persyaratan proses hibah atas Belanja Modal (Gedung dan Bangunan) yang bersumber dana Tugas Pembantuan atas Kegiatan PAM-STBM Tahun Anggaran 2013, Tahun Anggaran 2014, dan Tahun Anggaran 2015.

Tujuan audit BMN adalah untuk menilai apakah persyaratan untuk keperluan hibah BMN telah dipenuhi, baik persyaratan administrasi maupun persyaratan fisik BMN.

Pelaksanaan Audit BMN mulai dilaksanakan pada tahun 2015, namun belum mencakup seluruh Satker yang mendapatkan dana TP-05 sehingga dipandang perlu untuk dilanjutkan kembali pada tahun 2016. Pelaksanaan Audit BMN sepanjang tahun 2016 mencakup 56 Satker TP-05 dan 10 satker TP-04 dengan nilai total anggaran sebesar Rp124.008.117.792,37 dengan rincian dapat dilihat pada Lampiran II.

Hasil Audit BMN tahun 2016 atas Satker dana TP-05 dan dana TP-04 diketahui terdapat permasalahan yang dapat diklasifikasikan dalam 5 temuan dengan penjelasan sebagai berikut:

1) Kekurangan dokumen hibah/belum memenuhi persyaratan administrasi hibah.

2) Kondisi fisik, baik BMN dalam kondisi rusak maupun BMN yang tidak ditemukan.

3) Spesifikasi fisik BMN tidak sesuai dengan kontrak/SPK.

4) Akun pencatatan BMN dalam SIMAK BMN tidak sesuai dengan Bagan Akun Standar (BAS).

5) BMN belum dimanfaatkan.

Gambar 3.2

(18)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 15

Temuan Hasil audit BMN dalam rangka Hibah yang paling banyak ditemukan adalah berupa Persyaratan Dokumen Hibah Belum Lengkap dengan kejadian sebanyak 28 kali (32,18%) dan yang paling sedikit terjadi yaitu Akun Tidak Sesuai dengan BAS sebanyak 6 kali (6,90%).

c) Audit Jamkesmas

Audit sisa saldo dana Jamkesmas dilaksanakan pada bulan Mei 2016 terhadap nilai sisa saldo dana Jamkesmas sebesar Rp1.679.136.144,09 di 11 Satker penerima dana Jamkesmas sebagai berikut:

1) Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 2) RSUD Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat

3) RSUD Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau 4) RSU Agung Kabupaten Rokan Hilir, Riau

5) RSUD Raja Musa Sungai Guntung Kabupaten Indragiri Hilir, Riau 6) Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat

7) RSUD Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat 8) Dinas Kesehatan Mamberamo Tengah, Papua 9) Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, Papua 10) RSUD Boven Digoel, Papua

11) Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua

Sisa saldo dana Jamkesmas pada 11 satker tersebut di atas sebesar Rp1.679.136.144,09 dan telah dilakukan penyetoran kembali ke rekening penampungan sampai dengan awal bulan Juni 2016 sebesar Rp1.262.843.166,72.

Dari Audit Saldo Dana Jamkesmas ini diketahui terdapat permasalahan sebagai berikut:

1) Terdapat saldo Jamkesmas yang masih belum disetor, yaitu pada satker:

(a) Dinkes Kabupaten Mamberamo Tengah sebesar Rp146.187.000,00. (b) RSUD Kabupaten Bengkayang sebesar Rp106.531.068,00.

(c) Dinkes Kabupaten Pegunungan Bintang sebesar Rp67.140.000,00. 2) Penggunaan saldo dana Jamkesmas yang tidak sesuai peruntukannya

(19)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 16

3) Bukti Konfirmasi dari KPPN belum lengkap pada satker RSUD Raja Musa Sungai Guntung Kabupaten Indragiri Hilir sebesar Rp218.500,-.

d) Verifikasi Hutang

Kegiatan verifikasi hutang berupa verifikasi nilai hutang atas Belanja Anggaran tahun 2015 yang akan dibayarkan dengan menggunakan Anggaran Tahun 2016. Verifikasi hutang dilaksanakan pada 3 (tiga) satker, yaitu:

1) Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Ditjen P2P.

2) Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Balitbangkes.

3) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis Teknologi Dasar Kesehatan Balitbangkes.

Hasil verifikasi terhadap nilai hutang sebesar Rp2.317.969.742,00 dapat dilihat pada tabel di bawah:

NO NAMA SATKER

NILAI HUTANG

YANG BELUM

DIBAYAR (RP)

NILAI HASIL VERIFIKASI (RP)

NILAI HUTANG

YANG TIDAK

DAPAT DIBAYAR (RP)

1 Direktorat P2 Tular

Vektor Zoonotik 1,262,030,000 1,199,889,992 62,140,008 2 Setditjen P2P

293.400.000 293.400.000 - 3 Sekretaris Badan

Litbangkes 317,520,157 317,427,405.75 92,751.25 4 Puslitbang Biomedis

dan Teknologi Dasar kesehatan

115,019,585 115,019,585 -

Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai yang dapat dibayarkan pada tahun anggaran 2016 sebesar Rp2.244.46.983,00. Sedangkan nilai hutang yang tidak dapat dibayar adalah sebesar Rp73.122.759,00. Adapun penyebab tidak terbayarnya hutang tersebut pada tahun 2016 yaitu:

1) Kelalaian Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam mengawasi pelaksanaan pekerjaan, rekanan kurang profesional dan terlambat dalam menyelesaikan pekerjaan serta Konsultan Pengawas kurang profesional dalam mengawasi pelaksanaan pekerjaan.

