PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI EKOSISTEM DI KELAS VII
SMP NEGERI 06 PEKANBARU T.A 2015/2016
*Mariana
**Ferdiana Suryani [email protected]
*Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lancang Kuning **Alumni Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lancang Kuning
ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar siswa pada materi ekosistem. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas VII SMP Negeri 06 Pekanbaru pada semester genap bulan Mei Tahun Ajaran 2015/2016. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen the matching only pretest-posttest control group. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII3 dan VII5 dengan jumlah masing-masing kelas 30 siswa, yang diambil dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pretest, posttest dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah
Independent 2 Samples t-test. Rerata N-gain pada kelas kontrol 0,34 (Sedang), sedangkan pada kelas eksperimen 0,48 (Sedang). Berdasarkan hasil uji-t terdapat perbedaan yang signifikan antara N-gain kelas kontrol dan eksperimen. Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar siswa pada materi ekosistem di Kelas VII SMP Negeri 06 Pekanbaru Tahun Ajaran 2015/2016.
Kata Kunci : Ekosistem, Hasil Belajar, Pendekatan Saintifik
ABSTRACT : This study aims to determine the effect of the scientific approach to student learning achievement at the ecosystem material. This research was conducted in classes VII SMP Negeri 06 Pekanbaru in the second semester of the 2015/2016 Academic Year in May. The research design is quasi-experimental matching only the pretest-posttest control desain. Samples were students in grade VII3 and VII5 with the
PENDAHULUAN
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan.
Namun dalam kenyataannya rencana startegi kerja (renstra) kerja 2010-2014 dalam pendidikan tidak berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari hasil survai yang dilakukan
Edication For All (EFA) bahwa terjadi proses dormansi bahkan penurunan, dalam sistem pendidikan, dimana
Indonesia memiliki pringkat 65 dari 128 negara pada tahun 2010 dengan index pengembangan pendidikan sebesar 0,947, sedangkan pada tahun 2011 peringkat Indonesia turun ke peringkat 69 dari 127 Negara yang disurvei dengan nilai indeks pengembangan pendidikan sebesar 0,934 (EFA, 2011), Sedangkan hasil riset Organisation For Economic Cooperation And Development (OECD), menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan sains pada peringkat 60 dengan nilai 383(OECD, 2012).
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi siswa ( Permendikbud, 2014).
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung di SMP Negeri 06 Pekanbaru, dalam proses pembelajaran terdapat kendala – kendala, diantaranya hasil belajar siswa masih rendah. kondisi tersebut terlihat jelas dari rata-rata nilai ulangan harian tentang ekosistem yang dilakukan sebelumnya sebanyak 300 siswa ( 66,66 %) dari 10 kelas yang mencapai KKM 75.
Hal ini di indikasikan dengan tidak adanya siswa yang bertanya hal-hal yang belum jelas kepada teman saat diskusi, hampir semua siswa masih terpaku pada buku paket, tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan berkaitan dengan materi yang disampaikan karena dalam proses pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, terutama dalam ekosistem.
Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengiden-tifikasi atau menemukan masalah),
merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan (Permendikbud Nomor 81a (2013).
Berdasarkan Uraian Di Atas, Telah Dilakukan Penelitian Dengan Judul “Pengaruh Pendekatan Saintifik Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Ekosistem Di Kelas VII SMP Negeri 06 Pekanbaru T.A 2015/2016”.
Menurut Gagne dalam Dimyati & Mudjiono (2013), belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.
Menurut Bloom dalam Anderson & Kratwhol (2010) Hasil belajar pada dasarnya adalah hasil yang di capai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar, dimana hasil tersebut merupakan gambaran penguasaan pengetahuan dan keterampilan siswa yang berwujud skor dari hasil tes yang
digunakan sebagai pengukur
Pembelajaran melalui pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipo-tesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data,
menarik kesimpulan dan
mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan (Permendikbud Nomor 81a (2013).
