• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancangan Keputusan & Rancangan Ketetapan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rancangan Keputusan & Rancangan Ketetapan"

Copied!
213
0
0

Teks penuh

(1)

0 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I

5/24/2016

IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA

KONGRES NASIONAL

FISIOTERAPI INDONESIA XII

Rancangan Keputusan

&

(2)

1 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I DAFTAR ISI

No

RANTUS

JUDUL

Hal.

1

1

Kuorum Dan Jumlah Suara

2

2

2

Tata Tertib Dan Agenda

3

3

3

Presidium

8

4

4

LPJ

9

5

5

Uang Pangkal Dan Iuran Anggota Periode

2016-2020

10

RANTAP

JUDUL

Hal.

1

1

Badan Hukum IFI

11

2

2

AD/ART IFI

13

3

3

Kode Etik Fisioterapi

64

4

4

Road Map IFI 2025

81

5

5

Program Kerja Pengurus 2016-2020

92

6

6

Struktur Organisasi Dan Tupoksi Kolegium

Fisioterapi Indonesia

103

7

7

Struktur Organisasi Dan Tupoksi Majelis

Kehormatan Disiplin Dan Etik Fisioterapi

Indonesia

107

8

8

Pedoman Resertifikasi Fisioterapi

115

9

9

Review Peraturan Perundang-undangan

138

10

10

Program Kerja Kolegium Fisioterapi Indonesia

141

11

11

Naskah Akademik Pendidikan Profesi Fisioterapi

142

12

12

Standar Kompetensi dan Standar Pelayanan

Fisioterapi Seminat

206

13

13

Tuan Rumah Kongres Nasional Fisioterapi

Indonesia XIII Tahun 2020

209

14

14

Kolegium dan Majelis Fisioterapi Indonesia

Periode 2016-2020

210

15

15

Pengurus Pusat Ikatan Fisioterapi Indonesia

Periode 2016-2020

211

16

16

Tim Perumus Hasil Kongres Nasional Fisioterapi

Indonesia XII

(3)

2 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I KEPUTUSAN

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII NOMOR : O1/ KEP / KONAS XII / V / 2016

tentang

KUORUM DAN JUMLAH SUARA

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

Menimbang : 1. Bahwa Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia dianggap sah apabila dihadiri oleh lebih dari stengah jumlah cabang yang ada di seluruh indonesia atau bilamana kuorum tidak tercapai maka Kongres dianggap sah setelah sidang ditunda paling lama 24 jam.

2. Jumlah suara dalam kongres berdasarkan profosional jumlah anggota .

Mengingat : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia.

Memperhatikan : 1. Laporan panitia Pelaksana Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII dan daftar peserta Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII.

2. Diskusi Sidang Pleno Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016.

Memutuskan

Menetapkan : 1. Quorum Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII telah tercapai dengan jumlah cabang yang hadir dan mengikuti Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII adalah ... cabang dari .... cabang yang ada

2. Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII sah dan dapat dilaksanakan sesuai dengan tata tertib dan agenda yang diputuskan.

3. Jumlah suara masing-masing pengurus cabang IFI sebagaimana terlampir dalam keputusan ini.

4. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Bali Pada tanggal : 24 Mei 2016 Panitia Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII

( Kadek Agustini Aryani, S.Ft ) (Ngakan Gde Sudarma, S.Ft, SH.,M.Si)

(4)

3 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I KEPUTUSAN

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII NOMOR : O2 / KEP / KONAS XII / V / 2016

tentang

TATA TERTIB DAN AGENDA

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

Menimbang : Bahwa untuk menjamin ketertiban dan kelancaran palaksanaan Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII, perlu adanya Tata Tertib dan Agenda Kongres yang disyahkan dalam keputusan kongres.

Mengingat : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia

Memperhatikan : Sidang Pleno Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016.

Memutuskan

Menetapkan : 1. Tata Tertib dan Agenda Acara Kongres Nasional X Ikatan Fisioterapi Indonesia sebagaimana terlampir dalam keputusan ini.

2. Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan.

Ditetapkan di : Bali Pada tanggal : 24 Mei 2016 Panitia Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII

( Kadek Agustini Aryani, S.Ft ) (Ngakan Gde Sudarma, S.Ft, SH.,M.Si)

(5)

4 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Lampiran 1 : Keputusan Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII Nomor : O2 / KEP / KONAS XII / V / 2016

TATA TERTIB

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

1. Kongres diselenggarakan oleh Pengurus Pusat IFI bersama Panitia Pelaksana Kongres yang dibentuk oleh pengurus IFI Pusat.

2. Panitia pelaksana kongres adalah pengurus cabang yang telah ditetapkan sebagai tuan rumah dalam kongres sebelumnya.

3. Pengurus pusat adalah penanggungjawab penyelenggaraan kongres.

4. Pengurus cabang sebagai Panitia pelaksana kongres bertanggung jawab atas teknis penyelenggarakan kongres

5. Kongres dihadiri oleh Pengurus Pusat, Ketua/Utusan Pengurus wilayah , Ketua/Utusan Pengurus Cabang, Ketua Kolegium Fisioterapi), Ketua Majelis Kehormatan dan disiplin Fisioterapi dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian, anggota biasa dan peserta lain atas undangan Pengurus IFI Pusat sebagai peninjau.

6. Kongres dianggap sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah cabang yang ada.

7. Bila persyaratan pada butir (f) tidak terpenuhi, maka kongres ditunda paling lama satu kali 24 jam, dan setelah itu Kongres dianggap sah dengan utusan cabang yang hadir.

8. Ketua Pengurus Cabang atau utusan pengurus cabang yang hadir dengan mandat resmi dari Ketua pengurus Cabang mempunyai hak bicara dan hak suara, sedangkan peninjau hanya mempunyai hak bicara atas permintaan Presidium.

9. Pengurus pusat, Ketua/ Utusan Pengurus Wilayah, Ketua Kolegium Fisioterapi, Ketua Majelis Kehormatan dan disiplin Fisioterapi, Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian mempunyai hak bicara dan tidak mempunyai hak suara. 10. Sidang pengesahan Kuorum, Pengesahan jumlah suara masing-masing cabang

dan daerah, pengesahan tata tertib Kongres dan Pemilihan Presidium dipimpin oleh Ketua Panitia Pelaksana Kongres Nasional Fisioterapi XII.

11. Selanjutnya Kongres dipimpin oleh Presidium yang dipilih dari dan oleh Peserta Kongres dalam sidang pleno.

(6)

5 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I

12. Presidium merupakan perwakilan seluruh wilayah Indonesia terdiri dari 7 orang yaitu (1) ketua panitia mewakili tuan rumah, (2) perwakilan propinsi DKI Jakarta, (3) Perwakilan Kepulauan Sumatera, (4) perwakilan daerah Jawa Barat dan Banten, (5) Perwakilan daerah Jawa tengah dan DIY, (6) Perwakilan Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. (7) Perwakilan kepulauan Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

13. Presidium terdiri dari satu orang ketua merangkap anggota, satu orang sekretaris merangkap anggota dan lima orang anggota.

14. Ketua dan Sekretaris Presidium dipilih oleh anggota presidium.

15. Mekanisme pengambilan keputusan dalam Kongres dilaksanakan dalam sidang pleno dan sidang khusus.

16. Apabila laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum Pengurus Pusat IFI dan Ketua Majelis Kolegium, Ketua Majelis Etik Fisioterapi dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian selesai dan telah mendapatkan penilaian oleh kongres, maka Pengurus Pusat IFI dan Ketua Majelis Kolegium, Ketua Majelis Etik Fisioterapi dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian dinyatakan demisioner dan berstatus sebagai peninjau.

17. Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum Pengurus Pusat IFI dan Ketua Kolegium Fisioterapi), Ketua Majelis Kehormatan Fisioterapi dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian), diserahkan kepada Presidium.

18. Apabila laporan pertanggungjawaban Ketua umum Pengurus Pusat IFI dan Ketua Kolegium Fisioterapi, Ketua Majelis Kehormatan dan Disiplin, Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian, dinyatakan ditolak oleh kongres maka yang bersangkutan tidak bisa dicalonkan kembali.

