• Tidak ada hasil yang ditemukan

Draft Osce Tm-fm

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Draft Osce Tm-fm"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Tropical Medicine

HT of Fever – Vaccine 1 (Cold Chain) – Vaccine 2 (Child Immunization) – Lumbar

Puncture – Leprosy (Skin Slit Examination & Nerve Examination) – Skin Scraping

for Scabies & Dermatomycosis – Prevention of Disabilities

(3)

HT of Fever

1. Sapa, perkenalan, tanya identitas pasien.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini, dengan bapak/ibu siapa? Apakah bapak/ibu sudah merasa nyaman di ruangan ini?

Sebelumnya saya ingin menanyakan identitas bapak/ibu terlebih dahulu, ya.  Usia  Pekerjaan  Alamat  Pendidikan terakhir  Status pernikahan  Agama

Baik pak/bu, saya akan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai gejala yang bapak/ibu alami untuk mengetahui diagnosis dari penyakit yang bapak/ibu alami. Kerahasiaan jawaban bapak/ibu terjamin. Bagaimana pak/bu, bersedia?

Ada yang bisa saya bantu pak/bu? Ada keluhan apa?

Saya demam, dok.

2. Empati: Tidak menulis sambil mendengarkan, jangan memberikan pertanyaan yang menyudutkan pasien (maksudnya closed question – yang hanya bisa dijawab “ya”/”tidak”).

3. Apabila pasien mengeluhkan beberapa gejala penyakit, tanyakan satu gejala dulu sampai tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, baru beralih ke gejala lain.

4. Onset demam.

Muncul demamnya bagaimana? Tiba-tiba panas atau berangsur? (Virus biasanya tiba-tiba, bakteri berangsur.)

5. Tipe demam.

Demamnya seperti apa? Terus-terusan atau hilang timbul?

Apakah bapak/ibu mengukur suhunya? [Jika ya] Berapa suhu tertingginya? Kapan? Suhu terendah? Kapan?

6. Timing demam (kapan, durasi, frekuensi).

Sudah berapa lama demamnya? Munculnya kapan? [Hitung berapa hari demamnya.]

[Jika demam hilang timbul] Biasanya munculnya pada pagi, siang, atau malam? Berapa lama?

[Jika demam hilang timbul] Berapa kali dalam seminggu demamnya? 7. Event khusus saat demam (minimal 2).

Adakah kejadian khusus ketika demam, seperti demamnya lebih tinggi ketika malam atau demam muncul setelah kejadian tertentu (contoh: olahraga)?

8. Gejala penyerta lainnya (minimal 3).

Apakah terdapat keluhan lain selain demam, seperti sakit kepala, menggigil, muncul bercak merah di kulit, batuk, pilek, keringat malam, nyeri sendi, pegal, mual-muntah, dll?

9. Informasi tambahan (minimal 3).

Travelling history

Apakah bapak/ibu baru-baru ini ada riwayat bepergian? [Jika ya] Ke mana?

(Curiga kalau pasien pergi ke daerah endemik malaria seperti Indonesia bagian timur [Maluku, NTT, Papua, dll], pulang dari ibadah haji, atau dari Hong Kong.)

Previous illness

Apakah bapak/ibu pernah atau sedang mengidap suatu penyakit lain?

 Continuous: Terus-terusan; suhu terendah dan suhu tertinggi perbedaannya kurang dari 1˚C. (Contoh: varicella.)

 Remittent: Suhu terendah dan suhu tertinggi perbedannya lebih dari 1˚C, namun suhu terendah tidak pernah mencapai suhu normal. (Contoh: typhoid.)

 Intermittent: Sama seperti remittent, hanya suhu terendahnya pernah mencapai normal (Contoh: malaria.)

 Relapsing: Demam yang diselingi dengan hari tanpa demam. (Contoh: malaria quartan/tertian.)  Saddleback: Pola suhu seperti pelana kuda. (Contoh: DBD.)

(4)

Apakah bapak/ibu pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya?

Occupational/residency history

Bagaimana lingkungan rumah/kantor bapak/ibu? Apakah bersih?

(Sesuaikan dengan pekerjaannya. Waspada kalau kerjanya di lingkungan yang berair untuk leptospirosis.) Apakah bapak/ibu memelihara binatang ternak/peliharaan di rumah? [Jika ya] Binatang apa?

Suka jajan di pinggir jalan tidak?

Apakah di rumah menggunakan alat yang menghindari nyamuk?

Medication history

Apakah sebelumnya bapak/ibu sudah pernah berobat untuk gejala ini?

Apakah bapak/ibu telah mengonsumsi obat-obatan untuk meredakan gejala ini sebelumnya? [Jika ya]

Obat apa? Bagaimana efeknya?

Apakah bapak/ibu pernah mengonsumsi obat yang membuat air seni bapak/ibu menjadi merah? (Obat TB.)

Apakah bapak/ibu pernah mengonsumsi obat kapsul hijau yang diminum setiap 6 jam sekali? (Obat chloramphenicol.)

Immunization history

Apakah bapak/ibu memiliki riwayat imunisasi? [Jika ya] Apa saja?

Family history

Apakah di keluarga ada yang memiliki gejala yang sama?

Sumber air di rumah dari mana? Jarak MCK-sumber air berapa? 10. Differential diagnosis sementara

Pak/bu, berdasarkan hasil wawancara saya barusan, saya memperkirakan bapak/ibu memiliki penyakit ____ atau ____. Diperlukan pemeriksaan selanjutnya untuk mengetahui hasilnya lebih pasti. Apakah ada yang ingin ditanyakan? Terima kasih pak/bu.

Dengue Influenza (+ Avian/Swine influenza)

Malaria Typhoid Leptospirosis TBC/penyakit kronis lain Mulai

demam

Tiba-tiba Tiba-tiba Tiba-tiba Bertahap Bertahap Bertahap/tidak jelas

Tipe demam

Kontinu Kontinu Intermiten

dan/atau relapsing

Remiten Remiten Remiten/intermi-ten Lama demam 3-5 hari (saddleback pattern)

< 5 hari > 5 hari > 7 hari > 7 hari Lama, > 5 hari / tidak jelas

Ciri lain  Ada riwayat lingkungan yang tidak memenuhi 3M (mengubur, menguras, menutup).  Muncul petechiae.  Suhu lebih tinggi saat malam. Chikungunya: (+) Nyeri sendi. Avian flu: Riwayat bepergian ke Hong Kong; riwayat kontak/memeli-hara unggas yang mati mendadak. Swine flu: Riwayat bepergian ke Singapura; riwayat kontak/beterna-k babi. MERS-CoV: Riwayat pulang ibadah haji.  Riwayat pergi ke daerah endemik malaria (Indonesia bag. timur).  Ada menggigil dan berkeringat saat demam turun.  Riwayat makan-minum tidak higienis.  Suhu lebih tinggi saat malam.  Riwayat kontak dengan tikus (banjir atau beli makanan/mi numan kemasan misalnya).  Suhu lebih tinggi saat malam. TBC: Batuk lama > 2 minggu; riwayat merokok. Keganasan: Ada penurunan berat badan dalam beberapa bulan terakhir.

(5)

Vaccine

(Cold Chain)

Cold Chain: Usaha mempertahankan vaksin agar tetap dalam suhu 2˚-8˚C. Ada 2 jenis vaksin: Hidup & mati.

Vaksin hidup: Polio, campak (measles), BCG, cacar air. Vaksin mati: Pentabio (DPT+HepB+Hib), hepatitis B, TT, DTP. Vaksin sensitif suhu. Suhu harus dijaga pada 2˚-8˚C.

Vaksin paling sensitif panas: Polio (OPV), MMR.

Vaksin paling sensitif dingin: HepB, pentabio, yellow fever. Vaksin mati TIDAK BOLEH BEKU!

1. Memasukkan vaksin ke kulkas:

a. Ice packs dibekukan dan disimpan di freezer (suhu < 0˚C).

b. Vaksin dan diluent disimpan di kompartemen kulkas (suhu 2˚-8˚C).

c. Vaksin jangan diletakkan berdempetan agar ada udara yang mengalir di antaranya.

d. Vial OPV, DTP, Td, TT, Hib cair, HepB, dan DTP-HepB yang sudah terbuka disimpan pada kotak bertuliskan “pakai duluan/use first” agar digunakan lebih dulu saat vaksinasi selanjutnya.

e. Cek VVM (vaccine vial monitor) pada label botol vaksin/tutup botol vaksin. VVM melambangkan paparan

terhadap panas. Lihat warna kotak di tengah lingkaran, jika warnanya sama/lebih gelap dibanding warna lingkarannya, maka vaksin tidak boleh dipakai lagi. Untuk kategori B, masukkan ke dalam kotak “use first”.

f. Vial yang dimasukkan ke dalam kulkas hanya yang bagus kondisinya.

g. Ice packs berisi air diletakkan di rak paling bawah kulkas dan di sisi pintu kulkas. h. Letakkan vaksin sesuai dengan jenis kulkas yang dipakai.

2. Memasukkan vaksin ke dalam kulkas pintu depan dengan freezer di atasnya: a. Rak paling atas: Campak, MR, MMR, BCG, OPV (yang paling kuat dingin).

b. Rak tengah: DTP, DT, Td, TT, HepB, DTP-HepB, Hib, DTP-HepB+Hib (pentabio), meningococcal, yellow fever, japanese encephalitis.

c. Diluent (pelarut) diletakkan di samping vaksin yang dilarutkan (contoh: Diluent BCG diletakkan di samping vaksin BCG).

Tidak boleh dipakai

Boleh dipakai

(6)

3. Memasukkan vaksin ke dalam cold boxes dan vaccine carriers:

a. Pada hari imunisasi, keluarkan semua ice-packs beku yang dibutuhkan dari freezer dan tutup kembali pintunya.

b. Diamkan ice-packs dalam suhu ruangan hingga es mencair (target suhu 2˚-8˚C).

c. Letakkan ice-packs di keempat sisi ice box/vaccine carrier dan di dasar ice box bila perlu. d. Letakkan vaksin dan diluent di dalam ice box/vaccine carrier.

(Untuk vaksin yang sensitif beku harus dibungkus koran dulu, jangan kontak langsung dengan ice-packs.) e. Masukkan juga indikator beku bersamaan dengan vaksin.

f. Pada vaccine carrier, letakkan foam pad pada atas ice-packs (jadi bikin kotak tertutup gitu). Pada ice box, letakkan ice-packs di atas vaksin (sama, bikin kotak tertutup).

g. Tutup cold box/vaccine carrier dengan rapat.

4. Monitor suhu pada kulkas.

a. Jika suhu kulkas terlalu rendah (di bawah +2˚C):

 Putar kenop termostat sehingga panah menunjukkan ke angka yang lebih rendah. Vaccine carrier, ice-packs, foam

pad.

Ice-packs pada keempat sisi vaccine carrier. Hal yang sama pada ice box.

Vaccine carrier dengan foam pad.

Monitor and Adjust the Temperature

(7)

 Cek apakah pintu freezer tertutup dengan benar. Segelnya bisa jadi rusak.

 Cekvaksinyangsensitifbeku (DTP; DT; Td; TT; HepB; DTP-HepB, Hib cair, dan DTP-HepB+Hib) untuk melihat apakah mereka telah rusak karena pembekuan menggunakan shaketest/uji kocok.

b. Jika suhu kulkas terlalu tinggi (di atas +8˚C):

 Pastikan kulkas bekerja; jika tidak bekerja, cek keberadaan kerosen, gas, atau suplailistrik.  Cek apakah pintukulkas/freezer tertutup dengan benar.

 Cek apakah terbentuk bunga es sehingga menghalangi udara dingin memasuki kompartemen kulkas.

 Putar kenop termostat sehingga panah menunjukkan ke angkayanglebihtinggi.

 Jika suhu tidak dapat dipertahankan di antara 2˚-8˚C, pindahkan vaksin ke tempat lain sampai kulkas diperbaiki.

5. Monitor suhu pada ice box dan vaccine carrier.

 Letakkan ice-packs secukupnya pada ice box/vaccine carrier.  Letakkan ice box/vaccine carrier di tempat yang teduh.  Pastikan tutup ice box/vaccine carrier tertutup rapat.

 Gunakan foam pad untuk meletakkan vial ketika sesi imunisasi.

(Vial baru diletakkan di foam pad ketika menjelang imunisasi, selama perjalanan gausah ditaruh di foam pad).

6. Shake test: Untuk menentukan apakah vaksin pernah beku sebelumnya. a. Siapkan vaksin kontrol yang sudah beku.

b. Pilih vaksin mana yang ingin dites.

c. Kocok vaksin kontrol dan tes bersamaan selama 10-15 detik (kocoknya bentuk angka 8 depan-belakang [horizontal]).

d. Diamkan selama 30 menit.

e. Bandingkan kedua vial; jika pengendapannya sama, kemungkinan vial tes tersebut telah rusak akibat

pembekuan dan tidak boleh digunakan.

Tambahan: Gak ada di modul, tapi penting: CEK TANGGAL KADALUARSA VAKSIN!

(8)

Vaccine

(Child Immunization)

1. Sapa, perkenalan.

Selamat pagi bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Dengan ibu siapa? Ada keluhan apa datang ke sini?

Anak saya ingin diimunisasi, dok.

2. Tanya identitas.

Baik ibu, saya lengkapi identitas anak ibu dulu ya.  Tanggal dan waktu kedatangan pasien

 Nama

 Alamat/no. telp  Usia/tanggal lahir

 Jenis kelamin

 Imunisasi yang sudah dilakukan (lihat KMS pasien)

3. Menilai keadaan pasien.

 Apakah ini waktunya pasien untuk mendapatkan imunisasi?  Berapa banyak dosis yang sudah diterima oleh pasien?  Apakah jarak waktu dari imunisasi terakhir sudah cukup?

(Jarak antar 2 imunisasi yang sama: 4 minggu; untuk 2 imunisasi berbeda: tidak ada batas.)  Bisakah pasien diberikan vaksin yang berbeda pada waktu bersamaan?

 Perlukah pasien diberikan dosis booster/tambahan?  Apakah pasien terkontraindikasi untuk imunisasi?

(9)

4. Memberitahu orang tua pasien. (+Informed consent)

Jadi bu, karena anak ibu berusia __ bulan, maka hari ini sesuai jadwal imunisasi yang dikeluarkan oleh departemen kesehatan, anak ibu akan diberikan imunisasi _____.

Untuk imunisasi ini, efek samping yang mungkin akan anak ibu rasakan adalah ______.  Pentabio: Demam.

 BCG: Jaringan parut (terbentuk sekitar 12 minggu setelah penyuntikan).

Baik ibu, jadi sekarang saya akan melakukan imunisasi pada anak ibu. Apakah ibu bersedia? 5. Cuci tangan.

6. Cek vaksin dan diluent.

 Keluarkan vaksin dan diluentnya dari dalam kulkas.

 Cek label pada vial vaksin dan diluent,

ada/tidak?

 Apakah vaksin dan diluent yang diambil yang

benar?

 Apakah vaksin dan diluentnya sudah

kadaluarsa?  Cek VVM.

7. Bersihkan kulit pasien menggunakan kapas+air hangat sebelum penyuntikan. Bersihkan sirkuler dalam ke luar. (Gaboleh pake alkohol!)

(10)

8. Mengambil vaksin dari vial.

 Susun syringe dan needle, pastikan terpasang dengan baik. - BCG: Syringe 1 ml.

- Pentabio, campak: Syringe 3 ml.

 Ambil udara sebanyak jumlah vaksin yang ingin diambil ke dalam syringe dengan menarik plunger-nya.  Tusukkan needle ke karet vial.

 Suntikkan udara tadi ke dalam vial. Balik vialnya.

 Tarik plunger; vaksin akan lebih mudah masuk ke dalam syringe karena sudah digantikan oleh udara tadi.  Buang gelembung udara dengan menekan plunger/disentil-sentil.

 Pastikan jumlah vaksinnya tepat pada skala di syringe.

 Sebelum disuntikkan ke pasien, needle yang digunakan menembus karet vial HARUS DIGANTI DULU. 9. Melarutkan vaksin (BCG dan campak).

 Patahkan ampul diluent.

(Untuk diluent BCG, harus digergaji terlebih dahulu; ketika sudah terasa bisa dipatahkan, bungkus ujung ampul dengan plastik lalu patahkan.)

 Ambil cairan diluent/pelarut, ambil sebanyak yang dibutuhkan dengan menggunakan syringe 5 ml. - BCG: 4 ml diluent.

- Campak: 5 ml diluent.  Tusukkan needle ke vial vaksin.

 Keluarkan isi cairan diluent dari syringe ke dalam vial vaksin.

 Untuk melarutkan dan mengaduk vaksin, tarik-dorong plunger (sedot-keluarkan cairan) beberapa kali.  Syringe dan needle yang digunakan untuk melarutkan vaksin disimpan di rak sterilisasi untuk digunakan

lagi nanti.

 Bungkus vaksin yang telah dilarutkan dalam foil untuk melindungi dari debu dan sinar matahari. Simpan di tempat yang teduh.

 Ampul diluent yang kosong dapat dibuang. 10. Memberikan imunisasi.

a. BCG

 Posisi bayi menyamping pada pangkuan ibu, lalu buka baju bagian lengan atas sampai ke bahu.  Ibu harus memegang bayi dekat dengan tubuhnya, menopang kepala bayi dan memegang lengan

bayi agar dekat dengan tubuh bayi.

 Pegang syringe dengan tangan kanan; bevel menghadap ke atas.

 Renggangkan kulit di bagian yang akan ditusuk dengan ibu jari dan telunjuk agar kulitnya rata.  Miringkan syringe dan needle sekitar 0-15˚ dari kulit bayi.

 Tusukkan ujung needle ke bawah ketebalan kulit. Jangan bengkok-bengkok, harus lurus agar tidak menembus kulit bawahnya.

 Fiksasi ujung syringe (jangan sentuh needle!), tekan plunger, masukkan vaksin sebanyak 0,05 ml. Tarik needle.

(Tanda obatnya masuk dengan benar nanti muncul benjolan di tempat suntikan.)

b. OPV

(11)

 Dagu dan pipi bayi harus kering.

 Buka mulut bayi secara halus: Ibu jari di dagu, turunkan rahang (untuk bayi yang usia lebih muda); atau memencet kedua pipi bayi sehingga mulut bayi terbuka.

 Teteskan 2 tetes vaksin ke lidah bayi. Jangan sampai dropper vaksin tersentuh oleh bayi.

c. DTP/DTP-HepB/HepB/Hib

 Posisi bayi menyamping pada pangkuan ibu dengan kaki terbuka seluruhnya.  Ibu harus memegang kaki bayinya.

 Renggangkan kulit di bagian yang akan ditusuk dengan ibu jari dan telunjuk agar kulitnya rata.

 Tusukkan needle pada sudut 90˚. Tusuk langsung ke dalam ototnya, jangan pelan-pelan karena menyakitkan untuk bayinya.

 Masukkan vaksinnya perlahan-lahan. Dosis: 0,5 ml. d. Campak, yellow fever, japanese encephalitis

 Posisi bayi menyamping pada pangkuan ibu dengan lengan terbuka seluruhnya.

 Ibu harus memegang lengan bayinya.

 Cubit kulit lengan di bagian yang akan ditusuk.

 Tusuk dengan cepat pada kulit yang tercubit tersebut dengan sudut 45˚ (mengarah ke bahu).

 Fiksasi ujung syringe, tekan plunger dan masukkan vaksinnya 0,5 ml.

11. Buang syringe dan needle bekas pakai ke safety box. Jika kotak sudah penuh, bakar. Sisa pembakarannya

dikubur. 12. Closing.

(12)

Ibu, anaknya sudah selesai saya imunisasi. Datang lagi untuk imunisasi ___ bulan lagi ya bu, pada

tanggal ________, jam ___. Tempat imunisasinya di ______.

Anak ibu harus diimunisasi ____ kali lagi, jadi ibu harus datang membawa anaknya ke sini ___ kali lagi. Efek samping yang mungkin muncul adalah _____. Tapi ibu jangan khawatir.

Jika muncul efek samping, bawa anak ibu ke sini lagi untuk penanganan lebih lanjut. Bagaimana ibu, sudah mengerti? Terima kasih, bu.

Vaksin &

(13)

Lumbar Puncture

1. Sapa, perkenalan, memastikan pasien, jelaskan prosedur+kegunaan+efek samping, informed consent.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Apakah benar dengan bapak/ibu Y?

Jadi bapak/ibu, sekarang saya ingin melakukan prosedur pungsi lumbal pada bapak/ibu. Prosedur ini adalah untuk mengambil cairan saraf/serebrospinal bapak/ibu dengan cara memasukkan jarum ke sekitar pinggang bapak/ibu. Cairan ini akan digunakan untuk metode diagnosis penyakit yang berhubungan dengan sistem saraf pusat seperti meningitis. Metode ini juga dapat digunakan sebagai terapi, misalnya untuk memasukkan obat antibiotik dan kemoterapi.

Prosedur ini akan menyebabkan beberapa risiko, seperti sakit kepala setelah prosedur, darah beku pada lokasi pungsi, bocor cairan saraf/serebrospinal, infeksi pada lokasi pungsi, nyeri punggung, dan herniasi serebri.

Seluruh risiko prosedur tersebut dapat dicegah. Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk mencegah bahaya tersebut. Untuk mengurangi rasa sakit, sebelum pungsi saya akan membius bapak/ibu terlebih dahulu. Bagaimana pak/bu, sudah mengerti? Bersedia?

2. Cek dan persiapkan alat.

Steril  Gloves  Kassa  Duk bolong  Alcohol swab  Pinset  Tube (3 buah) Non-steril

 Syringe 3 cc (dalamnya steril)

 Spinal needle ukuran 18/19 (dalamnya steril)

 Lidocaine 2%

 Povidone iodine  Tuang  Alcohol 70%  Tuang

 Com (mangkuk untuk menampung povidone iodine dan alcohol)

 Plester

3. Minta pasien untuk berbaring menyamping ke kiri (left lateral

decubitus). Posisi pasien harus di ujung kasur. Posisi pasien

harus seperti posisi janin dengan leher, pinggul, dan lutut fleksi. Lutut ditekuk sampai ke perut. Tangan pasien memeluk lutut.

4. Tentukan lokasi pungsi. Tarik garis imajiner vertikal dari

SIAS, lalu buat garis perpotongan dengan tulang belakang.

Titik pertemuan kedua garis adalah titik pungsi. (Bisa di L2-L3, L3-L4, atau L4-L5).

(14)

6. Ambil lidocaine 2 ml. Pegang lidocaine dengan tangan non-dominan, ambil dengan syringe di tangan dominan.

7. Pakai gloves di tangan non-dominan.

8. Usap lokasi pungsi dengan menggunakan alcohol swab. Usap sirkuler, dalam ke luar. Setelah itu usap lagi

dengan kassa+povidone iodine. Usap lagi dengan kassa kering. 9. Tutupi lokasi pungsi dengan duk bolong.

10. Bius lokasi pungsi menggunakan 2 ml 2% lidocaine HCl. Suntik lokasi pungsi 1 ml sampai needlenya tidak

kelihatan lagi. Cabut sedikit, lalu suntik sisa 1 ml-nya subkutan di sekeliling lokasi pungsi (4 arah biasanya). Jangan lupa diaspirasi. Tunggu beberapa saat, lalu cek baal dengan menggunakan pinset.

11. Ambil spinal needle steril, lalu pastikan styletnya dengan needlenya terkunci. Bevel menghadap ke atas.

Tusukkan sampai ke subarachnoid space. Tanda sudah masuk ke subarachnoid space: Ada “pop feeling”.

Pegangi tubuh pasien agar tidak bergerak (pegang bagian pinggangnya saja).

(Jadi, waktu awal nusuk ada tahanan sedikit, dorong terus, lalu nanti ada bunyi “pop” yang kencang+perasaan kosong. Penguji bisa dengar bunyinya, jadi jangan bohong.)

12. Putar needle ke arah jam 9 (counterclockwise – arah cranial). Lalu tarik sedikit stylet, pastikan ada CSF yang keluar. Jika ada, pastikan pancaran CSF-nya. Jika pancarannya kuat, jangan cabut seluruh stylet; jika

normal (menetes), cabut seluruh stylet.

(Sebenarnya kalau di OSCE sih, cabut langsung aja styletnya. Yang di atas itu di keadaan nyatanya.)

13. Jika CSF tidak keluar, masukkan lagi styletnya, putar lagi needlenya ke jam 12, lalu tusuk lagi needlenya lebih

dalam. Ulang terus sampai CSF keluar. 14. Kumpulkan CSF ke dalam tube:

Tube 1: 10-15 tetes untuk cell count dan differentiation.  Tube 2: Sampai 5 ml untuk cek bakteri.

Tube 3: Sampai 2 ml untuk cek profil kimiawi (protein, glukosa, dll).

15. Pasang lagi styletnya, putar ke arah jam 12, cabut pelan needlenya. Tangan non-dominan sudah siap

dengan kassa ber-povidone iodine. Saat needle sudah tercabut, langsung tekan dan tutupi dengan kassa tadi.

16. Minta pasien untuk berbaring terlentang selama 6 jam untuk mencegah sakit kepala dan nyeri punggung setelah prosedur pungsi.

Pastikan nyatu bentuknya (terkunci), kalau gak susah nusuknya.

Nanti lihat CSF

keluar/tidak di sini Bevel Atas=lateral pasien. Atasnya sesuai posisi harus menghadap atas. kita, gak berdasarkan posisi pasien.

(15)

Leprosy

(Skin Slit Smear & Nerve

Examination)

1. Sapa, perkenalan, informed consent.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Apakah benar dengan bapak/ibu Y?

Silakan duduk pak/bu. Apakah sudah nyaman?

Jadi pak/bu, sekarang saya akan melakukan pengambilan sampel jaringan kulit bapak/ibu untuk mengkonfirmasi diagnosis dari penyakit yang bapak/ibu alami. Saya akan mengambil jaringan kulit di 3 tempat, yaitu di telinga kanan dan kiri bapak/ibu dan di lokasi luka. Mungkin akan terasa sedikit sakit, namun saya akan berusaha sebaik-baiknya agar bapak/ibu tetap merasa nyaman. Bagaimana pak/bu, apakah sudah mengerti? Bersedia?

Silakan pak/bu, tolong tanda tangani lembar persetujuan tindakan terlebih dahulu. 2. Cek alat.  Slide objek  Kapas  Alkohol 70%  Tuang  Pensil kaca  Korek api  Pembakar bunsen

 Gagang scalpel ukuran 3

 Scalpel blade ukuran 15  Plester  Gloves  Com  Form permintaan pemeriksaan laboratorium

3. Pilih lokasi pengambilan sampel:  Earlobe kanan

 Earlobe kiri

 Lesi  Biasanya meninggi dan kemerahan.

Kalau tidak ada lesi, ambil dari lutut bagian atas, dari punggung tangan, atau lokasi yang pernah positif tes bakteri tahan asam (AFB).

4. Bersihkan slide dengan kapas+alkohol 70% di kedua sisi, lalu jangan sentuh slide menggunakan jari-jari

kita.

5. Tandai slide dengan menggunakan pensil kaca. Beri tandanya 3 buah bulatan, diberi tanda A, B, C atau 1, 2,

3, atau Kanan, Kiri, Lesi (bebas), serta nama dan umur pasien. Setelah diberi tanda, balik slidenya. (Jika tidak ada pensil kaca, bisa ditandai dengan scalpel blade.)

6. Nyalakan pembakar bunsen.

(16)

7. Bersihkan scalpel blade menggunakan kapas+alkohol 70%. Lalu lewatkan blade ke api, namun jangan sampai merah. Dinginkan dan jangan sampai tersentuh apapun (taruh melintang di atas com saja).

8. Cuci tangan, keringkan, pakai gloves.

9. Bersihkan lokasi pengambilan sampel dengan menggunakan kapas+alkohol 70%, lalu biarkan kering.

10. Cubit kulit yang akan diambil sampelnya dengan ibu jari dan telunjuk sampai anemis. Tunggu sebentar

sebelum melakukan insisi.

11. Tetap cubit kulit. Buat insisi sepanjang 5 mm dan sedalam 2 mm (kira-kira sampai dermis). (Cara pegang scalpel: Seperti memegang pensil, sudutnya kira-kira 45˚.)

12. Setelah membuat insisi, putar scalpel 90˚ (clockwise), lalu kikis/scrape jaringan kulitnya dari ujung insisi sampai ke tempat awal insisi. Tetap cubit kulit.

(Waktu menginsisi, posisi blade horizontal. Pada saat scrape, posisi blade vertikal.)

13. Pada pengambilan sampel di lesi, ambil sampel dari

pinggir lesi pada lesi yang well-defined; dari tengah lesi

pada lesi yang ill-defined dan pada lesi yang meninggi. 14. Smear rata jaringan kulit dengan scalpel blade pada

bulatan yang telah disediakan di slide. Smearnya secara

sirkuler, diameternya 5-7 mm. Warna jaringannya bening sampai pink (tidak boleh ada darah). Tetap cubit

kulit.

15. Lepas cubitan kulit. Jika bekas insisi berdarah, dep

dengan menggunakan kapas lalu tempel dengan plester.

16. Ulangi prosedur dari no. 7 sampai 15 untuk lokasi pengambilan sampel selanjutnya. 17. Keringkan sampel pada slide selama 5 menit.

18. Fiksasi slide dengan melewatkan slide di atas api sebanyak 3 kali. Bisa dipegang menggunakan tangan

atau dengan bantuan forceps.

19. Isi form permintaan pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi Mycobacterium leprae, menghitung bacterial index (BI), dan morphological index (MI).

20. Buka gloves, cuci tangan. 21. Penutup.

Baik pak/bu, pengambilan sampelnya sudah selesai. Silakan menunggu di luar terlebih dahulu, nanti hasilnya akan diberitahukan. Terima kasih bapak/ibu.

1. Sapa, perkenalan, informed consent.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Apakah benar dengan bapak/ibu Y?

Silakan duduk pak/bu. Apakah sudah nyaman?

Jadi pak/bu, sekarang saya akan melakukan pemeriksaan pada saraf bapak/ibu, fungsinya adalah untuk mengetahui diagnosis dari penyakit bapak/ibu. Mungkin akan terasa sedikit kurang nyaman, namun saya akan melakukan sebaik-baiknya agar bapak/ibu tetap merasa nyaman. Bagaimana pak/bu, sudah mengerti? Bersedia?

2. Cuci tangan.

3. Minta pasien untuk duduk berhadapan dengan pemeriksa. 4. Periksa saraf:

a. Great auricular nerve

 Minta pasien untuk menoleh ke kiri.  Tentukan lokasi otot SCM.

 Great auricular nerve memotong 1/3 bagian atas SCM dari arah bahu sampai ke dagu. Palpasi bagian itu, disusuri.

 Lakukan pada nerve sebelah kiri; minta pasien menoleh ke kanan.

(17)

b. Ulnar nerve

 Minta pasien untuk menekuk tangan kanannya.

 Rasakan groove/cekungan di antara siku (olecranon) dan medial epicondyle. Di situ letak ulnar nerve.  Palpasi sampai ke lengan atas/arm.

 Lakukan pada tangan kiri pasien.

c. Peroneal/popliteal nerve

 Minta pasien untuk duduk dengan kaki menggantung di meja/kursi. Posisi lutut tertekuk, harus rileks.  Letakkan tangan kiri kita di lutut kanan pasien; ibu jari di atas tulang patella, kelingking di kepala

tulang fibula, dan jari-jari lainnya menuju popliteal. Boleh pakai 2 tangan.

 Rasakan tendon biceps femoris, lalu raba bagian medial tendon tersebut. Letak peroneal nerve agak dalam jadi agak tekan.

 Lakukan pada kaki kiri pasien.

d. Sebutkan: Pemeriksaan pada nerve medialis, radialis, dan posterior tibial.

Pembesaran great auricular nerve pada pasien leprosy.

(18)

5. Rasakan saraf dengan 2-3 jari, geser-geser sarafnya di permukaan tulang.

6. Bandingkan sisi kiri dan kanan. Tentukan: Konsistensi (keras/lembek), nyeri tekan, pembesaran. 7. Pemeriksaan sensibilitas kulit:

a. Siapkan kapas yang sudah dilancipkan ujungnya. Sentuh kulit dengan ujung lancip tadi. Sentuh perlahan. b. Minta pasien untuk menunjukkan lokasi mana yang kita sentuhkan. Jangan tanya terasa/tidak!

c. Perkenalkan dulu rangsang yang akan dilakukan dengan mata pasien terbuka. d. Minta pasien untuk menutup mata.

e. Sentuhkan kapas pada bagian kulit yang normal namun dekat dengan lesi lalu lakukan pada lesi.

f. Buat kesimpulan hasil tes. Jika pasien tidak dapat menunjukkan dengan tepat di mana lokasi sentuhan maka terdapat penurunan sensibilitas kulit.

Head of fibula

Biceps femoris tendon

(19)

Skin Scraping for Scabies

and Dermatomycosis

1. Sapa, perkenalan, informed consent.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Apakah benar dengan bapak/ibu Y?

Baik pak/bu, sekarang saya akan melakukan pengambilan sampel dari kelainan kulit bapak/ibu. Tujuannya adalah untuk menentukan penyebab dari kelainan kulit bapak/ibu sehingga saya dapat menanganinya dengan tepat. Caranya nanti dikeruk menggunakan pisau bedah tumpul. Mungkin akan terasa sedikit tidak nyaman, namun saya akan berhati-hati agar bapak/ibu tetap merasa nyaman. Bagaimana pak/bu, sudah mengerti? Bersedia?

Silakan pak/bu, tolong tanda tangani lembar persetujuan tindakan ini. 2. Cek alat.

 Glass slide  Kapas  Alkohol 70%

 Pembakar bunsen  LANGSUNG DINYALAKAN DI AWAL!!!

 Korek api

 Scalpel blade no. 21 & handle  Minyak imersi

 Cover glass  Gloves  Kidney basin  Pensil kaca 3. Persiapkan glass slide:

 Bersihkan glass slide menggunakan kapas+alkohol 70% di kedua sisi.

 Beri labelnama dan usia pasien pada glass slide. TIDAK PERLU DIBERI BULATAN UNTUK SMEAR.  Simpan pada tatakan (kayu coklat, seperti di gambar).

4. Persiapkan scalpel blade:

 Bersihkan scalpel blade menggunakan kapas+alkohol 70% di kedua sisi.

 Lewatkan scalpel blade pada api beberapa kali, tapi jangan sampai membuat scalpel blade menjadi merah/terbakar.

 Dinginkan scalpel di tempat yang memungkinkan untuk tidak terjadi kontak dengan scalpel blade.

(Diletakkan di ujung tatakan coklat, tapi bladenya tidak mengenai tatakan.) 5. Cuci tangan, keringkan, pakai gloves.

6. Tentukan lokasi lesi yang ingin diambil sampelnya. Lesinya berupa papula yang isinya padat atau vesikel yang berisi cairan di lokasi rentan scabies, seperti sela-sela jari, pergelangan tangan, lipat siku, ketiak, areola, umbilical, kaki. (Biasanya di sela jari.)

(Jelaskan jenis lesi apa yang dicari, jangan cuma asal tunjuk.)

7. Bersihkan papula/vesikel yang ingin diambil sampelnya dengan kapas+alkohol 70%. Caranya bisa

melingkar dari luar ke dalam atau usap satu arah, tapi jangan sampai membuat papula/vesikelnya pecah.

(20)

8. Papula/vesikel yang sudah dibersihkan diteteskan dengan minyak imersi. Agar tidak tumpah,

tadah/tampung dengan glass slide di bawah papula/vesikelnya (berarti di bawah sela jari).

9. Keruk/scrape papula/vesikelnya menggunakan scalpel no. 21. Sambil mengeruk, glass slide tetap diletakkan di bawah sela jari (tetap ditampung).

Cara mengeruk: Pegang scalpel seperti memegang pensil, lalu miringkan scalpelnya (miringkan ke

depan/belakang; bukan sudut tangan kita yang berubah tapi sudut scalpelnya). Tujuannya agar tidak melukai pasien. Keruk dengan ujung bladenya yang tumpul.

10. Smear pada glass slide menggunakan scalpel blade.

11. Tangan yang memegang scalpel langsung diarahkan ke pembakar bunsen, dilewatkan beberapa kali untuk sterilisasi karena scabies dapat menular. Letakkan di kidney basin setelah selesai.

12. Tutup slide dengan cover glass.

13. Fiksasi dengan melewatkan glass slide pada api beberapa kali.

14. Isi form permintaan pemeriksaan laboratorium untuk mencari keberadaan telur, larva, nimfa, kutu dewasa, fragmen dari cangkang telur kutu dan/atau scybala (kotoran) dari Sarcoptes scabiei.  Harus

disebutkan akan mencari apa. 15. Buka gloves, cuci tangan. 16. Penutup.

Baik pak/bu, pengambilan sampelnya sudah selesai. Silakan menunggu di luar terlebih dahulu, nanti hasilnya akan diberitahukan. Terima kasih bapak/ibu.

1. Sapa, perkenalan, informed consent.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Apakah benar dengan bapak/ibu Y?

Baik pak/bu, sekarang saya akan melakukan pengambilan sampel dari kelainan kulit bapak/ibu. Tujuannya adalah untuk menentukan penyebab dari kelainan kulit bapak/ibu sehingga saya dapat menanganinya dengan tepat. Caranya nanti dikeruk menggunakan pisau bedah tumpul dan mengambil dengan menempelkan selotip pada kelainan kulit bapak/ibu. Mungkin akan terasa sedikit tidak nyaman, namun saya akan berhati-hati agar bapak/ibu tetap merasa nyaman. Bagaimana pak/bu, sudah mengerti? Bersedia?

Silakan pak/bu, tolong tanda tangani lembar persetujuan tindakan ini. 2. Cek alat.

 Glass slide (2)  Kapas

 Alkohol 70%

 Pembakar bunsen  LANGSUNG DINYALAKAN DI AWAL!!!

 Korek api

 Scalpel blade no. 21 atau 15 & handle  Nomor bladenya ada di bagian bawah blade, bisa dilihat.  Selotip & dispensernya

 Cover glass (1)  Gloves

 Kidney basin  Pensil kaca

3. Persiapkan glass slide (siapkan 2 glass slide):

 Bersihkan glass slide menggunakan kapas+alkohol 70% di kedua sisi.

 Beri label nama dan usia pasien pada glass slide. TIDAK PERLU DIBERI BULATAN UNTUK SMEAR.  Simpan pada tatakan (kayu coklat, seperti di gambar).

4. Persiapkan scalpel blade:

(21)

 Bersihkan scalpel blade menggunakan kapas+alkohol 70% di kedua sisi.

 Lewatkan scalpel blade pada api beberapa kali, tapi jangan sampai membuat scalpel blade menjadi merah/terbakar.

 Dinginkan scalpel di tempat yang memungkinkan untuk tidak terjadi kontak dengan scalpel blade. (Diletakkan di ujung tatakan coklat, tapi bladenya tidak mengenai tatakan.)

5. Cuci tangan, keringkan, pakai gloves.

6. Tentukan lokasi lesi yang ingin diambil sampelnya. Lesinya diutamakan yang memiliki border/pinggiran

yang aktif, cirinya adalah papula kemerahan atau plak dengan sisik/scale (bagian tengahnya terlihat lebih

sehat – central healing).

7. Bersihkan lesi dengan kapas+alkohol 70% melingkar dari luar ke dalam untuk membersihkan lesi dari

kontaminan seperti debu, crusts, atau mikroorganisme dari udara.

(Karena akan mengambil sampel dengan 2 metode, bebas mau ambil di lesi yang sama/beda. Kalau ambil di lesi yang sama tidak perlu dibersihkan ulang.)

8. Metode 1: Skin Scraping

 Letakkan glass slide di bawah lesi untuk menampung hasil kerukan.

 Keruk/scrape scale dengan hati-hati dari bagian tengah lesi menuju pinggir lesi menggunakan scalpel blade tumpul no. 21/15 atau kuret yang tajam. Pastikan scale tertampung di glass slide.

 Untuk mempermudah, scale yang tersebar di pinggir dapat diarahkan ke tengah slide menggunakan scalpel.

 Tutup dengan cover glass.

 Fiksasi dengan melewatkan glass slide beberapa kali di atas api.

 Isi form permintaan pemeriksaan laboratorium dengan pewarnaan KOH untuk melihat adanya hifa/pseudohifa/spora jamur untuk mengkonfirmasi diagnosis mikosis.

9. Metode 2: Adhesive Tape

 Ambil selotip dari dispensernya kira-kira sepanjang glass slide.

(Potong selotipnya bebas mau di gerigi dispensernya atau mau dipotong menggunakan scalpel; baiknya sih pakai scalpel agar tidak terlalu banyak tertempel jari.)

 Tempelkan selotip pada lesi hingga menutupi bagian tengah hingga pinggir lesi. Tekan lembut selotip untuk merekatkan dengan kulit menggunakan handle dari scalpel. Cabut selotipnya.

 Tempelkan selotip pada glass slide.

 Fiksasi dengan melewatkan glass slide beberapa kali di atas api.

 Isi form permintaan pemeriksaan laboratorium dengan pewarnaan KOH untuk melihat adanya hifa/pseudohifa/spora jamur untuk mengkonfirmasi diagnosis mikosis.

10. Buka gloves, cuci tangan. 11. Penutup.

Baik pak/bu, pengambilan sampelnya sudah selesai. Silakan menunggu di luar terlebih dahulu, nanti hasilnya akan diberitahukan. Terima kasih bapak/ibu.

Tempat melihat nomor blade

(22)

Prevention of Disabilities

1. Kita sudah cuci tangan lalu menggunakan gloves dan masker sebelum menerima pasien. 2. Sapa, perkenalan, informed consent.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Apakah benar dengan bapak/ibu Y?

Baik pak/bu, menurut rekam medis bapak/ibu mengidap penyakit kusta. Karena lama-kelamaan sensitivitas tangan bapak/ibu akan berkurang, maka harus dicegah. Oleh karena itu saya nanti akan memberikan edukasi tentang perawatan tangan dan latihan untuk tangan bapak/ibu. Namun sebelumnya saya ingin memeriksa keadaan tangan bapak/ibu terlebih dahulu, hal ini dapat mempengaruhi jenis pencegahan yang saya akan berikan. Bagaimana pak/bu, sudah mengerti? Bersedia?

3. Minta pasien untuk meletakkan kedua tangannya di atas handuk untuk mencegah abrasi kulit.

4. Periksa keadaan kulit tangan pasien, apakah ada blister, scar, ulcer, wound, crack, atau

callousities. Posisi tangan pasien: telungkup (pronasi), supinasi, dan posisi ingin tepuk

tangan/neutral position [lihat gambar] lalu membuka seluruh jari untuk melihat sela-sela jari. 5. Tes sensibilitas pada distribusi saraf tangan di 5 area (pada gambar: biru muda, merah, ungu).

Prinsip:

 Periksa pada tangan pasien dalam kondisi pronasi dan supinasi.

 Jelaskan terlebih dahulu benda yang akan disentuhkan pada pasien, lalu coba lakukan pada tangan pasien untuk memperkenalkan rangsang yang muncul (coba pada kulit yang normal).

Pak/bu, sekarang saya akan menyentuhkan tusuk gigi pada kulit tangan bapak/ibu. Ini adalah bagian yang tajam, apakah terasa? Ini bagian yang tumpul, apakah terasa? Nanti bapak/ibu jawab dengan tajam/tumpul ya.

 Selesaikan pemeriksaan di satu tangan terlebih dahulu baru pindah ke tangan yang lain.

 Jika ada rangsang yang tidak normal, coba bandingkan dengan kulit yang normal, boleh di tangan yang sama namun beda area persarafan, atau boleh di tangan yang berbeda.

 Pada kulit yang normal sebenarnya tidak perlu dibandingkan dengan kulit tangan lainnya pada area persarafan yang sama. Kalau mau bandingkan juga tidak apa-apa. Bisa juga dilakukan pembandingan dengan memberikan rangsang pada wajah pasien.

 Jika ada perbedaan rangsang, tanya pasien yang lebih terasa yang mana.

 Untuk hasil lebih maksimal, minta pasien untuk menutup matanya selama pemeriksaan.

a. Nyeri: Menggunakan tusuk gigi. Patahkan tusuk gigi menjadi 2 bagian; bagian tajam untuk rangsang tajam dan bagian patahan tusuk gigi untuk rangsang tumpul. Tusuk lembut pada tangan pasien. Terasa

(23)

b. Panas: Menggunakan tabung reaksi berisi air panas dan dingin. Sebelumnya cek suhu tabung reaksi terlebih dahulu pada tangan kita sendiri, baru kenalkan pada pasien. Sentuhkan ke tangan pasien. Terasa

panas/dingin?

c. Sentuhan: Menggunakan kapas yang ujungnya dilancipkan. Sentuhkan ke tangan pasien. Terasa sentuhan/tidak?

d. Tekanan: Menggunakan cotton bud. Tekan lembut pada tangan pasien. Terasatekanan/tidak?

6. Cek kekakuan sendi dengan meminta pasien menegakkan tangannya seperti posisi orang ingin tepuk tangan,

lalu minta pasien untuk meluruskan jari-jarinya tanpa tenaga.

7. Jika pasien tidak dapat meluruskan jari-jarinya, cek sendi jari yang bermasalah dengan kita mencoba

meluruskannya tanpa tenaga. Lihat apakah jari menjadi lurus atau tidak.

8. Tentukan status risiko pasien terhadap disabilitas.

9. Edukasi.

Bapak/ibu harus mengecek tangan bapak/ibu setiap hari. Cek apakah ada luka-luka atau kelainan lain

pada tangan yang muncul. Cek pada bagian punggung tangan, telapak tangan, dan sela-sela jari.

Bapak/ibu juga harus mencuci tangan dengan air hangat/suam-suam kuku setiap hari. Sebelum mencuci tangan, tes suhu air dengan mencelupkan siku bapak/ibu ke dalam air. Hal ini berguna untuk mencegah luka bakar yang disebabkan oleh menurunnya sensitivitas tangan bapak/ibu terhadap panas.

Cuci tangan bapak/ibu selama 15-20 menit menggunakan sabun yang tidak keras seperti sabun bayi. Sabun yang keras/antiseptik akan membuat kulit tangan bapak/ibu iritasi.

Keringkan tangan bapak/ibu setelah mencuci tangan dengan handuk, terutama pada bagian sela-sela jari, karena pada kulit yang lembab rentan terkena infeksi.

Setelah mencuci tangan, oleskan pelembab seperti lotion, petroleum jelly (vaseline), lanolin, atau minyak bayi. Tujuannya adalah untuk menjaga kulit tangan bapak/ibu tetap lembab. Sambil mengoles dapat dipijat kulitnya.

Jika bapak/ibu menemukan kapalan pada tangan ibu, gosokkan secara halus ke satu arah menggunakan batu apung. Batu apung adalah batu yang banyak pori-porinya, biasanya ditemukan di sungai atau beli di toko alat kecantikan.

Hindari tekanan dan gesekan berlebih pada tangan bapak/ibu dengan

meletakkan handuk pada pegangan koper, gagang pintu, dll.

Jika bapak/ibu merasa ada masalah pada tangan bapak/ibu, segera laporkan ke dokter.

Mintalah tangan bapak/ibu untuk diperiksa setiap bapak/ibu berobat ke dokter.

Jika ada penebalan kulit/kapalan, jangan obati sendiri dengan obat warung. Gunakan obat yang hanya diresepkan oleh dokter.

10. Memposisikan tangan:

Untuk tangan yang bengkak: Istirahatkan tangan dalam kain gendongan/sling. Pertahankan tangan pada posisi di atas tinggi jantung. Ikat pada setinggi tulang C7 vertebra (jangan terlalu atas).

Pasien dengan risiko ini yang bakal datang ke kita, sesuai kompetensi.

(24)

Untuk partial claw hand: Gunakan finger splint.

Untuk complete claw hand dan drop wrist: Gunakan hand splint. 11. Range of motion exercise: Bisa aktif/pasif.

Bahu: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi interna, rotasi externa, sirkumduksi.

Siku: Fleksi, ekstensi, pronasi, supinasi.

(25)

Semua jari: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi. – (+) Latih sendi interphalangeal proksimal dan distal.

Ibu jari: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, oposisi.

(26)

Family Medicine

Counseling Skills – PE Thorax Abdomen – Detection of Mental Health Problems

– Eye Examination – Breast Care – Bed Turning and Bed Positioning – Breaking

(27)

Counselling skills

1. Sapa, perkenalan, jelaskan tujuan konseling.

Selamat pagi, bapak/ibu. Perkenalkan, saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Dengan bapak/ibu siapa?

Baik bapak/ibu, sekarang saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan yang dapat membantu untuk mengetahui masalah bapak/ibu. Tolong jawab sejujur-jujurnya. Kerahasiaan dari wawancara ini terjamin. Bagaimana pak/bu, bersedia?

BATHE

2. Background.

Dapatkah bapak/ibu menceritakan kembali apa yang bapak/ibu keluhkan? 3. Affect.

Apa yang bapak/ibu cemaskan? 4. Troubling.

Dapat digambarkan mengganggunya seperti apa? 5. Handling.

Apa yang telah bapak/ibu lakukan sejauh ini untuk mengatasi masalah tersebut? 6. Empathy.

7. Menjelaskan ke pasien mengenai masalahnya.

Jadi pak/bu, menurut hasil wawancara tadi, saya menyimpulkan sementara bahwa bapak/ibu mengalami

penyakit … . Penyakit ini adalah … . Penyakit ini dapat disebabkan oleh … dan stres atau gaya hidup yang tidak baik.

8. Menjelaskan manajemen (farmako dan non-farmako).

Untuk penyembuhannya, saya akan berikan obat pada bapak/ibu. Selain itu, bapak/ibu juga sebaiknya berusaha untuk mengurangi beban pikiran bapak/ibu, coba lebih santai. Atau coba rubah pola hidup. Bagaimana pak/bu, dari saran-saran yang saya tawarkan tersebut, bapak/ibu ingin mencoba yang mana? (KUNCINYA DI SINI! Biarkan pasien yang menentukan, kita gak boleh ngarahin.)

Baik pak/ibu, saya hargai keputusan bapak/ibu. Saya senang bapak/ibu bersedia untuk mengikuti saran tersebut. Namun, jangan lupa bahwa proses penyembuhan itu tidak sebentar, semua kembali lagi ke diri bapak/ibu sendiri. Jika bapak/ibu sabar dan mengikuti saran yang tadi sudah disepakati, mudah-mudahan hasilnya baik.

9. Bikin janji bertemu lagi, penutup.

Jika bapak/ibu masih mengalami keluhan setelah ini, bisa datang menemui saya … minggu lagi. Terima kasih bapak/ibu, semoga cepat sembuh.

(28)

PE Thorax abdomen

1. Sapa, perkenalan, jelaskan tujuan.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Sekarang saya akan melakukan pemeriksaan pada dada dan perut bapak/ibu untuk mengetahui penyakit yang diderita bapak/ibu. Nanti tolong dibuka bajunya. Mungkin akan terasa sedikit tidak nyaman, namun saya akan berusaha sebaik-baiknya agar bapak/ibu tetap nyaman. Bagaimana pak/bu, bersedia?

Silakan pak/bu, berbaring di atas meja pemeriksaan. Rileks saja ya pak/bu. 2. Cuci tangan.

Note: Biar efektif, selesaikan pemeriksaan yang bagian anterior dulu. BANDINGKAN!

Prinsip: I-Pa-Pe-A

INSPEKSI

Posisi pemeriksa berada di tengah menghadap wajah pasien (di ujung meja pemeriksaan). Minta pasien napas, inspeksi bentuk dada dan bentuk pergerakan dada pasien.

Perhatikan apakah terdapat: a. Deformitas/asimetri

b. Retraksi abnormal pada interspace saat inspirasi.

c. Gangguan gerakan respirasi pada satu atau kedua sisi.

PALPASI Fokuskan palpasi pada bagian yang nyeri.

Palpasi kelainan kulit jika ada. Tes ekspansi pernapasan.

Letakkan ibu jari disekitar tulang rusuk 10, tangan pemeriksa mengenggam tulang rusuk sebelah lateral kanan dan kiri.

Gerakan tangan sedikit ke medial untuk menaikkan lipatan kulit diantara ibu jari.

Minta pasien untuk menarik nafas yang dalam.

Lihat perbedaan kedua ibu jari saat inspirasi dan rasakan sejauh mana

dada mengembang dan apakah gerakan pernafasan simetris atau

tidak.

Tactile fremitus.

Gunakan ball (pangkal jari-jari di telapak tangan) atau permukaan ulnar tangan [boleh pilih yang paling sensitif, beda-beda tiap orang], dan letakkan di kedua sisi dada secara simetris.

Minta pasien untuk mengatakan “tujuh tujuh”. Ulangi pemeriksaan di area lain secara simetris.

PMI/apex jantung.

Gunakan ujung jari yang rapat untuk merasakan PMI di ICS 4/5. Apabila tidak teraba juga, miringkan pasien ke kiri. Jika masih tidak teraba, minta pasien tarik napas, buang napas, lalu tahan.

(29)

PERKUSI

Hiperekstensi jari tengah tangan kiri.

Tekan bagian interphalangeal bagian distal secara lembut pada permukaan untuk melakukan perkusi. Hindari kontak dengan bagian tangan lain.

Dekatkan lengan kanan ke jari kiri tadi. Jari tengah tangan kanan harus sedikit fleksi, rileks, dan siap mengetuk. Ketuk pleximeter finger dengan jari tengah tangan kanan (plexor) dengan cepat, kuat, namun dengan gerakan pergelangan tangan yang rileks.

Tujukan ketukan pada sendi interphalangeal bagian distal.

Thorax:

Jantung:

Cari batas jantung kiri: Perkusi di lateral dari PMI (jadi kalau misalnya PMInya di mid clavicular, ambil lebih pinggir lagi) yang tadi sudah ditentukan ke arah sternum. Biasanya suara dull akan terdengar di mid clavicular line.

Cari batas jantung kanan: Perkusi di mid clavicular line dada kanan, turun ke bawah. Normalnya terdengar sonor sampai di bawah baru terdengar dull. Itu disebut lung-liver border. Dari situ, naik 1 ICS, lalu mulai perkusi ke arah medial/sternum, nanti akan ketemu suara dull lagi. Itulah batas kanan jantung. Biasanya di right sternal border.

Cari batas jantung atas: Dari mid clavicular line kiri, perkusi ke bawah dari ICS 1. Biasanya di ICS 2 sudah terdengar dull, itulah batas jantung atas.

AUSKULTASI

Thorax: Auskultasi bagian sesuai gambar di atas (sama kayak perkusi). Tes vocal fremitus dulu (tujuh puluh tujuh) baru denger napas biasa. BANDINGKAN.

(30)

Prinsip: I-A-Pa-Pe

INSPEKSI Bentuk: Datar/cembung?

Kelainan kulit: Bekas luka, striae, dilatasi vena, ruam, lesi?

AUSKULTASI

Auskultasinya mulai dari umbilikus lalu menyebar ke atas, kanan, bawah, kiri.

Dengarkan bising usus selama 1 menit. Normalnya suaranya terdengar seperti klik dan gurgle (kayak orang kumur); Normal: 5-34 kali per menit.

PALPASI

Palpasi ringan: Palpasi di mana aja bebas, gak usah terlalu dalam mencetnya. Identifikasi: Nyeri, tahanan otot, massa, organ superfisial.

Palpasi dalam: Palpasinya sedikit ditekan. Untuk kalau ada massa.

Liver:

Posisi kita ada di sebelah kanan pasien.

Letakkan tangan kiri kita di belakang pasien sejajar dan mengsupport tulang rusuk kanan ke 11 dan 12 pasien dan jaringan di sekitarnya.

Minta pasien untuk rileks. Kalau sudah rileks, otot perutnya tidak ada kontraksi. Tekan tangan kiri kita ke atas agar liver pasien akan lebih mudah terasa.

Letakkan tangan kanan di sebelah kanan abdomen, lateral dari otot rectus, di atas SIAS kanan. Rabanya naik dulu ke costal margin, baru ke arah xiphoid processus.

Minta pasien untuk menarik napas yang dalam. Rasakan batas liver saat menyentuh jari-jari kita.

Jika teraba, cek konsistensi dan.

Batas liver normalnya lembut, tajam, reguler, permukaan halus, sedikit sakit. Saat pasien buang napas, ikuti arah gerak livernya (ke atas).

Lien (spleen):

Kelilingi tubuh pasien dengan tangan kiri kita untuk mensupport dan menekan ke atas tulang rusuk

sebelah kiri pasien dan jaringan sekitarnya. Minta pasien untuk rileks.

Dengan tangan kanan SIAS kanan, tekan menuju spleen (diagonal ke kiri). Selain itu, raba juga dari SIAS kiri ke atas. [Versi dr. Dean]

Tangan kanan berada di bawah costal margin kiri, tekan menuju spleen. [Versi modul]

Minta pasien untuk menarik nafas yang dalam.

Rasakan ujung spleen pasien saat menyentuh jari-jari kita. Tandai jika terdapat nyeri tekan dan ukur kontur spleen pasien.

(31)

PERKUSI

Arah perkusinya sama dengan auskultasi. Dengar suaranya, tympanic/dull?

Cek shifting dullness: Tentukan mana yang tympanic mana yang dull. Lalu minta pasien berbaring ke kiri, lalu diperkusi lagi. Yang tadinya dull akan jadi tympanic dan sebaliknya.

Caranya sama kayak anterior.

Baik pak/bu, pemeriksaan sudah selesai, silakan kenakan lagi bajunya. Terima kasih.

Thorax Posterior

(32)

detection for mental

health problems

1. Sapa, perkenalan.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Dengan bapak/ibu siapa? Datang sendiri/ditemani?

2. Tanya keluhan.

Ada keluhan apa pak/bu?

Baik pak/bu, sekarang saya akan menanyakan beberapa pertanyaan untuk memastikan masalah ibu. Mohon jawab sejujurnya ya pak/bu, kerahasiaan terjamin. Apakah bapak/ibu bersedia?

3. Depresi.

Apakah bapak/ibu merasa mudah sedih?

Apakah bapak/ibu kehilangan minat dan ketertarikan terhadap aktivitas yang biasanya menyenangkan? (Bisa juga tanyanya: Punya hobi pak/bu? Sekarang masih suka menjalani hobinya tidak?)

Apakah bapak/ibu merasa lesu dan mudah lelah?

Apakah bapak/ibu mengalami gangguan lambung, sakit kepala atau keluhan fisik lain yang berkepanjangan?

Apakah bapak/ibu mengalami gangguan tidur? 4. Ide bunuh diri.

Apakah saat ini bapak/ibu memiliki pikiran atau rencana untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri? Kalau dulu pernah?

5. Anxietas.

Apakah bapak/ibu merasa khawatir atau takut yang berlebihan? Apakah bapak/ibu merasa gelisah atau tidak dapat duduk tenang?

Apakah bapak/ibu sering berkeringat dingin, berdebar-debar, gemetar, pusing, atau mual? 6. Psikosis.

Apakah bapak/ibu merasa ada orang yang membicarakan bapak/ibu di belakang bapak/ibu atau bermaksud mencelakai bapak/ibu?

Apakah bapak/ibu melihat bayangan atau mendengar suara-suara yang tidak jelas sumbernya? Apakah bapak/ibu merasa sangat gembira, sangat bersemangat, lebih banyak berbicara dari biasanya? 7. Penggunaan obat-obatan terlarang.

Mohon maaf pak/bu, pertanyaan ini mungkin sedikit sensitif. Apakah bapak/ibu pernah minum alkohol atau menggunakan zat-zat terlarang?

8. Somatoform.

Apakah bapak/ibu mengalami rasa nyeri atau keluhan fisik lainnya (seperti mual, muntah, diare, napas pendek, nyeri dada, kepala atau perut) yang telah berlangsung lebih dari 6 bulan namun penyebabnya belum ditemukan?

Apakah bapak/ibu telah berobat ke lebih dari satu orang dokter untuk keluhan tersebut? 9. Psikosomatis.

Apakah keluhan bapak/ibu muncul atau dirasakan semakin berat saat bapak/ibu dalam keadaan tertekan, stress, atau khawatir terhadap sesuatu hal?

10. Gangguan perkembangan (hanya untuk pasien anak/remaja).

Apakah (nama pasien) mengalami keterlambatan perkembangan, seperti lebih lambat belajar dibandingkan anak seusianya dalam hal tersenyum, duduk, berdiri, berjalan, bicara/komunikasi, membaca dan menulis?

Apakah (nama pasien) mengalami gangguan berkomunikasi seperti perilaku yang terbatas, berulang? Apakah (nama pasien) kesulitan untuk melakukan aktivitas normal harian? (Sesuai usianya.)

(33)

11. Gangguan perilaku anak dan remaja (hanya untuk pasien anak/remaja).

Apakah (pasien) sulit memusatkan perhatian atau berhenti mengerjakan tugas sebelum selesai secara berulang untuk berpindah ke aktivitas lain?

Apakah (pasien) beraktivitas secara berlebihan seperti berlarian, kesulitan untuk duduk tenang, banyak bicara, atau gelisah?

Apakah (pasien) sering melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa berpikir lebih dahulu?

Apakah (pasien) menunjukan perilaku mengganggu yang berulang dan berlanjut (seperti temper tantrum yang tidak biasanya dan berat, perilaku kejam, ketidakpatuhan yang menetap dan berat, mencuri)? 12. Demensia (hanya untuk pasien lanjut usia).

Apakah (pasien) mempunyai masalah berat dengan daya ingat?

Apakah orientasi (pasien) terhadap waktu, tempat, atau orang terganggu?

Apakah (pasien) mengalami perubahan emosi seperti mudah marah, mudah kecewa, atau mudah menangis?

Apakah (pasien) memiliki masalah perilaku dan kesulitan menjalankan aktivitas harian? 13. Penutup.

Baik pak/bu, berdasarkan hasil wawancara kita tadi, saya simpulkan bahwa bapak/ibu mengalami … . … adalah …

(Misal: Somatoform = Kondisi emosional yang dapat mempengaruhi keadaan medik.)

Saya sarankan bapak/ibu untuk … (misalnya mengurangi stres dengan mengatasi akar masalahnya, mengacu pada masalahnya itu sendiri).

Selanjutnya, saya akan rujuk bapak/ibu kepada teman sejawat saya, dokter yang lebih ahli dalam masalah ini. (Jangan bilang dokter jiwa!) Pada beliau bapak/ibu dapat bercerita dan meluapkan isi pikiran dan perasaan bapak/ibu agar lebih tenang. Saya akan buatkan surat rujukannya setelah ini.

(34)

eye examination

1. Sapa, perkenalan.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Dengan bapak/ibu siapa? Baik pak/bu, sekarang saya akan melakukan pemeriksaan pada mata bapak/ibu. Tujuannya adalah untuk mengetahui masalah yang tadi bapak/ibu keluhkan. Mungkin akan terasa sedikit tidak nyaman, namun saya akan berusaha sebaik-baiknya agar bapak/ibu tetap merasa nyaman. Bagaimana pak/bu, bersedia? 2. Cek alat.

3. Cuci tangan.

4. Pemeriksaan visus mata  Anggap sudah dilakukan. 5. Gerak bola mata.

a. Duksi:

Periksa mata kanan dulu. Minta pasien untuk tutup mata sebelah kiri dengan telapak tangan, tapi tidak boleh ditekan (sedikit ditekuk tangannya).

Minta pasien untuk melihat ke arah objek yang kita ingin pasien lihat (biasanya pulpen). Minta juga untuk ikuti gerakan pulpen kita.

Arahkan pulpen ke arah:

b. Versi:

(35)

6. Hirschberg test:

Senter glabella (antara dua alis) jarak 30 cm dari pasien. Lihat arah bola mata pasien. Normal: Bola mata di tengah.

7. Tekanan intraokular:

Minta pasien melihat ke arah bawah. Periksa mata kanan dulu, baru kiri.

Dua jari telunjuk kita tekan di bagian atas bola mata secara bergantian. Yang tidak pencet jangan dilepas, harus fiksasi terus.

Rasakan konsistensi bola matanya. Untuk merasakan yang normal, coba rasakan di mata sendiri dulu.

N (-) = Terasa seperti ban kempes; N (+) = Terasa seperti sekeras meja.

PAKAI LUP! Selesaikan memeriksa mata kanan dulu sampai lensa lalu ganti mata.

8. Palpebra superior-inferior: Periksa berdasarkan CINTO dan periksa ada nodul atau lesi/tidak.

9. Conjunctiva inferior: Periksa apakah terdapat hiperemis, sekret, anemik, atau kekuningan.

10. Conjunctiva bulbar: Periksa apakah terdapat hiperemis, papil, atau sekret.

11. Kornea:

Senter mata pasien dari sudut 45˚ (arah jam 10-11) samping.

(36)

12. Camera oculi:

Senter dari lateral, lihat iris bagian nasal. Ada bayangan cahaya/tidak?

13. Pupil:

Minta pasien untuk melihat jauh ke depan.

Senter dari samping ke depan mata yang diperiksa. Mata yang tidak

diperiksa disenter dari bawah.

Perhatikan apakah pupil mata yang diperiksa mengecil. (Direct). (+) jika mengecil.

Perhatikan pupil mata yang tidak diperiksa mengecil. (Indirect). (+) jika mengecil.

Hasilnya ditulis: Direct/indirect (+)/(+).

14. Iris: Sambil lihat pupil (senter dari depan), irisnya bisa dilihat apakah ada perlengketan atau pendarahan. 15. Lensa: Senter dari depan. Lihat tengahnya, jika warnanya hitam maka normal.

16. Funduscopy:

Prinsip: Lihat mata kanan dengan mata kanan lagi dan sebaliknya. Nyalakan lampu funduscopenya.

Jarak pasien dan kita 60 cm. Intip melalui lubang yang tersedia.

Ada bayangan oranye/tidak di mata? Jika ya maka normal.

17. Conjunctiva superior: Diperiksa belakangan karena mata dapat jadi merah.

Minta pasien melihat ke bawah. Tarik bulu mata pasien.

Dengan jari telunjuk tangan satunya, tahan kelopak mata atas pasien. Balik kelopak matanya dengan tangan yang menarik bulu mata. (Two-hands technique.) Tarik bulu mata pasien dengan ibu jari dan telunjuk, lalu letakkan jari tengah di kelopak mata. Balik kelopak mata pasien. (One-hand technique.)

Periksa apakah terdapat hiperemis, sekret, anemik, atau kekuningan. Baik pak/bu, pemeriksaan sudah selesai. Terima kasih.

On/off

Intip di sini Pengatur

fokus (di samping)

(37)

breast care

Dilakukan pada:

 Ibu berputing menonjol tanpa riwayat abortus: Bulan ke-6 kehamilan.  Ibu berputing menonjol dengan riwayat abortus: Bulan ke-8 kehamilan.  Ibu berputing datar/masuk tanpa riwayat abortus: Bulan ke-3 kehamilan.  Ibu berputing datar/masuk dengan riwayat abortus: Bulan ke-6 kehamilan. 1. Sapa, perkenalan, jelaskan tujuan.

Selamat pagi bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Dengan ibu siapa?

Baik bu, sekarang saya ingin menjelaskan mengenai cara merawat payudara ibu saat masa kehamilan ini. Tujuannya untuk:

- Menjaga kebersihan payudara. - Membuat puting lebih menonjol

- Membuat puting menjadi lebih kuat dan fleksibel - Serta membantu stimulasi produksi susu.

Nanti ibu akan diminta untuk membuka bajunya dan branya. Bagaimana bu, bersedia? 2. Bersihkan payudara terlebih dahulu menggunakan lap basah.

Waktu pemijatan dapat dilakukan sehabis mandi 1-2 kali sehari tergantung kebutuhan. 3. Cuci tangan.

4. Tuangkan baby oil ke tangan, usapkan pada kedua tangan, lalu ratakan pada permukaan kedua payudara.

5. Pijat pertama:

Tuangkan baby oil ke tangan.

Kedua tangan berada di antara kedua payudara, lalu pijat memutar dari medial ke arah lateral.

Lakukan sebanyak 30 kali dalam 5 menit. 6. Pijat kedua:

Tuangkan baby oil ke tangan.

Tangan kanan menopang payudara kanan, tangan kiri memijat ke arah puting. Lakukan pada seluruh permukaan payudara.

Lakukan hal yang sama pada payudara kiri. (Payudara kiri ditopang oleh tangan kiri, dipijat oleh tangan kanan.)

Lakukan sebanyak 30 kali dalam 5 menit. 7. Pijat ketiga:

Tuangkan baby oil ke tangan.

Tangan kanan menopang payudara kanan. Tangan kiri mengepal, lalu pijat payudara ke arah puting menggunakan buku-buku jari. Lakukan pada seluruh permukaan payudara.

Lakukan hal yang sama pada payudara kiri. Lakukan sebanyak 30 kali dalam 5 menit.

8. Kompres payudara menggunakan air hangat (satu handuk langsung menutupi kedua payudara). Tunggu

selama 5 menit.

Tujuan: Melancarkan aliran darah menuju tempat pembuatan ASI.

9. Kompres payudara menggunakan air dingin. Tunggu selama 5 menit.

10. Bersihkan puting menggunakan kapas yang diberi baby oil. Bersihkan secara sirkuler dari dalam ke luar.

Kapasnya diganti tiap payudara.

(38)

Tujuan: Agar kotorannya tidak diisap bayi, membersihkan susu yang mungkin keluar saat pemijatan, dan mengrilekskan puting agar tidak luka.

11. Untuk ibu dengan puting datar/masuk, dapat dilakukan pemijatan dengan teknik Hoffman: Berikan baby oil pada puting.

Letakkan kedua ibu jari di atas dan bawah puting, lalu pijat puting ke atas dan ke bawah (satu arah pijatnya). Lakukan sebanyak 20 kali.

Letakkan kedua ibu jari di kanan dan kiri puting, lalu pijat puting ke kanan dan kiri (satu arah pijatnya). Lakukan sebanyak 20 kali.

Jika puting sudah mulai menonjol, bisa juga cubit puting berulang-ulang agar lebih menonjol lagi. 12. Penutup.

Baik bu, pemijatan sudah selesai. Mungkin akan terasa sedikit mual karena pengaruh hormon. Jangan lupa untuk melakukan pemijatan ini secara teratur. Ibu juga dianjurkan untuk menjaga asupan nutrisi dan tidak menggunakan bra yang terlalu ketat. Bagaimana bu, sudah mengerti? Terima kasih.

1. Sapa, perkenalan, jelaskan tujuan.

Selamat pagi bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di klinik ini. Dengan ibu siapa?

Baik bu, sekarang saya ingin menjelaskan mengenai cara merawat payudara ibu saat masa nifas/menyusui ini. Tujuannya untuk:

- Melancarkan produksi ASI.

- Memeriksa kelainan pada payudara.

- Melihat adanya penyumbatan pada saluran ASI.

Nanti ibu akan diminta untuk membuka bajunya dan branya. Bagaimana bu, bersedia? 2. Bersihkan payudara terlebih dahulu menggunakan lap basah.

Waktu pemijatan dapat dilakukan sehabis mandi 1-2 kali sehari tergantung kebutuhan. 3. Cuci tangan.

4. Tuangkan baby oil ke tangan, usapkan pada kedua tangan, lalu ratakan pada permukaan kedua payudara.

5. Pijat:

Topang payudara kanan menggunakan tangan kanan.

Letakkan 2-4 jari tangan kiri pada payudara lalu pijat memutar pada satu titik, lalu pindah setelah beberapa detik.

Lakukan pada seluruh permukaan payudara secara memutar. Lakukan selama 5 menit.

6. Stroke:

Letakkan tangan kanan dan kiri di atas dan bawah payudara kanan.

Pijat ke arah kanan dan kiri (berlawanan atas-bawahnya) selama 5 menit.

Lakukan hal yang sama pada sisi kanan dan kirinya (pijat ke atas-bawah) selama 5 menit.

Lakukan juga pada payudara kiri. 7. Shake:

Posisi menunduk ke depan.

Guncangkan kedua payudara ke atas dan ke bawah secara halus menggunakan tangan.

8. Untuk ibu dengan puting yang datar/masuk, dapat ditarik

menggunakan spuit yang ujungnya dipotong, lalu berikan baby oil pada puting dan spuit, lalu sedot ke luar. 9. Penutup.

Baik bu, pemijatan sudah selesai. Jangan lupa untuk melakukan pemijatan ini setiap hari.

(39)

Ibu juga dianjurkan untuk tidak menggunakan bra yang terlalu ketat, banyak minum air, tidak stres, dan menjaga asupan nutrisi untuk memperlancar produksi ASI.

Saat menyusui, lakukan dengan teknik yang benar agar tidak terjadi pembengkakan atau lecet pada

payudara ibu.

Sesudah menyusui, payudara dapat dikompres menggunakan air dingin untuk mengecilkan saluran ASI. Jika terdapat bengkak pada payudara, kompres menggunakan air hangat.

Jika terdapat lecet pada puting, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah mengoleskan ASI pada tempat yang lecet. Lalu, susui bayi ibu dengan puting yang satu lagi, setelah bayi ibu cukup kenyang, pindahkan menggunakan puting yang lecet.

Jika lecet pada putingnya cukup parah, istirahatkan selama 24 jam. Dapat juga meminum obat seperti parasetamol untuk mengurangi rasa nyeri. Pompa ASI lalu beri susu pada bayi ibu menggunakan sendok. Jika tidak sembuh juga, hubungi dokter.

(40)

bed turning and bed

positioning

1. Sapa, perkenalan, jelaskan tujuan.

Selamat pagi pak/bu, perkenalkan saya dr. X yang sedang berjaga di rumah sakit ini. Apakah benar dengan bapak/ibu Y ATAU keluarga bapak/ibu Y?

Baik pak/bu, sekarang saya akan menjelaskan tentang cara mengatur tempat tidur selama bapak/ibu dirawat. Tujuannya adalah untuk mencegah komplikasi yang mungkin muncul karena tidur terlalu lama. 2. Cek alat.  Gloves  Masker  Trochanter roll  Hand roll (2)  Bantal  Footboard

 Palmar positioning splint  Shoulder roll

3. Cuci tangan, keringkan.

4. Pakai gloves dan masker. 5. Posisi terlentang (supine).

Ekstremitas bawah berada dalam posisi netral (posisi anatomis, lurus) dengan pinggul dan lutut ekstensi.

Hindari kontak antara tempat tidur dengan tumit posterior (kakinya melayang di ujung kasur). Di

belakang tumit dikasih trochanter roll (posisi melintang langsung di bawah kedua tumit).

Di pinggir tubuh bagian pinggulnya bisa dikasih trochanter roll juga.

Posisi kaki dorsofleksi, ditahan dengan footboard. Posisi tangan bisa 3 cara:

Bahu abduksi 90˚, internal rotation, siku fleksi 90˚, forearm sedikit pronasi. Letakkan bantal di bawah tangan (harus menopang seluruh tangan).

Bahu abduksi 90˚, external rotation, siku fleksi 90˚, forearm pronasi. Letakkan bantal di bawah tangan.

(41)

Bahu sedikit abduksi, siku ekstensi (Gampangnya tangan lurus biasa), letakkan bantal di bawah tangan. Pergelangan tangan dan tangan bisa 2 cara:

o Pergelangan tangan ekstensi, jari-jari sedikit fleksi di sendi

interfalangeal dan metakarpofalangeal, ibu jari abduksi, berlawanan, dan sedikit fleksi di sendi interfalangeal, genggam hand roll. (Gampangnya, genggam hand roll tapi jempol posisinya berlawanan sama keempat jari lain.)

o Sama kayak di atas, bedanya semua jari ekstensi lalu ditopang

menggunakan palmar positoning splint. 6. Posisi menghadap samping (sidelying).

Hadapkan pasien ke bagian yang sehat.

Kaki bagian proksimal (yang atas) ditekuk (pinggul dan lutut fleksi). Letakkan bantal di antara kedua kaki untuk mencegah kontak antara keduanya.

Lengan (arm) external rotation dan sedikit ekstensi. (Kayak meluk guling.)

[Tambahan: Tangan yang di bawah ditekuk kayak di gambar.]

Forearm dijauhkan dari dada pasien. 7. Posisi tengkurap (prone).

Posisi ini hanya diperbolehkan untuk pasien dengan fungsi paru, jantung, dan skeletal yang memadai. Banyak yang tidak bisa menoleransi posisi ini pada awalnya.

Cara membalikannya: Satu tangan di bahu, satu tangan di pinggul. Balik.

Pinggul dan lutut ekstensi. Ujung kaki melayang, beri footboard. Beri trochanter roll di bawah

pergelangan kaki anterior (langsung di bawah kedua kaki, melintang).

Lengan sedikit abduksi, siku ekstensi, pergelangan tangan ekstensi dan supinasi. Genggam hand roll. Beri shoulder roll di bawah bahu.

Boleh tidak menggunakan bantal, tergantung kenyamanan pasien.

8. Edukasi.

Ubahlah posisi tidurnya setiap 2 jam sekali. Kalau malam tidak apa-apa tidak perlu diubah posisi.

Dokter akan secara rutin mengecek kulit di bagian yang rentan untuk memastikan bahwa tidak terjadi

ulkus tekanan (pressure sores).

Dokter juga akan mengingatkan staf rumah sakit untuk secara rutin dan berkala mengubah posisi pasien. Bagaimana pak/bu ada yang kurang dimengerti? Terima kasih.

Ekstensi, gak ditekuk begini. Posisi seperti ingin terbang.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini Bapak / Ibu akan menjalani pengambilan sampel saliva (ludah) sewaktu untuk memastikan diagnosis apakah ada terkandung pepsin disaliva, dan sebelumnya saya

Dalam penelitian ini Bapak/Ibu akan menjalani pemeriksaan jaringan (biopsi) yang diambil dari belakang hidung untuk memastikan diagnosis dan jenis kanker bagian belakang hidung,

Dalam penelitian ini Bapak/Ibu akan menjalani pemeriksaan jaringan (biopsi) yang diambil dari belakang hidung untuk memastikan diagnosis dan jenis kanker bagian belakang hidung,

Sompa “kalau ada pasiennya masuk dan itu pasien jantung kita biasanya edukasi bahwa pak atau ibu di sini tuh pasien kritis nih semua jadi bapak biasanya itu masuk dalam keadaan