ii
iii
iv
v ABSTRAK
Galih Nata Permana. NIM 11160440000043. KONTRIBUSI PROGRAM KETAHANAN KELUARGA TERHADAP PENCEGAHAN PERCERAIAN (STUDI PELAKSANAAN SEKOLAH IBU DI KOTA BOGOR). Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1442 H/2020 M.
Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan program Sekolah Ibu dan kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu sebagai upaya pencegahan dalam menekan angka perceraian. Kontribusi ketahanan keluarga tersebut yang meliputi beberapa aspek, yaitu aspek Ketahanan Fisik Ekonomi Keluarga, aspek Ketahanan Sosial Keluarga, aspek Ketahanan Psikologis, dan aspek Ketahanan Spiritual.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan meode hukum empiris dan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan sosiologi hukum, dan pendekatan normatif-empiris. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumen dengan memperoleh informasi untuk mendapatkan data dari hasil penelitian. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sekolah Ibu ini merupakan kegiatan pendidikan dan pelatihan non formal, yang dilakukan oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Hadirnya Sekolah Ibu di Kota Bogor sebagai salah satu upaya preventif dalam menekan angka perceraian melalui kontribusi Ketahanan Keluarga. Secara teknis, pelaksanaan Sekolah Ibu sudah baik, akan tetapi Sekolah Ibu belum maksimal dalam meminimalisir angka perceraian. Sehingga dapat dilihat data dari Pengadilan Agama Bogor selama 3 (tiga) tahun terakhir, bahwa angka perceraiannya meningkat. Mengapa demikian, karena program Sekolah Ibu itu sangat kompleks, tidak hanya menekan angka perceraian. Akan tetapi berbagai permasalahan sosial lainnya yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Kota Bogor.
Kata Kunci : Sekolah Ibu, Ketahanan Keluarga, Perceraian, PA Bogor, DPMPPA, TPPKK, Kota Bogor
Pembimbing : Dr. Maskufa, M.A Daftar Pustaka : 1974 s.d 2018
vi
PEDOMAN TRANSLITERASI
Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini digunakan untuk beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata dalam bahasa Indonesia atau lingkup penggunaannya masih terbatas.
a. Padanan Aksara
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:
Arab Latin Arab Latin
ﺍ A ﻃ Th ﺏ B ﻅ Zh ﺕ T ع ‘ ﺚ Ts ﻍ Gh ﺝ J ﻑ F ﺡ H ﻕ Q ﺥ Kh ﻙ K ﺪ D ﻝ L ﺫ Dz ﻡ M ﺭ R ﻥ N ﺯ Z ﻭ W ﺱ S ﻩ H ﺵ Sy ء ’ ص Sh ﻱ Y ﺽ Dl b. Vokal
Dalam Bahasa Arab, Vokal sama seperti Bahasa Indonesia, memiliki vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong). Untuk vokal tunggal, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut.
vii
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin
ﹷ
a (Fathah)ﹻ
i (Kasrah)ﹹ
u (Dhammah) c. Vokal Panjang (madd) dan Vokal Rangkap (Diftong)Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, sedangkan ketentuan alih aksara vokal rangkap atau diftong, dilambagkan dengan ketentuan alih aksaranya sebagai berikut.
Arab Latin Arab Latin
آ â (a panjang) و اَ Aw
اي î (i panjang) ي اَ Ay
ا ُو û (u panjang) d. Kata Sandang
Kata sandang, dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qamariyyah, misalnya:
داهتجلإا = al-ijtihâd
ةصخرلا = al-rukhshah, bukan ar-rukhsah e. Tasydid (Syaddah)
Dalam alih aksara, tasydid atau syaddah dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:
viii f. Ta Marbûthah
Jika Ta Marbuthah terdapat pada kata yang berdiri sendiri atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka Ta Marbuthah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika Ta Marbuthah diikuti dengan kata benda (ism) maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t” (te). Misalkan:
No Kata Arab Alih Aksara
1 ةعيرش Syarî’ah
2 ةّيملاسلإا ةعيرشلا Al-Syarî’ah Al-Islâmiyyah
3 بهاذملا ةنراقم Muqâranat al-madzâhib
g. Ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Disempurnakan (EYD). Perlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh: يراخبلا = al-Bukhâri, tidak ditulis Al-Bukhâri.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kata nama tersebut berasal dari bahasa Arab. Misalnya: Nuruddin al-Raniri, tidak ditulis Nûr al-Din al-Rânîri.
h. Cara Penulisan Kata
Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas.
ix
No Kata Arab Alih Aksara
1 تاروظحملاحيبتةرورضلا al-dharûrah tubîhu al-mahdzûrat
2 يملاسلإاداصتقلاا al-iqtishad al-islâmî
3 هقفلالوصأ ushûl al-fiqh
4 ةحابلإاءايشلأايفلصلأا al-ashl fî al-asyyâ` al-ibâhah
x
KATA PENGANTAR
مي ِح هرلا ِنَمْحهرلا ِ هللَّا ِمْسِب
Assalâmu’alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh
Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
Subhânahu Wa Ta’alâ, karena dengan rahmat dan karunia serta taufik dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kontribusi Program Ketahanan Keluarga Terhadap Pencegahan Perceraian (Studi Pelaksanaan Sekolah Ibu Di Kota Bogor)”.Demikian pula, shalawat dan salam penulis peruntukkan kepada Baginda Nabi Muhammad Shallâllâhu ’Alaihi Wa
Sallam, tidak lupa kepada sahabat, tabiin, tabi’ut tabiin dan seluruh ahlulbait di
dunia dan akhirat.
Dengan selesainya penyusunan skripsi yang penulis buat, penulis patut menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak. Karena sedikit atau banyaknya batuan mereka, menjadikan penulis mewujudkan skripsi ini. Berkenaan dengan itu, ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, khususnya untuk yang teristimewa kedua Orang tua yang sangat penulis cintai dan sayangi dan yang menyayangi penulis tanpa batas, Bapak Abdullah Rasyid dan Mamah Imas Nuryani yang senantiasa mendoakan penulis tanpa berhenti, yang memberi semangat dan kasih sayang tanpa ujung, yang telah mengorbankan tenaga dan waktunya untuk mendidik dan membimbing, membesarkan, dan memberikan pendidikan yang tinggi kepada penulis, sehingga kedua orang tua penulis mampu untuk senantiasa menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan dan penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, sungguh pegorbanan yang tak akan pernah mampu penulis balas.
Juga kepada adik-adik penulis yaitu Syahrul Haidar Nashir, M. Azhari Sabila Nurasyiddin, dan M. Hanafi Ash-Shiddiq yang senantiasa memberi warna untuk menyuntik semangat penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, kemudian Keluarga Besar Armu’s Family dan Keluarga Besar Idat Dinata Family yang
xi
senantiasa memberi doa dan harapan yang sangat baik kepada penulis, dan tak lupa juga ucapan terima kasih yang sebesar-besarnyaa penulis sampaika kepada:
1. Prof. Dr. Amany B. Lubis, Lc., M.A., selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.
2. Dr. Tholabi Kharlie, M.A. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.
3. Dr. Mesraini, M.Ag., dan Ahmad Chairul Hadi, M.A. yang masing-masing selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga yang telah memberikan perhatian, nasihat, pembinaan, arahan, dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis selama ini.
4. Dr. Maskufa, M.A selaku dosen pembimbing dan juga sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama kultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang dengan sabar dan tulus meluangkan waktunya untuk memberi bimbingan, koreksi, mendidik, nasihat, dan arahan yang sangat membantu penulis dalam penulisan menyelesaikan skripsi ini.
5. Dr. Moh. Ali wafa, M.Ag, Dr. Khamami Zada, M.A., dan Ismail Hasani, S.H., MH. selaku dosen penasehat akademik yang membimbing dan memberikan arahan hingga akhir semester.
6. Seluruh Staf Pengajar/Para Dosen dan jajaran Kepala Bagian Umum, khususnya di lingkungan Program Studi Hukum Keluarga dan umumnnya lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membimbing, mengarahkan, menasehati, dan memberikan ilmu-ilmu dalam perkuliahan sehingga penulis mampu di penghujung perkuliahan untuk menulis skripsi ini.
7. Bapak Agus Yuspian, S.Ag., M.H sebagai Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bogor Kelas 1A yang telah menyempatkan waktunya di tengah-tengah kesibukan dalam mengurusi perkaranya, sehingga penulis bisa melakukan wawancara dan permohonan data, semoga diberikan kesehatan.
xii
8. Ibu Rika Riana Riska Dewi, M.Si sebagai Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Bogor yang telah menyempatkan waktunya untuk wawancara dan permohonan data dengan penulis, semoga diberikan kesehatan.
9. Ibu Ria Myriam, S.Sos sebagai Sekretaris II Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor yang telah menyempatkan waktunya untuk wawancara dan permohonan data dengan penulis, semoga diberikan kesehatan.
10. Sekar Febiola Putri sebagai partner terbaik penulis yang senantiasa memberikan semangat, motivasi, dan dorongan serta menemani dari awal hingga akhir dalam menyelesaikan skripsi ini tanpa lelah, semoga Allah Swt membalas atas kebaikannya.
11. Ilham Ramdhani Rahmat, SH sebagai mentor saya dari maba hingga mala dan sekaligus pembimbing di luar kampus atas bimbingan dan masukannya, serta motivasinya, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala membalas atas kebaikannya.
12. Kepada para semprul yang saya cintai dan banggakan yaitu M. Awaluddin Jauhar, Rian Ilham, dan Zikrul Alfa yang senantiasa mengingatkan, berbagi, saling membantu penulis dalam kehidupan kampus. Susah, senang, dan canda-bahagia yang senantiasa membumbui kebersamaan kita. Juga teman yang sangat asik yaitu Ahmad Reza, Zdung, dan Omen yang senantiasa memberi kebahagiaan dan kebersamaan. Juga Immawan Faiq L. Paneduh sebagai salah satu kawan terbaik dan partner di IMM yang senantiasa berbagi kebaikan dan keharmonisan.
13. Kawan-kawan terbaik penulis yaitu Noval Katob, Dudin, Qibil, Ulul, Najeeb, Imad, Saogi, Brian, Nadhia, Nanda, Papaw, Putri, Amah, Nabel, Sarah, Dina, Cahaya, Aini, Sila, Firda, Weni, Minda, Nurul, Mila, Hilma, dan kawan-kawan terbaik lainnya serta Qola HK-B 2016, Hukum Keluarga 2016 yang tidak bisa tulis satu-persatu dalam tulisan ini yang telah memberikan suntik motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
xiii
14. Senior-senior terbaik dan panutan penulis yaitu Faiqah, Fuad, Bowo, Yusuf, Aza, Helmi, Ei, Kisai, Amar, Nabell, Suci, Lutfi Zakaria, Kite, Windi, Ila, Akay, Abdul, Neng, Angga, Mang Ilham Madon, Pres Rifki, Al, Sidik, Indra Karisma, Oday, Pres Ais, Nur Alim Amalkhan, Amir Khuzaifi, Andi Asyraf, Eka, Riki, dan senior-senior lain yang tidak penulis sebutkan satu-persatu dalam tulisan ini, yang telah memberi nasehat, bimbingan, pengalaman dan cerita-cerita kebaikan, semoga silaturahmi kita tetap terjaga.
15. Adik-adik terkeren dan terbaik Hukum Keluarga 2017 dan 2018.
16. Abang-Abang dan Kakak-Kakak, berserta Adik-Adik Keluarga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (Komfaksy), HMI Hukum Kelurga, Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (Lapenmi) Cabang Ciputat, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat Syariah dan Hukum (PKSH), IMM Cabang Ciputat, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga 2018,
Islamic Astronomy Student Council (IASC), Qola Barudak 2032, Ikatan
Abiturien Darul Arqam Muhammadiyah (Ikadam) Jabodetabek, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Inteligensi 10 2019, Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Babakan dan seluruh organisasi yang pernah saya geluti selama menjadi mahasiswa atas pengalaman dan pelajaran terbaiknya. 17. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah
memotivasi dan memberi inspirasi untuk mecapai suatu cita-cita, dan yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, baik moril maupun materil, tidak ada yang penulis berikan untuk jasa-jasa kalian kecuali dengan ucapan doa dan terimakasih yang dapat penulis haturkan semoga segala bantuan tersebut dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda aamiin.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam skripsi ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap adanya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi yang penulis uat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa adanya kritik dan saran yang membangun.
xiv
Maka akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat dipahami oleh siapa pun yang membacanya, sekiranya dalam skripsi ini berguna bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan semoga segala bantuan dan dorongan yang diberikan kepada penulis selama ini, mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah Subhânahu Wa Ta’alâ. Âmîn
yâ rabbal ‘âlamîn
Wassalâmu’alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh
Jakarta, 20 September 2020
Galih Nata Permana Penulis
xv DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iv
ABSTRAK ... v
PEDOMAN TRANSLITERASI ... vi
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 7
1. Identifikasi Masalah ... 7
2. Pembatasan Masalah ... 7
3. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ... 9
F. Metode Penelitian... 11
1. Jenis Penelitian ... 11
2. Pendekatan Penelitian ... 11
3. Sumber Data Penelitian ... 133
4. Teknik Pengumpulan Data ... 13
5. Analisa Data ... 14
6. Teknik Penulisan ... 15
G. Rancangan Sistematika Penelitian ... 15
BAB II PERCERAIAN DALAM TINJAUAN TEORITIS ... 17
A. Pengertian Perceraian ... 17
B. Dasar Hukum Perceraian... 19
C. Rukun dan Syarat Perceraian ... 22
xvi
1. Macam-Macam Perceraian ... 25
2. Akibat Hukum Perceraian ... 28
E. Faktor-Faktor Serta Alasan-Alasan Penyebab Terjadinya Perceraian ... 31
F. Perceraian Di Kota Bogor ... 33
1. Perceraian Di Kota Bogor Dalam Angka ... 33
2. Faktor-Faktor Penyebab Perceraian di Kota Bogor... 36
3. Analisis ... 40
BAB III PROFIL SEKOLAH IBU ... 45
A. Latar Belakang Lahirnya Sekolah Ibu Kota Bogor ... 45
B. Pengertian Sekolah Ibu ... 51
C. Dasar Hukum Sekolah Ibu ... 51
D. Visi dan Misi Sekolah Ibu ... 52
E. Maksud dan Tujuan Sekolah Ibu... 53
F. Output dan Outcome Sekolah Ibu ... 53
G. Petunjuk dan Pelaksanaan Sekolah Ibu ... 54
1. Jadwal Pelaksanaan ... 54
2. Peserta Sekolah Ibu ... 55
3. Bahan Ajar/Modul Sekolah Ibu ... 56
4. Pengelola ... 58
5. Tenaga Pengajar/Instruktur ... 60
6. Pembiayaan ... 61
BAB IV PROGRAM SEKOLAH IBU DALAM MENEKAN ANGKA PERCERAIAN DI KOTA BOGOR ... 63
A. Peranan Sekolah Ibu Dalam Menekan Angka Perceraian... 63
B. Kendala dan Tantangan Sekolah Ibu Dalam Menekan Angka Perceraian 699 BAB V PENUTUP ... 75 A. Kesimpulan ... 75 B. Saran-Saran ... 777 DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 84
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pembangunan ketahanan keluarga akan sangat bergantung dengan apa yang dimiliki keluarga sebagai modal dalam penyokong keberhasilan pembangunan ketahanan keluarga. Namun pada perjalanannya pembangunan ketahanan keluarga kerap kali harus menghadapi berbagai permasalahan fenomena sosial yang dapat menghambat keberhasilan dalam mencapai target-target pembangunan tersebut. Permasalahan fenomena sosial tersebut baik yang telah dan tengah berlangsung ataupun masalah yang dapat terjadi pada masa yang akan datang.
Upaya peningkatan pembangunan ketahanan keluarga tidak terlepas dari pentingnya keluarga yang merupakan sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan. Sebagai unit terkecil atau komunitas mikro, dalam kekuatan pembangunan ketahanan keluarga berakal pada elemen keluarga. Keluarga sejahtera merupakan fondasi dasar bagi keutuhan kekuatan dan keberlanjutan pembangunan dalam ketahanan keluarga. Sebaliknya, keluarga yang rentan dan tercerai berai mendorong lemahnya fondasi kehidupan dalam masyarakat.1
Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan yang telah melangsungkan perkawinan, dilakukan untuk waktu yang selama-lamanya bahkan hingga mati yang memisahkan salah seorang suami istri, inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh Islam.2 Karena pada dasarnya pula bahwa perkawinan itu merupakan janji suci yang harus diseimbangkan antara hak dan kewajiban
1 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pembanguan
Ketahanan Keluarga, (Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
2016), h. 1.
2 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqih Munakahat
dan Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014), Cet. Kelima, h.
suami istri. Artinya, antara hak dan kewajiban merupakan hubungan timbal balik antara suami dan istri tersebut.3
Dalam perkawinan tentu harus ada satu pasangan yaitu laki-laki dan perempuan yang saling mencintai, yang kemudian diprosesi melalui akad perkawinan untuk disatukan menjadi status ‘keluarga’. Laki-laki yang akan menjadi ayah, dan perempuan yang akan menjadi ibu.
Islam begitu menghendaki kepada semua pasangan yang telah melakukan akad perkawinan untuk senantiasa memenuhi tujuan dari perkawinan itu sendiri, yaitu untuk senantiasa mendapatkan keluarga bahagia yang penuh ketenangan hidup dan rasa kasih sayang. Hal ini tertulis dalam Al-Quran, yaitu Surat ar-Rum (30) ayat 21, yang artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menemukan ketenangan padanya dan menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. [Q.S. ar-Rum (30): 21]
Pada ayat di atas dijelaskan bahwa untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup berkeluarga bersama suami dan istri itu tidak mungkin didapatkan, kecuali dengan jalur akad perkawinan. Artinya, dalam menyalurkan nafsu syahwat untuk menjamin kelangsungan hidup umat manusia bisa saja ditempuh melalui jalur luar perkawinan, akan tetapi ketenangan dan kasih sayang dalam berkeluarga didapat melalui proses ‘janji suci’ atau akad perkawinan yang sah.4
Akan tetapi, dalam keadaan tertentu, perkawinan tersebut terdapat hal-hal yang menghendaki putusnya perkawinan, dalam arti bila hubungan perkawinan tetap dilanjutkan, maka kemudaratan akan terjadi. Dalam hal ini, Islam pun membenarkan putusnya perkawinan sebagai langkah terakhir dari usaha melanjutkan rumah tangga dan sebagai suatu jalan keluar yang
3 Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), Cet. Kedua, h. 51.
3
terakhir.5
Sebagaimana dalam potongan Surat ath-Thalaq (65) ayat 1, yang artinya: “Hai Nabi bila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah
kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar)...” [Q.S. ath-Thalaq (65): 1]
Kandungan ayat tersebut, sudah jelas bahwa tidak ada indikasi suruhan atau larangan dalam perceraian, akan tetapi perceraian merupakan salah satu alternatif dalam menjalin suatu hubungan perkawinan bilamana dalam menjalin hubungan rumah tangga. Suami dan istri dengan berbagai usahanya mendirikan rumah tangga yang damai, tenang, dan teratur, lantaran keduanya berlainan kehendak, tujuan hidup dan cita-cita, sehingga selalu terjadi pertengkaran hebat yang tidak dapat diselesaikan lagi diantara keduanya. Meskipun keduanya telah berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan keduanya, supaya keduanya dapat hidup damai, tetapi tidak berhasil juga. Sebab itu, perceraian merupakan alternatif terakhir, supaya keduanya tidak hidup dalam konflik yang penuh dengan pertengkaran, permusuhan, dan penderitaan secara terus-menerus.6
Pasangan suami dan istri tidak boleh terlalu cepat dalam mengambil suatu keputusan bercerai, karena benang yang kusut dapat disusun kembali, artinya suatu perkara yang sulit dapat diselesaikan. Walaupun dalam ajaran Islam ada jalan terakhir dalam mengakhiri suatu hubungan rumah tangga yaitu perceraian. Namun, menurut Amir Syarifuddin ada satu hal yang harus diperhatikan bahwa perkara perceraian itu merupakan perbuatan yang tidak disenangi oleh Nabi.7
Hal ini mengandung arti perceraian itu hukumnya makruh. Adapun ketidaksenangan Nabi kepada perceraian itu sebagaimana terlihat dalam haditsnya dari Ibnu Umar menurut riwayat Ibnu Majah, sabda Nabi,
5
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia..., h. 190.
6 Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996), h. 110.
“Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam
bersabda: Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu
wa ta’ala adalah talak (perceraian)”. (H.R. Ibnu Majah: 2008).8
Kehidupan dalam bernegara, kerangka hukum positif di Indonesia juga, soal perceraian memperoleh perhatian yang serius. Hal ini termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sahnya perceraian, baik yang diajukan oleh istri (cerai gugat) maupun yang diajukan oleh suami (cerai talak), setelah mendapatkan putusan dihadapan hakim pengadilan dengan membawa alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian.
Perkara perceraian merupakan salah satu kewenangan absolut dari pengadilan agama dalam tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam, yang salah satunya di bidang perkawinan, sebagaimana tercantum dalam pasal 49 Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.9 Karena perceraian itu penghapusan status perkawinan dengan putusan hakim atas tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan antara suami dan istri.
Demikian juga perceraian yang terjadi di wilayah Pengadilan Agama Bogor jika dilihat dari faktor penyebabnya dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yang paling dominan adalah Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus; Ekonomi; Meninggalkan salah satu pihak; dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.10
Hal tersebut tanpa melihat dampak yang akan ditimbulkan dan akan terjadi oleh sebuah perceraian, hal ini merupakan masalah dalam masyarakat yang perlu untuk dipecahkan.
Sebagai salah satu program dalam menekan angka perceraian yang ada di Kota Bogor adalah dengan hadirnya Sekolah Ibu melalui kontribusi ketahanan keluarga. Sekolah Ibu merupakan Program Pemerintah Kota Bogor
8 Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Saudi Arabia: al-Arabiyah as-Saudiyah, 1404), Jilid Kelima, h. 441.
9 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
5
sebagai pemberdayaan bagi ibu dalam upaya pembangunan ketahanan dan kesejahteraan keluarga setelah melalui proses keagamaan melalui akad perkawinan. Mengapa Sekolah Ibu? Sebagaimana dijabarkan oleh Meira Shopia,11
bahwa secara umum pendidikan di rumah lebih banyak tercurah pada ibu, sedangkan suami atau ayah sibuk bekerja di luar.
Hal ini yang menjadi kekuatan ibu dalam rumah tangga, bisa menjadi guru di rumah, menjadi dokter di rumah, menjadi pengatur keuangan keluarga di rumah, hingga menjadi teman diskusi atau psikolog bagi anak-anak dan suaminya. Peran ibu ini sangat multifungsi, karena itulah dengan berbagai macam keunggulan ibu yang multifungsi itu harus ditambah kemampuannya, yaitu dengan mengikuti program Sekolah Ibu. Sementara pendidikan di Sekolah Ibu hanya mem-back up.12
Berbicara tentang ibu merupakan sesuatu hal yang krusial dalam keluarga, bagaimana tidak, bahwa ibu adalah penopang utama keluarga dan pendidikan generasi. Baik tidaknya keluarga dan masyarakat lebih bergantung pada sosok ibu, sehingga seorang pujangga berkata: “seorang ibu ibarat sekolah dan apabila disiapkan dengan baik, berarti menyiapkan suatu bangsa yang harum namanya”.13
Hal ini tentu akan berbicara banyak tentang adanya Sekolah Ibu. Berbicara Sekolah Ibu bukan berarti istri atau ibu sebagai induk dari adanya sebuah perceraian, akan tetapi harus sama-sama melihat peran prioritas ibu dalam mendidik rumah tangga dan keluarga. Di manapun ibu berada, baik perannya terhadap suami atau ayah maupun terhadap anak. Ini perlu adanya kerja sama dengan suami dalam menjaga ritme ketahanan keluarga agar tetap terjaga dari suatu konflik dalam rumah tangga, sehingga terhindar dari terjadinya perceraian.
11 Ketua Kelompok Kerja (Pokja) 4 Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor.
12 Muhammad Hafil, “Serunya Sekolah Ibu”
https://republika.co.id/berita/pd8hqm430/serunya-sekolah-ibu diakses pada hari Senin, 17 Februari 2020.
13 Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan wanita, (Jakarta: Gema Press, 1999), Cet. Kedua, h. xi.
Program Sekolah Ibu mendapatkan respon yang baik oleh pemerintah setempat, salah satunya adalah Pemerintah Kota Bogor yang meresmikan Sekolah Ibu, yang secara efektif mulai beroperasi di 68 kelurahan, pada bulan Juli 2018. Sekolah Ibu merupakan sebuah program yang bertujuan untuk membentuk pendidikan keluarga yang nantinya akan diberikan kepada anak-anaknya sehingga dapat membentuk karakter anak yang baik. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meminimalisir angka perceraian yang terjadi di Kota Bogor.
Lahirlah sebuah program inspiratif dari pemikiran Yane Ardian.14 Program ini dinamai Sekolah Ibu. Program besutan Yane Ardian ini sebagai upaya pembangunan ketahanan dan kesejahteraan keluarga di Kota Bogor. Bagaimana seorang ibu yang sebenarnya memiliki potensi luar biasa, tanggung jawab yang besar dalam keluarga. Dengan adanya Sekolah Ibu ditambah wawasannya sehingga ibu tersebut menjadi sosok yang tangguh dalam keluarga untuk melindungi keluarganya. Dengan didorongnya kaum ibu untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam melaksanakan peran dalam rumah tangga.15
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis mencoba mengungkap masalah-masalah tersebut, sehingga penulis tertarik untuk menganalisis lebih lanjut, dan analisis data perceraian tersebut berdasarkan data yang ada di Pengadilan Agama Bogor. Dengan demikian, penulis memilih judul yaitu: “Kontribusi Program Ketahanan Keluarga Terhadap Pencegahan Perceraian (Studi Pelaksanaan Sekolah Ibu di Kota Bogor)”
14 Yane Ardian merupakan ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor.
15 Putra Ramadhani Astyawan, “Mengintip Sekolah Ibu, Garapan Istri Bima Arya”,
https://megapolitan.okezone.com/read/2018/02/08/338/1856748/mengintip-sekolah-ibu-garapan-istri-bima-arya diakses pada hari Senin, 10 Februari 2020.
7
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Dari beberapa permasalahan yang ditemukan dalam judul ini antara lain adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana angka perceraian di Kota Bogor?
b. Bentuk perceraian apa saja yang ada di Kota Bogor? c. Mengapa angka perceraian di Kota Bogor Meningkat?
d. Bagaimana upaya Pemerintah Kota Bogor dalam menekan angka perceraian?
e. Apakah Pemerintah Kota Bogor bermitra dengan Sekolah Ibu dalam menekan angka perceraian?
f. Bagaimana konsep kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu dalam turut serta menekan angka perceraian di Kota Bogor?
2. Pembatasan Masalah
Untuk mempermudah dan memperjelas pembahasan dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi masalah yang akan dibahas, sehingga pembahasannya lebih jelas dan terarah sesuai yang diharapkan penulis. Oleh karena itu, berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka penelitian ini dibatasi pada upaya yang dilakukan oleh Sekolah Ibu melalui kontribusi ketahanan keluarga dalam menekan angka perceraian di Kota Bogor.
Tema yang penyusun angkat disini adalah mengenai program Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) yang bekerjasama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) melalui kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu sebagai upaya preventif dalam menekan angka perceraian.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka rumusan masalahnya adalah bagaimana kontribusi program ketahanan keluarga di Sekolah Ibu sebagai upaya preventif dalam menekan angka perceraian di Kota Bogor. Adapun pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: a. Bagaimana program ketahanan keluarga di Sekolah Ibu Kota Bogor? b. Bagaimana kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu sebagai upaya
pencegahan dalam menekan angka perceraian di Kota Bogor?
c. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan Sekolah Ibu sebagai upaya pencegahan dalam menekan angka perceraian di Kota Bogor?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ditetapkan sesuai dengan rumusan masalah diatas, adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pelaksanaan program Sekolah Ibu di Kota Bogor. 2. Untuk mengetahui kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu sebagai
upaya pencegahan dalam menekan angka perceraian di Kota Bogor.
3. Untuk mengetahui efektivitas program kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu dalam menekan angka perceraian di Kota Bogor.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu sebagai berikut:
a. Memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu pengetahuan dalam perkembangan ilmu hukum perkawinan pada umumnya dan upaya preventif dalam menekan angka perceraian melalui kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu secara khusus.
9
b. Menjadi rujukan bagi akademisi tentang bagaimana analisa secara mendalam mengenai pencegahan dalam menekan angka perceraian melalui kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu.
c. Selanjutnya menjadi bahan tambahan terhadap mahasiswa yang akan melakukan penelitian berkaitan dengan pencegahan perceraian melalui program Sekolah Ibu.
E. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu
Dari hasil penelusuran pada karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan kontribusi ketahanan keluarga di Sekolah Ibu dalam menekan angka perceraian ternyata memiliki sejumlah bahasan yang berbeda. Baik itu secara tematik serta objek kajian yang diteliti. Adapun kajian terdahulu yang penulis temukan diantaranya:
1. Ma’rifatul Wasitoh, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Judul Tesis Sekolah Ibu: Mendidik Ibu Bisa Menjadi Serba Bisa (Studi Sekolah
Ummu Muhammad Desa Wirokerten Banguntapan Bantul DIY). Tesis
pada tahun 2017.16
Pada tesis ini dijelaskan bahwa peran Sekolah Ibu mendidik ibu menjadi serba bisa dalam pembelajaran mengajarkan ibu dalam diri sendiri yaitu sifat kebersihan seorang ibu sebagai ruh kecantikan yang akan mencerminkan rumah, suami dan anak-anaknya. Ibu dalam keluarga, peran perempuan terhadap keluarga yaitu sebagai istri terhadap suami dan sebagai ibu terhadap anak-anaknya. Ibu dalam masyarakat, perempuan merupakan ibu kehidupan karena dari rahim perempuan kehidupan dilahirkan seperti menciptakan generasi yang baik.
16 Ma’rifatul Wasitoh, “Sekolah Ibu: Mendidik Ibu Bisa Menjadi Serba Bisa (Studi Sekolah Ummu Muhammad Desa Wirokerten Banguntapan Bantul DIY)”, (Tesis S-2 Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017), h. 135.
2. Zakyyah Iskandar, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Judul Jurnal Peran
Kursus Pra Nikah Dalam Mempersiapkan Pasangan Suami Istri Menuju
Keluarga Sakinah. Jurnal Al-Ahwal, Volume 10, Nomor 1, 2017.17
Pada jurnal ini dibahas mengenai program kursus pra nikah sebagai upaya pemerintah dalam menekan tingginya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga dan problem keluarga lainnya. Sehingga dijelaskan juga bahwa jika kursus pra nikah berjalan secara idealis, maka akan dapat menyehatkan keluarga Indonesia dari penyakit kekerasan, ketidakadilan dalam rumah tangga serta perceraian dengan terbinanya keluarga sakinah. 3. Raynaldo Nugroho, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, judul
skripsi Peran Penghulu dalam mengurangi Angka Perceraian di Karang
Tengah Kota Tangerang, Skripsi tahun 2016.18
Pada skripsi ini dibahas mengenai peran dan upaya yang dilakukan oleh penghulu dalam mengurangi angka perceraian dengan cara memberikan penyuluhan, meningkatkan kualitas P3N (Amil), mengadakan pembinaan keluarga sakinah dan membuat program yang berbentuk sosialisasi secara rutin. Sehingga masyarakat lebih mengetahui dampak buruk tentang perceraian.
Dari ketiga karya tulis ilmiah terdahulu di atas perbedaan dengan skripsi penulis adalah lebih menganalisis upaya preventif Sekolah Ibu melalui kontribusi ketahanan keluarga di Kota Bogor dalam menekan angka perceraian yang merupakan program Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor, yang kemudian diadopsi menjadi bagian dari program Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Bogor.
17 Zakyyah Iskandar, “Peran Kursus Pra Nikah Dalam Mempersiapkan Pasangan Suami Istri Menuju Keluarga Sakinah”, Jurnal Al-Ahwal, Volume 10, Nomor 1, (2017), h. 97.
18 Raynaldo Nugroho, “Peran Penghulu dalam mengurangi Angka Perceraian di Karang Tengah Kota Tangerang”, (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016), h. 54.
11
F. Metode Penelitian
Dalam membahas penelitian ini, diperlukan suatu penelitian untuk memperoleh data yang berhubungan dengan masalah-masalah yang dibahas dan gambaran dari masalah tersebut secara jelas, tepat dan akurat. Ada beberapa metode yang akan penulis gunakan, antara lain:
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memaparkan corak penelitian yang dipakai berupa penelitian kualitatif, yang merupakan sebagai suatu proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial berdasarkan pada penciptaan gambaran holistik lengkap atau dengan memusatkan pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala dalam kehidupan manusia,19 yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan informan secara rinci, dan disusun dalam sebuah latar alamiah.20
Dalam penelitian kualitatif ini, metode yang digunakan adalah metode hukum empiris (empirical legal research) yang merupakan sebuah gejala sosial dan berhubungan dengan tingkah laku manusia di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat yang unik dan memikat untuk diteliti dari sifatnya yang deskripstif, bahwa hukum, faktanya dari perspektif ilmu sosial ternyata lebih sekedar dari norma-norma hukum.21
2. Pendekatan Penelitian
Di dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa pendekatan dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:
19 Fahmi Muhammad Ahmadi dan Jaenal Aripin, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010), h.17-18.
20 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial Kuantitatif, (Bandung: PT Refika Aditama, 2015), h. 101.
21 Depri Liber Sonata, “Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris: Karakteristik Khas dari Metode Meneliti Hukum”, Fiat Justisia Jurnal Ilmu Hukum, Volume 8, Nomor 1, (2014), h. 28.
a. Sosiologi Hukum
Pendekatan sosiologi hukum ini, mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial lainnya secara empiris analisis. Dimana peneliti mempelajari Sekolah Ibu sebagai kebutuhan Pemerintah Kota Bogor dalam menjawab persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, khususnya permasalahan perceraian dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, baik itu Peraturan Wali Kota Bogor maupun Peraturan Daerah Kota Bogor, terutama dari segi petunjuk teknis (juknis) Sekolah Ibu dan penyelenggaraan pembangunan ketahanan keluarga.
b. Pendekatan normatif-empiris, dimana pendekatan ini dilakukan dengan cara mengkaji permasalahannya dari segi hukum dengan ketentuan peraturan-peraturan,22 dengan mengetahui fakta-fakta yang ada atau terjadi dalam lapangan (masyarakat) di lokasi penelitian dengan mengumpulkan informasi-informasi tentang kejadian yang ada hubungannya.23 dengan masalah yang akan dibahas yaitu berkaitan dengan program Sekolah Ibu melalui kontribusi ketahanan keluarga dalam menekan angka perceraian.
Dengan demikian, peneliti mengumpulkan dan mempelajari literatur-literatur, serta tulisan-tulisan para sarjana yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.24
kemudian mengumpulkan data berupa wawancara dan dokumentasi pada pihak yang akan diteliti. Data rekaman yang peneliti dapatkan diubah menjadi data tertulis yang berbetuk transkip wawancara.
22
Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: UI-Press, 1985), h. 12. 23 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Sosial: Edisi Revisi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, t.th), h. 60.
13
3. Sumber Data Penelitian a. Hasil Wawancara
Berdasarkan jenis data yang diperlukan, maka dalam penelitian ini yang dijadikan partisipan sebagai informan atau responden oleh peneliti adalah Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Bogor, dan Ketua Hakim di Pengadilan Agama Bogor. Dimana peneliti mengubah hasil lisan informan menjadi sebuah tulisan yang deskriptif. Penulis menggunakan sumber informasi yang memulai dari hal yang kecil ke hal yang besar atau banyak sehingga menimbulkan jumlah sumber informasinya.
b. Dokumentasi
Dalam penelitian ini data yang digunakan peneliti adalah data yang sudah dikumpulkan orang lain, pada waktu penelitian dimulai, data tersebut sudah tersedia.25 Data tersebut diperoleh berupa dokumen-dokumen baik berupa data-data resmi dari instansi pemerintahan, dari peradilan, buku-buku literatur, karangan ilmiah, makalah umum, dan bacaan lain yang berkaitan dengan Sekolah Ibu dan perceraian di Kota Bogor yang menjadi pokok dalam bahasan dalam penelitian ini.
4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dibutuhkan untuk menjawab rumusan penelitian. Adapun penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
a. Wawancara (Interview)
Beberapa informasi yang diperoleh untuk mendapatkan data adalah dengan melakukan wawancara, yang merupakan sebagai
25 Bambang Suggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 37.
pembuktian (rececking) terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, artinya proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti (pewawancara) dengan informan (responden) dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial.26
Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara langsung secara mendalam dengan responden kepada Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Bogor, dan Ketua Hakim di Pengadilan Agama Bogor.
b. Dokumen
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini salah satunnya berupa dokumen, dimana sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi.27 Dalam penelitian ini penulis dalam mencari data, sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk catatan harian, foto, klipping, dokumen mitra pemerintah Kota Bogor, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.
5. Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif, yaitu menggambarkan suatu variabel dengan proses mengulang dan memeriksa data, menyintesis dan menginterpretasikan data yang terkumpul sehingga dapat menggambarkan dan menerangkan fenomena atau situasi sosial yang diteliti.28 Setelah mendapatkan seluruh data-data yang dibutuhkan dalam penelian, baik dalam penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan
26 Pupu Saeful Rahmat, “Penelitian Kualitatif”, Jurnal Equilibrium, Volume 5, Nomor 9, (2009), h. 6
27 Pupu Saeful Rahmat, “Penelitian Kualitatif”, h. 7
28 Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penulisan Gabungan, (Jakarta: Prenada Media, 2016), Cet. Ketiga, h. 400.
15
melalui wawancara dengan pihak terkait, studi langsung terhadap dokumen-dokumen yang didapatkan, sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang objektif, logis, konsisten dan sistematis sesuai dengan tujuan yang diharapkan penulis dalam penelitian ini. Lalu diinterpretasi dengan metode deduktif.
Adapun metode yang penulis gunakan adalah metode deskriptif eksploratif yaitu menggambarkan secara jelas dan terperinci dengan pemecahan masalah yang digali secara luas tentang hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu berdasarkan fakta-fakta di lapangan secara objektif.
6. Teknik Penulisan
Teknik penulisan penelitian ini merujuk pada pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang di terbitkan oleh Pusat Peningkatan dan Jaminan Mutu (PPJM) Fakultas Syariah dan Hukum tahun 2017.
G. Rancangan Sistematika Penelitian
Penelitian skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab, dimana masing-masing bab berisikan pembahasan yang berkesinambungan sebagai berikut:
Bab Pertama (BAB I), berisikan Pendahuluan yang berhubungan erat dengan permasalahan yang akan dibahas, yang terdiri atas latar belakang masalah yang menjadi dasar mengapa penulisan ini diperlukan. Identifikasi masalah, yang mendata dan mengidentifikasikan permasalahan yang berhubungan dengan tema penelitian. Pembatasan masalah, yang dimaksudkan agar lebih terfokuskan dalam permasalahan, supaya tidak ada tumpang tindih dengan masalah lain yang tidak ada kaitannya dengan penelitian. Perumusan masalah, berisikan tentang uraian masalah yang akan diteliti, yaitu pernyataan tegas mengenai apa yang akan jadi tema penelitian. Tujuan penelitian, yaitu rumusan mengenai apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh peneliti sehingga menjawab seluruh pertanyaan penelitian.
Manfaat penelitian, diharapkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis akan menghasilkan nilai guna penelitian. Review Studi terdahulu, menjelaskan mengenai kajian-kajian terdahulu yang berkaitan dengan tema penelitian. Metode penelitian, menguraikan bagaimana cara kerja dan prosedur pelaksanaan penelitian, dalam arti kata metode apa yang digunakan dalam menjalankan penelitian ini. Dan terakhir, sistematika penulisan, menjelaskan penulisan yang berisikan deskripsi karya tulis perbab, uraian tersebut menggambarkan alur dari bahan skripsi yang akan dijelaskan.
Bab Kedua (BAB II), Kajian kepustakaan dibahas dalam bab ini yaitu dimulai dari pengertian perceraian, dasar hukum perceraian, rukun dann syarat perceraian, macam-macam perceraian da akibat hukumya, faktor-faktor serta alasan-alasan penyebab terjadinya perceraian, dan perceraian di Kota Bogor.
Bab Ketiga (BAB III), Menjelaskan mengenai pemaparan Profil Sekolah Ibu di Kota Bogor yang meliputi latar belakang lahirnya Sekolah Ibu Kota Bogor, pengertian Sekolah Ibu, visi dan misi Sekolah Ibu, maksud dan tujuan Sekolah Ibu, dasar hukum, output dan outcome Sekolah Ibu, dan petunjuk dan pelaksanaan Sekolah Ibu
Bab Keempat (BAB IV), merupakan analisis terhadap penelitian yang dilakukan pada Sekolah Ibu, yakni program sekolah dalam menekan angka perceraian di Kota Bogor yang meliputi, upaya yang dilakukan Sekolah Ibu dalam menekan angka perceraian dan efektifitas Sekolah Ibu dalam menekan angka perceraian
Bab Kelima (BAB V), merupakan bab akhir dalam penelitian ini. Terdiri dari penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran yang bersifat membangun bagi penyempurnaan penelitian ini.
17 BAB II
PERCERAIAN DALAM TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Perceraian
Secara etimologi kata “perceraian” berasal dari cerai, yang kemudian ditambah imbuhan awalan “per” dan dan akhiran “an” yang bermakna menyatakan hasil perbuatan. Kemudian diantara “per” dan “an”, ada kata cerai yaitu pisah; putus hubungan suami dan istri.29 Dalam istilah umum, perceraian adalah putusnya hubungan ikatan perkawinan antara seorang pria dan wanita (suami-istri). Sedangkan dalam bahasa Arab dinamakan dengan istilah talak (athlaqa) yang artinya melepaskan atau membebaskan.30
Perceraian dalam istilah fikih disebut dengan istilah thalaq yang berarti membuka ikatan atau furqah yang berarti berpisah atau bercerai. lawan dari dhammun atau berkumpul. Kemudian perkataan ini dijadikan istilah oleh ahli-ahli fikih yang berarti perceraian antara suami-istri.31 Secara bahasa perceraian atau talak adalah:
َّطلا
َل
ُقا
َو
ُه
َو
ُلَغ
ًة
َح
َّل
ْلاَق
ْيِد
Artinya: Talak (perceraian) secara bahasa adalah melepaskan tali.32
Sedangkan para ahli fiqih memberikan pengertian perceraian (talak) sebagai berikut: 1. Sayyid Sabiq
َهَّنِاَو ِجاَوَّزلا ِةَطِباَر َّلَح َوُه ُقاَلَّطلا
ِةَيِجْوَّزلا ِةَقاَلَعْلا ُءا
29Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 281.
30 Moh. Ali Wafa, Hukum Perkawinan di Indonesia Sebuah Kajian dan Hukum Islam dan
Hukum Materil, (Tangerang Selatan: Yayasan Asy-Syari’ah Modern Indonesia, 2018), h. 267-268.
31
Kamal Muchtar, Asas-Asas Hukum Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintanng, 1974), Cetakan Ketiga, h. 156.
32 Zainudin ibn Abdu al-Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-Aini, (Surabaya: Bengkulu Indah, t.th.), h. 112.
Artinya: “Talak adalah melepaskan ikatan atau bubarnya hubungan perkawinan”.33
2. Abdur Rahman al-Jaziri
َحاَكَّنلا ُةَلَزَإ ُهَّنَأِب ِحاَلِطْصِإْلا ىِف ُقاَلَّطلا
Artinya: “Talak secara istilah adalah melepaskan status pernikahan”.34
Moh. Afandi berpendapat bahwa perceraian adalah putusnya hubungan atau ikatan perkawinan (yang sebelumnya sudah melakukan akad atau ikatan perkawinan) antara pria dan wanita (suami dan istri).35
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa talak adalah melepaskan atau menghilangkan status ikatan (akad) perkawinan antara suami dan istri sehingga tidak halal lagi untuk melakukan hubungan jimak antara suami-istri.
Selain itu, dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam yang berlaku berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang merupakan sebagai peraturan yang berlaku di Indonesia, tidak menjelaskan pengertian perceraian secara rinci, akan tetapi menunjukkan adanya:36
1. Peristiwa hukum, terputusnnya hubungan status suami-istri secara otomatis, yaitu kematian yang merupakan sesuatu yang pasti dan ketetapan langsung dari Tuhan Yang Maha Esa.
2. Tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh suami dan istri dalam memutuskan hubungan status suami-istri.
33
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnnah, (Mesir: Dar al-Fikr, 1983), Jilid Kedua, h. 2006.
34 Abdurrahman Al-Jaziri, Al-fiqh ala Madzahahibil Arba’ah, (Mesir: Dar al-Fikr, 1989), Jilid Keempat, h. 278.
35 Moh. Afandi, “Hukum Perceraian di Indonesia Studi Komparatif antara Fikih Konvensional UU Kontemporer di Indonesia dan Negara negara Muslim Perspektif HAM Dan CEDAW”, Al-Ahwal, Volume 7, Nomor 2, (2014), h. 194.
36 Lihat pasal Pasal 38 point (a), (b), dan (c) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan lihat Pasal 113 point (a), (b), dan (c) Kompilasi Hukum Islam (KHI).
19
3. Putusan hakim dalam sidang putusan pengadilan yang dinyatakan oleh pengadilan yang mengakibatkan terputusnya hubungan status suami-istri.
Hal tersebut, penulis menegaskan, sebagaimana menurut Abdul Djamali bahwa putusnya perkawinan dengan sebab-sebab yang dapat dibenarkan itu dapat terjadi dalam dua keadaan, yaitu: 1) Kematian salah satu pihak; dan 2) Putus akibat perceraian.37
B. Dasar Hukum Perceraian
Dalam al-Quran tidak terdapat ayat-ayat yang menyuruh atau melarang eksistensi tentang perceraian, walaupun banyak ayat al-Quran yang mengatur perceraian, namun isinya hanya sekedar mengatur jika perceraian itu terjadi, meskipun dalam bentukan suruhan atau larangan. Jika ingin bercerai seharusnya sewaktu istri berada dalam keadaan siap untuk memasuki masa idah. Seperti dalam firman Allah dalam surat ath-Thalaq (65) ayat 1
اَي
اَهُّيَأ
ُّيِبَّنلا
اَذِإ
ُمُتْقَّلَط
َءاَسِّنلا
َّنُهوُقِّلَطَف
َّنِهِتَّدِعِل
اوُصْحَأَو
َةَّدِعْلا
...
:قلاطلا ةروس(
٦٥
/
١
)
Artinya: “Hai Nabi apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar)....” [Q.S. ath-Thalaq (65): 1]
Ayat ini ditunjukkan kepada Rasululllah Shallallaahu Alaihi Wasallam. Akan tetapi, berlaku umum untuk seluruh umatnya. Ayat ini menjelaskan 2 (dua) macam etika yang harus dimiliki oleh suami pada waktu menceraiakan istrinya, yaitu sebagai berikut:
1. Suami jangan menceraikan istri dalam keadaan haid, tetapi ceraikanlah dia pada masa suci.
2. Suami jangan menceraikan istrinya pada masa suci, di mana pada masa suci itu ia telah digauli.
Menurut Abdullah bin Mas’ud, barang siapa yang ingin menceraikan istrinya sebagaimana diperintahkan oleh Allah, hendaklah ia menceraikannya ketika suci atau belum digauli.38
Demikian dalam bentuk melarang, sebagaimana dalam surat al-Baqarah (2) ayat 232
اَذِإَو
ُمُتْقَّلَط
ِّنلا
َءاَس
َنْغَلَبَف
َّنُهَلَجَأ
اَلَف
َّنُهوُلُضْعَت
ْنَأ
َنْحِكْنَي
َّنُهَجاَوْزَأ
...
:ةرقبلا ةروس(
٢
/
٢٣٢
)
Artinya: “Apabila kamu menceraikan istri-istrimu, lalu habis masa idahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya (suami yang lain)....” [Q.S. al-Baqarah (2): 232]
Meskipun begitu, jika hubungan pernikahan sudah tidak dapat dibina dan dipertahankan dan jika dilanjutkan akan mendatangkan kemudaratan dan kehancuran, maka terbuka pintu untuk perceraian. pada dasarnya perceraian itu adalah sesuatu yang tidak disenangi dalam istilah Ushul Fiqh disebut dengan makruh. Hukum makruh ini dapat dilihat dari beberapa usaha pencegahan terjadinya perceraian dengan berbagai proses penahapan.39 Adapun ketidaksenangan Nabi kepada perceraian itu terlihat dalam hadisnya Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa perceraian itu merupakan perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah, Sabda Nabi:
ِلاَخ ُنْب ُدَّمَحُم اَنَثَّدَح ُّيِصْمِحْلا ٍدْيَبُع ُنْب ُرْيِثَك اَنَثَّدَح
ْنَع ِيِفاَّصَولا ِدْيِلَوْلا ِنْب ِللها ِدْيَبُع ْنَع ٍد
َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ُلْوُسَر َلاَق َلاَق َرَمُع ِنْب ِللها ِدْبَع ْنَع رٍاَثِد ِنْب ِبِراَحُم
ُضَغْبَا
ِلاَلَحْلا
ِا
قاَلَّطلا ِللها ىَل
)هجام نبا هاور(
38 Agus Toni, “Aktualisasi Hukum Perceraian Perspektif Pengadilan Agama di Indonesia”, Maqashid: Jurnal Hukum Islam, Volume 1, Nomor 2, (2017), h. 37.
21
Artinya: “Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wa
ta’ala adalah talak (perceraian)”. (H.R. Ibnu Majah: 2008).40
Hadis tersebut di atas menunjukkan bahwa perceraian merupakan alternatif terakhir atau usaha dalam mencegah suatu kemudaratan dalam kehidupan rumah tangga dalam menyelesaikan masalah (pintu darurat) yang boleh ditempuh, mana kala masalah rumah tangga tersebut sudah tidak dapat lagi dipertahankan keutuhan dan kesinambungannya. Karena kebolehan talak adalah sebagai alternatif terakhir, Islam menunjukkan agar sebelum terjadinya perceraian, ditempuh usaha-usaha perdamaian antara kedua belah pihak.41
Pada dasarnya hukum asal dari talak itu adalah makruh, namun hukum makruh tersebut dapat berubah sesuai dengan ketentuan keadaan kondisi dan situasi tertentu. Sebagaimana ditegaskan oleh Amir Syarifuddin, bahwa hukum dari talak adalah sebagai berikut:
1. Sunah dilakukan talak, dengan melihat dalam rumah tangga sudah tidak dapat dibina dan dilanjutkan, dan seandainya dipertahankan akan timbul kemudaratan yang lebih banyak
2. Mubah atau boleh dilakukan talak bila memang perlu terjadi perceraian dan tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dengan adanya perceraian itu, sedangkan manfaatnya juga ada.
3. Wajib dilakukan talak, yang merupakan perceraian yang dilakukan oleh hakim terhadap seseorang yang telah bersumpah untuk tidak menggauli lagi istrinya, sedangkan ia tidak ingin pula membayar kafarat sumpah agar ia dapat bergaul dengan istrinya, tindakan tersebut sangat memberi kemudaratan kepada istri.
4. Haram jika talak itu dilakukan tanpa alasan yang jelas, sedangkan istri dalam keadaan haid atau suci, dimana masa itu istri telah digauli.42
40
Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, h. 441.
41 Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Depok: Rajawali Pers, 2017), h. 213-214.
Di Indonesia sebagai negara hukum tidak lepas akan adanya peraturan perundang-undangan yang menjadi benteng kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tak terkecuali dengan masalah perceraian juga telah diatur dalam ketentuan-ketentuan tersendiri. Berikut ini beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perceraian, yaitu sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (UUP) mengaturnya dalam bab VIII pasal 38 sampai dengan 41.
2. Tata cara perceraian diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan mengaturnya dalam pasal 14 sampai dengan pasal 36.
3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama atau UUPA mengaturnya dalam pasal 65 sampai dengan pasal 88.
4. Dan hal-hal teknis lainnya yang diatur dalam Peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia, termasuk Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang sebab-sebab perceraian, tata cara, dan akibat hukumnya dalam Bab XVI pasal 113 sampai dengan pasal 162.43
Berdasarkan beberapa ketentuan yang dikemukakan di atas, dapat diambil pemahaman bahwa dasar hukum perceraian adalah nash syari’at dan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Namun, menurut Malik Ibraham hal tersebut tentunya berlaku lex specialis untuk subjek hukum sesuai ketentuan yang ditetapkan.44
C. Rukun dan Syarat Perceraian
Untuk terjadinya suatu talak, ada beberapa unsur yang mengharuskan unsur tersebut terpenuhi atau yang berperan padanya, maka hal tersebut dinamakan dengan rukun, dan masing-masing rukun itu mesti ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar keadaan rukun menjadi sempurna.
43
Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 217-218.
44 Malik Ibrahim, “Membedah Tingginya Angka Perceraian di Lingkungan Peradilan Agama dan Upaya Penanggulangannya”, Jurnal Aplikasi Ilmu Agama-Agama, Volume 17, Nomor 2, (2017), h. 82.
23
Syarat-syarat dari rukun ada yang disepakati oleh para ulama dan sebagiannya ada juga yang menjadi perbincangan di kalangan mereka. Amir Syarifuddin memaparkan terkait dengan rukun dan syarat talak, adalah sebagai berikut:
1. Suami yang menjatuhkan talak
a. Suami yang melakukan talak mestilah orang yang telah dewasa. Hal ini mengandung arti bahwa anak-anak yang masih dibawah umur tidak sah dalam menjatuhkan talak, sedangkan yang menjadi batas dewasa menurut fiqih adalah orang yang telah mimpi melakukan hubungan kelamin dan mengeluarkan mani.
b. Suami yang melakukan talak mestilah sehat akalnya. Hal ini mengandung arti bahwa orang yang gila, pingsan, sawan (epilepsi), tidur, minum obat, terpaksa minum khamar atau meminum sesuatu yang merusak akal sedang dia tidak mengetahui tentang itu, maka tidak sah talak yang dijatuhkannya.
c. Suami yang menjatuhkan talak berbuat dalam keadaan sadar dan atas kehendak sendiri, tidak terpaksa oleh sesuatu apapun. Hal ini bila talak dilakukan dalam keadaan tidak sadar atau dalam keadaan terpaksa dengan ancaman, maka tidak jatuh talak.
2. Istri yang dijatuhkan talak oleh suaminya;
Istri yang ditalak adalah orang yang berada dalam kekuasaan suami yang menjatuhkan talak, yaitu istri yang masih terikat hubungan perkawinan dengannya. Demikian juga istri yang masih dalam bentuk talak raj’i dan istri yang masih dalam masa idah, maka status hukumnya seperti istri yang utuh. Hal ini mengandung arti bahwa istri yang bukan dalam kekuasaan suaminya tidak sah untuk dijatuhkan talak karena tidak terikat hubungan perkawinan.
3. Shighat atau ucapan talak.
Talak terjadi bila suami yang ingin menceraikan istrinya itu mengucapkan ucapan talak tertentu yang menyatakan bahwa istrinya itu
telah lepas dari kekuasaan suaminya. Dengan demikian, syarat-syarat dari
shighat atau ucapan talak adalah sebagai berikut:
a. Ucapan talak secara mutlak adalah suami mengucapkan talak dengan tidak mengaitkan kepada sesuatu apapun, seperti ucapan: “engkau saya talak”. Dalam hal ini digunakan ucapan yang digunakan. Dari segi ucapan talak terbagi menjadi dua, yaitu lafal sharih dan lafal kinayah 1) Lafal sharih adalah lafal talak yang diucapkan suami kepada istri
secara jelas dan terbuka makna dan maksudnya, seperti ungkapan: “aku telah menjatuhkan talak untuk engkau”.
2) Lafal kinayah (sindiran) adalah lafal yang sebenarnya tidak digunakan untuk talak, tetap dapat dipakai untuk menceraikan istri, seperti ungkapan: “Kau boleh pulang ke rumah orang tuamu”.
b. Ucapan talak yang digantungkan kepada sesuatu. Talak dalam bentuk ini dinamai dengan talak mu’allaq atau talak yang digantungkan kepada sesuatu. Seperti ungkapan: “Aku talak engkau, bila engkau tidak shalat Asar” atau “Aku talak engkau, bila Allah menghendaki”.
c. Ucapan talak dapat dilakukan dengan lisan dan dapat pula dengan tulisan, karena kekuatan penyampaian talak lewat tulisan sama kuat dengan penyampaian talak lewat lisan, dengan ketentuan-ketentuan tertentu.
Para ulama ahli sunah hanya menetapkan 3 rukun untuk jatuhnnya suatu talak, sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Akan tetapi, berbeda dengan golongan ulama Syi’ah Imamiyah, bahwa rukun yang keempat yaitu kehadiran saksi. Hal ini maksudnya adalah kehadiran saksi menjadi salah satu rukun jatuhnya talak, dan bila saksi tidak ada atau tidak hadir maka talak tidak terlaksana. Adapun syarat dari pada saksi adalah:
1. Jumlahnya 2 (dua) orang.
25
3. Semua saksi itu bersifat adil.45
D. Macam-Macam Perceraian dan Akibat hukumnya 1. Macam-Macam Perceraian
Mengenai beberapa varian tentang cerai dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu sebagai berikut:
1. Ditinjau dari segi kemungkinan suami dapat kembali (rujuk) kepada istrinya atau tidak
a. Talak Raj’i adalah talak yang terjadi dimana suami boleh dapat kembali (rujuk) kepada istrinya pada waktu idah, dan talak ini merupakan talak satu atau talak dua yang tidak disertai uang tebusan (Iwadh) dari pihak istri dan tidak perlu pembaruan akad pernikahan (lihat juga pasal 118 KHI).
b. Talak Ba’in adalah talak yang tidak dapat suami kembali (rujuk) kepada bekas istrinya, melainkan jika ingin kembali harus dengan melakukan akad pernikahan baru. Ada 2 (dua) macam talak bain, yaitu:
1) Talak ba’in sughro adalah talak satu atau talak dua yang disertai dengan pembayaran uang tebusan (iwadh) dari pihak istri, kecuali dengan akad perkawinan baru, begitu suami yang menjatuhkan talak kepada istrinya yang belum digaulinya, maka tidak boleh rujuk kembali kepada bekas istrinya, kecuali dengan akad perkawinan baru (lihat juga pasal 119 KHI).
2) Talak ba’in Kubro adalah suami yang menjatuhkan talak tiga kepada istrinya, tidak dapat kembali (rujuk) kepada bekas istrinya, kecuali bekas istrinya tersebut telah melakukan akad perkawinan dengan laki-laki yang lain, kemudian telah melakukan hubungan suami istri (dukhul), dan ketika pernikahannya putus dengan laki-laki lain tersebut dan telah habis pula masa idahnya maka suami
tadi boleh menikahi bekas istrinya dengan melakukan akad baru (lihat juga pasal 120 KHI).
2. Ditinjau dari segi waktu menjatuhkan talak
a. Talak sunni adalah talak yang dijatuhkan suami terhadap istri sesuai dengan ketentuan agama, maksudnya adalah talak suami yang dijatuhkan terhadap istri pada saat istri tersebut dalam keadaan suci yang belum digauli semasa suci tersebut (lihat juga pasal 121 KHI). b. Talak bid’i adalah talak yang dijatuhkan suami terhadap istrinya
ketika istri tersebut dalam keadaan suci kemudian digauli oleh suaminya atau talak yang dijatuhkan suami terhadap istri yang dalam keadaan haid (lihat juga pasal 122 KHI).46
c. Talak laa suni walaa bid’i adalah talak yang tidak termasuk kepada talak sunni dan talak bid’i, yaitu
1) Talak yang dijatuhkan suami terhadap istri yang belum pernah digauli
2) Talak yang dijatuhkan suami terhadap istri yang belum pernah haid atau istri yang telah lepas haid
3) Talak yang dijatuhkan suami terhadap istri yang sedang hamil 3. Ditinjau dari segi tegas atau tidaknya kata-kata yang diucapkan sebagai
talak
a. Talak sharih adalah talak dengan mempergunakan kata-kata yang jelas, tegas dan dapat dipahami sebagai pernyataan talak seketika diucapkan, dan tidak mungkin ditafsirkan lain. Seperti contoh kalimatnya, “Engkau saya ceraikan sekarang juga”, “Engkau saya talak tiga”, dan lain sebagainya.
b. Talak kinayah adalah talak dengan mempergunakan kata-kata yang sindiran atau samar-samar, seperti contoh kalimatnya, “Selesaikan sendiri segala urusanmu”, “Saya sekarang hidup sendirian dan membujang”, dan lain sebagainya. Ucapan kinayah tersebut
46 Dhevi Nayasari, “Pelaksanaan Rujuk Pada Kantor Urusan Agama Kecamatan lamongan”, Jurnal Independent, Volume 2, Nomor 1, (t.th): h. 78-79.
27
mengandung kemungkinan cerai dan mengandung kemungkinan lain.47
4. Ditinjau dari segi cara suami menyampaikan talak terhadap istrinya a. Talak dengan ucapan, yaitu talak suami yang disampaikan terhadap
istri melalui ucapan secara langsung dihadapan istri, dan istri yang ditalaknya mendengar atas ucapan suami tersebut.
b. Talak dengan tulisan, yaitu talak suami yang disampaikan terhadap istri secara tertulis, kemudian istri tersebut membacanya dan memahami isi dan maksud dari tulisan tersebut, dengan syarat 2 (dua) orang saksi
c. Talak dengann isyarat, yaitu talak suami tuna wicara (bisu) yang disampaikan terhadap istri dengan bentuk isyarat, dan istri tersebut memahami isyarat yang dimaksud.
d. Talak dengan utusan (wakil suami), talak suami yang disampaikan terhadap istri melalui perantara orang lain sebagai utusan untuk menyampaikan maksud suami itu terhadap istrinya yang tidak berada dihadapan suami yang menceraika istrinya.48
5. Ditinjau dari segi ucapanya
a. Talak tanziz adalah talak yang dijatuhkan suami terhadap istrinya dengan menggunakan ucapan langsung, tanpa dikaitkan dengan waktu, baik menggunakan ucapan sharih maupun ucapan kinayah. b. Talak ta’liq adalah talak yang dijatuhkan suami terhadap istrinya
dengan pelaksanaannya digantungkan kepada sesuatu yang terjadi kemudian, dengan kata lain adalah sebuah perjanjian yang di dalamya disebutkan beberapa syarat, seperti, “bila engkau selingkuh dengan lelaki lain, engkau saya talak secara otomatis”.49
47
Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Prenadamedia Grup, 2015), Cet. Ketujuh, h. 194-196.
48 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, h. 199-201.