Tahapan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPA akan diuraikan sebagai berikut :
1) Mengamati (Observasi)
Metode mengamati
mengutamakan kebermaknaan
proses pembelajaran
(meaningfull learning).
2) Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing siswa untuk dapat
mengajukan pertanyaan:
pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstra berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak.
3) Mengumpulkan Informasi Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk siswa dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen.
4) Mengasosiasikan/ Mengolah
Informasi/Menalar
Kegiatan “mengasosiasi/
mengolah informasi/ menalar” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah memproses
informasi yang sudah
dikumpulkan baik terbatas dari
hasil kegiatan
5) Menarik kesimpulan
Setelah menemukan keterkaitan antar informasi dan menemukan berbagai pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.
6) Mengkomunikasikan
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan
mencari informasi,
mengasosiasikan dan
menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan The Matching Only Pretest-Posttest control group design. Desain ini menggunakan secara utuh subjek yang telah ditentukan, memberi pretest, mengelola kondisi perlakuan pada satu kelompok, dan memberinya posttest (Fraenkel & Wallen, 2008).
Adapun variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel
terikat dan satu variabel bebas. Sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 06 Pekanbaru kelas VII yang terdiri dari 10 kelas dengan jumlah siswa 300 orang. Untuk sampel penelitian digunakan 2 kelas, penentuan sampel mengunakan tehnik simpele random sampling, dimana yang dirandom adalah kelas. Pada penelitian ini kelas eksperimen
mengunakan pembelajaran
berpendekatan santifik sedangkan untuk
kelas kontrol menggunakan
pembelajaran konvensional. Data dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang mengunakan tes pilihan ganda. Sebelum mengambil data dengan menggunakan instrumen tes, terlebih dahulu dilakukan
antara variabel terikat. Dari uji persyaratan analisis yang dilakukan diperoleh bahwa data berdistri normal dan homogen.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada bulan Mei 2016 dikelas VII5 sebagai kelas eksperimen dan VII3 sebagai kelas kontrol, didapatkan data pretest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen seperti pada tabel berikut:
Tabel 1: Statistik Deskriptif Data
Pretest.
No Kelas n Nilai Rerata
Ideal Min Max 1 Kontrol
30 100 20,00 66,67 49,44
2 Eksperime
n 30 100 36,67 70.00 57,22
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa nilai minimum kelas eksperimen 36,67 sedangkan kelas kontrol 20,00. Nilai maksimum kelas eksperimen 70,00 sedangkan kelas kontrol 66,67 dengan nilai ideal 100. Rerata kelas eksperimen adalah 49,44 dari 30 siswa sedangkan kelas kontrol adalah 57,22 dari 30 siswa .
Tabel 2 : Hasil Uji Normalitas Data
Pretest
Kelas
Asym.sig (2-tailed)
α Keputusan Keterangan
Kontrol 0.195 0.05 Terima H0 Normal
Eksperime
n 0.589 0.05 Terima H0 Normal
Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa untuk uji normalitas data pretest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan taraf signifikan 0.05 diperoleh nilai Asym. Sig (2-tailed)
untuk kelas kontrol 0.195 > 0.05 dan nilai Asym. Sig (2-tailed) pada kelas eksperimen 0.589 > 0.05 sehingga pada masing-masing kelas diperoleh keputusan terima H0 yang artinya data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Data pretest kemudian diuji dengan menggunakan levene test untuk mengetahui varian data. Berdasarkan
levene test pada kelas kontrol dan eksperimen diperoleh data seperti Tabel dibawah ini :
Tabel 3 : Hasil Uji Homogenitas Data
Pretest
Jenis data
Based on trimmed mean
α Keputusan Keterangan
Pretest 0.583 0.05 Terima H0 Homogen
nilai based on trimmed mean adalah 0.583 > 0.05, maka artinya bahwa data
pretest kelas kontrol dan kelas eksperimen berasal dari varian yang homogen.