19. Banyaknya suara cabang dalam Kongres adalah

a. 5 sampai dengan 20 anggota : Satu Suara b. 21 sampai dengan 40 anggota : Dua Suara c. 41 sampai dengan 60 anggota : Tiga Suara d. 61 sampai dengan 80 anggota : Empat Suara

e. Selanjutnya setiap penambahan 20 anggota mendapat tambahan satu suara.

20. Seluruh peserta kongres berkewajiban mematuhi tata tertib Kongres dan menjaga ketertiban kongres.

21. Pimpinan kongres berhak untuk mengeluarkan peserta yang tidak mengindahkan tata tertib dan / atau dengan sengaja mengganggu jalannya kongres.

(7)

6 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Lampiran 2 : Keputusan Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII Nomor : O2/ KEP / KONAS XII / V / 2016

AGENDA

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII Selasa, 24 Mei 2016

No Waktu Kegiatan PJ

1 08.00 – 10.00 Registrasi

2 10.00 – 11.00 Seluruh Peserta Konas menempati tempat duduk yang telah disediakan

3 11.00 – 11.30 Pembukaan

a. Lagu Indonesia Raya

b. Mars IFI c. Laporan Panitia d. Do’a e. Foto Bersama 4 11.30 – 12.00 Sidang Pleno I a. Penetapan Kuorum

b. Penetapan Tata tertib c. Pemilihan Personalia

Presidium 5 12.00 – 12.15 Sidang Presidium

Penetapan Pimpinan Sidang 6 12.15 – 13.00 Ishoma / Cek In

7 13.00 – 13.30 Sidang Pleno II

Penetapan Agenda Konas XII

8 13.30 – 14.30 Laporan pertanggungjawaban Pengurus Pusat IFI

9 14.30 – 14.50 Laporan pertanggungjawaban Kolegium 10 14.50 – 15.10 Laporan pertanggungjawaban Majelis Etik

15.10 – 15.30 Laporan pertanggungjawaban Majelis Pelayanan 11 15.30 – 16.00 Break

12 16.00 – 18.00 Pandangan Umum Utusan Cabang /Wilayah 13 18.00 – 19.30 BREAK

14 19.30 – 20.30 Sidang Pleno III

Penetapan Panilaian LPJ Pengurus dan Majelis Pendemisioneran Pengurus dan Majelis

Penetapan Rantap dan Rantus Pembentukan Komisi

(8)

7 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Rabu, 25 Mei 2016

No Waktu Kegiatan PJPJ PJ

1 08.00 – 09.30 Sidang Pleno III

Laporan hasil Sidang Komisi I Ketetapan dan Keputusan Konas XII 2 09.30 – 10.00 Laporan hasil Sidang Komisi II

Ketetapan dan Keputusan Konas XII 3 10.00 – 10.30 Break

4 10.30 – 11.00 Laporan hasil Sidang Komisi III Ketetapan dan Keputusan Konas XII 5 11.00 – 11.30 Sidang Pleno IV

Pengesahan Tata tertib pemilihan pengurus Pusat dan Majelis

6 11.30 – 12.00 Pengajuan Nama Bakal Calon

7 12.00 – 12.30 Pengesahan Bakal Calon menjadi Calon 8 12.30 – 13.00 Musyawarah Pemilihan / voting

9 13.00 – 13.30 Sidang Pleno V – Paripurna

Pengukuhan pengurus pusat dan majelis terpilih oleh ketua presidium

Sertijab simbolis

Penyerahan hasil Kaunas XII dari Presidium ke Pengurus dan Majelis terpilih

Sambutan ketua Umum terpilih Do’a

(9)

8 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I KEPUTUSAN

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII NOMOR : O3 / KEP / KONAS XII / V / 2016

tentang PRESIDIUM

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

Menimbang : 1. Bahwa untuk kelancaran palaksanaan Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII, perlu dipilih dan dibentuk Presidium sebagai pimpinan Kongres yangditetapkan dan diputuskan dalam Kongres.

2. Bahwa Presidium dipilih dari dan oleh peserta Kongres yang merupakan perwakilan seluruh wilayah Indonesia Mengingat : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan

Fisioterapi Indonesia.

Memperhatikan : Sidang Pleno Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016 pemilihan Presidium

Memutuskan

Menetapkan : 1. 7 (tujuh) orang Presidium sebagai PimpinanSidang Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII yaitu ;

a. Tuan Rumah Konas XII : b. Kepulauan Sumatera : c. DKI Jakarta : d. Jawa Barat – Banten : e. Jawa Tengah – DIY : f. Jawa Timur, Bali, NTT, NTB :

g. Kalimantan, Maluku, Sulawesi dan Papua : 2. Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan.

Ditetapkan di : Bali Pada tanggal : 24 Mei 2016 Panitia Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII

( Kadek Agustini Aryani, S.Ft ) (Ngakan Gde Sudarma, S.Ft, SH.,M.Si)

(10)

9 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I KEPUTUSAN

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII NOMOR : O4 / KEP / KONAS XII / V / 2016

tentang

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

PENGURUS PUSAT IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA PERIODE 2012-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

Menimbang : 1. Bahwa dengan berakhirnya masa jabatan Pengurus Pusat masa bhakti 2012-2016 maka perlu malaporkan pertanggungjawaban dihadapan Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016,

2. Bahwa laporan pertanggungjawaban tersebut perlu dinilai oleh peserta Kongres Nasional Ikatan Fisioterapi Indonesia.

Mengingat : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia.

Memperhatikan : 1. Pandangan Umum dan penilaian Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2008

2. Sidang Pleno Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016 pemilihan Presidium

Memutuskan

Menetapkan : 1. Menerima Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IFI pusaT, Ketua Majelis Etik, Ketua Majelis Kolegium dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan dan Keprofesia periode 2012-2016, dengan beberapa catatan sebagaimana terlampir.

2. Dengan penyampaian dan pembahasan laporan pertanggungjawaban tersebut oleh Kongres maka Kepengurusan IFI Pusat periode 2012-2016 dinyatakan demisioner.

3. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan.

Ditetapkan di : Bali Pada tanggal : 24 Mei 2016 Presidium Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII Ketua : ... Sekretaris : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ...

(11)

10 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I KEPUTUSAN

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII NOMOR : O5 / KEP / KONAS XII / V / 2016

tentang

RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

Menimbang : 1. Bahwa dalam rangka melaksanakan kegiatan organisasi guna mencapai tujuan diperlukan berbagai sumber daya.

2. Bahwa dalam menjalankan organisasi perlu direncanakan anggaran pendapatan dan belanja organisasi.

Mengingat : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia

Memperhatikan : Sidang Pleno Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016 pemilihan Presidium

Memutuskan

Menetapkan : 1. Rencana anggaran pendapatan dan belanja Ikatan Fisioterapi Indonesia dibuat setiap tahun.

2. RAPB dibuat oleh pengurus Pusat IFI dan disyahkan oleh Musyawarah Kerja Nasional atau Musyawarah Pimpinan Pusat.

3. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan.

4. Hal-hal yang belum diatur dalam ketetapan ini akan diatur kemudian dengan peraturan khusus yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Fisioterapi Indonesia sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang berlaku.

Ditetapkan di : Bali Pada tanggal : 24 Mei 2016 Presidium Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII Ketua : ... Sekretaris : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ...

(12)

11 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I KETETAPAN

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII NOMOR : O1 / TAP / KONAS XII / V / 2016

tentang BADAN HUKUM

IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

Menimbang : Bahwa dalam rangka memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia organisasi profesi harus mempunyai legalitas sebagai badan hukum yang terdaftar di Lembaga pemerintah yang menaungi organisasi profesi.

Mengingat : 1. Bahwa Ikatan Fisioterapi Indonesia belum berstatus sebagai badan hukum yang terdaftar di lembaga negara yang menaugi organisasi profesi yaitu Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia

2. Status Badan Hukum Organisasi Profesi Fisioterapi sangat diperlukan untuk memperjuangkan dan melindungi kepentingan anggota

3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia.

