Lampiran 2. Blanko Pelaporan Monitoring Efek Samping Obat (MESO) a. Bagian Depan
b. Bagian Belakang
Lampiran 3 . Format Lembar Pelayanan Informasi Obat
LEMBAR PELAYANAN INFORMASI OBAT
1. Identitas Penanya
Nama : Status :
No Telp :
2. Data Pasien :
3. Pertanyaan :
Uraian permohonan
... ... Jenis Permohonan
o Identifikasi Obat
o Antiseptik
o Stabilitas
o Kontra Indikasi
o Ketersediaan
o Harga Obat
o ESO
o Dosis
o Interaksi Obat
o Farmakokinetik/Farmakodinamik
o Keracunan
o Penggunaan Terapeutik
o Cara Pemakaian
o Lain - Lain
4. Jawaban : ...
...
5. Referensi : ...
6. Penyampaian Jawaban Segera dalam waktu 24 jam, > 24 jam
Apoteker yang menjawab : ...
Tgl : ... Waktu : ... Metode jawaban : Lisan / Tertulis / Pertelp.
NO :……… .Tgl : ………… Waktu : ………….Metode lisan/pertelp/tertulis
Umur :……. Berat :…… .Kg Jenis Kelamin : L/K
Kehamilan : Ya / Tidak………Minggu
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI
FARMASI RUMAH SAKIT
di
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik
Medan
Studi Kasus
Pneumothorax ec TB Paru + Hemothorax + COPD
Disusun Oleh:
Rensus Sitanggang, S.Farm. NIM 123202013
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
RINGKASAN
Telah dilakukan studi kasus pada Praktik Kerja Profesi (PKP) Farmasi
Rumah Sakit di Instalasi Rawat Inap Terpadu (Rindu) B bagian Bedah Rumah
Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik. Pengamatan dilaksanakan pada tanggal 13
mei 2013 sampai dengan 19 mei 2013. Tujuan dilaksanakannya studi kasus ini
adalah untuk memantau penggunaan obat pada pasien BS yang dirawat di ruang
Rawat Inap Terpadu (Rindu) B2B bagian Bedah RSUP H. Adam Malik Medan.
Studi kasus yang diambil adalah “Pneumothorax ec TB Paru +
Hemothorax + COPD”. Kegiatan studi kasus meliputi visite (kunjungan) terhadap
pasien, memberikan pemahaman dan dorongan kepada pasien untuk tetap
mematuhi terapi yang telah ditetapkan oleh dokter, memberikan informasi obat
kepada pasien dan keluarga pasien, melihat rasionalitas penggunaan obat terhadap
pasien, dan memberikan pertimbangan kepada tenaga kesehatan lain dalam
meningkatkan rasionalitas penggunaan obat.
Penilaian Rasionalitas penggunaan Obat meliputi 4 T + 1 W yaitu: Tepat
Pasien, Tepat Obat, Tepat Indikasi, Tepat Dosis, dan Waspada Efek samping.
Obat-obatan yang dipantau dalam kasus ini adalah Seftriakson, Ranitidin,
Ketorolak, Gliseril guayakolat, Rifampisin, Isoniazid, Etambutol, Pyrazinamid,
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
RINGKASAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1Latar Belakang ... 1
1.2Tujuan ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Pneumothorax ... 4
2.1.1 Definisi ... 4
2.1.2 Patogenesis ... 4
2.1.3 Penatalaksanaan ... 9
2.2 Hemothorax ... 13
2.2.1 Definisi ... 13
2.2.2 Patofisiologi dan Etiologi ... 13
2.2.3 Gejala Klinis dan Diagnosis ... 14
2.2.4 Penatalaksanaan ... 15
2.3 Tuberkulosis Paru ... 16
2.3.1 Definisi ... 16
2.3.2 Patogenesis ... 17
2.3.4 Gejala Klinis dan Diagnosis ... 19
2.3.5 Pengobatan TB ... 20
2.4 COPD ... 23
2.4.1 Definisi ... 23
2.4.2 Etiologi ... 24
2.4.3 Patogenesis ... 25
2.4.4 Diagnosis ... 25
2.4.5 Klasifikasi ... 28
2.4.6 Penatalaksanaan ... 29
BAB III PENATALAKSANAAN UMUM ... 33
3.1 Identitas Pasien ... 33
3.2 Riwayat Penyakit dan Pengobatan ... 33
3.2.1 Riwayat Penyakit Dahulu ... 33
3.2.2 Riwayat Penyakit Keluarga ... 33
3.2.3 Riwayat Penyakit Sosial ... 34
3.2.4 Riwayat Pengguaan Obat terdahulu ... 34
3.3 Ringkasan Pasien Masuk RSUP H. Adam Malik ... 34
3.4 Hasil Pemeriksaan ... 35
3.4.1 Pemeriksaan Fisik ... 35
3.4.2 Pemeriksaan Patologi Klinik ... 35
3.4.3 Pembahasan Hasil Laboratorium ... 35
3.5 Terapi ... 40
3.6 Pembahasan ... 40
3.6.1.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 41
3.6.1.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 41
3.6.1.3 Pengkajian Tepat Obat ... 42
3.6.1.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 43
3.6.1.5 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi Obat ... 44
3.6.1.6 Kesimpulan ... 44
3.6.1.7 Hasil Pembahasan ... 46
3.6.2 Pembahasan Tanggal 14 Mei 2013 ... 47
3.6.2.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 47
3.6.2.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 48
3.6.2.3 Pengkajian Tepat Obat ... 48
3.6.2.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 49
3.6.2.5 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi Obat ... 51
3.6.2.6 Kesimpulan ... 52
3.6.2.7 Hasil Pembahasan ... 54
3.6.3 Pembahasan Tanggal 15 Mei 2013 ... 55
3.6.3.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 56
3.6.3.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 56
3.6.3.3 Pengkajian Tepat Obat ... 57
3.6.3.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 57
3.6.3.5 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi Obat ... 60
3.6.3.6 Kesimpulan ... 61
3.6.3.7 Hasil Pembahasan ... 64
3.6.4.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 65
3.6.4.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 65
3.6.4.3 Pengkajian Tepat Obat ... 66
3.6.4.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 67
3.6.4.5 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi Obat ... 70
3.6.4.6 Kesimpulan ... 71
3.6.4.7 Hasil Pembahasan ... 74
3.6.5 Pembahasan Tanggal 17 Mei 2013 ... 74
3.6.5.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 75
3.6.5.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 75
3.6.5.3 Pengkajian Tepat Obat ... 76
3.6.5.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 77
3.6.5.5 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi Obat ... 80
3.6.5.6 Kesimpulan ... 81
3.6.5.7 Hasil Pembahasan ... 84
3.6.6 Pembahasan Tanggal 18 Mei 2013 ... 84
3.6.6.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 85
3.6.6.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 85
3.6.6.3 Pengkajian Tepat Obat ... 86
3.6.6.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 87
3.6.6.5 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi Obat ... 90
3.6.6.6 Kesimpulan ... 91
3.6.6.7 Hasil Pembahasan ... 94
3.6.7.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 95
3.6.7.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 95
3.6.7.3 Pengkajian Tepat Obat ... 96
3.6.7.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 97
3.6.7.5 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi Obat ... 100
3.6.7.6 Kesimpulan ... 101
3.6.7.7 Hasil Pembahasan ... 104
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 106
4.1 Kesimpulan ... 106
4.2 Saran ... 107
DAFTAR PUSTAKA ... 108
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Hasil pemeriksaan fisik pasien Tn BS ... 35
Tabel 3.2 Hasil pemeriksaan patologi klinik kimia klinik ... 35
Tabel 3.3 Hasil pemeriksaan patologi klinik kimia hematologi ... 36
Tabel 3.4 Hasil pemeriksaan analisisgas darah ... 36
Tabel 3.5 Hasil pemeriksaan metabolisme karbohidrat ... 37
Tabel 3.6 Hasil pemeriksaan laboratorium ... 37
Tabel 3.7 Daftar obat-obat yang digunakan pasien ... 39
Tabel 3.8 Daftar obat-obat yang digunakan pasien pada tanggal 13 mei 2013 ... 41
Tabel 3.9 Daftar dosis obat yang digunakan pasien pada tanggal 3 mei 2013 ... 43
Tabel 3.10 Efek samping dan interaksi obat ... 44
Tabel 3.11 Rekomendasi untuk perawat ... 45