2) Sisa tagihan pengiriman sampel penelitian SIBI dan ILI tahun 2015 pada PT. MTN-MN Grup sebesar Rp115.019.585,00 tidak mengikuti prosedur yang ditetapkan yaitu pihak vendor terlambat menyampaikan tagihan, PPK tidak mengikuti langkah-langkah penyelesaian akhir tahun dan hutang tersebut belum masuk dalam catatan hutang satker Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan.

(20)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 17

Selama pelaksanaan kegiatan audit operasional, audit BMN dalam rangka hibah, verifikasi hutang, dan audit saldo jamkesmas terdapat kendala-kendala sebagai berikut:

1) Pemenuhan permintaan data oleh Auditi tidak tepat waktu dan bahkan tidak terpenuhi.

2) Pada saat audit operasional petugas-petugas yang berwenang sedang tidak ditempat sehingga mempersulit atau menghambat proses audit.

2. Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2016 dan Tahun 2015:

Realisasi IKK Inspektorat III

2016 2015

Target Realisasi Target Realisasi

95,00% 100,00% 94,00% 97,40%

Jika melihat dari tabel diatas realisasi IKK Inspektorat III Kementerian Kesehatan mengalami kenaikan capaian dari 97,40% pada Tahun 2015 menjadi 100,00% pada Tahun 2016. Kenaikan capaian tersebut disebabkan karena pada tahun 2016 Jumlah satker yang diaudit oleh APF sebanyak 71 satker yang telah diaudit baik oleh Itjen Kementerian Kesehatan (10 satker) maupun oleh BPK (31 satker) serta oleh BPKP (30 satker) tidak terdapat satker yang memiliki kerugian Negara diatas 1 % sehingga persentase satker yang

memiliki kerugian Negara ≤ 1% mencapai 100%.

3. Perbandingan Capaian Kinerja dengan Target Jangka Menengah:

Apabila capaian kinerja Inspektorat III diperbandingkan dengan target capaian kinerja jangka menengah maka dapat dilihat dalam grafik sebagai berikut:

(21)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 18

Capaian kinerja Inspektorat III sebesar 100,00% pada Tahun 2016 telah melebihi target kinerja yang direncanakan pada tahun tersebut yakni sebesar 95%. Dan jika diperbandingkan dengan target capaian kinerja jangka menengah Inspektorat III, maka target kinerja pada Tahun 2017 sampai dengan 2019 sebenarnya telah tercapai pada Tahun 2016.

4. Keberhasilan Pencapaian Target:

Keberhasilan pencapaian target sasaran Inspektorat III dikarenakan telah dilaksanakannya pembinaan secara berkesinambungan terhadap satuan kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan diantaranya melalui berbagai kegiatan sebagai berikut:

a. Pembinaan satuan kerja berdasarkan metode on going process di lingkungan Kementerian Kesehatan.

b. Peningkatan fungsi Inspektorat III sebagai konsultan, katalisator, dan quality assurance.

c. Peningkatan pengawasan terhadap program kesehatan prioritas. d. Peningkatan pengawasan barang dan jasa melalui probity audit. e. Penetapan sasaran/objek audit berbasis risiko.

f. Menerapkan pedoman pengawasan secara konsisten.

g. Peningkatan kualitas laporan keuangan melalui kegiatan reviu. h. Pendampingan penyusunan laporan keuangan.

i. Pengamanan aset Kementerian Kesehatan.

j. Pendampingan pengadaan barang jasa/konsultasi pengadaan barang dan jasa.

k. Reviu penyusunan perencanaan anggaran.

l. Evaluasi Sistim Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).

m. Percepatan Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Aparat Pengawas Fungsional (APF).

n. Kerjasama Pengawasan dengan Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) lain.

o. Penerpan Zona Integritas dan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Kompeten dan Melayani (WBBKM).

p. Pelaksanaan Reformasi Birokrasi.

5. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya

Realisasi capaian Indikator Kinerja Utama Inspektorat III Tahun 2016 adalah sebesar 100,00% dari target 95,00%. Alokasi dan target anggaran untuk mencapai pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp8.102.182.000,-. Dengan terget fisik sebanyak 707 dokumen/laporan. Tidak terdapat efisiensi anggaran di Inspektorat III pada Tahun Anggaran 2016.

Penyerapan anggaran sampai dengan 31 Desember Tahun 2016 sebesar Rp7.739.637.161,- (95,53%), sedangkan realisasi fisik sebanyak 731 laporan (103,39%).

(22)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 19 Inspektorat III Itjen Kemenkes RI

Jika melihat capaian kinerja Inspektorat III Tahun 2016 sebesar 100,00% dan penyerapan anggaran sebesar 95,53%, dengan realisasi fisik sebesar 103,39% maka telah terjadi efisiensi penggunaan sumber daya di lingkungan Inspektorat III. Hal ini dilakukan melalui pelaksanaan beberapa kegiatan pembinaan dan pengawasan kepada auditor dalam satu penugasan mengingat terbatanya SDM auditor di Inspektorat III yang hanya berjumlah 36 orang yang terdiri dari Auditor Pertama 19 orang, Auditor Muda 11 orang, Auditor Madya 4 orang dan Audiwan 2 orang.

B. Kegiatan Penunjang Keberhasilan

Beberapa kegiatan penunjang untuk mendukung pencapaian sasaran ini dilakukan upaya antara lain sebagai berikut:

1. Reviu Laporan Keuangan

Inspektorat III di awal tahun 2016 telah melakukan Reviu Laporan Keuangan untuk Semester II Tahun 2015 dan pada pertengahan tahun dilakukan Reviu Laporan Keuangan Semester I Tahun 2016. Reviu dilakukan pada 2 (dua) unit utama yang merupakan wilayah binaan Inspektorat III sesuai dengan Permenkes 64 tahun 2015, yaitu:

a) Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit b) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Reviu Laporan Keuangan Semester II TA 2015 pada Ditjen P2P untuk tingkat satker dilaksanakan pada tanggal 20 Januari s.d. 24 Januari 2016 terdiri dari 213 satker yaitu 6 satker Kantor Pusat, 59 satker Kantor Daerah, 34 satker Dana Dekonsentrasi dan 114 satker Tugas Pembantuan, sedangkan pada Badan Litbangkes terdiri dari 16 satker yaitu 5 Kantor Pusat dan 11 Kantor Daerah.

