• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kota merupakan tempat atau ruang bagi manusia menjalankan semua aktivitasnya. Dalam kota manusia melakukan aktivitas berdagang, sekolah, belajar, bekerja, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Dengan banyaknya aktivitas, tentu banyak juga ruang-ruang kecil untuk mewadahi aktivitas-aktivitas tersebut. Ruang-ruang kecil tersebut dapat berupa gedung sekolah sebagai ruang belajar, pasar sebagai ruang untuk berdagang dan bersosialisasi, atau taman kota sebagai ruang rekreasi atau sosialisasi bagi warga. Ruang-ruang kecil tersebut jika digabungkan menjadi satu area akan membentuk suatu kota dengan bangunan dan aktivitas yang padat. Tidak salah jika Mirsa (2012) mendefinisikan kota secara fisik adalah suatu wilayah terbangun yang dengan kepadatan lebih tinggi dibandingkan dengan area disekitarnya. Hal ini karena memang kota secara umum memiliki kepadatan yang sangat tinggi akibat dari banyaknya manusia yang tinggal di dalamnya dan aktivitas yang ada.

Kota yang memiliki kepadatan tinggi ini, baik kepadatan bangunan ataupun kegiatannya memiliki faktor dan elemen-elemen pembentukan yang berbeda pada setiap kota-kota yang ada di dunia ini. Beberapa kota ada yang terbentuk karena faktor historis (sejarah), faktor geografis, atau faktor kebudayaan. Ada juga yang terbentuk dan berkembang karena ada faktor aktivitas manusia seperti aktivitas ekonomi, politik, dan aktivitas sosialnya. Lynch melihat elemen pembentuk kota dengan rasa yang berbeda, menurut Lynch elemen pembentuk kota itu terdiri dari

path (jalan), linkage (hubungan), landmark (penanda), edges (tepi), dan district

(kawasan) (1960: 47-48). Spreiregen (1965) memberikan pendapat yang berbeda dimana elemen pembentuk visual kota terdiri dari bentuk (urban space, massa bangunan, karakter bangunan), aktivitas, bentuk roman (keistimewaan ruang), path,

(2)

2 pusat, intrusion, change, dan improvement. Semua faktor atau elemen tersebut kebanyakan mengerucut pada dua aspek yaitu aspek fisik dan aspek sosial.

Seperti halnya kota-kota lain yang memiliki banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu kota, Cirebon juga merupakan salah satu kota yang letaknya di pesisir utara pulau Jawa dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Cirebon terbentuk karena memiliki faktor sejarah yang sangat kuat dalam pembentukannya. Sunan Gunungjati atau syeikh Syarif Hidayatullah merupakan tokoh pembesar kota Cirebon ini. Menurut sejarahnya kota Cirebon ada karena pangeran Cakrabuana (uak sunan Gunungjati) yang membangun permukiman Islam di daerah Cirebon saat ini, tepatnya di Desa Astana Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon yang letaknya di pesisir utara Jawa bagian barat. Permukiman Islam ini lamban laun ditinggali oleh banyak orang dari berbagai daerah disekitarnya. Pedagang asing baik dari dalam maupun luar negri mulai masuk ke permukiman tersebut untuk berdagang. Banyak juga diantara pedagang asing tersebut yang menetap tinggal disana, sehingga permukiman tersebut semakin hari semakin ramai dan pada akhirnya sampai saat ini menjadi kota yang besar dengan julukan atau brand sebagai kota wali.

Julukan kota wali di Cirebon merupakan julukan satu-satunya yang ada di tataran Jawa bagian barat. Wali sendiri berjumlah Sembilan atau dalam bahasa Jawa disebut dengan walisanga yang tersebar di seluruh pulau Jawa dan sunan Gunungjati merupakan satu-satunya sunan di Jawa bagian Barat serta membesarkan kota Cirebon. Julukan kota wali merupakan julukan atau brand bagi kota yang dulunya kota tersebut merupakan daerah yang dibesarkan oleh para wali yang notabennya sebagai penyebar agama Islam. Di kota wali ini termasuk Cirebon, dulunya pernah ada sosok penyebar agama Islam yang bertugas mengajarkan ilmu dan nilai-nilai Islam kepada seluruh penduduk kota, sehingga nilai-nilai Islam yang terwujud dalam aktivitas masyarakat dan beberapa visual fisik kota muncul di kota wali ini. Beberapa kegiatan yang memiliki nilai religius telah menjadi bagian dari hidup masyarakat

