HASIL DAN PEMBAHASAN

115 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Kelembagaan KIBARHUT di Pulau Jawa

Karakteristik KIBARHUT dianalisis secara deskriptif mencakup kondisi dan ciri umum pembangunan hutan bersama rakyat, aturan yang dipergunakan, pelaku yang terlibat, hubungan kontraktual KIBARHUT, dan analisis perilaku oportunis (post-contractual opportunistic behavior).

1. Kondisi dan ciri umum pembangunan hutan bersama rakyat

Pembangunan hutan dilakukan pada lahan milik dan lahan negara untuk keperluan non-industri dan industri. Khusus di Pulau Jawa, pembangunan hutan di kawasan hutan negara dilakukan Perum Perhutani dan umumnya bekerjasama dengan penduduk melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). PHBM dimulai tahun 2001 dengan ciri bersama, berdaya, dan berbagi berbasis lahan dan non lahan. Dalam implementasi PHBM, masyarakat mendapat bagi hasil sebagaimana diatur SK No. 001/KPTS/DIR/2002. Setelah berjalan selama 6 tahun, Perum Perhutani melakukan penyempurnaan sistem menjadi PHBM Plus37 (Direksi Perum Perhutani, 2007).

Kegiatan penanaman yang dilakukan Perum Perhutani selain melibatkan petani desa sekitar hutan, juga bekerjasama dengan pihak ketiga (mitra kerja usaha). Kerangka kerjasama usaha berpedoman pada SK Direksi No. 400/Kpts/Dir/2007 tentang Pedoman Umum Pengembangan Usaha Perum Perhutani. Implementasi kegiatan tersebut di kabupaten contoh adalah di KPH Tasikmalaya, Unit III Jawa Barat dan Banten (KPH Tsm) dan KPH Probolinggo, Unit II Jawa Timur (KPH Proling). KPH Tsm bersama PT. Bineatama Kayone Lestari (BKL) melakukan penanaman Albasia38 pada tahun 2004 dan 2005. KPH Proling bersama PT. Kutai Timber Indonesia (KTI) menanam FGS jenis Sengon, Gmelina, Anggrung, Waru Rangkang, dan Jabon semenjak tahun 2006.

37 Permasalahan yang mendorong dilakukan penyempurnaan PHBM diantaranya adalah (i) sinergitas

dengan pemerintah daerah dan stakeholders belum maksimal; (ii) masih berbasis kegiatan kehutanan; (iii) kurang fleksibel; (iv) pelaksanaan bagi hasil belum dilaksanakan secara merata.

38 Penduduk Jawa Barat menyebut Sengon (Paraserianthes falcataria) sebagai Albasia atau Albiso.

(2)

Sampai dengan tahun 2007, realisasi PHBM dengan melibatkan mitra usaha (INPAK ) di KPH Tsm sekitar 862,45 ha dan KPH Proling sekitar 331 ha. Pada tahun tanam 2008, pelaksanaan di KPH Proling dilakukan di 4 RPH dengan luasan 302,40 ha. Keempat RPH tersebut yaitu Segaran (70,1 ha), Pakuniran (106,40 ha), dan Kaliacar (95,10 ha) untuk jenis Sengon, serta jenis Gmelina ditanam di Matikan (30,80 ha).

Pembangunan hutan di kawasan non-hutan negara dilakukan di lahan milik, dan dikenal sebagai hutan rakyat. Data di 3 kabupaten contoh memperlihatkan trend peningkatan luasan lahan berfungsi hutan sebagaimana pada Tabel 8.

Tabel 8 Perkembangan luas hutan rakyat di kabupaten contoh Kabupaten

Contoh

Luas (ha) Produksi (m³) tahun 2007

2005 2006 2007 Total Sengon %

Kab. Tasikmalaya 27.684,00 30.046,87 33.446,00 522.817,92 na na Kab. Batang 6.338,00 6.603,00 31.000,00 340.500,00 250.600,00 73,6 Kab. Probolinggo 6.877,00 8.977,00 11.958,88 36.233,52 22.980,55 63,4 Sumber: 1. Statistik kehutanan provinsi contoh tahun 2007 (2008)

2. Statistik kehutanan kabupaten contoh tahun 2007 (2008)

3. Dishutbun Tasikmalaya/Kanhut Batang/Disbunhut Probolinggo (2008)  

Tabel 8 menunjukkan bahwa hutan rakyat di Tasikmalaya pada tahun 2007 tercatat seluas 33.446 ha, atau mengalami peningkatan sekitar 10% per tahun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Produksi kayu dari hutan rakyat pada tahun 2007 tercatat sejumlah 522.817,92 m³. Luas hutan rakyat di Batang memperlihatkan trend meningkat, dari 4.253 ha pada tahun 2002 menjadi sekitar 6.603 ha pada tahun 2006. Hasil inventarisasi Kantor Kehutanan Batang mencatat adanya potensi hutan rakyat tahun 2007 seluas 31.000 ha, terdiri atas Jati (1.950 ha), Mahoni (3.650 ha), Sengon (17.900 ha), dan Rimba Jawa (7.500 ha). Potensi hutan rakyat tersebut, menghasilkan kayu sekitar 340.500 m³ per tahun, dan 73,6% diantaranya adalah kayu Sengon. Luas hutan rakyat pada tahun 2007 di Probolinggo tercatat seluas 11.958,88 ha berdasarkan inventarisasi lahan yang ditanami tanaman kayu-kayuan, atau 21.473,57 ha jika menghitung juga tanaman multi purposes tree species (MPTS) yang dapat dimanfaatkan kayunya. Produksi kayu hasil hutan rakyat mencapai 36.233,52 m³ dan 63,4% diantaranya adalah kayu Sengon.

Bertambah luasnya lahan berfungsi hutan, de facto, terindikasikan luas hutan rakyat yang memperlihatkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pembangunan hutan rakyat dilakukan di lahan milik (tegal atau huma), dan juga di lahan sawah irigasi

(3)

sederhana dan sawah tadah hujan. Trend peningkatan luasan lahan berfungsi hutan dikemukan juga oleh Bupati Batang39 yang menyatakan banyak dijumpainya hutan rakyat yang dikembangkan di areal bekas sawah, misalnya di Kec. Reban, Bandar dan Bawang. Posisi penting hutan rakyat sebagai pemasok kebutuhan bahan baku semakin terasa, sejalan semakin berkurangnya pasokan bahan baku kayu dari hutan alam. Data Ditjen Bina Produksi Kehutanan (Dephut) tahun 2008 menunjukkan bahwa hutan rakyat mempunyai posisi penting bagi industri perkayuan karena merupakan pemasok urutan keempat kebutuhan bahan baku kayu bagi INPAK (Lampiran 2).

Gerakan menanam tanaman kehutanan juga terdapat pada lahan yang (secara de jure) merupakan izin hak guna usaha (HGU) perkebunan. Hasil wawancara dan pengumpulan data lapangan, ditemukan 3 (tiga) HGU di kabupaten contoh yang terindikasi menanam tanaman kehutanan jenis cepat tumbuh atau fast growing species (FGS), yaitu: Datarsalam di Pancatengah, Tasikmalaya; Ayerdingin di Krucil, Probolinggo; dan PTPN XII di Jawa Timur.

Upaya membangun hutan tidak hanya dilakukan secara swadaya, tetapi juga melalui subsidi dan kampanye berbagai program pemerintah, diantaranya Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL), Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis (GRLHK), kampanye Indonesia menanam, hutan rakyat pola kemitraan dengan bantuan bergulir; hari menanam pohon Indonesia dan bulan menanam nasional; one man one tree (OMOT), dan inisiatif berbagai kalangan yang melakukan kerjasama membangun dan mengelola hutan bersama rakyat.

Kerjasama atau kemitraan antara INPAK bersama rakyat dalam rangka pembangunan hutan (KIBARHUT) berdasarkan kepemilikan lahannya dibedakan menjadi 2, yaitu di lahan milik dan lahan/hutan negara. Proporsi status pemilikan lahan yang digunakan kelembagaan KIBARHUT sampai dengan tahun 2008 disajikan pada Tabel 9.

Lahan milik adalah lahan yang dibebani hak atas tanah, baik lahan milik perorangan maupun lahan milik suatu badan usaha atau kelompok. Pemanfaatan tanah milik mencapai 72,28% pelaksanaan KIBARHUT di ketiga INPAK contoh. Pelaksanaan KIBARHUT oleh PT. SGS sekitar 97,56% terdiri atas tanah milik perorangan (96,18%) dan milik institusi (1,38%). Pemanfaatan tanah milik institusi

(4)

(11,90%) juga dilakukan PT. KTI bekerjasama dengan yayasan, perusahaan, pondok pesantren, perguruan tinggi, dan gereja.

Tabel 9 Status pemilikan lahan dimanfaatkan untuk pelaksanaan KIBARHUT Status Pemilikan

Lahan

Pelaksanaan KIBARHUT

PT. SGS PT. BKL PT. KTI Jumlah 3 INPAK Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % 1Tanah Milik : • Perorangan 6.714,29 96,18 1.304,20 38,57 1.896,31 45,42 9.914,80 68,20 • Institusi 96,45 1,38 0,00 0,00 496,82 11,90 593,27 4,08 Jumlah 1 6.810,74 97,56 1.304,20 38,57 2.393,13 57,32 10.508,07 72,28 2Tanah Negara: • TKD 57,50 0,82 88,00 2,60 199,86 4,79 345,36 2,38 • Instansi 112,50 1,61 250,00 7,39 64,48 1,55 426,98 2,94 • Perhutani 0,00 0,00 1.599,36 47,30 353,93 8,48 1.953,29 13,44 • HGU 0,00 0,00 139,90 4,14 1.163,15 27,86 1.303,05 8,96 Jumlah 2 170,00 2,44 2.077,26 61,43 1.781,79 42,68 4.029,05 27,72 Jumlah 1+ 2 6.980,74 100,00 3.381,46 100,00 4.174,92 100,00 14.537,12 100,00

Pemanfaatan lahan untuk penanaman kayu yang dibutuhkan industri berdampak pada meningkatnya harga tanah. Soeranto, petugas PT. SGS, menginformasikan telah membeli tanah di Bawang seluas 2.000 m² seharga Rp 7.500.000 pada tahun 2006. Lahan tersebut ditumbuhi tegakan Sengon berumur sekitar setahun. Tahun 2008, tanah dan tanaman Sengon diatasnya ada yang berani membeli dengan nilai Rp 20.000.000. Widi (petani di Bawang) dan Kardana (petani di Sukaraja) menginformasikan bahwa ada pihak yang bersedia membeli lahan miliknya senilai 3 kali lipat dibandingkan harga pembelian 2 tahun lalu, karena di atas lahan tersebut terdapat tegakan Sengon siap panen.

Informan lain40 mengungkapkan bahwa harga tanah yang ditumbuhi tanaman berkayu, khususnya Sengon, adalah lebih diminati. Realitas tersebut menunjukkan bahwa harga tanah di lokasi penelitian mengikuti perkembangan/pertumbuhan pohon Sengon yang tumbuh diatasnya. Perhitungan harga tanah tidak lagi berdasarkan harga per satuan luas tapi disesuaikan dengan ukuran pohon, diameter pohon, taksiran volume dan nilai kayu yang dapat dipanen dari lahan tersebut. Fenomena ini diharapkan menjadi dasar untuk dilakukannya telaah/kajian lebih lengkap dampak tegakan Sengon terhadap nilai harapan tanah di masa mendatang.

40 Pernyataan digali dari seluruh petani contoh dan responden kunci. Responden yang secara spesifik

memberikan pernyataan mengenai harga tanah yang ditanami Sengon adalah Amin (Kadusdi Bawang dan bekerja sambilan sebagai makelar penjualan lahan); Uus (petugas PT. BKL); Saefuloh (Kades di Sukaraja); Heru Jhudianto (petugas PT. KTI); Abdul Qodir (KP di Krucil); Kurmat (staf Disbunhut di Probolinggo); Gorin (PKL dan petani Sengon di Krucil); dan Suprapto (PKL Krucil).

(5)

Pelaksanaan KIBARHUT dengan memanfaatkan lahan/tanah kas desa (TKD) atau pengangonan ditemukan dengan luasan relatif kecil (2,38% dari total). Kemitraan umumnya merupakan inisiatif penyewa/penggarap, sehingga pihak desa hanya sebatas menyewakan lahan dengan imbalan uang sewa dari petani penggarap. Namun berdasarkan informasi petugas PT. BKL dan perangkat Desa Tarunajaya di Sukaraja, ada kesepakatan melakukan KIBARHUT dengan memanfaatkan TKD Tarunajaya. Kegiatan tersebut merupakan inisiasi perangkat desa untuk meningkatkan produktivitas lahan TKD, sehingga desa memperoleh pendapatan dari uang sewa lahan dan bagi hasil panen kayu di akhir daur. Kegiatan penanaman dilakukan pada tahun tanam 2008/09.

Pemanfaatan tanah negara milik instansi pemerintah dilakukan bekerjasama dengan perguruan tinggi, pemerintah kota, dan lahan TNI. Proporsi luasan tanah negara milik instansi adalah 2,94% dari total luasan lahan pelaksanaan KIBARHUT. Kerjasama dalam rangka KIBARHUT di hutan negara yang dikelola Perum Perhutani (mencapai 13,44% dari total lahan) dilakukan dengan pola PHBM bersama petani. Pemanfaatan lahan Perhutani untuk pelaksanaan KIBARHUT melalui pola PT. BKL seluas 1.599,36 ha di 3 KPH (Tasikmalaya, Garut, dan Sumedang) lingkup Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, dan pola PT. KTI seluas 353,90 ha di 2 KPH (Probolinggo dan Kediri) lingkup Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Pemanfaatan lahan HGU (sekitar 8,96% dari total lahan yang dikerjasamakan) dilakukan karena ada kerjasama petani penggarap kebun, pemilik izin HGU/penyewa dan INPAK.

Kegiatan pengelolaan hutan dalam pelaksanaan KIBARHUT tidak berbeda dengan pola yang banyak dilakukan pada pembangunan hutan oleh rakyat secara swadaya ataupun oleh Perum Perhutani. Secara umum kegiatan pengelolaan yang dilakukan terdiri dari berbagai tahapan, yaitu : (i) penanaman; (ii) pemeliharaan; (iii) perlindungan; (iv) pemanenan; (v) pemasaran.

Penanaman

Kegiatan penanaman dalam rangka KIBARHUT diawali penyiapan lahan. Kegiatan persiapan lahan yang dilakukan secara khusus untuk tanaman kehutanan adalah pembuatan lubang tanam, sedangkan kegiatan lainnya dilakukan bersamaan dengan persiapan tanaman tumpangsari. Lubang tanam dibuat petani tidak dengan

(6)

ukuran dalam petani kurang B jumlahn suplisi dicapai bibit dik a. B T b. B pe c. B 3 P kebutuh ketersed banyak menunj di 3 kab Jabon, W dan han   tertentu, teta lubang tana (selengkapn lebih satu m Bibit tanama nya berdasa 10–20% unt oleh kenda klasifikasika Bibit diturunk Tipe 1 Bawan Bibit diturun engelola. Pro Bibit diturunk Sukaraja ata emilihan je han INPAK diaan pasar ditanam d ukkan bahw bupaten con Waru Rangk nya ditanam api hanya se am dan pem nya tersaji p minggu, dan k n berkayu d arkan perhitu tuk sulaman araan pengan an menjadi ti kan di Balai ng dan Tipe nkan di lo oses ini ditem kan di kanto au kemitraan enis tanama K, yaitu je dan ada ke dalam rang wa jenis FGS toh adalah S kang, Gmeli pada pelaks Jabo 0,61% Gambar 7 KIBAR ebatas diangg masangan aji pada Lampi kemudian di disiapkan da ungan luas l n. Pasokan b ngkut bibit. iga, yaitu: i Desa setem 2 Sukaraja. okasi yang mukan pada or RPH setem n yang melib an pokok d enis tanam emampuan gka KIBAR S yang mayo Sengon atau na dan jenis sanaan KIBA Sengon 82,61% n % Gmelina 0,76% 7 Jenis tanam HUT di Pulau gap cukup u ir dilakukan iran 3). Lu itanami bibit an dipasok I lahan dan ja bibit diangku Pola peny mpat. Proses ditentukan a Tipe 2 Kruc mpat. Proses batkan Perum disesuaikan man berdaur untuk meng RHUT adala oritas (82,61 Paraseriant s lainnya dita ARHUT oleh Wa 0,90 Balsa 14,88% Lainnya 0,24%

man pokok pad u Jawa (data pr untuk bibit. P n oleh sebag ubang tanam t tanaman po INPAK. Bib arak tanam ut ke lokasi yaluran atau s ini ditemuk n kelompok

cil dan Tipe s ini terjadi p m Perhutani. antara kein r pendek golah kayun ah jenis S %) ditanam thes falcatar anam dalam h PT. KTI di ru 0% % da pelaksanaan rimer, 2008) Pemberian p gian besar m dibiarkan okok KIBAR bit bantuan standard, d terdekat yan u tempat pen kan pada ke k atau koo 3 Krucil. pada kemitra . nginan peta (FGS), ko nya. Tanama Sengon. Gam m dan dikemb ria. Tanaman m jumlah rela i Jawa Timur   n upuk ke (63,3%) selama RHUT. INPAK itambah ng dapat ndaratan emitraan ordinator aan Tipe ani dan mersial, an yang mbar 7 bangkan n Balsa, atif kecil r.

(7)

Pembangunan hutan KIBARHUT dilakukan dengan 3 pola pertanaman atau cropping pattern (Tabel 10), yaitu (i) monokultur atau murni dimana petani hanya menanam 1 jenis tanaman pokok FGS. Pola ini dilakukan oleh 63,3% petani contoh; (ii) polikultur atau campuran 2 jenis tanaman FGS pada lahan yang sama. Pola ini dilakukan oleh 8,9% petani contoh; (iii) agroforestry yaitu tanaman berkayu FGS ditanam secara tumpangsari pada lahan yang sudah ada tanaman perkebunannya (MPTS). Pola ini dilakukan oleh 27,8% petani contoh. Jika selama ini penanaman pohon dilakukan untuk mengurangi resiko kegagalan unit usaha pertanian sebagai komoditas utama, tetapi data empiris kelembagaan KIBARHUT sebagaimana Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar petani (72,2%) justru menanam pohon (kayu) sebagai komoditas utama. Petani contoh bahkan cenderung menanam dengan pola tanam murni atau monocropping (penanaman pohon di lahan subur dan tidak digabung dengan tanaman keras/perkebunan lainnya).

Tabel 10 Jenis tanaman kehutanan dan pola pembangunan hutan di lokasi contoh Tipologi/Jenis

Tanaman Kehutanan

Pola pembangunan hutan KIBARHUT

Murni Campur AF

Tipe 1 Bawang (30 petani) 9 (30,0%) --- 21 (70,0%)

• 1 tingkat, Sengon 1 (3,3%) ---

---• 2 tingkat, Sengon 8 (26,7%) --- 21 (70,0%)

Tipe 2 Sukaraja (15 petani) 11 (73,3%) --- 4 (26,7%)

• 2 tingkat, Sengon 11 (73,3%) --- 4 (26,7%)

Tipe 2 Krucil (15 petani) 15 (100,0%) --- ---

• 1 tingkat, Sengon 2 (13,3%) --- ---

1 tingkat, Balsa/lain 1 (6,7%) --- ---

• 2 tingkat, Sengon 7 (46,7%) --- ---

1 tingkat, Balsa/lain 5 (33,3%) --- ---

Tipe 3 Sukaraja (15 petani) 15 (100,0%) --- ---

• 2 tingkat, Sengon 15 (100,0%) --- ---

Tipe 3 Krucil (15 petani) 7 (46,7%) 8 (53,3%) ---

• 2 tingkat, Sengon 3 (20,0%) --- ---

1 tingkat, Balsa/lain 4 (26,7%) --- ---

1 tingkat, Sengon/Balsa --- 4 (26,7%) ---

1 tngkat, Sengon/Balsa/lain --- 4 (26,7%) ---

Jumlah (90 petani) 57 (63,3%) 8 (8,9%) 25 (27,8%) Temuan data lapangan di tingkat petani (sebagaimana disajikan pada Tabel 10) memperkuat temuan yang disajikan pada Gambar 7, yaitu mayoritas petani contoh (81,1%) memilih menanam Sengon pada pelaksanaan KIBARHUT. Sekitar 10% petani menanam Balsa atau jenis lain (Tipe 2 Krucil dan Tipe 3 Krucil), dan sisanya (9,9%) menanam secara campuran Sengon dan Balsa, atau Sengon, Balsa dan tanaman lain (Tipe 3 Krucil).

(8)

Pemilihan Sengon sebagai tanaman pokok berdasarkan pertimbangan bahwa (i) merupakan tanaman FGS yang sudah tersebar luas di kalangan petani hutan, dan masyarakat relatif sudah mengenal dan mengetahui budidayanya semenjak adanya program sengonisasi tahun 1989; (ii) mempunyai nilai komersial tinggi, khususnya di Pulau Jawa; (iii) umurnya pendek sehingga kayunya lebih cepat dipanen; (iv) pemasarannya tidak sulit karena semua INPAK bersedia menampung41. Dephut dan BPS (2004) melaporkan bahwa Sengon adalah tanaman kayu terbanyak kedua (setelah Jati) yang ditanam dan diusahakan oleh rumah tangga kehutanan (RTK42) di Pulau Jawa. Dephut dan BPS (2004) juga mencatat 1.983.192 RTK (atau 85,63% dari total RTK) di Pulau Jawa tercatat memelihara tanaman Sengon, dan sekitar 355.424 diantaranya adalah kelompok RTK yang mengusahakan Sengon.

Pemilihan tanaman Sengon, yang merupakan jenis komersial yang diperlukan pasar, menunjukkan secara empiris bahwa penanaman pohon pada kelembagaan KIBARHUT dilakukan petani (agents) dengan lebih berorientasi pasar guna memasok kebutuhan bahan baku kayu bagi INPAK yang menjadi mitranya (principal).

