• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA RESMI STATISTIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BERITA RESMI STATISTIK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

No. 02/06/3524/Th. II, 14 Juni 2017

PROFIL

KEMISKINAN

DI

LAMONGAN

MARET

2016

RINGKASAN

 Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Kabupaten Lamongan pada bulan Maret 2016 mencapai 176,92 ribu jiwa. Jumlah ini berkurang sebesar 5,72 ribu jiwa, bila dibandingkan dengan kondisi Maret 2015 yang sebesar 182,64 ribu jiwa.

 Persentase penduduk miskin di Kabupaten Lamongan juga mengalami penurunan dari 15,38 persen pada bulan Maret 2015 menjadi sebesar 14,89 persen pada bulan Maret 2016. Sehingga sejak 2008-2016, baik jumlah maupun persentase penduduk miskin di Kabupaten Lamongan selalu berkurang setiap tahunnya.

 Garis Kemiskinan di Kabupaten Lamongan pada bulan Maret 2016 sebesar Rp. 321.002,- per kapita per bulan, bertambah sebesar Rp. 17.222,- per kapita per bulan atau meningkat sebesar 5,67 poin, bila dibandingkan kondisi bulan Maret 2016 yang sebesar Rp. 303.780,- per kapita per bulan.

 Persentase penduduk miskin di Kabupaten Lamongan masih lebih tinggi dibandingkan persentase penduduk miskin di Provinsi Jawa Timur (12,05 persen). Namun demikian penurunan persentase kemiskinan di Kabupaten Lamongan sebesar 0,49 persen lebih baik dibandingkan Jawa Timur yang sebesar 0,29 persen dalam periode Maret 2015-2016.

 Penurunan baik jumlah maupun persentase penduduk miskin Kabupaten Lamongan di tahun 2016, menunjukkan kemajuan progress upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Lamongan yang selalu berkurang dalam kurun waktu 2008-2016.

 Selama periode Maret 2015 - Maret 2016, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Kabupaten Lamongan cenderung mengalami

peningkatan. Ini menunjukkan semakin lebarnya jarak rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk miskin terhadap Garis Kemiskinan dan semakin bervariasi antar penduduk miskin.

1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan 2015-2016 di Kabupaten Lamongan

Selama periode Maret 2015 – Maret 2016, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lamongan berkurang sebanyak 5,72 ribu jiwa. Bila pada Maret 2015 penduduk miskin

BERITA RESMI STATISTIK

(2)

berjumlah 182,64 ribu jiwa, maka berkurang menjadi 176,92 ribu jiwa pada Maret 2016 atau mengalami penurunan sebesar 3,13 poin. Tidak hanya dari jumlah, berdasarkan persentase penduduk miskin di Kabupaten Lamongan dalam rentang waktu tersebut juga mengalami penurunan sebesar 0,49 persen, dari 15,38 persen pada Maret 2015 menjadi 14,89 persen pada Maret 2016.

Gambar 1.

Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Lamongan Tahun 2003-2016

Sumber : BPS Kabupaten Lamongan, Susenas 2003-2016

Beberapa faktor yang diduga terkait dengan penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode Maret 2015 - Maret 2016 antara lain adalah:

a. Penurunan tingkat pengangguran terbuka dari 4,10 persen di tahun 2015 (Sakernas, 2015) menjadi 3,56 persen tahun 2016 (Sakerda, 2016).

b. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamongan selama tahun 2015 sebesar 5,77 persen dan 2016 sebesar 5,86 persen.

2. Dinamika Kemiskinan 2003-2016 di Kabupaten Lamongan

Secara umum, dalam periode 2003-2016 tingkat kemiskinan di Kabupaten Lamongan mengalami penurunan, kecuali pada tahun 2006 (untuk jumlah dan persentase) dan 2007 (untuk persentase). Untuk tahun 2006, baik jumlah maupun persentase penduduk miskin mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2005, yang disebabkan oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak yang ditetapkan oleh Pemerintah pada 1 Oktober 2005. Perlu waktu setidaknya dua tahun, bagi sebagian rumah tangga miskin di Kabupaten Lamongan untuk keluar dari bawah garis kemiskinan. Karena meskipun dari sisi

343.6 318.4 280.8 304.2 297.6 259.7 235.9 220.6 206.7 197.9 192 186.1 182.64 176.92 27.81 25.74 23.13 25.74 25.79 22.51 20.47 18.7 17.41 16.7 16.18 15.68 15.38 14.89 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

(3)

jumlah penduduk miskin tahun 2007 turun 6,6 ribu jiwa dibandingkan tahun 2006, namun secara persentase kondisi tahun 2007 masih meningkat sebesar 0,05 poin persen dibandingkan 2006.

