SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 802
Pemanfaatan Madu Sebagai Inhibitor Pada Baja Karbon
Rendah Dalam Lingkungan NaCl 3,5% Dengan Metode
Weight Loss
Johny Wahyuadi Soedarsono, Andi Rustandi dan R. Nino Rochmantika, M. Akbar Barrinaya
Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia, e mail : [email protected]
ABSTRAK
Korosi merupakan suatu permasalahan yang seringkali dijumpai pada berbagai bidang dengan kerugian jiwa maupun materiel mencapai 276 M US $. Inhibitor merupakan salah satu metoda yang dapat memperlambat laju korosi. Dalam aplikasinya, inhibitor ini ditambahkan pada sistem dalam jumlah dan waktu tertentu.
Pada penelitian ini untuk mengetahui efisiensi inhibitor dilakukan pengujian selama 3, 5, 7, 9 dan 14 hari Pengujian yang dilakukan adalah pengujian statik yang mengacu kepada standard ASTM G1-03 dan ASTM G3172. Material yang digunakan adalah baja karbon rendah. Penghitungan laju korosi dilakukan dengan metode kehilangan berat.
Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa laju korosi baja karbon rendah pada penambahan berturut-turut 100, 500, dan 1000 ppm inhibitor pada lingkungan NaCl 3,5% laju korosi akan menurun dari hari ketiga hingga hari keempat belas. Dari 4,92 mpy turun menjadi 3,40 mpy (31%) untuk penambahan inhibitor 100 ppm; 2,88 mpy turun menjadi 1,29 mpy (55%) untuk penambahan inhibitor 500 ppm; 1,75 mpy turun menjadi 0,87 mpy (50%) untuk penambahan inhibitor 1000 ppm. Dan efisiensi tertinggi terjadi pada penambahan inhibitor 1000 ppm dengan efisiensi 86% dan efisiensi terendah terjadi pada penambahan inhibitor 100 ppm dengan nilai efisiensi 25% dari penelitian diketahui bahwa efisiensi inhibitor akan berkurang seiring dengan bertambahnya waktu perendaman, namun pada beberapa kondisi, efisiensi inhibitor akan meningkat.
Kata Kunci : korosi, inhibitor, madu, laju korosi, efisiensi korosi
ABSTRACT
Corrosion is a common problem that is take place in many industrial applications, especially in oil and gas industry, that could made disadvantages. Honey is one of organic inhibitor type which can make the rate of corrosion slower. Some amount of this inhibitor was added to the corrosion system to know the efficiency of each inhibitor addition after the test for day 3, 5, 7, 9, and 14 and also the influence to the rate of corrosion. The test was done in laboratory scale using standard ASTM G1-03 and ASTM G3172 for static test. Low carbon steel was used as the material. Measurement of corrosion rate was done by weight looses method. The corrosion rate of low carbon steel at addition 100, 500, 1000 ppm inhibitor in NaCl 3,5% will decrease at day 3 until day 14. For 100 ppm inhibitor addition the rate decrease from 4,92 mpy to 3,4 mpy (31%); For 500 ppm inhibitor addition the rate decrease from 2,88 mpy to 1,29 mpy (51%); For 1000 ppm inhibitor addition the rate decrease from 1,75 mpy to 0,87 mpy (50%). The highest efficiency (86%) is achieved in 1000 ppm inhibitor addition. The lowest efficiency (25%)is achieved in 100 ppm inhibitor addition. The efficiency of inhibitor will decrease due to the increase of immersed time, nevertheless in some condition, the efficiency of inhibitor will increase.
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 803
Pendahuluan
Korosi adalah fenomena kerusakan material logam atau proses degradasi material logam
akibat reaksi kimia antara material logam atau paduan logam dengan lingkungannya 1). Dan
korosi merupakan salah satu permasalahan penting yang harus dihadapi oleh berbagai macam sektor industri di Indonesia. Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan sebagai akibat langsung dari masalah korosi tersebut baik karena kehilangan produksi, biaya perbaikan fasilitas produksi, maupun biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan korosi. Korosi sebagai masalah utama dalam industri harus mendapat perhatian serius untuk dapat ditanggulangi secara efektif dan efisien.
Terdapat empat jenis pencegahan korosi umum digunakan dalam industri perminyakan yakni 1):
1. Seleksi material yang memiliki resistansi terhadap korosi. 2. Penggunaan pelapis (coating)
3. Proteksi Katodik 4. Penambahan inhibitor
Metode pencegahan yang efektif untuk korosi internal adalah dengan penambahan inhibitor pada fluida (lingkungan) dengan sistem injeksi. Inhibitor sendiri berfungsi untuk mengurangi laju korosi,
Penelitian penggunaan inhibitor telah banyak dilakukan saat ini mengarah kepada inhibitor
ramah lingkungan (green inhibitor, antara lain Andi R. dkk 2). memanfaatkan campuran daun
sirih dan teh hijau sebagai inhibitor, Ayende dkk., 3) meneliti inhibitor kulit sawo, kulit manggis,
ubi ungu
Inhibitor madu, yang terbuat dari bahan organik, diketahui memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya peningkatan laju korosi material, sebagaimana yang telah ditemukan dan
diujikan Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh A. Y. El-Etre 4), tentang penggunaan
inhibitor madu sebagai scale inhibitor melalui pemanfaatan yang terdapat dalam inhibitor tersebut. Penggunaan inhibitor madu diharapkan dapat memperkaya metode pencegahan korosi dengan metode inhibitor.
Dalam pengujiannya inhibitor madu ditambahkan pada lingkungan yang mengandung garam (high saline water).
Dalam aplikasinya, inhibitor ini ditambahkan ke dalam sistem korosi pada jumlah tertentu untuk mengetahui efisiensi dari penambahan inhibitor sebanyak 100, 500 dan 1000 ppm, setelah dilakukan pengujian selama 3, 5, 7, 9 dan 14 hari, serta pengaruhnya terhadap laju korosi
Pengujian ini dilakukan dalam skala laboratorium dengan menggunakan material baja karbon rendah dalam lingkungan garam NaCl 3,5%, dengan menggunakan inhibitor madu.
Pengujian ini sendiri mengacu kepada standard ASTM G1-03 5) dan ASTM G 31-72 6), dan laju
korosi yang diperoleh seiring dengan penambahan inhibitor akan dihitung dengan metode kehilangan berat.
Dari pengujian skala laboratorium, akan didapatkan data yang nantinya akan diolah untuk melihat hubungan antara laju korosi baja karbon rendah, dengan dua parameter penelitian, yakni penambahan konsentrasi inhibitor dan variasi jangka waktu tereksposenya dalam lingkungan.
Metodologi
Penelitian ini diawali dengan terlebih dahulu menyiapkan larutan sebagai media korosi, dan menyiapkan sampel. Dari pengujian komposisi baja karbon diketahui bahwa sampel yang digunakan adalah baja karbon rendah.
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 804
Tabel 1. Komposisi baja karbon rendah
Fe C Si Mn P S Cr
rest 0,049 0,024 0,27 0,009 0,0159 0,064
Sn Ni Al Cu Mo Pb
0,001 0,033 0,028 0,034 0,027 0,010
Sampel yang digunakan memiliki dimensi 7,5 cm x 2,5 cm dengan ketebalan sampel 0,1 cm. Sampel-sampel ini akan melewati proses pengamplasan terlebih dahulu dengan amplas mulai dari amplas berukuran mesh 120, 300, 400, 600, 800 dan 1000 hingga sampel benar-benar halus. Sebagian area sampel ditutup dengan selotip sedangkan bagian yang lainnya dibiarkan terbuka seluas 2,5 cm x 5 cm.
2,5
cm
5 cm
7,5 cm
Gambar 1. Dimensi sampel baja karbon
Sampel yang telah ditempeli dengan selotip tadi terlebih dahulu diukur berat awalnya dengan timbangan. Data ini berguna untuk mengetahui perubahan berat sampel secara keseluruhan di akhir pengujian.
Larutan yang digunakan yaitu NaCl 3,5% berat, dan dilarutkan dalam 1000 ml aquades atau sebanyak 35 gram per liter pelarut (gpl). Larutan NaCl dengan kadar hingga 3,5 % berat digunakan untuk mensimulasikan air laut pada pengujian skala laboratorium. Namun demikian larutan tersebut terkadang jauh lebih agresif dibandingkan air laut alami, terutama pada baja
karbon rendah. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi akibat adanya Ca2+ da Mg2+ pada air laut.
Reduksi oksigen pada katoda akan menghasilkan permukaan dengan presipitat CaCO3 dan Mg(OH)2 melalui reaksi1) :
Ca2+ + HCO3- + OH- H2O +CaCO3 (1) Mg2+ + 2OH- Mg(OH)2 (2)
Gambar 2. Kelarutan oksigen dalam Larutan NaCl1)
Sampel yang telah disiapkan lalu dimasukkan ke dalam larutan NaCl. Masing-masing larutan NaCl memiliki variasi penambahan inhibitor sebesar 0, 50, 100, dan 1000 ppm. Penggunaan larutan NaCl tanpa inhibitor sebagai media uji bagi sampel berguna sebagai pembanding bagi sampel-sampel lain lain yang diujikan dalam larutan NaCl dengan inhibitor. Pengujian dilakukan selama 3, 5 dan 7 hari. Sedangkan foto makro diambil pada hari ke 1, 3, 5, dan 7 hari. Setelah pengujian selesai dilakukan, maka sampel ditimbang untuk mengetahui berat akhir yang diperoleh, kemudian dihitung pula perubahan berat yang terjadi.
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 805
Data perubahan berat yang diperoleh dari pengukuran berat sampel perendaman selesai
nantinya digunakan untuk menghitung laju korosi sampel dengan persamaan1) :
CR = (K x W)/(A x T x D)
Dimana K = konstanta (3,45 x 106) D = Densitas (gr/cm3)
A = Luas dalam cm2 W = Berat (gram)
T = waktu dalam jam
Sedangkan efisiensi inhibitor dihitung berdasarkan rumus :
Inh Efficiency = 100· (CRuninhibited - CRinhibited )
CRuninhibited Dimana :
CRuninhibited = laju korosi dari sistem tak terinhibisi CRinhibited = laju korosi dari sistem terinhibisi Analisa dan Pembahasan
Pengaruh Penambahan Konsentarsi Inhibitor Terhadap Laju Korosi Pada Waktu Pencelupan 3, 5, 7, 9 dan 14 Hari Pada Lingkungan NaCl 3,5%
Dari pengolahan data penelitian, maka diperoleh grafik pengaruh penambahan inhibitor terhadap laju korosi pada lingkungan NaCl 3,5% dengan variabel waktu pencelupan seperti pada Gambar 3 dan Gambar 7
R2 = 0,9888 R2 = 0,9876 R2 = 0,9898 R2 = 0,9851 R2 = 0,9213 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 0 100 500 1000 Konsentrasi Inhibitor (ppm) L a ju K o ro s i (m p y ) 3 Hari 5 Hari 7 Hari 9 Hari 14 Hari Linear (3 Hari ) Linear (5 Hari ) Linear (7 Hari) Linear (9 Hari ) Linear (14 Hari )
Gambar 3. Grafik pengaruh konsentrasi kadar inhibitor terhadap laju korosi pada lingkungan berkadar NaCl 3,5%
Pada Gambar 3 terlihat bahwa pada keadaan 0 ppm inhibitor atau tanpa inhibitor memiliki nilai laju korosi yang paling tinggi dan kemudian penurunan nilai laju korosi berturut – turut diikuti oleh penambahan 100, 500, dan 1000 ppm inhibitor. Pada keadaan penambahan 0 ppm inhibitor atau tanpa inhibitor memiliki nilai laju korosi yang paling tinggi karena sifat lapisan pasif yang terbentuk pada keadaan tidak diberikan inhibitor akan segera hilang akibat mudah rusaknya produk korosi, karena ketiadaan lapisan film yang melindunginya, sehingga korosi
dapat terjadi lebih lanjut dengan waktu yang lebih cepat7). Sedangkan untuk penambahan
inhibitor 100 hingga 1000 ppm dapat menekan laju korosi karena logam dapat terlindungi atau terinhibisi akibat terbentuknya lapisan pasif.
Dari hasil pengamatan pada sampel yang dilakukan menunjukan bahwa sampel yang diberikan penambahan inhibitor hingga 1000 ppm akan mengalami pembentukan lapisan pasif yang lebih seragam dibandingkan dengan sampel yang diberikan penambahan inhibitor 100 dan 500 ppm.
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 806
Gambar 4. Sampel dengan penambahan inhibitor 100 ppm
Gambar 5. Sampel dengan penambahan inhibitor 500 ppm
Gambar 6. Sampel dengan penambahan inhibitor 1000 ppm
Lapisan pasif yang terbentuk sendiri, berdasarkan hasil analisa komposisi endapan merupakan senyawa hematit (Fe2O3) yang terbentuk melalui reaksi :
Oksidasi Fe Fe2+ + 2e- (3) Reduksi O2 + 2H2O + 4e- 4OH- (4) Fe2+ + OH Fe(OH) (6) 4Fe(OH)2 + O2 + 2H2O 4Fe(OH)3 (7) 4Fe(OH)3 Fe2O3 + 3H2O (8)
Hal ini terlihat dari sifat fisik lapisan di permukaan logam yang berwarna coklat, yang dapat kita asumsikan sebagai Fe2O3.
Adanya deposit besi oksida, sebagai lapisan pasif pada permukaan sampel dapat menyebabkan reaksi galvanik karena potensial besi oksida lebih tinggi dibandingkan besi biasa, sehingga besi oksida memiliki nilai potensial yang lebih mulia.
Dan pada saat pencelupan, dilakukan juga pengukuran potensial sehingga diperoleh nilai potensial untuk 0 ppm inhibitor pada awal pencelupan -0,249 volt dan setelah 7 hari -0,258 volt, sedangkan untuk penambahan 1000 ppm inhibitor pada awal pencelupan -0,188 volt dan setelah 7 hari -0,177 volt. Hal tersebut membuktikan adanya pengaruh akibat dari penambahan inhibitor yang dilakukan dan juga dapat membuktikan adanya mekanisme pembentukan lapisan film pada permukaan material yang dapat memberikan perlindungan pada permukaan material sehingga laju korosi dapat dihambat ataupun dicegah. Selain itu penambahan inhibitor 100
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 807
hingga 1000 ppm dapat menekan laju korosi akibat korosi galvanic yang terjadi akibat perbedaan konsentrasi inhibitor untuk tiap area sampel.
Akibatnya terjadi korosi galvanik pada logam dimana area tak terinhibisi berperan sebagai anoda dan area terinhibisi berperan sebagai katoda. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa pembentukan lapisan pasif yang seragam akan memperkecil area anodik yang terbentuk akibat ketiadaan lapisan pasif, sehingga korosi yang terbentuk pada area tertentu dapat dihindari.
Pengaruh Waktu Pencelupan 3, 5, 7, 9 dan 14 Terhadap Laju Korosi Pada Lingkungan NaCl 3,5%
Dari pengolahan data penelitian yang dilakukan, diperoleh grafik pengaruh waktu pencelupan terhadap laju korosi seperti pada Gambar 7
R2 = 0,8977 R2 = 0,8462 R2 = 0,8143 R2 = 0,7263 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 3 5 7 9 14 Waktu (hari) L a ju K o r o s i ( m p y ) Tanpa Inhibitor 100 ppm 500 ppm 1000 ppm Poly. (100 ppm) Poly. (500 ppm ) Poly. (1000 ppm ) Poly. (Tanpa Inhibitor )
Gambar 7. Grafik pengaruh waktu pencelupan terhadap laju korosi pada lingkungan berkadar NaCl 3,5%
Dapat kita lihat pada Gambar 7 menunjukan bahwa laju korosi yang terjadi pada hari ke 3, 5 dan ke 7 cenderung mengalami penurunan dan kemudian mengalami kenaikan yang tidak terlalu signifikan pada hari ke 9 dan kemudian mengalami penurunan kembali pada hari ke 14. Laju korosi pada hari ke 3, 5 dan 7 cenderung mengalami penurunan disebabkan karena semakin banyaknya lapisan pasif yang terbentuk dipermukan logam sehingga kontak antara material dan larutan NaCl semakin terhalang.
Pada hari ke 9 laju korosi kembali mengalami peningkatan hal ini disebabkan karena pecah atau rontoknya lapisan pasif yang telah terbentuk dan kemudian pada hari ke 14 laju korosi kembali menurun karena telah terbentukya kembali lapisan pasif sehingga kontak antara material dan larutan NaCl kembali terhalang.
Dari Gambar 7 dapat kita lihat juga bahwa laju korosi akan memiliki nilai terendah pada penambahan 1000 ppm inhibitor dan kemudian diikuti oleh penambahan inhibitor 500, 100 dan tanpa inhibitor. Baik untuk waktu pencelupan 3, 5, 7, 9, dan 14 hari. Berdasarkan literatur10), mekanisme pembentukan kondisi optimal pada inhibitor terjadi ketika inhibitor yang larut di dalam larutan semakin besar, sehingga larutan akan jenuh dan pada akhirnya seluruh permukaan sampel akan dilekati oleh molekul inhibitor.
Pengaruh Waktu Pencelupan Terhadap Efisiensi Inhibitor Pada Lingkungan NaCl 3,5%
Dari pengolahan data penelitian, maka diperoleh grafik pengaruh waktu pencelupan terhadap efisiensi inhibitor pada lingkungan NaCl 3,5% seperti pada Gambar 8
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 808 R2 = 0,9615 R2 = 0,8777 R2 = 0,8538 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 3 5 7 9 14 Waktu (hari) E fi s ie n s i In h ii to r (% ) 100 ppm 500 ppm 1000 ppm Poly. (100 ppm ) Poly. (500 ppm ) Poly. (1000 ppm)
Gambar 8. Grafik pengaruh waktu pencelupan terhadap efisiensi inhibitor
Seperti pada Gambar 8 kita lihat bahwa nilai efisiensi yang dihasilkan cenderung memiliki kesamaan yaitu fluktuatif seperti terlihat efisiensi pada 3, 5, 7, 9 dan 14 hari. Pada waktu hari ke 3 inhibitor akan memberikan nilai efisiensi terbesar karena kemampuan inhibitor terserap dipermukaan material. Namun luas permukaan material yang terinhibisi juga sangat bergantung pada kadar inhibitor yang diberikan.
Dari Gambar 8 juga dapat kita lihat terjadi kenaikan nilai efisiensi yang sangat tinggi pada hari empat belas, setelah sebelumnya efisiensi semakin menurun turun dari hari ketiga hingga hari ketujuh dan kemudian nilai efisiensi meningkat lagi pada hari kesembilan dan keempat belas. Fluktuatifnya nilai efisiensi yang diperoleh disebabkan oleh pecahnya lapisan yang terbentuk sehingga material berada pada keadaan transpassive yang akan menyebabkan serangan korosi semakin meningkat. Dan kemudian area anodic yang terbentuk akan berubah kembali menjadi lapisan pasif baru akibat reaksi dengan O2, dan akan melindungi logam sehingga laju korosi akan menurun setelah melewati keadaan transpassive pada hari kesembilan dan keempat belas maka efisiensi inhibitor kembali mengalami peningkatan. Pengaruh Kadar Inhibitor Yang diberikan Terhadap Efrisiensi Inhibitor Pada Lingkungan NaCl 3,5% Dengan Waktu 3, 5, 7, 9 dan 14 Hari
Dari pengolahan data penelitian, maka diperoleh grafik pengaruh kadar inhibitor yang diberikan terhadap efisiensi inhibitor pada lingkungan NaCl 3,5% dengan waktu 3, 5, 7, 9 dan 14 hari seperti pada Gambar 9
R2 = 0,9739 R2 = 0,9696 R2 = 0,9756 R2 = 0,9759 R2 = 0,8707 0,00 15,00 30,00 45,00 60,00 75,00 90,00 100 500 1000 Konsentrasi Inhibitor (ppm) Efi s ie n s i In h ib ito r (% ) Hari 3 Hari 5 Hari 7 Hari 9 Hari 14 Linear (Hari 3) Linear (Hari 5) Linear (Hari 7) Linear (Hari 9) Linear (Hari 14)
Gambar 9. Grafik pengaruh penambahan konsentarsi inhihibitor terhadap efisiensi inhibitor Penambahan inhibitor hingga 1000 ppm akan memberikan efisiensi terbesar sehingga luasan daerah yang dilekati oleh inhibitor juga semakin besar. Dengan semakin besarnya luasan yang dilekati oleh inhibitor maka area material yang teinhibisi semakin besar dan semakin seragam sehinggga besaran laju korosi dapat diminimalisasi. Begitu juga untuk selanjutnya pada penambahan inhibitor sebanyak 500 ppm dan 100 ppm yang berada pada urutan kedua dan ketiga.
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 809
Efisiensi inhibitor ditunjukan dari kemampuannya besatu atau menempel dengan permukaan logam yang dilindungi untuk membentuk lapisan film/selaput. Sebagai hasil interaksi antara inhibitor dan material dimana lapisan tersebut merupakan selaput penghalang penitrasi ion – ion agresif yang dapat menurunkan kandungan ion – ion baja didalam larutan air setelah ditambahkan sejumlah inhibitor. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa efisiensi akan meningkat seiring dengan peningkatan kadar inhibitor.
Pengaruh Jangka Waktu Pencelupan Terhadap pH Larutan
Dari pengolahan data yang ditampilkan pada Gambar 10 dapat kita lihat bahwa nilai pH yang diperoleh selama pengujian berlangsung berada dalam rentang 6,13 – 7.
R2 = 0,7121 R2 = 0,7522 R2 = 0,8976 R2 = 0,8149 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 3 5 7 9 14
Waktu Pencelupan (hari)
p H L a r u ta n Tanpa Inhibitor 100 ppm 500 ppm 1000 ppm Poly. (Tanpa Inhibitor ) Linear (100 ppm ) Linear (500 ppm ) Linear (1000 ppm )
Gambar 10. Grafik pengaruh waktu pencelupan terhadap perubahan pH larutan
Nilai pH yang diperoleh selama pengujian cenderung mengalami peningkatan. Hal ini menyatakan bahwa pH larutan akan semakin besar seiring dengan semakin lamanya waktu pencelupan. Namun demikian peningkatan yang terjadi tetap menjadikan sistem korosi tetap berada pada kisaran pH netral. Pada kisran ini reaksi yang berlangsung di katoda adalah reakasi reduksi oksigen yaitu :
O2 + 2H2O + 4e- 4OH- (9)
Dengan bertambahnya waktu pencelupan, reaksi reduksi oksigen pada katoda akan semakin
meningkat namun peningkatannya tidak terlalu besar. Konsentrasi OH- yang ada pada larutan
akan semakin meningkat. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi OH- makan nilai pOH
akan semakin kecil. Harga pOH yang berkebalikan dengan pH akan menyebabkan nilai pH semakin besar. Hal inilah yang menyebabkan pH akan semakain bersifat basa, namun perubahan pH hingga hari keempat belas tetap menempatkan nilainya pada keadaan kisaran pH netral.
Kesimpulan
Berdasarkan pengujian dengan metode kehilangan berat yang telah dilakukan terhadap baja karbon rendah dengan penambahan inhibitor X sebesar 0, 100, 500 dan 1000 ppm pada lingkungan berkadar NaCl 3,5% menyimpulkan sebagaiu berikut :
1. Pada lingkungan NaCl 3,5% laju korosi akan menurun dari hari ketiga hingga hari keempat belas. Dari 4,92 mpy turun menjadi 3,40 mpy (31%) untuk penambahan inhibitor 100 ppm; 2,88 mpy turun menjadi 1,29 mpy (55%) untuk penambahan inhibitor 500 ppm; 1,75 mpy turun menjadi 0,87 mpy (50%) untuk penambahan inhibitor 1000 ppm.
2. Pada lingkungan NaCl 3,5% efisiensi tertinggi terjadi pada penambahan inhibitor 1000 ppm dengan nilai efisiensi 85,74% dan efisiensi terendah terjadi pada penambahan inhibitor 100 ppm dengan nilai efisiensi 24,63%
SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 810
3. Nilai pH yang diperoleh selama pengujian cenderung mengalami peningkatan yaitu berada dalam rentang 6,13 – 7,00 (12%).
4. Terbentuknya lapisan film dipermukaan material yang di indikasikan dengan adanya perubahan potensial setelah penambahan inhibitor dilakukan untuk 0 ppm inhibitor pada awal pencelupan -0,249 volt dan setelah 7 hari -0,258 volt, sedangkan untuk penambahan 1000 ppm inhibitor pada awal pencelupan -0,188 volt dan setelah 7 hari -0,177 volt.
Referensi
1. Fontana, Mars G., Corrosion Engineering, McGraw-Hill Book Company, New York, 1987.
2. Andi Rustandi, Johny W. Soedarsono, Bambang Suharno,” The Use of Mixture of Piper Betle and Green Tea as a Green Corrosion Inhibitor for API X-52 Steel I Aerated 3.5% Na Cl Solution at Various Rotation Rates”, Advanced Materials Research, Vols 383-390, pp 5418-5425, 2012.
3. Ayende, Febbyka Rachmanda, Johny Wahyuadi Soedarsono, Dedi Priadi, Sulistijono,” Corrosion Behavior of API-5L in Various Green Inhibitors”, Advanced Materials Research, Vols 634-638, pp 689-695, 2013.
4. A. Y. El-Etre and M. Abdallah, “Natural honey as corrosion inhibitor for metals and alloys. II. C-steel in high saline water,” Corrosion Science, vol. 42, no. 4, pp. 731– 738, 2000.
5. ASTM Standard G1-03. Standard Practice for Preparing, Cleaning and Evaluation Corrosion Test Speciments. Annual Book of ASTM Standard Vol. 03.02, ASTM International. 2004.
6. ASTM Standard G31-72. Standard Practice for Laboratory Immersion Corrosion Testing of Materials, Annual Book of ASTM Standard Vol. 03.02, ASTM International. 2004.
7. American Standard of Material (ASM), Corrosion Inhibitor for Crude oil Refineries, ASM International, New York. 2000