• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agribisnis Padi Sawah dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani pada Pengembangan Wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Agribisnis Padi Sawah dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani pada Pengembangan Wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Pengembangan Wilayah

Pengembangan wilayah mengandung arti yang luas, tapi pada prinsipnya merupakan berbagai upaya yang dilakukan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup disuatu wilayah tertentu. Tujuan pengembangan wilayah mengandung dua sisi yang saling berkaitan. Disisi sosial ekonomis pengem-bangan wilayah adalah upaya memberikan kesejahteraan kualitas hidup masyarakat, misalnya menciptakan pusat-pusat produksi memberikan kemudahan prasarana dan pelayanan logistik. Disisi lain, secara ekologis pengembangan wilayah juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan sebagai akibat dari campur tangan manusia terhadap lingkungan. Alasan diperlukan upaya pengembangan wilayah pada suatu daerah tertentu biasanya terkait dengan ketidakseimbangan demografi, tingginya biaya atau ongkos produksi menurut taraf hidup masyarakat, ketertinggalan pembangunan, atau adanya kebutuhan yang sangat mendesak (Triutomo, 2001).

Menurut Sukirno (2001) bila dilihat dari aspek ekonomi, pengembangan wilayah dapat diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan masyarakat meningkat dalam jangka waktu yang panjang. Dari pengertian tersebut dapat terlihat pembangunan ekonomi mempunyai sifat antara lain :

a. Sebagai proses, berarti merupakan perubahan yang terjadi terus menerus. b. Usaha untuk menaikkan tingkat pendapatan masyarakat, dan

(2)

Target pengembangan wilayah untuk jangka panjang adalah pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan target itu, dirancanglah skenario tertentu agar kekurangan-kekurangan yang dihadapi dapat diupayakan melalui pemanfaatan resources, masalah ketika berbicara dalam konteks pengembangan wilayah di Indonesia munculah, persoalan berupa kekurangan-kekurangan teknologi untuk pengolahan resources yang berlimpah. Sementara itu penduduk sebagai sumber daya manusia lebih mengarah social dimention. Dimensi sosial ini penting sekali. Setiap masyarakat mempunyai pola

tertentu untuk menanggapi hasil teknologi (Sasmojo, 2001).

Menurut Zen (1980) perkembangan Indonesia dalam dua tiga dasawarsa mendatang akan sangat bergantung pada kemampuannya mengarahkan tiga unsur pokok, yaitu (1) ketersediaan SDA, (2) kemampuan SDM, dan (3) pemanfaatan Teknologi. Yang kesemuanya harus ditujukan terutama untuk kesejahteraan masyarakat. Hubungan ketiga unsur tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.1. Tiga Pilar Penopang Ilmu Pengembangan Wilayah. Teknologi

Sumber Daya Alam Sumber Daya Manusia

(3)

Pengembangan wilayah sangat tergantung pada kemampuan tiga unsur pokok seperti pada Gambar 2.1, yaitu 1. ketersediaan sumber daya alam,

2. Kemampuan sumber daya manusia dan 3. pemanfaatan teknologi. 2.2. Teori Pengembangan Wilayah

Bertolak dari pemikiran tentang konsep tata ruang, kemudian muncul pemikiran mengenai pengembangan wilayah. Pada esensinya konsep pengem-bangan wilayah adalah sesuatu upaya sistematis dan terencana untuk pening-katan kesejahteraan masyarakat dalam suatu wilayah tertentu yang direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan pertimbangan terhadap kondisi tata ruang wilayah serta kondisi sosial budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Teori-teori yang berkenaan dengan pengembangan wilayah sudah banyak dikemukakan oleh para ahli. Diantaranya adalah teori resource endowment, teori export base, teori pertumbuhan wilayah neo klasik, teori ketidakseimbangan

pertumbuhan wilayah, teori pengembangan sumber daya manusia dan teori lokasi. Keterangan secara ringkas mengenai teori ini dapat diutarakan sebagai berikut : a. Teori resource endowment, teori ini bertolak dari suatu pandangan bahwa

(4)

b. Teori export base, teori ini petama kali dikembangkan oleh Douglas C. North (1955). Menurut North, kekuatan utama ekonomi suatu wilayah tergantung kepada permintaan eksternal akan barang dan jasa yang diproduksi dari wilayah tersebut. Permintaan ekternal akan mempengaruhi penggunaan modal dan teknologi dan diekspor oleh wilayah itu, karena itu pertumbuhan wilayah jangka panjang sangat tergantung pada kegiatan industri ekspornya. Atas dasar itu, keberlanjutan perkembangan wilayah sangat banyak ditekan pada peningkatan aliran modal dan teknologi, dimana persyarat untuk itu berkaitan dengan jumlah modal yang ditanamkan oleh pemilik modal, baik dari dalam maupun luar, serta berkaitan pula dengan sumber daya manusia yang memiliki keahlian keahlian khusus.

c. Teori pertumbuhan wilayah neo klasik, yang dipelopori oleh Borts Stein (1964) kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Roman (1965) dan Siebert (1969), pertumbuhan ekonomi wilayah sangat tergantung kepada faktor tenaga kerja, ketersediaan modal dan kemajuan teknologi. Teori ini tidak menekankan pentingnya faktor permintaan.

(5)

konteks inilah diperlukan kerjasama yang erat dan saling menguntungkan antar wilayah, agar pertumbuhan ekonomi dapat didistribusikan secara merata. e. Teori pengembangan SDM, teori ini mengasumsikan bahwa sumber daya manusia (sdm) merupakan faktor penentu bagi kemajuan ekonomi suatu wilayah. Bukti empirik menunjukkan, ketersediaan sumber daya manusia memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, investasi pada sumber daya manusia menjadi lebih utama untuk meningkatkan skala pengembalian dalam jangka panjang.

f. Teori lokasi, perkembangan teori lokasi dimulai dari Von Thunnen, yang mengembangkan teorinya berdasarkan pengamatan hasil pertanian di Mcklenberg yang selanjutnya dikembangkan Weber, Palender dan Hoover, Weber mengenalkan indeks material dan indeks berat. Faktor-faktor yang menentukan lokasi adalah faktor endowment, pasar dan harga, bahan baku dan energi, angkutan sebagai input

(6)

2.3. Tujuan Pengembangan Wilayah

Sasaran pengembangan wilayah harus diterjemahkan dari tujuan pembangunan nasional. Dimana tujuan pembangunan daerah harus konsisten dengan tujuan pembangunan nasional yang umumnya terdiri atas :

a) Pemerataan pendapatan.

b) Mengurangi perbedaan antara tingkat pendapatan, kemakmuran, pembangunan serta kemampuan antar daerah.

c) Membangun struktur perekonomian agar tidak berat sebelah d) Mencapai pertumbuhan pendapatan perkapita yang cepat

(Hadjisaroso, 1994).

Tujuan utama dari pengembangan wilayah adalah menyerasikan berbagai kegiatan pembangunan sektor dan wilayah. Sehingga pemanfaatan ruang dan sumber daya yang ada di dalamnya dapat optimal mendukung kegiatan kehidupan masyarakat sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan wilayah yang diharapkan (Riyadi, 2002).

Dengan demikian tujuan pengembangan wilayah adalah untuk mening-katkan daya guna dan hasil guna sumber daya yang terbesar di wilayah Indonesia guna mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Untuk itu arah dan kebijak-sanaan pengembangan wilayah adalah :

(7)

b. Pembangunan sektoral dilakukan secara saling memperkuat untuk meningkatkan pertumbuhan, pemerataan dan kesatuan wilayah nasional serta pembangunan yang berkelanjutan.

c. Pengembangan wilayah diupayakan saling terkait dan menguatkan sesuai dengan potensi wilayah.

Jadi arah kebijaksanaan pengembang wilayah pada prinsipnya mendukung dan memperkuat pembangunan daerah yang merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Dalam pembangunan nasional pertumbuhan ekonomi diusahakan tinggi, dimana industri pengolahan menjadi tulang punggung yang didukung oleh pertanian yang mantap. Hal ini juga berlaku pada proses pembangunan daerah (Ary, 2001).

Sejalan dengan semangat Undang Undang Otonomi Daerah, pada intinya tugas pemerintah pusat tidak lagi menyusun rencana-rencana pengembangan di daerah, melainkan lebih berperan pada penciptaan wilayah-wilayah/unit-unit otonom dalam suatu sistem jaringan (network) yang kuat, dimana setiap unit otonom diarahkan untuk mampu bersaing menjadi pusat dari jaringan tersebut pada aspek yang spesifik sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh daerah masing- masing. Konsekuensinya adalah bahwa setiap daerah otonom dimotivasi pemerintah pusat untuk mampu menciptakan keunggulan yang spesifik.

(8)

Dengan demikian pengembangan wilayah sesungguhnya bahagian integral dari perencanaan wilayah yang tidak saja menyangkut pada perencanaan spasial dari suatu wilayah, tetapi lebih diutamakan pada perencanaan bagaimana potensi wilayah dapat dimanfaatkan secara optimal oleh stakeholders demi peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat. Sejalan dengan itu, pengembangan wilayah juga lebih menekankan pada partisipasi atau keikutsertaan masyarakat dengan cara memberdayakan masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam dan sumber daya buatan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar.

Hal ini dapat diartikan dibandingkan dengan perencanaan wilayah yang lebih menekankan pada pembangunan spasial dengan sedikit memperhatikan pembangunan a-spasial yang sebelumnya tidak ada pada suatu wilayah menjadi ada, maka pengembangan wilayah lebih berperan pada upaya merencanakan peningkatan kinerja wilayah melalui aktivitas/kegiatan masyarakat yang sudah ada melalui pemberdayaan tadi. Dan pada akhirnya, baik perencanaan maupun pengembangan wilayah berujung pada sebuah tujuan yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

2.4. Perencanaan Wilayah

Menurut George R. Terry, perencanaan adalah upaya untuk memilih dan menghubungkan fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai massa yang akan datang. Dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan (Riyadi dan Bratakusumah, 2003).

(9)

masa akan datang, sangat berkenaan dengan hubungan antara tujuan dan keputusan kolektif dan mengusahakan kebijaksanaan dan program yang menyeluruh. Bilamana cara berfikir ini diterapkan, maka dikatakan bahwa perencanaan sedang dilaksanakan.

Bersamaan dengan itu Conyers & Hills (1994) menyatakan bahwa perencanaan sebagai suatu proses yang berkesinambungan yang mencakup keputusan atau pilihan-pilihan berbagai alternatif penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu pada masa yang akan datang. Perencanaan menurut Widodo (2006), adalah upaya institusi publik untuk membuat arah kebijakan pembangunan yang harus dilakukan disebuah wilayah baik di negara maupun di daerah dengan didasarkan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh wilayah.

Wilayah sebagai suatu unit geografis yang dibatasi oleh kriteria tertentu yang bagian-bagiannya bergantung secara internal (Budiharsono, 2005). Menurut Wibowo (2004) definisi wilayah adalah suatu unit geografi yang membentuk suatu kesatuan. Unit geografi adalah ruang yang meliputi aspek fisik tanah, biologis, ekonomi, sosial dan budaya. Sejalan dengan itu wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrasi dan aspek fungsional (Tim Redaksi Fokusmedia, 2007).

(10)

bagaimana pemanfaatan potensi wilayah, baik potensi sumberdaya buatan yang harus dilaksanakan secara fully dan eficiently agar pemanfaatan potensi dimaksud benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat secara maksimal. Disamping itu juga kita perlu memikirkan bagaimana dunia usaha dapat berkiprah secara ekonomis serta pemerintah mendapatkan manfaat dari semua keadaan ini bagi melangsungkan pemerintahan yang baik.

Glasson (1974) menambahkan bahwa perencanaan wilayah berada antara perencanaan fisik dan perencanaan ekonomi. Perencanaan fisik adalah perencanaan struktur fisik sesuatu daerah, tata guna lahan, komonikasi, utilitas dan sebagainya. Dalam hal ini kemampuan perencanaan fisik adalah lebih unggul dari pada mekanisme pasar. Perencanaan ekonomi lebih berkenaan dengan struktur ekonomi sesuatu daerah dan tingkat kemakmurannya secara keseluruhan. Perencanaan ekonomi lebih bertumpu pada mekanisme pasar dari pada perenca -naan fisik yang sangat bertumpu pada pengendalian yang bersifat langsung.

(11)

2.5. Perencanaan Tata Ruang

Tata ruang Indonesia saat ini dalam kondisi krisis. Krisis tata ruang terjadi karena pembangunan yang dilakukan di suatu wilayah masih sering dilakukan tanpa mengikuti rencana tata ruang, tidak mempertimbangkan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan, serta tidak memperhatikan kerentanan wilayah terhadap terjadinya bencana alam. Keinginan untuk memperoleh keuntu ngan ekonomi jangka pendek seringkali menimbulkan keinginan untuk mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta memperbesar resiko timbulnya korban akibat bencana alam. Selain itu sering terjadi konflik pemanfaatan ruang antar sektor, contohnya konflik antar kehutanan dan pertambangan. Beberapa penyebab utama terjadinya permasalahan tersebut adalah :

a. Belum tepatnya kompetensi sumber daya manusia dalam bidang pengelolaan penataan ruang

b. Rendahnya kualitas dari rencana tata ruang

c. Belum diacunya perundangan penataan ruang sebagai payung kebijakan pemanfaatan ruang bagi semua sektor

(12)

a. Arahan lokasi kegiatan

b. Batasan kemampuan lahan, termasuk di dalamnya adalah daya dukung lingkungan dan kerentanan terhadap bencana alam

c. Efisiensi dan sinkronisasi pemanfaatan ruang dalam rangka penyelenggaraan berbagai kegiatan.

Penataan ruang yang baik juga harus didukung dengan regulasi tata ruang yang searah, dalam arti tidak saling bertabrakan antar sektor, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan, serta kerentanan wilayah terhadap terjadinya bencana (Tim Redaksi Fokusmedia, 2007).

Pemanfaatan ruang perlu ditata agar tidak terjadi pemborosan dan

penurunan kualitas ruang. Sementara tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (2) tentang penataan ruang dan (3) UU No 26 tahun 2007, menyebutkan bahwa penyelenggaraan penataan ruang

bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan

nasional. Sasaran yang diharapkan tersedianya rencana tata ruang yang konsisten dan efektif sesuai dengan kaidah penataan ruang di antaranya mengindahkan kenyamanan lingkungan, keamanan serta budaya dan adat masyarakat setempat

2.6. Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Dalam Pengembangan Wilayah

2.6.1. Umur

(13)

besar seseorang dapat bekerja dengan baik dan maksimal. Untuk mengetahui hubungan antara umur petani dengan pendapatan, ternyata tidak ada hubungan.

Petani yang berumur sekitar 50 tahun keatas biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian yang mengubah cara kerja, cara berfikir, dan cara hidupnya. Mereka ini bersikap apatis terhadap adanya teknologi baru dan inovasi, semakin muda umur petani, maka semakin tinggi semangatnya mengetahui hal baru, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk cepat melakukan adopsi walaupun sebenarnya mereka masih belum berpengalaman soal adopsi tersebut (Kartasapoetra, 1994).

Menurut Soekartawi (1999) rata-rata umur petani Indonesia yang cenderung tua dan sangat berpengaruh pada produktivitas sektor pertanian Indonesia. Petani berusia tua biasanya cenderung sangat konservatif (memelihara) menyikapi perubahan terhadap inovasi teknologi, berbeda halnya dengan petani yang berusia muda.

2.6.2. Pendidikan

Pendidikan dinilai sebagai sarana meningkatkan pengetahuan tentang teknologi pertanian yang baru, karena pendidikan merupakan sarana belajar dimana selanjutnya diperkirakan akan menanamkan pengertian sikap yang menguntungkan menuju praktek pertanian yang moderen (Soekartawi, 1988).

(14)

Banyaknya atau lamanya sekolah/pendidikan yang diterima seseorang akan berpengaruh terhadap kecakapannya dalam pekerjaan tertentu. Sudah tentu kecakapan tersebut akan mengakibatkan kemampuan yang lebih besar dalam menghasilkan pendapatan bagi rumah tangga (Soekartawi, 1999).

Tingkat pendidikan petani cenderung mempengaruhi tingkat penghasilan secara positif, makin tinggi tingkat pendidikan maka penghasilannya cenderung makin meningkat. Hal ini didukung oleh keinginan petani muda untuk melanjutkan sekolah terutama dengan sistem pembelajaran jarak jauh sehingga tidak meninggalkan usahatani, tidak mengganggu waktu kerja dapat mengatur jadwal sendiri, lebih terjangkau dan dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sambil sekolah (Azhari, 2002).

2.6.3. Lamanya Berusahatani

Lamanya berusahatani, petani yang sudah lebih lama bertani akan lebih mudah menerapkan inovasi dari pada petani pemula. Hal ini dikarenakan pengalaman lebih banyak sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil keputusan (Soekartawi, dkk, 1986). Selanjutnya dengan pengertian yang sama Lubis (2000) menyatakan petani yang sudah lebih lama berusahatani akan lebih mudah menerapkan teknologi dari pada petani pemula. Dikarenakan lamanya berusahatani mengakibatkan pengalamannya menjadi banyak, sehingga mudah membuat perbandingan dalam mengambil keputusan.

(15)

lama bertani akan lebih mudah menerapkan anjuran penyuluhan dari pada petani pemula, hal ini dikarenakan pengalaman yang lebih banyak sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil keputusan (Ginting, 2002).

