• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Hallyu dan K-Pop sebagai Trendsetter Selera Pasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Hallyu dan K-Pop sebagai Trendsetter Selera Pasar"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka

1. Hallyu dan K-Pop sebagai Trendsetter Selera Pasar

Gelombang Korea mengarah pada fenomena hiburan Korea dan budaya populer yang bersinergi dengan musik pop, drama, dan juga film. Dalam bahasa

korea dikenal dengan istilah hallyu, yang pertama kali diperkenalkan oleh jurnalis

asal Beijing, pada akhir 1990-an yang dimaksudkan untuk menggambarkan semakin populernya budaya pop Korea di Cina. Korea muncul sebagai pusat baru untuk produksi budaya pop transnasional, dengan keberhasilannya sebagai eksportir budaya. Hal itu sering dikaitkan dengan “menjual” produk-produk budaya yang berkualitas tinggi dengan memasukkan unsur Barat tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional Korea dan identitas budayanya (Wahyudi, 2012)

Gelombang Korea pada hakikatnya adalah perwujudan atau representasi dari industri budaya pada era yang sangat kapitalistik dan manipulatif. Karya yang dihasilkan dari gelombang ini khususnya dalam bidang seni, baik itu film ataupun musik, merupakan karya-karya yang dikreasi dengan penekanan utama atau yang berorientasi pada suatu pasar atau profit. Seluruh produk yang dihasilkan dari hallyu, sesungguhnya tidak tepat diberi istilah “memenuhi selera pasar” seperti musik ataupun film, yang pada kenyataannya justru mereka yang telah menciptakan sebuah pasar. Gelombang inilah yang menciptakan pasar. Munculnya demam Gangnam Style oleh PSY, yang bukan sebagai pemenuhan selera pasar, justru menciptakan selera pasar (Wahyudi, 2012)

(2)

Karya-Karya yang dikategorikan ke dalam gelombang korea ini disebut “seni populer” yang lebih mengutamakan kesementaraan dalam lingkup yang menggairahkan dan mampu “menyihir” pendengar atau penonton dengan dikemas semenawan mungkin. Kemewahan dalam busana, tata cahaya panggung, maupun bentuk fisik para penyanyi, telah melewati semacam sulapan atau teknik manipulasi yang pada akhirnya memang mampu menyilaukan para penggemar. Aksi panggung mereka pada umumnya telah mampu menciptakan semacam reaksi yang dapat dikatakan sebagai penuh dengan pemujaan. Fanatisme, istilah yang cukup tepat dalam penggambaran kondisi semacam ini. Pada realitas ini, dalam wilayah psikologis para remaha atau anak muda yang umumnya tengah berada dalam tahap mencari-cari identifikasi atas diri dan lingkungannya (Wahyudi, 2012)

Karya-karya yang dihasilkan dari gelombang Korea, tidaklah semua dibuat atas dasar pemenuhan selera pasar atau yang sudah dikenal luas. Beberapa karya

yang sudah ditampilkan oeh PSY dengan Gangnam Style atau H.O.T di tahun

1990-an maupun serial drama Winter Sonata, jelas bukan karya yang hanya mengikuti selera pasar namun justru mereka lah yang menciptakan selera pasar itu. Tidak sedikit karya-karya tersebut bertindak sebagai pencipta pasar atau trendsetter, yang dengan kata lain ada sesuatu keunggulan pada karya tersebut.

Seluruh produk yang dihasilkan dari hallyu merupakan bagian atau pelaksanaan

dari apa yang disebut sebagai seni populer atau seni pop, yaitu seni yang secara sederhananya adalah karya yang dibuat dengan lebih menonjolkan orientasi yang menempatkan khalayak atau masyarakat awam sebagai sasaran. Para pencipta seni

(3)

populer lebih berkehendak untuk memuaskan pendengar atau penonton daripada dibebani oleh ide-ide artistik pada karyanya yang akan dibuat (Wahyudi, 2012).

Musik populer Korea atau dikenal dengan istilah K-Pop, merupakan salah

satu produk yang dihasilkan oleh hallyu pada bidang musik. Daya tarik terbesar

dari aliran musik ini dapat ditemukan dalam lagu-lagu yang easy listening, para

artis, dan efek panggung. Sejarah K-Pop dimulai dengan kedatangan grup Seo

Taiji and Boys pada tahun 1992. Grup ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam merubah berbagai kebiasaan dari musik lokal dan mengenalkan berbagai jenis dan gaya dari luar negeri. Musik yang dipadukan dengan seni tari menjadi bagian yang penting dalam aliran musik pop korea ini, dan melahirkan banyak idola baru (KOCIS, 2011).

Aliran musik pop Korea memang identik dengan boyband dan girlband.

Boyband adalah sebutan untuk vokal grup yang beranggotakan para laki-laki

muda dan berpenampilan menarik. Sedangkan girlband yang beranggotakan para

perempuan. Boyband dan girlband sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun pada

aliran musik ada perbedaan dari yang terdahulu. Mereka mengemas sedemikian bagus dan rapih. Dimulai dari perpaduan antara kualitas suara yang baik dan enak didengar bagi pendengarnya, gerakan olah tubuh yang indah, serta penampilan yang bisa dibilang cantik, tampan, imut, hingga menggemaskan pun bisa kita lihat

dari anggota-anggota grup tersebut. Boyband dan girlband baru terus muncul

meramaikan industri musik negara tersebut. Dengan penampilan yang menawan,

ternyata tidak hanya menarik perhatian dari negeri Korea Selatan saja, Eropa, Amerika, Jepang, Asia, bahkan di Indonesia pun termasuk (KOCIS, 2011).