Memperhatikan : Sidang Pleno Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016 pemilihan Presidium

Memutuskan

Menetapkan : 1. Ikatan Fisioterapi Indonesia harus mempunyai legalitas sebagai badan hukum yang terdaftar di Lembaga pemerintah yang menaungi organisasi profesi.

2. Memberi wewenang kepada pengurus pusat Ikatan fisioterapi Indonesia periode 2016-2020 untuk mengurus status Badan Hukum Ikatan Fisioterapi Indonesia

3. Apabila dalam mengurus status badan hukum sebagaimana disebut dalam butir 2 (dua) mengharuskan penggantian nama organisasi makan direkomendasikan nama sebaga berikut :

a) PFI : Persatuan Fisioterapi Indonesia

b) PFNI : Persatuan Fisioterapi Nasional Indonesia c) PFRI : Persatuan Fisioterapi Republik Indonesia d) PERFI : Perkumpulam Fisioterapi Indonesia 4. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan.

(13)

12 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I

diatur kemudian dengan peraturan khusus yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Fisioterapi Indonesia sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang berlaku.

Ditetapkan di : Bali Pada tanggal : 24 Mei 2016 Presidium Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII Ketua : ... Sekretaris : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ...

(14)

13 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I KETETAPAN

KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII NOMOR : O2 / TAP / KONAS XII / V / 2016

tentang

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

Menimbang : 1. Bahwa dalam rangka melaksanakan kegiatan organisasi guna mencapai tujuan diperlukan berbagai sumber daya.

2. Bahwa pedoman kerja yang mendasar diatur dalam Anggaran Dasar yang penjabarannya berada dalam Anggaran Rumah Tangga

Mengingat : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia harus selaludisesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada sehingga perlu ditinjau dan disempurnakan.

Memperhatikan : Sidang Pleno Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tahun 2016 pemilihan Presidium

Memutuskan

Menetapkan : 6. Mencabut Ketetapan Kongres Nasional Fisioterapi XI Indonesia Tahun 2012 Nomor : TAP/01/KONAS XI/VI/2012 tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia

7. Mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Fisioterapi Indonesia hasil Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII tanggal 24 Mei 2016 di Jakarta sebagaimana terlampir dalam ketetapan ini. 8. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan.

9. Hal-hal yang belum diatur dalam ketetapan ini akan diatur kemudian dengan peraturan khusus yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Fisioterapi Indonesia sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang berlaku.

Ditetapkan di : Bali Pada tanggal : 24 Mei 2016 Presidium Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII Ketua : ... Sekretaris : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ... Anggota : ...

(15)

14 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Lampiran :

KETETAPAN KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XI

NOMOR : TAP / O1 / KONAS XI / VI / 2012

Lampiran :(draft Rantap )

KETETAPAN KONGRES NASIONAL FISIOTERAPI INDONESIA XII

NOMOR : O1 / TAP / KONAS XII / V / 2016

ANGGARAN DASAR

IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA

ANGGARAN DASAR

IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA

MUKADIMAH MUKADIMAH

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami Fisioterapis Indonesia bertekad untuk mengisi kemerdekaan Indonesia demi tercapainya kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Bahwa untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera yang berasaskan Pancasila, berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia, perlu meningkatkan pelayanan profesi fisioterapi terhadap masyarakat dengan berpegang teguh kepada Sumpah Profesi Fisioterapis dan Kode Etik Fisioterapi Indonesia.

Bahwa peningkatan pelayanan profesi fisioterapi terhadap masyarakat, hanya dapat dilakukan jika semangat persatuan dan kesatuan Fisioterapis Indonesia yang telah terwujud sejak tahun 1968, dapat ditumbuhkembangkan dengan jalan mempersatukan semua potensi fisioterapi Indonesia dalam satu wadah organisasi.

Untuk mencapai cita-cita, maksud

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami Fisioterapis Indonesia bertekad untuk mengisi kemerdekaan Indonesia demi tercapainya kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Bahwa untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera yang berasaskan Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia, perlu meningkatkan pelayanan profesi fisioterapi terhadap masyarakat dengan berpegang teguh kepada Sumpah Profesi Fisioterapis dan Kode Etik Fisioterapi Indonesia.

Bahwa peningkatan pelayanan profesi fisioterapi terhadap masyarakat, hanya dapat dilakukan jika semangat persatuan dan kesatuan Fisioterapis Indonesia yang telah terwujud sejak tahun 1968, dapat ditumbuhkembangkan dengan jalan mempersatukan semua potensi fisioterapi Indonesia dalam satu wadah organisasi.

(16)

15 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I dan tujuan organisasi tersebut disusun

kebijakan-kebijakan, upaya-upaya serta langkah-langkah yang konkrit dan terarah dan berpedoman pada Anggaran Dasar sebagai berikut :

dan tujuan organisasi tersebut disusun kebijakan-kebijakan, upaya-upaya serta langkah-langkah yang konkrit dan terarah dan berpedoman pada Anggaran Dasar sebagai berikut :

BAB I

NAMA, WAKTU, DAN KEDUDUKAN Pasal 1

Organisasi ini bernama “ Ikatan Fisioterapi Indonesia” disingkat IFI dan dalam bahasa inggris disebutIndonesian Physiotherapy Association disingkat IPA

BAB I

NAMA, WAKTU, DAN KEDUDUKAN Pasal 1

Organisasi ini bernama “ Ikatan Fisioterapi Indonesia” disingkat IFI dan dalam bahasa inggris disebut Indonesian Physiotherapy Association disingkat IPA

Masukan :

Segera pastikan legalitas

Tetapkan nama yang digunakan ( ikatan fisioterapi/fisioterapis ?

Dunia mengunakan Physiotherapy bukan physiotherapist

Penggunaan kata ikatan ? persatuan ? perhimpunan ?

Rekomendasi : jika nama tdk berubah maka menggunakan.

IFI : Ikatan Fisioterapi Indonesia PFI : Persatuan Fisioterapi Indonesia PFNI : Persatuan Fisioterapi Nasional Indonesia

PFRI : Persatuan Fisioterapi Republik Indonesia

PERFI : Perkumpulan Fisioterapi Indonesia

Pasal 2

Organisasi fisioterapi didirikan di Surakarta pada tanggal 10 Juni 1968

Pasal 2

Organisasi fisioterapi didirikan di Surakarta pada tanggal 10 Juni 1968

(17)

16 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I untuk jangka waktu tidak di tentukan dan

telah disahkan pemerintah.

untuk jangka waktu tidak di tentukan dan telah disahkan pemerintah.

Pasal 3

Induk organisasi IFI berkedudukan di Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 3

Induk organisasi IFI berkedudukan di Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB II ATRIBUT

Pasal 4

Atribut organisasi terdiri dari Lambang dan Panji Organisasi, Hymne dan Mars di tetapkan oleh Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia

BAB II ATRIBUT

Pasal 4

Atribut organisasi terdiri dari Lambang dan Panji Organisasi, Hymne dan Mars di tetapkan oleh Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia

Hymne : dilombakan BAB III

ASAS, DASAR, DAN SIFAT Pasal 5

Azas dan Dasar Ikatan Fisioterapi Indonesia ialahPancasila dan

Undang-Undang Dasar 1945

BAB III ASAS DAN DASAR

Pasal 5

Azas dan Dasar Ikatan Fisioterapi Indonesia Pancasila dan

Undang-Undang Dasar 1945

Pasal 6

a. Ikatan Fisioterapi Indonesiaadalah satu-satunya organisasi profesi fisioterapi di Indonesia yang bersifat bebas tidak berafiliasi kepada organisasi politik tertentu

b. Ikatan Fisioterapi IndonesiaMerupakan Wadah pengembangan profesi, dan komunikasi dengan pemerintah dan pihak pihak lain yang terkait, mengenai hal hal yang berhubungan dengan pengembangan keilmuan, Pendidikan profesi, pelayanan

BAB IV STATUS

Pasal 6

a. Ikatan Fisioterapi Indonesia adalah satu-satunya organisasi profesi fisioterapi di Indonesia yang bersifat bebas tidak berafiliasi kepada organisasi politik tertentu

b. Ikatan Fisioterapi Indonesia merupakan wadah pengembangan profesi, dan komunikasi dengan pemerintah dan pihak lain yang terkait, mengenai hal hal yang

(18)

17 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Fisioterapi, peraturan Fisioterapi, dan

pengabdian kepada masyarakat.

berhubungan dengan pengembangan keilmuan, Pendidikan profesi, pelayanan Fisioterapi, peraturan Fisioterapi, dan pengabdian kepada masyarakat.

