• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Komponen Komitmen Organisasi pada Karyawan Perusahaan Dagang "X" di Kota Cimahi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Komponen Komitmen Organisasi pada Karyawan Perusahaan Dagang "X" di Kota Cimahi."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

ii Universitas Kristen Maranatha Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komponen komitmen organisasi pada

karyawan perusahaan dagang “X” di Kota Cimahi. Judul dari penelitian ini adalah “Studi

Deskriptif Mengenai Komponen Komitmen Organisasi Pada Karyawan Perusahaan Dagang “X” di Kota Cimahi”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Pengambilan data dilakukan kepada 28 orang responden dengan menggunakan metode purposive sampling.

Penelitian ini menggunakan teori komitmen organisasi dari Meyer & Allen (1997). Komitmen organisasi terdiri dari komponen affective, continuance, dan normative. Alat ukur yang digunakan adalah modifikasi dari alat ukur Organizational Commitment Questionaire (OCQ) yang dikonstruksi oleh Meyer & Allen (1997). Uji validitas dilakukan dengan korelasi Rank Spearman, dengan 34 item diterima dari total keseluruhan 39 item dimana rentang validitas antara 0,301 sampai 0,701. Uji reliabilitas dilakukan dengan metode Alpha Cronbach, yaitu sebesar 0,882. Perhitungan validitas serta reliabilitas alat ukur dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.00.

Hasil pengolahan data menunjukkan 43% responden memiliki komponen komitmen organisasi affective yang dominan. Dengan demikian tergambar bahwa yang menjadi alasan utama bagi sebagian besar karyawan untuk tetap mempertahankan keanggotaannya di

Perusahaan Dagang “X” adalah karena didasari oleh keinginannya sendiri (want to), serta karena merasa bangga, nyaman serta menyenangi status keanggotaannya di Perusahaan

Dagang “X”. Komponen komitmen organisasi selanjutnya yang menempati urutan kedua adalah komponen normative commitment yang dimiliki oleh 39% responden.

(2)

Abstract

This research is conducted to determine the component of organizational commitment of the worker in PD “X” Cimahi. The title of this research is “A Descriptive Study About Organizational Commitment of Worker in PD “X” Cimahi. This research used a descriptive methods with a survey technique. Data collection was conducted on 28 respondents using purposive methods of sampling.

This research used the organizational commitment theory of Meyer & Allen (1997). Organizational commitment consists of affective, continuance, and normative components. Measuring instruments which used in this research is a modification of Organizational Commitment Questionaire (OCQ) that was constructed by Meyer & Allen (1997). Validity test

processed with Spearman’s Rank Correlation obtained 34 acceptable items from 39 total items with range 0,301 to 0,701. Reliability test processed with Alpha Cronbach Methods technique scored 0, 882. Calculation of the validity and reliability of measuring instruments performed with SPSS 16.00.

The results of data processing showed 43% of respondents have a dominant affective organizational commitment. Thus envisaged that the main reason for most workers to retain their membership in PD “X” is due to their willingness (want to), also because they feel, rightfully proud and comfortable to become a member of PD “X”. The dominant component of organizational commitment which in second ranks was normative commitment owned by 39% respondents.

(3)

vii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

HALAMAN LEMBAR PENGESAHAN………...……….i

ABSTRAK………..………….………..ii

ABSTRACT……….………….iii

KATA PENGANTAR.………..………iv

DAFTAR ISI….………...vii

DAFTAR TABEL..……….………...x

DAFTAR BAGAN..………..xi

DAFTAR LAMPIRAN….………..………..xii

BAB I PENDAHULUAN………..……1

1.1 Latar Belakang Masalah ………...1

1.2 Identifikasi Masalah ……….6

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian……….…6

1.3.1 Maksud Penelitian………..……….6

1.3.2 Tujuan Penelitian………..………...6

1.3.3 Kegunaan Penelitian………..………...7

1.3.4 Kegunaan Ilmiah ....……….7

1.3.5 Kegunaan Praktis ………..………..7

1.4 Kerangka Pikir ………..7

(4)

2.1 Komitmen Organisasi ……….18

2.1.1 Pengertian Komitmen Organisasi……….…….18

2.1.2 Tiga Komponen Model Komitmen Organisasi………..18

2.1.2.1 Affective Commitment ……….19

2.1.2.2 Continuance Commitment………...19

2.1.2.3 Normative Commitment………...20

2.1.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Komitmen Organisasi ………20

2.1.4 Konsekuensi dari Komitmen Organisasi ………..23

2.1.5 Pengukuran Komitmen Organisasi ………...26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN………...……….…….…28

3.1 Rancangan Penelitian..……….…28

3.2 Prosedur Penelitian..……….28

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional………..29

3.3.1 Variabel Penelitian...……….…………...29

3.3.2 Definisi Operasional……..……….29

3.4 Alat Ukur………..30

3.4.1 Alat Ukur Komitmen Organisasi.……….………..30

3.4.2 Prosedur Pengisian Alat Ukur.………...31

3.4.3 Sistem Penilaian……….………31

3.5 Data Pribadi dan Data Penunjang.…...……….………32

3.6 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur.………..………….………33

3.6.1. Validitas Alat Ukur.………...………33

3.6.2. Reliabilitas Alat Ukur……….………34

(5)

ix Universitas Kristen Maranatha 3.7.1. Populasi….…………..……..………...35

3.7.2. Karakteristik Sampel.……….………35

3.7.3. Teknik Penarikan Sampel……….35

3.8 Teknik Analisis Data….……….…………..36 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………...………..37

4.1. Gambaran Responden………...37

4.1.1. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin………..37

4.1.2. Gambaran Responden Berdasarkan Usia…………...………..37

4.1.3. Gambaran Responden Berdasarkan Lama Kerja………..38

4.1.4. Gambaran Responden Berdasarkan Status Marital………..38

4.2. Hasil Penelitian………...39

4.3. Pembahasan ………...40

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………..……….45

5.1. Kesimpulan………...………..45

5.2. Saran………...45

5.2.1. Saran Teoritis.………..………45

5.2.2. Saran Praktis………..………46

DAFTAR PUSTAKA………...……47

DAFTAR RUJUKAN……….……….………....48

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Tabel Kisi-Kisi Alat Ukur ……….………...30

Tabel 3.2 Tabel Sistem Penilaian ………31

Tabel 4.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……….…….37

Tabel 4.2 Gambaran Responden Berdasarkan Usia………...37

Tabel 4.3 Gambaran Responden Berdasarkan Lama Kerja…….……….38

Tabel 4.4 Gambaran Responden Berdasarkan Status Marital………..38

(7)

xi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.5 Bagan Kerangka Pikir ……….16

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 LATAR BELAKANG PERUSAHAAN

1.1 Company Profile of PD “X”….……….L-1

1.2 Struktur Organisasi PD “X”………L-3

LAMPIRAN 2 ALAT UKUR

2.1 Tabel Kisi-Kisi Alat Ukur………..L-4

2.2 Kuesioner Komitmen Organisasi………L-9

LAMPIRAN 3 VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR

3.1 Hasil Uji Validitas………L-16

3.2 Hasil Uji Reliabilitas………L-17

LAMPIRAN 4 DATA HASIL PENELITIAN

4.1 Data Mentah Per Komponen Komitmen Organisasi………L-18

4.1.1 Data Mentah Komponen Affective Commitment…………..…………....……...L-18

4.1.2 Data Mentah Komponen Continuance Commitment….………...…..…L-19

4.1.3 Data Mentah Komponen Normative Commitment………...………...L-20

4.2 Data Pribadi dan Data Penunjang……….………L-21

4.2.1 Data Mentah Data Pribadi………...………..…...……….L-21

4.2.2 Data Mentah Data Penunjang………L-22

4.3 Data Mentah Komponen Komitmen Organisasi….……….L-23

4.4 Tabulasi Silang Dengan Data Penunjang……….L-24

4.4.1 Tabulasi Silang Struktur Organisasi dengan Komitmen Organisasi………L-24

4.4.2 Tabulasi Silang Kebijakan Organisasi dengan Komitmen Organisasi……...….L-24

4.4.3 Tabulasi Silang Tantangan Yang Dihadapi dengan Komitmen Organisasi……L-25

4.4.4 Tabulasi Silang Relasi dengan Pimpinan dengan Komitmen Organisasi………L-26

4.4.5 Tabulasi Silang Relasi dengan Rekan Kerja dengan Komitmen Organisasi…...L-26

4.4.6 Tabulasi Silang Jenis Kelamin dengan Komitmen Organisasi………L-27

(9)

xiii Universitas Kristen Maranatha 4.4.8 Tabulasi Silang Pendidikan Terakhir dengan Komitmen Organisasi…………..L-28

4.4.9 Tabulasi Silang Lama Kerja dengan Komitmen Organisasi………...………….L-30

4.4.10 Tabulasi Silang Jabatan dengan Komitmen Organisasi……….L-31

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perusahaan merupakan salah satu bentuk organisasi yang didirikan untuk

menghasilkan barang dan atau jasa, serta mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Tujuan pada setiap organisasi dapat berbeda-beda, tergantung dari visi dan misi organisasi

tersebut. Pada umumnya suatu perusahaan industri memiliki tujuan untuk meraih profit atau

keuntungan sebesar-besarnya, untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya serta

meningkatkan kesejahteraan karyawannya.

Perusahaan Dagang “X” atau disingkat, PD “X” adalah perusahaan yang bergerak di

bidang komoditas dan bahan pangan seperti garam, tepung terigu, dan kerupuk mentah,

didirikan pada tahun 1981. Awalnya PD “X” hanya membeli barang jadi dalam jumlah yang

besar dari perusahaan lain yang jauh lebih besar, lalu mengemas ulang produk ke dalam

kemasan yang lebih kecil untuk kemudian dijual kepada toko-toko grosir tradisional. Seiring

dengan perkembangan zaman, pengetahuan tentang produk, pasar dan pemasukan, PD “X”

memperluas cakupan bisnisnya dengan memroduksi sendiri beberapa produk yang dijualnya.

Untuk urusan produksi, PD “X” mendapatkan bahan mentah produknya dari importir

Australia dan India (untuk produk garam), sementara suplier lokalnya berasal dari Surabaya,

Madura, Cirebon, dan Losarang (Indramayu), sedangkan untuk bahan baku tepung, PD “X”

menggunakan supplier dari Cianjur dan Garut.

Berdasarkan jumlah karyawan yang bekerja di sana, PD “X” dapat digolongkan

sebagai industri menengah. Produk-produk yang diproduksi oleh PD “X” dapat dikategorikan

(11)

2

Universitas Kristen Maranatha berbeda-beda tergantung dari kualitas produk, warna (untuk kerupuk), berat, bentuk, dan

komposisinya. Masing-masing produk memiliki proses produksinya masing-masing mulai

dari garam, yang paling sederhana, kemudian tepung, dan kerupuk yang paling kompleks

proses produksinya. Cakupan pasar dari PD “X” adalah Provinsi Jawa Barat dan sekitarnya,

dengan kebanyakan konsumen memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Segmen

pasarnya adalah toko grosir tradisional yang menjual kembali produk, ataupun pengguna

produk. Selain itu, PD “X” juga menjual produknya kepada industri-industri pangan, rumah

makan besar, dan sebagainya.

Berdasarkan survey awal dengan HRD yang bekerja di sana, saat ini, PD “X”

memiliki karyawan sebanyak sekitar 90 orang, dengan rentang usia 25-40 tahun. Dari kurang

lebih 90 orang karyawan yang bekerja di PD “X”, 43 orang bekerja di bagian produksi,

sedangkan sisanya terbagi-bagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil mulai dari sales,

akunting, dan sebagainya. PD “X” beroperasi dari hari Senin hingga Sabtu (6 hari kerja)

dengan jam kerja dari pk. 07.15 sampai pk. 15.45 setiap harinya. Jam istirahat yang berlaku

pk. 11.30 sampai pk. 12.30 setiap harinya, kecuali hari Jumat, mereka beristirahat pk. 11.30

sampai pk. 13.00. Produk utama yang dihasilkan oleh PD “X” adalah garam dan kerupuk.

Garam yang diproduksi merupakan garam beriodium, baik garam dapur, maupun garam meja.

Selain itu PD “X” juga menyediakan bahan baku garam untuk keperluan industri, baik yang

masih berbentuk garam kasar atau krosok, maupun garam giling halus.

PD “X” tidak menyediakan tunjangan apabila karyawan memutuskan untuk berhenti

bekerja, namun apabila PD “X” terpaksa melakukan PHK terhadap karyawannya, maka PD

“X” akan memberikan tunjangan dengan perhitungan tertentu, tergantung dari lama kerja

karyawan yang bersangkutan. Sekali dalam setahun, PD “X” juga memberikan Tunjangan

Hari Raya (THR) kepada karyawan-karyawannya. Apabila karyawan harus bekerja lembur,

(12)

3

diberikan dihitung dari berapa lama karyawan bekerja lembur. Karyawan PD “X” cukup

sering bekerja lembur, khususnya karyawan yang bekerja di bagian keuangan, akunting, dan

penjualan.

PD “X” memberi upah sesuai dengan Upah Minimum Kerja (UMK) yang berlaku.

Untuk bagian produksi, pengupahan dilakukan mingguan, setiap hari Sabtu, dengan melihat

kehadiran karyawan selama seminggu sebelumnya, mulai dari hari Kamis hingga hari Rabu

minggu depannya. Sementara untuk karyawan selain karyawan bagian produksi,

pengupahannya dilakukan setiap bulan, seperti perusahaan lain pada umumnya.

PD “X” menyediakan fasilitas seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan), dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Kesehatan (BPJS Kesehatan) bagi karyawan-karyawannya. Saat ini, hanya karyawan tetap

dan karyawan yang lama kerjanya di atas 5 tahun yang mendapatkan fasilitas tersebut, ini

berarti sebagian besar karyawan yang bekerja di bagian produksi tidak mendapatkan fasilitas

tersebut karena kebanyakan dari mereka bukanlah karyawan tetap. Namun untuk masa

mendatang, PD “X” sedang mengusahakan agar seluruh karyawan yang bekerja di PD “X”

mendapatkan fasilitas tersebut.

Untuk menjadi karyawan tetap di PD “X”, karyawan harus menyelesaikan kontrak

kerja yang ditentukan ketika karyawan pertama bekerja di PD “X”. Setelah karyawan

menyelesaikan masa kerja yang ditentukan, apabila karyawan tersebut memutuskan untuk

terus bekerja di PD “X”, maka karyawan akan diangkat menjadi karyawan tetap. Saat ini PD

“X” memiliki sekitar 33 orang karyawan tetap, dan di bagian kantor ada 2 orang karyawan

yang baru 2 tahun bekerja dan belum menjadi karyawan tetap. Rata-rata karyawan tetap yang

bekerja di PD “X” memiliki lama kerja di atas 5 tahun. Dari wawancara dengan bagian HRD

(2015) , diketahui bahwa tingkat turn over yang ada di PD “X” tergolong rendah. Selain itu,

(13)

4

Universitas Kristen Maranatha pelanggaran yang terjadi di PD “X” terbilang rendah, dan pada umumnya karyawan PD “X”

mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik.

Dari pemaparan yang didapat mengenai PD “X” dapat disimpulkan bahwa PD “X”

adalah perusahaan yang sedang dan masih terus berkembang dan bergerak maju. Untuk

mendukung perkembangan PD “X”, karyawan PD “X” harus memiliki komitmen organisasi.

Komitmen organisasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja anggota organisasi.

Mowday & Steers (dalam Allen & Meyer, 1997) mengemukakan bahwa setiap anggota

organisasi dapat memiliki penghayatan yang beragam terhadap organisasi tempat mereka

bekerja yang ditampilkan dalam bentuk sikap dan perilaku yang mencerminkan komitmen

terhadap organisasi atau perusahaan tempat mereka bekerja.

Komitmen organisasi akan mendorong pilihan kebiasaan karyawan yang mendukung

perusahaan dengan bekerja lebih efektif. Karyawan yang memiliki komitmen organisasi kuat

akan berorientasi terhadap pekerjaannya (Robbin, 2002). Untuk dapat mengerjakan tugas dan

tanggung jawab sesuai dengan job description, maka karyawan diharapkan untuk memiliki

komitmen organisasi. Meyer & Allen ( Meyer &Allen, 1997) merumuskan suatu definisi

mengenai komitmen dalam berorganisasi sebagai suatu konstruk psikologis yang merupakan

karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya, dan memiliki implikasi

terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi.

Berdasarkan definisi tersebut, anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan

lebih dapat bertahan sebagai bagian organisasi dibandingkan anggota yang tidak memiliki

komitmen terhadap organisasi.

Setiap lembaga, perusahaan, dan organisasi mengharapkan karyawan yang memiliki

komitmen organisasi sesuai dengan standar organisasinya. Dengan memiliki komitmen

organisasi, karyawan dapat mengabdikan dirinya untuk bekerja sebaik mungkin di dalam

(14)

5

maka organisasi perlu melihat komitmen organisasi yang dimiliki setiap karyawannya.

Dengan memiliki komitmen organisasi, maka karyawan akan tetap dapat bekerja dengan

maksimal walaupun dihadapkan dengan berbagai situasi, tuntutan, dan masalah dalam

melaksanakan tugasnya. Komitmen karyawan terhadap organisasinya juga akan

memengaruhi perilakunya terhadap organisasi. Peningkatan komitmen organisasi

berhubungan dengan peningkatan produktivitas dan turn over yang rendah (Meyer &Allen,

1997).

Meyer & Allen (1997) membagi komitmen organisasi menjadi tiga komponen, yaitu

affective commitment (want to), continuance commitment (need to), dan normative

commitment (ought to). Anggota dengan affective commitment yang kuat cenderung bertahan

akan pekerjaannya karena keinginannya sendiri. Anggota organisasi yang terkait dengan

organisasi yang bekerja dengan dasar continuance commitment yang kuat bekerja atas dasar

kebutuhan, sedangkan anggota organisasi dengan normative commitment yang kuat bertahan

akan pekerjaannya karena merasa adanya keharusan atau kewajiban yang harus dipenuhi

terhadap organisasi. Ketiga komponen ini muncul dalam diri setiap anggota organisasi,

namun muncul dalam kadar yang berbeda-beda sehingga akan menghasilkan perilaku yang

berbeda pula sebagai latar belakang mempertahankan pekerjaannya.

Menurut Meyer & Allen (1997) Komitmen organisasi merupakan hal yang penting

dan harus diperhatikan oleh perusahaan, karena dengan memiliki karyawan dengan komitmen

yang kuat dapat membuat karyawan merasa memiliki kepedulian yang besar terhadap

perusahaan dan dapat menampilkan keaktifan yang besar dalam setiap aktivitasnya dalam

bekerja. Demikian halnya dengan PD “X”, karyawan-karyawan yang bekerja di PD “X”

dituntut untuk memiliki komitmen organisasi yang baik sehingga dapat mendukung PD “X”

(15)

6

Universitas Kristen Maranatha Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan peneliti kepada lima karyawan PD “X”,

empat karyawan (80%) menyatakan bahwa mereka menyukai pekerjaan yang mereka

kerjakan di PD “X”. Empat karyawan (80%) mengaku gaji yang mereka terima cukup untuk

kebutuhan sehari-hari. empat karyawan (80%) telah merasa bahwa kebijakan-kebijakan dan

peraturan-peraturan yang diberlakukan adalah aturan yang memang wajar dan tidak

memberatkan karyawan dalam melakukan pekerjaannya. Sebanyak tiga karyawan (60%)

yang bekerja di PD “X” mengaku bahwa mereka tidak akan meninggalkan pekerjaan mereka

saat ini meskipun mereka mendapat tawaran kerja di tempat lain. Seluruh karyawan (100%)

mengatakan bahwa mereka mengikuti kegiatan rekreasi terakhir yang diadakan kantor dua

tahun sekali. Selain itu empat karyawan (80%) merasa fasilitas yang disediakan PD “X”

sudah cukup lengkap dalam membantu mereka melaksanakan tugasnya. empat karyawan

(80%) merasa bahwa pimpinan perusahaan memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran

komitmen organisasi pada karyawan PD “X” di Kota Cimahi.

1.2 Identifikasi Masalah

Bagaimana gambaran mengenai komponen komitmen organisasi yang dimiliki oleh

para karyawan PD “X” di Kota Cimahi.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah memperoleh gambaran mengenai komponen

komitmen organisasi pada karyawan PD “X” di Kota Cimahi

(16)

7

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran komponen komitmen

organisasi pada karyawan PD “X” melalui gambaran mengenai komponen-komponennya,

yaitu affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment.

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1. Kegunaan Ilmiah

1. Memberikan informas kepada bidang Ilmu Psikologi, khususnya Psikologi

Industri dan Organisasi mengenai gambaran komponen komitmen organisasi pada

suatu perusahaan.

2. Memberikan informasi kepada peneliti lain yang tertarik untuk meneliti topik

yang serupa.

1.4.2. Kegunaan Praktis

1. Memberikan informasi kepada pihak PD “X” mengenai komponen komitmen

organisasi yang dimiliki karyawan yang bekerja di sana.

2. Memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan serta HRD PD “X” mengenai

komponen komitmen organisasi yang ada pada PD “X” sehingga dapat digunakan

sebagai bahan pertimbangan dalam usaha memecahkan berbagai macam

permasalahan yang dialami PD “X”.

1.5 Kerangka Pikir

PD “X” merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi bahan pangan,

dan memiliki sekitar 90 orang karyawan. Sejak didirikan pada tahun 1981 hingga saat ini, PD

“X” telah berkembang dengan cukup pesat, dari yang mulanya hanya menjadi distributor

(17)

8

Universitas Kristen Maranatha depannya, PD “X” terus berusaha untuk tetap berkembang demi mencapai tujuan organisasi

dan mensejahterakan karyawan-karyawan yang bekerja di PD “X”.

Agar dapat berkembang, sebuah perusahaan membutuhkan karyawan yang berkualitas,

berkompeten, serta memiliki komitmen terhadap perusahaan tempatnya bernaung (Meyer &

Allen, 1997). Sama halnya dengan karyawan PD “X” yang dituntut untuk memiliki komitmen

yang baik agar PD “X” dapat mencapai tujuannya dengan optimal.

Menurut Meyer dan Allen (1997) komitmen organisasi merupakan gambaran

hubungan secara psikologis antara pekerja dengan organisasi dan mengakibatkan pekerja

tersebut memutuskan untuk tetap menjadi anggota dari organisasi meskipun mengalami

kesulitan dan masalah di dalam pekerjaannya, karyawan bekerja teratur, mau bekerja lembur,

melindungi aset organisasi, dan ikut serta dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. Keadaan

psikologis ini memiliki kekuatan pengikat (binding force) sehingga dapat mengikat seseorang

pada organisasi. Keadaan psikologis yang merupakan karakteristik hubungan antara anggota

dengan organisasinya meliputi need, want, dan ought to, dan 3 hal tersebut akan mendasari

perilaku individu ketika bergabung pada suatu organisasi tertentu.

Meyer & Allen (1997) menambahkan bahwa karyawan akan tetap bertahan dalam

perusahaan meskipun mengalami kesulitan dan masalah dalam tugas-tugasnya, melakukan

tugas secara teratur, mau bekerja lebih banyak (di luar job desc-nya), melindungi aset atau

inventaris perusahaan dan ikut serta dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan apabila

karyawan tersebut memiliki komitmen terhadap perusahaan. Setiap karyawan akan

menampilkan sikap dan perilaku yang mungkin sama terhadap perusahaan, walaupun

memiliki dasar keterikatan komitmen organisasi yang berbeda. Komitmen terhadap

organisasi tersebut dibagi ke dalam tiga komponen oleh Meyer & Allen (1997), yaitu

affective commitment, continuance commitment dan normative commitment. Meyer & Allen

(18)

9

seseorang memiliki satu komponen yang menjadi dasar keterikatannya untuk berkomitmen

dan akan menjadi alasan utama bagi dirinya dalam menentukan sikap (Meyer & Allen, 1997).

Komponen komitmen organisasi yang pertama ialah affective commitment, yang

berkaitan dengan hubungan emosional karyawan, identifikasi dengan perusahaan serta

keterlibatan karyawan dengan kegiatan yang diadakan di perusahaan. Karyawan dengan

affective commitment yang kuat akan terus menjadi karyawan dalam perusahaan tersebut dan

juga akan menyenangi keanggotaannya di dalam perusahaan karena mereka menginginkan

hal tersebut (want to). Karyawan akan menikmati keanggotaannya serta memutuskan untuk

tetap berada di dalam perusahaan berdasarkan perasaan keterlibatan dari kontribusi yang

melibatkan ikatan emosional serta afeksi terhadap perusahaan. Pada karyawan yang memiliki

affective commitment yang kuat, terdapat keyakinan bahwa terdapat kesamaan antara tujuan

serta nilai-nilai di dalam perusahaan yang sama dengan yang dimiliki secara pribadi.

Komitmen ini tidak hanya menggambarkan loyalitas pasif namun sumbangan aktif dari

karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekerja, sehingga melalui komitmen ini akan

terbentuk sense of belonging yang kuat terhadap perusahaan karena karyawan merasakan

berbagai pengalaman positif yang menimbulkan perasaan nyaman.

Karyawan PD “X” yang memiliki affective commitment yang kuat memiliki motivasi

yang besar dan keinginan (desire) untuk memberikan kontribusi maksimal kepada PD “X”.

Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan untuk mengerjakan tugas-tugas dengan

sungguh-sungguh, tepat pada waktunya, dan mengerjakan semua tugas tersebut dengan perasaan

senang serta tulus. Karyawan merasakan adanya ikatan emosional yang positif dengan

perusahaan, sehingga akan berkontribusi maksimal dengan sepenuh hati pada perusahaan

tersebut. Tingkat affective commitment yang kuat juga dapat dilihat dari absensi atau tingkat

kehadiran, tercermin dalam bentuk perilaku karyawan PD “X” yang akan selalu hadir tepat

(19)

10

Universitas Kristen Maranatha Bentuk perilaku lain yang ditampilkan apabila karyawan PD “X” memiliki affective

commitment yang kuat adalah karyawan berusaha untuk mengikuti segala kegiatan yang

diadakan oleh PD “X” seperti kegiatan hiburan atau rekreasi bersama, juga merasa bangga

dan betah bekerja serta berkegiatan bersama karyawan PD “X” lainnya. Karyawan PD “X”

yang menunjukkan affective commitment yang lemah, memiliki kecenderungan motivasi yang

kecil dan keinginan yang kurang untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan, serta

tingkat kehadiran yang lebih rendah. Karyawan tersebut kurang termotivasi untuk

mengerjakan tugasnya, dan apabila ia mengerjakan tugas pun, ada perasaan terpaksa dan

tidak senang akan tugas yang diberikan kepadanya, sehingga hasil kerja menjadi kurang

maksimal. Karyawan PD “X” yang menunjukkan perilaku demikian memiliki keterikatan

emosional lemah terhadap perusahaan.

Komponen komitmen organisasi yang kedua adalah continuance commitment,

komponen ini berkaitan dengan kesadaran serta pertimbangan karyawan yang akan

mengalami kerugian jika meninggalkan perusahaan. Karyawan yang memiliki continuance

commitment yang kuat bertahan dalam perusahaan, karena mereka membutuhkannya (need

to). Pertimbangan yang mendasarinya antara lain kalkulasi karyawan mengenai kontribusi

yang sudah ia berikan kepada perusahaan (waktu, tenaga, usaha). Pertimbangan lainnya

berkaitan dengan alternatif peluang mendapatkan kesempatan bekerja yang lebih baik di luar

perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Besar atau kecilnya peluang bekerja di tempat lain

akan memengaruhi perkembangan continuance commitment. Di samping kedua hal tersebut,

Dunham, Grube & Castaneda (1994) melihat (dalam Meyer & Allen, 1997) bahwa faktor usia

dan lama kerja turut memengaruhi continuance commitment. Tingkat usia membatasi

keinginan seseorang untuk berpindah-pindah kerja. Karyawan yang telah lama bergabung

(20)

11

meninggalkan perusahaan. Dengan demikian komitmen ini hanya berorientasi pada

kepentingan pribadi anggota sendiri.

Karyawan dengan continuance commitment yang kuat tetap bertahan pada tempat

kerja mereka karena mereka memiliki kebutuhan material serta fasilitas yang didapat dari

keanggotaan mereka di tempat kerjanya. Mereka berusaha untuk terus bekerja pada PD “X”

karena mereka menyadari akan adanya kerugian yang dialami apabila mereka meninggalkan

PD “X”. Karyawan berusaha menjaga tingkat kehadirannya dan menjaga produktivitasnya

agar memperoleh penilaian yang baik dari tempat kerjanya, sehingga mereka dapat terus

bekerja di sana. Mereka tidak mau meninggalkan tempat kerjanya karena mereka sudah

merasa cukup puas dengan apa yang diterimanya selama bekerja di sana, dan mereka

menyadari bahwa hal-hal tersebut belum tentu mereka dapatkan apabila mereka bekerja di

perusahaan lain. Selain itu mereka juga berusaha untuk bertahan di PD “X” dalam waktu

yang lama, agar mereka tidak mengalami kerugian yang mungkin muncul ketika mereka

meninggalkan tempat kerja mereka saat ini, misalnya kehilangan penghasilan atau harus

kesulitan dalam mencari pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan mereka saat ini.

Sebaliknya, karyawan dengan continuance commitment yang lemah bertahan untuk

tetap bekerja pada tempat kerjanya hanya untuk mencari pengalaman atau sekedar mengisi

waktu luang, sehingga mereka merasa tidak mengalami kerugian material jika mereka

meninggalkan pekerjaan mereka. Karenanya, mereka tidak berusaha mendapatkan penilaian

yang baik dari perusahaan. Mereka tidak merasakan adanya suatu kebutuhan untuk terus

berada di dalam perusahaan. Hal ini dapat terlihat dari perilaku karyawan yang tidak

berusaha mencapai target yang sudah ditetapkan, sering tidak masuk atau terlambat kerja.

Mereka bekerja hanya memenuhi tugas yang diberikan oleh perusahaan, cenderung memiliki

kedisiplinan dan tingkat kehadiran yang rendah karena mereka tidak merasa rugi apabila

(21)

12

Universitas Kristen Maranatha Komponen yang ketiga ialah normative commitment yang menggambarkan perasaan

keterikatan serta keyakinan untuk terus berada dalam perusahaan sebagai bentuk tanggung

jawab dan kewajiban. Normative commitment mencerminkan seberapa besar loyalitas seorang

karyawan terhadap perusahaan. Keputusan untuk tetap bekerja di perusahaan karena hal

tersebut dipandang sebagai suatu keharusan serta bentuk tanggung jawab terhadap

perusahaan. Kata kunci komponen ini adalah ought to. Meyer & Allen menjelaskan bahwa

hal tersebut dilakukan dengan alasan menghindari pandangan buruk dari lingkungan yang

akan muncul apabila seorang karyawan memutuskan untuk berhenti dari suatu perusahaan,

karena keyakinan bahwa bertahan di dalam perusahaan yang dipilihnya sendiri merupakan

suatu perbuataan yang dipandang benar dan perbuatan moral.

Karyawan dengan normative commitment mempertahankan kehadirannya dalam

bekerja karena ia merasa bahwa hal tersebut sudah menjadi kewajibannya sebagai karyawan

PD “X”. Mereka berusaha mencapai produktivitas yang tinggi dan mencapai target-target

yang ditetapkan karena mereka merasa bertanggung jawab untuk bekerja sesuai dengan

tuntutan perusahaan. Karyawan dengan normative commitment yang kuat menyadari bahwa

mereka akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan ketika mereka tidak mencapai target

yang sudah ditetapkan, karena itu mereka berusaha memenuhi kewajiban mereka dan bekerja

sebaik mungkin untuk mencapai target yang telah ditetapkan perusahaan untuk mereka.

Mereka cenderung bertahan lama bekerja di PD “X” karena mereka merasa bertanggung

jawab untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai karyawan di sana. Sebaliknya,

karyawan dengan normative commitment yang lemah menunjukkan tingkat produktivitas dan

tingkat kehadiran yang rendah karena mereka kurang menyadari tanggung jawab mereka

terhadap PD “X”.

Meyer & Allen (1997) mengungkapkan lebih lanjut bahwa setiap karyawan memiliki

(22)

13

pasti berbeda-beda pada setiap karyawan. Perilaku yang ditampilkan oleh masing-masing

karyawan mungkin sama, namun alasan yang mendasari seseorang berperilaku tersebut yang

akan berbeda sesuai dengan derajat komponen komitmen organisasi masing-masing individu.

Komponen komitmen yang paling menonjol dari diri karyawan tersebutlah yang pada

akhirnya akan memberikan corak pada komponen komitmen yang akan ditampilkan oleh

karyawan tersebut. Komponen yang paling menonjol itulah yang dikatakan oleh Meyer &

Allen, akan menjadi dasar keterikatan komitmen seseorang terhadap organisasi di mana

mereka berada (Meyer & Allen, 1997). Hal tersebut akan menentukan atau menjadi alasan

utama mengapa seseorang mempertahankan keanggotaannya di dalam suatu organisasi.

Perbedaan derajat komitmen tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu

karakteristik organisasi, karakteristik individu, dan pengalaman kerja (Meyer & Allen, 1997).

Karakteristik organisasi meliputi struktur perusahaan dan kebijakan perusahaan. Struktur

perusahaan berpengaruh terhadap affective commitment, seperti misalnya desentralisasi dalam

sebuah perusahaan akan berpengaruh terhadap kuatnya affective commitment seorang

karyawan (Bateman & Strasser, 1984; Morris & Steers, 1980 dalam Meyer & Allen, 1997).

Kebijakan sebuah perusahaan juga menciptakan korelasi yang positif antara persepsi

keadilan peraturan dan affective commitment. Sejumlah kebijakan di dalam sebuah organisasi

yang dirasakan adil dan bermanfaat bagi karyawannya, akan menggambarkan penerimaan

terhadap kebijakan tersebut sehingga menimbulkan efek yang positif bagi affective

commitment. Mengenai cara sebuah perusahaan dalam menetapkan kebijakan juga memiliki

hubungan dengan affective commitment. Seperti misalnya affective commitment yang kuat

diperlihatkan oleh karyawan yang percaya bahwa perusahaan tempat bernaungnya tersebut

memberikan penjelasan yang adekuat mengenai kebijakan perusahaan yang positif

(23)

14

Universitas Kristen Maranatha Faktor kedua yang memengaruhi derajat komitmen organisasi seorang karyawan

adalah karakteristik individu, meliputi usia dan lamanya berada di dalam perusahaan. Usia

menunjukkan catatan biografis lamanya masa hidup seseorang yang sewaktu menjadi dewasa,

orang-orang muda mengalami perubahan tanggung jawab dari seseorang yang sepenuhnya

tergantung kepada orang tua menjadi orang dewasa mandiri, maka mereka menentukan pola

hidup baru, memikul tanggung jawab baru dan membuat komitmen-komitmen yang baru

(Santrock, 2013). Umumnya orang-orang yang berusia lebih tua, memiliki komitmen

organisasi yang kuat dibandingkan dengan mereka yang berusia lebih muda. Dunham, Grube

& Castaneda (1994 dalam Meyer & Allen 1997) mengemukakan bahwa tingkat usia

membatasi keinginan seseorang untuk berpindah ke perusahaan lain, karenanya seseorang

yang lebih tua atau dewasa dalam usia, biasanya akan memiliki pandangan atau pemikiran

yang lebih serius dalam menanggapi konsep tanggung jawab serta komitmen dalam

kehidupannya .

Lamanya berada di dalam suatu perusahaan merupakan lamanya seorang karyawan

bergabung menjadi bagian di dalam suatu organisasi. Berdasarkan penelitian Mathieu dan

Zajac (Meyer & Allen, 1997) ditemukan bahwa terdapat hubungan yang erat antara masa

jabatan dengan affective commitment. Hubungan yang kuat antara lamanya berada di dalam

perusahaan dan affective commitment dapat dilihat dari seorang karyawan yang sudah lama

bergabung dalam suatu perusahaan. Karyawan tersebut telah mengetahui seluk beluk, baik

atau buruk dari perusahaan yang diikutinya tersebut, maka akan muncul rasa keterikatan

secara emosional antara karyawan dengan perusahaan tersebut.

Faktor yang terakhir yang juga memengaruhi derajat komitmen organisasi seseorang

adalah pengalaman kerja, yang meliputi tantangan tugas-tugas, relasi dengan pemimpin, dan

pengalaman bersosialisasi. Pengalaman kerja yang menyenangkan dan kepuasan kerja

(24)

15

seorang karyawan yang didapatkan melalui pengalaman kerja yang menyenangkan akan

menghasilkan semakin kuatnya normative commitment karyawan tersebut.

Karakteristik tugas-tugas merupakan tantangan, yaitu sejauh mana hasil pekerjaannya

menunjukkan kreativitas dan membutuhkan tanggung jawab (Dorstein & Matalon, 1989,

dalam Meyer & Allen, 1997). Individu yang lebih tertantang dan menganggap tugasnya

menarik akan memiliki komitmen yang lebih kuat. Ketidakjelasan peran atau kurangnya

pengertian akan hak dan kewajibannya juga dapat mengurangi komitmen seseorang (Meyer

& Allen, 1997). Selain itu, adanya konflik peran perbedaan antara tuntutan tugas dengan

tuntutan fisik, harapan dan nilai-nilai pribadi juga dapat mengurangi komitmen seseorang

pada organisasinya, sehingga yang termasuk dalam pengalaman kerja adalah sejauh mana

karyawan merasa dihargai dan dibutuhkan. Semakin seorang karyawan merasa dihargai atau

dibutuhkan, maka komitmennya juga akan semakin kuat. Hal tersebut dapat dikatakan

sebagai imbalan ekstrinsik bagi seorang karyawan, imbalan ekstrinsik ini dapat menjadi

rangsangan bagi karyawan untuk mempertahankan keanggotaannya (Meyer & Allen, 1997).

Selain itu relasi karyawan dengan pemimpin atau leader di dalam sebuah organisasi

dapat juga membangun affective commitment individu. Karyawan yang diberikan

kepercayaan serta kesempatan oleh pemimpinnya untuk turut andil dalam pengambilan

keputusan-keputusan di dalam perusahaan akan mengembangkan affective commitment yang

kuat (e.g., Jermier & Berkers, 1979; Rhodes & Steers, 1981) dan pemimpin yang

memberikan perhatian (e.g., Bycio et al., 1995; DeCotiis & Summers, 1987) serta bersikap

adil (e.g., Meyer & Allen, 1990a) terhadap seluruh karyawan akan menghasilkan karyawan

yang memiliki affective commitment yang kuat.

Pengalaman sosialisasi yang dialami seorang karyawan dikatakan dapat memengaruhi

normative commitment seseorang. Karyawan yang mampu bersosialisasi dengan baik

(25)

16

Universitas Kristen Maranatha ada di dalam perusahaan akan menginternalisasi segala kebiasaan serta dinamika yang ada di

dalam perusahaan tersebut sehingga menjadi sebuah kepercayaan yang akan meningkatkan

loyalitas karyawan tersebut terhadap perusahaan.

Berdasarkan hal-hal yang dikatakan dapat memengaruhi derajat komitmen organisasi

seorang karyawan seperti yang telah dijelaskan di atas, maka setiap karyawan akan memiliki

komponen komitmen organisasi yang berbeda-beda derajatnya yang akan memengaruhi sikap

mereka terhadap perusahaan tempatnya bekerja, seperti unjuk kerja, turn over, serta

absenteeism anggota di dalam perusahaan tersebut.

Untuk memperjelas uraian di atas, maka dibuat skema sebagai berikut:

(26)

17

1.6 Asumsi Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir yang dikemukakan di atas maka peneliti menarik

beberapa asumsi bagi penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

1. Komitmen organisasi karyawan PD “X” terdiri dari tiga komponen, yaitu affective

commitment, continuance commitment, dan normative commitment.

2. Dengan derajat yang berbeda-beda dari ketiga komponen komitmen organisasi

tersebut maka dihasilkan komponen komitmen organisasi yang berbeda-beda bagi

setiap karyawan PD “X”.

3. Gambaran komponen komitmen organisasi pada karyawan PD “X” dipengaruhi

(27)

45 Universitas Kristen Maranatha BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat

disimpulkan bahwa :

1. Dominansi komponen komitmen organisasi pada karyawan PD “X” yang paling

dominan adalah affective commitment.

2. Dominansi komponen komitmen organisasi urutan kedua pada karyawan PD “X”

adalah normative commitment, dengan persentase sebesar 39%.

3. Hubungan karyawan dengan sesama karyawan, dan khususnya dengan pimpinan

perusahaan terjalin dengan baik serta harmonis.

4. Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan di PD “X” juga dirasakan efektif dan dianggap

baik oleh karyawan yang bekerja di sana.

5. Ditemukan temuan penelitian, yaitu pada beberapa responden perbedaan skor

komponen yang paling dominan dengan komponen lainnya tidak signifikan.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dikemukakan beberapa saran

yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan :

5.2.1. Saran Teoritis

1. Disarankan kepada peneliti yang tertarik untuk meneliti mengenai dominansi komponen

komitmen organisasi untuk meneliti faktor-faktor pendukung apakah yang paling berperan

(28)

46

2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk lebih cermat dalam menyusun

pertanyaan atau pernyataan untuk menjaring data penunjang sehingga data yang

diperoleh lebih lengkap

3. Berdasarkan temuan penelitian, untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti

profile tiap responden.

5.2.2. Saran Praktis

1. Disarankan kepada pimpinan perusahaan untuk tetap mempertahankan hubungan baik

yang sudah terjalin dengan seluruh karyawan, agar mendukung karyawan dalam

mengembangkan komitmen organisasi terhadap PD “X”.

2. Disarankan kepada PD “X” untuk lebih sering mengadakan kegiatan – kegiatan

kebersamaan untuk karyawan sehingga affective commitment karyawan terhadap PD “X”

(29)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI KOMPONEN KOMITMEN ORGANISASI PADA KARYAWAN PERUSAHAAN DAGANG “X” DI

KOTA CIMAHI

SKRIPSI

Diajukan untuk Menempuh Sidang Sarjana Pada Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Maranatha Bandung

Disusun Oleh: Yonathan Mulyadi

NRP: 0730140

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG

(30)
(31)
(32)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas kasih

karunia-Nya dan berkat-Nya yang selalu menyertai, peneliti dapat menyelesaikan penelitian

yang berjudul “Studi Deskriptif Mengenai Komponen Komitmen Organisasi Pada Karyawan

Perusahaan Dagang “X” di Kota Cimahi”.

Dalam menyelesaikan penelitian ini, banyak pihak yang mendukung peneliti dan

memberikan perhatian serta semangat untuk segera menyelesaikan penelitian ini dengan baik,

maka dengan segala kerendahan hati, peneliti ingin mengucapkan terima kasih

sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Dra. O. Irene Prameswari Edwina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Maranatha.

2. Dra. Fifie Nurofia, Psik, MM. selaku dosen pembimbing utama yang telah

meluangkan waktu untuk membimbing, mengoreksi serta memberi masukan kepada

peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.

3. Windu Wulan Sari, S. Psi., Psik. selaku dosen pembimbing pendamping yang telah

meluangkan banyak waktu, memberikan banyak masukan, arahan, dan telah banyak

membuka wawasan peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.

4. Drs. Paulus H.P, M.Si., Psik selaku dosen konsulen yang juga telah meluangkan

waktunya untuk memberikan bimbingan, masukan, dan arahan kepada peneliti dalam

menyelesaikan penelitian ini.

5. Cindy Maria, M. Psi, selaku Dosen Wali atas saran dan dukungan kepada peneliti

dalam menyelesaikan penelitian ini.

6. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik serta membimbing peneliti

(33)

v

7. Simon Lukmana selaku pimpinan PD “X” yang telah meluangkan waktunya dan

banyak memberikan bantuan kepada peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.

8. Papah, Mamah, Yosi, dan Yohanes, keluarga yang selalu mendoakan serta selalu

mengingatkan, memberikan semangat dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

9. Veronica Astri, Kristin Natalia, dan Marchia Pramitha, Gisela Kanya yang selalu

menjadi penyemangat peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini serta mendukung

peneliti lewat masukan-masukkan dan saran.

10. Rekan sesama angkatan 2007 yang rajin mendampingi peneliti dalam mengerjakan

penelitian ini, khususnya Adrian Indra Agusta, Arshad Rahmanidal, Novresia

Mandasari, Putu Ngurah Asita, serta Eva, Yuliana, Reni, Rizka, dan rekan 2007

lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

11. Teteh Sophie Sulaeman, selaku kepala HRD PD “X” yang membantu peneliti melalui

informasi yang diberikan.

12. Ci Kitty, Evelyn, Febby, dan Reinhart, teman-teman Maranatha Christian University

Choir (MCUC) dan Mas Bem, yang mendukung dan terus menyemangati peneliti

dalam menyelesaikan penelitian ini.

13. Rekan berbakti peneliti, khususnya Ci Yun Siang, Yonathan Febri, Bobbie, Sherlyn,

Ci Emma, Ci Fun, Ci Livia, dan rekan lain yang juga tidak dapat disebutkan satu per

satu.

14. Teman-teman “Virtual” peneliti yang meskipun sangat jarang dan bahkan belum

pernah bertemu langsung dengan peneliti, tapi tetap rajin menyemangati, mendukung,

dan mengingatkan peneliti mengenai penelitian ini, kepada Ranran dan “Pi” Toto.

15. Seluruh petugas Tata Usaha Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha yang

(34)

16. Pembaca yang meluangkan waktu untuk membaca penelitian ini, semoga apa yang

telah disusun dapat membantu pembaca mendapatkan informasi yang diinginkan.

17. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah membantu dalam

menyelesaikan penelitian ini.

Peneliti juga menyadari, bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh

karena itu peneliti memohon maaf apabila terdapat beberapa kesalahan atau

ketidaksempurnaan yang akan ditemui. Oleh karena itu, peneliti terbuka untuk menerima

saran dari pihak-pihak terkait. Segala kritik dan saran dari semua pihak, peneliti jadikan

masukan yang dapat membangun untuk menjadi lebih baik lagi. Peneliti juga berharap agar

laporan ini dapat berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkannya.

Akhir kata, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang

membacanya.

Bandung, Agustus 2016

Hormat saya

(35)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

BPS. (2013). Indonesia Population Projection 2010-2035. Jakarta: Badan Pusat Statisik.

BPS Jabar. (n.d.). Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota di Jawa Barat 2004-2012. Retrieved

January 26, 2015, from Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat:

http://jabar.bps.go.id/subyek/jumlah-penduduk-kabupatenkota-di-jawa-barat-2004-2012

Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing: Design, analysis, and use. United States of

America: Allyn & Bacon

Kaplan, R.M. & Dennis P. Saccuzzo. 2005. Psychological testing: Principle, application, and

issues (6th edition). Belmont: Thomson Wadsworth

Kumar, Ranjit. 1999. Research Methodology : A Step-by-step Guide for Beginners. London :

SAGE Publications Ltd.

McConnell, C. R., Brue, S. L., & Flynn, S. M. (2009). Economics: Principles, Problems, and

Policies. New York: McGraw-Hill.

Meyer, John P & Natalie J. Allen. 1997. Commitment in the workplace: Theory, research, and

application. United States of America: Sage Publications, Inc.

Nazir, Mohammad. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

Robbins, Stephen P. 2003. Organizational Behavior. International Edition.New Jersey: Pearson

Education, Inc.

Santrock, John W. 2006. Life-Span Development. Tenth Edition. New York: The McGraw-Hill

Companies, Inc.

Siegel, Sidney. 1992. Statistik Nonparametik Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Utama

Sugiyono. 2002. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

(36)

48

DAFTAR RUJUKAN

Kanya Prasidha, Gisela (2015).Studi Deskriptif Mengenai Dominansi Komponen Komitmen Organisasi Pada Anggota Maranatha Christian University Choir di Kota Bandung. (Skripsi). Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Lukmana, Simon (2015). Product Perfomance Analysis and Profit Maximization of PD. Sumur Sari Proposal. (Thesis). Bandung: Fakultas Bisnis Institut Teknologi Bandung.

Gambar

Tabel 3.1

Referensi

Dokumen terkait

Mempersiapkan rancangan kegiatan dengan menggunakan metode eksperimen yang meliputi rencana pembelajaran, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), media dan sumber belajar yang

terfokus kepada mengkaji visualisasi (tipografi, ilustrasi, dan tata letak) desain sampul buku novel karya Andrea Hirata yaitu, “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi”,

Bagi investor yang ingin menanamkan modalnya untuk memperoleh dividen pada perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh manajemen disarankan untuk tidak terpacu

a) Analisa perbandingan laporan keuangan, yaitu metode dan teknik analisa dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk dua periode atau lebih, sehingga akan

Harga yang semakin meningkat dari minyak mentah, yang mengarah ke peningkatan dalam harga bahan bakar, dan cadangan membatasi bahan bakar fosil konvensional bersama

Psdiria diddo Fda joiDe sm s0 kv 3i*uir

This study aims at identifying and describing the politeness strategies employed by the host of popular-based talk show to mitigate FTAs. This study is significant to provide

translator added it by using transfer strategy is because the source language. and the target language is translated literally without adding or