• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Faktor Konsumen Dan Provider Terhadap Pemanfaatan Rsud Salak Kabupaten Pakpak Bharat Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Faktor Konsumen Dan Provider Terhadap Pemanfaatan Rsud Salak Kabupaten Pakpak Bharat Chapter III V"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan

penelitian kuantitatif desain

Cross-Sectional Study

dengan pendekatan

explanatory

, survei

explanatory

adalah penelitian yang dirancang

untuk menjelaskan hubungan kausal antar variabel melalui pengujian hipotesa,

bertujuan untuk mengetahui ” Pengaruh Faktor Konsumen dan

Provider

terhadap

Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah Salak”

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di wilayah kerja RSUD Salak, Kabupaten Pakpak Bharat

meliputi 8 kecamatan dengan pertimbangan bahwa pemanfaatan RSUD Salak belum

optimal. Waktu penelitian berlangsung selama 3 (tiga) bulan, yaitu dimulai dari bulan

Juli sampai dengan September 2015, meliputi kegiatan pengumpulan data penelitian,

pengolahan dan analisis data, penyusunan hasil penelitian, seminar hasil dan ujian

komprehensif.

3.3

Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

(2)

37

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah kepala keluarga yang berdomisili di

wilayah kerja RSUD Salak. Besar sampel dihitung menggunakan rumus Slovin

(Notoatmodjo, 2010), sebagai berikut :

2

Dengan demikian besar sampel sebagai berikut :

2

n = 98,9 dibulatkan menjadi 99 orang

Menghindari sampel

drop out

, perlu dilakukan koreksi terhadap besar sampel

yang dihitung, dengan menambahkan sejumlah sampel agar besar sampel tetap

terpenuhi dihitung menggunakan rumus (Sastroasmoro dan Ismael, 2008).

n

i

= n /(1-f)

Keterangan: n = besar sampel yang dihitung (99)

f = perkiraan proporsi

drop out

(10%)

Perhitungan : n

i

= 99/(1-0,1) = 110 KK

(3)

38

Tabel 3.1 Distribusi Sampel Menurut Kecamatan

No Kecamatan

Jumlah KK

per Kecamatan

Proporsi

Jumlah

Sampel

1

Pagindar (terjauh sebelah selatan) 311

311/4.488 x110 54

2

Kerajaan (sedang)

1.966

1.966/4.488 x110

48

3

Sitellu Tali Urang Jehe

(terjauh sebelah timur)

2.211

2.211/4.488 x110

8

Jumlah

4.488

110

Sumber: Kabupaten Pakpak Bharat dalam Angka, 2015

Setelah diperoleh jumlah sampel dari masing-masing kecamatan, maka

selanjutnya dilakukan pemilihan sampel per kecamatan dilakukan dengan cara

simple

random sampling

sebanyak jumlah yang telah ditentukan pada setiap kecamatan dan

memenuhi kriteria penelitian dengan cara sebagai berikut:

Data pasien untuk setiap desa pada kecamatan yang terpilih sebagai sampel

lokasi diberi nomor ‘1’sampai nomor terakhir pada desa tertentu, misalnya pada

Kecamatan Pagindar sampai nomor “54”, kemudian dilakukan pengundian secara

acak sampai jumlah sampel pasien yang diperlukan terpenuhi, yaitu 54 sampel. Setiap

nomor yang terpilih dikembalikan kedalam wadah pengundian, sehingga setiap

populasi yang terpilih mempunyai kesempatan yang sama terpilih sebagai sampel.

Demikian seterusnya dilakukan

sampling

untuk kecamatan lainnya. Adapun kriteria

pemilihan sampel responden, yaitu:

a.

Masyarakat belum pernah dan sudah pernah memanfaatkan RSUD Salak

b.

Telah tercatat berdomisili pada kecamatan yang terpilih sebagai sampel lokasi

minimal 1 tahun dengan pertimbangan selama 1 tahun telah mengetahui

sarana pelayanan kesehatan yang ada di tempat tersebut.

(4)

39

3.4 Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:

3.4.1. Studi Dokumentasi dan Kepustakaan

Studi dokumentasi dan kepustakaan dilakukan dengan cara membaca,

mempelajari dengan cara seksama serta mencatat bahan bacaan yang berkaitan

dengan variabel penelitian dari berbagai literatur, seperti buku-buku, tesis penelitian

terdahulu, jurnal penelitian, dan data-data dari rumah sakit.

3.4.2. Wawancara

Mengetahui hal yang diketahui responden untuk menguatkan data hasil

penelitian dilakukan wawancara langsung melalui instrumen pengumpulan data.

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian adalah kuesioner

terstruktur dan disesuaikan dengan variabel penelitian.

3.4.3. Observasi

Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data sekunder dari rumah sakit

dalam mendukung data primer yang diperoleh, yaitu berupa data kunjungan pasien

dan laporan kegiatan sehubungan dengan pemanfaatan rumah sakit yang diperoleh

dari RSUD Salak Kabupaten Pakpak Bharat.

3.4.4. Validitas dan Reliabilitas

(5)

40

a. Uji validitas

Validitas berasal dari kata

validity

yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan

dan kecermatan suatu alat ukur (instrumen) dalam mengukur kevalidan suatu data.

Uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antar item variabel menggunakan

uji korelasi

Pearson Product Moment

(r), dengan ketentuan nilai koefisien korelasi

>0,3 (valid)

(Gozhali, 2005).

Hasil uji validitas variabel bebas sebagai berikut:

1)

Faktor Konsumen

Berdasarkan hasil uji validitas menggunakan korelasi

pearson product

moment

diketahui bahwa variabel bebas faktor konsumen indikator (persepsi

tentang penyakit sebanyak 5 pertanyaan) mempunyai nilai koefisien korelasi

(r)>0,3, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel faktor

konsumen valid (Lampiran 2)

2)

Faktor

Provider

(6)

41

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

ukur dapat di percaya dan dapat diandalkan. Uji reliabilitas ini menggunakan

koefisien

Alpha Cronbach

, apabila nilai

Alpha Cronbach

> 0,6 dikatakan reliabel

(Gozhali, 2005).

Hasil uji reliabilitas variabel bebas faktor konsumen dan faktor

provider

setelah diuji secara statistik diketahui seluruh pertanyaan mempunyai nilai

r-alpha cronbach

>0,6, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel

bebas reliable (Lampiran 2).

3.5 Variabel dan Definisi Operasional

3.5.1 Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan terikat. Variabel bebas

terdiri dari faktor konsumen dan faktor

provider

, sedangkan variabel terikat adalah

pemanfaatan RSUD Salak.

3.5.2. Definisi Operasional

1. Faktor konsumen merupakan faktor yang terdapat dalam diri pasien sebagai

konsumen dalam pemanfaatan pelayanan RSUD Salak dalam hal ini adalah

persepsi tentang penyakit.

(7)

42

2. Faktor

provider

adalah faktor yang terdapat dalam diri petugas kesehatan (dokter,

perawat dan bidan) selaku penyedia jasa pelayanan kesehatan untuk menguatkan

pasien dalam memanfaatkan RSUD Salak, meliputi:

(a) Sikap petugas medis adalah respon masyarakat terhadap sikap dokter dalam

menjelaskan dan memotivasi responden untuk memanfaatkan RSUD Salak.

(b) Sikap petugas paramedis adalah respon masyarakat terhadap sikap (bidan dan

perawat) dalam menjelaskan pelayanan kesehatan untuk memanfaatkan

RSUD Salak

(c) Fasilitas umum adalah merupakan

kesiapan sarana umum untuk dapat

digunakan masyarakat seperti kamar mandi, toilet, parkir, tempat ibadah,

kantin dalam mendukung pemanfaatan RSUD Salak.

3 Pemanfaatan adalah merupakan tindakan atau aktivitas yang dilakukan responden

dalam memanfaatkan pelayanan di RSUD Salak.

3.6 Metode Pengukuran

Metode pengukuran menggunakan instrumen penelitian dalam bentuk

kuesioner digunakan sebagai panduan untuk memperoleh data-data variabel faktor

konsumen dan

provider

diuraikan sebagai berikut :

3.6.1 Metode Pengukuran Variabel Bebas

(8)

43

Tabel 3.2 Metode Pengukuran Variabel Bebas

Variabel Perta

Persepsi tentang penyakit diukur melalui 5 pertanyaan dengan pilihan jawaban

”Ya (bobot nilai 1)” dan ”Tidak (bobot nilai 0)”, jumlah skor tertinggi 5 dan terendah

0, kemudian dikategorikan, yaitu baik dan tidak baik mengacu kepada skala Gutman

(Sugiyono, 2012):

a. Kategori baik, jika jawaban responden memiliki skor 3-5.

b. Kategori tidak baik, jika jawaban responden memiliki skor 0-2.

(9)

44

nilai 2 )” dan “sangat tidak setuju (bobot nilai 1 )”, jumlah skor tertinggi 28 dan

terendah 7, kemudian dikategorikan, yaitu baik dan tidak baik mengacu kepada skala

Gutman (Sugiyono, 2012).

a. Kategori baik, jika jawaban responden memiliki skor 18-28.

b. Kategori tidak baik, jika jawaban responden memiliki skor 7-17.

Sikap petugas medis (perawat) diukur melalui 4 pernyataan dengan pilihan

jawaban ”sangat setuju (bobot nilai 4 )”, “setuju (bobot nilai 3)”, “tidak setuju (bobot

nilai 2 )” dan “sangat tidak setuju (bobot nilai 1 )”, jumlah skor tertinggi 16 dan

terendah 4, kemudian dikategorikan, yaitu baik dan tidak baik mengacu kepada skala

Gutman (Sugiyono, 2012).

a. Kategori baik, jika jawaban responden memiliki skor 11-16.

b. Kategori tidak baik, jika jawaban responden memiliki skor 4-10.

Sikap petugas medis (bidan) diukur melalui 3 pernyataan dengan pilihan

jawaban ”sangat setuju (bobot nilai 4 )”, “setuju (bobot nilai 3)”, “tidak setuju (bobot

nilai 2 )” dan “sangat tidak setuju (bobot nilai 1 )”, jumlah skor tertinggi 12 dan

terendah 3, kemudian dikategorikan, yaitu baik dan tidak baik mengacu kepada skala

Gutman (Sugiyono, 2012).

a. Kategori baik, jika jawaban responden memiliki skor 8-12.

b. Kategori tidak baik, jika jawaban responden memiliki skor 3-7.

(10)

45

a. Kategori baik, jika jawaban responden memiliki skor 3-5.

b. Kategori tidak baik, jika jawaban responden memiliki skor 0-2.

3.6.2 Metode Pengukuran Variabel Terikat

Pengukuran variabel terikat ditunjukkan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Metode Pengukuran Variabel Terikat

Variabel

Jumlah

Indikator

Alternatif

Jawaban

Skor Kategori

Skala

Pengukuran pemanfaatan diukur melalui 1 pernyataan dengan pilihan jawaban

”Ya (xkor 1)” dan Tidak (skor 0)”, jumlah skor tertinggi 1 dan terendah 0, kemudian

dikategorikan (

dummy variable

), mengacu kepada skala Gutman (Sugiyono, 2012).

a. Memanfaatkan

(1)

b. Tidak memanfaatkan (0)

3.7 Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini meliputi:

a. Analisis univariat, yaitu untuk menjelaskan setiap variabel penelitian yang

disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi.

b. Analisis bivariat adalah analisis yang dimaksudkan untuk menganalisis hubungan

variabel bebas dengan variabel terikat menggunakan uji

chi-square

(11)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah Salak terletak di Kabupaten Pakpak Bharat yang

beribukota di Kecamatan Salak. Sejarah pendirian rumah sakit ini adalah berawal dari

berdirinya Puskesmas Salak. Kabupaten Pakpak Bharat sebagian besar terdiri atas wilayah

dengan topografi yang bergunung-gunung dengan kemiringan lereng yang bervariasi.

Wilayah yang memiliki kemiringan lereng datar (0–15 %) adalah sekitar 6.396 ha, berombak

(8-15%) sekitar 3.348 ha, bergelombang (15–25%) sekitar 21.619 ha dan curam sampai terjal

(25% keatas) sekitar 90.467 ha. Sebagai wilayah yang beriklim tropis, kabupaten Pakpak

Bharat juga memiliki udara sejuk yang dipengaruhi oleh iklim pegunungan. Suhu udara rata–

rata berkisar antara 18°-28°C, kelembaban udara relatif rata – rata berkisar antara 86%-92%.

Secara administratif Kabupaten Pakpak Bharat terdiri atas 8 (delapan) kecamatan,

yakni Kecamatan Salak, Kecamatan Kerajaan, Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe,

Kecamatan Tinada, Kecamatan Siempat Rube, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu,

Kecamatan Pergetteng-Getteng Sengkut dan Kecamatan Pagindar yang terdiri dari 52 Desa.

Kabupaten Pakpak Bharat memiliki batas administrasi wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi dan Kecamatan

Harian Kabupaten Toba Samosir

b. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Singkil dan Pemko Subulussalam

(12)

47

c. Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kecamatan Lae

Parira, Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi.

d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tara Bintang Kabupaten Humbang

Hasundutan dan Kecamatan Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah.

Wilayah pelayanan RSUD Salak di Kabupaten Pakpak Bharat dapat dilihat pada

Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Peta Wilayah Kabupaten Pakpak Bharat

Penduduk yang mendiami Kabupaten Pakpak Bharat menyebar di 52 desa adalah

sebanyak 44.864 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 9.755 KK. Penduduk

(13)

48

Bharat yang relatif homogen, mayoritas suku Pakpak yang terdiri dari 5 (lima) suak (Simsim,

Pegagan, Keppas, Kelasen dan Boang) dan 90% penduduk beretnis Pakpak.

Jumlah SDM di RSUD Salak adalah sebagai berikut : (a) PNS 108 orang yang terdiri

atas (struktural 20 orang, fungsional 79 orang, honorer 9 orang, kontrak 41 orang). RSUD

Salak menyelenggarakan fungsi: (a) pelayanan medik, (b) pelayanan penunjang medik, (c)

pelayanan perawatan, (d) playanan rehabilitasi, (e) pencegahan dan peningkatan kesehatan,

(f) sebagai tempat pendidikan dan atau latihan tenaga medik dan para medik dan (g) sebagai

tempat penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi bidang kesehatan.

4.1.1 Visi dan Misi

Visi RSUD Salak Kabupaten Pakpak Bharat berdasarkan Surat Keputusan Direktur

Nomor 445.021/RSUD/III/2011 adalah:

1. Visi, menjadi rumah sakit yang tanggap dan berkualitas sesuai dengan profesionalisme

dalam memberikan pelayanan kesehatan.

2. Misi, untuk mewujudkan visi tersebut, maka dirumuskan misi RSUD Salak, yaitu :

a). Meningkatkan pelayanan di rumah sakit menuju rumah sehat;

b). Menciptakan lingkungan rumah sakit yang nyaman, aman, indah dan bersih;

c). Menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai dan berkualitas melalui

pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan rumah sakit;

d). Melengkapi sarana prasarana kesehatan sesuai dengan tipe rumah sakit;

e). Melengkapi dan menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai dengan

kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK);

(14)

49

4.1.2 Produk Layanan

RSUD Salak memiliki berbagai macam produk layanan yang terdiri dari;a)

Pelayanan Rawat Jalan, b) Pelayanan Rawat Inap, c) Pelayanan Medik Dasar dan atau

Spesialistik, d) Pelayanan Penunjang Medik dan atau Diagnostik, e) Pelayanan Instalasi dan

f) Pelayanan lainnya. RSUD Salak telah dilengkapi dengan tenaga Dokter Spesialis (Residen)

yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terdiri dari: a) Dokter

Spesialis Anak, b) Dokter Spesialis Kandungan, c) Dokter Spesialis Bedah, d) Dokter

Spesialis Penyakit Dalam, e) Dokter Spesialis Patologi Klinik dan f) Dokter Spesialis

Anastesi.

4.2 Analisis Univariat

4.2.1 Karakteristik Responden

Karakteristik responden meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan dan pendapatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berumur terendah adalah 21 tahun dan

tertinggi 65 tahun, dengan usia terbanyak 36-50 tahun, yaitu sebanyak 57 orang (51,9%).

Jenis kelamin paling banyak adalah perempuan, yaitu sebanyak 63 orang (57,3%). Tingkat

pendidikan lebih banyak SLTP, yaitu sebanyak 61 orang (55,5%). Berdasarkan pekerjaan

(15)

50

banyak pada kelompok <UM Kabupaten Pakpak Bharat (Rp. 1.525.000), yaitu sebanyak 67

orang (60,9%). Distribusi responden berdasarkan karakteristik dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden

No Karakteristik Jumlah Persentase (%)

1 Umur

PNS/TNI/Polri/Pegawai swasta/Pensiunan 9 8,2

Wiraswasta/Pedagang 4 3,6

5 Pendapatan

≥ UM Kabupaten Pakpak Bharat (Rp. 1.525.000) 43 39,1

< UM Kabupaten Pakpak Bharat (Rp. 1.525.000) 67 60,9

Jumlah 110 100,0

4.2.2 Akses Geografis

Akses geografis dalam penelitian ini adalah jarak, alat transportasi, waktu tempuh,

sarana jalan dan biaya. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 65 orang

(40,9%) responden menyatakan bahwa jarak dari tempat tinggal dengan rumah sakit sulit

(16)

51

masyarakat Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Sitellu Tali Urang Julu, Kecamatan Tinada

dan Kecamatan Pagindar masyarakat terjauh ke arah perbatasan menyatakan lebih dekat

dengan rumah sakit perbatasan Subulusalam dan masyarakat ke arah perbatasan

Salak-Sidikalang menyatakan lebih dekat ke RSUD Salak-Sidikalang.

Berdasarkan ketersediaan transportasi sebanyak 67 orang (60,9%) menyatakan alat

transportasi tidak tersedia setiap saat jika berkunjung ke RSUD Salak. Alasan responden

menyatakan hal ini karena masyarakat terjauh ke arah perbatasan Salak-Subulusalam hanya

waktu pekan (onan) saja transportasi umum yang tersedia menuju RSUD begitu juga dengan

masyarakat ke arah perbatasan Salak-Sidikalang, sehingga ada sebagian menggunakan

kenderaan sendiri dan sewa mobil kecil.

Berdasarkan waktu tempuh sebanyak 69 orang (62,7%) menyatakan waktu tempuh

menuju RSUD lama. Alasan responden menyatakan hal ini karena masyarakat terjauh ke arah

perbatasan Salak-Kabupaten Singkil waktu tempuh minimal 2-4 jam menuju RSUD begitu

juga dengan masyarakat ke arah perbatasan Salak-Sidikalang.

Berdasarkan sarana jalan darat sebanyak 67 orang (60,9%) menyatakan sarana jalan

darat menuju RSUD tidak mendukung. Alasan responden menyatakan hal ini karena

masyarakat terjauh ke arah perbatasan Salak-Aceh Singkil sarana jalan darat sebagian besar

kurang layak (rusak) menuju RSUD begitu juga dengan masyarakat ke arah perbatasan

(17)

52

Berdasarkan biaya sebanyak 68 orang (61,8%) menyatakan biaya menuju RSUD

tidak terjangkau. Alasan responden menyatakan hal ini karena masyarakat terjauh ke arah

perbatasan Salak-Subulusalam biaya yang dikeluarkan dengan menyewa transportasi

bervariasi, yaitu sebesar Rp.600.000-800.000 begitu juga dengan masyarakat ke arah

perbatasan Salak-Sidikalang. Distribusi responden berdasarkan akses geografis dapat dilihat

pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Akses Geografis

No Pertanyaan Ya Tidak Total

n % n % n % 1 Jarak dari tempat tinggal dengan RSUD Salak

mudah dicapai 45 59,1 65 40,9 110 100,0

2 Alat transportasi tersedia setiap saat bila berkunjung

ke RSUD Salak 43 39,1 67 60,9 110 100,0

3 Waktu yang dibutuhkan lama untuk menempuh

RSUD Salak 69 62,7 41 37,3 110 100,0

4 Sarana jalan darat ke RSUD Salak mendukung untuk

ditempuh 43 39,1 67 60,9 110 100,0

5 Biaya yang dikeluarkan menuju ke RSUD Salak

terjangkau 42 38,2 68 61,8 110 100,0

4.2.3 Faktor Konsumen

Faktor konsumen dalam penelitian ini adalah persepsi tentang penyakit. Berdasarkan

hasil penelitian diketahui sebanyak 82 orang (74,5%) responden memiliki persepsi bahwa

penyakit yang diderita selama ini dirasakan tidak serius, sehingga belum memanfaatkan

RSUD Salak. Alasan responden memiliki persespi seperti ini karena biaya yang tidak

terjangkau dan sebagian jalan rusak, sehingga penyakit yang diderita cukup diobati di

(18)

53

Berdasarkan penyakit yang diderita sebanyak 84 orang (76,4%) responden memiliki

persepsi bahwa penyakit yang diderita selama ini belum perlu secara detail diperiksa oleh

petugas kesehatan, sehingga belum memanfaatkan RSUD Salak. Alasan responden memiliki

persespi seperti ini karena sebagian besar responden dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami

sakit yang berarti dan responden yang belum pernah berkunjung sama sekali belum

sepenuhnya mengetahui pelayanan apa saja yang tersedia di RSUD Salak.

Berdasarkan kesembuhan penyakit sebanyak 83 orang (75,5%) responden memiliki

persepsi bahwa penyakit yang diderita belum pasti sembuh. Alasan responden memiliki

persepsi seperti ini karena penyakit yang diderita masih dapat dicegag dengan obat dari

puskesmas dan sebagian memang belum pernah memanfaatkan RSUD Salak.

Berdasarkan keterkaitan penyakit yang diderita dengan aktivitas sehari-hari sebanyak

81 orang (73,6%) responden memiliki persepsi bahwa penyakit yang diderita memang belum

mengganggu aktivitas sehari-hari, sehingga belum memanfaatkan RSUD Salak. Alasan

responden memiliki persepsi seperti ini karena kalau penyakit yang diderita belum

mengganggu aktivitas cukup ditahankan saja dan diobati dengan obat yang ada di

dikampung. Responden tidak mengetahui bahwa keterlambatan memeriksakan diri akan

berakibat pada penanganan penyakit.

Berdasarkan penyakit yang diderita dapat diterapi dengan pengobatan di rumah sakit

sebanyak 85 orang (77,3%) responden memiliki persepsi bahwa belum sepenuhnya

(19)

54

memiliki persepsi seperti ini karena penyakit yang diderita diobati dengan obat puskesmas

atau obat kampung saja dan sebagian belum pernah memanfaatkan rumah sakit serta belum

pernah mendapat informasi dari petugas kesehatan ataupun tetangga tentang pelayanan apa

saja yang tersedia di RSUD Salak.

Distribusi berdasarkan persepsi tentang penyakit dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi tentang Penyakit

No Indikator Ya Tidak Total

n % n % n %

1 Penyakit yang diderita dirasakan sudah serius,

sehingga berkunjung ke RSUD Salak. 28 25,5 82 74,5 110 100,0

2 Penyakit yang diderita dirasakan perlu diperiksa oleh petugas kesehatan, sehingga berkunjung ke RSUD Salak

26 23,6 84 76,4 110 100,0

3 Penyakit yang diderita dapat sembuh, sehingga

berkunjung ke RSUD Salak 27 24,5 83 75,5 110 100,0

4 Penyakit yang diderita telah mengganggu aktivitas

sehari-hari, sehingga berkunjung ke RSUD Salak 29 26,4 81 73,6 110 100,0 5 Penyakit yang diderita dapat ditangani dengan terapi

pengobatan, sehingga berkunjung ke RSUD Salak 25 22,7 85 77,3 110 100,0

Hasil pengukuran persepsi tentang penyakit kemudian dikategorikan, persepsi

tentang penyakit pada kategori tidak baik sebanyak 84 orang (76,4%). Distribusi berdasarkan

kategori disajikan pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Persepsi tentang Penyakit

No Kategori Jumlah Persentase (%)

1 Baik 26 23,6

2 Tidak baik 84 76,4

(20)

55

4.2.4. Faktor Provider

Faktor provider dalam penelitian ini adalah (a) sikap petugas medis (dokter, perawat,

bidan) dan (b) ketersediaan fasilitas rumah sakit. Hasil penelitian secara rinci sebagai berikut:

a. Sikap Dokter

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 75 orang (68,2%) tidak

memanfaatkan RSUD Salak dan yang memanfaatkan sebanyak 35 orang. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa sebanyak 71 orang (64,5%) responden menyatakan tidak setuju bahwa

dokter menyapa pasien dengan ramah. Dari 75 orang yang tidak memanfaatkan hanya 71

orang (64,5%) menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak

mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian

ada sebanyak 4 orang responden bertambah menyatakan setuju, dengan alasan bahwa pernah

berkunjung 1 kali ke RSUD Salak.

Berdasarkan ketepatan waktu dokter, sebanyak 76 orang (69,1%) responden

menyatakan tidak setuju bahwa dokter tepat waktu dalam memberikan pelayanan. Dari 76

orang (69,1%) responden yang menyatakan tidak setuju sebenarnya ada sebanyak 75 orang

(68,2%) tidak memanfaatkan dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami

sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak

1 orang responden bertambah menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa pernah

berkunjung 1 kali ke RSUD Salak dan sewaktu berkunjung dokter tidak ada ditempat.

Berdasarkan ketelitian dokter memriksa pasien, sebanyak 72 orang (65,5%)

(21)

56

Dari 75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan hanya 72 orang (65,5%) responden yang

menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit

yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak 3

orang responden bertambah menyatakan setuju, dengan alasan bahwa pernah berkunjung 1

kali ke RSUD Salak.

Berdasarkan kecepatan dokter menentukan diagnosis, sebanyak 75 orang (68,2%)

responden menyatakan tidak setuju dokter cepat menentukan diagnosis penyakit dalam

memberikan pelayanan. Alasan responden menyatakan seperti ini karena dalam 1 tahun

terakhir tidak mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak memanfaatkan RSUD Salak.

Berdasarkan dokter menjelaskan terapi yang dilakukan, sebanyak 70 orang (63,6%)

responden menyatakan tidak setuju bahwa dokter menjelaskan terapi yang dilakukan. Dari 75

orang (68,2%) tidak memanfaatkan hanya 70 orang (63,6%) responden yang menyatakan

tidak setuju dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang berarti,

sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak 5 orang responden

bertambah menyatakan setuju, dengan alasan bahwa pernah berkunjung 1 kali ke RSUD

Salak.

Berdasarkan penjelasan dokter atas penggunaan obat, sebanyak 73 orang (66,4%)

responden menyatakan tidak setuju bahwa dokter menjelaskan tentang penggunaan obat. Dari

75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan hanya 73 orang (66,4%) responden yang menyatakan

tidak setuju dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang berarti,

(22)

57

bertambah menyatakan setuju, dengan alasan bahwa pernah berkunjung 1 kali ke RSUD

Salak

Berdasarkan waktu konsultasi dokter dengan pasien, sebanyak 74 orang (67,3%)

responden menyatakan tidak setuju bahwa dokter memiliki waktu konsultasi yang cukup

dengan pasien. Dari 75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan hanya 74 orang (67,3%)

responden yang menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak

mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian

ada sebanyak 1 orang responden bertambah menyatakan setuju, dengan alasan bahwa pernah

berkunjung 1 kali ke RSUD Salak

Distribusi responden berdasarkan sikap dokter dalam memberikan pelayanan dapat

dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Dokter

No Indikator Setuju

4 Dokter cepat menentukan diagnosis penyakit

pasien 35 31,8 75 68,2 110 100,0

5 Dokter menjelaskan terapi yang akan dilakukan 40 36,4 70 63,6 110 100,0

6 Dokter menjelaskan penggunaan obat 37 33,6 73 66,4 110 100,0

7 Dokter memiliki waktu untuk berkonsultasi

dengan pasien 36 32,7 74 67,3 110 100,0

Hasil pengukuran sikap dokter dalam memberikan pelayanan kemudian

dikategorikan, sikap dokter dalam memberikan pelayanan pada kategori tidak baik sebanyak

(23)

58

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sikap Dokter

No Kategori Jumlah Persentase (%)

1 Baik 41 37,3

2 Tidak baik 69 62,7

Jumlah 110 100,0

b. Sikap Perawat

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 81 orang (73,6%) responden

menyatakan tidak setuju bahwa perawat tanggap atas keluhan pasien dalam memberikan

pelayanan. Dari 81 orang (73,6%) responden yang menyatakan tidak setuju ini ada sebanyak

75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak

mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian

ada sebanyak 6 orang responden bertambah menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa

pernah berkunjung 1 kali ke RSUD Sala dan menyatakan sewaktu berkunjung merasakan

pelayanan perawat kurang tanggap atas keluhan pasien.

Berdasarkan ketrampilan perawat memberikan pelayanan, sebanyak 70 orang

(63,6%) responden menyatakan tidak setuju bahwa perawat terampil dalam memberikan

pelayanan. Dari 75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan ada sebanyak 70 orang (63,6%)

responden yang menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak

mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian

ada sebanyak 5 orang responden bertambah menyatakan setuju dengan alasan bahwa pernah

berkunjung 1 kali ke RSUD Salak

Berdasarkan keramahan perawat, sebanyak 77 orang (70,0%) responden menyatakan

(24)

59

Dari 77 orang (70,0%) responden yang menyatakan tidak setuju ada sebanyak 75 orang

(68,2%) tidak memanfaatkan dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami

sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak

2 orang responden bertambah menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa pernah

berkunjung 1 kali ke RSUD Salak dan menyatakan sewaktu berkunjung merasakan perawat

kurang ramah menyapa pasien.

Berdasarkan keteraturan perawat dalam memberikan pelayanan, sebanyak 71 orang

(64,5%), menyatakan tidak setuju bahwa perawat teratur memberikan pelayanan

(pemeriksaan nadi, suhu tubuh). Dari 75 orang (68,2%) responden tidak memanfaatkan ada

sebanyak 71 orang (64,5%) responden yang menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa

dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke

RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak 4 orang responden bertambah menyatakan

setuju, dengan alasan bahwa pernah berkunjung 1 kali ke RSUD Salak. Distribusi responden

berdasarkan sikap perawat dalam memberikan pelayanan dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Perawat

No Indikator Setuju

Tidak

Setuju Total

n % n % n %

1 Perawat tanggap atas keluhan pasien 29 26,4 81 73,6 110 100,0

2 Perawat terampil dalam memberikan pelayanan

(menyuntik, mengukur tensi, memasang infus) 40 36,4 70 63,6 110 100,0

3 Perawat menyapa ramah keluarga pasien 33 30,0 77 70,0 110 100,0

4 Perawat teratur memberikan pelayanan

(25)

60

Hasil pengukuran sikap perawat dalam memberikan pelayanan kemudian

dikategorikan, sikap pearwat pada kategori tidak baik sebanyak 63 orang (57,3%). Distribusi

berdasarkan kategori dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sikap Perawat

No Kategori Jumlah Persentase (%)

1 Baik 47 42,7

2 Tidak baik 63 57,3

Jumlah 110 100,0

b. Sikap Bidan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 81 orang (73,6%) responden

menyatakan tidak setuju bahwa bidan terampil dalam melakukan pengkajian. Dari 81 orang

(73,6%) responden yang menyatakan tidak setuju ada sebanyak 75 orang (68,2%) tidak

memanfaatkan dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang

berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak 6 orang

responden bertambah menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa pernah berkunjung 1 kali

ke RSUD Salak dan menyatakan sewaktu berkunjung merasakan pelayanan bidan kurang

terampil melakukan pengkajian.

Berdasarkan ketrampilan bidan memberikan pelayanan, sebanyak 78 orang (70,9%)

responden menyatakan tidak setuju bahwa bidan terampil dalam memeriksa fisik. Dari 78

orang (70,9%) responden yang menyatakan tidak setuju ada sebanyak 75 orang (68,2%) tidak

memanfaatkan dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang

berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak 3 orang

(26)

61

ke RSUD Salak dan menyatakan sewaktu berkunjung merasakan pelayanan bidan kurang

terampil.

Berdasarkan ketrampilan bidan dalam menolong persalinan, sebanyak 77 orang

(70,0%) responden menyatakan tidak setuju bahwa bidan terampil dalam menolong

persalinan. Dari 77 orang (70,0%) responden yang menyatakan tidak setuju ada sebanyak 75

orang (68,2%) tidak memanfaatkan dengan alasan bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak

mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian

ada sebanyak 2 orang responden bertambah menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa

pernah berkunjung 1 kali ke RSUD Salak dan menyatakan sewaktu berkunjung merasakan

ketrampilan bidan dalam menolong persalinan. Distribusi responden berdasarkan sikap bedan

dalam memberikan pelayanan dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Bidan

No Indikator Setuju

Tidak

Setuju Total

n % n % n %

1 Bidan terampil dalam melakukan pengkajian 29 26,4 81 73,6 110 100,0

2 Bidan terampil dalam melakukan pemeriksaan

fisik 32 29,1 78 70,9 110 100,0

3 Bidan terampil dalam melakukan pertolongan

persalinan 33 30,0 77 70,0 110 100,0

Hasil pengukuran sikap bidan dalam memberikan pelayanan kemudian

dikategorikan, sikap bidan pada kategori tidak baik sebanyak 61 orang (55,5%). Distribusi

(27)

62

Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sikap Bidan

No Kategori Jumlah Persentase (%)

1 Baik 49 44,5

2 Tidak baik 61 55,5

Jumlah 110 100,0

d. Fasilitas Rumah Sakit

Fasilitas rumah sakit dalam penelitian ini meliputi fasilitas medis dan fasilitas umum.

Hasil penelitian secara rinci sebagai berikut:

(a) Fasilitas Medis

Berdasarkan hasil observasi dilapangan tentang fasilitas medis di Rumah Sakit seperti;

(1) Instalasi gawat darurat, (2) Rawat jalan, (3) Rawat inap, (4) Rawat operasi, (5) Persalinan, (6)

Radiologi, (7) Laboratorium klinik, (8) Rehabilitasi medik, (9) Farmasi, (10) Instalasi gizi, (11)

Kamar jenazah sudah tersedia dan dapat dioperasikan dengan baik. Sedangkan untuk fasilitas; (1)

Pelayanan darah, (2) Rawat intensif belum tersedia. Distribusi berdasarkan fasilitas medis dapat

dilihat pada tabel 4.11

Tabel 4.11 Distribusi Berdasarkan Fasilitas Medis

No Fasilitas Medis Rumah Sakit Observasi

Ada Tidak Ada

10 Rehabilitasi medik √

11 Farmasi √

12 Instalasi gizi √

13 Kamar jenazah √

(28)

63

Fasilitas umum meliputi ; kamar mandi, toilet, tempat parkir, tempat ibadah, dan

kantin. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 81 orang (73,6%) responden menyatakan

bahwa fasilitas kamar mandi tidak layak digunakan. Dari 81 orang (73,6%) responden yang

menyatakan tidak setuju ada sebanyak 75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan dengan alasan

bahwa dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung

ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak 6 orang responden bertambah menyatakan

tidak setuju dengan alasan bahwa pernah berkunjung 1 kali ke RSUD Salak dan menyatakan

sewaktu berkunjung fasilitas kamar mandi tidak layak digunakan.

Berdasarkan tempat parkir, sebanyak 75 orang (68,2%) reaponden menyatakan

fasilitas tempat parkir tidak nyaman digunakan. Alasan responden menyatakan seperti ini

karena dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung

ke RSUD Salak.

Berdasarkan fasilitas tempat ibadah, sebanyak 110 orang (100,0%) responden

menyatakan fasilitas tempat ibadah belum representatif digunakan untuk beribadah. Alasan

responden menyatakan seperti ini karena tempat ibadah belum tersedia di areal RSUD Salak.

Berdasarkan fasilitas kantin, sebanyak 76 orang (69,1%) responden menyatakan

fasilitas kantin tidak tersedia aneka ragam makanan. Dari 76 orang (69,1%) responden yang

menyatakan tidak tersedia aneka ragam makanan ada sebanyak 75 orang (68,2%) tidak

(29)

64

berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak dengan demikian ada sebanyak 1 orang

responden bertambah menyatakan tidak setuju dengan alasan bahwa pernah berkunjung 1 kali

ke RSUD Salak dan sewaktu berkunjung fasilitas kantin tidak tersedia aneka ragam makanan.

Berdasarkan fasilitas keamanan, sebanyak 75 orang (68,2%) responden menyatakan

fasilitas keamanan tidak berfungsi dengan baik. Alasan responden menyatakan seperti ini

karena dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung

ke RSUD Salak. Distribusi berdasarkan fasilitas umum dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Distribusi Responden Berdasarkan Fasilitas Umum

No Indikator Ya Tidak Total

n % n % n %

1 Fasilitas kamar mandi layak digunakan 29 26,4 81 73,6 110 100,0

2 Fasilitas tempat parkir nyaman digunakan 35 31,8 75 68,2 110 100,0

3 Fasilitas tempat ibadah representatif digunakan

untuk beribadah 0 0,0 110 100,0 110 100,0

4 Fasilitas kantin tersedia dengan aneka ragam

makanan dan minuman 34 30,9 76 69,1 110 100,0

5 Fasilitas keamanan berfungsi dengan baik 35 31,8 75 68,2 110 100,0

Hasil pengukuran fasilitas rumah sakit kemudian dikategorikan, fasilitas rumah sakit

pada kategori tidak baik sebanyak 71 orang (64,5%). Distribusi berdasarkan kategori dapat

dilihat pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Fasilitas Rumah Sakit

No Kategori Jumlah Persentase (%)

1 Baik 39 35,5

2 Tidak baik 71 64,5

(30)

65

4.2.5. Pemanfaatan RSUD Salak

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan RSUD Salak, diketahui

sebanyak 75 orang (68,2%) responden menyatakan pernah memanfaatkan 1 kali, selebihnya

pernah memanfaatkan >1 kali, yaitu sebanyak 35 orang (31,8%). Distribusi pemanfaatan

dapat dilihat pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14 Distribusi Responden Berdasarkan Pemanfaatan

No Indikator Jawaban Jumlah Persentase (%)

1 Apabila ada keluhan sakit, apakah Bapak/Ibu memanfaatkan RSUD Salak untuk berobat

a.Ya 35 31,8

b.Tidak 75 68,2

Jumlah 110 100,0

2 Jika Ya, dalam 1 tahun, berapa kali memanfaatkan RSUD Salak

a.Ya (2 kali) 35 31,8

b.Tidak (1 kali) 75 68,2

Jumlah 110 100,0

Hasil pengukuran pemanfaatan kemudian dikategorikan, pemanfaatan (>1 kali)

sebanyak 35 orang (31,8%) dan sebanyak 75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan. Distribusi

berdasarkan kategori dapat dilihat pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pemanfaatan

No Kategori Jumlah Persentase (%)

1 Memanfaatkan 35 31,8

2 Tidak memanfaatkan 75 68,2

Jumlah 110 100,0

4.3 Analisis Bivariat

Hubungan masing-masing variabel bebas, yaitu variabel faktor konsumen dan faktor

provider dengan pemanfaatan dilakukan uji bivariat menggunakan uji statistik chi-square

(31)

66

4.3.1 Hubungan Persepsi tentang Penyakit dengan Pemanfaatan

Berdasarkan persepsi tentang penyakit diketahui bahwa dari 84 orang responden

yang memiliki persepsi tentang penyakit tidak baik ada sebanyak 70 orang (83,3%) tidak

memanfaatkan dan sebanyak 14 orang (16,7%) memanfaatkan. Ada kecenderungan

responden yang memiliki persepsi tentang penyakit tidak baik lebih banyak tidak

memanfaatkan. Berdasarkan uji statistik Chi-square diperoleh nilai p<0,05, artinya ada

hubungan yang signifikan antara persepsi tentang penyakit dengan pemanfaatan. Hasil uji

secara statistik dapat dilihat pada Tabel 4.16.

4.3.2 Hubungan Sikap Dokter dengan Pemanfaatan

Berdasarkan sikap dokter dalam memberikan pelayanan diketahui bahwa dari 69

orang responden yang menyatakan sikap dokter tidak baik ada sebanyak 60 orang (87,0%)

tidak memanfaatkan dan sebanyak 9 orang (13,0%) memanfaatkan. Ada kecenderungan

responden yang menyatakan sikap dokter tidak baik lebih banyak tidak memanfaatkan.

Berdasarkan uji statistik Chi-square diperoleh nilai p<0,05, artinya ada hubungan yang

signifikan antara sikap dokter dengan pemanfaatan. Hasil uji secara statistik dapat dilihat

pada Tabel 4.16.

4.3.3 Hubungan Sikap Perawat dengan Pemanfaatan

Berdasarkan sikap perawat dalam memberikan pelayanan diketahui bahwa dari 63

orang responden yang menyatakan sikap perawat tidak baik ada sebanyak 54 orang (85,7%)

tidak memanfaatkan dan sebanyak 9 orang (14,3%) memanfaatkan. Ada kecenderungan

(32)

67

Berdasarkan uji statistik Chi-square diperoleh nilai p<0,05, artinya ada hubungan yang

signifikan antara sikap perawat dengan pemanfaatan. Hasil uji secara statistik dapat dilihat

pada Tabel 4.16.

4.3.4 Hubungan Sikap Bidan dengan Pemanfaatan

Berdasarkan sikap bidan dalam memberikan pelayanan diketahui bahwa dari 61

orang responden yang menyatakan sikap perawat tidak baik ada sebanyak 48 orang (78,7%)

tidak memanfaatkan dan sebanyak 13 orang (21,3%) memanfaatkan. Ada kecenderungan

responden yang menyatakan sikap bidan tidak baik lebih banyak tidak memanfaatkan.

Berdasarkan uji statistik Chi-square diperoleh nilai p<0,05, artinya ada hubungan yang

signifikan antara sikap bidan dengan pemanfaatan. Hasil uji secara statistik dapat dilihat pada

Tabel 4.16.

4.3.5 Hubungan Fasilitas Rumah Sakit dengan Pemanfaatan

Berdasarkan fasilitas ruamh sakit diketahui bahwa dari 71 orang responden yang

menyatakan fasilitas rumah sakit tidak baik ada sebanyak 55 orang (77,5%) tidak

memanfaatkan dan sebanyak 16 orang (22,5%) memanfaatkan. Ada kecenderungan

responden yang menyatakan fasilitas ruamh sakit tidak baik lebih banyak tidak

memanfaatkan. Berdasarkan uji statistik Chi-square diperoleh nilai p<0,05, artinya ada

hubungan yang signifikan antara fasilitas rumah sakit dengan pemanfaatan. Hasil uji secara

(33)

68

Tabel 4.16 Hubungan Faktor Konsumen dan Provider dengan Pemanfaatan

Variabel

Pemanfaatan

Jumlah

p

Memanfaatkan Tidak Memanfaatkan

4.4 Analisis Multivariat

Sebelum dilakukan uji multivariat lebih dahulu dilakukan uji kelayakan model

kemudian dilakukan uji hipotesis. Hasil uji secara rinci sebagai berikut:

4.4.1 Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Langkah ini bertujuan untuk menguji model secara keseluruhan melalui uji

Nagelkerke R square. Berdasarkan koefisien Nagelkerke R square diperoleh bahwa variabel

faktor konsumen dan faktor provider mampu menjelaskan sebesar 64,2% keragaman total

dari pemanfaatan dan sisanya sebesar 35,8% dijelaskan oleh faktor lain diluar model. Hasil

(34)

69

Tabel 4.17 Model Summary

Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square

1 70,116 0,459 0,642

4.4.2 Pengujian Hipotesis

Analisis multivariat model regresi logistik berganda harus memenuhi persyaratan

hasil pengujian. Persyaratan yang dimaksud, yaitu indikator variabel independen yang

disertakan kedalam uji multivariat harus memiliki nilai uji statistik p<0,25 pada uji bivariat

(Tabel 4.18 ). Berdasarkan hasil uji bivariat dengan metode chi-square seluruh variabel bebas

memiliki nilai p<0,25, sehingga seluruh indikator variabel bebas faktor konsumen (persepsi

tentang penyakit) dan faktor provider, yaitu (sikap dokter, perawat, bidan dan fasilitas rumah

sakit) disertakan dalam uji regresi logistik.

Hasil uji regresi logistik dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Persepsi tentang penyakit mempunyai nilai Exp (B) sebesar 13,251, artinya responden

yang memiliki persepsi tentang penyakit baik mempunyai peluang 13 kali memanfaatkan

dibandingkan dengan responden yang memiliki persepsi tentang penyakit tidak baik.

b. Sikap dokter mempunyai nilai Exp (B) sebesar 6,500, artinya responden yang menyatakan

sikap dokter baik dalam memberikan pelayanan mempunyai peluang 7 kali memanfaatkan

dibandingkan dengan responden yang menyatakan sikap dokter tidak baik.

c. Sikap perawat mempunyai nilai Exp (B) sebesar 6,365, artinya responden yang

(35)

70

memanfaatkan dibandingkan dengan responden yang menyatakan sikap perawat tidak

baik.

d. Sikap bidan mempunyai nilai Exp (B) sebesar 5,272, artinya responden yang menyatakan

sikap bidan baik dalam memberikan pelayanan mempunyai peluang 5 kali memanfaatkan

dibandingkan dengan responden yang menyatakan sikap bidan tidak baik.

e. Fasilitas rumah sakit mempunyai nilai Exp (B) sebesar 4,182, artinya dengan fasilitas

rumah sakit yang baik responden mempunyai peluang 4 kali memanfaatkan dibandingkan

dengan fasilitas ruamh sakit tidak baik.

f. Variabel persepsi tentang penyakit mempunyai nilai Exp (B) paling besar, yaitu 13,251

dengan koefisien (B) 2,584. Hasil uji regresi logistik berganda dapat dilihat pada Tabel

4.18.

Tabel 4.18 Hasil Uji Regresi Logistik Berganda

No Variabel B Sig. Exp.B 95% CI For Exp.B

Lower Upper

1 Persepsi tentang penyakit 2,584 <0,001 13,251 3,149 55,768

2 Sikap Dokter 1,872 0,003 6,500 1,929 21,898

3 Sikap Perawat 1,851 0,006 6,365 1,710 23,692

4 Sikap Bidan 1,662 0,015 5,272 1,382 20,110

5 Fasilitas rumah sakit 1,431 0,036 4,182 1,097 15,942

(36)

BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Pengaruh Faktor Konsumen terhadap Pemanfaatan RSUD Salak

Faktor konsumen, yaitu persepsi tentang penyakit dengan pembahasan sebagai

berikut:

5.1.1 Pengaruh Persepsi tentang Penyakit terhadap Pemanfaatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 84 orang (76,4%) pada kategori tidak

baik. Persepsi responden tentang penyakit yang diderita, pemeriksaan penyakit, keseriusan

penyakit, pengobatan penyakit dan kesembuhan penyakit belum sepenuhnya sesuai dengan

semestinya. Hal ini terkait dengan tingkat pendidikan yang rendah, yaitu sebanyak 55,5%

responden tamat SLTP, sebanyak 57,3% perempuan, sebanyak 56,4% bekerja sebagai petani

dan sebanyak 51,9% berumur 36-50 tahun kurang mendapat informasi tentang penyakit

dalam mempertahankan kualitas hidup.

Hasil wawancara dengan responden yang memanfaatkan RSUD Salak sebanyak 35

orang (31,8%) menyatakan bahwa penyakit yang diderita dirasakan sudah serius, telah

benar-benar mengganggu aktivitas sehari-hari, penyakit yang diderita perlu diperiksa dokter,

penyakit yang didierita dapat diobati secara medis dan memiliki persepsi penyakit yang

diderita dapat disembuhkan, sehingga memanfaatkan RSUD Salak. Hasil wawancara ini

memberikan gambaran bahwa jika responden merasa penyakit yang diderita belum kronis

(37)

72

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ibrahim, Desa dan Chiew-Tong (2011)

menyimpulkan ketika seseorang dihadapkan pada suatu penyakit akan menggambarkan

penyakit tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri dalam rangka untuk memahami dan

menanggapi masalah yang dihadapi. Persepsi negatif seseorang terhadap penyakit yang

diderita menyebabkan orang tersebut enggan untuk menjalani perawatan dan pengobatan.

Begitu pula sebaliknya, persepsi positif seseorang terhadap penyakit yang diderita akan

membuat seseorang bersedia menjalani perawatan dan pengobatan secara teratur.

Sedangkan sebanyak 75 orang (68,2%) tidak memanfaatkan beralasan bahwa

memang kurang mendapat informasi dari petugas kesehatan ataupun tetangga tentang

pelayanan apa saja yang tersedia di RSUD Salak. Alasan responden seperti ini disertai

dengan sebagian besar responden memiliki akses geografi yang sulit (waktu tempuh, biaya,

dan transportasi) seperti masyarakat terjauh ke arah perbatasan Salak-Subulusalam sarana

jalan darat sebagian besar kurang layak menuju RSUD begitu juga dengan masyarakat ke

arah perbatasan Salak-Sidikalang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Awoyemi et al, (2011) di Nigeria

menyimpulkan bahwa jarak, akses rute, waktu tempuh pada akses geografis berhubungan

dengan pemanfaatan yang dapat diukur dengan waktu tempuh dalam mencari perawatan

kesehatan mempengaruhi pemanfaatan rumah sakit pemerintah dan swasta. Demikian juga

pada hasil penelitian Pasaribu (2003) di RSU Sipirok menyimpulkan bahwa salah satu

penghambat yang menyebabkan rendahnya pemanfaatan tempat tidur di RSU Sipirok adalah

(38)

73

Hasil ini sesuai dengan komponen needs Andersen dalam Behavior Model for Family

Use of Health Services. Melakukan kegiatan interaktif pemahaman tentang gejala,

fungsi-fungsi yang terganggu akan meningkatkan persepsi masyarakat terhadap status

kesehatannya, pada gilirannya menambah keyakinan mereka terhadap pemanfaatan rumah

sakit bahkan mengajak orang-orang disekitarnya, maka informasi /promosi tetap merupakan

hal penting untuk diperhatikan karena pasien dan pengunjung rumah sakit merupakan salah

satu media promosi murah dan efektif.

Penyakit dikenal dengan kata disease dan illness. Disease dimaksudkan gangguan

fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu,

sedangkan illness merupakan reaksi personal, interpersonal, dan kultural terhadap penyakit

atau perasaan kurang nyaman. Menurut Suchman (dalam Notoatmodjo, 2010) pada tahap

asumsi peranan sakit (the assumption of the sick role), individu berusaha mengobati sendiri

dengan caranya sendiri, mulai mencari informasi dari tetangga atau anggota keluarga yang

lain, minta pengakuan dari orang lain bahwa dia sakit, bahkan minta dibebaskan sementara

dari tugasnya sehari-hari.

Persepsi tentang sakit antara pasien dan petugas kesehatan berbeda, disebabkan

konsep sehat-sakit yang tidak sejalan atau bertentangan dengan konsep sehat-sakit yang

diberikan oleh pihak penyelenggara pelayanan kesehatan. Menurut Notoatmodjo (2010), sakit

dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu; (1) seseorang tidak mempunyai atau menderita

penyakit dan juga tidak merasa sakit (no disease and no illness) dalam keadaan ini orang

(39)

74

serangan penyakit namun orang itu tidak merasakan sakit (disease but no illness), oleh karena

itu mereka tetap menjalankan kegiatannya sehari-hari sebagaimana orang sehat. Konsep sehat

menurut masyarakat bila seseorang dikatakan sakit apabila sudah tidak dapat bangkit dari

tempat tidur, sehingga tidak dapat menjalankan pekerjaannya sehari-hari, (3) tidak ada

penyakit pada seseorang tetapi orang tersebut merasa sakit (illness but no disease), pada

kenyataannya kondisi seperti ini jarang ditemui pada masyarakat, dan (4) seseorang memang

menderita sakit dan iapun merasa sakit juga (illness with disease). Kondisi inilah sebenarnya

yang dikatakan bahwa orang tersebut benar-benar sakit dan dalam kondisi seperti inilah

pasien baru datang berobat atau mencari pengobatan. Persepsi pasien tentang sakit ini akan

memengaruhi perilaku mereka tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2010) yang menyatakan

bahwa persepsi seseorang terhadap suatu objek akan mempengaruhi perilakunya. Persepsi

yang baik terhadap suatu objek akan mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan

persepsinya tersebut. Persepsi penderita kusta yang baik terhadap penyakit kusta dan

pengobatanya, akan mempengaruhinya untuk melakukan tindakan pengobatan penyakitnya

tersebut secara tepat dan benar.

Hal ini sejalan dengan teori Health Belief Model yang disampaikan oleh Lewin dalam

Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa seseorang bertindak untuk mengobati atau

mencegah penyakitnya, ketika didorong oleh persepsinya tentang keseriusan penyakit

(40)

75

Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan penyuluhan secara

terintegrasi tentang penyakit pada masyarakat melalui kegiatan Promosi Kesehatan Rumah

Sakit (PKRS) untuk meningkatkan kesadaran jika menderita penyakit agar memeriksakan diri

ke rumah sakit, dalam rangka pencapaian tujuan kesehatan individu dan masyarakat baik

secara formal (penyuluhan di tempat pelayanan kesehatan) dan informal (seperti penyuluhan

di tempat arisan, pengajian) dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

Hal senada juga diungkapkan dalam Koalisi untuk Indonesia Sehat (2005) bahwa

upaya meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan di rumah sakit perlu ditunjang dengan

adanya penelitian-penelitian sosial budaya masyarakat, persepsi dan perilaku masyarakat

tersebut terhadap sarana kesehatan. Bila diperoleh data bahwa masyarakat masih mempunyai

persepsi yang salah tentang sarana kesehatan, maka dapat melakukan upaya perbaikan

melalui pendidikan kesehatan masyarakat, sehingga pelayanan yang diberikan akan diterima

oleh masyarakat.

Berdasarkan uji statistik Chi-square menunjukkan ada hubungan yang signifikan

antara persepsi tentang penyakit dengan pemanfaatan (p<0,05). Hasil uji statistik multivariat

persepsi tentang penyakit berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemanfaatan (p<0,05);

nilai Exp (B)= 13,251; CI For Exp (B) (3,149-55,768). Hal ini memberikan makna bahwa

responden yang memiliki persepsi tentang penyakit baik mempunyai peluang 13 kali

memanfaatkan..

Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Lumbanbatu (2015) menyimpulkan

(41)

76

RSUD Sidikalang (p<0,05) nilai Exp (B) sebesar 15,252 artinya responden yang memiliki

persepsi baik tentang penyakit mempunyai peluang 15 kali memanfaatkan ulang

dibandingkan dengan responden yang memiliki persepsi tidak baik tentang penyakit. Namun

berbeda dengan hasil penelitian Khairurahmi (2008), menyatakan bahwa persepsi terhadap

penyakit AIDS tidak berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT. Hasil penelitian

ini didukung teori Dever (1984), yang menyatkan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan

merupakan hasil interaksi antara faktor konsumen dan provider.

5.2 Pengaruh Faktor Provider terhadap Pemanfaatan RSUD Salak

Faktor provider, yaitu; (a) sikap petugas medis (Dokter, Perawat, Bidan) dan

(b).fasilitas umum. Adapun hasil pembahasan sebagai berikut:

5.2.1 Pengaruh Sikap Dokter terhadap Pemanfaatan

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 69 orang (62,7%) pada kategori tidak baik.

Hal ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden belum sepenuhnya menerima

pelayanan dokter dengan baik, sehingga pasien tidak memanfaatkan rumah sakit. Beberapa

alasan responden yang memanfaatkan pelayanan RSUD Salak, yaitu sebanyak 35 orang

(31,8%) beralasan karena penyakit yang diderita sudah terpaksa membutuhkan pemeriksaan

dokter, sehingga memanfaatkan RSUD Salak walaupun kadang-kadang ketika dibutuhkan

dokter tidak ditempat dan tidak tepat waktu dalam memberikan pelayanan, sehingga harus

menunggu lebih dahulu untuk diperiksa dan sulit memahami informasi yang disampaikan

(42)

77

memanfaatkan sebagian besar beralasan dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang

berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Aditama (2004) mengungkapkan bahwa

beberapa keluhan pasien yang timbul atas pelayanan seorang dokter di rumah sakit seperti

tidak diberi cukup waktu oleh dokter untuk konsul, keangkuhan sikap dokter, tidak ada

penjelasan tentang informasi penyakit, waktu tunggu datangnya dokter yang lama dan tidak

ada kerjasama antar dokter yang merawat.

Pendapat ini didukung pendapat Prasetijo dan Ihalauw (2005), menyatakan bahwa

salah satu pertimbangan seorang pasien/pelanggan untuk memanfaatkan pelayanan jasa

rumah sakit adalah penampilan petugasnya. Persepsi costumers terhadap pelayanan yang

diterimanya secara keseluruhan dipengaruhi oleh stimulus penampilan dan tanggapan petugas

yang melayani.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan agar manajemen RSUD Salak berupaya

memperbaiki persepsi masyarakat tentang pelayanan dokter khususnya pada saat komunikasi

dokter dengan pasien. Komunikasi antara dokter dengan pasien diupayakan untuk

ditingkatkan agar tercipta bahwa dokter dan pasien sebagai teman/mitra karena semakin

banyak pengalaman dokter melakukan komunikasi efektif ketika berhadapan dengan pasien,

keterampilannya akan semakin terasah.

Berdasarkan uji statistik Chi-square menunjukkan ada hubungan yang signifikan

antara sikap dokter dengan pemanfaatan (p<0,05). Hasil uji statistik multivariat sikap dokter

(43)

78

(B)= 6,500; CI For Exp (B) (1,929-21,898). Hal ini memberikan makna bahwa responden

yang menyatakan sikap dokter baik dalam memberikan pelayanan mempunyai peluang 7

kali memanfaatkan.

Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Munaryo (2008) menyimpulkan bahwa

persepsi tentang mutu pelayanan dokter mempunyai nilai Exp (B) sebesar 4,199 artinya

persepsi pasien tentang mutu pelayanan dokter yang kurang mempunyai risiko untuk tidak

berminat memanfaatkan ulang pelayanan sebesar 4 kali. Hal senada juga ditemukan pada

hasil penelitian Matondang (2011) yang menyimpulkan sikap dokter tentang pelayanan

kesehatan berpengaruh terhadap pemanfaatan RSU Swadana Tarutung dan didukung hasil

penelitian Surbakti (2012) menyimpulkan bahwa persepsi pasien umum tentang mutu

pelayanan dokter, berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan Rumah Sakit Bhayangkara

Tingkat II Medan.

Hasil penelitian ini didukung oleh teori Green dalam Notoatmodjo (2010), yang

menyatakan bahwa faktor penguat yang terwujud dalam sikap petugas kesehatan merupakan

salah satu faktor yang mendukung seseorang dalam memanfaatkan sarana pelayanan

kesehatan. Demikian juga dengan teori Dever (1984), menyatakan bahwa pemanfaatan

pelayanan kesehatan merupakan interaksi antara konsumen dengan provider (penyedia

pelayanan). Salah satu faktor yang memengaruhi pemanfaatan tersebut adalah faktor sikap

(44)

79

5.2.2 Pengaruh Sikap Perawat terhadap Pemanfaatan

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 63 orang (57,3%) pada kategori tidak baik.

Hal ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden belum sepenuhnya menerima

pelayanan perawat dengan baik, sehingga pasien tidak memanfaatkan rumah sakit.

Beberapa alasan responden yang memanfaatkan pelayanan RSUD Salak sebanyak 35

orang (31,8%) beralasan bahwa penyakit yang diderita sudah mengganggu aktivitas, sehingga

memanfaatkan RSUD Salak walaupun kadang-kadang sikap perawat kurang tanggap atas

keluhan pasien, kurang ramah dalam memberikan pelayanan, tidak ramah menyapa kelurga

pasien, perawat tidak teratur memberikan pelayanan (pemeriksaan nadi, suhu tubuh) dan

sebanyak 75 orang (68,2%) yang tidak memanfaatkan menyatakan karena dalam 1 tahun

terakhir tidak mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Gilles (1996) mengungkapkan bahwa

dalam pelayanan rawat inap rumah sakit keluhan pasien yang sering muncul adalah petugas

kesehatan (perawat) yang kurang ramah dan tidak sabar. Hal ini karena petugas perawat

berhadapan langsung dengan pasien selama 24 jam, sehingga pasien lebih mudah menilai

sikap perawat dibanding penilaian terhadap dokter.

Berdasarkan uji statistik Chi-square menunjukkan ada hubungan yang signifikan

antara sikap perawat dalam memberikan pelayanan dengan pemanfaatan (p<0,05). Hasil uji

statistik multivariat sikap perawat berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemanfaatan

(45)

80

memberikan makna bahwa responden yang menyatakan sikap perawat baik dalam

memberikan pelayanan mempunyai peluang 6 kali memanfaatkan.

Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Munaryo (2008) yang menyimpulkan

bahwa persepsi tentang mutu pelayanan perawat mempunyai nilai Exp (B) sebesar 1,839

artinya persepsi pasien tentang mutu pelayanan keperawatan yang kurang mempunyai risiko

untuk tidak berminat memanfaatkan ulang pelayanan sebesar 2 kali. Hal senada juga

ditemukan pada hasil penelitian Matondang (2011) yang menyimpulkan sikap perawat

tentang pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap pemanfaatan RSU Swadana Tarutung.

Hasil penelitian ini didukung oleh teori Dever (1984) menyatakan bahwa

pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan interaksi antara konsumen dengan provider

(penyedia pelayanan), faktor sikap petugas kesehatan, yaitu perawat dalam memberikan

pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor provider dalam memberikan pelayanan

kesehatan di rumah sakit.

5.2.3 Pengaruh Sikap Bidan terhadap Pemanfaatan

Hasil penelitian menunjukkan sikap bidan menurut responden sebanyak 61 orang

(55,5%) pada kategori tidak baik. Hal ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar

responden belum sepenuhnya menerima pelayanan bidan dirumah sakit dengan baik,

sehingga pasien tidak memanfaatkan rumah sakit. Hal ini terkait dengan jumlah responden

yang ditanyakan lebih banyak perempuan, yaitu sebanyak 63 orang (57,3%).

Beberapa alasan responden yang memanfaatkan pelayanan RSUD Salak sebanyak 35

(46)

81

aktivitas sehari-hari, sehingga memanfaatkan RSUD Salak walaupun kadang-kadang sikap

bidan kurang ramah dalam memberikan pelayanan dan tidak semua kebutuhan pasien

direspons dengan baik oleh bidan dalam pelayanan pertolongan persalinan dan sebanyak 75

orang (68,2%) yang tidak memanfaatkan menyatakan karena dalam 1 tahun terakhir tidak

mengalami sakit yang berarti, sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Notoatmodjo (2010), yang

mengungkapkan bahwa struktur sikap seseorang terdiri dari komponen yang saling

menunjang, yaitu komponen kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun ketiga komponen

tersebut tidak selalu saling berinteraksi untuk membentuk sikap yang utuh (total attitude).

Jika individu hanya mempunyai satu atau dua komponen saja, maka sikap untuk

menghasilkan perilaku yang diharapkan belum tentu terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa

sikap petugas medis dalam melayani pasien masih perlu ditingkatkan.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan manajemen RSUD Salak dalam menyikapi

masalah pasien adalah dengan meningkatkan komunikasi petugas medis (dokter, perawat dan

bidan) melalui pemberian pelatihan ”service excellent”, sehingga tercapai efektivitas

komunikasi antara petugas medis dengan pasien dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan di

RSUD Salak.

Berdasarkan uji statistik Chi-square menunjukkan ada hubungan yang signifikan

antara sikap bidan dalam memberikan pelayanan dengan pemanfaatan (p<0,05). Hasil uji

statistik multivariat sikap bidan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemanfaatan

(47)

82

memberikan makna bahwa responden yang menyatakan sikap bidan baik dalam

memberikan pelayanan mempunyai peluang 5 kali memanfaatkan.

Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Asmita (2008) menyimpulkan bahwa

ada hubungan antara sikap petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan) dengan loyalitas pasien

dalam memanfaatkan Poliklinik Umum Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Wilasa

Citarum, Semarang. Hal senada juga ditemukan dalam penelitian Purba (2009), di Kecamatan

Angkola Tapanuli Selatan menyimpulkan bahwa sikap bidan berhubungan dengan pelayanan

kebidanan dalam memberikan pelayanan kepada ibu dan balita.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Dever (1984), menyatakan bahwa

pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan interaksi antara konsumen dengan provider

(penyedia pelayanan). Salah satu faktor yang memengaruhi pemanfaatan tersebut adalah

faktor sikap petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan.

5.2.4 Pengaruh Fasilitas Umum terhadap Pemanfaatan

Hasil penelitian menunjukkan fasilitas umum sebanyak 71 orang (64,5%) pada

kategori tidak baik. Hal ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden belum

sepenuhnya dapat menikmati fasilitas umum rumah sakit dengan baik, sehingga pemanfaatan

rumah sakit belum optimal.

Beberapa alasan responden yang memanfaatkan pelayanan RSUD Salak sebanyak 35

orang (31,8%) beralasan bahwa karena penyakit yang diderita kunjung tidak sembuh,

sehingga memanfaatkan RSUD Salak walaupun fasilitas umum yang tersedia belum

(48)

83

kebersihan kamar mandi/WC yang belum baik. dan sebanyak 75 orang (68,2%) yang tidak

memanfaatkan menyatakan karena dalam 1 tahun terakhir tidak mengalami sakit yang berarti,

sehingga tidak berkunjung ke RSUD Salak.

Hal ini sejalan dengan pendapat Mukti (2007) mengungkapkan bahwa faktor sarana

atau fasilitas umum mempunyai peran yang sangat penting dan sebagai faktor yang sangat

berpengaruh terhadap kepuasan pasien yaitu persepsi tentang persepsi tentang kebersihan

rumah sakit secara umum dan ruangan perawatan, kerapian bangunan, dekorasi ruangan dan

penampilan staf rumah sakit.

Pendapat tersebut didukug oleh pendapat Aditama (2004), sarana adalah semua

fasilitas yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang operasional kegiatan

pelayanan. Penyediaan sarana dan prasarana termasuk menjamin ketersediaan bahan baku

pelayanan merupakan tanggung jawab manajemen guna menunjang kelancaran operasional

pelayanan.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan manajemen RSUD Salak dalam menyikapi

masalah pasien adalah dengan meningkatkan kualitas kebersihan kamar mandi/WC secara

rutin dan menyediakan fasilitas tempat ibadah yang representatif, sehingga pasien merasa

nyaman untuk memanfaatkan rumah sakit.

Berdasarkan uji statistik Chi-square menunjukkan ada hubungan yang signifikan

antara fasilitas umum dengan pemanfaatan (p<0,05). Hasil uji statistik multivariat fasilitas

Gambar

Tabel 3.2  Metode Pengukuran Variabel Bebas
Gambar 4.1.
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Akses Geografis
+7

Referensi

Dokumen terkait

pernyataan yang tersedia. e) Nilai = 1, diberikan jika responden memberikan jawaban “Sangat tidak setuju”. dari pernyataan

Sifat penelitian ini menguraikan dan menjelaskan fenomena yang terjadi mengenai kualitas pelayanan yang terdiri tangibles (bukti fisik), reliability (keandalan),

Toko Skate Element selalu menjaga kualitas produk yang dijual, dengan klasifikasi penilaian 1 (sangat tidak setuju) - 5 (sangat setuju), sebesar 40,3% responden menyatakan kurang

yang jelas terhadap Bapak/Ibu) tidak terdapat responden yang menyatakan sangat. tidak setuju, 1 orang responden 1,6% menyatakan tidak setuju,

responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 1 orang atau. 3.3%, 8 orang atau 26.7% yang menjawab kurang setuju, 17