• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLTEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POLTEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG"

Copied!
153
0
0

Teks penuh

(1)

POLTEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN

OKSIGENASI PADA PASIEN BRONKOPNEUMONIA DI

RUANGAN HCU ANAK IRNA KEBIDANAN DAN

ANAK RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG

KARYA TULIS ILMIAH

SILVIA AUDIA PUTRI

NIM: 143110267

JURUSAN KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PADANG TAHUN 2017

(2)

POLTEKKES KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN

OKSIGENASI PADA PASIEN BRONKOPNEUMONIA DI

RUANGAN HCU ANAK IRNA KEBIDANAN DAN

ANAK RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan Program Studi Diploma III

Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang

SILVIA AUDIA PUTRI

NIM: 143110267

JURUSAN KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PADANG TAHUN 2017

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Oksigenasi pada Pasien Bronkopneumonia di Ruangan HCU Anak IRNA Kebidanan dan Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017“.

Penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat penelitian Karya Tulis Ilmiah untuk mencapai gelar Diploma III pada Program Studi D-III Keperawatan Padang Poltekkes Kemenkes Padang. Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya tulis ilmiah, sangatlah sulit bagi peneliti untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terimaksih kepada:

1. Ns. Suhaimi, S.Kep, M.Kep selaku dosen pembimbing I yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.

2. Tasman, M.Kep, Sp.Kom selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.

3. Bapak H. Sunardi, SKM, M.Biomed selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang. 4. Ibu Hj. Murniati Muchtar, SKM, M.Biomed selaku Ketua Jurusan

Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang. 5. Ibu Ns. Idrawati Bahar, S.Kep, M.Kep selaku Ketua Program Studi

Keperawatan Padang Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang.

6. Bapak/Ibu Staf dan Dosen Program Studi Keperawatan Padang Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang yang telah memberikan bekal ilmu untuk bekal peneliti.

7. Bapak/Ibu Direktur dan Staf Rumah Sakit yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data yang peneliti perlukan.

(5)

8. Kepada “Kedua Orang Tua” tersayang yang telah memberikan dorongan, semangat, doa restu dan kasih sayang yang tiada terhingga. Tiada kata yang dapat Ananda utarakan selain terima kasih dan semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan, rahmat dan karunia-Nya kita semua.

9. Sahabat-sahabat yang telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

10.Teman-temanku yang senasip dan seperjuangan Mahasiswa Politeknik Kesehatan Padang Program Studi D-III Keperawatan Padang Tahun 2013. Terima kasih atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan.

Akhir kata peneliti berharap karya tulis ilmiah ini bermanfaat khususnya bagi peneliti sendiri dan pihak yang telah membacanya, serta peneliti mendoakan semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Aaminn.

Padang, 14 Juni 2017

(6)
(7)
(8)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PADANG

Karya Tulis Ilmiah, Juni 2017 Silvia Audia Putri

Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Oksigenasi pada Pasien Bronkopneumonia di Ruangan HCU Anak IRNA Kebidanan dan Anak RSUP Dr.M. Djamil Padang Tahun 2017

xi+ 98 halaman, 4 tabel, 8 lampiran

ABSTRAK

Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau berapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat tyang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda asing. Peradangan yang disebabkan oleh bakteri dapat menimbulkan obstruksi jalan napas sehingga pasien mengalami hipoksia yang ditandai dengan gejala sesak napas. Pada tingkat hipoksia pasien sangat membutuhkan bantuan oksigen dengan cara pemberian yang tepat. Profil Dinas Kesehatan Padang 2014 menunjukkan bahwa kasus pneumonia pada balita di Sumatra Barat yaitu sebanyak 13.384 kasus. Berdasarkan Profil RSUP. DR. M. Djamil Padang tahun 2014 didapatkan data 10 penyakit terbanyak rawat inap tahun 2014 pada urutan pertama yaitu penyakit Bronchopneumonia sebanyak 801 kasus. Tujuan penelitian yaitu dideskripsikan hasil asuhan keperawatan pada pasien bronkopneumonia dengan gangguan oksigenasi pada anak.

Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Cara pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Tempat penelitian diruangan HCU anak RSUP Dr. M. Djamil Padang dimulai pada bulan Januari sampai Juni tahun 2017. Jumlah populasi sebanyak 5 orang, sampel yang diambil sebanyak 2 orang dengan cara simple random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu format asuhan keperawatan pada anak.

Hasil pengkajian pada kedua kasus mengeluh sesak saat bernapas, nafas takipneu, suara napas bronkovaskuler, terdapat pergerakan dinding dada dan terdapat infiltrat pada perikardial paru. Diagnosa yang utama muncul yaitu ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan adanya gangguan ventilasi, setelah dilakukan implementasi selamat 5 hari didapatkan diagnosa ketidakefektifan pola napas teratasi sebagian.

Saran untuk perawat ruangan lebih meningkatkan perencanaan pulang (discharge planning) pada pasien bronkopneumonia supaya anak tidak berulang ke rumah sakit dengan penyakit yang sama.

Kata Kunci : Gangguan Oksigenasi + Bronkopneumonia Daftar Pustaka : 28 (2012- 2017)

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

LEMBAR ORISINALITAS ... v

LEMBAR PERSETUJUAN... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 8 C.Tujuan Penelitian ... 8 D.Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Konsep Gangguan Oksigenasi ... 10

1. Pengertian Oksigen ... 10

2. Peran Sistem Tubuh dalam Oksigenasi ... 11

3. Proses Pernapasan ... 13

4. Faktor-Faktor Mempengaruhi Pernapasan ... 17

5. Perubahan Fungsi Pernapasan ... 18

6. Pengertian Terapi... 18

7. Tujuan Pemberian Terapi Oksigen ... 19

8. Indikasi Pemberian Terapi Oksigen ... 19

9. Metode Pemberian Terapi Oksigen ... 20

10.Jenis-Jenis Metode Pemberian Terapi Oksigen ... 21

11.Jenis-Jenis Kekurangan Oksigen ... 23

12.Faktor Mempengaruhi Oksigenasi ... 25

13.Hal-Hal yang Diperhatikan dalam Terapi Oksigen ... 27

14.Analisa Gas Darah Arteri ... 27

15.Efek Samping Terapi Oksigen... 29

16.Evaluasi Terapi Oksigen... 30

17.Kontraindikasi Terapi Oksigen... 30

18.Penghentian Terapi Oksigen ... 31

19.Tanggung Jawab Perawat Terapi Oksigen ... 31

B. Konsep Bronkopneumonia dengan Gangguan Oksigenasi ... 32

1. Pengertian Bronkopneumonia ... 32

2. Etiologi Bronkopneumonia ... 32

3. Manifestasi Klinis Bronkopneumonia ... 33

4. Patofisiologi ... 34

5. Penatalaksanaan Bronkopneumonia ... 37

6. Komplikasi Penyakit Bronkopneumonia ... 38

C. Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis ... 38

(10)

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul ... 49

3. Rencana Keperawatan ... 50

BAB III METODE PENELITIAN ... 62

A. Desain Penelitian ... 62

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 62

C. Subjek Penelitian ... 62

D. Alat/Instrument Pengumpulan Data ... 63

E. Cara Pengumpulan Data ... 66

F. Jenis-Jenis Data ... 67

G. Rencana Analisis ... 67

BAB IV DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN A. Tempat... 68 B. Kasus... 69 C. Pembahasan Kasus... 87 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 97 B. Saran... 98 DAFTAR PUSTAKA

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Hipoksemia berdasarkan hasil AGD ... 23

Tabel 2.2 Analisa data ... 44

Tabel 2.3 Diagnosa Keperawatan NANDA, NIC-NOC 2016 ... 50

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Studi Kasus Lampiran 2 Surat Izin Melakukan Penelitian Lampiran 3 Informed Consent

Lampiran 4 Asuhan Keperawatan Responden Kasus 1 Lampiran 5 Asuhan Keperawatan Responden Kasus 1 Lampiran 6 Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah Lampiran 7 Absen Penelitian di Ruangan Anak Lampiran 8 Surat Tanda Selesai Penelitian

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai bagian integral yang berintegrasi satu sama lainnya dalam memenuhi kebutuhan dasar. Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipengaruhi secara memuaskan melalui proses homeostatis, baik fisiologis maupun psikologis. Adapun kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat atau diperlukan untuk menjaga homeostatis dan kehidupan itu sendiri. Banyak ahli filsafat, psikologis dan fisiologis menguraikan kebutuhan manusia dan membahasnya dari berbagai segi. Abraham Maslow seorang psikologi dari Amerika mengembangkan teori tentang kebutuhan dasar manusia yang lebih dikenal dengan istilah Hirarki Kebutuhan Dasar Manusia Maslow. Hirarki tersebut meliputi lima kategori kebutuhan dasar, yakni : kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan rasa aman, kebutuhan rasa cinta, memiliki dan dimiliki, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri (Ernawati, 2012).

Kebutuhan fisiologis memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki Maslow. Umumnya, seseorang yang memiliki beberapa kebutuhan yang belum terpenuhi akan lebih dulu memenuhi kebutuhan fisiologisnya dibanding kebutuhan yang lainnya. Kebutuhan fisiologis merupakan hal yang mutlak dipenuhi manusia untuk bertahan hidup. Manusia memiliki delapan macam kebutuhan fisiologis yaitu : kebutuhan oksigen dan pertukaran gas, kebutuhan cairan dan elektrolit, kebutuhan makanan, kebutuhan eliminasi urine dan fekal, kebutuhan istirahat dan tidur, kebutuhan aktifitas, kebutuhan kesehatan temperatur tubuh dan kebutuhan seksual (Saputra, Lyndon, 2013).

Kebutuhan fisiologis utama dari manusia adalah oksigen dan pertukaran gas. Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam

proses metabolisme tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Komposisi udara terdiri atas 20,98 % oksigen, 0,04%

(14)

karbondioksida, 78,6% nitrogen dan 0,92% unsur lainnya, seperti argon dan helium. Konsentrasi oksigen bervariasi. Pada daerah yang tinggi konsentrasi oksigen semakin berkurang dan semakin rendah. Pada manusia, oksigen sangat diperlukan untuk kelangsungan fungsi sel/ jaringan, berperan dalam metabolisme aerob, dan menghasilkan 36 adenosin trifosfat (ATP). Bila sel/ jaringan tidak cukup mendapatkan oksigen untuk kebutuhan metabolismenya maka akan terjadi hipoksia jaringan dan memicu terjadinya metabolisme anaerob yang menghasilkan sedikit energi (2ATP) dan asam laktat (Lusianah, dkk, 2012).

Pemenuhan kebutuhan oksigen sangat ditentukan oleh keadekuatan sistem pernapasan, sistem kardiovaskuler dan keadaan hematologis (Poston, 2009). Setiap pasien yang mengalami kerusakan oksigenasi terutama pada tingkat jaringan atau hipoksia merupakan suatu kondisi yang mengancam kehidupan. Apabila tidak ditangani, kondisi ini menyebabkan disritmia jantung, yang mengakibatkan kematian. Hipoksia ditangani dengan pemberian oksigen dan mengobati penyebab yang mendasari hipoksia, seperti obstruksi jalan napas (Potter & Perry, 2012). Pemberian oksigen pada pasien perlu mendapat perhatian khusus karena pada pemberian yang tidak tepat dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan seperti depresi pernapasan atau keracunan oksigen. Cara yang tepat pemberian oksigen adalah didasarkan pada hasil pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) melalui perhitungan dengan menggunakan rumus. Melalui perhitungan ini dapat ditentukan banyaknya konsentrasi oksigen yang diberikan serta dapat memilih alat yang dipakai dalam pemberian oksigen.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Budi Widiyanto dan L.S Yamin (2013) dalam terapi oksigen terhadap perubahan saturasi oksigen melalui pemerikasaan oksimetri pada pasien infark miokard akut (IMA) di ruang IRD RSUD Dr. Moewardi Surakarta, menyatakan bahwa penelitian dilakukan terhadap 38 responden sebelum diberikan terapi oksigen didapatkan nilai saturasi oksigen semua responden yaitu sebanyak 38 (100%)

(15)

mengalami hipoksia ringan. Sedangkan dari hasil penelitian saturasi oksigen sesudah pemberian terapi oksigen binasal kanul pada pasien infark miokard yang telah dilakukan penelitian diketahui bahwa 38 responden yang mendapatkan terapi oksigen didapatkan sebanyak 32 (84,2%). Meningkatnya volume oksigen dalam hal ini FiO2 yang masuk kedalam paru-paru maka

secara tidak langsung juga menambaha kapasitas difusi paru dan meningkat tekanan parsial O2 (PO2) akan semakin banyak oksigen yang dapat diikat oleh

hemoglobin untuk dihantarkan ke jaringan diseluruh tubuh sehingga dpaat mengembalikan saturasi oksigen ke nilai normal. Responden yang mengalami peningkatan saturasi oksigen dari hipoksia ringan menjadi normal dan sebanyak 6 orang (15,8%) responden tetap pada hipoksia ringan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hendrizal, dkk (2014) dalam pengaruh terapi oksigen menggunakan non-rebeathing mask terhadap tekanan tekanan parsial CO2 darah pada pasien cedera kepala sedang terhadap

16 sampel pasien cerdera kepala sedang dari bulan Desember 2012 sampai Januari 2013 yang masuk IGD RS. Dr. M. Djamil Padang didapatkan nilai rata-rata PCO2 sebelum dan sesudah terapi oksigen menggunakan

non-rebreathing mask masing-masing 32,06 ± 6,35 dan 39,00 ± 3,74. Nilai pH

darah setelah pemberian terapi ini 75% berada pada nilai normal. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu nilai pH darah setelah terapi oksigen menggunakan

non- rebreathing mask sebagian besar dalam batas normal, nilai PCO2 darah

setelah terapi oksigen menggunakan non-rebreathing mask sebagian besar dibawah normal dan terjadi penurunan PCO2 darah pada terapi oksigen

menggunakan non-rebreathing mask.

Gangguan oksigenasi dapat terjadi pada semua kelompok usia yaitu usia bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Anak yang dirawat diruang rawat anak, diantaranya berada dalam kondisi kritis dan sebagian besar mengalami masalah yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan oksigenasi. Pada usia anak-anak penyakit yang sering mengalami masalah gangguan oksigenasi yaitu penyakit bronkhopneumonia, infeksi saluran nafas atas,

(16)

tuberkulosis, asma, bronkitis, emfisema dan kanker paru. Salah satu penyakit pada anak yang sering dirawat di rumah sakit yang mengalami masalah gangguan oksigenasi yaitu bronkhopneumonia (Rahajoe, N Nastiti, dkk, 2008).

Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu ataubeberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltratyang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.Infeksi saluran napasbawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan, baik dinegara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju (Fadhila A, 2013). Sujono & Sukarmi dalam Mardiathul (2016) bronkopneumonia adalah suatu cadangan pada parenkim pada paru yang meluas sampai bronkioli atau kata lain peradangan yang terjadi pada jaringan paru melalui cara penyebaran langsung melalui saluran pernapasan atau melalui hematogen sampai ke bronkus.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anwar dan Dharmayanti (2014) kejadian pneumonia pada anak balita adalah berdasarkan diagnosis oleh petugas kesehatan maupun gejala yang dirasakan/diamati, yaitu berjumlah 3.320 orang (4,0%). Berdasarkan hasil analisis multivariat, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pneumonia pada balita adalah jenis kelamin, tipe tempat tinggal, pendidikan ibu, tingkat ekonomi/kuintil indeks kepemilikan, letak dapur, keberadaan/kebiasaan membuka jendela dan ventilasi kamar tidur. Hal ini berarti bahwa faktor sosial, demografi, ekonomi dan lingkungan rumah secara bersama-sama berperan terhadap kejadian pneumonia pada balita di Indonesia.

Asuhan Keperawatan pada pasien bronkopneumonia tetap melakukan metode keperawatan berupa pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan dan dokumentasi keperawatan hal tersebut terintegrasi dalam fungsi manajemen perencanaan. Intervensi, indikasi, dan tujuan terintegrasi dalam fungsi pengorganisasian. Implementasi keperawatan terintegrasi dalam fungsi

(17)

manajemen pengarahan, dan evaluasi terintegrasi dalam fungsi manajemen pengawasan. Integrasi tersebut menyimpulkan bahwa manajemen terapi oksigen yang diberikan oleh perawat dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dalam pemberian oksigen pada pasien (Marques & Huston, 2010).

Pada anak dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi, peran perawat perlu membantu anak supaya kebutuhan oksigenasi anak terpenuhi agar tubuh mampu melanjutkan fungsi sehingga anak kuat dan mampu melawan ketidakmampuan. Pengkajian keperawatan pada sistem pernapasan adalah salah satu dari komponen dari proses keperawatan yang merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh perawat dalam menggali permasalahan sistem pernapasan klien meliputi usaha pegumpulan data tentang status kesehatan seseorang klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan (Muttaqin, Arif, 2008). Intervensi keperawatan untuk meningkatkan dan mempertahankan oksigenasi seperti perilaku peningkatan kesehatan dan upaya pencegahan, pengaturan posisi, teknik batuk, dan intervensi mandiri dan intervensi tidak mandiri, seperti terapi oksigen, teknik inflasi paru, hidrasi, fisioterapi dada, dan obat-obatan (Potter & Perry, 2012).

