2.2. LINGKUP RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL
Sesuai dengan hasil telaahan kaitan komponen kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak dan jenis-jenis dampak potensial yang ditimbulkannya, maka berikut ini adalah komponen lingkungan yang relevan untuk ditelaah dalam studi ANDAL.
a) Komponen geo-fisik-kimia yang meliputi iklim dan kualitas udara ambien, kebisingan, kebauan dan getaran, fisiografi dan geologi, hidrologi dan kualitas air, hidrooceonografi, ruang, lahan dan tanah serta transportasi.
b) Komponen biologi meliputi biota darat dan biota air.
c) Komponen sosial ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat meliputi kependudukan, sosial-ekonomi, sosial-budaya dan kesehatan masyarakat.
2.2.1. Komponen Geo-Fisik-Kimia
2.2.1.1. Iklim, Kualitas Udara dan Kebisingan 1. Iklim
Menurut klasifikasi ikllim Schmidt dan Ferguson, daerah Banggai bertipe iklim B, dengan nisbah rata-rata jumlah bulan kering dan rata-rata jumlah bulan basah (Q) adalah 5, atau termasuk wilayah cukup basah. Data curah hujan stasiun meterologi bandar Udara Bubung Luwuk selama pencatatan 16 tahun (tahun 1985 -2001) menunjukkan bahwa musim hujan berlangsung dari bulan Maret sampai Juli dengan jumlah curah hujan berkisar dari 115 mm pada bulan Mei sampai 169 pada bulan Juli. Musim kemarau berlangsung dari bulan Agustus sampai Februari, dengan curah hujan berkisar dari 41 mm pada bulan Oktober sampai 85 mm pada bulan Desember.
Suhu udara rata-rata bulanan berkisar dari 25,9 oC pada bulan Juli sampai 28,3 oC pada bulan November. Suhu udara maksimum terendah 28,9 oC pada bulan Juli dan yang
tertinggi 30,0oC pada bulan Maret. Suhu udara berkisar dari 22,9oC pada bulan Juli sampai 24,5oC pada bulan Februari.
Tabel 2.14. Data Iklim Wilayah Studi
Unsur Iklim Jan Feb Mar Apr Mei JunB u l a nJul Agt Sep Okt Nov Des Setahun
1. Curah hujan (mm) 81 81 140 127 115 130 169 78 45 41 69 85 1161
2. Suhu udara (oC)
Rata-rata 28,1 28,1 27,1 27,7 27,2 26,6 25,9 26,0 27,0 28,1 28,3 28,1 27,4 Maksimum 31,6 31,6 32,0 30,8 30,2 29,6 28,9 29,1 30,2 30,9 31,7 31,6 31,6 Minimum 24,2 24,3 24,1 24,2 23,9 23,4 22,9 23,0 23,2 23,7 24,0 24,2 23,8 3. Kelembaban Nisbi Udara (%) 77 78 79 80 80 81 81 78 74 73 75 78 4. Kecepatan angin rata-rata (knot) 4,5 4,6 4,6 4,3 5,1 5,6 6,0 6,5 6,5 5,5 4,4 4,1 5,1
(Sumber data: St. Meteorologi Bandara Bubung Luwuk), 1985-2001
Hasil pengamatan sesaat di lokasi-lokasi sekitar rencana kegiatan secara kualitatif kondisi udara, tingkat kebisingan dan tingkat getaran masih sangat baik.
Kualitas udara
Gambaran umum tingkat kualitas udara di wilayah sekitar Proyek masih baik. Hal itu didasarkan atas data sekunder dari hasil pengukuran kualitas udara yang telah dilakukan sebelumnya di sekitar lokasi pemboran eksplorasi sumur Maleo Raja (MLR), Matindok (MTD), Donggi (DNG), dan Anoa Besar (ANB). Jumlah dan lokasi pengambilan sampel disajikan pada Tabel 2.15.
Tabel 2.15. Jumlah dan Lokasi Pengambilan Sampel untuk Kualitas Udara, Kebisingan dan Kebauan
No. Kode Sampel Desa / lokasi
1. MLR-1 Tapak proyek Maleo raja 2. MLR-2 Jalan masuk lokasi Maleo raja 3. MLR-3 Permukiman penduduk desa Batui IV 4. MTD-1 Tapak proyek Matindok
5. MTD-2 Jalan masuk lokasi Matindok
6. MTD-3 Permukiman penduduk desa SPA Ondo Ondolu 7. DNG-1 Tapak proyek Donggi
8. DNG-2 Jalan masuk lokasi Donggi 9. DNG-3 Pasar Sindang sari
10. ANB-1 Tapak proyek Anoa besar
11. ANB-2 Permukiman penduduk desa Kamiwangi 12. ANB-3 Jalan raya Anoa besar
Sumber :
1. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A, Banggai-Sulteng, 2003. 2. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B, Banggai-Sulteng 2002.
Parameter yang diteliti, cara pengambilan sampel, metode analisis setiap parameter telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Tengah No. 188.44/1443/Ro.BKLH tanggal 14 Maret 1990 dan mengacu pada Compendium Methods dari USEPA (United States Environmental Protection Agency) dengan nomor EPA/625/R-96/01, July 1999. Pengolahan data hasil analisis laboratorium, dilakukan dengan mengacu pada Kep.Ka.BAPEDAL No. Kep-107/KABAPEDAL/11/1997 tentang Pedoman Teknis Perhitungan dan Pelaporan Serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) serta berpedoman pada National Ambient Air Quality Standards
(NAAQS) yang ditentukan oleh USEPA. Hasil perhitungan ISPU dikonversi menjadi skala kualitas lingkungan atau Rona Lingkungan Awal. Konversi ISPU menjadi skala kualitas lingkungan disajikan pada Tabel 2.16. Skala Kualitas Lingkungan (SKL) secara seragam digunakan untuk perhitungan pada tahap prakiraan dampak rencana kegiatan terhadap lingkungan sekitarnya.
Tabel 2.16. Konversi ISPU menjadi Skala Kualitas Lingkungan
ISPU Kategori Skala KualitasLingkungan Kategori
1 – 50 Baik 5 Sangat baik
51 – 100 Sedang 4 Baik
101 – 199 Tidak sehat 3 Buruk
200 – 299 Sangat tidak sehat 2 Sangat buruk
> 300 Berbahaya 1 Sangat buruk sekali
Sumber: USEPA, 1999
Rekapitulasi hasil analisis kualitas udara rona lingkungan awal berdasarkan data sekunder tersebut pada Tabel 2.15 di sekitar lokasi rencana kegiatan (sebanyak 12 lokasi), disajikan pada Tabel 2.17. Rekapitulasi hasil pengolahan data dengan besaran skala kualitas lingkungan rona awal, disajikan pada Tabel 2.18.
3 Nitrogen Dioksida, NO2 3,10 4,13 4,59 3,21 3,87 3,85 6,09 3,73 6,20 3,15 3,31 4,35 92,5
4 Oksidan, O3 0,07 0,10 0,13 0,03 0,08 0,09 0,06 0,06 0,06 0,05 0,07 0,08 200
5 Amoniak 0,06 0,08 0,10 0,06 0,08 0,09 0,095 0,045 0,048 0,03 0,05 0,07 1360
6 Hidrogen Sulfida 0,02 0,02 0,04 0,02 0,02 0,03 0,025 0,018 0,028 0,01 0,02 0,03 42
7 Dust TSP 85 86 87 83 89 92 84 91 124 95 112 124 260
*) Kep.Gub.KDH TK I Sulawesi Tengah No. Kep. 188.44/1443/Ro.BKLH
Sumber :
1. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A, Banggai-Sulteng, 2003 2. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B, Banggai-Sulteng 2002
Tabel 2.18. Rona Lingkungan Awal Kualitas Udara dan Kebauan di Sekitar Rencana Kegiatan
Kode Lokasi SKL Keterangan
MLR-1 Tapak proyek maleo raja 5
Tingkat kualitas udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia maupun hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan maupun nilai estetika MLR-2 Jalan masuk lokasi maleo raja 5
MLR-3 Permukiman penduduk desa Batui IV 5
MTD-1 Tapak proyek matindok 5
MTD-2 Jalan masuk lokasi matindok 5 MTD-3 Permukiman penduduk desa SPA Ondo Ondolu 5
DNG-1 Tapak proyek donggi 5
DNG-2 Jalan masuk lokasi donggi 5
DNG-3 Pasar sindang sari 5
ANB-1 Tapak proyek anoa besar 5
ANB-2 Permukiman penduduk desa kamiwangi 5
ANB-3 Jalan raya anoa besar 5
Sumber: Hasil analisis Data dari Tabel 2.17
Dari hasil analisis kualitas udara dan kebisingan, terlihat bahwa rona lingkungan awal kualitas udara dan kebauan di sekitar lokasi kegiatan tergolong sangat baik (SKL= 5). Kebisingan
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Tingkat kebisingan suatu lokasi menunjukkan ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan desibel atau disingkat dengan notasi dB.
Gambaran umum tingkat kebisingan di daerah itu diambil dari data sekunder yang telah ada yang merupakan hasil pengukuran di sekitar lokasi sumur Maleoraja (MLR), Matindok (MTD), Donggi (DNG), dan Anoa Besar (ANB). Jumlah dan lokasi pengambilan sampel disajikan pada Tabel 2.17.
Cara pengukuran, perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-48/MENLH/11/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan dan mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Tengah No. 188.44/1443/Ro.BKLH tanggal 14 Maret 1990. Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan, disajikan pada Tabel 2.19.
baik.
Tabel 2.19. Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan
Kode Lokasi Tingkat Kebisingan
(dB)
MLR-1 Tapak proyek maleo raja 31-35
MLR-2 Jalan masuk lokasi maleo raja 38-42 MLR-3 Permukiman penduduk desa Batui IV 46-50
MTD-1 Tapak proyek matindok 30-34
MTD-2 Jalan masuk lokasi matindok 35-40 MTD-3 Permukiman penduduk desa SPA Ondo Ondolu 46-50
DNG-1 Tapak proyek donggi 39-42
DNG-2 Jalan masuk lokasi donggi 43-45
DNG-3 Pasar sindang sari 47-51
ANB-1 Tapak proyek anoa besar 38-41
ANB-2 Permukiman penduduk desa kamiwangi 45-48
ANB-3 Jalan raya anoa besar 47-53
Sumber :
1. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A, Banggai-Sulteng, 2003 2. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B, Banggai-Sulteng, 2002
3. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar-A, Banggai-Sulteng, 2002.
2.2.1.2. Fisiografi dan Geologi
Geomorfologi daerah penelitian secara umum merupakan daerah pantai dengan lebar pantai sekitar 100 m sampai 1 km. Pada sisi bagian barat dijumpai adanya rangkaian perbukitan yang membujur searah dengan garis pantai dengan ketinggian berkisar antara 50 sampai dengan 450 meter, dengan kelerengan berkisar antara 5o- 40o. Sistem aliran sungai yang berkembang disini
Stratigrafi daerah Luwuk sampai Batui terdiri atas Formasi Bongka, Formasi Kintom, Satuan Terumbu Koral Kuarter dan Satuan Aluvium. Formasi Bongka terdiri atas konglomerat, batupasir, lanau, napal dan batugamping. Formasi ini melampar dari bagian utara sampai selatan dimana terkosentrasi pada bagian barat, dengan luas sekitar 40% dari daerah penelitian, umur dari formasi ini adalah Miosen Akhir hingga Plistosen. Di daerah penelitian Formasi Bongka ini tersingkap di sebelah barat dari Kintom dan Mendono.
Formasi Kintom sering pula disebut dengan Formasi Batui, terdiri dari napal pasiran dan batupasir. Formasi ini melampar pada bagian utara kota Batui, dengan luas penyebaran adalah 20% dari daerah penelitian. Batuan yang menyusun formasi ini sebagian besar adalah batugamping koral bersisipan napal dan sebagian batupasir Berdasarkan kandungan fosil yang ditemukan di “Matindok-1 well” yaitu Globigerinoides extremus, maka umur Formasi Kintom adalah Miosen Akhir sampai Pliosen Awal, sedangkan lingkungan pengendapannya adalahouter neritichinggaupper bathyal. Formasi ini melampar di sebelah barat dari Formasi Bongka. Satuan Terumbu Koral Kuarter, terdiri dari batugamping terumbu dan sedikit napal, umur dari satuan ini adalah Kuarter (Holosen), dan melampar di sebagian besar dari daerah penelitian di sepanjang tepi pantai.
Satuan aluvium ini ditemukan pada daerah di dekat muara sungai dari Batui hingga Luwuk. Terdiri atas batuan lepas yang berukuran lempung hingga kerakal dan ditemukan pula hasil endapan teras sungai yang banyak ditemui di Batui river basin. Ketinggian dari teras sungai adalah antara 10 – 30 meter, hal ini mengindikasikan bahwa pengangkatan di daerah ini masih berlangsung. Satuan ini hanya terdapat di sekitar muara-muara sungai seperti di Muara Sungai Kuala Batui di Batui.
Gambar 2.21. Peta Geologi Daerah Batui (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
Struktur geologi daerah penelitian cukup komplek. Hal ini diakibatkan karena daerah ini merupakan zone kolosi antara microkontinen Banggai-Sula, dimana fragment dari Australia Utara - Irian Jaya, dan Ophiolite Belt dari Sulawesi bagian timur. Kolosi menempati arah mengikuti perpindahan ke barat dari mikrocontinen Banggai-Sula sepanjang sesar transform Sula-Sorong. Struktur dari daerah Sulawesi Selatan didominasi oleh sesar naik dan sesar geser, dimana hal ini merupakan karakteristik daerah kolosi. Sesar naik ini berarah timur laut – barat daya. Sesar geser umumnya berarah barat laut-tenggara dengan panjang yang bervariasi (Gambar 2.21).
1. Kondisi Geologi pada Jalur Pipa
Secara umum rencana jalur pipa berada pada morfologi pantai dimana ketinggiannya tidak berbeda jauh dengan ketinggian muka air laut, namun ada beberapa ruas yang lokasinya sangat dekat dengan perbukitan. Satuan batuan di wilayah ini antara lain adalah satuan batupasir, satuan konglomerat, satuan batugamping-konglomerat karbonatan dan endapan pasir lempungan. Sedangkan struktur geologi yang dijumpai pada rencana jalur pipa ini
Di daerah Batui (km 57), rencana jalur pipa akan melewati singkapan dimana pada bagian atas merupakan tanah lapukan setebal 0,5 meter, kemudian pada bagian bawah batugamping konglomeratan dengan tebal 1,5 meter, kemudian batu pasir dengan tebal lebih dari 1,5 meter. Batugamping konglomeratan berwarna putih kecoklatan, ukuran butir kerikil – kerakal, tersusun oleh matrik dan fragmen dengan matrik dominan, berukuran butir pasir terdiri dari material karbonat; fragmen berukuran 1 – 20 cm terdiri dari koral (5 – 20 cm) dan fragmen batuan beku dan metamorf (2 mm – 1 cm). Sedangkan batupasir berwarna putih kecoklatan dan bersifat non karbonatan.
Selanjutnya jalur pipa di daerah Kasambang melewati singkapan batugamping konglomeratan setebal 5,80 meter di km 53 dengan sisipan paleosoil. warna putih kecoklatan, ukuran butir kerikil–kerakal, tersusun oleh matrik dan fragmen dengan matrik dominan, berukuran butir pasir terdiri dari material karbonat; fragmen berukuran 1 – 20 cm terdiri dari koral (5 -20 cm) dan fragmen batuan beku dan metamorf (2 mm – 1 cm). Makin ke atas fragmen makin dominan dan berubah menjadi paleosoil. Sementara ke arah utara makin banyak dijumpai fosil jejak. Paleosoil warna coklat kehitaman, ukuran butir lempung-pasir, tebal 30 cm.
Sedangkan pada km 50 jalur pipa akan melewati singkapan batugamping dengan warna lapuk abu-abu cerah, warna segar putih kecoklatan, ukuran butir pasir, grainsupported, tersemenkan kuat (grainstone), mengalami karstifikasi lanjut dengan tebal singkapan 8m. Pada satu meter bagian atas mengalami pelarutan yang paling tinggi.
Pada barat jalan Batui - Kintom, + 700 m dari tugu km 42 ke arah Luwuk rencana jalur pipa melewati singkapan batugamping pada tebing setebal 12 -15 m. Pada bagian bawah (+ 3 m) dan atas (9 m), tersusun oleh batugamping warna putih, ukuran butir 2 mm – 8 cm, fragmen dominan forambesar, gastropoda, pelecypoda dan pecahan koral (rudstone). Diantaranya tersusun oleh batugamping setebal 3 m, warna putih, ukuran butir 2 mm – 20 cm dan tersusun oleh tubuh utuh koral berbentuk bulat (framestone).
Kondisi geologi regional daerah Batui dan sekitarnya (Lampiran 5) yang cukup kompleks ini menyebabkan sering terjadinya gempa bumi. Untuk mengurangi kerusakan akibat adanya gempa tersebut, pembangunan jaringan pipa akan dilakukan pada struktur yang lentur sehingga dapat mengantisipasi adanya getaran yang ditimbulkan oleh gempa tersebut. Selain itu rencana peletakan pipa juga mempertimbangkan jalur sesar (faults) yang ada di wilayah itu. Agihan litologi dan struktur geologi daerah penelitian selengkapnya
berasal dari daerah perbukitan di sebelah baratnya. Material penyusun bentuklahan ini pada umumnya terdiri dari pasir lempungan dengan warna coklat kehitaman, ukuran butir lempung-pasir, dengan fragmen batuan penyusunnya berasal dari rombakan batuan beku dan metamorf, dan tidak mengandung gamping. Ke arah pantai endapan berubah menjadi kerakal dengan komposisi rombakan batuan andesit, kuarsit, serpentinit dan gabro.
Topografi datar, dan dijumpai muka air tanah sangat dangkal yakni sekitar 3,5 m dari permukaan tanah. Berdasarkan pengamatan dari sumur penduduk, pada kedalaman ± 2,6 m dijumpai lapisan konglomerat, dengan ukuran butir kerikil sampai kerakal. Ketinggian loksi berkisar 1 – 15 m dai permukaan laut.
Geologi dan litologi yang berupa pasir kerikil agak kompak ini pada umumnya mempunyai nilai daya dukung berkisar antara 200-400 kg/m2. Daerah ini cukup untuk pendirian lokasi LNG. Dengan kondisi dan data tersebut dapat diperkirakan berapa beban konstruksi yang masih dapat diterima oleh batuan. Perlu dipertimbangkan sistem pembangunan konstruksi pada daerah ini, misal dengan menggunakan pondsi tapak ataupun pondasi rakit. Hal ini untuk mengantisipasi adanya penurunan akibat pemadatan (compaction) dalam jangka panjang yang akan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan serius atau mempengaruhi fungsi struktur. Daerah rencana tapak LNG ini termasuk daerah yang rawan bencana tsunami, sehingga perlu diperhatikan tindakan preventif dan antipasinya.
Mengingat daerah yang datar dan elevasi rendah, penimbunan tanah (land fill) dapat dilakukan di daerah ini untuk meninggikan elevasi permukaan tanah, sehingga mengurangi resiko terlanda banjir dari sungai maupun dari pasang air dari laut. Bangunan penahan pasang air laut ataupun tsunami perlu dibangun mengingat jarak
b. Rencana Lokasi Kilang di Desa Padang
Calon lokasi kilang ini di sekitar 200 meter ke arah barat dari tugu km 47 mengikuti aliran sungai (0456009; 986249) berada pada teras sungai berupa endapan konglomerat – batupasir yang belum kompak. Konglomerat berwarna abu-abu putih, struktur gradasi normal, memotong lapisan batupasir-konglomerat di bagian bawahnya, ukuran butir 2 mm – 10 cm, rounded, kemas tertutup, tersusun atas kuarsit, batuan beku dan karbonat/batugamping. Batupasir warna coklat, ukuran pasir sedang-kasar,
rounded, non karbonatan. Pada tubuh sungai terdapat endapan berukuran kerakal. Selain itu pada daerah + 400 meter dari tugu km 47 ke arah utara dijumpai kontak morfologi dataran dengan perbukitan (0456369; 9862435). Pada dataran tersusun oleh endapan pasir warna coklat kehitaman berukuran dominan pasir sedang-kasar, tersusun oleh fragmen batuan beku dan metamorf. Pada pantai endapan berubah menjadi endapan kerakal. Lebar dataran + 80 meter, makin ke arah selatan lebar dataran < 80 meter. Perbukitan dengan tinggi 5 – 15 meter dan slope 20 – 30o tersusun oleh
lempung pasiran dengan fragmen batugamping berukuran 2 – 20cm. Batugamping berupa packstone, grainstone, dan rudstone atau framestone yang telah mengalami pelarutan intensif. Selain itu dibeberapa tempat dapat teramati batugamping konglomeratan dengan warna coklat muda, struktur gradasi normal walau tidak tegas, ukuran butir matrik pasir dan fragmen 2- 4 cm.
Di sekitar tugu perbatasan Kintom-Batui (0458817;9863580) pada tepi barat jalan Batui-Luwuk dijumpai singkapan batugamping warna putih, tersusun oleh massa dasar berukuran pasir dan fragmen > pasir (tersusun oleh koral yang dominan berbentuk nodular). Batugamping sudah mengalami karsifikasi intensif. Strike/dip N 68oE/9o, jumpai pula adanya kekar dengan arah 80o/195 dan 80o/46.
Distribusi keruangan formasi geologi daerah penelitian selengkapnya disajikan pada Peta Geologi Lampiran 5.
3. Gempa dan Tsunami
Kondisi Geologi di daerah penelitian yang merupakan zone kolosi antara microkontinen Banggai-Sula, dimana fragment dari Australia Utara - Irian Jaya, dan Ophiolite Belt dari Sulawesi bagian timur. Kolosi menempati arah mengikuti perpindahan ke barat dari
Gambar 2.22. PetaSeismicity Sulawesi dari Tahun 1900
(Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
Berdasarkan data tersebut maka di daerah penelitian dimungkinkan sering terjadi gempa tektonik. Hal itu dapat dilihat pada Gambar 2.22, yang memperlihatkan Peta Seismisitas dengan skala magnitud 5 dan terjadi sejak tahun 1900. Dari gambar tersebut memperlihatkan banyaknya episentrum gempa di sekitar daerah penelitian, yaitu di sekitar Pulau Banggai. Kedalaman episentrum gempa sebagian besar adalah pada kedalaman antara 0 – 33 km, yang termasuk dalam kategori gempa dangkal, dan juga pada kedalaman antara 70 – 150 km. Data lain berdasarkan Peta Seismotektonik Indonesia yang dibuat pada tahun 1992, memperlihatkan bahwa di sebelah tenggara Batui (Teluk Tolo) diperkirakan
tsunami. Namun melihat dari letaknya yang ada di sebelah selatan dari lokasi rencana kilang, maka bila terjadi tsunami maka arus atau gelombang yang sampai di lokasi rencana kilang tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan, gelombang terbesar bila terjadi tsunami arahnya pasti sejajar dengan pusat gempa. Pusat gempa yang dimungkinkan terjadi (yang merupakan daerah sesar) letaknya ada di selatan lokasi rencana kilang dan berjarak dari Batui sekitar 30 – 50 km. Oleh karena itu pemilihan lokasi perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya gelombang tsunami ini.
Kondisi umum yang akan mempengaruhi atau yang akan menjadi kendala dalam rencana pembangunan di tiga lokasi alternatif adalah ancaman bahaya yang datang dari berbagai arah.
2.2.1.3. Hidrologi, Kualitas dan Kuantitas Air 1. Hidrologi
Pada wilayah studi terdapat beberapa sungai besar yang mengalir sepanjang tahun berurutan dari barat daya ke timur laut yaitu S. Toili, S. Sinorang, S. Kayowa/Matindok, S. Bakung, S. Batui, S. Omolu, S. Tangkiang dan S. Kintom. Semua sungai mengalir kea rah barat laut menuju muaranya di tenggara. Selain sungai-sungai tersebut terdapat juga sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari sungai besar atau sungai sendiri yang bermuara langsung ke laut seperti S. Bangkiriang. Sedikit dijumpai rwa permanen kecuali rawa belakang (back swamp) di Suaka Margasatwa Bangkiriang. Sistem drainase dan jaringan irigasi persawahan di Kecamatan batui dan Toili teratur dan tertata dengan baik, bahkan jaringan atau saluran-saluran irigai tersier dibangun sesuai dengan aturan irigasi teknis dan setengah teknis.
Pada perbukitan dan pegunungan diantara Kecamatan Batui, Toili dan Toili Barat dapat diperoleh air bawah tanah yang cukup dengan kedalam aquifer diperkirakan tidak terlalu dalam (shallow groundwater). Wujud sumberdaya air tersebut adalah pada atau hamparan lahan sawah yang sangat luas dengan irigasi teknis di dataran dan pelelbaban di ketiga kecamatan tersebut.
titik.
Tabel 2.20. Lokasi Pengambilan Sampel untuk Kualitas Air Tanah
No. Kode Sampel Desa/lokasi
1. BTI Air sumur penduduk desa Batui IV
2. SPA Air sumur penduduk desa SPA Ondo Ondolu 3. SDS Air sumur penduduk desa Sindang Sari 4. KMW-1 Air sumur penduduk desa Kamiwangi 1 5. KMW-2 Air sumur penduduk desa Kamiwangi 2 Sumber :
1. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A, Banggai-Sulteng, 2003 2. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B, Banggai-Sulteng 2002
3. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar-A, Banggai-Sulteng 2002.
Data sekunder hasil pengukuran disajikan pada Tabel 2.21. Cara pengukuran dan perhitungan dan pedoman kualitas air tanah mengacu pada Permenkes RI No.416 tahun 1990 untuk air minum.
Tabel 2.21. Hasil Analisis Kualitas Air Sumur Penduduk
No. Parameter BTI SPA SDS KMW-1 KMW-2 BakuMutu Satuan
1 BOD5 1,75 2,39 2,34 4,26 3,28 - mg/L
2 Zat padat terlarut, TDS 94 109 98 140 90 1000 mg/L
3 COD 6,80 6,29 7,12 12,56 10,57 - mg/L 4 Suhu udara/air 30/26 28/26 32/26 31/28 31/28 3 -5 Amoniak <0,001 0,011 0,01 0,006 0,002 0,5 mg/L 6 Air raksa, Hg <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,001 mg/L 7 Arsen, As <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,05 mg/L 8 Besi, Fe 0,022 0,022 0,012 0,032 0,014 0,3 mg/L 9 Fluorida, F <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 1,5 mg/L 10 Cadmium, Cd <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,005 mg/L 11 Hexavalent Kromium, Cr6+ <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,05 mg/L 12 Mangan, Mn 0,028 <0,001 <0,001 0,022 0,022 0,1 mg/L 13 Nitrat (NO3-N) <0,001 <0,001 0,005 <0,001 <0,001 10 mg/L 14 Nitrit (NO2-N) <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 1 mg/L 15 pH 7,10 7,29 7,38 7,62 7,02 6,5-8,5 -16 Seng, Zn 0,012 <0,001 <0,001 0,013 <0,013 5 mg/L 17 Sianida, CN <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,05 mg/L 18 Hidrogen Sulfida, H2S <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,05 mg/L 19 Tembaga, Cu <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 1 mg/L 20 Timbal, Pb <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,05 mg/L 21 Fenol <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 - mg/L 22 Senyawa biru metilen, MBAS <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 - mg/L
23 Zat Organik (KMnO4) 4,69 2,99 7,12 6,72 2,45 10 mg/L
24 Minyak dan lemak - - <0,001 <0,001 <0,001 - mg/L
Sumber:
1. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A, Banggai-Sulteng, 2003 2. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B, Banggai-Sulteng 2002
3. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar-A, Banggai-Sulteng 2002
Hasil analisis kualitas air sumur penduduk dibandingkan terhadap baku mutu air minum, kemudian untuk mendapatkan Skala Kualitas Lingkungan, dikonversi terhadap pedoman Skala Kualitas Lingkungan menurut Canter dan Hill (1979) yang selengkapnya disajikan pada Tabel 2.22.
KMW-1 Air sumur penduduk desa Kamiwangi 1 - - 5
KMW-2 Air sumur penduduk desa Kamiwangi 2 - - 5
Sumber: Analisis Data dari Tabel 2.21.
b. Kualitas Air Sungai
Kualitas air sungai pada lokasi penelitian, diperoleh dari data sekunder hasil pengukuran kualitas air sungai di sekitar lokasi pemboran eksplorasi sumur Maleoraja (MLR), matindok (MTD), donggi (DNG), dan anoa besar (ANB). Pengukuran, perhitungan dan evaluasi kualitas air sungai yang telah dilakukan tersebut telah mengikuti pedoman Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air dan Kep.Men.LH No. 42 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi.
Hasil analisis kualitas air tersebut selanjutnya dibandingkan dengan Kriteria Kualitas Air Sungai sesuai Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Tengah No. 188.44/ 1443/Ro.BKLH tanggal 14 Maret 1990. Lokasi pengambilan sampel sebanyak 6 titik, seperti disajikan pada Tabel 2.23.
Tabel 2.23. Lokasi Pengambilan Sampel untuk Kualitas Air Sungai
No. Kode Sampel Desa / lokasi
1. SKH-1 Sungai Kayowa Hulu
2. SKH-2 Sungai Kayowa Hilir
3. SBH-1 Sungai Boiton Hulu
4. SBH-2 Sungai Boiton Hilir
5. SSS Sungai Sindang Sari
6. SDG Sungai Dongin
Hasil pengukuran disajikan pada Tabel 2.24. Untuk mendapatkan Skala Kualitas Lingkungan, dikonversi terhadap pedoman Skala Kualitas Lingkungan menurut Canter dan Hill (1979), dan hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2.25. Analog dengan perhitungan kualitas udara, hanya dihitung skala kualitas lingkungan berdasar parameter yang tidak memenuhi baku mutu lingkungannya.