BAB IV

TUJUAN DAN USAHA Pasal 7

Tujuan

IFI bertujuan untuk mewujudkan kesehatan nasional di bidang Fisioterapi yang luhur, profesional, mandiri dan setara untuk semua kalangan dalam wadah Ikatan Fisioterapi Indonesia pada seluruh strata dengan peran dan fungsi :

1. Sebagai mitra strategis pemerintah dan swasta, yang secara aktif mengupayakan usaha-usaha bagi pembangunan Indonesia menuju derajat kesehatan masyarakat yang bermartabat khususnya di bidang Fisioterapi.

2. Membimbing, membina, mengembangkan dan meningkatkan kemampuan, kegiatan dan kepentingan anggotanya

BAB V

TUJUAN,PERAN DAN FUNGSI Pasal 7

1. IFI bertujuan untuk mewujudkan kesehatan nasional dengan pelayanan fisioterapi profesional, mandiri dan bermartabat.

2. IFI berperan sebagai mitra strategis pemerintah dan swasta, yang secara aktif mengupayakan usaha-usaha bagi pembangunan Indonesia menuju derajat kesehatan masyarakat yang bermartabat khususnya di bidang Fisioterapi.

3. IFI berfungsi sebagai pemersatu, pembina dan pemberdaya fisioterapi di Indonesia

Pasal 8 Usaha

IFI melakukan usaha-usaha dan kegiatan kegiatan sebagai berikut :

1. Menjalin kerjasama secara aktif dengan Pemerintah, organisasi-organisasi profesi kesehatan,

Asosiasi-BAB VI USAHA Pasal 8

IFI melakukan usaha-usaha dan kegiatan kegiatan sebagai berikut :

1. Menjalin kerjasama secara aktif dengan Pemerintah,

(19)

organisasi-18 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I asosiasi dan badan badan lainya serta

pihak pihak terkait.

2. Memberikan masukan kepada pemerintah dalam membentuk kebijakan dan bekerjasama dalam pelaksanaan program-program kesehatan.

3. Menegakkan, memelihara dan mengawasi terlaksananya Kode Etik Profesi Fisioterapi Indonesia dengan Menjunjung tinggi Sumpah Profesi Fisioterapis.

4. Melakukan komunikasi aktif dan kerjasama dengan organisasi- organisasi sejenis baik antar negara, tingkat regional maupun Internasional di bidang riset, pengetahuan, pendidikan, tehnologi dan profesi. 5. Menetapkan sikap, menyalurkan

aspirasi dan kepentingan anggota, menyampaikan pendapat dan usulan kepada pemerintah.

6. Meningkatkan mutu pendidikan fisioterapi, penelitian dan

pengembangan ilmu fisioterapi, serta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan itu.

7. Melaksanakan upaya upaya untuk kesejahteraan anggota.

8. Melaksanakan usaha-usaha lain yang berguna untuk mencapai tujuan sepanjang tidak bertentangan dengan asas, dasar, dan sifat IFI.

9. Ikut aktif menciptakan dan memelihara sistem kesehatan nasional

organisasi profesi kesehatan, asosiasi-asosiasi dan badan badan lainya serta pihak pihak terkait.

2. Memberikan masukan kepada pemerintah dalam membentuk kebijakan dan bekerjasama dalam pelaksanaan program-program kesehatan.

3. Menegakkan, memelihara dan mengawasi terlaksananya Kode Etik Profesi Fisioterapi Indonesia dengan menjunjung tinggi sumpah profesi fisioterapis.

4. Melakukan komunikasi aktif dan kerjasama dengan organisasi- organisasi sejenis baik antar negara, tingkat regional maupun Internasional di bidang riset, pengetahuan, pendidikan, tehnologi dan profesi. 5. Menetapkan sikap, menyalurkan

aspirasi dan kepentingan anggota, menyampaikan pendapat dan usulan kepada pemerintah.

6. Meningkatkan mutu pendidikan fisioterapi, penelitian dan

pengembangan ilmu fisioterapi, serta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan itu.

7. Melaksanakan upaya upaya untuk kesejahteraan anggota.

8. Melaksanakan usaha-usaha lain yang berguna untuk mencapai tujuan sepanjang tidak bertentangan dengan asas, dasar, dan status IFI.

(20)

19 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I

yang bermartabat. memelihara sistem kesehatan nasional yang bermartabat.

BAB V KEANGGOTAAN

Pasal 9 Anggota IFI terdiri dari : 1. Anggota Biasa

2. Anggota luar biasa 3. Anggota kehormatan.

BAB VII KEANGGOTAAN

Pasal 9 Anggota IFI terdiri dari : 1. Anggota Biasa

2. Anggota Luar Biasa 3. Anggota Kehormatan. BAB VI

SUSUNAN DAN PERANGKAT ORGANISASI

Pasal 10 Susunan organisasi Susunan organisasi IFI terdiri secara berjenjang adalah :

1. Kongres Nasional

2. Musyawarah Kerja Nasional 3. Musyawarah Daerah 4. Musyawarah Cabang 5. Musyawarah Komisariat 6. Anggota BAB VIII STRUKTUR ORGANISASI Pasal 10 Kekuasaan

Kekuasaan tertinggi organisasi secara berjenjang adalah sebagai berikut :

1. Kongres Nasional, 2. Musyawarah Daerah, 3. Musyawarah Cabang dan 4. Musyawarah Komisariat.

Pasal 11

Perangkat organisasi

Perangkat organisasi IFI terdiri dari ; 1. Organisasi IFI terdiri dari badan

legislatif, eksekutif, yudikatif serta organisasi binaan.

2. Badan legislatif adalah Kongres, Musyawarah Kerja Nasional, Musyawarah Daerah dan Musyawarah Cabang, serta Musyawarah Komisariat.

3. Badan eksekutif adalah Pengurus

Pasal 11

Struktur Kepemimpinan

1. Tingkat Pusat

a. Terdiri dari Pengurus Pusat IFI, Kolegium Fisioterapi (KF), Majelis Kehormatan Etik dan Disiplin Fisioterapi (MKDF) dan Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) yang masing-masing memiliki wewenang dan tanggung jawab sesuai tugasnya. b. Dalam menyelenggarakan

(21)

20 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Pusat IFI, Pengurus Daerah dan

Pengurus cabang dan Pengurus Komisariat.

4. Badan Yudikatif adalah Majelis Kolegium, Majelis Etik Fisioterapi dan majelis Pengembangan Pelayanan dan Keprofesian Fisioterapi.

5. Organisasi binaan adalah berupa Persatuan, Perhimpunan dan Komunitas.

tugasnya, kepemimpinan di tingkat pusat berkoordinasi secara terintegrasi melalui Musyawarah Pimpinan Pusat (MPP) yang terdiri Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat IFI, Ketua Kolegium Fisioterapi (KF), Ketua Majelis Kehormatan dan Disiplin Fisioterapi (MKDF) dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK), yang dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Pusat IFI.

c. Pengurus Pusat IFI adalah

pimpinan organisasi IFI di tingkat pusat, yang melaksanakan

kegiatan eksekutif organisasi dan

bertanggung jawab untuk dan atas nama organisasi.

d. Kolegium Fisioterapi (KF) adalah

salah satu unsur pimpinan di tingkat pusat yang berperan dan bertanggung jawab untuk

mengkoordinasikan kegiatan

internal organisasi dalam

bidang pendidikan dan

penelitian.

e. Majelis Kehormatan dan Disiplin

Fisioterapi (MKDF) adalah salah

satu unsur pimpinan di tingkat pusat yang berperan dan bertanggung jawab untuk

mengkoordinasikan kegiatan

internal organisasi dalam

(22)

21 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I

Fisioterapi.

f. Majelis Pengembangan

Pelayanan Keprofesian (MPPK)

adalah salah satu unsur pimpinan di tingkat pusat yang berperan dan bertanggung jawab untuk

mengkoordinasikan kegiatan

internal organisasi dalam

bidang pengembangan

pelayanan keprofesian yang

bermutu.