2.6.4. Lamanya Berorganisasi P3A

Organisasi merupakan unit operatif dalam orde sosial yang mampu menggerakkan manusia untuk menjalankan berbagai fungsi. Organisasi menjadi kerangka institusional bagi segala interaksi sosial yang mencakup aktivitas produktif, mempunyai kekuasaan dan melembagakan. Dengan organisasi dapatlah diperoleh keuntungan melalui bersama. Aktivitas kolektif menjamin peningkatan “kemampuan” hidup, maka berbagai jenis organisasi bersifat efisien dan

instru-mental dalam mengusahakan berbagai hasil (Mubyarto dan Kartodirdjo, 1988). Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) merupakan organisasi mandiri yang tidak di bawah pemerintah desa. Organisasi ini boleh berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya mengurusi masalah air, tetapi dapat juga berkembang menjadi usaha ekonomi jika dikehendaki oleh para anggotanya (Dinas PU Pengairan Sumatera Utara, 1999). Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) merupakan organisasi sosial dari petani, yang tidak berinduk pada golongan/partai politik, merupakan organisasi yang bergerak di bidang pertanian, khususnya dalam kegiatan pengolahan air pengairan sehubung kepentingan melangsungkan usahatani bersama (Kartasapoetra dan Mul Mulyani, 1991). Tujuan organisasi pengairan P3A adalah :

(16)

membuat keputusan guna memecahkan permasalahan yang dihadapi petani, baik yang dapat dipecahkan sendiri oleh petani maupun yang memerlukan bantuan dari luar.

2. Memberikan pelayanan kebutuhan petani terutama dalam memenuhi kebutuhan air irigasi untuk usahataninya. Dalam perkembangannya P3A diharapkan dapat menjadi suatu unit usaha mandiri yang mampu menyediakan sarana produksi pertanian maupun dalam pemasarannya.

3. Menjadi wakil petani dalam melakukan tawar menawar dengan pihak luar (pemerintah, LSM, atau lembaga lainnya) yang berhubungan dengan kepentingan petani (Dinas PU Pengairan Sumatera Utara, 1999).

Pada umumnya organisasi ini sudah ada sejak air irigasi mulai menjadi bagian dari kehidupan pertanian. Dulu organisasi seperti ini terkait dengan pemerintahan desa sebagai pusat pengaturan kemasyarakatan di desa, meskipun ada yang berdiri sendiri seperti Subak di Bali. Dalam perkembangannya organisasi ini sudah sejak lama ada secara tradisional dan mengakar dalam masyarakat, karena dibentuk sendiri oleh petani berdasarkan kebutuhannya. Pada zaman orde baru, pemerintah menganjurkan di bentuk organisasi P3A secara formal yang memuat AD dan ART yang dibuat oleh pemerintah sabagai penjalan kegiatannya (Dinas PU Pengairan Sumatera Utara, 1999).

(17)

atau bahkan tinggal papan nama, belajar dari pengalaman tersebut maka cara-cara tersebut harus ditinggalkan (Dinas PU Pengairan Sumatera Utara, 1999).

2.6.5 Jumlah Tanggungan Keluarga

Menurut Hasyim (2006), jumlah tanggungan keluarga adalah salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan pendapatan untuk memenuhi kebutuhannya. Banyaknya jumlah tanggungan keluarga, akan mendorong petani untuk melakukan banyak kegiatan/aktivitas terutama dalam upaya mencari dan menambah pendapatan keluarga (Ginting, 2002).

Jumlah tanggungan keluarga semakin banyak (anggota keluarga) akan semakin meningkat pula beban hidup yang harus dipenuhi. Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi keputusan petani dalam berusahatani. Keluarga yang memiliki sebidang lahan tetap saja jumlahnya semakin sempit dengan bertambahnya anggota keluarga sementara kebutuhan akan produksi terutama pangan semakin bertambah (Daniel, 2002).

(18)

2.6.6. Total Luas Lahan Usahatani

Lahan pertanian diartikan sebagai tanah yang disiapkan untuk diusahakan usahatani. Disamping ukuran luas lahan, maka ukuran nilai tanah perlu diperhatikan seperti tingkat kesuburan tanah, lokasi, topografi, status kepemilikan tanah dan faktor lingkungan. Nilai atau harga tanah dengan status milik lebih mahal bila dibandingkan dengan lahan yang bukan milik. Luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha dan akhirnya mempengaruhi efisien tidaknya suatu usaha pertanian (Soekartawi, 1989).

Petani yang mempunyai luas lahan yang lebih luas akan lebih mudah menerapkan inovasi dibandingkan dengan petani berlahan sempit. Hal ini dikarenakan keefektifan dan efisiensi dalam penggunaan sarana produksi. Besarnya luasan usahatani menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat petani, dengan semakin luasnya lahan sehingga semakin tinggi produksi dan pendapatan yang diterima (Soekartawi, 2002).

Luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha dan akhirnya mempengaruhi efisien tidaknya suatu usaha pertanian. Makin luas lahan pertanian maka lahan semakin tidak efisien, karena pemikiran untuk mengupayakan lahan secara efisien semakin berkurang. Sebaliknya pada lahan yang sempit, upaya pengawasan terhadap pemakaian faktor produksi semakin baik sehingga lebih efisien. Meskipun demikian, luasan yang terlalu kecil cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien (Soekartawi, 1989).

(19)

pendidikan, tidak berpengaruh terhadap pendapatan petani. Tingkat luasan usahatani menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat petani, semakin luas areal menggambarkan semakin tinggi produksi dan pendapatan yang di terima (Tim Universitas Udayana, 2008).

2.7. Kearifan Lokal Dalam Bentuk Doa Turun Tanam Pada Pengembangan Wilayah

2.7.1. Kearifan Lokal Dalam Bentuk Doa Turun Tanam Untuk Turun Hujan

Doa turun tanam adalah salah satu jenis ritual atau upacara minta hujan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah perdesaan yang mayoritas pekerjaan utamanya sebagai petani. Menurut kepercayaan masyarakat tersebut, permintaan datangnya hujan dilakukan dengan bantuan bidadari, Dewi Sri yang merupakan dewi padi, lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Melalui doa-doa yang dilakukan penuh keyakinan. Datangnya hujan berarti datangnya rakhmat Illahi yang menjadi sumber hidup bagi seluruh makhluk bumi, termasuk manusia. Lahan-lahan yang digarap meliputi lahan basah atau sawah, lahan kering berupa tegalan, serta tanah tadah hujan sehingga saat musim kemarau datang lahan ini sangat kering dan petani tidak dapat menggarap sawah mereka. Masyarakat di desa masih percaya, melalui ritual doa turun tanam maka akan segera turun hujan yang sangat berguna agar sumur-sumur dan sumber mata air keluar lagi airnya, sawah dan ladang tidak lagi tandus, dan berbagai tanaman bersemi kembali bagi kelangsungan hidup mereka.

(20)

menghasilkan panen melimpah. Harapan ini diwujudkan dalam sebuah tradisi wiwit tandur, yakni mempersembahkan sesaji pada saat penanaman padi di sawah. Menanam padi secara tradisional adalah suatu cara untuk bersyukur kepada Tuhan dalam bentuk ritual (Zulkani, 2013).

Ratusan warga di Desa Karang Melati Kecamatan Kota Demak menggelar sedekah bumi sekaligus berdoa meminta hujan. Warga berkumpul dikediaman kepala desa, sembari membawa bekal nasi tumpeng dari rumah masing-masing. Bekal nasi dan lauk pauk dimakan bersama-sama setelah berdoa bersama dengan masyarakat dan sesepuh warga. Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun, warga berdoa khusuk dipimpin ulama dan sesepuh masyarakat dalam untaian tahlil dan shalawat diselipkan permintaan kesejahteraan untuk warga, tak lupa juga diminta doa turun hujan supaya petani mudah bercocok tanam. Sejumlah sesepuh warga bersama kapala desa menjalani tradisi berjalan mengelilingi rumah sebanyak tiga kali diakhiri shalawat Nabi. Mereka membawa serta alat pertanian semacam cangkul dan pecut sebagai perlambang penolak bala (Apitan, 2012).

(21)

tidak hujan modal bercocok tanam yang digelontarkannya untuk sawahnya akan sia-sia, sebagian besar petani di daerah ini sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk biaya bercocok tanam padi (Admini, 2011).

2.7.2. Kearifan Lokal Dalam Bentuk Doa Turun Tanam Kesuburan Tanah

Upacara Tron U Blang, dalam upacara ini dilaksanakan ritual berupa penyembelihan hewan seperti kerbau dan kambing pada babah lhueng atau mulut parit pengairan menuju lahan, sehingga darah yang mengalir keparit mengalir bersama air ke lahan-lahan persawahan milik petani. Pada awal sebelum masa tanam tidak ada pupuk tertentu yang diberikan untuk pengolahan media tanah, saat itulah darah hewan tadi bekerja memperkaya unsur-unsur hara di dalam tanah. Namun bila dipandang dari sisi lain darah kerbau atau darah kambing juga memiliki fungsi lain pada tahap sebelum penanaman.

Darah hewan sebenarnya dapat juga menyuburkan sawah, dapat diperhatikan saat kaum ibu yang suka menanam bunga di halaman rumah sering menyiram bunganya dengan air basuhan ikan yang mengandung darah, air tersebut dipercaya dapat menyuburkan tanaman sehingga tanaman mereka lebih hijau dan cepat berbunga. Demikian pula dengan darah kerbau yang mengalir kelahan persawahan mereka tentu dapat membantu menyuburkan tanah yang sebentar lagi akan ditanamai padi (Hermaliza, 2011).

“Mendarahi kapalo banda ini adalah tradisi Desa Jorong Simancuang setiap turun ke sawah,” tradisi itu intinya adalah zikir dan doa bersama untuk

(22)

ternak lainnya untuk disantap bersama warga kampung. “Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1982, sejak warga mulai menetap di daerah ini,”.

Warga lainnya membeli kerbau dan bahan masak. Sementara beras dikumpulkan dari rumah ke rumah. Daging kerbau dimasak bersama di masjid, kemudian disantap, ditutup dengan zikir dan doa bersama. Pada kesempatan itu pula, kesepakatan, turun kesawah disepakati semua penduduk. “Artinya, ritual ini

selain bentuk wujud syukur kepada Allah, juga momen kesepakatan semua warga untuk turun ke sawah menanam padi secara bersama. Karena jika tidak serentak turun ke sawah, musuhnya akan banyak. Jadi petani pertahankan kesepakatan bersama semacam itu” (Faisal, 2012).

2.7.3. Kearifan Lokal Dalam Bentuk Doa Turun Tanam Untuk Pengendalian

Hama Penyakit

(23)

keyakinan akan datangnya “bala” dan kurangnya hasil panen yang bisa saja terjadi

apabila mendahului ritual ini.

Mappalili biasanya dilaksanakan di bulan November, karena di bulan itulah biasanya musim hujan kembali turun dengan durasi yang cukup banyak. Namun, ritual ini dilaksanakan bukan hanya karena persoalan sudah bulan November, yaitu karena penanggalan yang diyakini oleh komunitas Bissu dan masyarakat suku Bugis pada umumnya sudah menunjukkan waktu 9 oppo dan 9 tematte, yaitu seimbang antara yang lewat dan yang datang sehingga sudah

waktunya dilakukan ritual mappalili.

Secara harfiah, mappalili berarti menjauhkan diri dari hal-hal negatif, mappalili mengajarkan pada kita tentang kehidupan yang positip, kebersamaan dan juga musyawarah. Keyakinan terhadap mappalili sebagai sebuah proses yang wajib dilalui sebelum menanam padi menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat suku bugis. Secara umum hal itu sangat dimungkinkan, karena dengan adanya mappalili, petani membajak dan menanami sawah mereka secara bersamaan. Tanaman yang ditanam serentak dapat meminimalisir hama yang akan menyerang tanaman (Mujib, 2012).

(24)

2.8. Agribisnis Padi Sawah

Agribisnis adalah meliputi seluruh kegiatan produksi dan distribusi sarana produksi pertanian ditambah dengan kegiatan kegiatan produksi, pengolahan, penyimpanan, distribusi transportasi dan pemasaran komoditi pertanian, mulai dari katagori bahan mentah, barang setengah jadi sampai kepada barang jadi (Davis dan Goldberg, 1975). Menurut Arsyad dkk dalam Soekartawi (1991) agribisnis adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas. Hal ini ada hubungannya dengan pertanian dalam arti yang luas yaitu kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian.

Usahatani dalam operasinya bertujuan untuk memperoleh pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan serta dana untuk kegiatan diluar usahatani. Untuk memperoleh tigkat pendapatan yang diinginkan maka petani seharusnya mempertimbangkan harga jual dari produksinya. Melakukan perhitungan terhadap semua unsur biaya dan selanjutnya menentukan harga pokok hasil usahataninya (Fedoli, 1998). Kegiatan usahatani bertujuan untuk mencapai produksi di bidang pertanian di mana pada akhirnya akan dinilai dengan uang yang diperhitungkan dari nilai-nilai produksi setelah dikurangi atau memperhitungkan biaya yang telah dikeluarkan (Hernanto, 1993).

(25)

2.9. Kegiatan Utama Agribisnis Dalam Pengembangan Wilayah

2.9.1. Biaya Produksi

Biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh sedikit, contohnya pajak, biaya untuk pajak akan tetap dibayar walaupun usahatani itu besar atau gagal sekalipun. Biaya tidak tetap biasanya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, seperti biaya sarana produksi. Jika menginginkan produksi yang tinggi maka tenaga kerja perlu ditambah, sehingga biaya ini sifatnya berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan produksi (Soekartawi, 1996).

Biaya produksi akan selalu muncul dalam setiap kegiatan ekonomi dimana usahanya selalu berkaitan dengan diperlukannya input (faktor produksi) ataupun korbanan korbanan lainnya yang digunakan dalam kegiatan produksi tersebut seperti bibit, pupuk, pestisida alat-alat, mesin pertanian dan tenaga kerja manusia (Kartasapoetra, 1988).

Secara umum hubungan antara produksi dan faktor produksi dapat digambarkan dalam bentuk fungsi produksi. Semakin efisien penggunaan faktor produksi maka semakin efektif proses produksi tersebut. Bila proses produksi efektif dikaitkan dengan harga faktor produksi dan harga produk maka syarat efisien dapat dipenuhi.

Secara matematis hubungan faktor produksi dan produksi yang digambarkan dengan fungsi produksi berikut ini :

(26)

Maksimum L = Hy– Hx (Y-f (Xn) Dimana :

Y : adalah produksi dan X1, X2……Xn : adalah faktor produksi

Hy dan Hx : adalah harga produk dan harga faktor produksi

Syarat keefektifan produksi adalah penggunaan input X1, X2 sampai input Xn telah efesien. Untuk mencapai keefektifan produksi pengadaan semua faktor produksi harus memenuhi syarat efisien. Kenyataan dilapangan dalam mengadakan faktor produksi ini petani sangat sulit mencapai efisien. Karena faktor skala usaha, dan lokasi usahatani yang menyebar dengan kendala sarana transportasi dan kelembagaan pemasaran input pertanian.

Bila seluruh elemen agribisnis berdiri sendiri, dan masing masing subsistem melaksanakan fungsi produksi secara terpisah maka nilai tambah produk akhir akan sangat besar. Suatu kecenderungan akan terjadi bahwa subsistem yang satu akan mengeksploitasi subsistem lainnya (Hayami, dan Keijiro, 1993).

2.9.2. Luas Panen

(27)

Secara berurutan kontribusi terbesar dari pertumbuhan produksi padi berasal dari perluasan areal panen, disusul oleh peningkatan produktivitas, pene-kanan kehilangan hasil, dan peningkatan indeks pertanaman. Meskipun demikian faktor iklim akan sangat menentukan realisasi luas areal panen, produktivitas, dan pada gilirannya volume produksi padi/beras (Erwidodo dan Ning, 2003).

Luas penanaman padi naik 0,7% per tahun. Peningkatan areal tanam padi antara lain disebabkan peningkatan intensitas tanam dengan adanya perbaikan fasilitas irigasi. Total panen tanaman pangan Jawa Timur sudah memperlihatkan kecenderungan menurun dengan demikian panen palawija selain jagung menurun karena digeser oleh penanaman padi dimana indeks intensitas tanaman padi naik dari 128 % menjadi 141 %, kedelai menurun 3,4 % dan palawija lainnya menurun 0,6 %/tahun (Kasryno, dkk, 2003).

Peningkatan luas panen berfluktuasi dari tahun ketahun dan yang cukup menonjol terjadi pada tahun 1998 yaitu 3,28 % atau seluas 26 204 ha. Peningkatan ini antara lain disebabkan oleh :

a. Terjadinya pergeseran bulan tanam. b. Rangsangan harga gabah.

c. Pemberdayaan lahan tidur (Sembiring dan Moehar, 2003). 2.9.3. Harga Gabah

(28)

dengan persentase perubahan jumlah ditawarkan dibagi dengan persentase perubahan harga (Eachern, 2001).

Dalam inpres no 9/2002 istilah “harga dasar” disandingkan dan

“dikaburkan” dengan istilah harga dasar pembelian pemerintah (hdpp) yang tentu

saja tidak terlalu memiliki konsekuensi kewajiban pemerintah untuk mengamankannya ”harga dasar“ akhirnya sama sekali hilang dalam inpres no

2/2005 karena telah berganti dengan istilah “harga pembelian pemerintah“ (hpp).

Kebijakan terbaru inpres no 15/2005 hanya menyebut secara implisit sebagai berikut “menjaga stabilitas harga beras dalam negeri melalui pengelolaan cadangan beras pemerintah“ (Arifin, 2006).

Instruksi Presiden Republik Indonesia nomor 7 tahun 2009 tentang kebijakan perberasan. Melaksanakan kebijakan pembelian gabah/beras dalam negeri dengan ketentuan harga pembelian pemerintah sebagai berikut :

1. Harga pembelian gabah kering panen dalam negeri dengan kualitas kadar air maksimum 25 % dan kadar hampa/kotoran maksimum 10 % adalah Rp 2 640,00 (dua ribu enam ratus empat puluh rupiah) per kilogram di petani atau Rp 2 685,00 (dua ribu enam ratus delapan puluh lima rupiah) per kilogram di penggilingan;

(29)

3. Harga pembelian beras dalam negeri dengan kualitas kadar air maksimum 14 %, butir patah maksimum 20 % , kadar menir maksimum 2 % dan derajat sosoh minimum 95 % adalah Rp 5 060,00 (lima ribu enam puluh rupiah) per kilogram di gudang Bulog;

4. Harga pembelian gabah dan beras diluar kualitas sebagaimana dimaksud pada angka 1, angka 2, dan angka 3, ditetapkan dengan peraturan Menteri Pertanian (Presiden Republik Indonesia, 2010).

Harga dasar minimum dijamin pemerintah untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga yang tidak terkendali terutama pada musim paceklik. Ini semuanya diusahakan dengan pengadaan beras dikala panen dan penyaluran di kala paceklik (Tim Pengkajian Kebijakan Perberasan Nasional, 2001).

Berdasarkan hasil penelitian Hasyim (2009) faktor harga beras tanda positif dari koefisen regresi bernilai 0, 041. Hal ini menunjukkan berpengaruh nyata antara harga beras dengan ketersediaan beras artinya harga beras menunjukkan signifikan. Dengan kata lain faktor harga beras mempunyai pengaruh nyata terhadap ketersediaan beras. Apabila harga beras naik sebesar 1 % maka akan diimbangi dengan naiknya ketersediaan beras sebesar 0, 041 ton ceteris paribus. Berarti terdapat pengaruh yang positif antara harga beras dengan ketersediaan beras, makin tinggi harga beras maka makin tinggi ketersediaan beras yang ditawarkan.

(30)

komoditi. Keuntungan akan diperoleh produsen karena harga yang terbentuk di pasar melebihi harga yang ditawarkan pada tingkat penjualan tertentu. Surplus produsen ditinjau dari kondisi dimana jumlah yang ditawarkan masih sedikit, mereka bersedia menawarkan sejumlah barang dengan harga yang lebih rendah dari pada harga keseimbangan pasar. Kondisi ini akan berakhir ketika keseimbangan muncul (Sugiarto, dkk, 2000).

Penetapan harga yang dilakukan oleh banyak produsen menggunakan berbagai metode yang berbeda dalam bentuk menetapkan harga dasar bagi barang dan jasa yang dihasilkan. Ada beberapa metode yang dapat digunakan sebagai rencangan dan variasi dalam penetapan harga yang terdiri :

 Harga yang didasarkan pada biaya total ditambah laba yang diinginkan.  Harga didasarkan pada keseimbangan antara perkiraan permintaan pasar

dengan suplay (biaya produksi dan pemasaran).

 Harga didasarkan pada kondisi kondisi pasar yang bersaing.

Penetapan harga yang ditetapkan atas dasar kekuatan pasar adalah suatu penetapan metode penetapan harga yang berorientasi pada kekuatan pasar dimana harga jual dapat ditetapkan sama dengan harga jual pesaing, di atas harga pesaing atau di bawah harga pesaing (Angipora, 1999).

Harga beras atau padi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan ekonomi. Jika harga beras terlalu rendah, maka pendapatan para petani juga rendah, dan mereka menjadi korban, sedangkan kalau harga terlalu tinggi, maka konsumen yang menjadi korban (Kadariah, 1994).

(31)

pendapatan, semakin berkurang pengaruh perubahan harga maupun pendapatan terhadap konsumsi beras. Hal ini ditunjukkan oleh besaran elastisitas pendapatan dan elastisitas harga (Harianto, 2001).

Pengaruh perubahan harga terhadapa jumlah barang yang diminta, dapat dijelaskan melalui dua efek, yaitu efek subsitusi dan efek pendapatan. Efek subsitusi adalah perubahan kuantitas suatu barang yang diminta jika ada perubahan harga, sedangkan pendapatan diasumsikan tetap. Efek pendapatan adalah perubahan kuantitas suatu barang yang dikonsumsi jika terjadi perubahan pendapatan riil, dengan asumsi harga tetap (Arsyad, 1999).

2.10. Kegiatan Penunjang Agribisnis Dalam Pengembangan Wilayah

2.10.1. Bantuan Input Produksi Pertanian

Memberikan bantuan-bantuan langsung untuk petani padi sawah seperti bantuan pengadaan bibit unggul, bantuan pengadaan pupuk, bantuan pengadaan

pestisida dan alsintan. Hal ini untuk memotivasi petani menanam padi di lahannya, biasanya bantuan tersebut diterima melalui kelompok tani dan

kelompok tani diterima dari gapoktan.

(32)

2.10.1.1. Bibit

Bantuan-bantuan petani biasanya berasal dari pemerintah pusat, melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia, bisa juga bantuan tersebut berasal dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan bisa juga bantuan berasal dari Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai. Tujuan bantuan tersebut biasanya agar petani mau mmakai bibit yang bersertifikat yang dijamin keunggulannya sambil memperkenalkan varietas unggul padi baru. Jadi varietas-varietas yang diterima oleh petani tahun anggaran 2011 adalah : varietas inpari, ciherang, cibogo, sunggal, mekongga agar nantinya mereka terbiasa menggunakannya dan menanam serentak untuk menghindari serangan hama.

2.10.1.2. Pupuk

Penyempurnaan Kebijakan dan Peraturan dibidang pupuk untuk peningkatan pengawalan ketersediaan dan pemanfaatan bantuan langsung pupuk (BLP), bagi petani penerima bantuan langsung pupuk (BLP) harus ada penyempurnaan data RDKK. Pengembangan pemupukan berimbang spesifik lokasi dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk majemuk. Jenis bantuan pupuk yang diberikan yaitu : NPK dan POG.

2.10.1.3. Pestisida

(33)

2.10.1.4. Alat Dan Mesin Pertanian (Alsintan)

Alat dan mesin pertanian terutama traktor roda 2 juga memiliki peranan penting dalam mempercepat proses pengolahan tanah dengan mutu hasil pengolahan yang lebih baik sehingga dapat berkontribusi dalam upaya peningkatan intensitas pertanaman di berbagai ekologi lahan. Selain itu melalui pemanfaatan alsintan akan mendukung upaya pemecahan masalah kelangkaan tenaga kerja di sektor pertanian yang banyak terjadi di daerah.

Salah satu faktor pendukung dalam upaya peningkatan IP, produksi dan produktivitas tanaman adalah ketersediaan alsintan prapanen untuk pengolah tanah diantaranya traktor roda dua. Kondisi sosial ekonomi masyarakat di perdesaan yang berbeda-beda serta mahalnya harga alsintan, menimbulkan beragamnya proses kepemilikan alsintan oleh petani baik secara pribadi maupun kelompok (Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (b), 2011).

Pada tahun anggaran 2011, pemerintah akan melakukan penyediaan dana bantuan untuk pengadaan alsintan khususnya traktor roda dua. Melalui pemberian bantuan uang muka alsintan (buma), kepada kelompok tani/UPJA, sasarannya kelompok tani/UPJA yang mempunyai potensi untuk mengoptimalkan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (b), 2011).

2.10.2. Penyaluran Kredit

(34)

Fungsi kredit :

a. Kredit dapat meningkatkan utility dari modal/uang. b. Kredit meningkatkan utility sesuatu barang.

c. Kredit meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang. d. Kredit menimbulkan kegairahan berusaha masyarakat. e. Kredit sebagai alat stabilitas ekonomi.

f. Kredit sebagai jembatan untuk peningkatan pendapatan nasional. g. Kredit sebagai alat hubungan ekonomi internasional.

Schickele (1954) dalam Salmiah (2004) berpendapat bahwa petani mengalami kekurangan modal, sehingga kebijaksanaan kredit produksi dapat memperbaiki alokasi sumber daya yang dimiliki petani. Perbaikan alokasi ini akan dapat meningkatkan pendapatan dan meratakan penggunaan tenaga kerja sepanjang tahun. Jika petani mengalami kekurangan modal maka petani akan mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya sesuai dengan besar modal yang tersedia. Hal ini mengakibatkan petani tidak akan menggunakan semua sumberdaya terutama tenaga kerja, karena petani mempunyai kemampuan yang terbatas untuk menyediakan sarana produksi, petani akan memperoleh pendapatan optimal sesuai dengan besarnya jumlah tenaga kerja yang tersedia.

Mellor (1975) berpendapat bahwa kendala yang dihadapi oleh petani berupa kekurangan modal, resiko dan ketidakpastian. Kendala tersebut dapat dihindari dengan beberapa cara yaitu :

(35)

4. Pengadaan pupuk secara lokal.

Pendapat Jolly tersebut di dukung oleh Barry dan Cline (1979) yang mengatakan bahwa seharusnya penyaluran kredit dan teknologi baru, ditingkatkan pada petani kecil. Dari sudut pandang penduduk desa, maka pengelolaan usahatani dapat disebut “makro” karena mempunyai dimensi lain yaitu diasosiasikan dengan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, kesempatan mendapat/ menambah pendapatan yang bisa di peroleh melalui peran serta dalam mengelolaan usahatani.

Kesulitan permodalan yang dialami petani akan mempengaruhi ruang gerak aktifitas produksi usahatani dari petani. Salah satu usaha untuk meningkat-kan pertumbuhan ekonomi pada umumnya dan pertanian pada khususnya adalah melalui kredit. Kredit sebagai salah satu syarat pelancar dalam membangun pertanian berfungsi untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dalam pemba -ngunan pertanian, karena tanpa adanya kredit, pertumbuhan ekonomi dalam bidang pertanian akan berjalan lambat. Untuk produksi yang lebih baik, petani harus lebih banyak mengeluarkan uang, untuk memperoleh sarana produksi. Petani dengan uang banyak akan mampu membeli sarana produksi yang produktif sehingga akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi (Soekartawi, 1989).

(36)

petani untuk mendapatkan fasilitas yang berasal dari pemerintah dengan biaya murah (Semeru, 2002).

2.10.3. Kebijakan Pemerintah Dalam Subsidi Pupuk

Menurut UU No. 45 Tahun 2007 tentang APBN 2008, subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Subsidi bertujuan untuk menambah output, permintaan dan produktivitas serta menjaga stabilitas perekonomian, khususnya stabilitas harga.

Pupuk bersubsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program pemerintah di sektor pertanian. Jenis pupuk bersubsidi yaitu pupuk anorganik (pupuk urea, SP-36, Superphos, ZA, NPK) dan pupuk organik. Pupuk bersubsidi ditetapkan sebagai barang dalam pengawasan sebagaimana dimaksud dalam peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 77 tahun 2005. Lingkup pengawasan mencakup pengadaan dan penyaluran, termasuk jenis, jumlah, mutu, wilayah, tanggung jawab, harga eceran tertinggi dan waktu pengadaan dan penyaluran (Dinas Pertanian Kab Jombang, 2009).

(37)

Pada tahun 2010, pemerintah menyediakan pupuk bersubsidi yang disalurkan PT. Pupuk Sriwidjaya (Holding), meliputi pupuk urea, SP-36, ZA, NPK. Efektifitas penggunaan pupuk diarahkan pada penerapan pemupukan berimbang dan standar teknis penggunaan pupuk yang dianjurkan. Dalam penerapan pemupukan berimbang sangat dibutuhkan modal yang cukup, sedangkan kemampuan permodalan petani sangat terbatas dalam membiayai kebutuhan usahataninya. Untuk itu pemerintah memfasilitasi penyediaan pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian, agar petani dapat menerapkan pemupukan berimbang guna meningkatkan produksi (Kementerian Pertanian, 2010).

Kedudukan pupuk yang amat penting dalam produksi pertanian mendorong campur tangan pemerintah untuk mengatur tataniaga pupuk. Kebijakan pemerintah terkait masalah ini melalui subsidi. Pupuk bersubsidi yang diberlakukan sejak tahun 1971 bertujuan menekan biaya yang akan ditanggung petani dalam pengadaan pupuk sehingga petani tidak kesulitan untuk memperoleh pupuk karena masalah biaya (Kementerian Pertanian, 2010).

(38)

2.11. Sumber Daya Alam (SDA) Dalam Pengembangan Wilayah

Sektor pertanian yang memanfaatkan sumber daya alam selain sebagai penyedia bahan pangan juga diharapkan mampu memberikan sumbangan yang besar terhadap pendapatan masyarakat banyak dan pertumbuhan perekonomian nasional. Bahkan dimasa mendatang sektor pertanian diharapkan menjadi sektor andalan atau primadona bagi pembangunan perekonomian Indonesia, hal ini karena sektor pertanian merupakan tumpuan hidup dan hasil pertanian merupakan kebutuhan pokok rakyat banyak maupun kebutuhan industri. Oleh karena itu wajar bila pemerintah memperhatikan sektor pertanian dengan meningkatkan kinerja sektor tersebut untuk lebih meningkatkan produksi dan produktivitas serta kemampuannya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat banyak termasuk petani miskin diperdesaan (Sutrisno, 2009).

2.11.1. Tinggi Volume Air sawah/Ha

Ketersediaan air di Indonesia cenderung turun dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya taraf hidup penduduk. Alokasi air yang sebagian besar digunakan untuk irigasi akan semakin berkompetisi dengan penggunaan air untuk sektor non pertanian yang berkembang pesat dan merupakan potensi konflik pada masa mendatang (Sayaka dan Efendi, 1996).

(39)

Menurut Sumaryanto (2006) air irigasi merupakan sumber daya pertanian yang sangat strategis. Berbeda dengan input lain seperti pupuk ataupun pestisida yang dimensi peranannya relatif terbatas pada proses produksi yang telah dipilih, peranan air irigasi mempunyai dimensi yang lebih luas. Sumber daya ini tidak hanya mempengaruhi produktivitas tetapi juga mempengaruhi spektrum pengusahaan komoditas pertanian. Oleh karena itu kinerja irigasi bukan hanya berpengaruh pada pertumbuhan produksi pertanian tetapi juga berimplikasi pada strategi pengusahaan komoditas pertanian dalam arti luas.

Potensi air yang ada di negara kita berasal dari curah hujan dan yang bisa dimanfaatkan hanya sekitar 15-35 persen. Efektifitas pemanfaatan air tersebut bisa ditingkatkan melalui pembuatan waduk-waduk besar. Kebutuhan air irigasi juga bisa dipenuhi dengan memanfaatkan air tanah. Walaupun demikian irigasi yang berasal dari air tanah baru sekitar 2-3 persen dari total irigasi. Pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara hati-hati yaitu melibatkan semua pihak yang berkepentingan, air harus dipandang sebagai komoditi ekonomi, serta mem-pertimbangkan dimensi sosial, lingkungan dan politik (Sayaka dan Efendi, 1996).

Dimasa yang akan datang upaya peningkatan produksi pangan akan semakin terkendala oleh meningkatkannya kelangkaan air irigasi. Selain disebabkan oleh meningkatnya kompetisi penggunaan air antar sektor perekonomian, meningkatnya kelangkaan itu juga berkaitan dengan degradasi fungsi jaringan irigasi (Sumaryanto, 2006).

(40)

Pertanian Provinsi Sumatera Utara, 2011). Menurut Kalo, hasil analisa menun-jukkan bahwa produksi padi per hektar untuk usahatani pada petak tersier yang terjamin irigasinya (KR4 tukdana) baik pada Musim Hujan (MH) maupun pada Musim kemarau (MK) lebih besar dibanding dengan produksi yang diperoleh pada petak tersier yang tidak terjamin irigasinya (P2Ka sukasari). Pertumbuhan produksi pangan sangat ditentukan oleh ketergantungan air irigasi (Postel, 1994).

Peranan irigasi untuk mendukung sektor pertanian terutama diarahkan guna mempertahankan swasembada pangan pokok. Untuk keperluan tersebut pemerintah melakukan rehabilitasi jaringan irigasi. Kegiatan ini bisa meningkat-kan luas lahan beririgasi teknis, semi teknis, dan sederhana yang pada gilirannya meningkatkan luas panen dan produksi padi (Sayaka dan Efendi, 1996).

2.11.2. Luas Lahan Usahatani Yang Beririgasi

Potensi pengembangan luas lahan sawah di Sumatera Utara cukup luas, sehingga dukungan perluasan areal luas sawah yang dilakukan selama 4 tahun mampu mencetak luas lahan sawah seluas 4.302,5 Ha dengan rincian pada tahun 2008 seluas 365 Ha, tahun 2009 seluas 287,5 Ha, tahun 2010 seluas 450 Ha, dan tahun 2011 seluas 3.200 Ha. Mulai dari pada tahun 2008 sampai dengan pada tahun 2011 telah dilaksanakan perluasan areal sawah sehingga terwujud sawah- sawah baru seluas 4.302,5 Ha dengan produktivitas 3 ton/Ha sehingga manfaat kegiatan perluasan areal luas sawah berupa peningkatan produksi padi (Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, 2011).

(41)

teknologi budidaya pertanian yang memperhatikan ramah lingkungan (penggunaan pupuk organik) agar potensi kesuburan tanah tetap terjaga dan seimbang, sehingga efisiensi pengelolaan luas lahan garapan untuk tanaman padi dalam meningkatkan pendapatan petani dapat tercapai dan berkelanjutan (Sutrisno, 2009).

Secara statistik, korelasi antara pendapatan pertanian dengan luas lahan padi sawah pemilik dan juga dengan luas lahan garapan terdapat tidak nyata dan korelasi antar dua variabel tersebut relatif masih kecil. Di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat dan Kabupaten Landak Kalimantan Barat terjadi pola hubungan yang searah dari dua variabel tersebut antara pendapatan sektor pertanian dan luas lahan padi sawah pemilik serta luas lahan padi sawah garapan, namun di Klaten Jawa Tengah terjadi pola hubungan terbalik antara dua variabel tersebut. Pada fenomena yang pertama antara lain disebabkan oleh rata-rata dan keragaan luas pemilikan lahan relatif besar dan kegiatan usaha di luar sektor pertanian relatif belum berkembang. Untuk fenomena kedua disebabkan oleh rata rata dan keragaman luas pemilikan dan garapan serta kegiatan usaha di luar sektor pertanian sudah sangat berkembang terutama di desa contoh yang dekat dengan pusat industri (Supriyati, dkk, 2007).

(42)

jenis kegiatan yang sedikit, tapi ternyata lebih berperanan terhadap pendapatan rumah tangga pertanian berlahan sempit. Sumber-sumber pendapatan dari sektor ini meliputi kegiatan perdagangan, buruh non pertanian. Sehingga tingkat pendapatan di wilayah dataran rendah lebih tinggi dari pada di wilayah dataran tinggi (Nurmanaf, 2007).

Menurut Cahyono, dkk, (2002) luas penguasaan lahan mempengaruhi pendapatan petani terutama petani berlahan sempit sedangkan petani berlahan luas sudah mulai tidak tergantung pada lahan. Petani lahan sempit berusaha menghindari resiko dengan mendiversifikasikan usahataninya dan ini berbeda dengan yang dilakukan oleh petani berlahan luas yang cenderung menggunakan lahannya pada lahan kering.

Agribisnis padi sawah kaitannya dengan pengembangan wilayah sumber daya alam (sda) yaitu luas lahan yang beririgasi, dimana usahatani padi sawah, lahan sebagai media tumbuh tentu harus mempunyai luas lahan yang beririgasi dengan satuan hektar, makin luas lahan yang beririgasi ditanami padi sawah maka makin tinggi produksi yang dipanen. Sehingga ada pengaruhnya terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani padi sawah, serta berapa besar pengaruh variabel tersebut.

2.11.3. Panjang Jalan Usahatani

(43)

dapat diakses oleh setiap orang, ruang ini harus memberikan kebebasan bagi penggunanya. Penggunaan sumber daya bersama ini merupakan bagian integral dari tata tertib sosial, sehingga orang tidak bisa memanifestasikan kebebasannya secara maksimal, mengenai pemahaman atas kebebasan sekaligus pengendalian dalam penggunaan ruang publik yang disebut spatial rights (Natalivan, 2007).

Jalan usahatani dalam Pedoman Teknis Pembangunan Jalan Usahatani adalah suatu prasarana transportasi di dalam kawasan pertanian guna memperlancar pengangkutan sarana produksi, hasil produksi dan mobilitas alat mesin pertanian. Tujuan pembuatan jalan usahatani adalah mempercepat transportasi sarana produksi dan alat mesin pertanian dari kawasan pemukiman ke lahan usahatani dan mempercepat pengangkutan produk pertanian dari lahan usaha menuju sentra pengolahan dan pemasaran (Ruauw, dkk, 2010).

Pada tahun 2011 kegiatan pengembangan jalan usahatani dilakukan sepanjang 710 Km. Yang terdapat pada kawasan tanaman pangan 624 Km, hortikultura 53 Km, perkebunan 21 Km dan peternakan 12 Km, tersebar di 31 Provinsi, 167 Kabupaten/Kota (Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (a), 2011).

(44)

2010 tetap sepanjang jalan yang ada, sebab tidak ada pembangunan dan tahun 2011 pembangunan jalan usahatani sepanjang 10 Km jadi jumlah total pembangunan jalan usahatani di Kabupaten Serdang Bedagai sepanjang 17 Km (Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, 2007).

Tujuan pengembangan jalan usahatani adalah memperlancar mobilitas alat mesin pertanian, pengangkutan sarana produksi pertanian dan hasil produksi pertanian dari lahan usahatani (Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (a), 2011). Tujuan utama tersedianya sistem transportasi adalah menyediakan aksesibilitas (kemudahan) bagi setiap pengguna, manusia, barang dan jasa secara adil, seimbang, biaya rendah dan mempunyai dampak yang kecil. Kebijakan transportasi tidak harus selalu melihat faktor mobilitas sebagai tujuan akhir dengan selalu mengusahakan semakin banyak kendaraan yang bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi. Perencanaan aksesibilitas bertujuan untuk menjamin bahwa setiap tempat tujuan tetap mudah dicapai dengan segala jenis moda transportasi yang tersedia terutama kenderaan tidak bermotor, angkutan umum dan para transit (Tamin, 2007).

Distribusi geografis antara tata ruang serta kapasitas dan lokasi dari fasilitas transportasi digabung bersama untuk mendapatkan volume dan pola arus lalu lintas. Pada jaringan transportasi akan mempunyai efek feedback atau timbal balik terhadap tata ruang yang baru dan perlunya peningkatan sarana prasarana transportasi (Tamin, 2007).

(45)

pada jalan propinsi, jalan kabupaten/kota, dan jalan kecamatan bahkan dengan persentase kerusakan yang lebih tinggi tidak dibangun begitu lama (Ichwan dan Prasetya, 2007).

Konstruksi jalan usahatani berupa timbunan tanah yang dipadatkan dengan ukuran tertentu yang sudah ditetapkan dalam perencanaan (desain). Untuk memperkokoh konstruksi, dapat juga di kedua sisi jalan usahatani dibuat konstruksi siring (dinding penahan) dari kayu atau dari bambu. Sebagai bangunan pelengkap jalan usahatani adalah jembatan yang dapat berupa konstruksi kayu atau pasangan batu/beton yang permanen (Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (a), 2011).

2.12. Sumber Daya Manusia (SDM) Dalam Pengembangan Wilayah

Pengembangan sumber daya manusia di satu pihak dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan atau kemampuan kerja manusia dalam melakukan berbagai macam kegiatan dalam masyarakat. Dipihak lain pembinaan sumber daya manusia berhubungan erat dengan usaha peningkatan taraf hidup, yang sering ditekankan adalah aspek pertama yaitu peningkatan kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan tertentu dengan asumsi bahwa aspek kedua akan terpenuhi dengan sendirinya. Pembinaan sumber daya manusia dimulai dalam kalangan keluarga, ditingkatkan melalui pendidikan, latihan formal dan dikem-bangkan dalam masyarakat terutama dilingkungan pekerjaan (Simanjuntak, 1982). 2.12.1. Curahan Tenaga Kerja

(46)

dilakukan dengan jalan mempertinggi produktivitas tenaga kerja. Dalam usahatani adalah hal yang biasa bila terjadi penambahan tenaga kerja, penambahan tenaga kerja biasanya dilakukan petani dengan menggunakan tenaga kerja dari luar keluarganya, namun dari setiap penambahan ini haruslah dibarengi dengan penambahan hasil (Simanjuntak, 1985).

Tenaga kerja biasanya merupakan unsur yang paling banyak tersedia dalam usahatani. Jelas kiranya bahwa tenaga kerja mempunyai hubungan dengan pendapatan, karena unsur ini merupakan penggerak semua kegiatan dalam usahatani. Efisien tenaga kerja secara umum diartikan sebagai hasil pekerjaan produktiv yang dapat diselesaikan persatuan waktu tenaga kerja pria. Semakin tinggi efisien penggunaan tenaga kerja semakin tinggi pula pendapatan yang diterima dari usahatani yang bersangkutan. Efisiensi penggunaan tenaga kerja yang dicapai suatu usahatani dapat dipakai keberhasilan usahatani itu. Tercapainya efisiensi itu akan mengurangi penggunaan tenaga kerja. Kemungkinan menekan biaya produksi akan meningkatkan pendapatan (Tjakrawiralaksana dan Soeriatmaja, 1983).

Pembagian atau penyebaran tenaga kerja sepanjang tahun adalah sangat penting bagi seorang petani. Pembagian pekerjaan merupakan jaminan baginya untuk memperoleh hasil yang tinggi bagi tenaga kerja keluarga. Dengan jalan pembagian tenaga kerja yang merata sesuai dengan potensi tenaga kerja yang tersedia akan dapat dikurangi penggunaan tenaga kerja dari luar keluarga (Soekartawi, 1995).

(47)

Anak-anak berumur 12 tahun misalnya sudah dapat menjadi tenaga kerja produktif bagi usahatani. Tenaga kerja yang berasal dari keluarga petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak pernah dinilai dalam uang. Memang usahatani dapat sekali-kali membayar tenaga kerja tambahan misalnya dalam tahap penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung (Mubyarto, 1989).

Dalam usahatani penggunaan tenaga kerja luar keluarga masih sulit dipecahkan oleh karena tenaga kerja luar keluarga tampaknya masih diperlukan karena kekurangan tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usahatani, khususnya faktor tenaga kerja petani dan para anggota keluarga, dalam usahatani, keluarga merupakan faktor tenaga kerja salah satu unsur yang sangat penting (Tohir, 1983).

Curahan tenaga kerja, terdiri dari curahan tenaga kerja dalam keluarga dan curahan tenaga kerja luar keluarga. Sistem agribisnis dalam usahatani padi sawah kaitannya dengan kemampuan sumber daya manusia pada pengembangan wilayah. Dimana dalam usahatani padi sawah sangat tergantung pada curahan tenaga kerja yang dicurahkan karena pekerjaan yang dilakukan dalam pencurahan tenaga kerja adalah persemaian, pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pengendalaian gulma, hama penyakit, panen, dan pasca panen, dalam hal ini satuannya hkp dihitung dalam per musim tanam. Sehingga ada pengaruhnya terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani padi sawah, serta berapa besar pengaruh variabel tersebut.

(48)

pria (hkp), dan tenaga kerja anak-anak 1 hari kerja, 0,5 jam hari kerja pria (hkp), tenaga kerja manusia dapat mengerjakan semua jenis pekerjaan usahatani berdasarkan tingkat kemampuannya. Tenaga kerja manusia dalam usahatani dipengaruhi oleh umur, pendidikan, keterampilan, pengalaman, tingkat kecakapan, tingkat kesejahteraan dan faktor alam (Hernanto, 1993).

2.12.2. Penyuluhan/Pelatihan

Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2006 Penyuluhan pertanian adalah suatu proses pembelajaran bagi pelaku utama (pelaku kegiatan pertanian) serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (Badan Pengembangan Sumber daya Manusia Pertanian Deptan, 2007). Sejalan dengan itu menurut Mosher (1997), penyuluhan adalah upaya untuk menyertakan masyarakat dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya menuju pencapaian kualitas hidup yang lebih baik. Membangun kemampuan untuk meningkatkan pendapatan, melaksanakan usaha berskala bisnis serta mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan partisipatif.

(49)

sesuai anjuran, dengan demikian akan berpengaruh meningkatkan produksi (Mardikanto, 1996).

Berdasarkan hasil penelitian Hasyim (2003), terdapat hubungan positif antara frekuensi mengikuti penyuluhan dengan keberhasilan penyuluhan pertanian. Semakin tinggi frekuensi mengikuti penyuluhan maka keberhasilan penyuluhan pertanian yang disampaikan kepadanya semakin tinggi pula. Frekuensi petani dalam mengikuti penyuluhan yang meningkat disebabkan karena penyampaian yang menarik dan tidak membosankan serta yang disampaikan benar benar bermanfaat bagi petani untuk usahataninya.

Agen penyuluhan dapat membantu petani memahami besarnya pengaruh struktur sosial ekonomi dan teknologi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan menemukan cara mengubah struktur atas situasi yang menghalangi untuk mencapai tujuan tersebut (Soekartawi, 1999). Melalui penyuluhan pertanian, masyarakat pertanian dibekali dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengena-lan paket teknologi dan inovasi baru di bidang pertanian, mengkreasi sumber daya manusia dengan konsep dasar filosofi rajin, kooperatif, inovatif, kreatif dan sebagainya. Yang lebih penting lagi adalah mengubah sikap dan perilaku masyarakat pertanian agar mereka tahu dan mau menerapkan informasi anjuran yang dibawa dan disampaikan oleh penyuluh pertanian (Kartasapoetra, 1994).

(50)

pelatihan peserta mampu menerapkan prinsip-prinsip manajemen kewirausahaan agribisnis dalam kegiatan P4S yang dikelolanya (Pusat Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis BPSDM Pertanian Jakarta, 2002).

Untuk meningkatkan sumber daya manusia (sdm) dibidang perbenihan padi maka UPT. Balai benih induk murni Tanjung Morawa, dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara telah melaksanakan pelatihan bagi petani penangkar kabupaten/kota se-Sumatera Utara.

Pelatihan yang dilaksanakan di UPT. Balai Benih Induk Murni Tanjung Morawa, Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara adalah Sebagai berikut :

1. Peningkatan SDM petugas UPT. BBI Tanjung Morawa.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam pengelolaan tanaman padi sawah guna meningkatkan produksi benih padi sawah bagi petugas UPT. BBI Murni Tanjung Morawa. Jumlah peserta pelatihan sebanyak 5 (lima) orang. Adapun tempat pembelajaran di Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi, Provinsi Jawa Barat.

2. Pelatihan peningkatan SDM kelompok tani/penangkar padi di BBI Murni Tanjung Morawa.

Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk menyatukan persepsi dan peningkatan SDM petani penangkar dalam pengelolaan penangkar padi sawah guna menghasilkan produksi padi sawah yang berkualitas dan bersertifikat dalam mempertahankan alur benih yang beku. Pelaksanaan ini diikuti petani penangkar/kelompok tani penangkar dari kabupaten/kota se-Sumatera Utara dengan 16 angkatan yang berjumlah ± 500 orang.

(51)

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan secara langsung petani dalam pengelolaan tanaman padi dengan teknologi yang baru dan sebagai tempat pembelajaran dan menghasilkan benih padi yang berkualitas, bersertifikat sekaligus pengendalian hama/penyakit tanaman serta pencatatan oleh petani mulai pengolahan tanah sampai panen dan penjualan benih dalam buku analisis usahatani. Pelaksanaan diikuti petani/kelompok tani di 5 (lima) Kabupaten (Langkat, Deli serdang, Serdang Bedagai, Batubara dan Asahan) yang jumlah pesertanya 25 orang /Kabupaten.

4. Pelatihan pertemuan kemitraan petani penangkar.

Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani penangkar agar dapat bermitra dalam agribisnis benih padi dengan badan usaha perbenihan (PT, SHS, PT. Pertani, dan lain-lain).

5. Pelatihan ketua kelompok tani.

Pelatihan ketua kelompok tani pada pelatihan kewirausahaan, agribisnis dan manajemen bagi pengembangan SDM pertanian tahun 2009 sebanyak 150 orang dari 15 Kabupaten/Kota.

6. Pelatihan kontak bengkel.

Pelatihan kontak bengkel diikuti oleh 56 orang peserta dari 27 Kabupaten/ Kota yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kontak bengkel dalam pembuatan alat pencacah pupuk oraganik yang dihasilkan memenuhi standar. 7. Pelatihan Refreshing Metodologi pengumpulan data statistik pertanian.

(52)

untuk lebih memahami tentang metodologi pengumpulan data statistik pertanian sehingga memenuhi akurasi data.

8. Pelatihan peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia Petugas (Ases Men) dan oprasional Pengujian BPMA Depok. Pelatihan ini diikuti oleh 5 orang petugas laboraturium UPT perbengkelan dan pelatihan yang bertujuan meningkatkan keterampilan petugas laboratorium pengujian mutu alsintan dalam pengujian alat mesin pertanian sehingga memenuhi standar yang ditetapkan (Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, 2011).

Agribisnis padi sawah kaitannya dengan pengembangan wilayah sumber daya manusia (sdm) yaitu penyuluhan/pelatihan. Dalam hal ini usahatani padi sawah sangat membutuhkan sumber daya manusia yang terampil, cerdas dan berwawasan luas, agar dapat mengadopsi teknologi yang diajarkan, justru karena itu para petani sebenarnya wajib mengikuti penyuluhan /pelatihan, berapa kali mengikuti penyuluhan pertanian tentang padi sawah berapa kali ikut pelatihan pada sekolah lapang atau pelatihan-pelatihan yang lain baik ditingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi maupun tingkat Nasional. Variabel-variabel tersebut dihitung permusim tanam dengan satuan frekuensi jumlah yang pernah diikutinya baik mengikuti penyuluhan maupun ikut pelatihan. Sehingga ada pengaruhnya terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani padi sawah, serta berapa besar pengaruh variabel tersebut.

2.12.3. Produktivitas Tenaga Kerja

Gambar

Gambar 2.1. Tiga Pilar Penopang Ilmu Pengembangan Wilayah.
Tabel 2.1.  Ambang Ekonomi Tunggal
Tabel 2.2.  Kebutuhan Pupuk Zn Tanaman Padi Sawah
Table 2.3. Kebutuhan Pupuk Cu Tanaman Padi Sawah

Referensi

Dokumen terkait

Secara parsial, faktor yang mempengaruhi produktivitas usahatani padi sawah petani penyewa lahan adalah bibit, sedangkan umur, lama berusahatani, pupuk tidak

Untuk menganalisis besar pengeluaran rumah tangga dari total pendapatan usahatani padi sawah dan besar nilai tukar petani padi sawah di daerah penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat ketimpangan pendapatan petani padi sawah, untuk mengetahui keragaman sumber pendapatan petani padi sawah,

Hasil kajian menunjukkan bahwa pada Tabel 5.56 bahwasanya pengaruh setelah menerapkan kearifan lokal dalam bentuk doa turun tanam secara langsung yang terdiri dari

Analisis pendapatan dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui besarnya pendapatan yang diperoleh petani responden usahatani padi sawah di Desa Sidondo 1

Jenis Insektisida dan pestisida yang sering digunakan oleh petani responden di Desa Malonas Kecamatan Damsol Kabupaten Donggala baik pada usahatani padi sawah

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat ketimpangan pendapatan petani padi sawah, untuk mengetahui keragaman sumber pendapatan petani padi sawah,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) adopsi petani terhadap varietas unggul berlabel mencapai 85,29% yang dipengaruhi oleh pengalaman usahatani padi, luas lahan, dan