Tabel 2.24. Hasil Analisis Kualitas Air Sungai
No. Parameter SKH-1 SKH-2 SBH-1 SBH-2 SSS SDG mutuBaku Satuan
1 BOD5 2,04 2,80 6 mg/L
2 Zat padat terlarut, TDS 106 106 1500 mg/L
3 COD 8,20 9,00 50 mg/L 4 Suhu udara/air 30/27 30/28 - -5 Amoniak 0,038 0,042 0,5 mg/L 6 Air raksa, Hg <0,001 <0,001 0,001 mg/L 7 Arsen, As <0,001 <0,001 0,05 mg/L 8 Besi, Fe 0,254 0,269 5 mg/L 9 Fluorida, F 0,029 0,031 1,5 mg/L 10 Cadmium, Cd <0,001 <0,001 0,01 mg/L 11 Hexavalent Kromium, Cr6+ <0,001 <0,001 0,05 mg/L 12 Mangan, Mn 0,018 0,024 0,5 mg/L 13 Nitrat (NO3-N) 0,45 0,51 10 mg/L 14 Nitrit (NO2-N) 0,008 0,011 1 mg/L 15 pH 7,15 7,31 5-9 -16 Seng, Zn 0,032 0,048 5 mg/L 17 Sianida, CN <0,001 <0,001 0,05 mg/L 18 Hidrogen Sulfida, H2S 0,014 0,022 - mg/L 19 Tembaga, Cu <0,001 <0,001 1 mg/L 20 Timbal, Pb <0,001 <0,001 0,05 mg/L 21 Fenol <0,001 <0,001 0,002 mg/L
22 Senyawa biru metilen, MBAS 0,014 0,018 0,5 mg/L
23 Zat Organik (KMnO4) 6,77 6,88 - mg/L
24 Minyak dan lemak - mg/L
Sumber:
1. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A, Banggai-Sulteng, 2003 2. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B, Banggai-Sulteng 2002
SBH-1 Sungai Boiton Hulu - - 5
SBH-2 Sungai Boiton Hilir - - 5
SSS Sungai Sindang Sari - - 5
SDG Sungai Dongin - - 5
Sumber: Hasil analisis Data Tabel 2.24.
Dari hasil pengukuran tersebut pada Tabel 2.24 dan rekapitulasi skala kualitas lingkungan pada Tabel 2.25, terlihat bahwa kualitas air di semua lokasi berada di bawah baku mutu lingkungan (BML) kualitas air sungai. Oleh karena itu kualitas lingkungan untuk semua lokasi = 5 atau kategori sangat baik.
c. Kuantitas Air Sungai
Terkait dengan kebutuhan akan air bersih untuk keperluan proyek pengembangan gas Matindok yang cukup besar, diperlukan data ketersediaan debit air permukaan, dalam hal ini debit air sungai yang ada di daerah penelitian. Dari data sekunder yang ada (BAPPEDA Kabupaten Banggai, 2006), beberapa sungai besar dengan data debit sesaat yang berada di wilayah penelitian, adalah: Sungai Singkoyo (64 m3/dtk), Sungai Mansahang (41 m3/dtk),
Sungai Toili (40 m3/dtk), Sungai Batui (85,2 m3/dtk), Sungai Sinorang (24 m3/dtk), Sungai
Mendono (60 m3/dtk), Sungai Tangkiang (60 m3/dtk). Debit keseluruhan sungai-sungai
tersebut diperkirakan sekitar 1.895,78 x 106m3/tahun. Dari sekian banyak sungai di daerah
penelitian, data debit yang dipantau secara periodik adalah Sungai Batui. Data yang digunakan berupa data sekunder hasil pengukuran dan pencatatan tinggi muka air sungai serta perhitungan yang dilakukan oleh Departemen Pekerjaaan Umum, Direktorat Jendral Sumber Daya Air, Kabupaten Palu tahun 1995-2004. Luas daerah aliran sungai Batui sekitar 240 km2. Penentuan besarnya debit aliran sungai didasarkan pada hasil perhitungan persamaan garis lengkung (rating curve) Q = 50,978(H-0.010)2,750 yang diperoleh dari
dengan 2004. Tabel 2.26 menyajikan hasil perhitungan debit aliran Sungai Batui yang diukur dikampung Sambang 57 km dari kota Luwuk kejurusan Toili. Lokasi stasiun pencatat tinggi muka air otomatis (AWLR) tersebut terletak pada koordinat 01014’29’’S, 122o31’00’’BT.
Tabel 2.26. Debit Harian Rata-rata Sungai Batui, Kabupaten Banggai
Bulan Debit aliran (m
3/detik) 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Januari 25.30 36.60 10.00 5.17 5.23 5.05 14.80 7.46 16.82 41.67 Februari 31.40 33.30 11.10 2.32 6.20 7.75 6.27 5.33 14.77 26.83 Maret 29.84 25.20 18.00 3.72 10.45 9.16 9.15 18.24 17.82 27.79 April 40.57 36.40 24.70 11.30 14.70 15.40 14.70 13.64 20.30 55.71 Mei 51.30 54.60 15.10 25.60 30.30 16.60 15.50 24.64 21.17 58.43 Juni 47.55 86.70 28.80 33.50 42.80 69.50 14.20 44.67 57.00 73.82 Juli 50.23 64.70 78.80 26.70 10.90 59.50 11.09 19.34 62.67 192.91 Agustus 30.33 87.20 7.72 61.20 17.60 17.40 10.56 3.35 66.00 26.65 September 25.99 30.60 3.76 15.40 7.32 7.57 7.54 1.56 41.60 77.31 Oktober 20.50 36.30 2.62 9.77 10.50 9.78 5.12 0.15 23.27 9.19 Nopember 48.30 22.80 2.38 6.40 15.98 13.10 8.77 1.38 40.22 9.27 Desember 30.27 17.70 12.50 6.64 19.30 15.76 5.13 2.33 42.22 23.23 Jumlah 431.58 532.1 215.48 207.72 191.28 246.57 122.83 142.09 423.86 622.81 Rt Hrn 35.97 44.34 17.96 17.31 15.94 20.55 10.24 11.84 35.32 51.90
Sumber: Departemen Pekerjaaan Umum, Direktorat Jendral Sumber Daya Air, Kabupaten Palu tahun 1995 -2004
Dengan demikian dapat dikatagorikan bahwa kualitas lingkungan dari segi kuantitas air sungai adalah sangat baik. Kebutuhan air untuk kegiatan uji hidrostatik diperkirakan sekitar sekitar 20.000 m3. Apabila diperhitungkan debit sungai Batui rata-rata harian maka akan diperoleh
sebesar 94.093 m3/hari. Dengan melihat cadangan kuantitas (debit) air sungai tersebut, maka
apabila pelaksanaan uji hidrostatik menggunakan air sungai sebesar 20.000 m3 dan hanya
sekali, maka tidak akan ada pengaruhnya terhadap penurunan debit sungai. Apalagi apabila pelaksanaan uji hidrostatik dilakukan pada musim penghujan, dimana saat itu kondisi debit sungai adalah mempunyai aliran stabil.
Sedimen Napal. Formasi-formasi tersebut mempunyai kemampuan untuk imbuh air tanah dari hujan yang terjadi dengan kecepatan yang berbeda. Berdasarkan data sekunder potensi air tanah dari Bappeda Kabupaten Banggai (2006), potensi air tanah tahunan adalah sebesar 387 X 106m3/tahun atau 1.035 X 106m3/hari. Debit air tanah tersebut termasuk
dalam jumlah yang sangat besar di daerah tersebut. Dengan memperhatikan cadangan kuantitas (debit) air tanah tersebut, maka apabila digunakan untuk keperluan pemboran sumur (420 m3/sumur), operasional BS (25 m3/hari), dan kilang LNG (75 m3/hari), maka
kecil sekali pengaruhnya terhadap penurunan debit air tanah.
2.2.1.4. Kondisi Hidro-Oseanografi 1. Batimetri
Kedalaman perairan di sekitar lokasi rencana kegiatan adalah 20 m dicapai pada jarak kurang lebih 50 m hingga 100 m dari garis pantai. Jarak 100 m dari garis pantai kedalaman laut relatif curam dengan kedalaman mencapai 100 m. Di beberapa pantai dijumpai karang baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. Di daerah Sekitar Tanjung Batui terdapat karang di beberapa tempat, namun tidak pada sepanjang garis pantai.
Topografi garis pantai sepanjang lokasi studi secara umum dapat dikatakan landai. Ketinggian lokasi pantai berkisar antara 1 sampai 5 m di atas muka air laut. Jalan raya berjarak kurang lebih 200 sampai 500 m dari garis pantai, kecuali di dua tanjung yaitu Tanjung Kanali dan Tanjung Uling yang berjarak kurang lebih 500 m sampai 1000 m.
Gambar 2.23. Peta Batimetri Wilayah Studi dan Calon Lokasi Rencana Pelabuhan
(Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
2. Pasang surut
Pasang surut di perairan pantai calon lokasi kilang dan dermaga mempunyai fase dan tinggi yang hampir sama. Beda tinggi air pasang dan air surut berkisar antara 100-120 cm. Tipe pasang surut daerah tersebut adalah campuran condong ke harian ganda (mixed semi-diurnal) dengan dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari, dengan konstanta pasang surut yang diperoleh dari pengukuran selama 15 hari sebagai berikut.
4 K1 321.166 306.9 5 M2 343.714 39.09 6 S2 94.1475 91.31 7 M3 6.2211 158.76 8 SK3 10.7501 240.15 9 M4 12.679 33.09 10 MS4 7.984 131.84 11 S4 3.1493 180.3 12 2MK5 2.6106 226.01 13 2SK5 4.7391 70.26 14 M6 6.6695 36.95 15 2MS6 6.3341 355.42 16 2SM6 3.9445 141.24 17 3MK7 4.15 166.98 18 M8 3.0581 252
(Sumber: Baseline Study Pproyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
Bilangan formal: untuk menentukan tipe pasang surut. 0.732877 2 S 2 M 1 O 1 K F
tipe campuran condong ke harian ganda (mixed semi-diurnal) F < 0,25 : semi diurnal
0,25 < F < 1,50 : campur tetapi dominan semi diurnal 1,50 < F < 3,00 : campur tetapi dominan diurnal F > 3,00 : semi diurnal
Datum terhadap MSL (ZO)
No Nama Elevasi 1 HAT 1008 2 HHWL 1353 3 HWL 526 4 MSL 0 5 LWL -878 6 LLWL -970
800 1000 1200 1400 1600 1800 10:30 17:30 0:30 7:30 14:30 21:30 4:30 11:30 Waktu (jam) T in g g i m u k a a ir (m m ) manual tide g
Gambar 2.24. Penggambaran Muka air Pasang Surut di Tanjung Kanali (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
3. Studi gelombang
Kondisi gelombang di lokasi studi relatif kecil dan sangat tenang. Gelombang terlihat antara 0,1 m sampai 0,5 m terjadi di sekitar sore hari.
Berdasarkan data angin dari bandara Bubung, kecepatan angin rata-rata harian 3-6 knot. Arah angin dominan sebagaimana dalam mawar angin tergambar utamanya dari selatan, disusul dari timur dan kemudian tenggara. Kecepatan angin maksimum harian berkisar antara 3 sampai 27 knot dengan arah dominan dari Selatan. Mawar angin berdasarkan pencatatan jam-jaman antara tahun 2000-2004 Stasiun Meteorologi Bandara Bubung seperti Gambar 2.25.
Gambar 2.25. Mawar Angin Maksimum di Wilayah Studi (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
Dari data angin dan data panjang seret gelombang(fecth) dari masing-masing arah dapat dihitung tinggi dan periode gelombang dengan menggunakan persamaan SMB seperti yang telah disebutkan di atas. Hasil hitungan data gelombang digambarkan dalam bentuk grafis berupa mawar gelombang seperti pada Gambar 2.26.
Berdasarkan hasil hitungan tersebut gelombang maksimum yang terjadi sebesar 1.5 m. Gelombang tersebut terjadi pada saat angin musim Timur dan Tenggara atau terjadi pada bulan April sampai bulan Agustus. Berdasarkan persyaratan (OCDI, 1991) untuk ketenangan kolam labuh (calmness of basin) untuk ukuran kapal sedang dan besar maka ketinggian gelombang kritis untuk cargo yang diizinkan adalah 0,5 m, sehingga diperlukan bangunan pemecah gelombang.
Gambar 2.26. Mawar Gelombang Maksimum (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
4. Arus
Data arus di daerah surf zonediambil di perairan pantai Sekitar Tanjung Batui. Pengukuran arus digunakan carafloat tracking. Sementara untuk peramalan arus di laut dalam (offshore zone) akibat pasang surut dilakukan pengukuran di 2 (dua) titik masing-masing pada kedalaman berbeda (0,2d; 0.6d; 0,8d) dengan interval pengambilan setiap 1 jam selama 25 jam. Pengambilan arus pasang surut dilakukan di lokasi yang hampir sama dengan pengambilan lokasi arus di daerah surf zone, hanya pada kedalaman –20 m. Pada kedalaman tersebut, gelombang belum pecah. Secara umum arus di daerah studi relatif kecil berkisar antara 0,1 sampai 0,9 m/det. Hasil pencatatan arus digambarkan dalam bentuk mawar arus seperti Gambar 2.27.
Gambar 2.27. Mawar Arus Pasang Surut (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok, 2007)
5. Sedimen Melayang dan Sedimen Pantai
Kondisi sedimen melayang di lokasi studi secara umum terlihat sangat jernih yang berarti tidak mengandung sedimen. Dari indikasi tersebut dapat dinyatakan bahwa lokasi studi sedikit mengalamai sedimentasi, kecuali daerah-daerah yang merupakan muara sungai. Pada sedimen pantai terlihat adanya pasir halus yang mengandung lempung. Diduga sedimen tersebut merupakan endapan dari sungai. Untuk daerah Sekitar Tanjung Batui dijumpai sedimen berupa pasir kasar.
2.2.1.5. Ruang, Lahan dan Tanah 1. Tata Ruang
Berdasarkan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banggai Tahun 2003-20013 (Bappeda Kab. Banggai, 2003) menunjukkan bahwa wilayah rencana kegiatan yaitu Kecamatan Toili Barat, Toili, Batui dan Kintom termasuk dalam Wilayah Pengembangan Selatan (Gambar 2.28). Rencana struktur ruang wilayah untuk masing-masing ibukota kecamatan di wilayah kegiatan PPGM akan dikembangkan berbeda-beda, dimana ibukota Kecamatan Toili direncanakan akan menjadi Kota Pusat Kegiatan Lokal (KPKL), ibukota Kecamatan Batui akan diakembangkan menjadi Kota Pusat Kegiatan Sub Wilayah (KPKSW), dan ibukota Kecamatan Kintom akan dikembangkan menjadi Kota Pusat Kegiatan Khusus (KPKK).
Pola pemanfaatan ruang, menurut skenario moderat, setiap wilayah kecamatan lokasi proyek juga berbeda-beda (Gambar 2.29). Di bagian wilayah Kecamatan Toili Barat yang menjadi tapak proyek pengembangan gas Matindok akan dimanfaatkan untuk pengembangan permukiman, lokasi perusahaan, tanaman pangan, kawasan lindung, dan sebagian kecil untuk cadangan pemanfaatan lain-lain. Di bagian wilayah wilayah Kecamatan Toili yang menjadi tapak proyek pengembangan gas Matindok akan dimanfaatkan untuk pengembangan lokasi perusahaan, tanaman pangan, tanaman pangan, permukiman dan sebagian kecil untuk cadangan pemanfaatan lain-lain. Sementara itu bagian wilayah Kecamatan Batui yang menjadi lokasi tapak proyek pengembangan gas Matindok akan dimanfaatkan untuk hutan suaka (Suaka Margasatwa Bangkiriang), kawasan lindung, transmigrasi, permukiman, tanaman pangan, lokasi industri dan perkebunan.
2. Penggunaan Lahan
Pemanfaatan lahan yang telah ada di sekitar areal rencana kegiatan antara lain adalah jalan provinsi yang menghubungkan Luwuk dengan Baturube dan sekitarnya. Sepanjang jalan tersebut terdapat konsentrasi permukiman penduduk, pertanian, perkebunan rakyat, perkebunan besar, areal ex transmigrasi di Toili dan Toili Barat dan pertambangan migas yang dikelola oleh JOB – Medco E & P Tomori Sulawesi. Di daerah sekitar lapangan pengambang terdapat daerah konservasi Suaka Margaasatwa Bangkiriang dan sebelah selatan berbatasan dengan perairan Selat Peleng.
Gambar 2.28. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Banggai
dan Kilang LNG dan pengangkutan kondensat dari BS ke Bajo melewati sebagian besar wilayah desa-dea di Kecamatan Toili Barat, Toili, Batui.
c) Pembangunan kilang LNG terletak di sekitar Uso (Kecamatan Batui) atau di sekitar Padang (Kecamatan Kintom).
Penduduk di sekitar rencana kegiatan, umumnya bertempat tinggal di sekitar jalan provinsi yang menghubungkan Luwuk – Baturube.
Pertanian/Perkebunan Rakyat
Kegiatan pertanian/perkebunan rakyat yang diusahakan masyarakat sekitar rencana kegiatan berupa tanaman semusim seperti padi sawah dan palawija, tanaman buah-buahan di pekarangan seperti kelapa, pisang mangga, jambu, nangka, rambutan dan tanaman industri seperti kelapa sawit, tanaman cokelat dan kelapa.
Pada lahan-lahan yang jauh dari permukiman, umumnya pola tanam berupa perladangan yang dimulai dengan tebang-bakar tetapi cenderung tidak berpindah. Lahan hail pembukaan tersebut umumnya digunakan untuk penanaman padi ladang sampai 2 kali tanam, tanaman jagung, tanaman cokelat dan kelapa. Apabila tanaman cokelat atau tanaman kelapa sudah tidak produktif akan diremajakan lagi. Selain coklat dan kelapa yang cukup dominan,, juga kelapa sawit mulai diusahakan oleh sebagin masyarakat yang mempunyai permodalan cukup memadai.
Dari uraian di atas dan Peta Penggunaan Lahan Daerah Penelitian (lihat Lampiran 5), luas masing-masing jenis penggunaan lahan adalah: belukar 1.908,21 Ha, beting karang 291,54 Ha, permukiman 1.871,29 Ha, hutan 17.094,65, perkebunan 4.385,02, sawah, 8.895,36, sawah tadah hujan 1.373,57 Ha, tegalan/ladang 7.196,87 Ha dan hutan suaka 271,50 Ha.
3. Topografi dan Jenis Tanah
lereng agak curam (15-40%) hingga sangat curam (>40%). Apabila dilihat dari arah tenggara ke barat laut maka secara berurutan topografi areal rencana kegiatan dari dataran, perbukitan dan pegunungan atau dari datar, agak curam dan curam.
Menurut sistem klasifiksi Puslitanak (1983) tanah di wilayah studi terdiri dari renzina, litosol, kambisol eutrik, aluvial eutrik, grumusol dan regosol. Renzina dan litosol dapat ditemui di wilayah perbukitan dan pegunungan dengan ciri lapisan atau ketebalan tanah sangat dangkal (kurang dari 20 cm) dan langsung menempel di atas batuan induk. Kambisol eutrik dapat dijumpai pada wilayah yang lebih landai atau kaki bukit hingga datara dengan ciri tanah yang bau berkembang (horizonisasi belum berkmbang jelas), bertekstur sedang. Aluvial eutrik dominan berada pada dataran pelembahan dengan lapisan-lapisan tanah yang diendapkan pada waktu berbeda dan bertekstur dari halus hingga agak kasar. Grumusol tersebar pada lahan yang datar dengan warna tanah kelabu, bertekstur liat berat atau sangat ekat pada saat basah (musim hujan) dan merekah saat kering (musim kemarau). Regoso di wilayah rencana studi hanya dijumpai di daerah pantai yaitu beting pantaiseperti di Kampung Nonong.
2.2.1.6. Transportasi
Sarana prasarana transportasi merupakan unsur yang sangat penting bagi kelancaran arus lalu-lintas barang dan jasa serta pertumbuhan perekonomian suatu wilayah. Selain itu salah satu prasarana transportasi yang sangat penting adalah sarana jalan yang merupakan pendukung kelancaran transportasi antara daerah satu dengan lainnya.
Total panjang jalan di wilayah Kabupaten Banggai adalah 3.208,20 km, dengan permukaan jalan berupa kerikil (23,99%), aspal (15,86%), tanah (10,14%) dan yang tidak dirinci sebesar 50%. Luwuk merupakan kecamatan yang mempunyai jalan terpanjang, diikuti Toili dan Bualemo. Sementara itu banyaknya kendaraan bermotor di wilayah Kabupaten Banggai adalah sebagai berikut.
Jenis kendaraan bermotor yang dominan beroperasi adalah bus, truk dan pick up. Sekitar 70,41% dari total kendaraan yang ada di wilayah Kabupaten Banggai merupakan kendaraan dari wilayah Kecamatan Luwuk. Hal ini dapat dipahami mengingat Kecamatan Luwuk sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan perekonomian, sehingga keberadaan sarana prasarana penunjang termasuk kendaraan bermotor juga tersentral di Luwuk.
kawasan perlindungan setempat berupa kawasan lindung sempadan sungai dan sempadan pantai.
Tipe komunitas vegetasi di areal sekitar rencana kegiatan terdiri atas vegetasi hutan alam primer, hutan alam sekunder, hutan pantai, vegetasi budidaya (sawah, kebun campur, tegalan/ladang dan pekarangan), dan semak belukar. Tipe-tipe komunitas vegetasi tersebut, termasuk kawasan permukiman, hampir seluruhnya dapat dijumpai di setiap fungsi kawasan, meskipun statusnya sebagai HSM Bangkiriang, HL Mangrove maupun kawasan pelindungan setempat. HSM Bangkiriang di areal rencana kegiatan didominasi oleh semak belukar dan perkebunan kelapa sawit.
Jenis-jenis flora yang terindentifikasi pada proses pelingkupan antara lain:
a) Flora di hutan alam pegunungan rendah yang masih tersisa yang dijumpai sekitar sumur Sukamaju antara lain kayu hitam (Diospyros sp.), palapi (Heritierasp.), uru (Elmerillia
sp.), dama-dama atau kenari (Canarium sp.), damar (Agathis sp.), jambu-jambuan (Eugenia sp.), palem kambuno (Palmaceae), kayu pasokan (Shorea sp.), johar (Cassia siamea), kolaka (Parinarium sp.), bintangur (Calophyllum sp.), medang (Cinnamomun
sp.) dan kayu ara (Ficussp.).
b) Flora yang dijumpai hutan pantai, misalnya ketapang (Terminalia sp.), Pandan (Pandanus sp), kangkung darat (Ipomoea sp.), bakau (Rhizophora sp.) api-api (Sonneratia sp.), Bruguiera sp., Ceriops sp., bintangur (Callophylum sp.) dan Lei (Palaguiumsp.).
c) Flora hasil budidaya yang dijumpai antara lain karet (Hevea brasiliensis), kelapa sawit (Elaeis gueinenis), kelapa (Cocos nucifera), kakao (Theobroma cacao), durian (Durio zibethinus), petai, nangka (Artocarpus integra), mangga (Mangifera sp.), pisang (Musa sp), bambu berbagai jenis (bambuceae), rambutan (Nephellium lappaceum), padi (Oryza sativa), jagung, singkong (Manihot utilissima), jambu air (Eugenis sp.), jambu
d) Flora yang dijumpai di semak belukar antara lain turi (Sesbania grandiflora), Mimosa pudica, Imperata cylindrica, Kyllinga monocephala, Tridax procumbens, Marsilea crenata
kirinyuh (Euphatorium sp), harendong (Clidemia hirta), sendusuk (Melastoma sp), dan berbagai jenis rerumputan (Graminae).
2. Satwa liar
Keanekaragaman jenis dan kelimpahan satwa liar di sekitar rencana kegiatan tergantung dari tipe vegetasi dan kualitas habitatnya. Kawasan HSM Bangkiriang merupakan habitat jenis satwa endemik Sulawesi dan statusnya dilindungi misalnya burung maleo (Macrocephalon maleo), anoa (Bubalus sp) dan monyet hitam (Macaca tonkeana). Walaupun keberadaannya sudah jarang ditemukan, menurut penuturan penduduk yang sering memasuki wilayah hutan, mereka pernah menjumpai hewan mamal seperti kus kus Sulawesi (Phalangersp.) musang cokelat (Macrogalidiasp.), rusa (Cervussp.), musang abu-abu (Viverra sp.). Satwa liar yang paling melimpah adalah babi hutan Sulawesi (Sus celebensis), Karena jenis hewan itu aktif malam hari, maka mereka tidak dapat mengetahui dengan jelas apakah yang mereka jumpai juga termasuk babirusa (Babyroussa) atau bukan. Adapun satwa liar burung (Anggota Kelas Aves) yang umum dijumpai di berbagai tipe vegetasi antara lian adalah allo/rangkong (Rhycticeros sp.), kutilang (Pycnonotus sp.), kepodang (Oriolus chinensis), elang laut (Haliastur indus), belibis hutan (Anas gibberifrons), berbagai jenis raja udang (Alcedinidae), srigunting (Dicrurus sp.), bangau putih (Egretta
sp.), elang cokelat (Elanus sp.), tekukur (Streptopelia chinensis), pecuk ular (Anhinga melanogaster), burung gagak (Corvus sp.), nuri kepala biru (Trichoglossus ornatus), ayam hutan (Gallus varius) dan burung gereja (Passer montanus).
Satwa liar Herpetofauna (Anggota Kelas Reptilia dan Amphibia) lebih umum dijumpai di dataran banjir sungai. Jenis herpertofauna yang dijumpai antara lain adalah biawak (Varanus sp.), berbagai jenis ular (Fam. Colubridae), kadal (Mabouya multifasciata), katak pohon(Rhacophorussp.),katak(Ranasp.)dan kodok(Bufosp.).
Menurut penduduk setempat satwa liar yang sering dianggap sebagai hama adalah burung pipit, tikus sawah (Rattus argentiventer) dan babi hutan (Sus celebensis).
tembakang. Sedangkan jenis biota air laut yang ditangkap lebih beranekaragam. Pengamatan dari hasil penangkapan dengan jaring tarik (dilakukan oleh 6 orang) menunjukkan berbagai jenis pelagis di perairan dekat Kayowa antara lain ikan selar, kembung, lemuru, ikan mata sebelah, ikan lidah, teri, tembang dan tiga waja. Jenis biota air lain yang sering ditangkap antara lain kerang, siput, udang, udang karang dan cumi.
2.2.3. Komponen Sosial 2.2.3.1. Kependudukan
1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data statistik tahun 2004 jumlah penduduk Kabupaten Banggai 292.661 jiwa. Gambaran lebih lengkap tentang jumlah, kepadatan penduduk dan rasio jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.28. Jumlah Penduduk Menurut Rasio dan Jenis Kelamin di Wilayah Studi Tahun 2004
Kecamatan Luas
(km2) Penduduk Jumlah Kepadatan(jw/km2) Seks Rasio
Laki-laki Perempuan 1. Toili 982,96 22.632 21.380 44.012 45 106 2. Toili Barat 994,66 10.106 9.244 19.350 19 109 3. Batui 1.390,33 12.090 11.801 24.491 18 108 4. Kintom 518,72 6.147 6.163 12.310 24 100 Kabupaten 9.670,65 149.628 143.033 292.661 30 105
Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004
Tabel tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Toili merupakan wilayah yang paling banyak jumlah penduduknya dan terpadat dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya. Hal ini dapat dipahami mengingat kecamatan ini merupakan pusat aktivitas pertanian yang
yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Batui dengan tingkat kepadatan 18 jiwa/km2. Hal ini dikarenakan daerah ini mempunyai wilayah yang paling luas dan dihuni
sebanyak 24.491 jiwa.
Rasio antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kabupaten Banggai adalah 105 hal ini menunjukkan bahwa secara umum jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan. Hanya Kecamatan Kintom yang jumlah penduduk antara laki-laki dan perempuan relatif sama.
2. Tingkat Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk selalu dipengaruhi oleh adanya pertumbuhan penduduk secara alami (kelahiran dan kematian) dan adanya mobilitas penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Banggai pada tahun 2003 adalah 284.275 jiwa dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 292.661 jiwa, dengan demikian mengalami kenaikan sebanyak 8.386 jiwa atau sekitar 2%. Faktor penentu pertumbuhan penduduk di wilayah Kabupaten Banggai secara umum adalah adanya kelahiran dan migrasi masuk (datang). Diantara 4 kecamatan wilayah studi, Kecamatan Toili memiliki perubahan jumlah penduduk yang paling besar dan Kecamatan Kintom adalah yang terkecil sebagai akibat banyaknya warga Kintom yang melakukan migrasi ke luar (pergi/pindah). Gambaran tentang perubahan penduduk di wilayah kecamatan studi secara lebih rinci disajikan pada berikut.
Tabel 2.29. Jumlah Penduduk Menurut Kelahiran, Kematian, Datang dan Pergi Di Wilayah Studi Tahun 2004
Kecamatan Lahir Meninggal Datang Pindah Perubahan
1. Toili 786 18 - 34 734
2. Toili Barat 434 15 4 40 383
3. Batui 206 9 - 21 176
4. Kintom 64 37 56 205 -122
Kabupaten 3.000 836 5.415 4.119 3.460
Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004
3. Komposisi Penduduk
Tabel 2.30. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Rasio Beban Tanggungan di Kecamatan Wilayah Studi Tahun 2004
Kelompok umur
Kecamatan di Kabupaten Banggai
Toili Toili Barat Batui Kintom Kabupaten
Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % 0 – 14 13.221 0,31 7.331 0,38 6.721 0,27 3.298 0,27 93.377 0,32 15 – 64 28.962 0,65 10.828 0,56 17.169 0,71 6.842 0,56 190.125 0,65 ≥65 1.829 0,04 1.191 0,06 601 0,02 2.170 0,17 9.159 0,03 Jumlah 44.012 100,00 19.350 100,00 24.491 100,00 12.310 100,00 292.661 100,00 Rasio beban tanggungan 51,96 78,70 42,65 79,92 53,93
Sumber: Hasil Analisis, 2006
Tabel tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Batui mempunyai jumlah penduduk usia produktif yang paling tinggi diantara kecamatan-kecamatan lainnya, bahkan juga di tingkat kabupaten. Rasio beban tanggungan yang tertinggi ada di Kecamatan Kintom yakni 79,92 yang berarti bahwa setiap 100 orang usia produktif selain menanggung dirinya juga harus menanggung sekitar 80 orang usia tidak produktif. Secara keseluruhan angka beban tanggungan di wilayah studi rata-rata adalah 63,30 sehingga hampir setiap 2 orang yang bekerja dan mendapatkan penghasilan harus menanggung sekitar 1 – 2 orang yang belum atau tidak berpenghasilan.
b. Penduduk Menurut Pendidikan
Untuk mengukur keberhasilan tingkat pendidikan masyarakat pada umumnya di suatu wilayah digunakan kriteria penilaian persentase tingkat pendidikan Sekolah Dasar yang ditamatkan bagi penduduk berumur 10 tahun ke atas. Secara umum rata-rata persentase penduduk di wilayah studi dengan tingkat pendidikan tamat SD sekitar 46%. Penduduk menurut tingkat pendidikan per kecamatan di di wilayah studi tahun 2004 disajikan pada Tabel 2.31.
Tabel 2.31. Penduduk Berumur 5 Tahun Keatas Menurut Tingkat Pendidikan Per Kecamatan Wilayah Studi Tahun 2004
Tingkat Pendidikan Toili Toili Barat Batui Kintom Kab. Banggai
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1. Tidak/Blm Sekolah 2.343 6,08 1.030 6,08 1.024 5,14 164 1,34 13.479 50,01 2. Tidak/Blm Tamat SD 10.602 27,53 4.661 27,53 4.636 23,27 2.191 17,95 61.092 23,32 3. Tamat SD 17.706 45,98 7.784 45,98 9.355 46,96 5.446 44,62 106.229 40,55 4. Tamat SMP 4.581 11,90 2.014 11,90 2.638 13,24 2.433 19,93 40.499 15,46 5. Tamat SMA 2.678 6,95 1.177 6,95 1.884 9,46 1.485 12,17 32.843 12,54 6. Tamat Akademi 343 0,89 151 0,89 231 1,16 248 2,03 4.279 1,63 7. Tamat Sarjana 255 0,67 112 0,67 153 0,77 239 1,96 3.532 1,35 Jumlah 38.508 100,00 16.929 100,00 19.921 100,00 12.206 100,00 261.953 100,00
Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004
Rata-rata tingkat pendidikan penduduk di wilayah studi masih didominasi dengan tingkat pendidikan dasar (45,89%), kemudian diikuti tingkat pendidikan menengah pertama atau SLTP (14,24%), SLTA (8,88%), Akademi atau Diploma sekitar 0,95% dan yang berpendidikan Sarjana sebanyak 1,02%. Dengan tingkat pendidikan yang ada, penduduk akan sulit bersaing untuk dapat meraih kesempatan kerja yang kebetulan membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan dan ketrampilan memadahi. Oleh karena itu perlu adanya upaya peningkatan pendidikan dan ketrampilan penduduk lokal agar mereka dapat lebih berperan dalam setiap kesempatan kerja yang ada.
c. Mata Pencaharian Penduduk
Secara umum masyarakat di wilayah Kabupaten Banggai bermata pencaharian di bidang pertanian (71,18%), jasa (9,13%) dan perdagangan (8,44%), sedangkan jenis lapangan pekerjaan yang paling sedikit digeluti penduduk adalah bidang Pertambangan dan Galian yakni hanya sekitar 0,10%. Gambaran lebih lengkap tentang jenis mata pencaharian penduduk di wilayah studi disajikan pada Tabel 2.32.
4 Listrik, Gas dan Air 9 1 6 - 162 5 Konstruksi 199 107 67 187 2.983 6 Perdagangan 1.074 248 293 223 10.850 7 Komunikasi 190 46 109 37 4.688 8 Keuangan 24 14 - - 560 9 Jasa 250 101 - - 11.741 Jumlah 19.411 7.756 9.536 3.864 128.592 Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004
Sama halnya di tingkat kabupaten, jenis mata pencaharian penduduk di wilayah studi juga didominasi oleh sektor pertanian (39,26%), hal ini sejalan dengan lokasi studi khususnya di wilayah Kecamatan Toili dan Toili Barat yang merupakan sentra produksi padi di Kabupaten Banggai. Jenis mata pencaharian dominan lainnya adalah sektor industri (24,17%) dan perdagangan sebanyak 16,94%. Jenis mata pencaharian yang paling sedikit ditekuni penduduk adalah bidang Pertambangan/ Penggalian yakni hanya oleh sekitar 13 orang (0,75%) yang semuanya berlokasi di wilayah Kecamatan Kintom. d. Angkatan Kerja
Pertumbuhan angkatan kerja di negara berkembang identik dengan pertumbuhan penduduk, hal ini berarti bahwa tingginya tingkat pertumbuhan penduduk akan menyebabkan pula tingginya pertumbuhan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas yang secara aktif melaksanakan kegiatan ekonomis. Tidak termasuk dalam kategori ini adalah penduduk yang benar-benar tidak mempunyai pekerjaan dan yang sedang bersekolah.
Angkatan kerja di Kabupaten Banggai pada tahun 2004 berjumlah sekitar 131.196 orang, terdiri dari 128.592 orang sedang bekerja dan 2.604 orang mencari kerja.
Jumlah angkatan kerja yang terbesar ada di wilayah Kecamatan Toili yaitu sebesar 47,85% dan yang terendah ada di wilayah Kecamatan Kintom yakni sebesar 9,52% dari total angkatan kerja yang ada. Besarnya persentase pekerja terhadap angkatan kerja di Kabupaten Banggai sebesar 98,02% yang berarti mengalami peningkatan sekitar 0,26% dibandingkan dengan tahun 2003. Peningkatan ini terjadi sebagai akibat banyaknya lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan sekolah dan kemudian terjun ke dunia kerja.
Pertumbuhan angkatan kerja selain dipengaruhi struktur umur juga dipengaruhi oleh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Secara keseluruhan TPAK di Kabupaten Banggai pada tahun 2004 sebesar 78,37% yang berarti mengalami peningkatan sekitar 26,40% dibandingkan dengan tahun 2003.
e. Kesempatan Kerja
Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banggai (2003), lowongan kerja atau kesempatan kerja yang secara transparan diumumkan di wilayah Kabupaten Banggai adalah dalam sektor Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Keuangan dan Asuransi, Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan, serta Jasa Kemasyarakatan Sosial dan Perorangan. Jumlah pencari kerja yang tidak disalurkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 tercatat adanya pencari kerja sebanyak 2.604 orang. Tingkat pendidikan pencari kerja tersebut pada umumnya berpendidikan tamatan SLTA yaitu sebesar 68,51%. Dari total pencari kerja hanya sekitar 331 orang (12,71%) yang telah ditempatkan. Sehingga pemerintah masih mempunyai tanggungan sebanyak 2.273 orang (87,29%) dan hal ini akan terus meningkat dengan adanya pencari kerja tahun berikutnya. Sementara itu pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan pencari kerja yang ada. Kondisi ini nampaknya akan terus berkembang pada masa-masa yang akan datang dan diperlukan perhatian dari semua pihak untuk dapat mengatasinya agar tingkat pengangguran tidak terus meningkat dari tahun ke tahun.
dan sumberdaya manusianya. PDRB Kabupaten Banggai berdasarkan harga berlaku pada tahun 2003 mencapai 1.371.927 juta rupiah atau naik 8,90% dibandingkan tahun 2002. Sementara itu apabila diperhitungkan berdasarkan harga konstan 1993, nilai PDRB yang dicapai sebesar 385.405 juta rupiah atau tumbuh sebesar 0,16% dibandingkan tahun sebelumnya. Peranan sektoral PDRB Kabupaten Banggai secara lengkap disajikan pada Tabel 2.33 dan distribusi persentase PDRB menurut lapangan usaha disajikan pada Tabel 2.34.
Penyumbang terbesar PDRB tahun 2003 adalah Sektor Pertanian yaitu sebesar 56,56%, yang didukung oleh sub sektor Tanaman Perkebunan yang mencapai 25,39%, kemudian diikuti oleh Pertanian Tanaman Bahan Makanan (15,65%) dan Kehutanan sebesar 6,62%. Penyumbang terbesar kedua adalah Sektor Jasa-jasa Lainnya sebesar 9,97% yang berasal dari Jasa Pemerintahan Umum dan Swasta. Penyumbang terbesar ketiga adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 8,86% terhadap total PDRB.
Penyumbang terkecil PDRB Kabupaten Banggai adalah sektor Listrik dan Air Bersih dengan persentase sebesar 0,58% yang diikuti oleh sektor Penggalian (1,21%), sektor Keuangan dan Jasa Perusahaan dengan kontribusi sebesar 4,04%.
Tabel 2.33. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banggai Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 1999-2003 (Juta Rupiah)
Usaha 1999 2000 2001 2002 2003
1. Pertanian 434.686 491.792 596.433 703.6830 775.978
Tanaman Bahan Makanan 161.000 168.068 191.235 208.725 214.661
Tanaman Perkebunan 137.530 173.515 227.673 293.750 348.376 Peternakan 30.208 32.010 35.955 38.197 39.134 Kehutanan 59.017 65.388 76.794 87.312 90.788 Perikanan 46.931 52.811 64.776 75.700 83.019 2. Penggalian 10.786 11.624 13.653 15.4730 16.624 3. Industri Pengolahan 61.957 69.808 83.374 115.5104 102.781
Makanan, Minuman & Tembakau 24.432 27.477 32.757 45.581 40.582
Tekstil, Brg. dari Kulit & Alas Kaki 156 174 207 285 250
Kayu & Hasil Hutan Lainnya 32.276 36.415 43.550 60.084 53.364
Kertas & Barang Cetakan 1.227 1.386 1.660 2.318 2.072
Pupuk, Kimia & Brg dari Karet 161 177 206 279 242
Semen & Brg Galian bukan Logam 3.526 3.981 4.764 6.648 5.995
Alat Angkut, Mesin & Peralatannya 147 163 191 261 228
Barang Lainnya 32 35 41 55 48
4. Listrik dan Air Bersih 4.391 4.940 5.930 7.0540 7.997
Listrik 3.793 4.268 5.137 6.128 6.955
Air Bersih 598 672 793 926 1.042
5. Bangunan 59.645 64.463 77.334 89.0820 96.807
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 74.700 82.066 97.191 109.812 121.615
Perdagangan Besar dan Eceran 73.672 80.935 95.849 108.313 119.973
Hotel 419 455 539 601 657
Restoran 609 676 803 899 985
7. Angkutan & Komunikasi 46.272 50.600 58.637 65.404 71.723
Angkutan 44.703 48.859 56.608 63.054 68.939
- Angkutan Jalan Raya 33.108 36.074 41.665 46.457 50.868
- Angkutan Laut 6.741 7.466 8.764 9.737 10.605
- Angkutan Udara 869 944 1.086 1.203 1.307
- Jasa Penunjang Angkutan 3.985 4.376 5.093 5.657 6.159
Komunikasi 1.569 1.741 2.029 2.350 2.784
8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perush 26.906 29.466 34.586 38.248 41.671
Bank 4.321 4.659 5.326 5.735 6.232
Lembaga Keuangan Tanpa Bank 1.682 1.832 2.114 2.299 2.475
Sewa Bangunan 19.611 21.540 25.456 28.340 30.928 Jasa Perusahaan 1.293 1.435 1.690 1.873 2.036 9. Jasa-Jasa 88.190 96.785 113.226 115.5554 136.731 Pemerintahan Umum 70.007 76.052 88.401 89.629 105.779 Swasta 18.183 20.733 24.824 25.926 30.952 - Sosial Kemasyarakatan 12.151 13.868 16.618 17.370 20.756
- Hiburan & Rekreasi 27 30 36 37 43
- Perorangan & Rumahtangga 6.004 6.835 8.170 8.519 10.153
PDRB 807.535 901.545 1.080.365 1.259.821 1.371.927
Peternakan 3,74 3,55 3,33 3,03 2,85
Kehutanan 7,31 7,25 7,11 6,93 6,62
Perikanan 5,81 5,86 6,00 6,01 6,05
2. Penggalian 1,34 1,29 1,26 1,230 1,21
3. Industri Pengolahan 7,67 7,74 7,72 9,170 7,49
Makanan, Minuman & Tembakau 3,03 3,05 3,03 3,62 2,96
Tekstil, Brg. dari Kulit & Alas Kaki 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02
Kayu & Hasil Hutan Lainnya 4,00 4,04 4,03 4,77 3,89
Kertas & Barang Cetakan 0,15 0,15 0,15 0,18 0,15
Pupuk, Kimia & Brg dari Karet 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02
Semen & Brg Galian bukan Logam 0,44 0,44 0,44 0,53 0,44
Alat Angkut, Mesin & Peralatannya 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02
Barang Lainnya 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
4. Listrik dan Air Bersih 0,54 0,55 0,55 0,56'1 0,58
Listrik 0,47 0,47 0,48 0,49 0,51
Air Bersih 0,07 0,07 0,07 0,07 0,08
5. Bangunan 7,39 7,15 7,16 7,070 7,06
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 9,25 9,10 9,00 8,72 8,86
Perdagangan Besar dan Eceran 9,12 8,98 8,87 8,60 8,74
Hotel 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05
Restoran 0,08 0,08 0,07 0,07 0,07
7. Angkutan & Komunikasi 5,73 5,61 5,43 5,19 5,23
Angkutan 5,54 5,42 5,24 5,01 5,02
- Angkutan Jalan Raya 4,10 4,00 3,86 3,69 3,71
- Angkutan Laut 0,83 0,83 0,81 0,77 0,77
- Angkutan Udara 0,11 0,10 0,10 0,10 0,10
- Jasa Penunjang Angkutan 0,49 0,49 0,47 0,45 0,45
Komunikasi 0,19 0,19 0,19 0,19 0,20
8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perush 3,33 3,27 3,20 3,04 3,04
Bank 0,54 0,52 0,49 0,46 0,45
Lembaga Keuangan Tanpa Bank 0,21 0,20 0,20 0,18 0,18
Sewa Bangunan 2,43 2,39 2,36 2,25 2,25 Jasa Perusahaan 0,16 0,16 0,16 0,15 0,15 9. Jasa-Jasa 10,92 10,74 10,48 9,17 9,97 Pemerintahan Umum 8,67 8,44 8,18 7,11 7,71 Swasta 2,25 2,30 2,30 2,06 2,26 - Sosial Kemasyarakatan 1,50 1,54 1,54 1,38 1,51
- Hiburan & Rekreasi 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
- Perorangan & Rumahtangga 0,74 0,76 0,76 0,68 0,74
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
b. Struktur Perekonomian
Struktur perekonomian regional Kabupaten Banggai beberapa tahun terakhir mengalami perubahan cukup cepat terutama di sektor Pertanian. Peningkatan kontribusi tersebut terlihat pada tahun 2003 sebesar 0,7% baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan. Beberapa produksi komoditas perkebunan seperti kelapa, kelapa sawit, kakao, dan cengkeh, juga mengalami peningkatan menjadi 25,39%, disamping produksi tanaman bahan makanan seperti padi dan palawija juga mengalami peningkatan menjadi 5,65%. Penyumbang terbesar ketiga berasal dari subsektor kehutanan (6,62%), kemudian perikanan (6,05%) dan yang paling kecil kontribusinya adalah subsektor peternakan sebesar 2,85%.
Peranan sektor penggalian adalah sebesar 1,21% atau mengalami penurunan sekitar 0,02% dibandingkan dengan tahun 2002. Sektor penggalian merupakan penyumbang PDRB peringkat ke-8. Sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 7,49% atau menduduki peringkat ke-4 dalam sumbangannya terhadap total PDRB. Namun bila dibandingkan dengan tahun 2002, terjadi penurunan kontribusi sebesar 1,68%.
Sektor listrik dan air bersih selama 5 tahun terakhir rata-rata memberikan kontribusi sebesar 0,556% terhadap total PDRB. Pada tahun 2003 kontribusi yang diberikan sebesar 0,58% atau meningkat sebesar 0,02% dibandingkan tahun 2002, namun tetap merupakan sektor yang kontribusinya paling kecil dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Sementara itu kontribusi yang diberikan sektor bangunan sebesar 7,06% atau menduduki perangkat ke-5 dalam PDRB. Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan penyumbang PDRB terbesar ke-3 dengan kontribusi sebesar 8,86%. Dibandingkan dengan tahun 2002 terjadi peningkatan sebesar 0,14%. Kontribusi sektor angkutan dan komunikasi sebesar 5,23% atau menduduki peringkat ke-6 dalam memberikan peranannya terhadap PDRB. Sektor keuangan dan persewaan jasa perusahaan menduduki peringkat ke-7 dalam memberikan kontribusinya terhadap PDRB dengan persentase sebesar 3,04%. Sektor jasa-jasa merupakan penyumbang PDRB terbesar kedua dengan kontribusi sebesar 9,97% atau meningkat sekitar 0,80% dibandingkan dengan tahun 2002.
Jika dilihat berdasarkan PDRB harga konstan tahun 1993, tampak bahwa sektor pertanian tetap memberikan peranan yang terbesar dalam struktur perekonomian Kabupaten Banggai. Demikian juga dengan sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel dan restoran tetap sebagai penyumbang terbesar kedua dan ketiga terhadap nilai total PDRB.
dibandingkan dengan tahun 2002 yang sebesar 6,82%. Pertumbuhan terbesar berasal dari Sektor Listrik dan Air Bersih sebesar 8,66% atau meningkat sekitar 1,08% dibandingkan dengan tahun 2002. Pertumbuhan terbesar kedua adalah Sektor Pertanian yang tumbuh sekitar 8,16% sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 8,69%, dan tingkat pertumbuhan terbesar ketiga adalah Sektor Bangunan sebesar 7,45%. Sektor Industri Pengolahan tumbuh sebesar 5,82%, Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran tumbuh sebesar 5,65%, dan Sektor Penggalian sebesar 5,61%. Pertumbuhan terendah dialami oleh Sektor Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan yakni sebesar 4,32%, yang mengalami peningkatan sebesar 0,49% dibandingkan dengan tahun 2002. Diperlukan berbagai upaya agar tingkat perekonomian sektoral Kabupaten Banggai dapat semakin seimbang dan mantap serta merata ke seluruh daerah dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
d. Fasilitas Perekonomian 1) Perkantoran
Beberapa fasilitas yang dapat memacu bergeraknya roda perekonomian di wilayah studi adalah adanya sarana perkantoran. Keberadaan perkantoran ini telah mampu membangkitkan aktivitas perekonomian baik formal maupun informal di sekitarnya diantaranya dengan tumbuhnya warung-warung, kios, toko, dan lain sebagainya. 2) Hotel
Sampai dengan tahun 2004 di wilayah Kabupaten Banggai terdapat sebanyak 21 buah hotel/penginapan dengan kapasitas kamar sebanyak 217 buah dan 349 tempat tidur. Dari jumlah total hotel tersebut, 7 diantaranya atau sekitar 33,33% terdapat di wilayah studi yaitu di Kecamatan Toili. Keberadaan hotel/penginapan selama ini telah mampu mendukung aktivitas pariwisata, perdagangan dan aktivitas perekonomian lainnya.
3) Lembaga Keuangan
Lembaga keuangan khususnya bank sangat besar peranannya dalam mendukung kelancaran peredaran uang. Sektor yang paling besar menyerap kredit adalah sektor perdagangan dengan besar kredit 105.488 juta rupiah dan sektor pertanian sebesar 87.982 juta rupiah. Bank sampai saat ini masih tersentral di ibukota kabupaten. Lembaga keuangan lain yang beroprasi adalah koperasi. Jumlah koperasi di seluruh wilayah Kabupaten Banggai adalah 162 buah dan 20 atau 12,35% diantaranya terdapat di wilayah studi. Penyebaran koperasi di wilayah studi adalah: 8 buah di Kecamatan Toili, 6 buah di Toili Barat, 5 buah di Batui dan 1 buah di Kintom.
4) Sarana Perdagangan
Sarana perdagangan yang ada di wilayah studi meliputi pasar, toko, kios dan warung. Dari 4 kecamatan wilayah studi, Kecamatan Toili memiliki sarana perdagangan yang paling banyak yaitu pasar 6 buah, toko 28 buah, kios 293 buah dan warung 52 buah. Jumlah sarana perdagangan terbanyak kedua adalah di wilayah Kecamatan Toili kemudian di Kecamatan Batui. Kondisi ini menggambarkan bahwa aktivitas perekonomian di wilayah Kecamatan Toili cukup tinggi yang diantaranya karena Toili merupakan pusat aktivitas pertanian di Kabupaten Banggai.
5) Sarana Transportasi
Sarana transportasi mempunyai peran yang sangat penting dalam membuka keterisolasian wilayah dan memajukan ekonomi wilayah. Di Kabupaten Banggai terdapat jalan Provinsi sepanjang 652,70 km dan umumnya dalam kondisi sedang (61,53%). Disamping itu juga terdapat jalan kabupaten sepanjang 1.357,18 km dengan kondisi sedang (48,29%). Di wilayah studi, Kecamatan Toili mempunyai jumlah jalan yang terpanjang dibandingkan dengan kecamatan lainnya yaitu sepanjang 297,25 km dan Kecamatan Toili Barat mempunyai jumlah jalan yang terpendek yakni hanya sekitar 47,35 km. Jenis permukaan jalan yang ada meliputi aspal (51,77%), kerikil (32,30%) dan tanah sekitar 15,93%.
Jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di wilayah studi meliputi bus, truk, pick up, mobil penumpang dan pribadi serta sepeda motor. Di antara wilayah studi, Kecamatan Toili memiliki jumlah kendaraan bermotor yang paling banyak