2. Tingkat Provinsi

Terdiri dari Pengurus Daerah

3. Tingkat Kabupaten/Kota

Terdiri dari Pengurus Cabang.

Pasal 12 Organisasi Binaan

Organisasi binaan adalah berupa perhimpunan dan komunitas.

BAB VII KEKAYAAN

Pasal 12 Kekayaan organisasi :

1. Kekayaan organisasi terdiri dari benda bergerak dan benda-benda tidak bergerak yang dimiliki organisasi.

2. Kekayaan yang bersifat uang. 3. dan lain-lain, misalnya Hak cipta.

BAB IX KEKAYAAN

Pasal 13 Kekayaan organisasi :

1. Kekayaan organisasi terdiri dari benda bergerak dan benda-benda tidak bergerak yang dimiliki organisasi.

2. Kekayaan yang bersifat uang 3. dan lain-lain, misalnya hak cipta. Pasal 13

Sumber keuangan IFI diperoleh dari :

Pasal 14

(23)

22 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I 1. Uang pangkal anggota.

2. Uang iuran anggota.

3. Sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

1. Uang pangkal anggota. 2. Uang iuran anggota.

3. Sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

BAB VIII KONGRES

Pasal 14

Kongres Nasional adalah badan legislatif tertinggi IFI dan merupakan musyawarah utusan daerah dan cabang-cabang IFI.

BAB X KONGRES

Pasal 15

Kongres Nasional adalah badan legislatif tertinggi IFI dan merupakan musyawarah utusan daerah dan cabang.

BAB XI

LAMBANG DAN LAGU Pasal 16

Lambang Ikatan Fisioterapi Indonesia ditetapkan oleh kongres dan diatur tersendiri sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar ini.

Pasal 16

Lagu Ikatan Fisioterapi Indonesia ditetapkan oleh kongres

Pasal 17

Lagu Mars dan Hympne Ikatan Fisioterapi Indonesia ditetapkan oleh kongres.

BAB X

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR Pasal 17

1. Perubahan anggaran dasar hanya dapat dilakukan dalam kongres.

2. Rencana perubahan tersebut diajukan oleh pengurus pusat atau pengurus cabang kepada kongres.

BAB XII

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR Pasal 18

1. Perubahan anggaran dasar hanya dapat dilakukan dalam kongres.

2. Usulan perubahan diajukan oleh pengurus pusat, pengurus daerah, pengurus cabang.

(24)

23 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I 3. Rencana perubahan dari pengurus

cabang harus sudah diterima pengurus pusat selambat-lambatnya 3(tiga) bulan sebelum kongres

3. Usulan perubahan harus sudah diterima pengurus pusat selambat-lambatnya 3(tiga) bulan sebelum kongres

BAB XI

PEMBUBARAN ORGANISASI IFI Pasal 18

Pembubaran organisasi IFI hanya dapat dilakukan oleh kongres khusus

BAB XIII

PEMBUBARAN ORGANISASI IFI Pasal 19

Pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh kongres yang diadakan khusus untuk itu, atas usul dari sekurang-kurangnya setengah jumlah cabang

BAB XI

ATURAN TAMBAHAN Pasal 19

Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar, dimuat dalam Anggaran Rumah Tangga IFI sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar IFI

Pasal 20

Pengesahan anggaran dasar ditetapkan pada Kongres.

BAB XIV

ATURAN TAMBAHAN Pasal 20

Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar, dimuat dalam Anggaran Rumah Tangga IFI sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar IFI

Pasal 21

Pengesahan anggaran dasar ditetapkan pada Kongres

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA BAB I

KEANGGOTAAN Pasal 1 Ketentuan :

1. Anggota biasa IFI adalah Warga Negara Indonesia yang mempunyai ijasah

BAB I KEANGGOTAAN

Pasal 1 Ketentuan :

1. Anggota biasa IFI adalah Warga Negara Indonesia yang mempunyai ijasah

(25)

24 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Sebagai Fisioterapis, pendidikan

minimal D III Fisioterapi yang sah dan diakui oleh pemerintah Republik Indonesia.

2. Anggota luar biasa IFI terdiri dari Fisioterapis Warga Negara Asing yang melakukan pelayanan fisioterapi di Indonesia atas ijin pemerintah Republik Indonesia.

3. Anggota kehormatan IFI adalah mereka yang telah ditetapkan oleh IFI sebagai anggota kehormatan atas dasar jasa-jasanya terhadap pengembangan fisioterapi.

pendidikan Fisioterapi minimal Diploma Tiga lulusan dalam atau luar negeri yang sah dan diakui oleh pemerintah Republik Indonesia.

2. Anggota luar biasa IFI terdiri dari Fisioterapis Warga Negara Asing yang melakukan pelayanan fisioterapi di Indonesia atas ijin pemerintah Republik Indonesia.

3. Anggota kehormatan IFI adalah mereka yang telah ditetapkan oleh IFI sebagai anggota kehormatan atas dasar jasa-jasanya terhadap pengembangan fisioterapi.

Pasal 2

Tata cara penerimaan anggota :

1. Anggota biasa dapat diterima oleh Pengurus Cabang setempat setelah mendaftarkan diri secara tertulis dan membuat pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IFI dengan cara mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pangkal serta melampirkan ijazah pendidikan Fisioterapi terakhir yang diakui pemerintah. Selanjutnya dilaporkan ke pengurus pusat untuk diketahui dan dicatat diregistrasi.

2. Anggota luar biasa dapat diterima oleh Pengurus cabang setempat setelah mendaftarkan diri secara tertulis dan membuat pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan

Pasal 2

Tata cara penerimaan anggota :

1. Anggota biasa dapat diterima oleh Pengurus Cabang setempat setelah mendaftarkan diri secara tertulis dan membuat pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IFI dengan cara mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pangkal serta melampirkan ijazah pendidikan Fisioterapi terakhir yang diakui pemerintah dan bagi lulusan luar negeri harus melampirkan surat keterangan penyetaraan. Selanjutnya dilaporkan ke pengurus daerah dan

pengurus pusat untuk diketahui dan dicatat diregistrasi.

2. Anggota luar biasa dapat diterima oleh pengurus cabang setempat setelah

(26)

25 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Anggaran Rumah Tangga IFI dengan

cara mengisi formulir ke pengurus Pusat serta melampirkan ijazah pendidikan Fisioterapi terakhir yang diakui pemerintah, serta mendapat ijin dari pemerintah untuk mendapatkan pertimbangan dan disahkan oleh Pengurus Pusat IFI.

3. Bilamana ditempat calon tersebut berada belum ada Pengurus cabang IFI, pendaftaran dilakukan melalui Pengurus Cabang terdekat yang se-daerah.

4. Anggota Kehormatan diusulkan oleh Pengurus Cabang terdekat ke pengurus pusat atau langsung oleh Pengurus Pusat untuk disahkan oleh kongres dalam bentuk Surat Keputusan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan terhadap jasa-jasa yang bersangkutan pada pengembangan fisioterapi Indonesia dalam hal pelayanan, regulasi, pendidikan dan penemuan teknologi fisioterapi. Kriteria pertimbangan diatur tersendiri dalam surat keputusan Pengurus Pusat IFI.

mendaftarkan diri secara tertulis dan membuat pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IFI dengan cara mengisi formulir ke pengurus Pusat serta melampirkan ijazah pendidikan Fisioterapi terakhir dan surat keterangan penyetaraan yang diakui pemerintah, serta mendapat ijin dari pemerintah untuk mendapatkan pertimbangan dan disahkan oleh Pengurus Pusat IFI dengan tembusan ke pengurus daerah.