(3)

3 Cirebon. Selain itu, kenampakan fisik yang unik serta membawa nilai dan semangat Islam di dalamnya cukup memberikan gambaran bahwa Cirebon adalah kota wali, meskipun dalam kehidupan sehari-hari Cirebon juga muncul sebagai kota pelayaran dan perdagangan.

Cirebon sebagai kota pelayaran dan perdagangan juga sebagai kota wali dapat diindikasikan sebagai kota Islami di Jawa. Banyak bangunan-bangunan peninggalan kesultanan Islam pertama di Jawa barat ini seperti kraton kesultanan, masjid agung sang cipta rasa, gua sunyaragi dan banyak petilasan-petilasan para sunan serta orang-orang penting pendiri Cirebon yang memiliki latar belakang Islam. Peninggalan-peninggalan tersebut memberikan warna pada visualisasi dan menjadi penanda bagi kota Cirebon yang dijuluki sebagai kota wali atau kota Islami di Jawa. Peninggalan-peninggalan sejarah yang ada mungkin saja adalah beberapa elemen pembentuk kota Cirebon itu sendiri.

Berbicara tentang elemen pembentuk kota, maka hal ini akan berhubungan dengan konsep urban design. Urban design merupakan proses kegiatan kreatif, analisis dan penyelesaian masalah yang dilakukan secara objektif dan seimbang dalam penataan ruang (Carmona dan Tiesdell, 2007: 1-2). Dalam proses urban design terdapat elemen-elemen tertentu yang harus diperhatikan agar terwujud penataan ruang yang seimbang. Contoh tersebut adalah dalam konsep urban design Shirvani yang mengemukakan bahwa elemen urban design terdiri dari tata guna lahan (land

use), bentuk dan massa bangunan (building form and massing, sirkulasi dan parkir (Circulation and parking), ruang terbuka (open space), jalur pedestrian (pedestrian ways), pendukung aktivitas (activity support), penandaan (signage), dan preservasi (preservation) (1985: 7-8). Selain konsep urban design tersebut masih banyak konsep urban design lain seperti konsep urban design dari Jane Jacob, Edward Relph, dan

(4)

4 Konsep urban design yang digunakan dalam proses analisis dan perencanaan kota ataupun kawasan saat ini adalah konsep urban design yang telah diteliti dan dikembangkan oleh ahli tata ruang sebelumnya. Konsep urban design yang diadopsi dalam proses analisis dan perencanaan kota di Indonesia saat ini adalah konsep yang berasal dari Amerika dan Eropa. Konsep tersebut biasanya dapat disesuaikan pada kondisi kawasan tertentu yang memiliki karakteristik yang berbeda dari tempat penelitian awal konsep tersebut. Pada umumnya karakteristik ruang di beberapa wilayah sama, sehingga konsep urban design yang digunakan dalam proses perencanaannya juga dapat diterapkan dan diaplikasikan pada wilayah perencanaan.

Akan tetapi dalam situasi kondisi dan wilayah tertentu konsep urban design tersebut tidak sepenuhnya dapat diterapkan dan diadopsi karena pada suatu kawasan tertentu memiliki sejarah dan karakteristik yang sangat berbeda dalam pembentukan kotanya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Cirebon adalah Kota wali atau kota Islami di Jawa yang merupakan salah satu wilayah spesial dan tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan menggunakan konsep pembentuk kota dari barat (teori-teori dari barat), karena ia memiliki nilai-nilai tertentu. Pendekatan sistem/konsep pembentuk kota dari barat lebih menekankan pada efisiensi dan pembangunan rasional (rational development), sedangkan pendekatan kawasan kota Islami lebih pada konsep ketentanggan (neighborhood), budaya, dan komunitas yang berkembang dalam suatu ruang tertentu (Kiet, 2010).

