• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH UMUR PETANI, TINGKAT PENDIDIKAN DAN LUAS LAHAN TERHADAP HASIL PRODUKSI TANAMAN SEMBUNG The Influence of the Farmer Ages, Levels of Education and Land Area to Blumea Yields

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH UMUR PETANI, TINGKAT PENDIDIKAN DAN LUAS LAHAN TERHADAP HASIL PRODUKSI TANAMAN SEMBUNG The Influence of the Farmer Ages, Levels of Education and Land Area to Blumea Yields"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 9, No. 2, Desember 2016

75

PENGARUH UMUR PETANI, TINGKAT PENDIDIKAN DAN LUAS LAHAN

TERHADAP HASIL PRODUKSI TANAMAN SEMBUNG

The Influence of the Farmer Ages, Levels of Education and Land Area to

Blumea Yields

Dian Susanti

*

, Nurul H. Listiana, Tri Widayat

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

Jl. Raya Lawu No. 11, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah 57792

*

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional telah banyak dikembangkan baik di Indonesia ataupun di negara berkembang lainnya. Sembung (Blumea balsamifera) merupakan salah satu tumbuhan berkhasiat obat yang prospektif untuk dibudidayakan. Sembung sebagai salah satu bahan jamu tersaintifikasi di Klinik Herbal Balai Besar Pengembangan dan Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional terus meningkat. . Pemenuhan kebutuhan sembung dilakukan dengan upaya peningkatan hasil produksi melalui budidaya tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh umur petani, tingkat pendidikan dan luas lahan terhadap hasil produksi tanaman sembung. Penelitian dilakukan di Kecamatan Karangpandan, Ngargoyoso, dan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Pengambilan sampel dilakukan dengan wawancara terbatas (purposive interviews) dan pengukuran lahan. Data dianalisis menggunakan metode analisis linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur petani 30-87 tahun, tingkat pendidikan rendah hingga tinggi dan luas lahan sempit hingga luas tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil produksi sembung. Tingkat pendidikan memberikan pengaruh positif terhadap hasil produksi sembung.

Kata kunci: Sembung, faktor sosial ekonomi, luas lahan, produksi

ABSTRACT

The use of plants as traditional remedies have been developed in Indonesia and other developing countries. Blumea is one of medicinal efficacious herbs that prospective to be cultivated. Demand of blumea as one of the scientific jamu medicine components at Indonesia Ministry of Health, Research and Development Center of Indonesian Traditional Medicine were very high. An effort to increase crop production has been done to fulfill the demand. This research aims factors which determine blumea yields. The study was conducted in Karangpandan, Ngargoyoso and Tawangmangu Sub-Districts of Karanganyar Regency from March to July 2016. The factors studied were farmer age, education level, and land area. Samples were determined by purposive interviews, observation and land measurement. Data were analyzed using multiple linear regressions. The results showed that 30-87 years age, low to high education level and narrow to large land area does not have a significant influence on the blumea yields. The level of education had a positive influence on the blumea yields.

(2)

76

Volume 9, No. 2, Desember 2016 PENDAHULUAN

Penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional telah dikenal bangsa Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu. Terjadinya krisis moneter berkelanjutan menjadi krisis multidimensi di Indonesia berdampak terhadap tingginya harga barang dan biaya hidup. Kondisi ini mengakibatkan tingginya minat masyarakat untuk beralih ke bahan alam termasuk dalam hal obat dan kesehatan, mengingat tingginya dampak negatif obat kovensional bila dibandingkan dengan obat tradisional. Khasiat tumbuhan obat yang beragam dan bahkan mampu menghambat pertumbuhan penyakit berat memacu masyarakat untuk tetap mempertahankan penggunaan tumbuhan obat sebagai alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi masalah kesehatan (Yuliarti, 2010; Darsini, 2013).

Obat tradisional masih terus digunakan untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar oleh penduduk negara sedang berkembang. Menurut resolusi

Promoting the Role of Traditional Medicine in Health System: Strategy for the African

Region, sekitar 80% masyarakat negara

anggota WHO (World Health Organization) di Afrika menggunakan obat tradisional untuk keperluan kesehatan. Di Asia penggunaan obat tradisional terus meningkat. Pengguna obat tradisional di Cina, Jepang, Malaysia dan India mencapai 40-90% penduduk. Kantor Regional WHO Wilayah Amerika (AMOR/PAHO) melaporkan 71% penduduk Chili dan 40% penduduk Kolombia telah menggunakan obat tradisional. Di negara maju, penggunaan obat tradisional tertentu sangat populer. Beberapa sumber menyebutkan penggunaan obat tradisional oleh penduduk di Perancis mencapai 49%, Kanada 70%, Inggris 40% dan Amerika Serikat 42% (Ditjen PEN, 2014).

Di Indonesia, pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional banyak digunakan

untuk menjaga kesehatan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di daerah terpencil karena tempat layanan kesehatan yang lokasinya jauh dan sangat terbatas. Penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional cukup tinggi di daerah yang terisoliasi (Sudirga, 1992).

Sembung adalah jenis tumbuhan obat yang mengandung flavonoid, sesquiterpenes,

tannin dan saponin yang memiliki beragam

khasiat antara lain sebagai antitumor,

hepatoprotective, antioksidan, antiradang,

penyembuh luka (Pang et al., 2014), antibakteri (Ruhimat, 2015) dan peningkat sistem imun (Munawaroh et al., 2009). Sembung prospektif untuk dibudidayakan di Indonesia, mengingat peluangnya sebagai salah satu komoditas ekspor cukup besar (Priyono, 2010).

Berdasarkan data primer Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) tahun 2016, kebutuhan sembung sebagai salah satu bahan jamu saintifik mencapai sekitar 1 ton/tahun simplisia kering. Sembung yang digunakan untuk bahan baku jamu selama ini banyak diperoleh dari hasil pengambilan di alam liar dan jumlahnya belum mencukupi. Untuk memenuhi besarnya kebutuhan tersebut, B2P2TOOT bekerja sama dengan masyarakat di wilayah Tawangmangu dan sekitarnya untuk membudidayakan tanaman sembung. Tinggi rendahnya produktivitas suatu komoditas pertanian dipengaruhi oleh berbagai macam hal yaitu luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk organik, jumlah tenaga kerja, umur petani, lama pendidikan petani, dan lama pengalaman berusaha tani (Muttakin et al., 2014; Suharyanto et al., 2015)

(3)

Volume 9, No. 2, Desember 2016

77

stroberi (Samun et al., 2011) telah

dilakukan. Namun, penelitian faktor produksi dalam upaya budidaya tanaman obat masih terbatas. Penelitian yang telah dilakukan pada tanaman obat antara lain tanaman cengkeh (Arinda dan Yantu, 2015), lidah buaya (Ellyta et al., 2015) dan pala (Suwarni et al., 2013). Faktor produksi yang dimiliki petani biasanya dalam jumlah terbatas sehingga menjadi keterbatasan dalam meningkatkan produksi usahataninya. Keterbatasan tersebut menjadi tantangan bagi petani untuk bisa lebih efisien lagi dalam mengelola faktor produksi usahatani yang dilakukan (Mufriantie dan Feriady, 2014). Perlu dilakukan analisis mengenai pengaruh umur, pendidikan dan luas lahan terhadap produktivitas tanaman sembung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh umur, pendidikan dan luas lahan terhadap hasil produksi tanaman sembung di Kabupaten Karanganyar.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Karanganyar dengan menggunakan metode survei. Sampel penelitian ditentukan secara purposif (terbatas) atau purposive yaitu petani yang menanam sembung di Kecamatan Karangpandan, Ngargoyoso dan

Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar dari bulan Maret sampai Juli 2016. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner dan pengamatan serta pengukuran luas lahan di lapangan. Data yang diambil yaitu karakteristik petani yang meliputi umur dan tingkat pendidikan serta data luas lahan yang dimilki oleh petani. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik petani adalah ciri atau sifat yang dimiliki oleh petani meliputi beberapa faktor atau unsur yang melekat pada diri seseorang (Subagio dan Manoppo, 2016). Karakteristik petani tanaman sembung yang menjadi responden di 3 Kecamatan dalam Kabupaten Karanganyar ini beragam baik umur maupun tingkat pendidikannya.

Sebaran Wilayah

Jumlah petani tanaman sembung berdasarkan sebaran wilayah kecamatan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah petani di Kecamatan Tawangmangu, Ngargoyoso dan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar

No Kecamatan Jumlah Petani (orang) Persen (%)

1 Tawangmangu 17 80,95

2 Ngargoyoso 1 4,76

3 Karangpandan 3 14,29

21 100

Sumber: Data primer hasil wawancara petani sembung di 3 Kecamatan

Penyebaran petani sembung di 3 Kecamatan di Kabupaten Karanganyar sangat bervariasi. Jumlah petani terbanyak terdapat di Kecamatan Tawangmangu.

(4)

78

Volume 9, No. 2, Desember 2016

dibandingkan dengan tanaman pangan. Selain itu pengetahuan masyarakat mengenai cara budidaya tanaman sembung di pekarangan masih kurang (Nurmayulis & Hermita, 2015).

Umur Petani

Jumlah petani sembung berdasar umur berasal dari kelompok umur antara 30-59 tahun yakni sebanyak 17 orang, sedangkan pada kelompok umur diatas 59 tahun sebanyak 4 orang (Tabel 2).

Tabel 2. Distribusi petani tanaman sembung di Kabupaten Karanganyar berdasar kelompok umur

No Umur Jumlah Persen (%)

1 Muda ( ≤ 30 tahun) 2 9,52

2 Sedang (31 - 59 tahun) 15 71,43

3 Tua (≥ 60 tahun) 4 19,05

21 100

Keterangan: Minimum 30 tahun, Rata-rata 47 tahun

Sumber: Data primer hasil wawancara petani sembung di 3 Kecamatan

Sekitar 80,95% petani tanaman obat di tiga Kecamatan di Karanganyar yang bercocok tanam sembung merupakan petani produktif dengan umur antara 30-59 tahun. Sisanya sekitar 19,05% merupakan petani dengan kisaran umur lebih dari 59 tahun yang termasuk dalam kategori tidak produktif. Petani umur 30-59 tahun memiliki fisik yang potensial untuk mendukung kegiatan usahatani, dinamis, kreatif, dan cepat dalam menerima inovasi teknologi baru (Samun et al., 2011). Petani berumur lebih dari 59 tahun memiliki kelebihan dalam hal pengalaman, pertimbangan, etika kerja dan komitmen

terhadap mutu. Kekurangan dari petani dengan umur lebih dari 59 tahun adalah sering dianggap kurang luwes dan menolak teknologi baru (Sunar, 2012).

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan dari petani tanaman sembung beragam dengan pendidikan tertinggi SMA hingga tidak sekolah. Jumlah petani tanaman sembung dengan pendidikan rendah yaitu sekitar 52,38%, sedangkan petani yang memiliki latar belakang pendidikan formal tinggi sekitar 19,05% (Tabel 3).

Tabel 3. Distribusi petani tanaman sembung di Kabupaten Karanganyar berdasar tingkat pendidikan

No Pendidikan formal Jumlah Persen (%) 1 Rendah (< 7 tahun) 11 52,38 2 Sedang (7 - 9 tahun) 6 28,57 3 Tinggi (> 9 tahun) 4 19,05

21 100

Keterangan: Minimum tidak sekolah, maksimum SMA

Sumber: Data primer hasil wawancara petani sembung di 3 Kecamatan

Luas Lahan

Luas lahan adalah salah satu faktor produksi yang sangat memengaruhi hasil produksi pertanaman. Lahan yang terlalu luas tidak berarti dapat memberikan hasil

(5)

Volume 9, No. 2, Desember 2016

79

Karanganyar mayoritas tergolong sempit

yaitu dibawah 0,1 hektar (Tabel 4).

Tabel 4. Luas lahan petani sembung di Kabupaten Karanganyar

No Luas lahan Jumlah Persen (%)

1 Sempit (< 0,1 ha) 18 85,71

2 Sedang ( 0,1 - 0,2 ha) 2 9,52

3 Luas (> 0,2 ha) 1 4,76

21 100

Keterangan: Minimum 0,0017 ha, maksimum 2,7 ha

Sumber: Data primer hasil wawancara petani sembung di 3 Kecamatan

Luas lahan yang sempit yaitu dibawah 0,1 ha telah mampu mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan tersebut untuk budidaya tanaman sembung. Tingginya minat masyarakat dengan lahan sempit untuk mengefisienkan pemanfaatan lahannya untuk budidaya tanaman sembung karena harga jual sekitar tiga ribu rupiah per kg kering dan adanya jaminan pembelian hasil.

Hasil estimasi pengaruh ke empat faktor yang digunakan terhadap hasil produksi tanaman sembung dapat dilihat pada Tabel 5 menunjukkan koefisien

korelasi (R) sebesar 0,627. Ini berarti ada korelasi/hubungan yang kuat antara hasil produksi tanaman sembung dengan 4 faktor yang memengaruhi. Hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas disebut kuat bila nilai R diatas 0,5 (Santoso, 2010). Dari Tabel 5 diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 1867,030 - 537,513X1 +

27,433X2 - 112,072X3 – 277,453X4

Tabel 5. Hasil estimasi pengaruh faktor produksi umur petani, tingkat pendidikan dan luas lahan terhadap hasil produksi tanaman sembung

Sumber: Data primer, diolah tahun 2016

Nilai koefisien determinasi (R2) yang

diperoleh sebesar 0,393 berarti bahwa 4 faktor yang digunakan mampu menjelaskan 39,3% keragaman dari produktivitas

usahatani tanaman sembung, sedangkan 60,7% ditentukan oleh beragam faktor lain yang tidak digunakan sebagai variabel penelitian.

Variabel Koefisien regresi t hitung Signifikansi

Konstanta 1867,030 2,765 0,014

Umur petani (X1) -537,513 -2,466 0,025

Tingkat pendidikan (X2) 27,433 0,248 0,807

Luas lahan (X3) -112,072 -0,639 0,532

Wilayah lokasi (X4) -277,453 -1,917 0,073

R 0,627

R2 0,393

Fhitung 2,590

Ftabel (α=5%) 3,01

(6)

80

Volume 9, No. 2, Desember 2016

Faktor umur petani memengaruh hasil produksi secara nyata. Tingkat pendidikan, luas lahan dan wilayah lokasi tidak memengaruhi hasil produksi secara nyata. Koefisien regresi variabel umur petani, luas lahan dan wilayah lokasi bertanda negatif menunjukkan bahwa kontribusi ketiga variabel tersebut tidak searah. Koefisien regresi tingkat pendidikan memberikan kontribusi searah terhadap hasil produksi tanaman sembung.

Petani dengan umur produktif memiliki kemampuan fisik dan pola pikir yang sangat baik untuk dapat menyerap informasi inovasi baru dan mengaplikasikannya (Waris et al., 2015). Umur petani memengaruhi proses budidaya tanaman mulai dari proses pemikiran sampai proses berjalannya kegiatan budidaya yang dijalankan (Thamrin et al.,

2012). Petani sembung di 3 Kecamatan dengan umur rata-rata 47 tahun mampu untuk menyerap inovasi dan memanfaatkan fisik dan pikiran untuk melakukan budidaya tanaman sembung dengan baik.

Tingkat pendidikan memiliki pengaruh tidak nyata terhadap hasil produksi tanaman karena tingkat pendidikan formal memengaruhi perubahan perilaku petani dalam kegiatan budidaya tanaman. Rendahnya pendidikan formal dapat dikurangi dengan mengikuti banyak pendidikan informal (Saparyati, 2008). Petani yang memiliki pendidikan lebih tinggi baik formal ataupun informal mempunyai wawasan yang lebih luas terutama dalam pemahaman pentingnya produktivitas. Kesadaran akan pentingnya produktivitas berperan penting untuk mendorong upaya peningkatan produksi pertanian (Mahendra, 2014). Pendidikan memengaruhi petani melalui penyerapan informasi inovasi yang bermanfaat bagi peningkatan hasil produksi tanaman sembung (Thamrin et al., 2012). Wilayah lokasi dan luas lahan mempengaruhi jenis inovasi teknologi yang diambil oleh petani.

KESIMPULAN

Umur dan tingkat pendidikan petani, serta luas lahan tidak mempengaruhi hasil produksi tanaman sembung secara nyata. Tingkat pendidikan memberikan pengaruh positif terhadap hasil produksi tanaman sembung. Semakin tinggi tingkat pendidikan petani, semakin besar hasil produksi tanaman sembung.

DAFTAR PUSTAKA

Arinda W. & Yantu MR. 2015. Analisis produksi tanaman cengkeh di Desa Tondo Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala. e-Journal Agrotekbis, 3(5): 653-660.

Darsini NN. 2013. Analisis keanekaragaman jenis tumbuhan obat tradisional berkasiat untuk pengobatan penyakit saluran kencing di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Provinsi Bali. Jurnal

Bumi Lestari, 13(1): 159-165.

Ditjen PEN. 2014. Obat Herbal Tradisional.

Warta Ekspor, (September 2014), hal.1–

20.

Ellyta, Sugiardi S. & Yanto. 2015. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi lidah buaya ( Aloe vera. l) di pontianak utara. Jurnal Agrosains, 12(2): 1-9.

Far-far RA. 2011. Hubungan komunikasi interpersonal dengan perilaku petani dalam Kabupaten Seram Bagian Barat.

Jurnal Budidaya Pertanian, 7(2):

100-106.

Khakim L., Hastuti D. & Widiyani, A. 2013. Pengaruh luas lahan, tenaga kerja, penggunaan benih, dan penggunaan pupuk terhadap produksi padi di Jawa Tengah. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian

Mediagro, 9(1): 71-79.

Khazanani A. 2011. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-faktor Produksi Usahatani Cabai Kabupaten Temanggung (Studi Kasus di Desa Gondosuli Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung). Skripsi Universitas

(7)

Volume 9, No. 2, Desember 2016

81

Mahendra AD. 2014. Analisis pengaruh

pendidikan, upah, jenis kelamin, usia dan pengalaman kerja terhadap produktivitas tenaga kerja (Studi di Industri Kecil Tempe di Kota Semarang).

Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis,

Universitas Diponegoro.

Matakena S. 2012. Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi Distrik Makimi Kabupaten Nabire. Agrilan, Jurnal

Agribisnis Kepulauan, 1(1): 43-60.

Mufriantie F. & Feriady A. 2014. Analisis Faktor Produksi Dan Efisiensi Alokatif Usahatani Bayam (Amarathus Sp) Di Kota Bengkulu. Agrisep, 15(1): 31-37.

Munawaroh F., Sudarsono & Yuswanto A. 2009. Pengaruh pemberian ekstrak etanolik daun sembung (Blumeae folium) terhadap fagositosis makrofag pada mencit jantan yang diinfeksi dengan listeria monocytogenes. Majalah Obat

Tradisional, 14(47)

Muttakin D., Ismail U. & Kurniati SA. 2014. Faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan usahatani kelapa sawit pola swadaya di Desa Kepau Jaya Kabupaten Kampar. Jurnal RAT, 3(1): 369-378

Nurmayulis & Hermita N. 2015. Potensi tumbuhan obat dalam upaya pemanfaatan lahan pekarangan oleh masyarakat Desa Cimenteng kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Agrologia, 4(1): 17.

Pang Y., Wang D., Fan Z., Chen X., Yu F., Hu X., Wang K. and Yuan L. 2014. Blumea

balsamifera-A phytochemical and

pharmacological review. Molecules, 19(7): 9453–9477.

Priyono. 2010. Agribisnis tanaman obat kunyit dan lengkuas. Innofarm, Jurnal

Inovasi Pertanian, 9(2): 81-95.

Ruhimat U. 2015. Daya hambat infusum daun sembung (Blumea balsamifera) terhadap pertumbuhan bakteri

Escherichia coli dengan metode difusi

cakra. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas

Husada, 13(1): 213-227.

Samun S., Rukmana D. & Syam S. 2011.

Partisipasi petani dalam penerapan teknologi pertanian organik pada tanaman stroberi di Kabupaten Bantaeng. hal.1–12. Available at: http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/da b92a3322d276f1b3c180f43fbab78d.pdf.

Santoso S. 2010. Statistik Parametrik,

Konsep dan Aplikasi dengan SPSS, Jakarta:

PT. Elex Media Komputindo.

Saparyati DI. 2008. Kajian Peran Pendidikan Terhadap Pembangunan Pertanian di Kabupaten Demak. Tesis. Program Pascasarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota. Universitas Diponegoro.

Sinaga AH. 2015. Optimasi pengaruh faktor-faktor produksi usaha tani padi sawah.

Jurnal Darma Agung, 1: 26-29.

Subagio H. & Manoppo CN. 2016. Hubungan karakteristik petani dengan usahatani cabai sebagai dampak dari pembelajaran

FMA (Studi kasus di Desa Sunju

Kecamatan Marawola Provinsi Sulawesi

Tengah), Available at:

http://jatim.litbang.pertanian.go.id/ind/ phocadownload/p41.pdf.

Sudirga SK. 1992. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional di Desa Trunyan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli.

Electronic jurnal bumi-lestari, 12: 7-18.

Suharyanto, Mulyo JH., Darwanto DH. dan Widodo S. 2015. Analisis produksi dan efisiensi pengelolaan tanaman terpadu padi sawah di Provinsi Bali. Penelitian

Pertanian Tanaman Pangan, 34(2):

131-144.

Sumarno J., Harianto & Kusnadi N. 2015. Peningkatan produksi dan efisiensi usahatani jagung melalui penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Gorontalo. Jurnal Manajemen dan

Agribisnis, 12(2): 79-91.

Sunar. 2012. Pengaruh faktor biografis ( usia, masa kerja, dan gender ) terhadap produktivitas karyawan ( studi kasus PT Bank X ). Forum Ilmiah, 9(1): 167–177.

(8)

82

Volume 9, No. 2, Desember 2016 Wonogiri. Agritexts, vol 24.

Suwarni N., Yunianto VD. & Setiadi A. 2013. Analisis faktor-faktor produksi yang mempengaruhi keuntungan agroindustri kecil penyulingan minyak pala dan dampaknya pada pendapatan asli daerah Kabupaten Bogor. Agromedia, 31(1): 1-11.

Thamrin M., Herman S. & Hanafi F. 2012. Pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap pendapatan petani pinang. Agrium, 17(2): 134-144.

Waris, Badriyah N. & Wahyuning DA. 2015. Pengaruh tingkat pendidikan, usia dan

lama beternak terhadap pengetahuan manajeman reproduksi ternak sapi potong di Desa Kedungpring Kecamatan Balongpanggang Kabupaten Gresik.

Jurnal Ternak, 6(1): 3-8.

Yuliarti N. 2010. Sehat, Cantik, Bugar dengan Herbal dan Obat Tradisional - Nurheti

Yuliarti - Google Buku, Penerbit Andi.

Available at:

Gambar

Tabel 1. Jumlah petani di Kecamatan Tawangmangu, Ngargoyoso dan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar
Tabel 3. Distribusi petani tanaman sembung di Kabupaten Karanganyar berdasar tingkat pendidikan
Tabel 5. Hasil estimasi pengaruh faktor produksi umur petani, tingkat pendidikan dan luas lahan terhadap hasil produksi tanaman sembung

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, dokumen LKjIP juga menyajikan dokumen perencanan dan kinerja lain seperti Rencana Strategis (Renstra), Indikator Kinerja Utama (IKU), Rencana Kinerja Tahunan (RKT),

Penanganan risiko nasabah tidak memberikan informasi dengan benar disebabkan oleh moral hazard nasabah, pengelola BPRS Madinah memitigasi risiko dengan melakukan nasabah

kode etik dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan ,karena etika telah dijadikan sebagai coporate culture..dengan adanya kode etik secara internemua karyawan

Nilai profesional Keperawatan yang dijelaskan oleh Foundasion of Nursing Care Values (2011), nilai-nilai tersebut merupakan fondasi seorang Perawat saat bertindak dan

Beban Belajar dan Struktur Kurikulum Madrasah Aliyah (MA) Beban belajar dinyatakan dalam jam pelajaran per minggu selama satu semester. Beban belajar di Madrasah Aliyah

Tugas akhir ini diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan IRP dengan penggunaan algoritma ant colony untuk tipe permintaan yang bersifat stokastik, sehingga

Tulisan ini merupakan Skripsi dengan judul “ Pemanfaatan Serbuk Serat Ampas Tebu Termodifikasi sebagai Pengisi Komposit Hibrid Plastik Bekas Kemasan Gelas/Serat

Apakah serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap, bukan dari jenis burung, dan kadang tidak bersayap.. Sesungguhnya perkataan ini