3. Bilamana di tempat calon tersebut berada belum ada Pengurus cabang IFI, pendaftaran dilakukan melalui pengurus cabang terdekat.

4. Anggota Kehormatan diusulkan oleh pengurus cabang atau pengurus daerah terdekat ke pengurus pusat atau langsung oleh Pengurus Pusat untuk disahkan oleh kongres dalam bentuk Surat Keputusan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan terhadap jasa-jasa yang bersangkutan pada pengembangan fisioterapi Indonesia dalam hal pelayanan, regulasi, pendidikan dan penemuan teknologi fisioterapi. Kriteria pertimbangan diatur tersendiri dalam surat keputusan Pengurus Pusat IFI.

Pasal 3 Hak Anggota :

1. Anggota biasa berhak memilih dan

Pasal 3 Hak Anggota :

(27)

26 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I dipilih, mengeluarkan pendapat,

mengajukan usul atau pernyataan secara lisan maupun tertulis kepada pengurus dan mengikuti semua kegiatan organisasi.

2. Anggota luar biasa dan anggota kehormatan tidak berhak memilih dan dipilih, berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pernyataan secara lisan maupun tertulis kepada pengurus dan mengikuti semua kegiatan organisasi. 3. Tiap Anggota berhak mendapatkan

perlindungan dan pembelaan dalam melaksanakan tugas IFI dan atau pekerjaan di bidang Fisioterapi.

4. Anggota biasa berhak atas informasi yang berkaitan dengan profesi

dipilih, mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pernyataan secara lisan maupun tertulis kepada pengurus dan mengikuti semua kegiatan organisasi.

2. Anggota luar biasa dan anggota kehormatan tidak berhak memilih dan dipilih, berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pernyataan secara lisan maupun tertulis kepada pengurus dan mengikuti semua kegiatan organisasi. 3. Tiap Anggota berhak mendapatkan

perlindungan dan pembelaan dalam melaksanakan tugas IFI dan atau pekerjaan di bidang Fisioterapi.

4. Anggota biasa berhak atas informasi yang berkaitan dengan profesi

Pasal 4 Kewajiban anggota :

1. Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban menjunjung tinggi dan mengamalkan sumpah Profesi fisioterapi dan kode etik Fisioterapi Indonesia, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta segala peraturan dan keputusan IFI.

2. Anggota biasa wajib membayar uang pangkal dan uang iuran.

3. Anggota biasa wajib mengikuti kegiatan yang diadakan oleh cabang setempat minimal 1x dalam setahun. 4. Anggota biasa, anggota luar biasa dan

anggota kehormatan berkewajiban

Pasal 4 Kewajiban anggota :

1. Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban menjunjung tinggi dan mengamalkan sumpah Profesi fisioterapi dan kode etik Fisioterapi Indonesia, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta segala peraturan dan keputusan IFI.

2. Anggota biasa dan anggota luar biasa

wajib membayar uang pangkal dan uang iuran.

3. Anggota biasa dan anggota luar biasa

wajib mengikuti kegiatan yang diadakan oleh cabang setempat minimal 1x dalam setahun.

(28)

27 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I menjaga dan mempertahankan

kehormatan IFI.

4. Anggota biasa, anggota luar biasa dan anggota kehormatan berkewajiban menjaga dan mempertahankan kehormatan IFI.

BAB II

RANGKAP ANGGOTA DAN RANGKAP JABATAN

Pasal 5

Anggota IFI dapat merangkap menjadi anggota dan / atau rangkap jabatan pada organisasi profesi kesehatan lain sepanjang tidak bertentangan dengan kehormatan dan etika fisioterapi serta tidak mengganggu tugasnya.

Pasal 5 Kehilangan Keanggotaan :

1. Anggota biasa kehilangan keanggotaannya karena meninggal dunia, atas permintaan sendiri atau diberhentikan oleh pengurus pusat IFI atas rekomendasi dari pengurus cabang.

2. Anggota luar biasa kehilangan keanggotaannya karena meninggal dunia, atas permintaan sendiri atau diberhentikan oleh pengurus pusat IFI dan/atau atas rekomendasi IFI cabang.

3. Anggota dapat diberhentikan karena bertindak mencemarkan nama baik IFI atau bertentangan denganAnggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Sumpah Profesi Fisioterapi atau Kode Etik Fisioterapi Indonesia.

Pasal 6 Kehilangan Keanggotaan :

1. Anggota biasa kehilangan keanggotaannya karena meninggal dunia, atas permintaan sendiri atau diberhentikan oleh pengurus pusat IFI atas rekomendasi dari pengurus cabang dan atau pengurus daerah.

2. Anggota luar biasa kehilangan keanggotaannya karena meninggal dunia, atas permintaan sendiri atau diberhentikan oleh pengurus pusat IFI dan/atau atas rekomendasi pengurus cabang dan atau pengurus daerah.. 3. Anggota dapat diberhentikan karena

bertindak mencemarkan nama baik IFI atau bertentangan denganAnggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Sumpah Profesi Fisioterapi atau Kode Etik Fisioterapi Indonesia.

(29)

28 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I 4. Keanggotaan anggota biasa dapat

diberhentikan sementara apabila yang bersangkutan tidak aktif selama 4 tahun berturut-turut.

5. Anggota biasa yang status keanggotaannya diberhentikan sementara maka yang bersangkutan kehilangan hak-haknya sebagai anggota biasa.

4. Keanggotaan anggota biasa dapat diberhentikan sementara apabila yang bersangkutan tidak menjalankan kewajiban selama dua tahun berturut-turut.

5. Anggota biasa yang status keanggotaannya diberhentikan sementara maka yang bersangkutan kehilangan hak-haknya sebagai anggota biasa.

Pasal 6

Tata cara pemberhentian anggota :

1. Pemberhentian anggota atas permintaan sendiri hanya dapat dilakukan setelah anggota yang bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis.

2. Seorang anggota dapat dikenakan pemberhentian sementara oleh pengurus cabang sesudah didahului dengan peringatan secara tertulis. 3. Paling lama 6 (enam) bulan sesudah

pemberhentian sementara, pengurus cabang dapat merehabilitasi atau mengusulkan IFI pusat untuk mengukuhkan pemberhentian.

Sanksi Pasal 7

1. Anggota dapat diberi sanksi karena : a. Bertindak bertentangan dengan

ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan IFI.

b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik IFI.

2. Tata cara pemberian sanksi dan pembelaan akan diatur dalam ketentuan dan peraturan tersendiri.

Pasal 7 Pembelaan :

1. Anggota yang dikenakan pemberhentian sementara dapat membela diri dihadapan rapat anggota pengurus cabang dengan atau tanpa meminta bantuan kepada majelis etik fisioterapi Indonesia.

Pasal 8 Pembelaan :

1. Anggota yang dikenakan

pemberhentian sementara dapat membela diri dihadapan rapat anggota pengurus cabang dengan atau tanpa meminta bantuan kepada majelis kehormatan dan disiplin fisioterapi

(30)

29 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I 2. Anggota yang dikenakan

pemberhentian diberi kesempatan untuk meminta bantuan kepada majelis etik fisioterapi Indonesia.

3. Bila perlu anggota yang dikenakan pemberhentian dapat mengajukan pembelaan pada kongres.

4. Pengajuan pembelaan sebagaimana dimaksud pada butir (3) diajukan ke pengurus pusat IFI selambat-lambatnya 3 bulan sebelum pelaksanaan kongres

5. Keputusan kongres dapat membatalkan atau memperkuat tindakan pemberhentian tersebut dengan ketentuan bahwa keputusan yang sah adalah keputusan yang disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah utusan yang hadir pada kongres.

Indonesia.

2. Anggota yang dikenakan

pemberhentian diberi kesempatan untuk meminta bantuan kepada majelis etik fisioterapi Indonesia.

3. Bila perlu anggota yang dikenakan pemberhentian dapat mengajukan pembelaan pada kongres.

4. Pengajuan pembelaan sebagaimana dimaksud pada butir (3) diajukan ke pengurus pusat IFI selambat-lambatnya 3 bulan sebelum pelaksanaan kongres

5. Keputusan kongres dapat

membatalkan atau memperkuat tindakan pemberhentian tersebut dengan ketentuan bahwa keputusan yang sah adalah keputusan yang disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah utusan yang hadir pada kongres.\

Pembelaan anggota diatur tersendiri oleh majlis kehormatan dan disiplin

BAB II ORGANISASI

Pasal 8 Kongres :

1. Status

a. Kongres merupakan kekuasaan tertinggi organisasi

b. Kongres adalah musyawarah Nasional Fisioterapi Indonesia yang diwakili oleh utusan daerah, utusan

BAB II

KEKUASAAN ORGANISASI Pasal 8

KONGRES 1. Status

a. Kongres merupakan kekuasaan tertinggi organisasi

b. Kongres adalah musyawarah nasional fisioterapi indonesia yang diwakili oleh utusan daerah,

(31)

30 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I cabang, dan diberi nama Kongres

Nasional Fisioterapi Indonesia

c. Kongres diadakan sekali dalam 4(empat) tahun.

d. Peserta Kongres terdiri dari Pengurus Pusat, Utusan Pengurus Daerah, Utusan Pengurus Cabang dan Majelis.

e. Dalam keadaan luar biasa, dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul sekurang-kurangnya satu cabang dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah cabang yang ada.

f. Pengurus pusat menyelenggarakan kongres luar biasa selambat-lambatnya 3 bulan setelah surat usulan diterima.

utusan cabang, dan diberi nama Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia

c. Kongres diadakan sekali dalam 4(empat) tahun.

d. Peserta Kongres terdiri dari Pengurus Pusat, Utusan Pengurus Daerah, Utusan Pengurus Cabang,

Kolegium Fisioterapi (KF), Majelis Kehormatan Dan Disiplin Fisioterapi (MKDF) dan Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK).

e. Utusan cabang menampung aspirasi anggota dan masyarakat yang berada di daerah tempat cabang berada, untuk disampaikan pada Kongres Fisioterapi Indonesia

f. Dalam keadaan luar biasa, dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul sekurang-kurangnya satu cabang dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya setengah dari jumlah cabang yang ada secara tertulis.

g. Pengurus pusat menyelenggarakan kongres luar biasa selambat-lambatnya tiga bulan setelah surat usulan diterima.

2. Kekuasaan dan wewenang

a. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Pusat dan Majelis. Ketentuan diterima atau tidaknya Laporan pertanggungjawaban serta

2..Kekuasaan dan wewenang

a. Menilai pertanggung jawaban Pengurus Pusat dan ketua Kolegium Fisioterapi, ketua Majelis Kehormatan dan

(32)

31 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I tindaklanjutanya diatur dalam

keputusan kongres.

b. Menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Pedoman-pedoman Pokok serta Garis-garis Besar Haluan dan Program Kerja IFI.

c. Memilih dan Menetapkan Ketua Umum, dan Sekretarisa Umum IFI d. Menetapkan Ketua Majelis Kolegium

Fisioterapi, Mejelis Etik Fisioterapi, dan Majelis Pengembangan Pelayanan dan Keprofesian.

e. Menetapkan tuan rumah penyelenggara kongres berikutnya. f. Menetapkan pengangkatan

seseorang sebagai anggota kehormatan IFI.

g. Membuat keputusan membatalkan atau memperkuat tindakan pemberhentian keanggotaan oleh pengurus pusat.

h. Membentuk dan menetapkan panitia ad hock, badan-badan khusus/ badan kelengkapan IFI. i. Menyetujui dan menetapkan

Persatuan, Perhimpunan dan komunitas sebagai organisasi binaan Ikatan Fisioterapi Indonesia.

Disiplin Fisioterapi dan ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian.

b. Laporan pertanggung jawaban serta tindak lanjutanya diatur dalam keputusan kongres. c. Menetapkan Anggaran Dasar

dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Pedoman-pedoman Pokok serta Garis-garis Besar Haluan dan Program Kerja IFI. d. Memilih dan Menetapkan Ketua

Umum, dan Wakil Ketua IFI e. Menetapkan Ketua Kolegium

Fisioterapi, Ketua Mejelis Kehormatan dan Disiplin Fisioterapi, dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan dan Keprofesian.

f. Menetapkan tuan rumah penyelenggara kongres berikutnya.

g. Menetapkan pengangkatan seseorang sebagai anggota kehormatan IFI.

h. Mengukuhkan, menon-aktifkan atau membubarkan perhimpunan dalam lingkungan IFI , ketentuan diatur tersendiri oleh Kolegium fisioterapi.

i. Membuat keputusan membatalkan atau memperkuat tindakan pemberhentian keanggotaan oleh pengurus

(33)

32 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I pusat.

j. Membentuk dan menetapkan panitia ad hock, badan-badan khusus/ badan kelengkapan IFI.

k. Menyetujui dan menetapkan Persatuan, Perhimpunan dan komunitas sebagai organisasi binaan Ikatan Fisioterapi Indonesia.

3. Tata Tertib Kongres

a. Kongres diselenggarakan oleh Pengurus IFI pusat bersama Panitia Pelaksana Kongres yang dibentuk oleh pengurus IFI Pusat.

b. Panitia pelaksana kongres adalah pengurus cabang dari cabang yang telah ditetapkan sebagai tuan rumah dalam kongres sebelumnya. c. Pengurus pusat adalah

penanggungjawab penyelenggaraan kongres.

d. Pengurus cabang sebagai Panitia pelaksana kongres bertanggung jawab atas teknis penyelenggarakan kongres

e. Kongres dihadiri oleh pengurus IFI Pusat, Ketua Majelis, Ketua Pengurus Daerah Ketua Pengurus Cabang atau yang mewakili sebagai utusan pengurus daerah/cabang dengan mandat resmi tertulis dari Ketua Pengurus Daerah/Cabang, Anggota biasa sebagai peninjau dan peserta lain atas undangan

3..Tata Tertib Kongres

a. Kongres diselenggarakan oleh Pengurus Pusat IFI bersama Panitia Pelaksana Kongres yang dibentuk oleh pengurus IFI Pusat. b. Panitia pelaksana kongres adalah

pengurus cabang yang telah ditetapkan sebagai tuan rumah dalam kongres sebelumnya.

c. Pengurus pusat adalah penanggungjawab penyelenggaraan kongres.

d. Pengurus cabang sebagai Panitia pelaksana kongres bertanggung jawab atas teknis penyelenggarakan kongres

e. Kongres dihadiri oleh Pengurus Pusat, Ketua/Utusan Pengurus Daerah, Ketua/Utusan Pengurus Cabang, Ketua Kolegium Fisioterapi), Ketua Majelis Kehormatan dan disiplin Fisioterapi dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian, anggota biasa dan peserta lain atas

(34)

33 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I Pengurus IFI Pusat.

f. Kongres dianggap sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah cabang yang ada.

g. Bila persyaratan pada butir (f) tidak terpenuhi, maka kongres ditunda paling lama satu kali 24 jam, dan setelah itu Kongres dianggap sah dengan utusan cabang yang hadir.

h. Ketua IFI Cabang atau Utusan pengurus IFI cabang yang hadir dengan mandat resmi dari Ketua IFI Cabang mempunyai hak bicara dan hak suara, sedangkan peninjau hanya mempunyai hak bicara atas permintaan Presidium.

i. Eksekutif dan yudikatif serta pengurus daerah mempunyai hak bicara dan tidak mempunyai hak suara.

j. Sidang pengesahan Kuorum, Pengesahan suara, pengesahan tata tertib Kongres dan Pemilihan Presidium dipimpin oleh Ketua Panitia Pelaksana Kongres yang akan berlangsung.

k. Selanjutnya Kongres dipimpin oleh Presidium yang dipilih dari dan oleh Peserta Kongres dalam sidang lengkap yang diadakan khusus untuk pemilihan Presidium.

l. Mekanisme pengambilan keputusan dalam Kongres dilaksanakan dalam sidang pleno

undangan Pengurus IFI Pusat sebagai peninjau.

f. Kongres dianggap sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah cabang yang ada dan lebih dari setengah dari jumlah pengurus daerah.

g. Bila persyaratan pada butir (f) tidak terpenuhi, maka kongres ditunda paling lama satu kali 24 jam, dan setelah itu Kongres dianggap sah dengan utusan cabang yang hadir.

h. Ketua Pengurus Cabang atau utusan pengurus cabang yang hadir dengan mandat resmi dari Ketua pengurus Cabang mempunyai hak bicara dan hak suara, sedangkan peninjau hanya mempunyai hak bicara atas permintaan Presidium.

i. Ketua/Utusan Pengurus Daerah

mempunyai hak bicara dan hak suara.

j. Pengurus pusat, Ketua Kolegium Fisioterapi, Ketua Majelis Kehormatan dan disiplin Fisioterapi, Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian mempunyai hak bicara dan tidak mempunyai hak suara. k. Sidang pengesahan Kuorum,

Pengesahan jumlah suara masing-masing cabang dan daerah, pengesahan tata tertib Kongres dan

(35)

34 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I dan sidang khusus.

m. Apabila laporan

Pertanggungjawaban Pengurus Pusat IFI dan Ketua Majelis selesai, maka Pengurus Pusat IFI dan Ketua Majelis yang bersangkutan dinyatakan demisioner setelah mendapat penilaian oleh kongres dan selanjutnya Pengurus Pusat IFI dan ketua Majelis demisioner tersebut berstatus sebagai peninjau.

n. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Pusat IFI dan Ketua Majelis diserahkan kepada Presidium.

o. Apabila laporan pertanggungjawaban Pengurus Pusat IFI dan Ketua Majelis dinyatakan tidak diterima oleh kongres maka ketua umum dan ketua Majelis tidak bisa dicalonkan kembali.

p. Untuk pembubaran IFI harus Kongres khusus yang dihadiri oleh utusan cabang yang mewakili sekurang-kurangnya ¾ (tiga per empat) dari jumlah anggota. Dan keputusan sah apabila disetujui oleh paling kurang 2/3 ( dua per tiga ) dari jumlah anggota yang hadir/terwakili.

q. Banyaknya suara cabang dalam Kongres adalah

1) 5 sampai dengan 20 anggota

Pemilihan Presidium dipimpin oleh Ketua Panitia Pelaksana Kongres. l. Selanjutnya Kongres dipimpin oleh

Presidium yang dipilih dari dan oleh Peserta Kongres dalam sidang pleno.

m. Presidium merupakan perwakilan seluruh wilayah Indonesia yaitu (1) ketua panitia mewakili tuan rumah, (2) perwakilan propinsi DKI Jakarta, (3) Perwakilan Kepulauan Sumatera, (4) perwakilan daerah Jawa Barat dan Banten, (5) Perwakilan daerah Jawa tengah dan DIY, (6) Perwakilan Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. (7) Perwakilan kepulauan Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. n. Presidium terdiri dari satu orang

ketua merangkap anggota, satu orang sekretaris merangkap anggota dan lima orang anggota. o. Ketua dan Sekretaris Presidium

dipilih oleh anggota presidium. p. Mekanisme pengambilan

keputusan dalam Kongres dilaksanakan dalam sidang pleno dan sidang khusus.

q. Apabila laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum Pengurus Pusat IFI dan Ketua Kolegium Fisioterapi), Ketua Majelis Kehormatan dan disiplin Fisioterapi) dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan

(36)

35 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I : Satu Suara

2) 21 sampai dengan 40 anggota : Dua Suara

3) 41 sampai dengan 60 anggota : Tiga Suara

4) 61 sampai dengan 80 anggota : Empat Suara

5) Selanjutnya setiap satu sampai dengan 20 anggota mendapat tambahan satu suara

Keprofesian), selesai, maka Pengurus Pusat IFI dan Ketua Kolegium FisioterapiKetua Majelis Kehormatan Etik dan disiplin Fisioterapi (MKEF) dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian, dinyatakan demisioner dan berstatus sebagai peninjau setelah mendapat penilaian oleh kongres.

r. Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum Pengurus Pusat IFI dan Ketua Kolegium Fisioterapi), Ketua Majelis Kehormatan Fisioterapi dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian), diserahkan kepada Presidium.

s. Apabila laporan pertanggungjawaban Ketua umum Pengurus Pusat IFI dan Ketua Kolegium Fisioterapi, Ketua Majelis Kehormatan dan Disiplin, Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian, dinyatakan ditolak oleh kongres maka yang bersangkutan tidak bisa dicalonkan kembali.

t. Untuk pembubaran IFI harus Kongres khusus yang dihadiri oleh utusan cabang yang mewakili sekurang-kurangnya ¾ (tiga per empat) dari jumlah anggota. Dan keputusan sah apabila disetujui oleh paling kurang 2/3 ( dua per

(37)

36 | R a n t u s d a n R a n t a p K O N A S F i s i o t e r a p i I n d o n e s i a X I I

tiga ) dari jumlah peserta yang hadir/terwakili.

u. Banyaknya suara cabang dalam Kongres adalah

1) 5 sampai dengan 20 anggota : Satu Suara

2) 21 sampai dengan 40 anggota : Dua Suara

3) 41 sampai dengan 60 anggota : Tiga Suara

4) 61 sampai dengan 80 anggota : Empat Suara

5) Selanjutnya setiap penambahan 20 anggota mendapat tambahan satu suara dengan jumlah maksimal 15 suara.

MENDORONG PEMEKARAN CABANG

v. Banyaknya suara daerah dalam kongres adalah satu suara per daerah.

Pasal 9 Musyawarah Daerah 1. Status

a. Musyawarah daerah merupakan badan Legislatif tertinggi tingkat daerah.

b. Musyawarah daerah adalah musyawarah pada daerah daerah tingkat I atau propinsi.

c. Musyawarah daerah diadakan sekali dalam 4 (empat) tahun. d. Dalam keadaan luar biasa

musyawarah daerah dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul

Pasal 9

MUSYAWARAH DAERAH 1. Status

a. Musyawarah daerah (MUSDA) merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di tingkat daerah.

b. Musda adalah musyawarah utusan cabang-cabang dalam satu daerah. c. Musda diadakan sekali dalam 4

(empat) tahun.

d. Dalam keadaan luar biasa musda dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul atau inisiatif satu cabang

Gambar

Tabel 1. KKNI dan Learning Outcome Lulusan Diploma III Fisioterapi
Tabel 2.   KKNI dan Learning Outcome Lulusan D-IV Fisioterapi  KKNI
Tabel 4.  Deskriptor KKNI Lulusan S-2 Fisioterapi
Tabel 5.  Deskriptor KKNI Lulusan S-3 Fisioterapi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Sekolah Vokasi : Sekolah vokasi atau pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi program diploma yang menyiapkan mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian

Persepsi Lulusan Tentang Efektifitas Manajemen Pembelajaran Pada Pendidikan Vokasi Program Diploma Iii Politeknik.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Persepsi Lulusan Tentang Efektifitas Manajemen Pembelajaran Pada Pendidikan Vokasi Program Diploma Iii Politeknik.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Pendidikan vokasi adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi, Institut, atau Universitas yang diarahkan terutama mempersiapkan peserta didik untuk memiliki

Sekaitan dengan hal tersebut di atas, maka sangat diperlukan adanya Standar Kompetensi Lulusan bagi pendidikan tenaga kesehatan khususnya pendidikan Diploma III

Menyelenggarakan pendidikan vokasi untuk menghasilkan lulusan yang kompete, memiliki semangat terus berkembang, bermoral, berjiwa kewirausahaan dan berwawasan lingkungan..

Dalam rangka mendukung penyelenggaraan uji kompetensi sebagai kebijakan pemerintah sekaligus menyiapkan lulusan pendidikan tinggi diploma keperawatan dalam uji kompetensi,

Kompetensi Lulusan Program Pascasarjana UAD membuka Program S2 Magister Pendidikan Vokasi MPV UAD untuk menjawab tantangan tersebut, yaitu menghasilkan sumber daya menusia dalam bidang