World Health Organization [WHO] (2014) mengatakan bahwapneumonia mempengaruhi anak-anak dan paling umum dikawasan Asia Selatan dan sub-Sahara Afrika. Di negara berkembang salah satu yaitu Indonesia jumlah kasus pneumonia pada balita yaitu sebanyak 657.490 kasus (29,47%). Angka kematian akibat pneumonia pada balita tertinggi pada kelompok balita terutama usia <1 tahun. Angka kematian akibat penumonia pada balita sebesar 0,08% lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2013 yang sebesar 1,19%. Pada kelompok bayi angka kematian lebih tinggi yaitu sebesar 0,11% dibandingkan pada kelompok umur 1-4 tahun yang sebesar 0,06%.

(18)

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013), menunjukkan prevalensi nasional infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yaitu sebesar 25 %, insiden dan prevalensi Indonesia tahun 2013 adalah 1,8 persen dan 4,5 persen, dan terjadi peningkatan prevalensi pneumonia pada semua umur dari 2,1 % pada tahun 2007 menjadi 2,7 % pada tahun 2013. Insiden tertinggi pneumonia balita terdapat pada kelompok umur 12 23 bulan (21,7%). Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan (Rikesdas, 2013).

Profil Dinas Kesehatan Padang 2014, menunjukkan bahwa penyakit ISPA yang paling menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah pneumonia, karena penyakit ini merupakan penyakit paling banyak (80-90%) menyebabkan kematian khususnya pada balita diantara penyakit ISPA lainnya. Kasus pneumonia pada balita di Sumatra Barat yaitu sebanyak 13.384 kasus (27,11%). Pada tahun 2014 cakupan pneumonia Sumatra Barat baru mencapai 27%. Perbandingan tahun 2013 cakupan pneumonia Sumatra Barat baru mencapai 21,19% (Profil DinKes Kota Padang 2013). Berdasarkan data tersebut terjadi peningkatan cakupan pneumonia di Sumatra Barat sebanyak 5,81% yaitu dari 21,19% menjadi 27%.

Berdasarkan Profil RSUP. DR. M. Djamil Padang tahun 2014 didapatkan data 10 penyakit terbanyak rawat inap tahun 2014 pada urutan pertama yaitu penyakit Bronchopneumonia sebanyak 801 kasus, Congeestive Heart Failure 590 kasus, Chronic Renal Failure 482 kasus, Other Specified Injuries Of

Head 409 kasus, Acute Lymphoblastic Leukimia 385 kasus, Beta Thalassaemia 351 kasus, Malignant Neoplasma Of Ovary 309 kasus, Concussion 277 kasus, Cervix Uteri 250 kasus, Dengue Haemorrhagic Fever

(19)

Berdasarkan dari catatan rekam medik RSUP. DR. M. Djamil Padang tahun 2015 jumlah pasien bronkopneumonia sebanyak 769 kasus dari 23.847 (0,03%) jumlah pasien masuk di seluruh IRNA RSUP. DR. M. Djamil Padang tahun 2015.

Pada saat peneliti melakukan survai awal pada tanggal 20 bulan Januari tahun 2017 di ruangan rawat inap HCU Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang ditemukan adanya pasien bronkopneumonia yang sedang menjalankan perawatan sebanyak 2 orang berjenis kelamin laki-laki dan berusia 5 tahun, dari hasil survai diagnosa keperawatan utama yaitu ketidakefektifan pola nafas dengan tindakan yang dilakukan untuk mengatasi keluhan pasien sudah dilakukan seperti pemberian oksigen, kompres saat pasien demam, melakukan pengeluaran sekret, pemberian cairan parenteral sesuai dengan berat badan, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kalori yang cukup serta tindakan kolaborasi lainnya. Dari hasil survei didapatkan dalam melakukan pengkajian perawat sudah melakukan pengkajian melalui hasil pemeriksaan fisik, wawancara, dan observasi, sehingga keluhan pasien sudah terdokumentasi dengan baik, diagnosa yang diteggakan yaitu ketidakefektifan pola napas. Pasien diberikan tindakan terapi oksigen nasal kanul 2 liter/ menit dengan pernapasan > 30 kali/ menit. Dalam pemberian terapi oksigen sudah diberikan dengan benar susuai dengan prosedur pemberian dan sudah dilakukan pemeriksaan analisa gas darah.Respon pasien pada saat peneliti melakukan survei di hari rawatan ke tiga dari hasil observasi peneliti menemukan pasien masih tampak terlihat sesak dibuktikan dari adanya retraksi dinding dada. Peneliti melihat bahwa perawat masih belum maksimal dalam mengevaluasi tindakan pemberian terapi oksigen seperti pemantauan terapi oksigen.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti melakukan penelitian “Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Oksigenasi pada Pasien Bronkopneumonia di Ruangan HCU Anak IRNA Kebidanan dan Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017“.

(20)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan diangkat oleh peneliti adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Oksigenasi pada Pasien Bronkopneumonia di Ruangan HCU Anak IRNA Kebidanan dan Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Dideskripsikan hasil asuhan keperawatan dengan gangguan oksigenasi pada pasien bronkopneumonia di ruangan HCU anak IRNA kebidanan dan anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Dideskripsikan hasil pengkajian asuhan keperawatan dengan gangguan oksigenasi pada pasien bronkopneumonia di ruangan HCU anak IRNA kebidanan dan anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

b. Dideskripsikan hasil rumusan diagnosa keperawatan dengan gangguan oksigenasi pada pasien bronkopneumonia di ruangan HCU anak IRNA kebidanan dan anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017. c. Dideskripsikan hasil rencana keperawatan dengan gangguan

oksigenasi pada pasien bronkopneumonia di ruangan HCU anak IRNA kebidanan dan anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017. d. Dideskripsikan hasil tindakan keperawatan dengan gangguan

oksigenasi pada pasien bronkopneumonia di ruangan HCU anak IRNA kebidanan dan anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017. e. Dideskripsikan hasil evaluasi keperawatan dengan gangguan

oksigenasi pada pasien bronkopneumonia di ruangan HCU anak IRNA kebidanan dan anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

(21)

D. Manfaat Penelitian

1. Pengembangan Keilmuan a. Peneliti

Diharapkan menambah wawasan dan pengalaman nyata bagi peneliti dalam memberikan asuhan keperawatan oksigenasi pada pasien dengan bronkopneumonia.

b. Institusi Poltekkes Kemenkes Padang

Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan oleh mahasiswa prodi D III Keperawatan Padang untuk peneliti selanjutnya. 2. Institusi Pelayanan

a. RSUP. Dr. M. Djamil Padang

Diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dan masukan bagidirektur RSUP. Dr. M. Djamil beserta petugas pelayanan keperawatan dalam meningkatkan kualitas penerapan asuhan keperawatan nyeri pada pasien fraktur.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep dasar gangguan oksigenasi

1. Pengertian oksigen

Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernapas. Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler, dan keadaan hematologis. Adanya kekurangan oksigen ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan (Anggraini & Hafifah, 2014).

Oksigen merupakan proses penambahan oksigen (O2) ke dalam sistem

(kimia atau fisika). Penambahan oksigen ke dalam tubuh dapat dilakukan secara alami dengan cara bernapas. Pernapasan atau respirasi merupakan proses pertukaran gas antara individu dan lingkungannya. Pada saat bernapas, tubuh menghirup udara untuk mendapatkan oksigen dari lingkungan dan menghembuskan udara untuk mengeluarkan karbon dioksida ke lingkungan (Saputra, Lyndon, 2013).

Oksigen yang dihirup akan diangkut melalui pembuluh darah ke sel-sel tubuh. Di dalam sel-sel tubuh oksigen akan dibakar untuk mendapatkan energi. Salah satu hasil pembakaran tersebut adalah karbon dioksida. Karbon dioksida akan diangkut melalui pembuluh darah ke paru-paru untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh (Saputra, Lyndon, 2013).

Kebutuhan oksigenasi berhubungan erat dengan fungsi sirkulasi udara yang ada pada tubuh manusia. Fungsi sirkulasi udara ini biasanya disebut juga dengan istilah respirasi atau pernapasan. Definisi respirasi atau pernafasan yaitu suatu aktivitas yang berperan dalam proses suplai

(23)

oksigen ke seluruh tubuh dan pembuangan karbon dioksida (hasil pembakaran sel). fungsi dari respirasi adalah menjamin ketersediaan oksigen untuk kelangsungan metabolisme sel-sel tubuh serta mengeluarkan karbon dioksida hasil metabolisme sel secara terus menerus (Soemantri, 2009).