Tabel 3.12 Pelayanan konseling, informasi dan edukasi pasien ... 46
Tabel 3.13 Daftar obat-obat yang digunakan pasien pada tanggal 14 mei 2013 ... 47
Tabel 3.14 Daftar dosis obat yang digunakan pasien pada tanggal 14 mei 2013 ... 49
Tabel 3.15 Efek samping dan interaksi obat ... 51
Tabel 3.16 Rekomendasi untuk perawat ... 53
Tabel 3.17 Pelayanan konseling, informasi dan edukasi pasien ... 54
Tabel 3.19 Daftar dosis obat yang digunakan pasien
pada tanggal 15 mei 2013 ... 58
Tabel 3.20 Efek samping dan interaksi obat ... 60
Tabel 3.21 Rekomendasi untuk perawat ... 62
Tabel 3.22 Pelayanan konseling, informasi dan edukasi pasien ... 63
Tabel 3.23 Daftar obat-obat yang digunakan pasien pada tanggal 16 mei 2013 ... 65
Tabel 3.24 Daftar dosis obat yang digunakan pasien pada tanggal 16 mei 2013 ... 67
Tabel 3.25 Efek samping dan interaksi obat ... 70
Tabel 3.26 Rekomendasi untuk perawat ... 72
Tabel 3.27 Pelayanan konseling, informasi dan edukasi pasien ... 73
Tabel 3.28 Daftar obat-obat yang digunakan pasien pada tanggal 17 mei 2013 ... 75
Tabel 3.29 Daftar dosis obat yang digunakan pasien pada tanggal 17 mei 2013 ... 77
Tabel 3.30 Efek samping dan interaksi obat ... 80
Tabel 3.31 Rekomendasi untuk perawat ... 82
Tabel 3.32 Pelayanan konseling, informasi dan edukasi pasien ... 83
Tabel 3.33 Daftar obat-obat yang digunakan pasien pada tanggal 18 mei 2013 ... 85
Tabel 3.34 Daftar dosis obat yang digunakan pasien pada tanggal 18 mei 2013 ... 87
Tabel 3.35 Efek samping dan interaksi obat ... 90
Tabel 3.31 Rekomendasi untuk perawat ... 92
Tabel 3.36 Pelayanan konseling, informasi dan edukasi pasien ... 93
Tabel 3.38 Daftar dosis obat yang digunakan pasien
pada tanggal 19 mei 2013 ... 97
Tabel 3.39 Efek samping dan interaksi obat ... 100
Tabel 3.40 Rekomendasi untuk perawat ... 102
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Lembaran Penilaian PPOSR ... 112
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Praktek pelayanan kefarmasian di rumah sakit merupakan kegiatan yang
terpadu dengan tujuan mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah
obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Kegiatan pelayanan
kefarmasian di rumah sakit meliputi pengkajian dan pelayanan resep, penelusuran
riwayat penggunaan obat, pelayanan informasi obat, konseling, visite, pemantauan
terapi obat, monitoring efek samping obat, evaluasi penggunaan obat, penyediaan
sediaan khusus dan pemantauan kadar obat dalam darah (Depkes RI, 2004).
Farmasi klinis merupakan suatu disiplin ilmu kesehatan dimana seorang
farmasis memberikan pelayanan kepada pasien untuk mengoptimalkan terapi
obat, memulihkan kesehatan serta pencegahan penyakit. Praktek farmasi klinis
mencakup pelayanan kefarmasian, memadukan orientasi pelayanan dengan suatu
pengetahuan terapi, pengalaman, dan pertimbangan keputusan dengan tujuan
menjamin pengobatan pasien yang optimal. Sebagai suatu disiplin ilmu, farmasi
klinis juga memiliki kewajiban untuk berkontribusi terhadap
pengetahuan-pengetahuan yang baru untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien
(American College of Clinical Pharmacy, 2005).
Visite pasien merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap bersama
tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Apoteker dalam praktik visite harus
berkomunikasi secara efektif dengan pasien atau keluarga pasien, dokter dan
terapi (clinical outcome) yang optimal. Apoteker melakukan dokumentasi semua
tindakan yang dilakukan dalam praktik visite sebagai pertanggungjawaban
profesi, sebagai bahan pendidikan dan penelitian, serta perbaikan mutu praktik
profesi. Pengkajian penggunaan obat merupakan program evaluasi penggunaan
obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat-obat yang
digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau oleh pasien. Tindakan
nyata farmasi klinis yang dilaksanakan adalah melalui studi kasus pada pasien
diruang rawat inap.
Dalam rangka menerapkan praktik farmasi klinis di rumah sakit, maka
mahasiswa calon apoteker perlu diberi pembekalan dalam bentuk praktik kerja
profesi (PKP) di rumah sakit. PKP di rumah sakit menerapkan salah satu praktik
pelayanan kefarmasian yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan
menyelesaikan masalah terkait obat dan masalah yang berhubungan dengan
kesehatan pasien. Adapun studi pengkajian penggunaan obat secara rasional
dilaksanakan pada ruang rawat inap terpadu (Rindu B) bagian bedah urologi.
Studi kasus yang diambil adalah Pneumotorax ec TB Paru + Hemothorax +
1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakan studi kasus ini adalah untuk:
a. mengetahui rasionalitas penggunaan obat di Rindu B bagian Bedah RSUP
H. Adam Malik
b. memberikan pemahaman dan motivasi kepada pasien untuk mematuhi
terapi yang telah ditetapkan dokter
c. melaksanakan kegiatan pelayanan farmasi klinis pada pasien di Rindu B
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pneumothorax 2.1.1 Definisi
Pneumothorax adalah keadaan terdapatnya udara atau gas lain dalam
pleura. Kelainan ini dapat terjadi pada dewasa muda yang tampak sehat, biasanya
laki-laki tanpa penyakit paru, atau akibat penyakit torax atau emfisema (Robbins,
2007).
Pneumothorax diklasifikasikan atas pneumothorax spontan, traumatik,
iatrogenik. Pneumothorax spontan dibagi lagi menjadi pneumothorax spontan
primer dan sekunder. Pneumothorax traumatik disebabkan oleh trauma pada
organ paru dan pneumothorax iatrogenik merupakan komplikasi dari intervensi
diagnostic ataupun terapeutik (PDSPDI, 2009).
2.1.2 Patogenesis
Pneumothorax spontan primer terjadi tanpa kelainan atau penyakit paru
yang mendasarinya, namun pada sebuah penelitian dilaporkan bahwa bula
subpleural ditemukan pada 76-100% pasien pneumothorax spontan primer
dengan tindakan video-assisted thoracoscopic surgery dan torakotomi. Kasus
pneumothorax spontan primer sering dihubungkan dengan faktor resiko merokok
yang mendasari pembentukan bula subpleural namun pada sebuah penelitian
dengan komputasi tomografi (CT-scan) menunjukkan bahwa 89% kasus dengan
bula subpleural adalah perokok berbanding dengan 81% kasus adalah bukan
Mekanisme pembentukkan bula masih merupakan spekulasi namun
sebuah teori menjelaskan bahwa terjadi degradasi serat elastin paru yang diinduksi
oleh rokok yang kemudian diikuti oleh serbukan netrofil dan makrofag. Proses ini
menyebabkan ketidakseimbangan protease-antiprotease dan sistem oksidan–
antioksidan serta menginduksi terjadinya obstruksi saluran nafas akibat proses
inflamasi. Hal ini akan meningkatkan tekanan alveolar sehingga terjadi kebocoran
udara ke jaringan interstitial paru menuju hilus dan menyebabkan
pneumomediastinum. tekanan di mediastinum akan meningkat dan pleura
parietalis pars mediastinum ruptur sehingga terjadi pneumothorax (PDSPDI,
2009).
Rongga pleura memiliki tekanan negatif, sehingga bila rongga ini terisi
oleh udara akibat rupturnya bula subpleural, paru-paru akan kolaps sampai
tercapainya keseimbangan tekanan tercapai atau bagian yang ruptur tersebut
ditutup. Paru-paru akan bertambah kecil dengan bertambah luasnya pneumothorax
. Konsekuensi dari proses ini adalah timbulnya sesak akibat berkurangnya
kapasitas vital paru dan turunnya PO2 (Chang, 2007).
Sebuah penelitian lain menunjukkan bahwa faktor genetik berperan dalam
patogenesis terjadinya pneumothorax spontan primer. Beberapa kasus
pneumothorax spontan primer ditemukan pada kelainan genetik tertentu, seperti:
sindrom marfan, homosisteinuria, serta sindrom Birt-Hogg-Dube (Bascom, 2006).
Pneumotorakas spontan sekunder terjadi akibat kelainan/ penyakit paru
yang sudah ada sebelumnya. Mekanisme terjadinya adalah akibat peningkatan
tekanan alveolar yang melebihi tekanan interstitial paru. Udara dari alveolus akan
Selanjutnya udara akan berpindah melalui pleura parietalis pars mediastinal ke
rongga pleura dan menimbulkan pneumothorax . Beberapa penyebab terjadinya
pneumothorax spontan sekunder adalah PPOK, asma bronchial, penyakit infeksi
paru, penyakit paru interstitial, penyakit jaringan penyambung seperti artritis
rheumatoid dan kanker paru (PDSPDI, 2009).
Pneumothorax traumatik dapat disebabkan oleh trauma penetrasi maupun
non-penetrasi. Trauma tumpul atau kontusio pada dinding dada juga dapat
menimbulkan pneumothorax . Bila terjadi pneumothorax, paru akan mengempes
karena tidak ada lagi tarikan ke luar dnding dada. Pengembangan dinding dada
pada saat inspirasi tidak diikuti dengan pengembangan paru yang baik atau
bahkan paru tidak mengembang sama sekali. Tekanan pleura yang normalnya
negatif akan meningkat hingga menyebabkan gangguan ventilasi pada bagian
yang mengalami pneumothorax .
Pneumothorax iatrogenik merupakan komplikasi dari prosedur medis atau
bedah. Salah satu yang paling sering adalah akibat aspirasi transtorakik
(transthoracic needle aspiration), torakosentesis, biopsy transbronkial, ventilasi
mekanik tekanan positif (positive pressure mechanical ventilation). Angka
kejadian kasus pneumothorax meningkat apabila dilakukan oleh klinisi yang
tidak berpengalaman
Pneumothorax ventil (tension pneumothorax) terjadi akibat cedera pada
parenkim paru atau bronkus yang berperan sebagai katup searah. Katup ini
mengakibatkan udara bergerak searah ke rongga pleura dan menghalangi adanya
intensif yang dapat menyebabkan terperangkapnya udara ventilator (ventilasi
mekanik tekanan positif) di rongga pleura tanpa adanya aliran udara balik.
Udara yang terperangkap akan meningkatkan tekanan positif di rongga
pleura sehingga menekan mediastinum dan mendorong jantung serta paru ke arah
kontralateral. Hal ini menyebabkan turunnya curah jantung dan timbulnya
hipoksia. Curah jantung turun karena venous return ke jantung berkurang,
sedangkan hipoksia terjadi akibat gangguan pertukaran udara pada paru yang
kolaps dan paru yang tertekan di sisi kontralateral. Hipoksia dan turunnya curah
jantung akan menggangu kestabilan hemodinamik yang akan berakibat fatal jika
tidak ditangani secara tepat (Bascom, 2006).
2.1.3 Diagnosis
Pada pengamatan fisik akan didapat hal-hal sebagai berikut:
1. Tampak sesak ringan sampai berat tergantung kecepatan udara yang
masuk serta ada tidaknya klep. Penderita bernafas tersengal,
pendek-pendek dengan mulut terbuka.
2. sesak nafas dengan atau tanpa sianosis.
3. penderita tampak sakit mulai ringan sampai berat. Badan tampak lemah
dan dapat disertai syok. Bila pneumothorax baru terjadi penderita
berkeringat dingin.
Pneumothorax spontan primer diDiagnosis dengan karakteristik serangan
akut nyeri dada dan dipsnea dan gambaran radiografi pneumothorax . Radiografi
dada menampilkan udara pleura dan 1 mm garis putih halus yang menggambarkan
pada praktis rutin, radiografi dada yang dibuat selama ekspirasi dapat membantu
mendeteksi pneumothorax atipical.
Pneumothorax spontan sekunder lebih sukar diDiagnosis karena gejala
pernafasan kadang salah diartikan sebagai penyakit paru. Gambaran radiografi
pasien dengan penyakit paru interstisial biasanya tampak bersih dari tanda
pneumothorax karenalingkaran udara dalam ruang pleura kontras dengan
peningkatan densitas pada penyakit paru. Pneumothorax spontan sekunder dapat
lebih sukar diDiagnosis dengan gambaran radiografi penyakit paru obstruksi
kronik karena densitas hiperlusen, paru empisematus seperti udara pleura. Lebih
lagi, bullae subpleura yang besar menyerupai pneumothorax pada pasien ini. CT
dada dapat membantu membedakan antara bullae yang besar dan pneumothorax .
Pada pemeriksaan fisik toraks ditemukan:
1.Inspeksi
• Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit.
• Pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannnya tertinggal.
• Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat.
2. Palpasi
• Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau melebar.
• Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat.
• Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit.
3. Perkusi
• Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan tidak
menggetar
4. Auskultasi
• Pada bagian yang sakit, suara nafas melemah sampai menghilang
• Suara nafas terdengar amforik bila ada fistel bronkopleura yang cukup besar pada
pneumothorax terbuka.
• Suara fokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni negative (Razi, 2011).
2.1.3 Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksaan pneumothorax spontan adalah evakuasi
udara di dalam rongga pleura, memfasilitasi penyembuhan pleura dan mencegah
terjadinya rekurensi secara efektif. Pilihan terapi meliputi, yaitu terapi oksigen,
observasi, aspirasi sederhana dengan kateter vena, pemasangan tube, pleurodesis,
torakoskopi single port, VAST dan torakotomi.
Pemilihan penatalaksanaan tergantung pada :
- Tipe pneumothorax spontan primer atau sekunder
- Luas pneumothorax
- Gejala Klinis, terjadinya kebocoran udara yang menetap (persistent air
leak)
- Faktor risiko lain : jenis kelamin, pekerjaan, kebiasaan merokok, dll.
a. Terapi oksigen
Suplemen oksigen akan mempercepat absorbsi udara di rongga toraks
sebanyak 4 x dibandingkan dengan tanpa suplementasi oksigen. Oksigen akan
mengurangi tekanan parsial nitrogen di dalam kapiler darah sekitar rongga pleura
dan akan meningkatkan gradien tekanan parsial nitrogen. Hal ini akan
menyebabkan nitrogen ke dalam kapiler pembuluh darah di sekitar rongga pleura
dan diikuti oleh gas lain. Suplementasi oksigen pada konsentrasi tinggi harus
b. Observasi (tanpa tindakan invasif)
Bila hubungan antara alveoli dan rongga pleura dihilangkan, maka udara
di dalam rongga pleura akan diabsorbsi secara betahap. Kecepatan absorpsi antara
berkisar 1,25 % dari volume hemitoraks setiap 24 jam. ACCP membagi klinis
penderita atas penderita dalam kondisi stabil, jika :
- laju napas < 24 x/menit
- denyut jantung 60-120 x/menit
- tekanan darah normal
- saturasi oksigen > 90 % (tanpa asupan oksigen)
setelah observasi penderita dapat dipulangkan dan datang kembali ke rumah sakit
bila terdapat gejala klinik yang memberat. Observasi tidak dilakukan pada
penderita denagan pekerjaan atau kondisi yang mempunyai resiko tinggi
terjadinya rekurensi (American College of Chest Physicians, 2001).
c. Tindakan fisioterapi
Dengan pemberian penyinaran gelombang pendek pada pneumothorax
spontan kurang dari 30 %, secara bemakna meningkatkan absorbsi udara
dibandingkan dengan hanya observasi saja.
d. Aspirasi sederhana dengan kateter vena
Aspirasi sederhana terutama direkomendasiksan pada terapi awal penderita
PSP pertama, karena memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi (70 %)
dibandingkan bila dilakukan pada penderita PSS. Prosedur ini memiliki
keuntungan antara lain morbidity yang minimal dan dapat dilakukan pada pasien
murah. Kelemahan prosedur ini apabila gagal maka perlu dilakukan pemasangan
tube thoracostomy dan tidak mungkin mengurangi rekurensi.
e. Pemasangan WSD
Pemasangan WSD atau tube thoracostomy masih merupakan tindakan
pertama sebelum penderita diajukan untuk tindakan yang lebih invasif seperti
torakoskopi atau torakotomi. Pemasangan tube thoracostomy pada pneumothorax
teutama ditujukan pada penderita PSP yang gagal dengan tindakan aspirasi dan
penderita PSS, sebelum menjalani tindakan torakoskopi atau torakotomi. Pada
penderita PSP angka keberhasilan pemasangan tube thoracostomy lebih tinggi
dibandingkan dengan PSS. Penggunaan suction pada sistem drinase tidak banyak
memberikan keuntunagn dalam mempercepat pengembangan paru, sehingga pada
awal pemasangan biasanya dihubungkan dengan katup satu arah atau dengan
perangkat WSD tanpa suction, namun bila terjadi kebocoran udara tube
thoracostomy dihubungkan dengan suction.
Komplikasi pemasangan tube thoracostomy:
- Malposisi ke fisura interlobar, organ lain seperti esophagus, pembuluh
darah sentral dan jaringan subkutis.
- Pneomototaks berulang atau pembentukan cairan.
- Kerusakan saraf seperti saraf interkostal, saraf diafragma.
- Edema paru reekspansi unilateral.
- Perlengketan pleura dengan paru yang tidak mengembang
- Perdarahan
- Infeksi
Pleurodesis adalah tindakan untuk melengketkan permukaan dari dua
lapisan pleura. Dilakukan terutama untuk mencegah rekurensi, terutama penderita
dengan risiko tinggi untuk terjadinya rekurensi. Zat sklerosan yang ideal harus
memenuhi beberapa kriteria :
- Murah
- Mudah didapat
- Mudah dimanipulasi
- Mudah disterilisasi
- Mudah dipakai (pada saat tindakan torakosentesis)
- Aman
Bahan yang biasanya digunakan adalah tetrasiklin, minosklin, doksisklin,
atau talk. Bahan terbaik dalam mengurangi rekurensi adalah talk.
g. Torakoskopi
Tindakan torakoskopi untuk episode petama PSP (Pneumothorax Spontan
Primer) yang masih tertangani dengan aspirasi masih menjadi perdebatan, karena
pada dasarnya sekitar 64 % PSP tidak terjadi rekurensi pada pemasangan.
Tindakan yang dilakukan adalah reseksi bula dan pleurodesis. Torakoskopi pada
PSS (Pneumothorax Spontan Sekunder) harus dilakukan bila paru tidak
mengembang setelah 48-72 jam. Pada PSS komplikasi VATS lebih tinggi
dibandingkan pada PSP.
h. Torakotomi
Merupakan tindakan akhir apabila tindakan yang lain gagal. Tindakan ini
pleurektomi dan 2-5 % bila dilakukan pleurodesis dengan abrasi mekanik (Daley,
2012).
2.2 Hemothorax 2.2.1 Definisi
Hemothorax adalah penimbunan darah utuh (berbeda dengan efusi
berdarah) dan membeku di rongga pleura. Penyakit ini merupakan suatu hal yang
hampir selalu mematikan. Efusi pleura adalah adanya cairan di rongga pleura
dapat bersifat eksudat atau transudat. Efusi pleura yang bersifat transudat disebut
hidrotorax. Hidrotorax akibat gagal jantung kongestif mungkin merupakan
penyebab adanya cairan di rongga pleura.
Empat penyebab utama eksudat pleura adalah:
o Invasi mikroba melalui perluasan langsung infeksi paru.
o Kanker (Karsinoma bronkogenik, metastatis neoplasma ke paru atau permukaan
pleura)
o Infark paru
o Pleuritis virus
Penyebab lain yang lebih jarang efusi pleura eksudatif adalah artritis
rematoid, uremia dan pasca bedah torax (Robbins, 2007).
2.2.2 Patofisiologi dan Etiologi:
Hemothorax dapat terjadi akibat dari hal-hal seperti berikut ini:
a. trauma tajam ataupun tumpul.
Hal ini bisa terjadi apabila trauma tumpul dapat menimbulkan fraktur tulang
iga, sehingga terjadi robekan pembuluh darah interkostalis dan juga
b. robekan aneurisma aorta.
c. komplikasi karena pemberian obat antikoagulansia pada infark paru.
d. pada penderita dengan kelainan “haemorrhagic diathesis”.
e. komplikasi pada operasi thoraks.
2.2.3 Gejala Klinis dan Diagnosis
Gejala dan keluhan hemothorax tergantung dari berat ringannya trauma.
Penderita bisa mengeluh sesak napas, nyeri dada dan sampai shock serta anemia.
a. anamnesa
Adanya riwayat trauma pada dada atau sehabis tindakan pembedahan.
b. pemeriksaan fisik.
Didapatkan tanda-tanda seperti pada efusi pleura.
• Pada hemithorax yang sakit, pergerakan berkurang.
• Perkusi pada hemithorax yang sakit terdengar redup dan pada auskultasi,
suara napas terdengar berkurang atau menghilang sama sekali.
c. x-foto thorax
Gambaran radiologi seperti pada efusi pleura.
d. laboratorium.
Setelah dilakukan aspirasi percobaan, maka cairan tersebut dilakukan
pemeriksaan sebagai berikut :
• Apabila jumlah eritrosit 5 – 6000 / mm3 ---> “a rosy tint”
• Apabila jumlah eritrosit > 10.000 / mm3 ---> “serosanguinous”.
• Apabila cairan hemoragis yang berasal dari komplikasi thorakosintesis,
cairan tersebut disentrifus dan supernatannya menjadi jernih. Sebaliknya
pada hemothorax supernatannya tetap merah.
• Dikatakan hemothorax bila kadar Hb darah yang berasal dari rongga
pleura > 1 g/dl atau apabila kadar Hb yang berasal dari darah hemothorax
separuh dari harga Hb darah perifer (Salwa, 2012).
2.2.4 Penatalaksanaan
Kematian penderita hemothorax dapat disebabkan karena banyaknya darah
yang hilang dan terjadinya kegagalan pernapasan. Kegagalan pernapasan
disebabkan adanya sejumlah besar darah dalam rongga pleura menekan jaringan
paru serta berkurangnya jaringan paru yang melakukan ventilasi.
Maka penanganan yang perlu dilakukan pada hemothorax adalah pengosongan
rongga pleura dari darah, menghentikan perdarahan, memperbaiki keadaan umum
dan lain-lain.
a. dipasang “Chest tube” dan dihubungkan dengan system WSD, hal ini dapat
mempercepat paru mengembang.
b. apabila dengan pemasangan WSD darah tetap tidak behenti maka sebaiknya
dipertimbangkan untuk thorakotomi.
c. pemberian oksigen 2 – 4 liter/menit, lamanya disesuaikan dengan perubahan
klinis, lebih baik lagi apabila dimonitor dengan analisa gas darah. Usahakan
sampai gas darah penderita normal kembali.
d. pemberian tranfusi darah : dilihat dari adanya penurunan Hb. Sebagai patokan
dapat dipakai perhitungan sebagai berikut, setiap 250 cc darah (dari penderita
normal kira-kira 20 – 30 tetes / menit dan dijaga jangan sampai terjadi
gangguan pada fungsi jantung atau menimbulkan gangguan pada jantung.
e. pemberian antibiotika, dilakukan apabila ada infeksi sekunder.
- Antibiotika yang digunakan disesuaikan dengan tes kepekaan dan kultur.
- Apabila belum jelas kuman penyebabnya, sedangkan keadaan penyakit gawat, maka
penderita dapat diberi “broad spectrum antibiotic”, misalnya Ampisillin dengan dosis 250
mg 4 x sehari.
f. juga dipertimbangkan dekortikasi apabila terjadi penebalan pleura (Mowery,
2012).
2.3 Tuberkulosis Paru 2.3.1 Definisi
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeks yang
disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosis. Penyebab penyakit ini
adalah bakteri kompleks Mycobacterium tuberculosis. Mycobacteria termasuk
dalam famili Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetales.
Kompleks Mycobacterium tuberculosis meliputi M. tuberculosis, M. bovis, M.
africanum, M. microti, dan M. canettii . Dari beberapa kompleks tersebut, M.
tuberculosis merupakan jenis yang terpenting dan paling sering dijumpai. Bakteri
ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama
untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru
(90%) dibandingkan bagian lain tubuh manusia (Robbin, 2007).
2.3.2 Patogenesis Tuberkulosis Paru
Penyebab tuberkulosis paru adalah kuman Mycobacterium tuberculosa,
pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA).
Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan
hidup beberapajam di tempat gelap dan lembab. Oleh karena itu dalam jaringan
tubuh kuman ini dapat dorman (tidur), tertidur lama selama beberapa tahun
(Depkes, 2006).
Paru merupakan pintu utama lebih dari 98% kasus infeksi TB. Karena
ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percikan dahak yang terhirup,
dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh
mekanisme imunologis. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan
biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada
sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan
kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag yang terus
berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi
pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN.
Dari focus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju
kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke
lokasi focus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran
limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Setelah
kompleks primer terbentuk, imunitas seluluer tubuh terhadap TB telah terbentuk.
Pada sebagian besar individu dengan system imun yang berfungsi baik, begitu
system imun seluler berkembang, proliferasi kuman TB terhenti. Namun,
sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma. Bila imunitas
dimusnahkan. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun
dalam kelenjar ini.
Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi
pertumbuhannya oleh imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk dormant.
Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit, tetapi berpotensi
untuk menjadi focus reaktivasi. Fokus potensial di apkes paru disebut sebagai
Fokus SIMON. Bertahun-tahun kemudian, bila daya tahan tubuh pejamu
menurun, focus TB ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi penyakit TB di
organ terkait, misalnya Meningitis, TB tulang, dan lain-lain (Werdhani, 2009).
2.3.3 Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB memerlukan suatu
“definisi kasus” yang meliputi empat hal yaitu:
a. Lokasi atau organ tubuh yang sakit (paru atau ekstra paru);
b. Bakteriologi dilihat dari hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis (BTA positif atau
BTA negatif);
c. Tingkat keparahan penyakit (ringan atau berat);
d. Riwayat pengobatan TB sebelumnya (baru atau sudah pernah diobati).
Berdasarkan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, TB Paru dapat
diklasifikaskan dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu:
a. Baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan
telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap didiagnosis kembali dengan
BTA positif (apusan atau kultur).
c. Pengobatan setelah putus berobat (Default)
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.
d. Gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
e. Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari sarana pelayanan kesehatan yang
memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
f. Lain-lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan
masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. TB paru BTA negatif dan
TB ekstra paru, dapat juga mengalami kambuh, gagal, default maupun menjadi
kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan secara patologik,
bakteriologik (biakan), radiologik dan pertimbangan medis spesialistik
(Kemenkesa, 2009).
2.3.4 Gejala Klinis dan Diagnosis
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu
atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur
menurun, malaise, berkeringat pada malam hari tanpa kegiatan fisik, demam lebih
dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut dapat juga dijumpai pada penyakit paru
selain TB, seperti bronkiektasi, bronkitis kronis, asma, kanker paru dan lain-lain.
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan Diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak
untuk menegakkan Diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa sewaktu-
pagi-sewaktu (S-P-S).
Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya
kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui
pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain
seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang
diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis
TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi
overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan
aktifitas penyakit (Kemenkesa, 2009).
2.3.5 Pengobatan TB
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Dalam pengobatan TB digunakan
Tabel 2.1 Jenis, sifat dan dosis OAT
Jenis OAT Sifat
Dosis yang direkomendasikan (mg/KgBB)
Harian 3 x seminggu
Isoniazid (H) Bakterisid 5
(4-6)
10 (8-12)
Rifampisin (R) Bakterisid 10
(8-12)
10 (8-12)
Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 (20-30)
35 (30-40)
Streptomycin (S) Bakterisid 15
(12-18) -
Ethambutol (E) Bakteriostatika 15 (15-20)
30 (20-35)
Prinsip pengobatan
Pengobatan TB dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
- OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan.
- Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian
OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat
dianjurkan.
- Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh
seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan
lanjutan. Pada tahap awal (intensif) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila
pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular
BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Paduan OAT dan peruntukannya 1. Kategori-1
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
- Pasien baru TB paru BTA positif.
- Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
- Pasien TB ekstra paru
Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 1:
2(HRZE)/4(HR) sebagaimana dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Dosis paduan OAT KDT Kategori 1
Berat badan
Tahap Intensif tiap hari selama
56 hari
RHZE (150/75/400/275)
Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama
16 minggu RH (150/150)
30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
≥71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT
2. Kategori -2
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
- Pasien gagal.
- Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default) .
Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 2:
2(HRZE)S/(HRZE)/ 5(HR)3E (Kemenkes, 2009), adalah sebagaimana dalam
Tabel 2.3 berikut ini.
Tabel 2.3 Dosis paduan OAT KDT Kategori 2
Berat badan
Tahap Intensif tiap hari
RHZE (150/75/400/275) + S
Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E(400) Selama 56 hari Selama 28 hari Selama 20 minggu
30-37 kg 2 tab 4KDT + 500
mg Streptomisin inj. 2 tab 4KDT
2 tab 2KDT + 2 tab Etambutol
38-54 kg 3 tab 4KDT + 750
mg Streptomisin inj. 3 tab 4KDT
3 tab 2KDT + 3 tab Etambutol
55-70 kg 4 tab 4KDT + 1000
mg Streptomisin inj. 4 tab 4KDT
4 tab 2KDT+ 4 tab Etambutol
≥71 kg 5 tab 4KDT + 1000mg
Streptomisin inj.
5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 5 tab Etambutol
2.4 COPD(Chronic Obtruction Pulmonary Disease)
2.4.1 Definisi
COPD atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) didefenisikan
berdasarkan uji fungsi paru jika terdapat bukti objektif hambatan aliran udara
yang menetap dan irreversibel. Suatu hal yang sudah jelas, saat pasien mengalami
bronkitis kronis atau emfisema dan mengalami dispnea (sesak nafas), dimana
kedua penyakit ini sering terdapat bersamaan, maka secara praktis keduanya
dikelompokkan dibawah PPOK.
Gambaran khas Bronkitis kronis adalah yang dimulai di saluran nafas
besar. Meskipun faktor penyebab terpenting adalah merokok, polutan udara lain
kelenjar mukosa bronkus, menyebabkan hipertrofi kelenjar mukosa dan
menyebabkan pembentukan metaplastik sel plastik penghasil musin di epitel
permukaan bronkus. Selain itu zat tersebut juga menyebabkan peradangan dengan
infiltrasi sel T CD8+, makrofag dan neutrofil.
Emfisema ditandai dengan pembesaran permanen rongga udara yang
terletak distal dari bronkiolus terminal disertai destruksi dinding rongga tersebut.
Secara singkat, tumbukan partikel asap terutama pada percacabangan bronkiolus
respiratorik mungkin menyebabkan influks neutrofil dan makrofag; kedua sel
tersebut mengeluarkan berbagai protease peningkatan aktivitas protease akan
menyebabkan terbentuknya emfisema seperti yang ditemukan pada para perokok.
Kerusakan jaringan diperhebat oleh inaktivasi antiprotease (yang besifat protektif)
yang bersifat oksigen reaktif yang terdapat dalam asap rokok. Skema ini juga
menjelaskan pengaruh merokok dan defisiensi antitrypsi-α1 dalam memperparah
penyakit obstruktif jalan napas yang serius (Robbins, 2007).
2.4.2 Etiologi
Faktor risiko untuk PPOK mencakup faktor eksogen seperti merokok dan
plusi udara dan juga faktor endogen dari diri pasien tersebut (Tabel 2.4). Faktor
eksogen terbesar adalah merokok.
Tabel 2.4 Faktor risiko PPOK
Faktor utama Faktor penting Faktor pendukung
Eksogen Merokok
Polusi udara Perokok pasif Paparan debu dan zat kimia
Infeksi
Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada beberapa perokok, ini disebabkan
oleh karena pada beberapa pasien yang sensitif terhadap rokok lebih mudah
berkembang penyakit ini. Faktor resiko endogen yang terbatas adalah defisiensi
gen bawaan α-antitrypsin. Faktor eksogen yang lain adalah paparan debu dan zat
kimia (uap, zat iritan, asap), perokok pasif dan penyakit infeksi pernafasan (The
Japanese Respiratory Society, 2004).
2.4.3 Patogenesis
Hipotesa utama menyatakan bahwa PPOK terjadi karena dua
ketidakseimbangan, yaitu: akibat ketidak seimbangan proteasse dan antiprotease
dan ketidak seimbangan oksidan dan antioksidan. Hipotesa baru muncul setelah
penelitian terhadap hewan percobaan yang menghasilkan emfisema paru.
Apoptosis sel paru dapat juga terlibat.
