Hari masih pagi di saat pertama kalinya Reandra mulai masuk sekolah setelah dua minggu lamanya libur kenaikan kelas. Hari ini adalah hari yang

Teks penuh

(1)

1 Hari masih pagi di saat pertama kalinya Reandra mulai masuk sekolah setelah dua minggu lamanya libur kenaikan kelas. Hari ini adalah hari yang istimewa karena sekarang dia naik ke kelas dua di sebuah SMP negeri di kampungnya. Karena hari ini mungkin akan mendapatkan sahabat baru di

sekolah nanti. Selesai sarapan pagi dan

berpamitan kepada orang tua kemudian berangkat

ke sekolah bersama sahabat yang telah

menunggu di perempatan jalan tak jauh dari rumahnya.

Menaiki sepeda yang selalu mengantarkan ke sekolah tepat waktu dan di jalan para sahabat lainnya satu sekolah telah menunggu. Mengayuh sepeda tanpa lelah karena mereka berangkat bersamaan dengan sahabat seperjuangan. Hingga tetesan peluh tak di hiraukan untuk mencapai cita-cita yang di impikan tadi malam. Terlihat sudah tak jauh lagi gerbang sekolah dan itulah sekolah yang menjadi tujuannya dalam setahun terakhir ini. Masuk ke dalam halaman sekolah yang kemudian memarkirkan sepeda lalu ia berpisah dengan para sahabat yang menemani mengayuh sepeda tadi untuk menuju kelasnya masing-masing.

Pertama kali memasuki ruang kelas yang tampak bangkunya baru saja di ganti dengan bangku yang baru begitu juga nanti ada sahabat baru yang akan ia kenal. Karena kelas yang sekarang adalah gabungan dari beberapa murid

(2)

dari kelas satu. Ia melihat para sahabat telah masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing. Ia masih di depan pintu seraya memandang seluruh isi di dalam kelas berharap mengenal sahabat dalam kelas itu. Pandangannya kemudian terfokus pada seseorang yang duduk di deretan bangku paling belakang. Ia tersenyum padanya karena ia tampak kebingungan dengan kelas barunya itu. Tiba-tiba terasa seperti tegangan listrik 220 volt menyengat dan mengaliri aliran darah. Sungguh senang rasa dalam hati dan kemudian berjalan tuk mencari tempat duduk di kelas barunya.

Terdengar seseorang memanggil namanya dan dia adalah Ari yang merupakan teman yang tinggalnya tak jauh dari rumah yang juga teman waktu sekolah dasar. Saat di kelas satu mereka tidak sekelas dan pada kelas dua mereka bersama satu kelas. Ari menawari untuk duduk bersama yang bangkunya hampir bersebelahan dengan seseorang yang memberikan senyuman tadi. Sembari berkenalan dengan sahabat baru di kelas karena Reandra mengenal raut wajah mereka tapi belum mengenal siapa namanya.

Reandra duduk di bangku dan ngobrol dengan sahabat baru di dalam kelas. Karena hari pertama masuk sekolah dan pihak sekolah memberikan waktu sehari untuk mengenal satu dengan yang lainnya. Dari pintu masuk Reandra melihat Ariyani datang sambil berlarian memasuki kelas dan di lihatnya bangku hampir penuh terisi dan dia

(3)

langsung menuju ke arah seseorang yang memberikan senyuman padanya tadi. Mungkin kawan satu kelasnya di kelas satu atau mungkin sudah janjian akan hal itu pikir Reandra.

Ariyani memang anak yang lumayan pintar dan waktu di kelas satu, Reandra sering bertanya saat ia berada di rumah karena rumah dia tak jauh dari tepat tinggalnya. Dia sering bertanya akan pelajaran di sekolah yang belum dimengerti dan itupun tak terlalu sering karena ada hal yang dirasa belum mengerti betul, Reandra tanpa ada keraguan bertanya kepada Ariyani karena dia sepupu jauh Reandra. Sudah setengah jam Reandra duduk di bangku mengobrol sana-sini cerita masing-masing panjang lebar dengan

sahabat lain tentang masa liburan. Rasa

penasaran itu tiba-tiba muncul kembali atas senyuman dari teman sebangku Ariyani. Reandra bangkit dan menghampiri dia yang seolah-olah mau mendatangi Ariyani.

“Yan…, akhirnya terkabul juga doaku selama ini,” ujarnya memulai pembicaraan.

“Apaan…?”

“Doa agar di berikan kelancaran dari setiap tugas di sini.”

Terlihat teman sebangku menutup mulut dan tertawa dalam hatinya.

“Yeee…, maunya. Berusaha donk, kapan lagi bisa ngerjain tugas tanpa bantuan orang lain,” ujarnya dengan nada kesal serta muka cemburut menandakan tidak sukaannya.

(4)

Meski begitu, Ariyani dapat merubah sifatnya 180 derajat dalam sekejap.

“Rean…”

“Sudah kenalan belum sama putri salju di sebelah ni?”

Tanpa harus di jawab, Reandra langsung mengayunkan tangan ke arahnya dan di sambut dengan gengaman erat nan lembut dari telapak tangannya. Dia memperkenalkan diri begitu juga dengannya yang masih gemeteran dalam hati berkenalan dengan orang asing baginya.

“Meira,” katanya dengan nada yang lirih. “Rean.”

“Yan..., ternyata emang bener putri salju, kamu yang ada di dekatnya langsung terbawa suasana.

Biasa kalau ada aku langsung hangat

suasananya.”

Ariyani tau bahwasanya kalau ada Reandra, pasti ada sesuatu yang akan membuat ia merasa tak nyaman karena Reandra sering berbuat jail padanya tak peduli saat main ke rumah. Meskipun begitu Ariyani juga senang karena Reandra pandai juga untuk membuat cerita agar siapa saja yang mendengarnya tertawa.

Ariyani hanya diam saja dengan mukanya merah padam dan lain halnya dengan Meira yang tampak seperti senyum kemenangan. Sudah sejam lamanya Reandra memperkenalkan dirinya pada Meira dan juga berbagi cerita hingga suasana semakin akrab terutama Reandra dengan Meira. Tapi yang terlihat Meira kebanyakan diam

(5)

dan mendengarkan ceritanya. Di dalam pikiran Reandra tak apalah karena baru pertama kali bertemu.

Hari-hari berlalu dengan suasana hati yang begitu indah hingga semangat terbawa di setiap langkahnya. Semangat tuk meraih cita-cita yang telah tertanam lama di dalam jiwa. Meraih mimpi dan raih hari esok yang selamanya kan menjadi cerita yang indah tuk di lalui.

Hari yang terlalui bersama dengan sahabat baru seakan memulai cerita indah. Sebuah cerita tentang cinta pertama karena baru kali ini Reandra merasakan sebuah getaran hati yang sangat mendalam tertuju pada seorang yang selalu tersenyum manja. Senyuman manis Meira tak pernah hilang di dalam ingatan Reandra walau baru saja terbangun dari tidur panjang. Semakin lama dan semakin indah yang terasakan hingga semua seyuman itu terkumpul menjadi satu dan jadilah sebuah hati yang kini berada tak jauh dari jantung. Ibarat sebuah bunga yang berbunga di musim semi dan wanginya menebarkan di setiap sudut dari jalan yang di laluinya. Senyumannya tak pernah lepas dari bibirnya karena yang ada dalam ingatan hanyalah sebuah nama yang terus tebarkan wangi. Terkadang dia mengungkapkan apa yang di rasakan kepada Izzy sepupunya yang selalu menemani di kala sedang berada di rumah.

Sambil main gitar dan Reandra hanya

mendengarkan alunan gitar yang membuat hatinya semakin jauh membayangkan akan sahabat yang

(6)

telah buatnya mabuk kepayang. Semakin lama dan semakin dalam yang di rasakan di dalam hati Reandra hingga ia merasakan tak ada sesuatu yang lebih indah di hatinya selain seorang dengan

nama Almeira Rosanti. Seperti baru saja

menemukan sesuatu untuk menerangi hatinya kini. “Zy…, pernahkah melihat sebuah mata begitu indah yang pernah engkau lihat?” kata Reandra mengungkapakan isi hatinya.

“Mata siapa emangnya…?” jawab Izzy yang kemudian menghentikan alunan gitarnya.

“Sebuah mata dari karya surga yang pernah tercipta dan yang pernah ku lihat,” ungkap Reandra yang begitu dalam.

Di saat itu juga Izzy juga memainkan gitarnya dengan mengikuti ungkapan hati Reandra. Petikan senar gitar berirama merdu membuat suasana semakin syahdu. Hingga datang satu teman Reandra menghampiri mereka berdua.

“Kenapa dia…?” tanya Marshal kepada Izzy. “Lagi terpikat dengan bola mata yang indah...,” jawabnya.

“Kau belum tahu kawan…,” saat Reandra mengarahkan pandangannya kepada Marshal.

“Mata itu bagaikan cahaya dari surga yang sekarang menerangi hatiku. Semakin terang, dan semakin terang lalu terus menerangi isi dalam hatiku.”

“Sedang jatuh cinta!!!” “Kurang lebihnya begitulah.”

(7)

untuk kawan kita ini.” “Okey.”

Dia kemudian menyanyikan sebuah lagu milik dewa yang berjudul Risalah Hati. Menggambarkan cerita hati Reandra yang mungkin seperti yang ada di dalam lagu itu. Alunan jemari lentik Izzy yang iringi dengan suara merdu Marshal semakin membuat hati Reandra terbang tinggi ke angkasa yang kan meraih bintang di langit sana tuk terangi malam dalam kamarnya. Sungguh teramat dalam hati Reandra merasakan perasaan yang tak pernah di alami selama hidupnya. Sebuah

perasaan datangnya tiba-tiba mungkin kan

membuat ia semakin jauhkan angannya untuk meraih semua yang ada dalam jangkauannya. Ingin rasanya ia meraih tangan Meira yang kemudian terbang melayang ke langit sana memetik bintang malam trus kembali untuk menerangi malam di dalam tidurnya mengusir kesepiannya.

Di lain waktu Reandra sering main ke rumahnya Ariyani yang mungkin tahu banyak tentang Meira. Dengan ingin menanyakan sesuatu dan sekalian belajar bersamanya, Reandra mencoba menggali informasi tentang Meira. Dengan seringnya Reandra menggali lebih dalam tentangnya dan semakin dalam perasaan yang ada di dalam hati Reandra yang membuatnya semakin yakin bahwasanya Meira orang yang tepat sesuai dengan hatinya. Meskipun hanya sebatas teman yang selalu hadir sebagai sahabat

(8)

dan juga sebagai pemompa semangat untuk melangkahkan kakinya menuju ke sekolah.

Ketika mimpi yang selama ini menghantui malam-malam sejak ia mengenal Meira. Seperti hantu yang sering datang saat malam tiba tetapi hantu yang sangat ia tunggu akan memberikan

secercah harapan yang tentunya kan

membangunkan hati yang telah bersinar. Kadang sebelum ia beranjak tidur melengkapi indahnya malam yang begitu panjang di dalam mimpinya nanti, ia membayangkan setiap detail senyuman yang terlempar dari bibirnya. Sungguh indah

rasanya hingga tak terasa sampai mana

mengetahuinya. Ketika hati sedang jatuh cinta, tak peduli apa mau di kata karena sesuatu itu begitu indah rasanya dan setiap saat selalu terbayang-bayang tentang dirinya selalu. Melukiskan warna pelangi di dalam hati yang tentunya warna merah yang paling terang karena akan mengobarkan api cinta yang terus menyala membakar isi hati dan dari itu pula tak akan pernah melupakan tentangnya walau hanya sedetik lamanya. Setiap saat dan setiap waktu selalu ingat akan dirinya hingga membuat perasaannya begitu senang bagaikan memeluk rembulan di malam ke lima belas.

Terkadang ia tersenyum sendiri seperti orang gila yang tak berakal sehat lagi karena senyuman itu menggambarkan betapa indah sebuah cinta. Indah sekali dan rasanya harapan dalam hati begitu dekat sekali dengan Meira meski antara

(9)

mereka belum terpautkan rasa cinta yang sesungguhnya tapi Reandra sudah merasakan itu semua.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :