1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di era komputerisasi saat ini nampaknya kedudukan pasar tradisional sebagian besar telah digantikan oleh swalayan, toserba, retailer-retailer yang mana mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, baik dari segi macam kebutuhan akan produk-produk maupun segi fungsional produk, dimana semua itu diharapkan mampu dipenuhi dengan harga yang sesuai dan lebih hemat waktu. Standard harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pasar tradisional tentunya diimbangi dengan produk-produk yang mempunyai standard higyene yang terjamin jika dibandingkan pasar tradisional. Selain hal tersebut, mungkin rata-rata yang menjadi alasan konsumen berbelanja di swalayan adalah alasan prestige disamping harga yang ekonomis. Dengan kondisi tersebut konsumen dari kalangan menengah ke atas akan lebih memilih berbelanja di swalayan, mengingat semakin banyaknya kebutuhan mereka dan efektivitas waktu yang menuntut mereka untuk berbelanja di tempat yang menyediakan aneka kebutuhan mereka dan keluarga.
“Ternyata apabila diamati sejak bulan Mei 1998, meskipun Indonesia terkena dampak krisis ekonomi namun usaha pasar swalayan tidak mengalami dampak yang cukup berarti, bahkan mampu bertahan” (Radar Bisnis Selasa 5 Maret 2002). Bahkan masih menurut Drs Kresnayana M.Sc “Pasar swalayan memiliki prospek yang cukup bagus . Maka tidak mengherankan jika masa kini usaha di bidang ini makin hari makin ramai dan persaingan antar pasar swalayan semakin tajam” ( Radar Bisnis Selasa 5 Maret 2002) Hal tersebut diataslah menjadikan para pengusaha tertarik untuk mendirikan swalayan- swalayan. Seperti halnya di kota Pare-Kediri ini, hingga saat ini terdapat enam swalayan dan toserba, yaitu Victory, Toserba Berdikari, Tsamaniya, Sahilla, Indomart dan yang terakhir muncul adalah Surya. Dengan semakin maraknya pasar swalayan tersebut, tentu saja akan penting bagi sebuah swalayan untuk
meraup sebanyak mungkin konsumen, apalagi konsumen yang berkompeten.
Tentu saja untuk meraup konsumen diperlukan media untuk berpromosi disamping pelayanan konsumen yang memuaskan. Mengingat salah satu kompetitor dari Toserba berdikari di Pare-Kediri adalah Indomart, swalayan yang tersebar di banyak kota, mempunyai media promosi berupa booklet harga-harga serta cukup dikenal oleh masyarakat luas, diperlukan media promosi yang cukup efektif untuk menarik perhatian konsumen. Sehubungan dengan menariknya permasalahan tersebut, maka penulis mengambil permasalahan promosi ini sebagai materi perancangan karya desain dalam tugas akhir ini.
1.2 Batasan Masalah
Masalah dibatasi pada perancangan media promosi Toserba Berdikari yang berlokasi di kota Pare-Kediri untuk menghadapi kompetitor yang semakin banyak dan untuk mendekatkan image Toserba Berdikari sebagai pusat perbelanjaan keluarga yang modern, mengutamakan kepuasan konsumen dengan pelayanan yang ramah, harga yang ekonomis, penyediaan produk yang lengkap dan berkualitas pada konsumen.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana merancang media promosi yang tepat, komunikatif dan sesuai dengan image sebagai pusat perbelanjaan keluarga yang modern, mengutamakan kepuasan konsumen dengan pelayanan yang ramah dan penyediaan produk yang lengkap serta berkualitas, yang dimiliki Toserba Berdikari ?
2. Bagaimana menempatkan dan menerapkan perancangan desain komunikasi visual tersebut dalam berbagai media ?
I.4 Tujuan Perancangan
Perancangan ini bertujuan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat dan juga memantapkan image Toserba Berdikari sebagai pusat
perbelanjaan keluarga yang modern, mengutamakan kepuasan konsumen dengan pelayanan yang ramah dan penyediaan produk yang lengkap serta berkualitas di benak konsumen yang telah mengetahui dan menginformasikan serta mempromosikan Toserba Berdikari sehingga lebih dikenal oleh masyarakat. Selain itu bagi penulis sendiri untuk mempelajari bagaimana merancang suatu media promosi yang efektif untuk nantinya bekal di dunia kerja.
1.5 Metodologi Perancangan I.5.1 Metode Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan metode Kuantitatif dan kualitatif, dimana secara kuantitatif analisa dilakukan dari kuesioner dan secara kualitatif dilakukan melalui wawancara dan pengamatan lapangan serta projective technique.
“Quantitative research is descriptive in nature and is used by researchers to understand the effect of various promotional input on the consumer, thus enabling marketers to predict consumer behaviour…. Because the data collected are quatitative, they lend themselves to sophisticated statistical analysis.Qualitative research method consists of depth interview, metaphor analysis, collage research and projective technique”.1
Data-data yang diperoleh digolongkan menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder, dimana data primer diperoleh melalui wawancara dengan beberapa pengunjung toserba sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber-sumber kepustakaan dan kuesioner.
Adapun profil dari responden yang merupakan target audience dibagi menjadi 2, yaitu :
Target Audience Primer
Jenis kelamin : Ibu- ibu Rumah tangga dan Bapak-bapak Usia :21 Tahun keatas
1 Roger D Blackwell, Paul W Miniard, and James F Egel, 2001,Consumer Behaviour, NJ:
Harcouru,Inc., hal 132
Kelas Sosial : Menengah ke atas Lokasi : Swalayan (100%) Target Audience Sekunder
Jenis kelamin : Remaja dan anak-anak Usia :12 Tahun keatas Kelas Sosial : Menengah ke atas Lokasi : Swalayan (100%)
Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
- Angket / Kuesioner : Dimana kuesioner tersebut dibagikan kepada res ponden yang telah ditentukan
- Wawancara : Wawancara dilakukan dengan beberapa responden dan beberapa penjaga counter untuk melengkapi data dan cross-check terhadap data yang diperoleh melalui kuesioner.
- Studi Kepusatakaan : Pengumpulan materi- materi pendukung dan materi kepustakaan yang menunjang penelitian sebagai informasi teori yang ilmiah.
Penelitian yang dilakukan dilapangan dilakukan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi konsumen dalam tahap pengambilan keputusan, bagaimana mereka mengetahui Toserba Berdikari, seberapa jauh konsumen mengenal Toserba Berdikari, serta pengamatan perilaku konsumen, untuk menentukan media promosi yang efektif.
I.5.2 Metode Analisis Data
Sedangkan metode Analisis yang dilakukan berdasarkan tiga faktor utama dalam perilaku konsumen, yaitu Ekstensive Problem Solving, Limited Problem Solving, dan Routine Problem Solving. Selain itu juga digunakan Maslow’s Hierarchy of Needs dan Fishbein’s Intention Behavioural Model dimana masing- masing teori mengkaji mengenai perilaku konsumen dan kebutuhan konsumen akan suatu produk. Dan juga analisa Strength,
Weakness, Oportunity, Threat (SWOT) dari Toserba Berdikari sendiri dan kompetitor.
I.5.3 Konsep Perancangan
Toserba Berdikari merupakan sarana pusat perbelanjaan keluarga yang modern, mengutamakan kepuasan konsumen dengan pelayanan yang ramah dan penyediaan produk yang lengkap serta berkualitas. Usaha ini tentu saja bergerak dibidang jasa, dimana hospitality kepada konsumen menjadi salah satu faktor utama, disamping kelengkapan produk yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Seperti halnya pusat perbelanjaan yang lainnya, Toserba Berdikari menjual berbagai macam kebutuhan, mulai dari sabun mandi, shampoo, kosmetik, aneka bumbu masak dan bahan kue, snack, alat- alat dapur , aneka kue, rokok, susu, aneka kebutuhan untuk bayi, video game hingga alat-alat tulis. Toserba ini mempunyai warna khas, yaitu warna merah maroon dan juga kuning muda. Warna merah maroon sendiri mempunyai makna kekuatan, sangat kompetitif, sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas dalam bidang usaha sedangkan warna kuning mempunyai makna menarik, mempengaruhi dan menghibur. Hal ini sesuai dengan karakteristik dari toserba sebagai pusat perbelanjaan yang seringkali berkaitan dengan kesenangan. Selain itu warna tersebut juga memberikan kesan modern. Jadi perpaduan dua warna tersebut diharapkan benar-benar mampu memberikan kesan kokoh, kompetitif dan modern. Untuk itu dalam promosinya nanti akan digunakan warna yang menjadi ciri dari Toserba Berdikari ini, yaitu warna merah maroon dan kuning muda, sebagai warna pokok. Serta media- media yang akan dijadikan sebagai media promosi, antara lain adalah discount card, mangkuk dan mug, gantungan kunci, leaflet, papan harga promosi, main board dan papan penunjuk toserba.
“The particular promotional activities that retailers can offer manufacturers are personal selling, advertising and sales promotion.
Retailers have become experts in the use of both window display and
point of purchase display. It is through these device that customer are able to make price assortment comparison”.2
Dan dari setiap media tersebut dirancang sesuai karakteristik dari toserba berdikari, yaitu modern dan kokoh. Untuk gaya desain yang digunakan dalam rancangan akan digunakan gaya desain modern. Untuk memperkuat kesan toserba sendiri, logo dari toserba akan diimplementasikan dalam setiap media, dimana logo dari toserba Berdikari yang berbentuk kereta belanja dengan frame yang menyerupai persegi dan lingkaran tersebut mempunyai makna kepedulian dan kemudahan pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam kesehariannya disamping icon kereta belanja yang identik dengan pusat perbelanjaan.
Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian yang dilakukan selama bulan Maret hingga Mei 2003 dilakukan dengan proporsi sebagai berikut :
2 John J.Burnett, 1988, Promotion Management, USA: 50 W.Kellogg Boulevard, hal 50
IV
v III
v II
v Mei
I
v v IV
v v
v III
v
v II
v
v
April
I
v V
v IV
v v III v v v v II v v
Maret
I v Studi Kepustakaan
BAB I BAB II
Kuesioner + Wawancara BAB III
BAB IV BAB V
Penyelesaian Perancangan Penyelesaian Bahan
1.6 Sistematika Perancangan
PenelitianLapangan
Konsep Kreatif Konsep Desain
Landasan Teori Anggapan
Kompalasi Data
Kajian Pustaka Batasan
Rumusan Tujuan
Konsep Visual
Pengembangan Desain
Final Artwork Analisa dan Pembahasan
Hasil Survey Metode Analisis Data Alat -alat yg diperlukan
Kajian Pustaka Rumusan Tujuan
Populasi Sample Kajian Pustaka
Permasalahan
Metodologi Penelitian
Kenyataan / Fakta Latar Belakang Kebutuhan
Kuesioner