(23)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 20

satker yaitu 6 satker Pusat, 59 satker Kantor Daerah dan 34 satker Dana Dekonsentrasi, sedangkan pada Badan Litbangkes terdiri dari 16 satker yaitu 5 Kantor Pusat dan 11 Kantor Daerah.

a) Hasil Reviu Laporan Keuangan Semester II Tahun 2015

1) Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Berdasarkan hasil reviu Laporan Keuangan dari usulan 213 satuan kerja di Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

(a) Tingkat Satker

Kantor Pusat

Tabel 3.4

Permasalahan Hasil Reviu LK Satker Kantor Pusat

No. Permasalahan Satker A. Neraca

1. Terdapat Aset Tetap yang dihibahkan ke daerah tetapi belum di keluarkan dari neraca.

Direktorat Simkar dan Kesma

2. a. Terdapat perbedaan nilai Aset Tetap berupa Peralatan dan Mesin antara Neraca dengan BAR KPKNL.

b. Dalam Neraca per 31 Desember terdapat Kas dan Setara Kas senilai Rp. 1.030.300,00 yang merupakan kas di Rekening Bendahara WHO.

Direktorat Penyehatan Lingkungan

3. Terdapat selisih nilai aset antara neraca SAIBA dengan neraca SIMAK-BMN senilai Rp.318.945.892 yang berasal dari barang persediaan lainnya untuk diserahkan kepada masyarakat yang belum tercatat didalam neraca SAIBA.

Direktorat P2ML

4. Terdapat pos utang kepada pihak Ketiga. - Sekretariat Ditjen P2P

- Direktorat P2B2

B. CaLK

1 Telah dicatat dalam CaLK adanya kas setara kas berupa saldo dana hibah, yaitu:

a. GAVI sebesar Rp281.677.671.694,00. b. WHO sebesar Rp1.884.625.255,00. c. UNICEF sebesar Rp76.839.594,00

Direktorat Simkar dan Kesma

2. Penjelasan mutasi tambah/kurang peralatan dan mesin belum dirinci.

(24)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 21

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan yang terdapat pada satker Kantor Pusat Ditjen P2P semester II tahun 2015, sebagai berikut:

(1) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian LRA, Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas.

(2) Permasalahan pada Neraca terdapat pada satker Direktorat Simkar dan Kesma, Direktorat Penyehatan Lingkungan dan Direktorat PPML, Sekretariat Ditjen P2P dan Direktorat P2B2. (3) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker Direktorat Simkar

dan Kesma.

Gambar 3.4

Prosentase Permasalahan pada Satker Kantor Pusat Ditjen P2P Semester II Tahun 2015

LRA 0%

Neraca 71% LO

0% LPE 0% CaLK 29%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan pada satker Kantor Pusat Ditjen P2P semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 71% (5 permasalahan).

Kantor Daerah

Permasalahan yang terdapat pada satker Kantor Daerah Ditjen P2P semester II tahun 2015 adalah sebagai berikut:

(1) Permasalahan pada LRA terdapat pada satker BTKL-PP Ambon, BTKL-PP Palembang, KKP Kelas I Padang dan KKP Kelas II Makassar.

(25)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 22

(3) Permasalahan pada Laporan Operasional terdapat pada satker BTKL-PP Ambon, BTKL-PP Palembang, KKP Kelas II Manado dan KKP Kelas II Kendari.

(4) Permasalahan pada Laporan Perubahan Ekuitas terdapat pada satker BTKL-PP Ambon, BTKL-PP Palembang dan KKP Kelas II Kendari.

(5) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker BTKL-PP Kelas I Batam, BTKL-PP Ambon, BTKL-PP Palembang, KKP Kelas I Surabaya, KKP Kelas II Makassar, KKP Kelas II Ambon dan KKP Kelas II Banda Aceh.

Permasalahan hasil reviu LK satker Kantor Daerah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.

Gambar 3.5

Prosentase Permasalahan Reviu Laporan Keuangan pada Satker KD Ditjen P2P

Semester II Tahun 2015

LRA 11%

Neraca 24%

LO 16% LPE

11% CaLK

38%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan pada satker Kantor Daerah Ditjen P2P semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada CaLK yaitu sebesar 38% (14 permasalahan).

Dana Dekonsentrasi (DK-05)

Permasalahan yang ditemukan pada reviu laporan keuangan pada satker Dana Dekonsentrasi (DK-05) sebagai berikut:

No. Permasalahan Satker

A. Laporan Realisasi Anggaran

1. Terdapat pagu minus sebesar Rp91.214.000,-. Dinkes Prov. Banten

2. Satker belum melakukan rekonsiliasi dengan KKPN.

(26)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 23

B. Neraca

1. Satker belum melakukan rekonsiliasi dengan KKPN.

Dinkes Prov. Kaltim Dinkes Prov. Jateng

2. Koreksi akun persediaan sebesar Rp342.155.000,00.

Dinkes Prov. Papua

3. Berita acara stock opname fisik persediaan belum dibuat.

Dinkes Prov. Papua

4. Satker belum rekonsiliasi dengan KPKNL Dinkes Prov. Papua

Jurnal penyesuaian terkait akun persediaan yg belum diregistrasi sebesar Rp.18.137.000,00

Dinkes Prov. Kalbar

5. Jurnal penyesuaian menggunakan akun 521211 (belanja bahan) tp di SAIBA memakai akun 521811 (belanja barang persediaan barang konsumsi).

Dinkes Prov. Kalbar

6. Bahan persediaan belum diinput ke dalam aplikasi persediaan.

Dinkes Prov. Jatim

7. Terdapat selisih ekuitas akhir pada Neraca dan LPE.

Dinkes Prov. Sulbar

C. CaLK

1. CaLK belum memberikan penjelasan yg seharusnya dan dianjurkan dalam SAP.

Dinkes Prov. DKI Jakarta

2. Penjelasan atas pendapatan pada LRA dan LO belum memadai dan didukung SSBP.

Dinkes Prov. Jateng

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan yang terdapat pada satker Dana Dekonsentrasi Ditjen P2P semester II tahun 2015, sebagai berikut:

(1) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas.

(2) Permasalahan pada LRA terdapat pada satker Dinkes Prov. Banten (DK-05), Dinkes Prov. Kaltim (DK-05) dan Dinkes Prov. Jateng (DK-05).

(3) Permasalahan pada Neraca terdapat pada satker Dinkes Prov. Kaltim (DK-05), Dinkes Prov. Jateng (DK-05), Dinkes Prov. Papua (DK-05), Dinkes Prov. Kalbar (DK-05), Dinkes Prov. Jatim (DK-05) dan Dinkes Prov. Sulbar (DK-05).

(4) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker Dinkes Prov. DKI Jakarta (DK-05) dan Dinkes Prov. Jateng (DK-05).

Gambar 3.6

(27)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 24

LRA 16%

Neraca 67% LO

0% LPE 0%

CaLK 17%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan pada satker Dana Dekonsentrasi Ditjen P2P semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 67% (8 permasalahan).

Tugas Pembantuan (TP-05)

Permasalahan Hasil Reviu pada Tugas Pembantuan (TP-05) adalah:

(1) Permasalahan pada Neraca terdapat pada satker Dinkes Kab. Aceh Tenggara (TP-05), Dinkes Kab. Bondowoso (TP-05), Dinkes Kab. Luwu Utara (TP-05), Dinkes Kab. Muaro Jambi (TP-05), Dinkes Kab. Dharmas Raya (TP-05), Dinkes Kab. Rokan Hulu (TP-05), Dinkes Kab. Probolinggo (TP-05), Dinkes Kab. Donggala (TP-05), Dinkes Kab. Luwu (TP-05), Dinkes Kab. Karawang (TP-05), Dinkes Kab. Sumbawa (TP-05), Dinkes Kab. Pacitan (TP-05), Dinkes Kab. Pontianak (TP-05) dan Dinkes Kab. Tanah Datar (TP-05).

(2) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker Dinkes Prov. DKI Jakarta (DK-05) dan Dinkes Prov. Jateng (DK-05).

(3) Permasalahan pada Laporan Operasional terdapat pada satker Dinkes Kab. Karawang (TP-05) dan Dinkes Kab. Konawe Selatan (TP-05).

(4) Permasalahan pada Laporan Perubahan Ekuitas terdapat pada satker Dinkes Kab. Karawang (TP-05) dan Dinkes Kab. Konawe Selatan (TP-05).

(5) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker Dinkes Kab. Aceh Tenggara (TP-05), Dinkes Kab. Batang Hari (TP-05), Dinkes Kab. Donggala (TP-05), Dinkes Kab. Enrekang (TP-05), Dinkes Kab. Sumbawa 05), Dinkes Kab. Tanah Datar (TP-05) dan Dinkes Kab. Luwu (TP-(TP-05).

(28)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 25

Permasalahan hasil reviu LK satker dana TP-05 dapat dilihat pada Lampiran V.

Gambar 3.6

Permasalahan Reviu Laporan Keuangan pada satker TP-05 Ditjen P2P Semester II Tahun 2015

LRA 0%

Neraca 30%

LO 9% LPE 9% CaLK

52%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Gambar menjelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan pada satker Tugas Pembantuan Ditjen P2P semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada CaLK yaitu sebesar 52% (12 permasalahan).

(b) Tingkat Wilayah

Permasalahan Hasil Reviu Laporan Keuangan pada Tingkat Wilayah

No. Permasalahan Satker Wilayah

A. Neraca

1 Terdapat selisih nilai Aset Tetap antara BAR DJKN Kanwil Prov.Sulawesi Utara dengan Neraca 2015 dengan uraian sebagai berikut: a. Nilai Peralatan dan Mesin pada BAR sebesar Rp41,129,781,698,00 sedangkan pada Neraca sebesar Rp41,488,926,698,00 sehingga terdapat selisih sebesar Rp359.45.000,00.

a. Nilai Aset Teta lainnya pada BAR sebesar Rp192.213.600,00 sedangkan ada Neraca sebesar Rp42.213.600,00 sehingga terdapat selisih sebesar Rp150.000.000,00.

BTKL-PP Manado

B. Laporan Operasional

Terdapat kurang saji Beban Persediaan sebesar Rp3.146.571.988,-. Pada LO disajikan sebesar Rp168.935.823,00 seharusnya Rp3.315.507.811,-.

KKP Kelas II Panjang

C. Laporan Perubahan Ekuitas

1. Terdapat koreksi penyesuaian nilai aset sebesar Rp1.965.870,-. yang disebabkan karena koreksi terhadap entry data pada aplikasi persediaan.

KKP Kelas II Panjang

2. Terdapat koreksi pada penyajian transaksi antar entitas sebesar Rp3.144.606.118,-. Koreksi tersebut disebabkan karena kesalahan entry data

(29)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 26 pada aplikasi persediaan yang seharusnya menu

transfer masuk akan tetapi dicatat sebagai pembelian.