(4)

2. K-Pop Cover Dance dan Cross Cover Dance

Cover Dance adalah bentuk tarian yang mereproduksi koreografi artis favorit mereka. Selain koreografi, penampilan seperti kostum yang dikenakan

pada saat tampil, make up, serta gaya rambut sengaja dirancang sama seperti artis

aslinya (KOCIS, 2011).

Arti dari kata covering adalah membawakan suatu karya dari orang lain

tanpa mengakuinya sebagai karya sendiri. Lumrah dilakukan oleh para band,

penyanyi, dan juga penari diseluruh dunia. Baik band ataupun penyanyi, covering

adalah hal yang pasti dilakukan dikarenakan belum memiliki lagu sendiri. Dalam

seni peran, seperti pertunjukan teater, merupakan salah satu bentuk dari kegiatan covering, hanya saja penggunaan istilahnya saja berbeda. Covering berbeda

dengan plagiat. Arti dari plagiat menurut kamus besar bahasa Indonesia, adalah

pengambilan karangan orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan sendiri (Rahmadi, 2012).

Cross cover dance adalah meng-cover idol grup lawan jenis. Hampir sama

dengan cover dance, hanya berbeda pada grup yang ditirunya saja. Dimulai dari

kostum yang dikenakan, konsep tari yang digunakan, make up, dan gaya rambut

yang cenderung feminim, merupakan perbedaan dari cross cover dance. Baik

cover dance dan cross cover dance, sekarang diidentikkan dengan K-Pop. Di

Korea Selatan sendiri, cover dance dan cross cover dance sangat tinggi

peminatnya meskipun artis yang ditiru berasal dari negera tersebut. Bahkan, keberadaannya diakui dan tidak dianggap plagiat atau perusak nama baik dari artis tersebut selagi dilakukannya wajar dan tidak menyimpang (Rahmadi, 2012).

(5)

K-Pop menjadi salah satu genre musik yang berkembang dengan cepat di

dunia. Hal ini menyebabkan cover dance dan cross cover dance K-Pop menjadi

sebuah trend diberbagai negara, baik itu Amerika, Eropa, Jepang, Asia, bahkan di

Indonesia. K-Pop cover dance adalah istilah yang digunakan untuk

menggambarkan meniru koreografi tarian K-Pop artis. Pengakuan keberadaan cover dance oleh negera Korea, dibuktikan dengan diselenggarakannya “K-Pop Cover Dance Festival” dalam perayaan “Visit Korea Year” dan peserta yang berpartisipasi dalam festival ini adalah grup-grup yang berasal dari berbagai negara. Hal ini sebagai pembuktian bahwa fenomena K-Pop sudah terjadi di

dunia. Moon Chang Ho, Produser Eksekutif 2011 K-Pop Cover Dance Festival

menyatakan: “The cover dance boom has created a platform for fans from all

around the world to actively participate and enjoy K-Pop; and therefore, it is helping expand K-Pop as a truly international form of social entertainment. (boomingnya cover dance telah menciptakan sebuah platform untuk para penggemar dari seluruh dunia untuk secara aktif berpartisipasi dan menikmati K-Pop, dan karena itu program ini membantu memperluas K-Pop sebagai bentuk dari hiburan sosial bertaraf internasional)"

3. Presentasi Diri dan Pengelolaan Kesan di Depan Panggung

Presentasi diri adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh individu tertentu untuk memproduksi definisi situasi dan identitas sosial bagi para aktor dan definisi situasi tersebut mempengaruhi ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang ada (Mulyana, 2008: 110).

Maksud dari definisi tersebut bisa diartikan sebagai upaya individu untuk menumbuhkan suatu kesan yang diharapkan di hadapan orang lain dengan cara

(6)

menata perilaku-perilaku agar dapat dimaknai identitas dirinya sesuai dengan yang diinginkan. Pada proses produksi identitas, ada suatu pertimbangan yang dilakukan mengenai atribut simbol yang dikenakan dan mampu mendukung identitas yang ditampilkan secara menyeluruh, seperti busana yang dipakai, cara berjalan dan berbicara, rumah yang kita huni dan cara kita melengkapi perabotan rumah, pekerjaan yang kita lakukan dan cara kita menghabiskan waktu luang (Mulyana, 2008: 112).

Dalam teori diri, Goffman berpendapat bahwa, diri adalah “suatu hasil

kerjasama” (collaborative manufacture) yang harus diproduksi-baru dalam setiap

peristiwa interaksi sosial. Kutipan kata-kata yang dilontarkan oleh Goffman tentang diri (Mulyana, 2008: 109).

Diri menurut Goffman bersifat temporer dalam arti bahwa diri tersebut memiliki jangka pendek, bermain peran karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial yang berlainan yang interaksinya dengan masyarakat berlangsung

dalam episode-episode pendek. Selain itu juga, diri bukanlah sesuatu yang

dimiliki oleh seorang individu, melainkan yang dipinjamkan orang lain kepadanya (Mulyana, 2008).

Ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran-diri yang akan diterima orang lain. Goffman menyebut upaya tersebut

itu sebagai “pengelolaan kesan” (impression management), yaitu teknik-teknik

yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu

untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam buku Psikologi Komunikasi karya

Jalaluddin Rakhmat, proses pembentukan kesan ada tiga, yaitu (Rakhmat, 2001:

(7)

a. Stereotyping

Pada saat guru menghadapi murid-murid yang sudah jelas bersifat heterogen, ia akan mengelompokkan pada konsep-konsep tertentu, seperti cerdas, pintar, bodoh, malas, rajin, cantik, atau jelek. Penggunaan konsep ini menyederhanakan begitu banyak stimuli yang diterimanya. Tetapi, begitu anak-anak itu diberi kategori cerdas, persepsi guru terhadapnya akan konsisten. Semua sifat anak cerdas akan dikenakan pada mereka. Inilah yang

disebut stereotyping. Dengan kata lain, stereotype adalah mengelompokan

atau proses pencantuman label terhadap sesuatu berdasarkan pengalaman, atau pengetahuan yang tersimpan di dalam memori seseorang.