Melihat bagaimana keunikan Cirebon kota wali sebagai kota Islami di Jawa, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini. Ada banyak penelitian-penelitian yang mengambil kota wali sebagai objek amatan, namun kebanyakan dari penelitian tersebut membahasnya dalam perpspektif sosial humaniora dan sejarah. Harapan dari penelitian ini adalah sebagai sarana untuk membuka dialog yang membahas tentang kota wali sebagai kota Islami di Jawa atau kota-kota Islami lain secara visual (keruangan) yang sampai saat ini masih banyak diperdebatkan.

(5)

5 1.2 Pertanyaan Penelitian

Urban design merupakan suatu teknik merekayasa suatu ruang untuk

menciptakan visual suatu ruang yang berkarakter dan dapat membuat hidup orang yang berada di dalamnya merasa nyaman. Merancang suatu kota Islami (Islamic urban

design) adalah aktivitas yang jarang dilakukan oleh para perencana kota. Hal ini bisa

jadi karena referensi perancangan kota Islami masih kurang atau memang perancangan kota Islami tidak menarik. Terlepas dari itu semua, perancangan kota Islami juga perlu dipertimbangkan baik dalam tataran konsep atau praktis, mengingat Indonesia juga merupakan salah satu negara yang termasuk dalam anggota The Organisation of

Islamic Conference yaitu organisasi perkumpulan negara Islam dunia (Mustofa, 2010).

Cirebon yang sudah dikenal sebagai kota wali oleh masyarakat merupakan sebuah keunikan yang telah dimiliki oleh Indonesia sebagai kota Islami di Jawa. Visual kota Cirebon kota wali sebagai kota Islami di Jawa dapat memperkaya pengetahuan tentang bagaimana visual kota Islami dengan menggunakan kota wali. Oleh karena itu muncul pertanyaan, bagaimana terbentuknya Cirebon kota wali sebagai kota Islami di Jawa?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali keunikan Cirebon kota wali sebagai kota Islami di Jawa secara visual melalui identifikasi pembentukan kotanya. 1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagi Perencanaan Wilayah dan Kota dan akademisi adalah untuk memberikan tambahan literatur studi, khususnya mengenai elemen visual dan elemen-elemen pembentuk kota Islami, dalam hal ini adalah kota Islami di Jawa untuk memperkaya pengetahuan tentang kota Islami.

(6)

6 2. Bagi pemerintah adalah untuk membantu memberikan gambaran pembentukan karakter kota Islami, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam perencanaan, manajemen, dan pengambilan kebijakan wilayah, kota atau kawasan.

3. Bagi masyarakat adalah sebagai referensi pengetahuan bagaimana suatu sejarah, fisik ruang, dan sistem sosial masyarakat dapat mempengaruhi terbentuknya suatu ruang yang berkarakter.

1.5 Batasan Penelitian

1.5.1 Batasan Fokus

Dalam penelitian ini peneliti hanya melakukan identifikasi pembentukan kota wali sebagai kota Islami di Jawa secara visual (fisik keruangan dan aktivitas). Hal ini merupakan hasil dari telaah teori rancang kota sebelumnya yang pada fokus amatannya lebih banyak mengarah pada fisik dan sosial.

1.5.2 Batasan Lokus

Penelitian ini dilakukan di seluruh wilayah administrasi Kota Cirebon dan sebagian daerah administrasi Kabupaten Cirebon (Desa Astana Kecamatan Gunungjati), sehingga dalam penelitian peneliti menyebut wilayah amatan ini hanya dengan “Cirebon”. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam penulisan. Selain itu, penyebutan Cirebon pada lokus amatan ini juga dipengaruhi sejarah lokus ini sendiri. I.6 Keaslian Penelitian

Penelitian yang hampir mirip dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Taheri pada tahun 1980 dengan judul Urban Elements of Traditional

Islamic Cities. Penelitian tersebut berisi tentang identifikasi dan korelasi antara

lingkungan fisik kota Islami tradisional dengan kebudayaan yang berkembang dalam suatu wilayah. Lingkungan fisik ini lebih difokuskan pada elemen permukimanannya

(7)

7 dan lokasi yang disoroti adalah beberapa lokasi di kota-kota timur tengah seperti Madinah, Makkah, Marocco, Kairo, Kabul, dan Iran. Hasil penelitian tesis di Massachussetts Institute of Technology (MIT) ini berupa temuan elemen permukiman Islam seperti pembagian kelompok-kelompok permukiman dalam kota Islami, serta pengaruh-pengaruh terbentuknya permukiman Islam. Berbeda dengan penelitian ini, pada penelitian ini lebih terfokus pada elemen fisik lingkungan kawasan kota Islami di Jawa dengan studi kasus Cirebon untuk mendapatkan pembangun visual Cirebon kota wali sebagai kota Islami di Jawa.

Penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Soud, Hassim, Kausar adalah The

Aspect of Decline in Contemporary Islamic Cities yang dipublikasikan pada tahun

2010 dalam sebuah jurnal. Dalam penelitian ini lebih mengangkat permasalahan transformasi arsitektural dam bentuk kota (urban form) dari kawasan Islam dibeberapa lokasi seperti, New Gourna Village (Mesir) dan Riyadh. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut juga menggunakan model QUANTITATIVE-qualitative dengan hasil suatu model perencanaan untuk membangun suatu lingkungan muslim dengan konsep perencanaan islami (islamic planning). Selain penelitian ini ada juga penelitian yang berjudul Urban Elements of Arabic – Islamic

Cities in The Old of Nablus yang dilakukan oleh Jansons pada tahun 2011. Penelitian

lapangan tersebut (study project) merupakan suatu penelitian yang hampir mirip dengan penelitian ini. Dalam tulisannya tersebut menghasilkan suatu deskripsi elemen-elemen kota Nablus dengan pertimbangan sebagai Arabic – Islamic city. Persamaan penelitian-penelitian tersebut adalah mengambil satu atau beberapa lokasi dalam pengidentifikasian kota-kota yang dianggap kota Islami. Namun, yang membedakan antara penelitian ini dengan dua penelitian sebelumnya adalah metode dan lokasi yang digunakan berbeda.

Beberapa buku literatur juga membahas hal yang hampir meiliki kesamaan fokus dengan penelitian ini adalah seperti yang ditulis oleh Omer dan dipublikasikan

(8)

8 pada tahun 2009 dengan judul The Prophet Muhammad (PBUH) and Urbanization

of Madinah . Buku tersebut membahas tentang identifikasi dan verifikasi lapangan

prinsip-prinsip perencanaan dan pengembangan kota Islami di Madinah. Buku lainnya adalah Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia – Kajian Mengenai Konsep, Struktur, dan Elemen Fisik Kota Sejak Peradaban Hindu-Budha, Islam, Hingga Sekarang yang ditulis oleh Wiryomartono. Buku yang dipublikasikan pada tahun 1995 ini berisi tentang penelusuran historis dan pengupasan konsep-konsep yang berkaitan dengan kota dan budayanya, dimana pembahasan ini dibangun dari sejarah bangunan-bangunan kota di Indonesia, khusunya Jawa. Buku-buku tersebut membahas hal-hal yang menyinggung beberapa bagian dari penelitian ini seperti identifikasi pembentuk suatu kota dikatakan sebagai kota “islam”, hanya saja objek amatan dalam buku-buku tersebut berbeda dengan objek amatan dalam penelitian ini.

Penelitian-penelitian lain yang sejenis di Indonesia lebih banyak menitik beratkan pada element-elemen fisik arsitekturalnya dan lebih banyak menyoroti tentang permukiman kampung Islam. Seperti penelitian yang dilakukan Dewi (2012), yaitu Kompleks Masjid di Kota Yogyakarta Sebagai Tempat Ibadah dan Muamalah dengan Penekanan Arsitektur Islam Modern; Mulyati (1996) tentang Pola Spasial Permukiman di Kampung Kauman Yogyakarta, Rieska F (2002) tentang Islamic

Village di Yogyakarta, semua penelitian skripsi ini adalah penelitian yang dilakukan

oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Berbeda dengan Kusuma yang pada tahun 2010 melakukan penelitian skripsi tentang Perkembangan Fisik Kota Cirebon Berdasarkan Tinjauan Historis Kota di Institut Teknologi Nasional Bandung. Dalam penelitiannya, Kusuma membahas perkembangan fisik kota Cirebon menggunakan teori Lynch sebagai konsep dan metode dalam pengamatan di lapangan dan studi literaturnya, sehingga didapat hasil perkembangan Cirebon dari masa ke masa. Sejauh yang peneliti ketahui bahwa belum ada penelitian yang mengangkat identifikasi elemen pembentukan kota wali sebagai kota Islami di Jawa secara visual.