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan yang terdapat pada hasil reviu laporan keuangan tingkat Wilayah pada Ditjen P2P semester II tahun 2015, sebagai berikut:

(1) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian Laporan Realiasasi Anggaran (LRA) dan CaLK.

(2) Permasalahan pada Neraca terdapat pada satker BTKL-PP Manado.

(3) Permasalahan pada Laporan Operasional pada satker KKP Kelas II Panjang.

(4) Permasalahan pada Laporan Perubahan Ekuitas pada satker KKP Kelas II Panjang.

Gambar 3.7

Permasalahan Reviu Laporan Keuangan Tingkat Wilayah Ditjen P2P Semester II Tahun 2015

LRA

0% Neraca

25%

LO 25% LPE

50%

CaLK 0%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan Tingkat Wilayah semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada LPE yaitu sebesar 50% (2 permasalahan).

(c) Tingkat Eselon I dan Tingkat Kementerian

Permasalahan pada reviu laporan keuangan pada Tingkat Eselon I dan Tingkat Kementerian adalah sebagai berikut:

(30)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 27

A. Neraca

1. Terdapat perbedaan Nilai Penyisihan Piutang Tidak Tertagih - Bagian Lancar TTP/TGR antara Neraca dengan Neraca Percobaan senilai Rp74.000,-.

2. Terdapat Nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan sebesar Rp798.733.749.249,- 3. Terdapat perbedaan Nilai Hutang kepada pihak ketiga sebesar

Rp555.800.000,- dengan Neraca Percobaan.

4 Terdapat Nilai Hibah yang Belum Disahkan sebesar Rp39.786.120.842,-. B. Laporan Operasional

Terdapat perbedaan Nilai PNBP antara LO dengan Neraca Percobaan sebesar Rp10.201.579.142,-.

C. CaLK

1. Belum menyajikan Transaksi Antar Entitas sebesar Rp2.414.708.487.991 (tahun 2015) dan sebesar Rp0 (tahun 2014) pada Penjelasan Atas Pos-Pos Laporan Perubahan Entitas.

2. Neraca per 31 Desember 2015 pada Lampiran di CaLK belum disajikan sesuai dengan data terbaru.

3. Terdapat beban bantuan sosial sosial sebesar Rp49.720.000,00 yang merupakan kesalahan penggunaan kodefikasi pada aplikasi persediaan di Provinsi Papua yang belum dijelaskan di CaLK.

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan yang terdapat pada hasil reviu laporan keuangan tingkat Eselon I dan tingkat Kementerian pada Ditjen P2P semester II tahun 2015, sebagai berikut:

a) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian Laporan Realiasasi Anggaran (LRA) dan CaLK.

b) Terdapat permasalahan pada penyajian Neraca, Laporan Operasional dan CaLK.

Gambar 3.8

Permasalahan pada Reviu Laporan Keuangan Tingkat Eselon I & Tingkat Kementerian pada Ditjen P2P

Semester II Tahun 2015

LRA 0%

Neraca 50%

LO 12% LPE 0% CaLK 38%

LRA Neraca LO LPE CaLK

(31)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 28

Eselon I dan tingkat Kementerian semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 50% (4 permasalahan).

2) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Berdasarkan hasil reviu Laporan Keuangan dari usulan 16 satuan kerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dapat dillihat sebagai berikut:

(a) Tingkat Satker

Kantor Pusat

Permasalahan yang terdapat pada satker Kantor Pusat Balitbangkes semester II tahun 2015, sebagai berikut:

(1) Permasalahan pada LRA terdapat pada satker Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan.

(2) Permasalahan pada Neraca terdapat pada satker Sekretariat Badan Litbangkes dan Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan.

(3) Permasalahan pada Laporan Operasional terdapat pada satker Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat.

(4) Permasalahan pada Laporan Perubahan Ekuitas terdapat pada satker Sekretariat Badan Litbangkes dan Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan.

(5) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker Sekretariat Badan Litbangkes dan Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan.

Permasalahan reviu LK Satker Kantor Pusat pada Badan Litbangkes dapat dilihat pada Lampiran V.

Gambar 3.9

Prosentase Permasalahan Reviu Laporan Keuangan pada Satker KP Badan Litbangkes Semester II Tahun 2015

LRA 9%

Neraca 50% LO

8% LPE 8%

CaLK 25%

LRA Neraca LO LPE CaLK

(32)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 29

Kantor Pusat Badan Litbangkes semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 50% (6 permasalahan).

Kantor Daerah

Permasalahan pada hasil reviu laporan keuangan pada Satker Kantor Daerah sebagai berikut:

(1) Permasalahan pada LRA terdapat pada satker Balai Litbang P2B2 Donggala.

(2) Permasalahan pada Neraca terdapat pada satker Balai Litbang GAKI Magelang, Balai Litbang P2B2 Banjarnegara dan Balai Litbang P2B2 Donggala.

(3) Permasalahan pada Laporan Operasional terdapat pada Balai Besar Litbang Tanaman Obat & Obat Tradisional.

(4) Permasalahan pada Laporan Perubahan Ekuitas terdapat pada Balai Besar Litbang Tanaman Obat & Obat Tradisional.

(5) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker Balai Litbang P2B2 Donggala dan Balai Besar Litbang Tanaman Obat & Obat Tradisional.

Permasalahan pada hasil reviu LK satker Kantor Daerah Balitbangkes semester II tahun 2015 Badan Litbangkes dapat dilihat pada Lampiran VI.

Gambar 3.10

Prosentase Permasalahan Reviu Laporan Keuangan pada satker KD Badan Litbangkes Semester II Tahun 2015

LRA 14%

Neraca 50% LO

7% LPE 7%

CaLK 22%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan pada satker Kantor Daerah Badan Litbangkes semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 50% (7 permasalahan).

(33)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 30

Permasalahan pada hasil Reviu Laporan Keuangan Tingkat Wilayah sebagai berikut:

No. Permasalahan UAPPA-W

1. Terdapat koreksi pencatatan pada Kewajiban untuk akun Hibah Yang Belum Disahkan sebesar Rp1.414.566.701,00. Pada Neraca disajikan Rp0,00 seharusnya Rp1.414.566.701,00. Hal tersebut disebabkan kesalahan pada saat melakukan jurnal untuk mencatat hibah yang belum disahkan.

Pusat Humaniora

2. Terdapat Selisih sebesar Rp802.211.550 antara nilai transfer di aplikasi SIMAK-BMN dengan BAST dari Direktorat Bina Produksi dan Kefarmasian, pada Satker B2P2TOOT.

B2P2VRP Salatiga

3. Rekonsiliasi ekstrenal antara unit akuntansi dengan KPKNL untuk smt II tahun 2015 untuk saldo audited dengan saldo akhir smt I tahun 2015 pada akun persediaan, pada satker BP2GAKI.

B2P2VRP Salatiga

4. Stock opname fisik atas belanja persediaan akun 521811 berupa reagensia, bahan penelitian, dan penyelenggaraan Lab belum dilakukan, pada Balai Litbang P2B2 Banjarnegara.

B2P2VRP Salatiga

5. Terdapat koreksi pencatatan pada Kas Lainnya Setara Kas yang berasal dari hibah yang belum disahkan yang mengakibatkan koreksi pada dampak kumulatif perubahan kebijakan sebesar (Rp1.414.566.701,00) sehingga saldo Ekuitas akhir semula Rp232.140.522.052,00 menjadi Rp230.725.955.351,00.

Pusat Humaniora

6. Terdapat kesalahan penyajian pada akun-akun yang dilakukan koreksi.

Pusat Humaniora

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan yang terdapat pada hasil Reviu Tingkat Wilayah pada Balitbangkes semester II tahun 2015, sebagai berikut:

(1) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian LRA dan Laporan Operasional.

(2) Permasalahan pada Neraca terdapat pada satker Pusat Humaniora dan B2P2VRP Salatiga.

(3) Permasalahan pada Laporan Perubahan Ekuitas pada satker Pusat Humaniora.

(4) Permasalahan pada CaLK pada satker Pusat Humaniora.

Gambar 3.11

(34)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 31

LRA 0%

Neraca 67% LO

0% LPE 16%

CaLK 17%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan tingkat Wilayah Badan Litbangkes semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 67% (4 permasalahan).

(c) Permasalahan pada hasil reviu laporan keuangan Tingkat Eselon I dan Tingkat Kementerian adalah sebagai berikut:

No. Permasalahan

A. Neraca

1. Terdapat perbedaan Nilai Aset Lain-lain dalam Neraca dengan Hasil Reviu Itjen Kemenkes sebesar Rp103.498.980,00 (Neraca UAPPA/B E1 = 0, sedangkan Neraca UAKPA/B Loka Litbang P2B2 Batu Raja dan UAPPA/B-W Sumsel = Rp103.498.080,00.

2. Terdapat perbedaan Nilai Akumulasi penyusutan/Amortisasi Aset Lainnya dalam Neraca dengan Hasil Reviu Itjen Kemenkes sebesar Rp103.498.980,00 (Neraca UAPPA/B E1 = 0, sedangkan Neraca UAKPA/B Loka Litbang P2B2 Batu Raja dan UAPPA/B-W Sumsel = Rp103.498.080,00.

3. Terdapat Nilai Hibah yang Belum Disahkan sebesar Rp2.136.366.701,00.

B. CaLK

Belum menjelaskan dalam Penjelasan atas Pos-pos Neraca mengenai perbedaan nilai Aset Lain-lain sebesar Rp103.498.080,00.

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan yang terdapat pada hasil Reviu Tingkat Eselon I dan Tingkat Kementerian pada Balitbangkes semester II tahun 2015, sebagai berikut:

a) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian LRA, Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas.

b) Terdapat permasalahan pada penyajian Neraca dan CaLK.

Gambar 3.12

(35)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 32 Semester II Tahun 2015

LRA 0%

Neraca 75% LO

0% LPE 0%

CaLK 25%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan tingkat Eselon I dan Kementerian Semester II tahun 2015 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 75% (3 permasalahan).

b) Hasil Reviu Laporan Keuangan Semester I Tahun 2016 a. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Berdasarkan hasil reviu Laporan Keuangan pada 99 satuan kerja di Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dapat dillihat dalam tabel sebagai berikut:

1) Tingkat Satker Kantor Pusat

Hasil Reviu Laporan Keuangan pada Satker Kantor Pusat:

No. Permasalahan Satker

A. LRA

Belum melakukan rekonsiliasi dengan KPPN.

Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan

B. Neraca

1. Terdapat persediaan yang belum diregister.

- Sekretariat Ditjen P2P - Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan

2. Terdapat salah pencatatan nilai akun akumulasi penyusutan aset tetap.

Dir. P2P Masalah

Kesehatan Jiwa dan NAPZA

C. CaLK

Belum menyusun CaLK. Direktorat P2P Tular

(36)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 33

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada laporan keuangan pada satker Kantor Pusat semester I tahun 2016, sebagai berikut:

a) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas.

b) Terdapat permasalahan pada LRA satker Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan.

c) Terdapat permasalahan pada Neraca satker Sekretariat Ditjen P2P, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan dan Direktorat P2P Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA.

Gambar 3.13

Prosentase Permasalahan pada satker Kantor Pusat Ditjen P2P Semester I Tahun 2016

LRA 25%

Neraca 50% LO

0% LPE 0%

CaLK 25%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan pada satker Kantor Pusat Ditjen P2P semester I tahun 2016 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 50% (2 permasalahan).

Kantor Daerah

Hasil Reviu Laporan Keuangan pada Satker Kantor Daerah:

No. Permasalahan Satker

A. LRA

Terdapat penerimaan dari piutang tak tertagih yang dicatat sebagai Pendapatan Sensor Karantina (MAK 423215).

KKP Kelas II Mataram

B. Neraca

1. Belum melakukan rekonsiliasi dengan KPKNL. KKP Kelas II Padang

2. Belum melakukan stock opname barang. KKP Kelas III Palu, KKP Kelas II

Manado

3. Terdapat persediaan yang belum diregister KKP Kelas III Kupang, KKP Kelas II

(37)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 34

No. Permasalahan Satker

Pontianak, KKP Kelas II Manokwari KKP Kelas III Sorong.

4. Terdapat perbedaan penyajian nilai akun

persediaan antara neraca SAIBA dengan neraca BMN.

KKP Kelas III Kupang

5. Belum menginput persediaan dalam Aplikasi

Persediaan.

KKP Kelas I Soekarno Hatta

6. Terdapat perbedaan nilai Persediaan pada Neraca

SAIBA dengan BAR KPKNL.

KKP Kelas III Merauke, KKP Kelas II Banten

7. Terdapat akun Peralatan dan Mesin yang belum

diregister.

KKP Kelas II Probolinggo

8. Terdapat piutang jangka panjang yang belum

tertagih.

KKP Kelas II Mataram

9. Terdapat nilai akun tanah yang belum diregister. KKP Kelas III Kupang

10. Terdapat Konstruksi Dalam Pengerjaan berupa

tanah.

KKP Kelas III Kupang, KKP Kelas II Samarinda

11. Terdapat Kas di Bendahara Penerimaan. KKP Kelas I Medan

12. Terdapat penghapusan aset lainlain yang belum

didukung dengan risalah lelang.

KKP Kelas II Bandung

13. Terdapat aset lainlain berupa BMN dengan kondisi

rusak berat dan tidak digunakan dalam operasional

entitas namun belum dilakukan usulan

penghapusan.

KKP Kelas II Manado

14. Pada akun aset lancar terdapat penyajian

pendapatan yang masih harus diterima dan piutang bukan pajak kurang diyakini kebenarannya karena nilai yang disajikan adalah nilai posisi per 31 Desember 2015.

KKP Kelas I Batam

C. LO

1.

Terdapat Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih yang merupakan jurnal balik akibat pelunasan TP TGR tahun 2015.

KKP Kelas III Merauke

2.

Terdapat Nilai minus Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih dikarenakan adanya penerimaan piutang tahun 2015 yang diterima tahun 2015.

KKP Kelas II Mataram

3

Terdapat Beban dari Kegiatan Non Operasional Lainnya yang merupakan barang persediaan berupa dokumen sertifikat kesehatan yang sudah tidak berlaku lagi dan obatobatan yang sudah kadaluarsa.

KKP Kelas II Mataram

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan hasil reviu laporan keuangan pada Kantor Daerah Ditjen P2P semester I tahun 2016, sebagai berikut:

(1) Tidak terdapat permasalahan pada penyajian Laporan Perubahan Ekuitas dan CaLK.

(38)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 35

Jayapura, KKP Kelas II Pontianak, KKP Kelas Manokwari, KKP Kelas I Soekarno Hatta, KKP Kelas III Merauke, KKP Kelas II Banten, KKP Kelas II Mataram, KKP Kelas II Samarinda, KKP Kelas II Bandung dan KKP Kelas I Batam. (4) Permasalahan pada Laporan Operasional pada KKP Kelas III

Merauke dan KKP Kelas II Mataram.

Gambar 3.14

Prosentase Permasalahan Reviu Laporan Keuangan pada satker KD Ditjen P2P Semester I Tahun 2016

LRA 5%

Neraca 78% LO

17%

LPE 0% CaLK

0%

LRA Neraca LO LPE CaLK

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui dalam Reviu Laporan Keuangan pada satker Kantor Daerah Ditjen P2P semester I tahun 2016 adalah permasalahan pada Neraca yaitu sebesar 78% (14 permasalahan).

Dana Dekonsentrasi (DK-05)

Hasil Reviu Laporan Keuangan pada Satker Dana Dekonsentrasi (DK-05):

No. Permasalahan Satker A. LRA

Terdapat perbedaan realisasi belanja pada LRA dengan BAR KPPN.

Dinas Kesehatan Prov. Sulawesi Barat (DK-05)

B. Neraca

1. Satker telah mengupload namun masih terdapat perbedaan di dalam detail transaksi antara data SAU dengan data SAI/SA-BUN.

Dinkes Prov. Sulawesi Utara (DK-05), Dinkes Prov. Kalimantan Timur (DK-05)

2. Belum melakukan rekonsiliasi internal antara petugas SIMAK BMN dengan petugas SAIBA

Dinkes Prov. Sulawesi Utara (DK-05), Dinkes Prov. Papua (DK-05)

(39)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 36

No. Permasalahan Satker

dengan KPKNL. (DK-05), Dinkes Prov. Papua

(DK-05)

4. Melakukan rekonsiliasi ulang dengan KPKNL

Dinkes Prov. Sumatera Selatan (DK-05), Dinkes Prov. Jawa Timur (DK-05) Dinkes Prov. DKI Jakarta (DK-05)

5. Belum melakukan stock opname barang.

Dinkes Prov. Kalimantan Selatan (DK-05),

Dinkes Prov. Sulawesi Barat (DK-05)

6. E-rekon belum didownload. Dinkes Prov. Riau (DK-05) 7. Terdapat persediaan yang belum

diregister.

