• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Pendahuluan Inkotenensia Diri Urine

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Pendahuluan Inkotenensia Diri Urine"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH:

1. WAYAN RIYADI MEGAPUTRA (C1115024)

2. VINA AIZYAH SUTRISNO (C1115025)

3. IDA AYU PUTU MIRAH DIANTARI (C1115026)

4. PUTU AGUS ARYA SEMARA PUTRA (C1115027

5. I PT OGI PANDU PRASTHA NEGARA (C1115028)

PROGRAM STDUDI S1

KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BINA USADA BALI

BADUNG

LAPORAN PENDAHULUAN

(2)

2016

INKONTENENSIA URINE

LAPORAN PENDAHULUAN 1. Definisi

Inkontinensia didefinisikan sebagai berkemih ( defekasi ) di luar kesadaran, pada waktu dan tempat yang tidak tepat, dan menyebabkan masalah kebersihan atau social ( Watson, 1991 ). Terdapat dua aspek social yang sangat penting dalam definisi inkontinensia ini. Inkontinensia yang diderita oleh klien mungkin tidak menimbulkan sejumlah masalah yang nyata bagi teman atau keluarganya. Aspek social yang lain yaitu adanya konsekuensi yang ditimbulkan inkontinensia terhadap individu yang mengalminya, antara lain klien akan kehilangan harga diri, juga merasa terisolasi dan depresi.

Faktor yang berkonstribusi terhadap perkembangan inkontinensia adalah factor fisiologis dan psikologis. Faktor psikologis dapat mencakup depresi dan apatis, yang dapat meperberat kondisi sehingga sulit untuk mengatasi masalah kearah normal. Beberapa kondisi psikiatrik dan kerusakan otak organic seperti demensia, dapat juga menyebabkan inkontinensia. Faktor anatomis dan fisiologis dapat mencakup kerusakan saraf spinal, yang menghancurkan mekanisme normal untuk berkemih dan rasa ingin menghentikannya. Penglihatan yang kurang jelas, infeksi saluran perkemihan, dan medikasi tertentu seperti diuretic juga berhubungan dengan inkontinensia. Selain itu, wnaita yang melahirkan dan laki – laki dengan protatism, cenderung mengalami kerusakan kandung kemih yang dapat menyebabkan inkotinansia, akibat trauma atau pembedahan.

2. Etiologi

(3)

kandung kemih secara efektif ( otot detrusor ) dan mungkin juga dipersulit oleh masalah lain, seperti keterbatasan gerak atau konfusi. Keinginan untuk miksi datang sangat cepat dan sangat mendesak pada seseorang sehingga penderita tidak sempat pergi ke toilet, akibatnya terjadi inkontinensia, kejadian yang sama mungkin dialami pada saat tidur.

Pada wanita, kelemahan otot spingter pada outlet sampai kandung kemih seringkali disebabkan oleh kelahiran multiple sehingga pengeluaran urine dari kandung kemih tidak mampu dicegah selama masa peningkatan tekanan pada kandung kemih. Adanya tekanan di dalam abdomen, seperti bersin, batuk, atau saat latihan juga merupakan factor konstribusi.

Pembesaran kelenjar prostat pada pria adalah penyabab yang paling umum terjadinya obstruksi aliran urine dari kandung kemih. Kondisi ini menyebabkan inkontinensia karena adanya mekanisme overflow. Namun, inkontinensia ini dapat juga disebabkan oleh adanya obstruksi yang berakibat konstipasi dan juga adanya massa maligna ( cancer ) dalam pelvis yang dialami oleh pria dan wanita. Akibat dari obstruksi, tonus kandung kemih akan menghilang sehingga disebut kandung kemih atonik. Kandung kemih yang kondisinya penuh gagal berkontraksi, akan tetapi kemudian menyebabkan overflow, sehingga terjadi inkontinensia.

Apapun penyebabnya, inkontinensia dapat terjadi saat tekanan urine di dalam kandung kemih menguasai kemampuan otot spingter internal dan eksternal ( yang berturut – turut baik secara sadar maupun tidak sadar ) untuk menahan urine, tetap berada dalam kandung kemih

3. Epidemiologi

(4)

Namun secara umum prevalensinya meningkat sesuai dengan pertambahan umur. Sekitar 50% lansia di instalasi perawatan kronis dan 11-30% di masyarakat mengalami inkontinensia urin. Sedangkan berdasarkan gender, penyakit ini cenderung lebih sering dialami oleh wanita dengan perbandingan 1,5 : 1 terhadap pria.

Berdasarkan survei oleh Divisi Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM tahun 2002 pada 208 orang usia lanjut di lingkungan Pusat Santunan Keluarga di Jakarta, didapati bahwa angka inkontinensia stress mencapai 32,2%. Sedangkan survei yang dilakukan oleh Poliklinik Geriatri RSCM pada tahun 2003 terhadap 179 pasien didapati angka kejadian inkontinensia urin stress pada laki-laki sebesar 20,5% dan pada perempuan sebesar 32,5%.

Pada penelitian yang dilakukan di Australia, didapatkan 7% pria dan 12% wanita diatas usia 70 tahun mengalami inkontinensia. Sedangkan mereka yang dirawat, terutama di unit psiko-geriatri, 15-50% diantaranya menderita inkontinensia. Sedangkan melalui penelitiannya, seorang ahli bernama Fonda mendapatkan 10% pria dan 15% wanita diatas 65 tahun di Australia menderita inkontinensia.

Pada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat oleh National Overactive Bladder Evaluation (NOBLE) dengan 5204 orang sebagainya sampelnya, menyimpulkan suatu perkiraan bahwa 14,8 juta perempuan dewasa di Amerika Serikat menderita inkontinensia urin dengan sepertiganya (34,4%) merupakan inkontinensia urin tipe campuran.

Seorang ahli bernama Dioko serta timnya melakukan penelitian pada 1150 orang secara acak dan mendapati 434 orang diantaranya menderita inkontinensia urin. Dari mereka yang mengalami inkontinensia urin, didapati bahwa 55,5% diantaranya merupakan tipe campuran, 26,7% merupakan tipe stress saja, 9% tipe urgensi saja dan 8,8% memiliki komplikasi lain.

(5)

memperberat keluhan inkontinensianya. Sebenarnya bila penyakit ini diobati secara tepat maka inkontinensianya dapat diupayakan menjadi lebih ringan sehingga penderita menjadi lebih nyaman dan memudahkan juga bagi yang merawat serta mengurangi kemungkinan komplikasi serta biaya perawatan.

4. KLASIFIKASI

Terdapat beberapa macam klasifikasi inkontinensia urine, di sini hanya dibahas beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu :

a. Inkontinensia stres (Stres Inkontinence)

Inkontinensia stres biasanya disebabkan oleh lemahnya mekanisme penutup. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki tangga atau melakukan gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk. Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanan dalam abdomen dan karena itu juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan keluarlah urine. Kebanyakan keluhan ini progresif perlahan-lahan; kadang terjadi sesudah melahirkan. Akibatnya penderita harus sering menganti pakaian dalam dan bila perlu juga pembalut wanita. Frekuensi berganti pakaian, dan juga jumlah pembalut wanita yang diperlukan setiap hari, merupakan ukuran kegawatan keluhan inkontinensia ini.

(6)

pengeluaran urine, maka percobaan diulang pada posisi berdiri dengan tungkai dijauhkan satu sama lain.

Pada inkontinensia stres sejati, harus terjadi pengeluaran urine pada saat ini. Kemudian dicoba dengan korentang atau dengan dua jari menekan dinding depan vagina kanan dan kiri sedemikian rupa ke arah kranial sehingga sisto-uretrokel hilang. Penderita diminta batuk lagi. Bila sekarang pengeluaran urine terhenti maka ini menunjukkan penderita akan dapat disembuhkan dengan operasi kelainan yang dideritanya.

b. Inkontinensia desakan (Urgency Inkontinence)

Inkontinensia desakan adalah keluarnya urine secara involunter dihubungkandengan keinginan yang kuat untuk mengosongkannya (urgensi). Biasanya terjadi akibat kandung kemih tak stabil. Sewaktu pengisian, otot detusor berkontraksi tanpa sadar secara spontan maupun karena dirangsang (misalnya batuk). Kandung kemih dengan keadaan semacam ini disebut kandung kemih tak stabil. Biasanya kontraksinya disertai dengan rasa ingin miksi. Gejala gangguan ini yaitu urgensi, frekuensi, nokturia dan nokturnal enuresis.

(7)

dengan terapi suportif, termasuk pemberian sedativa dan antikolinegrik. Pemeriksaan urodinamik yang diperlukan yaitu sistometrik.

c. Inkontinensia luapan (Overflow Incontinence)

Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor.Terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes.

Penyebab kelainan ini berasal dari penyakit neurogen, seperti akibat cedera vertebra, sklerosis multipel, penyakit serebrovaskular, meningomyelokel, trauma kapitis, serta tumor otak dan medula spinalis. Corak atau sifat gangguan fungsi kandung kemih neurogen dapat berbeda, tergantung pada tempat dan luasnya luka, koordinasi normal antara kandung kemih dan uretra berdasarkan refleks miksi, yang berjalan melalui pusat miksi pada segmen sakral medula spinalis. Baik otot kandung kemih maupun otot polos dan otot lurik pada uretra dihubungkan dengan pusat miksi.

Otot lurik periuretral di dasar panggul yang menjadi bagian penting mekanisme penutupan uretra juga dihubungkan dengan pusat miksi sakral. Dari pusat yang lebih atas di dalam otak diberikan koordinasi ke pusat miksi sakral. Di dalam pusat yang lebih atas ini, sekaligus masuk isyarat mengenai keadaan kandung kemih dan uretra, sehingga rasa ingin miksi disadari. Refleks miksi juga dipengaruhi melalui pleksus pelvikus oleh persarafan simpatis dari ganglion yang termasuk L1, L2, L3. Pada lesi,

(8)

Pada lesi di pusat sakral yang menyebabkan rusaknya lengkung refleks terjadi kelumpuhan flasid pada kandung kemih dan dasar panggul. Sehingga miksi sebenarnya lenyap.

2) Lesi Supranuklear (Tipe UMN)

Lesi terjadi di atas pusat sakral, dengan pusat miksi sakral dan lengkung refleks yang tetap utuh, maka hilangnya pengaruh pusat yang lebih atas terhadap pusat miksi. Miksi sakral menghilangkan kesadaran atas keadaan kandung kemih. Terjadi refleks kontraksi kandung kemih yang terarah kepada miksi yang otomatis tetapi tidak efisien karena tidak ada koordinasi dari pusat yang lebih atas. Sering kontraksi otot dasar panggul bersamaan waktunya dengan otot kandung kemih sehingga miksi yang baik terhalang. Juga kontraksi otot kandung kemih tidak lengkap sehingga kandung kemih benar-benar dapat dikosongkan.

d. Fistula urine

Fistula urine sebagian besar akibat persalinan, dapat terjadi langsung pada waktu tindakan operatif seperti seksio sesar, perforasi dan kranioklasi, dekapitasi, atau ekstraksi dengan cunam. Dapat juga timbul beberapa hari sesudah partus lama, yang disebabkan karena tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di tulang pubis dan simfisis, sehingga menimbulkan iskemia dan kematian jaringan di jalan lahir.

Operasi ginekologis seperti histerektomi abdominal dan vaginal, operasi plastik pervaginam, operasi radikal untuk karsinoma serviks uteri, semuanya dapat menimbulkan fistula traumatik. Tes sederhana untuk membantu diagnosis ialah dengan memasukan metilen biru 30 ml kedalam rongga vesika. Akan tampak metilen biru keluar dari fistula ke dalam vagina.

(9)

jaringan sekitar fistula sudah tenang dan normal kembali operasi baru dapat dilakukan.

5. PATOFISIOLOGI

Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia.

(10)
(11)

fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik menurun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher kandung kemih. Proses reflek ini dipengaruhi oleh sistem saraf yang lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum. Pada usia lanjut biasanya ada beberapa jenis inkontinensia urin yaitu ada inkontinensia urin tipe stress, inkontinensia tipe urgensi, tipe fungsional dan tipe overflow.

Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain: Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin. Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebihan. Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain : melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urine berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau

(12)

otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

6. Manifestasi Klinis

a. Inkontinensia stress : Keluarnya urin selama batuk, mengedan, dan sebagainya. Gejala-gejala ini sangat spesifik untuk inkontinensia stress.

b. Inkontinensia urgensi : ketidak mampuan menahan keluarnya urin dengan gambaran seringnya terburu-buru untuk berkemih.

c. Enuresis nocturnal : 10% anak usian 5 tahun dan 5% anak usia 10 tahun mengompol selama tidur. Mengompol pada anak yang lebih tua merupakan sesuatu yang abnormal dan menunjukan adanya kandung kemih yang tidak stabil.

d. Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria, nokturia), obstruksi(pancara lemah, menetes), trauma (termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal), fistula (menetes terus menerus), penyakit neurologis (disfungsi seksual atau usus besar) atau penyakit sistemik (misalnya diabetes) dapat menunjukan penyakit yang mendasari.

e. Ketidak nyamanan daerah pubis. f. Distensi vesika urinaria.

g. Ketidak sanggupan untuk berkemih.

h. Sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine (20-50 ml) i. Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan asupannya. j. Meningkatkan keresahan dan keinginanan berkemih.

k. Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih. l. Tidak merasakan urine keluar.

(13)

7. PENCEGAHAN

a. Menjaga diri agar terhindar dari penyakit yang dapat menyebabkannya. b. berhenti merokok dan jauhi asap rokok orang lain.

c. Makan tinggi serat agar terhindari dari sembelit. d. Berhenti mengkonsumsi alkohol.

e. Mengurangi konsumsi caffeindan minuman bersoda.

f. Menjadi pribadi yang aktif secara fisik dan rutin berolah raga. g. Mengontrol berat badan agar tidak menjadi kegemukan. h. Jangan menahan-nahan keinginan untuk BAK.

i. Untuk wanita: jangan terlalu sering hamil dan melahirkan.

8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC

a. Urinallisis, digunakan untuk melihat apakan ada bakteri, darah dan glukosa dalam urine.

b. Uroflowmetry digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan obstruksi pintu bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien berkemih.

c. Cysometri digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuscular kandung kemih dengan mengukur efisiensi reflex otot detrusor, tekanan dan kapasitas intravesikal dan reaksi kandung kemih terhadap rangsangan panas.

d. Urografi ekskretorik, disebut juga pielografi intravena, digunakan untuk mengevaluasi struktur dan fungsi ginjal, ureter, dan kandung kemih.

e. Volding cystourethrography digunakan untuk mendeteksi ketidaknormalan kandung kemih dan uretra serta mengkaji hipertrofi lobus prostat, striktur uretra, dan tahap gangguan uretra prostatic stenosis ( pada pria ).

f. Uretrografi retrograde, digunakan hampir secara ekslusif pada pria, membantu diagnosis striktur dan obstruksi orifisium uretra.

(14)

h. Pemeriksaan vagina dapat memperlihatkan kekeringan vagina atau vaginitis atrofi, yang menandakan kekuranagn estrogen.

i. Katerisasi residu pescakemih digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan kandung kemih dan jumlah urine yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien berkemih.

9. PENATALAKSANAAN

Ada beberapa cara untuk menangani pasien dengan kasus inkontinensia urin. Umumnya dapat berupa tatalaksana farmakologis, non-farmakologis maupun pembedahan. Prinsipnya adalah penderita inkontinensia tidak dapat ditangani hanya dengan satu modalitas terapi, tetapi melalui serangkaian terapi yang dilakukan secara simultan. Spektrum modalitas terapi yang dilakukan meliputi:

a. Terapi non farmakologis, yaitu:

1) Terapi suportif non-spesifik (edukasi, manipulasi lingkungan, pakaian dan pads tertentu)

2) Intervensi tingkah laku (latihan otot dasar panggul, latihan kandung kemih, penjadwalan berkemih)

b. Terapi medika mentosa c. Operasi

d. Kateterisasi

Keberhasilan penanganan pasien inkontinensia sangat bergantung pada ketepatan diagnosis dalam penentuan tipe inkontinensia, faktor yang berkontribusi secara reversibel dan problem medik akut yang dialami.

(15)

Apa saja intervensi tingkah laku yang dapat dilakukan? Berikut adalah daftar hal yang dapat dilakukan dalam terapi non farmakologis ini.

1) Bladder training

Merupakan suatu jenis terapi yang cukup efektif dibanding teknik non farmakologik lainnya. Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal sehingga hanya mencapai 6-7 kali sehari atau 3-4 jam sekali. Pasien diharapkan dapat menahan sensasi untuk berkemih. Misalnya awalnya interval waktu satu jam, kemudian ditingkatkan perlahan hingga 2-3 jam. Agar tidak lupa, dapat dibuat catatan harian untuk berkemih. Apabila pasien tidak mampu lagi menahan sensasi kemihnya, maka ia diperbolehkan berkemih sebelum waktunya namun akan dicatat dalam catatan hariannya. Sebisa mungkin catat volume urin yang keluar pada saat miksi dan jumlah urin yang bocor.Fakta yang menarik yang penulis dapatkan ialah bila seseorang tergoda untuk segera ke kamar kecil untuk muncul dorongan berkemih, maka kandung kemihnya dapat terangsang dengan gerakan yang tergesa-gesa tersebut. Latihan kandung kemih ini terbukti efektif terhadap inkontinensia tipe stress maupun tipe urgensi.

2) Latihan dasar otot panggul

Merupakan suatu jenis latihan yang dikembangkan oleh Arnold Kegel pada tahun 1884. Berdasarkan penelitiannya, Arnold Kegel menemukan tingkat perbaikan dan kesembuhan pada 84% subjek penelitian yaitu wanita yang menderita inkontinensia berbagai tipe. Latihan yang dilakukan oleh Arnold Kegel ini sekarang lebih dikenal dengan nama Senam Kegel.

(16)

Latihan ini dapat dilakukan beberapa kali sehari dengan waktu 10 menit untuk tiap kali latihan. Dapat dipraktikkan dimana saja, paling baik saat berbaring di tempat tidur. Pada saat melakukan latihan, usahakan bernapas dengan normal dan tidak menggunakan otot paha, betis dan perut. Setelah melakukan latihan ini selama 4-6 minggu, diharapkan akan ada perbaikan kondisi yaitu berkurangnya kebocoran urin.

3) Latihan untuk menahan dorongan berkemih

Untuk mengurangi rasa ingin berkemih, cara ini dapat digunakan bila dorongan tersebut muncul:

a) Berdiri tenang maupun duduk diam, lebih baik jika kaki disilangkan agar mencegah rangsang berlebihan dari kandung kemih.

b) Tarik napas teratur dan relaks.

c) Kontraksikan otot dasar panggul beberapa kali. Ini akan membantu penutupan uretra dan menenangkan kandung kemih. d) Bila rangsang berkemih sudah menurun, jangan ke toilet

sebelum tiba waktunya.

Latihan yang ada diatas membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun bila dilakukan dengan sabar, hasilnya cukup memuaskan. Sedangkan terapi biofeedback dapat digunakan agar pasien mampu menahan kontraksi involunter otot detrusor dari kandung kemih. Stimulasi elektrik menggunakan kejutan kontraksi otot pelvis dengan alat bantu pada vagina dan rektum. Neuromodulasi merupakan terapi yang menggunakan stimulasi saraf sakral. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa neuromodulasi merupakan salah satu cara yang dapat menangani kandung kemih yang hiperaktif dengan baik.

Terapi yang menggunakan obat (farmakologis) merupakan terapi yang terbukti efektif terhadap inkontinensia urin tipe stress dan urgensi. Terapi ini dapat dilaksanakan bila upaya terapi non-farmakologis telah dilakukan namun tidak dapat mengatasi masalah inikontinensia tersebut.

(17)

Obat Yang Digunakan Untuk Inkontinensia Urin

Tolterodin 2 x 4 mg Urgensi atau OAB Mulut kering, konstipasi

Imipramin 3 x 25-50

Stress Sakit kepala, takikardi, hipertensi

Topikal estrogen

Urgensi dan Stress Iritasi lokal

Doxazosin 4 x 1-4 mg BPH dengan

Urgensi

Hipotensi postural

Tamsulosin 1 x 0,4-0,8

mg

Terazosin 4 x 1-5 mg

Penggunaan fenilpropanolamin sabagai obat inkontenensia urin tipe stress sekarang telah dihentikan karena hasil uji klinik yang menunjukkan adanya resiko stroke pasca penggunaan obat ini. Sebagai gantinya digunakan pseudoefedrin. Namun penggunaan pseudoefedrin pun jarang ditemukan pada usia lanjut karena adanya masalah hipertensi, aritmia jantung dan angina.

Pembedahan merupakan langkah terakhir yang dilakukan untuk masalah inkontinensia bila terapi secara farmakologis dan non-farmakologis tidak berhasil dilakukan. Pembedahan yang sering dilakukan ialah berupa pemasangan kateterisasi yang menetap. Namun penggunaan kateterisasi ini harus benar-benar dibatasi pada indikasi yang tepat. Misalnya adanya ulkus dekubitis yang terganggu penyembuhannya karena adanya inkontinensia urin ini. Komplikasi yang dapat timbul sebagai efek dari penggunaan kateter ialah timbulnya batu saluran kemih, abses ginjal bahkan proses keganasan pada saluran kemih.

(18)

overflow di kemudian hari. Selain itu, ada pula teknik pembedahan yang bertujuan melemahkan otot detrusor misalnya dengan menggunakan pendekatan postsakral maupun paravaginal. Teknik pembedahan ini contohnya ialah transeksi terbuka kandung kemih, transeksi endoskopik, injeksi penol periureter dan sitolisis.

10. DIAGNOSA BANDING

a. Inkontinensia Urin Akut Reversibel

Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi ke toilet sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi maka inkontinensia urin umumnya juga akan teratasi. Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat memicu timbulnya inkontinensia urin fungsional atau memburuknya inkontinensia persisten, seperti fraktur tulang pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.

Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan inflamasi pada vagina dan urethra (vaginitis dan urethritis) mungkin akan memicu inkontinensia urin. Konstipasi juga sering menyebabkan inkontinensia akut.

Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya inkontinensia urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan insufisiensi vena dapat menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian mencetuskan terjadinya inkontinensia urin nokturnal. Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic narcotic, psikotropik, antikolinergik dan diuretic. Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut reversible dapat dilihat tabel akronim di samping ini.

(19)

Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, meliputi anatomi, patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis, klasifikasi klinis lebih bermanfaat karena dapat membantu evaluasi dan intervensi klinis.

11. PROGNOSIS

Inkontinensia urin tipe stress biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar panggul, prognesia cukup baik. Inkontinensia urin tipe urgensi atau overactive blader umumnya dapat diperbaiki dengan obat – obat golongan antimuskarinik, prognosis cukup baik. Inkontinensia urin tipe overflow, tergantung pada penyebabnya (misalnya dengan mengatasi sumbatan / retensi urin).

LAMPIRAN

(20)
(21)

DAFTAR PUSTAKA

Wirautami,adisty.” Laporan pendahuluan Inkontinensia”. Jumat,25 september 2015.http://adistywirautami.blogspot.co.id/2015/09/laporan-pendahuluan-inkontinensia.html

Nurhasanah,Dewi.” INKONTINENSIA URIN”.8 januari

2014.http://dewinrhasanah.blogspot.co.id/2014/01/inkontinensia-urin.html

Hidayah,Nur. ” Inkontinensia Urine”. 16 september

2012.http://askephidayah.blogspot.co.id/2012/09/inkontinensia-urine.html

https://id.scribd.com/doc/198771799/Penatalaksanaan-Dan-Pencegahan-Inkontinensia-Urine

Setianingsih, Nur oktif.” ASUHAN KEPERAWATAN INKONTINENSIA URIN”. 4 september 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Kandung kemih adalah ruangan berdinding otot polos yang terdiri dari dua bagian besar: badan (corpus), merupakan bagian utama kandung kemih dimana urine berkumpul, dan leher

7etensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya seara sempurna.7etensio urine adalah kesulitan

Inkontinensia urin karena leher kandung kemih dan uretra tidak menutup sempurna disertai dengan kelemah- an otot dasar pelvis 1.. Urethra Urethral sphincter Weak pelvic muscles

Kondisi yang terkait adalah tidak dapat berkemih sama sekali, kandung kemih penuh, terjadi tiba-tiba, disertai rasa nyeri, dan keadaan ini termasuk

1) Obstruksi urine dapat terjadi di sebelah hulu dari batu dibagian mana saja di saluran kemih. Obstruksi diatas kandung kemih dapat menyebabkan hidroureter, yaitu ureter

+etensi urine dide*inisikan sebagai ketidakmampuan berkemih" +etensi urine akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba'tiba pada keadaan kandung kemih yang nyeri"+etensi

Inkontinensia urin refleks adalah pengeluaran urin yang tidak terkendali pada saat volume kandung kemih tertentu tercapai.. Inkontinensia urin stress adalah kebocoran urin mendadak dan

Prosedur Retensi Urine adalah prosedur yang dilakukan pada pasien yang mengalami retensi urine, yaitu kondisi di mana terjadi penumpukan urine di kandung kemih dan tidak dapat dikeluarkan secara