Walaupun demikian pada awal-awal daur tanaman kayu, mayoritas petani KIBARHUT (93,3%) melakukan tumpangsari dengan tanaman hortikultura (Tabel 11). Tanaman pangan/hortikultur yang dibudidayakan sebagai tanaman tumpangsari adalah jenis Jagung (44,44%), Singkong (33,3%), Jagung dan tanaman lain (8,89%), dan jenis lainnya (6,67%). Kegiatan ini dilakukan untuk memanfaatkan lahan secara optimal dan sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi petani (Nair, 1993; Yusran, 2005). Terdapat 6 petani di Bawang (6,67% dari total petani contoh) yang tidak melakukan tumpangsari dengan tanaman pangan. Petani tersebut menerapkan pola tanam dengan memanfaatkan sebagian lahan untuk tanaman kehutanan, dan sebagian luasan lahan sisanya sudah ditanami dengan tanaman keras/kebun.

Tabel 11 menunjukkan bahwa semua petani di Sukaraja memilih Singkong, sedangkan petani di Bawang dan Krucil memilih jagung dan/atau tanaman lainnya (cabe rawit hijau, tomat, wortel, kubis atau jenis lainnya) sebagai tanaman hortikultur untuk tumpangsari dengan tanaman kehutanan. Rentang waktu bagi petani untuk

41 Kemudahan menjual dan banyaknya perusahaan yang siap menampung kayu Sengon diungkap juga

oleh Trubus Majalah Pertanian Indonesia, diunduh dari http://www.trubus-online.co.id/ mod.php? mod=publisher &op= viewarticle&cid=1&artid=1411 [13 September 2008].

42 RTK dikategorikan rumah tangga usaha BMU (batas minimal usaha) jika jumlah pohon Sengon siap

(9)

dapat melakukan kegiatan budidaya tanaman pangan/hortikultur tersebut bervariasi bergantung dengan pola tanam KIBARHUT.

Tabel 11 Jenis tanaman pangan/hortikultur yang menjadi tanaman tumpangsari dalam tahun-tahun awal pelaksanaan KIBARHUT

Tipe Jenis tanaman pangan/hortikultur

Jagung singkong lainnya Jgg+lain tidak TS 1 Bawang (30 petani) 16 (53,3%) -- 4 (13,3%) 4 (13,3%) 6 (20%) • 1 tingkat, murni 1 0(3,3%) -- -- -- -- • 2 tingkat, murni 5 (16,7%) -- -- 3 (10,0%) -- • 2 tingkat AF 10 (33,3%) -- 4 (13,3%) 10(3,3%) 6 (20%) 2 Sukaraja (15 petani) -- 15(100,0%) -- -- -- • 2 tingkat, murni -- 110(73,3%) -- -- -- • 2 tingkat, AF -- 4 0(26,7%) -- -- -- 2 Krucil (15 petani) 15 (100,0%) -- -- -- • 1 tingkat, murni 3 0(20,0%) -- -- -- -- • 2 tingkat, murni 12 0(80,0%) -- -- -- -- 3 Sukaraja (15 petani) -- 15(100,0%) -- -- -- • 2 tingkat, murni -- 15 (100,0%) -- -- -- 3 Krucil (15 petani) 9(60,0%) -- 2 (13,3%) 4 (26,7%) -- • 2 tingkat, murni 5 0(3,3%) -- -- 1 (13,3%) -- • 2 tingkat, campur 4 0(2,7%) -- 2 (13,3%) 3 (13,3%) -- Jumlah (90 petani) 40 (44,4%) 30 0(33,3%) 60 (6,7%) 80 (8,9%) 6 (6,7%)

Pola tanam pada prinsipnya mengikuti kondisi lahan, tetapi INPAK membuat standard jarak tanam untuk tanaman pokok adalah 3m x 2m atau 6m x 2m (PT. KTI) dan 3m x 2m (PT. BKL dan PT. SGS). Dengan jarak tanam tersebut, di bawah tegakan KIBARHUT masih dapat digunakan untuk tumpangsari tanaman pertanian selama 2-3 tahun, sehingga dapat menambah penghasilan bagi petani. Dalam pelaksanaannya, petani contoh melakukan penanaman dengan jarak tanam rapat, berkisar 1,5m x 1,5m; 1,5m x 2m; 2m x 2m; 2m x 2,5m dan seterusnya sampai dengan jarak tanam tidak beraturan (Gambar 8a). Jarak tanam rapat dilakukan dengan menanam seluruh bantuan bibit, termasuk suplisi 10–20% bibit yang sebetulnya dialokasikan untuk sulaman.

Penggunaan jarak tanam rapat karena petani berasumsi semakin banyak pohon ditanam, maka semakin banyak pohon yang dapat dipanen. Penanaman dengan jarak tanam yang rapat tersebut menyebabkan pemanfaatan lahan dibawah tegakan tidak dapat dilakukan secara optimal. Terdapat 7 petani contoh (7,78%) yang sengaja melakukan penanaman dengan jarak tanam awal sangat rapat, karena bertujuan menghasilkan bibit Sengon dengan memanfaatkan anakan dan/atau tanaman sengon

(10)

muda (sapling) sebagai bibit, serta dengan mencangkok batang (Gambar 8b). Petani kemudian mengurangi kerapatan, sekaligus melakukan penjarangan ketika tanaman Sengon mencapai tinggi sekitar 1–2m atau ketika pencangkokan telah berhasil.

  a. Penanaman dengan jarak tanam rapat b. Cangkok untuk menghasilkan bibit Gambar 8 Penanaman Sengon dengan jarak tanam rapat, dan pencangkokan batang untuk

dijual sebagai bibit Sengon di lokasi contoh (dokumentasi peneliti)  

Penjarangan dilakukan sedemikian rupa sehingga jarak tanam akhirnya mencapai setidaknya sekitar 3m x 2m. Sebagian besar hasil penjarangan dijual dalam bentuk bibit dengan harga sekitar Rp 2.000 per batang, sedangkan sebagian kecil tanaman hasil penjarangan yang tidak layak menjadi bibit dijadikan kayu bakar. Penjualan bibit hasil penjarangan mempunyai pasar tersendiri yang sangat potensial (niche market), karena terdapat petani yang cenderung melakukan penanaman menggunakan bibit yang sudah besar dengan tinggi berkisar 1–2 m. Penjualan bibit Sengon hasil penjarangan dilakukan petani guna mengganti investasi yang telah dikeluarkan untuk penanaman, termasuk biaya pemeliharaan tahun pertama, sebagaimana juga diungkapkan Lestari (2008).

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman KIBARHUT dilakukan secara intensif oleh petani sampai dengan tanaman berumur 2 tahun. Pemeliharaan dengan penyiangan (pembersihan rumput) dilakukan intensif maksimal sampai tahun kedua, karena dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan tanaman tumpangsari. Kemudian dilakukan secara tidak teratur, namun setidaknya dilakukan dua kali dalam setahun, seperti pada saat mencari rumput atau hijauan pakan ternak (hpt), saat mencari kayu bakar atau ketika mengambil hasil tanaman kebun/keras jika dikelola secara agroforestry. Pemupukan dilakukan pada saat awal penanaman, dan selanjutnya

(11)

pemupukan dilakukan intensif bersamaan dengan memupuk tanaman tumpangsari/ pertanian, tetapi hanya maksimal sampai tahun kedua.

Berdasarkan data pada Lampiran 3, pelaksanaan penyulaman pada KIBARHUT Tipe 1 dan Tipe 2 terbilang rendah yaitu hanya dilakukan oleh 40% petani contoh. Sebagian besar petani contoh tidak melakukan penyulaman, karena menggunakan jarak tanam rapat di awal tanam sehingga ketika ada tanaman mati, maka jumlah tanaman per hektar yang disarankan INPAK tetap terpenuhi. Pada KIBARHUT Tipe 3, penyulaman dilakukan oleh hampir seluruh (93,3%) petani contoh. Penyulaman adalah kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan Perum Perhutani (Tipe 3 Sukaraja) dan KTI bk/Aviland (Tipe 3 Krucil) bersama petani. Perum Perhutani, KTI bk, dan Aviland selaku “pemilik” lahan mensyaratkan pengguna lahan (penggarap) mematuhi dan melaksanakan kegiatan penyulaman guna keberhasilan tanaman.

Secara teknis, pemeliharaan tegakan berupa penjarangan disarankan oleh INPAK dilakukan pada umur tegakan 3–4 tahun. Namun, penjarangan umumnya tidak dilakukan karena keberhasilan tanaman yang rendah, dan banyaknya tanaman gagal atau mati. Tanaman yang mati tersebut oleh petani dan INPAK dianggap sebagai tanaman yang terkena penjarangan. Jika pun terdapat kegiatan penjarangan atau tebangan awal, maka kegiatan dilakukan karena pohon terserang penyakit atau karena perilaku oportunis dari petani selaku pihak hulu. Berbeda dengan saran INPAK, maka petani melakukan penjarangan terhadap pohon dengan diameter (ukuran) yang mempunyai nilai komersial

Pemangkasan (prunning) dilakukan tidak semata-mata untuk memperoleh batang yang lurus, tetapi juga bertujuan memperoleh kayu bakar dan daun muda untuk pakan ternak. Aktivitas ini dilakukan dengan tidak mengganggu pertumbuhan pohon, karena tingginya pemahaman petani terhadap nilai ekonomis pohon yang ditanamnya. Hasil ini sejalan temuan Romansah (2007) di Sumedang, dan Lestari (2008) di Wonosari, Batang.

Gangguan terhadap pertumbuhan pohon FGS yang banyak ditemukan di lokasi adalah adanya berbagai hama dan penyakit yaitu penggerek (Xystrocera festiva), jamur, ulat daun/batang, dan jamur karat kuru (Gambar 9). Kegiatan penanggulangan oleh petani adalah dengan secepatnya melakukan penebangan terhadap pohon terpapar sehingga masih ada bagian batang yang dapat dijual.

(12)

  Gambar 9 Pohon Sengon terkena jamur karat kuru (dikenal petani sebagai Gondok) dan

pohon terkena Ulat batang (dokumentasi peneliti)  

 Pengaturan hasil

Petani contoh di lokasi penelitian secara sederhana telah menerapkan prinsip kelestarian hasil, yaitu setiap dilakukan penebangan diikuti dengan penanaman bibit tanaman berkayu43. Penanaman atau permudaan kembali dilakukan dengan harapan pada saatnya membutuhkan uang, maka tersedia pohon dengan ukuran siap ditebang. Petani menggunakan sistem tebang pilih permudaan buatan dengan penjarangan keras44. Tindakan tersebut dianggap penjarangan keras, karena ada upaya mengurangi jumlah pohon guna memberikan ruang tumbuh optimal bagi pohon tinggal, dan memberikan hasil panen berupa produksi kayu yang dapat dimanfaatkan petani. Tebang pilih disesuaikan kebutuhan petani yang bersifat tidak menentu (unpredictable needs), dan dilakukan terhadap pohon sudah layak tebang45.

Berdasarkan beberapa dokumen tertulis milik INPAK dan informasi lisan petugas lapangan, diperoleh informasi bahwa jumlah tanaman pada saat pohon berumur 4 tahun sekitar 50% dari jumlah tanaman awal (jarak tanam sekitar 6 m²). Untuk jarak tanam lainnya adalah menyesuaikan sehingga jumlah pohon yang dapat

43 Dalam prinsip pengelolaan hutan lestari maka setiap penebangan yang dilakukan selalu diikuti

dengan kegiatan penanaman atau rehabilitasi pada lahan bekas tebangan tersebut (Simon, 2007).

