Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 1 BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN PASAMAN
2.1 Geografis, Topografis, dan Geohidrologis
Kabupaten Pasaman merupakan salah satu dari 19 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat, dengan luas wilayah 3.947,63,08 Km² yang terdiri dari 12 kecamatan dan 32 Nagari. Secara geografis dilintasi khatulistiwa dan berada pada 0055' Lintang Utara sampai dengan 0006' Lintang Selatan dan 99045' Bujur Timur sampai dengan 100021' Bujur Timur. Ketinggian antara 50 meter sampai dengan 2.240 meter di atas permukaan laut. Pada beberapa kecamatan terdapat beberapa gunung, seperti Gunung Ambun di Bonjol, Gunung Sigapuak dan Kalabu di Dua Koto, Malenggang di Rao, dan Gunung Tambin yang merupakan gunung tertinggi di wilayah ini terletak di Kecamatan Lubuk Sikaping.
2.1.1 Kemiringan
Di Kabupaten Pasaman, bentuk bentang alamnya cukup beragam. Jenis kemiringan yang paling dominan membentuk bentang alam ialah kemiringan lebih dari 40%, yaitu terbentang seluas 267.650,85 Ha atau mencapai 67,80% dari luas kabupaten. Lereng sangat terjal tersebut berada di Kecamatan Rao Utara, Rao, Rao Selatan, Mapat Tunggul dan Mapat Tunggul Selatan. Selanjutnya Lereng Datar (0-8%) seluas 61.105 Ha atau 15,48% berada di Kecamatan Tigo Nagari, Bonjol, Lubuk Sikaping, Panti, Padang Gelugur, sebagian kecil Rao Selatan dan Kecamatan Dua Koto. Adapun tingkat kelerengan lainnya yang juga masih dapat diperkenankan untuk kegiatan budidaya adalah; 8–15% dan 15–25% relatif tidak terlalu luas, yaitu masing-masing 3,03% dan 4,88% dari luas wilayah.
Tabel II.2.1
Luas Wilayah Kabupaten Pasaman Menurut Kelerengan Berdasarkan Data
No Kemiringan Lahan Luas
(Ha) (%)
1 Datar (0-8 %) 61.105,43 15,48
2 Bergelombang (8-15 %) 11.972,42 3,03
3 Terjal (15 – 25% 19.273,28 4,88
4 Curam (25-40 %) 34.761,02 8,81
5 Sangat Curam (lebih dari 40 %) 267.650,85 67,80
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 2 Sumber : Kabupaten Pasaman Dalam Angka, 2010
2.1.2 Ketinggian
Kabupaten Pasaman berada pada ketinggian 50 – 2.912 m dari permukaan laut. Dalam penetapan regionalisasi ketinggian digunakan klasifikasi menurut Wilayah Tanah Usaha sebagai berikut :
Tabel II.2.2
Ketinggian Masing-Masing Kecamatan di Kabupaten Pasaman No Kecamatan Ketinggian (Dpl) 1 Bonjol 100 – 1.160 2 Lubuk Sikaping 235 - 2.340 3 Tigo Nagari 50 - 2.912 4 Panti 221 - 1.521 5 Dua Koto 300 - 2.172 6 Rao 250 - 1.220 7 Mapat Tunggul 150 - 2.281
8 Mapat Tunggul Selatan 150 - 2.281
9 Rao Utara 360 - 1.886
10 Rao Selatan 252 - 1.100
11 Padang Gelugur 250 - 1.220
12 Simpang Alahan Mati 100 - 890
JUMLAH 50 – 2.912
Sumber : Kabupaten Pasaman Dalam Angka, 2010
2.1.3 Jenis Tanah
Secara umum jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Pasaman adalah jenis Litosol dari bahan Alluvial batuan beku pegunungan Vulkanik, Podsolik Merah Kuning, Latosol dan Litosol dari batuan beku endapan metamorf pada pegunungan patahan rendah, dan Podzolik Coklat dari bahan Alluvial pada pegunungan patahan yang tinggi. Jenis tanah yang relatif luas di Kabupaten Pasaman adalah jenis Litosol dan Jenis Podzolik Merah Kuning, yaitu masing-masing 106.619 Ha atau 27,01% dan 103.988 atau 26,34% dari luas wilayah.
2.1.4 Kedalaman Efektif
Kedalaman efektif tanah yang lebih dari 90 cm tersebut terdapat di seluruh Kecamatan, sedangkan kedalaman efektif 60 – 90 cm seluas 33.750 Ha atau 8,41% dan 30 – 60 cm seluas 22.500 Ha atau seluas 5,61% terdapat di Kecamatan Rao Utara, sebagian kecil terdapat di Kecamatan Rao dan Mapat Tunggul. Sementara
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 3 kedalaman efektif kurang dari 30 cm seluas 184 Ha atau 0,05% terdapat di Kecamatan Mapat Tunggul Selatan.
2.1.5 Tekstur Tanah
Tekstur tanah yang terdapat di Kabupaten Pasaman pada umumnya didominasi oleh tekstur halus, yang tersebar di setiap kecamatan. Sedangkan klasifikasi tekstur lainnya hanya sebagian kecil, umumnya terdapat di Kecamatan Rao, Mapat Tunggul dan Kecamatan Panti.
2.1.6 Curah Hujan
2.1.7 Klimatologi
Kabupaten Pasaman secara umum mempunyai suhu rata-rata 20oC - 26oC. Keadaan curah hujan rata-rata bulanan daerah ini berkisar 132 – 400 mm dan
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 4 keadaan rata-rata hari hujan berkisar 4 – 20 hari dan rata-rata curah hujan dalam setahun 300 mm. Jumlah bulan basah 28 sedangkan bulan kering 1 dan bulan lembab 2.
2.1.8 Hidrologi
Di wilayah Kabupaten Pasaman banyaknya terdapat sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil, yang tersebar di setiap kecamatan. Beberapa sungai besar yang penting adalah Batang Sumpur, Batang Masang, Batang Pasaman, Batang Sontang, Batang Asik, Batang Bindalik, Batang Alahan Panjang, Batang Tibawan, dan Batang Kampar. Kecamatan Tigo Nagari merupakan kecamatan yang paling banyak sungainya (51 sungai) dan diikuti oleh Kecamatan Bonjol (29 sungai). Sungai-sungai yang terdapat di Kecamatan Mapat Tunggul merupakan daerah hulu sungai-sungai besar yang mengalir ke wilayah Provinsi Riau dan Kabupaten 50 Kota.
2.1.9 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan menurut jenis penggunaannya di Kabupaten Pasaman didominasi oleh hutan dengan luas wilayah 190,433,00 ha atau 48,24 % dari jumlah luas kawasan di Kabupaten Pasaman. Sedangkan penggunaan lahan terkecil menurut jenis penggunaannya berada pada kawasan industri yakni 30,70 ha atau 0,01 % dari luas lahan keseluruhan.
Untuk lebih jelasnya penggunaan lahan menurut jenis penggunaannya di Kabupaten Pasaman dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel II.2.3
Persentase Luas Lahan Menurut Penggunaannya
No Kemiringan Lahan (Ha) Luas (%)
1 Perkampungan / Villages 7 206,73 1,83
2 Kawasan Industri / Industries Area 30,70 0,01 3 Sawah / Wet Land
a. Irigasi / Irrigation b. Tadah Hujan / Wet rain
26 532,38 16 472,00 10 060,38 6,72 4,17 2,55 4 Tegalan/Ladang / Dry Field/Shifting 8 211,00 2,08
5 Kebun Campuran / Mix garden 6 911,79 1,75
6 Perkebunan Rakyat / Smallholder
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 5
No Kemiringan Lahan (Ha) Luas (%)
7 Perkebunan Besar / Estate 212,00 0,05
8 Hutan / Jungle 190 433,00 48,24
9 Tanah Belukar / Bushes Forest 37 315,00 9,45
10 Tanah Rusak / Damage land 7 992,00 2,02
11 Perairan / waters 5 893,00 1,49
12 Padang Rumput / Weeds field 75 277,00 19,07
13 Hutan Sejenis / Filed Meadous 894,40 0,23
14 Lain-lain / Others 1 752,00 0,44
Jumlah 394 763,00 100,00
Sumber : Kabupaten Pasaman Dalam Angka 2010
2.2 Administratif
Secara administrasi, Kabupaten Pasaman terbagi dalam 12 kecamatan, 32 Nagari dan 209 Jorong. Dalam hal luas wilayah, kecamatan yang paling luas wilayahnya adalah Kecamatan Mapat Tunggul dengan luas 605,29 Km² atau sebesar 15,33% dari luas wilayah Kabupaten Pasaman, dengan 2 Nagari dan 11 Jorong. Sedangkan Kecamatan terkecil adalah Kecamatan Simpang Alahan Mati dengan luas 69,56 Km² atau 1,76% dari luas wilayah Kabupaten Pasaman yang terdiri dari 2 Nagari dan 8 Jorong. Adapun yang menjadi batas-batas wilayah Kabupaten Pasaman adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Padang Lawas (Provinsi Sumatera Utara). Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Agam
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten 50 Kota
(Provinsi Sumatera Barat) dan Kabupatan Rokan Hulu (Provinsi Riau).
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Pasaman Barat
dan Kabupaten Mandailing Natal (Provinsi Sumatera Utara).
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 6 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel II.2.4.
Tabel II.2.4
Nama Kecamatan, Luas, Jumlah Nagari dan Jumlah Jorong di Kabupaten Pasaman Tahun 2010
No Kecamatan
Ibukota Kecamatan
Luas Wilayah Jumlah Nagari
Jumlah Jorong (Km²) (%)
1 Bonjol Bonjol 194,32 4,92 4 30
2 Tigo Nagari Ladang Panjang 352,92 8,94 3 13
3 Simpang Alahan Mati Simpang 69,56 1,76 2 9
4 Lubuk Sikaping Lubuk Sikaping 346,50 8,78 6 32
5 Dua Koto Simpang Tigo Andilan 360,63 9,14 2 21
6 Panti Panti 212,95 5,39 1 9
7 Padang Gelugur Tapus 159,95 4,05 1 4
8 Rao Rao 236,18 5,98 2 18
9 Mapat Tunggul Guo 605,29 15,33 3 15
10 Mapat Tunggul Selatan Silayang 471,72 11,95 2 11
11 Rao Selatan Lansad Kadap 338,98 8,59 3 23
12 Rao Utara Koto Rajo 598,63 15,16 3 24
Jumlah 3.947,63 100,00 32 209
Sumber : Kabupaten Pasaman Dalam Angka 2010
Untuk lebih jelasnya mengenai letak geografis dan orientasi Wilayah Kabupaten Pasaman dapat dilihat pada Gambar II.2.1 Peta Orientasi Kabupaten Pasaman dan Gambar II.2.2. Peta Administrasi Kabupaten Pasaman sebagai berikut :
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 7
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 8
PETA ADMINISTRASI KABUPATEN PASAMAN
2.3 Kependudukan
Penduduk Kabupaten Pasaman pada tahun 2009 sebesar 263.780 jiwa, terdiri dari 130.730 jiwa laki-laki dan 133.050 jiwa penduduk perempuan yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Pasaman. Jumlah penduduk terbesar berada pada Kecamatan Lubuk Sikaping dengan jumlah 45.726 jiwa, sedangkan sebaran jumlah penduduk paling kecil berada pada Kecamatan Mapat Tunggul Selatan dengan jumlah 7.203 jiwa.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 9 Untuk mengetahui lebih jelas jumlah penduduk di Kabupaten Pasaman dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel II.2.5
Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Pasaman Tahun 2009
No Kecamatan Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk Per Km2
1 Bonjol 25 532 6 383 131
2 Tigo Nagari 23 386 7 795 66
3 Simpang Alahan Mati 9 866 4 933 142
4 Lubuk Sikaping 45 726 7 621 132 5 Dua Koto 28 583 14 292 79 6 Panti 34 014 34 014 160 7 Padang Gelugur 21 961 21 961 137 8 Rao 23 458 11 729 99 9 Mapat Tunggul 8 579 2 860 14
10 Mapat Tunggul Selatan 7 203 3 602 15
11 Rao Selatan 24 056 8 019 71
12 Rao Utara 10 312 3 437 17
Jumlah 263.780 8.243 67
Sumber : Kabupaten Pasaman Dalam Angka 2010
Tabel II 2.6
Perkembangan Penduduk Kabupaten Pasaman Tahun 2004-2009
No Kecamatan Jumlah Penduduk
2004 2005 2006 2007 2008 2009
1 Bonjol 24.107 24.685 25.277 25.532 25.776 23.891
2 Tigo Nagari 21.622 22.355 23.113 23.386 23.617 25.991 3 Simpang Alahan Mati 9.786 9.808 9.830 9.866 9.906 10.006 4 Lubuk Sikaping 40.419 42.103 43.858 44.521 45.179 45.726 5 Dua Koto 26.082 26.892 27.727 28.005 28.278 28.583 6 Panti 26.040 26.191 33.175 33.410 33.649 34.014 7 Padang Gelugur 31.197 27.868 21.524 21.637 21.717 21.961 8 Rao 21.399 22.082 22.792 23.013 23.225 23.458 9 Rao Utara 9.903 9.961 10.020 10.089 10.192 10.312 10 Rao Selatan 17.847 22.493 23.362 23.662 23.823 24.056 11 Mapat Tunggul 8.057 8.196 8.336 8.423 8.495 8.579 12 Mapat Tunggul Selatan 6.992 7.018 7.046 7.087 7.130 7.203 Jumlah 243.451 249.652 256.060 258.631 260.987 263.780
Sumber : Pasaman Dalam Angka Tahun 2005 - 2010
Tabel II 2.8
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 10
Tahun Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk (%)
2003 238.275 2,12 2004 243.451 2,2 2005 249.652 2,5 2006 256.060 2,6 2007 258.631 1,0 2008 260.987 1,95 2009 263.780 1,85
Rata-rata laju Pertumbuhan 2,03
Sumber : Pasaman Dalam Angka Tahun 2003 - 2010
2.4 Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten Pasaman masih rendah. Tingkat kualitas sumber daya manusia di Kabupaten pasaman dari tahun ke tahun memperlihatkan perkembangan yang sangat menggembirakan, ini terlihat dari persentase angka melek huruf yang sudah mencapai angka 97,50%, walaupun masih kurang dari target pencapaian RPJMD Kabupaten Pasaman Tahun 2006 – 2010 tapi ini sudah menandakan bahwa masyarakat di Kabupaten Pasaman terbebas dari buta huruf.
Taraf pendidikan penduduk di Kabupaten Pasaman telah mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2006 jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang melek huruf mencapai 200.688 orang (96,88%) meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 149.546 orang (95,8%). Namun hal ini menunjukkan bahwa masih ada penduduk yang buta huruf sekitar 6.458 orang (3,12%).
Angka Partisipasi Sekolah (APS) pada tahun untuk usia 7 – 12 tahun sudah mencapai 99,44%. Namun jika dilihat pada usia pendidikan yang lebih tinggi masih perlu dilakukan peningkatan kinerja layanan pendidikan. APS untuk usia 13 – 15 tahun hanya sebesar 78,59% dan usia 16 – 18 tahun hanya 45,01%. Dapat disimpulkan bahwa lebih dari separuh penduduk usia 16 – 18 tahun di Kabupaten Pasaman tidak lagi melanjutkan pendidikan formal.
Beberapa keberhasilan pembangunan bidang pendidikan dapat dilihat dari Angka Melek Huruf (AMH), Rata Lama Sekolah, Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Pendidikan yang ditamatkan. AMH adalah persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 11 AMH tahun 2006 sebesar 96,88 %, tahun 2007 sebesar 97,00 %, tahun 2008 sebesar 96,78 %, tahun 2009 sebesar 96,88 %. Angka rata-rata lama sekolah hanya 7,5 tahun
Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Pada tahun 2009 APK SD/MI mencapai 110,20%, SMP/MTs 83,03%, sedangkan SMA/SMA/MA mencapai 50,99%.
Tabel II 2.9
Kinerja Pembangunan Kesejahteraan Sosial Indikator Pendidikan
No. Indikator Kinerja Satuan Capaian Kinerja
2006 2007 2008 2009
1. Tingkat Partisipasi Sekolah
1. Angka Partisipasi Kasar (APK)
- SD/MI % 99,40 100,00 109,95 110,20
- SMP/MTS % 78,59 80,00 78,00 83,03
- SMA/SMK/MA % 45,01 50,00 40,60 50,99
2. Angka Partisipasi Murni (APM)
- SD/MI % 86,79 87,00 95,29 95,22
- SMP/MTS % 60,90 65,00 76,86 60,42
- SMA/SMK/MA % 35,45 40,00 31,80 37,25
3. Angka Melek Huruf % 96,88 97,00 96,78 96,88
4. Rata-rata Lama Sekolah Tahun 7,00 7,50 7,50 7,50
Sumber data : Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman, 2010
2.5 Kesehatan
Umur harapan hidup merupakan salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan. Umur Harapan Hidup ( UHH ) Kabupaten Pasaman berdasarkan angka estimasi BPS tahun 2008 yaitu 66,8 tahun, angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan UHH Propinsi Sumatera Barat pada tahun yang sama, yaitu 68,9 tahun.
Tingkat kematian secara umum berhubungan erat dengan tingkat kesakitan, karena biasanya merupakan akumulasi akhir dari berbagai penyebab terjadinya kesakitan. Untuk Kabupaten Pasaman tahun 2009 angka kematian bayi usia 0-28 hari sebanyak 11,8/1000 kelahiran, dan ini telah menunjukkan angka penurunan dibandingkan pada tahun 2008 yakni sebesar 24/1000 kelahiran. Angka kematian Ibu melahirkan pada tahun 2009 rata-rata sebanyak 164/100.000 orang.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 12
Tabel II 2.10
Indikator Kesehatan Masyarakat
No. Indikator Target Nasional 2009 Capaian Target Nasional 2010 Capaian 1 Angka Kematian Ibu
(AKI) 150/100.000 KH 198/100.000 KH 150/100.000 KH 4 Kasus
2 Angka Kematian Bayi
(AKB) 40/1000 KH 11,4/1000 KH 40/1000 KH 28 Kasus
3 Angka Kematian
Balita (AKABA) 58/1000 KH 0,7/1000 KH 58/1000 KH 6 Kasus
4 Balita Gizi Kurang 5 Balita Gizi Buruk
ditangani < 5% 3,3% < 5% 2,4%
6 Balita Gizi Baik 80% 80% 80% 83,4%
7 Balita Gizi Lebih 8 Prevalensi BBLR
ditangani 100 100 100 100
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, 2010
2.6 Sosial Masyarakat
Kemiskinan
Selama kurun waktu 5 tahun (2005-2009) jumlah penduduk miskin mengalami kondisi yang fluktuatif, berdasarkan pendataan BPS Kabupaten Pasaman Tahun 2008, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Pasaman tercatat mencapai 21.800 KK (34,62%). Hal ini merupakan catatan khusus bagi Pemerintah Kabupaten Pasaman untuk dapat mengentaskan kemiskinan melalui program penanggulangan kemiskinan yang ada di Kabupaten Pasaman untuk dapat semakin menyentuh masyarakat miskin. Ketepatan tersebut didukung oleh adanya identifikasi dan verifikasi berdasarkan indikator dan kriteria kemiskinan yang disusun sesuai dengan kondisi lokalitas daerah yang semakin mendekati kenyataan. Kedepan diperlukan upaya untuk melakukan unifikasi data kemiskinan agar proses percepatan penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan dengan tepat. Optimalisasi peran masyarakat untuk turut serta dalam menyalurkan program Corporate
Social Responsibility (CSR) perlu didorong terus menerus.
Kepemilikan tanah
Berdasarkan sumber dari Badan Pertanahan Kabupaten Pasaman tahun 2010, persentase luas lahan bersertifikat yang tercatat di Kabupaten
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 13 Pasaman mencapai angka rasio 72,8 %, sedangkan untuk rasio kepemilikan tanah mencapai 40,30. Dilihat dari jumlah kepemilikan tanah yang mempunyai sertifikat, menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib administrasi pertanahan yang berarti kepemilikan sertifikat tanah sebagai legalitas atas tanah yang dimiliki semakin menjadi penting.
Kesempatan kerja
Angka kesempatan kerja dapat dihitung dari jumlah penduduk yang bekerja dibanding dengan angkatan kerja dalam satu wilayah. Rasio penduduk yang bekerja tidak mengalami penurunan yang berarti, tahun 2006 sebesar 104,65 %, tahun 2007 sebesar 104,64%, tahun 2008 sebesar 104,72%, namun pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 9,31% menjadi 95,41%. Penurunan ratio penduduk yang bekerja lebih diakibatkan karena meningkatnya angkatan kerja yang tidak seimbang dengan pertumbuhan lapangan kerja. Oleh karena itu diperlukan upaya perluasan lapangan kerja sebagai upaya mengatasi pengangguran. Berikut gambaran perkembangan ratio penduduk yang bekerja selama 4 tahun (2006-2009) seperti tercantum dalam tabel dibawah ini :
Tabel II 2.11 Rasio Penduduk Bekerja
Uraian 2006 2007 Tahun 2008 2009
Penduduk yang bekerja 117.677 118.843 119.474 115.482
Angkatan Kerja 112.450 113.578 114.090 121.043
Rasio 104,65 104,64 104,72 95,41
Sumber : Pasaman Dalam Angka Tahun 2006 - 2010&hasil olahan Angka krimininalitas
Ratio tindak kriminal selama lima (5) tahun terakhir menunjukkan penurunan, tahun 2005 sebesar 0,14 %, tahun 2006 sebesar 0,10 %, tahun 2007 sebesar 0,08 % dan tahun 2008 dan tahun 2009 sebesar 0,07 %. Penurunan angka rasio kriminal tersebut menunjukkan makin tingginya rasa aman masyarakat. Kondisi rasa aman di kalangan masyarakat tersebut harus tetap di pertahankan selama 5 tahun ke depan melalui upaya-upaya preventif dan tetap memberikan kepastian hukum kepada masyarakat Berikut gambaran perkembangan ratio
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 14 kriminal selama 5 tahun (2005-2009) seperti tercantum dalam tabel dibawah ini :
Tabel II 2.12 Rasio Tindak Kriminal
Uraian Tahun
2006 2007 2008 2009
Jumlah Tindak Kriminal 383 153 127 104
Jumlah Penduduk 256.060 258.631 260.987 263.780
Rasio 0.15 0.06 0.05 0.04
Sumber : Pasaman Dalam Angka Tahun 2006 - 2010&hasil olahan
2.7 Perekonomian
Kinerja kesejahteraan dan pemerataan ekonomi Kabupaten Pasaman selama periode tahun 2005-2010 dapat dilihat dari indikator pertumbuhan PDRB, laju inflasi, PDRB per kapita, dan angka kriminalitas yang tertangani. Perkembangan kinerja pembangunan pada kesejahteraan dan pemerataan ekonomi adalah sebagai berikut :
a. Pertumbuhan PDRB
Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Pasaman selama suatu periode tertentu tidak dapat terlepas dari perkembangan masing-masing sektor atau sub sektor yang ikut membentuk nilai tambah perekonomian suatu wilayah secara keseluruhan.
Secara keseluruhan pada tahun 2009, semua sektor mengalami pertumbuhan positif walaupun beberapa sektor berada dibawah nilai rata-rata pertumbuhan Kabupaten Pasaman sebesar 6,12%. Laju pertumbuhan beberapa sektor yang berada dibawah nilai pertumbuhan kabupaten, kecuali sektor Pertanian (6,28%), sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (6,84%), Sektor Bangunan/Konstruksi (6,64%), Sektor Perdagangan (7,11%), Sektor Angkutan dan Komunikasi (7,29%).
Rata-rata pertumbuhan selama periode tahun 2005 – 2009 dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel II 2.13
Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Kabupaten Pasaman Tahun 2005 - 2009
No. Sektor 2005 2006 2007 2008 2009
1 Pertanian 6,02 5,99 6,26 5,86 6,28
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 15
3 Industri Pengolahan 5,06 5,61 5,06 5,53 5,97
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 4,42 6,26 6,31 5,93 6,84
5 Bangunan/Konstruksi 5,45 5,14 4,90 6,83 6,64
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 6,71 6,83 6,95 6,99 7,11 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,30 6,92 6,76 6,08 7,29 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 4,22 4,38 4,33 4,73 4,52
9 Jasa-jasa 4,25 4,77 4,97 6,56 5,21
PDRB 5,61 5,77 5,92 6,08 6,12
Sumber : PDRB Kabupaten PasamanTahun 2005 - 2010
Struktur pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pasaman sesuai dengan kondisi secara sektoral dipengaruhi 9 sektor utama dan masing-masing sektor mempunyai ruang dan proporsi yang berbeda-beda, dimana sasaran akhir akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan yang lebih baik, dan pembangunan kemasyarakatan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini terbukti dengan pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan ekonomi didorong dengan meningkatkan investasi dan pengeluaran Pemerintah serta mendorong industri pengolahan dan menggerakkan usaha kecil menengah termasuk industri rumah tangga. Peningkatan investasi didorong dengan meningkatkan daya tarik investasi dan mengurangi hambatan prosedur perijinan dan meningkatkan kepastian hukum. Kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan terus didorong. Upaya untuk menurunkan jumlah penduduk miskin juga akan didorong oleh berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pro-rakyat miskin, memperluas cakupan program pembangunan yang berbasis masyarakat serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar.
b. Laju inflasi
Sumber keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman tahun 2010 pada prinsipnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, walaupun setiap tahunnya selalu dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 16 pendapatan yang masih memungkinkan ditingkatkan atau mencari sumber-sumber pendapatan baru guna memenuhi kebutuhan dana yang setiap tahunnya terus mengalami peningkatan sesuai kebutuhan pembangunan dan perkembangan dinamika masyarakat. Kegiatan pencatatan harga pada kurun waktu tertentu merupakan aktivitas yang sangat penting dalam memantau kegiatan perekonomian, karena harga merupakan salah satu indikator makro ekonomi untuk mengukur tingkat stabilitas ekonomi atau keseimbangan antara penawaran dan permintaan akan barang dan jasa. Laju inflasi selama tahun 2008 tercatat sebesar 12,68% dan ini merupakan laju inflasi terbesar selama 5 (lima) tahun terakhir yang tercatat hanya berada pada kisaran 7% ke bawah.
Sementara itu, teknologi produksi juga sedikit mengalami perubahan kearah yang lebih padat modal. Keadaan ini terutama disebabkan oleh perkembangan sektor industri, perdagangan, angkutan dan jasa yang biasanya menggunakan lebih banyak modal dibandingkan dengan sektor pertanian.
Dalam kondisi demikian ICOR diperkirakan akan sedikit meningkat menjadi 4,30. Bila diasumsikan bahwa tingkat inflasi untuk tahun 2010 masih tetap sama dengan tahun 2007 yaitu sekitar 7 % persen dan proyeksi laju pertumbuhan penduduk untuk tahun 2009 masih tetap tinggi yaitu 1,83 %, maka diperkirakan pendapatan regional perkapita Kabupaten Pasaman atas dasar harga berlaku akan meningkat menjadi 11,82% dari tahun sebelumnya dan diperkirakan Proyeksi Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 memiliki angka indeks sekitar 0,5 – 0,75.
c. PDRB Perkapita
Salah satu tolak ukur untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu daerah dapat dilihat dari besarnya PDRB perkapita, oleh karena itu berdasarkan harga berlaku PDRB perkapita penduduk Kabupaten Pasaman pada tahun 2004 sebesar Rp. 5.430.860,06, pada tahun 2005 meningkat menjadi Rp 6.507.460,71 atau meningkat 16,54 % di banding tahun 2004, meningkat lagi tahun tahun 2006 menjadi Rp. 7.670.510,08 atau naik 15,16 % di banding tahun 2005, pada tahun 2007 naik menjadi Rp. 8.825.563,66 atau
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 17 naik 13,08 % di banding tahun 2006, selanjutnya tahun 2008 naik menjadi Rp. 10.016.337,90 atau naik 11,89 %, ditahun 2009 meningkat lagi menjadi Rp. 11.044.933,97 atau mengalami kenaikan sebesar 9,31 % dibanding tahun 2008.
Tabel II 2.14
PDRB Per Kapita Kabupaten Pasaman Tahun 2004 – 2009 (Rp.) Tahun PDRB Per Kapita
2004 5.430.860,06 2005 6.507.460,71 2006 7.670.510,08 2007 8.825.563,66 2008 10.016.337,90 2009 11.044.933,97
Sumber : PDRB Kabupaten PasamanTahun 2004 - 2009
2.8 Visi dan Misi Kabupaten Pasaman
A. Visi
Visi Pemerintahan Daerah Kabupaten Pasaman Tahun 2011- 2015 yang hendak dicapai dalam tahapan kedua Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Pasaman adalah :
“T
ERWUJUDNYAM
ASYARAKATK
ABUPATENP
ASAMANY
ANGM
AJU DANB
ERKEADILAN”
B. Misi
Misi 1 : Meningkatkan kualitas kehidupan beragama masyarakat Misi 2 : Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
Misi 3 : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good
governance and clean government), menegakkan supermasi hukum dan meningkatkan pelayanan public serta bebas dari KKN (Korupsi, Kolusi dan
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 18 Misi 4 : Meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis ekonomi kerakyatan
Misi 5 : Mengelola sumberdaya alam secara optimal dan berkelanjutan
Misi 6 : Meningkatkan keharmonisan dan kerjasama dalam tata kehidupan sosial
budaya masyarakat dengan prinsip keadilan dan kebersamaan Misi 7 : Meningkatkan Infrastruktur dan Fasilitas Umum
2.9 Institusi dan Organisasi Pemerintah Daerah
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 bahwa urusan pemerintahan daerah terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan, Urusan wajib pemerintahan adalah urusan pemerintahan yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah berkaitan dengan pelayanan dasar, sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Untuk penyelenggaraan pemerintahan urusan wajib dan urusan pilihan telah dibagi kewenangan kedalam satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Pasaman. Adapun jumlah SKPD yang ada terdiri dari 1 sekretariat daerah, 1 sekretariat DPRD, 11 lembaga teknis daerah dan 15 daerah, 12 Kecamatan, sebagaimana nama-nama SKPD tersebut dibawah ini:
A. Sekretariat Daerah
1. Sekretaris Daerah Kabupaten Pasaman (Es. II/a) 2. Asisten
a. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Es.II/b) (i) Bagian Adm. Pemerintahan Umum (Es. III/a)
(ii) Bagian Adm. Kesejahteraan Rakyat (Es. III/a) (iii) Bagian Adm. Kemasyarakatan (Es. III/a) b. Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Es. II/b)
(i) Bagian Adm. Pembangunan (Es. III/a) (ii) Bagian Adm. Sumber Daya Alam (Es. III/a)
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 19 (iii) Bagian Adm. Perekonomian (Es.III/a)
c. Asisten Administrasi Umum (Es. II/b)
(i) Bagian Hukum dan Perundang-undangan (Es.III/a) (ii) Bagian Organisasi dan Tata Laksana (Es. III/a) (iii) Bagian Umum dan Perlengkapan (Es. III/a)
B. Sekretariat DPRD
Sekretaris DPRD Kabupaten Pasaman (Es. II/b)
(i) Bagian Umum (Es. III/a) (ii) Bagian Persidangan (Es. III/a) (iii) Bagian Keuangan (Es. III/a) (iv) Bagian Hukum (Es. III/a)
C. Lembaga Teknis Daerah, terdiri dari:
1. Inspektorat Daerah (Es. II/b) 2. Bappeda (Es. II/b)
3. Badan Kepegawaian dan Diklat (Es. II/b)
4. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Nagari (Es.II/b) 5. Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (Es.II/b) 6. Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB (Es.II/b)
7. Kantor Lingkungan Hidup (Es.III/a) 8. Kantor Kesbangpol (Es.III/a)
9. Kantor Perpustakaan dan Arsip (Es.III/a)
10. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Pol.PP) (Es. III/a) 11. Rumah Sakit Umum Daerah (Es. III/a)
12. Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (Es. III/a) 13. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Es. II/b)
D. Dinas Daerah terdiri dari:
1. Dinas Pendidikan (Es. II/b)
2. Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Es. II/b)
3. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Es.II/b) 4. Dinas Pekerjaan Umum (Es. II/b)
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 20 5. Dinas Perhubungan dan Pariwisata (Es. II/b)
6. Dinas Kesehatan (Es. II/b)
7. Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (Es. II/b) 8. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (Es. II/b) 9. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Es. II/b) 10. Dinas Perikanan dan Peternakan (Es. II/b)
11. Dinas Perkebunan (Es. II/b) 12. Dinas Kehutanan dan (Es. II/b)
13. Dinas Perindagkop dan UKM (Es. II/b) 14. Dinas Komunikasi dan Informatika (Es. II/b)
15. Dinas Pemuda Olah Raga dan Kebudayaan (Es. II/b)
E. Pemerintahan Kecamatan
Camat Eselon III/a terdiri atas 12 Kecamatan yang membawahi 32 Nagari dan 209 Jorong.
2.10 Tata Ruang Wilayah
Rencana struktur ruang wilayah merupakan rencana pengaturan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana untuk mendukung perkembang kegiatan sosial ekonomi. Pusat-pusat permukiman tersebut membentuk hirarki secara fungsional saling berhubungan satu sama lain. Pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Pasaman pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan perkembangan seluruh bagian wilayah sesuai dengan fungsi dan peranan masing-masing bagian wilayah.
Konsep struktur ruang yang sesuai dikembangkan di Kabupaten Pasaman adalah konsep sentralisasi dan desentralisasi. Konsep sentralisasi mempunyai arti bahwa pusat utama pengembangannya diarahkan untuk pelayanan pemerintahan, sedang pusat-pusat lain (sub pusat) dapat secara bebas berinteraksi dengan wilayah lain baik secara inter maupun intra wilayah sepanjang hal tersebut didukung oleh prasarana dan sarana wilayah yang memadai. Namun demikian prasarana dan sarana wilayah tersebut dapat disediakan dan ditingkatkan untuk menunjang pengembangan sub pusat utama, tentunya tetap dibawah koordinasi pusat utama.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 21 Sedangkan konsep desentralisasi berarti bahwa setiap wilayah kecamatan dapat melakukan interaksi langsung dengan wilayah kecamatan lain baik inter maupun intra wilayah, dengan tetap memperhatikan kelengkapan prasarana dan sarana wilayah dalam menunjang unreaksi tersebut. Konsep ini lebih memberikan kebebasan kepada setiap wilayah kecamatan sebagai pusat pertumbuhan untuk berinteraksi dengan wilayah lain.
Dengan memperhatikan kondisi wilayah Kabupaten Pasaman saat ini dan kecenderungannya, maka penerapan kedua konsep tersebut lebih sesuai untuk memberikan kesempatan berkembangnya seluruh bagian wilayah Kabupaten Pasaman.
Berdasarkan konsep tersebut maka rencana pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Pasaman adalah sebagai berikut:
2.10.1 Struktur Ruang/Hirarki I
Kota di Kabupaten Pasaman yang ditetapkan sebagai pusat pelayanan Hirarki I adalah Kota Lubuk Sikaping. Terkait dengan sistem kota secara makro, Kota Lubuk Sikaping ini ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Dalam eksistensinya sebagai PKL, Kota Lubuk Sikaping ini berperan sebagai pusat wilayah (Regional Center) di Wilayah Kabupaten Pasaman, terutama dalam proses transformasi dan pengembangan ekonomi wilayah serta struktur ruang. Selain sebagai PKL, Kota Lubuk Sikaping ini juga ditetapkan sebagai pusat pengembangan WP Lubuk Sikaping.
Pusat pengembangan wilayah yaitu Kota Lubuk Sikaping (Kecamatan Lubuk Sikaping), berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat permukiman perkotaan, pusat pelayanan jasa dan berperan sebagai barometer perkembangan seluruh wilayah kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Pasaman, selanjutnya Kecamatan Lubuk Sikaping juga merupakan salah satu faktor pembentuk sistem perkotaan, sistem permukiman perkotaan dan sistem pusat pelayanan, maka dari itu wilayah kecamatan ini beserta segala macam kepentingan dan kegiatannya termasuk ke dalam Hirarki I, hal ini berdasarkan pada pertimbangan Kecamatan Lubuk Sikaping sebagai Ibukota Kabupaten Pasaman.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 22 Sub pusat pengembangan wilayah yaitu Kecamatan Panti, Rao dan Kecamatan Bonjol yang termasuk ke dalam sistem perkotaan Kabupaten Pasaman. Ketiga wilayah kecamatan tersebut direncanakan sebagai pembentuk struktur ruang yang termasuk kedalam Hirarki II dikarenakan mempunyai fungsi sebagai kegiatan pemasaran bagi daerah perdesaan, terutama bagi daerah belakang (hinterland) yang menjadi daerah pelayanannya. Kecamatan-kecamatan pada Hirarki II ini secara keruangan/spasial dapat memungkinkan memberikan pengaruh lebih luas dari wilayah kecamatannya sendiri. Terkait dengan penetapan kecamatan-kecamatan tersebut sebagai hirarki II, keberadaannya dalam sistem pengembangan adalah:
1) Kecamatan Rao, juga telah efektif memberikan pelayan yang jangkauannya melebihi wilayah administrasi. Kota Rao ini juga menjadi strategis karena didukung pula oleh Jalan Kolektor Primer yang merupakan lanjutan dari jalan lintas yang menghubungkan Bukittinggi – Kabupaten Pasaman – Kabupaten Pasaman Barat – Kabupaten Mandailing Natal. Kota Rao ini dimasa datang akan strategis karena didukung rencana pengembangan jaringan jalan menuju Kota Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. Dengan fungsi dan peranan yang demikian besar serta prospek pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan ini, maka sudah selayaknya Kota Rao dipromosikan sebagai PKL baru di Kabupaten Pasaman (PKL Promosi = PKLp) dimana fungsi utamanya adalah untuk pelayanan kegiatan ekonomi.
2) Kecamatan Panti, telah efektif memberikan pelayan yang jangkauannya melebihi wilayah administrasi. Kota Panti ini menjadi strategis di Wilayah Kabupaten Pasaman, karena didukung pula oleh Jalan Arteri Primer, yaitu : Jalan Lintas yang menghubungkan Bukittinggi – Kabupaten Pasaman – Kabupaten Pasaman Barat – Kabupaten Mandailing Natal. Selain dari itu, Kota Panti ini juga didukung oleh adanya persimpangan jalan menuju Kota Talu Kabupaten Pasaman Barat.
3) Kecamatan Bonjol, ditetapkan sebagai pusat pelayanan karena mempunyai aksesibilitas yang relatif lebih baik bila dibandingkan dengan pusat-pusat permukiman lainnya yang ada di dalam kawasan WP A2. Penetapan
Bonjol-Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 23 Kumpulan ini dimasudkan agar orientasi pelayanan yang selama ini cenderung keluar wilayah (Bukittinggi) dapat dikurangi, selain itu peningkatan kawasan sebagai pusat kegiatan pariwisata Kabupaten Pasamanakan memberikan peran fungsional yang lebih besar. Karena keberadaannya saat ini belum memberikan pelayanan secara efektif, kawasan ini akan dikembangkan secara signifikan agar efektif sebagai Pusat WP A2. Karena itu diperlukan kebijakan khusus agar dapat berfungsi sebagai pusat SWP. Kebijakan khusus yang terkait dengan penetapannya sebagai pusat pengembangan SWP adalah yang berkenaan dengan investasi publik (Social Overhead Capital/SOC), yang memungkinkan berkembangnya kegiatan investasi yang bersifat produktif (Directly Productive
Activities/DPA).
2.10.3 Struktur Ruang/Hirarki III
Sub-sub pusat pengembangan wilayah yaitu Kecamatan Padang Gelugur, Simpang Alahan Mati, III Nagari, II Koto, Mapat Tunggul Selatan, Rao Selatan dan Kecamatan Rao Utara, keseluruhan wilayah kecamatan yang termasuk dalam Hirarki III ini hampir memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai pusat permukiman perdesaan dan sebagai pembentuk wilayah kabupaten dari lingkup terkecil.
2.10.4 Struktur Ruang/Hirarki IV
Dilihat dari prasarana dan sarana yang dimiliki maka sub pusat pengembangan wilayah yang termasuk Hirarki IV yaitu Kecamatan Mapat Tunggul, dengan tingkat hirarki yang sangat rendah tersebut kota ini merupakan wilayah yang pembangunannya terbelakang dan pada hakikatnya tidak mampu untuk melayani wilayah yang lebih luas.
Rencana struktur ruang ini juga meliputi sistem-sistem perwilayahan Kabupaten Pasaman sebagai faktor pembentuk struktur ruang wilayah Kabupaten Pasaman, yaitu : Sistem perkotaan dan perdesaan; Sistem pusat permukiman; Sisten pusat-pusat pelayanan dan Sistem prasarana wilayah
Untuk lebih jelasnya mengenai rencana pengembangan struktur ruang di wilayah Kabupaten Pasaman ini disajikan pada Tabel II 2.15 dan Tabel II 2.16 dibawah ini menunjukan fungsi dan fasilitas pendukung masing-masing pusat pelayanan di Wilayah Kabupaten Pasaman.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 24
Tabel II 2.15
Rencana Pusat Kegiatan dan Pelayanan di Kabupaten Pasaman
No. Kecamatan Hirarki
Pelayanan
Fungsi yang diemban oleh Pusat Kecamatan
A B C D E F G H
1. Lubuk Sikaping Hirarki I X X X X X X X X
2. Bonjol Hirarki II X X X X X X X
3. Panti Hirarki II X X X X X X
4. Rao Hirarki II X X X X X X X
5. Dua Koto Hirarki III X X X X X X
6. Tigo Nagari Hirarki III X X X X X X
7. Padang Gelugur Hirarki III X X X X X X X
8. Simpang Alahan Mati Hirarki III X X X
9. Mapat Tunggul Selatan Hirarki III X X X
10. Rao Selatan Hirarki III X X X
11. Rao Utara Hirarki III X X X
12. Mapat Tunggul Hirarki IV X X X
Sumber : RTRW Kabupaten Pasaman 2010 - 2030.
Tabel II 2.16
Rencan Pembagian Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Pasaman
Satuan Wilayah
Pembangunan Kecamatan Peran Kawasan
Pusat Kegiatan Lokal ( PKL )
Lubuk Sikaping ◙ Pusat Pemerintahan.
◙ Pengembangan perumahan kepadatan
sedang.
◙ Pengembangan pendidikan terpadu.
◙ Perdagangan dan jasa skala sub
regional
◙ Kesehatan
◙ Perhubungan
◙ Pertanian
◙ Perikanan darat
Pusat Kegiatan Lokal dipromosikan
( PKLp ) - Rao
◙ Perdagangan dan jasa skala sub
regional
◙ Pusat pelayanan sosial
◙ Pusat pelayanan tersier jasa
pemerintahan ◙ Pertanian ◙ Peternakan ◙ Permukiman Keterangan : A. Permukiman B. Pendidikan
C. Perdagangan dan Jasa D. Koleksi dan Distribusi E. Kesehatan
F. Industri G. Pariwisata H. Pemerintahan
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasaman 25
◙ Perkebunan
◙ Permukiman skala sedang dan besar
dengan kepadatan sedang.
◙ Pertambangan ◙ Pariwisata Pusat Pelayanan Kawasan ( PPK ) - Panti - Bonjol ◙
Perdagangan dan jasa skala sub regional
◙ Pusat pelayanan sosial
◙ Pusat pelayanan tersier jasa
pemerintahan
◙ Pengembangan industri skala regional
◙ Pertanian
◙ Peternakan
◙ Permukiman
◙ Perkebunan
◙ Permukiman skala sedang dan besar
dengan kepadatan sedang.
◙ Pertambangan ◙ Pariwisata Pusat Pelayanan Lingkungan ( PLL) - II Koto - III Nagari - Padang Gelugur - Simpang Alahan Mati - Mapat Tunggul Selatan - Rao Selatan
- Rao Utara - Mapat Tunggul
◙ Permukiman kepadatan rendah
◙ Pariwisata
◙ Pertanian
◙ Peternakan
◙ Perikanan