• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan. Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pendahuluan. Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K)"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan

(2)

Maksud: memberikan…

• cara bagi dokter & peneliti u/ mengorganisir pengamatannya

• bantuan kepada dokter dalam mengaji & dalam memformulasikan rekomendasi2 begi intervensi & pengawasan lebih jauh

• Bahasa umum yg dapat dipakai dokter & peneliti u/ berkomunikasi 1 sama lain, u/ mengumpulkan data sistematik pada berbagai gangguan, & memperbaiki pemahaman tipe2 gangguan, faktor2 yg

mempengaruhi perjalannya, & komponen2 & keefektifan intervensi

• Kerangka awal yg darinya perbaikan lebih lanjut & perubahan dapat dibuat

(3)

Keinginan u/ menganalisis temuan2 dari

penelitian yg sistematik sebelum

menawarkan konseptualisasi2 awal

sekalipun

Vs.

Kebutuhan u/ menanamkan

konseptualisasi2 pendahuluan yg dapat

menjadi dasar bagi pengumpulan data yg

sistematik  usaha2 yg lebih berdasar

empiris

(4)

Presentasi kategorisasi berbasis konsensus para ahli akan gangguan2 kesehatan jiwa &

perkembangan dalam th2 awal kehidupan

• Kerangka yg berubah  tak dimaksudkan u/ memasukkan semua kondisi at gangguan yg mungkin

• Pedoman awal bagi dokter & peneliti u/ memfasilitasi diagnosis & perencanaan klinis, komunikasi & penelitian selanjutnya

• Tak dimaksudkan u/ dipakai secara hukum at nonklinis

(5)

• Gejala & perilaku yg ada

• Riwayat perkembangan – fungsi afektif,

bahasa, kognitif, motorik, sensorik, keluarga, & interaktif masa lalu & kini

• Fungsi keluarga & pola2 kebudayaan & interaktif

• Orangtua sebagai individu

• Hubungan & pola2 interaktif pengasuh-anak • Ciri2 konstitusional-maturasional anak

• Pola2 afektif, bahasa, kognitif, motorik & sensorik

(6)

1. Sifat dari kesukaran2, kekuatan, tingkat kapasitas adaptif keseluruhan, & fungsi dalam area perkembangan utama anak, termasuk sosial-emosional, hubungan,

kognitif, bahasa, kemampuan2 sensorik &

motorik dala perbandingannya dengan pola2 perkembangan yg sesuai-usia

2. Kontribusi relatif dari area2 yg berbeda yg dikaji kepada kesukaran2 & kompetensi2 si anak

3. Pengobatan komprehensif at rencana

intervensi preventif u/ menghadapi hal2 di atas

(7)

Sistem klasifikasi multiaksial sementara  kategori2 berubah sejalan bertambahnya pengetahuan: aksis…

I. Klasifikasi primer

II.Klasifikasi hubungan

III.Gangguan at kondisi fisik, neurologis, perkembangan & kesehatan jiwa

(digambarkan dalam sistem klasifikasi yg lain)

IV.Stres psikososial

(8)

• Tak dimaksudkan u/ simetris sepenuhnya

dengan sistem lain seperti DSM-IV & ICD-10  fokus pada masalah2 perkembangan

• Dimaksudkan u/ melengkapi kerangka2 yg lain (DSM-IV, ICD-10)  tak dimaksudkan u/ memasukkan kategori2 bagi setiap tipe

gangguan perkembangan at kesehatan jiwa

– diagnosis DSM-IV menggambarkan secara tepat kesukaran primer yg ada  I

– diagnosis DSM-IV terkait dengan diagnosis primer dari sistem ini  III

(9)

1. stres yg jelas yg cukup berat at bermakna

 gangguan stres traumatik

2. kesukaran sensorik, motorik,

pemrosesan, organisasional, at integrasi

berbasis konstitu-sional at maturasional

yg terkait dengan pola2 perilaku &/at

emosional maladaptif yg tampak 

gangguan2 regulasi

(10)