2. Peran sistem tubuh dalam oksigenasi

Sistem tubuh yang berperan dalam oksigenasi adalah sistem pernapasan atau sistem respirasi. Sistem pernapasan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem pernapasan atas dan sistem pernapasan bawah. Paru-paru termasuk dalam organ yang mengatur pernapasan. Saluran pernapasan dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut :

a. Saluran pernapasan bagian atas 1) Hidung atau mulut.

2) Faring. 3) Laring.

b. Saluran pernapasan bagian bawah 1) Trakea.

2) Percabangan bronkus. 3) Alveoli.

4) Paru-paru kiri dan kanan.

(Saputra, Lyndon, 2013)

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2011), pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh sangat ditentukan oleh adekuatnya sistem pernapasan, sistem kardiovaskuler, dan sistem hematologi.

a. Sistem pernapasan atau respirasi

Sistem pernapasan atau respirasi berperan dalam menjamin ketersediaan oksigen untuk kelangsungan metabolisme sel-sel tubuh dan pertukaran gas. Melalui peran sistem respirasi oksigen diambil dari atmosfer, ditranspor masuk ke paru-paru dan terjadi pertukaran gas oksigen dengan karbondioksida di alveoli, selanjutnya oksigen

(24)

akan didifusi masuk kapiler darah untuk dimanfaatkan oleh sel dalam proses metabolisme. Proses oksigenasi dimulai dari pengambilan oksigen di atmosfer, kemudian oksigen masuk melalui organ pernapasan bagian atas seperti hidung atau mulut, faring, laring, dan selanjutnya masuk ke organ pernapasan bagian bawah seperti trakea, bronkus utama, bronkus sekunder, bronkus tersier (segmental), terminal bronkiolus, dan selanjutnya masuk ke alveoli. Selain untuk jalan masuknya udara ke organ pernapasan bagian bawah, organ pernapasan bagian atas juga berfungsi untuk pertukaran gas, proteksi terhadap benda asing yang akan masuk ke pernapasan bagian bawah, menghangatkan, filtrasi, dan melembabkan gas. Sedangkan fungsi organ pernapasan bagian bawah, selain sebagai tempat untuk masuknya oksigen, berperan juga dalam proses difusi gas.

1) Jenis pernapasan

a) Pernapasan internal, adalah proses dimana terjadi pertukaran gas antar sel jaringan dengan cairan sekitarnya yang sering melibatkan proses metabolisme tubuh.

b) Pernapasan eksternal, adalah proses dimana masunya oksigen dan keluarnya dari tubuh.

(Ernawati, 2012). 2) Mekanika pernapasan

Selama inspirasi volume rongga toraks meningkat dan udara tertarik kedalam paru. Peningkatan volume ini disebabkan sebagian oleh kontraksi diafragma, yang menyebabkan diafragma mendatar, dan sebagian lagi disebabkan oleh kerja otot interkostal yang mengangkat iga sehingga terjadi perluasan daerah potongan melintang thoraks. Udara inspirasi mengalir kebawah sampai sekitar bronkiolus terminalis dengan aliran yang besar. Setelah titik tersebut, daerah potongan melintang kombinasi pada jalan napas menjadi sangat luas, sedemikian rupa sehingga kecepatan maju gas menjadi kecil. Difusi gas di dalam jalan napas kemudian

(25)

mengambil alih sabagai mekanisme ventilasi yang dominan di dalam zona respirasi.

Paru bersifat elastis dan selama pernapasan saat istirahat, ekspirasi terjadi ketika paru secara pasif kembali ke volume sebelum inspirasi.

Olahraga berat, dispnea, dan faktor-faktor lainnya dapat mengakibatkan penggunaan otor respirasi tambahan. Otot-otot ini termasuk otot abdomen, sternokleidomastoid, dan pektoral (Francis, Caia, 2011).

b. Sistem kardiovaskuler

Sistem kardiovaskuler juga berperan dalam proses oksigenasi ke jaringan tubuh, yaitu berperan dalam proses transportasi oksigen. Oksigen ditransportasikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Aliran darah yang adekuat hanya dapat terjadi apabila fungsi jantung normal. Dengan demikian, kemampuan oksigenasi pada jaringan sangat ditentukan oleh adekuatnya fungsi jantung. Fungsi jantung yang adekuat dapat dilihat dari kemampuan jantung memompa darah dan perubahan tekanan darah (Tarwoto & Wartonah ,2011).

c. Sistem hematologi

Sel darah yang sangat berperan dalam oksigenasi adalah sel darah merah, karena di dalamnya terdapat hemoglobin yang mampu mengikat oksigen. Hemoglobin merupakan molekul yang mengandung empat subunit protein globular dan unit heme. Setiap molekul hemoglobin dapat mengikat empat molekul oksigen dan membentuk ikatan oxy-hemoglobin (HbO2) dengan reaksi: Hb + O2

HbO2 (Tarwoto & Wartonah ,2011).

3. Proses pernapasan

Proses pernapasan terdiri dari tiga tahapan yaitu ventilasi, difusi dan transportasi.

(26)

Ventilasi merupakan proses pertukaran uadara antara atmosfir dengan alveoli. Masuknya oksigen atmosfir ke dalam alveoli dan keluarnya karbon dioksida dari alveoli ke atmosfir yang terjadi saat respirasi (inspirasi-ekspirasi). Proses ventilasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara atmosfir dan alveolus paru. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang elastis dan persarafan. Otot pernapasan inspirasi utama adalah diafragma. Diafragma dipersarafi oleh saraf frenik yang keluar dari medulla spinalis pada vetebrata keempat. Otot inspirasi tersebut adalah sebagai berikut :

1) Otot inspirasi utama : diafragma dan muskulus intekostalis externus.

2) Otot inspirasi tambahan : muskulus skalenus, sterno kleido mastoideus, pektoralis minor, levator kostarum dan sratus postikus superior.

Ekspirasi merupakan proses yang pasif yang melibatkan kerja dari otot-otot ekspirasi yaitu muskulus rektus abdominis, interkostalis internus, iliokostalis lumborum, quadariatus lumborum, serratus postikus inferior dan triangularis sterni.

Pernapasan normal dipengaruhi oleh tekanan oksigen atmosfir, keadaan saluran pernapasan, compliance dan rekoil paru serta pengaturan napas. Otot- otot pernapasan bekerja karena adanya perintah dari pusat pernapasan (medula oblongata) pada otak. Medula oblongata terdiri dari sekelompok neuron inspirasi dan ekspirasi. Eksitasi neuron inspirasi akan dilanjutkan dengan neuron inspirasi sehingga terjadilah peristiwa ekspirasi. Area inspirasi dan area ekspirasi ini terdapat pada daerah berirama medula (medula rithmicity) yang menyebabkan irama pernapasan berjalan teratur dengan perbandingan 2 : 3 (inspirasi : ekspirasi) (Lusianah, dkk, 2012).

b. Difusi gas

Difusi merupakan proses pertukaran gas oksigen dengan karbondioksida antara alveoli dengan darah pada membran kapiler

(27)

alveolar paru. Membran kapiler alveolus sangat tipis dengan ketebalan rata-rata 0,5 mikron. Dalam membran kapiler alveolus terdapat jalan kapiler yang sangat banyak dengan diameter 8 angstrom. Terdapat sekitar 300 juta alveoli. Proses difusi ini terjadi karena perbedaan tekanan tinggi ke tekanan rendah.

Kapasitas difusi adalah volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per menit untuk setiap perbedaan tekanan sebesar 1 mmHg. Kapasitas difusi oksigen dalam keadaan istirahat sekitar 230 ml/ menit. Saat aktivitas kapasitas difusi akan meningkat karena jumlah kapiler aktif yang berdilatasi meningkat sehingga luas permukaan membran difusi meningkat. Kapasitas difusi karbondioksida saat istirahat adalah 400-450 ml/menit dan saat bekerja 1200-1500 ml/menit.

Pertukaran antara oksigen dan karbondioksida alveoli dengan kapiler paru dipengaruhi oleh :

1) Ketebalan membran respirasi. Membran respirasi yang akan dilalui udara terdiri dari: lapisan epitel alveoli, interstitial alveoli dan lapisan endotel kapiler paru. Ketebalan membran respirasi dapat meningkat pada: edema paru, radang akut parenkim paru, hipoalbumenia, sindoma neprotik, dan proses keganasan.

2) Luas permukaan membran. Kecepatan difusi berbanding terbalik dengan tebalnya membran. Berkurangnya luas permukaan membran (seperti pada radang paru akut, TBC, pegangkatan sebagian lobus paru) akan mengganggu pertukaran gas.

3) Koefisien difusi : koefisien difusi tiap gas dalam membran respirasi tergantung pada daya larutnya di dalam membran itu. Kecepatan difusi karbondioksida 20 kali lebih cepat dari oksigen, sehingga kekurangan oksigen belum tentu disertai kelebihan karbondioksida, oksigen berdifusi 2 kali lebih cepat dari pada nitrogen (N).

c. Transportasi gas

Transportasi gas terdiri dari :

1) Difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel-sel jaringan (respirasi internal).

(28)

2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distriubusi udara dalam alveolus.

3) Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah.

Transportasi gas ditentukan oleh aktifitas sistem kardiovaskuler yang terdiri dari :

1) Curah jantung. Dalam keadaan normal curah jantung sekitar 5 liter. Darah ini mentransportasikan sekitar 5 ml oksigen dan 4 ml karbondioksida per 100 ml. Sehingga dapat dikatakan bahwa kecepatan dan penurunan transportasi oksigen kejaringan dan karbondioksida dari jaringan dipengaruhi oleh curah jantung. 2) Jumlah eritrosit. Penurunan eritrosit dan hemoglobin (Hb) sangat

mempengaruhi transportasi gas terutama oksigen. Mayoritas oksigen ditransportasikan secara kimia terkait dengan hemoglobin (dalam eritrosit). Penurunan eritrosit dan konsentrasi Hb menyebabkan penurunan transpor oksigen. Transportasi oksigen dari kapiler paru ke jaringan tubuh melalui 2 cara yakni secara fisik larut dalam plasma (3%) dan secara kimia berikatan dengan Hb dalam bentuk oksihemoglobin/ HbO2 (97%). Transportasi

karbondioksida dari jaringan ke paru-paru kemudian dibuang ke atmosfir dilakukan secra fisik larut dalam plasma (5-7%), secara kimia bergabung dengan hemoglobin membentuk bikarbonat plasma (65-70%). Dewasa muda pria, jumlah darahnya lebih kurang 75 ml/kgbb, wanita lebih kurang 65 ml/KgBB. Satu ml darah pria mengandung kira-kira 280 juta molekul hemoglobin. Satu molekul hemoglobin sanggup mengikat 4 molekul oksigen dan membentuk HbO2 (oksihemoglobin).

3) Exercise (latihan). Kecepatan transport oksigen ke jaringan dapat meningkat sekitar 15 kali dari normal pada latihan yang berat. Exercise juga akan meningkat karbondioksida. Peningkatan karbondioksida akan merangsang pusat napas untuk mengeluarkan

(29)

karbondioksida dengan meningkatkan kecepatan denyut jantung untuk mempercepat pengiriman karbondioksida keluar tubuh. 4) Hematokrit darah (Hct). Peningkatan Hemotokrit yang berlebihan

akan meningkatkan viskositas darah, sehingga beban jantung meningkat yang mengakibatkan penurunan curah jantung. Penurunan hemtokrit menggambarkan rendahnya konsentrasi eritrosit dalam darah dan mengakibatkan transportasi oksigen menurun.

5) Keadaan pembuluh darah. Penyempitan atau sumbatan pembuluh darah arteri (arterisklerosis) akan menurunkan pengiriman oksigen ke jaringan sedangkan sumbatan pada pembuluh darah vena akan menurunkan pengiriman karbondioksida dari jaringan. (Lusianah, dkk, 2012).

4. Faktor-faktor yang mempegaruhi pernapasan

a. Efek ketinggian

Pada tempat yang tinggi biasanya tekanan parsial oksigen (PO2) turun,

darah dalam arteri dibawah tekanan parsial oksigen arteri (PaO2),

sehingga terjadi peningkatan laju dan kedalaman respiratori. b. Lingkungan

Pada lingkungan yang panas terjadi dilatasi (pelebaran) pembuluh darah perifer, hal ini megakibatkan darah mengalir ke kulit sehingga akan meningkatkan jumlah kehilangan panas dari permukaan tubuh. Vasodilatasi menyebabkan lumen pembuluh darah membesar sehingga resistensi terhadap aliran darah menurun. Pada respon ini, cardiac

output meningkat, guna menjaga tekanan darah. Peningkatan cardiac output ini akan membutuhkan oksigen tambahan sehingga laju dan

kedalaman pernapasan meningkat. c. Emosi

Kerja dari jantung dipengaruhi oleh pusat tertinggi dari serebrum melalui hipotalamus, dimana terdapat pusat stimulasi jantung (cardioinhibitory dan cardioaccelerator) di medula. Jaras motorik dari

(30)

pusat tersebut dibawa oleh impuls kepada neuron simpatis dan parasimpatis, yang kemudian ditransmisikan ke jantung.

d. Aktivitas dan istirahat

Latihan atau kegiatan akan meningkatkan laju respirasi dan menyebabkan peningkatan suplai serta kebutuhan oksigen dalam tubuh.

e. Kesehatan

Pada seseorang yang sehat, sistem kardiovaskuler dan pernapasan secara normal menyediakan oksigen bagi kebutuhan tubuh. Pada penyakit sistem kardiovaskuler, hal ini sering kali berdampak terhadap pengangkutan oksigen ke sel tubuh, sedangkan penyakit sistem pernapasan dapat memengaruhi oksigenasi dalam darah. Pada kedua kasus tadi, hipoksemia dapat timbul.

f. Gaya hidup

Pasien yang merokok atau terpapar polusi udara akan dapat mengidikasikan adanya gangguan paru-paru.

(Somantri, Irman, 2009).

5. Perubahan fungsi pernapasan

a. Hiperventilasi

Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah oksigen dalam paru-paru agar pernpasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan oleh kecemasan, infeksi atau sepsis, keracunan obat-obatan, ketidakseimbangan asam basa seperti pada asidosis metabolik. Tanda dan gejala hiperventilasi adalah takikardia, napas pendek, nyeri dada, menurunnya konsentrasi, disorientasi, dan tinitus.

b. Hipoventilasi

Hipoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan oksigen tubuh atau untuk mengeluarkan karbondioksida dengan cukup. Biasanya terjadi pada keadaan atelektasis (kolaps paru). Tanda dan gejala pada keadaan hipoventilasi

(31)

adalah nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, kardiak disritmia, ketidakseimbangan elektrolit, kejang, dan kardiak arrest. (Tarwoto & Wartonah, 2011).

6. Pengertian terapi oksigen

Oksigen tersedia secara luas dan sering diresepkan oleh dokter dan paramedis. Bila diberikan dengan tepat oksigen dapat menyelamatkan jiwa. Seperti obat-obatan terdapat indikasi dan metode pemberian oksigen yang tepat. Dosis yang tidak tepat dan kurangnya pemantauan dapat berakibat serius sehingga diperlukan pemantauan untuk mendeteksi dan mengoreksi efek samping dengan cepat. Untuk menjamin keamanan dan efektifitas terapi oksigen, harus dicantumkan cara pemberian, laju alir, lama pemberian dan pemantauan terapi (Nastiti, dkk, 2008).

Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan (Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005).

Terapi oksigen adalah tindakan keperawatan degan cara memberikan oksigen ke dalam paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen. Terapi oksigen dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu kateter nasal, kanula nasal, dan masker (Saputra, Lyndon, 2013).

Tarwoto dan Wartonah (2011) mengatakan bahwa terapi oksigen merupakan pemberian oksigen lebih dari udara atmosfir atau FiO2 > 21%.

Tujuan terapi oksigen adalah mengoptimalkan oksigenasi jaringan dan mencegah asidosis respiratorik, mencegah hipoksia jaringan, menurunkan kerja napas dan kerja otot jantung, serta mempertahankan PaO2 > 60

mmHg atau SaO2 > 90%.

7. Tujuan pemberian oksigen

(32)

b. Meningkatkan oksigenasi jaringan. c. Meminimalkan asidosis respiratorik.

d. Menurunkan kerja otot pernapasan dan mencapai irama napas normal. e. Menstabilkan saturasi oksigen arteri (SaO2) lebih dari 90% dan

mempertahankan PaO2 lebih dari 60 mmHg untuk mencegah

terjadinya hipoksia sel dan jaringan, mengurangi kerja pernapasan dan jantung.

f. Memperbaiki hipoksemia pada kondisi pasien dengan PaCO2 yang

tinggi.

(Lusianah, dkk, 2012).

8. Indikasi pemberian terapi oksigen

Terapi oksigen yang diberikan pada pasien dengan :

a. Penyakit pernapasan (sianosis, takipnoe, hipoksemia, obstruksi jalan napas), pada pasien dengan PPOK diberikan oksigen dengan konsentrasi rendah (karena beresiko terjadinya hiperkarbia).

b. Penyakit kardiovaskuler (nyeri dada, infark miokardium, shock, takikardia, aritmia, kardiak arrest).

c. Penyakit hematologi (anemia berat, perdarahan). d. Defisit neurologis (CVA, injuri spinal, koma).

e. Hipoksemia yang ditandai dengan PaO2 (< 60 mmHg) atau SaO2 yang

menurun < 90% atau dengan hipoksemia misal pada klien dengan shock dan keracuna karbonmonoksida.

f. Hipotensi (tekanan darah sistolik <100 mmHg). g. Pernapasan <16 kali/ menit atau >20 kali/menit. h. Asidosis metabolik (bikarbonate <18 mmoL/L).

i. Penurunan fungsi pernapasan misal pada pasien post anastesi.

j. Peningkatan kebutuhan oksigen misalnya pada pasien multitrauma atau trauma berat, luka bakar atau infeksi berat.

(Lusianah, dkk, 2012).

(33)

Dapat dibagi menjadi 2 teknik yaitu : a. Sistem aliran rendah

Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan, menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe

pernapasan dengan patokan volume tidal pasien. Ditujukan untuk pasien yang memerlukan oksigen, namun masih mampu bernapas dengan pola pernapasan normal, misalnya pasien dengan volume tidal 500 ml dengan kecepatan pernapasan 16-20 kali/ menit. Contoh sistem aliran rendah adalah kanula nasal, sungkup muka sederhana, sungkup muka dengan kantong rebreathing dan sungkup muka dengan kantong non rebreathing.

b. Sistem aliran tinggi

Sistem aliran tinggi merupakan teknik pemberian oksigen dimana FiO2

lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernapasan, sehingga dengan teknik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur.

Contoh sistem aliran tinggi adalah sungkup muka dengan ventury. Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari

tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimoit untuk mengatur suplai oksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara pada alat ini sekitar 4-14 liter/ menit dengan konsentrasi 30%-55%

(Lusianah, dkk, 2012).

10. Jenis-jenis metode pemberian terapi oksigen a. Kateter nasal

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1-6 liter/ menit dengan konsentrasi 24%- 44%.

Keuntungan jenis kateter nasal : 1) Pemberian oksigen stabil.

(34)

3) Murah dan nyaman.

4) Dapat digunakan sebagai kateter penghisap.

Kerugian jenis kateter nasal:

1) Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 45%. 2) Teknik memasukkan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula

nasal.

3) Dapat terjadi distensi lambung.

4) Dapat terjadi iritasi selaput lendir nasofaring.

5) Aliran dengan lebih dari 6 liter/ menit dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringakan mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat.

b. Nasal kanul

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1-6 liter/ menit dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal.

Rata-rata aliran udara pada nasal kanul sebagai berikut : 1 liter/menit = 24% 2 liter/menit = 28% 3 liter/menit = 32% 4 liter/menit = 36% 5 liter/menit = 40% 6 liter/menit = 44%

Keuntungan jenis nasal kanul :

1) Pasien bebas makan, bergerak, berbicara.

2) Lebih mudah ditolerir pasien dan terasa nyaman.

Keruguan jenis nasal kanul :

1) Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%. 2) Suplai oksigen berkurang bila pasien bernapas melalui mulut. 3) Mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1 cm.

(35)

4) Dapat mengiritasi selaput lendir.

5) Aliran tinggi pasien merasa tidak nyaman.

c. Sungkup muka sederhana

Merupakan alat pemberian oksigen kontinu atau selang seling 5-8 liter/ menit dengan konsentrasi oksigen 40-60%.

Keuntungan jenis sungkup muka sederhana :

Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal dan sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.

Kerugian jenis sungkup muka sederhana : 1) Panas dan kurang nyaman.

2) Nekrosis kulit bila terlalu ketat.

3) Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2 kantong

oksigen bisa terlipat.

d. Masker rebreathing

Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 60-80% dengan aliran 8-12 liter/ menit bag harus dipertahankan mengembang.

Keuntungan jenis masker rebreathing :

Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir.

e. Masker Non Rebreathing.

Memberikan FIO2 90-100%, jangan ada kebocoran, reservoir bag tidak

boleh kolaps saat inspirasi.

Keuntungan jenis non rebreathing :

Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapai 100%. Kerugian :Kantong oksigen bisa terlipat.

(36)

(Lusianah, dkk, 2012).

11. Jenis- jenis kekurangan oksigen a. Hipoksemia

Hipoksemia yaitu penurunan konsentrasi oksigen dalam darah arteri (PaO2) atau saturasi oksigen (SaO2) dibawah nilai normal, SaO2 95%.

Tanda-tanda hipoksemia berdasarkan hasil analisa gas darah : Tabel 2.1 Hipoksemia berdasarkan hasil AGD

PaO2 (mmHg) SaO2 (%) Normal ≥80 ≥95 Hipoksemia <80 <95 Hipoksemia ringan 60-79 90-94 Hipoksemia sedang 40-59 75-89 Hipoksemia berat <40 <75 Sumber: Lusianah, dkk, 2012. b. Hipoksia

Hipoksia merupakan kekurangan oksigen ditingkat jaringan. Hipoksia terbagi menjadi berikut :

1) Hipoksia hipoksik (anoksia anoksik)

Hipoksia yang terjadi karena menurunnya kemampuan mengangkut oksigen. Hal ini terkait dengan eritrosit atau hemoglobin sebagai pegangkut oksigen. Anemia ini normal pada individu didaerah ketinggian. Gejala dan tanda hipoksia hipoksik dapat berua penurunan PCO2 darah arteri yang dapat menyebabkan

alkalosis repiratorik. Pada ketinggian 3700 meter dapat muncul gejala iritabilitas, 5500 meter muncul gejala hipoksia berat dan diatas 6100 meter, dapat kehilangan kesadaran. Efek lambat akibat ketinggian berupa sakit kepala, irritabilitas, insomnia, sesak nafas, serta mual dan muntah. Penyakit yang menyebabkan hipoksia hipoksik antara lain anemia sickle cell, keracunan karbondioksida, kelainan jantung kongenital, pneumotoraks atau obstruksi

(37)

bronkhial yang membatasi ventilasi, depresi neuron respirasi di medula oblongata oleh morfin dan obat-obat lain.

2) Hipoksia anemik

Terjadi apabila O2 darah arteri normal tetapi mengalami debervasi.

Ketika istirahat, hipoksia akibat anemia tidaklah berat, karena terdapat peningkatan kadar 2,3 DPG di dalam sel darah merah, kecuali apabila defisiensi hemoglobin sangat besar. Meskipun demikian, penderita anemia mungkin mengalami kesulitan cukup besar sewaktu melakukan latihan fisik karena adanya keterbatasan kemampuan meningkatnya pengangkutan oksigen kejaringan aktif. 3) Hipoksia stagnan

Terjadi akibat sirkulasi yang lambat yang mengakibatkan penurunan perfusi jaringan. Ketika terjadi syock maka akan terjadi penurunan aliran darah.

4) Hipoksia histotoksik

Hipoksia yang disebabkan oleh hambatan proses oksidasi jaringan yang biasanya disebabkan oleh keracunan sianida.

(Lusianah, dkk, 2012). c. Gagal napas

merupakan keadaan di mana terjadi kegagalan tubuh memenuhi kebutuhan oksigen karena pasien kehilangan kemampuan ventilasi secara adekuat sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas karbon dioksida dan oksigen. Gagal napas ditandai oleh adanya peningkatan CO2 dan penurunan O2 dalam darah secara signifikan. Gagal napas

dapat disebabkan oleh gangguan sistem saraf pusat yang mengontrol sistem pernapasan, kelemahan neuronmuskular, keracunan obat, gangguan metabolisme, kelemahan otot pernapasan, dan obstruksi jalan napas (Tarwoto & Wartonah, 2011).

d. Perubahan pola napas

pada keadaan normal, frekuensi pernapasan pada orang dewasa sekitar 18-22 kali/menit, dengan irama teratur, serta inspirasi lebih panjang

(38)

dari pada ekspirasi. Pernapasan normal disebut dengan eupneu. Perubahan pola napas dapat berupa :

1) Dispnea, yaitu kesulitan bernapas, misalnya pada pasien dengan asma.

2) Apnea, yaitu tidak bernapas.

3) Takipnea, yaitu pernapasan lebih cepat dari normal dengan frekuensi lebih dari 24 kali/menit.

4) Bradipnea, yaitu pernapasan lebih lambat (kurang) dari normal dengan frekuensi kurang dari 26 kali/menit.

5) Kussmaul, yaitu pernapasan dengan panjang ekspirasi dan inspirasi sama, sehingga pernapasan menjadi lambat dan dalam, misalnya pada penyakit diabetes melitus dan urimia.

6) Cheyne-stokes, merupakan pernapasan cepat dan dalam kemudian berangsur-angsur dangkal dan diikuti periode apnea yang berulang secara teratur. Misalnya pada keracunan obat bius, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.

7) Biot, adalah pernapasan dalam dan dangkal disertai masa apnea dengan periode yang tidak teratur, misalnya pada meningitis. (Tarwoto & Wartonah, 2011).

12. Faktor yang mempengaruhi oksigenasi

Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigenasi di antaranya faktor fisiologis, perkembangan, perilaku, dan lingkungan.

a. Faktor fisiologis

1) Menurunnya kapasitas oksigen seperti pada anemia.

2) Menurunnya konsentrasi oksigen yang diinspirasikan seperti pada obstruksi saluran napas bagian atas.

3) Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transpor oksigen terganggu.

4) Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka dan lain-lain.

(39)

5) Kondisi yang memengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan obesitas, muskuloskletal yang abnormal, serta penyakit kronis seperti TB paru.

b. Faktor perkembangan

1) Bayi premature, yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan.

2) Bayi dan toddler, adanya risiko infeksi saluran pernapasan akut. 3) Anak usia sekolah dan remaja, risiko infeksi saluran pernapasan

dan merokok.

4) Dewasa muda dan pertengahan, diet yang tidak sehat, kurang aktivitas, dan stres yang mengakibatkan penyakut jantung dan paru-paru.

5) Dewasa tua, adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, dan ekspansi paru menurun.

c. Faktor perilaku

1) Nutrisi, misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang tinggi lemak menimbulkan arteriosklerosis. 2) Latihan, dapat meningkatkan kebutuhan oksigen.

3) Merokok, nikotin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan koroner.

4) Penyalahgunaan substansi (alkohol dan obat-obatan, menyebabkan intake nutrisi Fe menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alkohol menyebabkan depresi pusat pernpasan.

5) Kecemasan, menyebabkan metabolisme meningkat. d. Faktor lingkungan

1) Tempat kerja (polusi). 2) Temperatur lingkungan.

3) Ketinggian tempat dari permukaan laut. (Tarwoto & Wartonah, 2011).

(40)

13. Hal-hal diperhatikan dalam terapi oksigen

a. Perbaiki area pemasangan selang oksigen untuk mengurangi risiko iritasi pada kulit.

b. Berikan oral hygiene dan barier protektif pada hidung dan bibir. c. Check sambungan selang.

d. Pertahankan konsentrasi oksigen sesuai program terapi.

e. Monitor keracunan karbondioksida pada pasien PPOK. Peningkatan PCO2 akan lebih mendepresi pusat pernapasan.

f. Hindari merokok karena dapat memudahkan terjadinya kebakaran. (Lusianah, dkk, 2012).

14. Analisis gas darah arteri

Ketidakseimbangan asam-basa sering ditemukan perawat ketika melakukan asuhan keperawatan pasien dengan gangguan sistem pernapasan. Untuk itu, perawat dalam melakukan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan perlu dibekali dengan pengetahuan tentang konsep kesimbangan asam-basa. Keseimbangan asam basa merupakan homeostasis kadar ion hidrogen (H+) pada cairan-cairan tubuh. Asam terus menerus diproduksi dalam metabolisme normal, sehingga nilai pH bervariasi pada masing-masing cairan tubuh, sedangkan pH darah sangat ditentukan oleh konsentrasi ion H+ ( Muttain, Arif, 2008).

a. Tujuan tindakan AGD

1) Mengetahui kondisi fungsi kardiovaskuler. 2) Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh.

3) Mengevaluasi pH darah (jika pH < 7.35 disebut asidosis dan jika pH >7.45 disebut alkalosis).

4) Mengevaluasi fungsi pernapasan (ventilasi). Jika PaCO2 > 45

mmHg disebut gagal napas/respiratory failure dan asidosis respiratorik dan jika PaCO2 < 35 mmHg disebut dengan

hiperventilasi atau alkalosis respiratorik.

5) Mengevaluasi proses metabolic. Jika serum HCO3. Jika serum

(41)

disebut asidosis metabolik. Jika serum HCO3 > 26 mE/L dan atau

kelebihan basa (base excess/BE) > -3 disebut alkalosis metabolik. Jika serum HCO3 > 26 mE/L dan/atau kelebihan basa (base

excess/BR) >-3 disebut alkalosis metabolik.

6) Menentukan gangguan primer dan kompensasinya.

7) Mengevaluasi oksigenasi. Status oksigenasi pasien dikaji dengan melihat nilai PaO2 dan SaO2. Normal PaO2 : 80-100 mmHg.

Normal SaO2 > 95% (menunjukkan oksigenasi jaringan adekuat). Jika PaO2 turun < 60 mmHg dan SaO2 turun disebut hipoksia.

(Lusianah, dkk, 2012). b. Status asam basa

1) Asidosis metabolik

Asidosis metabolik (kekurangan basa bikarbonat) merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh rendahnya pH (peningkatan konsentrasi hidrogen) dan rendahnya konsentrasi bikarbonat plasma. Konsentrasi HCO3- cairan ekstraseluler adalah 22 mEq/L

dan pH 7,35. Hal ini dapat diakibatkan oleh penambahan ion hidrogen atau kehilangan bikarbonat.

2) Alkalosis metabolik

Alkalosis metabolik (kelebihan HCO3) adalah gangguan sistemis

yang ditandai dengan peningkatan primer dari kadar bikarbonat plasma, sehingga terjadi peningkatan pH (penurunan ion H+). Konsentrasi HCO3 cairan ekstraseluler 26 mEq/L dan pH 7,45.

Alkalosis metabolik sering disertai dengan berkurangnya volume cairan ekstraseluler dan hipokalemia. Kompensasi pernapasan berupa peningkatan PCO2 dengan hiperventilasi, akan tetapi tingkat

hipoventilasi terbatas karena pernapasan terus berjalan oleh dorongan hipoksia.

3) Asidosis respiratorik

Asidosis respiratorik (kelebihan asam karbonat) ditandai dengan peningkatan primer PCO2 (hiperkapnea), sehingga terjadi

(42)

ginjal mengakibatkan peningkatan atau pembangkitan serum HCO3. Asidosis respiratorik dapat timbul secara akut ataupun

kronis. Hipoksemia (PO2 rendah) selalu menyertai asidosis

respiratorik jika pasien bernapas dalan udara ruangan. 4) Alkalosis respiratorik

Alkalosis repiratorik (kekurangan asam karbonat) adalah penurunan primer dari PCO2 (hipokapneu), sehingga terjadi

penurunan pH. Nilai PCO2 < 35 mmHg dan pH > 7,45.

Kompensasi ginjal berupa penururnan eksresi H+ dengan akibat lebih sedikit absorpsi HCO3-. Penuruan serum HCO3- berbeda-beda,

bergantung apakah keadannya akut atau kronis. Penyebab dasar terjadinya alkalosis respiratorik adalah hiperventilasi alveolar atau ekskresi CO2 yang berlebihan pada udara respirasi.

(Muttaqin, Arif, 2008).

15. Efek samping terapi oksigen

a. Kebutaan pada bayi karena oksigen dapat menstimulasi pertumbuhan pembuluh darah pada mata bayi bila berlebihan diberikan.

b. Keracunan oksigen : terjadi bila pemberian oksigen dilakukan terus-menerus selama 1-2 hari dengan fraksi lebih dari 50% . Kerusakan jaringan jaringan paru dapat terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN (polimorfonuklear) dan H2O2

melepaskan enzim protelotik dan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli. Sedangkan risiko yang lain seperti retensi gas karbondioksida dan atelektasis, apabila O2 80-100% diberikan kepada manusia selama

8 jam atau lebih, saluran nafas akan teriritasi, menimbulkan distres substrernal, kongesti hidung, nyeri tenggorokan dan batuk. Pemajanan selama 24-48 jam mengakibatkan kerusakan jaringan paru.

c. Depresi ventilasi. Pemberian oksigen yang tidak dimonitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat pada pasien dengan retensi karbondioksida dapat menekan ventilasi pasien yang megalami penurunan sensitifitas terhadap karbondioksidadan memiliki area paru

(43)

yang hipoksia kemudian terpasang ventilator yang beresiko mengalami depresi pernafasan. Hipoventilasi memicu terjadinya hiperkapnoe dan keracunan karbondioksida.

(Lusianah, dkk, 2012).

16. Evaluasi terapi oksigen

Kecukupan dan keefektifitas terapi oksigen dapat dilakukan secara langsung dan mudah bila mengerti prinsip homeostasis kardiopulmoner. Evaluasi dapat dilakukan dengan memperhatikan pemeriksaan fisik sistem kardiopulmonal, penilaian analisis gas darah dan pulse oksimeter .

Penilaian sistem kardiovaskular meliputi kesadaran, laju jantung, laju nadi dan perfusi perifer serta tekanan darah pada anak yang lebih besar. Kesadaran yang baik mununjukkan perfusi oksigen sistem saraf pusat yang adekuat. Laju jantung dan nadi yang mendekati normal munujukkan oksigenasi yang cukup sementara perfusi perifer dinilai dari perabaan kulit dan pengisian kapiler. Kulit yang kering dan hangat serta pengisian kapiler yang normal meunjukkan oksigenasi yang baik. Sedangkan sistem pernapasan dinilai dari laju napas dan ada tidaknya retraksi sela iga dan suprasternal.

Analisis gas darah merupakan instrumen penilai terapi oksigen yang paling tapat karena dapat memberikan informasi yang akurat mengenai pH, PaO2 dan PaCO2. Namun, interpretasi analisis gas darah harus

dilakukan bersama dengan penilaian klinik.

Pulse oximeter merupakan alat noninvasif yang paling baik dalam memantau anak dengan infusiensi karena dapat menunjukkan saturasi oksigen secara berkesinambungan. Pulse oximeter tidak menunjukkan status ventilasi akan tetapi menjadi indikator paling awal gangguan respirasi dan cukup dapat dipercaya pada terapi oksigen. (Rahajoe, N Nastiti, dkk, 2008).

(44)

17. Kontraindikasi terapi oksigen

Suplemen oksigen tidak direkomendasikan pada :

a. Pasien dengan keterbatasan jalan napas yang berat dengan keluhan utama dispneu, tetapi dengan PaO2 lebih atau sama dengan 60 mmHg

dan tidak mempunyai hipoksia kronik.

b. Pasien yang meneruskan merokok, karena kemungkinan prognosis yang buruk dan dapat meningkatkan risiko kebakaran.

c. Kanul oksigen dan kateter nasal tidak boleh diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal (misalnya, polip nasal, choanal atresia, dll) d. Kateter nasal tidak boleh diberikan pada pasien pada pasien dengan

trauma maksilofasial, pasien dengan atau dicurigai fraktur basis cranii, atau terdapat gangguan koagulan.

(Sudoyo, dkk, 2006).

18. Penghentian terapi oksigen

Oksigen harus dihentikan bila oksigenasi arterial adekuat dan pasien dapat bernapas dengan udara kamar (PaO2 > 8 kPa, SaO2 > 90%). Pada pasien

dengan risiko terjadi hipoksia jaringan, oksigen dihentikan bila status asam basa dan penilaian klinis fungsi organ vital membaik.

(Rahajoe, N Nastiti, dkk, 2008).

19. Tanggung jawab perawat dalam pemberian oksigen (UKCC 2000) a. Ketahui penggunaan terapeutik dari oksigen, dosis normalnya, efek

samping, hal-hal yang harus diperhatikan, kontraindikasi, dan bahayanya.

b. Yakinlah mengenai identitas pasien yang menerima oksigen.

c. Pastikan bahwa resep tidak ambigu dan tertulis dengan jelas. Hal ini mencakup persentase oksigen yang diminta, laju aliran, durasi terapi oksigen, kebutuhan humadifikasi, dan jenis sistem penghantaran oksigen, contohnya kanul hidung dan sungkup wajah.

(45)

d. Pertimbangkan metode, waktu dan dimulainya terapi oksigen sehubungan dengan latar belakang kondisi pasien dan ko-morbiditas lainnya.

e. Hubungi pemberi resep terapi oksigen, atau orang lain yang tepat, jika ditemukan kontraindikasi terhadap oksigen yang diresepkan. Jika pasien mengalami reaksi, jika pasien menolak terapi oksigen, dan/ atau penilaian pasien menunjukkan bahwa terapi oksigen tidak lagi diperlukan.

f. Buatlah pencatatan yang jelas, akurat dan segera saat oksigen diberikan, ditahan, atau ditolak oleh pasien. Pastikan bahwa semua informasi tertulis berhubungan, dapat dibaca, dan ditandatangani. Jika tugas ini didelegasikan maka tugas perawat untuk memastikan bahwa hal ini dilakukan.

g. Pantaulah tanda vital, observasilah pasien akan adanya perubahan apapun dalam gawat napas atau gejalanya.

h. Catatlah waktu, tanggal, metode pemberian, laju aliran, dan konsentrasi oksigen. Nilailah laju dan kedalaman pernapasan pasien, warna kulit, dan status mental, serta pola respirasi saat dimulainya terapi oksigen.

B. Konsep bronkopneumonia dengan gangguan oksigenasi

1. Pengertian bronkopneumonia

Bronkhopneumonia adalah suatu peradangan pada parenkim paru yang meluas sampai bronkioli atau dengan kata lain peradangan yang terjadi pada jaringan paru melalui cara penyebaran langsung melalui saluran pernapasan tau melalui hematogen sampai ke bronkus (Riyadi, Sujono & Sukarmin, 2009).

Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing. Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang

(46)

kesehatan, baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju (Fadhila A, 2013).

Menurut Price dalam Fadila (2013) bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru-paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing. Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada perbedan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis, dan strategi pengobatan.

2. Etiologi bronkopneumonia

Penyebab tersering bronkopmeumia pada anak adalah pneumokokus sedang penyebab lainnya antara lain : streptococcus, pneumoniae,

stapilococus aureus, haemophillus influenzae, jamur (seperti candida

albicans), dan virus. Pada bayi dan anak kecil ditemukan staphylococcus

aureus sebagai penyebab yang berat, serius dan sangat progresif dengan

mortalitas tinggi (Riyadi, Sujono & Sukarmin, 2009).

3. Manifestasi klinis bronkopneumonia

Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik turun sangat mendadak sampai 39-40 derajat celcius dan kadang-kadang disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu, pernapasan cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut, merintih dan sianosis. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, tetapi setelah beberapa hari mula-mula kering kemudian menjadi produktif. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari luas daerah auskultasi yang terkena. Pada perkusi sering tidak ditemukan kelainan dan pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronkhi basah nyaring halus atau sedang. Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara pernapasan pada auskultasi terdengar mengeras.

Gambar

Tabel 2.1 Hipoksemia berdasarkan hasil AGD
Tabel 2.2 Analisa data yang mungkin muncul adalah:  Data  Etilogi  Masalah  Data subjektif:  a
Tabel 2.3 Diagnosa Keperawatan NANDA, NIC-NOC 2016.  No  Diagnosa  Keperawatan  NOC  NIC  1  Ketidakefektif an  bersihan  jalan napas  Status  pernapasan: kepatenan  jalan  napas  Kriteria hasil:   1
Tabel 2.4 Deskripsi Asuhan Keperawatan pada Partisipan 1 dan Partisipan 2

Referensi

Dokumen terkait

Keluhan lain yang menyertai sesak napas ialah batuk, mengi, perut membesar, pernah sakit sendi yang berpindah, demam, sakit dada, sianosis dan apakah ada riwayat tersedak..

Hasil pengkajian pada pasien Tn. W.B didapatkan data pasien mengatakan bahwa ia sesak napas, disertai batuk dan nyeri dada. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan

Hasil pengkajian dengan sumber data catatan medis, pasien, dan keluarga pasien mendapatkan data subjektif : pasien mengatakan sesak, data objektif: pasien tampak sesak, RR: 28

Hasil: Identifikasi analisa data sebelum dilakukan penerapan Fisioterapi dada dan Batuk Efektif didapatkan bahwa skala derajat sesak 4 (sesak kadang berat) dengan RR

RDS ( Respiratory Distress Syndrom ) adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi prematur dengan tanda-tanda takipnea (&gt;60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada

Pasien pertama usia 52 tahun diagnosa awal pyopneumothorax datang dengan keluhan sesak napas dan rasa nyeri dibagian dada sebelah kanan pasien tersebut masih kuat

frekuensi dan kedalaman napas, adanya penggunaan otot bantu napas, adanya bunyi napas tambahan, saturasi O2 Subjektif Pasien mengatakan sesak napas mulai berkurang Objektif Pasien

DS: Pasien mengeluh sesak nafas dengan memegang dadanya DO:  Menggunakan alat bantu pernafasan  Terdapat retraksi otot sternocleidomastoid  RR 30x/menit  Nafas dangkal dan