Data pretest diketahui data berdistribusi normal dan varian yang homogen, maka dapat diambil keputusan untuk melakukan uji hipotesis komparatif yaitu uji-t
independent 2 samples. Uji-t ini berguna untuk mengetahui perbedaan data pretest kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hasil uji-t kelas kontrol dan kelas eksperimen tertera sebagai berikut :
Tabel 4 : Hasil Uji-t Data Pretest Jenis
Data
Sig.
(2-tailed) α Keputusan Keterangan
Pretest 0.003 0.05 Tolak H0 berbeda signifikan
Hasil Uji-t seperti yang tertera pada Tabel 4 di atas menunjukkan nilai
Sig. (2-tailed) untuk data pretest kelas kontrol dan eksperimen adalah 0.003 < 0.05 dengan keputusan tolak H0 artinya bahwa siswa pada kelas kontrol dan eksperimen memiliki pengetahuan awal yang berbeda pada konsep ekosistem.
Berdasarkan kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh rerata
posttest pada tabel dibawah ini.
Tabel 5 : Statistik Deskriptif Data
Posttest
No Kelas n Hasil Belajar Rerata Ideal Min Max
1 Kontrol 30 100 53,33 83,33 66,67 2 Eksperimen 30 100 60,00 90,00 78,11
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa nilai minimum kelas eksperimen 60,00 sedangkan kelas kontrol 53,33. Nilai maksimum kelas eksperimen 90,00 sedangkan kelas kontrol 83,33 dengan nilai ideal 100. Rerata kelas eksperimen adalah 78,11 dari 30 siswa sedangkan kelas kontrol adalah 66,27 dari 30 siswa.
Tabel 6 : Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas Asymp.Sig(2-tailed)
Keputusan Keterangan
Kontrol 0,290 0,05 Terima H0 Normal
Eksperimen 0,223 0,05 Terima H0 Normal
Tabel 6. menunjukkan nilai
Asymp.Sig (2-tailed) kelas kontrol 0,290 dan kelas eksperimen 0,223. Keputusan yang didapat adalah terima H0 karena nilai Asymp.Sig (2-tailed) > 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen berdistribusi normal.
Uji homogenitas menggunakan
pada kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 7 : Rekapitulasi Hasil Uji Homogenitas Posttest
Jenis Data
Based on trimmed mean
α Keputusan Keterangan
Postest 0,327 0,05 terima H0 Homogen
Berdasarkan Tabel 7 hasil uji homogenitas didapat nilai Based on trimmedmean pada Levene test adalah 0,327 keputusan yang diambil adalah terima H0 karena 0,327 > 0,05 maka dikatakan bahwa data posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen berasal dari varian yang homogen.
Data posttest diketahui berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai varian yang homogen, maka dapat diambil keputusan untuk melakukan uji hipotesis komperatif menggunakan Uji-t independent 2
samples. Hasil uji-t nilai posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen tertera pada tabel berikut:
Tabel 8 : Rekapitulasi Hasil Uji-t
Posttest
Jenis data
Asimp.Sig
(2-tailed) α Keputusan Keterangan Posttest 0.000 0,05 Tolak H0 signifikanBerbeda
Hasil Uji-t seperti yang tertera pada Tabel 8 di atas menunjukkan nilai
Sig. (2-tailed) untuk data posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen adalah 0.000 < 0,05 dengan keputusan tolak H0 yang berarti data berbeda signifikan. Ini artinya siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki hasil belajar yang berbeda pada konsep ekosistem. Tabel 9 : Rekapitulasi Rerata Nilai
N-Gain
Kelas N
N-Gain Rerata N-Gain Nilai
Ideal
Nilai Minimum
Nilai Maksimun
Kontrol 30 1.00 0,10 0,64 0,34
Eksperimen 30 1.00 0,60 0,90 0,48
Tabel 9 nilai N-Gain minimum kelas kontrol adalah 0,10 sedangkan kelas eksperimen nilai minimum adalah 0,60. Hasil nilai maksimum N-Gain
kelas kontrol adalah 0,64 sedangkan kelas eksperimen nilai maksimum adalah 0,90. Rerata nilai N-Gain kelas kontrol adalah 0,34 (kategori sedang) sedangkan rerata nilai N-Gain kelas eksperimen adalah 0,48 (kategori sedang).
Tabel 10 : Hasi Uji Normalitas Data N -Gain
Kelas
Asymp. Sig (2-tailed) α
Keputusan Keterangan
Kontrol 0,287 0,05 Terima H0 Normal
Berdasarkan Tabel 10 didapat hasil uji normalitas N-Gain pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Nilai
Asym. Sig. (2-tailed) untuk kelas kontrol adalah 0,287 > 0,05 dan nilai Asym. Sig
(2-tailed) untuk kelas eksperimen adalah 0,667 > 0,05 (α) sehingga pada masing-masing kelas diperoleh keputusan terima H0 yang artinya data berasal dari populasi berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan uji homogenitas data N-Gain. Uji homogenitas ini berfungsi untuk mengetahui homogenitas varian data, analisis data uji homogenitas menggunakan uji Levene test. Hasil uji homogenitas kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini:
Tabel 11 : Hasil Uji Homogenitas Data N-Gain
Jenis
data trimmed meanBased on α Keputusan Keterangan N-Gain 0,769 0,05 Terima H0 Homogen
Berdasarkan Tabel 11 dapat dilihat hasil uji homogenitas data. Nilai
based on trimmed mean pada tabel
Levene test 0,769 > 0,05 (α), keputusan yang diperoleh terima H0 artinya, data N-Gain kelas kontrol dan kelas eksperimen berasal dari varian yang homogen.
Data N-Gain yang telah diketahui berdistribusi normal dan mempunyai varian yang homogen, maka diambil keputusan untuk melakukan uji hipotesis komparatif menggunakan uji-t, Hasil uji-t data N-Gain dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini:
Tabel 12 : Hasil Uji-t Data N-Gain Jenis
data
Asymp.Sig
(2-tailed) α
Keputusa n
Keterangan
N-Gain 0,001 0,0 5
Tolak H0 Berbeda
signifikan
Pada tabel 12 diperoleh nilai Sig.
(2-tailed) 0,000 untuk N-Gain pada kelas kontrol dan kelas eksperimen adalah 0,001 < 0,05 (α), Keputusan yang diperoleh adalah tolak H0 yang artinya terdapat perbedaan antara
N-Gain kelas kontrol dan kelas ekperimen. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh rerata aktivitas siswa kelas kontrol seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 13 : Hasil Observasi Aktivitas Guru
Kelas Pertemuan I(%)
Pertemuan II
(%) Rerata(%)
Kontrol 83% 91% 87.00%
Eksperimen 90% 100% 95.00%
Orientasi; guru melakukan apersepsi; guru memotivasikan siswa; guru menyampaikan tujuan pembelajaran; guru menjelaskan materi pembelajaran; guru member kesempatan bertanya kepada siswa; guru memberi tanggapan pertanyaan siswa; guru memberikan pertanyaan kepada siswa; guru
membimbing siswa menarik
kesimpulan; guru melakukan evaluasi; guru menutup pembelajaran. Pada pertemuan I persentasenya mencapai 83,00% pada pertemuan ini aktivitas guru menghubungkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya dan guru bertanya hal-hal yang belum dimengerti siswa tidak terlaksana karena waktu yang digunakan tidak cukup selanjutnya pada pertemuan II nilai persentase meningkat dengan 91.00 % sedangkan pada aktivitas guru yang diamati pada kelas eksperimen terdapat enam belas aktivitas yaitu orientasi; apersepsi; motivasi; menginformasikan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai; guru
mengkondisikan siswa untuk duduk pada kelompok yang telah ditentukan; guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk melakukan observasi di
lingkungan sekolah; guru
menginstruksikan kepada setiap siswa
untuk mendiskusikan hasil yang mereka dapat dalam kelompoknya masing-masing; guru mengarahkan siswa untuk mengerjakan LKS dengan anggota kelompok masing-masing dan presentasi di depan kelas ; guru bertanggung jawab melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan LKS; guru mengarahkan kelompok untuk mempresentasikan hasil didepan kelas; guru melakukan penilaian hasil kerja siswa; guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman,
memberikan penguatan dan
penyimpulan; guru membimbing siswa membuat kesimpulan; guru menutup pelajaran dengan berdo’a sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Pada pertemuan I persentasenya mencapai 90,00% pada pertemuan ini aktivitas aprsepsi tidak terlaksana karena aktivitas ini akan dilaksanakan pada pertemuan kedua sedangkan pertemuan II mencapai 100% dengan rerata persentase 95,00%. Peningkatan aktivitas guru kelas kontrol dan eksperimen juga dipengaruhi oleh aktivitas siswa. Aktivitas siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 14.
