Konsep Ma’rifat
Materi Kuliah
Sejarah Pemikiran Islam
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Tjusoraya Kiswati, MA
Oleh:
Siti Aminah
NIM. F03411044
KONSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia tasawuf, ma’rifat merupakan suatu hal yang sangat penting. Ma’rifat merupakan perjalanan ruhani yang didambakan oleh setiap sufi, namun tidak semua sufi mampu untuk mencapainya.1 Tujuan kaum sufi adalah untuk mendekatkan diri kepada
Allah dengan melihat tuhan dan bahkan lebih dari itu.
Rasulullah saw, bersabda:
“Mula-mula dalam beragama adalah makrifat kepada Allah”
Dalam perbincangan dikalangan sufi terdapat dua pandangan tentang ma’rifat, ma’rifat dianggap sebagai maqam2 dan ma’rifat sebagai hal.3 Jika dapandang sebagai
maqam ma’rifat juga diperselisihkan dalam segi pengurutannnya. Pada dunia tasawuf dijumpai dua tokoh yang mengenalkan paham ma’rifah yaitu Al-Ghazali dan Zu al-Nun al-Misry.
BAB II
1Saiful Muzani, Islam Rasional :Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr.Harun Nasution (Bandung: Mizan, 1995), 360. 2Maqam merupakan jalan panjang yang harus dilalui oleh sufi untuk berada dekat kepada Allah dan dalam bahasa
inggris dikenal dengan stages.
3Hal merupakan suatu keadaan mental seperti perasaan takut (al-khauf), rendah hati (tawadu’), patuh (taqwa) dan
PEMBAHASAN
A. Pengertian Makrifat
Dari segi bahasa ma’rifah berasal dari kata arafa,yu’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman.4 Dan dapat pula berarti pengetahuan tentang
rahasia hakikat agama yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu yang biasa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifah adalah pengetahuan yang obyeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir tetapi lebih mendalam terhadap batinnya dengan mengetahui rahasianya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan dan hakikat itu satu, dan segala yang maujud berasal dari yang satu.
Ma’rifah digunakan untuk menunjukkan pada salah satu tingkatan dalam tasawuf. Dalam arti sufistik ini, ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenal tuhan melalui hati sanubari. Pengetahuan itu demikian lengkap dan jelas sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu, yaitu Tuhan.
Harun Nasution mengatakan bahwa ma’rifah menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan, dengan hati sanubari. Ma’rifah berarti mengetahui tuhan dari dekat sehingga hati sanubari dapat melihat tuhan. Oleh karena itu orang-orang sufi mengatakan:
1) Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka mata kepalanya tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah.
2) Ma’rifah adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3) Yang dilihat orang arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah.
4) Sekiranya ma’rifah mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya dan semua cahaya akan menjadi gelap disamping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.5
Rasulullah saw bersabda:
4IAIN Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf (Sumatera Utara, 1983/1984), 122.
“Siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya dia dapat mengenal tuhannya”.6
Tidak ada seorang pun yang sanggup dan mampu mengenal tuhan-Nya dalam arti hakiki kecuali dengan Dia.
Dzin Nun al-Mishri berkata, “Aku kenal tuhanku dengan tuhanku jua”
Yakni dengan sinarnya, hidayahnya, kodrat dan iradatnya. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya:
“Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) pada jalan kami, sungguh akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang berbuat kebaikan (Q.S. al-Ankabut (29):69).
Dengan demikian bermakrifatullah menjadikan kita semakin mantap keyakinannya semakin teguh keimanannya dan semakin besar taqwa kita terhadap Allah, Tuhan semesta alam sehingga mencapai isbatul yaqin yaitu yakin seyakin-yakinnya setelah adanya bukti nyata.
Bagi para pengikut Nabi Muhammad saw, tingkat pelajaran dalam agama islam dibagi 4 (empat) tingkatan yaitu:
1. Syariat (Sembah Raga)
Pengetahuan terhadap jalan menuju Allah. Kesadaran berperilaku sehari-hari yang berorientasi kepada norma-norma budaya, agama, hukum, dan aturan-aturan social pada lingkunanga yang berlaku.
2. Tarikat (Sembah Cipta)
Berjalan menurut ketentuan-ketentuan syariat, yakni berbuat sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh syariat. Kesadaran mental berorientasi pada dimensi-dimensi bawahan (bawah sadar).
3. Hakikat (Sembah Jiwa/Rasa)
Pandangan yang terus menerus kepada Allah. Kesadaran mental berorientasi pada dimensi-dimensi atasan (budi luhur).
4. Makrifat (Sembah Sukma)
Ilmu pengetahuan yang sampai pada tingkat keyakinan yang mutlak dalam mengesakan Alllah.
B. Alat untuk Ma’rifah
Alat yang dapat digunakan untuk ma’rifah telah ada dalam diri manusia yaitu qalb (hati), namun artinya tidak sama dengan heart dalam bahasa inggris, karena qalb selain dari alat untuk merasa adalah alat untuk berpikir. Bedanya qalb dengan akal ialah bahwa akal tak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan sedang
qalb bisa mengetahui hakikat dari segala yang ada, dan jika dilimpahi cahaya Tuhan, bisa mengetahui rahasia-rahasia Tuhan. Qalb yang telah dibersihkan dari segala dosa dan maksiat melalui serangkai zikir dan wirid secara teratur akan dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan yaitu setelah hati tersebut disinari cahaya Tuhan.
Proses penyampain qalb pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya dengan konsep Takhalli, tahalli dan tajalli. Takhalli yaitu mengosongkan diri dari akhlak yang tercela dan perbuatan maksiat melalui taubat. Hal ini dilanjutkan dengan tahalli yaitu menghiasi diri dengan akhalak yang mulia dan amal ibadah. Sedangkan tajalli adalah terbukanya hijab sehingga tampak jelas cahaya Tuhan.7
Adapun alat yang dipergunakan untuk memperoleh ma’rifat dikalangan sufi disebut dengan sir. Di samping itu masih ada alat lain, sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairiy: qalb (hati) yang berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, ruh untuk mencaintai Tuhan dan sir untuk mengenal tuhan. Sir lebih halus dari ruh dan ruh lebih halus dari qalb.8
Seseorang yang memperoleh ma’rifat memiliki perasaan spiritual dan kejiwaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ciri-ciri yang ada pada diri seseorang yang yang mendapatkan ma’rifat adalah:
1) Cahaya ma’rifatnya berupa ketaqwaan tidak pernah padam dalam dirinya 2) Tidak meyakini bahwa hakikat sesuatu ilmu (batin) mematahkan (hukum)
yang lainnya.
3) Banyak nikmat yang di anugerahkan kepadanya tidak membuat lupa dan melanggar aturan-aturan Tuhan.
C. Tokoh yang Mengembangkan Ma’rifah
Dalam literature tasawuf dijumpai dua orang tokoh yang mengenalkan paham ma’rifah ini yaitu:
1. Al-Ghazali
Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad al-Ghizali lahir pada tahun 1059 M, di Ghazaleh. Al Ghazali mengatakan ma’rifah adalah:
“Tampak jelas rahasia-rahasia ketuhanan dan pengetahuan mengenai susunan urusan ketuhanan yang mencakup segala yang ada”.
Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan ma’rifah adalah: “Memandang kepada wajah (rahasia) Allah”.
Seterusnya al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai ma’rifah tentang Tuhan, yaitu arif tidak akan mengatakan ya Allah atau ya rabb karena memanggil 7Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers), 223.
Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan bahwa Tuhan ada di belakang tabir. Orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil temannya itu.
Tetapi bagi Al-Ghazali ma’rifah urutannya terlebih dahulu dari pada mahabbah, karena mahabbah timbul dari ma’rifah. Namun mahabbah yang dimaksud al-Ghazali berlainan dengan mahabbah yang diucapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah, yaitu mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya, cinta yang timbul dari kasih Tuhan dan rahmat Tuhan kepada manusia yang memberi manusia hidup, rezeki, kesenangan dan lain-lain. Al-Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa ma’rifah dan mahabbah itulah setinggi-tinggi tingkat yang dapat dicapai seorang sufi. Dan pengetahuan yang diperoleh dari ma’rifah lebih tinggi mutunya dari pengetahuan yang diperoleh dengan akal.9
2. Zu al-Nun al-Misry
Dia adalah Abu al-Faid Sauban ibn Ibrahim al-Misry di kenal dengan Zul al-Nun al-Misry. Dia dilahirkan di ikhim, sebuah daerah di Mesir Hulu pada tahun 180 H/796 M dan meninggal pada tahun 246 H/860 M. Dia putera seorang Nubia, sebuah suku yang tinggal di Nubah wilayah timur laut Afrika. Disamping seorang sufi, ia juga dikenal sebagai ahli filsafat, ilmu pengetahuan, dan tulisan herioglig (tulisan abjad mesir kuno).10
Penokohan terhadap Zu al-Nun sebagai seorang tokoh dalam sufisme bukan tidak beralasan, karena disamping dia memang melakukan kehidupannya dalam kehidupan mistis, dia mempunyai keistimewaan-keistimewaan, ketika dia masih hidup dan bahkan setalah dia meninggal.
Keistimewaan yang dimilikinya yang terlihat dari kematiannya, ialah dilihat dari kuantitas penziarahnya. Tidak kurang dari 70 orang bermimpi melihat Rasulullah dan bersabda “Aku datang menemui Zun al-Nun al-Misry, wali Allah” dan sesudah kematiaannya terdapat tulisan di dalam keningnya, yaitu “ inilah kekasih Tuhan yang meninggal dalam mencintai Tuhan dan dibunuh oleh Tuhan”. Demikian juga terhadap iring-iringan jenazahnya dinaungi oleh burung-burung. Atas peristiwa ini orang-orang Mesir menyesal atas perlakuannya selama ini.
Ma’rifat yang dimajukan Zu al-Nun al-Misry adalah pengetahuan hakiki tentang Tuhan.11 Beliau membagi pengetahuan tentang Tuhan menjadi tiga tingkatan. Tingkat
9Nata, Akhlak, 227.
pertama ialah pengetahun awam, yang dapat mengetahui keesaan tuhan. Dengan perantaraan ucapan syahadat. Tingkat kedua, merupakan tingkatan para ulama dan mutakallimin yang dapat mengetahui Tuhan dengan logika dan penalaran akal. Sedangkan tingkatan ketiga, pengetahuan tentang sufi yang diperoleh melalui mata hati sanubari.12
Ketika ditanya tentang bagaimana ma’rifat kepada Tuhan, Zu al-Nun al-Misry menjawabnya dengan ungkapan “Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak akan tahu Tuhan”.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud Ma’rifah adalah pengetahuan yang obyeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir tetapi lebih mendalam terhadap batinnya dengan mengetahui rahasianya.
Sedangkan alat untuk mencapai ma’rifah telah ada dalam diri manusia yaitu qalb (hati).
Adapun tokoh sufi yang mengembangkan Ma’rifah yakni: 1. Al-Ghazali
Menyatakan bahwa ma’rifah dan mahabbah itulah setinggi-tinggi tingkat yang dapat dicapai seorang sufi. Dan pengetahuan yang diperoleh dari ma’rifah lebih tinggi mutunya dari pengetahuan yang diperoleh dengan akal.
2. Zu al-Nun al-Misry
Bahwasanya Ma’rifat yang dimajukan Zu al-Nun al-Misry adalah pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Beliau membagi pengetahuan tentang Tuhan menjadi tiga tingkatan. Tingkat pertama ialah pengetahun awam, yang dapat mengetahui keesaan tuhan. Dengan perantaraan ucapan syahadat. Tingkat kedua, merupakan tingkatan para ulama dan mutakallimin yang dapat mengetahui Tuhan dengan logika dan penalaran akal. Sedangkan tingkatan ketiga, pengetahuan tentang sufi yang diperoleh melalui mata hati sanubari.
Nasution Harun, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta:Bulan Bintang, 1983. Surohadikusumo Sabdono, Kemana Mencari Tuhan, Yogyakarta:Pustaka Dian. Nata Abuddin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Rajawali Pers.
Suryadilaga Alfatih, Mifatahus Sufi, Yogyakarta: TERAS.
IAIN Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf, Sumatera Utara, 1983/1984.
Muzani Saiful, Islam Rasional :Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr.Harun Nasution Bandung: Mizan, 1995.