1. masalah2 yg ada ringan at berdurasi

relatif singkat (> 4 bl), & terkait dengan

kejadian lingkungan yg jelas  gangguan

penyesuaian

2. tak ada kerentanan berbasis

konstitusional at maturasional, stres at

trauma yg berat at bermakna;

kesukarannya tak ringan, berdurasi

singkat, & tak terkait dengan kejadian yg

jelas  gangguan mood & afek

(11)

1. Gangguan2 keterlambatan yg multipel

(komunikasi & kedekatan sosial) cukup

ekstrim & jelas u/ dapat dikenali secara

mudah  pola2 maladaptasi yg kronik

(MDD) & pola deprivasi yg berlanjut

(berbeda dengan gangguan stres

traumatik)  harus didahulukan dari

kategori2 yang lain seperti gangguan

regulasi at stres traumatik 

pengecualian terhadap peraturan2 umum

di atas

(12)

1. Kesukaran tertentu timbul hanya pada

situasi tertentu at berhubungan dengan

orang tertentu  gangguan penyesuaian

& hubungan

2. Kesukaran hanya melibatkan hubungan &

tak ada gejala lain terlepas dari hubungan

itu  jangan memakai aksis I  pakai

aksis II

3. Gangguan deprivasi/maltreatment

attachment reaktif  perawatan fisik,

psikologis & emosi-onal dasar yg

inadekuat.

(13)

1. Gejala2 umum seperti gangguan makan & tidur  kaji basis yg mendasari  masalah tersendiri, bagian dari kategori diagnostik yg beragam, bagian dari pola yg lebih lanjut

seperti dalam ganggua attachment reaktif, at gangguan regulasi & MDD

Gangguan tidur  kesukaran tersendiri, bagian dari kesukaran regulasi yg terkait pada hipersensitivitas & kesukaran

(14)

1. Bila terdapat sejumlah elemen yg

mem-bingungkan, misal: elemen stres,

kerentanan motorik dan sensorik,

gangguan mood/afek & menarik diri 

pertimbangkan ciri2 yg paling menonjol

2. Pada kasus yg jarang, mungkin terdapat

2 kondisi primer. Misal: gangguan tidur &

separation anxiety disorder  2 diagnosis

(15)

Harus mencerminkan fitur2 yg paling menonjol dari gangguan tersebut

(16)

• Anak2 yg telah mengalami:

– Kejadian tunggal

– Serangkaian kejadian traumatik yg berhubungan – Stres menetap yg kronik

• Meliputi:

– Mengalami langsung – Menyaksikan

– Konfrontasi

dengan kejadian(2) yg melibatkan (ancaman)

kematian at jejas yg serius pada si anak at orang lain

(17)

• Kejadian yg mendadak & tak terduga 

gempa, serangan teroris, digigit binatang

• Serangkaian kejadian yg berhubungan 

serangan udara berulang

• Situasi yg menetap & kronik  pemukulan

at pemerkosaan seksual yg terus-menerus

(18)

Harus dipahami dalam konteks: • Trauma

• Ciri2 kepribadian anak

• Kemampuan pengasuh u/ membantu si anak beradaptasi

• Working through the experience

Kenangan2 yg dilaporkan anak bisa berubah sebagai bagian dari usahanya u/ mengolah ulang traumanya  bukan berarti traumanya fantasi semata

(19)

