• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PENCATATAN CIPTAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SURAT PENCATATAN CIPTAAN"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

SURAT PENCATATAN

CIPTAAN

Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:

Nomor dan tanggal permohonan : EC00201860304, 20 Desember 2018

Pencipta

Nama : Drs. I Made Wijana, M. Hum, Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati,

M. Hum,

Alamat : Jalan. Nangka Gang II. No 7 Denpasar Utara, Denpasar, Bali, 80231

Kewarganegaraan : Indonesia

Pemegang Hak Cipta

Nama : Drs. I Made Wijana, M. Hum, Dr. Dra. Ni Ketut Ratna

Erawati, M. Hum,

Alamat : Jalan. Nangka Gang II/7 Denpasar Utara, Denpasar Utara, 16, 80231

Kewarganegaraan : Indonesia

Jenis Ciptaan : Laporan Penelitian

Judul Ciptaan : OPTIMALITAS LEKSIKAL TEKS TUTUR DALAM KARYA

SASTRA TRADISIONAL: REVITALITAS KEARIFAN LOKAL BALI

Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia

: 30 November 2017, di Denpasar

Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.

Nomor pencatatan : 000129721

adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.

Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL

Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS. NIP. 196611181994031001

(2)

LAMPIRAN PENCIPTA

No Nama Alamat

1 Drs. I Made Wijana, M. Hum Jalan. Nangka Gang II. No 7 Denpasar Utara

2 Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati,

M. Hum Jalan. Ken Arok Gang III/ No 12 Dadakan Denpasar Utara

LAMPIRAN PEMEGANG

No Nama Alamat

1 Drs. I Made Wijana, M. Hum Jalan. Nangka Gang II/7 Denpasar Utara

2 Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati,

M. Hum Jalan. Ken Arok Gang III/ No 12 Dadakan Denpasar Utara

(3)

i

LAPORAN PENELITIAN

OPTIMALITAS LEKSIKAL TEKS TUTUR

DALAM KARYA SASTRA TRADISIONAL:

REVITALITAS KEARIFAN LOKAL BALI

Oleh

Drs. I Made Wijana, M. Hum. / 0010115714 (Ketua)

Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M. Hum. / 0007036510 (Anggota)

PROGRAM STUDI SASTRA JAWA KUNO

FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA

UNIVERSITAS UDAYANA

NOVEMBER 2017

Bidang Unggulan: Sosial Budaya

Kode/Bidang Ilmu: 511/Sastra(dan Bahasa) Daerah (Jawa, Sunda, Batak dll)

(4)

ii PRAKATA

Puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Mahaesa) karena atas berkat-Nya laporan penelitian ini dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan penelitian ini tentu banyak hal yang menjadi hambatan namun berkat kerja sama tim semua rintangan itu dapat diatasi.

Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peneliti sehingga kualitas penelitian semakin bertambah selain itu juga untuk menambah kuantitasnya. Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan menjadi model dalam penelitian teks-teks karya sastra Jawa Kuno dengan pererapan teori-teori linguistik yang relatif masih kurang.

Keberhasilan penelitian ini tidak terlepas juga dari peranan institusi mulai dari tingkat jurusan/program studi atas rekomendasinya, fakultas, LPPM, dan Unud sebagai payungnya yang telah memfasilitasi baik sarana maupun prasarana lainnya. Untuk itu, ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya disampaikan kepada Kaprodi Sastra Jawa Kuno, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Ketua LPPM, dan Rektor Universitas Udayana.

Hasil penelitian ini masih belum sempurna. Untuk itu, kepada semua penilai, pembaca dimohon untuk memberikan Masukan dan kritikan sehingga hasilnya benar-benar memadai. Kami dari tim peneliti mohon maaf atas segala kekurangannya baik yang tersurat maupun yang tersirat dan selalu terbuka atas semua saran yang konstruktif. Semoga budi baik Bapak, Ibu, Saudara/i mendapat pahala yang selayaknya.

Denpasar, 30 November 2017 Tim Peneliti

(5)

iii DAFTAR ISI

PRAKATA ……… ii

DAFTAR ISI... iii

RINGKASAN ...i v BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 1.2 Masalah ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Kajian Pustaka ... 4

2.2 Konsep ... 6

2.3 Landasan Teori ... 9

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1 Tujuan Penelitian ……….. 11

3.2 Manfaat Penelitian ………. 12

BAB IV METODE PENELITIAN ...13

4.1 Lokasi Penelitian ……… 13

4.2 Metode Penyediaan Data...……… 14

4.3 Metode Analisis Data ……… 14

4.4 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis ... 15

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... ….. 16

4. 1 Deskripsi Teks Tutur ... 16

4.1.1 Deskripsi Teks Tutur Sarining Rajapeni……… 16

4.1.2 Deskripsi Teks Tutur Aji Pari ……….. 17

4.2 Transkripsi dan Transliterasi Teks Tutur………. 18

4.2 1 Teks Tutur Sarining Rajapeni……… 18

4.2.2 Teks Tutur Aji Pari………. 34

4.3 Optimalitas Kategori Leksikal ………. 41

4.3.1 Kekerapan Leksikal Tutur Sarining Rajapeni……… 41

4.3.2 Kekerapan Leksikal Tutur Aji Pari………. 42

4.4 Fungsi Bahasa dalam Teks Tutur. ……….. 44

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ………. 45

6.1 Simpulan ………. 45 6.2 Saran ……….. 45 DAFTAR PUSTAKA ……… 46 LAMPIRAN-LAMPIRAN………. 48 DAFTAR INFORMAN ……… 48 FOTO-FOTO……… 52

(6)

iv

RINGKASAN

Teks tutur merupakan salah satu karya sastra tradisional yang berbentuk naskah lontar. Teks dalam bentuk naskah yang diwarisi hingga kini merupakan warisan budaya yang tak ternilai. Teks tutur memuat etika tata susila yang perlu dipahami dan direalisasikan di masyarakat. Dewasa ini di masyarakat cenderung terjadi degradasi moral terutama kaum muda yang lebih mengedepankan kehidupan hedonis dan pragmatisme, misalnya dalam menyelesaikan suatu masalah seringkali dengan jalan pintas tanpa landasan yang kuat. Oleh karena itu, pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung dalam teks tutur perlu digali dan diungkapkan kembali makna yang tersirat dan tersurat melalui perolehan leksikal yang terdapat dalam teks tutur.

Terkait dengan masalah yang dikaji, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan mengklasifikasikan kategorisasi leksikal mana yang secara optimal dalam teks tutur dapat terealisasi. Kuantitas lesikal/kategorisasi yang lainnya mengikutinya sebagai penetapan ranking kuantitasnya. Tujuan selanjutnya adalah untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan tercukupi dan penemuan kategorisasi leksikal secara optimal sehingga dapat mendeskripsikan dan menjelaskan karakateristik teks tutur dalam naskah lontar di Bali, jika dibandingkan dengan teks-teks lain yang ditulis di atas daun lontar.

Untuk merealisasikan tujuan di atas, diperlukan arahan teori dan konsep-konsep yang gayut dengan topik penelitian. Teori tersebut adalah Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) dan teori fungsi bahasa. Di samping itu, didukung dengan metodelogi penelitian yang tepat. Berdasarkan analisis sampel tutur, yakni Tutur Sarining Rajapeni dan Tutur Aji Pari dapat dihasilkan keoptimalan kategori leksikal pada teks tutur tersebut. Adapun kategori yang yang optimal adalah kata-kata atau kategori yang merujuk kepada sebutan untuk dewa-dewa, yaitu sanghyang dan sri dan kategori itu nominal adalah frekuensi yang paling banyak. Dengan hasil tersebut, fungsi bahasa yang bersifat religius.

Luaran yang telah dicapai adalah makalah dipresentasikan pada

International Seminar on Austronesian and Non-Austronesian Languages and

Literature in Indonesia held on September 15th-16th, 2017, di Universitas

Udayana. Selanjutnya, Hasil penelitian yang telah dipublikasikan dapat mempengaruhi perilaku ke arah positif di masyarakat dengan tujuan dapat mencegah ketimpangan-ketimpangan yang terjadi.

(7)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sebutan untuk ‘Bali’ bermacam-macam, misalnya, Bali disebut pulau seribu pura, Bali disebut pulau dewata, Bali disebut pulau sorga (istilah dalam bahasa Iggris,

paradise island), dan lain sebagainya. Penyebutan itu memiliki dimensi ruang dan

waktu yang berbeda-beda. Kedaaan Bali seperti itu tidaklah berdiri secara tersendiri. Namun, hal tersebut didukung oleh berbagai hal sosial masyarakatnya. Bali atau masyarakat Bali sangat kuat dengan budayanya. Akar budaya tercermin dalam adat-istiadat yang dimiliki masyarakat Bali yang ditopang oleh tujuh unsur kebudayaan (lihat lagi, Koentjaraningrat). Salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa. Bahasa dapat berbentuk lisan maupun tulis. Dalam wujud tulis bahasa yang tergolong tutur diaktulaisasikan dalam karya sastra/teks naskah lontar.

Di Bali karya sastra atau sering disebut kesusastraan Bali merupakan kajian yang cukup luas. Kesusastraan Bali yang diwarisi hingga kini memiliki sejarah yang cukup panjang. Artinya, sejarah pemahaman isi karya sastra sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat untuk menanggulangi tantangan dalam dunia global. Namun, untuk dapat memahami lebih jauh tentang kesusastraan Bali, perlu diugkapkan terlebih dahulu tentang kesusastraan Bali.

Beberapa ahli yang bergelut dengan Bali mengklasifikasikan kesusastraan Bali menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) kesusastraan Bali Purwa dan (2) kesusastraan Bali Anyar (lihat Lagi Bagus dan Ginarsa, 1978: 4). Menurut Agastia (1985: 152) pembagian di atas masih menyisakan masalah. Lebih jauh, Agastia mengklasifikasikan naskah di Bali, seperti yang dilakukan oleh Th. Pigeaud terhadap Kepustakaan Jawa (1967: 2). Klasifikasi Naskah Bali berdasarkan kedudukan dan fungsinya dalam masyarakat, yaitu; (1) Naskah-Naskah Keagamaan dan Etika, yaitu a. Weda, mantra, dan puja; b. Kalpasastra; c. Tutur; d. Sasana ; dan e. Niti. (2) Naskah-Naskah kesusastraan, yaitu parwa, kakawin, kidung, parikan, dan satua; (3) Naskah-Naskah Sejarah dan Mitologi, yaitu babad, pamancangah, usana, prasasti, dan uwug. (4) Naskah-Naskah Pengobatan dan Penyembuhan, yaitu usada, seperti Budha

(8)

2 kecapi. (5) Naskah-Naskah Pengetahuan Lain, yaitu a) naskah tentang kearsitekturan, seperti; asta kosala, asta kosali, asta bhumi, swakarma, siswakarma, dan lain-lain, b) naskah tentang kode etik arsitektur tradisional, seperti dharmaning sangging, c) naskah leksikografi dan tata bahasa, seperti adiswara, ekalawya, kretabasa, suksmabasa, cantaka parwa, dasanama, krakah (krakah sastra, krakah modre, dan sebagainya, d) naskah-naskah tentang hukum, seperti adigama, dewagama, kutara Manawa, purwadhigama, dan sebagainya, e) naskah-naskah astronomi, seperti wariga dan sundari.

Berdasarkan penggolongan Agastia di atas tampak jelas bahwa kedudukan

tutur berada dalam kelompok naskah keagamaan dan etika. Teks tutur yang

dimaksudkan di sini adalah kandungan isi naskah yang diklasifikasikan ke dalam naskah tutur. Istilah tutur berasal bahasa Jawa Kuna. Secara deninitif, turur adalah ingatan, kenangan-kenanga, kesadaran; lubuk jiwa yang paling dalam ‘budi yang dalam (tempat persatuan dengan Yang Mutlak; tradisi suci; teks berisi doktrin relegi (Zoetmulder, 1997: 1307). Terkait dengan makna tersebut, terbentuklah kata-kata, seperti: matutur ‘berkata-kata’, mapitutur ‘menasehati’, dan sebagainya. Di dalam bahasa Bali istilah tersebut digunakan secara utuh dan dibentuk lagi dengan afiksasi bahasa Bali. Dalam linguistik dikenal istilah tuturan, yaitu apa yang dituturkan orang baik secara lisan maupun tulis dan diaktulisasikan dalam wujud frasa, klausa, dan kalimat.

Teks tutur yang dikenal oleh masyarakat Bali merupakan teks yang dikeramatkan dan harus dituturkan oleh orang yang paham dengan isi teks tutur tersebut kepada orang yang menjadi tujuannya. Pemahaman teks tutur oleh masyarakat Bali sangat penting untuk direvitalisasi karena di masyarakat ada kecenderungan terjadinya degradasi moral, seperti bentrok massa, main hakim sendiri dalam menghadapi masalah, dan sebagainya. Dalam hal ini, terjadi kekurangpahaman untuk memahami pentingnya etika yang termuat dalam teks-teks tutur. Dengan demikian, pada kesempatan ini akan diungkap teks tutur yang kiranya dapat merevitalisasi hal-hal yang berbau negatif dan hal tersebut dapat dilihat berdasarkan

(9)

3 kategorisasi leksikal dalam teks tutur. Di samping itu, dewasa ini nakah-naskah tutur baru pada tahap alih aksara dan terjemahan saja.

1.2. Masalah

Terkait dengan uraian di atas, tampaknya teks tutur memiliki kandungan yang sangat penting untuk dipahami oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, ada dua masalah yang akan dikaji diwujudkan dalam bentuk pertanyaan berikut ini.

(1) Leksikal apa sajakah secara optimal yang terkandung dalam teks tutur di Bali sehingga tutur dapat dipahami dan diaplikasikan dengan baik? (2) Bagaimanakah karakteristik teks tutur dalam naskah lontar di Bali?

(10)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2,1 Kajian Pustaka

Kajian tentang teks telah banyak dilakukan oleh para cendia baik oleh orang Bali sendiri atau pun oleh orang luar Bali, bahkan ada yang dikaji oleh orang asing. Hasil penelitian, literatur atau kajian-kajian tersebut dapat dipakai studi pendahuluan yang terkait dengan penelitian ini. Buku atau hasil penelitian tersebut dideskripsikan seperti berkut ini.

Lontar Wiksu Pungu Sundari dan Swamandala (2015). Buku ini merupakan

jenis tutur memuat salinan lontar dan hasil terjemahannya. Buku ini di dalamnya memuat empat jenis tatwa, yaitu teks Wiksu Pungu dan terjemahannya, Teks Brahmokta Widhi Shastra dan terjemahannya, teks Sanghyang Amreta Kundalini dan terjemahannya, dan teks Brahma Wangsa Tatwa beserta terjemahannya pula. Teks tersebut belum mendapat kajian lebih jauh mengenai teori dan konsep-konsep yang relevan untuk memahami keseluruhan hasilnya. Dengan demikian, penerbitan buku tersebut masih member peluang besar untuk dikaji lebih jauh.

Jnanasiddhanta oleh Haryati Soebadio (1985). Kajian Haryati diawali dengan

menjelaskan asal-usul teks. Teks dan terjemahan isi Jnanasiddhanta. Jnanasiddhanta berisi dua puluh judul teks, yaitu Catur Viphala, Prayoga Sandhi, Sanghyang Pranava Jnana Kamoksan, Sanghyang Pranawa Tridewi, Sanghyang Kahuvusan Jati Visesa, Nirmala Jnana Sastra, Panca Paramartha, Sanghyang Naisthika Jnana, Sanghyang Mahavindu, Sanghyang Saptomkara, Sanghyang Pancavimsati, Sanghyang Dasatma-Sanghyang Vindu Prakriya, Pancatma, Dasatma-Sanghyang Upadesa Samuha, Sad Angga Yoga, Sanghyang Atma Lingga-Linggodbhava, Utpati-Sthiti-Pralina Sanghyang Pranava, Catur Dasaksara Pinda-Utpatti-Sthiti-Pralina, Sanghyang Bhedajnana, Sanghyang Mahajnana, Sanghyang Benem Vungkal, Pranayama-Samksipta-Puja, Appendiks pada Pranayama-Samksipta-Puja, Sanghyang Kaka-Hamsa, Sanghyang Tirtha-Sapta Samudra_Sapta Patala, Sanghyang Saiva Siddhanta, Utpatti-Sthiti-Pralina Sanghyang Vindu-Abyantara, dan Jnana Siddhanta. Ajaran Siddhanta kepada

(11)

5 murid-muridnya bahwa “kedewasaan sejati tidak bergantung pada pada usia, kelakuan atau tapa brata. Bahkan seorang yang tahu akan segala teks suci, tetapi tidak memaklumi Siddhanta tidak dapat dikatakan terpelajar sungguh-sungguh. Hanya Siddhantalah pengetahuan tertinggi; dengan memakluminya hidup seorang baru berbuah sungguh-sungguh baik di dunia ataupun di akhirat”. Hal di atas, perlu ditularkan dalam memahami teks tutur kelak dapat memperbaiki pemahaman masyarakat akan pudarnya pengetahuan kebenaran.

Suardiana (2014) menulis artikel berjudul “Klasifikasi, Manfaat guna Pepohonan dan Pelestarian Lingkungan: Studi Teks Aji Janantaka” (Jurnal Nasional terakreditasi Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional). Aji Janantaka merupakan teks tutur (ajaran) yang intinya selalu diingat oleh sekalian umat manusia demi keharmonisan antara Sang Pencipta, Ciptaannya, dan Lingkungannya. Konsep itu merupakan cikal bakal filsafati Tri Hita Karana di Bali. Terkait dengan teks tutur yang menjadi kajiannya, yaitu Aji Janantaka mengingatkan kepada kita untuk menjaga keseimbangan alam ini. Aji Janantaka merefleksikan pemahaman yang holistic bagi masyarakat tentang penamaan pohon sesuai dengan manfaatgunanya bagi kehidupan itu sendiri (nilai religius). Teks Aji Janantaka telah membuktikan bahwa semakin tinggi nilai religius suatu pohon maka semakin tinggi pula nilai ekonomisnya. Dalam Aji Janantaka juga memperkenankan dari jenis/wangsa kayu dalam fungsi dan kegunaannya. Misalnya, kayu yang ke dalam kayu merik adalah kayu yang cocok untuk membuat arca dan bangunan suci. Demikian pula, kayu yang tergolong kayu wangsa hanya digunakan untuk bangunan rumah tempat tinggal, dan sebagainya.

Berdasarkan deskripsi teks tutur di atas, kiranya penting untuk meneliti teks-teks tutur yang lainnya, mengingat teks-teks tutur di masyarakat jumlahnya sangat banyak dan bervariasi. Teks tutur yang menyangkut etika sangat penting untuk diperkenalkan isi dan kandungan kepada masyarakat khususnya generasi muda. Teks tutur di atas sangat berkontribusi dalam penelitian yang menyangkut revitilitas kearifan lokal Bali.

(12)

6 2.2 Konsep

Berkaitan dengan kajian pustaka di atas, beberapa konsep yang cukup relevan dalam mengkaji teks tutur yang sarat dengan nasehat kebaikan dan kebenaran di masyarakat. Konsep dasar yang terkait dengan teori adalah (1) istilah unit yang menentukan tataran morfem sebagai tataran terendah dan klausa sebagai tataran terttinggi, (2) perbedaan antara kata, kelompok kata, dam frasa, (3) adanya konsep klausa yang dibedakan atas klausa sebagai pesan, klausa sebagai pertukaran, dan klausa sebagai representasi, (4) konsep leksikogramatika, (5) konsep fungsi yang dilihat dari dimensi semantic,, tata bahasa dan informasi dalam satu kesatuan utuh, seperti: pelaku, proses, tujuan, sirkumstan, subjek, predicator, komplemen, tema, dan rema, (6) hubungan logis, yaitu taksis, ekspansi dan proyeksi, (7) konsep konteks situasi, yaitu medan (field) pelibat (tenor), dam sarana (mode), (8) konsep metafungsi bahasa, seperti tekstual, interpersonal, dan ideasional, (9) konsep pengalaman, seperti material, mental, dan relasional, verbal, pelaku, dan wujud. Konsep di atas merupakan konsep dasar dan sang universal. Konsep operasional dalam penelitian ini dirujuk konsep, seperti berikut ini.

