• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Eksistensi Pedagang Kaki Lima: studi tentang kontribusi modal sosial terhadap resistensi PKL di Semarang D 902009006 BAB VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Eksistensi Pedagang Kaki Lima: studi tentang kontribusi modal sosial terhadap resistensi PKL di Semarang D 902009006 BAB VII"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

Peraturan daerah (Perda) dan Peraturan walikota merupakan wujud kebijakan yang digunakan oleh pemerintah kota untuk mengatur, menata, dan membina pedagang kaki lima. Isi Perda yang mengatur tentang pedagang kaki lima antara daerah yang satu dengan lainnya tidak jauh berbeda, namun karakter kepemimpinan dan kultur masyarakat daerah

yang membedakan bagaimana pemerintah kota

mengimplementasikan kebijakan yang berkaitan dengan eksistensi pedagang kaki lima.

Demikian pula, akan tampak dalam uraian berikut bagaimana perbedaan implementasi kebijakan yang diambil oleh pemerintah kota Surakarta dan pemerintah kota Semarang dalam mengatur, menata, dan membina pedagang kaki lima. Dalam uraian juga akan dapat diketahui hambatan apa saja yang dialami pemerintah dalam menata pedagang kaki lima (PKL), serta apa dampak dari penataan tersebut terhadap nasib dan masa depan pedagang kaki lima (PKL).

A. Kebijakan dan Strategi Penataan PKL di Surakarta dan

Semarang

(2)

dengan peruntukannya, karena ditempati PKL untuk berdagang dan menjalankan usahanya. Akibatnya, lingkungan yang ditempati PKL menjadi kumuh, bau, semrawut, sumpek, tidak sedap dipandang mata, dan tidak jarang mengganggu arus lalu lintas. Kenyamanan pengguna ruang publik, baik pejalan kaki maupun pengemudi sepeda motor dan mobil menjadi terganggu pula. Kondisi inilah yang menyebabkan bupati dan walikota yang menghadapi masalah PKL, membuat kebijakan penataan dan penertiban PKL, tidak terkecuali adalah walikota Surakarta dan Semarang.

Surakarta memiliki tingkat kepadatan (density) yang cukup

tinggi, seperti halnya Semarang. Surakarta padat, karena menjadi tempat persinggahan serta arus manusia dan kendaraan yang menuju dari dan ke kota-kota sekitarnya, seperti Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Purwodadi, Wonogiri, Pacitan, Klaten, Yogyakarta, Boyolali, Salatiga, dan Semarang. Tidak seperti halnya di Semarang, jalan-jalan di Surakarta, kecuali jalan Slamet Riyadi, merupakan jalur lalu lintas yang sangat padat. Para pedagang dan jenis usaha sektor informal lainnya, tumpah ruah menempati tepi jalan, berdesak-desakan dengan toko-toko di sekitarnya. Mall-mall dan pasar swalayan, seperti Grand Mall, Matahari, dan lain-lain, tidak luput pula dari kerumunan para PKL yang ingin mencari rezeki dari tempat keramaian.

(3)

meluber hingga menjorok ke bahu atau tengah jalan. Tetapi, apakah mereka akan diusir atau digusur.

Demi keindahan kota dan kenyamanan warga kota, sudah semestinya pemerintah layak mengusir mereka. Jika hanya berpedoman pada Perda tentang PKL, sudah seharusnya PKL ditertibkan, dilarang, dan digusur dari lokasi-lokasi tersebut, karena menempati lokasi yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Namun hal lain yang harus menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan adalah masa depan PKL. Pak Joko Widodo, walikota Surakarta, melihatnya

dari sisi lain, yaitu aspek kemanusiaan. “Rocker juga manusia”,

kata Candil, pentolan “Band Serius”. PKL juga manusia, bukan

barang atau patung yang dengan mudahnya dapat dipindah ke sana kemari.

Dalam kaitan ini, pemerintah Surakarta menghadapi dilema. Di satu sisi, para PKL yang beraktivitas di lahan-lahan yang terlarang, sebagian terbesar adalah untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari diri dan keluarganya. Pada sisi lainnya, pemerintah ingin agar kota bersih, indah, tertib, rapi, dan nyaman. Kebijakan menggusur PKL jelas akan berhadapan dengan keterbatasan yang dimilikinya, yaitu terbatasnya kemampuan pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi warga kota maupun pendatang. Untuk menata PKL, Pemkot Surakarta mempertimbangkan semua hal, termasuk keinginan memberdayakan PKL dalam rangka menghidupkan dan mengembangkan ekonomi kerakyatan.

(4)

terbuka untuk perbaikan kualitas lingkungan, serta (6) keinginan dan desakan dari masyarakat untuk pelaksanaan penataan dan penertiban ruang usaha bagi PKL (Badan Informasi dan Komunikasi Pemkot Surakarta 2007).

Program penataan PKL ini juga merupakan realisasi dari program prioritas walikota dan wakil walikota Surakarta, Ir. H. Joko Widodo dan Fx. Hadi Rudyatmo, yang ingin mengembalikan Surakarta sebagai kota yang bersih, sehat, rapi,

dan indah atau terkenal dengan motto “Surakarta Berseri”.

Dalam penataan PKL, pemerintah kota Surakarta menyadari bahwa PKL merupakan bagian tak terpisahkan dari perekonomian daerah. Penataan PKL ini oleh pemerintah kota, dimaksudkan untuk memberikan kepastian usaha kepada para PKL, sehingga diharapkan mereka dapat hidup dengan layak dan perekonomian kerakyatan dapat tumbuh dan berkembang. Ruang publik, yang semula digunakan oleh para PKL, setelah penataan, diharapkan dapat dikembalikan peruntukannya seperti semula, sehingga dapat diwujudkan tata ruang kota yang harmonis.

Kebijakan penataan PKL di kota Surakarta secara garis besar dilakukan dengan (1) membuat kawasan PKL dan (2) membuat kantong-kantong PKL, yang pelaksanaannya dilakukan melalui lima strategi.

Pertama, relokasi, yaitu memindahkan PKL apabila tidak tersedia lahan di lokasi dan jumlah PKL banyak.

Kedua, shelter knock down, yaitu PKL dibuatkan shelter jika di lokasi masih tersedia lahan.

Ketiga, tendanisasi, yakni pemberian tenda kepada PKL, yang diperuntukkan pada PKL pada wilayah yang lahannya tersedia dan dioperasikan pada malam hari.

(5)

dan tenda. Gerobak ini bersifat mobile, dapat dipindahkan setiap saat.

Kelima, penertiban, yakni strategi paling akhir yang diambil pemerintah kota Surakarta, apabila PKL tetap membandel tidak mau mengikuti program penataan yang direncanakan oleh pemerintah kota. Strategi ini diterapkan untuk seluruh PKL yang ada di kota Surakarta, meskipun hingga sejauh kini belum semua dapat dijalankan.

Jumlah PKL di Surakarta yang terdata oleh Pemkot sebanyak 5.817 orang pedagang (Badan Informasi dan Komunikasi Pemkot Surakarta 2007). Secara sistematis dan menggunakan skala prioritas, PKL sebanyak itu akan ditata pemerintah. Dari 5.817 orang pedagang kaki lima tersebut, yang sudah berhasil ditata dengan menggunakan pendekatan atau strategi penataan PKL kota Surakarta ada 989 PKL. Mereka adalah PKL yang beraktivitas di Monumen Banjarsari (Monjari) yang kemudian direlokasi ke pasar Klitikan Notoharjo Semanggi. Sebelum direlokasi, wilayah Monumen Banjarsari sebagai area publik kumuh dan semrawut. Monumen Banjarsari (Monjari) dahulu adalah tempat yang nyaman bagi warga Surakarta untuk berolahraga atau beristirahat. Anak-anak yang sekolahnya berdekatan dengan monumen juga sering menggunakan tempat tersebut untuk berolahraga. Area monumen yang asri sesungguhnya juga digunakan sebagai salah satu paru-paru kota Surakarta, karena kehijauannya yang terjaga dengan baik.

(6)

pertanian, pakaian, handphone, alat bangunan, barang-barang antik, las, cat, kaset/CD, barang-barang bekas, serta makanan dan minuman.

Meskipun tergolong PKL liar, mereka memiliki sejumlah kelompok atau paguyuban yang menjadi tempat mereka bernaung dan memikirkan masa depan mereka. Paguyuban tersebut di antaranya adalah paguyuban Masyarakat Mandiri, Masyarakat Mandiri jalan Bali, Pengin Maju, Roda-2, PKL 2000, PKL Sumber Urip, PKL Sumber Rejeki, PKL Guyub Rukun A, PKL Guyub Rukun B, dan PKL non Paguyuban.

Desakan untuk mengembalikan monumen Banjarsari sesuai peruntukannya datang dari berbagai kalangan masyarakat. Menanggapi tuntutan tersebut, pemerintah kota Surakarta menyediakan layanan hotline pesan singkat dengan cara mengirim SMS ke Walikota melalui nomor 0817441111 dan ke nomor Wakil Walikota 0817442222. Beberapa SMS yang pernah terkirim ke Pemkot Surakarta di antaranya berbunyi

“Kami merindukan suasana seperti dahulu”, Mohon kepada bapak Walikota agar menata PKL Banjarsari”, Tempat yang dahulu indah kini jadi kumuh”, dan masih banyak SMS lainnya

yang sejenis (Badan Informasi dan Komunikasi Pemkot Surakarta 2007).

