Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 1
UPAYA PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA MENGGUNAKAN
PEMBELAJARAN MATEMATIKA HUMANIS DENGAN BERBAGAI MACAM
PROSES BERPIKIR
Dimas Dzikrul Amin
Jurusan Tadris Matematika Institut Agama Islam (IAIN) Tulungagung
Email : [email protected]
Abstrak
Matematika adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran manusia daslam struktur kognitif, sehingga dalam proses pembelajarannya diharapkan mampu mengasah kepercayaan diri siswa. Namun pendapat yang muncul ke permukaan bahwa matematika adalah ilmu yang dipelajari akan menimbulkan ketakutan siswa. Bahkan pembelajaran matematiia hanya dikonsentrasikan pada bagaimana siswa lulus dengan nilai yang baik dan dapat diterima di PTN yang bagus. Fakta bahwa hanya mengejar hasil daripada proses sulit dihindarkan. Peneliti ingin mengatasi problem ini denhan menggunakan pendekatan pembelajaran humanistik dan pembelajaran metaforik, yang diharapkan mampu menumbuh kembangkan sikap percaya diri.
Penelitian ini adalah penelitian kualitaif dengan pendekatan pustaka. Dengan rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana pembelajaran matematika yang humanis?; 2) Bagaimana pembelajaran matematika humanis dengan berbagai proses berpikir?; 3)Apakah pembelajaran matematika humanis dengan berbagai macam proses berpikir mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa?
Hasil penelitian yang dicapai sebagai berikut: 1) Ciri-ciri manusiawi matematika hanya dapat dialami dan diapresiasi oleh para siswa kalau mereka mempelajari matematika itu juga secara manusiawi, yaitu dengan membangun sendiri pemahaman mereka akan unsur-unsur matematika; 2) Pembelajaram matematika humanis dengan Methaporical Thingking adalah upaya melaksanakan proses pembelajaran dengan manusiawi dengan mengedepankan proses berpikir siswa dengan Methaporical Thinking; 3) Tingkat kepercayaan diri siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Methaporical Thinking lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan cara biasa.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 2
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Matematika adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran manusia yang diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitifi. Sehingga diharapkan dapat menjadi sarana bagi siswa untuk mengasah kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai situasi masalah. Namun demikian sejumlah pendapat yang sering kita dengar tentang matematika adalah menakutkan, membosankan, membingungkan, menyebalkan dll. Sering peneliti menemukan siswa takut apabila diminta untuk mengerjakan soal didepan kelas ataupun mengungkapkan pemahaman terhadap suatu konsep matematika menjadikan siswa tidak percaya diri menghadapi setiap proses pembelajaran.
Kondisi pembelajaran di atas diperparah dengan kenyataan bahwa kurikulum sekarang hanya berorienrasi pada upaya bagaimana siswa lulus dengan nilai yang memuaskan, siswa dapat masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang favorit. Artinya, sebagian guru beranggapan bahwa yang terpenting adalah siswa mampu menghafalkan konsep-konsep dan bisa mengerjakan soal-soal seperti soal-soal-soal-soal Ujian Nasional (UN)
dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tanpa memahami bahan materi yang dipelajari. Bahkan ada beberapa kasus yang peneliti temukan bahwa apabiala ada siswa yang tidak bisa tentang suatu konsep, guru beralasan bahwa konsep itu akan dibebankan atau menjadi tanggung jawab pada guru pada tingkatan selanjutnya.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 3 membantu peserta didik untuk
menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching), sehingga menumbuhkan sifat kepercayaan diri siswaii.
Proses pembelajaran juga harus dikembangkan kearah bagaimana cara penyampaian materi pembelajaran yang sesuai dengan proses berpikir siswa. berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah.iii Sehingga diharapkan tidak ada siswa yang mengaku kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran.
Fakta diatas menarik bagi peneliti untuk meneliti tentang “Upaya Peningkatan Kepercayaan Diri Siswa
Menggunakan Pembelajaran
Matematika Humanis Dengan Berbagai
Macam Proses Berpikir”.
B.Rumusan Masalah
Rumusan masalah
merupakan upaya yang menyatakan secara tersirat pertanyaan yang ingin dicari jawabannya. Mengingat demikian pentingnya masalah dalam penelitian,
maka sesuai dengan judul penelitian ini yaitu ””. Berikut dirumuskan tentang rumusan penulisan sebagai berikut :
1. Bagaimana pembelajaran matematika yang humanis?
2. Bagaimana pembelajaran matematika humanis dengan berbagai proses berpikir ?
3. Apakah pembelajaran matematika humanis dengan berbagai macam proses berpikir mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa?
C.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas maka dapat disimpulkan tujuan dari pada penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Bagaimana pembelajaran matematika yang humanis.
2. Untuk mengetahui pembelajaran matematika humanis dengan berbagai proses berpikir.
3. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika humanis dengan berbagai macam proses berpikir mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa?
D.Batasan Masalah
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 4 relevan, maka peneliti memberikan
batasan masalah sebagai berikut :
1. Pada rumusan masalah yang pertama, peneliti hanya mengkaji bagaimana pembelajaran matematika yang humanis secara keilmuan atau secara sederhana dengan disertai contoh berupa pengertian bilangan cacah saja. 2. Pada rumusan masalah yang kedua, peneliti membahas bagaimana pembelajaran matematika humanis dengan proses berfikir metafora pada materi phytagoras.
3. Pada intinya peneliti hanya meneliti cara berkomunikasi atau cara mentransformasikan ilmu dari guru ke siswa, tidak secara khusus meneliti metode-metode pembelajarannya.
KAJIAN TEORI
A.Belajar dan Pembelajaran Menurut
Aliran Humanisme
Konsep belajar humanisme berangkat dari aliran psikologi humanistik. Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan
dan pemaknaan. Dalam hal ini, dikemkakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan- pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.
Menurut teori humanistik, belajar harus berorientasi pada peserta didik sebagai subjek belajar. Teori ini bertujuan memanusiakan manusia untuk mampu mengaktualisasikan diri dalam hidup dan penghidupannya. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh untuk mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupannya. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia, sehingga pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawiiv.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 5 komunikasi dan relasi personal antara
pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah, karena perkembangan anak akan optimal jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Pendidikan yang efektif menurut aliran ini adalah pendidikan yang berpusat pada minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Optimalisasi pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini. Pendekatan pembelajaran humanistik memandang manusia sebagai subyek yang merdeka untuk menentukan arah hidupnya. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran yang humanis adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif. Pendekatan dialogis mengajak peserta didik untuk berpikir bersama secara kritis dan kreatif. Pendidik tidak bertindak sebagai guru
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 6
B.Metaphorical Thinking
Berpikir metaforik adalah proses berpikir yang menggunakan metafora-metafora untuk memahami suatu konsep. Metafora berawal dari suatu konsep yang diketahui siswa menuju konsep lain yang belum diketahui atau sedang dipelajari siswa. Metafora tergantung kepada sejumlah sifat dari konsep dan benda yang dimetaforkan.
Berpikir metaforik dalam matematika digunakan untuk memperjelas jalan pikiran seseorang yang dihubungkan dengan aktivitas matematiknya. Konsep-konsep abstrak yang diorganisasikan melalui berpikir metaforik, dinyatakan dalam hal-hal kongkrit berdasarkan struktur dan cara-cara bernalar yang didasarkan sistem sensori-motor yang disebut dengan konseptual metafor.vi
C.Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri atau keyakinan diri diartikan sebagai suatu kepercayaan terhadap diri sendiri yang dimiliki setiap individu dalam kehidupannya, serta bagaimana individu tersebut memandang dirinya secara utuh dengan mengacu pada konsep diri. Kepercaya diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, dapat merasa
bebas untuk melakukan hal – hal yang disukainya dan bertanggung jawab atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, dapat menerima dan menghargai orang lain, memiliki dorongan untuk berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya.
Kepercayaan diri akan memperkuat motivasi mencapai keberhasilan, karena semakin tinggi kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri, semakin kuat pula semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kemauannya untuk mencapai apa yang menjadi sasaran tugas juga akan lebih kuat. Berarti ia juga mempunyai komitmen kuat untuk bekerja dengan baik, supaya penyelesaian pekerjaannya berjalan dengan sempurna. Dibandingkan dengan orang lain, biasanya orang semacam ini juga akan lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya dan lebih mudah menerima pandangan yang berbeda dengan sudut pandang dirinya. Orang yang selalu curiga atau tidak dapat menerima pendapat yang berbeda dengan pendapatnya biasanya khawatir pendapatnya akan lebih jelek dari pendapat orang lain.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 7 atas diri sendiri terhadap segala fenomena
yang terjadi yang berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengevaluasi serta mengatasi fenomena yang terjadi tersebut, (b) Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, yaitu dapat bertindak dalam mengambil keputusan terhadap apa yang dilakukan secara mandiri tanpa banyak melibatkan orang lain. Selain itu, mempunyai kemampuan untuk meyakini tindakan yang diambilnya tersebut, (c) Memiliki konsep diri yang positif, yaitu adanya penilaian yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pandangan maupun tindakan yang dilakukan yang menimbulkan rasa positif terhadap diri sendiri, (d). Berani mengungkapkan pendapat, yaitu adanya suatu sikap untuk mampu mengutarakan sesuatu dalam diri yang ingin diungkapkan kepada orang lain tanpa adanya paksaan atau hal yang dapat menghambat pengungkapan perasaan tersebut7.
PEMBAHASAN
A.Pembelajaran Matematika Humanis
Pemahaman terhadap matematika
yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi adalah proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk/proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk mengatasi
masalah dalam lingkungannya, sedangkan akomodasi adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung atau proses perubahan respons individu terhadap stimuli lingkungan. Dalam proses akomodasi seorang memerlukan modifikasi struktur-sturktur mental yang ada dalam mengadakan respons terhadap tantangan lingkungannya8.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 8 melainkan juga bagaimana mempelajari
materi itu secara bermakna.
Karakteristik Pembelajaran
Matematika Humanistik
a. Menempatkan siswa sebagai penemu (inquirer) bukan hanya penerima fakta-fakta dan prosedur-prosedur. Contohnya pada pembelajaran guru memberikan rangsangan dalam menemukan sebuah konsep tentang rumus, misal pada materi logaritma, geometri, dan lain sebagainya.
b. Memberi kesempatan siswa untuk saling membantu dalam memahami masalah dan pemecahannya yang lebih mendalam. Guru bisa memberikan kesempatan setiap kelompok dalam aktifitas didkusi dikelas, dimana siswa diberi kesempatan untuk memahami masalah dan pemecahannya, contohnya pada diskusi soal konsep SPLDV. c. Belajar berbagai macam cara untuk
menyelesaikan masalah, tidak hanya dengan pendekatan aljabar. Siswa bisa diajak untuk melihat kosep dunia nyata tentang penggunaan konsep SPLDV, misalnya siswa diajak ke pasar, toko kelontong, dll.
d. Menunjukkan latar belakang sejarah bahwa matematika sebagai suatu penemuan atau usaha keras (endeavor) dari seorang manusia. Guru bisa
menceritakan tentang biografi phytagoras.
e. Menggunakan masalah-masalah yang menarik dan pertanyaan terbuka (open-ended) tidak hanya latihan-latihan. Bisa dikaitkan dengan dunia nyata yang dikaitkan dengan materi yang sedang dibahas.
f. Menggunakan berbagai teknik penilaian tidak hanya menilai siswa berdasar pada kemampuan mengingat prosedur-prosedur saja. Guru bisa menerapkan model penilaian yang menggunakan prinsip kurikulum 2013, yang pada intinya memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memlilih tugas dan model penilaian yang sesuai dengan pilihab pribadi peserta didik.
g. Mengembangkan suatu pemahaman dan apresiasi terhadap ide-ide besar matematika. Guru bisa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan ide-ide tentang penerapan konsep yang sedang dipelajari untuk diterapkan pada dunia nyata.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 9 agar siswa memahami bahwa
matematika sangatberguna bagi kehidupan.
i. Membantu siswa mengembangkan sikap-sikap percaya diri, mandiri, dan penasaran (curiosity)tika yang membentuk sejarah dan budaya. Tidak sering menekan siswa adalah salah satu upaya guru untuk mengembangkan sikap percaya diri peserta didik. Serta memberikan seluas-luasnya kesempatan untuk mengungkapkan ide adalah bentuk upaya agar peserta didik mandiri dan memiliki rasa penasaran terhadap objek atau materi yang dipelajari.
j. Mengajarkan materi-materi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam sains, bisnis,ekonomi, atau teknikvii. Sekali lagi guru harus bisa memberikan penjelasan kepada peserta didik agar mengetahui betapa besarnya sumbangan ilmu matematika terhadap perkembangan dunia sekarang ini.
Berikut, akan diberikan 2 contoh kasus proses pembelajaran matematika. Kasus I:
Seorang guru SD menjelaskan kepada siswanya tentang macam-macam bilangan. Ketika menerangkan bilangan cacah, beliau memberikan definisi bahwa bilangan cacah adalah bilangan yang
dimulai dari nol (0,1,2,3, …). Dari penjelasan tersebut siswa hanya akan menangkap pesan bahwa bilangan yang dimulai dari nol dinamakan bilangan cacah, dan tidak mengetahui untuk apa bilangan cacah itu dalam kehidupan, kecuali siswa yang berusaha untuk mencari jawabannya.
Kasus II:
Dalam kasus II ini hampir sama dengan kasus I, tetapi ada sedikit perbedaan, di mana guru tersebut berusaha menjelaskan bagaimana bilangan-bilangan itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Bilangan cacah dijelaskan, bahwa bilangan cacah adalah bilangan yang dimulai dari nol yang jika kita amati dalam kehidupan, bilangan cacah ini digunakan untuk menyatakan banyak objek atau barang”. Kata guru ketika menjelaskan. Lalu ada salah satu siswa yang bertanya, “Kalau begitu, berarti ada objek yang banyanya nol, bu?”. Kemudian guru tersebut mengajak para siswa untuk ke halaman sekolah. Guru tersebut bertanya: “Berapa banyak sepeda yang diparkir di halaman sekolah ini?”.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 10 kemudian guru menjelsakan bahwa ada
objek yang banyaknya nol, dalam hal ini banyaknya mobil yang di parkir di halam sekolah. Nol adalah bilangan cacah yang dapat digunakan untuk menyatakan banyaknya obyek kosong atau tidak ada.
Berdasarkan dua kasus di atas, perbedaan yang sangat menonjol di antara dua kasus tersebut. Kasus II tentunya lebih manusiawi, karena dalam proses pembelajaran guru berusaha mengaitkan langsung materi pelajaran yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata. Sedangkan pada kasus I guru hanya menerangkan definisi bilangan cacah tanpa menjelaskan kegunaannya8.
Agar proses pembelajaran matematika dapat bermakna dan berdampak bagi peserta didik adalah; a. Kreativitas guru untuk menyiasati
kurikulum yang sedang berlaku. Guru tidak hanya mengajar sesuai petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis kurikulum, melainkan dapat menyiasati kurikulum dengan memilih dan memilah materi yang penting bagi siswa dan memberikan materi secara berkelanjutan, bahkan bila perlu membuang materi yang tidak penting. b. Inovasi guru dalam pembelajaran.
Variasi metode pembelajaran memegang peran penting untuk menarik minat siswa dalam
pembelajaran matematika. Inovasi dalam metode pembelajaran dengan berbagai variasi sesuai materi ajar akan membuat siswa tidak jenuh untuk mengikuti pembelajaran.
c. Mengaitkan materi ajar dengan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan menunjukkan keterkaitan matematika dengan realitas kehidupan, akan menjadikan pelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa. Siswa dapat menerapkan konsep atau teori yang dipelajarinya untuk memecahkan persoalan riil yang dihadapi dalam keseharian. Dengan demikian matematika akan lebih humanis dan membumiviii.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 11 anggaran membangun rumah, dan
sebagainya. Jenis-jenis matematika dasar inilah yang tidak akan bisa ditinggalkan.
Seorang guru yang mampu menghadirkan diri sebagai sosok teman yang akrab, familiar, mau terbuka untuk mendengarkan, dan membantu setiap kesulitan yang dihadapi siswa kiranya akan mudah diterima oleh siswa daripada guru yang menampilkan diri sebagai sosok yang galak, seram menakutkan, dan sering menghukum siswa. Kedekatan secara personal antara guru dan siswa akan membuat siswa lebih terbuka mengungkapkan kesulitan dan persoalan yang dihadapinya dalam pembelajaran matematika sehingga guru juga akan lebih mudah untuk membantu mencari solusi yang tepat.
Ciri-ciri manusiawi matematika hanya dapat dialami dan diapresiasi oleh para siswa kalau mereka mempelajari matematika itu juga secara manusiawi, yaitu dengan membangun sendiri pemahaman mereka akan unsur-unsur matematika. Pemahaman tersebut dapat terbentuk bukan dengan menerima apa saja yang diajarkan dan mengahafalkan rumus-rumus dan langkah-langkah yang diberikan, melainkan dengan membangun makna dari apa yang dipelajari dengan mempergunakan informasi baru yang mereka peroleh untuk mengubah,
melengkapi atau menyempurnakan pemahaman yang telah tertanam sebelumnya, dengan memanfaatkan keleluasaan yang tersedia untuk melakukan eksperimen, termasuk di dalamnya.
B.Pembelajaran Matematika Humanis
Dengan Metaphorical Thinking
Metafora merupakan pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan, kiasan, atau perumpamaan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Misalnya “tulang punggung” dalam kalimat pemuda adalah “tulang punggung” negaraix.
Metafora juga merupakan kegiatan memaparkan cerita tentang hakikat kesuksesan, perumpamaan-perumpamaan mengenai suatu bentuk kehidupan yang akan mereka hadapi kelak, simulasi, ataupun kisah-kisah berbagai orang sukses dalam hidupnya, serta legenda-legenda lainnya. Melalui penggunaan Metafora dalam kegiatan pembelajaran, diharapkan siswa memiliki wawasan yang lebih tentang kehidupan nyata yang akan mereka hadapi sehingga motivasi mereka dalam belajar dapat ditingkatkan.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 12 siswa dalam belajar matematika, sehingga
diharapkan pemaknaan siswa terhadap proses pembelajaran matematika terjadi dengan lebih baik. Ini didukung oleh pendapat beberapa ahli yang telah lama berkecimpung dalam penelitian tentang kinerja otak, di antaranya,
1. Menyatakan bahwa penyajian materi dengan Metafora dalam pembelajaran memiliki peranan penting untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, karena penyajian Metafora akan membawa siswa ke dalam suasana yang penuh kegembiraan dan keharuan. Kondisi ini menciptakan pemaknaan dalam proses belajar selanjutnya.
2. Siswa akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnyax.
Bentuk-bentuk Metafora
Bentuk-bentuk metafora yang dapat digunakan atau disampaikan dalam setiap pembelajaran sangat banyak sekali di antaranya yaitu:
a. Bercerita dengan menggunakan perumpamaan untuk menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya pembelajaran tersebut. Perumpamaan penting agar dapat ditangkap dengan mudah dan disimpan di memori peserta
didik sebagai hal yang mudah di ingat kembali.
b. Bercerita dengan perumpamaan, bahwa yang bertanggungjawab terhadap pendidikan pada hakikatnya adalah diri sendiri. Hal ini penting karena keberhasilan dalam belajar akan dikempalikan ke indifidu peserta didik. c. Memberikan penjelasan bagaimana
kiat meraih sukses dalam pembelajaran dan kehidupan. Dalam hal ini peran motifasi sangat penting karena dengan motifasi akan merangsang dan mendorong peserta didik untuk meraih sukses.
d. Menyajikan paparan bahwa orang belajar harus siap keluar dari zona nyaman. Sebagai contoh guru bisa mencerikatak kisah-kisah orang sukses, bahwa dalam meraih kesuksesan harus ditempuh dengan susah payah dan penuh kesabaran, baru bisa meraih sukses.
e. Mendiskusikan mengapa hingga saat ini kualitas pendidikan Indonesia masih terpuruk. Sebagai contoh Guru bisa memberikan ulasan tentang kondisi pendidikan di Indonesia dan penyebabnya, lalu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memberikan pendapatnya.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 13 Rowling, Syeikh Ahmad Yassin, Jacky
Chan, David Bechkam, Michael Jordan, Thomas Alfa Edison, Jalaludin Rumi, Umar Khayyam, dan Sebagainya. g. Memberikan beberapa nasihat dan
tips-tips untuk meraih keberhasilan. Guru memberikan semangat sebagai motifasi peserta didik agar terus giat dalam belajar dan meraih cita-citanya.
Kategori-Kategori Metafora
Ada tiga kategori metafora, yaitu: a. Intangible metaphor (metafora yang
tidak diraba), yang termasuk kategori ini misalnya suatu konsep, suatu idea, kondisi manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi dan budaya)
b. Tangible Metaphor (metafora yang dapat diraba), dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material. c. Combined Metaphors (penggabungan
antara keduanya), di mana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur awal dan visualisasixi.
Dari ungkapan-ungkapan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa metafora adalah suatu bentuk penggunaan kata atau kalimat yang bertujuan untuk mewakili suatu konsep tertentu. Metafora digunakan untuk memahami sesuatu yang abstrak menjadi konkrit atau juga sebaliknya.
Pembelajaran Matematika Dengan
Metafora
Berikut ini diberikan sebuah contoh tentang penggunaan metafora pada materi teorema Phytagoras. Pada contoh dibawah diambil bentuk metafora yang ke 6 yaitu mengisahkan tentang beberapa tokoh terkenal, dimana Langkah-langkah pembelajaran matematika menggunakan Metafora pada materi teorema Phytagoras yang dilaksanakan dalam penelitian ini, sebagai berikut :
1. Pendahuluan a. Apersepsi
1) Melalui tanya jawab, guru mengingatkan kembali siswa mengenai materi bangun datar yang telah dipelajari.
2) Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari serta tujuan kegiatan pembelajaran.
b. Motivasi
Guru menceritakan kisah singkat tentang Phytagoras sebagai penemu teorema Phytagoras yang terkenal (Metafora 1)
2. Kegiatan Inti
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 14 b. Guru membagikan teks
materi tentang segitiga siku-siku pada tiap siswa. c. Secara kelompok siswa
mendiskusikan teks materi, kemudian menjawab soal yang terdapat di dalam teks materi.
d. Sambil mengawasi jalannya diskusi, guru menceritakan tentang kisah sukses Thomas Alva Edison (Metafora 2)
e. Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan sementara dan meminta anggota masing-masing
kelompok untuk
mengkomunikasikan hasil kesimpulannya di depan kelompok lain.
f. Guru menanggapi jawaban siswa dan memberikan informasi yang benar jika terdapat kelompok yang masih keliru dalam menarik kesimpulan.
3. Penutup
a. Guru bersama siswa membuat kesimpulan / rangkuman hasil belajar. b. Guru memberikan tes
individual untuk
mengetahui daya serap materi yang baru saja dipelajari.
c. Guru mengawasi siswa yang sedang mengerjakan soal tes.
d. Setelah siswa selesai mengerjakan tes, guru menceritakan tentang biografi tokoh matematika Al-Khawarizmi (Metafora 3)
C. Peningkatan Kepercayaan Diri Siswa
Pentingnya Kepercayaan Diri
Perlu disadari bahwa untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa diperlukan prinsip-prinsip psikologi dalam upaya meningkatkan kepercayaan diri siswa. Prinsip prinsip ini digunakan pendidik untuk menanamkan nilai karakter pada diri siswa, bahkan prinsip-prinsip psikologi diperlukan untuk meningkat kepercayaan diri pada siwa yang memiliki trauma dimasa lalu. Trauma bisa disebabkan oleh pengalaman atau sesuatu yang tidak menyenangkan dimassa lalu.
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 15 semestinya kewajiban menanamkan
karakter berupa kepercayaan diri siwa menjadi tanggung jwab yang mulia yang diembannya.
Kepercayaan diri adalah modal dasar yang dibutuhkan untuk sukses disegala bidang. Bayangkan jika seorang anak tidak percaya diri sejak masih belia, pasti seorang anak tidak bisa berjalan. Ketika belajar seorang anak pastilah jatuh dan merasakan sakit, namun hal itu tidak membuat putus asa. Berikutadalh cara meningkatkan kepercayaan diri siswa:
a. Bersikap demokratis
Yaitu pola asuh yang mengedepankan
kepentingan siswa, tetapi tidak ragu mengendalikan mereka.
b. Pujian yang tepat
Pujian akan membuat siswa senang dan mampu menghadapi tantangan c. Kenalkan siswa pada
beragam karekter melalui cerita.
d. Biarkan kesalahan terjadi dan berikan resiko terkecil. e. Memahami kepribadian
siswaxii.
Peningkatan Kepercayaan
Diri Siswa
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 16 berani mengemukakan pendapatnya.
Karena siswa terus dilatih bereksplorasi dan berani mengemukakan pendapat serta dia merasa belajarnya bermakna maka siswa akan lebih percaya diri dalam belajar matematika.
Kesempatan untuk bereksplorasi dan berani mengemukakan pendapat juga membuat siswa dengan kemampuan awal matematiks kurang menjadi lebih percaya diri dalam belajar matematika. Hal ini terbukti dari hasil analisis data bahwa terdapat asosiasi yang tinggi antara kemampuan awal matematika dan kepercayaan diri siswa, dimana siswa kemampuan awal matematika baik, kepercayaan dirinya cenderung baik, siswa kemampuan awal matematika sedang kepercayaan dirinya scenderung sedang, tetapi yang menarik siswa kemampuan awal matematika kurang kepercayaan dirinya cenderung sedang.
Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan di atas diperoleh fakta sebagai berikut:
a. Kepercayaan diri siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan metaphorical thinking lebih baik daripada yang menggunakan cara biasa, kepercayaan diri siswa yang memperoleh pembelajaran
dengan pendekatan metaphorical thinking dan cara biasa berada dalam kualifikasi sedang.
b. Terdapat asosiasi yang tinggi antara kemampuan awal matematika dan kepercayaan diri pada kelas dengan pembelajaran metaphorical thinking, dan pada kelas konvensional asosiasi antara kemampuan awal matematika dan kepercayaan diri tergolong cukupxiv.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jurusan Matematika Institut Agama Islam Tulungagung 17 membangun makna dari apa yang
dipelajari dengan mempergunakan informasi baru yang mereka peroleh untuk mengubah, melengkapi atau menyempurnakan pemahaman yang telah tertanam
sebelumnya, dengan
memanfaatkan keleluasaan yang tersedia untuk melakukan eksperimen, termasuk di dalamnya. 2. Pembelajaram matematika humanis dengan Methaporical Thingking adalah upaya melaksanakan proses pembelajaran dengan manusiawi dengan
mengedepankan proses berpikir siswa dengan Methaporical Thinking. Pembelajaran matematika humanis dan proses berpikir Methaporical Thinking dapat digunakan karena tidak saling bertentangan, yaitu sama-sama mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Tingkat kepercayaan diri siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Methaporical Thinking lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan cara biasa.
iHeris Hendriana, 2012, “Pembelajaran Matematika Humanis Dengan Metaphorical Thinking
Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa”, dalam
http://ejournal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/infinity/article/view/9/8, diakses pada 25 Oktober 2014, pukul 18.00.
ii Indah komsiyah, Belajar dan pembelajaran. (Yogyakarta : Teras , 2012), hal. 40
iii Anonim, 2013, Pengantar Berpikir, dalam
http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/berpikir-thinking.html, diakses 12/10/2014, pukul 20:30
iv
Indah komsiyah, 2012, Belajar dan pembelajaran. Hal. 40
v C. Asri Budiningsih, " Strategi Pembelajaran Nilai Yang Humanis ", Jurnal UNY, Volume XVII,
34 (Oktober 2010).
vi Heris Hendriana, “Pembelajaran . . . , diakses pada 25 Oktober 2014, pukul 18.00. viiAnonim, 2013, Pembelajaran matematika yang Humanis yang Mengembangkan
Krhttps://www.acaifitas Siswa, dalam
academia.edu/4068923/PEMBELAJARAN_MATEMATIKA_HUMANISTIK_YANG_MENGEMBANGKAN _KREATIVITAS_SISWA, diakses pada tanggal 21/10/2014, pukul 19.30.
viii
Anonim, 2014, pembelajaran matematika yang humanis, dalam
http://ynistywti.wordpress.com/pembelajaran-matematika-yang-humanis/, diakses 12/10/13, pukul 20:30
ix Heris Hendriana, 2012, “Pembelajaran . . . “, diakses pada 25 Oktober 2014, pukul 18.00 x Ibid.
xi Ibid.
xii Ibid.
xiii Ibid.
xiv