1. Pengalaman kembali kejadian yg

traumatik

2. Penumpulan keresponsifan pada seorang

anak at interferensi dengan momentum

perkembangan

3. Gejala2 peningkatan arousal

(20)

a. Permainan pasca-traumatik

b. Rekoleksi berulang akan kejadian

traumatik di luar permainan

c. Mimpi buruk berulang

d. Distres saat terpajan hal yg

mengingatkan trauma

e. Episode2 dengan gambaran2 yg obyektif

dari suatu flashback at disosiasi

(21)

a. Peningkatan penarikan diri

b. Rentang afek yg terbatas

c. Kehilangan sementara keterampilan2

perkembangan yg didapat sebelumnya

d. Penurunan at keterbatasan dalam

permainan dibanding dengan pola si anak

sebelum kejadian

(22)

a. Night terror

b. Kesukaran pergi tidur

c. Bangun di malam hari yg berulang tak

terkait pada mimpi buruk at night terror

d. Kesukaran atensional yg bermakna &

penurunan konsentrasi

e. Hypervigilance

(23)

a. Agresi kepada anak sebaya, orang dewasa, at binatang

b. Cemas perpisahan

c. Takut ke toilet sendirian d. Takut kegelapan

e. Ketakutan2 yg lain

f. Pesimisme at perilaku merusak-diri, manipulatif, at provokatif masokistik

g. Perilaku2 seksual & agresif yg tak sesuai bagi usia anak

h. Reaksi2 nonverbal lain yg dialami saat trauma

(24)

maka diagnosis Gangguan Stres Traumatik lebih diutamakan daripada diagnosis primer yg lain

(25)

Meliputi:

• Gangguan cemas • Gangguan mood

• Gangguan ekspresi emosional campuran • Gangguan identitas gender masa kanak • Gangguan attachment reaktif

Dokter harus menentukan apakah gejala2nya merupakan gambaran umum dari fungsi si anak at spesifik terhadap suatu situasi at hubungan  hubungan & pola2 interaksi jarang bersifat 1D

(26)

Diagnosis ini harus berdasar pada bukti tingkat kecemasan at ketakutan si bayi at anak yg berlebihan, melebihi reaksi yg

diperkirakan terhadap tantangan2 perkembangan yg normal & termanifestasi dengan 1 dari berikut:

1. Ketakutan yg banyak at spesifik

2. Kecemasan perpisahan at kecemasan terhadap orang asing yg berlebihan

3. Episode2 kecemasan at panik yg berlebihan tanpa pencetus yg jelas 4. Inhibisi at konstriksi perilaku yg berlebihan dikarenakan kecemasan 5. Kecemasan yg berat, terkait dengan kurangnya perkembangan

fungsi ego dasar yg diharapkan berlangsung antara usia 2-4 th 6. Agitasi pada bayi, tangisan at teriakan yg tak dapat dikendalikan,

gangguan tidur & makan, kecerobohan, & manifestasi perilaku lain dari kecemasan

Kecemasan at ketakutan harus menetap sesingkatnya dua minggu & mengganggu fungsi secara sesuai.

(27)

• Gejala2 yg ada

• Durasi gejala2 tersebut

• Derajat gangguan terhadap fungsi dalam

kaitannya dengan tingkat perkembangan si

anak

Anak dengan keterlambatan perkembangan

dapat didiagnosis suatu gangguan cemas

bila kecemasan/ketakutannya tak sesuai

dengan tingkat perkembangannya

(28)

• Saat trauma yg diketahui a/ nyata & awitan kesukaran si anak mengikuti trauma tersebut  gangguan stres traumatik

• Gangguan cemas tak boleh diberikan pada saat adanya MSDD  Dx: MSDD

• Jika terdapat kesukaran2 reaktivitas sensorik yg jelas, bahasa reseptif & pemrosesan

auditorik, pemrosesan visual-spatial, at perencanaan motor  gangguan regulasi

• Jika kecemasan at ketakutan si anak terbatas pada suatu hubungan tertentu  gangguan relasi.

(29)

Kategori ini berdasar pada premis bahwa

hilangnya seorang pengasuh utama seperti orangtua hampir selalu merupakan masalah yg serius bagi bayi at anak kecil karena

kebanyakan anak kecil tak punya sumber2 emosional & kognitif u/ menghadapi

kehilangan yg besar seperti itu.

Anak yg sedang berduka bisa mempunyai pengasuh penting lain yg juga sedang berduka  tak ada dukungan  duka bertambah

(30)

1. menangisi, memangil, & mencari orangtua yg absen, menolak usaha orang lain u/ memberi penghiburan 2. Penarikan emosional, disertai letargi; ekspresi wajah

yg sedih, & kurangnya minat dalam aktivitas2 yg sesuai-usia

3. Makan & tidur bisa terganggu

4. Bisa terdapat regresi at hilangnya tonggak2 perkembangan yg telah dicapai sebelumnya 5. rentang afek yg terbatas

6. Detachment

7. Sangat sensitif terhadap segala hal yg

mengingatkannya pada sang pengasuh  distres akut saat barang2 milik sang pengasuh disentuh orang lain at disingkirkan

(31)

Gangguan ini mungkin tak udah u/

dibedakan dari Gangguan Stres Traumatik.

Perhatikan sifat gejala2nya!

• GST  penghidupan kembali & pola2

kompulsif

(32)

• Saat gangguan disertai deprivasi

psikososial/ lingkungan yg bermakna, ini

harus dicatat & Reactive Attachment

Deprivation/ Maltreatment Disorder harus

dipertimbangkan sebagai klasifikasi

alternatif.

• Jika gangguannya tak berat & dalam

konteks si anak sedang dalam proses

membuat penye-suaian  gangguan

penyesuaian.

(33)

• Mood depresif at iritabel

• Hilang minat &/at kesenangan dalam aktivitas2 yg sesuai perkembangan • Hilangnya kemampuan u/ protes

• Merengek berlebihan

• Hilangnya perbedaharaan interaksi & inisiatif sosial

• Gangguan tidur & makan, penurunan BB Gejala2 di atas harus ada u/ periode

(34)

1. Tak ada at hampir tak adanya 1 at > tipe

afek yg spesifik yg dapat diperkirakan sesuai perkembangan

2. Rentang ekspresi emosional yg terbatas dibanding dengan harapan2 yg sesuai perkembangan

3. Intensitas ekspresi emosional yg terganggu, tak sesuai dengan tingkat perkembangan si anak

4. Pembalikan afek at ketaksesuaian afek terhadap situasi

(35)

• Diagnosis ini tak boleh dipakai bila si anak

di-diagnosis cemas at depresi. Diagnosis

ini harus dipakai pada anak2 dengan

keterlambatan perkembangan hanya jika

gangguan dalam ekspresi afektif tak

Referensi

Dokumen terkait

Bila dilihat dari luas kelurahan, kelurahan Tanjung Gusta memiliki luas yang terbesar yakni 2,2 km2 seangkan kelurahan Sei Sikambing CII memiliki luas terkecil yakni 0,989

• Setelah mendeklarasikan sebuah Structure, yang tidak kalah pentingnya adalah membuat fungsi operator (fungsi untuk mengoperasikan struct). • Fungsi operator bisa

Dengan fungsi dan peranan yang demikian besar serta prospek pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan ini, maka sudah selayaknya Kota Rao dipromosikan sebagai PKL

Upaya pemerintah yang teah dilakukan sampai saat ini ternyata masih belum cukup untuk membendung semaraknya tindak pidana perdagangan orang yang terjadi disurabaya, sebagai salah

sebagai sampel dari keseluruhan mahasiswa PJKR STKIP Citra Bakti terutama yang berada pada semester 1 dan 3, sehingga secara umum pelaksanaan keiatan perkuliahan

Penyelenggaraan Bidang Pertanian, sebagai turunan dari UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Ciptaker), justru menyiratkan adanya kemudahan untuk alih fungsi

11 D DS S :: - - Keluarga Keluarga mengatakan mengatakan pasien pasien mengalami mengalami kecelakaan kecelakaan lalu lintas lalu lintas antara motor antara motor dengan

Membuat karya tulis/karya ilmiah yang berupa tinjauan atau ulasan ilmiah dengan gagasan sendiri di bidang pelayanan keperawatan yang tidak dipublikasikan :.. Buku yang