Pertem uan Aktivitas (%) Rerata Persent ase (%) 1 Mencat at penjela san guru 2 Mengaju kan pertanya an 3 Menja wab pertany aan 4 Melaku kan evaluasi
I 41.17 47,05 85,29 46,42 47,50
II 47,05 52,94 91,17 60,71 59.16
Rerata Total 53,33
Berdasarkan Tabel 14 terlihat bahwa rerata persentase aktivitas siswa yang diamati pada kelas kontrol terdapat empat aktivitas yaitu mengajukan pernyataan; menjawab pertanyaan; mencatat penjelasan guru di buku catatan; mengerjakan soal evaluasi yang diberikan guru. Dari pertemuan I hingga pertemuan II terdapat kenaikan presentase yang signifikan. Dimana pada persentase pertemuan I yaitu 47,50% hingga pertemuan II yaitu 59,16%. Tidak semua aktivitas siswa kelas kontrol terlaksana dengan baik karena tidak semua siswa yang melaksanakan aktivitas tersebut. Hal ini berbeda dengan aktivitas siswa kelas eksperimen yang dapat dilihat pada Tabel 15 berikut :
Tabel 15 : Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen
Pertemu an Aktivitas (%) 1 Menempat kan Diri pada Kelompok 2 Siswa Mengama ti lingkunga n sekolah 3 Siswa bekerja sesuai lembar observas i 4 Siswa mengum pulkan laporan
I 50.00 100 60.00 100 85.83
Pertemu an Menempat kan Diri pada Kelomok dengan Cepat Siswa mengerja kan LKS Siswa mendisk usikan LKS Memper sentasik an hasil diskusi Rerata Persent ase %
II 93.33 100 100 76.66 91.66 Rerata Total 88, 75
Berdasarkan Tabel 15 terlihat bahwa rerata persentase aktivitas siswa yang diamati pada kelas eksperimen terdapat empat aktivitas yaitu menempatkan diri dalam kelompoknya dengan cepat; mengerjakan lembar
observasi pratikum dengan
kelompoknya; pada pertemuan pertama mengamati lingkungan sekolah dengan kelompoknya, pada pertemuan kedua
mengerjakan LKS dan
mempresentasikan didepan kelas bersama kelompoknya; mengerjakan soal evaluasi yang diberikan guru. Dari pertemuan I hingga pertemuan II terdapat kenaikan presentase yang signifikan. Dimana pada persentase pertemuan I yaitu 85,83% hingga pertemuan II yaitu 91,66%. Tidak semua aktivitas siswa kelas eksperimen terlaksana dengan baik karena tidak semua siswa melaksanakan aktivitas tersebut. Artinya aktivitas siswa pada pertemuan kedua kelas eksperimen mengalami perbedaan.
Hasil analisis dengan uji-t diperoleh nilai sig. (2- tailed) untuk data
posttest kelas kontrol dan eksperimen adalah 0.000 < 0,05 (α) dengan keputusan tolak H0 artinya data berbeda signifikan. Berarti siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki hasil belajar yang berbeda pada materi ekosistem. Hal ini dapat dilihat dari rerata nilai posttest kelas kontrol 67,67 dan rerata posttest kelas eksperimen 78,11. Nilai posstest pada kelas kontrol lebih rendah dibandingkan dengan nilai
posstest pada kelas eksperimen, hal ini terjadi karena pada kelas kontrol siswa cenderung lebih pasif dikelas dengan
hanya mendengarkan
ceramah/penjelasan materi dari guru saja selama proses pembelajaran berlansung. Sedangkan pada kelas eksperimen siswa cenderung lebih aktif dikelas dan rasa ingin tahunya lebih tinggi, dimana siswa sering bertanya pada saat proses pembelajaran berlansung. Hal ini sesuai dengan pendapat Lie (2005), menyatakan dengan model pembelajaran yang aktif dapat mendorong siswa untuk aktif
berpartisipasi dalam proses
pembelajaran, bisa menghargai pendapat orang lain, bisa bekerjasama, sehingga siswa memahami materi
pembelajaran. Peningkatan hasil belajar yang terdapat di atas sesuai dengan penelitian relevan oleh Marjan, (2014), menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan pembelajaran pendekatan saintifik lebih baik dari pada model pembelajaran langsung dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil uji-t data
N-Gain diperoleh nilai Sig. (2-tailed) 0,001 untuk N-Gain pada kelas kontrol dan kelas eksperimen adalah 0,001 < 0,05 (α), Keputusan yang diperoleh adalah tolak H0 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara
N-Gain kelas kontrol dan kelas
eksperimen. Hal ini terjadi karena pada kelas kontrol hanya menggunakan metode konvensional dan kelas eksperimen mengunakan pendekatan saintifik. Hal ini sesuai dengan pendapat
Rasyid (2007), menyatakan
Penelitian yang dilakukan oleh Machin. (2014), menyimpulkan bahwa penerapan pendekatan saintifik berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa kognitif, afektif dan psikomotorik serta telah mencapai ketuntasan klasikal yang ditetapkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Permendikbud No 65 (2013) yang mengatakan bahwa pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang agar siswa secara aktif mengkontruksi konsep, hukum, atau prinsip yang ditemukan melalui tahap-tahap antara lain mengidentifikasi atau menemukan masalah, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan kosep, hukum atau prinsip yang ditemukan.
Berdasarkan hasil penelitian Pratiwi (2014), juga menyatakan Pembelajaran menggunakan model
discovery learning dengan pendekatan saintifik memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa sebesar 28,23% pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit di kelas X MIPA SMA Negeri 7 Pontianak. Hal ini sesuai pendapat Wilcox dalam
(Slavin, 2005), dalam pembelajaran dengan model discovery learning siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan
melakukan percobaan yang
memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru yang diamati pada kelas kontrol terdapat sebelas aktivitas yaitu guru melakukan orientasi; guru
melakukan apersepsi; guru
memotivasikan siswa; guru
menyampaikan tujuan pembelajaran; guru menjelaskan materi pembelajaran; guru memberikan kesempatan bertanya kepada siswa; guru memberikan tanggapan pertanyaan siswa; guru memberikan pertanyaan kepada siswa; guru membimbing siswa menarik kesimpulan; guru melakukan evaluasi; guru menutup pembelajaran.
pada kelompok yang telah ditentukan; guru membimbing dan mengarahkan siswa melakukan observasi di
lingkungan sekolah; guru
menginstruksikan kepada setiap siswa untuk mendiskusikan hasil yang mereka dapat dalam kelompoknya masing-masing; guru mengarahkan siswa untuk mengerjakan LKS dengan anggota kelompok masing-masing; guru mengarahkan siswa berdiskusi; guru bertanggung jawab melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama diskusi; guru mengarahkan kelompok untuk mempresentasikan didepan kelas; guru melakukan penilaian hasil kerja siswa; guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa; guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman,
memberikan penguatan dan
penyimpulan; guru membimbing siswa membuat kesimpulan; guru menutup pelajaran dengan berdo’a sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Rerata persentase aktivitas guru pada kelas kontrol adalah 87,00% sedangkan rerata persentase aktivitas guru pada kelas eksperimen adalah 95,00%. Sehingga aktivitas guru pada kelas
eksperimen lebih meningkat
dibandingkan kelas kontrol. Hal ini
dikarenakan pada kelas eksperimen guru dan siswa saling berinteraksi, sehingga langkah-langkah pendekatan saintifik meningkat dengan baik dibandingkan dengan kelas kontrol yang hanya menggunakan metode ceramah dan tidak adanya interaksi antar siswa. Menurut Sardiman (2012) belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas.
Secara keseluruhan penerapan pendekatan saintifik berpengaruh positif terhadap proses pembelajaran karena selain meningkatkan hasil belajar siswa, juga dapat membantu siswa lebih aktif dalam proses belajar.
KESIMPULAN
signifikan antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. S. (2013). Prosedur
Penelitian. Rineka Cipta : Jakarta Anderson. L.W. & Kratwhol, D. R.
(2010). Pembelajaran,
pengajaran, dan Asessmen.
Pustaka Belajar : Yogyakarta.
Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta: Bandung
Dimyati & Mudjiono. (2013). Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta : Jakarta
Djamarah & Saiful. B.(2002). Psikologi Belajar. Rineka Cipta : Jakarta
Fraenkel & Wallen. (2007). How To Design and Evaluate Research In Education: Mc Grawhill.
Singapore.
Lie, A. (2005). Cooperatif Learning. Gramedia: Jakarta
Machin. A (2014). Implementasi
Pendekatan Saintifik,
Penanaman Karakter dan Konservasi Pada Pembelajaran Materi Pertumbuhan. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, Vol 3 No 1 Hal : 28 – 35.
Marjan, J. (2014). Pengaruh
Pembelajaran Pendekatan
Saintifik Terhadap Hasil Belajar Biologi dan Keterampilan Proses Sains Siswa. Jurnal Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha. Vol 4 No 2 Hal : 1-12.
Meltzer, D.E. (2009). “The Relationship Between Matematic Preparation and Conceptual Learning Gains in physicn : A possible “hidden variable” in diagnostic present score”. American Journal of Physic. Vol. 70 No. 12 hal 1259-1268.
Nurul, H. (2013). Pengertian dan Langkah-Langkah Saintifik.
Tersedia, pada : www.nurulhidayah.net/879. 19
November2015
OECD. (2012). Pisa 2009 Tehnikal Report. PISA. OECD Publihing.Tersedia, pada:
www.pisa.oecd.org. Diakses [19 Nopember 2015]
Permendikbud No 65 tahun (2013).
Standar Proses Untuk Jenjang Pendidikan
Dasar dan Menengah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia : Jakarta
Pratiwi, F. (2014). Pengaruh
penggunaan model discovery Learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SMA, Skripsi mahasiswa Universitas Tanjungpura.
Rasyid, H. (2007). Penilaian Hasil Belajar. Wacana Prima: Bandung.
Sardiman. (2014). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Sisdiknas No 20 Tahun (2013). Sistem Dan Visi Misi Pendidikan Nasional. Departemen Pendidikan : Jakarta
Slameto. (2009). Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Rineka Cipta : Jakarta.
Slameto. (2013). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta.
Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dam Praktik diterjemahkan oleh Narilita Yusron. Bandung: Nusa Media.
Sudjana, N. (2009). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Gensindo : Bandung.
Sugiyono. (2007). Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta : Jakarta
Sumiati. (2007). Metode Pembelajaran.
Wacana Prima. Bandung.
Trianto. (2009). Mendesain Model
Pembelajaran
Inovatif-Progresif, Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kencana : Jakarta
Widiyati, E. (2012). Penggunaan Teka Teki Silang (Crossword Puzzle)
Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Pemahaman Konsep Sistem Pernapasan Manusia Pada Siswa Kelas VIII SMP Budi Luhur Pekanbaru, Skripsi mahasiswa Universitas Lancang Kuning. Tidak Diterbitkan