Pertimbangan pemerintah kota Surakarta untuk

mengembalikan fungsi Monumen Banjarsari tidak hanya karena adanya desakan dari warga masyarakat, tetapi juga karena Monumen Banjarsari merupakan situs sejarah yang harus dilestarikan dan kawasan monumen merupakan wilayah resapan air dan ruang terbuka. Berbagai pertimbangan itulah yang melatarbelakangi mengapa Pemerintah Kota Surakarta memilih kebijakan untuk merelokasi PKL Monumen Banjarsari

ke tempat lain, tanpa mengorbankan kepentingan

(7)

tetapi lebih kepada pemberian kepastian akan kelangsungan usaha, sekaligus memberi rasa aman kepada para PKL.

Rencana Pemkot Surakarta merelokasi para PKL monumen Banjarsari pada tahun 2005 sempat ditolak oleh sebagian PKL. Mereka menolak rencana Pemkot, karena mereka ragu apakah

Pemkot mampu “membersihkan” kawasan Monumen Banjarsari pasca relokasi. Demikian pula, para PKL juga meragukan keberanian Pemkot untuk bertanggungjawab mengenai kelangsungan usaha PKL di Semanggi pasca relokasi. Kelompok PKL lainnya cenderung setuju jika Pemkot hanya melakukan penataan atas masalah maraknya PKL di Monumen Banjarsari, tidak dengan memindahkan mereka.

Meskipun ada ketidaksetujuan dan penentangan dari sebagian PKL, Pemkot tetap berketetapan hati untuk merelokasi mereka, meskipun ada sebagian PKL yang mengancam akan turun ke jalan. Walikota Surakarta menegaskan bahwa kebijakan relokasi tetap akan dijalankan, karena Pemkot sudah berbuat banyak kepada PKL, sehingga tidak alasan bagi PKL untuk menolak dipindahkan. Relokasi ini sejatinya adalah untuk menjamin kepastian dan kelangsungan usaha PKL. Seperti diungkapkan pak Walikota berikut ini.

Konsep relokasi PKL didasari pada pemikiran bahwa PKL merupakan salah satu potensi ekonomi yang dimiliki kota Surakarta, karena itu keberadaannya tetap dipertahankan tanpa harus mengabaikan aturan hukum dan kepentingan seluruh warga kota Surakarta…relokasi justru akan menjamin kepastian dan kelangsungan usaha mereka” (Badan Informasi dan Komunikasi Pemkot Surakarta 2007).

(8)

langsung dengan para PKL. Sosialisasi dan dialog juga dilakukan dengan mengadakan pertemuan di Balaikota maupun di rumah dinas walikota. Media lokal turut mendukung wacana relokasi dengan menerbitkan berita tentang relokasi PKL Monumen Banjarsari.

Dari upaya yng dilakukan oleh Pemkot Surakarta, akhirnya seluruh PKL Monumen Banjarsari bersedia mendaftarkan diri untuk direlokasi ke Semanggi sebelum akhir Januari tahun 2006. Bentuk kesediaan dan dukungan PKL Banjarsari terhadap program relokasi, selain kesediaan mendaftar untuk direlokasi, juga berupa spanduk yang dipasang di berbagai tempat dan

lokasi, misalnya spanduk bertuliskan “Seluruh PKL

Monumen’45 Banjarsari siap direlokasi ke Semanggi”, “Terima

kasih kepada Pemkot Surakarta yang telah memikirkan nasib

kami”, “Kami pro Relokasi”, “Terima kasih kepada Bapak Jokowi dan Bapak Rudy yang telah memikirkan nasib dan

keluarga kami”, dan sejumlah spanduk lainnya.

Upaya relokasi PKL Banjarsari ke Sentra PKL yang baru, yaitu Semanggi dilakukan secara sistematis dan terstruktur, terlihat dari jadwal yang disusun oleh Pemkot Surakarta. Jadwal relokasi itu adalah sebagai berikut.

Pertama, pendataan PKL pada bulan September 2005.

Kedua, desain teknis dan rancangan penempatan pedagang atau zoning kios pada bulan Oktober 2005.

Ketiga, sosialisasi intern oleh Pemkot Surakarta kepada PKL, bekerjasama dengan perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, dan media massa pada bulan November 2005.

(9)

Kelima, pelaksanaan relokasi, yang meliputi persiapan para PKL, pelaksanaan boyongan bersama, peresmian dan pembukaan oleh walikota pada bulan Juni 2006.

Keenam, revitalisasi monumen, yakni persiapan, perataan tanah, pekerjaan saluran, pemagaran, pavingisasi, pengaspalan jalan, pekerjaan konstruksi sarana bermain anak, jalan setapak,

dan penyelesaian (finishing ) pada bulan Juni-Juli 2006.

Ketujuh, peresmian pemanfaatan kawasan Monumen”45

Banjarsari, diawali dengan upacara bendera dipimpin walikota pada tanggal 17 Agustus 2006.

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 44. Pasar Klitikan Notoharjo Semanggi dilihat dari depan

(10)

motor, koridor, kantor pengelola, mushola, dan lavatory atau kamar mandi dan toilet umum (Badan Informasi dan Komunikasi Pemkot Surakarta 2007).

Pemilihan lokasi Semanggi bukannya tanpa pertimbangan. Lokasi Semanggi dipilih dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut memiliki potensi ekonomi dan sosial yang tinggi, di antaranya sarana transportasi lengkap, ada pusat kegiatan sebagai pemacu pertumbuhan kawasan, seperti pasar besi, pasar ayam, pasar klitikan, pasar rakyat, rumah toko, subterminal dan bongkar muat, perumahan, penginapan, hotel, restoran, rumah sakit, dan tempat ibadah.

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 45. Subterminal yang menunjang aktivitas ekonomi PKL di Pasar Notoharjo

(11)

penunjuk arah dan pusat kegiatan lainnya, serta kenyamanan pembeli pun lebih baik daripada ketika harus berdesak-desakan membeli barang ketika masih di Monumen Banjarsari. Dalam realitasnya, dagangan dan usaha PKL Monjari yang telah berpindah di Semanggi laku dan diminati pembeli. Seperti diungkapkan pak Marsudi (40 tahun), salah seorang penjual pakaian berikut ini.

“awal pindah memang agak sepi pak…setelah 2 tahun di sini, pembeli dan pelanggan mulai berdatangan. Kita tidak kehilangan pelanggan pak, karena kita sudah punya nomor kontak (handphone), sehingga ketika kita pindah…mereka sudah kita beritahu…kapan mereka butuh barang, mereka tinggal telepon…usaha kita juga tidak mati, karena kita pindah bersama-sama…istilahnya “bedol deso” pak…jadi ya pasar tetap hidup” (wawancara dengan Marsudi, Kamis, 28 April 2011).

Pedagang kaki lima yang pindah bersama-sama ke Semanggi, menurut pak Marsudi banyak diantaranya yang

lulusan perguruan tinggi. “Mungkin faktor pendidikan inilah

yang turut memengaruhi mengapa kepindahan PKL ke

Semanggi berjalan mulus pak”, demikian ungkap pak Marsudi. “Saya sendiri lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di

Semarang, jelek-jelek saya sarjana lho pak, meskipun pekerjaan

saya hanya berjualan pakaian” (wawancara dengan Marsudi,

Kamis, 28 April 2011).

Para pedagang kaki lima eks Monumen Banjarsari yang telah pindah ke Semanggi memperoleh fasilitas dan perlakuan

yang baik dari pemerintah kota Surakarta. Untuk

memperlancar kepindahan ke Semanggi, utamanya untuk

mengangkut barang-barang dagangan dengan segala

(12)

juga diberikan secara cuma-cuma, tidak ditarik bayaran sedikit pun. Pembagian kios diserahkan kepada para pedagang atau paguyuban, didampingi oleh jajaran pemerintah kota. Desain atau tata letak kios juga disesuaikan dengan kebutuhan pedagang, sehingga setiap pembeli bisa merasakan kenyamanan dalam setiap transaksi.

Sebelum menjalankan usaha sebagai PKL, para pedagang juga difasilitasi Pemkot dalam mengurus izin penempatan. Mereka yang telah memenuhi persyaratan akan memperoleh izin penempatan dengan diberi Surat Hak Penempatan dan Kartu Pengenal, yang berlaku satu tahun. Surat hak atau surat izin penempatan yang diberikan kepada PKL gratis. Hal ini sesuai dengan amanat pasal 7 Perda Nomor Tahun 2008 tentang

Pengelolaan Pedagang Kaki Lima, yang berbunyi “dalam

memberikan izin penempatan PKL, pemerintah daerah tidak

memungut biaya”.

Kemudahan yang diberikan Pemkot kepada PKL tidak hanya masalah perizinan penempatan PKL, tetapi juga pengurusan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP), yang semuanya diberikan tanpa ditarik bayaran. Dalam hal pengembangan usaha PKL di Pasar Notoharjo Semanggi, Pemkot juga membantu pedagang kaki lima dalam pemasaran produk. Upaya promosi dilakukan, baik melalui media massa cetak dan elektronik, maupun melalui pemasangan baliho, spanduk, dan penyelenggaraan kegiatan khusus agar lokasi baru cepat dikenal.

Tidak seperti halnya pemerintah kabupaten dan

(13)

pemerintah kota Surakarta, anggota DPRD, beberapa elemen masyarakat, dan para pedagang kaki lima. Prosesi kirab budaya yang menandai boyongan resmi para pedagang kaki lima (PKL) dari kawasan Monumen Banjarsari menuju lokasi baru di Semanggi Pasar Kliwon yang diberi nama baru Pasar Notoharjo dilakukan pada tanggal 23 Juli 2006.

Pindahan atau “bedol deso” PKL Banjarsari ke Semanggi

terbilang langka, karena (1) jumlah PKL yang pindah secara sukarela relatif banyak, yaitu 989 pedagang, (2) mereka pindah secara bersama-sama, dan (3) peserta kirab berjalan kaki menuju Semanggi dengan berpakaian adat Jawa, termasuk walikota dan wakil walikota Surakarta. Kirab budaya juga dimeriahkan oleh kehadiran kereta kuda, barisan prajurit dari Keraton Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran dan Kelompok Sadar Wisata. Setelah melalui rute yang telah ditentukan, peserta kirab disambut Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, di pasar Klitikan Notoharjo Semanggi. Perhatian yang besar dari pemerintah kota maupun pemerintah provinsi dan perasaan

“diuwongke” (diperlakukan secara manusiawi) inilah yang

menjadi kunci mengapa para pedagang kaki lima di Monumen Banjarsari bersedia pindah ke Semanggi.

Relokasi PKL Monumen Banjarsari sebagai bagian dari kebijakan penataan PKL di kota Surakarta boleh dibilang sukses dan sudah 6 tahun ini para PKL menjalankan aktivitas ekonominya di lokasi yang baru, yaitu Pasar Klitikan Notoharjo Semanggi. Selain membangun pasar Notoharjo untuk pedagang kaki lima Monumen Banjarsari, Pemkot Surakarta juga membangun pasar Panggung Rejo dan Pucang Sawit. Sementara itu, pedagang kaki lima lainnya, yang telah memiliki gerobak

disediakan Shelter, yaitu di Surakarta Square, DKT, Manahan,

(14)

Dalam rangka pemberdayaan dan pembinaan PKL, Pemkot

Surakarta telah memberikan pelatihan atau training kepada

pedagang kaki lima, seperti training tentang bagaimana

melayani pembeli, training penataan barang, dan training

manajemen (wawancara dengan Joko Widodo, Walikota Surakarta, Kamis, 28 April 2011). Pemberdayaan yang dilakukan oleh Pemkot Surakarta sesuai dengan arahan pasal 12 ayat (1) Perda nomor 3 Tahun 2008, yang menyatakan bahwa untuk pengembangan usaha PKL, Walikota berkewajiban memberikan pemberdayaan, berupa (a) bimbingan dan penyuluhan manajemen usaha, (b) pengembangan usaha melalui kemitraan dengan pelaku ekonomi yang lain, (c) bimbingan untuk memperoleh peningkatan permodalan, dan (d) peningkatan sarana dan prasarana PKL.

Ketika ditanya, mengapa pak Walikota berkenan

memberdayakan PKL? Berikut jawaban pak Joko Widodo, “PKL

adalah pedagang sektor informal dan mereka merupakan aset

ekonomi kota, sehingga harus diberdayakan” (wawancara dengan Joko Widodo, Walikota Surakarta, Kamis, 28 April

2011). “Lagipula,” masih menurut pak Jokowi, panggilan akrabnya, “pada tahun 2010, PKL bersama pasar memberikan

sumbangan yang cukup besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu sebesar 19 milyar rupiah, sedangkan sektor lainnya termasuk rendah, seperti terminal hanya 2,8 milyar rupiah; restauran menyumbang 6 milyar rupiah, dan hotel

sumbangannya sebesar 9,8 milyar rupiah”. Keberhasilan Pemkot Surakarta dalam menata PKL, utamanya PKL Monumen Banjarsari sedikit banyak memberi dukungan terhadap visi kota Surakarta sebagai kota budaya yang bertumpu pada potensi perdagangan, jasa, pendidikan, pariwisata, dan olahraga.

(15)

di kota. Tahun 2005, penduduk migran yang datang ke kota Semarang mencapai angka 38.910 orang (RPJPD Kota Semarang Tahun 2005-2025). Pada tahun-tahun berikutnya, terjadi peningkatan jumlah migran, yaitu tahun 2006 meningkat menjadi 42.714 orang, tahun 2007 menjadi 43.151 orang, dan tahun 2008 meningkat lagi menjadi 44.187 orang (Bappeda dan BPS Kota Semarang 2010). Tahun 2009 merupakan tahun penurunan jumlah migran di kota Semarang, yakni 35.518 orang, namun demikian jumlah tersebut tetap signifikan jika dikaitkan dengan persoalan kesempatan kerja.

Sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang menyediakan berbagai fasilitas ekonomi dan sosial budaya, yang memberi daya tarik tersendiri bagi para migran. Fasilitas fisik, seperti hotel, mall, ritel, tempat-tempat hiburan, serta restoran, kafe dan warung-warung makan, memberikan daya tarik bagi migran untuk mencari pekerjaan. Demikian pula, bangunan kota lama, seperti Gereja Blenduk, Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Kuil Sam Poo Kong, menarik para wisatawan lokal maupun pendatang untuk berekreasi. Bangunan baru, yaitu Anjungan Jawa Tengah yang ada di pantai Marina dan Masjid Agung Jawa Tengah juga tidak pernah sepi dari pengunjung, baik lokal Semarang maupun dari luar Semarang. Industri dan pabrik-pabrik yang ada di kawasan dalam kota Semarang maupun di sekitarnya, seperti pabrik tekstil, kayu olahan, keramik, mebel, rokok, jamu, makanan, minuman, dan lain-lain, menyediakan lapangan kerja yang mencukupi bagi warga kota Semarang maupun para migran.

(16)

Semarang Utara, Semarang Timur, Gayamsari, Genuk, Pedurungan, Semarang, Candisari, Gajahmungkur, Semarang Barat, dan Tugu. Kota bawah ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, perindustrian, pendidikan dan kebudayaan.

Arus lalu lintas manusia yang ada di kota bawah menjadi daya tarik bagi PKL. Tepi bantaran sungai, tepi jalan protokol dan jalan umum lainnya, lingkungan pabrik, lingkungan kantor, lingkungan pertokoan, lingkungan mall, lingkungan pasar tradisional, trotoar, taman kota, lingkungan kampus perguruan tinggi dan sekolah, dan tempat-tempat keramaian lainnya, penuh dengan para pedagang kaki lima (PKL). Para PKL ini sering menempati daerah atau area yang terlarang atau dilarang oleh Perda nomor 11 tahun 2000.

PKL yang terorganisasi dengan baik telah ditata oleh Pemkot Semarang, dengan ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu arus lalu lintas, misalnya PKL Kalisari yang menjalankan usaha berdagang tanaman bunga dan PKL Barito yang menjalankan usaha perdagangan barang-barang klitikan. Para PKL yang berdagang barang-barang klitikan dan alat-alat pertanian dan rumah tangga juga ditempatkan di sentra PKL Kokrosono. PKL yang berdagang makanan dan minuman yang semula berada di kawasan jalan Pahlawan, ditempatkan di lokasi PKL jalan Menteri Soepeno. PKL-PKL terorganisasi tersebut memperoleh perhatian yang memadai dari Pemkot, baik dalam hal perizinan, permodalan, tempat usaha, gerobak atau lapak, dan perlindungan.

(17)

tersebut adalah PKL yang menjalankan aktivitas ekonomi yang ada di tepi bantaran sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat, yaitu PKL Sampangan, PKL Basudewo, dan PKL Kokrosono.

Kemacetan lalu lintas, kekotoran, kekumuhan, dan

kesemrawutan merupakan pandangan sehari-hari ketika para pengguna jalan atau siapa pun yang melintasi jalan-jalan yang padat PKL.

Di antara ketiga lokasi PKL yang menjadi objek penelitian ini, lokasi PKL Kokrosono yang dipandang paling ramai, semrawut, dan kumuh. Hal ini karena: (1) para PKL umumnya menjajakan barang-barang bekas, berupa barang klitikan, (2) mereka kebanyakan berjualan secara lesehan, menggelar barang dagangan seperti apa adanya di tepi jalan, dan (3) jalan Kokrosono lebarnya tidak lebih dari 6 meter, sehingga ketika ditempati para PKL di sisi kanan dan kiri, akan makin sempit dan mengganggu arus lalu lintas.

Proyek pembangunan waduk Jatibarang dan normalisasi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat, yang telah lama menjadi prioritas Kementerian Pekerjaan Umum, mulai dikerjakan pada tahun 2009 dan diharapkan akan berakhir pada tahun 2014. Proyek normalisasi sungai tentu saja memberikan pengaruh terhadap keberadaan para PKL yang menjalankan aktivitas ekonomi di sisi sungai. Pembangunan fisik sungai, mulai dari pengerukan lumpur akibat dari sedimentasi sungai yang sudah terlalu lama dan pembuatan talut, telah menyingkirkan PKL yang menempati tepi sungai, baik mereka yang ada di Sampangan, Basudewo, maupun Kokrosono.

(18)

RPJMD kota Semarang tahun 2010-1015, dan RTRW kota Semarang tahun 2011-2031.

Normalisasi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat ditandai dengan aktivitas merapikan sungai, tidak hanya di dalam dan di pinggir (DAS dan sempadan), tetapi juga menata dan merapikan lingkungan di sisi kanan dan kiri sungai yang ditempati para pedagang. PKL terkena dampaknya, tidak dapat menjalankan aktivitas ekonomi dan harus keluar dari wilayah tersebut. Relokasi ini diawali dengan tindakan penertiban yang dilakukan oleh Pemkot Semarang. Tidak adanya komunikasi yang efektif antara Pemkot dengan para PKL, penertiban yang dilakukan oleh Pemkot menyebabkan terjadinya perlawanan dari para PKL, terutama mereka yang menjalankan aktivitas di Sampangan dan Basudewo. Demikian pula, tidak adanya perencanaan yang komprehensif dari Pemkot, menyebabkan perlawanan (resistensi) di kalangan para PKL.

Tidak seperti yang dilakukan oleh pemerintah kota Surakarta, strategi Pemkot Semarang dalam menata PKL lebih diutamakan pada dua hal, yaitu penertiban (penggusuran) dan relokasi. Sebagaimana sudah dikemukakan sebelumnya, penertiban terhadap PKL dilakukan di hampir semua pelosok kota yang terdapat pedagang sektor informal. Pedagang nasi, pedagang makanan dan minuman, pedagang jajanan oleh-oleh khas Semarangan, pedagang bunga, dan pedagang barang-barang bekas yang berjualan di tepi sungai, di trotoir, di taman-taman kota, dan tempat-tempat lain yang terlarang, pernah mengalami penertiban dan penggusuran. Ada yang kapok, lalu tidak berjualan lagi di tempat tersebut, tetapi banyak juga yang kembali berjualan ketika mereka merasa aman dan tidak ada

tindakan penertiban dari aparat Satpol PP. Taktik “run and

(19)

Pemkot menertibkan para pedagang tersebut, lebih didasari oleh kepentingan sepihak, yaitu menata kota agar tertib, asri, indah, bersih, aman, dan nyaman. Hal ini dilakukan untuk mengejar tujuan jangka pendek, yaitu dalam rangka meraih penghargaan Adipura. Sementara itu, kepentingan pedagang, untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya tidak begitu diperhatikan. Pendek kata, yang penting kota bersih, tidak ada lagi PKL yang mengotorinya, demikian yang dikehendaki Pemkot.

Selain tujuan jangka pendek di atas, kebijakan yang ditempuh Pemkot Semarang dalam menata PKL tersebut juga didasari oleh tujuan jangka panjang Pemkot untuk mewujudkan Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa. Sesuai dengan Perda Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang Tahun 2010-2015, Pemkot Semarang ingin mewujudkan visi kota Semarang, yaitu terwujudnya kota Semarang sebagai kota Perdagangan dan Jasa yang berbudaya menuju Masyarakat Sejahtera.

Visi kota Semarang ini sejalan dengan visi walikota Semarang Soemarmo HS, yakni yang terkenal dengan sebutan SETARA atau Semarang Kota Sejahtera. Waktunya Semarang Setara, sebagaimana sering diucapkan walikota dalam berbagai kesempatan, dimaksudkan untuk membangun motivasi dan mengoptimalkan potensi kota Semarang, melalui komitmen seluruh pemangku kepentingan (pemerintah, masyarakat, dan swasta) untuk bersama-sama membangun kota Semarang dan

mensejajarkannya dengan kota metropolitan lainnya.

(20)

Kota Sejahtera merupakan sasaran akhir dari pembangunan kota, terutama pada masa kepemimpinan Soemarmo HS.

Untuk mewujudkan visi kota Semarang, Pemkot Semarang merumuskan misi sebagai berikut.

Pertama, mewujudkan sumberdaya manusia dan masyarakat kota Semarang yang berkualitas.

Kedua, mewujudkan pemerintahan kota yang efektif dan efisien, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menjunjung tinggi supremasi hukum.

Ketiga, mewujudkan kemandirian dan daya saing daerah.

Keempat, mewujudkan tata ruang wilayah dan infrastruktur yang berkelanjutan.

Kelima, mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat.

Visi dan misi kota Semarang diwujudkan dengan memprioritaskan program-program pembangunan dalam

bentuk Sapta Program, yang meliputi (1) program

penanggulangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran, (2) program penanganan rob dan banjir, (3) program peningkatan pelayanan publik, (4) program tata ruang dan peningkatan infrastruktur, (5) program peningkatan kesetaraan dan keadilan gender, (6) program peningkatan pelayanan pendidikan, dan (7) program peningkatan pelayanan kesehatan (http://semarangkota.go.id/cms/index.php?option=com_content &task=view&id=34&Itemid=53. diunduh pada hari Kamis, 8 September 2011).

(21)

menolak dan melawan. Penolakan dan perlawanan yang dilakukan PKL memiliki motif yang sama, yaitu untuk mempertahankan lokasi berdagang demi menyambung hidup. Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimana arogansi dari petugas Satpol PP dan bagaimana reaksi dari pedagang kaki lima yang digusur.

Sumber: Suara Merdeka Kamis, 14 Juli 2011

Gambar 46. Petugas Satpol PP sedang membongkar Lapak PKL di Indraprasta Semarang

Pembongkaran empat bangunan PKL di Jalan

(22)

Sumber: Semarang Metro, 21 Juni 2011

Gambar 47. Pedagang Bakso bersitegang dengan Aparat Satpol PP di Jl.Pandanaran Semarang

Sikap membandel dari pedagang bakso di atas merupakan

salah satu contoh dari perlawanan “wong cilik” terhadap

kebijakan penertiban dan penggusuran yang dilakukan Pemkot. Perlawanan yang hebat dan sistematis, terjadi di lokasi PKL Sampangan dan Basudewo, karena bangunan dan lapak mereka dibongkar oleh petugas Satpol PP. Bukan hanya itu yang membuat mereka melawan. Tidak adanya kepastian relokasi yang representatif, membuat mereka menolak dipindahkan dan tetap bertahan di lokasi.

B. Keberhasilan Penataan PKL: Belajar dari Relokasi PKL

Monjari

(23)

Monumen Banjarsari (Monjari) ke sentra PKL Notoharjo merupakan contoh dari kebijakan relokasi yang bagus. Sejak dilakukan boyongan pada tanggal 23 Juli 2006 ke lokasi PKL Semanggi, praktis pemerintah kota Surakarta tidak menemui hambatan berarti dalam penataan PKL.

Namun demikian, persoalan PKL di kota Surakarta tidak berarti telah selesai, sebab jumlah PKL yang berhasil ditangani baru 989 yakni mereka yang dahulu melakukan aktivitas ekonomi di Monumen Banjarsari. Padahal sebagaimana diketahui, jumlah PKL di Surakarta pada tahun 2006 yang lalu saja sudah mencapai angka 5.817 pedagang. Mereka belum semua tertangani dengan baik, namun pendekatan yang ditempuh Pemkot Surakarta berpedoman pada Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Pedagang Kaki Lima, ditengarai dapat mengatasi masalah pedagang kaki lima di kota Surakarta, apalagi Pemkot Surakarta juga telah melakukan banyak hal untuk mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan para PKL, yakni selain memperbaiki pasar yang dapat menampung para PKL, juga membuat selter-selter dan memberikan bantuan gerobak kepada PKl yang bersedia dibina dan dikembangkan. Seperti halnya pemerintah kabupaten dan pemerintah kota lainnya, Pemkot Surakarta pun tidak segan-segan melakukan penertiban bagi pedagang kaki lima yang melanggar Perda.

(24)

menjadikan kota Surakarta tetap BERSERI, yakni bersih, sehat, rapi, dan indah. Komitmen Jokowi, sang walikota yang penampilannya sederhana dan penuh kesantunan ini, untuk tetap membela kepentingan usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk di dalamnya PKL memberi kontribusi bagi keberhasilan penataan PKL. Keberpihakan pak walikota kepada rakyat kecil, utamanya para pedagang kaki lima, ditunjukkan secara terang-terangan, seperti dalam ungkapan berikut.

“Saya membela PKL, karena mereka merupakan aset

ekonomi bagi kota Surakarta pak…dengan dididik dan diberdayakan, mereka akan tumbuh menjadi pengusaha yang tidak kalah hebatnya dari pengusaha kaya yang memiliki mall-mall di Surakarta. Saya sendiri tidak anti mall, juga tidak anti pengusaha…tetapi kita harus cermat dalam memberikan izin mendirikan mall…jangan sampai karenanya, kegiatan ekonomi pedagang kecil mati” (wawancara dengan Joko Widodo, walikota Surakarta, Kamis, 28 April 2011).

Kepemimpinan Jawa yang dihayati pak Jokowi, diduga memengaruhi sikapnya terhadap pedagang kaki lima selama ini. Dalam kepemimpinan Asthabrata, pak Jokowi termasuk tipe pemimpin yang berwatak matahari. Matahari diyakini memiliki manfaat yang besar, sehingga ia diambil sebagai tamsil dalam ajaran Asthabrata (Suratno 2006:79). Sebagai sang surya, matahari menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk, baik hidup maupun makhluk tidak hidup. Pemimpin berwatak matahari memiliki karakter yang sama dengan matahari, yaitu menerangi dunia, memberikan kehidupan kepada semua makhluk, sabar dalam menjalankan tugas, dan ikhlas memberikan miliknya kepada orang lain (Suratno 2006:79).

(25)

walikota ideal, yang kehalusan budi dan kesederhanaannya,

patut menjadi teladan bagi masyarakatnya. Sifat tidak “tega”

melihat rakyatnya menderita, membuat pak Jokowi dicintai oleh masyarakatnya.

Dalam kaitannya dengan rakyat, pemimpin Jawa juga memiliki tiga prinsip hidup yang selalu melekat pada dirinya,

yaitu “ngayomi” (memberi perlindungan), “ngayemi”( membuat

tenteram), dan “ngayani” (memberi kesejahteraan) atau dikenal

dengan prinsip 3N.

Seseorang dijadikan atau dipilih sebagai pemimpin, sesuai dengan prinsip 3N di atas, harus mampu memberikan perlindungan kepada rakyat, siapa pun juga, apakah mereka rakyat jelata yang tidak memiliki apa-apa hingga rakyat berada atau mempunyai harta berlebih.

Pemimpin dengan ucapan, sikap, dan perilakunya tidak menyakiti hati rakyat atau membuat mereka menderita. Justru dengan kepemimpinannya, rakyat harus dibuat tenteram dan nyaman hidupnya. Pemimpin seperti ini, jika pergi akan dirindukan bawahannya dan ketika ada di tengah-tengah bawahannya, membuat bawahan merasa senang.

Pemimpin Jawa juga harus berjiwa “memberi”, memiliki

sikap dermawan, peduli kepada rakyatnya, dan akan sedih hatinya jika rakyatnya hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Apa pun akan dilakukan pemimpin untuk menyenangkan dan membuat bahagia rakyatnya.

Jokowi adalah tipikal pemimpin Jawa yang “Njawani”,

karena mampu menterjemahkan prinsip 3N, dengan

memberikan apa yang terbaik bagi rakyat Surakarta, khususnya mereka yang berada pada lapisan menengah ke bawah.

(26)

bahkan mereka sangat antusias merespon kebijakan relokasi yang ditentukan Pemkot. PKL Monjari yang pindah ke pasar

Notoharjo Semanggi, merasa dirinya “diuwongke”

(dimanusiakan), sehingga kepindahannya ke Pasar Notoharjo Semanggi tidak menimbulkan gejolak. Akseptabilitas yang tinggi, ditunjukkan oleh ekspresi mereka dalam merespon kebijakan pak walikota, menjadi preseden yang bagus sekaligus bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki kebijakan dalam penataan pedagang kaki lima.

Dari uraian keberhasilan relokasi PKL Monjari ke Notoharjo Semanggi, dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan penataan PKL Monjari oleh Pemkot Surakarta.

Pertama, kepemimpinan Walikota Surakarta Joko Widodo

yang “Njawani”, yang lebih berpihak kepada kepentingan wong

cilik, sehingga ia diterima dengan baik oleh masyarakat Surakarta, utamanya rakyat kecil.

Kedua, pendekatan kebudayaan (berbasis budaya Jawa) dalam kebijakan penataan PKL menjadikan apa yang dikehendaki walikota Surakarta juga merupakan keinginan PKL, sehingga relokasi ke pasar Notoharjo tidak menemui hambatan.

Ketiga, relokasi PKL Monjari ke pasar Notoharjo berjalan

dengan baik, karena adanya blue print penataan PKL Surakarta,

mulai dari sosialisasi sampai dengan kegiatan relokasi dan pasca relokasi.

(27)

kota, terutama walikotanya dalam menata PKL tanpa menimbulkan gejolak (Kompas, Kamis, 24 Juni 2010, halaman 22). Kondisi PKL pasca relokasi juga menjadi daya tarik bagi pemimpin daerah dalam negeri maupun luar negeri yang hendak belajar dalam menata dan membina PKL. Aktivitas ekonomi yang berjalan baik di Pasar Notoharjo Semanggi, didukung oleh fasilitas pasar dan kebersihan yang bagus, memberikan nilai plus kepada kebijakan pemerintah kota Surakarta, utamanya kebijakan pasca relokasi.

Tidak banyak pemerintah kota dan pemerintah kabupaten yang sukses dalam menata PKL pasca relokasi. Ambil contoh, relokasi PKL Sampangan, Basudewo, dan Kokrosono (liar) ke sentra PKL Kokrosono, yang dilakukan Pemkot Semarang, hingga kini masih menyisakan persoalan. Sentra PKL Kokrosono yang menjadi tempat relokasi bagi PKL Sampangan, Basudewo, dan Kokrosono liar terdapat gedung untuk relokasi yang tidak dilengkapi kios yang dapat digunakan oleh PKL untuk menjalankan usahanya.

Di tempat tersebut, kios harus dibuat sendiri dengan biaya sendiri, sehingga standar kios tidak ada. Hal ini jelas memberatkan dan menjadi salah satu alasan mengapa PKL yang direlokasi tidak segera pindah ke sentra PKL Kokrosono. Kios yang harus dibangun di lantai dua menjadi hambatan bagi PKL yang berdagang nasi, membuka usaha bengkel, dan PKL yang menjalankan usaha mebel. Pembeli yang enggan naik ke lantai dua menjadi alasan pula mengapa cukup banyak PKL yang tidak bersedia pindah menempati gedung yang sudah disediakan pemerintah.

(28)

yang dibiarkan polos dari lantai beton. Kios yang ditempati juga dimanfaatkan untuk sembarang usaha dan aktivitas, seperti pembuatan mebel, ternak ayam, warung minuman, kamar tidur, dan lain-lain. Gambar di bawah ini adalah beberapa kios PKL yang dibangun sendiri oleh pedagang di gedung PKL Kokrosono blok H.

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 48. Kios PKL Kokrosono yang harus dibuat sendiri oleh PKL yang direlokasi

Tidak adanya perencanaan dan pengendalian yang bagus dari Pemkot, membuat banyak kios yang diperjualbelikan oleh PKL tanpa sepengetahuan Pemkot. Konflik antar PKL juga tidak dapat dihindari, karena tidak adanya ketegasan dari Pemkot. Kegiatan penataan kios di gedung G dan H dari 8 gedung berlantai dua yang disediakan untuk kepentingan PKL, yang tidak dikontrol dengan baik oleh Pemkot, menyebabkan terjadinya perebutan tempat antar PKL. Praktik jual beli kios secara liar membuat kondisi PKL Kokrosono menjadi kian tak

(29)

dipindahkan dari tempat lain, membuat lokasi PKL Kokrosono tidak nyaman untuk aktivitas ekonomi. Belum lagi tempat yang kumuh dan kotor di sekeliling gedung PKL Kokrosono, membuat pembeli tidak betah berlama-lama di Kokrosono.

Sikap lepas tangan dari pejabat Pemkot membuat para PKL yang berada di Kokrosono bertindak seenaknya terutama dalam menjualbelikan kios kepada orang lain. Jika dibandingkan dengan sentra PKL di Pasar Notoharjo Semanggi Surakarta, lokasi PKL Kokrosono jauh dari ideal, karena tidak ada fasilitas yang mendukung kelancaran dan kenyamanan bagi PKL dalam menjalankan aktivitas ekonomi, seperti yang terlihat di Pasar Notoharjo. Gambar berikut menunjukkan bahwa bangunan PKL Kokrosono dan lingkungan fisik di sekitarnya tidak terawat dan terkesan kumuh.

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 49. Sentra PKL Kokrosono yang kumuh dan tidak terawat

(30)

memperindah dan mempercantik kota Semarang tanpa menyakiti warga masyarakat miskin, khususnya pedagang kaki lima. Itu pun dilakukan setelah memperoleh masukan dari Paguyuban Pedagang Kaki Lima Kota Semarang (PPKLS), LSM, dan tokoh-tokoh masyarakat. Apa yang dilakukan walikota

Semarang tersebut juga berkaitan dengan “grand strategy”

Pemkot untuk mewujudkan kota Semarang sebagai pusat perdagangan dan jasa sesuai dengan arahan Perda kota

Semarang Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) kota Semarang Tahun 2005-2025, Perda kota Semarang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Semarang Tahun 2010-1015, dan Perda kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah kota Semarang Tahun 2011-2031.

Berdasarkan Perda-perda tersebut, walikota sejak

(31)
[image:31.461.79.386.91.562.2]

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 50. Ruas jalan Pahlawan yang telah ditata rapi oleh Pemkot

Sejak itu, banyak warga masyarakat, utamanya anak-anak muda berbondong-bondong mendatangi pusat-pusat kota untuk menikmati keindahan malam kota Semarang. Ada di antara mereka yang sekedar bercengkerama, berbincang-bincang ke sana kemari sekedar untuk melepaskan ketegangan karena lelah beraktivitas pada pagi hingga sore hari. Ada pula yang menyalurkan hobi, seperti berkumpulnya anggota geng motor dan mobil, beradu ketangkasan bersepeda, bermain sepatu roda, menari dan berdansa, serta banyak juga yang menyalurkan hobinya dengan memfoto objek-objek menarik di Tugu Muda maupun di jalan Pahlawan. Ruang publik yang berada di bundaran Simpang Lima, jalan Pahlawan, jalan Menteri Soepeno, jalan Pemuda, dan Monumen Tugu Muda ramai dipadati warga kota Semarang terutama pada hari Jumat hingga Minggu malam.

Selain menata ruang publik menjadi lebih rapi, indah, dan

(32)

diperuntukkan bagi pedagang kaki lima di sekitar bundaran

Simpang Lima dan jalan Menteri Soepeno. Shelter-shelter ini

diberikan secara gratis kepada para PKL yang sejak awal sudah berdagang di sekitar bundaran Simpang Lima dan di tepi jalan Pahlawan. Para PKL yang berjualan di tepi jalan Pahlawan pada akhir tahun 2010 direlokasi ke sentra PKL di jalan Menteri Soepeno, tepatnya di sekeliling Taman KB. Di lokasi PKL yang baru ini, para PKL mendapatkan fasilitas shelter dan gerobak gratis. Berkat kerjasama dengan PT. Coca-Cola, gerobak dapat diberikan secara gratis kepada para pedagang. Gambar di bawah

ini memperlihatkan shelter yang disediakan Pemkot di jalan

Menteri Soepeno.

[image:32.461.74.390.96.500.2]

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 51. Shelter yang disediakan Pemkot untuk PKL jalan Menteri Soepeno

(33)

yang merelokasi PKL yang berjualan di jalan Pahlawan ke lokasi PKL jalan Menteri Soepeno.

Menurut penuturan Oka, semua fasilitas untuk berdagang, yaitu tempat (shelter) dan gerobak disediakan gratis oleh Pemkot. Selain itu, juga disediakan fasilitas air dan listrik.

“Sekarang enak pak, serba gratis…kita hanya bayar retribusi

untuk Dinas Pasar, yaitu Rp14.000,00, itu sudah termasuk air

dan listrik; sedangkan untuk paguyuban kita bayar Rp2.000,00”,

kata Oka. Ketika ditanya, berapa pendapatan per hari, dengan

agak malu-malu, ia menjawab: “ya tidak pasti pak…kalau

dirata-rata per hari hanya Rp50.000,00…sepi pak, tidak seperti

ketika berjualan di jalan Pahlawan, ramainya hanya hari Sabtu dan Minggu” (Wawancara dengan Oka, Minggu, 9 Oktober 2011).

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 52. Mbak Oka dengan barang dagangannya

(34)

waktu pagi hari berjualan di sekitar Taman KB jalan Menteri Soepeno dan (2) PKL Pahlawan yang dipindah ke jalan Menteri Soepeno. Pada bulan November 2011 telah dibangun pula shelter di lokasi yang biasa digunakan berdagang oleh pedagang

jagung bakar dan penjual helm. Bulan Desember, shelter

tersebut telah ditempati oleh pedagang jagung bakar yang berjualan pada malam hari. Di lokasi yang juga berada di jalan Menteri Soepeno ini, dibangun 40 shelter meskipun tempatnya

tidak sebaik shelter yang berada di sekeliling Taman KB,

namun dapat digunakan para pedagang untuk tempat berjualan, karena juga disediakan fasilitas perlistrikan.

Sementara itu, shelter di Bundaran Simpang Lima

jumlahnya ada 87 buah, yang diperuntukkan bagi PKL yang dahulu berdagang di sekitar Bundaran Simpang Lima.

Kedelapan puluh tujuh shelter tersebut mengelilingi bundaran

Simpang Lima, yang berada di sisi barat, selatan, dan timur; sedangkan sisi utara yang berada di depan hotel Ciputra tidak

disediakan shelter karena adanya keberatan dari pihak

manajemen hotel. Demikian pula, di depan masjid Baiturrahman Semarang yang biasa digunakan oleh PKL untuk

berdagang, tidak dibuatkan shelter karena untuk menghormati

warga kota yang hendak sholat di masjid tersebut. Namun demikian, meskipun tidak ada shelter yang dibangun, para

pedagang tetap nekat berjualan di depan masjid. Shelter yang

disediakan untuk pedagang merupakan bagian dari upaya Pemkot Semarang untuk mempercantik Kota Semarang. Untuk

menyelesaikan shelter tersebut, Pemkot telah menghabiskan

anggaran sebesar Rp15 milyar.

Menurut penuturan walikota Semarang, Soemarmo HS, anggaran tersebut digunakan untuk menata dan mempercantik

seluruh bundaran Simpang Lima, termasuk pembuatan shelter

(35)

besaran anggaran untuk mempercantik Simpang Lima didasarkan atas keberadaan Simpang Lima sebagai wajah utama kota Semarang, bahkan Simpang Lima ini sudah menjadi ikon kota sejak lama (Harian Semarang, Kamis, 26 Agustus 2010, halaman 2).

Gambar di bawah ini merupakan salah satu shelter yang

dibuat di depan E-Plaza Semarang, yang berada di sebelah barat bundaran Simpang Lima. Sejak awal tahun baru (2012), seluruh

shelter yang ada di sekeliling bundaran Simpang Lima sudah digunakan pedagang makanan dan minuman untuk berjualan.

Sejak dioperasikan shelter-shelter tersebut, suasana malam

Simpang Lima makin ramai, karena di sekeliling bundaran Simpang Lima, banyak dipadati para pedagang nasi dan minuman serta pengunjung Simpang Lima yang ingin menikmati suasana malam Simpang Lima sambil makan dan minum.

Sumber: Dokumen Peribadi

[image:35.461.76.390.164.545.2]
(36)

Secara selintas, kebijakan Pemkot Semarang ini sepertinya memberikan manfaat bagi semua PKL yang ada di kota Semarang. Sesungguhnya tidak seperti itu. Hanya PKL yang terorganisasi dan yang mudah terjangkau oleh pemerintah kota Semarang yang diberi perhatian secara memadai oleh Pemkot. Kebijakan diskriminatif dalam penataan PKL ditunjukkan Pemkot.

PKL yang terorganisasi dan dapat ditata, diberi fasilitas untuk menjalankan usaha ekonomi, seperti dibuatkan shelter dan dibantu gerobak untuk berdagang, sedangkan PKL liar yang jumlahnya lebih banyak dari PKL terorganisasi dibiarkan tanpa ada fasilitasi dan mereka rentan terkena penggusuran.

Pembuatan shelter di pinggir bundaran Simpang Lima pun

sesungguhnya dapat dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, pemerintah memang peduli kepada kehidupan wong cilik, yaitu PKL, dengan memberikan tempat berdagang di pusat kota. Pada sisi lain, bisa saja pembuatan shelter di pusat kota tersebut untuk memberi kesan bahwa Pemkot Semarang peduli kepada kehidupan dan nasib rakyat kecil, utamanya PKL. Padahal jika ditilik secara mendalam, sikap diskriminatif Pemkot masih tampak. PKL yang liar, sulit diatur, dan sulit dikendalikan, seperti mereka yang beraktivitas ekonomi di Sampangan, Basudewo, dan Kokrosono, tidak ditata dengan baik, bahkan ada kesan dibiarkan, sehingga permasalahan PKL di kota Semarang belum tuntas diselesaikan.

(37)

C. Hambatan yang dihadapi Pemerintah

Setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah sudah tentu tidak semuanya dapat diterima masyarakat. Ada pihak yang pro dan ada pula yang kontra terhadap kebijakan yang diambil. Mereka yang pro atau setuju dengan kebijakan biasanya adalah pihak yang diuntungkan atau setidaknya tidak dirugikan dari kebijakan yang telah diputuskan. Sementara itu, pihak yang kontra, menolak, atau menentang kebijakan tersebut adalah pihak yang tidak memperoleh keuntungan apa pun dari kebijakan tersebut atau mereka berada pada pihak yang dirugikan akibat dari kebijakan yang akan dan telah diambil.

Permasalahan PKL bukan persoalan yang mudah dipecahkan. Banyak faktor yang melingkupinya. Tidak hanya terkait dengan masalah sempitnya lapangan kerja di sektor formal, tetapi juga berhubungan dengan faktor-faktor lainnya, seperti meningkatnya arus migrasi ke kota, bertambahnya jumlah penduduk kota, makin sempitnya lahan kota karena dipadati oleh gedung-gedung perkantoran, bisnis, perbankan, dan perdagangan, makin lengkapnya fasilitas kota, karakteristik

urban yang umumnya rendah pendidikan dan tak

berketerampilan, dan faktor lainnya, yang membuat kota menjadi tempat menarik bagi migran atau urban yang hendak mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Para migran dan urban yang tidak terserap oleh sektor ekonomi formal, umumnya mencari rezeki dengan memasuki sektor informal, misalnya dengan menjadi pedagang kaki lima. Jenis usaha yang dipilih pun beraneka ragam, ada yang menjadi pedagang makanan dan minuman, pedagang alat-alat pertanian dan pertukangan, pedagang barang-barang bekas (klitikan), pedagang pakaian, dan lain-lain.

(38)

tempat kosong yang khusus disediakan oleh Pemkot, membuat mereka nekat menempati area terlarang, seperti tepi sungai, trotoar, emperan toko, ruang dekat pasar tradisional maupun modern, ruang dekat sekolah, ruang dekat perkantoran, dan area lainnya yang mudah diakses pembeli. Anggaran yang terlalu kecil sering menjadi kendala bagi pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah untuk melakukan penataan dan pembinaan pedagang kaki lima.

Kota Surakarta dengan jumlah PKL lebih dari 5.000 orang dan Semarang dengan jumlah PKL lebih dari 11.000 orang mengalami kesulitan dalam menata dan menertibkan PKL. Data jumlah PKL ini bisa saja berubah lebih tinggi, karena data terbaru belum diperoleh. Selain itu, pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dari sektor ekonomi informal (PKL) juga merupakan variabel yang dapat menambah data jumlah PKL.

Keterbatasan lahan yang dimiliki pemerintah kota merupakan kendala tersendiri, apalagi sebagian lahan harus disediakan pemerintah untuk ruang terbuka hijau (RTH) yang tidak boleh digunakan untuk aktivitas lain, selain untuk kepentingan RTH. Sikap PKL yang sulit diatur juga menjadi kendala bagi Pemkot untuk menata dan membina PKL. Hari ini ditertibkan, mereka patuh tidak menempati area terlarang, tetapi begitu tidak ada penertiban, mereka kembali lagi ke tempat semula. Mirip film Tom and Jerry, petugas Satpol PP sebagai Tom selalu mengejar-ngejar PKL sebagai Jerry. Mereka tidak pernah akur, Tom dengan gigi taringnya menakut-nakuti Jerry, tetapi Jerry yang cerdik tampaknya tidak pernah jera.

(39)

Pemkab Grobogan, Endah Pamularsih, kegagalan kabupaten Grobogan memperoleh Adipura, karena masih adanya kawasan kumuh yang ditempati para PKL (Semarang Metro, Sabtu, 5 November 2011).

Kebanyakan pemerintah kabupaten atau kota melakukan penataan PKL, salah satu tujuan terpenting adalah untuk memperoleh penghargaan Adipura, sebuah penghargaan

prestisius bagi bupati atau walikota yang berhasil

memperolehnya. Untuk keperluan tersebut, tidak segan-segan pemerintah menggusur PKL atau setidaknya mengarahkan PKL agar tidak mengganggu persiapan dan pelaksanaan penilaian Adipura. Pemkot Semarang biasanya meminta PKL untuk tidak berdagang beberapa hari ketika tiba masa penilaian Adipura dari pemerintah pusat.

Komunikasi yang kurang antara Pemkot dan PKL juga menjadi penyebab sekaligus hambatan mengapa PKL sulit ditata. Macetnya komunikasi antara kedua belah pihak, menyebabkan munculnya perasaan saling curiga dan tidak adanya kepercayaan satu dengan lainnya. Keberhasilan relokasi PKL Monjari ke pasar Notoharjo Semanggi Surakarta merupakan bukti dari berlangsungnya komunikasi yang intensif antara Pemkot dengan PKL.

Komunikasi berlangsung baik ketika walikota beserta wakilnya melepas baju kedinasan dan bersedia berbaur dengan

PKL, sehingga PKL menjadi impresif terhadap apa yang

dilakukan orang nomor satu dan nomor dua di Surakarta tersebut. Perhatian yang besar dari pemimpin tersebut mampu membuka kunci ketertutupan, kebandelan, dan kenekatan dari PKL, sehingga para PKL akhirnya bersedia dipindah ke tempat lain yang lebih baik kondisinya. Hal ini tidak terjadi di kota Semarang.

(40)

Pemkot. Rapat-rapat yang diadakan PKL tidak pernah dihadiri oleh pejabat kota Semarang. Kalau pun pernah, hanya menjelang akhir perjuangan PKL Basudewo, wakil walikota bersedia hadir, itu pun hanya sekali untuk menegosiasi PKL agar mereka bersedia pindah ke sentra PKL Kokrosono. Pejabat kota Semarang yang lebih mengedepankan gengsi kekuasaan, membuat mereka tidak dengan mudah diterima di kalangan

para PKL. “Kalau diundang untuk membicarakan nasib kita,

mereka tidak pernah datang pak, mungkin gengsinya turun

kalau hadir di tengah orang miskin”, demikian ungkap pak

Achmad. Pedagang kaki lima (PKL) menjadi resisten ketika mereka ditertibkan, apalagi penertiban dilakukan secara tidak manusiawi.

Penertiban dan penggusuran sebagai bahasa kekuasaan Pemkot menjadi pintu masuk bagi PKL untuk melakukan perlawanan, apalagi dalam realitas kebijakan yang dikeluarkan Pemkot, para PKL harus berada pada posisi harus mengalah, kalah dan dikalahkan demi kepentingan yang lebih besar. Mereka harus minggir dari jalanan atau tempat terlarang lainnya, demi pembangunan yang lebih besar manfaatnya bagi kota dan masyarakat.

Sikap bandel atau membangkang merupakan tipikal dari sebagian PKL di kota Semarang. Sikap bandel dan membangkang ini juga merupakan hambatan yang dihadapi

Pemkot dalam menata PKL. Para PKL pada saat “dirazia” akan

pergi dari lokasi, tetapi begitu kondisi sudah aman, mereka akan kembali ke tempat semula. Ini terjadi tidak hanya di Semarang, tetapi juga di daerah lainnya.

“Kami berkali-kali telah memperingatkan, tetapi tidak

(41)

Kebandelan PKL juga dirasakan oleh Kepala Satpol PP Kabupaten Grobogan, Daru Wisakti.

“Banyak PKL yang membandel meskipun sering kami

tertibkan, dan kali ini bagi yang melanggar akan kami proses sampai Pengadilan atas pelanggaran Perda”, tegas Daru (Semarang Metro, Sabtu, 5 November 2011).

Sikap bandel dan tidak disiplin dari PKL Semarang juga ditunjukkan dari banyaknya PKL yang tidak memiliki Surat Keputusan resmi dari Pemkot untuk izin berdagang. Mereka yang sudah menempati lahan dan telah mendirikan bangunan dan lapak tidak resmi, juga banyak di antaranya yang menjual lahan kepada pihak lain.

“lahan bukan hak milik banyak yang dijual dan

dipindahtangankan kepada pihak lain…sebenarnya hal ini dilarang dan bertentangan dengan ketentuan Perda PKL, tetapi mereka tetap membandel…di Semarang banyak PKL liar yang tidak memiliki SK resmi sehingga sulit bagi kami untuk melakukan penataan dan penertiban”, demikian keluh pak Azis, Ka.Sub. Dinas Pasar Semarang (wawancara dengan pak Azis, Rabu, 29 Februari 2012).

(42)

Namun demikian, ditemukan pula, bahwa ada di antara petugas Satpol PP yang dalam melaksanakan tugasnya memanfaatkan kesempatan dengan menarik sejumlah uang kepada para PKL dengan dalih untuk uang keamanan. Perilaku petugas Satpol PP ini tidak jauh berbeda dengan tindakan preman di sekitar lokasi PKL yang melakukan pungutan liar, juga dengan dalih untuk dana keamanan.

D. Dampak Kebijakan Penataan PKL

Dalam kasus PKL Monjari, pemerintah kota Surakarta termasuk berhasil dalam melakukan penataan PKL. Sebanyak 989 PKL bersedia dipindah setelah melalui serangkaian strategi yang ditempuh pemerintah kota Surakarta, mulai dari kegiatan sosialisasi, komunikasi, penyiapan lahan, pembangunan sarana prasarana, hingga kirab budaya kepindahan para PKL ke Pasar Notoharjo Semanggi Surakarta. Pendekatan budaya yang diterapkan walikota Surakarta, Joko Widodo, membuat para

PKL menjadi “ewuh pakewuh” dan bersedia pindah tanpa ada

konflik.

(43)

Pasar Notoharjo sebagai sentra PKL untuk barang-barang klitikan tetap ramai dikunjungi pembeli, tidak hanya warga dari Surakarta, tetapi juga dari daerah sekitarnya, seperti pembeli dari Sukoharjo dan Karanganyar. Para PKL juga merasakan dampak positif dari usahanya di Pasar Notoharjo dan hingga kini pun usaha dagangnya masih tetap lancar, sehingga kebutuhan ekonomi keluarga dapat dipenuhi. Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimana kondisi pedagang kaki lima (PKL) yang berdagang di Pasar Klitikan Notoharjo, Semanggi, Surakarta.

[image:43.461.78.391.94.480.2]

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 54. Suasana di Pasar Klitikan Notoharjo Surakarta

(44)

untuk memindahkan barang-barang pedagang ditangani oleh Pemkot. Pendek kata, PKL tinggal datang ke tempat yang baru untuk berdagang. Sikap akomodatif yang ditunjukkan Pemkot Surakarta memberikan suasana kondusif bagi kepindahan para PKL.

Strategi penataan PKL yang komprehensif, dengan melibatkan semua pihak, baik pemerintah provinsi Jawa Tengah, jajaran pemerintah kota Surakarta, media massa, tokoh-tokoh masyarakat Surakarta, hingga para pedagang kaki lima yang akan dipindah, membuat para PKL merasa

“diuwongke” atau ditempatkan sebagai manusia yang harus

dihormati hak-haknya, sehingga mereka secara sukarela bersedia dipindah.

Kebijakan yang diambil Pemkot Surakarta tersebut berbeda dengan kebijakan penataan PKL yang diimplementasikan Pemkot Semarang, utamanya dalam menata PKL Sampangan, Basudewo dan Kokrosono. Pendekatan kekuasaan yang diperagakan Pemkot Semarang memberikan dampak berupa resistensi dari kalangan pedagang kaki lima. Penataan PKL di kota Semarang tidak dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat kota Semarang. Jika pemerintah kota Surakarta melibatkan aparat pemerintah, seperti petugas Satpol PP, Dinas Pasar, kalangan DPRD, asosiasi PKL, tokoh-tokoh masyarakat, media massa, dan PKL; sementara Pemkot Semarang tidak melakukannya.

(45)

terhadap PKL Sampangan, Basudewo, dan Kokrosono yang dinilai membangkang dan melanggar Peraturan Daerah tentang PKL. Bagi mereka, PKL yang melanggar ketentuan Perda harus dihukum dan diberi sanksi, di antaranya dengan dipaksa pindah dari lokasi berdagang.

PKL yang memiliki bangunan semi permanen dan lapak mereka bongkar secara paksa dan sesuai ketentuan dan kebijakan walikota, para PKL tersebut dipindahkan ke sentra PKL Kokrosono yang kondisinya tidak memadai untuk melaksanakan kegiatan ekonomi, karena yang ada hanya bangunan, sedangkan kios tidak disiapkan oleh Pemkot. Sempitnya bangunan, kios belum disiapkan, lingkungan yang kumuh, menyebabkan banyak PKL yang tidak bersedia pindah ke Kokrosono. PKL Sampangan misalnya, hingga tahun 2012 masih menjalankan aktivitas ekonomi di sisi selatan lokasi yang telah dibongkar Satpol PP. Nasib PKL Basudewo lebih tragis. Sebagian kecil bersedia pindah ke Kokrosono, sedangkan sebagian besar lainnya tidak diketahui ke mana mereka menjalankan aktivitas ekonomi. Bahkan masih ada beberapa PKL yang nekat mencari rezeki di Basudewo, meskipun aktivitas proyek masih berlangsung. Sementara itu, PKL Kokrosono liar masih berdagang dan menjalankan aktivitas ekonomi di lokasi semula, meskipun tempat mereka berdagang digunakan sebagai lalu lintas truk-truk proyek dan menempatkan material untuk proyek normalisasi sungai Banjir Kanal Barat.

(46)

Pak Mustaqim, salah seorang PKL yang menjual peralatan rumahtangga, pertanian, dan pertukangan, nekat berjualan di tepi sungai Banjir Kanal Barat, karena menurut penuturannya, lokasinya ramai. Bahkan pak Mustaqim yang sudah pergi haji dua kali ini, bersedia membayar Rp10 juta asalkan diizinkan tetap berjualan di tepi sungai tersebut. Lain dengan PKL Sampangan dan Kokrosono yang tetap nekat berjualan di lokasi semula, PKL Basudewo yang berdagang dan menjalankan aktivitas ekonomi di tepi sungai Banjir Kanal Barat, akhirnya menyerah dan bersedia dipindah ke lokasi PKL Kokrosono. Itu pun hanya beberapa orang saja yang pindah, sedangkan sebagian besar lainnya yang berprofesi sebagai pengrajin mebel tidak diketahui lagi kemana mereka menjalankan aktivitas ekonomi.

E. Rangkuman

Pada hampir semua kota dan kabupaten di Jawa Tengah menghadapi persoalan PKL. Berkaitan dengan keberadaan PKL, pemerintah Surakarta dan Semarang menghadapi persoalan yang lebih rumit. Sebagai kota perdagangan dan jasa, Surakarta dan Semarang menjadi tujuan para urban untuk mengais rezeki. Mereka yang tidak tertampung di sektor formal, menceburkan diri dalam aktivitas ekonomi di sektor informal, banyak di antaranya yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima (PKL). Keberadaan PKL inilah yang membuat pusing walikota di dua kota tersebut. Penataan terhadap PKL merupakan suatu keharusan bagi Pemkot untuk menata kota asri, indah, bersih, dan nyaman, tetapi dengan tidak mematikan geliat sektor informal, utamanya PKL.

(47)

ruang publik yang digunakan oleh PKL, (3) kesemrawutan lalu lintas di lokasi-lokasi kawasan PKL, (4) permasalahan sosial dan ekonomi, (5) makin dirasakan perlunya ruang hijau dan ruang terbuka untuk perbaikan kualitas lingkungan, serta (6) keinginan dan desakan dari masyarakat untuk pelaksanaan penataan dan penertiban ruang usaha bagi PKL. Kebijakan penataan PKL di kota Surakarta secara garis besar dilakukan dengan (1) membuat kawasan PKL dan (2) membuat kantong-kantong PKL, yang pelaksanaannya dilakukan melalui lima strategi.

Pertama, relokasi, yaitu memindahkan PKL apabila tidak tersedia lahan di lokasi dan jumlah PKL banyak.

Kedua, shelter knock down, di mana PKL dibuatkan shelter

jika di lokasi masih tersedia lahan.

Ketiga, tendanisasi, yakni pemberian tenda kepada PKL, yang diperuntukkan pada PKL pada wilayah yang lahannya tersedia dan dioperasikan pada malam hari.

Keempat, gerobakisasi, yakni pemberian gerobak kepada PKL pada wilayah yang lahannya tidak tersedia untuk selter dan tenda. Gerobak ini bersifat mobile, dapat dipindahkan setiap saat.

Kelima, penertiban, yakni strategi paling akhir yang diambil pemerintah kota Surakarta, apabila PKL tetap membandel tidak mau mengikuti program penataan yang direncanakan oleh pemerintah kota. Strategi ini diterapkan untuk seluruh PKL yang ada di kota Surakarta, meskipun hingga sejauh kini belum semua dapat dijalankan.

Tidak seperti halnya kebijakan yang diambil oleh Pemkot Surakarta, Pemkot Semarang tidak memiliki pedoman dalam menata PKL. Mereka hanya memfokuskan diri pada program relokasi. Kalau pun ada program yang serupa dengan program

(48)

dilakukan setelah mereka belajar dari keberhasilan Pemkot Surakarta dalam menata PKL, utamanya relokasi PKL Monumen Banjarsari ke Pasar Notoharjo Semanggi Surakarta.

Implementasi kebijakan penataan PKL di Surakarta dan Semarang berbeda dalam empat hal.

Pertama, Pemkot Surakarta dalam melakukan penataan PKL menggunakan buku pedoman yang disusun secara komprehensif dengan melibatkan banyak unsur, sedangkan Pemkot Semarang tidak memikiki buku pedoman dalam penataan PKL.

Kedua, relokasi PKL di Surakarta berjalan lancar, karena pendekatan yang ditempuh adalah pendekatan budaya dan nonkekerasan, sementara itu pendekatan yang diambil Pemkot Semarang berbasis kekuasaan dan cenderung berifat kekerasan.

Ketiga, Pemkot Surakarta tidak bertindak diskriminatif terhadap PKL, sedangkan Pemkot Semarang berlaku diskriminatif terhadap PKL.

Gambar

Gambar 44. Pasar Klitikan Notoharjo Semanggi dilihat dari
Gambar 45. Subterminal yang menunjang aktivitas ekonomi
Gambar 46. Petugas Satpol PP sedang membongkar Lapak
Gambar 47. Pedagang Bakso bersitegang dengan Aparat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat ini pembangunan di kota besar menitikberatkan bagunan bertingkat tinggi, karena semakin sulitnya untuk mendapatkan lahan yang luas yang disebabkan banyaknya pembangunan

Daktail penuh adalah suatu tingkat daktilitas struktur gedung, di mana strukturnya mampu mengalami simpangan pasca-elastik pada saat mencapai kondisi diambang keruntuhan

Pengabdian kepada masyarakat adalah pelaksanaan pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya langsung pada masyarakat secara kelembagaan melalui metodologi

Setiap dosen harus melakukan penelitian pada bidang yang sesuai dengan.

5.2.2 Apabila dalam waktu 10 hari sejak dilaksanakan ujian tidak ada pemberitahuan dari dosen yang bersangkutan mengenai nilai UTS dan UAS, maka Fakultas/Prodi berhak

5.2.6 Bagian perencanaan menelaah kelayakan usulan kegiatan dan anggaran dari unit kerja di lingkungan UPM Probolinggo dengan mengacu pada Rencana Strategis

Sistem Pembelajaran Tenses Multimedia Bermain dan Belajar Bahasa Inggris dan Mandarin dengan Game Pas Pembangunan Aplikasi Pembelajaran Bahasa Inggris bagi Anak TK

Kepala BAAK sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap barang iventarisc. sarana pendidikan di