Dalam stereotyping akan terjadinya primacy effect dan halo effect.

Primacy effect adalah menunjukan bahwa kesan pertama sangat menentukan

dikarenakan kesan tersebut menentukan kategori. Sedangkan halo effect,

persona stimuli yang sudah kita senangi telah mempunyai kategori tertentu yang positif, dan pada kategori itu sudah disimpan semua sifat yang baik. b. Implicit Personality Theory

Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang sifat-sifat apa berkaitan dengan sifat-sifat apa. Ketika membuat konsep, sama dengan memberikan kategori pada suatu hal. Konsepsi ini merupakan teori yang dipergunakan orang ketika membentuk kesan tentang orang lain. Salah satu contohnya yaitu, konsep “bersahabat” meliputi konsep-konsep ramah, suka menolong, tidak jahat, dan lain-lain. Kita mempunyai asumsi orang ramah pasti suka menolong, toleran, tidak jahat, dan tidak akan mencemooh.

(8)

c. Atribusi

Atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak. Ada dua jenis atribusi, yaitu kausalitas dan kejujuran. Menurut Fritz Heider (1958) orang yang pertama menelaah kausalitas, mendefinisikannya sebagai proses pemahaman sebab orang berperilaku. Ketika akan mengamati perilaku sosial, pertama-tama tentukan faktor penyebabnya, situasional (eksternal) atau personal (internal).

Setelah mengetahui proses pembentukan kesan, maka pengelolaan kesan adalah suatu usaha persona stimuli dalam menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu untuk menimbulkan kesan tertentu pada diri penanggap. Peralatan yang

digunakan pada saat akan menampilkan diri disebut front yang terdiri dari

panggung (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah-laku

(manner). Panggung adalah rangkaian peralatan ruang dan benda yang akan digunakan. Penampilan berarti menggunakan petunjuk artifaktual, seperti menggunakan dasi pada kemeja merk terkenal, sepatu mengkilat, pada saat akan bertemu calon mertua dan berharap akan dinilai sebagai orang yang mapan. Gaya bertingkah laku menunjukkan cara kita berjalan, duduk, berbicara, memandang, dan sebagainya. Contoh seorang yang baru mendapatkan jabatan yang tinggi, akan mengurangi humornya, berbicara teratur dan baku, berjalan tegap, karena dia ingin menumbuhkan kharismanya (Mulyana, 2008)

Erving Goffman menyebut aktivitas untuk mempengaruhi orang lain itu

(9)

pada ungkapan-ungkapan yang tersirat, suatu ungkapan yang lebih bersifat teateris, kentekstual, non-verbal dan tidak bersifat intensional (Mulyana, 2008).

Goffman menyatakan bahwa hidup layaknya teater yang di dalamnya terdapat aktor (individu) dan penonton (masyarakat). Dalam pelaksanaannya, selain panggung tempat pementasan peran, juga memerlukan ruang ganti yang berfungsi utuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melakukan kegiatan pentas. Pada saat di dalam panggung, individu akan menggunakan simbol-simbol yang berkaitan untuk memperkuat identitas karakternya, tetapi ketika masa pementasannya selesai, maka di belakang panggung akan terlihat tampilan yang sebenarnya dari individu tersebut. Kehidupan seperti teater dikaji dalam studi dramaturgi (Mulyana, 2008).

4. Kajian Tentang Dramaturgi

Pada dasarnya interaksi manusia menggunakan simbol-simbol, cara manusia menggunakan simbol, merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamannya. Itulah interaksi simbolik dan itu pulalah yang mengilhami perspektif dramaturgis. Pandangan Goffman agaknya harus dipandang sebagai serangkaian tema dengan menggunakan berbagai teori. Ia memang seorang dramaturgis, tetapi juga memanfaatkan pendektan interaksi simbolik, fenomenologis Schutz, formalisme Simmel, dan bahkan fungsionalisme Durkhem (Harymawan, 1988).

Salah satu kontribusi interaksionisme simbolik adalah penjabaran berbagai macam pengaruh yang ditimbulkan penafsiran orang lain terhadap identitas atau citra diri individu yang merupakan objek interpretasi. Dalam kaitan ini, perhatian

(10)

meliputi struktur, proses, dan produk interaksi sosial. Ketertiban interaksi muncul untuk memenuhi kebutuhan akan pemeliharaan “keutuhan diri.” Seperti ini pemikiran kaum interaksionis umumnya. Inti pemikiran Goffman adalah “diri” (self), yang dijabarkan oleh Goffman dengan cara yang unik dan memikat yaitu Teori Diri Ala Goffman (Mulyana, 2004).

Kalau kita perhatikan diri kita itu dihadapkan pada tuntutan untuk tidak ragu-ragu melakukan apa yang diharapkan diri kita. Untuk memelihara citra diri

yang stabil, orang melakukan “pertunjukan” (performance) di hadapan khalayak.

Sebagai hasil dari minatnya pada “pertunjukan” itu, Goffman memusatkan perhatian pada dramaturgi atau pandangan atas kehidupan sosial sebagai serangkaian pertunjukan drama yang mirip dengan pertunjukan drama di panggung.

Fokus pendekatan dramaturgi adalah apa yang ingin mereka lakukan, mengapa mereka melakukan, dan bagaimana mereka melakukan. Berdasarkan pandangan Kenneth Burke bahwa pemahaman yang layak atas perilaku manusia harus bersandar pada tindakan, dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/ impresif aktivitas manusia. Burke melihat tindakan sebagai konsep dasar dalam dramatisme. Burke memberikan pengertian yang berbeda antara aksi dan gerakan. Aksi terdiri dari tingkah laku yang disengaja dan mempunyai maksud, gerakan adalah perilaku yang mengandung makna dan tidak bertujuan. Masih menurut Burke bahwa seseorang dapat melambangkan simbol-simbol. Seseorang dapat berbicara tentang ucapan-ucapan atau menulis tentang kata-kata, maka bahasa berfungsi sebagai kendaraan untuk aksi. Karena adanya kebutuhan sosial

(11)

masyarakat untuk bekerja sama dalam aksi-aksi mereka, bahasapun membentuk perilaku (Mulyana, 2004).

Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/ impresif aktivitas manusia, yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik. Pendekatan dramaturgis Goffman berintikan pandangan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum dramaturgis memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka (Littlejohn, 1996: 166).

Pengembangan diri sebagai konsep oleh Goffman tidak terlepas dari

pengaruh gagasan Cooley tentang the looking glass self. Gagasan diri ala Cooley

ini terdiri dari tiga komponen. Pertama, kita mengembangkan bagaimana kita tampil bagi orang lain; kedua, kita membayangkan bagaimana penilaian mereka atas penampilan kita; ketiga, kita mengembangkan sejenis perasaan diri, seperti kebanggaan atau malu, sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut. Lewat imajinasi, kita mempersepsi dalam pikiran orang lain suatu gambaran tentang penampilan kita, perilaku, tujuan, perbuatan, karakter teman-teman kita dan sebagainya, dan dengan berbagai cara kita terpangaruh olehnya (Mulyana, 2004).

Konsep yang digunakan Goffman berasal dari gagasan-gagasan Burke, dengan demikian pendekatan dramaturgis sebagai salah satu varian

(12)

interaksionisme simbolik yang sering menggunakan konsep “peran sosial” dalam menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater. Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang suatu situasi untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir. Bagaimana sang aktor berperilaku bergantung kepada peran sosialnya dalam situasi tertentu. Fokus dramaturgi bukan konsep diri yang dibawa sang aktor dari situasi ke situasi lainnya atau keseluruhan jumlah pengalaman individu, melainkan diri yang tersituasikan secara sosial yang berkembang dan mengatur interaksi-interaksi

spesifik. Menurut Goffman diri adalah “suatu hasil kerjasama” (collaborative

manufacture) yang harus diproduksi baru dalam setiap peristiwa interaksi sosial (Mulyana, 2004).

Menurut interaksi simbolik, manusia belajar memainkan berbagai peran dan mengasumsikan identitas yang relevan dengan peran-peran ini, terlibat dalam kegiatan menunjukkan kepada satu sama lainnya siapa dan apa mereka. Dalam konteks demikian, mereka menandai satu sama lain dan situasi-situasi yang mereka masuki, dan perilaku-perilaku berlangsung dalam konteks identitas sosial, makna dan definisi situasi. Presentasi diri seperti yang ditunjukan Goffman, bertujuan memproduksi definisi situasi dan identitas sosial bagi para aktor, dan definisi situasi tersebut mempengaruhi ragam interaksi yang layak dan tidak layak

bagi para aktor dalam situasi yang ada (Poloma: 2010).

Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut

(13)

teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu (Harymawan, 1988).

Dalam perspektif dramaturgis, kehidupan ini ibarat teater, interaksi sosial yang mirip dengan pertunjukan di atas penggung, yang menampilkan peran-peran yang dimainkan para aktor. Untuk memainkan peran tersebut, biasanya sang aktor menggunakan bahasa verbal dan menampilkan perilaku noverbal tertentu serta mengenakan atribut-atribut tertentu, misalnya kendaraan, pakaian dan asesoris lainnya yang sesuai dengan perannya dalam situasi tertentu. Aktor harus memusatkan pikiran agar dia tidak keseleo lidah, menjaga kendali diri, melakukan gerak-gerik, menjaga nada suara dan mengekspresikan wajah yang sesuai dengan situasi.

Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayah

depan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Wilayah depan

merujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukan bahwa individu bergaya atau menampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan perannya di atas panggung sandiwara dihadapan khalayak penonton. Sebaliknya, wilayah belakang merujuk kepada tempat dan peristiwa yang yang memungkinkannya mempersiapkan perannya di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung

sandiwara bagian depan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedang

wilayah belakang ibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau

kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan (Harymawan, 1988).

Goffman mengakui bahwa panggung depan mengandung anasir struktural, dalam arti bahwa panggung depan cenderung terlembagakan alias mewakili

(14)

kepentingan kelompok atau organisasi. Sering ketika aktor melaksanakan perannya, peran tersebut telah ditetapkan lembaga tempat dia bernaung. Meskipun berbau struktural, daya tarik pendekatan Goffman terletak pada interaksi. Ia berpendapat bahwa umumnya orang-orang berusaha menyajikan diri mereka yang diidealisasikan dalam pertunjukan mereka di panggung depan, merasa bahwa mereka harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukannya. Hal itu disebabkan oleh (Mulyana, 2004: 116) :

a. Aktor mungkin ingin menyembunyikan kesenangan-kesenangan tersembunyi.

b. Aktor mungkin ingin menyembunyikan kesalahan yang dibuat saat persiapan

pertunujkan, langkah-langkah yang diambil untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

c. Aktor mungkin merasa perlu menunjukan hanya produk akhir dan

menyembunyikan proses memproduksinya.

d. Aktor mungkin perlu menyembunyikan “kerja kotor” yang dilakukan untuk

membuat produk akhir dari khalayak.

Dalam melakukan pertunjukan tertentu, aktor mungkin harus mengabaikan standar lain (misal menyembunyikan hinaan, pelecehan, atau perundingan yang dibuat sehingga pertunjukan dapat berlangsung) (Ritzer, 2011).

Aspek lain dari dramaturgi di panggung depan adalah bahwa aktor sering berusaha menyampaikan kesan bahwa mereka punya hubungan khusus atau jarak sosial lebih dekat dengan khalayak daripada jarak sosial yang sebenarnya. Goffman mengakui bahwa orang tidak selamanya ingin menunjukan peran formalnya dalam panggung depannya. Orang mungkin memainkan suatu perasaan, meskipun ia tidak menginginkan peran tersebut, atau menunjukkan

(15)

keengganannya untuk memainkannya padahal ia senang bukan kepalang akan peran tersebut. Akan tetapi menurut Goffman, ketika orang melakukan hal semacam itu, mereka tidak bermaksud membebaskan diri sama sekali dari peran sosial atau identitas mereka yang formal itu, namun karena ada perasaan sosial dan identitas lain yang menguntungkan mereka (Ritzer, 2011).

Fokus perhatian Goffman sebenarnya bukan hanya individu, tetapi juga kelompok atau apa yang ia sebut tim. Selain membawakan peran dan karakter secara individu, aktor-aktor sosial juga berusaha mengelola kesan orang lain terhadap kelompoknya, baik itu keluarga, tempat bekerja, parati politik, atau organisasi lain yang mereka wakili. Semua anggota itu oleh Goffman disebut “tim

pertunjukan” (performance team) yang mendramatisikan suatu aktivitas.

Kerjasama tim sering dilakukan oleh para anggota dalam menciptakan dan menjaga penampilan dalam wilayah depan. Mereka harus mempersiapkan perlengkapan pertunjukan dengan matang dan jalannya pertunjukan, memain pemain inti yang layak, melakukan pertunjukan secermat dan seefisien mungkin, dan kalau perlu juga memilih khalayak yang sesuai. Setiap anggota saling mendukung dan bila perlu memberi arahan lewat isyarat nonverbal, seperti isyarat dengan tangan atau isyarat mata, agar pertunjukan berjalan mulus. (Mulyana, 2004)

Goffman menekankan bahwa pertunjukan yang dibawakan suatu tim sangat bergantung pada kesetiaan setiap anggotanya. Setiap anggota tim memegang rahasia tersembunyi bagi khalayak yang memungkinkan kewibawaan tim tetap terjaga. Dalam kerangka yang lebih luas, sebenarnya khalayak juga dapat dianggap sebagai bagian dari tim pertunjukan. Artinya agar pertunjukan

(16)

sukses, khalayak juga harus berpartisipasi untuk menjaga agar pertunjukan secara keseluruhan berjalan lancer (Ritzer, 2011).

Dalam perspektif Goffman unsur penting lainnya adalah pandangan bahwa interaksi mirip dengan upacara keagamaan yang sarat dengan berbagai ritual, aspek-aspek “remeh” dalam perilaku yang sering luput dari perhatian orang merupakan bukti-bukti penting, seperti kontak mata antara orang-orang yang tidak saling mengenal ditempat umum. Bagi Goffman, perilaku orang-orang yang terlibat dalam interaksi yang sepintas tampak otomatis itu menunjukan pola-pola tertentu yanbg fungsional. Perilaku saling melirik satu sama lain untuk kemudian berpaling lagi kearah lain menunjukan bahwa orang-orang yang tidak saling mengenal itu menaruh kepercayaan untuk tidak saling mengganggu (Ritzer, 2011).

Bagi Goffman, tampaknya hampir tidak ada isyarat nonverbal yang kosong dari makna. Isyarat yang tampak sepelepun, seperti “berpaling ke arah lain,” atau “menjaga jarak” dengan orang asing yang dimaksudkan untuk menjaga privasi orang adalah ritual antarpribadi atau dalam istilah Goffman menghargai diri yang “keramat”, bukan sekedar adat kebiasaan. Tindakan-tindakan tersebut menandakan keterlibatan sang aktor dan hubungan yang terbina dengan orang lain, juga menunjukan bahwa sang aktor layak atau berharga sebagai manusia. Maka penghargaan atas diri yang keramat ini dibalas dengan tindakan serupa, sehingga berlangsunglah upacara kecil tersebut (Ritzer, 2011).

Kehidupan manusia tampaknya akan berjalan “normal” bila kita mengikuti ritual-ritual kecil dalam interaksi ini, meskipun kita tidak selamanya menjalankannya. Etiket adalah yang pantas dan tidak pantas kita lakukan dalam

(17)

suatu situasi. Goffman menegaskan bahwa masyarakat memang memobilisasikan anggota-anggotanya untuk menjadi para peserta yang mengatur diri-sendiri, yang mengajari kita apa yang harus dan tidak boleh kita lakukan dalam rangka kerjasama untuk mengkonstruksikan diri yang diterima secara sosial, salah satunya adalah lewat ritual. Menurut Goffman keterikatan emosional pada diri yang kita proyeksikan dan wajah kita merupakan mekanisme paling mendasari kontrol sosial yang saling mendorong kita mengatur perilaku kita sendiri. Wajah adalah suatu citra-diri yang diterima secara sosial. Menampilkan wajah yang layak adalah bagian dari tatakrama situasional, yaitu aturan-aturan mengenai kehadiran diri yang harus dikomunikasikan kepada orang lain yang juga hadir (Ritzer, 2011).

Untuk menunjukkan bahwa kita orang yang beradab, kita begitu peduli dengan tata krama sebelum kita melakukan sesuatu, tetapi ada kalanya kita melanggar etiket tersebut. Misalnya kita datang terlambat kesuatu pertemuan penting. Ketika kita menyadarinya, kita hampir seperti apa yang oleh Goffman

disebut “berbagai tindakan perbaikan” (remedial work of various kind) yang

fungsinya mengubah hal yang ofensif menjadi hal yang diterima (Ritzer, 2011). 5. Kajian Tentang Konstruksi Realita Sosial

Teori konstruksi sosial merupakan kelanjutan dari pendekatan teori fenomenologi, pada awalnya merupakan teori filsafat yang dibangun oleh Husserl Hegel, dan kemudian diteruskan oleh Alfreed Schutz. Inti pemikiran Schutz mengenai fenomenologi adalah bagaimana memahami tindakan sosial melalui penafsiran. Manusia merupakan makhluk sosial di mana memiliki kesadaran akan kehidupan dunia sehari-hari untuk saling memahami satu sama lain. Pandangan dekskriptif interpretatif mengenai tindakan sosial dapat diterima hanya bila

(18)

tampak masuk akal bagi pelaku sosial yang relevan. Artinya, pemikiran ini hanya menangkap makna tindakan orang awam, sebagaimana orang tersebut memahami tindakannya (Ritzer, 2011).

Lalu, melalui Weber, fenomenologi menjadi teori sosial yang andal untuk digunakan sebagai analisis sosial. Jika teori struktural fungsional dalam paradigma fakta sosial terlalu melebih-lebihkan peran struktur dalam mempengaruhi perilaku manusia, maka teori tindakan terlepas dari struktur di luarnya. Manusia memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya tanpa terikat oleh struktur dimana ia berada. Manusia yang hidup dalam konteks sosial tertentu, melakukan proses interaksi secara simultan dengan lingkungannya. Dengan demikian, yang dimaksud dengan realitas sosial adalah hasil dari sebuah konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia itu sendiri (Poloma, 2010).

Mendefinisikan tentang kenyataan atau ‘realitas’ dan ‘pengetahuan’. Realitas sosial adalah sesuatu yang tersirat di dalam pergaulan sosial yang diungkapkan secara sosial melalui komunikasi bahasa dan kerjasama melalui bentuk-bentuk organisasi sosial. Realitas sosial ditemukan dalam pengalaman intersubjektif, sedangkan pengetahuan mengenai realitas sosial berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dengan segala aspeknya, meliputi ranah kognitif, psikomotorik, emosional, dan intuitif (Berger, 1991).

Masyarakat menurut Berger merupakan realitas objektif sekaligus subjektif. Sebagai realitas objektif, masyarakat berada di luar diri manusia dan berhadapan dengannya. Sedangkan sebagai realitas subjektif, individu berada di dalam masyarakat sebagai bagian yang tak terpisahkan. Dengan kata lain, bahwa individu adalah pembentuk masyarakat dan masyarakat juga pembentuk individu.

(19)

Realitas sosial bersifat ganda dan bukan tunggal, yaitu realitas objektif dan subjektif. Realitas objektif adalah realitas yang berada di luar diri manusia, sedangkan realitas subjektif adalah realitas yang berada dalam diri manusia. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Berger dalam teori konstruksi sosialnya, bahwa sistem pengetahuan seseorang tidak bisa terlepas dari latar belakang atau setting yang melatarbelakanginya (Berger, 1991).

Berger memandang manusia sebagai pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui tiga momen dialektis simultan. Proses tersebut yaitu: (Berger, 1991)

a. Eksternalisasi, yaitu usaha ekspresi diri manusia kedalam dunia. Proses ini

merupakan bentuk ekspresi diri untuk menguatkan eksistensi individu dalam masyarakat. Pada tahap ini masyarakat dilihat sebagai produk manusia (society is a human product).

b. Objektivasi, adalah hasil yang telah dicapai dari kegiatan eksternalisasi

manusia tersebut. Proses interaksi dengan dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami institusionalisasi. Pada tahap ini masyarakat

dilihat sebagai realitas yang objektif (society is an objective reality).

c. Internalisasi, individu mengidentifikasi dengan lembaga-lembaga sosial, atau

organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya. Melalui internalisasi

manusia menjadi hasil dari masyarakat (man is a social product).

Tahap eksternalisasi dan objektivasi merupakan pembentukan masyarakat yang disebut sebagai sosialisasi primer, yaitu momen dimana seseorang berusaha mendapatkan dan membangun tempatnya dalam masyarakat. Dalam kedua tahap ini (eksternalisasi dan objektivasi), seseorang memandang masyarakat sebagai

(20)

realitas objektif (man in society). Sedangkan dalam tahap internalisasi, seseorang

membutuhkan pranata sosial (social order), dan agar pranata itu dapat

dipertahankan dan dilanjutkan, maka haruslah ada pembenaran terhadap pranata tersebut, tetapi pembenaran itu dibuat juga oleh manusia sendiri melalui proses legitimasi yang disebut objektivasi sekunder. Pranata sosial merupakan hal yang objektif, independen dan tak tertolak yang dimiliki oleh individu secara subjektif. Ketiga momen dialektik itu mengandung fenomena-fenomena sosial yang saling bersintesa dan memunculkan suatu konstruksi sosial atau realitas sosial, yang dilihat dari asal mulanya merupakan hasil kreasi dan interaksi subjektif (Poloma, 2010).

B. Penelitian yang Relevan

Untuk memberi dasar yang kuat pada penelitian yang dilakukan, maka peneliti memasukan penelitian-penelitian terdahulu yang sejenis yang dianggap dapat mendukung penelitian ini.

1. M. Muchibbur Rochman, 2011, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi,

Universitas Negeri Yogyakarta, dengan judul skripsi: Fenomena Cross

Gender dalam Raminten 3 Cabaret Show, Mirota Batik, Yogyakarta.

Cross gender dalam cabaret show merupakan fenomena sosial yang belum banyak diketahui keberadaannya oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi keikutsertaan individu

dalam Raminten 3 Cabaret Show, mengetahui sejarah dan proses

terselenggaranya pertunjukan seni Raminten 3 Cabaret Show, serta

mengetahui dan mendeskripsikan kehidupan talent cross gender Raminten 3

(21)

Cabaret Show. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, faktor-faktor pendorong yang melatarbelakangi keikutsertaan individu dalam Raminten 3 Cabaret Show meliputi faktor personal (internal) yang terbagi menjadi hobi, mencari kepuasan batin, mengisi waktu luang, dan kebutuhan ekonomi, serta faktor lingkungan sosial (eksternal) yang terdiri dari ajakan teman dan kompetisi Raminten Got Talent. Pada dasarnya anggota atau talent cross gender yang

bergabung dengan Raminten 3 Cabaret Show memiliki aktivitas

masing-masing baik di area panggung atau di luar panggung pertunjukan. Sesuai

dengan konsep dramaturgi, aktivitas ini dibedakan menjadi front stage setting

dan personal front (appearance dan manner), serta aktivitas back stage (belakang panggung).

2. Arfina Rafsanjani, 2010, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi,

Universitas Negeri Yogyakarta, dengan judul skripsi: Analisis Perilaku Fanatisme Penggemar Boyband Korea (Studi pada Komunitas Safel Dance Club).

Antusiasme dan kecintaan terhadap boyband Korea yang menimbulkan perilaku fanatisme bagi para penggemarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penggemar mengekspresikan fanatisme terhadap boyband Korea dan menganalisis perilaku fanatisme penggemar boyband Korea di komunitas Safel Dance Club. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan perilaku fanatisme penggemar meliputi mengikuti perkembangan boyband idola melalui

(22)

internet, mengoleksi pernak-pernik dan merchandise, menhikuti dance cover, bergabung dalam komunitas penggemar, dan mengunduh musik

video, lagu, konser serta variety show. Ekspresi sebagai penggemar juga

dilakukan dengan cara mendukung boyband idola, menabung untuk konser, menjadikan idola mereka sebagai motivasi dalam berkarya, imitasi serta identifikasi dalam berfashion. Pengalaman mengenai boyband Korea membentuk suatu kesadaran dan pemahaman sehingga dapat diterima di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Boyband Korea diartikan sebagai simbol yang mengarahkan tindakan penggemar ke arah perilaku fanatik. Makna yang dimiliki bersama semakin mempertegas pemaknaan individu. Bagi sebagian besar masyarakat pada umumnya, menggemari boyband Korea merupakan suatu hal yang aneh dan tidak umum. Apa yang ditampilkan oleh boyband Korea dianggap tidak sesuai dengan budaya di Indonesia.

3. Maria Mawati Puspa, 2011, Mahasiswa Universitas Komputer Indonesia,

dengan judul skripsi: Pengelolaan Kesan Pemain Kostum Kartun Jepang

dalam Event “SecondAnniversary Cosplay Bandung” di Braga Citywalk.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa dalam panggung

belakang (back stage) pengelolaan kesan yang dilakukan oleh pemain kostum

kartun Jepang, ketika tidak sedang memainkan perannya sebagai cosplayer,

mereka dapat berbicara sebebas mungkin dan tidak perlu bersandiwara dalam

mendiskusikan konsep, pelatihan dubbing, pelaksanaan dubbing, merancang

kostum, mempersiapkan alat make up, atribut,properti dan hal teknis lainnya,

(23)

stage) pengelolaan kesan yang dilakukan meliputi gaya bicara, penampilan, penguasaan situasi, sikap dan perilaku yang meliputi ruang lingkup latihan ingatan emosi amarah, latihan ingatan peristiwa, adegan tunggal/menghafal

adegan sendiri, adegan berpasangan aksi reaksi, adegan kelompok (narrative

pantomime, dubbing, three ways conversations, one word, one sentence, singing dialogue), berfoto, atau mengobrol. Dalam panggung depan (front stage), pengelolaan kesan yang dilakukan meliputi gaya bicara, penampilan,

sikap dan perilaku yang meliputi ruang lingkup adegan teatrikal, adegan

tarian, serta walk street, dan juga jarak peran antar pemain, jarak sosial

kepada penonton untuk mendapatkan kesan yang cosplayer inginkan (kesan

keren, kreatif, lucu). Setiap cosplayer berlomba-lomba melakukan

pengelolaan kesan untuk menampilkan citra diri yang positif. Namun karakter asli cosplayer masih terbawa ke dalam panggung depan yang seharusnya hanya memainkan karakter tokoh mereka saja.

C. Kerangka Berpikir

Pendekatan dramaturgi Goffman khususnya berintikan pandangan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola kesan yang diharapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Pendekatan ini fokus pada cara individu melakukan sesuatu, bukan apa yang dilakukan, apa yang ingin dilakukan, atau mengapa melakukan hal itu (Mulyana, 2008: 107).

Menggunakan konsep dari Deddy Mulyana mengenai Dramaturgi yang diadopsi dari Erving Goffman. Deddy Mulyana dalam bukunya Metode Penelitian

(24)

dan panggung belakang (back stage) saja, tetapi juga meliputi panggung tengah (middle stage) (Mulyana, 2008: 58).”

1. Panggung Depan (Front Stage)

“Panggung depan adalah ruang publik yang digunakan seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan kesan kepada orang lain melalui

pengelolaan kesan (impression management) (Mulyana 2008: 57).”

Di panggung inilah seorang aktor mencoba menampilkan dirinya melalui peran-peran tertentu yang dipilih dalam berjalan proses interaksi sosial dengan khalayak. Goffman membagi panggung depan menjadi dua bagian,

yaitu personal front dan setting, yaitu situasi fisik yang harus ada ketika aktor

harus melakukan pertunjukan. Personal front terdiri dari alat-alat yang dapat

dianggap khalayak sebagai perlengkapan yang dibawa aktor ke dalam setting.

Personal front ini mencakup juga bahasa verbal dan bahasa tubuh sang aktor, seperti berbicara sopan, pengucapan istilah-istilah asing, intonasi, postur tubuh, ekspresi wajah, pakaian, penampakan usia, ciri-ciri fisik, dan sebagainya (Mulyana, 2008: 114-115).

Pada panggung inilah cross cover dance melakukan presentasi diri di depan

penonton pada saat mereka tampil disetiap pertunjukkan yang diikuti. Setiap anggota dari grup ini berusaha menampilkan peran yang dimainkan dengan

karakter yang mereka tiru dari setiap personil girlband Korea. Peran yang

dilakukan pada saat panggung ini sangat berbeda dengan kepribadian aslinya, yaitu pada saat berada di panggung belakang. Selain itu, pada panggung ini seluruh aktor melakukan aktivitas sehari-hari dihadapan teman-temannya. Dengan kata lain, pada saat itulah para aktor menggunakan “topeng” lain

(25)

dihadapan teman-temannya pada saat beraktivitas sehari-hari. Setting pada front stage adalah panggung pertunjukan dan juga lingkungan sekitar

2. Panggung Tengah (Middle Stage)

“Merupakan sebuah panggung lain di luar panggung resmi saat sang aktor

mengkomunikasikan pesan-pesannya, yakni panggung depan (front stage)

saat mereka beraksi di depan khalayak tetapi juga di luar panggung belakang (back stage) saat mereka mempersiapkan pesan pesannya (Mulyana, 2008: 58).”

Seluruh anggota dari grup cross cover dance akan melakukan

pengelolaan kesan pada panggung ini. Hal ini bertujuan agar mendapatkan kesan yang diharapkan pada saat pertunjukan berlangsung. Kegiatan tersebut diantaranya melakukan latihan di sanggar, tempat yang biasa dijadikan untuk berlatih, dan di ruang ganti sebelum pentas dimulai. Macam kegiatannya

berupa latihan koreografi, lipsync, penjiwaan karakter berupa ekspresi.

3. Panggung Belakang (Back Stage)

“Panggung belakang adalah wilayah dimana seorang aktor dapat menampilkan wajah aslinya. Di panggung ini juga seorang aktor menunjukan kepribadian aslinya pada masyarakat sekitar (Mulyana, 2008: 58).”

Di wilayah inilah para anggota cross cover dance cenderung menunjukan

sifat asli yang sangat berbeda jauh ketika berada di panggung depan.

Menggunakan bahasa sehari-hari, berpenampilan sesuai dengan

kesehariannya, dan menjalani kehidupan seperti biasanya yang terlepas dari kegiatan yang ada pada panggung depan. Panggung belakang sangat identik

(26)

dengan lingkungan keluarga, dan pada saat itu para aktor tidak menggunakan “topeng”nya. Mereka melakukan keseluruhan dari aktivitas secara natural.

Kerangka Pikir

Grup K-Pop Cross Cover Dance

War School Dramaturgi Faktor Internal Front Stage Faktor Eksternal Back Stage Latar Belakang Individual

Referensi

Dokumen terkait

16 E.. Dari uraian definisi promosi menurut beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa promosi adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dengan jalan

Peran merupakan perilaku yang dilakukan oleh individu yang memiliki kedudukan tertentu dalam sebuah sebuah komunitas sosial yang secara umum mencakup hal - hal

Artinya : Pekerja Sosial berusaha untuk meningkatkan fungsi sosial individu, secara sendiri-sendiri dan kelompok dengan kegiatan yang berfokus pada hubungan

Beberapa pendekatan psikososial adalah (1) apa yang kita sebut sebagai identitas individu merupakan ciptaan identitas sosial melalui interaksi dengan kelompok; (2) di

- Definisi yang sama diungkapkan oleh Taylor dan Moghaddam (dalam Susetyo, 2002, h. 58-65) identitas individu yang tampil dalam setiap interaksi sosial disebut

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebermaknaan hidup adalah penghayatan individu terhadap hal-hal yang dianggap penting, dirasakan

Menurut Zastrow (Suharto, 2009) Pekerjaan sosial adalah: Aktivitas profesional untuk menolong individu, kelompok, masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki

Situasi yang baik untuk melibatkan siswa dalam perencanaan kegiatan pembelajaran adalah apabila kegiatan pembelajaran itu dilakukan oleh kelompok terbatas, tidak terlalu