Inflamasi saluran nafas dan destruksi dinding alveolar terjadi akibat dari
yang disebut sebagai faktor penyerang yang menyebabkan kerusakan paru yaitu
berbagai jenis protease ataupun oksidatif stres melampaui faktor protektif dari
antiprotease dan antioksidan baik dalam hal kuantitas maupun dalam hal kualitas
(The Japanese Respiratory Society, 2004).
2.4.4 Diagnosis
Diagnosis PPOK dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
foto toraks dapat menentukan PPOK Klinis. Apabila dilanjutkan dengan
pemeriksaan spirometri akan dapat menentukan diagnosis PPOK sesuai derajat
a. Anamnesis 1. Ada faktor resiko
Faktor risiko yang penting adalah usia (biasanya usia pertengahan), dan
adanya riwayat pajanan, baik berupa asap rokok, polusi udara, maupun polusi
tempat kerja. Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal
yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Dalam
pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan apakah pasien merupakan seorang
perokok aktif, perokok pasif, atau bekas perokok. Penentuan derajat berat
merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang
rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun. Interpretasi hasilnya
adalah derajat ringan (0-200), sedang (200-600), dan berat ( > 600) (PDPI, 2001).
2. Gejala klinis
Gejala PPOK terutama berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi ini
harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa
terjadi pada proses penuaan. Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3
bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan. Kadangkadang pasien
menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa disertai batuk. Selain itu, Sesak
napas merupakan gejala yang sering dikeluhkan pasien terutama pada saat
melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak
napas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini tidak dikeluhkan (GOLD,
2013).
b. Pemeriksaan fisik
Temuan pemeriksaan fisik mulai dari inspeksi dapat berupa bentuk dada
orang meniup), terlihat hipertrofi otot-otot bantu napas, pelebaran sela iga dan bila
telah terjadi gagal jantung kanan terlihat distensi vena jugularis dan edema
tungkai. Pada perkusi biasanya ditemukan adanya hipersonor. Pemeriksaan
auskultasi dapat ditemukan fremitus melemah, suara napas vesikuler melemah
atau normal, ekspirasi memanjang, ronki dan mengi (PDPI, 2001).
c. Pemeriksaan penunjang
1. Spirometri (VEP1, VEP1 Prediksi, KVP, VEP1/KVP)
Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP
(%). VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai
beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit. Apabila spirometri tidak
tersedia atau tidak mungkin dilakukan, APE meter walaupun kurang tepat, dapat
dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabilitas harian pagi dan sore,
tidak lebih dari 20%.
2. Radiologi (Foto toraks)
Pada hasil pemeriksaan radiologi dapat ditemukan kelainan paru berupa
hiperinflasi atau hiperlusen, diafragma mendatar, corakan bronkovaskuler
meningkat, jantung pendulum, dan ruang retrosternal melebar. Meskipun
kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologi masih normal pada PPOK ringan tetapi
pemeriksaan radiologi ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis penyakit
paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien (GOLD,
2013).
3. Laboratorium darah rutin.
4. Analisa gas darah.
2.4.5 Klasifikasi
Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan spirometri dapat ditentukan
klasifikasi (derajat) PPOK seperti digambarkan pada tabel 2.5.
Tabel 2.5. Klasifikasi PPOK
Klasifikasi Penyakit Gejala Klinis Spirometri
PPOK Ringan -Dengan atau tanpa batuk -Dengan atau tanpa produksi sputum
-Sesak napas derajat sesak 1 sampai derajat sesak 2
-VEP1 ≥ 80% prediksi (nilai normal spirometri) -VEP1/KVP < 70%
PPOK Sedang -Dengan atau tanpa batuk -Dengan atau tanpa produksi sputum
-Sesak napas derajat sesak 1 sampai derajat sesak 2
-VEP1/KVP < 70% -50% ≤ VEP1 < 80% prediksi
PPOK Berat -Sesak napas derajat sesak 4 dan 5
-Eksaserbasi lebih sering terjadi
-VEP1/KVP < 70% -30% ≤ VEP1 < 50% prediksi
PPOK Sangat Berat -Sesak napas derajat sesak 4 dan 5 dengan gagal napas kronik
-Eksaserbasi lebih sering terjadi
-Disertai komplikasi korpulmonale atau gagal jantung kanan
-VEP1/KVP <70% -VEP1 < 30% prediksi, atau
-VEP1 < 50% dengan gagal napas kronik
Eksaserbasi akut pada PPOK berarti timbulnya perburukan dibandingkan
dengan kondisi sebelumnya. Definisi eksaserbasi akut pada PPOK adalah kejadian
akut dalam perjalanan alami penyakit dengan karakteristik adanya perubahan basal
sesak napas, batuk, dan/atau sputum yang diluar batas normal dalam variasi hari ke
hari (GOLD, 2013).
Penyebab eksaserbasi akut dapat primer yaitu infeksi trakeobronkial
(biasanya karena virus), atau sekunder berupa pneumonia, gagal jantung, aritmia,
penggunaan obatobatan (obat antidepresan, diuretik) yang tidak tepat, penyakit
metabolik (diabetes melitus, gangguan elektrolit), nutrisi buruk, lingkungan
memburuk atau polusi udara, aspirasi berulang, serta padastadium akhir penyakit
respirasi (kelelahan otot respirasi) (PDPI, 2001).
2.4.6 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan PPOK eksaserbasi akut adalah mengatasi segera
eksaserbasi yang terjadi dan mencegah terjadinya kematian. Risiko kematian dari
eksaserbasi sangat berhubungan dengan terjadinya asidosis respiratorik, adanya
komorbid, dan kebutuhan akan alat ventilasi (GOLD, 2013).
a. Bronkodilator
Bronkodilator yang lebih dipilih pada terapi eksaserbasi PPOK adalah
short-acting inhaled ß2-agonists. Jika respon segera dari obat ini belum tercapai,
direkomendasikan menambahkan antikolinergik walaupun bukti ilmiah efektivitas
kombinasi ini masih kontroversial. Walaupun penggunaan klinisnya yang luas,
peranan metilxantin dalam terapi eksaserbasi masih kontroversial. Sekarang
metilxantin (teofilin, aminofilin) dipertimbangkan sebagai terapi lini kedua, ketika
tidak ada respon yang adekuat dari penggunaan short-acting inhaled ß2-agonists.
Tidak ada penelitian klinis yang mengevaluasi penggunaan long-acting inhaled
ß2-agonists dengan atau tanpa inhalasi glukokortikosteroid selama eksaserbasi
(GOLD, 2013).
Bila rawat jalan ß2-agonists dan antikolinergik harus diberikan dengan
peningkatan dosis. Inhaler masih cukup efektif bila digunakan dengan cara yang
tepat, nebulizer dapat digunakan agar bronkodilator lebih efektif. Hati-hati
penggunaan oksigen 8-10 liter untuk menghasilkan uap dapat menyebabkan
retensi CO2. Golongan xantin dapat diberikan bersama-sama dengan
bronkodilator lainnya karena mempunyai efek memperkuat otot diafragma. Dalam
perawatan di rumah sakit, bronkodilator diberikan secara intravena dan nebulizer,
dengan pemberian lebih sering perlu monitor ketat terhadap timbulnya palpitasi
sebagai efek samping bronkodilator (PDPI, 2001).
b. Kortikosteroid
Kortikosteroid oral/intravena direkomendasikan sebagai tambahan terapi
pada penanganan eksaserbasi PPOK. Dosis pasti yang direkomendasikan tidak
diketahui, tetapi dosis tinggi berhubungan dengan risiko efek samping yang
bermakna. Dosis prednisolon oral sebesar 30-40 mg/hari selama 7-10 hari adalah
efektif dan aman (GOLD, 2013).
Pada orang dengan PPOK stabil yang tetap sesak napas atau memiliki
eksaserbasi meskipun menggunakan bronkodilator kerja singkat (short-acting
bronchodilators) berikut ditawarkan sebagai terapi pemeliharaan:
• Jika FEV 1 ≥ 50% prediksi: Long-acting beta2 agonis (LABA) atau LAMA
• Jika FEV 1 < 50% prediksi: LABA dikombinasi dengan kortikosteroid inhaler (ICS)
atau LAMA.
c. Antibiotik
Berdasarkan bukti terkini yang ada, antibiotik harus diberikan kepada:
- Pasien eksaserbasi yang mempunyai tiga gejala kardinal, yaitu
peningkatan volume sputum, sputum menjadi semakin purulen, dan
peningkatan sesak
- Pasien eksaserbasi yang mempunyai dua gejala kardinal, jika
- Pasien eksaserbasi yang memerlukan ventilasi mekanik (GOLD,
2013).
