TERMOREGULASI
Nilna Milchatina, FarianitaM, Indah Octaviara, Harnizar, Hasna D Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
*corresponding author: [email protected]
Abstrak
Thermogulasi merupakan proses yang terjadi dalam tubuh hewan untuk mengatur suhu tubuhnya supaya tetap konstan, Mekanisme thermogulasi yaitu mengatur keseimbangan antara perolehan panas atau pelepasan panas. Makhluk hidup memiliki ciri-ciri tertentu, salah satunya menerima dan menaggapi rangsang.Tujuan dari praktikum termoregulasi adalah untuk mengetahui keadaan suhu tubuh pada beberapa bagian tubuh dan pada berbagai keadaan.Suhu tubuh homoiotermis (manusia). Untuk mengetahui suhu tubuh pada homoiotermis, dilakukan pengukuran suhu tubuh dengan menggunakan termometer klinis. Percobaan ini menggunakan tiga perlakuan yang berbeda yaitu posisi terbaring dengan mulut terbuka, posisi terbaring dengan mulut tertutup, setelah berkumur dengan es dan pada fossa axillaris. Percobaan ini dengan melakukan pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer klinis yang sebelumnya telah disterilkan dengan alkohol 70%. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebanyak tiga kali. Tubuh berespon baik terhadap stres fisik dan stres emosional. Adanya stres menyebabkan rangsangan terhadap epinefrin dan norepinefrin sehingga kecepatan metabollisme akan meningkat yang pada akhirnya juga akan meningkatan suhu tubuh
Kata kunci: Thermoregulasi, homoiotermis,tubuh PENDAHULUAN
Makhluk hidup memiliki ciri-ciri tertentu, salah satunya menerima dan menaggapi rangsang. Ketika terjadi perubahan terhadap kondisi lingkungan, maka makhluk hidup akan melakukan penyesuaian diri atau adaptasi untuk merasa lebih nyaman dan dapat beraktivitas dengan normal. ketika makhluk hidup tersebut tak mampu menyesuaikan diri, maka ia akan mengalami kematian atau terkena seleksi alam (Asmawati, 2004).
Suhu merupakan salah satu faktor fisika yang sangat penting di dalam air karena bersama-sama dengan zat/unsur yang terkandung didalamnya akan menentukan massa jenis air, densitas air, kejenuhan air, mempercepat reaksi kimia air, dan memengaruhi jumlah oksigen terlarut di dalam air (Asmawati, 2004).
Suhu tinggi yang masih dapat ditoleransi oleh ikan tidak selalu berakibat mematikan pada ikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang menyebabkan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal (Irianto, 2005).
Menurut Kordi (2000), perubahan suhu sebesar 5° C di atas normal dapat menyebabkan stres pada ikan bahkan kerusakan jaringan dan kematian. Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, nilai konversi
makanan, dan daya kelangsungan hidup. (Andrianto, 2005).
Thermoregulasi merupakan proses yang terjadi dalam tubuh hewan untuk mengatur suhu tubuhnya supaya tetap konstan. Mekanisme thermoregulasi yaitu mengatur keseimbangan antara perolehan panas dan pelepasan panas. Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut (Campbell, 2004) artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya, adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologi dan tingkah laku. Lingkungan periaran, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostasis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota periaran (Tuna, 2005)
Tujuan dari praktikum
thermoregulasi adalah untuk mengetahui keadaan suhu tubuh pada beberapa bagian tubuh da pada berbagai keadaan.
MATERIAL DAN METODE
Praktikum ini dilakukan di
Laboratorium Fisiologi di Pusat
Laboratorium Terpadu UIN Syarif
Februari 2018. Alat yang digunakan pada
praktikum diantaranya adalah termometer
klinis, beaker glass, gelas ukur, panci dan
kapas. Bahan yang digunakan pada
praktikum adalah es batu, air mendidih,
alkohol dan minyak goreng.
Cara kerja pada praktikum adalah yang pertama yaitu percobaan mengenai suhu tubuh dengan posisi terbaring. Orang probandus dibaringkan dengan posisi horizontal, kemudian disiapkan termometer yang dibersihkan dengan alkohol, air raksa diturunkan dengan merendam termometer dalam alkohol, selanjutnya termometer diletakkan dibawah lidah, kemudian mulut ditutup, dibiarkan selama 10 menit dan dicatat suhunya, dan dilakukan pengukuran pada fossa axillaris (ketiak).
Percobaan selanjutnya mengenai suhu tubuh dengan posisi terbaring sambil dibuka mulutnya. Pertama, orang probandus bernafas dengan tenang selama 2 menit, skala pada termometer diturunkan dan diletakkan di bawah lidah dan dibiarkan selama 10 menit dan dicatat suhunya.
Percobaan berikutkan mengenai suhu tubuh setelah berkumur dengan es batu. Pertama, orang probandus berkumur dengan es selama 1 menit, kemudian termometer
diletakkan di bawah lidah dan ditutup mulutnya. Selanjutnya dibiarkan selama 5 menit dilakukan selama dua kali, dicatat suhu yang tertera di termometer, dan dilakukan percobaan ulang terhadap 2 orang probandus yang lain.
Percobaan terakhir mengenai tata panas. Pertama, dua buah beaker glass diisi dengan air panas dengan suhu 70o C dengan volume sama banyak yaitu 400 ml. Kemudian minyak goreng dituang pada salah satu beaker glass yang telah diisi air sebanyak 10 ml. Selanjutnya, termometer dipasang pada masing-masing beaker glass dan dicatat suhu awalnya. Dilakukan sebanyak lima kali pengukuran dengan interval waktu 5 menit dan dibuat kurva dengan titik ordinat suhu dan waktu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 2. Hasil pengukuran tata panas air homoiotermis, dilakukan pengukuran suhu tubuh dengan menggunakan termometer klinis. Percobaan ini menggunakan tiga perlakuan yang berbeda yaitu posisi terbaring dengan mulut terbuka, posisi terbaring dengan mulut tertutup, setelah berkumur dengan es dan pada fossa axillaris. Percobaan ini dengan melakukan pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer klinis yang sebelumnya telah disterilkan dengan alkohol 70%. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebanyak tiga kali.
Berdasarkan Tabel 1, percobaan tiga kelompok yang dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan pada posisi terbaring mulut tertutup diperoleh hasil yang sudah dirata – ratakan ialah sebesar 36 °C, 36.6 °C, dan 36.4 °C. Menurut Ganong 2008, nilai normal untuk suhu oral manusia adalah 37 C (98,6 o F), tetapi pada sebuah penelitian besar terhadap orang-orang muda normal, suhu oral pagi hari rerata adalah 36,7 C dengan simpang baku 0,2 C.
Posisi terbaring dengan mulut terbuka memiliki rata-rata suhu yang diperoleh pada percobaan yang dilakukan tiga kelompok yaitu 36.4 °C, 35.9 °C, dan
36.4 °C. Kisaran suhu tersebut menunjukan terjadinya penurunan suhu yang sangat kecil dan tidak terlalu signifikan. Seharusnya, pada saat orang probandus melakukan pernafasan lewat mulut suhunya akan naik namun tetap dalam batasan normal. Hal ini disebabkan karena pernafasan merupakan proses metabolisme, yaitu proses katabolisme yang menghasilkan energi. Lalu dari energi yang dihasilkan akan atau panas yang lebih banyak, sehingga suhu tubuhpun ikut naik. (Syamsyiar, 1998)
Adapun pada percobaan selanjutnya, ketika orang probandus berkumur dengan es selama 1 menit yang kemudian diukur suhunya. Berdasarkan tabel 1, diperoleh hasil percobaan tiga kelompok yaitu 34.93 °C, 34.96 °C dan 34.73 °C. Bila dibandingkan dengan suhu tubuh yang diukur sebelumnya, percobaan ini mengalami penurunan suhu tubuh namun penurunan tersebut dalam kisaran suhu normal. Hal ini sesuai dengan teori bahwa manusia atau hewan homoiotermis selalu mempertahankan suhu tubuhnya dalam keadaan tetap atau konstan walaupun dengan suhu lingkungan yang berbeda.
Manusia merupakan organisme
aliran darah ke organ perifer dengan vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah. Manusia termasuk organisme homoiotermis namun tidak selalu dalam keadaan yang konstan, akan tetapi bisa mengalami penurunan maupun kenaikan suhu namun hal tersebut masih dalam batas normal.
Pada percobaan selanjutnya yaitu dilakukan pengukuran suhu tubuh manusia pada fossa axillaris. Berdasarkan Tabel 1, kisaran suhu pada orang probandus yang telah diukur suhu tubuhnya oleh tiga kelompok yaitu 36.16 °C, 36.3 °C, dan 35.93 °C. Hal ini menunjukan bahwa suhu yang diukur lebih rendah dari pada pengukuran melalui cavitas oris. Menurut teori suhu tubuh yang diukur melalui cavitas oris lebih tinggi dari pada yang diukur melalui fossa axillaris, hal ini dikarenakan termometer yang digunakan untuk mengukur suhu tubuh melalui cavitas oris langsung menyentuh dan mengenai pembuluh darah yang berada dibawah lidah. Sehingga pengukurannya lebih cepat dari pada pengukurana suhu tubuh melalui fossa axillaris. (Isnaini, 2006)
Faktor - faktor yang mempengaruhi suhu tubuh diantaranya adalah usia, variasi diurnal, exerxise, hormon, stres, suhu lingkungan dan cairan. Usia sangat sensitif terhadap suhu lingkungan, bayi dan anak-anak lebih cepat direspon terhadap perubahan suhu udara baik panas maupun dingin. Menurut Donna (1993) menyatakan bahwa pengaturan suhu tubuh pada usia toodler sudah mulai stabil dibandingkan dengan infant. Orang berusia lanjut (diatas 75 tahun) lebih mudah terjadi hipotermi
dikarenakan faktor penuan, sehingga kontrol pengaturan suhu tubuh kurang optimal sampai 24.00 WIB dan berada pada tingkat paling rendah diantara pukul 04.00 sampai 06.00 WIB. (Kozier,1991).
Faktor selanjutnya adalah hormon. Wanita memiliki pengaturan suhu tubuh yang berfluktuatif dibandingkan dengan laki-laki hal ini terjadi karena adanya perubahan hormonal pada wanita terutama pada peningkatan progesteron pada saat ovulasi. Perubahan hormon meningkatkan suhu tubuh sebesar 0.5 – 1 °C. (Taylor, 1997)
Tubuh berespon baik terhadap stres fisik dan stres emosional. Adanya stres menyebabkan rangsangan terhadap epinefrin dan norepinefrin sehingga kecepatan metabollisme akan meningkat yang pada akhirnya juga akan meningkatan suhu tubuh (Kozier, 1991)
0 1 2 3 4 5
Berdasarkan pada table 2 dan grafik 1 mengenai grafik pada percobaan yang sekali pengulangan, pada beaker glass yang pertama diberi air tanpa lapisan minyak dan pada beaker glass kedua diberi air dengan lapisan minyak. Setelah dilakukan pengamatan dengan mengukur suhu pada beaker dengan rentang waktu masing – masing 5 menit dapat terlihat pada grafik tersebut memiliki perbedaan hasil yang signifikan. Adapun pada kedua beaker glass mengalami perubahan suhu, namun pada beaker glass yang tidak diberi lapisan minyak mengalami penurunan suhu yang lebih cepat yaitu T1 67 C, T2 60 C, T3 56 C, T4 52 C, T5 50 C. Dibandingkan dengan beaker glass yang berisi air dengan lapisan minyak perubahan suhunya lebih lambat turun yaitu T1 67 C, T2 64 C, T3 62, T4 59. T5 58 C. Hal ini disebabkan pada penambahan minyak ini berfungsi untuk menahan suhu panas awal yang dimiliki oleh air, dan berdasarkan teori bahwa massa jenis minyak lebih berat dibandingkan dengan massa jenis air. Sehingga adanya penambahan minyak dapat membantu
memeperlambat penurunan suhu pada beaker glass tersebut (Soedjono, 1998)
KESIMPULAN
Thermoregulasi adalah merupakan proses yang terjadi dalam tubuh hewan untuk suhu pada setiap anggota tubuhnya itu sama. Tergantung kedekatannya dengan pembuluh darah atau tidak. Semakin anggota tubuhnya berdekatan dengan pembuluh darah maka semakin tinggi suhu tubuhnya. Kontak langsung dengan lingkunganpun menjadi faktor perubahan suhu dengan lingkungannya.
Pada tata panas penambahan minyak ini berfungsi untuk menahan suhu panas awal yang dimiliki oleh air, dan berdasarkan teori bahwa massa jenis minyak lebih berat dibandingkan dengan massa jenis air. Sehingga adanya penambahan minyak dapat membantu memeperlambat penurunan suhu
DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, T. (2005). Pedoman PraktisBudidaya Ikan Kerapu Macan. Absolut: Yogyakarta.
Ariaty L. (1991). MorfologiDarahIkan Mas (Cyprinuscarpio), NilaMerah (Orechromissp) danLele Dumbo (Clariasgariepinus) dariSukabumi. Bogor: FakultasPerikanan IPB.
Asmawati. (2004). Biologi Pendidikan IPA 1. Universitas Terbuka: Jakarta
Ganong, W. F. (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. Jakarta: EGC
Irianto, A. (2005). Patologi Ikan Teleostei. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi
Hewan.Yogyakarta : Kanisius.
Soedjono. 1998. Pengantar Anatomi dan Fisiologi Manusia. LPTK Press: Jakarta
Syamsiar. 1998. Pengantar Fisiologi Manusia. Depdikbud. Jakarta
Waskito, dkk. (1992). Biologi. Bumi Aksara: Jakarta.