• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI KETERSEDIAAN KOLEKSI DAN KEUSANGAN LITERATUR PADA TESIS MAHASISWA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI KETERSEDIAAN KOLEKSI DAN KEUSANGAN LITERATUR PADA TESIS MAHASISWA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA SKRIPSI"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Studi untuk memperoleh gelar sarjana sosial (S.Sos)

dalam bidang Ilmu perpustakaan

Disusun Oleh Nela Jusniarti Tanjung

160723024

PROGRAM STUDI S1 ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)
(4)

koleksi pada perguruan tinggi juga memiliki tujuan yaitu memiliki koleksi yang mutakhir dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hasil penelitian yang erat hubungannya dengan program perguruan tinggi tersebut selain itu koleksi yang tersedia di perpustakaan perguruan tinggi hendaknya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Dilihat dari repository Universitas Sumatera Utara Tahun 2016 Jumlah tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat Pascasarjana sebanyak 42 judul tesis.

Setelah Penulis mengetahui jumlah tersebut penulis langsung melakukan pengamatan awal pada Sipus USU untuk melihat jenis literatur apa yang digunakan pada tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat Pascasarjana USU Tahun 2016.

Kata Kunci : Ketersediaan Koleksi, Koleksi, Analisis Sitasi

(5)

“Evaluasi Ketersediaan Koleksi dan Keusangan Literatur Pada Tesis Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara”

Dengan selesainya penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis selama menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada :

1. Bapak Dr.Budi Agustono, Ms, selaku dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Ishak, SS.,M.Hum selaku ketua Program Studi Ilmu perpustakaan dan sekaligus dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini

3. Bapak Dr. Drs. Ahmad Ridwan Siregar, S.H.,M,Lib sebagai dosen penguji satu yang telah memenberikan masukan dalam skripsi ini.

4. Ibu Dra Zaslina Zainuddin,M.Pd selaku dosen penguji dua yang telah memberikan masukan dalam skripsi ini

5. Kedua orang tua saya (ayah dan mama), adik dan selurh keluarga saya yang telah memberikan dukungan dan motivasi yang tak pernah berhenti sehingga menjadi kekuatan selama menyelesaikan skripsi ini

6. Teman teman yang telah memnerikan semangat dan motivasi dalam menyusun skripsi ini (Yulia Nander A.Md, Indah Sari Ulfha A.Md)

7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu

(6)

Medan, Agustus 2018

Penulis

(7)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah……….………3

1.3 Batasan Masalah ……….3

1.4 Tujuan Penelitian ……….………4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

1.6 Ruang Lingkup ... 4

BAB II TINJAUAN LITERATUR 2.1 Konsep Bibliometrik... 5

2.1.1 Tujuan Bibliometrika………....5

2.1.2 Manfaat Bibliometrika………...6

2.2 Konsep Sitiran……… ... 7

2.2.1 Analisis Sitiran………..…...9

2.2.2 Kriteria Sitiran……….………..…12

2.2.3 Ruang Lingkup Kajian Analisis Sitiran……….……...…..12

2.2.4 Manfaat Analisis Sitiran……….………….…..13

2.2.5 Metode Sitiran……….……...….14

2.3 Konsep Keusangan Literatur……….……… 15

2.3.1 pertumbuhan Literatur………...17

2.4 Ketersedian kolesi... ………18 2.4.1 Pengembangan Koleksi Perpustakaan

(8)

Perguruan Tinggi………25

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian ... 27

3.2 Unit Analisis ... 27

3.3 Sumber Data ... 29

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 29

3.5 Teknik Pengolahan Data ... 30

3.6 Teknik Analisis Data ... 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 47

(9)

DAFTAR TABEL

TABEL 1 ... 28

TABEL 2 ... 32

TABEL 3 ... 32

TABEL 4 ... 33

TABEL 5 ... 34

TABEL 6 ... 35

TABEL 7 ... 37

TABEL 8 ... 41

TABEL9 ... 42

TABEL10 ... 44

TABEL 11 ... 45

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perpustakaan yang baik akan sangat bermanfaat bagi penggunanya. Untuk mengetahui manfaat koleksi suatu perpustakaan bagi penggunanya, perlu dilakukan evaluasi koleksi.

Perpustakaan perguruan tinggi merupakan salah satu sumber informasi dan sumber ilmu perngetahuaan yang berperan penting dalam proses pendidikan dan akuisisi pendidikan

.

Salah satu aspek penting supaya perpustakaan banyak digunakan adalah ketersediaan koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan penggunanya. Oleh karena itu, tugas utama setiap perpustakaan adalah membangun koleksi yang relevan dan akurat demi kepentingan pengguna perpustakaan salah satunya adalah untuk penelitian. Dalam kegiatan penelitian para peneliti membutuhkan berbagai macam sumber yang relevan, akurat dan berkaitan dengan topik yang dikaji dalam penulisan penelitianya.

Menurut Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (2004:67) evaluasi koleksi adalah upaya menilai daya guna dan hasil guna koleksi dalam memenuhi kebutuhan civitas akademika serta program perguruan tinggi.Sedangkan Hafiah (2011:57) menyatakan bahwa evaluasi koleksi adalah kegiatan akhir dalam pengembangan koleksi yang bertujuan untuk mengukur apakah koleksi yang telah ada sudah memenuhi tujuan yang diharapkan.

Jadi,evaluasi koleksi adalah untuk memenuhi dan mengukur kebutuhan pengguna dan berbagai sumber daya yang bermanfaat bagi penggunanya.

(11)

Ketersediaan koleksi pada perguruan tinggi juga memiliki tujuan yaitu memiliki koleksi yang mutakhir dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hasil penelitian yang erat hubungannya dengan program perguruan tinggi tersebut selain itu koleksi yang tersedia di perpustakaan perguruan tinggi hendaknya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Dilihat dari repository Universitas Sumatera Utara Tahun 2016 Jumlah tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat Pascasarjana sebanyak 42 judul tesis. Setelah Penulis mengetahui jumlah tersebut penulis langsung melakukan pengamatan awal pada Sipus USU untuk melihat jenis literatur apa yang digunakan pada tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat Pascasarjana USU Tahun 2016. Dari pengamatan awal tersebut, penulis ingin mengetahui apakah koleksi yang digunakan dalam tesis tersebut tersedia di Perpustakaan USU.

Penelitian ini difokuskan pada penulisan tesis oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. menjadikan Perpustakaan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sebagai objek penelitan.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka perlu diteliti tentang bagaimana ketersediaan koleksi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera utara dapat memenuhi kebutuhan pemustakanya dalam menyususn tesis dan bagaimana pula tingkat dari keusangan literatur yang terdapat pada tesis mahasiswa ?.

(12)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana tingkat ketersediaan literatur pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara?

2. Bagaimana tingkat dari keusangan literature yang terdapat pada tesis mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara?

1.3 Batasan masalah

Agar penelitian ini terarah, maka penulis akan membatasi masalaah penelitian ini sebagai berikut:

1. Penelitian ini membahas ketersediaan koleksi bagi pemustaka dengan menggunakan analisis sitiran terhadap literatur yang dipakai dalam menulis tesis yang dibuat oleh mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara pada tahun ajaran 2016.

2. Membahas karakteristik literatur yang disitir oleh mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang berdasarkan pengarang, judul dan tahun.

1.4 Tujuan Penelitian

penelitian ini bertujauan untuk mengetahui untuk mengindetifikasi untuk semua koleksi dalam penyusunan tesis oleh mahasiswa yang tersedia pada repositori usu.

1.5 Manfaat Penelitian

(13)

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Perpustakaan USU, sebagai bahan pertimbangan untuk membuat perencanaan pengembangan pengadaan literatur untuk penelitian bidang kenotariatan untuk masa yang akan datang.

2. Peneliti, sebagai perbandingan apabila melakukan penelitian lanjutan yang berhubungan dengan ketersediaan koleksi dengan menggunakan analisis sitasi terhadap tesis Kesehatan Masyarakat atau program pascasarjana lainnya.

3. Pembaca, untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai ketersediaan koleksi perpustakaan dengan menggunakan analisis sitasi.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah tentang jenis literatur yang disitir, koleksi yang disitir dan ketersediaan literatur yang disitir. Objek penelitian ini adalah seluruh sitasi yang terdapat pada daftar pustaka tesis yang diteliti oleh mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat Pascasarjana USU Tahun 2016.

1.6 Lokasi Penelitian

Lokasi pada penelitian ini adalah di repository usu.

(14)

BAB II

TINJAUAN LITERATUR 2.1 Konsep Bibliometrika

Bibliometrics memiliki dua akar kata yaitu biblio dan metrics. Istilah biblio berasal dari kombinasi kata latin dan yunani “biblion” ekuivalen dengan bybl(os) artinya buku.

Istilah “metrics” menunjukka pengetahuan tentang meter atau pengukuran, berasal dari latin atau yunani metrics atau metrikos artinya ukuran.

Dalam buku Sulistyo (2002:2) Pritchard menganggap istilah “ statistical Bibliography” sebagai istilah yang kaku, kurang deskriptif serta sering dirancuksn dengan istilah “statistic” ataupun “bibliography of statitics”. Karena itu Pritchard mengusulkan istilah baru yaitu bibliometrics (bibliometrika) sebagai pengganti istilah “statistical bibliography” artinya aplikasi metode statistika dan matematika terhadap suatu buku serta media komunikasi lainnya. The british standards institution memberikan definisi bibliometrika sebagai kajian penggunaan dokumen dan pola publikasi dengan menerapkan metode matematika dan statistika.

2.1.1 Tujuan Bibliometrika

Tujuan bibliometrika adalah menjelaskan proses komunikasi tertulis dan sifat serta arah pengembangan sarana deskriptif perhitungan dan analisis berbagi faset komunikasi.

Bibliometrika dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu bibliometrika deskriptif dan bibliometriak perilaku. Kajian deskriptif biasanya menggambarkan karakteristik atau cirri sebuah literature sedaangkan perilaku mengkaji hubungan yang terbenetuk antara

(15)

komponen literature.Brokes menyatakan bahwa tujuan umum analisis kuatitatif terhadap bibliografi adalah

1. Merancang bangun system dan jarngan informasi yamg lebih ekonomis 2. Penyempurnaan tingkat efisiensi proses pengolahan informasi

3. Identifikasi dan pengukuran efesiensi pada jas bibligrafi yang ada dewasa ini 4. Meramalkan kecenderungan penerbitan

5. Penemuan dan elusidasi hukum empiris yang dapat menyediakan basis bagi pengembangansebuah teori dalam informasi.

2.1.2 Manfaat Bibliometrika

Menurut Ishak (2005,18) menyatakan bahwa manfaat bibliometrika adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi majalah inti dalam berbagai disiplin ilmu

2. Identifikasi arah dan gejala penelitian dalam pertumbuhan pengetahuan pada berbagai disiplin ilmu

3. Menduga keluasan literatur sekunder 4. Mengenali pemakai berbagai subjek

5. Mengenali kepengarangan dan arah gejalanya pada dokumen berbagai subjek 6. Mengukur manfaat jasa SDI ad-hoc dan retrospektif

7. Meramalkan arah gejala perkembangan masalah lalu, sekarang dan mendatang 8. Mengatur arus masuk informasi dan komunikasi

9. Mengkaji keusangan dan penyebaran literature ilmiah

10. Meramalkan produktivitas penerbit, pengarang, orgganisasi, Negara atau seluruh disiplin.

(16)

2.2 Konsep Sitiran

Sitiran berasal dari kata dasar sitir yang dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008:

1363) berarti sebut atau tulis. sitiran adalah informasi atau catatan singkat pada suatu teks yang mengacu pada suatu sumber informasi atau dokumen lain tempat teks tersebut dikutip, sedangkan informasi selengkapnya dimuat pada daftar referensi atau daftar pustaka dari dokumen yang memuat sitiran tersebut. Melalui sitiran dapat diketahui sumber-sumber informasi suatu karya yang dihasilkan dan dapat digunakan untuk memperluas dan memperdalam.yang dikutip oleh Zakaria Guninda, Rukiyah, Lydia Christiani.

Menurut ALA Glosasary of Library and Informastion Science dalam Rupadha (Istiana &

Zulaikha, 2007, p. 4) disebutkan bahwa citation adalah suatu catatan yang menunjuk kepada suatu karya yang bagian-bagian dari isinya telah dikutip, atau yang menunjuk kepada beberapa sumber yang berwenang untuk suatu pernyataan atau masalah. Hartinah (2002: 3) menegaskan bahwa : Analisis sitiran banyak digunakan dalam kajian biblometrika karena menurutnya tepat dan jelas mewakili subyek yang diperlukan, interpretasi, valid, dan reliabel. Dalam menggunakan kajian analisis sitiran, masalah yang perlu dipertimbangkan adalah:

1. Karya penulis utama yang menjadi perhatian.

2. Penulis yang mempunyai nama yang sama, bidang yang sama dibutuhkan informasi tambahan nama instiusi. Jenis sumber dokumen (artikel, makalah, buku, disertasi, dan lainlain).

(17)

3. Tidak dibatasi oleh waktu.

Purnomowati (2005 : 3) menyatakan bahwa “sitasi, sitiran atau citation adalah informasi ringkas tentang dokumen yang disitir dan disisipkan dalam teks, sementara informasi selengkapnya dimuat pada daftar referensi”. Referensi yang dimaksud dalam pendapat tersebut adalah deskripsi bibliografi dari dokumen yang disitir, umumnya disusun berupa daftar yang disajikan pada akhir bab, artikel atau buku. menurut Andriani (2002 : 29) “sitiran adalah pernyataan yang diterima suatu dokumen dari dokumen lain”. Dengan demikian, sitiran mengarah pada karya yang diacu dan dilakukan oleh penulis sesudah karya yang diacu diterbitkan. Berdasarkan pengertian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa sitiran adalah pernyataan dari dokumen lain yang dikutip oleh sebuah dokumen.

Dalam menggunakan analisis sitira, masalah yang dapat di pertimbangkan adalah 1. Hanya penulis utama yang menjadi perhatian

2. Penulis yang mempunyai nama sama, bidang sama dibutuhkan infoemasi tambahan nama institusi

3. Jenis sumber dokumen (artikel, makalah dll) 4. Tidak dibatasi oleh waktu

5. Untuk bidang yang multidisiplin, kesulitan untuk analisis subjek

6. ISI database tidak mencakup seluruh majalah hanya sekitar 8580 majalah ilmiah yang diindex setiap tahun lebih dari 70.000 majalah ilmiah yang ada.

(18)

2.2.1 Analisis Sitiran

Pada kajian bibliometrik banyak digunakan analisis sitiran sebagai cara untuk menentukan berbagai kepentingan atau kebijakan seperti evaluasi program riset, pemetaan ilmu pengetahuan, visualisasi suatu disiplin ilmu, indikator iptek, factor dampak dari suatu majalah, kualitas suatu majalah, pengembangan koleksi majalah dll.. Oleh karena itu, pengertian analisis sitiran mengandung makna yang sama dengan kajian sitiran, bahkan secara lebih lengkap disebut kajian analisis sitiran. Hampir sama dengan pendapat Diodato (1994: 5 dalam Rahmah 2011: 8), analisis sitiran adalah suatu kajian berkisar atau mengenai area bibliometrika yang mempelajari tentang sitiran atau kutipan dari sebuah dokumen.adpun pendapat para ahli yaitu. “analisis sitiran adalah cara perhitungan yang dilakukan atas karya tulis yang disitir oleh para pengarang” (Lasa, 1990 : 26).Adapun hal- hal yang diselidiki antara lain: pengarang subjek,tahun terbit, dan sumber dokumen (umal, buku,dan jenis lain)

Sitiran atau citation di dalam penulisan ilmiah sangat penting. Dalam penulisan ilmiah, peneliti memerlukan bahan pustaka pendukung bagi tulisannya. Seorang peneliti atau penulis ilmiah wajib mencantumkan nama pengarang yang pernyataannya dikutip atau disitir di dalam artikel, makalah, laporan hasil penelitian yang ditulisnya. Kewajiban tersebut untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya peneliti tersebut telah menelaah terlebih dahulu bidang yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dengan demikian, sitiran dilatarbelakangi oleh hubungan antara dokumen yang menyitir dengan dokumen yang

(19)

disitir Analisis sitiran merupakan salah satu jenis evaluasi perpustakaan yang digunakan oleh pustakawan di luar negeri untuk membantu pemeliharaan koleksi. Kajian sitiran adalah bagian dari bibliometrika berkaitan dengan studi mengenai hubungan tersebut (Elita, 2008:

9; Sri Hartinah, 2003: 3). Bibliometrika dapat digunakan sebagai metode kajian deskriptif, misalnya yang berkaitan dengan kepengarangan, dan bersifat evaluatif, misalnya untuk mengkaji pemustakaan literatur melalui analisis sitiran. Pendapat ini didukung oleh Johnson (2009: 370) yang mengatakan bahwa “citation analysis is technique in bibliometrics that examines the works cited in publications to determined patterns”.

Aspek yang dikaji dalam analisis sitiran disesuaikan dengan kebutuhan peneliti atau penulis yang bersangkutan. Kajian analisis sitiran digunakan karena adanya beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan di dalam menganalisis sitiran suatu dokumen.

Kegiatan sitir menyitir merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam penulisan sebuah karya tulis dan merupakan hal yang umum dilakukan oleh seorang peneliti atau penulis, karena untuk menghasilkan karya atau dokumen baru sangat membutuhkan bahan rujukan yang telah terbit sebelumnya serta mempunyai kaitan dengan dokumen yang menyitirnya.

Dengan demikian, analisis sitiran digunakan untuk mengevaluasi karya-karya yang digunakan oleh sebuah dokumen.

Menurut Sulistyo (1994:177), analisis sitiran adalah analisis pada kepustakaan. Pada awalnya kajian berupafrekuensi sitiran, bahasa, tahun jenis terbitan, dan pada saat ini berkembang pada kajian terhadap hubungan antara satu majalah dengan majalah lainnya, kajian terhadap ukuran sentralitas antara satu majalah dengan majalah lain, penelitian paro

(20)

hidup bidangi lmu serta jaringan yang terbentuk akibat sitiran. Dalam menggunakan analisis sitiran yang perlu di pertimbangkan adalah

1. Hanya penulis utama yang menjadi perhatian

2. Penulis yang mempunyai nama sama, bidang sama dibutuhkan informasi tambahan nama institusi

3. Jenis sumber dokumen (artikel, makalah dll) 4. Tidak dibatasi oleh waktu

5. Untuk bidang yang multidisiplin, kesulitan untuk analisis subjek

6. Isi database tidak mencakup seluruh majalah. Hanya sekitar 8580 majalah ilmiah yang diindex setiap tahun lebih dari 70.000 majalah ilmiah yang ada

Sitiran atau citation di dalam penulisan ilmiah sangat penting. Dalam penulisan ilmiah, peneliti memerlukan bahan pustaka pendukung bagi tulisannya. Seorang peneliti atau penulis ilmiah wajib mencantumkan nama pengarang yang pernyataannya dikutip atau disitir di dalam artikel, makalah, laporan hasil penelitian yang ditulisnya. Kewajiban tersebut untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya peneliti tersebut telah menelaah terlebih dahulu bidang yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dengan demikian, sitiran dilatarbelakangi oleh hubungan antara dokumen yang menyitir dengan dokumen yang disitir. Analisis sitiran merupakan salah satu jenis evaluasi perpustakaan yang digunakan oleh pustakawan di luar negeri untuk membantu pemeliharaan koleksi. Kajian sitiran adalah bagian dari bibliometrika berkaitan dengan studi mengenai hubungan tersebut.

(21)

2.2.2 Kriteria Sitiran

Pendapat Wang dan Soergel yang di kutip oleh anti Julianti (2010 ) menyatakan bahwa nilai kegunaan suatu dokumen dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu :

1. Epistemic values: kegunaan suatu dokumen dalam memenuhi keinginan atas pengetahuan atau informasi yang tidak/belum diketahui. Melihat definisi tersebut dapat diambil asumsi bahwa nilai epistemicmerupakan persyaratan bagi semua dokumen. Dokumen yang tidak memiliki nilai epistemickemungkinan tidak akan disitir

2. Functional values : kegunaan suatu dokumen karena memberi kontribusi pada tugas atau penelitian yang dilakukan. Dokumen akan berguna karena berisi teori, data pendukung empiris, atau metodologi.

3. Conditional values : kegunaan dokumen akan muncul bila beberapa kondisi atau syarat terpenuhi, atau terdapat dokumen lain yang bisa memperkuat isi dokumen tersebut.

4. Social values : kegunaan suatu dokumen dalam hubungannya dengan kelompok atau individu. Dokumen akan diberi nilai sosial tinggi bila dokumen tersebut berhubungan dengan suatu badan atau individu berpengaruh terhadap peneliti, seperti dosen pembimbing atau figur yang terkenal dibidangnya

2.2.3 Ruang Lingkup Kajian Analisis Sitiran

Menurut sulistyo (2004: 73) yang dikutip oleh sitti dalam melakukan analisis siitra dalam sebuah dokumen, yang dikajai adalah frekuensi sitiran, bahasa, tahun, jenis terbitan,

(22)

paro hidup, serta jaringan yang terbentuk akibat sitiran. Adapun ruang lingkup kajian dalam analisis sitira adalah:

1. Peringkatan majalah yang disitir 2. Tahun sititran

3. Asal geografi bahan sitiaran 4. Lembaga yang ikut dalam sitiran 5. Kelompok majalah yang disitir 6. Subyek yang disitir

7. Jumlah langkah berdasarkan teori graft (graph theory) dari majalah tertentu termasuk kleompok majalah lain.

2.2.4 Manfaat Analisis Sitiran

Hartinah (2002: 2) menyatakan bahwa pada kajian bibliometrika banyak digunakan analisis sitiran sebagai cara untuk menentukan berbagai kepentingan atau kebijakan seperti:

1. Evaluasi program riset 2. Penentuan ilmu pengetahuan 3. Visualisasi suatu disiplin ilmu 4. Indikator iptek

5. Faktor dampak dari suatu majalah (journal impact factor) 6. Kualitas suatu majalah

7. Pengembangan koleksi majalah, dan lain-lain..

(23)

dari uraian diatas analisis sitiran juga dapat diterapkan untuk keperluan praktis seperti untuk menentukan pengembangan koleksi, menentukan kebijakan penyiangan, menentukan anggaran perpustakaan maupun untuk keperluan teoritis seperti sejarah pengetahuan. Dengan menggunakan analisis sitiran, kita juga dapat mengetahui keusangan literatur atau paro hidup literatur.

2.2.5 Metode Sitiran 1. Menghitung jumlah sitiran

a) Memilih jumlah akan diteliti

b) Menghitung acuan yang terdapat pada masing-masing artikel

c) Jumlah yang disitir diurutkan kemudian jumlah terbanyak adalah ranking teratas, dan sterusnya

d) Cakupan (periode) waktu: 1-20 tahun

2. Indeks kecepatan (immediacy indx) yaitu: suatu ukuran seberapa cepat sekelompok dokumen (artikel) dari suatu jumlah disitir pada tahun yang sama. Ukuran tersebut dihittung dari perbandingan antara sitiran suatu majlah dalam tahun tertentu dengan jumlah artikel yang diterbitkan pada tahun yang sama

3. Factor dampak (impact faktor) adalah nukuran pentingnya atau pengaruh suatu kelompok dokumen pada suatu periode yang ditentukan. Ukuran tersebut dihitung dari perbandinagn antara berapa kali artikel suatu majalah disitir denan jumlah artikel yang diterbitkan oleh majalh tersebut pada periode tertentu.

4. Berdasarkan sitiran Per N kata yaitu: perbandingan antar jumlah sitiran dalak waktu tertentu dibagi dengan jumlah kata dalam sumber dikalikan N. N adalah konstanta

(24)

5. Fractional citation counting (perhitungan sitiran fraksional) yaitu setiap dokumen mempunyai kekuatan untuk dipilih sebesar satu, tetapi dibagi dengan dokumen lain yang mempunyai kekuatan yang sama.

2.3 Keusangan Literatur

Keusangan literatur (literatur obsolescence) adalah kajian bibliometrika tentang penggunaan literatur yang berkaitan dengan umur literatur tersebut. Obsolescence berasal dari kata obsolete yang berarti out-of-date, no longer in use, no longer valid atau no longer fashionable (Mustafa, 2008: 2). Ada dua tipe keusangan (obsolescence) literatur, yaitu: (1) obsolescence diachronous, merupakan ukuran keusangan literatur dari sekelompok literatur dengan cara memeriksa tahun terbit dari sitiran yang diterima literatur tersebut. Keusangan literature sangat bermanfaat bagi pengguna apalagi bagi mahasiswa yang sedang membuat karya ilmiah.

Keusangan literature juga penurunan dalam menggunakan suatu literature atau kelompok literature (pada topic-topik tertentu) pada suatu periode waktu literature-literatur tersebut menjadi lebih tua. Keusangan literatur menjadi salah satu indicator untuk mengetahui kemutakhiran literature dan percepatan pertumbuhan literature, dengan sendirinya akan menunjukkan pertumbuhan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jika suatu literature jarang atau bahkan tidak pernah lagi disitir maka literature tersebut dikatakan telah usang. (Hartinah, 2002, p. 1)

(25)

Jadi, keusangan literature dalam suatu bidang ilmu dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur kekayaan ataupun kemiskinan informasi yang terkandung dalam suatu literatur.

Tipe Keusangan Literatur Menurut Hartinah (2002), ada dua tipe keusangan (obsolescence) literatur, yaitu:

1. obsolescence diachronous, merupakan ukuran keusangan literatur dari sekelompok literatur dengan cara memeriksa tahun terbit dari sitiran yang diterima literatur tersebut. Half life atau paro hidup literatur adalah ukuran dari obsolescence diachronous;

2. obsolescence synchronous, merupakan ukuran keusangan literatur dari sekelompok literatur dengan cara memeriksa tahun terbitan referensi literatur. Median citation age (median umur sitiran) termasuk dalam obsolescence synchronous.

Fenomena keusangan literature merupakan dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terjadi karena hanya literature yang mutakhir yang menarik bagi ilmuan praktisi, sedangkan literature yang lebih tua digunakan hanya bila mengandung informasi yang cenderung menggabungkan karya terakhir. Hal tersebut juga berarti bahwa semakin banyak literature dalam sebuah bidang semakin mempengaruhi paro hidup.

Paro hidup sitiran adalah jangka waktu yang diperlukan oleh separo literatur bidang tertentu yang disitir oleh literatur yang dipublikasikan. Keusangan literatur merupakan dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terjadi karena hanya literatur yang

(26)

mutakhir atau terkini yang menarik bagi ilmuwan, sedangkan literatur yang lebih tua digunakan hanya bila mengandung informasi yang cenderung menggabungkan karya yang terakhir. Hal tersebut berarti bahwa semakin banyak literatur dalam sebuah bidang, semakin terpengaruh usia paro hidup literatur. Istilah paro hidup (half-life) pertama kali digunakan oleh R.E. Borton dan R.W. Kebler pada tahun 1960 yang berarti waktu saat setengah dari seluruh literatur suatu disiplin ilmu yang digunakan secara terus menerus.

Half life atau paro hidup literatur adalah ukuran dari obsolescence diachronous; (2) obsolescence synchronous, merupakan ukuran keusangan literatur dari sekelompok literatur dengan cara memeriksa tahun terbitan referensi literatur. Median citation age (median umur sitiran) termasuk dalam obsolescence synchronou (Hartinah, 2002 : 1).

Adapun rumus dari keusangan adalah R=Xn-X1 atau H-L

Xn (H) tahun tertinggi X1 (L) tahumn terendah 2.3.1 Pertumbuhan Literatur

Menurut Sulistyo-Basuki, 2004:79-80 yang dikutip oleh isbandini Paro hidup menunjukkan kecepatan pertumbuhan literatur, dengan sendirinya perfumbuhan ilmu, sehingga semakin muda usia paro hidup sebuah dokumen bidang ilmu, semakin cepat pertumbuhan ilmu tersebut.

Sebagai contoh paro hidup ilmu teknik kimia 4,8 tahun sedangkan geologi 11,8 tahun, berarti bahwa pertumbuhan literatur ilmu teknik kimia lebih cepat daripada literatur geologi. Bila dalam teknik kimia, peneliti menggunakan literatur yang berusiakatakanlah 6

(27)

tahun. maka literatur tersebut sudah dianggap usang sementara dalam bidang geologi masih dianggap baru.

2.4 Ketersedian Koleksi

Bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan dapat dikelompokkan dalam dua bentuk, yakni bentuk tercetak dan tidak tercetak. Bentuk tercetak meliputi buku/monograf, bukan buku (terbitan berseri, peta, gambar, brosur, famlet, dll). Sedangkan bentuk tidak tercetak meliputi rekaman gambar, rekaman suara, dan rekaman data magnetic/digital.

(Yulia & Sujana, 2009, pp. 1.5 - 1.6)

Pengertian ketersediaan koleksi menurut Sutarno (2006) yaitu “Ketersediaan koleksi perpustakaan adalah sejumlah koleksi atau bahan pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dan cukup memadai jumlah koleksinya dan koleksi tersebut disediakan agar dapat dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan tersebut”. Sutarno pada tahun (2006) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan ketersediaan koleksi sebuah perpustakaan antara lain:

1. Kerelevanan, koleksi hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna perpustakaan. Relevansi, yaitu kesesuaian bahan informasi dengan keperluan pengguna, hal ini dimaksudkan agar perpustakaan memiliki nilai dan berdaya guna bagi pengguna, terutama para pengguna potensial. Dalam relevansi kepentingan pemustaka menjadi acuan dalam pemilihan dan pengadaan bahan pustaka.

(28)

2. Berorientasi kepada pengguna perpustakaan. Berorientasi kepada kebutuhan pengguna yaitu pengembangan koleksi harus ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan pengguna.

3. Kelengkapan koleksi. lengkapan koleksi hendaknya jangan hanya terdiri atas buku ajar yang langsung dipakai dalam pembelajaran, tetapi juga meliputi bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada. Koleksi perpustakaan diharapkan mencakup berbagai subjek ilmu pengetahuan. Semua komponen koleksi mendapatkan perhatian yang wajar sesuai dengan tingkat prioritas yang ditentukan.

4. Kemutakhiran koleksi. Kemutakhiran, yaitu dalam pengembangan bahan informasi ini perlu antisipatif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan bidang cakupan perpustakaan itu sendiri. Kemutakhiran koleksi dapat dilihat dari tahun terbit. Jika bahan pustaka yang diterbitkan pada tahun terakhir, maka dilihat dari kemutakhiran dapat dikatakan mutakhir.

ada beberapa jenis dan bentuk koleksi yang terdapat di perpustakaan, yaitu: 1) Koleksi rujukan. Koleksi rujukan merupakan tulang punggung perpustakaan dalam menyediakan informasi yang akurat. Berbagai bentuk dan jenis informasi seperti data, fakta, dan lain-lain dapat ditemukan dalam koleksi rujukan. Oleh sebab itu, perpustakaan perlu melengkapi koleksinya dengan berbagai jenis koleksi rujukan seperti ensiklopedi umum dan khusus, kamus umum dan khusus, buku pegangan, direktori, abstrak, indeks, bibliografi, berbagai standar, dan sebagainya baik dalam bentuk buku maupun non buku. 2)

(29)

Bahan ajar. Bahan ajar berfungsi untuk memenuhi kurikulum. Bahan ajar untuk setiap mata kuliah bisa lebih dari satu judul karena cakupan isinya yang berbeda sehingga bahan yang satu dapat melengkapi bahan yang lain. Disamping ada bahan ajar yang diwajibkan ada dan ada pula bahan ajar yang dianjurkan untuk memperkaya wawasan. Jumlah judul bahan ajar untuk setiap mata kuliah ditentukan oleh dosen, sedangkan jumlah eksemplarnya bergantung kepada tujuan dan program pengembangan perpustakaan setiap perguruan tinggi. 3) Terbitan berkala. Untuk melengkapi informasi yang tidak terdapat di dalam bahan ajar dan bahan rujukan, perpustakaan melanggan bermacam-macam terbitan berkala seperti majalah umum, jurnal, dan surat kabar. Terbitan ini memberikan informasi mutakhir mengenai keadaan atau kecenderungan perkembangan ilmu dan pengetahuan. Perpustakaan seyogyanya dapat melanggan sedikitnya satu judul majalah ilmiah untuk setiap program studi yang diselenggarakan perguruan tingginya. 4) Terbitan pemerintah. Berbagai terbitan pemerintah seperti lembaran negara, himpunan peraturan negara, kebijakan, laporan tahunan, pidato resmi, dan sebagainya juga dimanfaatkan oleh para peneliti atau dosen dalam menyiapkan kuliahnya. Perpustakaan perlu mengantisipasi kebutuhan para pemustakanya sehingga koleksi terbitan pemerintah, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, departemen, non-departemen, maupun lembaga lainnya dapat memperoleh perhatian. 5) Selain terbitan pemerintah, koleksi yang menjadi minat khusus perguruan tinggi seperti sejarah daerah, budaya daerah, atau bidang khusus lainya juga perlu diperhatikan. Berbagai macam pustaka ini memuat kekayaan informasi yang penting, tidak saja untuk pengembangan ilmu. Koleksi itu harus selalu disesuaikan dengan perubahan program perguruan tinggi karena masingmasing bahan tersebut mengandung

(30)

informasi yang berbeda pula., terutama bila ditinjau dari tingkat ketelitian, cakupan isi, maupun kemutakhirannya. Dengan koleksi yang jumlah atau jenisnya cukup, diharap program perguruan tinggi dapat berjalan dengan baik. 6) Apabila memiliki dana yang cukup, perpustakaan sebagai sumber belajar tidak hanya menghimpun buku, jurnal, dan sejenisnya yang tercetak, tetapi juga menghimpun koleksi audio visual seperti film, slaid, kaset video, kaset audio, dan pustaka renik, serta koleksi media elektronika seperti disket, compact disc dan online database/basis data akses maya. Koleksi ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. 7) Bahan bacaan untuk rekreasi intelektual. Perpustakaan perguruan tinggi perlu menyediakan bahan bacaan atau bahan lain untuk keperluan rekreasi intelektual mahasiswa dan bahan bacaan lain yang memperkaya khasanah pembaca” (Depdiknas, 2004: 51). Pembahasan ini digunakan sebagai acuan dalam analisis untuk menggambarkan karakteristik literatur yang disitir.

2.4.1 Pengembangan Koleksi Perpustakaan Perguruan tinggi

Menurut Rahayuningsih (2007:13) yang dikutip oleh isbandini pengembangan koleksi adalah semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan,terutama kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan dan pengadaan bahan pustaka. Pengembangankoleksi dilakukan untuk meningkatkan koleksi baik dari segi- kuantitas maupun kualitas. Kuantitasmencakup banyaknya judul dan eksemplar,sedangkan kualitas mencakup tingkat baik buruknyasebuah koleksi ditinjau dari segi fisik. isi, kesesuaian dengan kebtrtuhan pemustaka.Pengembangan koleksi merupakan proses

(31)

memastikan bahwa kebutuhan informasi dari parapemakai akan terpenuhi secara tepat waktu dan tepat guna dengan memanfaatkan sumber-sumberinformasi yang dihimpun oleh perpustakaan.

2.4.2 Evaluasi Koleksi

Kata evaluasi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu evaluation. Banyak sekali pengertian evaluasi yang diungkapkan oleh para ahli. Wallace dan Fleet (2001) menyatakan bahwa evaluasi adalah sebuah mekanisme yang terbaik untuk memahami sebuah sistem. Dalam konteks perpustakaan, evaluasi dilakukan untuk memahami sistem yang ada pada perpustakaan. Watson (2001) memberikan definisi bahwa evaluasi adalah sebuah aktivitas yang terus menerus, bagian dari proses perencanaan, yang mengukur efektifitas dari prosedur yang sudah ada dan menampilkan data yang dapat digunakan dalam merancang panduan untuk kegiatan mendatang. Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda, walaupun pada hakikatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya). Pengukuran bersifat kuantitatif, sedangkan pengukuran adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai.

Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur, dan mengukur yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan. Jadi, pengukuran itu merupakan proses mengukur yang berfungsi sebagai alat evaluasi. Dari kegiatan pengukuran ini proses evaluasi dimulai (Azhar, 1993: 18). Oleh karena itu, dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat di dalamnya, yaitu efektivitas dan efisiensi. Efektivitas merupakan

(32)

perbandingan antara output dan input, sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Azhar, 1993: 180).

Crawford (2000) berpendapat bahwa evaluasi itu merupakan upaya mencari sesuatu yang berharga. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Oleh karena itu, evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab evaluasi tersebut selalu mengiringi kehidupan seseorang.

Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan mengukur apakah yang dilakukannya itu telah sesuai dengam keinginannya semula.

Evaluasi koleksi adalah kegiatan menilai koleksi perpustakaan baik dari segi ketersediaan koleksi itu bagi pengguna maupun pemanfaatan bagi koleksi oleh pengguna (Yulia & Sujana 2009) sedangkan menurut (Wijayanti) evaluasi koleksi adalah upaya menilai daya guna dan hasil guna koleksi dalam memenuhi kebutuhan civitas akademik secara program,perguruan tinggi. Evaluasi koleksi dapat dilakukan dengan teknik kuantitatif dan kualitatif (Depdiknas, 2000: 67; Crawford, 2000: 29-66). Kuantitatif dilakukan dengan pengumpulan data statistik, dan dari data statistik itu dapat diperoleh informasi yang cukup mengenai keadaan koleksi. Capernter dan Getz dalam Adams dan Noel (2008: 71) menganjurkan menggunakan data statistik sirkulasi dan data statistik buku yang diajukan dalam kerjasama antarperpustakaan dalam merealokasikan anggaran buku. Sedangkan teknik kualitatif dilakukan dengan cara menguji ketersediaan koleksi terhadap program perguruan tinggi

Pustakawan melakukan evaluasi koleksi yang memungkinkan untuk dipilih dari berbagai teknik yang menggambarkan keragaman literatur pengembangan koleksi. Baker

(33)

dan Lancaster dalam Crawley-Low (2002: 310-316) mengelompokkan dua pendekatan dasar untuk mengevaluasi koleksi, yaitu pendekatan yang terpusat pada bahan pustaka (the materialscentered approach) dan pendekatan yang terpusat pada penggunaan (the use- centered approach). Pendekatan yang terpusat pada bahan pustaka difokuskan pada bahan pustaka dalam sebuah koleksi serta mempertimbangkan ukuran dan keragaman koleksi.

Pendekatan ini dapat menggunakan list checking (untuk buku), citation analysis (untuk buku, dan jurnal), classified profile (untuk buku), dan internet resources. Sedangkan, pendekatan yang terpusat pada penggunaan difokuskan pada penggunaan koleksi yang diterima dan berdasarkan kebutuhan pemustaka. Pendekatan ini dapat menggunakan interlibrary loan (untuk buku dan jurnal), dan circulation (untuk buku dan jurnal).

Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan evaluasi koleksi adalah pengembangan suatu koleksi dengan bertujuan untuk mengetahui kebutuhan pengguna. Agar kebutuhan pengguna efektiv pustakawan juga harus memerhatikan apasaja yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan. Evaluasi koleksi juga membantu meningkatkan kualitas suatu perpustakaan yang ada diperguruan tinggi maupun instansi lainnya.

Analisis kuantitatif (quantitative analysis) menghitung sesuatu. Termasuk di dalamnya mengetahui judul, transaksi sirkulasi, permohonan kerjasama antarperpustakaan, transaksi akses dan pengunduhan dengan sumber elektronik, dan biaya yang dikeluarkan.

Metode kuantitatif menunjukkan pertumbuhan dan penggunaan koleksi dengan melihat statistik koleksi dan sirkulasi, penggunaan sumber elektronik, permohonan kerjasama antarperpustakaan, dan informasi anggaran belanja. Analisis kualitatif (qualitative analysis) lebih subyektif dibandingkan dengan analisis kuantitatif, karena tergantung pada

(34)

persepsi, opini, dan konteks. Tujuan dari analisis kualitatif adalah untuk menentukan kekuatan koleksi, kelemahan, dan pendukung.

2.4.3 Standarisasi Koleksi Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi

Keputusan MENDIKBUD Republik Indonesia No. 0696/U/1991 bab II Pasal 11 menetapkan persyaratan minimal koleksi PPT untuk program Diploma dan S1: Memiliki 1 (satu) judul pustaka untuk setiap mata kuliah keahlian dasar (MKDK), Memiliki 2 (dua) judul pustaka untuk tiap mata kuliah keahlian (MKK), Berlangganan sekurang-kurangnya 1 (satu) judul jurnal ilmiah untuk setiap Program studi, Jumlah pustaka sekurang-kurangnya 10 % dari jumlah mahasiswa dengan memperhatikan komposisi subyek pustaka.Sedangkan untuk Program Pascasarjana dan Sp 1: (1) Memiliki 500 judul pustaka untuk setiap program studi, dan (2) berlangganan sekurang-kurangnya 2 (dua) jurnal ilmiah untuk setiap program studi.

Berdasarkan SNP ( Standar Nasional Perpustakaan) Tahun 2011: 2 bahwasanya jumlah buku wajib dihitung menggunakan rumus 1 program studi X (144 sks dibagi 2 sks per mata kuliah) X 2 judul permata kuliah = 144 judul buku wajib per program studi. Judul buku pengembangan = 2 X jumlah buku wajib. Koleksi AV (judul) = 2% dari total jumlah judul koleksi non AV. Jurnal ilmiah minimal 1 judul (berlangganan atau menerima secara rutin) per program studi. Majalah ilmiah populer minimal 1 judul (berlangganan atau menerima secara rutin) per program studi. Muatan lokal (local content) yang terdiri dari hasil karya ilmiah civitas akademika (skripsi, tesis, disertasi, makalah seminar, simposium, konferensi, laporan penelitian, laporan pengabadian masyarakat, laporan lain-lain, pidato

(35)

pengukuhan, artikel yang dipublikasi di media massa, publikasi internal kampus, majalah atau buletin kampus).

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Metode dalam sebuah penelitian merupakan suatu yang utama. Ketepatan penggunaan metode akan turut serta menentukan keberhasilan penelitian yang dilakukan, melalui metode penelitian ini akan diperoleh data yang lengkap dan tepat. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif berbentuk deskriptif yaitu suatu metode penelitian dengan tujuan utama adalah untuk menggambarkan tentang sesuatu keadaan secara objektif. Dalam melakukan penelitian harus menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.

Penelitian ini menggunakan metode analisis sitiran. Data sitiran yang digunakan adalah daftar pustaka yang terdapat pada tesis.

3.2. Unit Anlisis

Unit analisis adalah merupakan sesuatu yang berkaitan dengna focus yang diteliti.

Unit analisis suatu penelitian yang dapat berupa benda, kelompok, wilayah dan waktu tertentu sesuai dengan focus penelitiannya.(Arikunto:1998)

Unit analisis dalam penelitian ini adalah tesis mahasiswa Fakultas Kessehatan Masyarakat tahun 2016 sebanyak 42.

(37)

Tabel 3.1

jumlah buku dan jurnal

KODE BUKU JURNAL

T1 23 8

T2 35 7

T3 24 8

T4 24 23

T5 25 29

T6 30 9

T7 24 14

T8 22 20

T9 29 4

T10 22 26

T11 17 28

T12 36 21

T13 21 8

T14 19 7

T15 32 14

T16 11 10

T17 16 9

T18 14 10

T19 32 15

T20 21 7

T21 25 2

T22 21 9

T23 13 4

T24 33 1

T25 27 4

T26 50 19

T27 30 3

T28 22 7

T29 17 34

T30 35 2

T31 18 15

T32 36 5

T33 26 9

T34 23 13

T35 22 8

T36 25 19

T37 14 22

(38)

3.2 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Untuk mendapatkan data primer, pada penelitian ini dilakukan dengan pengambilan tesis pada opac usu.

2. Data Sekunder

Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder yang digunakan adalah melihat banyaknya tesis pada opac usu .

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik dokumentasi, Dengan Prosedur sebagai berikut:

T38 23 15

T39 28 7

T40 15 -

T41 47 13

T42 29 14

JUMLAH 1,033 502

(39)

1. Melihat semua tesis mahasiswa Fakultas kesehatan Masyarakat universitas sumatera utara yang telah menjadi sample penelitian.

2. Melakukan pemeriksaan pada Opac Usu untuk melihat tesis

3. Menyimpan seluruh daftar pustaka atau bibliografi yang terdapat dalam tesis tersebut dan cofer tesis (halaman depan tesis).

4. Memeriksa kelengkapan dari daftar pustaka dan setiap judul dokumennya.

5. Melakukan pengkodean terhadap tesis 3.4 Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yang dilakukan yaitu dengan menggunakan teknik tabulasi yaitu penghitungan frekuensi yang terbilang di dalam masing-masing kategori. Terdapat beberapa tahap dalam proses pengolahan data dalam penelitian ini, yaitu:

1. menyimpan daftar pustaka tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Tahun 2016 dan memeriksa kelengkapannya.

2. Mengelompokkan jenis literatur yang terdapat pada daftar pustaka tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Tahun 2016.

3. Mengelompokkan bahasa yang dominan digunakan pada tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Tahun 2016.

5. Memasukkan data dalam komputer untuk dapat diolah dan dianalisis.

6. Interpretasi data.

(40)

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan setelah seluruh proses penelitian dilakukan dan data dikumpulkan, selanjutnya data tersebut diidentifikasi dan dikelompokkan berdasarkan kriteria-kriteria sesuai dengan masalah penelitian. Data tersebut selanjutnya dianalisis secara deskriptif analitis dalam berbentuk skor dan persentase. Rumus yang digunakan dalam menghitung presentase ialah dengan menggunakan rumus

Analisis data bertujuan untuk menyederhanakan data sehingga mudah dibaca dan ditafsirkan. Dengan demikian dalam penelitian ini terdapat beberapa langkah analisis dan penyajian data.

1. Ketersediaan koleksi pada perpustakaan

Untuk mengetahui tersedia atau tidaknya koleksi pada perpustakaan tersebut, dapat menggunakan table seperti dibawah ini untuk memudahkan dalam menganalisis data nantinya. Dengan rumus:

P=R/Tx100%

Dengan, P = Presentase

R = Nilai keseluruhan per jenis dokumen yang disitir

T = Nilai totali keseluruhan dokumen yang disitir

(41)

Tabel 3.2

Jumlah Koleksi Yang Disitir dari 42 tesis

No Tersedia Tidak Tersedia Frekuensi

2. Peringkat pengarang

Untuk menganalisis pengarang yang sering disitir dilakukan dengan cara memasukkan data nama pengarang yang pertama, Judul Skripsi dan daftar pustakanya kedalam computer dengan menggunakan Program Excel, dan diberi tanda (kode) nama pengarang dengan angka, setiap ada kesamaan dengan nama yang sudah ada akan dibuat tanda 1, 2, 3 dan seterusnya untuk memudahkan menghitungnya. Hanya pengarang pertama yang akan dihitung, lalu mensortirnya dengan cara mengelompokkan pertahun dan perjurusan, kemudian hanya pengarang yang lebih dari lima kali yang dihitung, hasil dari perhitungan akan dimuat dalam bentuk table untuk mengetahui hasilnya.

Tabel 3.3

Pengarang Literatur yang Sering Disitir dari 42 Skripsi

No. Pengarang Frekuensi %

1.

2.

3.

4.

5.

Total 1. Peringkat koleksi

(42)

Untuk menentukan koleksi yang sering disitir, dilakukan dengan cara yang sama dengan peringkat pengarang yaitu memasukkan data kedalam komputer dengan menggunakan program Excel, kemudian memasukkan judul jurnal kedalam komputer tersebut dan diberi kode, kemudian menghitungya untuk mengetahui peringkat jurnal yang sering disitir.

Tabel 3.4

Judul Literatur yang Disitir dari 42 Skripsi

No. Judul Literatur Frekuensi %

1.

2.

3.

4.

5.

Total

3. Usia literatur

Untuk mencari usia literatur yang digunakan dalam menulis tesis tersebut digunakan cara obsolescence diachronous. Untuk mengukur keusangan literatur dengan menggunakaan obsolescence diachronous adalah dengan cara mengurut dari tahun terendah sampai ke tahun tertinggi beserta banyak sitirannya, kemudian jumlah semua hasil sitiran dibagi dua dan jumlah dari hasil tersebut dapat dihitung dari jumlah sitiran tahun terendah hingga jumlah dari pembagian sitiran tadi selanjutnya hasil tadi dikurang dengan satu tahun dibawah tahun terakhir. Dengan menggunakan rumus:

Md=Lmd+(jmd/fmd) x i

(43)

Paro hidup=xn-md

Tabel 3.5

Paro Hidup Literatur yang Disitir dari 42 Tesis HALF LIFE

No. Tahun Sitiran

1 2 3

Jumlah The Median Year

Half Life

(44)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan bahwa skripsi yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini adalah tesis yang ditulis oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas sumatera utara,. Jumlah tesis semuanya adalah 42 skripsi dan ada 4 jenis literatur yang disitir oleh mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat.

4.1 Jenis Literatur yang Disitir

Berdasarkan data yang diperoleh ada 42 tesis dalam penelitian ini dan terdapat 4 literatur yang disitir oleh masing-masing tesis yaitu buku, jurnal, peraturan undang-undang, elektronik, tesis/skripsi, dan jenis lainnya. Dari hasil pengumpulan data daapt dilihat pada table berikut ini:

Tabel 4.1

Karakteristik Literatur yang Disitir

NO JENIS LITERATUR FREKUENSI SITIRAN %

1 Buku 1033 62,7

2 Jurnal 502 30.4

3 Peraturan undang-undang 8 0.4

4 Tesis/skripsi 104 0,63

Jumah 1,647 100

(45)

Berdasar kan tabel 1 jenis literature yang paling tinggi adalah buku yaitu 1033 (62,7%) selanjutnya pada urutan kedua yaitu jurnal sebanyak 502 (30,4%) Urutan ketiga tesis/skripsi sebanyak 104 (0,63%). dan urutan keempat peraturan undang-undang sebanyak 8 (0,4%). Dari jumlah sitiran tersebut ada dua jenis literature yang sering disitir yaitu buku dan jurnal melebihi sitiran dari yang lain.

Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa tesis pada mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat USU Tahun 2016 menyitir berbagai macam literatur yang dapat menunjang penelitian yang akan dilakukan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal misalnya topik penelitian yang berbeda, waktu serta kemudahan dalam mendapatkan dokumen. Jumlah sitiran banyak atau tidaknya yang digunakan peneliti menandai luas atau sempitnya referensi yang dibaca peneliti untuk menulis suatu karya ilmiah.

4.2 Sitiran Buku

Salah satu jenis literatur yang banyak disitir pada objek penelitian ini adalah buku, jumlah sitiran Buku pada seluruh tesis adalah sebanyak 1033 buku, dengan rata-rata sitiran sebanyak 23,88 buku.dari seluruh tesis ada satu sitiran buku terendah yaitu tesis T16 (11).

Sitiran buku terbanyak terdapat pada tesis kode T26 (50) kemudian pada tesis kode T41 (49) disusl dengan tesis kode T12(36) dan tesis dengan kode T2 (35). Dari 1647 yang disitri ada 1033 sitiran buku dengan presentase 62,7% jumlah literature ini yang paling tinngi disbanding yang lain khususnya jurnal mencapai 502 dengan presentase 30,4%. Dengan ini sitiran literur yang tertinggi adalah buku.

(46)

Berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa penggunaan buku sangat diperlukan dalam proses belajar dan mengajar dalam perguruan tinggi sesuai dengan pedoman umum pengelolaan koleksi perpustakaan perguruan tinggi yang mana setiap mata kuliah wajib memiliki satu judul buku untuk setiap mata kuliah dasar dan dua judul buku untuk setiap mata kuliah keahlian. Untuk itu, setiap mata kuliah menggunakan lebih dari satu judul buku karena cakupan isinya yang berbeda sehingga bahan yang satu dapat melengkapi bahan yang lainnya. Maka disetiap penelitian, literatur buku lebih mayoritas digunakan.

Table 4.2

Judul buku yang disitir

No Judul Buku Pengarang Frekuensi

1 Metode Penelitian Arikunto 9

2 Pengantar Psikologi Atkinson 4

3 Metode Penelitian Dan Pengukuran Azwar 4

4 Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Sugiono 7

5 Presedur Penelitian Arikunto 4

6 Asuhan Kebidanan Rukiyah 3

7 Promosi Kesehatan dan Perilaku Notoatmodjo 10

8 Metode Penelitian kesehatan Notoatmodjo 10

9 Tumbuh Kembang Anak Soetjaningsih 3

10 Ilmu Perilaku Kesehatan Notoatmodjo 8

(47)

11 Metode Kebidanan dan Teknik Analisis Data Notoatmodjo 10

Berdasarkan Tabel menunjukkan 11 buku yang paling banyak disitir pada skripsi mahasiswa Kesehatan Masyrakat USU Tahun 2016 yaitu pertama, buku “Metode Kebidanan dan Teknik Analisis Data”, “Metode Penelitian kesehatan”, “Promosi Kesehatan dan Perilaku” karangan Notoatmodjo dengan frekuensi sitiran 10 kali. Kedua “Metode Penelitian” karangan Arikunto dengan frekuensi sitiran 9 kali. Ketiga “Ilmu Perilaku Kesehatan”. Karangan Notoatmodjo dengan sitiran 8 kali. Keempat “Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif” karangan Sugiono dengan frekuensi 7 kali. Kelima Pengantar Psikologi karanagan Atkinson dengan frekuensi 4 kali, “Metode Penelitian Dan Pengukuran” karangan azwar dengan frekuensi 4, “Presedur Penelitian” karangan Arikunto dengan frekuensi 4. Kelima “Asuhan Kebidanan” karanngan Rukiyah dengan frekuensi 3,

“Tumbuh Kembang Anak” kerangan Soetjaningsih dengan frekuensi 3.

Dari Tabel menunjukkan bahwa judul buku tersebut relevan dalam penyusunan skripsi mahasiswa kesehatan Masyarakat USU Tahun 2016 karena banyak dijadikan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian. Buku yang mempunyai frekuensi sitiran paling banyak, maka dapat dikatakan bahwa buku tersebut mempunyai nilai kebermanfaatan yang tinggi, sehingga dapat membantu mahasiswa dalam membuat karya ilmiah

(48)

4.3 sitiran Jurnal

Selanjutnya yaitu jenis literature yang disitir adalah jurnal, pada tesis tersebut terdapat 502 jurnal yang disitrir dengan rata-rata 11,9% dari 42 tesis hanya satu tesis yang tidak menyitir yaitu tesis dengan kode T40. Yang paling rendah menyitir yaitu tesis dengan kode T24 hanya 1, dan yang banyak menyitir yaitu tesis dengan kode T29 sebanyak 34 tesis.

jurnal merupakan salah satu jenis literatur yang rendah disitir oleh mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat USU Tahun 2016, hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu pemahaman peneliti terhadap jurnal yang masih kurang, ketidaktahuan peneliti tentang bagaimana cara untuk mengakses jurnal baik jurnal yang dilanggan oleh perpustakaan maupun jurnal yang dapat diakses secara bebas. Selain itu penggunaan bahasa yang digunakan pada jurnal mempengaruhi disitir atau tidaknya jurnal tersebut.

4.4 Sitiran Peraturan Undang-undang

Perundang-undangan adalah salah satu jenis literatur yang banyak digunakan sebagai acuan dalam penulisan skripsi mahasiswa kesehatan Masyarakat USU Tahun 2016 Selain buku dan jurnal yang disitir ada peraturan undang-undang yang disitir oleh mahasiswa dari 42 tesis. Banyak peraturan undang-undang yang disitir adalah 8 dengan rata-rata 0,19%. Hanya 5 tesis saja yang menyitir Peraturan Undang-undang yaitu terdapat pada tesis kode T2, T13, T17,

(49)

dan T28. Faktor utama kemungkinan yang menyebabkan seorang peneliti tidak menyitir peraturan poerundang-undangan adalah karena permasalah penelitian yang mereka teliti tidak membutuhkan peraturan perundang-undangan untuk menguatkan teori penelitiannya.

Dari data tersebut, juga dapat diketahui bahwa tidak semua tesis mahasiswa kesehatan masyarakat USU Tahun 2016 memiliki sitiran terhadap peraturan perundang- undangan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal diantaranya yaitu peneliti tidak membutuhkan peraturan perundang-undangan untuk memperkuat isi dokumen. Kemudian, peraturan perundang-undangan tidak memiliki nilai epistemic value yaitu kegunaan suatu dokumen dalam memenuhi keinginan atas informasi yang tidak atau belum diketahui.

4.6 Tesis/Skripsi

Kegiatan mengutip pendapat ahli atau pendapat sebelumnya tidak dapat dipisahkan dalam membuat suatu dokumen baru. Biasanya kegiatan mengutip pendapat sebelumnya ini diambil dari suatu karya ilmiah yang terlebih dahulu telah melakakukan penelitian yang sama.

Salah satu karya ilmiah yaitu berupa skripsi dan tesis. Skripsi dan tesis merupakan salah satu jenis literatur yang digunakan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat USU Sitiran tesis/skripsi juga terdapat pada objek penelitian ini.. Secara keseluruhan jumlah sitiran tesis /skripsi adalah 104 sitiran dengan rata-rata sitiran (2.47%). dari 42 tesis hanya 13 tesis yang tidak menyitir tesis/skripsi.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa nilai kegunaan dari literatur yang disitir adalah fuctional value yaitu kegunaan suatu dokumen karena memberi kontribusi pada

(50)

penelitian yang dikukan. Dokumen akan berguna karena berisi teori, data pendukung empiris atau metodologi.

4.8 Ketersedian Literatur yang Disitir

Ketersediaan literatur dapat diketahui dengan melalukan cross check pada seluruh sitiran dengan data koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Tabel menunjukkan bahwa jumlah seluruh sitiran yang disitir tesis mahasiswa kesehatan masyarakat USU tahun 2016 berjumlah 1033 sitiran. Dari hasil cross check pada seluruh sitiran dengan data koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan USU diperoleh hasil bahwa jumlah keseluruhan ketersediaan literatur yang disitir adalah 69,61 %% dan yang tidak tersedia 30,39 %%. Berikut adalah temuan data mengenai ketersediaan literatur yang disitir pada tesis mahasiswa kesehatan masyarakat USU tahun 2016.Table 1 menunjakan bahwa kolesi buku yang disitir oleh mahasiswa sebanyak 1033.

Tabel 4.3

Jumlah ketersediaan koleksi

No. Ketersediaan Frekuensi %

1. Tersedia 719 69,61 %

2. Tidak Tersedia 314 30,39 %

jumlah 1033 100

Berdasarkan hasil pencocokan yang dilakukan terhadap data koleksi perpustakaan dengan data sitiran yang terdapat pada tesis mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat universitas sumatera utara, ditemukan adanya 719 sitiran (71,84 %) literatur tersedia dan

(51)

314 sitiran (30,39%) literatur yang tidak tersedia. Cross check pada sitiran buku dilakukan menggunakan opac perpustakaan. Buku yang disitir oleh mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat USU tahun 2016 dapat dikatakan tersedia di perpustakaan karena lebih dari setengahnya ada pada opac perpustakaan. Saat melakukan cross check pada sitiran buku peneliti menemukan bahwa ada beberapa buku yang disitir oleh mahasiswa dengan buku yang tersedia pada opac memiliki tahun yang berbeda.

4.9 Pengarang Yang Sring Disitir

Pada penelitian ini, pengarang yang dimaksud adalah pengarang atas nama orang dan merupakan pengarang pertama saja. Jika terdapat lebih dari satu pengarang dalam dokumen yang disitir maka hanya pengarang pertama yang dihitung. Sedangkan untuk pengarang kedua dan seterusnya serta nama badan atau institusi lembaga lainnya tidak diikut sertakan dalam analisis. Acuan yang digunakan untuk menetapkan pengarang yang paling sering disitir adalah berdasarkan jumlah frekuensi sitiran yang paling tinggi. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa pengarang yang paling sering disitir adalah pada

Tabel 4.4

Pengarang literature yang sering disitir

No Pengarang Frekuensi

1 Notoadmodjo 54

2 Azwar 10

3 Arikunto 12

4 Sugiono 14

(52)

5 Rukiah 4

6 Sunita 3

7 Hidayat A. 5

8 Soetjaningsih 7

9 Atkinson 4

Berdasarkan Tabel menunjukkan bahwa ada 10 pengarang yang sering disitir dengan

frekuensi yang berbeda maupun yang sama. Pengarang yang paling sering disitir yaitu pertama Notoadmodjo dengan frekuensi sitiran 54 kali. Kedua sugiono dengan frekuensi sitiran 14 kali.

Ketiga Arikunto dengan frekuensi sitiran 10 kali. Keempat Azwar dengan frekuensi sitiran 10 kali. Kelima Soetjaningsih dengan frekunsi sitiran 7 kali.

Keenam Hidayat A dengan frekuensi sitiran 5 kali. Ketujuh Rukiyah dengan freuksi sitiran 4 kali dan Atkinson dengan frekuesi sitiran 4 kali. Yang terakhir sunita dengan frekuensi sitiran 3 kali.

Pada penelitian ini, pengarang yang sering disitir banyak menulis buku dengan judul yang berbeda-beda. Namun, buku tersebut saling mempunyai keterkaitan dan dalam satu bidang yang sama. Seperti Notoadmodjo yang menulis buku “Ilmu Perilaku

Kesehatan” dan buku “Tumbuh Kembang Anak.” Kesembilan pengarang yang sering disitir tersebut menggambarkan bahwa adanya kesamaan dari seluruh atau sebagian topik atau subjek yang dikaji pada masing-masing skripsi. Pengarang yang sepuluh tersebut dapat dikatan sebagai penulis atau peneliti yang populer di bidangnya.

(53)

4.10 usia buku Yang Disitir

Dalam menilai keusangan literatur dapat dicari paro hidupnya. Paro hidup literatur merupakan ukuran keusangan literatur dari sekelompok literatur dengan cara memeriksa tahun terbit dari sitiran yang diterima literatur tersebut. Paro hidup literatur dapat dicari dengan mengurutkan tahun terbit literatur sebagai berikut:

Tabel 4.5

Paro hidup literature yang disitir

NO TAHUN SITIRAN

1 1952-1950 1

2 1956-1951 1

3 1962-1957 1

4 1968-1963 1

5 1974-1963 3

6 1980-1975 3

7 1986-1981 25

8 1992-1987 18

9 1998-1993 78

10 2004-1999 311

11 2010-2005 720

12 2016-2011 675

JUMLAH 1837

(54)

The Median Year 1995

Half Life1 2016-1995=21

Nilai Median Tabel = = 918,5 Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa tahun tengah periode tahun terbit ada pada range 1990-2015. Sehingga nilai paro hidup adalah:

Paro Hidup = 1990,5+(

) X 6 =20,82

Berdasarkan data pada tabel dapat disimpulkan bahwa paro hidup literatur yang disitir dalam Tesis Mahasiswa kesehatan masyarakat Tahun 2016 di Perpustakaan Universitas Sumatera utara adalah 20,28 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan dokumen yang disitir dikatakan mutakhir karena usianya belum mencapai titik keusangan bidang kedokteran. Hal ini dibandingkan berdasarkan atas perhitungan paro hidup literatur bidang kedokteran beberapa negara di Asia yang berkisar 12 s.d. 14 tahun.

Namun, jika dibandingkan dengan negara lain seperti di Eropa maka angka paro hidup dokumen yang disitir oleh mahasiswa kesehatan masyarakat tahun 2016 masih sangat jauh ketinggalan, sebab untuk bidang ilmu kedokteran di sejumlah negara di Eropa angka paro hidup dokumen yang disitir adalah sekitar 6,8 tahun

(55)

4.10 Rangkuman Penelitian

Berikut ini adalah rangkuman penelitian pada evaluasi ketersedian koleksi pada perpustakaan Universita Sumatera Utara adalah tersedia pada table 11

Table 4.6

Rangkuman penelitian

No Sitiran Frekuensi

1 Buku 62,7%

2 Jurnal 30,4%

3 Tesis/skripsi 0,63%

4 Undang-undang 0,4

5 Keusanagan 6,77

6 Buku yang tersedia di OPAC 69,61 %

7 Buku yang tidak tesedia di OPAC 30,39 %

(56)

BAB V

KESEIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya sesuai dengan tujuan penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:Ketersediaan Koleksi yang terdapat pada seluruh skripsi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumateara Utara, ditemukan adanya 719 sitiran (71,84

%) literatur tersedia dan 314 sitiran (30,39%) literature yang tidak tersedia.. Jenis sitiran yang paling tinggi adalah buku sebanyak 1033 dana urutan kedua adalah jurnal sebanyak 502.Jenis sitiran literatur paling tinggi pada seluruh tesis adalah literatur buku sebanyak 1033 eksemplar dengan rata-rata sitiran sebanyak 23,88 buku.Secara keseluruhan jumlah sitiran peraturan perundang-undangan adalah 8 atau sekitar 3% dari total literatur yang disitir.Secara keseluruhan jumlah sitiran jurnal 502 dari seluruh literatur yang disitir dengan rata-rata sitiran 11.9% Secara keseluruhan jumlah sitiran tesis/disertasi adalah adalah 104 sitiran dengan rata-rata sitiran (2.47%)Jumlah sitiran jenis lain secara keseluruhan adalah 56 dengan rata-rata 1,33%.Usia literatur yang disitir berdasarkan tahun terbitnya pada tesis mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat universitas sumatera utara dari tahun 1995 sampai 2016 apabila dihitung dengan menggunakan metode obsolescence diachronous adalah secara keseluruhan dokumen yang disitir dapat dikatakan belum mutakhir karena usianya sudah mencapai titik keusangan bidang kedokteran yaitu 21 tahun.

(57)

5.2 Saran

Saran yang akan penulis sampaikan dalam penelitian ini ditujukan kepada pengelola perpustakaan dan kepada penulis skripsi selanjutnya:

Dalam pengembangan koleksi perpustakaan Universitas sabaiknya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan sesuai dengan program studi pendidikan yang ada pada Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Bentuk literatur yang paling sering disitir adalah buku. Dengan demikian, diharapkan Perpustakaan memperbanyak koleksi berupa buku agar mahasiswa yang sedang melakukan penelitian atau skripsi dapat lebih mudah memperoleh literatur tersebut. Hal ini sekaligus bisa meningkatkan tingkat kunjungan mahasiswa ke perpustakaan.

Perhitungan paro hidup literatur dapat digunakan sebagai sarana untuk mengetahui perkembangan bidang ilmu. Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sebagai salah satu penyedia sumber informasi bagi mahasiswa diharapkan dapat menyediakan dan mengutamakan literatur terbaru atau mutakhir.

Gambar

Table 4.6  Rangkuman penelitian  No  Sitiran  Frekuensi  1   Buku  62,7%  2  Jurnal   30,4%  3  Tesis/skripsi  0,63%  4  Undang-undang  0,4  5  Keusanagan  6,77

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan menurut Noerhayati (1987 : 135) Pembinaan koleksi perpustakaan ini dilakukan agar perpustakaan dapat memberikan jasa pelayanan informasi kepada pengguna dan demi

Koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi koleksi

Banyak sedikitnya bahan informasi atau koleksi yang harus dimiliki oleh suatu perpustakaan hendaknya dipertimbangkan dengan jumlah pengguna, banyaknya judul, spesialisasi bidang,

Sesuai dengan kriteria interpretasi data pada tabel 7, responden yang menyatakan koleksi bidang ilmu perpustakaan yang diterbitkan dalam bahasa Inggris mendukung

dengan kebutuhan informasi pengguna perpustakaan khususnya siswa. SMA Pasundan 3 Bandung, agar koleksi Perpustakaan terpakai

Koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi

Tujuan koleksi adalah untuk memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi. Tujuan penyediaan koleksi tidak sama untuk semua jenis perpustakaan, tergantung kepada jenis dan

Dari hasil wawancara dengan pemustaka yang peneliti dapatkan, kelengkapan/ kesesuaian koleksi di Perpustakaan Mahkamah Syar’iyah Aceh sudah sesuai dengan kebutuhan