Dinkes Prov. Kalimantan Timur (DK-05), Dinkes Prov. Sulawesi Barat (DK-05), Dinkes Prov. Sulawesi Tengah (DK-05),Dinkes Prov. Sulawesi Utara (DK-05)

8. Belum menginput persediaan dalam Aplikasi Persediaan.

Dinkes Prov. Kalimantan Selatan (DK-05), Dinkes Prov. Papua .

9. Terdapat perbedaan saldo awal audited BPK tahun 2015.

Dinkes Prov. Kepulauan Riau (DK-05), Dinkes Prov. Jawa Timur (DK-05), Dinkes Prov. Banten (DK-05), Dinkes Prov. DKI Jakarta (DK-05)

10. Terdapat perbedaan nilai akumulasi penyusutan Aset Tetap

pada Neraca dengan BAR

KPKNL.

Dinkes Prov. Sulawesi Barat (DK-05)

11. Terdapat perbedaan nilai akun kas di Bendahara Pengeluaran antara saldo di SAIBA dengan nilai saldo UP menurut UAKPA.

Dinkes Prov. Jawa Tengah (DK-05)

12. -Terdapat perbedaan nilai akun kas di Bendahara Pengeluaran antara Neraca dengan LPJ Bendahara Pengeluaran.

Dinkes Prov. NTT (DK-05)

13. Tidak terdapat LPJ Bendahara Pengeluaran bulan Juni 2016

Dinkes Prov. Papua Barat (DK-05), Dinkes Prov. Kalimantan Utara (DK-05) 14. BAR Stock Opname Barang tidak

mengungkapkan mutasi barang dan harga barang.

Dinkes Prov. Sumatera Utara (DK-05)

C. LO

1 Terdapat perbedaan saldo awal audited BPK tahun 2015.

Dinkes Prov. Kepulauan Riau (DK-05)

2 Terdapat pendapatan dari

kegiatan non operasional lainnya pada LO yang tidak didukung

(40)

INSPEKTORAT III ITJEN KEMENKES RI 37

No. Permasalahan Satker

dengan dokumen peneriman.

D. LPE

Terdapat perbedaan saldo awal audited BPK tahun 2015.

Dinkes Prov. Kepulauan Riau (DK-05)

E. CaLK

1. Penjelasan atas LPE belum sesuai dengan Surat Direktur

Akuntansi dan Pelaporan

KeuanganKementerian Keuangan Nomor : S-5568/PB/2016 tanggal 14 Juli 2016.

Dinkes Prov. Sulawesi Barat (DK-05)

2. Memperbaiki angka-angka saldo awal dengan hasil audited BPK dalam CaLK semester I Tahun 2016.

Dinkes Prov. Kepulauan Riau (DK-05)

3. Data dukung LPJ Bendahara setiap bulan belum disahkan dan diperiksa oleh atasan langsung.

Dinkes Prov. Papua Barat (DK-05)

4. Terdapat pendapatan dari kegiatan non operasional lainnya senilai Rp147.083.200,00 belum dijelaskan secara memadai dalam CaLK.

Dinkes Prov. NTT (DK-05)

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan yang terdapat pada satker Dana Dekonsentrasi Ditjen P2P semester I tahun 2016, sebagai berikut:

(1) Permasalahan pada LRA terdapat pada satker Dinkes Prov.

(3) Permasalahan pada Laporan Operasional terdapat pada satker Dinkes Prov. Kepulauan Riau (DK-05) dan Dinkes Prov. NTT (DK-05).

(4) Permasalahan pada Laporan Perubahan Ekuitas terdapat pada satker Dinkes Prov. Kepulauan Riau (DK-05).

(5) Permasalahan pada CaLK terdapat pada satker Dinkes Prov. Sulbar (DK-05), Dinkes Prov. Kepulauan Riau (DK-05), Dinkes Prov. Papua Barat (DK-05) dan Dinkes Prov. NTT (DK-05).

Gambar

Gambar 3.1 Prosentase  Penyebab  Temuan/Permasalahan  Audit Tahun 2016
Gambar 3.2 Klasifikasi Temuan Hasil Audit BMN dalam rangka Hibah
Grafik Perbandingan Realisasi Kinerja s.d Tahun 2016
Tabel 3.4 Permasalahan Hasil Reviu LK Satker Kantor Pusat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penggabungan Laporan Keuangan Badan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan tingkat Eselon I selaku UAPPA-E1 yang terdiri dari: (a) Laporan Realisasi Anggaran, (b)

Pasal 57 (1) Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern melakukan reviu atas laporan keuangan kementerian negara/lembaga

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah... Kementerian Keuangan Republik

Laporan Kinerja Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban atas keberhasilan

Permasalahan yang paling banyak ditemui guru dalam kegiatan pembelajaran statistika yang berkaitan dengan diagram lingkaran adalah kesulitan siswa dalam menggambar

1. Tim reviu laporan kinerja Kementerian PUPR tahun anggaran …… sesuai dengan surat perintah tugas nomor ……. selanjutnya disbut PIHAK KEDUA. PIHAK PERTAMA dan

3 Memerintahkan kepada analis untuk membuat format Laporan Kinerja kepada seluruh unit Eselon II sebagai dasar penyusunan. Disposisi 15 menit

Penyusunan Laporan Kinerja Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kotamobagu Tahun 2016 adalah perwujudan kewajiban BPS Kota Kotamobagu untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan