• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

II - 1

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1. Aspek Geografi dan Demografi

Aspek geografi dan demografi merupakan salah satu aspek kondisi kewilayahan yang mutlak diperhatikan sebagai ruang dan subyek pembangunan. Dari uraian ini diharapkan dapat terpetakan potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan Kabupaten Sumbawa lima tahun kedepan.

2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah 2.1.1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Sebagai salah satu dari sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sumbawa terdiri dari 24 kecamatan, 8 kelurahan, 157 desa dan 576 dusun dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Laut Flores

Sebelah Timur : Kabupaten Dompu,

Sebelah Selatan : Samudera Indonesia,

Sebelah Barat : Kabupaten Sumbawa Barat dan Selat alas.

Luas wilayah keseluruhan mencapai 11.556,44 km² (45,52% NTB), yang terdiri dari daratan 6.643,98 km², dan lautan 4.912,46 km². Dengan luasan tersebut menjadikan Kabupaten Sumbawa memiliki potensi sumberdaya alam cukup besar dengan posisi geostrategis Kabupaten Sumbawa pada jalur lalu lintas perdagangan Surabaya-Waingapu dan berada pada koridor lima Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang berorientasi pada pembangunan pariwisata, perikanan dan peternakan.

2.1.1.2. Letak dan Kondisi Geografis

kondisi geografis Kabupaten Sumbawa sebagian besar merupakan dataran tinggi dan berbukit-bukit tandus dengan curah hujan rendah, dan secara astronomis yang ditentukan berdasarkan garis lintang dan garis bujur, Kabupaten Sumbawa terletak diantara 116042’–118022’ BT, 808’–907’ LS, yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil berpenduduk; seperti Pulau Moyo, Pulau Medang, Pulau Tapan, Pulau Bungin, Pulau Kaung dan Pulau Panjang.

2.1.1.3. Topografi

Menurut karakteristik topografinya, permukaan tanah Kabupaten Sumbawa cenderung berbukit-bukit dengan ketinggian antara 0-1.730 meter diatas permukaan laut (mdpal). Ketinggian 0-100 mdpalmencapai luas 26,51%; 100-500 m dpal 42,31%; 500-1.000 m dpal 27,69% dan > 1.000 m dpal 3,49%. Adapun berdasarkan klasifikasi kemiringan lahan, kemiringan 0-2% seluas 33,79%; kemiringan 2-15% seluas 27,96%; kemiringan 15-40% seluas 49,49% dan kemiringan >40% seluas 54,03% (Data Pokok NTB, 2008).

Dalam konteks pembangunan daerah, kondisi topografi berpengaruh penyediaan infrastruktur dan fasilitas publik. Wilayah yang didominasi kemiringan lahan >40% seperti Kecamatan Batulanteh, Ropang, Lenangguar, dan Orong Telu anggaran untuk penyediaan infrastruktur dan fasilitas publik lebih mahal dibandingkan dengan wilayah kecamatan lain, sehingga pada umumnya aksesibilitas masyarakat di wilayah tersebut amat rendah.

Disamping itu, topografi berkaitan erat pula dengan kerentanan erosi. Menurut Data Pokok NTB, sekitar 64%, lahan di Kabupaten Sumbawa tergolong peka hingga sangat peka terhadap erosi, sehingga upaya rehabilitasi lahan amat penting dan mendesak dilakukan.

(2)

II - 2 2.1.1.4. Geologi

Kabupaten Sumbawa sebagaimana sebagian wilayah Indonesia terletak dalam sabuk gunung api (ring of fire). Dalam Peta Tatanan Geologi dan Gunung Berapi Indonesia, Kabupaten Sumbawa tempat pertemuan 2 lempeng aktif dunia yaitu Lempeng Indo-Australia (bagian selatan) dan Lempeng Eurasia (bagian utara) (Katili, 1994). Kondisi geologis tersebut menyebabkan Kabupaten Sumbawa kaya akan deposit sumberdaya mineral sekaligus rawan terhadap bencana alam. Prakiraan potensi sumberdaya mineral potensial yang dimiliki, berupa emas (180 ribu m3), tembaga (1,575 juta m3), lempung/tanah liat (5,9 juta m3), batu gamping (274,29 juta m3) dan marmer (43,06 juta m3), pasir besi (304,5 m3), sirtu (793 ribu m3) dan batu bangunan (269,22 juta m3).

Potensi lain seperti energi panas bumi juga terdapat di Kecamatan Maronge dengan potensi 6 Mwe untuk pemanfaatan langsung. Potensi angin juga cukup memadai untuk pembangkit listrik skala kecil terutama pada 6 kecamatan yakni Alas Barat (376,177 watt), Labuhan Badas (612,541 watt), Labangka (525,177 watt), Empang (376,177 watt), Plampang (313,621 watt) dan Lape (258,415 watt).Demikian pula potensi sumberdaya air, disamping digunakan sebagai air irigasi juga dapat digunakan untuk pembakit Listrik Mikro Hidro yang terdapat di 16 lokasi potensial dengan potensi energi 3.082 Kwatt.

2.1.1.5. Hidrologi

Kabupaten Sumbawa memiliki 7 Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan 153 titik mata air. Tingginya sedimentasi, berkurangnya jumlah dan debit mata air, serta semakin meluasnya wilayah bukaan di bagian hulu DAS menunjukkan kondisi DAS sebagian besar mengalami degradasi sehingga upaya rehabilitasi mendesak dilakukan. Dalam mendukung pengembangan pertanian, terdapat 35 Daerah Irigasi (DI) teknis yang terdiri dari 2 DI kewenangan Pusat, 8 DI Kewenangan Provinsi dan 25 DI kewenangan kabupaten. Disamping itu terdapat pula 534 DI yang dikelola oleh desa.

Dalam mendukung supply air irigasi terdapat 12 unit bendung teknis, 28 unit embung dan 4 unit bendungan. Permasalahan sedimentasi, biaya operasional dan pemeliharaan DI menjadi aspek utama dalam pengelolaan DI di Kabupaten Sumbawa. DAS di Kabupaten Sumbawa disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2.1.

Potensi Sumber Daya Air Di Kabupaten Sumbawa

No Kecamatan Sub Satuan wilayah

Sungai (SSWS)

Luas (km2)

Ketersediaan Air (Juta m3)

1 2 3 4 5

1 Lape/Lopok Bako 754 453

2 Lunyuk Beh 2255 2189

3 Moyo Hulu Moyo Hulu 956 290

4 Pelampang/Empang Ampang 1059 399

5 Labuan badas Pulau Moyo 454 214

6 Alas/Alas Barat Rea 1049 415

7 Utan/Rhee Rhee 1335 437

Sumber data : Balai Informasi Sumber Daya Air Dinas P U Prov. NTB Tahun 2010

2.1.1.6. Klimatologi

Kabupaten Sumbawa beriklim tropis yang dipengaruhi oleh dua musim yakni musim hujan dan kemarau. Dalam kurun waktu 2005-2009, jumlah hari hujan setahun rata-rata 106 hari dengan hari hujan tertinggi 117 hari (2006) dan terendah 94 hari (2009). Curah hujan tahunan rerata 1.238 mm per tahun dengan tertinggi 1.601,66 mm (2006) dan terendah 970 mm (2009). Curah hujan tertinggi sebulan berkisar 387,6 mm (antara Januari-Maret), tertinggi 630,4 mm (Februari 2006) dan terendah 271,1 mm (Februari 2005). Adapun bulan kering setahun rata-rata 2,6 bulan dengan bulan kering tertinggi 5 bulan (2006) dan terendah 1 bulan (2008).

(3)

II - 3

Suhu udara dalam kurun waktu 2005-2009, suhu rata-rata tahunan sekitar 27,20C, sedangkan suhu maksimum rata-rata 34,80C (tertinggi 34,40C tahun 2009) dan suhu minimum 20,90C (terendah 18,3 tahun 2009). Adapun tekanan udara rata-rata 1.008 mb dengan kelembaban udara 76,2% dan penyinaran 79,2%. Kondisi klimatologis demikian amat cocok dalam pengembangan berbagai komoditi pertanian, peternakan, perikanan dan beberapa jenis komoditi perkebunan.

Dalam 5 tahun terakhir ini di Kabupaten Sumbawa belum menunjukkan terjadinya kondisi ekstrim pada musim hujan dan musim kemarau. Namun fenomena terjadi La Nina dan El Nino dalam 3 tahun terakhir yang disertai dengan curah hujan yang lebih tinggi dan musim kemarau yang lebih pajang perlu diwaspadai.

2.1.1.7. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kabupaten Sumbawa sampai tahun 2009 terbagi dalam beberapa kategori penggunaan meliputi: 1) lahan sawah (terdiri dari: irigasi teknis, irigasi ½ teknis, irigasi PU dan tadah hujan); 2) lahan kering (terdiri dari: kolam/tebat/empang, tegal/kebun, ladang/huma, pengembalaan/padang rumput, sementara tidak diusahakan, hutan rakyat, tambak, perkebunan dll); 3) lahan lainnya (terdiri dari: rawa-rawa/tidak ditanami, rumah/ bangunan/halaman sekitarnya, hutan negara dan lainnya).

Tabel 2.2.

Penggunaan Lahan Di Kabupaten Sumbawa

No. Penggunaan Luas Lahan (Ha)

2007 2008 2009

1 2 3 4 5

1. Luas Lahan Sawah 43.179 46.873 48.254

2. Luas Lahan Kering 338.100 241.160 240.245

3. Luas Lahan Lainnya 283.119 296.945 375.959

Sumber data : Sumbawa Dalam Angka (BPS)

Rendahnya luasan lahan sawah dan masih tingginya luasan lahan kering sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.2, menunjukkan bahwa peluang pengembangan pembangunan ekonomi daerah dari sector pertanian dalam arti luas masih sangat terbuka, diantaranya melalui peningkatan kemampuan teknologi dan industri ramah lingkungan yang mampu untuk menghasilkan nilai tambah bagi usaha ekonomi masyarakat di masa depan.

2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Berdasarkan kondisi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya sebagai seperti terlihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3.

Arahan Pengembangan Kawasan Budidaya Dalam RTRW Kabupaten Sumbawa

No. Jenis Kawasan Lokasi

1 2 3

1 Kawasan Hutan Produksi Tetap  Kawasan Hutan Produksi Tetap yaitu Ngali RTK 12 (1.135,10 Ha),

Serading RTK 36 (826 Ha), Pusuk Pao RTK 38 (2.072,30 Ha), Buin Soway RTK 57 (3.813,90 Ha), Selalu Legini RTK 59 (5.415 Ha), Klongkang P. Ngengas RTK 60 (976,06 Ha), Batu Lanteh RTK 61 (1.891,40 Ha), Dodo Jaran Pusang RTK 64 (12.571,10 Ha), Ampang Kampaja RTK 70 (11.113 Ha), Olat Lake/Olat Cabe RTK 78 (3.451,78 Ha), Gili Ngara/Olat Puna RTK 79 (2.617,80 Ha), P. Rai Rakit Kwangko RTK 80 (4.745,31 Ha), Samoko Lito RTK 89 (251,50 Ha).

2 Kawasan Peruntukan Perikanan,

Kelautan, Pesisir dan Pulau Kecil

 Kawasan Alas dan Pantai Utara Kabupaten Sumbawa dan sekitarnya sebagai kawasan penangkapan ikan, budidaya laut, budidaya tambak, pertambangan, cagar wisata, konservasi terumbu karang dan lamun, perlindungan cagar alam dan pelabuhan;

(4)

II - 4

No. Jenis Kawasan Lokasi

 Kawasan Teluk Saleh dan sekitarnya sebagai kawasan penangkapan ikan, budidaya laut, budidaya tambak, pertambangan, wisata bahari, pelestarian ekosistem dan pelabuhan;

3 Kawasan Peruntukan Pertanian  Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi terdiri dari beririgasi teknis

seluas 17.714 Ha;

 Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi setengah teknis seluas 8.839 Ha;

 Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi sederhana seluas4.602 Ha;  Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi non PU seluas 4.397Ha;  Kawasan pertanian lahan sawah tadah hujan seluas 7.627 Ha;

 Kawasan pertanian tanaman pangan lahan kering tersebar di seluruh kecamatan seluas 23.795 Ha.

 Kawasan pertanian tanaman hortikultura semusim tersebar di seluruh wilayah kecamatan seluas 91.905 Ha.

4 Kawasan Peruntukan Perkebunan  Perkebunan dikembangkan di Kawasan Industri Masyarakat

Perkebunan (KIM-Bun): Rhee dengan tanaman unggulan kelapa, jambu mete; Batulanteh dengan tanaman unggulan kopi,

 Komoditi unggulan jambu mete di KIM-Bun : Utan Rhee,  Komoditi kelapa di KIM-Bun : Sumbawa;

 Komoditi kopi di KIM-Bun : Batulanteh,  Komoditi kemiri di KIM-Bun : Batulanteh,

 Kawasan perkebunan dikembangkan kegiatan agroindustri Hasil tanaman perkebunan dan tanaman komoditi unggulan;

5 Kawasan Peruntukan Pertambangan  WUP operasi produksi di Pulau Sumbawa seluas 100.536,29 Ha

 Zona-zona tertentu yang telah dinyatakan layak berdasarkan Hasil kajian teknis, ekonomi dan lingkungan.

6 Kawasan Peruntukan Peternakan Kec. Rhee (240 Ha), Lape Lopok (1.426 Ha), Moyo Hilir (13.097

Ha), Moyo Hulu (1.175 Ha), Utan (1.025 Ha), Empang (920 Ha), Tarano (685 Ha), Plampang (1.455 Ha), Labangka (458 Ha), Maronge (1.700 Ha), Ropang (0.539 Ha), Batu Lanteh (269 Ha).

Sumber : Draf Akhir Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sumbawa 2011-2025.

2.1.3. Wilayah Rawan Bencana

Kabupaten Sumbawa memiliki ancaman bencana kegempaan yang cukup tinggi dan tsunami terutama di wilayah pesisir bagian Selatan, dikarenakan posisi Pulau Sumbawa diapit oleh dua lempeng tektonik (utara dan selatan) yang pergerakannya dapat menimbulkan gempa, yang pada skala dan kedalaman tertentu dapat menyebabkan tsunami.

(5)

II - 5 Gambar 2.1

Peta Lempeng Tektonik

Berdasarkan Gambar 2.1, kawasan rawan tsunami terletak pada kawasan pesisir bagian utara dan selatan yaitu Alas, Utan, Badas, Sumbawa Besar, Prajak, Labuhan Moyo Hilir, Empang dan Plampang bagian Selatan, Lunyuk dan Teluk Panas, Plampang.

Pada musim hujan, ancaman banjir terjadi wilayah dengan catchment area besar dengan kondisi DAS yang mulai terganggu seperti sepanjang Brang Moyo, Brang Beh di Lunyuk, Brang Labuhan Mapin di Alas, Brang Utan, Brang Buer, dan Brang Muir. Ancaman terhadap permukiman penduduk disepanjang tebing sungai juga menjadi permasalahan tersendiri pada saat musim hujan.

Kawasan yang diidentifikasi sebagai kawasan rawan banjir di Kabupaten Sumbawa terletak pada sepanjang Brang Moyo di daerah Poto Tengke Moyo Hilir, Brang Beh di Lunyuk, Brang Labuhan Mapin di Alas, Brang Utan di Utan Rhee, Brang Muir di Plampang, Empang, Moyo Hulu, Ropang dan Lape Lopok. Demikian pula dengan ancaman tanah longsor. Di Kabupaten Sumbawa, kawasan rawan longsor dikelompokkan ke dalam 2 (dua) type, yaitu (1) lokasi rawan tanah longsor type A (Kawasan sekitar Alas, Semongkat, Lenangguar, dan Empang), dan (2) lokasi rawan tanah longsor type B (Jalur jalan Orong Telu-Ropang-Lunyuk-Jalur ke Sumbawa Barat dan pada desa-desa di Kecamatan Batu Lanteh).

Acaman kekeringan juga berpeluang terjadi pada banyak titik di Kabupaten Sumbawa terutama pada wilayah lumbung pangan di Kecamatan Labangka, Lunyuk, Moyo Hilir, Moyo Utara, Utan, Alas dan Alas Barat. Bencana alam lainnya yang perlu diwaspadai adalah tanah longsor terutama di wilayah Kecamatan Batulanteh, Lunyuk, Ropang, Lantung dan Orong Telu termasuk di beberapa bagian permukiman padat penduduk di wilayah perbukitan Kecamatan Sumbawa. Bencana abrasi pantai terutama dirasakan di wilayah permukiman padat penduduk di pesisir pantai labuhan Kecamatan Labuhan Sumbawa. Sedangkan ancaman angin topan terkadang menerjang beberapa wilayah permukiman terbuka seperti wilayah Pulau Kaung, Pulau Bungin, dan wilayah pesisir sepanjang pantai sebelah utara Kabupaten Sumbawa.

Kondisi geologis seperti itu memberikan peluang sekaligus tantangan bagi Kabupaten Sumbawa dalam pembangunan daerah.Pengelolaan potensi sumberdaya geologis yang berwawasan lingkungan sekaligus mitigasi bencana alam dalam konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) menjadi jawaban untuk dapat mengoptimalkan potensi sumberdaya geologis yang dimiliki Kabupaten Sumbawa.

(6)

II - 6 2.1.4. Demografi

2.1.4.1. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa dalam kurun waktu tahun 2005-2010 sebagaimana tergambar pada tabel berikut, menunjukkan perubahan menurut trend linear y = 5473.x + 38888. Selanjutnya dinamika populasi penduduk menurut kecamatan disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.4.

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumbawa (2005-2010) No Kecamatan

Luas Wilayah

(km2)

Jumlah Penduduk (Jiwa)

2005 2006 2007 2008 2009 2010*) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Lunyuk 513.74 21507 16482 16620 16905 17183 18123 2 Orong Telu 465.97 - 5760 5808 5908 6009 4530 3 Alas 123.04 27291 28223 28460 28948 29417 27993 4 Alas Barat 168.88 18872 19517 19681 20019 20366 18425 5 Buer 137.01 14859 15366 15495 15761 16018 13408 6 Utan 155.42 27027 27950 28185 28669 29187 28828 7 Rhee 230.82 6779 7010 7069 7190 7305 6908 8 Batulanteh 391.40 10008 10350 10437 10616 10788 10127 9 Sumbawa 44.83 50053 50053 52198 53094 53956 56649 10 Labuhan Badas 435.89 25224 26086 26305 26756 27207 28870 11 Unter Iwes 82.38 16999 16999 17728 18032 18341 18108 12 Moyo Hilir 186.79 20433 21131 21308 21674 22027 22238 13 Moyo Utara 90.80 8736 9034 9110 9266 9417 9023 14 Moyu Hulu 311.96 19323 19983 20151 20497 20846 19871 15 Ropang 444.48 13922 14398 5621 5717 5808 5017 16 Lenangguar 504.32 - - 6270 6378 6484 6286 17 Lantung 167.45 - - 2628 2673 2717 2767 18 Lape 204.43 31286 15419 15548 15815 16077 16131 19 Lopok 155.59 - 16936 17078 17371 17652 17550 20 Plampang 418.69 24492 25329 25542 25980 26408 27813 21 Labangka 243.08 8849 9152 9229 9387 9540 10148 22 Maronge 274.75 9467 9790 9872 10041 10205 9767 23 Empang 558.55 20958 21674 21856 22231 22593 21580 24 Tarano 333.71 14086 14567 14689 14941 15199 15203 Kab. Sumbawa 6643.98 390171 401209 406888 413869 420750 415363

Sumber : Sumbawa Dalam Angka, BPS (Beberapa tahun terbitan) *) Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010

Pada sensus penduduk (SP) tahun 2010, penduduk Kabupaten Sumbawa berjumlah 415.363 jiwa terdiri dari 211.451 laki-laki (50,91%) dan perempuan 203.912 jiwa (49,09%).

Tabel 2.5.

Distribusi, Sex Rasio dan Rata-Rata Anggota Keluarga Penduduk Kab. Sumbawa (2010)

No Kecamatan Kepadatan (Jiwa/Km2) Sex Ratio Rata-rata Anggota

Keluarga 1 2 3 4 5 1 Lunyuk 35,28 106 3,84 2 Orong Telu 9,72 108 4,04 3 Alas 227,51 102 3,97 4 Alas Barat 109,10 105 3,74 5 Buer 97,86 100 3,82 6 Utan 185,48 102 3,83 7 Rhee 29,93 108 3,95 8 Batulanteh 25,87 108 3,63 9 Sumbawa 1.263,64 100 3,69 10 Labuhan Badas 66,23 101 3,81 11 Unter Iwes 219,81 105 3,79 12 Moyo Hilir 119,05 103 3,85 13 Moyo Utara 99,37 102 3,80

(7)

II - 7

No Kecamatan Kepadatan (Jiwa/Km2) Sex Ratio Rata-rata Anggota

Keluarga 1 2 3 4 5 14 Moyu Hulu 63,70 106 3,62 15 Ropang 11,29 112 3,69 16 Lenangguar 12,47 110 3,75 17 Lantung 16,52 104 3,24 18 Lape 78,91 105 3,93 19 Lopok 112,80 102 3,75 20 Plampang 66,43 105 4,07 21 Labangka 41,75 107 3,52 22 Maronge 35,55 108 3,92 23 Empang 38,64 105 3,90 24 Tarano 45,56 103 3,97

Rata-Rata Kab. Sumbawa 125,52 104,96 3,80

Sumber : Diolah dari DDA dan Sensus Penduduk 2010, BPS 2011

2.1.4.2. Pertumbuhan Penduduk

Tingkat pertumbuhan penduduk dihitung dengan menggunakan data sensus penduduk. Data sensus penduduk (SP) yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali (sejak tahun 1980). Berdasarkan SP 2010, jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan penduduk Kabupaten serta perbandingannya dengan Provinsi NTB dan Nasional berdasarkan hasil sensus disajikan pada tabel 2.6.

Tabel 2.6.

Jumlah Penduduk Kabupaten Sumbawa Berdasarkan Sensus Penduduk

No Jenis Kelamin Sensus Penduduk

1971 1980 1990 2000 2010 1 2 3 4 5 6 7 1 Laki-Laki 98.014 123.325 152.871 183.511 211.451 2 Perempuan 95.107 121.058 152.660 177.068 203.912 Jumlah 193.121 244.383 305.531 360.579 415.363 Pertumbuhan Penduduk (%) - 2,38 2,26 1,67 1,42 Pertumbuhan Penduduk NTB - 2,36 2,14 1,82 1,17

Pertumbuhan Penduduk Nasional - 2,3 1,97 1,49 1,48

Sumber : Data Sensus Penduduk, Diolah dari BPS Sbw, BPS NTB dan BPS Pusat.

Laju perkembangan penduduk baik Kabupaten Sumbawa (KS), Provinsi NTB (NTB) dan Nasional (Nas) memperlihatkan kecenderungan penurunan. Penurunan yang paling tajam terjadi di tingkat Provinsi NTB antara periode 2000-2010 yakni 1,17% per tahun dibandingkan KS (1,42%) dan Nasional (1,48%). Yang menarik disini adalah terjadinya karakteristik penurunan pertumbuhan penduduk antara periode 1990-2000 dengan periode 2000-2010 seperti terlihat melalui Gambar 2.2.

(8)

II - 8

Sumber : Data Sensus Penduduk, Diolah dari BPS Sbw, BPS NTB dan BPS Pusat. Gambar 2. 2

Pertumbuhan Penduduk Tahunan Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB dan Nasional

2.1.4.3. Struktur dan Komposisi Penduduk

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, struktur penduduk Kabupaten Sumbawa berbentuk piramida dari kelompok umur 25-29 tahun ke atas, namun menyempit pada kelompok umur 15-24 tahun, lalu kembali melebar pada kelompok usia 10-14 tahun kebawah. Penyempitan pada kelompok umur 15-24 tahun merupakan hasil dari penurunan jumlah kelahiran karena keberhasilan Program KB di era tahun 1980-1990. Gambaran struktur penduduk Kabupaten Sumbawa Tahun 2010 seperti terlihat pada gambar 2.3.

Sumber :Diolah dari Sensus penduduk 2010, BPS Kab. Sumbawa 2011

Gambar 2. 3

Piramida Penduduk Kabupaten Sumbawa Tahun 2010

Pada gambar 2,3 ditunjukkan bahwa proporsi penduduk usia muda (14 tahun kebawah) berkisar antara 30,13% sampai dengan 33,43% dengan rata-rata 31,79%, proporsi penduduk muda/produktif (15-65 tahun) : berkisar antara 62,69% sampai dengan 64,68% dengan rata-rata 64,34%, dan proporsi penduduk usia lanjut (65 tahun keatas) : berkisar antara 3,10 sampai dengan 3,87% dengan rata-rata 3,86%.

(9)

II - 9 2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.2.1.1. Pertumbuhan PDRB

Pertumbuhan ekonomi diukur berdasarkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang merupakan nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor ekonomi suatu daerah. Nilai tambah bruto disini mencakup komponen-komponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tak langsung netto. Dengan menghitung nilai tambah bruto dari masing-masing sektor danmenjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor akan diperoleh Produk Domestik Regional Bruto.

Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dari tahun ke tahun menggambarkan perkembangan PDRB yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam volume produksi barang dan jasa yang dihasilkan dan perubahan dalam tingkat harganya. Untuk mengukur perubahan volume produksi atau perkembangan produksi secara nyata, faktor pengaruh harga perlu dihilangkan dengan cara menghitung PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).

Dalam 10 tahun terakhir, perekonomian Kabupaten Sumbawa ditunjukkan oleh Angka PDRB ADHB telah tumbuh hampir empat kali lipat yakni Rp.1,17 Trilyun pada tahun 2000 menjadi Rp.3,43 Trilyun pada tahun 2009. Pertumbuhan nilai tambah tersebut belum banyak disebabkan oleh peningkatan volume barang/jasa, namun lebih disebabkan oleh pengaruh kenaikan harga, sehingga bila faktor kenaikan harga (factor inflasi) dikeluarkan dari perhitungan maka perkembangan nilai perekonomian Kabupaten Sumbawa dalam sepuluh tahun terakhir jauh lebih rendah.

Kondisi sebagaimana ditunjukkan oleh nilai PDRB ADHK yang tumbuh dari Rp. 1,16 Trilyun pada tahun 2000 menjadi Rp. 1,72 Trilyun pada tahun 2009. Data ini menunjukkan bahwa nilai perekonomian Kabupaten Sumbawa dalam satu dasawarsa terakhir masih dominan disebabkan oleh faktor kenaikan harga dibandingkan peningkatan jumlah atau volume produk barang atau jasa yang dihasilkan. Nilai PDRB ADHB dan PDRB ADHK Kabupaten Sumbawa tahun 2000-2009 ditunjukkan pada gambar 2.4.

Sumber : Diolah dari PDRB Sumbawa, BPS 2005-2010

Gambar 2. 4

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Sumbawa (2000 – 2009)

Gambar 2.4. memperlihatkan perbedaan laju pertumbuhan PDRB ADHB dan PDRB ADHK yang cukup senjang. Oleh karena itu, upaya peningkatan perekonomian daerah kedepan harus diarahkan pada peningkatan nilai dan volume produk barang atau jasa yang dihasilkan di Kabupaten Sumbawa.

(10)

II - 10

Sumber : Diolah dari BPS Sumbawa 2005-2010

Gambar 2. 5

Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)

Dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Sumbawa (2000 – 2009)

Adapun perbandingan laju pertumbuhan ekonomi (PDRB ADHK) Kabupaten Sumbawa (KS), Provinsi NTB dan Nasional ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 2.7.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kab. Sumbawa, Provinsi NTB Dan Nasional (2005-2009)

Tahun Kab. Sumbawa Prov. NTB Nasional

1 2 3 4 2005 4,0% 4,1% 5,7% 2006 4,7% 5,0% 5,5% 2007 4,8% 5,7% 6,3% 2008 4,5% 6,7% 6,1% 2009 5,2% 8,1% 6,4% RERATA 4,7% 5,9% 6,0%

Sumber : Diolah dari BPS Kab.Sbw dan BPS NTB 2010, RPJMN.

Adapun laju pertumbuhan ekonomi sektoral Kabupaten Sumbawa disajikan pada Tabel 2.8. Laju pertumbuhan sektoral memperlihatkan bahwa 7 (tujuh) perekonomian tumbuh diatas rata-rata, yakni: (1) Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (7,74%); (2) Perdagangan, Hotel dan Restoran (6,38%); (3) Pengangkutan dan Komunikasi (5,68%); (4) Bangunan (5,82%); (5) Industri Pengolahan (5,26%); (6) Pertambangan dan Penggalian (5,02%) dan (7) Keuangan, Persewaan dan Jasa Usaha (4,98%). Sedangkan 2 (dua) sektor lainnya masih berada dibawah rata-rata, yakni sektor pertanian (3,33%) dan sektor jasa-jasa lainnya (2,98%).

Tabel 2.8.

Laju Pertumbuhan Sektoral PDRB ADHK Kab. Sumbawa (2001-2009)

NO Sektoral 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rerata

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Pertanian 2,4 2,72 4,64 3,53 1,85 3,6 4,07 3,62 3,53 3,33

2 Pertambangan dan Penggalian 4,91 4,35 4,53 5,02 5,25 5,01 4,65 3,82 7,6 5,02

3 Industri Pengolahan 5,35 4,96 5,04 5,76 5,25 5,27 5,27 4,27 6,14 5,26

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 9,76 8,6 2,6 7,89 7,86 7,38 7,65 8,8 9,08 7,74

5 Bangunan 6,34 4,9 4,76 5,6 6,78 5,68 4,54 6,51 7,31 5,82

6 Perdag, Hotel dan Restoran 5,83 5,81 6,19 6,63 6,07 6,19 6,31 6,47 7,92 6,38

7 Pengangkutan dan Komunikasi 2,12 6,85 4,47 4,22 7,8 8,42 8,34 4,8 4,14 5,68

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa

Usaha 3,2 5,16 5,24 4,99 4,99 5,02 5,33 4,13 6,76 4,98 9 Jasa-Jasa Lainnya 0,74 3,03 1,96 3,45 3,98 3,24 3,14 3,08 4,22 2,98

Kab. Sumbawa 3,36 3,94 4,6 4,49 4,03 4,68 4,79 4,55 5,21 4,41

(11)

II - 11

Data ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sumbawa didorong oleh laju pertumbuhan sektor non primer yakni terutama sektor tersier dan sekunder, sedangkan sektor pertanian sebagai sektor primer dan merupakan sektor yang menjadi lapangan usaha sebagian besar masyarakat Kabupaten Sumbawa justru tumbuh dengan laju dibawah rata-rata kabupaten. Meskipun demikian pangsa (share) sektor pertanian masih menjadi yang terbesar diantara 9 sektor perekonomian daerah, sebagaimana ditunjukkan melalui tabel 2.9.

Tabel 2.9.

Pangsa (Share) Sektoral PDRB ADHK Kabupaten Sumbawa (2001-2009)

No Sektoral 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rata- Rata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 Pertanian 46,28 45,85 45,31 45,33 44,91 43,97 43,51 43,21 42,84 42,14 44,34 2 Pertambangan dan Penggalian 2,10 2,13 2,14 2,14 2,15 2,18 2,18 2,18 2,17 2,21 2,16 3 Industri Pengolahan 4,07 4,14 4,18 4,20 4,25 4,30 4,33 4,35 4,34 4,37 4,25 4 Listrik, Gas dan Air

Bersih 0,42 0,44 0,46 0,45 0,47 0,49 0,50 0,51 0,52 0,55 0,48 5 Bangunan 10,44 10,74 10,84 10,86 10,97 11,26 11,37 11,34 11,56 11,79 11,12 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 15,97 16,35 16,64 16,90 17,24 17,58 17,83 18,08 18,42 18,90 17,39 7 Pengangkutan dan Komunikasi 5,48 5,42 5,57 5,56 5,55 5,75 5,96 6,16 6,17 6,11 5,77 8 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Usaha 2,73 2,72 2,76 2,77 2,79 2,81 2,82 2,84 2,82 2,87 2,79

9 Jasa-Jasa Lainnya 12,52 12,20 12,09 11,79 11,67 11,67 11,50 11,32 11,14 11,06 11,70

Kabupaten Sumbawa 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber : Diolah dari BPS Sumbawa, 2005-2009

Kontribusi atau pangsa sektor pertanian adalah yang terbesar (rata-rata 44,34%) namun dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan rata-rata 0,46% per tahun. Sedangkan 5 (lima) sektor lainnya yakni Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Jasa-jasa dan Sektor Bangunan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan memberikan kontribusi mencapai 50,23% dengan rata-rata kenaikan 0,42% per tahun. Kondisi ini menunjukkan terjadinya kecenderungan perubahan struktur ekonomi Kabupaten Sumbawa dari sektor pertanian (sektor primer) ke sektor sekunder dan tersier, yang wajar terjadi sebagai dampak dari keberhasilan pembangunan di sector-sektor lainnya yang lebih cepat berkembang. Meskipun demikian, kinerja sektorpertanian masih perlu ditingkatkan dengan mengoptimalkan potensi dan nilai tambahnya bagi perekonomian daerah.

Untuk memperoleh gambaran kinerja perekonomian secara regional di luar subsektor pertambangan non migas, maka disajikan nilai PDRB ADHB dan laju pertumbuhan PDRB ADHK 10 kabupaten/kota dalam Provinsi NTB sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

Tabel 2.10.

PDRB ADHB dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHK Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB (2004-2009)

(diluar Subsektor Pertambangan Non Migas)

Kabupaten / Kota

PDRB ADH Berlaku (Milyar Rp) Pertumbuhan Ekonomi (%)

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1. Lombok Barat 1.791,96 2.095,72 2.392,12 2.720,19 3.113,21 3.550,55 5,8 4,61 5,82 5,26 4,58 5,91 2. Lombok Tengah 2.131,04 2.415,63 2.703,06 3.038,47 3.528,36 4.102,55 4,55 4,3 5,09 4,71 6,96 7,26 3. Lombok Timur 3.007,91 3.418,93 3.825,77 4.285,70 4.863,86 5.511,51 4,85 4,57 4,69 5,09 5,47 5,71 4. Sumbawa 1.795,53 2.078,96 2.339,42 2.637,99 3.015,47 3.432,02 4,49 4,03 4,68 4,79 4,52 5,21 5. Dompu 0,98 1.111,86 1.235,21 1.931,72 1.552,67 1.762,22 1,88 2,38 4,11 4,97 4,05 5,1 6. Bima 1.525,62 1.670,15 1.856,38 2.064,07 2.385,75 2.721,15 4,92 1,37 4,26 4,56 5,96 6,43 7. Sumbawa Barat 0,41 0,47 0,54 0,61 0,70 0,82 4,08 4,32 6,99 6,74 6,84 8,04 8. Lombok Utara 0,69 0,79 0,89 1.010,96 1.143,21 1.259,12 5,04 2,74 4,91 4,94 3,52 4,97

(12)

II - 12

Kabupaten / Kota

PDRB ADH Berlaku (Milyar Rp) Pertumbuhan Ekonomi (%)

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 9. Mataram 1.894,37 2.312,22 2.651,94 3.078,20 3.624,34 4.140,35 9,53 7,77 7,86 7,92 7,76 8,47 10. Kota Bima 0,46 0,53 0,59 0,68 0,77 0,88 4,21 3,41 4,74 5,97 4,46 6,38 NTB 14.563,96 16.828,63 18.980,59 21.405,07 25.042,50 29.641,83 4,97 4,05 4,95 5,70 6,69 8,07 Sumber :PDRB NTB, BPS NTB, 2010

Berdasarkan tabel 2.10, bahwa nilai PDRB ADHB Kabupaten Sumbawa pada tahun 2004, berada pada posisi terbesar ke-4 dengan nilai Rp.1,79 Trilyun setelah Lombok Timur (Rp.3 Trilyun), Lombok Tengah (Rp.2,13 Trilyun), dan Kota Mataram (Rp.1,8 Trilyun). Sedangkan pada tahun 2009, mengalami penurunan menjadi posisi ke-5 dengan nilai Rp.3,42 Trilyun setelah Lombok Timur (5,51 trilyun), Lombok Tengah (4,10 Trilyun), Kota Mataram (4,14 Trilyun) dan Lombok Barat (Rp.2,55 Trilyun).

Dari laju pertumbuhan PDRB ADHK, pada tahun 2004 laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa 4,49% berada pada urutan ke-7 tertinggi setelah Mataram (9,53%), Lombok Barat (5,80%), Bima (4,92%), KLU (5,04%), Lombok Timur (4,85%) dan Bima (4,92%), namun pada tahun 2009, posisi tersebut mengalami penurunan menjadi urutan ke-8 dengan tingkat pertumbuhan 5,21% dibawahKota Mataram (8,47%), Sumbawa Barat (8,04%), Lombok Tengah (7,26%), Bima (6,43%), Kota Bima (6,38%), Lombok Barat (5,91%) dan Lombok Timur (5,71%). Berdasarkan data tersebut berarti terjadi penurunan kinerja perekonomian Kabupaten Sumbawa dibandingkan dengan 9 kabupaten/kota se Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Melihat perkembangan tersebut, maka perlu dilakukan identifikasi sektor ekonomi mana yang akan menjadi daya ungkit perekonomian daerah. Sebagai gambaran digunakan hasil analisis studi komparatif ekonomi antar kabupaten/kota se-Provinsi NTB Tahun 2007 yang dilakukan oleh BPS NTB kerjasama dengan Bappeda Provinsi NTB (BPS NTB, 2008).Studi komparatif ekonomi tersebut menggunakan metode analisis Location Quotient (LQ) dan Shift-Share (SS).

Berdasarkan hasil perhitungan nilai LQ, terdapat 5 (lima) sektor ekonomi Kabupaten Sumbawa dengan LQ>1, yaitu : (1) sektor pertanian (1,72); (2) sektor listrik, gas dan air bersih (1,61); sekor bangunan (1,62); sektor perdagangan (1,24) dan sektor jasa-jasa (1,14), sedangkan keempat sektor lainnya memiliki nilai LQ<1. Khusus untuk nilai LQ sektor pertanian merupakan nilai tertinggi kedua dibandingkan kabupaten/kota lainnya se-NTB.Secara lengkap nilai LQ sektoral kabupaten/kota se-NTB dapat dilihat melalui tabel berikut.

Tabel 2.11.

Nilai Location Quotient (LQ) Sektoral Kabupaten/Kota Se-NTB (2007)

No Sektor LOBAR LOTENG LOTIM SBW DMP BIMA KSB MTR KBM

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Pertanian 1,24 1,29 1,49 1,72 1,68 2,05 0,11 0,19 0,86

2 Pertambangan dan

Penggalian 0,14 0,12 0,18 0,09 0,09 0,12 3,59 0,00 0,01

3 Industri Pengolahan 0,89 1,62 1,61 0,92 0,88 0,59 0,06 2,51 0,72

4 Listrik, Gas dan

Air Bersih 1,41 0,77 0,78 1,61 1,14 0,63 0,07 2,42 2,73

5 Bangunan 1,60 1,47 1,22 1,62 0,94 0,89 0,18 1,16 1,00

6 Perdagangan,

Hotel dan Restoran 1,54 1,35 1,28 1,24 1,25 1,06 0,12 1,26 1,27

7 Pengangkutan dan Komunikasi 1,25 0,78 0,80 0,79 0,82 0,93 0,12 3,59 2,25 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Usaha 0,96 1,08 0,97 0,57 1,38 0,54 0,05 3,23 1,07 9 Jasa-Jasa Lainnya 1,27 1,53 1,22 1,14 1,32 1,09 0,07 1,21 2,59

(13)

II - 13

Adapun hasil analisis Shift-Share dengan melakukan ploting nilai Different Shift (DS) dan Proportionality Shift (PS) pada empat kuadran kategori pertumbuhan, diperoleh hasil seperti ditunjukkan tabel berikut.

Tabel 2.12.

Kategori Pertumbuhan Sektoral Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB Berdasarkan Plot Nilai DS dan PS Metode Shift-Share (2000-2007)

Sektor

Pertumbuhan

Pesat (I) Tertekan Yang

Berkembang (II)

Tertekan Yang

Potensi (III) Terbelakang (IV)

1 2 3 4 5 Lombok Barat 3,4,5 1,2,9 6,7,8 - Lombok Tengah 3,6,7 2 4,5,8 1,9 Lombok Timur 7 2,9 3,4,5,6,8 1 Sumbawa 4 1,2,3,9 5,6,7,8 - Dompu 5,7,8 2,9 3,4,6 1 Bima - 1,2,9 3,4,5,6,7,8 - Sumbawa Barat 4,5 9 3,6,7,8 1,2 Kota Mataram 3,5,6,7,8 1,9 4 2 Kota Bima 5,6,7 1,2 3,4,5,8 9

Sumber : Analisis Komparatif Ekonomi, BPS NTB 2008

Berdasarkan analisis LQ dan Shift-Share tersebut dapat disimpulkan sektor yang dapat menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa terhadap sektor perekonomian Kabupaten/Kota lainnya se-NTB sebagai berikut.

a. Sektor Pertanian, merupakan sektor yang memiliki keunggulan komparatif dengan peranan paling besar terhadap sektor sejenis namun dalam kondisi tertekan yang berkembang.

b. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih, merupakan sektor dalam kondisi berkembang pesat namun baru memiliki peranan terbesar ketiga dari sektor sejenis.

c. Sektor Jasa-Jasa, merupakan sektor tertekan yang berkembang namun memiliki peranan positif secara regional.

d. Sektor-sektor lainnya, merupakan sektor potensial namun dalam kondisi tertekan dan belum memperlihatkan peranan signifikan.

2.2.1.2. PDRB per kapita

Pendapatan per kapita dihitung dengan pendekatan nilai PDRB dibagi jumlah penduduk, meskipun pendekatan tersebut memiliki kelemahan namun telah dianggap dapat memberikan gambaran tingkat kesejahteraan penduduk suatu daerah dari waktu kewaktu atau perbandingannya dengan daerah lain. Angka PDRB yang digunakan disini adalah PDRB ADHB. Gambaran pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa dengan memasukkan Subsektor Pertambangan Non Migas dan tanpa Subsektor Pertambangan Non Migas dalam kurun waktu 2004-2009 dan perbandingannya dengan pendapatan per kapitan NTB terlihat pasa gambar berikut.

(14)

II - 14

Sumber : Diolah dari PDRB NTB, BPS NTB 2010

Gambar 2. 6

Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Sumbawa

Gambar 2.6. memberikan informasi yang menarik sebagai berikut : 1) pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa dengan dan tanpa Subsektor Pertambangan Non Migas sama besar, hal ini karena kontribusi subsektor tersebut amat kecil dalam struktur PDRB Kabupaten Sumbawa. 2) adapun pendapatan per kapita NTB dengan dan tanpa memasukan Subsektor Pertambangan Non Migas amat berbeda, terlihat bila subsektor tersebut dimasukkan maka pendapatan per kapita NTB diatas Kabupaten Sumbawa, bila subsektor tersebut dikeluarkan dari perhitungan maka pendapatan per kapita NTB dibawah Kab. Sumbawa. 3) Pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa bergerak dari Rp. 4,75 juta per orang per tahun (2004) menjadi Rp.8,16 juta per orang per tahun (2009) atau meningkat rata-rata 11,45% per tahun. 4) Pendapatan per kapita NTB dengan tambang meningkat dari Rp.5,43 juta per orang per tahun (2004) menjadi Rp.9,42 juta per orang per tahun (2009) dengan rata-rata peningkatan 11,76% per tahun.

Sedangkan pendapatan per kapita NTB tanpa tambang tumbuh mulai Rp.3,57 per orang per tahun (2004) menjadi Rp.6,69 juta per orang per tahun (2009) dengan rata-rata pertumbuhan 13,37% per tahun.Tabel berikut memberikan gambaran laju perubahan pendapatan per kapita khususnya berdasarkan PDRB ADHB tanpa tambang untuk Kabupaten Sumbawa dan Provinsi NTB.

Tabel 2.13.

Laju Peningkatan PDRB ADHB, Laju Pertumbuhan Penduduk dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHB Per Kapita Kabupaten Sumbawa dan Provinsi NTB (2005-2009)

(Tanpa Subsektor Pertambangan Non Migas)

Tahun PDRB ADHB Penduduk PDRB Per Kapita

KS NTB KS NTB KS NTB 1 2 3 4 5 6 7 2005 15,79% 15,55% 3,12% 1,65% 12,28% 13,67% 2006 12,53% 12,79% 3,42% 2,75% 8,81% 9,77% 2007 12,76% 12,77% 0,84% 0,83% 11,82% 11,85% 2008 14,31% 16,99% 1,72% 1,66% 12,38% 15,08% 2009 13,81% 18,37% 1,66% 1,61% 11,95% 16,49% Rerata 13,84% 15,29% 2,15% 1,70% 11,45% 13,37%

Sumber : Diolah dari PDRB NTB, BPS NTB 2010

Tabel tersebut memperlihatkan fakta meskipun pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa berada diatas NTB, namun laju pertumbuhannya di bawah NTB. Hal ini disebabkan oleh 2 hal : 1) Laju peningkatan PDRB Kabupaten Sumbawa dibawah NTB (13,84% terhadap 15,29%); 2) Laju peningkatan jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa lebih tinggi dari NTB (2,15% terhadap 1,70%). Bila kondisi ini terus berlanjut, maka sangat mungkin pendapatan per kapita tanpa tambang NTB diatas Kabupaten Sumbawa.

(15)

II - 15 2.2.1.3. Laju Inflasi

Laju inflasi sebagai gambaran kenaikan harga umum barang-barang di Kabupaten Sumbawa menurut lapangan usaha disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.14.

Laju Inflasi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sumbawa (2005-2009)

NO. LAPANGAN USAHA 2005 2006 2007 2008 2009

1 2 3 4 5 6 7

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN

PERIKANAN

10,34 9,00 9,21 8,96 7,60

a. Tanaman Bahan Makanan 12,45 12,02 10,42 8,58 9,47

b. Tanaman Perkebunan Rakyat 8,99 5,32 7,40 6,54 5,11

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 13,57 6,08 11,16 12,88 6,33

d. Kehutanan 9,93 6,10 1,96 3,61 5,38

e. Perikanan 1,98 2,86 5,40 8,44 3,33

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 8,34 6,51 7,85 8,84 7,54

a. Minyak dan Gas Bumi

b. Pertambangan Tanpa Migas

c. Penggalian 8,34 6,51 7,85 8,84 7,54

3. INDUSTRI PENGOLAHAN 6,33 3,28 5,32 5,05 4,25

a. Industri Dengan Migas

b. Industri Tanpa Migas 6,33 3,28 5,32 5,05 4,25

4. LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH 9,94 3,98 7,44 3,63 3,70

a. Listrik 11,44 3,92 8,83 4,00 4,49

b. Gas Kota

c. Air Bersih 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

5. BANGUNAN 5,87 4,21 5,92 14,04 8,99

6. PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 13,45 8,00 8,11 7,96 6,94

a. Perdagangan Besar dan Eceran 13,81 8,14 8,11 7,95 6,89

b. Hotel 5,23 2,26 2,42 6,40 7,56

c. Restoran 6,14 5,22 9,48 8,37 7,97

7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 29,42 2,96 3,06 6,42 2,95

a. Pengangkutan 39,75 3,44 3,54 7,94 3,46

1. Angkutan Rel Kereta Api

2. Angkutan Jalan Raya 42,13 3,10 3,38 7,91 3,31

3. Angkutan Laut 15,87 5,54 2,18 10,53 6,80

4. Angk. Sungai, Danau & Penyeberangan

5. Angkutan Udara 4,55 8,67 3,20

6. Jasa Penunjang Angkutan 15,12 8,67 8,64 6,57 5,19

b. Komunikasi 0,12 1,26 1,12 0,84 1,22

1. Pos dan Telekomunikasi 0,12 1,26 1,12 0,84 1,22

2. Jasa Penunjang Komunikasi

8. KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUS. 7,38 5,25 3,99 7,88 6,87

a. Bank 5,21 3,12 3,38 11,90 5,20

b. Lembaga Keuangan Bukan Bank 2,98 3,72 2,19 5,50 5,12

c. Jasa Penunjang Keuangan

d. Sewa Bangunan 9,12 -92,64 7,22 6,33 7,47

e. Jasa Perusahaan 5,81 10273,59 4,79 9,97 7,91

9. JASA – JASA 10,72 9,01 6,81 12,34 14,71

a. Pemerintahan Umum 10,98 9,31 6,91 12,81 15,30

1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 10,98 9,31 6,91 12,81 15,30

2. Jasa Pemerintahan Lainnya

b. Swasta 7,17 5,02 5,60 5,95 6,36

1. Sosial Kemasyarakatan 10,23 6,43 7,10 6,99 6,51

2. Hiburan dan Rekreasi 5,89 4,62 3,79 5,13 6,13

3. Perorangan dan Rumahtangga 3,98 3,49 4,12 4,89 6,38

P D R B 11,30 7,49 7,61 9,35 8,03

(16)

II - 16 2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial

Pembangunan manusia sebagai insan dan sumberdaya pembangunan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, dilakukan pada seluruh siklus hidup manusia sejak dalam kandungan hingga lanjut usia. Upaya tersebut dilandasi oleh pertimbangan bahwa kualitas manusia yang baik ditentukan oleh pertumbuhan dan perkembangannya sejak dalam kandungan. Selama periode tahun 2006-2010 berbagai program telah dilaksanakan untuk dapat meningkatkan sumberdaya manusia Kabupaten Sumbawa, yang gambaran kinerja dalam penyelenggaran pemerintahan daerah atas fokus tersebut terlihat dari beberapa indikator sebagai berikut.

2.2.2.1. Angka Melek Huruf (AMH)

Angka melek huruf Kabupaten Sumbawa pada masing-masing kecamatan menunjukkan bahwa kecamatan dengan angka melek huruf terendah adalah Kecamatan Rhee yang baru mencapai 76,71 (jumlah penduduk buta aksara mencapai 1131 warga belajar) sedangkan kecamatan tertinggi adalah Kecamatan Sumbawa dengan angka melek huruf mencapai 98,08 (jumlah penduduk buta aksara 701 warga belajar).

Tabel 2.15.

Angka Melek Huruf Menurut Kecamatan Di Kabupaten Sumbawa (2010)

No Kecamatan

Jumlah Penduduk Usia diatas 15 Tahun yang

bisa membaca dan menulis

Jumlah penduduk usia

15 tahun keatas Angka melek huruf

1 2 3 4 5 1 Lunyuk 9.974 11.651 85.61 2 Alas 17.688 19.994 88.47 3 Utan 16.211 19.789 81.92 4 Batu lanteh 6.395 7.306 87.53 5 Sumbawa 35.813 36.514 98.08 6 Moyo hilir 14.450 15.794 91.49 7 Moyo hulu 13.537 14.720 91.96 8 Ropang 4.122 4.338 95.02 9 Lape 10.229 11.235 91.05 10 Plampang 16.285 17.958 90.68 11 Empang 15.089 15.932 94.71 12 Labuhan badas 16.396 18.661 87.86 13 Alas barat 13.420 14.346 93.55 14 Labangka 4.939 6.344 77.85 15 Rhee 3.726 4.857 76.71 16 Buer 10.208 10.983 92.94 17 Moyo utara 6.065 6.756 89.77 18 Maronge 6.372 6.874 92.70 19 Tarano 9.387 10.336 90.82 20 Lopok 11.393 12.459 91.44 21 Lenangguar 4.315 4.743 90.98 22 Orong telu 3.300 3.975 83.02 23 Unter iwis 12.199 13.229 92.21 24 Lantung 1.800 1.999 90.05 Jumlah 263.313 290.793 90.55

Sumber : Diknas Kab. Sumbawa Tahun 2010, diolah

Angka melek huruf Kabupaten Sumbawa hingga tahun 2010 adalah 90,55 (jumlah buta aksara 27.480). Kondisi seperti pada tabel tersebut menunjukkan bahwa hingga pada tahun 2010 di

Kabupaten Sumbawa masih terdapat sebanyak 9,5% penduduk usia 15 tahun ke atas dalamkeadaan

belum dapat membaca dan menulis. Angka tersebut masih separuh dari target nasional yang menetapkan angka buta aksara dibawah 5%. Dengan demikian, maka penuntasan buta aksara menjadi upaya penting dan ditarget penuntasannya harus ditangani sejak tahun 2011, dengan tetap memperhitungkan peluang pertumbuhan penduduk pada tahun-tahun berikutnya.

(17)

II - 17 2.2.2.2. Angka Rata-Rata Lama Sekolah

Rata-rata lama sekolah menunjukkan kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki. dan pendidikan yang ditamatkan. Berikut data rata-rata lama sekolah Kabupaten Sumbawa pada masing-masing jenjang pendidikan selama rentang waktu 2006 – 2010.

Tabel 2.16.

Angka Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Sumbawa (2006 – 2010)

No Jenjang Pendidikan 2006 2007 2008 2009 2010

1 2 3 4 5 6 7

1 SD / MI 6.21 6.21 6.21 6.21 6.23

2 SMP / MTs 3.01 3.00 3.00 3.00 3.01

3 SMA / MA / SMK 3.15 3.01 3.00 3.00 3.01

Sumber : Dinas Pendidikan Nasional Kab. Sumbawa diolah beberapa tahun

Dari data tersebut, SD/MI adalah jenjang pendidikan yang relatif lebih lama rata-rata waktu yang dibutuhkan. Tahun 2005 sisa waktu untuk pendidikan SD/MI adalah 0,21 kemudian tahun 2010 meningkat menjadi 0,23. Jenjang pendidikan SMP / MTS rata-rata dapat ditempuh tepat waktu 3 tahun (Tahun 2007, 2008 dan 2009), Tahun 2006 selisih waktu hanya 0,1 begitu pula Tahun 2010 hanya selisih 0,1 tahun.

2.2.2.3. Angka Partisipasi Kasar (APK)

Angka partisipasi kasar (APK) menunjukkan persentase jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu dibandingkan dengan penduduk kelompok usia sekolah. Kelompok usia sekolah untuk tingkat PAUD (< 6 tahun), SD/MI (7-12 tahun), SMP/MTs (13-15 tahun) dan SMA/MA/SMK (16-18 tahun). Indikator APK digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah disuatu jenjang pendidikan. Makin tinggi APK berarti makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah disuatu daerah, atau makin banyak anak usia di luar kelompok usia sekolah tertentu bersekolah di tingkat pendidikan tertentu. Nilai APK bisa lebih besar dari 100% karena adanya sisiwa di luar usia sekolah, daerah kota, atau daerah perbatasan. APK Kabupaten Sumbawa, rata-rata selama kurun waktu 2006 – 2010 untuk tingkat PAUD disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2.17.

Angka Partisipasi Kasar PAUD Kab. Sumbawa (2006-2010)

No Tahun APK 1 2 3 1 2006/2007 42,82 2 2007/2008 36,63 3 2008/2009 44,17 4 2009/2010 45,97 5 2010/2011 41,91

Sumber : Profil Pendidikan. Dinas Diknas Kab. Sumbawa (Beberapa Tahun Terbitan)

Selanjutnya rata-rata sepanjang tahun 2006-2010, APK SD 105,78, APK SMP/MTS 89,67 dan SMA/MA/SMK adalah 55,54, yang selengkapnya disajikan sebagai berikut.

(18)

II - 18 Tabel 2.18.

Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Kabupaten Sumbawa (2006 – 2010)

No Jenjang Pendidikan 2006 2007 2008 2009 2010

1 2 3 4 5 6 7

1 SD / MI

1.1 Jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD / MI 54199 53537 53136 53381 53143

1.2 Jumlah penduduk kelompok usia 7 - 12 tahun 51432 51479 51594 50468 47982

1.3 APK SD / MI 105.38 104.00 102.99 105.77 110.76

2 SMP / MTs

2.1 Jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP / MTs 21161 21522 22259 22444 21911

2.2 Jumlah penduduk kelompok usia 13 - 15 tahun 25318 25604 25863 24889 20969

2.3 APK SMP / MTs 83.58 84.06 86.07 90.18 104.49

3 SMA / MA / SMK

3.1 Jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA / MA / SMK 13198 5541 14482 14365 15746

3.2 Jumlah penduduk kelompok usia 16 - 18 tahun 23320 24028 24274 22839 20857

3.3 APK SMA / MA / SMK 56.60 23.06 59.66 62.90 75.50

Sumber : Dinas Pendidikan Nasional Kab. Sumbawa diolah beberapa tahun

2.2.2.4. Angka Partisipasi Murni (APM)

Angka Partisipasi Murni (APM) pada masing-masing jenjang pendidikan menunjukkan persentase jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu dibandingkan dengan penduduk kelompok usia sekolah. APM digunakan Untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah disuatu jenjang pendidikan. Makin tinggi APM berarti makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah disuatu daerah, atau makin banyak anak usia di luar kelompok usia sekolah tertentu bersekolah di tingkat pendidikan tertentu. APM Kabupaten Sumbawa tahun 2006-2010 menurut jenjang pendidikan disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.19.

Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Kab. Sumbawa (2006-2010)

No Jenjang Pendidikan 2006 2007 2008 2009 2010

1 2 3 4 5 6 7

1 SD / MI

1.1 Jumlah siswa kelompok usia 7 - 12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD / MI

54199 53537 53136 53381 53143

1.2 Jumlah penduduk kelompok usia 7 - 12 tahun 51432 51479 51594 50468 47982

1.3 APM SD / MI 90,04 91,10 90.81 91,75 96,80

2 SMP / MTs

2.1 Jumlah siswa kelompok usia 13 - 15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP / MTs

21161 21522 22259 22444 21911

2.2 Jumlah penduduk kelompok usia 13 - 15 tahun 25318 25604 25863 24889 20969

2.3 APM SMP / MTs 66,34 63,19 66.45 68,65 80,61

3 SMA / MA / SMK

3.1 Jumlah siswa kelompok usia 16 - 18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA / MA / SMK

13198 5541 14482 14365 15746

3.2 Jumlah penduduk kelompok usia 16 - 18 tahun 23320 24028 24274 22839 20857

3.3 APM SMA / MA / SMK 44,01 44,61 43.51 45,94 48,86

Sumber : Dinas Pendidikan Nasional Kab. Sumbawa, diolah berbagai tahun

Pada tabel 2.19, diperoleh gambaran bahwa dari beberapa jenjang pendidikan di Kabupaten Sumbawa, baru APM SD/MI yang saat ini telah memenuhi Standard Pelayanan Minimum bidang pendidikan, yakni sebesar 96,80 dimana standard pelayanan minimum pendidikan jenjang SD/MI adalah 95% penduduk kelompok usia 7 – 12 tahun bersekolah di SD/MI. Sedangkan APM SMP/MTS dan SMA sederajat masih berada dibawah standard pelayanan minimum. SPM SMP/MTS sesuai Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 129a/U/2004 adalah 90%, dan untuk SMA sederajat adalah 60%. Capaian APM Kab. Sumbawa untuk SMP/MTS baru mencapai 80,61, dan SMA sederajat adalah 48,86.

(19)

II - 19 2.2.2.5. Angka Kematian Bayi (AKB)

AKB menunjukkan jumlah bayi meninggal dalam usia kurang satu tahun tiap 1.000 kelahiran hidup dalam kurun satu tahun. Kematian bayi di Kabupaten Sumbawa pada tahun 2005 tercatat sebanyak 31 kasus bayi lahir mati atau 0.42% dari jumlah kelahiran, dengan perincian penyebab kematian sebagai berikut; aspexya: 13 Orang, BBLR : 11 Orang, Infeksi : 2 Orang, dan mati dalam kandungan ada 5 Orang. Penyebab kematian bayi tertinggi adalah disebabkan oleh aspexya.

Bila dibandingkan dengan angka kematian bayi pada tahun 2004 sebanyak 59 Orang maka ada perubahan positif yaitu penurunan angka kematian bayi dan peningkatan derajat kesehatan dalam penanganan ibu melahirkan serta Bayi lahir. Tahun 2007 angka kematian bayi adalah 9,26 per 1.000 kelahiran hidup (87 kasus), kemudian Tahun 2008 kembali terjadi penurunan derajat kesehatan dalam penangan bayi lahir yang ditunjukkan oleh meningkatnya AKB menjadi 12,37. Tahun 2009 tercatat angka kematian bayi adalah 6,36 (49 kasus) dengan jumlah kasus kematian balita 21 kasus, sedangkan rata-rata NTB 54,5 dan 39,2. Perbandingan jumlah kematian bayi Kabupaten/kota se-NTB terlihat pada tabel berikut.

Tabel 2.20.

Angka Kematian Bayi dan Balita Kabupaten/Kota se-NTB (2009)

No Kabupaten/ Kota Kelahiran Bayi Usia: 0-1 Tahun Kelahiran Balita Usia: 1-5 Tahun Bedah/Cesar

Lahir Mati Hidup Lahir Mati Hidup

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Kota Mataram 7.921 26 7.895 34.000 5 33.995 - 2 Lombok Barat 11.841 77 11.764 65.909 82 65.827 - 3 Lombok Tengah 17593 116 17.477 92.217 38 92.179 - 4 Lombok Timur 23.913 177 23.736 111.634 201 111.433 - 5 Lombok Utara 4.233 34 4.199 26.685 0 26.685 - 6 Sumbawa Barat 2.266 4 2.658 13.036 4 13.032 - 7 Sumbawa 7.705 49 7.656 40.506 21 40.485 - 8 Bima 9.33 7 5.159 29.014 2 29.012 - 9 Dompu 5.166 44 9.286 54.354 30 54.324 - 10 Kota Bima 2.917 11 2.906 16.000 9 15.991 - Jumlah 93.281 545 92.736 483.355 392 392 -

Sumber : Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat (2009) 2.2.2.6. Angka Kematian Ibu (AKI)

AKI merupakan jumlah kematian Ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup dalam kurun satu tahun. AKI Kabupaten Sumbawa tahun 2005 mencapai 136 dan pada Tahun 2010 menurun menjadi 19. Jumlah kematian ibu terbesar di kecamatan Plampang ada 4 Orang dari jumlah Kabupaten ada 19 Orang penyebab kematian dengan perincian sebagai berikut : Perdarahan 7 Orang, Lain-lain 6 Orang, Infeksi 3 Orang Partus Lama 1 Orang dan Eklampsia / Pre Eklampsia 2 Orang.

Dengan demikian penyebab kematian ibu karena perdarahan paling tinggi yaitu ada 7 orang. Terjadi angka penurunan bila dibandingkan dengan keadaan tahun 2007 dimana kematian ibu berjumlah 17 Orang. Sementara pada tahun 2009 angka kematian ibu terlaporkan 12 orang yang keseluruhannya merupakan kematian ibu bersalin, dengan kelahiran hidup sebanyak 7705, sehingga Angka Kematian Ibu di Kabupaten Sumbawa pada tahun 2009 sebesar 1,56. adapun jumlah kematian ibu terlaporkan rata-rata NTB 10,3 orang. Secara rinci disajikan pada tabel berikut.

(20)

II - 20 Tabel 2.21.

Jumlah Kematian Ibu Maternal Kabupaten/Kota se-NTB (2009)

Kabupaten/Kota Kematian Ibu Marternal

Ibu Hamil Ibu bersalin Ibu nifas Jumlah

1 2 3 4 5 1. Lombok Barat 4 5 9 18 2. Lombok Tengah - 13 - 13 3. Lombok Timur - 15 - 15 4. Sumbawa - 12 - 12 5. Dompu - - 4 4 6. Bima 2 6 1 9 7. Sumbawa Barat - 4 - 4 8. Lombok Utara - 6 4 10 9. Kota Mataram 2 8 4 14 10. Kota Bima 4 - - 4 Jumlah 12 69 22 103

Sumber : Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat (2009)

2.2.2.7. Persentase Balita Gizi Buruk

Status gizi balita merupakan salah satu indikator untuk mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat dan juga dapat menunjukkan kualitas fisik penduduk. Status gizi buruk tidak mengalami perubahan dari tahun 2004 sebanyak 255 orang sama dengan tahun 2005 sebanyak 255 orang dan yang mendapat perawatan sebanyak 194 orang atau 76.08 % dari jumlah balita yang berstatus gizi buruk. Status gizi buruk pada tahun 2007 sebanyak 223 orang dan tahun 2008 sebanyak 204 orang. Sedangkan tahun 2009 tercatatat jumlah balita gizi buruk 115 merupakan angka diatas rata-rata NTB yang berjumlah 92,6. Secara lengkap penderita gizi buruk disajikan melalui tabel berikut.

Tabel 2.22.

Jumlah Balita Gizi Buruk Kabupaten/Kota Se-NTB (2009)

No Kabupaten/ Kota Kelahiran Balita Usia: 1-5 Tahun Gizi Buruk

Lahir Mati Hidup

1 2 3 4 5 6 1 Kota Mataram 34.000 5 33.995 48 2 Lombok Barat 65.909 82 65.827 156 3 Lombok Tengah 92.217 38 92.179 75 4 Lombok Timur 111.634 201 111.433 307 5 Lombok Utara 26.685 0 26.685 58 6 Sumbawa Barat 13.036 4 13.032 7 7 Sumbawa 40.506 21 40.485 115 8 Bima 29.014 2 29.012 43 9 Dompu 54.354 30 54.324 86 10 Kota Bima 16.000 9 15.991 31 Jumlah 483.355 392 392 926

Sumber : Statistik Provinsi NTB (Beberapa tahun terbitan)

2.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olahraga

Pembangunan seni budaya di Kabupaten Sumbawa dilakukan dalam rangka melestarikan dan mengembangkan seni budaya daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah ditengah semakin derasnya arus informasi dan kebudayaan global, Pemerintah dan masyarakat telah berkomitmen untuk menghidupkan kembali aktivitas yang berakar dari tradisi lokal masyarakat Samawa. Salah satunya diwujudkan melalui dihidupkannya kembali Dewan Kesenian Daerah Sumbawa (DKS) dan fasilitasi pembentukan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) serta penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin IV sebagai Sultan Sumbawa. Sultan dan LATS diharapkan mampu menjadi pilar penting untuk menjaga dan menghidupkan tradisi adat dan budaya tana Samawa yang tercermin dari semboyan “adat bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah”, dan saat ini hal tersebut mulai tergerus perkembangan dan perubahan jaman.

(21)

II - 21 2.2.3.1. Rasio lembaga seni budaya per 10.000 penduduk

Rasio keberadaan lembaga seni budaya seperti group kesenian/sanggar seni, Pusat Latihan Kesenian, Dewan Kesenian Daerah Sumbawa (DKS) dan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) di Kabupaten Sumbawa disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.23.

Rasio Lembaga Seni Budaya Per 10.000 Penduduk Kabupaten Sumbawa (2006-2010)

No Lembaga Seni dan Budaya Tahun

2006 2007 2008 2009 2010

1 2 3 4 5 6 7

1 Grup Kesenian/Sanggar Seni 43 46 46 49 52

2 Pusat Latihan Kesenian 1 1 1 1 1

3 Dewan Kesenian Daerah 1 1 1 1 1

4 Lembaga Adat Tana Samawa(Kab dan Kec) 1 1 1 1 25

5 Jumlah lembaga 46 49 49 52 79

6 Jumlah penduduk 403.500 406.888 413.869 420.750 415.363

Rasio lembaga per 10000 penduduk 1,14 1,20 1.18 1,24 1,80

Sumber : Dinas Pariwisata, Senibudaya, Pemuda dan Olahraga, Kab. Sumbawa (2010)

Rendahnya jumlah lembaga seni budaya khususnya grup kesenian terdaftar sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.23, sehingga rasio lembaga seni budaya per 10000 penduduk menjadi rendah dan ketersediaannya hanya 1-2 lembaga seni budaya dalam 10.000 penduduk diantaranya disebabkan oleh masih minimnya tenaga pelatih seni, sarana dan prasarana pertunjukan kesenian. Selain itu, masih kurangnya event kesenian dan budaya baik yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah maupun atas prakarsa masyarakat yang secara tidak langsung akan dapat menstimulasi munculnya group-group kesenian baru. Meskipun demikian, kegiatan berkesenian yang dilakukan secara perorangan masih tetap hidup di tengah-tengah masyarakat.

2.2.3.2. Rasio Klub dan Prasarana Olahraga

Dalam pembangunan olah raga ditengah minimnya kemampuan anggaran, pemerintah daerah senantiasa terus berupaya meningkatkan prestasi pemuda dengan melakukan pembenahan pada berbagai aspek, baik infrastruktur maupun suprastruktur. Selain itu, dilakukan pula fasilitasi dan dukungan terhadap organisasi induk olah raga beserta organisasi cabang olah raga, penyelenggaraan pertandingan olahraga antarsekolah, serta pertandingan olahraga antar klub serta antar kecamatan. Berikut ini disajikan data fasilitas olahraga di Kabupaten Sumbawa Tahun 2010, sebagai berikut.

Tabel 2.24.

Rasio Klub dan Gedung Olahraga Per 10.000 Penduduk Kab. Sumbawa (2006-2010)

No Uraian Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 7 1 Klub olahraga 637 665 674 674 674 3 Gedung olahraga 5 5 6 6 7 4 Jumlah penduduk 403.500 406.888 413.869 420.750 415.363

5 Rasio klub olahraga 15,79 16,34 16,29 16,02 16,23

7 Rasio gedung olahraga 0,12 0,12 0,14 0,14 0,17

Sumber : Dinas Pariwisata, Senibudaya, Pemuda dan Olahraga, Kab. Sumbawa (2010) (Diolah)

Rasio klub olah raga pada tahun 2010 sebesar 16,23 menunjukkan bahwa tersedia sebanyak 16-17 klub tiap 10.000 penduduk, hanya tersedia sebanyak 0-1 gedung olahraga untuk setiap 10.000 penduduk. Untuk kondisi tersebut, di masa mendatang diperlukan peningkatan peran masyarakat

(22)

II - 22

dan dunia usaha disamping pemerintah daerah. Selanjutnya gambaran rasio lapangan olahraga per 10.000 penduduk di Kabupaten Sumbawa disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.25.

Rasio Lapangan Olahraga Per 10.000 Penduduk Kab. Sumbawa (2006-2010)

No Cabang Olahraga Tahun

2006 2007 2008 2009 2010

1 2 3 4 5 6 7

1 Lapangan sepak bola 53 53 53 53 53

2 Lapangan volley ball 102 102 102 102 102

3 Lapangan sepak takraw 23 34 56 66 66

4 Lapangan Bulu tangkis 68 84 113 136 138

5 Lapangan tenis 19 19 23 23 23

6 Lapangan atletik 17 29 49 49 49

7 Kolam renang 4 5 6 6 6

8 Lapangan basket 27 31 34 34 34

9 Jumlah Penduduk 403500 406888 413869 420750 415363

Rasio per 10000 penduduk:

10 Lapangan sepak bola 1.31 1.30 1.28 1.26 1.28

11 Lapangan volley ball 2.53 2.51 2.46 2.42 2.46

12 Lapangan sepak takraw 0.57 0.84 1.35 1.57 1.59

13 Lapangan Bulu tangkis 1.69 2.06 2.73 3.23 3.32

14 Lapangan tenis 0.47 0.47 0.56 0.55 0.55

15 Lapangan atletik 0.42 0.71 1.18 1.16 1.18

16 Kolam renang 0.10 0.12 0.14 0.14 0.14

17 Lapangan basket 0.67 0.76 0.82 0.81 0.82

Sumber : Dinas Pariwisata, Senibudaya, Pemuda dan Olahraga, Kab. Sumbawa (2010) (Diolah)

Data tersebut pada table di atas menunjukkan bahwa adanya kecenderungan peningkatan rasio lapangan olah raga per 10.000 penduduk di Kabupaten Sumbawa setiap tahunnya, meskipun secara umum rasio tersebut sangat rendah. Ini berarti bahwa masih diperlukan peningkatan ketersediaan lapangan olahraga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam rangka mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga.

Demikian pula dengan ketersediaan gedung olahraga, yang secara rinci disajikan menurut kecamatan pada tahun 2010.

Tabel 2.26.

Rasio Gedung Olahraga Per 10.000 Penduduk Menurut Kecamatan di Kab. Sumbawa (2010)

No Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Jumlah Gedung Olag

Raga (Unit) Rasio per 10000 Penduduk 1 2 3 4 5 1 Lunyuk 18123 0 0 2 Orong Telu 4530 0 0 3 Alas 27993 1 0,36 4 Alas Barat 18425 0 0 5 Buer 13408 0 0 6 Utan 28828 0 0 7 Rhee 6908 0 0 8 Batulanteh 10127 0 0 9 Sumbawa 56649 2 0,35 10 Labuhan Badas 28870 1 0,35 11 Unter Iwes 18108 0 0 12 Moyo Hilir 22238 1 0,45 13 Moyo Utara 9023 0 0 14 Moyu Hulu 19871 0 0 15 Ropang 5017 0 0 16 Lenangguar 6286 0 0 17 Lantung 2767 0 0 18 Lape 16131 0 0 19 Lopok 17550 0 0 20 Plampang 27813 0 0 21 Labangka 10148 0 0

(23)

II - 23

22 Maronge 9767 0 0

23 Empang 21580 1 0,46

24 Tarano 15203 1 0,66

Jumlah 415363 7 0,17

Sumber : Dinas Pariwisata, Senibudaya, Pemuda dan Olahraga, Kab. Sumbawa (2010) (Diolah)

Fakta yang disajikan pada tabel tersebut menunjukkan bahwa hanya tersedia 0-1 unit gedung olah raga di Kabupaten Sumbawa setiap 10.000 penduduk.

2.3. Aspek Pelayanan Umum Pemerintahan Daerah 2.3.1. Urusan Wajib

Urusan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan wajib pemerintah kabupaten sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku sebanyak 26 urusan.

2.3.1.1. Pendidikan

Urusan wajib pendidikan yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten adalah dari pendidikan pra sekolah hingga pendidikan menengah. Gambaran kinerja layanan urusan wajib pendidikan yang selama ini telah diselenggarakan di Kabupaten Sumbawa secara lebih rinci sebagai berikut.

a. Pendidikan Dasar

1. Angka Partisipasi Sekolah (APS)

Angka partisipasi sekolah pada berbagai jenjang pendidikan menunjukkan proporsi penduduk usia tertentu dan sesuai dengan usia sekolah yang bersekolah pada jenjang tersebut. APS digunakan untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan, yang dapat dilihat dari penduduk yang masih sekolah pada umur tertentu. Untuk melihat angka pasrtisipasi sekolah di Kabupaten Sumbawa sebagai salah satu indikator dalam mengukur keberhasilan wajib belajar 9 tahun, maka disajikan angka pasrtisipasi sekolah pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs pada table berikut.

Tabel 2.27.

Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kab. Sumbawa (2006 – 2010)

No Jenjang Pendidikan Tahun

2006 2007 2008 2009 2010

1 2 3 4 5 6 7

1 SD / MI

1.1 Jumlah murid usia 7 - 12 th 46311 46895 46852 46302 46382

1.2 Jumlah penduduk kelompok usia 7 - 12 tahun 51432 51479 51594 50468 47982

1.3 APS 90,04 91,09 90,81 91,75 96,67

2 SMP / MTs

2.1 Jumlah murid usia 13 - 15 th 16797 16180 17187 17087 16893

2.2 Jumlah penduduk kelompok usia 13 - 15 thn 25318 25604 25863 24889 20969

2.3 APS 66,34 63,19 66,45 68,65 80,56

Sumber : Dinas Pendidikan Nasional Kab. Sumbawa diolah beberapa tahun

Tabel 2.27 menunjukkan bahwa kinerja pembangunan pendidikan khususnya dalam program wajib belajar 9 tahun di Kabupaten Sumbawa dalam kurun waktu 2006-2010 dari tahun ke tahun semakin meningkat untuk setiap jenjang. Hal ini berarti bahwa proporsi masyarakat usia sekolah yang memanfaatkan fasilitas layanan pendidikan serta sebagai gambaran partisipasi masyarakat dalam mensukseskan program tersebut semakin meningkat. Lebih rendahnya angka partisipasi sekolah pada jenjang SMP/MTs dibandingkan dengan jenjang SD/MI antara lain disebabkan oleh masih adanya kasus putus sekolah, atau dapat juga sebagai akibat terjadinya perpindahan anak didik untuk melanjutkan pendidikannya ke daerah lain.

Gambar

Gambar 2.6. memberikan informasi yang menarik sebagai berikut : 1) pendapatan per kapita  Kabupaten  Sumbawa  dengan  dan  tanpa  Subsektor  Pertambangan  Non  Migas  sama  besar,  hal  ini  karena  kontribusi  subsektor  tersebut  amat  kecil  dalam  stru
Tabel  2.27  menunjukkan  bahwa  kinerja  pembangunan  pendidikan  khususnya  dalam  program wajib belajar 9 tahun di Kabupaten Sumbawa dalam kurun waktu 2006-2010 dari tahun ke  tahun  semakin  meningkat  untuk  setiap  jenjang
Tabel 2.28 menggambarkan bahwa ketersediaan sekolah baik pada jenjang SD/MI maupun  SMP/MTs  di  Kabupaten  Sumbawa  dari  tahun  ke  tahun  menunjukkan  rasio  yang  semakin  tinggi
Tabel  2.30  menggambarkan  bahwa  terjadi  peningkatan  rasio  guru/murid  di  setiap  jenjang  pendidikan di Kabupaten Sumbawa

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan Upah Minimum Kabupaten (UMK) setiap tahunnya ada kenaikan sebesar 15 % dari UMK tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan selain karena kondisi perekonomian

Arah kebijakan anggaran Kabupaten Bantul difokuskan untuk mendukung program-program untuk mencapai visi dan misi Kabupaten Bantul tahun 2010- 2015, dalam rangka peningkatan

Tempat Pembuangan Akhir sampah kota Sumbawa berada di desa Penyaring, kecamatan Moyo Hilir dengan luas 2,42 Ha dengan cakupan pelayanan seluruh wilayah di kota Sumbawa. Jarak TPA

Pada bagian ini dijabarkan kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah Kabupaten Sumedang Tahun 2013-2017 sesuai amanat Permendagri 86 Tahun 2017 dan format pembagian urusan

Secara umum laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Probolinggo dalam lima tahun terakhir berada pada rentang stagnasi, artinya kondisi perekonomian di Kabupaten

Sektor pertanian Kabupaten Tegal memiliki peluang besar untuk dapat lebih berkembang dari kondisi eksisting saat ini, hal ini dapat dilihat darikontribusi sektor pertanian

Capaian Indikator SPM Interpretasi Belum Tercapai/ Sesuai/ Melampaui Target Nasional 2009 2010 2011 2012 2013 1 Tersedianya pelabuhan sungai dan danau untuk

APK (Angka Partisipasi Kasar) SD merupakan angka hasil pembagian antara jumlah siswa usia 7-12 tahun di jenjang SD atau sederajat dengan jumlah penduduk kelompok