2.2.1 Teks

Halliday dan Hasan (1994: 13) menjelaskan bahwa teks adalah bahasa yang berfungsi. Artinya, bahasa itu sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi yang berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan. Bahasa teks dapat berbentuk tuturan yang digunakan untuk menyatakan yang dipikirkan, seperti benda atau alat tertentu yang berkaitan dengan simbol budaya masyarakat. Dari istilah linguistis, istilah teks oleh Hodge dan Kress (1988: 6) menjelaskan bahwa istilah teks berasal dari bahasa Latin “textus” yang dimaknai sesuatu yang dijalin secara bersamaan. Eggins (1994: 5) menjelaskan bahwa teks adalah sesuatu yang mengacu pada interaksi linguistik secara lengkap baik lisan atau tulisan mulai dari awal sampai akhir. Santoso (2002: 15) mengutip pendapat dari Birch (1986) menjelaskan bahwa teks merupakan fenomena linguistik yang dibentuk secara sosio-kultural dan ideologis. Lebih lanjut dijelaskan bahwa teks adalah bahasa

(13)

7 yang sedang melaksanakan tugas untuk mengekspresikan fungsi dan makna sosial dalam suatu konteks situasi dan konteks kultural. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa teks adalah suatu sistem bahasa yang bersifat semantic dan fungsional.

2,2,2 Teks dan Konteks

Intisari dari pengertian teks di atas, yaitu melihat bahasa sebagai fenomena bahasa yang memiliki peran masing-masing dalam mengekspresikan fungsi atau makna sosial dalam suatu konteks situasi dan konteks kultural. Teks itu bermakna apabila disertai konteks. Teks juga disertai teks-teks lain yang menyertainya. Konteks itu tidak hanya yang dilisankan atau ditulis, melainkan termasuk pula kejadian-kejadian yang bersifat nonverbal lainnya sebagai keseluruhan lingkungan teks. Posisi teks merupakan penghubung antara teks dan situasi tempat teks itu terjadi.

Teks dan konteks sebagai satu kesatuan, teks memiliki hubungan yang sangat erat dengan konteks eksternal atau konteks sosial. Konteks sosial meliputi: (1) Konteks situasi, yaitu segala sesuatu yang mendampingi teks, terdiri atas medan (field) seperti, kegiatan, tempat, waktu, dan sebagainya; pelibat (tenor) seperti, orang-orang yang terlibat di dalamnya; sarana (mode), yaitu bahasa yang digunakan teks. (2) Konteks budaya, yaitu budaya pemakai bahasa. Misalnya, apa yang boleh dilakukan, kata-kata apa yang boleh diucapkan atau digunakan, tahap-tahap yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. (3) Konteks ideologi, yaitu pemahaman atas nilai-nilai dalam bentuk simbolik yang telah menjadi konvensi dalam masyarakat, sudut pandang, posisi diri, bentuk-bentuk perilaku, dan sebagainya. Keterlibatan konteks dan teks dapat dilihat skema yang diadaptasi dari Saragih (2002) berikut ini.

Konteks Ideologi Konteks Budaya

Konteks Situasi TEKS

(14)

8 2.2.3 Optimalitas

Istilah optimal sebagai sebuah ajektif yang memiliki makna ‘terbaik, paling bagus/tinggi, sesuatu yang paling menguntungkan (KBBI, (1991: 705). Istilah itu dirujuk dalam penelitian ini untuk melihat rata-rata kuantitas tertinggi leksikal yang digunakan dalam sebuah teks yang dikategorikan ke dalam naskah tutur dalam tradisi Bali. Naskah berarti daun lontar yang telah ditulisi.

2.2.4 Leksikal

Itilah leksikal berkaitan dengan leksem, kata-kata, dan leksikon. Leksem merupakan satuan leksikal dasar yang abstark yang mendasari pelbagai bentuk inflektif suatu kata. Kata-kata atau frasa merupakan satu kesatuan bermakna. Leksikon adalah komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaiakan kata dalam bahasa; perbendaharaan kata yang dimiliki seorang pembicara; daftar kata yang disusun seperti kamus tetapi dengan penjelasan yang singkat dan khusus (Kridalaksana, 1984).

2.2.5 Kearifan Lokal

Isitah lokal dimaknai sebagai tempat sesuatu (tentang pembuatan, produksi, tumbuh, hidup, dan sebagainya) (KBBI, 1991: 600). Terkait dengan budaya Bali yang tumbuh dalam masyarakat Bali dan diakui sebagai milik masyarakat dapat disebut sebagai budaya lokal Bali. Dengan demikian kearifan lokal merupakan ciri khas budaya Bali yang tidak dimiliki oleh budaya lain. Dengan demikian, kearifan lokal akan menjadi seuatu karakteristik budaya setempat.

Beberapa konsep di atas kiranya sangat relevan dalam mengkaji keoptimalan leksikal dalam teks tutur sebagai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bali dan teks tutur tersebut terekam dalam bentuk lontar-lontar yang merupakan warisan budaya yang tak ternilai. Istilah yang umum digunakan untuk penyebutan nilai budaya dan sastra adalah nilai-nilai yang adi luhung.

(15)

9 2.3 Landasan Teori

Hasil penelitian yang baik mesti didasari oleh penerapan teori yang tepat. Teori memberi arahan penelitian harus berjalan melalui data-data yang diperoleh. Terkait dengan tema penelitian ini akan digunakan taori Systemic Fungtional

Linguistics. Teori ini diindonesiakan oleh para pakar linguistic menjadi Linguistic Sistemik Fungsional (LSF). Teori ini dikembangkan oleh Michael Alexander

Kirkwood Halliday seorang sarjana kelahiran Leeds-Inggris 13 April tahun 1925. Dia memperoleh gelar doctor atau Ph. D. tahun 1955 (dalam Sutjaja, 2012: 3). Di kalangan para linguis yang popular dengan nama M. A. K. Halliday.

Teori LSF menekankan konsep sistem dan fungsi. Ssistemik berasal dari definisi bahasa sebagi suatu “sistem’ yaitu seperangkat pilihan yang saling menonjol yang timbul bersama-sama pada suatu titik dalam suatu struktur linguistic. Sementara konsep fungsi berarti bahasa sebagai sistem harus fungsional atau bahasa itu berfungsi dalam aktivitas sosial. Tekait dengan konsep tersebut, dalam LSF memuat empat gagasan penting sebagai kategori umum, yaitu: unit, sistem, struktur, dan kelas.

Unit dalam pandangan LSF, ada dua jenis, yaitu unit bahasa tulis dan unit tata bahasa. Konsep unit dapat dipahami ketika berbicara dalam teks. Dalam teks tulis, misalnya, dalam sebuah paragraph terdiri atas unit dari unit yang terkecil, yaitu huruf (membentuk morfem), morfem, kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat. Sementara, unit tata bahasa adalah satuan morfem merupakan satuan terendah dan klausa satuan yang tertinggi. Kedua unit tersebut dibedakan dari kalimat karena kalimat bukan merupakan inti tata bahasa, melainkan unit bahasa tulis yang bermula dengan huruf capital dan berakhir dengan tanda titik. Jadi satu kalimat dapat direalisasikan dengan satu klausa saja (saragih, 2002: 9—10). Kedua unit ini diberi terminology yang berbeda, yaitu unit untuk bahasa tulisan dan rank untuk tata bahasa.

Sistem merupakan padanan kata sistemik. Bahasa tersusun atas sistem-sistem dari istilah-istilah yang satu sama lain memberikan nilai-nilai yang didapat hanya dari sketergantungan di antara mereka. Sistem juga merupakan seperangkat unit-unit

(16)

10 secara paradigmatik, satu sama lain bisa saling menempati dalam suatu struktur. Sistem adalah seperangkat unit secara vertikal.

Struktur adalah susunan unsur-unsur secara horizontal. Setiap unit bahasa memiliki struktur atau susunan, misalnya, sebuah kata buku memiliki struktur fonogis, yaitu / b, u, k, u/, pola kanoniknya bu – ku. Pada struktur yang lebih, yaitu bidang morfologi dan sintaksis juga terdapat struktur. Strktur fungsional gramatikal, seperti subjek, predikat, dan seterusnya. Struktur semantik, seperti agen-proses-pasien/tema.

Istilah kelas juga disebut kategori gramatikal yang berupa tataran kata sampai dengan klausa. Sebuah kata memiliki kelas atau kategori tersendiri sesuai dengan kalsifikasinya. Kategori nominal dapat berupa kata-kata nominal, frasa nominal, klausa nominal. Demikian kategori yang lainnya. Selain konsep umum di atas, terdapat dua gagasan lain, yaitu kategori dan level. Kedua gagasan itu disusun untuk menjelaskan aspek-aspek formal dari bahasa. Tiga level pokok, yaitu FORM, yaitu organisasi substansi bagi peristiwa yang padat arti, yaitu leksis dan grammar, SUBSTANCE, yaitu materi fonik dan grafik, dan CONTEXT, yaitu hubungan antara form dan situasi, yaitu semantik. Teori dan konsep-konsep yang disebutkan di atas dapat mengayomi penelitian ini.

Selain teori di atas, dalam penelitian ini juga didukung dengan teori fungsi bahasa. Beberapa pakar yang pantas disebut dalam kajian fungsi bahasa, yaitu Malinowski (1923). Beliau mengelompokkan bahasa ke dalam dua kelompok besar, yaitu pragmatik dan magis. Jakobson (1960) menambahkan tiga fungsi lagi, yaitu fungsi puitik, yang terarah pada pesannya, fungsi transaksional, yang terarah pada sasarannya, dan fungsi metalinguistik, yang terarah pada kodenya atau lambangnya (Halliday dan Hasan, 1994: 20-21). Kolaborasi dua teori di atas kiranya relevan untuk mangkaji keadaan teks tutur dalam naskah-naskah lontar di Bali.

(17)

11 BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan masalah di atas, maka tujuan khusus penelitian ini adalah:

(1) Teks tutur di Bali dalam bentuk naskah lontar yang ditulis dengan huruf Bali. Teks tutur tersebut dialihaksarakan ke dalam huruf Latin. Setelah itu dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Pelaksanaan proses penelitian tahap demi tahap terhadap teks tutur yang akan menjadi sampel penelitian dapat dipahami secara lebih mudah. Dengan demikian, dalam mendeskripsikan dan mengklasifikasikan kategorisasi leksikal mana yang secara optimal dalam teks tutur dapat terealisasi. Kuantitas lesikal/kategorisasi yang lainnya mengikutinya sebagai penetapan ranking kuantitasnya.

(2) Teks tutur yang ada di masyarakat sangat banyak. Oleh karena itu, klasifikasi dan tabulasi data secara baik akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Selanjutnya, perlu dilakukan reduksi data untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan tercukupi. Berdasarkan penemuan hasil leksikal secara optimal maka dapat mendeskripsikan dan menjelaskan karakateristik teks tutur dalam naskah lontar di Bali, jika dibandingkan dengan teks-teks lain yang ditulis di atas daun lontar.

(3) Terkait dengan pemerolehan hasil penelitian tersebut, temuan-temuan yang ditargetkan dalam penelitian ini adalah berupa keoptimalan leksikal dalam teks tutur, yang pada akhirnya akan tampak karakeristik teks tutur sebagai salah satu karya sastra tradisional bali jika dibandingkan dengan teks-teks lainnya. Dengan demikian, penerapan teori juga teruji kebenaranya. Dalam pemecahan masalah tim peneliti bekerja secara bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang optimal. Bidang-bidang kelinguistikan dan kesastraan perlu dielaborasi untuk mendapatkan karakteristik teks tutur di Bali sehingga

(18)

12 dapat menunjang revitalitas kearifan lokal Bali. Kekuatan budaya yang dimiliki kiranya dapat memperkokoh jati diri mayarakat Bali.

3.2 Manfaat Penelitian

Fenomena adanya degradasi moral sering sekali terjadi di masyarakat, seperti bentrok massa, emosi sesaat, ejekan-ejekan dalam media elektronik, main hakim sendiri dalam menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Hal tersebut ditengarai kekurangdewasaan dalam memahami dan menghayati guna merevitalisasi nilai-nilai luhur bangsa yang tersurat dalam naskah-naskah sebagaimana yang terdapat dalam teks tutur. Naskah dalam teks tutur merupakan rekaman warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, memahami isi teks-teks tutur dalam karya sastra tradisional Bali khususnya generasi muda sangat diharapkan dan diperlukan guna introspeksi diri dalam membangun masyarakat yang madani serta rasa saling asah, asih, dan asuh dalam bermasyarakat. Dengan harapan bahwa pemahaman isi teks tutur yang disusun dalam wujud leksikal perlu digali lagi lebih lanjut sehingga bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam spektrum yang lebih kecil, yakni sebagai introspeksi diri. Apabila diri sendiri sudah memahami dengan baik nota bene akan menularkannya kepada yang lain. Lama-kelamaan pasti teraktualisasi makna yang tersirat dalamnya. Di samping itu, karateristik teks tutur sangat perlu dilakukan dan dipahami sehingga dapat membantu dan mengingat kembali makna dan nilai yang tersurat dalam teks tutur tersebut. Pemahaman secara linguistik yang baik kiranya dapat mengembalikan jati diri masyarakat Bali dalam mengajegkan kearifan lokal Bali.

(19)

13 BAB IV

METODE PENELITIAN

Secara umum, penelitian ini bersifat kualitatif. Penelitian ini mengkaji teks

tutur sebagai salah satu jenis karya sastra Bali klasik. Secara universal, Tanaka

(1976) membedakan pendekatan karya sastra ke dalam dua jenis, yaitu pendekatan yang bersifat mikro sastra dan pendekatan yang bersifat makro sastra (Endraswara, 2008: 9). Dengan demikian, karya sastra jenis tutur akan diteropong dari kedua pendekatan tersebut. Lebih lanjut, dijelaskannya bahwa metode sangat penting dalam melakukan penelitian karya sastra karena karya sastra merupakan fenomena unik dan juga organik yang memuat serangkaian makna dan fungsi. Oleh karena itu, karya sastra syarat dengan imajinasi, namun terkadang dapat berupa realitas sosial yang mampu menghasilkan penelitian sastra yang kreatif. Sebelum melakukan penelitian, lokasi penelitian perlu dijelaskan secara singkat. Rangkain metode penelitian ini dideskripsikan seperti berikut ini.

4.1 Lokasi Penelitian

Karya-karya sastra tradisional merupakan karya sastra yang perlu dikaji ulang untuk mendapatkan hasil yang dapat dipahami secara lebih mudah oleh masyarakat. Penentuan lokasi ini penting untuk mendapatkan data yang komprehensif terhadap sikap masyarakat dalam pemahaman tutur di Bali. Lokasi penelitian ini ada dua, yaitu masyarakat pengguna tuturan dan pemahamn teks tulis beruapa naskah lontar, yang didahului oleh transkripsi dan transliterasi. Secara tegas dikatakan bahwa penelitian ini dilakukan di Bali.

(20)

14 4.2 Metode dan Teknik Penyediaan Data

Objek penelitian ini bersumber pada teks. Sumber data teks yang dimaksudkan adalah teks karya sastra yang dikalsifikasikan dalam jenis tutur. Sumber data dibedakan atas dua jenis, yaitu data primer dan sekunder. Data primer diambil langsung dari teks tutur, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur atau penelitian-penelitian yang terkait dengan masalah yang diteliti. Terkait dengan hal itu, metode yang digunakan adalah metode observasi dan simak. Menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis. Penyadapan bahasa lisan apabila peneliti secara langsung bercakap-cakap dengan penutur bahasanya. Penyadapan bahasa tulis terjadi jika peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa teks, misalnya: naskah-naskah kuno, teks narasi, bahasa-bahasa pada media massa, dan lain-lain (Mahsun, 2005; lihat juga Bungin, 2001: 57; Moleong, 2000; Creswell, 2009). Untuk penyempurnaan data dibantu dengan teknik catat, rekam, terjemahan, Focus Group Discussion (FGD). Langkah-langkah pada penyediaan data, yaitu inventarisasi dan penetapan naskah sebagai sumber data; mengklasifikasi, elisitasi, reduksi data dan dilanjutkan dengan proses berikutnya.

4.3 Metode dan Teknik Analisis Data

Tahapan analisis data merupakan tahapan yang sangat menentukan dalam proses penelitian. Pada tahapan ini kaidah-kaidah yang mengatur keberadaan objek penelitian harus dapat dirumuskan. Kaidah-kaidah yang ditemukan walaupun sesederhananya merupakan inti sebuah aktivitas ilmiah. Ada dua metode utama yang

(21)

15 digunakan dalam analisis data, yakni metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual. Ada dua konsep dalam metode intralingual, yaitu konsep padan dan konsep intralingual. Konsep padan adalah membandingkan atau sesuatu yang dibandingkan dan sesuatu itu mesti mengandung makna adanya keterhubungan, sehingga padan diartikan sebagai hal menghubung-bandingkan, sedangkan intralingual mengacu pada unsur-unsur yang berada dalam bahasa (bersifat lingual). Metode yang abstrak, agar dapat teroperasional dengan baik, dibantu dengan teknik sebagai langkah konkretnya. Adapun teknik-teknik yang digunakan adalah teknik hubung-banding menyamakan (HBS), teknik hubung-banding membedakan (HBB), dan teknik hubung-banding menyamakan hal pokok (Mahsun, 2005: 111--113; b.d. Djajasudarma (1993); Sudaryanto (1993).

4.4 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis

Hasil analisis disajikan dalam dua cara, yaitu (a) perumusan atau uraian dengan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis dan (b) perumusan dengan menggunakan tanda-tanda, tabel atau lambang-lambang tertentu yang sudah menjadi suatu konvensi penelitian. Kedua metode itu lazim disebut dengan metode informal dan metode formal. Metode ini dilengkapi dengan teknik induktif (penyajian dari khusus-umum) dan deduktif (penyajian dari umum-khusus).

(22)

16 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Teks Tutur

Sampel teks tutur yang dipilih pada penelitian tahap I ada dua buah, yaitu Tutur Sarining Rajapeni dan Tutur Aji Pari. Teks tutur Sarining Rajapeni berkaitan dengan membangkitkan microcosmos (diri sendiri/badan) dan makrokosmos (alam semesta) yang bersifat supranatural. Tutur Aji Pari berbaitan dengan tata cara memelihara padi supaya tumbuh dengan baik yang dapat mensejahterakan rakyat banyak (lebih lanjut, baca teks di bawah ini).

5.1.1 Deskripsi Teks Tutur Sarining Rajapeni.

Teks Tutur Sarining Rajapeni dialihaksarakan dan dialihbahasakan dari teks asli berupa naskah lontar koleksi Unit Pelayanan Teknis Lontar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Teks tersebut berjumlah dua belas lembar daun lontar dengan panjang 44,5 cm dan lebar 3 cm, disimpan dalam kropak 10, nomor Rt.98. Teks dimulai dengan kalimat: Pancāksara, ngaran NAMASIWAYA.... dan berakhir dengan kalimat ….. mangkana

kawiçesaning manuk blatuk. Di dalam naskah tersebut terdapat satu halaman yang kosong,

yaitu pada halaman lontar 9.b. Tidak adanya tulisan dalam naskah lontar tersebut diperkirakan bahwa saat memulai menulis di atas daun lontar teks yang di atasnya sudah selesai. Di samping itu, dikarenakan adanya teks/topic lain lalu ditulis pada lembar berikutnya (10a). Ini sebenarnya tidak lazim terjadi dalam tradisi tulis lontar di Bali. Pada umumnya penulisan naskah selalu menyambung dari lembar sebelumnya ke lembar berikutnya tanpa adanya ruang kosong walaupun teksnya/topiknya berbeda. Secara keseluruhan, teks terdiri atas dua bagian, yaitu ajaran kedyatmikan/kekuatan pikiran, untuk

(23)

17 menanggulangi segala wabah penyakit dan disertai kekuatan burung pelatuk berdasarkan perolehannya di alam ini. Intisari dari teks adalah membangkitkan alam makrokosmos dengan mikrokosmos yang disimbolkan dengan aksara suci. Hal ini dapat dipahami karena tubuh manusia merupakan mikrokosmos atau merupakan bagian kecil dari makrokosmos. Semua unsure-unsur makrokosmos ada dalam mikrokosmos atau sebaliknya. Mikrokosmos dengan bagian-bagiannya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan pikiran.

5.1.2 Deskripsi Tutur Aji Pari

Secara bentuk, Tutur Aji Pari memiliki identitas, yaitu panjang 50 cm dan lebar, 3,5 cm. Jumlah lembar adalah 6 lembar dan disimpan dalam kropak 29 pada Pusat Kajian Lontar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Tutur Aji Pari dikhususkan pada masyarakat yang bergelut dan memiliki lahan persawahan yang pada akhirnya menghasilkan padi. Padi yang tersedia banyak menyirikan masyarakat tumbuh subur tentram dan damai.

Secara tentatif, tutur aji pari mengandung ajaran tentang tata cara memelihara padi dari proses awal sampai menjadi bahan pangan. Adapun setia tingkatan cara tersebut telah diayomi oleh bhatara atau dewanya. Masing-masing nama dewa pengampunya mesti diawali oleh kata-kata/lelsikal ’sri’ (yang merujuk pada nomina padi). Misalnya, apabila padi sedang/dengan tiga helai daun bernama Bhatara Sri Tigadewi, dengan empat helai daun bernama Bhatara Sri Wanodewi, dengan lima helai daun bernama Bhatara Sri Madewi, dengan enam helai daun beliau bernama Bhatara Sri Caturdewi, dan seterusnya.

(24)

18 5.2 Transkripsi dan Transliterasi Teks Tutur

5.2.1 Tutur Sarining Raja Peni

1.b Awighnamāstu, pancāksarā, ngaran, NAMAÇIWA YA, Panca Brahma, ngaran, SABATAAI, patěmu nirā inaranan dasāksarā, sapuluh kweh nirā, umungguh ring çarirā, tunggalakna sirā kālih, ikang nagarā, tunggal, mwang SA karā, ikang MA karā tunggal mwang BA karā, ikang ÇI kara, tunggal mwang A karā, ikang YA kara, tunggal mwang I karā matangyang muah suksmākna, ikang SA karā lawan BA kara matěmahan A kara, ikang TA kara, lawan A kara matmahan U kara, ikang I kara, matmahan, MA kara, matangyan I karanan Triākasa, luirnia, Ang Ung Mang, I U, mungguing ser, I A, mungguing tngah, I MA, mungguing luhur, matangyan, dadi Unākarsa, urip wkasan tinulung ta ya anggāngsa, nga, akarsa tan kna sinabdāken, luirnia-/- 2.a wtu saking sunia tatwa, Nada ngaranira, Windu ngaranira O, Ardacandra

ngaranira, wkasan matmu ta ya lawan U, irika ta ya dadi, OM, matangyan tka ri pati sang, yogiçwara maka marga ring Sanghyang Panca Paramartha, maka sasana yogā, ndia ta kasikapanira, lima kwehnia SA kara, U kara, Ardacandra, Windu, Nada, I kata kata kalinaning maring Bhatara Paramārtha Siwa, tan paingan lpasira, kunang sang wruh irika, sirā ta wnang aranana yogi, apan yogā jana, ANG, ngaran, Iswara witning atikahan nirā, Ardacandra, nga, Mahadewa Windu, ngaran, Bhatara Sada Siwa, Nada, ngaran, Bhatara Paramasiwa, etuning Panca Paramārtha lima kwehnira, nabhi hrědaya-/-

2.b. talu, kanta, kasā, ikā ta kalima kasikěpanira, yan pralina, yan kna sawiji, kna kalima, Brahmajanā, ring nabhi, wisnujana, ring ati, iswarajana, ring patunggalaning, Tri naddhi, witning lidah, inaranan talu, madewa janā, tan paingan maring bhuwana çarirā, ananda Paramaçiwa ajana lpas, tan paambun, luput winastu nirbhana jnana wiçesa, tan kaiděp tan katutur Sanghyang Ara aranira, sira kaangkěn manik akal, Sanghyang janā, yāngken sana, ngaran, sarapandi, etunian inaranan Paramārtha, sirā ta sinangguh don sang pandita janā

(25)

19 sara, yan aksara, ANG, UNG, MANG, OM, ring nabhi, nabhi, ngaran, puser, woding pusěr gnah ira, rupa kadi apwi, kadi damar tan pakukus -/-

3.a sira inaranan Brahma mulaning dadi, janā sira ikang aksara, UM, Wisnu dewa, ring ampru ungguhanira, rupa kadi ijo mantěn, sira ingaran lingga ring ati, sira jawā, trus, anak-anakaning mata, ingaran Sanghyang Çiwa Kreta, lingga jati sirā, ling sang pandita ikang aksara, MANG, Içwara sirā rūpa kadi sapatika witning bulu ungguhanira, sirā tungtungin bayu, ikang aksara, UNG, ring witning ati gnah ira, sirā ta kumaluung tan parūpa, witning bayu, witning sabdā, witning iděp, witning tungtung sirā kabeh, sirā dewaning rāt, uriping rāt kabeh, sarining pūjā, sarining tapa brata, kari ngingět ingětaknā, mulādara witning pusěr, tka ring palulungguhan, ring mulādara, padmā lawā, U,

3.b. ring ati padmā lawā, pha, ring bulu padmā, lawā, 16 Sanghyang mrtha sanjiwani, ungguning Sanghyang Çiwa, Sadha Çiwa, Çiwa Parama, tumpang tělu, ika, den ingět agěng phalania kinawruhin, da papaning sarirā ilang, yan ta gdenang angisěp, iya tutur, ngaran, suksma ta ya mur tiber

Nihan pasuk wtuning rāt, wyaktinia, OM karatma, sarirā, ingkana witning tri nadi, ngaran, awaning we, bayu, anunggal ta ya witning ati, pratistha nira, ingkana witning ati, sinangguh pancāksara, mwang panca Brahma, luirnia nihan, BHAMASIWAYA, SABATAAI, sirā ta pinratistha, ring ati, atumpuk ta ya lawan ampru A, witning ati, madyaning ati, A, tur tungtunging ati, panunggal nira ring ampru mapisan lawan sang

4.a hyang Panca Brahma, makanimitaning wiçesa iděp, masat pwa kita sakerika, mulih maring sabda, sabda mulih maring iděp wiçesa, kahawa dening bayu, manděg ta ya ri pasimpaning tri nadi, ya ta iděp mantra Ang

Tlasaning bapa ibu, dadi awu gseng dening sanghyang Agni rahasianeng pusěr, ingiliran dening bayu sangkeng irung kālih, masuk maawan liangnia kiwa tngěn, Ah mantra knā, margania maring susumna nadi, mareng ati ingkana

(26)

20 gnahing bayu anunggal, ring witning tri nadi, raris akna maring kundasthana, rahasia aneng pusěr, ngurik agawe sadhining Agni murub, gumsenga sarwa papaning sariranta, panengěraning Agni wrěddhi, asing pinangan, tanana minarani, jirna ring jro wtěng

4.b. sadakala ulakna, ana pinaka inum-inuman nitya kala, sanghyang amrtha kundalini ngaranira, OM kara sungsang ring witning gulu, kundalini, Om kara nira ring dada ardhacandra nira ring patmoning iga ring dada, windu nira ring ati, nada nira ring nabhi, matania sanghyang amrtha timiti sakeng witning ati, maring sarwa sandhining sarira, ya ta dirghayusa dalania. Kunang yan apisah ikang bayu lawan agni rahasia, ajarnia pati kita, panengěrania mata tan panon rāt, talinga tan pangrenge, ilatan pangrasa nirasa, inutas mtu saking tungtunging lidah, yan mangkanā, tan urungan pati tka, iděpe nika sanghyang měrtha kundalini, maring patnga-tngahaning irung lawan muka, nirmala warna, pangawaking tan tresna pratisthanen ring ati sanghyang

5.a pancāksara, mwang panca brahma, ring atinta, luir nihan, NAMASIWAYA, SABATAAI, pratisthanen ring ati, unggu kna, ba, ring tumpuking ati, ta, ring ampru, A, ring witning ati, I, madyaning ati, sa, tungtunging ati, panunggalanira ring ampru, mapisan lawan sanghyang pancāksara, mwang panca brahma wkasan dadi OM kara mungguhing ati, tungtunging nadanira umarep ming luhur, irikang nadi sumsumna, iděp uga wiçesa, kagawaya dening bayu wiçesa, yan arěp msata marga siwaduara, sabdā wiçesa den mulih maring iděp wiçesa, iděp wiçesa kagawaya dening bayu wiçesa, mandeg ta sanghyang atma, ring pasimpanganing tri nadi, ata idhep mantra kna, A, Uming luhur, maring tenggek, ngkana ta sanghyang Om kara kundalini ring ati, pat menana lawan sanghyang Om kara -/-

5.b kundalini sumungsang, ring rai, ya ta ika ingaran ngadu pucuking rwi, idep bhatara uga sariranta, mantrakna wkasan, dadi tunggal, bnerakna sanghyang nada, maring awakta anuru ring bhyoma Çiwa marga, mantrakna sah saking

(27)

21 windunan, tinggalakna kang idep, aywa midep bayu, sabda, idep, irika makweh warna katon, sad warna nika luirnia, putih, kuning, abang, ireng, kunang warna sad muah, luirnia dadū, jingga, ijo, biru, wolu ika, sangkane gnep astadalane, ika ta aywa tinut denta, kasasar yan tutanakna, ana kadi paesan purna katon, nirmala sadha kala, apadan, ahning, malilang, tan patalutuh, sudha sapatika, anarawan, ika ta tutan denta, ya hawan umareng Çiwa padha, aywa sang jaya -/- 6.a gegemta ring tanganta tan pagamelan, ya, mantrakna ikang awak sunia, yan kawasa dharana ika, ri sdeng ing kapatinta, mangkana yan amarga Çiwa dhuara. Awighnamāstu nama siddhiem

Nian tutur sarining raja peni, nga, wenang ingangge de sang pandhita, lewih ring rasa sukla, sang amahyun ring kamoksa nispraya, raga uttama, nga, Apan sanghyang raja peni, tan sah paroking sanghyang bhuana kabeh, apan lewihing uttama, maka putusing daya kamoksan, luirnia kretaning adnyana, ganal kalawan alit, kawruhakna, duk tan ana paran-paran, norana sakawuwus, ika sapta sunia nirbhana, ngaran, sarining sapta sunia nirbhana, akentelnia sadidik, kadi,

6.b ya paput pinara pitu gengnia, rūpania kadi paligo, mijil ika, dadi sanghyang Çiwa reka, endah snania, sarining sunia pantara nira, Ang swara nira, yan ring bhuana alit ring gambur anglayang palingganira, ring kukusing Çiwa dhuara, pasuk wetu nira, ika sari-sari sinusunan sari, mayoga sanghyang Çiwa reka, mijil sanghyang tunggal, mayoga sanghyang tunggal, mijil sanghyang parawiçesa, mayoga sanghyang paramawiçesa, mijil sanghyang taya, mijil sanghyang chintya, mijil sanghyang Çiwa, mayoga sanghyang Çiwa, mijil dewata sanga, hyang içwara, hyang mesora, brahma, ludra, mahadewa, sangkara, wisnu, sambu, ring tengah Çiwa, sadha Çiwa, parama Çiwa, ika dewata, sami -/-

7.a sapasang pasang, ardhanareswari. Mayoga sanghyang parama Çiwania tatiga, sanghyang Saraswati, mangempu nira juga, sanghyang Çiwa, sadha Çiwa,

(28)

22 amijilana, . angka, windu, carik, pamada, mwang tengenan. Hyang içwara mayoga, mijil bhagawan mredu, mijil tutur sundari trus, pinaka prawaning wariga anaksara wariga, pinaka pacatuning bhuana kabeh, sanghyang licin, sanghyang nila, rawu, ketu, maka pangempu nira, ana sanghyang Çiwa gotra, sapasang pangempuning tenung mwang mrecukundha, ana wedha sarwwa sandhi, pamala, pamali, sanghyang pamala, masusupan -/-

7.b ring candra, sanghyang pamali, masusupan ring surya, ana manik, dha, mijil kang tri bhuana, ana pritiwi, apah, akasa, pepekatkeng pangisinia, prithiwi isinia, mantiga, mataya, maharyan. Akasa, isinia surya, candra, lintang trenggana. Apah, isinia, gni, banyu, angin. Ana raina wengi, samara rana, ana kayan sapuluh, luirnia, panataran, gunung agung, batur, kadewatan, maospait, majapait, pasek, kbon, puseh, bangun sakti, malih sanghyang parama Çiwa mayoga, luirnia, ana swalalita, ngaran, Ang, wreasastra, nga, anacaraka, modre, ngaran, unggrueh, sawiji, winilang rong puluh, kweh aksara, jatining araning dadari krsna, aluwya ring apadang dadi nirangdaning dirah -/-

8.a suta manggali, asta kweh makaro leak, I Rarung, I Jaran Guyang, I Ngeksirsa, misawadana, Ki Lenda, Ki Lendi, Ki Gandi, ika nggawe gring, gleh, wisya, sasab, merana, masawa ring prajapati, majalaran durga. Muah sanghyang Mahadewa mayoga mijil bhagawan wrahaspati, ana agama, adigama, angretaning jagat, sanghyang kundalini pangempu nira. Muah sanghyang Wisnu majapa yogā, mijil aksara mretha sanjiwa, ana usadha, dharma usadha, maka panapwaning lara rogha, wisya sasab marana, ana tukang titiga, luirnia, sanghyang sanghyang Sangkul Putih, nga, mungguh ring Çiwa dhuara, putih jati, nga, dudukun sakti ajapa mantra, malinggih ring tungtunging lidhah, anrus maring kaleng

8.b sanghyang linglang rāt, nga, putusing siksik, nga, mungguh ring sikan, maka katik ira bhatara Wisnu ajapa katikengkeng Wisnu toya, nga, marmane angarantukang katakpwan, nga, anambanana gring panas, tukang sakti ajapa

(29)

23 mantra, anambanana gring asrep, sanghyang tiga wiçesa juga anyakra, tutug ring lawan usadha, idha sanghyang Brahma, Wisnu, Içwara anuduh sanghyang Çiwa reka duk mijil ikang tri bhuana, prithiwi, apah, akasa, amaremi manusa, sarining sunia dadi janma kdi, sarining pritiwi dadi janma wadhu, sarining akasa dadi janma lanang, kinaweh kāma titiga, kang wadhu kāma bang, kang lanang kāma putih, kang kdi kāma dadū, ika ngaran sanghyang

9.a kāmaratih, kāmajaya, kāmapra, sumusup ring manusa kabeh, dresti nira sanghyang Çiwa, Sadha Çiwa, Parama Çiwa, metu tutur kamoksān, ika kakabeh, sanghyang Sadha Çiwa mayoga, metu tapa mwang brata

(9b) ………..

10.a iki sastra wkasing uttama, wit pahin tan padanda wawu rauh, ring ida I Gusti Agung Sakti, jumeneng ring Mengwi, sawireh keweh I Gusti Agung, panagara neka rusak duang deça, mawasta Er Jruk, miwah desa Bungkul, kagringin antuk I Balian Batur, akweh kawula Mengwi kautus ngamatiang I Balian Batur taler nora sida mati, raris dane i bandesa mapesengan I Gde Gumar, kapandikayan ngamatiang I Balian Batur, kaicen sastra, ne mawasta sanghyang Agni wirocana, muah pasupati lacana, weda salambang agni, ika mantra matiga, kagelarang antuk i bandesa, mahawanan kasor kawiçesane balian bature, katkeng pianak miwah sisyania kabeh padha sida mati. Iki sanghyang Agni wirocana -/-

10.b ça, sabuk putih surakna sarining mantra iki, pangawaknia uncarakna, sa, sedah pwatne padha, mantra, Ong Çiwa budha krodhante, dwiyat sariniem maha

madriem, pabakseng satru saroiam, sadriem agni racaniem.

Wisamantragni salokiem, rudrewak sasadha siwiem, rodra pat kala tri bhudhiem.

Tisagni sangka Ong kariem, diawiem due para marcniem, agni pagaye Ong kariem, purwanie baise prajem.

(30)

24

Uh wah, guektiem wresiah kawatweng bhuwa tutang, Ah wah, Ah wuh, Ah due dang Langu langit, cakiem, U, walokiem bunia kasa, talu, U, sarinia, gnahang

ring sabuke putih, palania tan kataman gring sapa

kurenanta, sakwening kawiçeṣaning leak, pjah katadah dening sanghyang Agni wirocana

11.a iti sanghyang weda salambang geni, nga, sarana, dluang kretas rajah sarining mantra pangawaknia uncarakna, sarana, lalang, skarakna, mantra, Ong praname

bhaskara dewiem, surya sthawa tri locaniem, reṣi salokia Ong kariem.

Prajasthawa maha sakti, sahogriem palawyaksariem, prani dieng praja sawakriem, tri puja waksya petaliem.

Paredrala wyaksara nica, bhaskare braprasieng kariem, agniye jala kreteng prajiem, weda puraniasa bhuaniem.

Hrung tang wrekah, wuhwuh mulajit mas, tragung bhumi, malomba patiem, wyar, 3, ring hyungkah grigah griguh, Ah, 3, sarinia gnahang ring kretas

Iti sanghyang pasupati racana, ngaran, sarana, pripih tambaga, sarinia gnahang ring pripih tambaga, pangawaknia

11. b uncarākna, sarana, sarining pucuk bang, sekarakna, mantra, Ang ring griwar

sthano waktiem, sara due dhuara sariniem, prayuti rogha sabwaniem, basmi rogha nieng saprajiem.

Swastiem sarwie grasa puriem, prawakiem raksasa rogihiem, wighna samastu sapurniem, pasupatie sarwa racaniem.

Sang sraniem para sutreptiem, wisaniem marama kitiem sarwa ila- iliang kariem, sarwa dewa-dewa pragiem.

Beh, rang ring ang sah, Ung, 3, Ing, 3, Eh sreng, 3, iki sarinia , aywawera, wkasing mawiçesa, iki matmahan ngulungang kawiçesan I Balian Bature, raris katumbakin tkaning sisya kabeh, tlas sajawining ne alit sai kakejarania, aywawera ila-ila, yania pageh sira mamong aksara iki, masuara tan kataman -/-

(31)

25 12.a sakwehing gring, masaka nem pitu, kawolu, sasab, merana, grubug tayun, mwang sosot pitra, mwang dewa, tkaning sor, tan tumama pwa ya karang sawah tenget, tan mikarani, alas aeng, buron galak, pada tan wani, jagat pada asih, sang prabu asih, mangkana palania. Wnang anggen kawitan.

Nian kaweruakna wiçesaning manuk blatuk, bakat ring dina, bu, ka, yan wruha, cucuknia ring luhur, ginawe panyepah kris, cucuknia ring sor, tuna ginawe sisig, pa, kukuh, kang untu, ilate binakar, pha, pradnyan angraos, kuncunge, ginawe susu wuking rare gadak, polone ginawe pupur, worin adas, unceng langkuas, pulasai, pha, nora lamur, bulune pinanggang, pangan, pha, pangilangakan lara rogha

12.b mwang mala pataka pupuh aweta tuuh, adom, balung awaknia binakta angawula, pha, kinasiahan dening gusti, balung sawiwine, pinanggang, panggang, pha, klar ring ambek, dadane pingan, dha, apadang atinia, gtihe anggen tutuh mata, pha, angilangaken lara rogha, atinia, anggen loloh, awor lenga kalapa ijo, pha, asihing mitra mangkana kawiçesaning manuk blatuk. Puput ring dina, sa, ka, wayang, sasih, ka 8, tang, 1, rah, 1, tenggek, 8, isaka 1881. 30, yanohari 1930

Transliterasi teks. 1.b. Semoga Selamat.

Yang bernama Pancaksara, yaitu Na, Ma, Si, Wa, Ya. Yang bernama Panca Brahma, yaitu Sa, Ba, Ta, A, I. pertemuannya dinamai Dasaksara, sepuluh banyaknya, bertempat di badan, satukanlah keduanya. Na, kara itu menyatu dengan Sa, kara. Ma, kara itu menyatu dengan Ba, kara. Si, kara itu menyatu dengan A, kara. Ya, kara itu menyatu dengan I kara, itulah sebabnya pikirkanlah. Sa kara dan Ba kara itu menjadi A kara. Ta kara dengan A kara itu menjadi U kara. I

(32)

26 kara menjadi Ma kara menyebabkan menjadi Triaksara, yaitu Ang, Ung, Mang. I, U bertempat di bawah (anus), I, A, bertempat di tengah (hati), I, Ma, bertempat di atas (kepala), menyebabkan menjadi Unakarsa, akhirnya hidup yang menolong tubuh, yang bernama akarsa, dan tak dapat diucapkan, yaitu -/- 2.a. keluar dari tutur kekosongan (hampa), Nada namanya, Windu adalah O, (itu)

namanya ardacandra, arkhirnya bertemu dengan U, disitulah menjadi Om, itulah sebabnya kematian sang Yogiswara, sebagai jalan ke Sanghyang Panca Paramartha, sebagai sarana yoga, di manakah tempatnya (perlengkapannya), lima banyaknya Sa kara, yaitu U kara, Ardacadra, Windu, Nada, I kara, kata-kata kehancuran pada bhatara Paramartha Siwa, tak terhingga lepaslah dia. Adapun (orang) yang tahu itu, dialah pantas disebut yogi, karena jana yoga. Yang namanya Ang, Iswara asalnya atikahannya, ardacandra namanya, Mahadewa Windu namanya, Bhatara Sadasiwa, nada namanya, Bhatara Paramasiwa, itulah Panca Paramartha lima banyaknya, nabhi hredaya -/-

2.b. talu, kanta, kasa. Itulah kelima kelengkapannya, jika hancur (mati), jika kena sebiji, kelima(nya) kena. Brahmajana di nabhi (puser), Wisnujana di hati, Iswarajana di tempat penyatuannya, tri nadhi dari lidah, dinamai talu, orang berkah dewa, tak terhingga pada badan, bersimbolkan Paramasiwa oranynya lepas, tanpa awan, lepas menjadi nirwana orang yang pintar, tidak dipikir dan tidak dikatakan namanya Sanghyang Ara, Itu disangka manik akal (permata bagus), ia disangka Sanghyang Jana namanya, itulah sebabnya dinamai Paramartha, itulah yang merupakan tujuan sang pendeta pada intinya, jika aksara, Ang, Ung, Mang (menjadi) Om, di nabhi disebut puser, tempatnya di pangkal puser, rupanya seperti api, seperti lampu tanpa asap-/-

3.a. itu dinamai Brahma sesungguhnya menjadi intisari aksara itu. Um Dewa Wisnu tempatnya di anus, rupa hanya hijau, itu disebut dasar hati, lalu ke orang-orangan mata, bernama Sanghyang Siwa Kreta, itulah tempat sesungguhnya, aksara yang disebutkan sang pendeta itu. Mang, dewanya Iswara rupanya

(33)

27 seperti metrum di pangkal bulu tempatnya, itu puncaknya bayu (kekuatan), Aksara Ung itu, di pangkal hati tempatnya, itulah disebut kumaluung yang tidak berujud, dari bayu (kekuatan), dari sabda (ucapan), dari pikiran, dari ujung/puncak itu semua, itu dewanya dunia, hidupnya dunia semua, intisari pemujaan, intisari tapa brata, tinggal ingat-ingatlah.Muladara di pangkal puser, sampai pada tempatnya, di muladara, padmalawa. U -/-

3.b. di hati padma lawa, pha di bulu padmalawa, 16 Sanghyang mertha sanjiwani, sebagai tempat Sanghyang Siwa, Sadha Siwa, Parama Siwa, tumpuk tiga, itu harus diingat dan diketahui besar pahalanya, dosa-dosa badan menjadi hilang/lenyap, jika itu sangat dicamkan, itulah nasihat namanya, ia terbang melayang lalu hilang/lenyap.

Itulah keluar masuknya tubuh/dunia, yaitu, OM karatma, badan, itu berasal dari tri nadi, namany, karena air, bayu, menyatulah itu di dalam hati, pembersihannya di dalam hati juga, disebut pancaksara dan panca brahma, yaitu Na, Ma, Si, Wa, Ya, Sa, Ba, Ta, A, I, itulah dibersihkan di hati, bertumpuklah dia dengan anus, yaiitu A, dari dalam hati, dari tengah hati, dan dari ujungnya hati, bersatunya di dalam anus bersamaan dengan sang -/-

4.a hyang Panca Brahma, yang menyebabkan kemampuan pikir, sejajar juga kamu di sana, kembali ke sabda, sabda kembali ke idep (kemampuan pikiran) , dibawa oleh bayu (kekuatan), kemudian berhentilah ia di persimpangan trinadi, camkanlah itu mantra Ang.

Akhirnya badan ayah dan ibu hangus menjadi abu terbakar oleh Api rahasia yang ada dalam puser. Di terpa oleh bayu dari kedua lobang hidung, masuk menyebabkan lubang kiri kanan, ucapkan mantra Ah, arahnya ke sumsum nadi (pembuluh besar), di hati hati sana tempatnya menyatu dengan bayu, di dasar tri nadi, lanjutkan menuju kundasthana (periuk), rahasia yang ada dip user, masuk membuat kobaran api, (yang) akan membakar segala dosa/kotor tubuhmu.

(34)

28 Prakiraan keluar api, segala yang dimakan tidak ada yang menyakiti, sirna di dalam perut.

4.b. setiap saat laksanakan, ada sebagai minum-minuman setiap saat, sanghyang amerta kundalini namanya. Om kara terbalik, dari pangkal leher, kundalini, omkara yang di dadanya ardhacandra pertemuan iga di dada, windu-nya di hati, nada-nya di nabhi (puser/pusat). Matanya sanghyang amerta berjalan dari dalam hati, dari segala sambungan tubuh, jadilah dia umur panjang. Konon jika bayu dan api rahasia (api di dalam tubuh) itu berpisah, akibatnya/ajaran kematian itu, cirri-cirinya mata tak melihat dunia, telinga tidak mendengar, jilatan tak terasa, lepas keluar dari ujung lidah. Jika demikian, kematian akan datang/ ajal pasti menimpa. Pikiran sanghyang mertha kundalini, pada tengah-tengah hidung dan muka, warna nirmala, perwujudan tidak saying, dibersihkanlah di dalam hati sanghyang -/-

5.a pancāksara, dan panca brahma, di dalam hatimu, yaitu, Na, Ma, Si, Wa, Ya, Sa, Ba, Ta, A, I, bersihkanlah di dalam hati, tempatkanlah Ba, di tumpukan hati, Ta, di anus, A, di pangkal hati, I, di dalamnya hati, Sa, ujungnya hati, bersatunya di anus, bersamaan dengan sanghyang pancaksara, dan pancabrahma akhirnya menjadi Omkara bertempat di hati, ujung nada-nya menghadap ke atas, sumsum nadi, kemampuan pikiran, dibuat oleh kekuatan bayu, jika hendak keluar melalui siwadwara, kepinteran ucapan, akan kembali lagi ke kemampuan pikiran, kemampuan pikiran dibangun oleh kekuatan bayu, berhentilah roh/atma di persimpangan trinadi, ucapkan kata dalam pikiran, A, U di atas, di kepala, di sanalah sanghyang Omkara kundalini di hati pertemukanlah dengan sanghyang Omkara.-/-

5.b kundalini terbalik, di wajah (tempatnya), itulah dinamai mengadu ujung duri, pikirkan dewa juga badanmu, lalu ucapkan mantra, menjadi satu, benarkan sanghyang Nada, di badanmu lalu menuju sorga sebagai jalan kea lam Siwa, ucapkan mantra (secara) terpisah dengan windu, kosongkan pikiran, jangan

(35)

29 pikirkan kekuatan, ucapan, pengetahuan, di sana banyak terlihat warna, Sad warna itu, yaitu : putih, kuning, merah, hitam, adapun sad warna yang lain, yaitu: merah muda, jingga, hijau, biru, semua itu delapan, makanya genap daun teratai itu, janganlah itu kau turuti, tersesat kalau itu dituruti, ada tampak seperti

paesan purna, nirmala (suci bersih) setiap saat, terang, hening, menyala, tanpa

cela, bersih permata diterawang, itulah yang harus kauturuti, itulah jalan menuju alam Siwa, jangan yang menang -/-

6.a. digenggam di tanganmu tanpa pegangan, ya, ucapkan matra dengan kekosongan, jika mampu membawa itu, pada saat ajalmu tiba, demikian itu jalan pintu alam Siwa.

Semoga tidak ada halangan

Inilah intisari tutur Rapapeni, cocok digunakan oleh sang pendeta, lebih dengan perasaan suci bersih, orang yang ingin moksa tanpa nafas, wujud utama, namanya, karena Sanghyang Rajapeni, tidak jauh atau dekat dengan dunia luas, karena sangat utama, maka singkat kata, kamoksan yaitu kesejahteraan.ketengan pikiran, besar atau kecil, hendaknya diketahui, ketika ada di mana-mana, tak ada sesuatu yang dikatakan, itu tujuh keheningan nirwana/sorga namanya, sari-sari tujuh kehampaan nirwana kentalnya sedikit, seperti, -/-

6.b ia paput pinara pitu besarnya, rupanya seperti paligo (labu), keluar itu, menjadi sanghyang Çiwa Reka, indah sinarnya, antara sari-sari kehampaannya, Ang suara/ucapannya, jika di bhuana alit(badan) di gambur anglayang tempatnya, di kening (Çiwa dhuara ‘antara alis’), masuk keluarnya, setiap hari sari-sari itu disusun, bersemayam sanghyang Siwa Reka, keluar Sanghyang Tunggal, bersemedi Sanghyang Tunggal keluar Sanghyang Paramawisesa, keluar Sanghyang Taya, keluar sanghyang Chintya (atma), keluar Sanghyang Siwa, beryoga/bersemayam Sanghyang Siwa, keluar Dewata Sanga, yaitu Hyang Iswara, Hyang Mesora, Brahma. Ludra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, sambu, di tengah, Siwa, Sadhasiwa, Paramasiwa, itu semua para dewa-/-

(36)

30 7.a masing-masing, ardhanareswari. Bersemayam sanghyang Paramasiwa, yaitu tiga: Sanghyang Saraswati yang juga menjaganya, sanghyang Siwa, sadha Siwa, mengeluarkan angka, windu, carik, pamada, dan tengenan. Hyang iswara bersemayam, keluar bhagawan mredu, keluar tutur sundari trus, sebagai bagian wariga aksara wariga, sebagai dasar dunia semua, Sanghyang Licin, sanghyang Nila, Rawu, Ketu, sebagai pengasuhnya, ada Sanghyang Siwa Gotra, masing-masing menjaga nujum dan mrecukundha, ada wedha yang sempurna, segala penyakit, Sanghyang Pamala merasuki, -/-

7.b candra/bulan, , sanghyang Pamali, merasuki matahari/ surya, ada permata, yang keluar dari tiga dunia, yaitu pratiwi ‘tanah’, apah ‘air’, akasa ‘angkasa/angin, genap dengan segala isinya, pratiwi isinya, mantiga, mataya, maharyan. Akasa isinya, ’ mijil kang tri bhuana, ana pritiwi, apah, akasa, pepekatkeng pangisinia, prithiwi isinia, matahari, bulan, bintang, planet. Apah isinya, api, air, angin. Ada siang hari, samara rana, ada kayan sepuluh, yaitu, penataran gunung agung, batur, kedewataan, maospait, Majapahit, Pasek, Kebon, Puseh, Bangun Sakti. Ada lagi Sanghyang Paramasiwa bersemayam, yaitu ada kening, namanya, Ang Wreastra, namanya, anacaraka, modre, namanya unggrueh, sebiji, dibilang dua puluh, banyak aksara sesungguhnya, dinamai Dadari Kresna, tampak seperti sinar terang menjadi nirangdaning dirah -/-

8.a anak si Manggali, delapan banyak membuat leak, (bernama) I Rarung, I Jaran Guyang, I Ngeksirsa, Misawadana, Ki Lenda, Ki Lendi, Ki Gandi, itu yang membuat/menciptakan penyakit, wabah, racun, penyakit, hama, berada di prajapati, menjadi Durga. Selanjutnya Sanghyang Mahadewa beryoga keluar bhagawan wrahaspati, ada agama, adigama, mengikat jagat raya, Sanghyang Kundalini pengembanyaa. Lagi Sanghyang Wisnu beryoga, keluar aksara

mretha sanjiwa, ada obat,, dharma usadha ‘obat kebaikan’, sebagai pelenyap

mala petaka, racun, segala penyakit, ada tiga tukang, yaitu Sanghyang sanghyang Sangkul Putih, namanya, bertempat di kening (Siwa dhuara) , sangat

(37)

31 putih, bernama dudukun sakti mengucap mantra, bertempat di ujung lidah, kemudian ke kaleng

8.b sanghyang linglang rāt, namanya, putusing siksik, namanya, bertempat di bawah perut (siksikan), sebagai pegangan Dewa Wisnu mengucapkan mantra sampai ke Wisnu toya, namanya, sebabnya melenyapkan katakpwan, namanya, mengobati penyakit panas, , tukang sakti mengucapkan mantra, mengobati penyakit, penyakit yang mewabah, sanghyang tiga wiçesa juga mencakra (menangkal), sampai pada obatnya, Sanghyang Brahma, Wisnu, Içwara menuduh/menyangka sanghyang Çiwa Reka ketika keluar dari tiga dunia, yaitu prithiwi, apah, akasa, menghinggapi manusia, intisari kekosongan jadilah manusia sepertinya, intisari pritiwi menjadi orang perempuan, intisari akasa menjadi orang laki-laki, dianugrahi tiga benih, yang perempuan benih merah, yang laki-laki benih putih, yang seperti merah muda, itu dinamai sanghyang -/- 9.a Kāmaratih, Kāmajaya, Kāmapra, masuk pada semua manusia/orang, penglihatannya/pandangannya sanghyang Siwa, Sadhasiwa, Paramasiwa, keluarlah tutur kamoksān, semua itu, sanghyang Sadha Çiwa beryoga, melaksanakan tapa dan brata

(9b) ……….. Lembaran kososng/tanpa adanya tulisan

10.a ini sastra yang paling utama, berasal dari sebagian pendeta yang baru datang, dari Ki Gusti Agung Sakti, bertempat tinggal di Mengwi, karena Ki Gusti Agung merasa sulit yang dua wilayah desanya rusak, yang bernama Desa Er Jruk dan Desa Bungkul. Dirusak/diwabahi penyakit oleh I Balian Batur, banyak orang-orang Mengwi diutus untuk membunuh I Balian Batur, namun (dia) tidak bisa mati lalu dia Si Bandesa (salah satu nama jabatan) yang bernama I Gde Gumar diperintahkan untuk membunuh I Balian Batur, diberi sastra (ilmu) yang bernama Sanghyang Agni Wirotama serta Pasupati Lacana, pengetahuan dengan lambing api, tiga mantra itu diucapkan oleh I Bendesa,

(38)

32 sehingga kekuatan I Balian Batur kalah sampai anak-anak dan muridnya semua dan mati. Inilah sanghyang Agni Wirocana -/-

10.b. sarana, sabuk (ikatan) putih ditulisi inti mantra ini, wujudnya diucapkan, sarana pelengkapnya juga sirih, ucapkan mantra, yaitu Ong Çiwa budha krodhante,

dwiyat sariniem maha madriem, pabakseng satru saroiam, sadriem agni racaniem.

Wisamantragni salokiem, rudrewak sasadha siwiem, rodra pat kala tri bhudhiem.

Tisagni sangka Ong kariem, diawiem due para marcniem, agni pagaye Ong kariem, purwanie baise prajem.

Uh wah, guektiem wresiah kawatweng bhuwa tutang, Ah wah, Ah wuh, Ah due dang Langu langit, cakiem, U, walokiem bunia kasa, talu, U, sarinia, gnahang

ring sabuke putih, palania tan kataman gring sapa

kurenanta, sakwening kawiçeṣaning leak, pjah katadah dening sanghyang Agni

wirocana

11.a Ini sanghyang weda (ilmu pengetahuan) bernama Salambang Geni, sarana, lembar kertas rajah (tulisi) intisari mantranya lalu ucapkan, sarana, ilalang, bungakan (ditaruh di telinga seperti memakai bunga), ucapkan mantra, yaitu

Ong praname bhaskara dewiem, surya sthawa tri locaniem, reṣi salokia Ong

kariem.

Prajasthawa maha sakti, sahogriem palawyaksariem, prani dieng praja sawakriem, tri puja waksya petaliem.

Paredrala wyaksara nica, bhaskare braprasieng kariem, agniye jala kreteng prajiem, weda puraniasa bhuaniem.

Hrung tang wrekah, wuhwuh mulajit mas, tragung bhumi, malomba patiem, wyar, 3, ring hyungkah grigah griguh, Ah, 3, sarinia gnahang ring kretas

Referensi

Dokumen terkait

Langkah penentuan kontestasi ideologi pada situs-situs tersebut terkait isu Islam Wasathiyyah dan Islam Kaffah secara kronologis dapat dirinci sebagai berikut: (a) mengamati

Jadi, komposit yang lebih baik adalah dengan kadar air yang paling kecil yaitu sebesar 5,00% pada massa purun tikus 50 gram dan semen 575 gram dengan waktu perendaman 1 jam.. Hasil

Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta....

Jenis-jenis karakteristik pola perjalanan wisatawan yang diamati dalam penelitian ini antara lain terdiri dari tujuan wisata, motivasi wisata, informasi wisata, cara berwisata,

Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan jumlah telur Aedes Aegypty yang dihasilkan setelah mengkonsumsi larutan nanas (ananas comosus), Bromelin, dan Gula dalam

Dalam tampilannya akan dibagi 2 yaitu berbentuk teks disisi sebelah kiri dan gambar atau animasi dari ilustrasi kejadian tersebut yang ada disebelah kanan.. Keduanya akan

Jantje Ngangi, MS Jaga II, Rt/Rw -/-, Desa Laikit, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara 3 Dino Rahardiyan Jl Puncak Yamin 4, Rt/Rw 001/007, Kel/Desa Karang Besuki, Kecamatan

Temuan penelitian ini konsisten dengan teori Career Anchor dari Schein 1978 yang menyatakan bahwa ketika individu dapat mencapai suatu pekerjaan yang sesuai dengan dasar karirnya,