(9)

9

bersambung ke halaman berikutnya … Uraian keaslian penelitian diatas dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Judul, peneliti, tahun

penelitian Fokus Metode Hasil Penelitian

Urban Elements of Traditional Islamic Cities, Farid Hussain

Taheri, 1980

elemen

permukimanannya dengan lokasi kota-kota timur tengah

Induktif

elemen permukiman Islami pembagian kelompok

permukiman dalam kota Islami, serta pengaruh terbentuknya permukiman Islami

The Aspect of Decline in Contemporary Islamic Citie:, Muazaz

Y.Soud, Hassim Bin Mat, Kausar Binti Hj Ali, 2010

permasalahan transformasi arsitektural dan bentuk kota (urban

form) dari kawasan

Islam di New Gourna Village (Mesir) dan Riyadh

Quantitative-qualitative

Model perencanaan untuk membangun

suatu lingkungan muslim dengan konsep

perencanaan islami

(islamic planning)

Urban Elements of Arabic – Islamic Cities in The Old of Nablus;

Janson; 2010

deskripsi elemen-elemen kota Nablus dengan

pertimbangan sebagai Arabic –

Islamic city.

Eksploratif Elemen fisik kota Islami

Kompleks Masjid di Kota Yogyakarta

Fokus pada aspek

arsitektural dengan Deduktif

Eksplorasi bagian-bagian arsitekrur

(10)

10 Sebagai Tempat Ibadah

dan Muamalah dengan Penekanan Arsitektur Islam Modern; Dewi; 2012

objek masjid masjid dengan konsep islam modern Pola Spasial Permukiman di Kampung Kauman Yogyakarta; Mulyati; 1996 Keragaman pola spasial Kampung Kauman Induktif- Kualitatif-Naturalistik Pola-pola spasial kampung kauman Islamic Village di Yogyakarta; Rieska F ; 2002 Konsep perkampungan Islam internasional, mengenai pendidikan dan kebudayaan Islam yang bersifat arsitektural Studi kasus Perencanaan perkampungan islami internasional Perkembangan Fisik Kota Cirebon Berdasarkan Tinjauan Historis Kota; Anandya Praema Kusuma; 2010

Bentuk fisik kota Cirebon dengan tinjauan sejarah dengan lokasi amatan kawasan kota lama Cirebon

Deduktif-kualitatif

Perkembangan kota Cirebon dari masa ke

Referensi

Dokumen terkait

Tentunya, Jawa Barat yang merupakan salah satu daerah yang berada di wilayah kenegaraan Indonesia ini juga menyimpan segudang budaya khas Sunda yang menjadi suku

Transportasi  merupakan  salah  satu  faktor  penting  dalam  pengembangan  wilayah. Dengan tingkat aksesibilitas yang tinggi, kemudahan interaksi antar wilayah 

Peningkatan jumlah wisatawan yang mengunjungi Kota Cirebon dikarenakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon sering menyelenggarakan event tertentu, contohnya

Pemodelan geoid lokal wilayah kerja PT.Pertamina di Bekasi dan Cirebon dilakukan pada cakupan area sempit dan distribusi data gayaberat yang rapat.. Data gayaberat yang

Tujuan dari penyusunan Evaluasi Rencana Kerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Cirebon adalah untuk mempertajam indikator serta target

Salah satu kawasan strategis kabupaten (KSK) yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) dan Rencana Pembangunan Kabupaten Ciamis

Terutama pada Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar yang merupakan salah satu sentra buah stroberi di Jawa Tengah dan didukung dengan kondisi wilayah yang banyak

Oleh karena itu, Program membaca kitab di MAN 3 Cirebon harus dievaluasi, karena program adalah salah satu program kurikulum yang bersifat eksrakulikuler yang