Pemilihan antibiotik disesuaikan dengan pola kuman setempat dan
komposisi kombinasi antibiotik yang mutakhir. Pemberian antibiotik di rumah
sakit sebaiknya per drip atau intravena, sedangkan untuk rawat jalan bila
eksaserbasi sedang sebaiknya diberikan kombinasi dengan makrolid, dan bila
ringan dapat diberikan tunggal. Antibiotik yang dapat diberikan di Puskesmas
yaitu lini I: Ampisilin, Kotrimoksasol, Eritromisin, dan lini II: Ampisilin
kombinasi Kloramfeniko l, Eritromisin, kombinasi Kloramfenikol dengan
Kotrimaksasol ditambah dengan Eritromisin sebagai Makrolid (PDPI, 2001).
d. Terapi Oksigen
Pada eksaserbasi akut terapi oksigen merupakan hal yang pertama dan
utama, bertujuan untuk memperbaiki hipoksemia dan mencegah keadaan yang
mengancam jiwa, dapat dilakukan di ruang gawat darurat, ruang rawat atau di
ICU. Tingkat oksigenasi yang adekuat (PaO2 >8,0 kPa, 60 mmHg atau SaO2
>90%) mudah tercapai pada pasien PPOK yang tidak ada komplikasi, tetapi
retensi CO2 dapat terjadi secara perlahan-lahan dengan perubahan gejala yang
sedikit sehingga perlu evaluasi ketat hiperkapnia. Gunakan sungkup dengan
kadar yang sudah ditentukan (ventury mask) 24%, 28% atau 32%. Perhatikan
apakah sungkup rebreathing atau non-rebreathing, tergantung kadar PaCO2 dan
PaO2. Bila terapi oksigen tidak dapat mencapai kondisi oksigenasi adekuat, harus
e. Ventilasi Mekanik
Tujuan utama penggunaan ventilasi mekanik pada PPOK eksaserbasi berat
adalah mengurangi mortalitas dan morbiditas, serta memperbaiki gejala. Ventilasi
mekanik terdiri dari ventilasi intermiten non invasif (NIV), baik yang
menggunakan tekanan negatif ataupun positif (NIPPV), dan ventilasi mekanik
invasif dengan oro-tracheal tube atau trakeostomi. Dahulukan penggunaan
NIPPV, bila gagal dipikirkan penggunaan ventilasi mekanik dengan intubasi.
Penggunaan NIV telah dipelajari dalam beberapa Randomized Controlled Trials
pada kasus gagal napas akut, yang secara konsisten menunjukkan hasil positif
dengan angka keberhasilan 80-85%. Hasil ini menunjukkan bukti bahwa NIV
memperbaiki asidosis respiratorik, menurunkan frekuensi pernapasan, derajat
BAB III
PENATALAKSANAAN UMUM
3.1 Identitas Pasien
Nama : Tn. B S
Nomor MR : 00.48.41.28
Tgl Lahir/ Umur : 10-01-1958 / 55 Thn 4 Bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Kawin
Agama : Kristen Protestan
Suku : Batak
Alamat : Desa Bulu Duri Kec. Lae Parira
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 160 cm
Ruangan : RB2B/ III-7
Pembayaran : Jamkesmas
Tanggal Masuk : 12 Mei 2013
Tanggal Keluar : 20 Mei 2013 (Meninggal dunia)
3.2 Riwayat Penyakit dan Pengobatan 3.2.1 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami batuk berdarah, batuk berdahak berwarna
kekuningan selama ± 3 bulan dan riwayat penyakit TB paru.
3.2.2 Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam status pasien tidak dijelaskan dan dari keterangan pasien didapat
3.2.3 Riwayat Penyakit Sosial
Dari keterangan pasien diperoleh bahwa pasien adalah seorang perokok
berat dan peminum alkohol (tuak) setiap harinya.
3.2.4 Riwayat Penggunaan Obat terdahulu
Pasien menggunakan Obat Anti Tuberkulosa (OAT) pada bulan Januari –
Februari 2013 tapi karena mengalami muntah, pasien menghentikan obat tersebut.
3.3 Ringkasan Pasien Masuk RSUP H. Adam Malik
Pasien datang ke RSUP H. Adam Malik pada taggal 12 mei 2013 pukul
13:23 wib melalui IGD cara masuk stretcher dengan keluhan sakit pada bagian
dada dan sesak bernafas. Pasien sudah dipasang torax drainage pada tanggal 8 mei
2013 oleh dokter bedah RSUD Sidikalang lalu dirujuk ke RSUP H. Adam Malik.
Kemudian pasien dirujuk ke ruang rawat inap terpadu (RINDU B) bagian
urologi ruangan III-7. Diagnosis awal dokter adalah Pneumothorax ec TB Paru +
Emfisema sub cutis.
3.4 Hasil Pemeriksaan
Selama dirawat di RSUP H. Adam Malik, pasien telah menjalani
pemeriksaan yaitu pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan
penunjang dilakukan untuk membantu tepatnya diagnosis dokter. Pemeriksaan
penunjang berupa pemeriksaan laboratorium patologi klinik yang meliputi
hematologi, metabolisme karbohidrat, homoestasis dan faal ginjal serta
3.4.1 Pemeriksaan Fisik
Selama dirawat di RSUP H. Adam Malik, pasien telah menjalani
pemeriksaan fisik. Hasil pemeriksaan yang dilakukan dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 3.1 Hasil pemeriksaan fisik pasien Tn BS
T a n g g a l Pemeriksaa
n
J e n i s P e m e r i k s a a n Keadaan
Umum
Suhu
( 0
C )
RR (x/menit)
Tekanan Darah ( mmHg)
Nadi ( x/menit
) 13 mei 2013 Compos Mentis 36,0 22 120/80 98 14 mei 2013 Compos Mentis 37,0 24 120/80 92 15 mei 2013 Compos Mentis 37,6 26 120/80 96 16 mei 2013 Compos Mentis 37,5 32 120/80 92 17 mei 2013 Compos Mentis 37,6 28 120/80 96 18 mei 2013 Compos Mentis 37,5 32 120/80 98 19 mei 2013 Compos Mentis 37,5 28 120/80 92
3.4.2 Pemeriksaan Patologi Klinik
Pemeriksaan patologi klinik merupakan pemeriksaan penunjang yang
penting dalam mendiagnosis penyakit pasien. Pasien telah melakukan beberapa
pemeriksaan di laboratorium Patologi Klinik.
Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini.
Tabel 3.2 Hasil pemeriksaan patologi klinikkimia klinik
Jenis pemeriksaan Satua
n Unit Tgl Pemeriksaan
Keterangan Nilai Normal 12 Mei 2013
1. Elektrolit darah
Natrium mEq/L 132 135 – 155
Kalium mEq/L 4 3,6 - 5,5
Chlorida mEq/L 101 96 – 106
2. Faal ginjal
Ureum mg/dl 15.00 <50
Kreatinin mg/dl 0,54 0.70 - 1.20
Tabel 3.3 Hasil pemeriksaan patologi klinik hematologi J e n i s
Pemeriksaan
Satuan Unit
Tanggal Pemeriksaan
Keterangan Nilai Normal
Hematologi 12 Mei 2013
Hemoglobin g/dL 13.10 13.2-17.3
Eritrosit 10³ /mm³ 4.3 4.20 – 4.87
Leukosit 10³ /mm³ 8.58 4.5-11
Hematokrit % 37.90 43-49
Trombosit 10³ /mm³ 297 180– 450
MCV fL 88.10 85-95
MCH Pg 30.50 28 – 32
MCHC g/dL 34.60 33 – 35
RDW % 14.90 11.6-14.8
MPV fL 9.2 7.0-10.2
PCT % 0.27
PDW fL 10.1
Netrofil % 68.4 37 – 80
Limfosit % 18.80 20 – 40
Monosit % 9.30 2 – 8
Eosinofil % 3.40 1 – 6
Basofil % 0.1 0 – 1
Netrofil abSolut µL 5.87 2.7 – 6.5
Limfosit abSolut µL 1.61 1.5 – 3.7
Monosit abSolut µL 0.80 0.2 – 0.4
Eosinofil abSolut µL 0.29 0 – 1.0
Basofil abSolute µL 0.01 0 – 0.1
Tabel 3.4 Hasil pemeriksaan analisis gas darah Jenis Pemeriksaan
Satuan Hasil Rujukan
Analisis gas darah 12-5-2013 15-5-2013
pH 7.459 7.407 7.35 - 7.45
pCO2 mmHg 39.6 40.5 38 – 42
pO2 mmHg 174.4 148.5 85 – 100
Bicarbonat (HCO3) m.mol/ L 27.5 26.2 22 – 26
Total CO2 m.mol/ L 28.7 27.5 19 – 25
Kelebihan basa m.mol/ L 3.5 1.3 (-2) – (+2)
Tabel 3.5 Hasil pemeriksaan metabolisme karbohidrat
Jenis pemeriksaan Satuan
Unit Tgl Pemeriksaan
Keterangan Nilai Normal 12 Mei 2013
Glukosa darah sewaktu mg/dl 167.00 < 200
Glukosa darah mg/dl - -
Glukosa urine mg/dl - -
3.4.3 Pembahasan hasil laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium didapat hasil yang tidak normal yaitu
seperti terlihat pada tabel 3.6 berikut ini.
Tabel 3.6 Hasil pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Satuan 12 mei 2013 15 Mei 2013 Rujukan
Natrium mEq/L 132 - 135 – 155
Hematokrit % 37.90 - 43-49
Monosit % 9.30 - 2 – 8
Monosit abSolut µL 0.80 - 0.2 – 0.4
pO2 mmHg 174.4 148.5 85 – 100
Bicarbonat (HCO3) m.mol/ L 27.5 26.2 22 – 26
Total CO2 m.mol/ L 28.7 27.5 19 – 25
Keadaan hiponatremia mungkin disebabkan oleh tumor dan beberapa obat
(diuretik tiazid, klorpropamid, karbamazepin, klofibrat, siklofosfamid) mungkin
dan juga berhubungan dengan beberapa penyakit paru-paru (TBC, Pneumonia)
(Kemenkesb, 2011). Sementara penurunan nilai Hematokrit merupakan indikator
anemia (karena berbagai sebab), reaksi hemolitik, leukemia, sirosis, kehilangan
banyak darah dan hipertiroid (Kemenkesb, 2011).
Monosit adalah leukosit mononuklear fagositik, berdiameter 13-25
mikron, mempunyai inti. Dibentuk dalam sumsum tulang dari promonosit
monosit berkembang menjadi magkrofag (Dorland, 2011). Monosit merupakan
sel darah yang terbesar. Sel ini berfungsi sebagai lapis kedua pertahanan tubuh,
dapat memfagositosis dengan baik dan termasuk kelompok makrofag. Monosit
melawan infeksi yang hebat (Kemenkesb, 2011).
Peningkatan nilai PaO2 dapat terjadi pada peningkatan penghantaran O2
oleh alat bantu (contoh: nasal prongs, alat ventilasi mekanik), hiperventilasi dan
polisitemia (peningkatan sel darah merah dan daya angkut oksigen) (Kemenkesb,
2011). Sementara peningkatan nilai PaCO2 dapat terjadi pada gangguan paru atau
penurunan fungsi pusat pernafasan. Nilai PaCO2 > 60 mgHg perlu mendapat
perhatian. Peningkatan kadar CO2 dapat terjadi pada muntah yang parah,
emfisema dan aldosteronisme (Kemenkesb, 2011).
Implikasi Klinik :
Data laboratorium mengindikasikan inflamasi atau infeksi yang hebat pada
organ paru dan atau hati. Karena pada kasus ini pasien mempunyai jumlah
monosit yang tinggi. Hal ini sudah didukung dengan hasil foto thorax yang
mengindikasikan kerusakan pada paru. Penurunan hematokrit menandakan
anemia sementara peningkatan PaO2 tidak merupakan masalah karena pasien
dipasang alat bantu pernafasan oksigen.
Peningkatan PaCO2 dan kacar CO2 menandakan adanya penurunan fungsi
pernafasan dan adanya emfisema. Hal ini menguatkan diagnosis awal dokter yaitu
Pneumothorax ec TB Paru + Emfisema sub cutis.
Saran :
- Dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala untuk memantau
kadar dari hematologi dan analisis darah tersebut diatas.
3.5 Terapi
Selama dirawat di RSUP H. Adam Malik, pasien menerima obat-obatan
sesuai dengan daftar obat yang tercantum dalam tabel berikut.
Tabel 3.7 Daftar obat yang digunakan pasien di RSUP H. Adam Malik
Tanggal Jenis Obat Sediaan Dosis Rute
Lanjutan tabel 3.7 Daftar obat yang digunakan pasien di RSUP H. Adam Malik
Tanggal Jenis Obat Sediaan Dosis Rute
Bentuk Kekuatan 17 Mei
3.6.1 Pembahasan Tanggal 13 Mei 2013
Pemeriksaan dan pemberian terapi pada tanggal 13 Mei 2013 adalah
sebagai berikut.
Subjective (S) : Sakit pada daerah dada (+), demam (-)
Chest tube (+)
Corakan paru sampai ke perifer
Kesan paru kembang
Assesment (A) : Pneumothorax
Planning (P) :
Tabel 3.8 Daftar obat yang digunakan pasien pada tanggal 13 mei 2013
Tanggal Jenis Obat Sediaan Dosis Rute
Bentuk Kekuatan 13 Mei
2013
IVFD RL Sol Seftriakson Ketorolak Ranitidin
Infus Injeksi Injeksi Injeksi
500 ml/botol 1000 mg/vial 30 mg/amp/1ml 50 mg/amp/2ml
20 gtt/ menit 1000 mg/12 jam
30 mg/12 jam 50 mg / 12 jam
iv iv iv iv
3.6.1.1 Pengkajian Tepat Pasien
Pasien bernama BS dengan no MR 00.55.89.31 tanggal lahir 10-01-1958, Dokter menegakkan diagnosis Pneumothorax dengan :
- Hasil pemeriksaaan fisik dimana pasien mengalami sesak nafas.
- Pasien mengalami nyeri/ sakit pada daerah dada.
- Hasil foto thorax dimana ada kelainan pada bagian paru
- Hematologi dimana jumlah monosit diatas normal.
3.6.1.2 Pengkajian Tepat Indikasi
a. Pemberian IVFD RL tepat indikasi untuk menjaga keseimbangan elektrolit
pasien. IVFD RL mengandung Natrium Laktat, Natrium Klorida, kalsium
klorida (Kasim, 2008).
b. Seftriakson diindikasikan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh
bakteri yang sensitif terhadap Seftriakson antara lain: infeksi saluran
tulang dan sendi, infeksi intra abdominal, infeksi saluran kemih dan
meningitis (Mc Evoy, 2004). Maka dalam hal ini sudah tepat indikasi
karena pasien dipasang chest tube yang rentan terjadi infeksi.
c. Ketorolak adalah salah satu dari obat anti inflamasi non steroid (NSAID),
yang biasa digunakan untuk analgesik, antipiretik dan anti inflamasi. Obat
ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat
menjadi PGG2 terganggu. Ketorolak adalah obat antiinflamasi nonsteroid
(OAINS) yang sudah digunakan sejak tahun 1990 dan merupakan OAINS
parenteral yang diindikasikan untuk nyeri pascaoperasi. Ketorolak selain
digunakan sebagai antiinflamasi juga memiliki efek analgesik yang bisa
digunakan sebagai pengganti morfin pada keadaan pascaoperasi sedang
sampai berat (Setyono, 2009). Dari keluhan pasien yang mengalami nyeri
di bagian dada maka obat ini suda tepat.
d. Injeksi ranitidin antagonis reseptor H-2 untuk menyembuhkan tukak
lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung
(Sukandar,2008). Dari hasil penelusuran riwayat penyakit pasien, pasien
tidak pernah mengalami tukak lambung atau tukak duodenum sehingga
pemberian injeksi ranitidin tidak tepat indikasi.
3.6.1.3 Pengkajian Tepat Obat
a. Injeksi seftriakson merupakan antibiotik yang memiliki spektrum luas
tetapi dalam hal ini belum dilakukan uji kultur dengan demikian terapi
antibiotik Seftriakson tidak tepat.
b. Injeksi ketorolak sudah tepat obat untuk mengatasi nyeri yang dialami