44 Sistem tebang pilih yang dilakukan petani disetarakan penjarangan keras karena secara ekonomis dan

teknis memproduksi kayu sebagai hasil utamanya, serta mendorong terjadinya pertumbuhan riap diameter pohon yang lebih besar dari penjarangan normal. Penjarangan keras merupakan solusi mencegah terjadinya pencurian kayu. Penjarangan keras berbeda dengan penjarangan lemah (low thinning) atau yang secara teknis dilaksanakan selama ini (konvensional) yaitu tebangan terhadap pohon cacat atau tertekan, sehingga dari segi dinamika sistem mempunyai pengaruh relatif kecil untuk merangsang pertumbuhan riap. Penjarangan lemah tidak bertujuan menghasilkan kayu, jika pun ada produksi kayu maka dianggap sebagai hasil sampingan. Hasanu Simon, 1993, hal. 103-104.

45 Pohon dianggap petani telah layak tebang dan memiliki nilai finansial jika telah mencapai diameter

(13)

dipanen pada akhir daur berkisar 400–800 pohon/ha. Selanjutnya, panenan pertama menebang sekitar 40% dari jumlah pohon tersisa dan 60% sisanya ditebang pada saat panen akhir. Pola panen tersebut tidak mutlak dilaksanakan karena ada beberapa penyimpangan, yaitu (i) jumlah pohon tersisa relatif sedikit, (ii) petani memilih untuk menebang pada umur tertentu baik lebih awal atau menunda karena alasan finansial, (iii) pohon terkena penyakit sehingga dipanen lebih awal untuk menghindari kerugian, atau (iv) belum adanya pasar yang jelas maka penebangan sengaja ditunda, seperti tanaman Balsa pada Tipe 3 Krucil. Proporsi dan distribusi pola panen KIBARHUT di lokasi contoh disajikan pada Lampiran 4.

Penebangan dan sekaligus sebagai panen awal mulai dilakukan petani pada tahun ke-5 atau saat tanaman berumur 4 tahun. Terdapat sebagian kecil petani di Bawang (5,6% atau 5 petani contoh) telah mulai memanen pada saat tanaman berumur 2 tahun atau tahun ke-3 pelaksanaan KIBARHUT dan memanfaatkan sebagian besar kayunya sebagai kayu bakar. Pemanenan secara umum dilakukan pada saat tanaman berumur 5 tahun, sebagaimana juga diungkapkan oleh Aunuddin (2007), Romansah (2007), Susiati (2007), dan Wijiadi (2007). Hasil penelitian PT. KTI menunjukkan bahwa Sengon pada umur 5 tahun maka diameternya mencapai sekitar 22 cm dan dapat menghasilkan kayu bundar (KB) sekitar 0,28 m³ (KAMkti, 2008).Prediksi sama diungkapkan oleh para pelaku usaha penebangan (blandong dan/atau tim tebang) yang menyatakan, bahwa dari setiap 3,5 pohon Sengon berumur sekitar 5 tahun menghasilkan KB sekitar 1 m³. Hasil penelitian PT. KTI dan taksiran blandong tersebut disajikan pada Lampiran 4.

Berdasarkan realisasi penanaman dan sisa pohon yang ada, maka struktur tegakan di lokasi contoh memperlihatkan distribusi diameter dan jumlah pohon membentuk kurva J terbalik (Gambar 10). Artinya, tegakan tersebut menggambarkan kondisi hutan yang lestari46 sebagaimana diungkapkan Daniel et al. (1987).

46 Kelestarian hutan mempunyai berbagai definisi yang satu sama lain dapat diperdebatkan. Secara umum definisi kelestarian hutan adalah suatu pengelolaan hutan untuk memasok hasil hutan yang teratur dan berkesinambungan sesuai dengan kapasitas maksimal suatu kawasan hutan. Artinya terdapat keseimbangan antara pertumbuhan dan panenan. Hasanu Simon, 2007, hal. 218-236.

(14)

 

Gambar 10. Distribusi pohon KIBARHUT berdasarkan kelas diameter di lokasi contoh

Struktur tegakan sebagaimana Gambar 10 menggambarkan pengelolaan hutan lestari, tetapi mayoritas (79,9%)47 adalah pohon dengan diameter (dbh) belum layak tebang. Tegakan cenderung didominasi tanaman muda juga diungkapkan Mahmud (2004) dimana 24% tanaman Sengon yang dikembangkan secara kemitraan dengan sistem kredit usaha hutan rakyat (KUHR) di Blitar termasuk kelas diameter >10cm, sedangkan mayoritas (76%) mempunyai diameter kurang dari 10cm. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan kayu (khususnya Sengon) dalam lingkup lokal (desa, kecamatan, dalam kabupaten), lingkup antar kabupaten, dan antar provinsi, dikarenakan keberadaan industri perkayuan (IPHHK) berbagai jenis dan skala usaha yang terus meningkat di seluruh daerah di Pulau Jawa, sebagaimana juga diungkapkan Hardjanto (2003) dan Romansah (2007).

Pada tahun 2008, jumlah IPHHK di ketiga kabupaten yang menjadi lokasi penelitian adalah sebagai berikut: (i) di Kab. Tasikmalaya tercatat 241 unit industri penggergajian, dan 7 unit diantaranya berada di Kec. Sukaraja; (ii) di Kab. Batang terdapat 68 unit IPHHK terdiri atas 2 unit industri veneer, 2 unit industri laminating board untuk ekspor, dan 64 industri penggergajian. Industri penggergajian kayu yang beroperasi di Kec. Bawang sejumlah 12 unit; (iii) di Kab. Probolinggo terdapat 10 unit industri penggergajian, dan 4 unit diantaranya ada di Kec. Krucil. Industri tersebut umumnya menggunakan bahan baku KB dengan ukuran diameter batang lebih besar dari 10cm. Daftar industri perkayuan di kecamatan contoh disajikan pada Lampiran 5. 

47 Struktur tegakan KIBARHUT di lokasi contoh terdiri atas 79,9% pohon berdiameter (dbh) 0–10cm,

16,7% pohon berdiameter 11–20cm, dan 3,5% pohon dengan diameter ≥ 21cm. 0 500 1000 1500 2000 2500 0‐5 6‐10 11‐15 16‐20 21‐25 26‐30 >30 Jum lah    Po h o n Sukaraja Bawang Krucil

(15)

Adanya permintaan pasar tersebut, mendorong petani menawarkan pohonnya yang sudah dapat diserap pasar, yaitu pada kisaran diameter 10cm atau lebih besar. Dengan demikian 16,7% pohon dengan diameter berkisar 11–20 cm mempunyai pasar potensial di luar KIBARHUT, yang harus diantisipasi INPAK (pelaku KIBARHUT). Antisipasi diperlukan karena selain mengancam kelestarian hutan, juga dapat menganggu keberlanjutan pasokan kayu dalam rangka KIBARHUT. Informan kunci pelaku usaha perkayuan di kecamatan contoh mengungkapkan telah terjadi perubahan trend permintaan pasar kayu, karena INPAK juga sudah bersedia menampung kayu non-super (diameter < 20cm). Kayu gelondongan tersebut diolah terlebih dahulu di penggergajian satelit/afiliasinya menjadi kayu gergajian kasar (rough sawn timber/RST), kemudian dipasok ke INPAK dan dipergunakan sebagai bahan baku proses produksinya.

Antisipasi lain dalam bentuk norma aturan (ketentuan non kontrak) adalah meluncurkan program penunjang sebagai upaya menjaga agar kayu KIBARHUT tidak dijual atau dipasarkan ke industri perkayuan lain. Program tersebut berupa kredit tunda tebang (PT. KTI dan PT. SGS), pembelian kayu rakyat melalui sawmill/penggergajian yang terafiliasi di dekat lokasi tanaman (PT. BKL dan PT. KTI) atau melalui pemasok khusus/log supplier yang dibentuk INPAK (PT. SGS dan PT. BKL).

2. Aturan yang dipergunakan

Ketentuan yang ditempuh dalam proses terwujudnya kemitraan membangun hutan oleh PT. SGS di Bawang dimulai dengan usulan permohonan kelompok tani (Keltan) dengan penjelasan jumlah bibit, luas lahan dan nama petani. Usulan ditindaklanjuti Dinas dan rencana pembagian bibit oleh PT. SGS ke Keltan. Selanjutnya, dibuatkan berita acara serah terima bibit dan surat pengikatan/perjanjian kemitraan yang dibuat sederhana dan cenderung informal. Konsep kontrak disusun oleh perusahaan, disampaikan ke Keltan untuk diinformasikan ke anggotanya. Kedua dokumen tersebut ditandatangani PT. SGS dan Ketua Keltan serta diketahui oleh Kepala Desa. Ketua Keltan menandatangani perjanjian selaku wakil petani, dan selanjutnya, mengajak petani bekerjasama membangun hutan. Namun demikian, tidak ditemukan adanya perjanjian tertulis apa pun antara Keltan dan petani, sehingga

(16)

peserta yang terlibat atau mendapat bantuan bibit tidak tercatat dan tidak diadministrasikan dengan baik.

Prosedur hampir mirip dilakukan PT. BKL, dengan mencari kemungkinan KIBARHUT di lahan milik atau lahan negara yang dapat ditanami Sengon. Petugas BKL meminta bantuan ellite desa mencarikan lahan dan merekrutnya sebagai koordinator pelaksana Tipe 2 di Sukaraja. Pola yang dikembangkan adalah melakukan penyuluhan48 sebagai upaya mencari kesepakatan awal. Jika petani sudah paham dan setuju/sepakat maka kemudian berangkat untuk mengikuti pertemuan sosialisasi dengan BKL. Pada kemitraan Tipe 3 di Sukaraja, PT. BKL menawarkan kerjasama penanaman jenis FGS ke ADM/Kepala KPH Tasikmalaya49. Tawaran tersebut dianggap strategis karena penanaman FGS dan adanya jaminan pasar merupakan antisipasi tepat, pada saat kondisi tanaman Perum Perhutani Unit III, khususnya di KPH Tsm, didominasi kelompok umur (KU) muda. Dikarenakan nilai kerjasama yang lebih dari Rp 1 milyar, maka diperlukan legalitas Kantor Unit sehingga nota kesepahaman dilakukan Unit dan PT. BKL. Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan dalam kerangka program PHBM.

Kesepakatan tersebut ditindaklanjuti sosialisasi kegiatan bertempat di Kantor Kecamatan, kantor BKL di Rajapolah, atau di Balai Desa. Sosialisasi dihadiri Perangkat Desa, Badan Perwakilan Desa, tokoh agama dan masyarakat. Isi sosialisasi secara garis besar adalah tentang (i) bagi hasil kayu yang diterima masing-masing pelaku; (ii) bagi hasil dihitung dari hasil pendapatan bersih penjualan kayu; (iii) harga sesuai harga di pasar saat panen; (iv) kayu ditebang jika lilitan > 80 cm dan dijual ke BKL; (v) jika secara teknis kayu sudah siap tebang, tapi petani belum mau menebang maka penebangan ditunda; (vi) penebangan dilakukan oleh petani atau melalui paguyuban penggergajian di sekitar lokasi tanaman yang menjadi mitra BKL.