Bila memperhatikan historis kemiskinan Kabupaten Lamongan selama 2003-2016, maka cukup berat peluang menurunkan angka kemiskinan per tahun lebih dari satu persen, yang terakhir terjadi pada tahun 2010-2011, terutama ketika kemiskinan di Kabupaten Lamongan masih berada di kisaran 17 persen. Gangguan gejolak perubahan harga akibat kebijakan eksternal, turut memberi koreksi pada penurunan persentase kemiskinan di Kabupaten Lamongan. Seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu, dimana tingkat kemiskinan di Jawa Timur dan sebagian besar kabupaten-kota mengalami peningkatan, tidak demikian untuk Kabupaten Lamongan tahun 2015 yang tetap turun meskipun penurunannya hanya sebesar 0,30 persen dibandingkan tahun 2014..

Perkembangan tingkat kemiskinan di Kabupaten Lamongan tahun 2003 sampai dengan 2014 seperti pada Tabel 1.

Tabel 1.

Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Di Kabupaten Lamongan 2003-2016 Tahun Garis Kemiskinan/GK (rupiah per kapita sebulan) Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) Perubahan Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) Persentase Penduduk Miskin Perubahan Persentase Penduduk Miskin (%) Perubahan Kenaikan Garis Kemiskinan (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 2003 149.680 343,6 - 27,81 - - 2004 145.808 318,4 -25,20 25,74 -2,07 -2,59 2005 162.281 280,8 -37,60 23,13 -2,61 11,30 2006 172.062 304,2 23,40 25,74 2,61 6,03 2007 176.738 297,6 -6,60 25,79 0,05 2,72 2008 177.003 259,7 -37,90 22,51 -3,28 0,15 2009 201.771 235,9 -23,80 20,47 -2,04 13,99 2010 221.413 220,6 -15,30 18,70 -1,77 9,73 2011 242.441 206,7 -13,90 17,41 -1,29 9,50 2012 260.787 197,9 -8,80 16,70 -0,71 7,57 2013 279.166 192,0 -5,90 16,18 -0,52 7,05 2014 289.403 186,1 -5,90 15,68 -0,50 3,67 2015 303.780 182,64 -3,46 15,38 -0,30 4,97 2016 321.002 176,92 -5,72 14,89 -0,49 5,67

(4)

Untuk tahun 2016, penurunan persentase kemiskinan untuk Kabupaten Lamongan sebesar 0,49 persen dibanding tahun 2015, menjadikan Kabupaten Lamongan berada pada posisi 6 kabupaten/kota dengan tingkat penurunan kemiskinan terbesar di Jawa Timur, setelah lima besar kabupaten/kota berikut ini dari persentase penurunan terbesar: Sampang, Pacitan, Bangkalan, Bojonegoro, dan Pamekasan (perbandingan data kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Timur seperti pada Tabel 4.).

3. Perubahan Garis Kemiskinan 2003-2016 di Kabupaten Lamongan

Garis kemiskinan merupakan suatu batas minimal untuk kebutuhan hidup (makanan dan bukan makanan) yang digunakan untuk mengelompokkan penduduk dalam dua kriteria yaitu miskin dan tidak miskin. Penduduk dikatakan miskin jika memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Dalam Tabel 1 dapat dilihat perkembangan Garis Kemiskinan di Kabupaten Lamongan dalam periode 2003-2016.

Selama periode Maret 2015 - Maret 2016, Garis Kemiskinan Kabupaten Lamongan naik sebesar 5,67 persen, yaitu dari Rp. 303.780,- per kapita per bulan pada Maret 2015 menjadi Rp. 321.002,- per kapita per bulan pada Maret 2016. Sementara untuk periode sebelumnya, September 2014 - Maret 2015, Garis Kemiskinan naik sebesar 4,97 persen, yaitu dari Rp. 289.403,- per kapita per bulan pada September 2014 menjadi Rp. 303.780,- per kapita per bulan pada Maret 2015.

Perubahan peningkatan Garis Kemiskinan Kabupaten Lamongan selama periode 2009-2016 terendah terjadi pada tahun 2014, yaitu meningkat sebesar 3,67 persen. Kondisi peningkatan Garis Kemiskinan terendah di tahun 2014 sangat dimaklumi mengingat pada saat itu, tidak ada kebijakan yang berdampak pada peningkatan harga-harga, tidak demikian pada tahun 2015 dan setelahnya.

4. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan 2003-2016

Masalah kemiskinan, sebenarnya tidak hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin saja. Namun ukuran lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman serta keparahan dari kemiskinan yang terjadi. Upaya kebijakan pembangunan terutama yang bertujuan memperkecil jumlah penduduk miskin, diharapkan juga bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

Pada periode Maret 2015 - Maret 2016, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) maupun

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Kabupaten Lamongan keduanya mengalami peningkatan.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada Maret 2015 yang semula 2,25 meningkat menjadi 2,40

(5)

Tabel 3.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Di Kabupaten Lamongan 2003-2016

Tahun Indeks Kedalaman

Kemiskinan (P1) Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) (1) (2) (3) 2003 3,91 0,88 2004 3,28 0,73 2005 4,45 1,20 2006 4,16 1,04 2007 4,17 1,02 2008 4,68 1,38 2009 2,94 0,71 2010 2,81 0,64 2011 2,07 0,45 2012 1,92 0,36 2013 2,00 0,40 2014 1,78 0,36 2015 2,25 0,58 2016 2,40 0,66

Sumber : BPS Kabupaten Lamongan, Susenas 2003-2016

Kondisi ini menunjukkan, meskipun secara jumlah dan persentase penduduk miskin di Kabupaten Lamongan 2016 mengalami perbaikan, namun masih ada pekerjaan rumah dalam upaya meningkatkan kualitas kesejahteraan penduduk miskin yang masih tersisa di Kabupaten Lamongan. Karena berdasarkan indikator Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), penduduk miskin

pada tahun 2016 di Kabupaten Lamongan memiliki rata-rata jarak tingkat pengeluaran per kapita per bulan penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Kabupaten Lamongan, semakin melebar dari Garis Kemiskinan (menjauhi Garis Kemiskinan).

Sementara itu, berdasarkan indikator Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), yang

mengalami peningkatan dalam rentang 2015-2016 di Kabupaten Lamongan menunjukkan bahwa perbedaan tingkat pengeluaran per kapita per bulan di antara penduduk miskin (yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Kabupaten Lamongan), semakin melebar atau bervariasi.

Berdasarkan hal ini maka salah satu upaya dalam meningkatkan taraf kesejahteraan penduduk miskin melalui program, yang berupaya menutup gap antara tingkat kesejahteraan setiap penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Salah satunya melalui program

(6)

pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yang akan mendongkrak taraf kehidupan mereka mendekati atau melewati garis kemiskinan. Selain itu upaya pengendalian harga kebutuhan pokok agar relatif terjangkau pada taraf kesejahteraan masyarakat miskin, juga menjadi prioritas. Mengingat upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin, terutama pada tahap awal program pemberdayaan berjalan cukup rentan tingkat keberhasilannya.

Alternatif lain, untuk program yang bersifat short term dalam upaya pengurangan kemiskinan, melalui program yang bersifat cash transfer agar penduduk keluar dari Garis Kemiskinan. Namun jika melihat Indeks Kedalaman Kemiskinan Kabupaten Lamongan 2016 maka diperlukan dana yang cukup besar dan ada kecenderungan data tiga tahun terakhir semakin meningkat biaya yang diperlukan bila cara ini ditempuh. Sedangkan dari Indeks Keparahan Kemiskinan tiga tahun terakhir yang semakin meningkat, menunjukkan bahwa ragam tingkat kemiskinan semakin heterogen. Kondisi ini menuntut formulasi program yang berbeda pula sesuai karakter kemiskinan yang ada di masyarakat Kabupaten Lamongan.

(7)

Tabel 4. Kemiskinan Kabupaten/Kota Tahun 2015-2016 KODE KAB/KOTA 2015 2016 Perubahan P0 Kenaikan Garis Kemiskinan Penduduk Miskin P1 P2 Garis Miskin (Rp/kapita sebulan) Penduduk Miskin P1 P2 Garis Miskin (Rp/kapita sebulan) Ribu jiwa Persen Ribu jiwa Persen

3501 Pacitan 92,08 16,68 2,92 0,90 228573 85,53 15,49 2,86 0,79 239339 -1,19 4,71 3502 Ponorogo 103,22 11,91 1,63 0,33 251525 102,06 11,75 1,47 0,28 266312 -0,16 5,88 3503 Trenggalek 92,17 13,39 2,18 0,59 260133 91,49 13,24 1,74 0,37 275426 -0,15 5,88 3504 Tulungagung 87,37 8,57 1,27 0,30 292483 84,35 8,23 0,98 0,18 304518 -0,34 4,11 3505 Blitar 114,12 9,97 1,61 0,38 255966 113,51 9,88 1,53 0,35 272358 -0,09 6,40 3506 Kediri 199,38 12,91 2,05 0,45 261088 197,43 12,72 1,66 0,37 272374 -0,19 4,32 3507 Malang 292,87 11,53 2,05 0,55 265629 293,74 11,49 1,57 0,33 282933 -0,04 6,51 3508 Lumajang 118,51 11,52 1,65 0,41 245806 115,91 11,22 1,62 0,35 258840 -0,30 5,30 3509 Jember 269,54 11,22 1,58 0,33 283510 265,10 10,97 1,33 0,29 299823 -0,25 5,75 3510 Banyuwangi 146,00 9,17 1,02 0,20 295185 140,45 8,79 1,41 0,34 311722 -0,38 5,60 3511 Bondowoso 113,72 14,96 1,93 0,39 313734 114,63 15,00 2,54 0,64 331975 0,04 5,81 3512 Situbondo 91,17 13,63 2,25 0,59 254656 89,68 13,34 1,79 0,39 270406 -0,29 6,18 3513 Probolinggo 236,96 20,82 3,58 0,97 355051 240,47 20,98 3,24 0,80 373569 0,16 5,22 3514 Pasuruan 169,19 10,72 1,43 0,31 292281 168,06 10,57 1,56 0,33 306311 -0,15 4,80 3515 Sidoarjo 136,13 6,44 0,77 0,14 371947 136,79 6,39 0,95 0,23 394401 -0,05 6,04 3516 Mojokerto 113,86 10,57 1,67 0,43 311022 115,38 10,61 1,53 0,35 330940 0,04 6,40 3517 Jombang 133,75 10,79 1,59 0,39 316922 133,32 10,70 1,26 0,25 337217 -0,09 6,40 3518 Nganjuk 132,04 12,69 1,73 0,42 32282 127,90 12,25 1,72 0,36 341653 -0,44 5,83 3519 Madiun 84,74 12,54 1,95 0,46 277092 85,97 12,69 2,08 0,56 294451 0,15 6,26 3520 Magetan 71,16 11,35 1,69 0,38 272972 69,24 11,03 1,37 0,26 288246 -0,32 5,60 3521 Ngawi 129,32 15,61 2,49 0,59 250008 126,65 15,27 2,30 0,52 264706 -0,34 5,88 3522 Bojonegoro 193,99 15,71 2,01 0,42 284319 180,99 14,60 2,41 0,54 295250 -1,11 3,84 3523 Tuban 196,59 17,08 2,98 0,79 277599 198,35 17,14 3,03 0,82 294543 0,06 6,10 3524 Lamongan 182,64 15,38 2,25 0,58 303780 176,92 14,89 2,40 0,66 321002 -0,49 5,67 3525 Gresik 170,76 13,63 2,58 0,67 372661 167,12 13,19 2,19 0,56 393447 -0,44 5,58 3526 Bangkalan 216,23 22,57 3,31 0,78 319120 205,71 21,41 4,00 1,13 334338 -1,16 4,77 3527 Sampang 240,35 25,69 5,18 1,44 284928 227,80 24,11 4,19 1,05 296268 -1,58 3,98 3528 Pamekasan 146,92 17,41 3,24 0,88 278093 142,32 16,70 2,38 0,54 292631 -0,71 5,23 3529 Sumenep 216,84 20,20 2,39 0,45 284756 216,14 20,09 2,90 0,75 301781 -0,11 5,98 3571 Kota Kediri 23,77 8,51 1,40 0,43 386521 23,64 8,40 0,96 0,20 400096 -0,11 3,51 3572 Kota Blitar 10,04 7,29 0,89 0,18 338532 9,97 7,18 1,04 0,20 356147 -0,11 5,20 3573 Kota Malang 39,10 4,60 0,53 0,11 411709 37,03 4,33 0,54 0,09 426527 -0,27 3,60 3574 Kota Probolinggo 18,66 8,17 1,36 0,37 403037 18,37 7,97 0,98 0,20 418480 -0,20 3,83 3575 Kota Pasuruan 14,52 7,47 1,46 0,44 343392 14,93 7,62 1,35 0,32 362224 0,15 5,48 3576 Kota Mojokerto 7,72 6,16 1,08 0,26 348670 7,24 5,73 0,62 0,13 364021 -0,43 4,40 3577 Kota Madiun 8,55 4,89 0,56 0,10 359771 9,05 5,16 0,94 0,26 376956 0,27 4,78 3578 Kota Surabaya 165,72 5,82 0,78 0,15 418930 161,01 5,63 0,92 0,25 438283 -0,19 4,62 3579 Kota Batu 9,43 4,71 0,62 0,13 380393 9,05 4,48 0,55 0,11 398401 -0,23 4,73 Jawa Timur 4789,12 12,34 2,06 0,52 305171 4703,30 12,05 1,98 0,47 321761 -0,29 5,44

(8)

BPS Kabupaten Lamongan

Jl. Basuki Rachmad No. 176 Lamongan 62215 Telp./Fax. (0322) 321339

Email : bps3524@bps.go.id Penjelasan Teknis dan Sumber Data

Pengukuran kemiskinan BPS, menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dalam pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Manfaat jika menggunakan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index (P0), yaitu persentase penduduk miskin

terhadap total penduduk.

Metode untuk menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri atas dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilo kalori per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan lain-lain).

Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) merupakan kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 36 jenis komoditi.

Indeks Kedalaman Kemiskinan/Poverty Gap Indeks (P1), merupakan ukuran rata-rata

kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh jarak rata-rata pengeluaran penduduk terhadap garis kemiskinan.

Indeks Keparahan Kemiskinan/Poverty Severity Indeks (P2), merupakan ukuran tingkat ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks maka semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan dalam publikasi ini adalah data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) dan untuk tahun 2016 merujuk pada kondisi Maret 2016.

Diterbitkan oleh :

Gambar

Tabel 4. Kemiskinan Kabupaten/Kota Tahun 2015-2016  KODE  KAB/KOTA  2015  2016  Perubahan  P0  Kenaikan Garis Kemiskinan Penduduk Miskin P1 P2 Garis Miskin (Rp/kapita  sebulan)  Penduduk Miskin  P1  P2  Garis Miskin (Rp/kapita sebulan)

Referensi

Dokumen terkait

[r]

[r]

Peningkatan hasil belajar peserta didik dengan penerapan strategi pembelajaran aktif tipe true or false terjadi karena peserta didik terlibat aktif dalam proses

Tabel 4 menunjukan bahwa tingkat kapabilitas pada proses pengelolaan sumber daya manusia (APO07) di Dinas KOMINFO Kota Batu berada di level 2 yang termasuk ke

Kemampuan flokulasinya disebabkan oleh adanya bahan- bahan tertentu di dalam kultur atau filtrat kultur yang mampu memflokulasikan kaolin, bukan karena adanya

Pengiriman secara nilai adalah : bahwa hasil yang didapatkan pada prosedur tidak akan mempengaruhi nilai yang ada pada modul yang mengirim (dalam hal ini adalah

Vacutainer adalah tabung reaksi hampa udara yang terbuat dari kaca atau plastik, apabila dilekatkan pada jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan

Petunjuk Pelaksanaan Program Kota Mojokerto Berlingkungan Pendidikan di Masyarakat, (3) Cara Mengatasi Penghambat Terwujudnya Pelaksanaan Jam Wajib Belajar