Kesepakatan selanjutnya dikukuhkan dengan perjanjian kerjasama yang ditandatangani (i) PT. BKL dan koordinator wilayah (korwil)/ketua kelompok (Tipe 2) serta diketahui Kepala Desa; (ii) KPH Tasikmalaya, BKL dan Ketua KTH (Tipe 3). Korwil atau Ketua KTH menandatangani kesepakatan dan bertindak selaku wakil petani berdasarkan surat kuasa yang ditandatangani petani anggota kelompoknya.

48 Lebih condong ke upaya mendiskusikan tawaran kemitraan yang datang dari PT. BKL dan mencari

kesepakatan dengan peserta potensial KIBARHUT.

(17)

PT. KTI melakukan KIBARHUT karena keinginan ikut menjaga kelestarian hutan dan menjaga kesinambungan pasokan bahan baku yang sesuai spesifikasi (kualitas dan ukuran kayu) untuk proses produksinya. Pendekatan PT. KTI dilakukan terhadap semua lini termasuk Perum Perhutani, PTPN XIII dan perkebunan swasta, perorangan, sekolah, perguruan tinggi, LSM, perusahaan swasta, dan instansi pemerintah.

Kemitraan Tipe 2 di Krucil dilakukan melalui pendekatan ke tokoh agama yang mempunyai kharisma, menjadi panutan dan dipercaya rakyatnya yaitu Bapak Abdul Qodir Al-Hamid (Habib Qodir). Kerjasama diawali penanaman di lahan milik Habib Qodir. Melihat adanya keberhasilan, prospek menguntungkan kedua pihak, dan adanya saling kepercayaan, maka pada tahun-tahun berikutnya kegiatan diperluas ke lahan milik warga. Proses selanjutnya adalah membangun kesepakatan dengan peserta potensial Tipe 2 Krucil. Peserta yang bersedia dan sepakat terlibat dengan situasi aksi yang telah disosialisasikan, selanjutnya melakukan perjanjian tertulis dengan KP (selaku mitra antara). KP kemudian melakukan perjanjian kerjasama dengan KTI dan sekaligus mengadministrasikan pelaksanaan KIBARHUT.

Pada kemitraan Tipe 3 di Krucil, tawaran kerjasama dilontarkan PT. KTI untuk mengelola lahan kebun kopi Blok Ayer Dingin yang terlantar. Tawaran diajukan ke PUSKOPAD Brawijaya Malang sebagai pemilik izin HGU dan Aviland selaku penyewa sebagian lahan HGU. Kesepakatan ditindaklanjuti perjanjian kerjasama KIBARHUT dengan Aviland; sedangkan pada lahan HGU yang tidak dikelola Aviland, maka PT. KTI menyewa lahan tersebut dari PUSKOPAD melalui PT. KTI Bermi Krucil (KTI bk). Selanjutnya, Aviland dan KTI bk bersama-sama PT. KTI melakukan sosialisasi ke calon penggarap, dan membuat kesepakatan serta perjanjian tertulis dengan petani. Petani mendapatkan hak menggarap lahan dan izin membudidayakan tanaman tumpangsari, asalkan bersedia menanam dan memelihara pohon KIBARHUT.

Berdasarkan uraian tersebut, kesepakatan kerjasama KIBARHUT tercapai melalui prosedur perolehan kerjasama (contracting process), yang dituangkan dalam suatu kontrak. Proses diawali tawaran kerjasama oleh INPAK ke calon peserta potensial (perangkat desa, tokoh masyarakat, instansi pemerintah, perusahaan swasta/BUMS, atau perusahaan negara/BUMN). Tawaran kerjasama merupakan

(18)

tahapan awal yang terdiri atas pengenalan diri INPAK dan peserta, sosialisasi kemitraan, keuntungan yang diperoleh para pelaku yang terlibat, dan kemungkinan tindak lanjut pelaksanaannya sehingga tercapai kesepahaman awal untuk melangkah ke tahapan berikutnya.

Peserta (calon pelaku) menindaklanjuti dengan evaluasi atau penilaian internal. Khusus di Perum Perhutani, ADM/Kepala KPH melaporkan dan meminta persetujuan ke Unit atau Direksi50. Tahapan berikutnya adalah proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan kerjasama, penentuan input share51 dan bagi hasil. Proses ini merupakan keputusan antara INPAK dan mitra antara (Perusahaan Mitra/Koordinator/Keltan).

Selanjutnya, informasi adanya kemitraan membangun hutan dengan INPAK disampaikan ke petani melalui sosialisasi yang melibatkan INPAK, mitra antara, dan petani. Sosialisasi merupakan media untuk mendapatkan kesediaan, penerimaan dan kesepakatan terhadap butir-butir pokok kemitraan. Keberhasilan sosialisasi menggapai kesepakatan karena ada kesamaan preferensi yang menjadi pemahaman umum, pemberian harga pasar yang berlaku dan kepastian pasar kayu KIBARHUT, sehingga menambah daya tarik petani untuk sepakat bermitra.Kesepakatan pra-kontraktual dan persetujuan seluruh pelaku yang terlibat selanjutnya dikukuhkan dalam surat perjanjian sebagai aturan/ketentuan pelaksanaan (rules-in-use) dalam kontrak KIBARHUT. Hasil kajian kontrak KIBARHUT disajikan pada Lampiran 6.

Berdasarkan hasil telaah sebagaimana pada Lampiran 6, bentuk perjanjian pada hubungan kontraktual KIBARHUT Tipe 1 adalah dibuat tertulis namun sederhana dan sangat ringkas. Bentuk kontrak tersebut oleh Salim (2002) dikategorikan sebagai kontrak informal yaitu suatu perjanjian yang tidak memiliki kepastian hukum (hak dan kewajiban) bagi para pelakunya sehingga hanya memiliki fungsi ekonomis. Pada hubungan kontraktual KIBARHUT Tipe 2 dan 3, bentuk perjanjian dibuat tertulis dengan cara tertentu sehingga dapat menjadi bahan bukti autentik di pengadilan dan karenanya berfungsi ekonomis–yuridis. Namun, hanya Tipe 3 di Sukaraja yang merupakan kontrak tertulis dengan akta notaris atau dibuat dihadapan notaris, sedangkan tipe lainnya merupakan perjanjian standar dan dibuat dengan tidak melibatkan notaris.

50 Persetujuan hanya sebatas kesepahaman melakukan kerjasama, dan kerjasama detail didelegasikan

ke ADM/KKPH (SK No. 400/Kpts/Dir/2007 tentang Pedoman umum Pengembangan Usaha Perhutani)

(19)

Kontrak (surat perjanjian kerjasama) didefinisikan sebagai suatu kesepakatan untuk melakukan tindakan yang bernilai ekonomi oleh pelaku, dengan adanya tindakan balasan atau pembayaran dari pelaku yang lain. Kontrak KIBARHUT yang ditelaah sejumlah 32 buah terdiri atas (i) 10 kontrak formal dan 5 kontrak informal antara Hilir dan mitra antara, (ii) 3 kontrak formal dan 1 kontrak informal antara Hilir dan Hulu; (iii) 4 kontrak formal dan 4 kontrak informal antara mitra antara dan Hulu; (iv) 5 surat kuasa52 antara mitra antara dan Hulu53. Telaah terhadap 32 surat perjanjian kerjasama ditemukan adanya 56 aturan yang ditetapkan dalam hubungan kontraktual KIBARHUT. Kelimapuluhenam aturan tersebut, dalam kerangka hubungan principal-agents, dipetakan menjadi 12 kelompok indikasi aturan sebagaimana pada Tabel 12.

Kelimapuluhenam hal yang diatur tersebut, tidak seluruhnya terdapat dalam satu surat perjanjian. Hubungan antara pemasok dengan Hilir pada KIBARHUT Tipe 1 hanya menetapkan 9–15 aturan, sedangkan pada Tipe 2 dan Tipe 3 memuat 29–41 aturan. Kompleksnya hubungan kerjasama ditandai dengan fungsi dan kewenangan Hilir terhadap hasil panen ternyata berhubungan dengan jumlah aturan berkaitan dengan sanksi, upaya mengatasi asymmetric information dan mencegah perilaku oportunis.

Kewenangan Hilir terhadap hasil panen memuat kewajiban Hulu menjual atau memprioritaskan penjualan kayu KIBARHUT ke Hilir, termasuk menentukan waktu pelaksanaan pemanenan yang disesuaikan kebutuhan industri. Adanya hak Hilir terhadap kayu KIBARHUT merupakan ketentuan formal yang dinyatakan bervariasi, antara 2 aturan yang diatur (di Bawang) dan 3–4 aturan yang diatur (di Sukaraja dan di Krucil). Ketentuan tentang kewenangan tersebut terindikasi dalam klausul aturan, bahwa Hilir wajib menampung dan/atau memasarkan hasil produksi kayu. Kewenangan ini didukung adanya 8 aturan yang mengatur kontribusi (share) Hilir, terhadap faktor produksi yang dipergunakan Hulu untuk melaksanakan KIBARHUT.

52 Surat kuasa dibawah tangan adalah suatu pemberian kuasa yang dilakukan dan dibuatkan secara

tertulis oleh para pihak, bukan akta autentik karena tidak menggunakan akta notaris (Salim, 2002)

(20)

   

Tabel 12 Indikasi aturan tertuang dalam surat perjanjian kerjasama

No Indikasi Aturan Jumlah Analisis

Butir % 1 Hilir mempunyai share

terhadap faktor produksi

8 14,29 Proses produksi menggunakan assets milik Hulu dan Hilir. Indikasi adanya kepemilikan asset yang dipergunakan, menyebabkan Hulu dan Hilir merasa memiliki hak terhadap (sebagian) komoditas yang dihasilkan. Karenanya imbalan bagi hasil dihitung berdasarkan proporsi partisipasi para pelaku. Namun, tindakan balasan/imbalan tersebut belum menghitung kemungkinan eksternalitas positif (kepastian pasokan kayu) yang muncul dari pelaksanaan KIBARHUT

2 Hulu mempunyai share terhadap faktor produksi

6 10,71 3 Upaya mengatasi

asymmetric information dan mencegah perilaku oportunis

6 10,71 Upaya mencermati perilaku Hulu, dan menjamin keberhasilan pembangunan hutan dan hasil panennya akan dipasok ke perusahaan (kinerja Hulu mampu memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan Hilir). Pengakuan dan pencermatan terhadap hulu merupakan upaya yang menimbulkan biaya (agency cost). Mobilisasi petugas termasuk biaya transportasi untuk pengamanan, monev, dan pengawasan diperlukan untuk

menjamin tidak adanya perilaku oportunis. Selain mengoptimalkan kinerja petugas lapangan, Hilir juga mengupayakan melalui aturan formal (harga pasar, sanksi pengurangan proporsi bagi hasil), memanfaatkan saluran pemasaran sampai ke lokasi, dan menjalin kerjasama/mediasi dengan elite (tokoh panutan) warga. 4 Fungsi/Kewenangan Hilir

atas kayu (hasil panen)

6 10,71 Kewenangan hilir terhadap hasil panen didukung adanya kontribusi terhadap faktor produksi, dan juga karena hilir menguasai/memiliki pasar untuk komoditas yang diproduksi dari pelaksanaan KIBARHUT.Pemanenan disepakati jika pohon mencapai diameter > 30cm atau keliling > 80cm dengan umur pohon minimal 4 tahun. Pada kondisi pasar kayu di Pulau Jawa saat ini, aturan perlu dilengkapi klausul kemungkinan penebangan

pohon dibawah diameter minimal atau belum mencapai umur minimal, tapi telah mempunyai nilai/ukuran komersial. Penetapan saat panen menjadi krusial karena Hilir menghadapi kemungkinan hulu memasok kayu ke pihak lain dan mempertimbangkan opportunity cost penggunaan asset dengan daur semakin panjang. 5 Fungsi/Kewenangan

Hulu atas kayu (hasil panen)

1 1,79 Hanya ada 1 hal yang diatur tapi, secara subyektif, Hulu memiliki kekuatan tawar untuk mengancam keberlangsungan pasokan kayu ke Hilir. Karenanya Hilir, secara obyektif, menjamin harga beli kayu sesuai harga pasar dan, secara subyektif, mengoptimalkan petugas lapangan, memanfaatkan saluran pemasaran yang bekerja efektif, dan menjalin kerjasama/mediasi dengan elite atau tokoh panutan rakyat.

6 Kewenangan menentukan bentuk pengelolaan

1 1,79 Kewenangan menentukan teknis/sistem silvikultur dimiliki Hilir (Tipe 2 Sukaraja, Tipe 3 Sukaraja, dan Tipe 3 Krucil). Aturan ini upaya subyektif Hilir menjamin kinerja Hulu dalam melaksanakan proses produksi guna mewujudkan komoditas yang diperjanjikan. Di lapangan, aturan dikomunikasikan petugas teknis principal dan koordinator (mitra antara) ke petani mitra (agents), khususnya di Tipe 2 dan Tipe 3.

7 Penggunaan faktor produksi untuk komoditas lain

1 1,79 Upaya menjaga harmoni dan tanggungjawab sosial terhadap petani. Merupakan imbalan/tindakan balasan atas kesediaan petani penggarap melakukan pengolahan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman pokok, ditambah imbalan proporsi bagi hasil panen. Aturan ini sekaligus pengalihan tanggungjawab untuk melaksanakan ketiga kegiatan tersebut yaitu dari mitra antara ke petani.

(21)

Tabel 12 ( Lanjutan)

No Indikasi Aturan Jumlah Analisis

Butir %

8 Transfer of Right 3 5,36 Kontrak secara formal mengatur hak kepemilikan/pemanfaatan komoditas output yang besarannya ditentukan sesuai input produksi yang dikeluarkan para pelaku. Kontrak formal juga mempunyai pengaturan ahli waris. Pada bukan lahan milik terdapat pengalihan hak dari pemegang kuasa ke petani penggarap (authorised users) berupa hak garap yang bersifat sementara. Selanjutnya pengalihan hak yang diperjanjikan adalah adanya kesepakatan untuk memanfaatkan komoditas hasil panen KIBARHUT untuk kebutuhan bahan baku INPAK. 9 Partisipasi mitra

dalam pelaksanaan kegiatan

6 10,71 Positif, karena menumbuhkan jalinan relasional dalam suatu kontrak formal. Partisipasi mitra mencakup upaya pengorganisasian petani, pengamanan tegakan dan pelaksanaan pemanenan. Aturan yang mengatur partisipasi dapat diarahkan menjadi upaya menanamkan esensi, atau budaya “siapa menanam akan memanen” sehingga tidak ada yang menjadi “free-rider”. Pemanenan tanpa diikuti penanaman memberikan eksternalitas negatif, dan kelestarian usaha para pelaku (petani, INPAK dan mitra antara) menjadi terganggu.

10 Sanksi atas terjadinya wanprestasi dan kepatuhan terhadap regulasi

9 16,07 Ada yang dinyatakan secara spesifik dan ada yang tidak spesifik. Termasuk kepatuhan tersebut adalah aturan yang mengatur tentang pembayaran pungutan (PSDH, SAKB) sesuai peraturan perundangan yang berlaku (Tipe 2 dan Tipe 3) dan sanksi sesuai ketentuan hukum jika terlibat pidana hutan (Tipe 3). Wanprestasi adalah suatu cidera janji atau segala bentuk kelalaian, yaitu tidak melaksanakan sebagian atau seluruh kewajiban, terlambat melaksanakan kewajiban, serta pelaksanaan kewajiban tidak sesuai dengan yang diperjanjikan (Salim, 2002). Aturan ini mengatur kemungkinan pihak yang dirugikan menyelesaikan melalui jalur hukum. Namun, tidak

adanya ukuran yang spesifik menyebabkan kemungkinan interpretasi yang rancu atau multitafsir. Aturan yang spesifik memberikan jaminan perlindungan/pengamanan tegakan hanya terdapat pada Tipe 3 Sukaraja. Aturan tersebut merupakan suatu permintaan/pernyataan jaminan kinerja. Perlu suatu aturan yang sangat spesifik dan tidak menimbulkan multitafsir serta kerancuan interpretasi jika terjadi sengketa.

11 Antisipasi terhadap kemungkinan perselisihan perdata

3 5,36 Kontrak KIBARHUT dibuat tidak terlampau kompleks. Terdapat perjanjian formal bersifat court enforceable contract, tetapi norma sosial juga mempunyai peran penting dalam pelaksanaannya. Perlu dibuka peluang melibatkan lembaga mediasi guna (i) menghindari kemungkinan perilaku oportunis dan (ii) memfasilitasi keberlangsungan pasokan KB dari Hulu ke Hilir. Fasilitasi diperlukan sebagai konsekuensi kepercayaan dan kesukarelaan antara Hulu dengan Hilir sehingga keberlangsungan pelaksanaan KIBARHUT dapat terwujud. 12 Get what you pay for

(siapa menanam akan memanen)

6 10,71 Aturan mencakup pengaturan bagi hasil sebagai imbalan atas “investasi” yang dikeluarkan selama proses

produksi untuk menghasilkan komoditas (KB). Aturan ini dapat diperluas untuk keperluan menjamin bahwa hulu bertindak untuk memuaskan Hilir (memasok KB) dikaitkan dengan aturan yang berkaitan dengan sanksi.

Jumlah 56 100

(22)

Tabel 12 menunjukkan bahwa upaya Hilir memastikan dan menjamin bahwa Hulu memasok hasil panen, didukung 6 aturan yang mengindikasikan upaya Hilir mengatasi asymmetric information dan mencegah perilaku oportunis/sub optimal dari Hulu. Ditemukan adanya aturan yang mengatur sanksi di Tipe 2 Sukaraja (5 aturan), Tipe 2 Krucil (3 aturan), Tipe 3 Sukaraja (6 aturan), dan Tipe 3 Krucil (5 aturan), sedangkan di Tipe 1 Bawang tidak terdapat aturan yang mengatur sanksi. Tidak adanya sanksi dapat menjadikan kelembagaan tidak bermakna karena tidak adanya resiko hukuman untuk berperilaku oportunis atau ingkar janji. Terjadinya perilaku oportunis menjadikan pasokan kayu KIBARHUT ke INPAK (Hilir) adalah tidak terjamin.

Pada sisi lain, terdapat juga ketentuan atau norma tidak tertulis yang dijalankan, dan menjadi ketentuan yang melekat bagi keterlibatan peserta dalam pelaksanaan KIBARHUT di lahan milik. Legalitas pemilikan lahan merupakan syarat mutlak58 yang harus dipenuhi karena pengelolaan hutan memerlukan proses produksi yang cukup lama hingga siap panen59. Legalitas lahan milik cukup beragam, yaitu berupa: (i) sertifikat hak milik; (ii) Letter C/Petok D; (iii) Girik; (iv) Surat Pembayaran Pajak Tanah (SPPT). Upaya pembuktiannya sudah menjadi kebiasaan yang ada di lokasi dan diakui peserta, sehingga pengaturan rinci tidak dituliskan secara formal dalam kontrak.

Peserta diminta membuktikan kepemilikan lahan secara hukum (legal aspect) dan sosial. Intinya adalah bahwa lahan kegiatan kemitraan (i) bukan merupakan lahan jarahan; (ii) bukan tanah/lahan yang bermasalah, (iii) ada pernyataan atau persetujuan saudara-saudaranya/ahli waris bahwa lahan tersebut akan ditanami pohon berkayu secara bermitra dengan INPAK (Hilir). Poin ketiga harus dipenuhi jika lahan yang diajukan ternyata bukti kepemilikan lahannya atas nama orang lain. Pembuktian tersebut harus diketahui oleh aparat desa, sehingga memudahkan petani selaku mitra pada waktu panen nantinya. Legalitas kepemilikan lahan milik tersebut menjadikan pelaksanaan di lahan milik mempunyai jaminan kepastian hak pemanfaatan dan

58 Legalitas lahan merupakan kondisi prasyarat (enabling conditions) berlangsungnya pengelolaan

hutan secara lestari. Indikator ini terdapat dalam skema sertifikasi sukarela (misal Standar LEI 5000-2, Standard LEI 5000-3) atau skema mandatory verification Dephut (SK Menhut No. 4795/Kpts-II/2002 untuk hutan alam dan SK Menhut No. 177/Kpts-II/2003 untuk hutan tanaman).

59 Masripatin dan Priyono (2006) memperkirakan sekitar 6–10 tahun, tetapi petani mulai melakukan

(23)

penggunaan lahan bagi petani dibandingkan pelaksanaan di bukan lahan milik (lahan/hutan negara).

Pada sisi lain, penjarangan atau tebangan pada pohon muda berdiamater kecil juga menjadi kondisi umum dan kebiasaan petani. Situasi umum tersebut mendorong INPAK (Hilir) menyesuaikan dengan ikut menampung kayu kecil melalui sawmill lokal/afiliasi (di Sukaraja dan Krucil), berupaya membiasakan petani untuk memanen pohon pada umur daurnya melalui fasilitas kredit tunda tebang (di Bawang dan Krucil), dan pemberlakuan harga pasar berdasarkan kelas diameter, termasuk harga premium pada pemasaran kayu KIBARHUT (di Sukaraja dan di Krucil). Pelaksanaan KIBARHUT juga dengan adanya keterlibatan ellite/tokoh warga yang dipercaya dan dihormati warganya. Keterlibatan dan peran tokoh warga tersebut sebagai penghubung (informasi dan komunikasi) para pelaku, sekaligus membina dan memotivasi petani peserta.

3. Pelaku (actors) kelembagaan KIBARHUT

Pelaku yang terlibat dalam kelembagaan KIBARHUT di Pulau Jawa adalah (i) INPAK; (ii) Petani; (iii) Perusahaan Mitra/Koordinator/Keltan. Jika model transaksi pasokan bahan baku60 dari Gibbons (2005) dijadikan acuan mendefinisikan principal– agents maka INPAK disebut Hilir (downstream parties) atau principal murni dan petani sebagai Hulu (upstream parties) atau agents murni. Perusahaan Mitra/Koordinator/Keltan adalah mitra antara yang bertindak sebagai agents pada hubungan tingkat pertama, tetapi menjadi principal pada hubungan tingkat kedua. a. INPAK

INPAK selaku principal kelembagaan KIBARHUT di lokasi contoh, adalah: (i) PT. BKL (group) di Kab. Tasikmalaya; (ii) PT. SGS (group) di Kab. Batang; dan (iii) PT. KTI di Kab. Probolinggo. KIBARHUT dimulai sejak tahun 1999 di PT. KTI sebagai langkah uji coba, dan mulai aktif diimplementasikan pada tahun 2001/02. Dua tahun kemudian atau pada tahun 2003/04, PT. SGS dan PT. BKL juga melakukan kegiatan KIBARHUT. Deskripsi ketiga INPAK tersebut adalah sebagaimana hasil kajian berikut ini.

60 Menggambarkan hubungan kemitraan atas transaksi penawaran suatu komoditas (transaksi supply)

(24)

1) PT. Bineatama Kayone Lestari

PT. Bineatama Kayone Lestari (BKL)61 memproduksi moulding dan komponen bahan bangunan, khususnya daun pintu dan bare core62. Produk bare core dipasarkan ke Taiwan, Korea, Cina, Singapura dan Malaysia dan dijual lokal ke beberapa pabrik block board di Jawa Barat. PT. BKL juga adalah IUIPHHK yang memproduksi veneer yang dipakai sendiri guna memproduksi block board.

Bahan baku menggunakan kayu kelompok jenis Meranti dan Rimba Campuran, serta Sengon. Pasokan kayu Meranti dan Rimba Campuran berasal dari Kalimantan, sedangkan kayu Sengon dari hutan rakyat di sekitar pabrik terutama dari Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, dan Kuningan. Mengantisipasi pasokan kayu Sengon yang semakin terbatas, PT. BKL melaksanakan KIBARHUT sejak tahun 2003. Visi yang disosialisasikan adalah “Hutan Lestari, Masyarakat Mandiri, Investasi Kembali”.

KIBARHUT dilakukan di: (i) hutan negara dikelola Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, yaitu di KPH Tasikmalaya, KPH Garut dan KPH Sumedang; (ii) tanah kas desa (TKD) atau pengangonan bekerjasama dengan pemerintah desa setempat; (iii) lahan HGU kebun, kerjasama dimulai tahun 2003/04 tetapi penanaman direalisasikan bertahap pada tahun 2003/04–2005/06 dan dilanjutkan pada tahun 2008/09 dan seterusnya; (iv) lahan milik TNI di Ciamis, dan (v) lahan milik/perorangan.

Realisasi KIBARHUT terfokus di 4 kabupaten di Jawa Barat, yaitu Tasikmalaya, Garut, Sumedang, dan Ciamis. Selama kurun waktu 4 musim tanam, PT. BKL mengklaim telah melakukan kemitraan membangun hutan seluas 3.381,46 ha dengan rincian sebagaimana pada Tabel 13.

Pada tahun tanam 2007/08, hampir seluruh bibit yang dipasok pihak penyedia tidak memenuhi standard bibit berkualitas layak tanam63 sehingga tanaman banyak yang tidak tumbuh dan mati. Kegiatan dianggap gagal dan dilakukan penanaman

61 Beroperasi berdasarkan izin usaha dari Kepala Kanwil Depperindag Prov. Jawa Barat No. 003/

Kanwil.10.08.18/IHPK/b/Iz.00.03/IV/99 tanggal 27 April 1999.

62 Bare core adalah bentuk produk setengah jadi yang dipergunakan sebagan bahan baku produk kayu

bersifat jadi seperti pintu atau meja. Bare core merupakan bahan lembaran tengah untuk block-board dimana face-backnya menggunakan veneer.

63 Bibit berkualitas memenuhi syarat layak tanam di lapangan jika: (i) berumur 2,5–3 bulan, ii) tinggi

bibit mencapai 25–30 cm, (iii) diameter batang minimal 3 mm pada leher akar, (iv) daun utuh dan batang tidak rusak, (v) tanah dan perakaran yang bagus dalam kantong plastik yang tidak boleh pecah (SNI 1-5006.1-1999 : Mutu Bibit; SNI 01-5006.6-2001 : Mutu benih Jeungjing; SNI 01-5006.7-2002 : Istilah dan definisi yang berkaitan dengan perbenihan dan pembibitan tanaman kehutanan).

(25)

ulang pada tahun 2008/09. Pada tahun tersebut, bekerjasama dengan BPDAS Citarum Citanduy juga dilakukan penanaman seluas 500 ha di Tasikmalaya, Garut dan Sumedang.

Tabel 13 Data kemitraan membangun hutan bersama rakyat oleh PT. BKL

Tahun Tanam Mitra Lokasi Luas (ha)

2003/2004 Keltan dan petani penggarap kebun Tasikmalaya 139,90 Kodim Ciamis dan Petani Ciamis 250,00

KTH dan Petani Ciamis 60,00

2004/2005 KPH Tasikmalaya dan KTH/LMDH Tasikmalaya 862,56 2005/2006 KPH Garut dan KTH/LMDH Garut 720,00

KPH Sumedang dan KTH/LMDH Sumedang 16,80 2006/2007 Keltan dan Petani Tasikmalaya 796,58

Keltan dan Petani Ciamis 468,62

Keltan dan Petani Garut 17,00

Jumlah 3.381,46

Sejak tahun 2007, untuk mensinergikan kegiatan KIBARHUT dan pasokan bahan baku kayu (supply) maka PT. BKL membentuk PT. Bina Inti Lestari (BIL). PT. BIL merupakan anak usaha yang konsentrasi kegiatannya pada pelaksanaan KIBARHUT dan memasok kebutuhan bahan baku untuk PT. BKL. BIL mengkoordinir bantuan gergaji mesin (band saw) ke kelompok usaha penggergajian (KUP) di sekitar lokasi KIBARHUT. KUP, selanjutnya, wajib memasok kayu gergajian sesuai ukuran64 yang ditentukan PT. BKL. Berdirinya KUP di sekitar lokasi penanaman, memberikan jaminan ke petani mengenai pembeli dan pasar kayu KIBARHUT. Mulai tahun 2008, PT. BIL meminta KUP juga terlibat berpartisipasi membangun hutan. Setiap KUP diharapkan memiliki 60–100 ha lahan ditanami Sengon, yang dilakukan pada lahan milik sendiri, sewa lahan, atau bekerjasama dengan petani di sekitar wilayah KUP.

2) PT. Sumber Graha Sejahtera

PT. Sumber Graha Sejahtera (SGS) adalah kelompok industri perkayuan berlokasi di Tangerang berdiri tahun 2002. Berdasarkan izin industri65, perusahaan memproduksi plywood (kayu lapis), Laminated Veneer Lumber (LVL), floorbase dan produk kayu lainnya dengan kapasitas 60.000 m³ per tahun. Produk PT. SGS

64 Kalangan usaha perkayuan di Tasikmalaya mengenal produk tersebut sebagai “pallet” yaitu balok

kayu ukuran panjang 130cm, lebar bervariasi antara 8–16 cm dan tebal sekitar 5 ± 0,2 cm.

(26)

mayoritas dipasarkan di dalam negeri, dan sebagian kecil diekspor ke Malaysia, Korea, dan Timur Tengah. Di Batang (Jawa Tengah) terdapat 2 industri termasuk PT. SGS Group yaitu PT. Kharisma Megah Dharma (KMD)66 dan PT. Makmur Alam Lestari (MAL)67. Keduanya merupakan INPAK penghasil veneer dengan kapasitas produksi masing-masing 30.000 m³ per tahun. Veneer hasil produksi PT. KMD dan PT. MAL, selanjutnya dikirim ke pabrik PT. SGS di Balaraja, Tangerang untuk diolah menjadi produk jadi/akhir.

PT. SGS Group merintis program pembangunan hutan rakyat kemitraan sejak tahun 2003, dengan harapan dapat (i) menyediakan peluang usaha bidang perkayuan dengan pasar yang jelas, dan berdasarkan harga berlaku di pasar; (ii) memberikan nilai ekonomi yang menguntungkan petani dan kelompok tani; (iii) mengoptimalkan pemanfaatan lahan milik petani yang kurang produktif; dan (iv) menjamin ketersediaan pasokan bahan baku untuk PT. SGS group. Lokasi lahan kegiatan KIBARHUT diupayakan berjarak maksimal 40 km dengan lokasi pabrik.

KIBARHUT telah dilaksanakan di 5 kabupaten pada 3 provinsi di Pulau Jawa. Tabel 14 menunjukkan bahwa selama kurun waktu 4 musim tanam (2003/04 s.d. 2006/07), PT. SGS mengklaim telah melakukan kemitraan penanaman Sengon sejumlah 3.449.906 batang. Bibit ditanam pada lahan seluas 6.980,74 ha tersebar di 5 kabupaten yaitu Pandeglang dan Lebak (Prov. Banten), Bogor (Prov. Jawa Barat), Banyumas dan Batang (Prov. Jawa Tengah). Pada tahun tanam 2007/08, kemitraan penanaman Sengon sekitar 3 juta batang Sengon yang tersebar di 5 (lima) provinsi, yaitu di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Pada saat pengumpulan data lapangan, realisasi penanaman belum seluruhnya masuk ke Divisi BioForest. Khusus di Batang, penanaman terealisasi sejumlah 185.000 bibit pada lahan seluas 462,50 ha yang tersebar di Bawang (60.000 bibit pada lahan seluas 150 ha), Tersono, dan Grinsing.

66 Izin Usaha Industri (IUI) No. SK.340/MENHUT-II/2007 tanggal 8 Oktober 2007 67 Izin Usaha Industri (IUI) No. SK.341/MENHUT-II/2007 tanggal 8 Oktober 2007

(27)

Tabel 14 Data kemitraan membangun hutan bersama rakyat pola PT. SGS

Tahun Tanam Lokasi (Kab. / Prov.) Jumlah Bibit (btg) Luas lahan (ha)

2003/2004 Lebak, Banten 29.500 218,75

Pandeglang, Banten 52.500 131,25

Batang, Jawa Tengah 278.000 685,63

2004/2005 Lebak, Banten 150.000 212,99

Pandeglang, Banten 44.500 85,46

Banyumas, Jawa Tengah 120.000 300,00

Batang, Jawa Tengah 316.000 487,50

2005/2006 Lebak, Banten 377.900 554,71

Pandeglang, Banten 150.006 366,77

Bogor, Jawa Barat 349.525 874,00

Banyumas, Jawa Tengah 120.500 301,25

Batang, Jawa Tengah 865.805 807,00

2006/2007 Lebak, Banten 282.170 694,43

Pandeglang, Banten 86.500 203,00

Batang, Jawa Tengah 227.000 1.058,00

Jumlah 3.449.906 6.980,74

PT. SGS Group melakukan kemitraan membangun hutan dalam 3 (tiga) bentuk yaitu bantuan (hibah) bibit, kerjasama (bagi hasil) dan sistem sewa tanah. Hibah bibit dengan membagikan bibit Sengon gratis ke petani. Bibit Sengon didatangkan sampai lokasi penanaman, kemudian petani melakukan penanaman di lahan yang dikuasainya dengan biaya sendiri. Petani memiliki seluruh kayu hasil panen (100%). Kerjasama dengan bagi hasil dilakukan dengan petani/mitra yang mempunyai lahan cukup luas dalam satu areal. Petani berkewajiban mengolah tanah, menanam, dan memelihara tegakan. PT SGS Group menyediakan bibit Sengon, pupuk, biaya pengolahan tanah dan pemeliharaan. Kayu hasil produksi dijual ke pabrik dan dengan porsi bagi hasil yang disepakati bersama (prosentase bagi hasil sesuai input produksi masing-masing pihak, tetapi praktek di lapangan adalah 50% untuk petani dan 50% untuk PT. SGS). Sewa tanah dilakukan dengan cara membayar uang sewa ke pemilik lahan sesuai harga standard sewa tanah yang berlaku. Penyediaan bibit, pupuk, pelaksanaan pekerjaan penanaman dan pemeliharaan dilakukan PT. SGS dengan melibatkan petani pemilik lahan sebagai buruh kerja. Hasil panen seluruhnya menjadi milik PT. SGS.

Kegiatan membangun hutan rakyat kemitraan semenjak tahun 2007 telah dikelola khusus oleh Divisi Plantation (Bio Forest). Di Kab Batang, Jawa Tengah, kegiatan dilaksanakan petugas lapangan (Soeranto DN cs) yang tidak memiliki akses langsung atau kewenangan dalam hal pembelian kayu. Soeranto cs, selaku petugas kemitraan, mengakui tidak mempunyai keterkaitan secara langsung dengan Mandira atau PT. Nusantara Makmur Sentosa (NMS) dan PT. Setya Alba (SA). Keduanya

(28)

adalah perusahaan di dalam kelompok PT. SGS yang bertanggungjawab mengatur ketersediaan bahan baku kayu untuk pabrik kelompok PT. SGS di Grinsing, Batang. Kendala tersebut, memunculkan ide petugas lapangan melakukan berbagai kegiatan pendukung KIBARHUT. Program pendukung yang ditawarkan adalah :

a). Kredit tunda tebang yaitu fasilitas pinjaman uang ke petani yang membutuhkan dana mendesak (biaya sekolah, hajatan, hari raya, dsb), namun pohonnya masih belum mencapai umur tebang (5 tahun). Sosialisasi dilakukan sejak awal tahun 2008, dilanjutkan pendataan petani di Kec. Bawang yang berminat bergabung, dan inventarisasi tegakan. Pada kegiatan tersebut, INPAK memberikan subsidi bunga karena bunga kredit dibebankan adalah 0,5% per tahun. Agunan yang diminta dari petani adalah (i) legalitas kepemilikan lahan milik (copy sertifikat, letter C atau SPPT); (ii) surat pernyataan yang menyatakan lahan tidak dalam sengketa, (iii) tanaman sengon yang dijadikan agunan adalah tanaman yang dalam waktu 6 bulan– 2 tahun kemudian sudah siap ditebang. Namun sampai dengan penelitian dilakukan belum ada realisasi kegiatan dimaksud.

b). Pembentukan koperasi untuk kegiatan pemasaran kayu. Koperasi selanjutnya bertindak sebagai supplier kayu untuk INPAK. Koperasi Graha Mandiri Sentausa (GMS) sudah terbentuk melalui pertemuan petani KIBARHUT di Desa Surjo, Kec. Bawang pada bulan Juli 2008.

3) PT. Kutai Timber Indonesia

PT. Kutai Timber Indonesia (KTI) memulai operasional produksi plywood dan lumber di Probolinggo pada tahun 1974. Kapasitas produksi plywood sekitar 147.000 m³/tahun, dan wood working sebesar 36.000 m³/tahun berdasarkan SK Menhut No. 63/Menhut-VI/BPPHH/2006 tanggal 16 Januari 2006. Pada bulan Maret 2008, PT. KTI mulai memproduksi particleboard dengan kapasitas produksi 128.000 m³/tahun. PT. KTI melakukan kegiatan penanaman jenis cepat tumbuh (fast growing species/FGS), yaitu Sengon Laut (Paraserianthes falcataria), Balsa (Ochroma sp.), Jabon (Anthocephalus cadamba), Mindi (Melia azedarach), Sungkai (Peronema canescens), Waru (Hibiscus sp.), Gmelina (Gmelina arborea), dan jenis lainnya. Kegiatan dilakukan sejak tahun 1998 di kebun percobaan Sepuh Gembol, Kec Wonomerto, Probolinggo.

Mulai tahun 2001 kegiatan diperluas menjadi program KIBARHUT, dan dikelola oleh Divisi Penanaman dan Lingkungan (Divisi P & L). KIBARHUT dilakukan dengan maksud (i) mengurangi ketergantungan kebutuhan terhadap kayu dari hutan alam, dan dalam jangka panjang seluruh pasokan kebutuhan bahan baku menggunakan kayu dari hutan tanaman; dan (ii) memanfaatkan lahan rakyat yang

(29)

tidak/kurang produktif di Jawa Timur. Sampai dengan tahun tanam 2006/2007, PT. KTI telah melakukan kemitraan membangun hutan seluas 4.174,92 ha tersebar di 4.333 lokasi (11 kabupaten se-provinsi Jawa Timur) sebagaimana Tabel 15. Realisasi KIBARHUT tahun 2007/2008 di Krucil seluas 595,56 ha tersebar di 901 lokasi dengan keterlibatan sejumlah 461 pemilik lahan.

Tabel 15 Data penanaman kemitraan PT. KTI

Tahun Lokasi Kategori Mitra Luas (ha) Sites Jenis tanaman 1997/98 Probolinggo Swakelola 2,50 1 Campur 2001/02 Lumajang Masyarakat 1,00 7 Sengon

Probolinggo swakelola, institusi, masyarakat

314,66 32 Sengon, Gmelina, Jabon, Balsa, Waru

Pasuruan Masyarakat 7,56 11 Sengon Malang Masyarakat, institusi 16,61 5 Sengon

Surabaya Institusi 24,98 4 Sengon

2002/03 Pasuruan Masyarakat 68,23 118 Sengon Bondowoso Masyarakat 39,92 112 Balsa Probolinggo Masyarakat,swakelola 24,84 43 Sengon, Balsa

Malang Masyarakat 37,20 66 Sengon

2003/04 Probolinggo Masyarakat, institusi 335,69 200 Sengon, Balsa Pasuruan Masyarakat 11,00 38 Sengon Jember Institusi (PTPN XII

di Jember & Jatim)

588,15 50 Sengon, Balsa, Waru, Gmelina, campur Banyuwangi Masyarakat 1,42 11 Sengon 2004/05 Blitar Masyarakat 181,43 357 Sengon

Jember Institusi 200,00 4 Sengon

Pasuruan Masyarakat 4,28 9 Sengon

Probolinggo Masyarakat, Institusi 142,10 178 Sengon,Gmelina, campur Tulungagung Institusi 10,00 1 Sengon

2005/06 Probolinggo Masyarakat, Institusi 377,59 587 Sengon, Balsa Malang Institusi 20,66 29 Sengon, Balsa Jember Masyarakat 81,39 197 Sengon, Balsa Pasuruan Masyarakat 15,79 55 Sengon

Tulungagung Institusi 261,80 4 Sengon

2006/07 Situbondo Masyarakat 4,94 7 Sengon, Gmelina

Probolinggo Masyarakat, Institusi 1.266,00 1.865 Sengon, Jabon, Balsa,Waru

Blitar Masyarakat 1,48 4 Sengon

Malang Masyarakat 12,25 22 Sengon Bondowoso Masyarakat 31,54 68 Sengon Lumajang Masyarakat 20,98 66 Sengon

Jember Masyarakat 68,93 182 Sengon, Balsa, Jabon

J u m l a h 4.174,92 4.333

KIBARHUT dilakukan dengan menggunakan berbagai macam jenis tanaman berkayu, dan dua jenis mayoritas adalah Sengon (47,84%) dan Balsa (44,65%). Pada awal kegiatan, pembangunan hutan KIBARHUT didominasi jenis Sengon sedangkan jenis lainnya hanya ditanam pada lahan swakelola. Jenis Balsa mulai ditanam dalam skala besar pada lahan yang dikuasai mitra institusi (Aviland, KTI bk dan PTPN XII)

(30)

pada tahun tanam 2003/2004, dan penanaman secara luas di lahan milik petani sejak tahun tanam 2005/2006.

KIBARHUT dilakukan bekerjasama dengan mitra yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Mitra terlibat adalah perorangan atau kelompok, instansi pemerintah, perguruan tinggi, BUMN, swasta, institusi keagamaan (pesantren dan gereja), dan LSM/Yayasan. Kemitraan pada periode awal (tahun tanam 2001/02–2003/04) dilakukan dengan mengalokasikan sumberdaya sebagai faktor produksi KIBARHUT yang lebih besar. Untuk tahun tanam 2005/06 dan selanjutnya, PT. KTI hanya membantu faktor produksi bibit tanaman, namun tetap memberikan bimbingan teknis, saran, pertimbangan, dan jaminan pasar terhadap hasil panen.

b. Petani

Petani sebagai Hulu atau agents murni pada kelembagaan KIBARHUT dibedakan menjadi (i) petani pemilik lahan yaitu petani yang melakukan kerjasama dan bekerja pada lahan miliknya atau yang dikuasainya, dan (ii) petani non-pemilik lahan yaitu petani terlibat dalam arena aksi sebagai penggarap (authorized user) pada lahan yang dimiliki atau dikuasai mitra antara atau pihak lain. Petani pelaku KIBARHUT dapat dideskripsikan sebagai berikut (i) di Tipe 1 Bawang adalah warga desa terdaftar sebagai anggota Keltan desa atau tidak terdaftar (2 tingkat) atau perorangan (1 tingkat); (ii) di Tipe 2 Sukaraja adalah anggota Keltan yang dibentuk koordinator wilayah atau Korwil (2 tingkat); (iii) di Tipe 2 Krucil adalah anggota kelompoknya koordinator pengelola atau KP (2 tingkat) atau warga perorangan (1 tingkat); (iv) di Tipe 3 Sukaraja adalah anggota KTH/LMDH; (v) di Tipe 3 Krucil adalah penggarap lahan HGU.

Mayoritas (65,56%) umur petani contoh berada pada usia diatas 41 tahun. Temuan ini memperkuat fenomena yang umum disinyalir bahwa telah terjadi perubahan/pergeseran budaya, sehingga tenaga kerja (petani) umumnya di dominasi penduduk yang sudah tua atau berusia lanjut. Jika pun terdapat petani berusia muda maka jumlahnya sangat sedikit, dan biasanya karena sangat terpaksa atau karena tidak ada alternatif pekerjaan lainnya (Ali, 2007; diskusi dengan Soeranto DN, 2008). Kaum muda desa umumnya lebih tertarik menjadi tukang ojek atau memburuh ke kota. Kondisi ini sesungguhnya menjadi peluang pengembangan tanaman Sengon karena perawatan atau pemeliharaannya tidak perlu rutin. Setelah penanaman, tanaman

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :